Anda di halaman 1dari 32

KEPERAWATAN SISTEM RESPIRASI

RESPIRATORY DISTRESS SYNDROME (RDS) PADA ANAK

OLEH:
KELOMPOK 7
Hani Oktavia Rahayu

(1411311006)

Tiara Linalti

(1411311012)

Sandra Merza Aranti

(1411312005)

Fanny Novriwinda

(1411312015)

Suci Meilisya

(1411312017)

Diannisa Putri Wahyuni

(1411312022)

Ranti Anggasari

(1411312024)

FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS ANDALAS
2015

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT yang maha pengasih dan
maha penyayang yang telah melimpahkan rahmat-Nya kepada kita. Shalawat dan
salam tidak lupa penulis kirimkan kepada Nabi Muhammad SAW yang telah berhasil
membawa manusia dari alam yang gelap ke alam yang berilmu pengetahuan ini,
sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul RESPIRATORY
DISTRESS SYNDROME (RDS).
Makalah ini ditulis untuk memperluas pengetahuan penulis dan untuk
memenuhi tugas mata kuliah Sistem Respirasi. Dalam penulisan makalah ini penulis
menyampaikan penghargaan dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada dosen
pembimbing yang telah memberikan waktu, pikiran, bimbingan dan pengarahan pada
mata kuliah Sistem Respirasi ini.
Penulis berharap semoga makalah ini dapat berguna bagi ilmu pengetahuan
dan bermanfaat bagi kita semua. Akhirnya dengan segala kerendahan hati, penulis
mengharapkan saran-saran untuk perbaikan dan penyempurnaan makalah ini.

Padang, 13 Oktober 2015


Penulis

Kelompok 7

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..........................................................................................
DAFTAR ISI........................................................................................................
BAB I : PENDAHULUAN
Latar Belakang.....................................................................................................
Rumusan Masalah................................................................................................
Tujuan..................................................................................................................
BAB II : TINJAUAN PUSTAKA
Defenisi RDS.......................................................................................................
Etiologi.................................................................................................................
Patofisiologi (WOC)............................................................................................
Manifestasi Klinis................................................................................................
Pemeriksaan Penunjang.......................................................................................
Penatalaksanaan...................................................................................................
BAB III : ASUHAN KEPERAWATAN...............................................................
BAB IV : PENUTUP
Kesimpulan..........................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Syndrome gawat nafas (respiratory distress syndrome) adalah istilah
yang digunakan untuk disfungsi pernapasan pada neonatus. Gangguan ini
merupakan penyakit yang berhubungan dengan keterlambatan perkembangan
maturitas paru. Gangguan ini biasanya juga dikenal dengan nama hyaline
membrane disease (HMD) atau penyakit membrane hyaline, karena pada
penyakit ini selalu ditemukan membran hialin yang melapisi alveoli serta
ketidakadekuatan produksi surfaktan dalam paru.
Struktur paru janin dan produksi surfaktan penting untuk fungsi
respirasi normal. Struktur paru dari produksi surfaktan bervariasi pada
masing-masing bayi. Bayi prematur lahir sebelum produksi surfaktan
memadai. Surfaktan merupakan suatu senyawa lipoprotein yang mengisi
alveoli, mencegah alveolar kolaps dan menurunkan kerja respirasi dengan
menurunkan tegangan permukaan. Pada defisiensi surfaktan, tegangan
permukaan meningkat, menyebabkan kolapsnya alveolar dan menurunnya
komplians paru, yang mana akan mempengaruhi ventilasi alveolar sehingga
terjadi hipoksemia dan hiperkapnia dengan asidosis respiratory.
RDS sering ditemukan pada bayi premature. Insidensi berbanding
terbalik dengan usia kehamilan dan berat badan. Artinya semakin muda usia
kehamilan ibu semakin tinggi kejadian RDS pada bayi tersebut. Sebaliknya,
semakin tua usia kehamilan semakin rendah kejadian RDS. Persentase
kejadian menurut usia kehamilan adalah 60-80% terjadi pada bayi yang lahir
dengan usia kehamilan kurang dari 28 minggu, 15-30% pada bayi antara 3236 minggu dan jarang sekali ditemukan pada bayi cukup bulan (matur). Selain
itu kenaikan frekuensi juga ditemukan pada bayi yang lahir dari ibu yang
menderita gangguan perfusi darah uterus selama kehamilan misalnya ibu
penderita diabetes, hipertensi, hipotensi, seksio serta perdarahan antepartum.

RDS merupakan penyebab utama kematian dan kesakitan pada bayi


prematur, biasanya setelah 3 5 hari. Prognosanya buruk jika support
ventilasi lama diperlukan, kematian bisa terjadi setelah 3 hari penanganan.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa definisi RDS (Respiratory Distress Syndrom) ?
2. Apakah etiologi penyebab RDS ?
3. Bagaimanakah patofisiologi dari RDS ?
4. Bagaimanakah WOC dari RDS ?
5. Bagaimana manifestasi klinis dari RDS ?
6. Apa saja pemeriksaan penunjang yang dilakukan?
7. Bagaimana penatalaksanaan medis yang dapat dilakukan ?
8. Apa sajakah asuhan keperawatan yang dapat dilakukan terhadap penderita
RDS ?
1.3 Tujuan
1. Mengetahui definisi dari RDS (Respiratory Distress Syndrom).
2. Mengetahui etiologi penyebab dari RDS.
3. Mengetahui patofisiologi dari RDS
4. Mengetahui WOC dari RDS.
5. Mengetahui manifestasi klinis dari RDS.
6. Mengetahui apa saja pemeriksaan penunjang yang dilakukan.
7. Mengetahui penatalaksanaan medis yang dapat dilakukan pada penderita
RDS.
8. Mengetahui asuhan keperawatan yang dapat dilakukan pada penderita
RDS.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi RDS
Respiratory Distress Syndrome Adalah gangguan pernafasan yang
sering terjadi pada bayi premature dengan

