Anda di halaman 1dari 54

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang
Keluarga berencana merupakan salah satu dari usaha pemerintah untuk
mengendalikan pertumbuhan penduduk. Pertumbuhan penduduk yang terlalu tinggi
menyebabkan berbagai masalah sosial dan pada akhirnya dapat menghambat
pembangunan nasional. Oleh karena itu, evaluasi yang berkesinambungan mengenai
program KB ini sangat penting, terutama untuk meningkatkan keberhasilan dan mutu
pelayanan KB.

Keluarga Berencana didefinisikan sebagai suatu upaya peningkatan kepedulian


dan peran serta masyarakat melalui penundaan usia perkawinan, pengaturan kelahiran,
pembinaan ketahanan keluarga, peningkatan kesejahteraan keluarga untuk mewujudkan
keluarga kecil, bahagia dan sejahtera menurut Undang-undang No. 10/1992 tentang
Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Sejahtera. Sedangkan
berdasarkan WHO (Expert Committe, 1970) adalah tindakan yg membantu individu/
pasutri untuk: mendapatkan objektif-objektif tertentu, menghindari kelahiran yang tidak
diinginkan, mendapatkan kelahiran yang diinginkan, mengatur interval diantara
kehamilan dan menentukan jumlah anak dalam keluarga.

Dewasa ini, laju pertumbuhan penduduk di dunia cukup tinggi. Angka


pertumbuhan penduduk ini tentu berpengaruh terhadap tingginya angka kematian ibu dan
anak. Untuk menurunkan laju pertumbuhan penduduk di dunia, WHO pernah membuat
program khusus yang ditandatangani oleh hampir 120 negara di konferensi Internasional
Cairo mengenai kependudukan pada tahun 1994. Dalam perjanjian tersebut salah satu
program yang diajukan adalah program Family Planning yang difokuskan untuk
membatasi jumlah anak yang lahir di dunia.

Indonesia merupakan salah satu negara yang ikut menandatangani perjanjian


tersebut. Untuk mensukseskan kegiatan WHO ini, Indonesia mendirikan sebuah badan
khusus mengurus masalah Keluarga Berencana (KB) yaitu BKKBN (Badan
Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional).

Jumlah penduduk Indonesia menduduki urutan keempat terbesar di dunia sesudah


Cina, India, dan Amerika Serikat yaitu 237.641.326 jiwa. Menurut sensus penduduk
tahun 2010, laju pertumbuhan penduduk Indonesia masih mencapai angka 1,49% berarti
bahwa di Indonesia setiap tahunnya masih ada pertambahan penduduk sejumlah 3 juta - 5
juta, dengan perkiraan tiap harinya lahir 10.000 bayi di Indonesia, dimana angka ini
melebihi angka proyeksi nasional. Jumlah penduduk yang besar dengan kualitas yang
rendah dapat menjadi beban dan ancaman pembangunan yang perlu diwaspadai seperti
terhambatnya pertumbuhan ekonomi yang berujung pada tingginya kemiskinan.

Dalam tiga puluh tahun terakhir pencapaian KB di Indonesia dianggap telah


berhasil di tingkat internasional. Hal ini terlihat dari penurunan Angka Fertilitas Total
(Total Fetility Rate/ TFR) dari 5,6 pada tahun 1971 menjadi 2,6 pada tahun 1997 dan
bertahan hingga sekarang berdasarkan survei demografi kesehatan Indonesia yang
terakhir. Demikian pula dengan pencapaian Cakupan Peserta KB Aktif (Contraceptive
Prevalence Rate/ CPR) dengan berbagai metode, meningkat dari 57,4% pada tahun 1997
menjadi 60,3% tahun 2002-2003. Walaupun data tersebut menunjukkan keberhasilan
program KB, tetapi berdasarkan Kebijakan program KB Nasional tahun 2010 oleh
BKKBN mengatakan bahwa target TFR tahun 2010 2014 masih belum tercapai, yaitu
sebesar 2,1. Angka TFR Jakarta sebesar 2,1 dan TFR Jakarta Utara sebesar 1,92. Angka
TFR Pademangan sebesar 1,8.

Berdasarkan Standar Pelayanan Minimal (SPM) Bidang Kesehatan di


Kabupaten/Kota (Permenkes RI no 741/Menkes/Per/VII/2008), pelayanan program KB
dimulai dari tingkat pelayanan kesehatan pertama yaitu Puskesmas. Tujuan umum
program KB di Puskesmas adalah meningkatnya kesejahteraan keluarga dalam rangka
terwujudnya norma keluarga kecil, bahagia dan sejahtera (NKKBS) yang menjadi dasar

bagi terwujudnya masyarakat yang sejahtera melalui pengendalian pertumbuhan


penduduk. Untuk mencapai tujuan tersebut pemerintah menyelenggarakan pelayanan
kontrasepsi yang lebih diarahkan pada metode kontrasepsi yang bersifat jangka panjang,
yakni IUD (Intra Uterine Device), susuk (implant), Metode Operasi Wanita (MOW), dan
Metode Operasi Pria (MOP) Kedua metode kontrasepsi ini dikenal dengan nama Metode
Jangka Panjang (MJP).

Kegiatan program KB adalah:


a) Penyuluhan KB
b) Pengenalan NKKBS (Norma Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera)
c) Pembinaan akseptor IUD, implan, suntik, dan kontap
d) Pelayanan medis
e) Pemeriksaan status kesehatan pasangan calon pengantin
f) Pemasangan alat kontrasepsi
g) Rujukan kasus yang tidak dapat ditangani oleh puskesmas
h) Pembinaan peran serta masyarakat.

Banyaknya penduduk yang masih belum mengikuti program KB tentu memberikan


dampak yang cukup besar, diantaranya adalah jumlah kelahiran yang tinggi yang tentu
dapat meningkatkan angka kematian ibu dan anak. Akibat lain yang ditimbulkan adalah
tingginya angka kemiskinan dan rendahnya pendidikan. Cakupan KB aktif tahun 2015 di
Puskesmas Kelurahan Warakas mengalami penurunan dibandingkan tahun 2013 dan
2014 (turun sekitar 15%). Perilaku wanita usia subur dalam penggunaan KB dipengaruhi
oleh pengetahuan yang dimiliki oleh wanita tersebut dan sikap yang dimiliki terhadap
penggunaan KB

1.2.Pernyataan Masalah
1.2.1. Bagaimana tingkat pengetahuan wanita usia subur mengenai metode KB?
1.2.2. Bagaimana sikap wanita usia subur terhadap program KB?
1.2.3. Bagaimana pengetahuan dan sikap wanita usia subur setelah mendapat konseling KB?

1.3.Tujuan
1.3.1. Tujuan Umum
Mengubah sikap wanita usia subur yang enggan berKB.
1.3.2. Tujuan Khusus
a) Mengetahui gambaran pengetahuan wanita usia subur mengenai metode KB.
b) Mengetahui gambaran sikap wanita usia subur mengenai program KB.
c) Meningkatkan pengetahuan wanita usia subur mengenai metode KB yang
tersedia.

1.4.Manfaat
1.4.1. Penulis
a) Berperan serta dalam usaha peningkatan kesadaran masyarakat mengenai
pentingnya program KB
b) Melatih penulis dalam menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang dimiliki PUS
mengenai KB dilapangan
c) Untuk memenuhi salah satu tugas penulis dalam menjalankan program
internsip
1.4.2. Puskesmas
a) Membantu memberikan konseling terhadap calon akseptor KB sebelum
memilih KB dipuskesmas
b) Membantu meningkatkan capaian KB aktif di Puskesmas Kelurahan Warakas

1.4.3. Masyarakat
a) Membantu mensosialisasikan kepada masyarakat macam-macam metode KB
yang ada
b) Meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya program KB

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1.Metode Amenorea Laktasi (MAL)


Metode Amenorea Laktasi (MAL) adalah kontrasepsi yang mengandalkan pemberian Air
Susu Ibu (ASI). MAL sebagai kontrasepsi bila:
a) Menyusui secara penuh (full breast feeding)
b) Belum haid
c) Umur bayi kurang dari 6 bulan

Efektif sampai 6 bulan. Harus dilanjutkan dengan pemakaian metode kontrasepsi lainnya.
Menyusui secara ekslusif merupakan suatu metode kontrasepsi sementara yang cukup efektif,
selama klien belum mendapat haid, dan waktunya kurang dari 6 bulan pascapersalinan.
Efektivitas dapat mencapai 98%. Efektif bila menyusui lebih dari 8 kali sehari dan bayi
mendapat cukup asuhan per laktasi; ibu belum mendapat haid, dan dalam 6 bulan pasca
persalinan.
2.1.1. Cara kerja:2
Penundaan atau penekanan ovulasi.
2.1.2. Keuntungan kontrasepsi:2
a) Efektivitas tinggi (keberhasilan 98% pada enam bulan pascapersalinan).
b) Segera efektif.
c) Tidak menggangu sanggama.
d) Tidak ada efek samping secara sistemik.
e) Tidak perlu pengawasan medis.
f) Tidak perlu obat atau alat.
g) Tanpa biaya.
2.1.3. Keuntungan Non-kontrasepsi2
a) Untuk Bayi

1) Mendapat kekebalan pasif (mendapatkan antibodi perlindugan dari


ASI).
2) Sumber asupan gizi yang terbaik dan sempurna untuk tumbuh
kembang bayi yang optimal.
3) Terhindar dari keterpaparan terhadap kontaminasi dari air, susu lain,
atau formula, atau alat minum yang dipakai.
b) Untuk Ibu
1) Mengurangi perdarahan pasca persalinan.
2) Mengurangi resiko anemia.
3) Meningkatkan hubungan psikologik ibu dan bayi.
2.1.4. Keterbatasan2
a) Perlu persiapan sejak perawatan kehamilan agar segerah menyusui dalam 30
menit pascapersalinan.
b) Mungkin sulit dilaksanakan karena kondisi sosial.
c) Efektivitas tinggi hanya sampai kembalinya haid atau sampai dengan 6 bulan.
d) Tidak melindungi terhadap IMS termasuk hepatitis B/HBV dan HIV/AIDS.
2.1.5. Yang dapat menggunakan MAL2
Ibu yang menyusui secara ekslusif, bayinya berumur kurang dari 6 bulan dan
belum mendapatkan haid setelah melahirkan.
Keadaan

Ketika mulai memberikan makanan


pendamping secara teratur (menggantikan
satu kali menyusui).

Anjuran
Membantu klien memilih metode lain.
Walaupun metode kontrasepsi lain
dibutuhkan, klien harus didorong untuk
tetap melanjutkan pemberian ASI.
Membantukan klien memilih metode lain.

