Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PENDAHULUAN

ASKEP KLIEN DENGAN DEMAM BERDARAH DENGUE

KONSEP DASAR
I.

PENGERTIAN
Demam Berdarah Dengue adalah infeksi akut yang disebabkan oleh Arbovirus
(Arthropad Born Virus) dan ditularkan melalui gigitan nyamuk (Aedes
Dibopictus dan Aedes Aegypti) (Ngastiyah. Perawatan Anak Sakit, 341).
Demam Berdarah Dengue adalah suatu penyakit infeksi yag disebabkan oleh
virus dengan tipe I IV dengan manifestasi klinis demam 5 7 hari di sertai
gejala pendarahan dan bila timbul renjatan angka kematiannya cukup tinggi.
Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan from bositopeni (trombosit
kurang dari 100.000) dan hematokrit cenderung meningkat lebih dari 20 % dari
harga normalnya.

II.

ETIOLOG
Virus dengue dibawa oleh nyamuk aedes aegepty {betina} dan dan aedes
albopiktus sebagai vector ke tubuh manusia melalui gigitan nyamuk tersebut.
Infeksi yang pertama kali dapat memberi gejala sebagai dengue fever dengan
gejala utama demam,nyeri otot/sendi.{Arif Mansjoer, 2000}.

III. PATOFISIOLOGI
DBD biasanya timbul pada infeksi sekunder dengan virus dengue tipe I IV.
Pada hari ke 3 5 dapat timbul renjatan hipovolemik karena permeabilitas
pembuluh darah yang meningkat (plasma leakage). Kebocoran ini disebabkan
mediator-mediator tertentu (antara lain anafilatiksin) yang dibentuk di sel-sel
monouklear karena rangsangan virus Dengue.
Pendaran dapat terjadi karena vaskolopati, trombopati, koagulapati. Pada
kasusu yang cukup berat pendarahan juga disebabkan oleh gangguan faal hati.
Selain itu ditemukan tanda-tanda terjadinya Koagulasi Intra Vaskuler yan g
menyeluruh (DIC).
IV. GAMBARAN KLINIK
Menurut derajat ringan penyakit DBD dibagi menjadi 4 tingkat.
Dereajat I

- Panas 2 7 hari.
- Gejala umum tidak khas.
- Uji tornikat (+).

Derajat II

- Sama dengna derajat I.


- Gejala-gejala perdarahan spontajn seperti petekia,
ekimosa, epistaksis, hematemisis, melena, perdarahan
gusi, telinga, dan sebagainya.

Derajat III

: Gejala gejala kegagalan perdarahan otak


- Nadi lemah dan cepat (< 120 / menit).
- Tekanan nadi sempit (<20 mm Hg).

Dereajat IV

- Tekanan dan menurun.


- Nadi tidak teraba.
- Tekanan darah tidak terukur.
- Perfusi dingin, berkeringat.
- Kulit tampak biru (cyanosis).

Gambar Patofisiologi infeksi dengue.


Infeksi virus dengue

Demam
anoreksia
muntah

Trombositopenia
Hepatomegali

Manivestasi
perdarahan

Dehidrasi

Komplek agak
komplemen
I

Permeabilitas
vaskuler naik

II
Demam Dengue

Kebocoran palsma :
- Hemokonsentrasi
- Hipoproteinemia
- Efusi pleura
- Asites

Derajat

Hipovolemia
DIC

Syok

Perdarahan
saluran cerna

Anoreksia
Meninggal

Demam Berdarah Dengue derajat I II III IV

III
Asidosis

IV

II.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
-

Thrombositopenia ( 100.000 / mm3).

Hb dan PCV meningkat ( 20 %).

Lekopenia (mungkin normal atau leokositosis).

Isolasi virus.

Serologis : respon anti bodi sekunder.

Pada rejatan yang berat, periksa :

III.

Hb dan PCV berulang kali (setiap jam atau 4 6 jam).