tanda-tanda takipnue (>60

x/mnt), retraksi dada, sianosis pada udara kamar, yang menetap atau

memburuk pada 48-96 jam kehidupan dengan x-ray thorak yang spesifik.
Tanda-tanda klinik sesuai dengan besarnya bayi, berat penyakit, adanya
infeksi dan ada tidaknya shunting darah melalui PDA (Stark 1986).
Menurut Petty dan Asbaugh (1971), definisi dan kriteria RDS bila
didapatkan sesak nafas berat (dyspnea ), frekuensi nafas meningkat
(takipnea ), sianosis yang menetap dengan terapi oksigen, penurunan daya
pengembangan paru,adanya gambaran infiltrat alveolar yang merata pada foto
thorak dan adanya atelektasis, kongesti vascular, perdarahan, edema paru, dan
adanya hyaline membran pada saat otopsi.
Sindrom gawat napas (RDS) (juga dikenal sebagai idiopathic
respiratory distress syndrome) adalah sekumpulan temuan klinis, radiologis,
dan histologis yang terjadi terutama akibat ketidakmaturan paru dengan unit
pernapasan yang kecil dan sulit mengembang dan tidak menyisakan udara
diantara usaha napas. Istilah-istilah Hyaline Membrane Disease (HMD) sering
kali digunakan saling bertukar dengan RDS (Bobak, 2005).
Sindrom Distres Pernapasan adalah perkembangan yang imatur pada
sistem pernapasan atau tidak adekuatnya jumlah surfaktan dalam paru. RDS
dikatakan sebagai hyalin membrane diseaser (Suriadi dan Yulianni, 2006).
Jadi berdasarkan dari beberapa sumber dapat disimpulkan bahwa RDS
adalah penyakit yang disebabkan oleh ketidakmaturan dan ketidakmampuan
sel untuk menghasilkan surfaktan yang memadai.
Sindrom distress pernapasan dapat dibagi menjadi sindrom distres
pernapasan dewasa ( ARDS ) dan sindrom distres pernapasan idiopatik Bayi
Baru Lahir ( IRDS )
2.2 Etiologi
Menurut Suriadi dan Yulianni (2006) etiologi dari RDS yaitu:
1. Ketidakmampuan paru untuk mengembang dan alveoli terbuka.

2. Alveoli masih kecil sehingga mengalami kesulitan berkembang dan


pengembangan kurang sempurna. Fungsi surfaktan untuk menjaga agar
kantong alveoli tetap berkembang dan berisi udara, sehingga pada bayi
prematur dimana surfaktan masih belum berkembang menyebabkan daya
berkembang paru kurang dan bayi akan mengalami sesak nafas.
3. Membran hialin berisi debris dari sel yang nekrosis yang tertangkap
dalam proteinaceous filtrat serum (saringan serum protein), di fagosit
oleh makrofag.
4. Berat badan bayi lahir kurang dari 2500 gram.
5. Adanya kelainan di dalam dan di luar paru
Kelainan dalam paru yang menunjukan sindrom ini adalah pneumothoraks
atau pneumomediastinum, penyakit membran hialin (PMH).
6. Bayi prematur atau kurang bulan
Diakibatkan oleh kurangnya produksi surfaktan. Produksi surfaktan ini
dimulai sejak kehamilan minggu ke-22, semakin muda usia kehamilan,
maka semakin besar pula kemungkinan terjadi RDS.
2.3 Patofisiologi
RDS adalah suatu penyakit yang ditandai oleh kerusakan luas alveolus
dan atau membran kapiler paru. RDS selalu terjadi setelah suatu gangguan
besar pada sistem paru, kardiovaskuler atau tubuh secara luas.
Bangunan paru janin dan produksi surfaktan penting untuk fungsi
respirasi normal. Bangunan paru dari produksi surfaktan bervariasi pada
masing-masing bayi. Bayi prematur lahir sebelum produksi surfaktan
memadai. Surfaktan, suatu senyawa lipoprotein yang mengisi alveoli,

mencegah alveolar kolaps dan menurunkan kerja respirasi dengan


menurunkan tegangan permukaan. Pada defisiensi surfaktan, tegangan
permukaan meningkat, menyebabkan kolapsnya alveolar dan menurunnya
komplians paru, yang mana akan mempengaruhi ventilasi alveolar sehingga
terjadi hipoksemia dan hiperkapnia dengan asidosis respiratory. Reduksi pada
ventilasi akan menyebabkan ventilasi dan perfusi sirkulasi paru menjadi
buruk, menyebabkan keadaan hipoksemia. Hipoksia jaringan dan asidosis
metabolik terjadi berhubungan dengan atelektasis dan kegagalan pernafasan
yang progresif.
Atelektasis primer mengacu kepada keadaan kolapsnya alveolus secara
substansial yang dijumpai pada bayi baru lahir. Dengan kolapsya alveolus
maka ventilasi berkurang. Timbul hipoksia yang menyebabkan cedera paru
dan terpacunya reaksi peradangan. Peradangan menyebabkan edema dan
pembengkakkan ruang interstisium yang semakin menurunkan pertukaran gas
antara kapiler dan alveolus yang masih berfungsi. Peradangan juga
menyebabkan terbentuknya membran-membran hialin yang merupakan
akumulasi fibrin putih di alveolus. Pengendapan fibrin tersebut semakin
menurunkan pertukaran gas serta compliance paru maka usaha bernapas
meningkat.
Penurunan ventilasi alveolus menyebabkan penurunan vasokonstriksi
arteriol paru. Vasokonstriksi paru dapat menyebabkan peningkatan volume
dan tekanan jantung kanan, sehingga terjadi pirau darah dari atrium kanan,
melalui foramen ovale bayi baru lahir yang masih paten, langsung ke atrium
kiri. Demikian juga, resistensi paru yang tinggi juga dapat menyebabkan
darah deoksigenasi melewatkan paru dan langsung di salurkan ke sisi kiri
tubuh melalui duktus arteriosus dan menyebabkan pirau kanan ke kiri. Pirau
kanan ke kiri memperburuk keadaan hipoksia, sehingga timbul sianosis berat.

