Anda di halaman 1dari 14

REFERAT

Post Traumatic Stress Disorder (PTSD)


In Children Following Natural Disasters

Disusun Oleh :
Setyabella Ika Putri
20100310042

Diajukan Kepada:
dr. Warih Andan, Sp.Kj

DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN JIWA


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
YOGYAKARTA
2016

BAB I
PENDAHULUAN
Post traumatic stress disorder atau gangguan stres pasca trauma adalah suatu
gangguan kecemasan yang timbul setelah mengalami atau menyaksikan suatu ancaman
kehidupan atau peristiwa-peristiwa trauma seperti perang militer, bencana alam,
serangan dengan kekerasan atau suatu kecelakaan yang serius peristiwa trauma ini
menyebabkan reaksi ketakutan. Gejala-gejala umum tersebut antara lain kenangan yang
muncul pertama kali berulang-ulang sangat mendalam dan mengganggu akibat
peristiwa tersebut berusaha menghindari keadaan- keadaan yang mengingatkan pada
peristiwa tersebut menjadi mati rasa secara emosional dan suka menyendiri, sulit tidur,
dan konsentrasi, ketakutan. Bila gejala-gejala gangguan stres pasca trauma menjadi
parah gangguan tersebut berkembang menjadi gangguan stres pasca trauma setelah
mengalami peristiwa yang sama. Resiko akan mengalami gangguan stres pasca trauma
meningkat oleh karena banyak faktor, termasuk intensitas beratnya peristiwa yang
dialami, sejauh mana anda terlibat didalamnya, dan seberapa hebatnya reaksi.
Sementara itu penyebab sebenarnya dari gangguan stres pasca trauma tidak diketahui.
Kemungkinan lain adalah dilepaskannya hormon- hormon tertentu oleh otak seperti
kortisol dan zat-zat kimia lainnya sebagai respon terhadap rasa takut, hormonhormon
dan zat kimia ini akan membangkitkan kenangan- kenangan tersebut.1,2,3
Menurut penelitian yang dilakukan Paolo, dkk, 12 sampai 17 bulan setelah
gempa L'Aquila, jumlah anak yang berisiko mengalami gangguan kejiwaan relatif
rendah dan mirip dengan prevalensi yang ditemukan di kebanyakan studi. Namun,
anak-anak berusia 6-10 tahun yang tinggal di pusat gempa memiliki risiko tinggi
mengalami gangguan kejiwaan, konsisten dengan penelitian yang dilakukan di keadaan
darurat yang kompleks. Penelitian Paolo ini menegaskan kebutuhan untuk
memberdayakan sistem untuk meningkatkan skrining, monitoring, manajemen dan
rujukan yang bertujuan menilai dan memenuhi kesehatan mental anak-anak perlu
sebagai bagian dari intervensi pasca bencana Intervensi. 7

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
Definisi
PTSD atau Post Traumatic Stress Disorder adalah Gangguan kejiwaan pada
seseorang yang dialami dan berkembang setelah pengalaman traumatik, atau
menyaksikan suatu kejadian yang mengancam jiwa, mencederai luka, atau ancaman
terhadap integritas dari tubuh, biasanya diiringi dengan ketidakmampuan seseorang
untuk beradaptasi. Pengertian lain dari PTSD (Post Traumatic Stress Disorder) adalah
kecemasan patologis yang umumnya terjadi setelah seseorang mengalami atau
menyaksikan trauma berat yang mengancam secara fisik dan jiwa orang tersebut.
Pengalaman traumatik ini dapat berupa:1,2
1. Trauma yang disebabkan oleh bencana seperti bencana alam (gempa bumi,
banjir, topan), kecelakan, kebakaran, menyaksikan kecelakaan atau bunuh diri,
kematian anggota keluarga atau sahabat secara mendadak.
2. Trauma yang disebabkan individu menjadi korban dari interperpersonal attack
seperti: korban dari penyimpangan atau pelecehan seksual, penyerangan atau
penyiksaan fisik, peristiwa kriminal (perampokan dengan kekerasan),
penculikan, menyaksikan perisiwa penembakan atau tertembak oleh orang lain.
3. Trauma yang terjadi akibat perang atau konflik bersenjata seperti: tentara yang
mengalami kondisi perang, warga sipil yang menjadi korban perang atau yang
diserang, korban terorisme atau pengeboman, korban penyiksaan (tawanan
perang), sandera, orang yang menyaksikan atau mengalami kekerasan.
4. Trauma yang disebabkan oleh penyakit berat yang diderita individu seperti
kanker, rheumatoid arthritis, jantung, diabetes, renal failure, multiple sclerosis,
AIDS dan penyakit lain yang mengancam jiwa penderitanya.
Faktor Resiko PTSD 4
1. Jenis kelamin perempuan, 2 hingga 4 kali lipat dibandingkan pada laki-laki
meskipun laki-laki lebih cenderung mengalami kejadian traumatik.
2. Gangguan jiwa sebelumnya (preexisting anxiety disorder atau preexisting major
depression) beresiko 2 kali lipat dibandingkan mereka yang tidak mengalami
gangguan jiwa.