Ketika haid sudah kembali.

Walaupun metode kontrasepsi lain


dibutuhkan, klien harus didorong untuk
tetap melanjutkan pemberian ASI.

Bayi menghisap susu tidak sering (on

Membantukan klien memilih metode lain.

demand)

Walaupun metode kontrasepsi lain


dibutuhkan, klien harus didorong untuk
tetap melanjutkan pemberian ASI.
Membantukan klien memilih metode lain.

Bayi berumur 6 bulan atau lebih.

Walaupun metode kontrasepsi lain


dibutuhkan, klien harus didorong untuk
tetap melanjutkan pemberian ASI.

Tabel 2.1 Keadaan yang Mendukung Penggunaan Metode MAL


2.1.6. Yang seharusnya tidak pakai MAL2
a) Sudah mendapat haid setelah bersalin.
b) Tidak menyusui secara ekslusif.
c) Bayinya sudah berumur lebih dari 6 bulan.
d) Bekerja dan terpisah dari bayi lebih lama dari 6 jam.
2.1.7. Instruksi Kepada Klien (Hal yang harus Disampaikan Kepada Klien)2
a) Seberapa sering harus menyusui.
Bayi disusui secara on demand (menurut kebutuhan bayi). Biarkan bayi
menyelesaikan menghisap dari satu payudara sebelum memberikan payudara
lain, supaya bayi mendapat cukup banyak susu akhir (hind milk). Bayi hanya
membutuhkan sedikit ASI dari payudara berikut atau sama sekali tidak
memerlukan lagi. Ibu dapat memulai dengan memberikan payudara lain pada
waktu menyusui berikutnya sehingga kedua payudara memproduksi banyak
susu.
b) Biarkan bayi menghisap sampai dia sendiri yang melepaskan hisapannya.
c) Susui bayi juga pada malam hari karena menyusui pada malam hari
membantu mempertahankan kecukupan persediaan ASI.
d) Bayi harus terus disusukan walau ibu/bayi dalam keadaan sakit.
e) ASI dapat disimpan dalam lemari pendingin.
f) Kapan mulai memberikan makanan padat sebagai makanan pendamping ASI.

Selama bayi tumbuh dan berkembang dengan baik serta kenaikan berat
badan cukup, bayi tidak memerlukan makanan selain ASI sampai umur 6
bulan.
g) Apabila ibu menggantikan ASI dengan minuman atau makanan lain, bayi
akan menghisap kurang sering, akibatnya menyusui tidak lagi efektif sebagai
metode kontrasepsi.
h) Haid
Ketika ibu mulai mendapat haid lagi, itu pertanda ibu sudah mulai subur
kembali dan harus segerah menggunakan metode KB lainnya.

2.1.8. Beberapa catatan dari konsensus Bellagio (1988) untuk mencapai keefektifan
98%2
a) Ibu harus menyusui secara penuh atau hampir penuh (hanya sesekali diberi 12 teguk air/minuman pada upacara adat/agama).
b) Perdarahan sebelum 56 hari pasacapersalinan dapat diabaikan (belum
dianggap haid).
c) Bayi menghisap secara langsung.
d) Menyusui dimulai dari setengah sampai satu jam setelah bayi lahir.
e) Kolostrum diberikan pada bayi.
f) Pola menyusui on demand dan dari kedua payudara.
g) Sering menyusui selama 24 jam termasuk pada malam hari.
h) Hindari jarak menyusui lebih dari 4 jam.
Setelah bayi berumur lebih dari 6 bulan, kembalinya kesuburan mungkin
didahului haid, tetapi dapat juga tanpa didahului haid. Efek ketidaksuburan karena
menyusui sangat dipengaruhi oleh aspek-aspek:
a) Cara menyusui.
b) Seringnya menyusui.
c) Lamanya setiap kali menyusui.
d) Jarak antara menyusui.
e) Kesungguhan menyusui.

2.2.Kontrasepsi Tanpa Menggunakan Alat


2.2.1. Pembilasan pasca senggama (postcoital douche)3
Pembilasan vagina dengan air biasa atau tanpa larutan obat (cuka atau obat lain)
segera setelah koitus merupakan cara yang sudah lama dilakukan untuk tujuan kontra
sepsi. Maksudnya adalah untuk mengeluarkan sperma secara mekanik dari vagina.
Penambahan cuka ialah untuk memperole efek spermisid serta menjaga asiditas
vagina.

Efektivitas, cara ini kemungkinan mengurangi kemungkinan terjadinya konsepsi


hanya dalam batas-batas tertentu, karena sebelum pembilasan dapat dilakukan,
spermatozoa dalam jumlah besar sudah memasuki serviks uteri.
2.2.2. Perpanjangan masa menyusui anak (prolonged lactation)3
Sepanjang sejarah wanita mengetahiu bahwa dengan menyusui anaknya setelah
melahirkan, maka dapat mencegah kehamilan. Laktasi berkaitan dengan adanya
prolaktinemia dan prolaktin menekan adanya ovulasi.
2.2.3. Pantang berkala (rhythm method)3
Cara ini pertama sekali diperkenalkan Kyusaku Ogino dari jepang dan Hermann
Knaus dari jerman, sekitar tahun 1931, dan sering disebut cara Ogino-knaus. Mereka
bertitik tolak dari penyelidikan bahwa wanita dapat hamil dalam beberapa hari saja
dalam daur haidnya. Masa subur disebut juga fase ovulasi mulai 48 jam sebelum
ovulasi dan berakhir 24 jam setelah ovulasi. Kesulitan cara ini ialah sulit ditentukan,
ovulasi umumnya 142 hari sebelum haid pertama, sehingga pada wanita yang
haidnya tidak teratur sulit untuk menentukan ovulasi. Sehingga pada wanita yang
tidak teratur haid dengan variasi yang tidak jauh berbeda, dapat ditentukan masa
subur dengan daur haid terpendek dikurangi 18 hari dan daur haid terpanjang
dikurangi 11 hari, dan untuk cara ini wanita tearsebut harus memiliki catatan tentang
lamanya daur haidnya selama 6 bulan, dan lebih baik jika wanita tersebut mempunyai
catatan daur haid selama 1 tahun. Cara ini dipermudah dengan menggunakan tabel

dan efektifitasnya akan lebih tinggi jika dibarengi pemeriksaan suhu basal badan.
Menjelang ovulasi suhu basal akan menurun, kurang dari 24 jam sesudah ovulasi
suhu badan naik lagi sampai tingkat lebih tinggi daripada tingkat sebelum ovulasi,
dan tetap tinggi sampai akan terjadinya haid. Pengukuran suhu basal badan
diselenggarakan tiap hari sesudah haid berakhir sampai mulainya haid berikutnya, hal
ini dilakukan sewaktu bangun pagi sebelum melanjutkan kegiatan dan masukkan
thermometer dalam rectum atau dalam mulut dibawah lidah selama 5 menit. Namun,
ada beberapa faktor yang menyebabkan kenaikan suhu basal badan tanpa terjadinya
ovulsi, misalnya infeksi, kurang tidur, minum alkohol dan sebagainya.

2.3.Senggama Terputus
Senggama terputus adalah penarikan penis daari vagina sebelum terjadi ejakulasi. Hal ini
didasarkan pada kenyataan , bahwa akan terjadi ejakulasi disadari sebelumnya oleh bagian
terbesar pria, dan setelah itu masih ada waktu kira-kira 1 detik sebelum ejakulasi terjadi.
Waktu yang singkat ini dapat digunakan untuk penarikan penis keluar dari vagina.
Keuntungan cara ini, tidak membutuhkan biaya, alat-alat maupun persiapan, akan tetapi
kekurangannya bahwa untuk mensukseskan cara ini dibutuhkan pengendalian diri yang besar
dari pihak pria.3,
Efektivitas cara ini dianggap kurang, kegagalan cara ini disebabkan oleh:3
a) Adanya pengeluaran cairan mani sebelum ejakulasi (preejaculatory fluid) yang
dapat mengandung sperma, apalagi pada koitus berulang
b) Terlambatnya pengeluaran penis dari vagina
c) Pengeluaran semen dekat pada vulva dapat menyebabkan kehamilan.

2.4.Metode Barier
2.4.1. Kondom4
Kondom merupakan selubung/sarung karet yang dapat terbuat dari berbagai
bahan diantaranya lateks (karet), plastik (vinil), atau bahan alami (produksi hewani)
yang dipasang pada penis saat hubungan seksual. Kondom terbuat dari karet sintetis
yang tipis, berbentuk silinder, dengan muaranya berpinggir tebal, yang bila digulung

10

berbentuk rata atau mempunyai bentuk seperti puting susu. Berbagai bahan telah
ditambahkan pada kondom baik untuk meningkatkan efektivitasnya (misalnya
penambahan spermisida) maupun sebagai aksesoris aktivitas seksual. Modifikasi
tersebut dilakukan dalam hal bentuk, warna, pelumas, ketebalan, dan bahan.
2.4.1.1.Cara kerja4
a) Kondom menghalangi terjadinya pertemuan sperma dan sel

telur

dengan cara mengemas sperma di ujung selubung karet yang dipasang


pada penis sehingga sperma tersebut tidak tercurah ke dalam saluran
reproduksi perempuan.
b) Mencegah penularan mikroorganisme (IMS termasuk HBV dan
HIV/AIDS) dari satu pasangan kepada pasangan yang lain (khusus
kondom yang terbuat dari lateks dan vinil).
2.4.1.2.Efektivitas4
Kondom cukup efektif bila dipakai secara benar pada setiap kali
berhubungan seksual. Pada beberapa pasangan, pemakaian kondom tidak efektif
karena tidak dipakai secara konsisten. Secara ilmiah didapatkan hanya sedikit
angka kegagalan kondom yaitu 2 12 kehamilan per 100 perempuan per tahun.
2.4.1.3.Manfaat4
Kontrasepsi
a) Efektif bila digunakan dengan benar
b) Tidak mengganggu produksi ASI
c) Tidak mengganggu kesehatan klien
d) Tidak mempunyai pengaruh sistemik
e) Murah dan dapat dibeli secara umum
f) Tidak perlu resep dokter atau pemeriksaan kesehatan khusus
g) Metode kontrasepsi sementara bila metode kontrasepsi lainnya harus
ditunda