Untuk setiap usaha melakukan ventilasi pada alveolus yang kolaps,


bayi harus mengeluarkan sejumlah besar energi. Pengeluaran energi tersebut
akan

diiringi

oleh

peningkatan

kebutuhan

oksigen

yang

semakin

memperparah sianosis. Seiring dengan peningkatan kebutuhan oksigen bayi


terperangkap dalam suatu siklus umpan balik positif.
Pada awalnya bayi akan memperlihatkan napas yang cepat dan
dangkal sebagai usaha untuk memenuhi kebutuhan oksigennya yang tinggi,
sehinga pada analisis gas darah mula-mula terjadi alkalosis respiratorik karena
karbon dioksida terbuang. Namun, bayi akan segera kelelahan karena
kesulitan

mengembangkan

alveolus

dan

parunya

dan

tidak

dapat

mempertahankan usaha respirasinya. Apabila hal ini terjadi, maka usaha


bernapas melambat dan gas darah memperlihatkan asidosis respiratorik dan
dimulainya kegagalan pernapasan.

WOC RDS (Respiratory Distress Syndrom)


Bayi lahir premature

Inadekuat
Surfaktan
Alveolus
Kolaps

Lapisan lemak belum


terbentuk pada kulit

MK: Resiko
Ventilasi
Berkuran
g

Peningkat
an Usaha
Nafas
Takipne
u

MK: Pola

gangguan

Hipoksi
a

Termoregulasi:

Pembentukan
Membrane
hialin

Cedera
Paru

edema

MK:

Nafas Tidak
Efektif

Pertukaran
gas

Refleks Hisap
Menurun

Intake
tidak
adekuat

Mengendap di
Alveoli

Penguapan
Meningkat

MK: Resiko
kekurangan
volume cairan

Kekurangan
Nutrisi

2.4 Manifestasi Klinis


Berat dan ringannya gejala klinis pada penyakit RDS ini sangat
dipengaruhi oleh tingkat maturitas paru. Semakin rendah berat badan dan usia
kehamilan, semakin berat gejala klinis yang ditujukan. Manifestasi dari RDS
disebabkan adanya atelektasis alveoli, edema, dan kerusakan sel dan

selanjutnya menyebabkan kebocoran serum protein ke dalam alveoli sehingga


menghambat fungsi surfaktan.
Gejala klinik yang timbul yaitu: adanya sesak nafas pada bayi
prematur segera setelah lahir, yang ditandai dengan takipnea (> 60 x/menit),
pernafasan cuping hidung, grunting, retraksi dinding dada, dan sianosis, dan
gejala menetap dalam 48-96 jam pertama setelah lahir.
Berdasarkan foto thorak, menurut kriteria Bomsel ada 4 stadium RDS
yaitu:
a. Terdapat sedikit bercak retikulogranular dan sedikit bronchogram udara.
b. Bercak retikulogranular homogen pada kedua lapangan paru dan
gambaran udara terlihat lebih jelas dan meluas sampai ke perifer
menutupi bayangan jantung dengan penurunan aerasi paru.
c. Alveoli yang kolaps bergabung sehingga kedua lapangan paru terlihat
lebih opaque dan bayangan jantung hampir tak terlihat, bronchogram
udara lebih luas. keempat, seluruh thorax sangat opaque (white lung)
sehingga jantung tak dapat dilihat.
Tanda dan gejala yang muncul dari RDS adalah:
a. Pernapasan cepat
b. Pernapasan terlihat parodaks
c. Cuping hidung
d. Apnea
e. Murmur
f. Sianosis pusat
RDS adalah penyakit yang dapat sembuh sendiri. Perbaikan biasanya
terlihat 48 sampai 72 jam setelah lahir, bila terjadi regenerasi sel alveolar tipe
II dan dihasilkannya surfaktan. Penampakan dan lamanya gejala dapat
berubah dengan pemberian surfaktan buatan
2.5 Pemeriksaan Penunjang
1. Laboratorium

AGD: hipoksemia, hipokapnia (sekunder karena hiperventilasi),


hiperkapnia

(pada

emfisema

atau

keadaan

lanjut). Alkalosis

respiratorik pada awal proses, akan berganti menjadi asidosis


-

respiratorik.
Leukositosis (pada sepsis), anemia, trobositopenia (refleksi inflamasi
sistemik dan kerusakan endotel), peningkatan kadar amilase (pada

pankreatitis)
Gangguan fungsi ginjal dan hati, tanda koagulasi intravaskular
diseminata (sebagai bagian dari MODS/multiple organ dysfunction

syndrome)
2. Radiologi
Kajian foto toraks:
a. Pola retikugranular difus bersama beronkogram udara yang saling
tumpang tindih.
b. Tanda paru sentral dan batas jantung sukar dilihat; inflasi paru buruk.
c. Kemungkinan terdapat kardiomegali bila sistem lain juga terkena (bayi
dari ibu diabetes, hipoksia, gagal jantung kongestif)
d. Bayangan timus yang besar
e. Bergranul merata pada bronkogram udara, yang menandakan penyakit
berat jika terdapat pada beberapa jam pertama

2.6 Penatalaksanaan
Menurut Suriadi dan Yuliani (2001) dan Surasmi,dkk (2003) tindakan
untuk mengatasi masalah kegawatan pernafasan meliputi :
1.