3. Adanya gangguan psikiatrik sebelum trauma baik pada individu yang


bersangkutaan maupun keluarganya.
4. Adanya trauma masa kanak, seperti kekerasan fisik maupun seksual.
5. Ciri kepribadian ambang, paranoid, dependent, atau antisosial.
6. Mempunyai karakter yang bersifat introvert atau isolasi sosial; adanya problem
menyesuaikan diri.
7. Adanya kebutuhan emosional yang tidak terpenuhi secara bermakna.
8. Terpapar oleh kejadian-kejadian dalam kehidupan yang luar biasa sebelumnya
baik tunggal maupun ganda dan dirasakan secara subjektif oleh suatu kondisi
atau peristiwa yang menimbulkan penderitaan bagi dirinya.
Epidemiologi
Prevalensi seumur hidup PTSD diperkirakan sekitar 8% populasi umum
walaupun tambahan 5 hingga 15% dapat mengalami bentuk subklinis gangguan ini. Di
antara kelompok risiko tinggi yang anggotanya mengalami peristiwa traumatik, angka
prevalensi seumur hidupnya berkisar hingga 5-7%. Prevalensi seumur hidup perempuan
lebih tinggi dibandingkan pada laki-laki. PTSD dapat timbul pada usia berapapun, tetapi
gangguan ini paling sering dialami oleh dewasa muda. Anak juga dapat mengalami
gangguan ini.1
Etiologi
Stresor
Menurut

definisinya,

stressor

adalah

faktor

penyebab

utama

dalam

perkembangan gangguan stres pasca traumatik. Tetapi tidak setiap orang mengalami
gangguan stres pasca traumatik setelah suatu peristiwa traumatik; walaupun stressor
diperlukan, stressor tidak cukup untuk menyebabkan gangguan. Klinisi harus
mempertimbangkan juga factor biologis individual yang telah ada sebelumnya, faktor
psikososial sebelumnya, dan peristiwa yang terjadi setelah trauma.2
Penelitian terakhir pada gangguan stres pasca trauma telah sangat menekankan
pada respons subjektif seseorang terhadap trauma ketimbang beratnya stresor itu
sendiri. Walaupun gejala gangguan stres pasca traumatik pernah dianggap secara
langsung sebanding dengan beratnya stressor, penelitian empiris telah membuktikan
sebliknya. Sebagai akibatnya, consensus yang tumbuh adalah bahwa gangguan memiliki
pengaruh pada arti subjektif stresor bagi pasien.2