11

Nonkontrasepsi
a) Memberi dorongan kepada suami untuk ikut ber-KB
b) Dapat mencegah penularan IMS
c) Mencegah ejakulasi dini
d) Membantu mencegah terjadinya kanker serviks (mengurangi iritasi
bahan karsinogenik eksogen pada serviks)
e) Saling berinteraksi sesama pasangan
f) Mencegah imuno infertilitas
2.4.1.4.Keterbatasan4
a) Efektivitas tidak terlalu tinggi
b) Cara penggunaan sangat mempengaruhi keberhasilan kontrasepsi
c) Agak mengganggu hubungan seksual (mengurangi sentuhan langsung)
d) Pada beberapa klien bisa menyebabkan kesulitan untuk mempertahankan
ereksi
e) Harus selalu tersedia setiap kali berhubungan seksual
f) Beberapa klien malu untuk membeli kondom di tempat umum
g) Pembuangan kondom bekas mungkin menimbulkan masalah dalam hal
limbah
2.4.1.5.Cara Penggunaan4
a) Gunakan kondom setiap akan melakukan hubungan seksual
b) Agar efek kontrasepsinya lebih baik, tambahkan spermisida ke dalam
kondom Jangan menggunakan gigi, benda tajam seperti pisau, silet,
gunting atau benda tajam lainnya pada saat membuka kemasan
c) Pasangkan kondom saat penis sedang ereksi, tempelkan ujungnya pada
glans penis dan tempatkan bagian penampang sperma pada ujung uretra.
Lepaskan gulungan karetnya dengan jalan menggeser gulungan tersebut
ke arah pangkal penis. Pemasangan ini harus dilakukan sebelum
penetrasi penis ke vagina

12

d) Bila kondom tidak mempunyai tempat penampungan sperma pada


bagian ujungnya, maka saat memakai, longgarkan sedikit bagian
ujungnya agar tidak terjadi robekan pada saat ejakulasi
e) Kondom dilepas sebelum penis melembek
f) Pegang bagian pangkal kondom sebelum mencabut penis sehingga
kondom tidak terlepas pada saat penis dicabut dan lepaskan kondom di
luar vagina agar tidak terjadi tumpahan cairan sperma di sekitar vagina.
g) Gunakan kondom hanya untuk satu kali pakai
h) Buang kondom bekas pakai pada tempat yang aman
i) Sediakan kondom dalam jumlah cukup di rumah dan jangan disimpan di
tempat yang panas karena hal ini dapat menyebabkan kondom menjadi
rusak atau robek saat digunakan
j) Jangan gunakan kondom apabila kemasannya robek atau kondom
tampak rapuh/ kusut
k) Jangan gunakan minyak goreng, minyak mineral, atau pelumas dari
bahan petrolatum karena akan segera merusak kondom
2.4.2. Diafragma4
Diafragma adalah kap berbentuk bulat cembung, terbuat dari lateks (karet) yang
diinsersikan ke dalam vagina sebelum berhubungan seksual dan menutup serviks.
2.4.2.1.Jenis4
a) Flat spring (flat metal band)
b) Coil spring (coiled wire)
c) Arching spring (kombinasi metal spring)
2.4.2.2.Cara kerja4
Menahan sperma agar tidak mendapatkan akses mencapai saluran alat
reproduksi bagian atas (uterus dan tuba falopii) dan sebagai alat tempat
spermisida.
2.4.2.3.Manfaat4
Kontrasepsi

13

a) Efektif bila digunakan dengan benar


b) Tidak mengganggu produksi ASI
c) Tidak mengganggu hubungan seksual karena telah terpasang sampai 6
jam sebelumnya
d) Tidak mengganggu kesehatan klien
e) Tidak mempunyai pengaruh sistemik

Nonkontrasepsi
a) Salah satu perlindungan terhadap IMS/HIV/AIDS, khususnya apabila
digunakan dengan spermisida
b) Bila digunakan pada saat haid, menampung darah menstruasi
2.4.2.4.Keterbatasan4
a) Efektivitas sedang (bila digunakan dengan spermisida angka
kegagalan 6 18 kehamilan per 100 perempuan per tahun pertama)
b) Keberhasilan

sebagai

kontrasepsi

bergantung

pada

kepatuhan

mengikuti cara penggunaan


c) Motivasi diperlukan berkesinambungan dengan menggunakannya
setiap berhubungan seksual
d) Pemeriksaan pelvik oleh petugas kesehatan terlatih diperlukan untuk
memastikan ketepatan pemasangan
e) Pada beberapa pengguna menjadi penyebab infeksi saluran uretra
f) Pada 6 jam pascahubungan seksual, alat masih harus berada di
posisinya
2.4.2.5.Cara penggunaan/instruksi bagi klien4
a) Gunakan diafragma setiap kali melakukan hubungan seksual
b) Pertama kosongkan kandung kemih dan cuci tangan
c) Pastikan diafragma tidak berlubang (tes dengan mengisi diafragma
dengan air, atau melihat menembus cahaya)

14

d) Oleskan sedikit spermisida krim atau jelli pada kap diafragma (untuk
memudahkan pemasangan tambahkan krim atau jelli, remas bersamaan
dengan pinggirannya)
e) Posisi saat pemasangan diafragma:
1) Satu kaki diangkat ke atas kursi atau dudukan toilet
2) Sambil berbaring
3) Sambil jongkok
f) Lebarkan kedua bibir vagina
g) Masukkan diafragma ke dalam vagina jauh ke belakang, dorong
bagian depan pinggiran ke atas di balik tulang pubis
h) Masukkan jari ke dalam vagina sampai menyentuh serviks, sarungkan
karetnya dan pastikan serviks telah terlindungi
i) Diafragma dipasang di vagina sampai 6 jam sebelum hubungan
seksual. Jika hubugan seksual berlangsung di atas 6 jam setelah
pemasangan, tambahkan spermisida ke dalam vagina. Diafragma
berada di dalam vagina paling tidak 6 jam setelah terlaksananya
hubungan seksual. Jangan tinggalkan diafragma di dalam vagina lebih
dari 24 jam sebelum diangkat (tidak dianjurkan mencuci vagina setiap
waktu, pencucian vagina bisa dilakukan setelah ditunda 6 jam sesudah
hubungan seksual)
j) Mengangkat dan mencabut diafragma dengan menggunakan jari
telunjuk dan tengah
k) Cuci dengan sabun dan air, keringkan sebelum disimpan kembali di
tempatnya.
2.4.3. Spermisida4
Spermisida adalah bahan kimia (biasanya non oksinol-9) digunakan untuk menonaktifkan atau membunuh sperma. Dikemas dalam bentuk:
a) Aerosol (busa)
b) Tablet vaginal, suppositoria, atau dissolvable film
c) Krim

15

2.4.3.1.Cara kerja4
Menyebabkan sel membran sperma terpecah, memperlambat pergerakan
sperma, dan menurunkan kemampuan pembuahan sel telur.
2.4.3.2.Manfaat4
Kontrasepsi
a) Efektif seketika (busa dan krim)
b) Tidak mengganggu produksi ASI
c) Bisa digunakan sebagai pendukung metode lain
d) Tidak mengganggu kesehatan klien
e) Tidak mempunyai pengaruh sistemik
f) Mudah digunakan
g) Meningkatkan lubrikasi selama hubungan seksual
h) Tidak perlu resep dokter atau pemeriksaan kesehatan khusus

Nonkontrasepsi
Merupakan salah satu perlindungan terhadap IMS termasuk HBV dan
HIV/AIDS
2.4.3.3.Keterbatasan4
a) Efektivitas kurang (3 21 kehamilan per 100 perempuan per tahun
pertama)
b) Efektivitas sebagai kontrasepsi bergantung pada kepatuhan mengikuti
cara penggunaan
c) Ketergantungan pengguna dari motivasi berkelanjutan dengan
memakai setiap melakukan hubungan seksual
d) Pengguna harus menunggu 10 15 menit setelah aplikasi sebelum
melakukan hubungan seksual (tablet busa vagina, suppositoria dan
film)
e) Efektivitas aplikasi hanya 1 2 jam

16

2.4.3.4.Cara penggunaan/instruksi bagi klien4


a) Cuci tangan dengan sabun dan air mengalir sebelum mengisi aplikator
(busa atau krim) dan insersi spermisida
b) Penting untuk menggunakan spermisida setiap melakukan aktivitas
hubungan seksual
c) Jarak tunggu sesudah memasukkan tablet vagina atau suppositoria
adalah 10 15 menit
d) Tidak ada jarak tunggu setelah memasukkan busa.
e) Penting untuk mengikuti anjuran dari pabrik tentang cara penggunaan
dan penyimpanan dari setiap produk (misalnya kocok aerosol sebelum
diisi ke dalam aplikator)
f) Spermisida ditempatkan jauh di dalam vagina sehingga serviks
terlindungi dengan baik.

2.5.Kontrasepsi Kombinasi
2.5.1. Pil Kombinasi
2.5.1.1.Profil5
a) Efektif dan reversible
b) Harus diminum setiap hari
c) Pada bulan-bulan pertama efek samping berupa mual dan perdarahan
bercak yang tidak berbahaya dan segara akan hilang
d) Efek samping serius sangat jarang terjadi
e) Dapat dipakai oleh semua Ibu usia reproduksi, baik yang sudah
mempunyai anak atau belum
f) Dapat mulai diminum setiap saat bila yakin tidak sedang hamil
g) Tidak dianjurkan pada ibu yang menyusui
h) Dapat dipakai sebagai kontrasepsi darurat
2.5.1.2.Jenis5

17

a) Monofasik : pil yang tersedia dalam kemasan 21 tablet mengandung


hormon aktif estrogen/progestin (E/P) dalam dosis yang sama, dengan
7 tablet tanpa hormon aktif.
b) Bifasik : pil yang tersedia dalam kemasan 21 tablet mengandung
hormon aktif estrogen/progestin (E/P) dengan dua dosis yang berbeda,
dengan 7 tablet tanpa hormon aktif.
c) Trifasik pil : pil yang tersedia dalam kemasan 21 tablet mengandung
hormon aktif estrogen/progestin (E/P) dengan tiga dosis yang berbeda,
dengan 7 tablet tanpa hormon aktif.
2.5.1.3.Cara Kerja5
a) Menekan ovulasi
b) Mencegah implantasi
c) Lendir serviks mengental sehingga sulit dilalui oleh sperma
d) Pergerakan tuba terganggu sehingga transportasi telur dengan
sendirinya akan terganggu pula
2.5.1.4.Manfaat5
a) Memiliki efektifitas yang tinggi (hampir menyerupai efektifitas
tubektomi), bila digunakan setiap hari (1 kehamilan per 1000
perempuan dalam tahun pertama penggunaan
b) Risiko terhadap kesehatan sangat kecil
c) Tidak mengganggu hubungan seksual
d) Siklus haid teratur, banyaknya darah haid berkurang (mencegah
anemia), tidak terjadi nyeri haid
e) Dapat digunakan jangka panjang selama perempuan masih ingin
menggunakannya untuk mencegah kehamilan
f) Dapat digunakan sejak usia remaja hingga menopause
g) Mudah dihentikan setiap saat
h) Kesuburan segera kembali setelah penggunaan pil dihentikan
i) Dapat digunakan sebagai kontrasepsi darurat