Mempertahankan ventilasi dan oksigenasi adekuat.

2.

Mempertahankan keseimbangan asam basa.

3.

Mempertahankan suhu lingkungan netral.

4.

Mempertahankan perfusi jaringan adekuat.

5.

Mencegah hipotermia.

6.

Mempertahankan cairan dan elektrolit adekuat.

Penatalaksanaan secara umum :


1. Pasang jalur infus intravena, sesuai dengan kondisi bayi, yang paling
sering dan bila bayi tidak dalam keadaan dehidrasi berikan infus dektrosa
5%
a. Pantau selalu tanda vital
b. Jaga kepatenan jalan nafas
c. Berikan Oksigen (2-3 liter/menit dengan kateter nasal)
2. Jika bayi mengalami apneu
a. Lakukan tindakan resusitasi sesuai tahap yang diperlukan
b. Lakukan penilaian lanjut
3. Bila terjadi kejang, potong kejang
4. Segera periksa kadar gula darah
Gangguan nafas ringan:
Pemberian nutrisi adekuat Setelah menajemen umum, segera
dilakukan menajemen lanjut sesuai dengan kemungkinan penyebab dan jenis
atau derajat gangguan nafas. Menajemen spesifik atau menajemen lanjut:
Beberapa bayi cukup bulan yang mengalami gangguan napas ringan
pada waktu lahir tanpa gejala-gejala lain disebut Transient Tacypnea of the
Newborn (TTN). Terutama terjadi setelah bedah sesar. Biasanya kondisi
tersebut akan membaik dan sembuh sendiri tanpa pengobatan. Meskipun
demikian, pada beberapa kasus. Gangguan napas ringan merupakan tanda
awal dari infeksi sistemik.
Gangguan nafas sedang
a. Lakukan pemberian O2 2-3 liter/ menit dengan kateter nasal, bila masih
sesak dapat diberikan O2 4-5 liter/menit dengan sungkup
b. Bayi jangan diberi minum
c. Jika ada tanda berikut, berikan antibiotika (ampisilin dan gentamisin)
untuk terapi kemungkinan besar sepsis.
Suhu aksiler <> 39C

Air ketuban bercampur mekonium


Riwayat infeksi intrauterin, demam curiga infeksi berat atau ketuban
pecah dini (>18 jam) .
d. Bila suhu aksiler 34- 36,5 C atau 37,5-39C tangani untuk masalah suhu
abnormal dan nilai ulang setelah 2 jam:
Bila suhu masih belum stabil atau gangguan nafas belum ada
perbaikan, berikan

antibiotika untuk terapi kemungkinan besar

seposis
Jika suhu normal, teruskan amati bayi. Apabila suhu kembali abnormal
ulangi tahapan tersebut diatas.
e. Bila tidak ada tanda-tanda kearah sepsis, nilai kembali bayi setelah 2 jam
f. Apabila bayi tidak menunjukan perbaikan atau tanda-tanda perburukan
setelah 2 jam, terapi untuk kemungkinan besar sepsis
g. Bila bayi mulai menunjukan tanda-tanda perbaikan kurangai terapi
o2secara bertahap . Pasang pipa lambung, berikan ASI peras setiap 2 jam.
Jika tidak dapat menyusu, berikan ASI peras dengan memakai salah satu
cara pemberian minum
h. Amati bayi selama 24 jam setelah pemberian antibiotik dihentikan. Bila
bayi kembali tampak kemerahan tanpa pemberian O2 selama 3 hari,
minumbaik dan tak ada alasan bayi tatap tinggal di Rumah Sakit bayi
dapat dipulangkan.
Gangguan nafas berat
a. Amati pernafasan bayi setiap 2 jam selama 6 jam berikutnya.
b. Bila dalam pengamatan ganguan nafas memburuk atau timbul gejala
sepsis lainnya. Terapi untuk kemungkinan kesar sepsis dan tangani
gangguan nafas sedang dan dan segera dirujuk di rumah sakit rujukan.
c. Berikan ASI bila bayi mampu mengisap. Bila tidak berikan ASI peras
dengan menggunakan salah satu cara alternatif pemberian minuman.

d. Kurangi pemberian O2 secara bertahap bila ada perbaikan gangguan


napas. Hentikan pemberian O2 jika frekuensi napas antara 30-60
kali/menit.
Penatalaksanaan medis:
Pengobatan yang biasa diberikan selama fase akut penyakit RDS
adalah:
a. Antibiotika untuk mencegah infeksi sekunder
b. Furosemid untuk memfasilitasi reduksi cairan ginjal dan menurunkan
caiaran paru
c. Fenobarbital
d. Vitamin E menurunkan produksi radikalbebas oksigen
e. Metilksantin (teofilin dan kafein ) untuk mengobati apnea dan untuk
pemberhentian dari pemakaian ventilasi mekanik.
Salah satu pengobatan terbaru dan telah diterima penggunaan dalam
pengobatan RDS adalah pemberian surfaktan eksogen ( derifat dari sumber
alami misalnya manusia, didapat dari cairan amnion atau paru sapi, tetapi bisa
juga berbentuk surfaktan buatan .