Bahkan jika dihadapkan dengan trauma yang berat, sebagian besar orang tidak
mengalami gejala gangguan stres pascatraumatik. Demikian juga peristiwa yang
tampaknya biasa atau kurang berbahaya bagi kebanyakan orang mungkin menyebabkan
gangguan stress pasca traumatik pada beberapa orang karena arti subjektif dari peristiwa
tersebut. Faktor kerentanan yang merupakan predisposisi yang tampaknya memainkan
peranan penting dalam menentukan apakah gangguan berkembang adalah:
1. Adanya trauma masa anak-anak.
2. Sifat gangguan kepribadian ambang, paranoid, dependen, atau anti sosial.
3. Sistem pendukung yang tidak adekuat.
4. Kerentanan kontitusional genetika pada penyakit psikiatrik.
5. Perubahan hidup penuh stres yang baru terjadi.
6. Persepsi lokus kontrol eksternal, bukannya internal.
7. Penggunaan alkohol yang baru.2
Penelitian psikodinamika terhadap orang yang dapat bertahan hidup dari trauma
psikis yang parah telah menemukan aleksitimia, yaitu ketidak mampuan untuk
mengidentifikasi atau mengungkapkan keadaan perasaan sebagai ciri yang umum. Jika
trauma psikis terjadi pada anak-anak, biasanya dihasilkan perhentian perkembangan
emosional. Jika trauma terjadi pada masa dewasa, regresi emosional seringkali terjadi.
Orang yang selamat dari trauma biasanya tidak dapat menggunakan keadaan emosional
internal sebagai tanda dan mungkin mengalami gejala psikosomatik. Mereka juga tidak
mampu menenangkan dirinya jika dalam stres.2
Faktor Psikodinamika
Model kognitif dari gangguan stres pascatrauma menyatakan bahwa orang yang
terkena adalah tidak mampu untuk memproses atau merasionalisasikan trauma yang
mencetuskan gangguan. Mereka terus mengalami stress dan berusaha untuk tidak
mengalami stress dengan teknik menghindar. Sesuai dengan kemampuan parsial mereka
untuk mengatasi peristiwa secara kognitif, pasien mengalami periode mengakui
peristiwa dan menghambatnya secara berganti-ganti.2
Model perilaku dari gangguan stress pascatraumatik menyatakan bahwa
gangguan memiliki dua fase dalam perkembangannya. Pertama, trauma (stimulus yang
tidak dibiasakan) adalah dipasangkan, malalui pembiasaan klasik, dengan stimulus yang

dibiasakan (pengingat fisik atau mental terhadap trauma). Kedua, melalui pelajaran
instrumental, pasien mengembangkan pola penghindaran terhadap stimulus yang
dibiasakan maupun stimulus yang tidak dibiasakan.2
Model psikoanalitik dari gangguan menghipotesiskan bahwa trauma telah
mereaktivasi konflik psikologis yang sebelumnya diam dan belum terpecahkan.
Penghidupan kembali trauma masa anak-anak menyebabkan regresi dan mekanisme
pertahanan represi, penyangkalan, dan meruntuhkan (undoing). Ego hidup kembali dan
dengan demikian berusaha menguasai dan menurunkan

kecemasan. Pasien juga

mendapatkan tujuan sekunder dari dunia luar, peningkatan perhatian atau simpati, dan
pemuasan kebutuhan ketergantungan. Tujuan tersebut mendorong gangguan dan
persistensinya. Suatu pandangan kognitif tentang gangguan stress adalah bahwa otak
mencoba untuk memproses sejumlah besar informasi yang dicetuskan oleh trauma
dengan periode menerima dan menghambat peristiwa secara berganti-ganti.2
Faktor Biologis
Model praklinik pada binatang tentang ketidakberdayaan, pembangkitan, dan
sensitisasi yang dipelajari telah menimbulkan teori tentang norepinefrin, dopamin,
opiate-endogen, dan reseptor benzodiazepine dan sumbu hipotalamus-hipofisis-adrenal.
Pada populasi klinis, data telah mendukung hipotesis bahwa system noradrenergik dan
opiate endogen, dan juga sumbu hipotalamus-hipofisis-adrenal, adalah hiperaktif pada
sekurangnya beberapa pasien dengan gangguan stress pascatraumatik.2
Temuan biologis utama lainnya adalah peningkatan aktivitas dan responsivitas
sistem saraf otonom, seperti yang dibuktikan oleh peniggian kecepatan denyut jantung
dan pembacaan tekanan darah, dan arsitektur tidur yang abnormal. Bebrapa peneliti
telah menyatakan adanya kemiripan antara gangguan stress pascatraumatik dan dua
gangguan psikiatrik lain, gangguan depresif berat dan gangguan panik.2
Gejala
Klien dengan PTSD dapat saja tidak menunjukkan gejala-gejala khas PTSD
secara kontinu dan dalam kurun waktu yang tentu. Gejala dapat timbul sewaktu-waktu
bergantung pada stimuli yang diterima klien. Gejala PTSD, meskipun tidak spesifik,
meliputi indikasi yang khas. Terdapat tiga tipe gejala, flight, fight, dan freeze. Ansietas
dan penghindaran merupakan gejala flight. Meningkatnya amarah dan perilaku

