Anda di halaman 1dari 22

TUGAS REFERAT DERMATOLOGI-VENEROLOGI “HUBUNGAN PENGGUNAAN ANTIHISTAMIN PADA URTIKARIA KRONIK”

TUGAS REFERAT DERMATOLOGI-VENEROLOGI “HUBUNGAN PENGGUNAAN ANTIHISTAMIN PADA URTIKARIA KRONIK” OLEH Gusti Putu Ary Dharmawan H1A 010

OLEH Gusti Putu Ary Dharmawan

H1A 010

020

Zihan

H1A 010 032

PEMBIMBING:

dr. I Wayan Hendrawan, Sp.KK DALAM RANGKA MENGIKUTI KEPANITERAAN KLINIK MADYA BAGIAN/SMF ILMU KESEHATAN KULIT DAN KELAMIN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM RSU PROVINSI NTB

2016

BAB I

PENDAHULUAN

Urtikaria (hives, biduran) adalah erupsi eritematosa yang meninggi, terjadi secara singkat atau edema bagian dermis bagian atas dan berhubungan dengan rasa gatal. Gambaran dari urtikaria yaitu (i) peninggian dengan berbagai ukuran baik dengan atau tanpa dikelilingi eritema, (ii) rasa gatal atau kadang-kadang timbul rasa terbakar dan (iii) kulit akan kembali normal, biasanya dalam waktu 1–24 jam. 1-3 Urtikaria merupakan penyakit dermatologis umum, 15–25% penduduk dalam waktu tertentu dalam hidupnya pernah mengalaminya. Urtikaria dapat terjadi pada semua jenis kelamin dan berbagai kelompok umur. Angka kejadian pada urtikaria akut (40–60%) dibandingkan pada urtikaria kronik (10–20%) dimana urtikaria kronik ini sendiri merupakan urtikaria yang terjadi lebih dari 6 minggu. 1,2 Antihistamin adalah zat yang dapat mengurangi atau menghalagi efek histamin terhadap tubuh dengan jalan mengeblok reseptor histamin. Secara farmakologis reseptor histamin dapat di

bagi dalam 2 tipe yaitu reseptor H 1 dan reseptor H 2 . Berdasarkan hal tersebut, antihistamin juga dapat dibagi dalam 2 kelompok, yakni antagonis reseptor H 1 (singkatnya disebut H 1 blokers atau antihistamin ) antagonis reseptor H 2 (H 2 blokers). 3 Para ahli dermatologi sering menggunakan antihistamin untuk mengobati kelainan kronik maupun rekuren. Antihistamin dalam dosis terapi, efektif untuk mengobati edema, eritem dan pruritus, tetapi tidak dapat melawan efek hipersekresi asam lambung akibat histamin. 2,4 Pedoman the third international consensus meeting on urticaria in 2008, bersama dengan Dermatology Section of the European Academy of Allergology and Clinical Immunology (EAACI), EU-funded network of excellence, the Global Allergy and Asthma European Network

(GA2LEN),

the

European

Dermatology

Forum

(EDF)

and

the

World

Allergy

Organization (WAO) merekomendasikan pengobatan lini pertama urtikaria dengan pengobatan non sedatif antihistamin H1 generasi kedua. 2,4 Berdasarkan pernyataan diatas, peneliti tertarik untuk mengangkat judul “Hubungan Penggunaan Antihistamin pada Urtikaria Kronik”

A. Urtikaria

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

1.

Definisi

Urtikaria dapat didefinisikan sebagai lesi pada kulit yang terdiri dari reaksi inflamasi yang terlokalisasi pada intrakutaneus edema yang dikelilingi oleh area eritem dan mengalami

pruritus tipikal. Individu yang mengalami urtikaria dapat terjadi selama 30 menit hingga 36 jam. Ukurannya dapat seukuran millimeter hingga 6-8 inchi diameter pada urtikaria besar. Urtikaria menyebar dengan tekanan dan dilatasi dari pembuluh darah, dan juga dihitung berdasarkan central pallor dari edema. Pembuluh darah yang berdilatasi dapat meningkatkan permeabelitas yang menyebabkan karakteristik urtikaria yaitu terdapat pleksus venular yang terlokalisasi. 1,2

  • 2. Epidemiologi

Urtikaria dan angioedema sering dijumpai pada semua umur.Urtikaria terutama terjadi

pada usia dewasa, dengan usia rata-rata 35 tahun. Urtikaria lebih banyak terjadi pada usia dewasa daripada usia muda. 1 Berdasarkan data epidemiologi yang ditemukan di poliklinik Kulit dan Kelamin di Rumah Sakit Umum Provinsi NTB didapatkan sebanyak 43 pasien yang terdiri dari 35 pasien dengan jenis kelamin wanita dan 8 pasien dengan jenis kelamin laki-laki.Dengan rentang usia berada diantara 7 hingga 81 tahun. Jenis urtikaria yang terjadi didominasi oleh urtikaria akut dengan 19 kasus, dan disusul dengan urtikaria kronik dengan 8 kasus, dan sisanya adalah jenis angioudem, urtikaria popular, urtikaria kontak, dan urtikaria kolinergik. 2 Pada penelitian epidemiologi lainnya ditemukan 40% bentuk urtikaria, 49% dalam bentuk hanya urtikaria 49% urtikaria yang disertai dengan angioedema, dan 11% angioedema saja.Lama serangan berlangsung bervariasi, ada yang lebih dari satu tahun, bahkan ada yang lebih dari 20 tahun. Penderita atopi lebih mudah mengalami urtikaria dibandingkan dengan orang normal. Tidak ada perbedaan frekuensi jenis kelamin, baik laki-laki maupun wanita, umur, ras, jabatan atau pekerjaan, letak geografis, dan perubahan musim dapat mempengaruhi hipersensitivitas yang diperankan oleh IgE.Penisilin tercatat sebagai obat yang lebih sering menimbulkan urtikaria. 3

  • 3. Etiologi

Urtikaria terutama disebabkan oleh reaksi terhadap obat-obatan golongan antibiotic seperti golongan sulfonamid, penisilin, analgesic, pencahar, hormone diuretic, aspirin, kodein, opium. Makanan-makanan yang mengandung protein, mengandung zat warna, penyedap rasa, bahan pengawet, Gigitan serangga.Bahan-bahan fotosensitizer: griseofulvin, fenotiazin, sulfonamide, bahan kosmetik, sabun gemizid. Bahan-bahan inhalan seperti : serbuk sari, spora jamur, debu, dan bulu-bulu binatang. Trauma fisik seperti : panas(sinar matahari, radiasi),

tekanan(contohnya ikat pinggang. Infeksi dan infestasoi, faktor psikis, genetic dan penyakit sistemik. 1,2

  • 4. Klasifikasi

Menurut waktunya urtikaria dibedakan menjadi :

  • 1. urtikaria akut yaitu urtikaria yang terjadi dalam kurun waktu <6 minggu atau selama 4 minggu tetapi timbul setiap hari.

  • 2. Urtikaria kronik yang melebihi waktu dari urtikaria akut, dalam kurun waktu lebih dari 6 minggu.