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN
Kasus
Seorang ibu membawa bayi yang berusia 1 bulan ke Rumah Sakit karena
keluhan sesak nafas, ibu mengatakan bayinya rewel tidak mau menyusu dan

seluruh tubuh bayi membiru. Berdasarkan hasil pemeriksaan fisik terlihat bayi
menggunakan bantuan otot-otot pernafasan, terlihat retraksi rongga dada, bayi
menangis, RR = 76x/menit. Terdapat serangan hipersianotik (kebiruan diseluruh
tubuh bayi), bayi tidak mau menyusu.
3.1 Pengkajian
Tanggal Pengkajian : 13 Oktober 2015
Diagnosa Medis
: RDS (Respiratory Distress Syndrom)
1. Data Klien
A. Data Anak
Nama
: Bayi A
Umur
: 1 bulan
Frekuensi Pernafasan : 76x/menit
Tanggal MRS
: 13 Oktober 2015
B. Data Orang Tua
Nama Ayah
: Rahimul
Nama Ibu
: Aisyah
Pekerjaan Ayah
: Pedagang
Pekerjaan Ibu
: Ibu rumah tangga
Alamat orang tua
: Koto tingga, Limau Manis
2. Riwayat Kesehatan
1. Keluhan Utama :
Bayi A dirujuk dari rumah sakit daerah mengalami keluhan
sesak nafas, ibu mengatakan bayinya rewel tidak mau menyusu dan
seluruh tubuh bayi membiru
2. Riwayat Kehamilan dan kelahiran

Prenatal : ibu mengalami hipertensi selama kehamilan


Postnatal : bayi lahir dengan masa gestasi 31 minggu dan BBLR
(Berat Badan Lahir Rendah) seberat 1,8 kg, dan ukuran panjang

bayi 40 cm
3. Riwayat kesehatan dahulu
Penyakit yang diderita sebelumnya
Pernah dirawat di RS
Obat-obatan yang pernah digunakan
Alergi
Kecelakaan
Riwayat imunisasi

: ibu mengalami hipertensi


: rujukan dari rumah sakit daerah
: tidak ada
: tidak ada
: tidak ada
: Vit.K, BCG

4. Riwayat Kesehatan Keluarga


Ibu bayi berusia 40 tahun saat kelahiran bayi dan menderita hipertensi.
3. Pemeriksaan Fisik
Keadaan Umum
BB/TB
: 1,8 kg/40 cm
Kepala
: simetris
Mata
: Konjunctiva : anemis
Pupil : +/+
Telinga
: simetris
Hidung
: simetris
Mulut
: bibir sianosis dan lidah kering
Thorax dan Paru
Inspeksi
: frekuensi pernafasan rendah, kadang-kadang apneu,
Palpasi
Perkusi
Auskultasi
Ekstremitas
Kulit

penggunaan otot-otot pernafasan


: bayi sangat peka terhadap sentuhan, mudah menangis
: pekak
: ada suara tambahan ronki basah
: kekuatan otot 1
: pucat, kebiruan

Pemeriksaan tumbuh kembang


a. Pertumbuhan fisik anak
Berat badan
: 1,8 kg
Panjang badan lahir
: 40 cm
Usia mulai tumbuh gigi : belum tumbuh
b. Perkembangan anak
Bayi lahir prematur dengan masa gestasi 31 minggu
c. Pemberian ASI
Anak belum mendapatkan ASI dari ibu karena bayi merasa kesakitan
sehingga menyebabkan reflek menghisapnya menurun
d. Pemberian makanan tambahan
Belum ada diberikan makanan tambahan
4. Pemeriksaan Penunjang (labolatorium)
1) Pemeriksaan hasil Analisa Gas Darah :
a. Hipoksemia ( penurunan PaO2 )
b. Hipokapnia (penurunan PCO2 ) pada tahap awal karena
hiperventilasi
c. Hiperkapnia ( peningkatan PCO2 ) menunjukkan gagal ventilasi

d. Alkalosis respiratori ( pH > 7,45 ) pada tahap dini


e. Asidosis respiratori / metabolik terjadi pada tahap lanjut
2) Tes Fungsi paru :
a. Penurunan komplain paru dan volume paru
b. Pirau kanan-kiri meningkat
3) Pemeriksaan Diagnostik.
1. Foto Thoraks
Pola retikulogranular difus bersama bronkhogram udara yang
saling tumpah tindih.
Tanda paru sentral, batas jantung sukar dilihat, inflasi
paru buruk.
Kemungkinan terdapat kardoimegali bila system lain juga
terkena (bayi dari ibu diabetes, hipoksia, gagal jantung
kongestif)
Bayangan timus yang besar
Bergranul merata pada bronkhogram udara, yang menandakan
penyakit berat jika terdapat pada beberapa jam pertama.
2. Gas Darah Arteri
Menunjukkan asidosis respiratory dan metabolic. Yaitu
adanya penurunan pH, penurunan PaO2, dan peningkatan PaCO2,
penurunan HCO3.
3. Perubahan elektrolit
Cenderung terjadi penurunan kadar : kalsium, natrium,
kalium dan glukosa serum.