18

j) Membantu mencegah5
1) Kehamilan ektopik
2) Kanker ovarium
3) Kanker endometrium
4) Kista ovarium
5) Penyakit radang panggul
6) Kelainan jinak pada payudara
7) Dismenore, atau
8) Akne

2.5.1.5.Yang Dapat Menggunakan Pil Kombinasi


Pada prinsipnya hampir semua ibu boleh menggunakan pil kombinasi,
seperti:5
a) Usia reproduksi
b) Telah memiliki anak atau pun yang belum memiliki anak
c) Gemuk atau kurus
d) Menginginkan metode kontrasepsi dengan efektivitas tinggi
e) Setelah melahirkan dan tidak menyusui
f) Setelah melahirkan 6 bulan yang tidak memberikan ASI eksklusif
g) Pasca keguguran
h) Anemia karena haid berlebihan
i) Nyeri haid hebat
j) Silus haid tidak teratur
k) Riwayat kehamilan ektopik
l) Kelainan payudara jinak
m) Kencing manis tanpa komplikasi pada ginjal, pembuluh darah, mata,
dan saraf.
n) Penyakit tiroid, penyakit radang panggul, endometriosis, atau tumor
ovarium jinak
o) Menderita tuberkulosis (kecuali yang sedang menggunakan rifampisin)
p) Varises vena

19

2.5.1.6.Yang Tidak Boleh Menggunakan Pil Kombinasi5


a) Hamil atau dicurigai hanil
b) Menyusui eksklusif
c) Perdarahan pervaginam yang belum diketahui penyebabnya
d) Penyakit hati akut (hepatitis)
e) Perokok dengan usia > 35 tahun
f) Riwayat penyakit jantung, stroke, atau tekanan darah > 180/110
mmHg
g) Riwayat gangguan faktor pembekuan darah atau kencing manis > 20
tahun.
h) Kanker payudara atau dicurigai kanker payudara
i) Migrain dan gejala neurologik fokal (epilepsi/riwayat epilepsi)
j) Tidak dapat menggunakan pil secara teratur setiap hari

2.5.2. Suntikan Kombinasi


Jenis suntikan kombinasi ialah 25 mg depo medroksiprogesteron asetat dan 5 mg
estradiol sipionat yang diberikan injeksi I.M sebulan sekali (Cyclofem), dan 50
noretindron enantat dan 5 mg estradiol valerat yang diberikan injeksi I.M sebulan
sekali.5
2.5.2.1.Cara Kerja5
a) Menekan ovulasi
b) Lendir serviks mengental sehingga sulit dilalui oleh sperma
c) Perubahan pada endometrium (atrofi) sehingga implantasi terganggu
d) Menghambat transportasi gamet pada tuba
2.5.2.2.Efektifitas5
Sangat efektif (0,1-0,4 kehamilan per 100 perempuan) selama tahun
pertama penggunaan

20

2.5.2.3.Keuntungan Kontrasepsi5
a) Resiko terhadap kesehatan kecil
b) Tidak berpengaruh pada hubungan suami istri
c) Tidak diperlukan pemeriksaan dalam
d) Jangka panjang
e) Efek samping sangat kecil
f) Klien tidak perlu menyimpan obat suntik
2.5.2.4.Keuntungan Nonkontrasepsi5
a) Mengurangi jumlah perdarahan
b) Mengurangi nyeri saat haid
c) Mencegah anemia
d) Khasiat pencegahan terhadap kanker ovarium dan endometrium
e) Mengurangi penyakit payudara jinak dan kista ovarium
f) Mencegah kehamilan ektopik
g) Melindungi dari penyakit radang panggul
h) Dapat diberikan pada perempuan usia perimenopause
2.5.2.5.Kerugian5
a) Terjadi perubahan pada pola haid
b) Mual, sakit kepala, nyeri payudara ringan, dan keluhan seperti ini akan
hilang setelah suntikan kedua atau ketiga
c) Ketergantungan klien terhadap pelayanan kesehatan
d) Efektifitas berkurang jika digunakan bersamaan dengan obat-obat
epilepsi (fenitoin dan barbiturat) atau obat tuberkulosis (rifampisin)
e) Dapat terjadi efek samping yang serius, seperti serangan jantung,
stroke, bekuan darah pada paru atau otak dan kemungkinan timbulnya
tumor hati
f) Penambahan BB
g) Tidak menjamin perlindungan terhadap penularan infeksi menular
seksual, hepatitis B virus, atau infeksi virus HIV

21

h) Kemungkinan terlambatnya pemulihan kesuburan setelah penghentian


pemakaian
2.5.2.6.Yang Boleh Menggunakan Suntikan Kombinasi5
a) Usia reproduksi
b) Telah memiliki anak ataupun yang belum memiliki anak
c) Ingin mendapatkan kontrasepsi dengan efektifitas yang tinggi
d) Menyusui ASI pasca persalinan > 6 bulan
e) Pasca persalinan dan tidak menyusui
f) Anemia
g) Nyeri haid hebat
h) Haid teratur
i) Riwayat kehamilan ektopik
j) Sering lupa menggunakan pil kontrasepsi
2.5.2.7.Yang Tidak Boleh Menggunakan Suntikan Kombinasi5
a) Hamil atau dugaan hamil
b) Menyusui di bawah 6 minggu pascapersalinan
c) Perdarahan pervaginam yang belum jelas penyebabnya
d) Penyakit hati akut (virus hepatitis)
e) Usia > 35 tahun yang merokok
f) Riwayat penyakit jantung, stroke, atau dengan tekanan darah tinggi (>
180/110 mmHg)
g) Riwayat kelaianan tromboemboli atau dengan kencing manis > 20
tahun
h) Kelainan pembuluh darah yang menyebabkan sakit kepala atau
migraine
i) Keganasan payudara
2.5.2.8.Cara Penggunaan5

22

Suntikan kombinasi diberikan setiap bulan dengan suntikan intramuskular


dalam. Klien diminta datang setiap 4 minggu. Suntikan ulang dapat diberikan
7 hari lebih awal, dengan kemungkinan terjadi gangguan perdarahan. Dapat
juga diberikan setelah 7 hari dari jadwal yang telah ditentukan, asal saja
diyakini ibu tersebut tidak hamil. Tidak dibenarkan melakukan hubungan
seksual selama 7 hari atau menggunakan metode kontrasepsi yang lain untuk
7 hari saja.

2.5.2.9.Tanda-tanda Yang Harus Diwaspadai Pada Penggunaan Suntikan


Kombinasi5
a) Nyeri dada hebat atau napas pendek. Kemungkinan adanya bekuan
darah di paru atau serangan jantung.
b) Sakit kepala hebat, atau gangguan penglihatan. Kemungkinan terjadi
stroke, hipertensi, atau migraine
c) Nyeri tungkai hebat. Kemungkinan telah terjadi sumbatan pembuluh
darah pada tungkai
d) Tidak terjadi perdarahan atau spotting selama 7 hari sebelum suntikan
berikutnya, kemungkinan terjadi kehamilan.

2.6. Kontrasepsi progestin


2.6.1. Kontrasepsi suntikan progestin
2.6.1.1.Profil6
a) Sangat efektif
b) Aman
c) Dapat dipakai oleh semua perempuan dalam usia reproduksi
d) Kembalinya kesuburan lebih lambat, rata-rata 4 bulan
e) Cocok untuk masa laktasi karena tidak menekan produksi ASI

2.6.1.2.Jenis
a) Depo medroksiprogesteron asetat (DMPA), diberikan 3 bulan dengan
suntik IM

23

b) Depo noretisteron enantat, diberikan tiap 2 bulan dengan suntik IM


2.6.1.3.Cara kerja6
a) Mencegah ovulasi
b) Mengentalkan lendir serviks sehingga menurunkan kemampuan
penetrasi sperma
c) Menjadikan selaput lendir rahim tipis dab atrofi
d) Menghambat transpostasi gamet oleh tuba
2.6.1.4.Keuntungan6
a) Sangat efektif
b) Pencegahan kehamilan jangka panjang
c) Tidak berpengaruh pada hubungan suami-istri
d) Tidak mengandung estrogen sehingga tidak berdampak serius terhadap
penyakit jantung, dan gangguan pembekuan darah
e) Tidak memiliki pengaruh terhadap ASI
f) Sedikit efek samping
g) Klien tidak perlu menyimpan obat suntik
h) Dapat digunakan oleh perempuan usia > 35 tahun sampai
perimenopause
i) Membantu mencegah kanker endometrium dan kehamilan ektopik
j) Menurunkan kejadian penyakit jinak payudara
k) Mencegah beberapa penyebab penyakit radang panggul
l) Menurunkan krisis anemia bulan sabit (sickle cell)
2.6.1.5.Keterbatasan6
a) Sering ditemukan gangguan haid, seperti siklus haid yang memendek
atau memanjang, perdarahan yang banyak atau sedikit, perdarahan
tidak teratur atau perdarahan bercak (spotting), tidak haid sama sekali
b) Bergantung pada sarana kesehatan untuk disuntik lagi
c) Tidak dapat diihentikan sewaktu-watu sebelum suntikan berikutnya

24

d) Permasalahan berat badan


e) Tidak menjamin perlindungan terhadap penularan infeksi menular
seksual, hepatitis B virus, atau infeksi virus HIV
f) Terlambatnya kembali kesuburan setelah penghentian pemakaian
g) Terjadi perubahan pada lipid serum
h) Penggunaan jangka panjang dapat menurunkan kepadatan tulang
i) Penggunaan kangka panjang dapat menimbulkan kekeringan pada
vagina, menurunkan libido, gangguan emosi, sakit kepala, nervositas,
jerawat.
2.6.1.6.Peringatan6
a) Setiap terlambat haid harus dipikirkan kemungkinan kehamilan
b) Nyeri abdomen bawah yang berat kemungkinan gejala kehamilan
ektopik terganggu
c) Timbulnya abses atau perdarahan tempat injeksi
d) Sakit kepala, migrain, sakit kepala berulang yang berat, atau kaburnya
penglihatan
e) Perdarahan berat (2 kali lebih panjang serta 2 kali lebih banyak dalam
satu periode masa haid)