kekerasan merupakan gelaja fight, sedangkan kekebasan, disasosiasi, dan alterasi dalam
persepsi diri merupakan karakteristik freeze (APA, 2000). Tiga tipe gejala yang sering
terjadi pada PTSD adalah:1,2,3
1. Pengulangan pengalaman trauma, ditunjukkan dengan:
selalu teringat akan peristiwa yang menyedihkan yang telah dialami

flashback (merasa seolah-olah peristiwa yang menyedihkan terulang kembali)


nightmares (mimpi buruk tentang kejadian-kejadian yang membuatnya sedih)
reaksi emosional dan fisik yang berlebihan karena dipicu oleh kenangan akan
peristiwa yang menyedihkan.
2. Penghindaran dan emosional yang dangkal, ditunjukkan dengan:
menghindari aktivitas, tempat, berpikir, merasakan, atau percakapan yang
berhubungan dengan trauma.
kehilangan minat terhadap semua hal
perasaan terasing dari orang lain
emosi yang dangkal.
3. Sensitifitas yang meningkat, ditunjukkan dengan:
susah tidur
mudah marah/tidak dapat mengendalikan marah
susah berkonsentrasi
kewaspadaan yang berlebih
respon yang berlebihan atas segala sesuatu
Meskipun kriteria PTSD awalnya dikembangkan berdasarkan pengetahuan dari
sampel orang dewasa, beberapa gejala yang berkaitan dengan usia yang ditambahkan
dalam versi berikutnya (DSM-III-R, DSM-IV, dan DSM-V). Ada beberapa ulasan yang
komprehensif mengenai penelitian pasca bencana pada anak-anak. Ulasan ini
menunjukkan bahwa anak-anak menunjukkan gejala yang pada tahun pertama pasca
bencana, dan gejala-gejala sebagian besar menurun dengan cepat setelah sembilan
sampai 14 bulan pasca bencana. Meskipun sebagian besar anak-anak dapat pulih tak
lama setelah bencana tersebut, tetapi ada pula PTSD yang bertahan lebih lama untuk
beberapa anak-anak. 6

Penelitian yang dilakukan oleh Takeo Fujiwara, dkk, yang berjudul Association
between facial expression and PTSD symptoms among young children exposed to the
Great East Japan Earthquake : a pilot study menunjukkan adanya gejala mati rasa
emosional pada anak yang mengalami PTSD, hal ini ditandai dengan hilangnya minat
dalam kegiatan yang biasanya menyenangkan, merasa terpisah dari orang lain, dan
ketidakmampuan untuk mengekspresikan berbagai emosi. 8
Penelitian ini dilakukan dengan cara memperlihatkan video lucu kepada anakanak, dan peneliti menemukan bahwa ekspresi wajah netral yang ditunjukkan oleh
peserta selama video 'komedi' berhubungan positif dengan gejala PTSD pada anak-anak.
Selain itu, ada kecenderungan yang signifikan menunjukkan bahwa anak-anak dengan
skor PTSD yang lebih tinggi sangat mungkin untuk menampilkan ekspresi wajah sedih
saat menonton video 'komedi'. 8
Diagnosis
Berikut adalah kriteria diagnostic untuk Gangguan Stres Pascatraumatik
menurut DSM-IV:
A. Orang telah terpapar dengan suatu kejadian traumatik dimana kedua dari berikut ini
terdapat:
1) Orang mengalami, menyaksikan, atau dihadapkan dengan suatu kejadian atau
kejadian-kejadian yang berupa ancaman kematian atau kematian yang
sesungguhnya atau cedera yang serius, atau ancaman kepada integritas fisik diri
sendiri atau orang lain.
2) Respon orang tersebut berupa takut yang kuat, rasa tidak berdaya, atau horror.
Catatan: pada anak-anak hal ini dapat diekspresikan dengan perilaku yang
kacau atau teragitasi.
B. Kejadian traumatik secara menetap dialami kembali dalam satu (atau lebih) cara
berikut:
1) Rekoleksi yang menderitakan, rekuren, dan mengganggu tentang kejadian,
termasuk bayangan, pikiran, atau persepsi. Catatan: pada anak kecil, dapat
menunjukkan permainan berulang dengan tema atau aspek trauma.
2) Mimpi menakutkan yang berulang tentang kejadian. Catatan: pada anakanak, mungkin terdapat mimpi menakutkan tanpa isi yang dapat dikenali.