Berdasarkan morfologi klinis, urtikaria dibedakan menurut bentuknya, yaitu :

  • 1. urtikaria popular bila berbentuk papul,

  • 2. gutata bila besarnya sebesar tetesan air,

  • 3. dan girata bila ukurannya besar.

Menurut luasnya dan dalam jaringan yang terkena, dibedakan menjadi :

urtikaria lokal, generalisata dan angioedema.

Berdasarkan penyebabnya urtikaria dibedakan menjadi :

  • 1. Urtikaria atas dasar reaksi imunologik : bergantung pada IgE (atopi, polen, obat, venom), ikut sertanya komplemen (reaksi sitotoksik, dan reaksi kompleks imun), reaksi alergi tipe IV (urtikaria kontak),

  • 2. Urtikaria atas dasar reaksi non imunologik : pelepasan sel mas (gol opiat dan bahan kontras), bahan yang memicu perubahan metabolisme asam arakidonat (NSAID dan aspirin), trauma fisik, rangsangan dingin, sinar atau panas.

  • 3. Urtikaria yang bersifat idiopatik.

  • 5. Pathogenesis Penting untuk mengetahui mekanisme dari urtikaria,karena hal ini akan membantu pemeriksaan yang rasional. Urtikaria terjadi karena vasodilatasi disertai permeabelitas kapiler yang meningkat, sehingga terjadi transudasi yang mengakibatkan pengumpulan cairan setempat. Sehingga secara klinis tampak edema setempat disertai kemerahan. 1

Vasodilatasi

dan

peningkatan

permeabelitas

kapiler

dapat

terjadi akibat pelepasan

mediator-mediator, misalnya histamine, kinin, serotonin, slow reacting substance anaphylaxis (SSRA), dan prostaglandin oleh sel mast dan basophil. Selain itu terjadi pula inhibisi proteinase

oleh enzim proteolitik, misalnya kalkirin, tripsin, plasmin, dan hemotripsin di dalam sel mast.Baik faktor imunologik, maupun non imunologik mampu merangsang sel mast dan basophil untuk melepaskan mediator tersebut. 1,3 Tidak semua bahan biologis potensial yang diproduksi saat sel mast terstimulasi. Contohnya, pelepasan substansi P dilepaskan oleh histamine dari sel mast kulit namun tidak beregenerasi menjadi Prostaglandin D2. Permeabelitas vaskuler pada kulit diproduksi terutama oleh reseptor histamine H1 sekitar 85% dan H2 sekitar 15%. 1,4 Faktor imunologis lebih berperan pada urtikaria akut daripada kronik; biasanya IgE terikat pada permukaan sel mast dan atau sel basofil karena adanya reseptor Fc, bila ada antigen yang sesuai berikatan dengan IgE, maka akan terjadi degranulasi sel, sehingga mampu melepaskan mediator. Keadaan ini jelas tampak pada reaksi tipe I (anafilaksis), misalnya alergi obat dan makanan. Komplemen ini ikut berperan, aktivasi komplemen secara klasik maupun secara alternatif menyebabkan pelepasan anafilatoksin (C5a, dan C3a) yang mampu merangsang sel mast dan basofil, misalnya tampak akibat racun atau toksin bakteri. 1,4

oleh enzim proteolitik, misalnya kalkirin, tripsin, plasmin, dan hemotripsin di dalam sel mast.Baik faktor imunologik, maupun

Gambar. 1.1 Skema diagram dari aktivasi sel mast kutan dengan IgG antibodi antireseptor, diikuti dengan aktivasi komplemen, pelepasan dari C5a, dan augmentasi dari sel mast. 1

Ikatan dengan komplemen juga terjadi pada urtikaria akibat reaksi sitotoksik dan kompleks imun, pada keadaan ini juga dilepaskan zat anafilatoksin. Urtikaria akibat kontak dapat juga terjadi, misalnya setelah pemakaian bahan pengusir serangga, bahan kosmetik, dan obat golongan sefalosporin. Kekurangan C1 esterase inihibitor secara genetic menyebabkan edema angioneurotik yang herediter. 1,4

  • 6. Gejala Klinis Keluhan subjektif yang biasanya muncul adalah rasa gatal, kemerahan, rasa terbakar, atau tertusuk. Klinis berupa edema setempat berbatas tegas dan kadang bagian tengah tampak lebih pucat. Bila mengenai jaringan yang lebih dalam sampai dermis dan lapisan mukosa atau subkutan yang menyebabkan terjadinya angioedema.Pada keadaan ini jaringan yang lebih sering terkena adalah muka. Gejala disertai sesak nafas, serak, dan rhinitis. Dermografisme berupa edema dan eritema yang tersebar secara linear di kulityang terkena goresan benda tumpul, timbul dalam waktu kurang lebih 30 menit.Pada urtikaria akibat tekanan, urtikaria timbul pada tempat yang tertek, misalnya di sekitar pinggang, pada penderita ini dermografisme jelas terlihat. Urtikaria akibat penyinaran biasanya pada gelombang 285-320 nm dan 400-500 nm, timbul setelah 18-72 jam penyinaran, dan klinis berbentuk urtikaria popular. Hal ini harus dibuktikan dengan tes foto temple. Sejumlah 7-17 % urtikaria kronik disebabkan faktor fisik, antara lain akibat dingin, panas, tekanan dan penyinaran. Umumnya pada dewasa muda, terjadi pada episode singkat, dan biasanya kortikosteroid sistemik umumnya kurang memberikan efek yang adekuat.

Urtikaria kolinergik dapat timbul

pada peningkatan suhu tubuh, emosi, makanan yang

memicu, dan pekerjaan berat. Biasanya bersifat sangat gatal, urtikaria bervariasi dari beberapa mm sampai nummular dan konfluen membentuk plakat. Serangan berat sering disertai gangguan sistemik seperti nyeri perut, diare muntah-muntah, dan nyeri kepala; dijumpai pada umur 15-25 tahun. Urtikaria akibat obat atau makanan umumnya timbul secara akut dan generalisata.

  • 7. Pemeriksaan Penunjang 3 Walaupun melalui anamnesis yang teliti dan pemeriksaan klinis mudah ditegakkan diagnosis utrikari, beberapa pemeriksaan diperlukan untuk membuktikan penyebabnya,

a)

misalnya:

Pemeriksaan darah, urin, dan feses rutin untuk menilai ada tidaknya infeksi yang tersembunyi

atau kelainan pada organ dalam. Cryoglobulin dan cold hemolysin perlu diperiksa pada dugaan utrikaria dingin.

  • b) Pemeriksaan gigi, telinga-hidung-tenggorok, serta usapan vagina perlu untuk menyingkirkan adanya infeksi lokal.

  • c) Pemeriksaan kadar IgE, eosinophil dan komplemen,

  • d) Tes kulit, uji gores (scratch test) dan uji tusuk/cukit (prick test), tes eliminasi makanan, cie cube testurtikaria karena dingin, Tes foto temple urtikaria karena sinar matahari (fritzpatrick seven edition).