Faal Hemostasis FDP.

X Foto dada.

Buri, Creatini Serum.

DIAGNOSA BANDING
-

Belum / tanpa rejatan :

Campak.

Infeksi bakteri / virus lain (tonsilo faringitis, hepatitis, demam dari


kelompok exanthem).

IV.

Demam rejatan :

Demam tifoid

Rejatan septik oleh kuman gram negatif lainnya.

Dengan perdarahan :

ITP STP (virus lain).

Leukemia.

Anemia aplasti.

Dengan kejang :

Meningitis.

Ensefalitis.

PENATALAKSANAAN
Indikasi rawat tinggal pada dugaan infeksi virus dengue :
-

Panas 12 hari disertai dehidrasi (karena panas, muntah, masukan kurang).

Panas 35 hari disertai nyeri perut, pembesaran hati, uji torniquet (+) / (-),
karena sakit keras, Hb / PCV naik.

Panas disertai perdarahan-perdarahan.

Panas disertai rejatan.

Belum / tanpa rejatan.


1. Grade I II
a. Oral ad libitiun atau.
b. Infus R-L 75 ml/kg BB/hr anak BB > 10 kg.
Infus R-L 50 ml/kg BB/hr anak BB > 10 kg.
Dengna disertai minum oralit, air buah, dan susu secukupnya.
Minum banyak dan sering (untuk dehidrasi).
Kalau perlu berikan infus sesuai dengan kebutuhan cairan
penderita dalam 24 jam.

Untuk BB < 25 kg 100 ml / kg / BB / 24 jam.

BB 26 30 kg 75 ml / kg / BB / 24 jam.

BB 31 40 kg 60 ml / kg / BB / 24 jam.

BB 41 50 kg 50 ml / kg / BB / 24 jam.

Obat-obatan lain :

Antibiotika apabila ada infeksi sekunder.

Antipiretika untuk anti panas.

Darah 15 cc / kg BB / hr bila ada perdarahan hebat.

Dengan rejatan.
1. Grade III :
a. Berikan infus RL 20 ml / kg BB / 1 jam.
Apabila tanda- tanda vital menunjukkan perbaikan infus dilanjutkan
dengan RL 10 ml / kg BB / 1 jam.
Jika tensi dan nadi sudah stabil, pemberian cairan diberikan sesuai
dengan kebutuhan cairan / 20 jam (standar).
b. Apabila setelah satu jam pemakaian infus RL 20 ml / kg BB /

jam . dan tensi masuk rendah dan nadi cepat lemah, akral dingin
maka penderita tersebut harus memperoleh plasma expander
(dextron L atau lainnya). Sebanyak 10 ml / kg BB /

1 jam dan

dapat diulang maksimal 30 ml / kg BB / 24 jam. Jika keadaan umum


membaik dilanjutkan dengan infus RL sebanyak kebutuhan cairan
24 jam dikurangi cairan yang sudah masuk dibagi sisa waktu setelah
dapat mengatasi rejatan.
c. Apabila satu jam setelah pemberian cairan RL 10 ml / kg BB /

jam keadaan tensi menurun lagi < 80 mm Hg dan nadi cepat lemah.