3) Berkelakuan atau merasa seakan-akan kejadian traumatik terjadi kembali


(termasuk perasaan penghidupan kembali pengalaman, ilusi, halusinasi, dan
episode kilas balik disosiatif, termasuk yang terjadi selama terbangun atau saat
terintoksikasi). Catatan: pada anak kecil, dapat terjadi penghidupan kembali
yang spesifik dengan trauma.
4) Penderitaan psikologis yang kuat saat terpapar dengan tanda internak atau
eksternal yang menyimbolkan atau menyerupai suatu aspek kejadian traumatik.
5) Reaktivitas psikologis saat terpapar dengan tanda internal atau eksternal yang
menyimbolkan atau menyerupai suatu aspek kejadian traumatik.
C. Penghindaran stimulus yang persisten yang berhubungan dengan trauma dan kaku
karena responsivitas umum (tidak ditemukan sebelum trauma), seperti yang ditujukan
oleh tiga (atau lebih) berikut ini:
1) Usaha untuk menghindari pikiran, perasaan, atau percakapan yang
berhubungan dengan trauma.
2) Usaha untuk menghndari aktivitas, tempat, atau orang yang menyadarkan
rekoleksi dengan trauma.
3) Tidak mampu untuk mengingat aspek penting dari trauma.
4) Hilangnya minat atau peran serta yang jelas dalam aktivitas yang bermakna.
5) Perasaan terlepas atau asing dari orang lain.
6) Rentang afek yang terbatas (misalnya, tidak mampu untuk memiliki perasaan
cinta)
7) Perasaan bahwa masa depan menjadi pendek (misalnya, tidak berharap
memiliki karir, menikah, anak-anak, atau panjang kehidupan normal)
D. Gejala menetap adanya peningkatan kesadaran (tidak ditemukan sebelum trauma),
seperti yang ditunjukkan oleh dua (atau lebih) berikut:
1) Kesulitan untuk tidur atau tetap tertidur.
2) Iritabilitas atau ledakan kemarahan.
3) Sulit berkonsentrasi.
4) Kewaspadaan berlebihan.
5) Respon kejut yang berlebihan.
E. Lama gangguan (gejala dalam kriteria A, B, C, dan D) adalah lebih dari satu bulan.

F. Gangguan menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau gangguan


dalam fungsi social, pekerjaan, atau fungsi penting lain.2
Sementara itu kriteria diagnostik untuk gangguan stres pascatraumatik menurut
PPDGJ III (F 43.1) adalah sebagai berikut:
1. Diagnosis baru ditegakkan bilamana gangguan ini timbul dalam kurun waktu 6
bulan setelah kejadian traumatik berat (masa laten yang berkisar antara beberapa
minggu sampai beberapa bulan, jarang sampai melampaui 6 bulan).
Kemungkinan diagnosis masih dapat ditegakkan apabila tertundanya waktu
mulai saat kejadian dan onset gangguan melebihi waktu 6 bulan, asal saja
manifestasi klinisnya adalah khas dan tidak didapat alternatif kategori gangguan
lainnya.
2. Sebagai bukti tambahan selain trauma, harus didapatkan bayang-bayang atau
mimpi-mimpi dari kejadian traumatik tersebut secara berulang-ulang kembali
(flashbacks).
3. Gangguan otonomik, gangguan afek dan kelainan tingkah laku semuanya dapat
mewarnai diagnosis tetapi tidak khas.
4. Suatu sequelae menahun yang terjadi lambat setelah stres yang luar biasa,
misalnya saja beberapa puluh tahun setelah trauma, diklasifikasikan dalam
kategori F62.0 (perubahan kepribadian yang berlangsung lama setelah
mengalami katastrofa).3
Diagnosis banding
Pertimbangan utama dalam diagnosis banding gangguan stress pascatraumatik
adalah kemungkinan bahwa pasien juga mengalami cedera kepala selam trauma.
Pertimbangan organik lainnya yang dapat menyebabkan atau mengeksaserbasi gejala
adalah epilepsi, gangguan penggunaan alkohol, dan gangguan berhubungan zat lainnya.
Intoksikasi akut atau putus dari suatu zat mungkin juga menunjukkan gambaran klinis
yang sulit dibedakan dari gangguan stres pascatraumatik sampai efek zat menghilang.2
Pada umumnya, gangguan stres pascatraumatik dapat dibedakan dari gangguan
mental lain dengan mewancarai pasien tentang peristiwa traumatik sebelumnya dan
melalui sifat gejala sekarang ini. Gangguan kepribadian ambang, gangguan disosiatif,
gangguna buatan, dan berpura-pura juga harus dipertimbangkan. Gangguan kepribadian
ambang mungkin sulit dibedakan dengan gangguan stress pascatraumatik. Dua