2.6.2. Kontrasepsi pil progestin (minipil)


2.6.2.1.Profil6
a) Cocok untuk eprempuan menyusui yang ingin memakai pil KB
b) Sangat efektif pada masa laktasi
c) Dosis rendah
d) Tidak menurunkan produksi ASI
e) Tidak memberikan efek samping estrogen
f) Efek samping utama adalah gangguan perdarahan; perdarahan bercak,
atau perdarahan tidak teratur
g) Dapat dipakai sebagai kontrasepsi darurat
2.6.2.2.Jenis6

25

a) Isi 35 pil: 300 g levonorgestrel atau 350 g noretindron


b) Isi 28 pil: 75 g norgestrel
2.6.2.3.Cara kerja6
a) Menekan sekresi gonadotropin dan sintesis steroid seks di ovarium
b) Endometrium mengalami transformasi lebih awal sehingga implantasi
lebih sulit
2.6.2.4.Keuntungan6
a) Sangat efektif
b) Tidak mengganggu hubungan seksual
c) Tidak mempengaruhi ASI
d) Kesuburan cepat kembali
e) Nyaman dan mudah digunakan
2.6.2.5.Keterbatasan6
a) Hampir 30-60% mengalami gangguan haid peningkatan/penurunan berat
badan
b) Harus digunakan setiap hari dan pada waktu yang sama
c) Bila lupa satu pil saja, kegagalan menjadi lebih besar
d) Payudara menjadi tegang, mual, pusing, dermatitis, jerawat

2.6.3. Kontrasepsi implan


2.6.3.1.Profil6
a) Efektif 5 tahun untuk Norplant, 3 tahun umtuk Jadenan, Indoplant, atau
Implanon
b) Nyaman
c) Pemasangan dan pencabutan perlu pelatihan
d) Kesuburan segera kembali setelah implan dicabut
e) Aman dipakai saat masa laktasi

26

2.6.3.2.Jenis6
a) Norplant, diisi 36 mg levonorgestrel
b) Implanon, diisi 68 mg 3-keto-desogestrel
c) Jadena dan Indoplant, 75 mg levonorgestrel
2.6.3.3.Cara kerja6
a) Lendir serviks menjadi kental
b) Mengganggu proses pembentukan endometrium sehingga sulit terjadi
implantasi
c) Mengurangi transportasi sperma
d) Menekan ovulasi
2.6.3.4.Keuntungan6
a) Daya guna tinggi
b) Perlindungan jangka panjang
c) Pengembalian tingkat kesuburan yang cepat setelah pencabutan
d) Tidak memerlukan pemeriksaan dalam
e) Bebas dari estrogen
2.6.3.5.Keterbatasan6
a) Pada beberapa klien dapat menyebabkan perubahan pola haid berupa
perdarahan bercak, hioermenorea, atau meningkatnya jumlah darah haid,
serta amenorea.
b) Timbul keluhan seperti nyeri kepala, peningkatan/penurunan berat
badan, nyeri payudara, perasaan mual, pening/pusing kepala.Tidak boleh
digunakan pada klien yang menderita penyakit hati akut, stroke atau
riwayat stroke, obat epilepsi, dan tumor jinak atau ganas pada hati.
2.6.4. AKDR dengan progestin
Jenis AKDR yang mengandung hormon steroid adalah prigestase yang
mengandung progesteron dari Mirena yang mengandung levonorgestrel.6

27

2.6.4.1.Cara kerja6
a) Endometrium mengalami transformasi yang ireguler, epitel atrofi
sehingga mengganggu implantasi
b) Mencegah terjadinya pembuahan dengan memblok bersatunya ovum
dengan sperma
c) Mengurangi jumlah sperma yang mencapai tuba fallopii
d) Menginaktifkan sperma
2.6.4.2.Keuntungan6
a) Efektif dalam satu tahun
b) Tidak mengganggu hubungan suami istri
c) Tidak berpengaruh terhadap ASI
d) Kesuburan segera kembali sesudah AKDR diangkat
e) Efek sampingnya sangat kecil
2.6.4.3.Keterbatasan6
a) Diperlukan periksa dalam dan penyaringan infeksi genitalia sebelum
pemasangan AKDR
b) Diperlukan tenaga terlatih untuk pemasangan dan pencabutan AKDR
c) Sangat bergantung pada tenaga kesehatan
d) Penggunaan jangka panjang dapat terjadi amenorea
e) Dapat memicu pertumbuhan mioma uteri

2.7. Alat Kontrasepsi dalam Rahim (AKDR)


2.7.1. Profil7
a) Sangat efektif, reversible dan berjangka panjang (sampai 10 tahun: CuT380A).
b) Haid menjadi lebih lama dan lebih banyak.
c) Pemasangan dan pencabutan memerlukan pelatihan.
d) Dapat dipakai oleh semua perempuan usia reproduksi.

28

e) Tidak boleh dipakai oleh permpuan yang terpapar pada Infeksi Menular
Seksual (IMS).
2.7.2. Jenis7
a) AKDR Cu-T 380A.
Kecil, kerangka dari plastik yang fleksibel, berbentukhuruf T diselubungi
oleh kawat halus yang terbuat dari tembaga (Cu). Tersedia di Indonesia dan
terdapat dimana-mana.
b) AKDR lain yang beredar di Indonesia adalah NOVA T (Schering).
2.7.3. Cara Kerja7
a) Menghambat kemampuan sperma untuk masuk ke tuba falopii.
b) Mempengaruhi fertilisasi sebelum ovum mencapai kavum uteri.
c) AKDR terutama mencegah ovum dan sperma bertemu, walaupun AKDR
membuat sperma sulit masuk kedalam alat reproduksi perempuan dan
mengurangi kemampuan sperma untuk fertilisasi.
d) Memungkinkan untuk mencegah inplantasi telur dalam uterus.
2.7.4. Keuntungan7
a) Sebagai kontrasepsi, efektivitasnya tinggi.
Sangat efektif

0,6-0,8 kehamilan/100 perempuan dalam 1 tahun

pertama (1 kegagalan dalam 125-170 kehamilan).


b) AKDR dapat efektif segera setelah pemasangan.
c) Metode jangka panjang (10 tahun proteksi dari CuT-380A dan tidak perlu
diganti).
d) Sangat efektif karena tidak perlu lagi mengingat-ingat.
e) Tidak mempengaruhi hubungan seksual.
f) Meningkatkan kenyamanan seksual karena tidak perlu takut untuk hamil.
g) Tidak ada efek samping untuk hormonal dengan Cu AKDR (CuT-380A).
h) Tidak mempengaruhi kualitas dan volume ASI.

29

i) Dapat dipasang segerah setelah melahirkan atau sesudah abortus (apabila


terjadi infeksi).
j) Dapat digunakan sampai menopause (1 tahun atau lebih setelah haid terakhir).
k) Tidak ada interaksi dengan obat-obatan.
l) Membantu mencegah kehamilan ektopik.
2.7.5. Kerugian7
a) Efek sering yang umum terjadi:
1) Perubahan siklus haid (umumnya pada 3 bulan pertama dan akan
berkurang setelah 3 bulan).
2) Haid lebih lama dan banyak.
3) Perdarahan (spotting) antar menstruasi.
4) Saat haid lebih sakit.
b) Komplikasi lain:
1) Merasakan sakit dan kejang selama 3 sampai 5 hari setelah
pemasangan.
2) Perdarahan

berat

pada

waktu

haid

atau

diantaranya

yang

memungkinkan penyebab anemia.


3) Perforasi dinding uterus (sangat jarang apabila pemasangannya benar).
c) Tidak mencegah IMS atau HIV/AIDS.
d) Tidak baik digunakan pada perempuan dengan IMS atau perempuan yang
sering berganti pasangan.
e) Penyakit radang panggul terjadi sesudah perempuan dengan IMS memakai
AKDR. PRP dapat memicu infertilitas.
f) Prosedur medis termasuk pemeriksaan pelvis diperlukan dalam pemasangan
AKDR. Seringkali perempuan takut selama pemasangan.
g) Sedikit nyeri dan perdarahan (spooting) terjadi segerah setelah pemasangan
AKDR. Biasanya menghilang dalam 1-2 hari.
h) Klien tidak dapat melepas AKDR oleh dirinya sendiri. Petugas kesehatan
terlatih yang harus melepaskan AKDR.

30

i) Mungkin AKDR keluar dari uterus tanpa diketahui (sering terjadi apabila
AKDR dipasang segerah sesudah melahirkan).
j) Tidak mencegah kehamilan ektopik karena fungsi AKDR untuk mencegah
kehamilan normal.
k) Perempuan harus memeriksa posisi benang AKDR dari waktu ke waktu.
Untuk melakukan ini wanita harus memasukan jarinya ke dalam vagina,
sebagian perempuan tidak mau melakukan ini.

2.7.6. Persyaratan Pemakaian


2.7.6.1.Yang dapat menggunakan7
a) Usia reproduktif
b) Keadaan nullipara
c) Menginginkan penggunaan kontrasepsi jangka panjang
d) Menyusui yang menginginkan menggunakan kontrasepsi.
e) Setelah melahirkan dan tidak menyusui bayinya.
f) Setelah mengalami abortus dan tidak terlihat adanya tanda infeksi.
g) Resiko rendah dari IMS.
h) Tidak menghendaki metode hormonal.
i) Tidak menyukai untuk mengingat minum pil setiap hari.
j) Tidak menghendaki kehamilan setelah 1-5 hari sanggama (lihat
kontrasepsi darurat).
k) Pada umumnya ibu dapat menggunkan AKDR Cu dengan aman dan
efektif.
2.7.6.2.AKDR dapat digunakan ibu dalam segala mungkin keadaan misalnya:7
a) Perokok.
b) Pasca keguguran atau kegagalan kehamilan apabila tidak terlihat adanya
infeksi.
c) Sedang memakai antibiotika atau anti kejang.
d) Gemuk ataupun yang kurus.
e) Sedang menyusui.

31

2.7.6.3.Yang tidak diperkenankan menggunakan AKDR7


a) Sedang hamil (diketahui hamil atau kemungkinan hamil).
b) Perdarahan vagina yang tidak diketahui (sampai dapat dievaluasi).
c) Sedang menderita infeksi alat genital (vaginitis, servisitis).
d) Tiga bulan terakhir sedang mengalami atau sering menderita PRP atau
abortus septik.
e) Kelainan bawaan uterus yang abnormal atau tumor jinak rahim yang
dapat mempengaruhi kavum uteri.
f) Penyakit trofoblast yang ganas.
g) Diketahui menderita TBC pelvic.
h) Kanker alat genital.
i) Ukuran rongga rahim kurang dari 5 cm.