  • e) Tes eliminasi makanan dengan cara menghentikan semua makanan yang dicurigai untuk beberapa waktu, lalu mencobanya satu demi satu.

  • f) Pemeriksaan histopatologis, walaupun tidak selalu diperlukan, dapat membantu diagnosis. Biasanya dalam kelainan berupa pelebaran kapiler di papilla dermis, gelilgi epidermis mendatar, dan serat kolagen membengkak. Pada tingkat permukaan tidak tampak infiltrasi selular dan pada tingkat lanjut terdapat infiltrasi leukosit terutama di sekitar pembuluh darah.

  • g) Pada utrikaria fisik akibat sinar dapat dilakukan tes foto temple.

  • h) Suntikan mecholyl intradermal dapat digunakan padaa diagnosis utrikaria kolinergik.

    • 8. Diagnosis Banding

Dengan anamnesis yang teliti dan pemeriksaan fisik yang cermat serta pembantu

diagnosis di atas, agaknya dapat ditegakkan diagnosis utrikaria, dan penyebabnya. Walaupun

demikian hendaknya dipertimbangkan juga beberapa penyakit sistemik yang sering disertai

utrikaria. Utrikaria kronik harus dibedakan dengan purpura anafilaktoid, pitriasis rosea bentuk

popular, dan utrikaria pigmentosa. Diagnosis banding dari urtikaria adalah purpura anafilaktoid,

dan pitriasi rosea. 1,3,4

a.

b.

c.

a.

b.

a.

b.

c.

Diagnosis Banding dari Urtikaria / Angioedema

 

Akut (< 6 minggu)

Faktor Psikis

Kronik (>6 minggu)

Reaksi Obat :

Lesi yang terjadi < 2 Jam :

Mediasi IgE

a.

Urtikaria dingin/cold urtikaria

Autoimun, terutama pada

Metabolik

b.

Urtikaria kolinergik

antibodi antitiroid

Imunitas seluler

c.

Dermatografisme

Reaksi Makanan :

d.

Urtikaria panas lokal

Idiopatik

Mediasi IgE

e.

Urtikaria aquagenik

Non IgE Mediasi

f.

g.

Urtikaria kolinergik diinduksi dingin

Dermatografi tergantung dingin

Vaskulitis Urtikaria :

Akibat pemberian cairan

intravena :

Lesi yang terjadi > 2 jam :

a.

b.

Idiopatik

Penyakit jaringan ikat

Produk darah

a.

Urtikaria tekan terlambat

b.

 

Sindrom febris

Agen Kontras

Gama globulin intravena

c.

Infeksi :

Angioedema vibrator

Urtikaria familial yang diinduksi

dingin

familial

Sindrom

a.

Infeksi viral pada anak

 

Schnitzlers

b.

Infeksi pada hepatitis B

prodromal

c.

Infeksi bakteri pada anak

  • 9. Tata Laksana

Tabel. 1.1 Diagnosis Banding dari Urtikaria 1

Menghentikan obat penyebab atau kausa penyebab adalah terapi ideal, dan pemberian

obat antihistamin, kortikosteroid pada urtikaria akut dan berat. Terapi pada urtikaria

akut/angioedema adalah pemberian antihistamin dan kortikosteroid dan identifikasi dan eliminasi

faktor penyebab/pencetus baik endogen maupun eksogen. Terapi lain yaitu dengan induksi agen

C1 inhibitor, antifibrinolitik agen, kalkirein inhibitor, dan antagonis reseptor bradikinin. 5,6,7

Terapi utrikaria secara fisik termasuk profilaksis antihistamin dosis tinggi, kecuali pada

utrikaria yang mengalami delayed. Terapi pada kronik idiopatik utrikaria atau autoimun utrikaria

atau angioedema utrikaria yaitu dengan pemberian kortikorsteroid harian dosis rendah atau obat

golongan siklosporin. 5,6,7

10. Prognosis

Urtikari akut prognosisnya lebih baik karena penyebabnya cepat dapat diatasi, urtikaria

kronik lebih sulit diaatasi karena penyebabnya sulit dicari. 8

B.

Antihistamin

1.

Definisi

Antihistamin adalah zat zat yang dapat mengurangi atau menghalagi efek histamin

terhadap tubuh dengan jalan mengeblok reseptor histamin. Anti histamin adalah zat yang

digunakan untuk mencegah atau menghambat kerja histamin pada reseptornya. Histamin sendiri

Histamin adalah autakoid yang berperan penting pada aktivitas organ tubuh baik pada

proses yang fisiologis maupun patologis. Histamin bekerja dengan menduduki reseptor tertentu

pada sel yang terdapat pada permukaan memberan. Terdapat 3 jenis reseptor histamin H1, H2,

H3; reseptor tersebut termasuk golongan reseptor yang berpasangan dengan protein G. Pada

otak, reseptor H1 dan H2 terletak pada membran pascasinaptik, sedangkan reseptor H2 terutama

prasinaptik. 8-13

Secara farmakologis reseptor histamin dapat di bagi dalam 3 tipe yaitu histamin 1

(H1), histamin 2 (H2), dan histamin 3 (H3). Peran reseptor tersebut berbeda – beda. Reseptor H1

terdapat di kulit dan otak. Rangsangan pada reseptor H1 menyebabkan kontraksi otot polos,

vasodilatasi, peningkatan permeabilitas kapiler, sekresi mucus serta menimbulkan rasa gatal.

Reseptor H2 terutama menyebabkan rangsangan sekresi asam lambung dan beberapa hormon.

Reseptor H3 terdapat di otak dan bertanggung jawab sebagai autoregulasi pelepasan histamin .

Aktivasi reseptor H1, yang terdapat pada endotel dan sel otot polos, menyebabkan

kontraksi otot polos, meningkatkan permabilitas pembuluh darah, dan sekresi mukus. Sebagian

dari efek tersebut mungkin diperantarai oleh peningkatan cyclic guanosine monophosphate di

dalam sel. Histamin juga berperan sebagai neurotransmiter dalam susunan saraf pusat. 12-15

Reseptor H2 didapatkan pada mukosa lambung, sel otot jantung, dan beberapa sel imun.

Aktivasi reseptor H2 terutama menyebabkan sekresi asam lambung. Selain itu juga berperan

dalam menyebabkan sekresi asam lambung. Selain itu juga berperan dalam menyebabkan

vasodilatasi dan flushing. Histamin menstimulasi sekresi asam lambung, meningkatkan kadar

cAMP, dan menurunkan kadar cGMP, sedangkan anithistamin H2 menghambat efek tersebut.

Pada otot polos bronkus, aktivasi reseptor H1 oleh histamin menyebabkan bronkokonstriksi,

sedangkan aktivasi reseptor H2 oleh agonis reseptor H2 akan menyebabkan relaksasi. 12-15

Reseptor H3 berfungsi sebagai penghambat umpan balik pada berbagai sistem organ.

Aktivasi reseptor H3 yang didapatkan di beberapa daerah di otak mengurangi pelepasan

transmiter baik histamin maupun norepinefrin, serotononin, dan asetilkolin. Meskipun agonis

reseptor H3 berpotensi untuk digunakan antara lain sebagai gastroprotektif, dan antagonis

reseptor H3 antara lain berpotensi untuk digunakan sebagai antiobesitas, sampai saat ini belum

ada agonis maupun anatagonis reseptor H3 yang diizinkan digunakan di klinik.