Akral dingin maka penderita tersebut memperoleh plasma atau


plasma expander (dextra L atau lainnya) sebanyak 10 ml / kg BB /
24 jam.
Jika keadaan umum membaik, dilanjutkan cairan RL sesuai dengan
kebutuhan / 24 jam dikurangi cairan yang sudah masuk dibagi sisa
waktu setelah dapat mengatasai rejatan.
2. Grade IV
a. Berikan cairan RL 30 ml / kg BB / 1 jam bila keadaan baik (T > 80
mm Hg dan nadi < 120 m, akral hangat) lanjutkan dengan RL 10
ml / kg BB / 1 jam.
Jika keadaan umum tanpak stabil, infus cairan Rl dilanjutkan
dengan perhitungan sebagai berikut : kebiutuhan cairan / 24 jam
dikurangi dengan cairan yang sudah masuk dibagi sisa waktu
setelah mengatasi rejatan.
b. Apabila setelah pemberian RL 30 ml / kg BB / 1 jam keadaan umum
makin buruk, tensi tak terukur dan tak teraba maka penderita harus
dipasang infus dua tempat lain untuk pemberian plasma atau plasma
expander 20 ml / kg BB / 1 jam.
Jika keadaa umum membaik, lanjutkan pemberian cairan sesuai
dengan kebutuhan / 24 jam dikurangi cairan yang sudah masuk
dibagi sisa waktu setelah mengatasi rejatan.
c. Apabila setelah pemberian RL 30 cc / kg BB / 1 jam keadaan umum
masih buruk, tensi terukur secara palpasi dan nadi teraba dapat
lemah, akral dingin maka penderita ini sebaiknya diberi plasma atau
expander sebanyak 20 ml / kg BB / 1 jam. Jika keadaan umum
membaik lanjutkan pemberian RL dengan standar kebutuhan
cairan / 24 jam dikurangi cairan yang sudah masuk di bagi sisa
waktu setelah dapat mengatasi rejatan.
d. Apabila setelah pemberian RL 30 cc / kg BB / 1 jam keadaan umum
membaik tetapi tensi < 80 mm Hg dan nadi > 20 m, akral hangat
atau akral dingin maka penderita sebaiknya diberikan plasma atau
plasma expander 10 ml / kg BB / 1 jam. Dan dapat diulangi
maksimal sampai 30 ml / kg BB / 24 jam. Jika keadaan umum
membaik lanjutkan pemberian cairan sesuai standar kebutuhan
cairan / 24 jam. Dikurani cairan yang sudah masuk dibagi sisa
waktu setelah dapat mengatasi rejatan.

e. Jika tatalaksana grade IV setelah 2 jam sesudah plasma / plasma


expander 20 ml / kg BB / 1 jam dan RL 10 ml / kg BB / 1 jam tidak
menunjukkan perbaikan T = 0, N = 0 maka penderita ini
dikonsultasikan kebagian anastesi / ICU untuk dibutuhkan apakah
sudah sesuai dengan yang masuk.
Dalam hal ini perlu monitor dengan pemasangan CVP, dengan
dengan menggunakan obat-obatan (dopamin kotitosteroid) dan
perbaikan kelainan yang lain.
f. Jika tatalaksana grade IV setelah 2 jam sesudah memperoleh RL 30
ml / kg BB / 1 jam dan plasma / plasma expander 20 ml / kg BB / 1
jam belum menunjukkan perbaikan yang optimal (T <

80 m, N>

120 m), maka penderita perlu diberikan lagi plasma / plasma


expander 10 ml / kg BB / 1 jam.
Jika reaksi perbaikan tampak penderita ini perlu di konsultasikan
kebagian anastesi / ICU
Jika tatalaksana grade IV sesudah memperoleh RL 30 ml / kg BB / 1
jam dan plasma / plasma expander 10 ml / kg BB / 1 jam belum
memperoleh perbaikan yang optimal (T >

80 m, N < 120 m) akral

dingin maka penderita ini perlu diberikan lagi plasma expander 10


ml / kg BB / 1 jam dan dapat diulang maximal 30 ml / kg BB / 24
jam. Jika reaksi perbaikan tidak tampak maka penderita ini perlu di
konsultasikan kebagian anastesi.
Untuk kasus yang sudah memperoleh cairan 60 ml / kg BB /

jam pikirkan bahaya overload dan kemampuan kontraksi yang


kurang dalam hal ini penderita diberikan lasix 1 ml / kg BB /

kali

dan dopamin.

Observasi ketat selama 24 48 jam.


Bila terjadi rejatan lagi ulangi prosedur diatas.
-

Saat di ICU / bagian Anestesi.