Aplikasi NANDA, NOC dan NIC


No.
NANDA
1.
Kerusakan pertukaran
gas

NOC
Keseimbangan elektrolit dan asam
basa
Indikator :
- Denyut jantung
- Irama jantung
- Pernapasan
- Irama napas
- Sodium serum
- Pottasium serum
- Klorida serum
- Kalsium serum
- Magnesium serum
- pH serum : DBN*
- Albumin serum : DBN
- Kreatinin serum : DBN
- Bikarbonat serum :DBN

NIC
Manajemen asam basa
Aktivitas :
Jaga kepatenan jalan napas
Pantau ABG dan level elektrolit
Monitor status hemodinamik termasuk CVP
(tekanan vena sentral), MAP (tekanan arteri ratarata), PAP (tekanan arteri paru)
Pantau kehilangan asam (muntah, diare,
diuresis, melalui nasogastrik) dan bikarbonat
(drainase fistula dan diare)
Posisikan untuk memfasilitasi ventilasi yang
adekuat seperti membuka jalan napas dan menaikkan
kepala tempat tidur
Pantau gejala gagal pernapasan seperti PaO2
yang rendah, peningkatan PaCO2, dan kelemahan
otot napas
Pantau pola napas
Pantau factor penentu pengangkutan oksigen
jaringan seperti PaO2, SaO2, kadar Hb dan cardiac
output
Sediakan terapi oksigen
Berikan dukungan ventilasi mekanik

Pantau factor penentu konsumsi oksigen seperti


SvO2, avDO2 (perbedaan oksigen arterivena)
Pantau ketidakseimbangan elektrolit yang
semakin
buruk
dengan
mengoreksi
ketidakseimbangan asam basa
Dorong pasien dan keluarga untuk aktif dalam
pengobatan ketidakseimbangan asam basa

Manajemen Jalan Nafas


Aktivitas :
- Buka jalan nafas dengan teknik mengangkat dagu
atau dengan mendorong rahang sesuai keadaan
- Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi
yang potensial
- Identifikasi masukan jalan nafas baik yang aktual
ataupun potensial
- Masukkan jalan nafas/ nasofaringeal sesuai
kebutuhan
- Keluarkan
sekret
dengan
batuk
atau
suction/pengisapan
- Kaji keinsetifan spirometer
- Auskultasi bunyi nafas, catat adanya ventilasi yang
turun atau yang hilang dan catat adanya bunyi
tambahan

Lakukan pengisapan endotrakeal atau nasotrakeal


Beri bronkodilator jika diperlukan
Beri
aerosol,
pelembab/oksigen,
ultrasonic
humidifier jika diperlukan
Atur intake cairan untuk mengoptimalkan
keseimbangan cairan
Posisikan pasien untuk mengurangi dispnue
Monitor pernafasan dan status oksigen.

Monitor Pernafasan
Aktivitas :
- Monitor frekuensi, rata-rata, irama, kedalaman dan
usaha bernafas
- Catat pergerakkan dada, lihat kesimetrisan,
penggunaan otot tambahan, dan supraklavikula dan
retaksi otot intercostal
- Monitor bising pernafasan seperti ribut atau
dengkuran
- Monitor pola nafas seperti bradipnu, takipnu,
hiperventilasi, pernafasan kussmaul, Ceyne stokes,
apnu, biot dan pola ataksi
- Palpasi jumlah pengembangan paru
- Perkusi anterior dan posterior torak dari apeks
sampai basis secara bilateral

2.

Kelebihan volume cairan

Keseimbangan cairan
Indikator :
- Keseimbangan intake dan
output
- Kestabilan berat badan
- Edema perifer
- Kelembabab mukosa kulit
- Rasa haus normal
Keseimbangan elektrolit asambasa
Indikator :
- Denyut jantung : DBH*

Catat lokasi trakea


Monitor kelemahan otot diafragma
Auskultasi bunyi nafas, catat ventilasi yang turun
atau hilang
- Tentukan apakah harus dilakukan pengisapan dari
hasil auskultasi seperti adanya ronkhi atau
wheezing
- Auskultasi lagi paru setelah dilakukan treatmen
- Monitor sekresi pernafasan pasien
- Monitor dispnu dan persitiwa yang bisa
meningkatkan kejadian dispnu
- Monitor hasil penyinaran (X-Ray)
Manajemen cairan
Aktivitas :
- Timbang BB tiap hari
- Hitung haluran
- Pertahankan intake yang akurat
- Monitor hasil lab. terkait retensi cairan (peningkatan
BUN, Ht )
- Monitor TTV
- Monitor adanya indikasi retensi/overload cairan
(seperti :edem, asites, distensi vena leher)
- Monitor perubahan BB klien sebelum dan sesudah
dialisa
- Monitor status nutrisi

- Irama jantung : DBH


- Pernapasan : DBH
- Irama napas : DBH
- Status kesadaran
*Dalam batas yang Diharapkan

Hidrasi
Indikator :
- Hidrasi kulit
- Kelembaban membran
mukosa
- Haus yang abormal (-)
- Perubahan suara napas (-)
- Napas pendek (-)
- Mata yang cekung (-)
- Demam (-)
- Keringat
- Pengeluaran urin : DBN*
- Tekanan darah : DBN
- Hematokrit : DBN
*Dalam Batas Normal

Monitor respon pasien untuk meresepkan terapi


elektrolit
Kaji lokasi dan luas edem
Konsultasi dengan dokter, jika gejala dan tanda
kehilangan cairan makin buruk
Kaji ketersediaan produk darah untuk trsanfusi