2.

Klasifikasi

  • a. Antihistamin Penghambat Reseptor H1 (AH1)

Atihistamin H1 merupakan salah satu obat terbanyak dan terluas digunakan di seluruh

dunia. Fakta ini membuat perkembangan sekecil apapun yang berkenaan dengan obat ini menjadi

suatu hal yang sangat penting. Semisal perubahan dalam penggolongan antihistamin H1. Dulu

antihistamin H1 dikenal sebagai antagonis reseptor histamin H1. Namun baru-baru ini seiring

perkembangan ilmu farmakologi molekular, antihistamin H1 lebih digolongkan sebagai inverse

agonist ketimbang antagonis reseptor histamin H1. 1,5,9,11,12

Suatu obat disebut sebagai inverse agonist bila terikat dengan sisi reseptor yang sama

dengan agonis, namun memberikan efek berlawanan. Jadi, obat ini memiliki aktivitas intrinsik

(efikasi negatif) tanpa bertindak sebagai suatu ligan. Sedangkan suatu antagonis bekerja dengan

bertindak sebagai ligan ynag mengikat reseptor atau menghentikan kaskade pada sisi yang

ditempati agonis. Beda dengan inverse agonist, suatu antagonis sama sekali tidak berefek atau

tidak mempunyai aktivitas intrinsik.

Sebelumnya antihistamin dikelompokkan menjadi 6 grup berdasarkan struktur kimia,

yakni etanolamin, etilendiamin, alkilamin, piperazin, piperidin, dan fenotiazin. Penemuan

antihistamin baru yang ternyata kurang bersifat sedatif, akhirnya menggeser popularitas

penggolongan ini. Antihistamin kemudian lebih dikenal denagn penggolongan baru atas dasar

efek sedatif yang ditimbulkan, yakni generasi pertama, kedua, dan ketiga

..

Generasi pertama dan

kedua berbeda dalam dua hal yang segnifikan. Generasi pertama lebih menyebabkan sedasi dan

menimbulkan efek antikolinergenik yang lebih nyata. Hal ini dikarenakan generasi pertama

kurang selektif dan mampu berpenetrasi pada sistem syaraf pusat (SSP) lebih besar dibanding

generasi kedua. Sementara itu, generasi kedua lebih banyak dan lebih banyak terikat dengan

protein plasma, sehingga mengurangi kemampuannya melintasi otak. Sedangkan generasi ketiga

merupakan derivat dari generasi kedua, berupa metabolit (desloratadine dan fexofenadine) dan

enansiomer (levocetirizine). Pencarian generasi ketiga ini dimaksudkan untuk memproleh profil

antihistamin yang lebih baik dengan efikasi tinggi serta efek samping lebih minimal. 1,10,11,12,13

1)

Klasifikasi atau Penggolongan Antihistamin 1 (AH 1 )

  • a) Antihistamin Generasi Pertama

AH1 efektif untuk mengatasi urtikaria akut, sedangkan pada urtikaria kronik hasilnya

kurang baik. Mekanisme kerja antihistamin dalam menghilangkan gejala-gejala alergi

berlangsung melalui kompetisi dalam berikatan dengan reseptor H1 di organ sasaran. Histamin

yang kadarnya tinggi akan memunculkan lebih banyak reseptor H1. Antihistamin tersebut

digolongkan dalam antihistamin generasi pertama. 12-15

Pada umumnya obat antihistamin generasi pertama ini mempunyai efektifitas yang serupa

bila digunakan menurut dosis yang dianjurkan dan dapat dibedakan satu sama lain menurut

gambaran efek sampingnya. Namun, efek yang tidak diinginkan obat ini adalah menimbulkan

rasa mengantuk sehingga mengganggu aktifitas dalam pekerjaan. 12-15

Efek sedatif ini diakibatkan oleh karena antihistamin generasi pertama ini memiliki sifat

lipofilik yang dapat menembus sawar darah otak sehingga dapat menempel pada reseptor H1 di

sel-sel otak. Dengan tiadanya histamin yang menempel pada reseptor H1 sel otak, kewaspadaan

menurun dan timbul rasa mengantukSelain itu, efek sedatif diperberat pada pemakaian alkohol

dan obat antidepresan. Di samping itu, beberapa antihistamin mempunyai efek samping

antikolinergik seperti mulut menjadi kering, dilatasi pupil, penglihatan berkabut, retensi urin,

konstipasi dan impotensia. 1,2,3,11,15

Yang termasuk golongan ini adalah:

Alkilamin

(propilamin)

:

bromfeniramin

maleat,

klorfeniramin

maleat

dan

tanat,

deksbromfeniramin maleat, deksklorfeniramin maleat, dimentinden maleat, tripolidin

hidroklorida, feniramin maleat/pirilamin maleat.

 

Etanolamin (Aminoalkil eter) :karbioksamin maleat, difenhidramin sitrat dan hidroklorida,

doksilamin suksinat, embramin hidroklorida, mefenhidramin metilsulfat, trimetobenzamin sitrat,

dimenhidrinat, klemastin fumarat.

 

Etilendiamin

: mepiramin maleat, pirilamin maleat, tripenelamin sitrat dan hidroklorida,

antazolin fosfat.

 

Fenotiazin : dimetotiazin mesilat, mekuitazin, metdilazin dan metdilazin hidroklrida, prometazin

hidroklorida dan teoklat, trieprazin tartrat.

 

Piperidin : azatadin maleat, siproheptadin hidroklorida, difenilpralin hidroklorida, fenindamin

tartrat.

Piperazin : hidroksizin hidroklorida dan pamoat. 4

 
  • b) Antihistamin Generasi Kedua 1,2,3,4,11,15

Antihistamin generasi kedua mempunyai efektifitas antialergi seperti generasi pertama,

memiliki sifat lipofilik yang lebih rendah sulit menembus sawar darah otak. Reseptor H1 sel otak

tetap diisi histamin, sehingga efek samping yang ditimbulkan agak kurang tanpa efek

mengantuk. Obat ini ditoleransi sangat baik, dapat diberikan dengan dosis yang tinggi untuk

meringankan gejala alergi sepanjang hari, terutama untuk penderita alergi yang tergantung pada

musim. Obat ini juga dapat dipakai untuk pengobatan jangka panjang pada penyakit kronis

seperti urtikaria dan asma bronkial. Peranan histamin pada asma masih belum sepenuhnya

diketahui. Pada dosis yang dapat mencegah bronkokonstriksi karena histamin, antihistamin dapat

meredakan gejala ringan asma kronik dan gejala-gejala akibat menghirup alergen pada penderita

dengan hiperreaktif bronkus. Namun, pada umumnya mempunyai efek terbatas dan terutama

untuk reaksi cepat dibanding dengan reaksi lambat, sehingga antihistamin generasi kedua

diragukan untuk terapi asma kronik.