2.8.Kontrasepsi Mantap
2.8.1. Tubektomi
Tubektomi adalah prosedur bedah sukarela untuk menghentikan fertilitas
(kesuburan) seorang perempuan secara permanen.8
2.8.1.1.Jenis8
a) Minilaparatomi
b) Laparoskopi
2.8.1.2.Mekanisme kerja8
Dengan mengoklusi tuba falopii (mengikat dan memotong atau memasang
cincin), sehingga sperma tidak dapat bertemu dengan ovum.
2.8.1.3.Manfaat8
Kontrasepsi
a) Sangat efektif (0,2 4 kehamilan per 100 perempuan selama tahun
pertama penggunaan)

32

b) Permanen
c) Tidak mempengaruhi proses menyusui (breastfeeding)
d) Tidak bergantung pada faktor senggama
e) Baik bagi klien apabila kehamilan akan menjadi risiko kesehatan yang
serius
f) Pembedahan sederhana, dapat dilakukan dengan anestesi lokal
g) Tidak ada efek samping dalam jangka panjang
h) Tidak ada perubahan dalam fungsi seksual (tidak ada efek pada produksi
hormone ovarium)

Nonkontrasepsi
Berkurangnya risiko kanker ovarium
2.8.1.4.Keterbatasan8
a) Harus dipertimbangkan sifat permanen metode kontrasepsi ini (tidak dapat
dipulihkan kembali), kecuali dengan operasi rekanalisasi
b) Klien dapat menyesal di kemudian hari
c) Risiko komplikasi kecil (meningkat apabila digunakan anestesi umum)
d) Rasa sakit/ketidaknyamanan dalam jangka pendek setelah tindakan
e) Dilakukan oleh dokter yang terlatih (dibutuhkan dokter spesialis
ginekologi atau dokter spesialis bedah untuk proses laparoskopi)
f) Tidak melindungi diri dari IMS, termasuk HBV dan HIV/AIDS
2.8.1.5.Syarat tubektomi (indikasi)8
a) Usia > 26 tahun
b) Paritas > 2
c) Yakin telah mempunyai besar keluarga yang sesuai dengan kehendaknya
d) Pada kehamilannya akan menimbulkan risiko kesehatan yang serius
e) Pascapersalinan
f) Pascakeguguran
g) Paham dan secara sukarela setuju dengan prosedur

33

2.8.1.6.Kontra indikasi tubektomi8


a) Hamil (sudah terdeteksi atau dicurigai)
b) Perdarahan vaginal yang belum terjelaskan (hingga harus dievaluasi)
c) Infeksi sistemik atau pelvik yang akut (hingga masalah itu disembuhkan
atau dikontrol)
d) Tidak boleh menjalani proses pembedahan
e) Kurang pasti mengenai keinginannya untuk fertilitas di masa depan
f) Belum memberikan persetujuan tertulis

2.8.2. Vasektomi
Vasektomi adalah prosedur klinik untuk menghentikan kapasitas reprodukis pria
dengan jalan melakukan oklusi vasa deferensia sehingga alur transportasi sperma
terhambat dan proses fertilisasi (penyatuan dengan ovum) tidak terjadi.8
2.8.2.1.Kondisi yang memerlukan perhatian kusus bagi tindakan vasektomi8
a) Infeksi kulit pada daerah operasi
b) Infeksi sistemik yang sangat menganggu kondisi kesehatan klien
c) Hidrokel atau varikokel yang besar
d) Hernia inguinalis
e) Filariasis (elefantiasis)
f) Undesensus testikularis
g) Massa intraskrotalis
h) Anemia berat, gangguan pembekuan darah atau sedang menggunakan
antikoagulansia
2.8.2.2.Konseling, informasi, dan persetujuan tindakan medis8
a) Klien harus diberi informasi bahwa prosedur vasektomi tidak mengganggu
hormon pria atau menyebabkan perubahan kemampuan atau kepuasan
seksual

34

b) Setelah prosedur vasektomi, gunakan salah satu kontrasepsi terpilih


hingga spermatozoa yang tersisa dalam vesikula seminalis telah
dikeluarkan

seluruhnya.

Secara

empirik,

sperma-analisis

akan

menunjukkan hasil negatif setelah 15 20 kali ejakulasi


2.8.2.3.Komplikasi8
a) Komplikasi dapat terjadi saat prosedur berlangsung atau beberapa saat
setelah tindakan. Komplikasi selama prosedur dapat berupa komplikasi
akibat reaksi anafilaskis yang disebabkan oleh penggunaan lidokain atau
manipulasi berlebihan terhadap anyaman pembuluh darah di sekitar vasa
deferensia
b) Komplikasi pascatindakan dapat berupa hematoma skrotalis, infeksi atau
abses pada testis, atrofi testis, epididimitis kongestif, atau peradangan
kronik granuloma di tempat insisi. Penyulit jangka panjang yang dapat
mengganggu upaya pemulihan fungsi reproduksi adalah terjadinya
antibodi sperma.

2.8.3. Rekanalisasi
2.8.3.1.Rekanalisasi tuba falopii8
Operasi rekanalisasi dengan teknik bedah mikro sudah banyak
dikembangkan. Teknik ini tidak saja menyambung kembali tuba falopii dengan
baik, tetapi juga menjamin kembalinya fungsi tuba. Hal ini disebabkan oleh
teknik bedah mikro yang secara akurat menyambung kembali tuba dengan
trauma yang minimal , mengurangi perlekatan pascaoperasi, mempertahankan
fisiologis tuba, serta menjamin fimbriae tuba tetap bebas sehingga fungsi
penangkapan ovum masih tetap baik.
2.8.3.2.Kontra indikasi8
a) Umur klien > 37 tahun
b) Tidak ada ovulasi (atau ada masalah dari faktor ovarium)
c) Suami oligosperma atau azoosperma

35

d) Keadaan

kesehatan

yang

tidak

baik,

dimana

kehamilan

akan

memperburuk kesehatannya
e) Tuberkulosis genitalia interna
f) Perlekatan organ-organ pelvic yang luas dan berat
g) Tuba yang sehat terlalu pendek (kurang dari 4 cm)
h) Infeksi pelvis yang masih aktif

36

BAB III
METODE

3.1.Desain Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang bertujuan untuk menggambarkan
pengetahuan dan sikap wanita usia subur mengenai metode KB di RT 05, RT 06, RT 07, dan
RT 08 diRW 13.

3.2.Tempat Penelitian
Tempat penelitian dilakukan di rumah-rumah warga RT 05, RT 06, RT 07, dan RT 08 di
RW 13.

3.3.Waktu Penelitian
Pengumpulan data dilakukan pada tanggal 11 Januari 2016 hingga 29 Januari 2016.

3.4.Sampel Pengumpulan Data


Sampel adalah sebagian atau populasi yang diteliti, apabila subjeknya kurang dari 100
maka lebih baik diambil semua hingga sampel penelitian menggunakan seluruh populasi.
Jika jumlah subjeknya besar dapat diambil 10-15% atau 20-25%. Sampel pengumpulan data
berjumlah 33 orang. Adapun kriteria sampel adalah
a) Kriteria Inklusi
1) Warga RT 05, RT 06, RT 07, dan RT 08 di RW 13
2) Wanita Usia Subur (15 45 tahun)
3) Status Kawin
b) Kriteria Eksklusi
1) Memiliki pasangan yang berusia <15 tahun atau >45 tahun

3.5.Instrumen Pengumpulan Data


Instrumen pengumpulan data adalah alat bantu yang dipilih dan digunakan oleh peneliti
dalam kegiatan mengumpulkan data agar kegiatan tersebut menjadi sistematis dan mudah.

37

Instrumen yang digunakan pada penelitian ini adalah Form Ketok Pintu Layani Dengan Hati
dan kuesioner.

3.6.Tehnik Pengumpulan Data


Pengumpulan data dimulai dengan pelaksanaan program Ketok Pintu Layani Dengan
Hati di RT 05, RT 06, RT 07, dan RT 08 di RW 13. Pengumpulan data dilakukan dengan
Form Ketok Pintu Layani Dengan Hati dengan tehnik wawancara. Dari data program Ketok
Pintu Layani Dengan Hati, didapatkan sampel penelitian. Kemudian dilakukan pengumpulan
data dari sampel dengan kuesioner disertai wawancara.
Jadwal Kegiatan Pengumpulan Data

3.7.Pengolahan Data dan Analisa Data


Untuk pengolahan data digunakan cara manual dan bantuan software pengolahan data
menggunakan Microsoft Word dan Microsoft Excel. Untuk menganalisa data-data yang sudah
didapat adalah dengan menggunakan analisa univariat.

Analisa univariat adalah analisa yang dilakukan untuk mengenali setiap variabel dari
hasil penelitian. Analisa univariat berfungsi untuk meringkas kumpulan data sedemikian rupa
sehingga kumpulan data tersebut berubah menjadi informasi yang berguna. Peringkasan
tersebut dapat berupa ukuran statistik, tabel, grafik.

38

BAB IV
HASIL

4.1. Profil Komunitas Umum


4.1.1. Sejarah
Puskesmas Kelurahan Warakas dibangun dengan biaya APBD DKI tahun 1972
dan resmi digunakan tanggal 15 Juli 1972. Pada tahun 2004 dan 2008 dilakukan
rehab karena atap bocor dan ada eternit yang ambruk serta beberapa sarana instalasi
air berikut wastafel yang sudah rusak. Pada bulan Juli 2010 dilaksanakan rehab total
Puskesmas Kelurahan Warakas dengan biaya APBD DKI tahun 2010 , sementara
itu pelayanan dilakukan ditempat sementara yang dikontrak dengan anggaran
APBD DKI. Bulan februari 2011 pelayanan sudah dilakukan digedung baru yang
sudah menyelesaikan pembangunan tahap pertamanya. Akhir 2012 pembangunan
gedung sudah selesai dan sudah dilakukan serah terima.

4.1.2. Sarana
Bangunan terdiri tiga lantai. Luas tanah 532 M2. Sarana yang ada :
a) Air Pam
b) Listrik
c) Telephone
d) Fax
e) Komputer 2 unit
f) Monitor 2 unit
g) Printer 2 unit
h) AC 17 unit
i) Motor 2 unit
j) Dental unit 2

Puskesmas ini juga dilengkapi dengan alat-alat kesehatan dan sarana pelayanan
lainnya untuk menjamin peningkatan kwalitas pelayanan dan kepuasan konsumen.

39

Puskesmas Kelurahan Warakas beralamat di Jalan Warakas IX No.20-22 Rt.007


Rw.011 Kelurahan Warakas. Telpon (021) 4308865.

4.1.3. Visi Misi


4.1.3.1. Visi
Menjadikan

Puskesmas Kelurahan Warakas sebagai unit pelayanan

kesehatan yang menjadi pilihan warga Jakarta, menuju Jakarta Sehat untuk
semua tahun 2017.