gangguan tersebut dapat terjadi bersama-sama atau bahkan saling berhubungan sebab
akibat. Pasien dengan gangguan disosiatif biasanya tidak memilikiderajat perilaku
menghindar, kesadaran berlebih (hiperaurosal) otonomik, atau riwayat trauma yang
dilaporkan oleh pasien gangguan stress pascatraumatik. Sebagian karena publisitas yang
telah diterima gangguan stress pascatraumatik dalam berita popular, klinisi harus juga
mempertimbangkan kemungkinan suatu gangguan buatan dan berpura-pura.2
Tatalaksana
Berbagai teknik untuk meredakan kecemasan seperti relaksasi, teknik-teknik
mengatur pernafasan serta mengontrol pikiran-pikiran perlu dilatih dan terbukti
bermanfaat untuk individu dengan gangguan stress pascatraumatik. Modifikasi pola
hidup seperti diet yang sehat, mengatur konsumsi kafein, alkohol, rokok dan obatobatan lainnya, perlunya olahraga yang teratur, dll. Medikasi yang terbukti bermanfaat
untuk mengatasi kasus ini adalah pemberian antidepresan golongan SSRI (penghambat
selektif ambilan serotonin) seperti Fluoxetin 10-60 mg/hr, Sertralin 50-200mg/hr atau
Fluvoxamine 50-300mg/hr. Antidepresan lain yang juga dapat digunakan adalah
Amiltriptilin 50-300mg/hr dan juga imipramin 50-300mg/hr.5
Berdasarkan rekomendasi dari The Expert Consensus Panels for PTSD,
tatalaksana gangguan stress pascatraumatik sebaiknya mempertimbangkan beberapa
aspek di bawah ini:
1. Gangguan stress pascatraumatik merupakan suatu gangguan yang kronik dan
berulang serta sering berkormobiditas dengan gangguan-gangguan jiwa serius
lainnya.
2. Antidepresan golongan penghambat selektif dari ambilan serotonin/SSRI
merupakan obat pilihan pertama untuk kasus ini.
3. Terapi yang efektif harus dilanjutkan paling sedikit 12 bulan.
4. Exposure therapy (terapi pemaparan) merupakan terapi dengan pendekatan
psikososial terbaik yang dianjurkan dan sebaiknya dilanjutkan selama 6 bulan.5
Prognosis
Prognosis yang baik diramalkan oleh onset gejala yang cepat, durasi gejala yang
singkat (kurang dari enam bulan), dukungan sosial yang kuat, dan tidak adanya
gangguan psikiatrik, medis, atau berhubungan zat lainnya.2

Pada umumnya, orang yang sangat muda atau sangat tua memiliki lebih banyak
kesulitan dengan peristiwa traumatik dibandingkan mereka yang dalam usia paruh baya.
Kemungkinan, anak-anak belum memiliki mekanisme mengatasi kerugian fisik dan
emosional akibat trauma. Demikian juga dengan orang lanjut usia, jika dibandingkan
dengan orang dewasa yang lebih muda, kemungkinan memiliki mekanisme mengatasi
yang lebih kaku dan kurang mampu melakukan pendekatan fleksibel untuk mengatasi
efek trauma. Kecacatan psikiatrik yang ada sebelumnya, apakah suatu gangguan
kepribadian atau suatu kondisi yang lebih serius, juga meningkatkan efek stresor
tertentu. Tersedianya dukungan sosial juga mempengaruhi perkembangan, keparahan,
dan durasi gangguan stres pascatraumatik. Pada umumnya, pasien yang memiliki
jaringan dukungan sosial yang baik, kemungkinan tidak menderita gangguan atau tidak
mengalami gangguan dalam bentuk yang parahnya.2