Yang termasuk golongan ini adalah:

Akrivastin

Astemizole

Cetirizin

Loratadin

Mizolastin

Terfenadin

Ebastin

c)

Antihistamin Generasi Ketiga

Antihistamin generasi ketiga yaitu feksofenadin, norastemizole dan

deskarboetoksi loratadin (DCL), ketiganya adalah merupakan metabolit antihistamin generasi

kedua. Tujuan mengembangkan antihistamin generasi ketiga adalah untuk menyederhanakan

farmakokinetik dan metabolismenya, serta menghindari efek samping yang berkaitan dengan

obat sebelumnya.

Yang termasuk golongan ini adalah:

Levocetirizin

Desloratadin

Fexofenadin

2)

Farmakologi

a)

Antihistamin Tipe H1 Generasi ke-1

Antihistamin tipe H1 bekerja dengan cara competitif inhibitor terhadap histamin pada

reseptor jaringan, sehingga mencegah histamin berikatan serta mengaktivasi reseptornya.

Ikatannya reversibel dan dapat digantikan oleh histamin dalam kadar yang tinggi.Dengan

menghambat kerja dari histamin, terjadi berbagai pengaruh yang ditimbulkan antihistamin, yaitu

menghambat peningkatan permeabilitas kapiler dan edema yang disebabkan oleh histamin serta

menghambat vasokonstriksi. Obat ini lebih efektif jika diberikan sebelum pelepasan histamin.

Pada pemberian awal, antihistamin dapat mencegah edema dan pruritus selama reaksi

hipersensitivitas, sehingga banyak keuntungan yang didapat jika digunakan untuk pencegahan

urtikaria kronik idiopatik. Antihistamin tipe H1 generasi ke-1 ini juga memiliki aktivitas

antikolinergik, efek anestesi lokal, antiemetik, dan anti mabuk perjalanan Beberapa antihistamin

tipe H1 mempunyai kemampuan untuk menghambat reseptor α-adrenergik atau reseptor

muskarinik kolinergik, sedangkan obat lain mempunyai efek antiserotonin.

  • b) Antihistamin H1 Generasi ke-2 dan ke-3

Antihistamin tipe H1 low sedating merupakan antagonis dari histamin pada reseptor H1,

berikatan secara tidak kompetitif, tidak mudah diganti oleh antihistamin, dilepaskan secara

perlahan dan kerjanya lebih lama Antihistamin H1 ini, kurang bersifat lipofilik, sangat sedikit

menembus sawar darah otak, dan lebih mengikat reseptor H1 di perifer secara lebih spesifik.

Beberapa obat ini mempunyai membrane stabilizing atau efek seperti kuinidine pada otot

jantung, dan menyebabkan perpanjangan masa refraksi jantung serta aritmia ventrikuler

”torsades de pointes”.Walaupun golongan ini sering dikatakan nonsedasi, obat-obat ini tetap

dapat menyebabkan efek sedasi, namun dalam banyak penelitian dikatakan insidensi sedasi jauh

lebih sedikit dibandingkan antihistamin H1 klasik, demikian pula efek antikolinergiknya lebih

jarang terjadi dibanding antihistamin H1 klasik.Cetirizine berpengaruh pada perpindahan sel

dalam kulit dan jaringan lainnya, pelepasan atau pembuatan dan pelepasan mediator inflamasi

serta ekspresi molekul adhesi. 3,11,15

3)

Farmakokinetik

  • a) Antihistamin Tipe H1 Generasi ke-1

Setelah pemberian secara oral, antihistamin akan diabsorbsi dengan baik dalam saluran

cerna. Efeknya dapat terlihat dalam 30 menit, mencapai konsentrasi puncak plasma dalam 1-2

jam, dan dapat bertahan 4-6 jam, dan beberapa obat lainnya dapat bertahan lebih lama. 3,11,15

Antihistamin tipe H1 dimetabolisme oleh sistem enzim sitokrom hepar P450 (CYP)

CYP3S4, dikonjugasi membentuk glukuronida dan hampir seluruhnya diekskresikan ke urin

setelah 24 jam pemberian.

Antihistamin H1 diekskresi melalui urin setelah 24 jam, terutama dalam bentuk

metabolitnya. Waktu paruh beberapa antihistamin H1 menjadi lebih pendek pada anak dan lebih

panjang pada orang tua, pasien disfungsi hati, dan pasien yang menerima ketokonazol,

eritromosin, atau menghambat microsomal oxygenas lainnya.

  • b) Antihistamin H1 Generasi ke-2 dan ke-3

Antihistamin tipe H1 low sedating diabsorbsi dari saluran cerna dan mencapai puncak

konsetrasi plasma dalam 2 jam. Obat tersebut menghilangkan urtikaria dan reaksi eritema sekitar

1-24 jam. Terfenadin, astemizol, loratadin, aktivastin, mizolastin, ebastin dan oksatomid

dimetabolisme di hepar melalui sisitem enzim CYP dalam hepar CYP3A4. Cetirizin, metabolit

asam karboksilik dari terfenadin, dan desloratadin tidak dimetablisme dalam hepar.

Astemizol mempunyai efek jangka panjang, namun onset mulai kerjanya dan konsentrasi

dalam keadaan stabil dicapai dalam 3-4 minggu. Efek astemizol berlangsung lama dan obat harus

dihentikan 4-6 minggu sebelum dilakukan uji tusuk. Waktu paruh eliminasi cetirizin dan

feksofenadin pada anak-anak sama dengan dewasa.

4)

Indikasi

a)

Antihistamin Tipe H1 Generasi ke-1

Antihistamin tipe H1 generasi I digunakan untuk menghilangkan pruritus, pengobatan

urtikaria akut, urtikaria kronis, angioedema dan reaksi alergi kulit lainnya temasuk reaksi

obat.Apabila salah satu dari kelompok antihistamin tipe H1 tidak efektif, maka dapat diganti

dengan obat dari kelompok yang lain.

Antihistamin tipe H1 digunakan untuk terapi pruritus pada penderita dermatitis atopik.

Efeknya berhubungan dengan menekan ansietas dan sedasinya. Pruritus yang disebabkan hal

lain, seperti dermatitis kontak alergi dan bentuk lain dermatitis, liken planus, gigitan nyamuk dan

pruritus yang terjadi sekunder karena penyakit lain atau yang bersifat idiopatik, juga dapat

dihilangkan dengan penggunaan antihistamin tipe H1.

b)

Antihistamin H1 Generasi ke-2 dan ke-3

Antihistamin tipe ini berguna untuk pengobatan simptomatik berbagai penyakit alergi dan

mencegah efek sedatif. Antihistamin generasi pertama digunakan untuk mengatasi hipersitifitas,

reaksi tipe I yang mencakup rhinitis alergi, urtikaria kronis, rhinitis vasomotor, alergi

konjunktivitas, dan urtikaria. Agen ini juga bisa digunakan sebagai terapi anafilaksis adjuvan.