4.1.3.2. Misi
a) Meningkatkan kwalitas sumber daya manusia melalui pendidikan,
pelatihan dan keterampilan agar dapat memberikan pelayanan sesuai
standar kesehatan
b) Meningkatkan kwalitas peyanan kesehatan melalui penerapan Sistem
Manajemen mutu ISO 9001:2008
c) Berpartisipasi
masyarakat

aktif
melalui

dalam

meningkatkan

pengembangan

Upaya

pelayanan
Kesehatan

kesehatan
Berbasis

Masyarakat (UKBM)
d) Menggalang kemitraan dalam meningkatkan pelayanan kesehatan

4.1.3.3. Kebijakan Mutu


Puskesmas Kelurahan Warakas bertekad menjadi unit pelayanan
kesehatan pilihan warga Jakarta sesuai persyaratan, peraturan dan
perundand-undangan yang berlaku melalui penerapan sistem Manajemen
Mutu ISO 9001:2008 secara konsisten, untuk mencapai Jakarta Sehat untuk
semua tahun 2017

4.1.3.4.Motto
Puskesmas Kelurahan Warakas CERMAT
Cekatan
Empati

40

Responsif
Manusiawi
Akhlak
Tulus Ikhlas

4.2. Data Geografis


4.2.1. Geografi dan Topologi
Wilayah Kelurahan Warakas yang luasnya 108,84 ha status tanah pada umumnya
adalah tanah negara, sedangkan pemilik tanah sebagian besar adalah penggarap,
namun demikian diantaranya sudah banyak yang sudah memiliki hak dengan
mensertifikatkan tanah secara perorangan maupun melalui prona, bahkan telah
banyak pemilik sertifikat Prona yang telah meningkatkan kepemilikan menjadi hak
milik.

Batas-batas wilayah Kelurahan Warakas adalah sbb :


a) Utara

: Kelurahan Tanjung Priok dibatasi dengan Sungai Tirem

b) Timur

: Kelurahan Sungai Bambu dibatasi Jl.Warakas Raya

c) Barat

: Kelurahan Papanggo dibatasi dengan Jalan Warakas VI

d) Selatan : Kelurahan Papanggo dibatasi Jalan Warakas Gg.21

Kelurahan Warakas terletak di daerah dataran ( + 2 km dari laut ) dengan


ketinggian 0,5-1 m dari permukaan laut.

4.2.2. Geologi
Lapisan tanah membentuk daratan adalah batuan kedapan / sediment stone yang
berada 50 m dibawah permukaan laut. Batuan ini padat, tetapi permeable sehingga
memungkinkan terjadi intrusi air laut kedalam tanah.

4.2.3. Kali dan Saluran Air


Saluran air yang ada dikelurahan Warakas banyak yang tidak berfungsi / jalan
airnya tidak lancar, karena saluran yang ada disetiap gang / jalan pembuangannya

41

terpusat di Sungai Tirem. Apabila hujan dan air laut pasang Sungai Tirem tidak
mampu menampung air dari setiap Gang / Jalan, sehingga ada beberapa daerah
yang rendah terendam air.

4.2.4. Iklim
Beriklim panas, suhu rata rata sepanjang tahun adalah 27 - 32 derajat Celcius
dan dipengaruhi angin musim timur : Mei Oktober dan angin musim barat :
Nopember April. Tinggi curah hujan rata rata 2000 mm dengan maksimum pada
bulan Januari dan Februari. Pada kedua bulan tersebut, sering terjadi banjir pada
beberapa wilayah di Kelurahan Warakas.

4.3. Data Demografik


Jumlah penduduk Kelurahan Warakas pada tahun 2015 sebanyak 54.126 orang, terdiri
dari 27.655 orang laki-laki dan 26.471 orang perempuan. Terdapat 183 RT, 14 RW, dan
17.891 KK di Kelurahan Warakas.

4.3.1. Jumlah Penduduk Berdasarkan Umur dan Jenis Kelamin


WNI
NO

WNA

UMUR

JUMLAH
LK

PR

JUMLAH LK

PR

JUMLAH

0-4

2153

3328

5481

5481

5-9

1961

2900

4861

4841

10 - 14

2521

1945

4466

4466

15 - 19

2090

1998

4088

4088

20 - 24

2236

2049

4285

4285

25 - 29

2488

2526

5014

5015

30 - 34

2591

3116

5707

5707

35 - 39

2849

2499

5348

5348

40 - 44

2833

1678

4511

4511

10

45 - 49

2330

1226

3556

3556

11

50 - 54

1312

1239

2551

2551

42

12

55 - 59

877

818

1695

1695

13

60 - 64

670

444

1114

1114

14

65 - 69

331

216

686

686

15

70 - 74

274

214

490

490

16

75 keatas

139

133

272

272

JUMLAH

27655

26470

54125

54126

Tabel 4.1 Jumlah Penduduk Berdasarkan Umur dan Jenis Kelamin

4.3.2. Jumlah Penduduk Berdasarkan Pekerjaan dan Jenis Kelamin


NO

PEKERJAAN

JENIS KELAMIN
LK

PR

JUMLAH

Karyawan swasta/Pemerintah/TNI

8013

7301

15314

Pedagang

4844

3112

7956

Pensiunan

3392

3112

6504

Pertukangan

4104

2194

6298

Pengangguran

128

133

261

Fakir miskin

81

123

204

Lain-lain

7056

10397

17453

Tabel 4.2 Jumlah Penduduk Berdasarkan Pekerjaan dan Jenis Kelamin

4.3.3. Jumlah Penduduk Berdasarkan Pendidikan dan Jenis Kelamin


NO

PENDIDIKAN

JENIS KELAMIN

JUMLAH

LK

PR

Tidak sekolah

2344

1987

4331

Tamat SD

2020

293

2313

Tamat SLP

940

984

1924

Tamat SLA

965

422

1387

Tamat Akademi/PT

11

19

Tabel 4.3 Jumlah Penduduk Berdasarkan Pendidikan dan Jenis Kelamin

43

4.4. Sumber Daya Kesehatan Yang Ada


Tenaga Kesehatan Puskesmas Kelurahan Warakas terdiri dari,
a) Dokter umum

:2

b) Dokter gigi

:1

c) Bidan

: 13

d) Perawat gigi

:1

e) Perawat

:2

f) Tenaga kefarmasian

:1

g) Tenaga gizi

:1

4.5. Sarana Pelayanan Kesehatan Yang Ada


a) Puskesmas

1 buah

b) RB Puskesmas

1 buah

c) BP.Swasta

19 buah

d) RB Swasta

1 buah

e) Dokter Praktek

6 orang

f) Dokter Gigi

4 orang

g) Bidan Praktek

6 orang

h) Laboratorium Kesehatan

1 buah

i) Apotek

3 buah

j) Pengobatan Tradisional

1 orang

k) Tukang Gigi

4 buah

4.6. Data Kesehatan Masyarakat


4.6.1. Data Dasar Program Ketok Pintu Layani Dengan Hati pada RT 05, RT 06, RT
07, dan RT 08 di RW 13 Kelurahan Warakas

Jumlah Penduduk

RT 05

RT 06

RT 07

RT 08

Laki laki

86

112

67

55

Perempuan

89

113

63

60

Total

175

225

130

115

44

Jumlah KK

46

61

38

27

Jumlah Jiwa per KK

Katholik

23

Kristen

20

10

11

Islam

146

198

120

104

Hindu

Budha

0 15 tahun

49

55

26

27

16 45 tahun

91

119

76

61

>45 tahun

40

51

28

27

Tidak Tamat SD

Masih SD

16

21

Tamat SD

23

18

20

Masih SMP

Tamat SMP

15

35

17

14

Masih SMA

Tamat SMA

78

90

59

44

Masih Kuliah

Tamat Kuliah

11

15

Tidak/Belum Sekolah

19

32

15

16

Pedagang

Wiraswasta

36

Pegawai Swasta

32

66

31

Pensiunan

Pekerja Lepas

Lainnya

132

Belum Bekerja

110

75

62

PNS/TNI

Kawin

92

123

73

58

Agama

Golongan Usia

Tingkat Pendidikan

Pekerjaan

Status Kawin

45

Belum Kawin

79

98

49

53

Janda/Duda

18

28

19

11

BPJS

147

190

112

95

Non BPJS

13

11

Tidak Memiliki Jaminan

15

23

18

20

PUS

Asuransi Kesehatan

Tabel 4.4 Data Dasar Program Ketok Pintu Layani Dengan Hati

4.6.2. Penggunaan KB pada PUS di RT 05, RT 06, RT 07, dan RT 08 di RW 13


RT
05

06

07

08

PUS

Jumlah Peserta

Presentasi

PUS Ber KB

11

61,1%

PUS Non KB

38,9%

PUS Ber KB

18

64,3%

PUS Non KB

10

35,7%

PUS Ber KB

53,3%

PUS Non KB

46,7%

PUS Ber KB

54,5%

PUS Non KB

45,5%

Tabel 4.5 Penggunaan KB pada PUS di RT 05, RT 06, RT 07, dan RT 08 di RW 13

4.6.3. Jumlah Peserta Penelitian


RT

Jumlah Drop Out

Peserta

05

06

07

08

Tabel 4.6 Jumlah Peserta Penelitian

4.6.4. Gambaran pengetahuan mengenai metode KB


a) Sebelum dilakukan konseling KB

46

Dari keempat RT, jumlah WUS yang memiliki pengetahuan baik


mengenai KB hanya 8 orang, atau 47% dari keseluruhan WUS.