Bila dengan tindakan-tindakan diatas rejatan belum dapat teratasi,


perlu dipertimbangkan pemasangan kateter untuk mengukur
tekanan vena sentral dan pemberian obat-obatan vasoaktif.

Kadang-kadang diperlukan pemberian transfusi trombosit.

Pada rejatan yang berkelanjutan dan berulang-ulang dapat


dipertimbangkan pemberian Kortikosteroid.

Hidrocortison : 3 4 x 50 100 mg / hr IV selama 24 48


jam.

Dexametason : 3 4 x 4 8 mg / hr IV selama 24 48 jam.

Bila ada gejala perdarahan hebat dapat diberikan darah 15 cc / kg


BB / 1 jam.

Antibiotika diberikan bila ada infeksi sekunder atau bila dalam


diagnosis banding masih dipikirkan kemungkinan adanya suatu
infeksi.
Bakteri : Ampisilin 50 100 mg / kg / 24 jam IV.
Kadang-kadang perlu ditambah : Gentamycin 5 mg / kg / 24 jam.

V.

KOMPLIKASI
Perdarahan otak.
Sindroma Distress Nafas Dewasa (ARDS).
Infx Nosokomia seperti thrombotiegitis, sepsis, rejatan sepsis.

ASUHAN KEPERAWATAN
I.

PENGKAJIAN.
1. Identitas
a. Anak
Nama

Umur

Jenis kelamin

Alamat

Dx masuk

Tgl masuk / jam

Tgl pengkajian / jam

Sumber informasi

b. Orang tua
Nama

Umur

Alamat

Pendidikan

Pekerjaan

2. Riwayat Keperawatan
a). Keluhan utama : panas atau demam yang tidak turun-turun.
b). Riwayat penyakit sekarang.
Mengenai perjalanan penyakit sampai keluhan dirasakan klien pada saat
ini. Mis : peningkatan suhu tubuh disertai mual, muntah dan
perdarahan.
c). Riwayat penyakit dahulu
Berisi tentang penyakit yang pernah diderita klien.
- Apakah sebelumnya pernah sakit DHF.
- Apakah sebelumnya Px pernah masuk RS dan apa penyebabnya
(penyakitnya).
d). Riwayat penyakit keluarga
- Apakah ada keluarga yang pernah penderita penyakit DHF.
- Apakah keluarga ada yang mempunyai penyakit menular. (misal :
TBC, Lepra, dll) dan penyakit keturunan (misal : DM, Hipertensi).

e). Riwayat Psikososial.


Mengenai penepsi dan harapan klien terhadap penyakitnya, status emosi
klien.
f). Pola-pola fungsi kesehatan
a. Pola Nutrisi dan Metabolisme

Apakah Kx mengalami penurunan nafsu makan apa penyebab


penurunan nafsu makan Kx.
b. Pola Eliminasi
Eliminasi Alvi Kx dapat mengalami konstipasi ,atau diare
Eliminasi urine tidak mengalamai gangguan hanya warna urine
menjadi kecoklatan.
c. Pola Aktivitas dan Latihan
Aktivitas Kx terganggu karena Gedrest dan segala kebutuhan Kx
dibantu agar tidak terjadi komplikasi.
d. Pola Tidur dan Istirahat
Pola Tidur dan Istirahat akan terganggu sehubungan dengan
peningkatan suhu tubuh.
e. Pola Persepsi dan Konsep Diri
Biasanya terjadi kecemasan terhadap keadaan penyakitnya dan
kekuatan merupakan dampak psikologik Kx bagaimana konsep diri
Kx, Al : Body image, Ideal diri, Harga diri, peran dan identitas
apakah ada perubahan atau tidak.
f. Pola Hubungan dan Peran
Bagaimana perean Kx dalam keluarga.
Apakah hubungan Kx dengan keluarga dan orang lain terganggu.
g. Pola Penaggulangan Stress
Biasanya Kx sering melamun dan merasa cemas atas keadaan
penyakit.
h. Pola Tata Nilai dan Kepercayaan
Dalamhal beribadah sedikit terganggu karena gedrest sehingga
aktivitas Kx dibantu oleh keluarganya.
g). Pemeriksaan fisik
1. Keadaan Umum
Kesadaran kompres mentis dan tanda-tanda vital didapatkan Kx
tampak lemah, suhu tubuh meningkat 38 41 oC muka kemerahan.
2. Tingkat Kesadaran
Dapat terjadi penurunan kesadaran (Apatis).
3. Pemeriksaan Kepala
Bibir pecah dan kering, mukosa mulut kering, rambut agak kusam.
4. Sistem Respirasi
Pernafasan rata-rata ada peningkatan, nafas cepat dan dalam.
5. Sistem Kardiovaskuler