BAB 3
PENUTUP
Kesimpulan
Post Traumatic Stress Disorder (PTSD) adalah gangguan kecemasan yang dapat
terjadi setelah mengalami atau menyaksikan suatu peristiwa traumatik.
Statistik pada anak-anak dan remaja menunjukkan bahwa hampir 40% muncul
paling tidak satu peristiwa traumatik, yang berkembang menjadi PTSD pada hampir
15% anak perempuan dan 6% pada anak laki-laki. Hampir 100% dari anak-anak yang

menyaksikan orangtuanya dibunuh atau mengalami kekerasan seksual atau kekerasan


rumah tangga mengarah untuk berkembang menjadi PTSD, dan lebih dari sepertiga
anak muda yang terpapar pada kekerasan akan mengalami gangguan ini. Secara garis
besar terdapat 3 faktor penyebab terjadinya gangguan stres pasca traumatik, yaitu:
stresor, faktor psikodinamika, faktor biologis.
Kriteria diagnosis terdapat pada DSM-IV dan PPDGJ III. DSM-IV menyebutkan
bahwa gejala pengalaman ulang (re-experiencing), menghindar, dan kesadaran yang
berlebihan (hyperarousal) harus berlangsung lebih dari 1 bulan. Bagi pasien yang
gejalanya ditemukan kurang dari satu bulan, diagnosis yang tepat mungkin adalah
gangguan stres akut. Kriteria diagnostik DSM-IV untuk gangguan stres pascatraumatik
memungkinkan klinisi menentukan apakah gangguan adalah akut atau kronis. DSM-IV
juga memungkinkan klinisi menentukan bahwa gangguan adalah dengan onset lambat
jika onset gejala adlah enam bulan atau lebih setelah peristiwa stres.
Medikasi yang terbukti bermanfaat untuk mengatasi kasus ini adalah pemberian
anti depresan golongan SSRI (Penghambat selektif ambila serotonin) seperti Fluoxetin
10-60 mg/hr, Sertralin 50-200mg/hr atau Fluvoxamine 50-300mg/hr. Antidepresan lain
yang juga dapat digunakan adalah Amiltriptilin 50-300mg/hr dan juga imipramin 50300mg/hr.
Kira-kira 30% pasien pulih secara lengkap, 40% pasien terus menderita gejala
ringan, 20% pasien terus menderita gejala sedang, dan 10% pasien tetap tidak berubah
atau menjadi memburuk. Prognosis yang baik diramalkan oleh onset gejala yang cepat,
durasi gejala yang singkat (kurang dari enam bulan), fungsi pramorbid yang baik,
dukungan social yang kuat, dan tidak adanya gangguan psikiatrik, medis, atau
berhubungan zat lainnya.
DAFTAR PUSTAKA
1. Kaplan, Sadock. (2010). Buku Ajar Psikiatri Klinis. Jilid ke-2, EGC, Jakarta:
252-259.
2. Kaplan, Sadock, Grebb, MD. (2010). Sinopsis Psikiatri. Jilid ke-2, Binapura
Angkasa, Jakarta: 68-75.
3. Maslim, Rusdi. (2003). Diagnosis Gangguan Jiwa: Rujukan Ringkas PPDGJIII. Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK-Unika Atmajaya, Jakarta: 79
4. Elvira, Sylvia D, Hadisukanto G. (2010). Gangguan Stres Pasca Trauma Dalam:
Elvira, Sylvia D, Hadisukanto G. Buku Ajar Psikiatri. Jakarta: Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia: 254-264

5. Utama, Hendra. (2010). Buku Ajar Psikiatri. Badan Penerbit Fakultas


Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta: 254-264.
6. Terasaka, A., Tachibana, Y., Okuyama, M., & Igarashi, T. (2015). POSTTRAUMATIC STRESS DISORDER IN CHILDREN FOLLOWING
NATURAL DISASTERS: A SYSTEMATIC REVIEW OF THE LONG-TERM
FOLLOW-UP STUDIES. International Journal of Child, Youth and Family
Studies, 6(1), 111-133.
7. Feo, P., Di Gioia, S., Carloni, E., Vitiello, B., Tozzi, A. E., & Vicari, S. (2014).
Prevalence of psychiatric symptoms in children and adolescents one year after
the 2009 LAquila earthquake. BMC psychiatry, 14(1), 1.
8. Fujiwara, T., Mizuki, R., Miki, T., & Chemtob, C. (2015). Association between
facial expression and PTSD symptoms among young children exposed to the
Great East Japan Earthquake: a pilot study. Frontiers in psychology, 6.