Pemantauan cairan
Aktivitas :
- Kaji tentang riwayat jumlah dan tipe intake cairan
dan pola eliminasi
- Monitor BB, intake dan output
- Monitor nilai elektrolit urin dan serum
- Monitor osmolalitas urin dan serum
- Monitor denyut jantung, status respirasi
-

Pertahankan keakuratan catatan intake dan output

Dengarkan dengan penuh perhatian

Identifikasi tingkat kecemasan

Bantu pasien mengenal situasi yang menimbulkan


kecemasan

Dorong pasien untuk mengungkapkan perasaan,


ketakutan, persepsi

Instruksikan pasien menggunakan teknik relaksasi

Manajemen Cairan dan Elektrolit


Aktivitas :
-

Monitor keabnormalan level untuk serum


Dapatkan specimen lab untuk memonitor level
cairan/ elektrolit ( seperti Ht, BUN,sodium, protein,
potassium )
Timbang berat badan tiap hari
Beri terapi nasogastrik untuk menggantikan output
Irigasi selang NGT dengan normal salin
Pasang infuse IV
Monitor hasil lab yang relevan dengan retensi cairan
Monitoring status hemodinamik, termasuk MAP,
PAP,PCWP
Pertahankan keakuratan catatan intake dan output
Monitor tanda dan gejala retensi cairan
Monitor tanda- tanda vital
Restribusi cairan
Pertahankan cairan IV yang mengandung elektrolit
pada frekuensi tetes yang konstan
Monitor respon pasien untuk memberikan terpi
elektrolit
Monitor efek samping suplemen elektrolit (seperti

3.

Pola napas tidak efektif

Kepatenan jalan nafas:


Indikator :
- Frekuensi nafas normal
- Irama nafas normal
- Tidak ada demam
- Tidak cemas
- Bebas dari suara nafas
tambahan

iritasi gastrointestinal )
- Beri suplemen elektrolit
- Monitor kehilangan cairan ( seperti; pendarahan,
muntah, takipneu )
- Lakukan perkontrolan kehilangan cairan
Manajemen jalan nafas
Aktivitas :
- Buka jalan nafas dengan teknik mengangkat dagu
atau dengan mendorong rahang sesuai keadaan
- Beri
aerosol,
pelembab/oksigen,
ultrasonic
humidifier jika diperlukan
- Posisikan pasien untuk mengurangi dispnu
- Monitor pernafasan dan status oksigen
- Dorong nafas dalam, pelan dan batuk
- Identifikasi masukan jalan nafas baik yang aktual
ataupun potensial
- Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi
yang potensial

Ventilasi
Indikator :
- Pengembangan dada simetris
- Kenyamanan dalam bernafas
- Frekuensi nafas normal
- Suara nafas normal
Monitor pernafasan
- Tidak ada suara nafas
Aktivitas :
tambahan
- Monitor frekuensi, rata-rata, irama, kedalaman dan
usaha bernafas
Status tanda-tanda vital
- Catat pergerakkan dada, lihat kesimetrisan,

Indikator :
- suhu badan
- denyut nadi
- pernapasan
- tekanan darah diastolic
- tekanan darah sistolik

penggunaan otot tambahan, dan supraklavikula dan


retaksi otot intercostal
Monitor bising pernafasan seperti ribut atau
dengkuran
Monitor pola nafas seperti bradipnu, takipnu,
hiperventilasi, pernafasan kussmaul, Ceyne stokes,
apnu, biot dan pola ataksi

Pemantauan tanda-tanda vital


Aktivitas :
- Mengukur tekanan darah, denyut nadi, temperature,
dan status pernafasan, jika diperlukan
- Memantau tingkat dan irama pernafasan (e.g.
kedalaman dan kesimetrisan)
- Memantau suara paru
- Memantau pola pernafasan yang abnormal (e.g.
Cheyne-Stokes, Kussmaul, Biot, apnea, ataxic, dan
bernafas panjang)
- Mengukur warna kulit, temperature, dan kelembaban
- Memantau sianosis pusat dan perifer
- Memantau sisi kuku
- Memantau timbulnya Cushing triad (e.g. naik
turunnya tekanan darah, bradicadya, dan peningkatan
tekanan darah systole)

4.

Perfusi Jaringan Perifer


tidak efektif

Integritas Jaringan
Indikator :
- Suhu Jaringan
-

Sensasi

Elastisitas

Hidrasi

Pigmentasi

Respirasi

Warna

Tekstur

Ketebalan

Jaringan yang tak luka

Jaringan Perfusi

Manajemen Nutrisi
Aktivitas :
- Mengontrol penyerapan makanan/cairan dan
menghitung intake kalori harian, jika diperlukan
- Memantau ketepatan urutan makanan untuk
memenuhi kebutuhan nutrisi harian
- Menentukan jimlah kalori dan jenis zat makanan
yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi,
ketika berkolaborasi dengan ahli makanan, jika
diperlukan
- Menetukan
makanan
pilihan
dengan
mempertimbangkan budaya dan agama
- Menetukan kebutuhan makanan saluran nasogastric
- Mengatur pemasukan makanan, jika diperlukan
- Menghentikan penggunaan saluran makanan, jika
intake oral dapat dimaklumi
- Mengontrol cairan pencernaan, jika diperlukan
- Memastikan keadaan terapeutik terhadap kemajuan
makanan
- Memberi pemeliharaan yang diperlukan dalam batas
makanan yang ditentukan
- Menyarankan pemeriksaan eliminasi makanan yang
mengandung laktosa, jika diperlukan
- Mengontrol keadaan lingkungan untuk membuat