1,2,3,11,15

5)

Kontraindikasi

a)

Antihistamin Tipe H1 Generasi ke-1

Kontraindikasi pemberian obat ini adalah pada bayi baru lahir atau bayi prematur,

kehamilan, ibu menyusui, glaukoma sudut sempit, retensi urin, dan asma. Panduan penggunaan

antihistamin tipe H1 wanita hamil terbatas. Sebagian besar antihistamin tipe H1 pada wanita

hamil oleh United States of Food and Drug Administration (FDA) digolongkan sebagai kategori

 

B atau C.

b)

Antihistamin H1 Generasi ke-2 dan ke-3

 

Kontra indikasi dari antihistamin low sedating ini adalah pada kehamilan dan ibu

menyusui.

6)

Efek samping

Pada dosis, terapi, semua antihistamin H1 menimbulkan efek samping walaupun

jarang bersifat serius dan kadang-kadang hilang bila pengobatan diteruskan. Terdapat variasi

yang besar dalam toleransi obat antar individu, kadang-kadang efek ini sangat menganggu

sehingga terapi perlu dihentikan.

 

a)

Efek Samping Antihistamin H1 Generasi Pertama:

 

Sistem Saraf Pusat

Komplikasi tersering pada orang dewasa adalah depresi SSP, sedasi dan pusing. Pada

anak-anak dan orang tua dapat terjadi: kecemasan, iritabilitas, insomia, tremor dan mimpi buruk.

Bangkitan dapat terjadi, walaupun jarang. Pernah dilaporkan terjadinya diskinesia wajah dan

mulut pada penggunaan kombinasi antihistamin-dekongestan.

 

Gastrointestinal

Dapat terjadi mual, muntah, anoreksia, konstipasi dan diare.

 

Jantung

Takikardia, disritmia, hipotensi yang bersifat sementara

 

Genitourinaria

Disuria, disfungsi ereksi, retensi urin

 

Darah

Klorfeniramin

dapat

menebabkan

pansitopenia,

agranulositosis,

trombositopenia,

leukopenia dan anemia aplastik

 

Kulit

Reaksi kulit yang dapat terjadi berupa dermatitis, petekie, fixed drug eruption dan

fotosensitif.

Efek Samping Lainnya

Terdapat efek samping antikolinergik yang dapat berupa muka merah, dilatasi pupil,

hipertermia kekeringan pada membran mukosa dan penglihatan yang buram.

 

b)

Efek Samping Antihistamin H1 Generasi Kedua dan Ketiga:

 

Kardiovaskular

Efek samping kardiovaskular berupa fibrilasi ventrikel, pemanjangan interval QT dan

takiaritmia ventrikular atipikal berhubungan dengan pemakaian astemizole dan terfenadin. (Murphy)

Kelainan ini dapat tejdadi terutama pada wanita dan penderita dengan kelainan jantung organik

yang sebelumnya telah ada (seperti iskemia, kardiomiopati), arritmia, ataupun penderita dengan

gangguan eletrolit (seperti hipokalemia, hipokalsemia dan hipomagnesemia)

Sistem Saraf Pusat

Dalam beberapa penelitian dikatakan tefenadin, astemizole dan loratadin memiliki efek

sedasi yang lebih rendah dibandingkan antihistamin H1 klasik.

Kulit

Fotosensitivitas, urtikaria, erupsi makulopapular, eritema serta pengelupasan kulit tangan

dan kaki. Selain itu juga dilaporkan adanya reaksi fotoalergi dan alopesia yang diduga

berhubungan dengan penggunaan terfenadin. Dilaporkan juga suatu kasus psoriasis yang

mengalami eksaserbasi selama menggunakan terfenadin.

Hepar

Hepatotoksisitas jarang terjadi, namun dilaporkan adanya kasus hepatitis yang

berhubungan dengan penggunaan terfenadin selama 5 bulan. Peningkatan serum transaminase

dengan kadar ringan sampai sedang kadang-kadang dapat terjadi.

Efek Samping Lainnya

Dilaporkan adanya sakit kepala, mual, kekeringan pada mukosa mulut dan beberapa efek

antikolinergik lainnya, namun insidensinya sangat rendah.

7)

Interaksi Obat

  • a) Antihistamin Tipe H1 Generasi ke-1

Efek depresi SSP akan semakin meningkat apabila antihistamin tipe H1 diminum

bersamaan dengan alkohol atau obat lain yang bersifat depresif terhadap SSP seperti diazepam.

Antihistamin kelompok fenotiazin menghambat dan sebaliknya epinefrin mempunyai efek

vasosupresi. Kontra indikasi pemberian antihistamin tipe H1 adalah penderita yang mendapat

inhibitor monoamine oksidase, seperti isokarboksazid, nialamid, moklobemid, ranilsipromin,

fenelzim

  • b) Antihistamin H1 Generasi ke-2 dan ke-3

Perpanjangan QT interval dapat terjadi pada penderita yang megkonsumsi terfenadin

bersamaan dengan ketokonazol dan intrakonazol, antibiotik makrolid, seperti eritromisin dan

klaritromisin, troleandomisin, lovastatin, inhibitor protease dan flavonoid, seperti naringin dalam

sari buah anggur.

Obat-obatan lain yang dapat berpengaruh pada peningkatan kadar antihistamin serum dan

yang memiliki risiko kardiovaskular adalah Human Immunodeficiency Virus-1 (HIV-1) protease

inhibitors, Selective Serotonin Reuptake Inhibitors (SSRI) antidepresant, seperti quinin, zileuton.

  • b. Anthistamin Penghambat Reseptor H2 (AH2)

    • a) Mekanisme kerja

Sama dengan cara kerja antihistamin H1, antihistamin H2 adalah antagonis yang

mengikat reseptor H2 yang terletak di seluruh tubuh, termasuk epitel dan sel endotel. Data

terbaru mengungkapkan bahwa reseptor H2 diekspresikan pada sel mast dan sel dendritik kulit.

Melalui pengikatan dengan reseptor, antihistamin H2 memediasi permeabilitas pembuluh darah,

pelepasan mediator inflamasi setempat dan selular, dan presentasi antigen, tapi jalur ini kurang

dipahami, dan klinis tidak diketahui.

  • b) Farmakokinetik

Antihistamin H2 diabsorbsi secara cepat di saluran pencernaan dengan puncak antara

1 dan 2 jam setelah pemberian. Antistamin H2 dimetabolisme melalui hepar. Hanya sebagian

kecil dari cimetidine diserap; sebagian besar penyerapan terjadi di usus halus. Waktu paruh dari

cimetidine dalam plasma adalah 2 jam. Sekitar 69% diekskresikan melalui urine. Waktu paruh

ranitidine dalam plasma adalah 2-3 jam pada orang dewasa yang sehat dan orang tua dengan

gangguan hati dan ginjal. Metabolit obat diekskresikan terutama melalui urin. Famotidine

memiliki waktu paruh di plasma sekitar 3-8 jam. Pada pasien dengan gagal ginjal, waktu paruh

dari famotidine dapat melebihi 20 jam. nizatidine memiliki waktu paruh plasma 1-2 jam, dan

durasi kerjanya sampai dengan 10 jam. nizatidine terutama dieliminasi oleh ginjal dalam waktu

16 jam. Bioavailabilitas nizatidine oral tidak berpengaruh oleh makanan. Agen ini bersifat

lipofilik dengan penetrasi terbatas dari sawar darah otak.