RT
05

06

07

08

Pengetahuan

Jumlah

Presentase

Baik

40%

Kurang Baik

60%

Baik

60%

Kurang Baik

40%

Baik

50%

Kurang Baik

50%

Baik

33,3%

Kurang Baik

66,7%

Tabel 4.7 Gambaran pengetahuan mengenai metode KB sebelum konseling

b) Sesudah dilakukan konseling KB


Setelah dilakukan konseling, jumlah WUS yang memiliki pengetahuan baik
mengenai KB meningkat menjadi 11 orang, atau 65% dari keseluruhan
WUS.
RT
05

06

07

08

Pengetahuan

Jumlah

Presentase

Baik

40%

Kurang Baik

60%

Baik

80%

Kurang Baik

20%

Baik

75%

Kurang Baik

25%

Baik

66,7%

Kurang Baik

33,3%

Tabel 4.8 Gambaran pengetahuan mengenai metode KB sesudah konseling

4.6.5. Gambaran sikap terhadap penggunaan KB

47

a) Sebelum dilakukan konseling KB


Sebelum dilakukan konseling KB, WUS yang memiliki sikap yang baik
terhadap penggunaan KB berjumlah 5 orang, atau 29% dari keseluruhan
WUS.
RT
05

06

07

08

Sikap

Jumlah

Presentase

Baik

20%

Buruk

80%

Baik

20%

Buruk

80%

Baik

50%

Buruk

50%

Baik

33,3%

Buruk

66,7%

Tabel 4.9 Gambaran sikap terhadap penggunaan KB sebelum konseling KB

b) Sesudah dilakukan konseling KB


Jumlah WUS yang memiliki sikap yang baik terhadap penggunaan KB
meningkat menjadi 9 orang, atau 53% dari keseluruhan WUS.
RT
05

06

07

08

Sikap

Jumlah

Presentase

Baik

40%

Buruk

60%

Baik

60%

Buruk

40%

Baik

50%

Buruk

50%

Baik

66,7%

Buruk

33,3%

Tabel 4.9 Gambaran sikap terhadap penggunaan KB sesudah konseling KB

48

BAB V
DISKUSI

Penelitian dilakukan dirumah-rumah warga dengan wanita usia subur RT 05, RT 06, RT
07, dan RT 08 RW 13 Kelurahan Warakas. Pelaksanaan penelitian dimulai dari tanggal 11
Januari 2016 hingga 29 Januari 2016.
5.1. Gambaran Pengetahuan Wanita Usia Subur Mengenai Metode KB
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa responden yang berpengetahuan baik
sejumlah 8 responden (47%) sisanya berpengetahuan kurang sejumlah 9 responden
(53%). Hal ini menunjukan bahwa sebagian besar wanita usia subur belum mempunyai
pengetahuan baik dan mengerti tentang metode KB yang ada dalam upaya menunda
kehamilan. Sebagian penderita takut akan efek samping dari KB. Beberapa juga tidak
mengetahui bahwa terdapat alat kontrasepsi non hormonal sebagai alternatif seperti IUD
dan kondom. Kurangnya pengetahuan responden ini dapat disebabkan beberapa faktor
antara lain: rendahnya tingkat pendidikan responden, kurangnya keaktifan responden
dalam mengikuti penyuluhan kesehatan yang diadakan oleh petugas kesehatan setempat,
responden enggan melakukan konseling KB sebelum melakukan pemilihan KB, dan
adanya info simpang siur dari orang sekitar.

Pengetahuan adalah merupakan hasil tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan
penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi
melalui panca indera manusia yakni : indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa
dan raba. Sebagian besar berpengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga

Pengetahuan/kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya


suatu tindakan karena dari pengalaman dan penelitian yang didasari oleh pengetahuan
akan lebih langgeng dari pada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan.

49

Menurut Lawrence Green dalam Notoatmodjo (2002) peningkatan pengetahuan


mempunyai hubungan yang positif dengan perubahan variabel perilaku. Pengetahuan
dapat diperoleh dari tingkat pendidikan seseorang realitas cara berfikir dan ruang
lingkup jangkauan berfikirnya semakin luas.

5.2. Gambaran Sikap Wanita Usia Subur Terhadap Penggunaan KB


Berdasarkan hasil penelitian diketahui responden yang memiliki sikap positif
dalam penggunaan KB berjumlah 5 responden (29%) dan responden yang memiliki
sikap negatif dalam upaya mencegah kekambuhan penyakit hipertensi berjumlah 12
responden (71%). Hal ini menununjukan bahwa sikap responden masih negatif
meskipun masih ada 5 responden yang mempunyai sikap positif. Hal ini bisa disebabkan
oleh beberapa faktor antara lain:
Pengetahuan yang kurang tentang metode KB yang tersedia, beredarnya informasi
mengenai KB yang tidak jelas keabsahannya, dan adanya larangan penggunaan KB dari
orang sekitar.
Menurut Notoatmodjo (2003) sikap merupakan salah satu domain perilaku
kesehatan yang dapat diartikan sebagai suatu reaksi atau respon seseorang yang masih
tertutup suatu stimulus/objek. Sedangkan menurut Newcomb (Notoatmodjo, 2003) sikap
merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak dan bukan merupakan pelaksana
motif tertentu sikap belum otomatis terwujud dalam bentuk praktek (overt behavior)
untuk terwujud suatu sikap agar menjadi perbuatan nyata (praktek) diperlukan faktor
pendukung atau suatu kondisi yang memungkinkan antara lain fasilitas dan dukungan
keluarga.

50

BAB VI
SIMPULAN DAN SARAN

6.1.Simpulan
a) Wanita usia subur yang memiliki pengetahuan baik mengenai metode KB berjumlah
8 orang atau hanya 53% dan sisanya yang berpengetahuan kurang sebanyak 9 orang
atau 47%
b) Wanita usia subur yang memiliki sikap baik terhadap penggunaan KB berjumlah 5
orang atau 29%, sedangkan yang memiliki sikap buruk berjumlah 12 orang atau 71%
c) Setelah konseling, jumlah wanita usia subur berpengetahuan baik meningkat menjadi
11 orang, atau 65%, sedangkan yang masih berpengetahuan kurang 6 orang atau 35%.
Jumlah peserta yang memiliki sikap baik juga meningkat menjadi 9 orang atau 53%.

6.2.Saran
6.2.1. Untuk Masyarakat
1) Diharapkan masyarakat lebih aktif dalam mengumpulkan informasi mengenai
KB
2) Melakukan cross check dengan petugas kesehatan mengenai keraguan,
ataupun informasi yang simpang siur mengenai KB

6.2.2. Untuk Puskesmas


1) Diharapkan untuk melakukan penyuluhan rutin mengenai KB
2) Melakukan penilaian mengenai efektifitas penyuluhan yang telah dilakukan

6.2.3. Untuk Peneliti Selanjutnya


Melakukan sosialisasi yang lebih terencana atau memilih metode yang lebih baik
untuk menurunkan drop out peserta dan meningkatkan pengetahuan maupun sikap
terhadap penggunaan KB

51

DAFTAR PUSTAKA

1. Manuaba IBG. Pelayanan keluarga berencana. Dalam : Manuaba IBG (eds). Kapita
Selekta Penatalaksanaan Rutin Obstetri Ginekologi dan KB. Jakarta: EGC; 2001. h. 715
719.
2. Saifuddin AB, Affandi B, dan Lu ER. Metode Amenorea Laktasi (MAL). Dalam:
Saifuddin AB, Affandi B, dan Lu ER. eds. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi
Edisi I Cetakan 5. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo; 2005. h. 40
71.
3. Albar E. Kontrasepsi tanpa menggunakan Alat. Dalam: Wiknjosastro H, Saifuddin AB,
dan Rachimhadhi T, eds. Ilmu kandungan Edisi 2 Cetakan 5. Jakarta: Yayasan Bina
Pustaka Sarwono Prawirohardjo FK UI; 2010. h. 535-539.
4. Saifuddin AB, Affandi B, dan Lu ER. Metode Barier. Dalam: Saifuddin AB, Affandi B,
dan Lu ER. eds. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi Edisi I Cetakan 5. Jakarta:
Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo; 2005. h. 16 26.
5. Saifuddin AB, Affandi B, dan Lu ER. Kontrasepsi Kombinasi. Dalam: Saifuddin AB,
Affandi B, dan Lu ER. eds. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi Edisi I Cetakan
5. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo; 2005. h. 27 39.
6. Saifuddin AB, Affandi B, dan Lu ER. Kontrasepsi Progestin. Dalam: Saifuddin AB,
Affandi B, dan Lu ER. eds. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi Edisi I Cetakan
5. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo; 2005. h. 40 71.
7. Saifuddin AB, Affandi B, dan Lu ER. Alat Kontrasepsi Dalam Rahim. Dalam: Saifuddin
AB, Affandi B, dan Lu ER. eds. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi Edisi I
Cetakan 5. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo; 2005. h. 72 77.
8. Saifuddin AB, Affandi B, dan Lu ER. Kontrasepsi Mantap. Dalam: Saifuddin AB,
Affandi B, dan Lu ER. eds. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi Edisi I Cetakan
5. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo; 2005. h. 78 85.

52

LAMPIRAN
TABEL DATA PESERTA PENELITIAN

RT No Nama Usia
1

Ny. N

Ny.
ST
Ny.
ER

32
38
30

05
4

Ny.
NP

42

Ny.
KK

44

KB

KB

Suntik 3
Bulan
Suntik 3
Bulan
Suntik 3
Bulan
Suntik 3
bulan
Suntik 1
Bulan
Pil
Suntik 3
Bulan
Pil
Suntik 1
Bulan
Suntik 3
Bulan
Pil
Pil
Suntik 1
Bulan
Suntik 1
Bulan

Tidak haid di
KB sebelumnya
Takut efek
samping
Takut efek
samping

Baik

Baik

Buruk

Buruk

Kurang

Kurang

Buruk

Baik

Kurang

Kurang

Buruk

Buruk

Sedang
beristirahat dari
KB sebelumnya

Kurang

Kurang

Buruk

Buruk

Tidak boleh
oleh suami

Baik

Baik

Baik

Baik

Baru
melahirkan,
anak usia 8
bulan, masih
memilih

Baik

Baik

Buruk

Baik

Ingin
menambah anak

Baik

Baik

Buruk

Buruk

Sedang hamil 8
bulan

Baik

Baik

Baik

Baik

Kurang

Baik

Buruk

Baik

Kurang

Kurang

Buruk

Buruk

Kurang

Kurang

Buruk

Buruk

Baru melahirkan

Kurang

Baik

Baik

Baik

Sedang hamil

Baik

Baik

Baik

Baik

Ny.
TA

21

Ny.
DA

30

Ny.
EPN

31

Ny.
SF

38

Tidak
Pernah

Ny.
TM

27

Pil

Ny.
W

25

Tidak
Pernah

Ny.
PN
Ny.
NA

07

24
23

Sikap

Alasan Tidak

06

Pengetahuan

Riwayat

Tidak
Pernah
Suntik 3
Bulan

Tidak nyaman
dengan petugas
puskes
Takut efek
samping
Tidak boleh
oleh suami
karena alasan
fertilitas

Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah

53

4
1
08

Ny.
M
Ny.
HS

32
25

Ny. L

30

Ny.
M

43

Tidak
Pernah
Suntik 3
Bulan
Pil
Suntik 3
Bulan
Suntik 1
Bulan

Alasan fertilitas

Baik

Baik

Buruk

Buruk

Takut ES

Baik

Baik

Buruk

Buruk

Haid tdk teratur

Kurang

Baik

Baik

Baik

Ingin punya
anak

Kurang

Kurang

Buruk

Baik

54