Terjadi penurunan TD, gradikardi relatif, hemoglobin rendah.


6. Sistem Integumer
Kering, turgor kulit menurun, muka kemerahan.
7. Sistem Gastro Intestinal
Lidah kotor / khas, mual, muntah, anoreksia.
8. Sistem Abdomen
Saat palpasi didapatkan pembesaran hepar dengan konsistensi lunak
serta nyeri tekan pada abdomen pada perkusi didapatkan perut
kembung serta pada auskultasi peristaltik usus meningkat.
3. Analisis Data
Data yang telah dikumpulkan, selanjutnya ditabulasi. Data yang telah
ditabulasi dianalisa sehingga didapat suatu kesimpulan, yang dirumuskan
kedalam suatu bentuk diagnosa keperawatan / masalah kolaboratif (Yoseph
Tueng, 1993).
II.

DIAGNOSA KEPERAWATAN
1). Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan virus dengue dalam darah.
2). Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi berhubungan dengan nafsu makan
menurun.
3). Gangguan keseimbangan cairan berhubungan dengan pindahnya cairan
intra vaskuler ke ekstra vaskuler.
4). Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan / bedrest.
5). Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan mekanisme patologis.

III.

RENCANA KEPERAWATAN
*

Dx. I. Gangguan rasa nyaman (peningkatan suhu tubuh) berhubungan


dengan adanya virus dengue dalam darah.
Tujuan

: Rasa nyaman (penurunan suhu tubuh)

KH

: Tanda-tanda vital normal.


Turgor kulit.

Intervensi
1). Berikan penjelasan kepada Kx dan keluarga tentang peningkatan suhu
tubuh.
R/ Agar Kx dan keluarga mengetahui sebab dari peningkatan suhu
tubuh dan membantu mengatasi kecemasan yang timbul.

2). Anjurkan Kx menggunakan pakaian tipis dan menyerap keringat.


R/ Untuk menjaga agar Kx merasa nyaman pakaian tipis akan
membantu mengurangi penguapan tubuh.
3). Batasi pengunjung.
R/ Agar Kx merasa tenang dan udara dalam ruangan tidak terasa panas.
4). Observasi TTV tiap 4 jam sehari.
R/ Tanda-tanda vital merupakan acuan untuk mengetahui perkembangan
penyakit klien.
5). Anjurkan Px untuk banyak minum, minum 2,5 L / 24 jam.
R/ Peningkatan suhu tubuh mengakibatkan penguapan tubuh meningkat,
sehingga perlu diimbangi dengan asupan cairan yang banyak.
6). Memberikan kompres hangat.
R/ Untuk membantu menurunkan suhu tubuh.
7). Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian Tx antibiotik dan
antipiretik.
R/ Antibiotik untuk membunuh kuman atau virus dan anti piretik untuk
menurunkan panas.

Dx. 2. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari yang


dibutuhkan tubuh berhubungan dengan nafsu makan menurun.
Tujuan

: Kebutuhan nutrisi Px terpenuhi.

KH

: - Nafsu makan meningkat.