  • c) Indikasi pada dermatologi

Ada beberapa data dari studi terkontrol yang mendukung penggunaan H2 blocker

untuk mengobati kondisi dermatologi. Paling sering, kelompok ini digunakan dalam kasus-kasus

refrakter urtikaria kronis dan angioedema. Kombinasi hydroxyzine dan cimetidine dapat

mengurangi rasa gatal, jumlah papul, dan tingkat keparahan daripada hydroxyzine saja.

Pengamatan serupa pada klorfeniramin dikombinasikan dengan cimetidine. Kombinasi terapi

antihistamin H1 dan H2 juga dapat membantu dalam mengurangi gatal dan pertumbuhan papul

pada mastositosis sistemik dan urtikaria pigmentosa. Klorfeniramin dan cimetidine merupakan

kombinasi efektif dalam mengurangi gatal dan papul.

Pada laporan anekdotal dari penggunaan cimetidine untuk mengobati pruritus sekunder

pada kondisi medis lainnya seperti polisitemia vera dan carcinoid flush. Dosis tinggi cimetidine

dapat berhasil dalam pengobatan veruka vulgaris di beberapa individu.

  • d) Risiko dan Pencegahan

Antihistamin H2 mungkin memiliki beberapa efek sistem saraf pusat, termasuk

kebingungan, sakit kepala, dan pusing (Kotak 229-6). Efek samping lainnya termasuk kantuk,

malaise, nyeri otot, diare, dan sembelit. Dengan penekanan sekresi asam lambung, antihistamin

H2 dapat memudahkan terjadinya infeksi mulut dan meningkatkan risiko pneumonia pada

individu immunocompromised, termasuk pasien diabetes, orang tua, dan pasien dengan

immunodeficiency. Sebagai golongan, obat ini dapat menutupi gejala karsinoma lambung.

Efek samping yang hebat dari cimetidine yaitu ginekomastia dengan atau tanpa

peningkatan kadar prolaktin pada laki-laki; galaktorea dengan peningkatan kadar prolaktin pada

perempuan; hilangnya libido, impotensi, dan pengurangan jumlah sperma pada lelaki dewasa.

Efek samping dermatologi yang jarang, termasuk alopesia dan vaskulitis urtikaria. Perubahan

dari sympathovagal jantung dapat menyebabkan kerentanan aritmia, terutama bradiaritmia,

setelah infus intravena. Famotidine dan nizatidin berhubungan dengan beberapa efek samping;

dapat menyebabkan penghambatan sistem CYP dan karena itu interaksi obat lebih sedikit.

  • e) Interaksi obat

Melalui penghambatan sistem CYP, cimetidine meningkatkan kadar serum berbagai obat,

termasuk beberapa obat yang paling umum digunakan dalam perawatan pasien. Cimetidine

meningkatkan kadar warfarin dan dapat menyebabkan peningkatan waktu protrombin dan risiko

perdarahan. Cimetidine juga berinteraksi dengan banyak obat jantung yaitu β blocker, calcium

channel blockers, amiodaron, golongan antiaritmia. Seperti yang sudah disebutkan (lihat Bagian

"Inisiasi Therapy"), penggunaan cimetidine merupakan kontraindikasi pada pasien yang

menggunakan dofetilide. Obat lainnya yang berinteraksi dengan cimetidine adalah fenitoin,

beberapa benzodiazepin, metformin, sulfonilurea, dan selective serotoninreuptake inhibitors.

Meskipun ranitidine kebih jarang berinteraksi dengan obat lain daripada cimetidine,

interaksi yang signifikan dengan fentanyl, metoprolol, midazolam, nifedipine, teofilin, dan

warfarin. Ranitidine dapat menurunkan penyerapan diazepam dan mengurangi konsentrasi

plasma sebesar 25%. Famotidine dan nizatidin lebih sedikit berinteraksi dengan obat.

  • C. Hubungan Pemakaian Antihistamin Dengan Kejadian Urtikaria

Pedoman konsensus manajemen urtikaria antara lain menghindari faktor penyebab dan

farmakoterapi (spesifik dan non spesifik). Pendekatan farmakoterapi seperti obat antihistamin

(spesifik), dan menghambat pelepasan sel seperti kortikosteroid (non spesifik). Tetapi pengunaan

kortikosteroid jangka panjang tidak dianjurkan dalam pengobatan urtikaria karena resiko dan

efek samping jangka panjang lebih besar daripada manfaatnya. Pendekatan pengobatan spesifik

melibatkan penggunaan antihistamin H1 non sedatif seperti cetirizine, levocetirizine, loratadine,

desloratadine, dan fexofenadine yang memberikan efek antialergi dan antiinflamasi dengan

menghambat pelepasan sitokin dari basofil dan mengurangi aktifitas sel mast dari eosinofil.

Sedangkan penggunaan antihistamin H1 sedatif dan antihistamin H2 dapat berguna pada pasien

yang mengalami gejala psikosomatis, depresi dan kecemasan karena urtikaria (Sujoy, 2013).

Gejala urtikaria dimediasi oleh reseptor H1 pada saraf kulit dan sel endotel akibat pelepasan

histamin oleh sel mast, ini berarti bahwa antihistamin adalah pengobatan lini pertama urtikaria

kronik.

Dalam bidang dermatologi, antihistamin secara luas telah digunakan sebagai terapi.

Sangatlah penting untuk mengetahui farmakologi antihistamin yang akan diberikan. Berdasarkan

penelitian yang dilakukan oleh Vella dkk (2010), penatalaksanaan di Divisi Alergi-Imunologi

Unit Rawat Jalan Kulit dan Kelamin RSUD Dr. Soetomo Surabaya pada penderita urtikaria akut

terbanyak adalah antihistamin H1 saja sebanyak 221 penderita (59,6%), dalam hal ini pilihan

obat tersering adalah mebhidrolin napadisilat. Pengobatan yang diberikan kepada penderita

urtikaria kronis terbanyak adalah kombinasi antihistamin H1 dengan antihistamin H2 sebanyak

188 penderita (63,1%), dengan pilihan obat tersering kombinasi mebhidrolin dan simetidin. 15,17

Pada penelitian di atas, hampir sebagian penderita urtikaria akut (UA) maupun urtikaria

kronik (UK) mendapat pengobatan antihistamin H1 saja, masing-masing 59,6% dan 35,9%.

berikutnya kombinasi antihistamin H1 dan antihistamin H2, didapatkan 50,4% pada UA dan

63,1% pada UK. Terdapat 5,4% penderita UA yang mendapat kombinasi kortikosteroid sistemik

dan antihistamin, sedangkan pada UK sebanyak 3,9%. Pada pengobatan urtikaria akut dalam hal

ini perlu mendapat perhatian, mengingat hampir sebagian kasusnya ditambahkan antihistamin

H2 sebagai terapi awal. Walaupun umumnya antihistamin dapat mengatasi gejala urtikaria, pada

kasus yang berat memerlukan kortikosteroid. Penggunaan kortikosteroid sistemik bertujuan

untuk mengurangi gejala pasien dengan urtikaria, walaupun memberikan hasil yang tidak

memuaskan. Kortikosteroid sistemik ini tidak boleh digunakan dalam jangka waktu yang

panjang, karena bisa menimbulkan efek samping yang lebih parah.Pernyataan ini tidak sejalan

dengan penelitian yang dilakukan oleh Sujeong dkk (2013), yang menyatakan bahwa dari 498

pasien dengan pengobatan antihistamin H1 dan 103 pasien dengan pengobatan kombinasi

antihistamin H1 dengan kortikosteroid oral tidak didapatkan perbedaan signifikan dalam

penyembuhan pada urtikaria tetapi pada penelitian ini didapatkan adanya keuntungan dalam

pengobatan awal pada urtikaria dengan penggunaan antihistamin H1 saja. Beberapa

keuntungannya seperti mengurangi biaya pengobatan, mencegah efek samping yang lebih berat,

dan mengurangi pemakaian kortikosteroid oral.