udara teras menyenangkan dan relaks


Mengajarkan dan merencanakan makan, jika
dipelukan
- Memberi pasien dan keluarga contoh tertulis
makanan pilihan
Pemantauan Tanda-Tanda Vital
Aktivitas :
- Mengukur tekanan darah, denyut nadi, temperature,
dan status pernafasan, jika diperlukan
- Mencatat gejala dan turun naiknya tekanan darah
- Mebgukur tekanan darah ketika pasien berbaring,
duduk, dan berdiri, jika diperlukan
- Auskultasi tekanan darah pada kedua lengan dan
bandingkan, jika diperlukan
- Mengukur tekanan darah, nadi, dan pernafasan
sebelum, selama, dan setelah beraktivitas, jika
diperlukan
- Mempertahankan suhu alat pengukur, jika diperlukan
- Memantau dan mencatat tnda-tanda dan syimptom
hypothermia dan hyperthermia
- Memantau timbulnya dan mutu nadi
- Dapatkan nadi apical dan radial scara stimultan dan
catat perbedaannya, jika diperlukan
- Memantau naik turunnya tekanan nadi
- Memantau tingkatan irama cardiac
-

5.

Menyusui tidak Efektif

Pengetahuan : Menyusui
Indikator :
- Mendeskripsikan keuntungan
dari menyusui
- Mendeskripsikan fisiologi
laktasi
- Mendeskripsikan komposisi

Memantau suara jantung


Memantau tingkat dan irama pernafasan (e.g.
kedalaman dan kesimetrisan)
- Memantau suara paru
- Mengukur oximetry nadi
- Memantau pola pernafasan yang abnormal (e.g.
Cheyne-Stokes, Kussmaul, Biot, apnea, ataxic, dan
bernafas panjang)
- Mengukur warna kulit, temperature, dan kelembaban
- Memantau sianosis pusat dan perifer
- Memantau sisi kuku
- Memantau timbulnya Cushing triad (e.g. naik
turunnya tekanan darah, bradicadya, dan peningkatan
tekanan darah systole)
- Meneliti kemungkinan penyebab perubahan tandatanda vital
- Memeriksa keakuratan alat yang digunakan untuk
mendapatkan data pasien secara periodic
Konseling laktasi
Aktivitas :
- Jelaskan pengetahuan dasar tentang menyusui
- Ajarkan orangtua tentang menyusui bayi
- Berikan informasi tentang manfaat menyusui dan
kerugian tidak menyusui
- Koreksi salah pengertian, salah informasi dan

dari susu
Mendeskripsikan teknik
menyusui yang tepat
Mendeskripsikan posisi bayi
yang tepat ketika perawatan
Mendeskripsikan tanda-tanda
adekuat suplai susu

ketidakakuratan tentang menyusui


Motivasi ibu untuk menyusui
Berikan dukungan pada ibu dalam mengambil
keputusan
Berikan orang tua pendidikan tentang menyusui
Evaluasi pemahaman ibu tentang teknik menyusui
yang benar
Jelaskan tentang frekuensi menyusui yang
berhubungan dengan kebutuhan bayi
Monitor kemampuan ibu dalam merawat puting susu
Evaluasi kemampuan bayi mengisap
Ajarkan teknik relaksasi
Evaluasi kualitas dan manfaat menyusui
Monitor keadaan puting susu dan berikan perawatan
pada puting susu
Instruksikan tentang kontrasepsi

BAB IV
PENUTUP
Kesimpulan
RDS merupakan sindrom yang ditandai oleh peningkatan permeabilitas
membran alveolar-kapiler terhadap air, larutan, dan protein plasma, disertai
kerusakan alveolar difus, dan akumulasi cairan yang mengandung protein dalam
parenkim paru. Pada kasus anak-anak, RDS mempengaruhi terhadap tumbuh
kembang anak. Terdapat korelasi terbalik dengan usia kehamilan : semakin muda
masa seorang bayi, semakin tinggi insidens RDS. Surfaktan mempunyai peran
penting dalam penanganan kasus RDS. Ketidakmatangan paru seorang bayi dan
lahir dengan secsio caecaria membuat surfaktan paru tidak adekuat dan membuat
edema pada paru. Penatalaksaan medis RDS merupakan bidang kegawatdaruratan
yang harus ditangi secara cepat dan tepat.

DAFTAR PUSTAKA
Filianti, Evi. 2013. Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Penyakit Asma
di Ruang Musdalifah Rumah Sakit Islam Siti Khadijah Palembang. (KTI Akper
Pembina Palembang).
Doenges , E. Marilyn. 2009. Online : hhtp://rencanaasuhankeperawatan.com.
Diakses pada tanggal 13-08-2015 pukul 15.00 WIB.
Heru, Sundaru. 2011. Online : hhtp://WHOdataasma.com. Diakses pada
tanggal 13-08-2015 pukul 10.00 WIB.
Hidayat. 2006. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak. Jakarta : Salemba Medika
Nughoro. 2011. Asuhan Keperawatan Maternitas, Anak, Bedah dan Dalam.
Yogyakarta : Nuha Medika
Rohman. 2010. Online : hhtp://pengkajiankonsepdasarkeperawatan.com.
Diakses pada tanggal 13-08-2015 pukul 20.00 wib
Suriadi. 2013. Online : hhtp://asmapadaanak. Diakses pada tanggal 13-082015 pukul 16.30 wib
Wilkinsom dkk. 2013. Buku Saku Diagnosis Keperawata. Jakarta : EGC
NANDA International. Nanda International: Nursing Diagnoses 2009-2011.
USA:Willey Blackwell Publication, 2009.6.