Anda di halaman 1dari 13

PENDIDIKAN INKLUSI DALAM

SUDUT PANDANG AGAMA


KELOMPOK 7
1. Hermawan
(A1C213
2. Priskila Dwi Utami (A1C213046)
3. Rabiatul Adawiyah (A1C2130
4. Destina Rofinalia (A1C2130
5. Siti Mei Yani
(A1C213
6. Monica Tancania TP (A1C213

Pengertian Pendidikan Inklusi


Pengertian Pendidikan Inklusi
Pendidikan inklusi adalah bentuk
penyelenggaraan pendidikan yang menyatukan
anak-anak berkebutuhan khusus dengan anakanak normal pada umumnya untuk belajar.
Menurut Hildegun Olsen pendidikan
inklusi adalah sekolah harus mengakomodasi
semua anak tanpa memandang kondisi fisik,
intelektual, sosial emosional, linguistik atau
kondisi lainnya.

Menurut Staub dan Peck pendidikan inklusi adalah penempatan


anak berkelainan ringan, sedang dan berat secara penuh di kelas.
Dari beberapa pendapat,pendidikan inklusi adalah pelayanan
pendidikan untuk peserta didik yang berkebutuhan khusus tanpa
memandang 12 kondisi fisik, intelektual, sosial emosional,
linguistik atau kondisi lainnya untuk bersama-sama mendapatkan
pelayanan pendidikan di sekolah regular.

Pendidikan Inklusi dalam


Sudut Pandang Agama Islam

Pendidikan Inklusi dalam Sudut Pandang Agama Islam

Ajaran Islam mendukung adanya pendidikan


Inklusi.
Dalam ajaran Islam menuntut ilmu itu wajib bagi
setiap laki-laki maupun perempuan.
Al-Quran Surat Az Zuhruf ayat 32 menyebutkan
yang artinya Allah telah menentukan diantara
manusia penghidupan mereka dalam kehidupan
dunia, dan Allah telah meninggikan sebagian dari
mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat
agar sebagian mereka dapat saling mengambil
manfaat (membutuhkan).

Oleh karena itu, setiap yang memiliki ilmu


haruslah memberikan dan mengajarkannya
kepada orang lain dan tidak terkecuali bagi orang
yang berstatus menyandang cacat maupun yang
berkebutuhan khusus.

PENDIDIKAN INKLUSI MENURUT PERSPEKTIF


AGAMA KRISTEN

PENDIDIKAN INKLUSI MENURUT PERSPEKTIF AGAMA KRISTEN

Dari masa ke masa pendidikan selalu mengalami


perubahan, karena memang tuntutan zaman
yang berguna agar dapat memberikan layanan
pendidikan sesuai dengan kebutuhan individu.

Dalam konteks Eropa, sekolah dasar di Norwegia


mempunyai sejarah yang sangat panjang sejak
pengesahannya secara resmi oleh Raja Christian VI
pada tahun 1739. Fondasi sekolah ini, yaitu untuk
semua dan setiap orang, merupakan upaya utama
dalam bidang pendidikan pada waktu itu, yang
dilaksanakan oleh monarki otokratik, dan sangat
dipengaruhi oleh ideologi Kristen pietism dan
cameralism
Sekolah merupakan elemen kunci dalam proyek melek
huruf keagamaan yang dikembangkan untuk
memfasilitasi tanggung jawab individual setiap orang
kepada Tuhan Kristen di samping untuk alasan-alasan
praktis.

Isi pelajaran pada awal sejarah sekolah dasar ini


adalah membaca dan penjelasan tentang bagianbagian tertentu dari doktrin Kristen. Akan tetapi,
sejak didirikannya, sekolah dasar Norwegia ini
telah memperluas isinya, dan sekarang telah
mencakup sepuluh mata pelajaran wajib, dengan
mata pelajaran Pengetahuan Kristen dan
Pendidikan agama dan Etika sebagai mata
pelajaran minor

Erik Pontoppidan (1698-1764) adalah salah


seorang penggagas utama sekolah baru ini.
Dalam tulisannya tentang pendidikan,
Pontoppidan menunjukkan bahwa dia menyadari
bahwa anak-anak belajar dengan cara yang
berbeda-beda dan dengan kecepatan yang
berbeda-beda.
Pada tahun, 1555, seorang pendeta
berkebangsan Spanyol, Pedro Ponce de
Leon,mengajar membaca, menulis, berbicara,
dan berhitung kepada anak-anak tuli.

Pada tahun 1700an, Jacob Perieretertarik kepda


sekelompok orang tuli dan bisu yang menurut
pandanganmasyarakat saat itu anak-anak
seperti ini tidak dapat dididik atau
dilatih.Meskipun demikian Jacob Periere mencoba
untuk mengajar merekamenggunakan bahasa
isyarat dan menggunakan alat sederhana untuk
berhitung.Jacob Periere ingin menunjukkan
bahwa dengan pengajaran yang khusus
merekadapat diajar atau dididik.

Pendidikan yang diselenggarakan gereja juga


harus menekankan pendekatan inklusi yang bisa
diterima dan dikembangkan oleh semua elemen
masyarakat, yang tidak membeda-bedakan
antara yang cacat atau disabilitas dan yang tidak