- Px mampu menghabiskan makanan sesuai dengan porsi
yang diberikan.

Intervensi
1). Jelaskan kepada Kx dan keluarganya tentang manfaat / nutrisi .
R/ Untuk meningkatkan pengetahuan Kx tentang nutrisi sehingga
motivasi untuk makan meningkat.
2). Timbang BB Kx tiap 2 hari.
R/ Untuk mengetahui peningkatan dan penurunan BB.
3). Beri nutrisi dengan diet lembek, tidak mengandung banyak serat, tidak
merangsang atau banyak menimbulkan gas dan dihidangkan saat masih
hangat.
R/ Untuk mengurangi kerja usus sehingga mudah absobsinya
4). Berikan makanan dalam porsi kecil dan frekuensi sering.
R/ Untuk menghindari mual dan muntah.

5). Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian antisida dan nutrisi


parenteral.
R/ Antisida menghambat produksi HCl lambung rasa mual dan muntah
nutrisi parenteral dibutuhkan terutama jika kebutuhan nutrisi peroral
sangat kurang.

Dx. 3. Gangguan keseimbangan cairan berhubungan dengan pindahnya


cairan intra vaskuler ke ekstra vaskuler.
Tujuan

: Tidak terjadi gangguan keseimbangan cairan.

KH

: - Turgor kulit meningkat.


- Wajah tidak tampak pucat.

Intervensi
1). Berikan penjelasan tentang pentingnnya kebutuhan cairan pada Px dan
keluarganya.
R/ Untuk mempermudah pemberian cairan (minum) pada Px.
2). Observasi pemasukan dan pengeluaran cairan.
R/ Untuk mengetahui keseimbangan cairan.
3). Anjurkan Px untuk banyak minum, 2,5 L / 24 jam.
R/ Untuk memenuhi kebutuhan cairan.
4). Observasi kelancaran tetas infus.
R/ Untuk mengetahui kebutuhan cairan dan mencegah adanya adem.
5). Kolaborasi dengan dokter untuk Tx cairan (oral / parenteral).
R/ Untuk pemenuhan kebutuhan cairan yang tidak terpengaruh (secara
parenteral).

Dx. 4. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik.


Tujuan

: Px bisa melakukan aktivitas sehari-hari tanpa bantuan.

KH

: - Kebutuhan personal terpenuhi.


- Dapat miring kekanan dan kekiri.

Intervensi
1). Beri motivasi kepada Px dan keluarga untuk melakukan mobilisasi
sebatas kemampuan (misal : miring kekanan dan kekiri.).
R/ Agar Px dan keluarga mengetahui pentingnya mobilisasi bagaimana
Px yang bedrest.
2). Kaji kemampuan Px dalam beraktivitas (makan, minum).

R/ Untuk mengetahui sejauh mana kelemahan yang terjadi.


3). Dekatkan keperluan Px dalam jangkauan.
R/ Untuk mempermudan Px dalam beraktivitas.
4). Berikan latihan mobilisasi secara bertahap sesudah demam hilang.
R/ Untuk menghindari kekakuan sendi dan mencegah adanya
dekubitus.

DAFTAR PUSTAKA
-

Doenges Marillyn .E, 1993. Rencana Keperawatan , Edisi 3 EGC, Jakarta.

Mansjoer Arif ..... (Ef .Al), 2000, Kapita Selekta Kedokteran, Edisi 3, Media
Aeseulapius, Jakarta.

Nelson, 1992. Ilmu Kesehatan Akan, Edisi 12, EGC, Jakarta.

Ngastiyah, 1997. Keperawatan Anak Sakit, Edisi I EGC, Jakarta.

LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DHF
DI RUANG ANAK RS. AL-IRSYAD SURABAYA

OLEH :
ANIK WAHYUNI
NIM

: 22007

AKADEMI KEPERAWATAN
UNUVERSITAS MUHAMMADIYAH
SURABAYA
2005