Antihistamin H1 efektif dalam penanganan urtikaria kronik, terutama antihistamin H1

generasi kedua yang aman dan efektif sebagai lini pertama penanganan pada urtikaria kronik.

Hal ini sependapat dengan penelitian yang dilakukan oleh Wellwe dkk (2011), menunjukkan

bahwa penggunaan antihistamin H1 generasi kedua lebih efektif dibandingkan antihistamin H1

generasi pertama dengan angka signifikan (P<0,0005). Dan antihistamin H1 generasi pertama

lebih banyak memberikan efek yang tidak diharapkan daripada antihistamin H1 generasi kedua

dengan angka signifikan (P<0,0001). Serta pasien dengan pemakaian obat antihistamin H1

generasi pertama lebih cepat terasa lelah daripada pemakaian obat antihistamin H1 generasi

kedua dengan angka signifikan (P<0,0001). Sehingga pada penelitian ini merekomendasikan

pengobatan lini pertama pada pasien urtikaria harus menggunakan pengobatan antihistamin H1

generasi kedua. Namun, antagonis H2 atau antagonis reseptor leukotrin dapat dipertimbangkan

untuk pasien urtikaria kronik dengan respon yang tidak memuaskan dengan antihistamin H1

generasi kedua.

Rekomendasi JTFPP dalam pendekatan pengobatan urtikaria kronik dengan antihistamin

H1 yang secara bertahap dapat diikuti dengan peningkatan dosis menjadi 2-4 kali dosis harian

atau menambahkan antihistamin H2 atau antagonis reseptor leukotrin jika belum terkontrol. Dan

jika penggunaan 3 terapi masih tetap tidak terkontrol dapat dipertimbangkan penggunaan

imunosupresif. Dimana prednison mungkin diperlukan selama proses untuk mengendalikan

gatal-gatal. Sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Amin, Priyal. Et all (2014)

menyatakan bahwa 33% dari 221 responden dapat dikontrol dengan penambahan siklosporin.

Sedangkan pada penelitian Hollander et all, menyatakan tidak ada hubungan yang signifikan

dengan respon siklosporin, tetapi penggunaan siklosporin memberikan durasi yang lebih singkat

dalam penanganan urtikaria kronik. 5

Hal ini sependapat dengan penelitian yang dilakukan oleh Amin, Priyal. Et all (2014)

menyatakan bahwa kombinasi terapi antihistamin H1 generasi kedua dengan antagonis reseptor

leukotrin memiliki kontrol tertinggi dibandingan dengan pilihan kombinasi obat-obatan lainnya.

Pada urtikaria fisik umumnya lebih sulit dikontrol, sehingga penggunaan antihistamin H1

generasi pertama atau antihistamin H1 generasi kedua atau antagonis reseptor leukotrin dikaitkan

secara signifikan lebih baik. Penelitian ini didukung oleh Kozet et all, bahwa pasien dengan

urtikaria fisik selain tekanan, dingin, surya dan aquagenik berespon lebih baik terhadap

antihistamin H1, terutama antihistamin H1 generasi kedua sedikit lebih baik dapat mengontrol

urtikaria fisik sedangkan pada urtikaria dermatografia dapat dikontrol dengan antagonis reseptor

leukotrin.

 

DAFTAR PUSTAKA

  • 1. Thomas

Fitzpatrick,

B.

Dermatology in General Medicine, eight edition. New York:

McGrawHill: 2012

  • 2. Kosnik, Mitja & Subic Tjasa, Add-on montelukast antihistamoine-resistant chronic idiopathic urticarial, Slovenia : Elsevier, 2011

3.

Cugno,

Massimo

et

al.,

Activation

of

blood

coagulation

in

chronic

urticarial

:

pathophysiological and clinical implications, Milan : Intern Emege Medicine , 2009

  • 4. Neverman, Lissa & Weinberger, Miles, Treatment of Chronic Urticaria in Children with Antihistamine

and Cyclosporine,

Imunology, 2014

USA : American Academy of Alergy and Asthma

and

  • 5. A, Jonathan et al., The diagnosis and management of acute and chronic urticaria, USA : American Academy of Alergy and Asthma and Imunology, 2014

  • 6. Amin, Priyal et al., Investigation of Patient – Spesific Characteristics Associated with Treatment Outocomes of Chronic Urticaria, USA : American Academy of Alergy and Asthma and Imunology, 2015

7.

Khan, Sujoy et al., Chronic Urticaria: Indian Context-Challenges and Treatment Options, India :

Hindawi Publisihing Corporation, 2013

  • 8. Nicolas, A Soter et al., Treatment of Chronic Spontaneus Urticaria, New York : Journal of Drug Dermatology, 2015

  • 9. Greenberger, A Paul, Chronic Urticaria : a new management options, USA : WAO Journals,

2014

  • 10. Borgez, S Mario et al., Comparative efficacy of non-sedating antihistamine updosing in patients

with chronic urticarial, Spain : Plos One, 2012

  • 11. Kim, Sujeong et al., Influence of initial Treatment Modality on Long Term Control of Chronic

Idiopathic Urticaria, Seoul : Plos One, 2013

  • 12. Elodie Le Fourn et al., Study Design and Quality of Reporting or Randomized Controlled Trials

of Chronic Idiopathic or Autoimune Urticaria : Review, France : Plos One, 2012

  • 13. Fitzpatrick,

Thomas

B.

Dermatology in General Medicine, seventh edition. New York:

McGrawHill: 2008

 
  • 14. Weller, Karsten et al., H1-Antihistamine Up-Dosing Chronic Spontaneous Urticaria : Patients ‘

Perspective of Effectiveness and Side Effects- A Retrospective Survey Study,

Germany : Plos One, 2011

 
  • 15. Vella et al., Urtikaria –Studi Retrospekif, Surabaya : Pengarang Utama No.318, 2010

  • 16. Jauregui et al., Antihistamines Treatment in The Chronic Urticaria, Spain : Esmod Publicidad,

2007

  • 17. Fernando, Suran, Chronic urticarial Assesment and Treatment, Australia: Australia Family Physician Vol .39, No. 3, 2010