Anda di halaman 1dari 10

SEBENTAR LAGI KAWAN

Oleh Abidin Hanif

Sebentar lagi kawan,,


Sebentar lagi... Bersabarlah..

Sebentar lagi kawan,,

Perjalanan akan berakhir indah..

Sebentar lagi... Bersabarlah..

Maka tersenyumlah, meski pun ada airmata..

Langkah akan menuju titik perhentian tujuan..


Perjalan akan berakhir indah..

SAHABAT BIRU
Oleh Maulidiah Nurdwiningrum

Kita tak perlu berfikir dan merencanakan bagaimana


akhir nya nanti..
Kita hanya perlu menjalani nya dengan ikhlas..
Mungkin ada airmata, tapi yang pasti bukan airmata
duka..
Bahkan hewan-hewan pun ada masa nya untuk
hijrah..

Semua terjadi begitu indah


waktu tersa begitu cepat berlalubagai kilat yang
menyambar sekejap mata
3 tahun tlah berlalu
diawali seragam merah putih
dijalani seragam putih biru

Sebentar lagi kawan,,

kini putih biru kan terlepas

Sebentar lagi... Bersabarlah..

pertanda perpisahan kan menyertai

Perjalanan kita sedang meniti untuk sampai..


Perjalan akan berakhir indah..

Berat rasa hati ini tuk berpisah dengan sahabat biru


namun jalan tlah siapkan

Sejak awal berjalan pun semua kita lalui dengan


indah,,

bintang di masa depan

Berbagai macam kisah telah terukir di sana..

menanti sampai kapan tuk berjabat teman sekolah


biru

Penghentian terakhir barulah kita bisa mengenang


semua dalam kenangan..

AYAH

Dalam peristirahatan nanti kita akan tersenyumsenyum mengingat semua nya dalam temaram sang
bulan..

Oleh Ratih Anjelia Ningrum

Disetiap tetes keringatmu


Sebentar lagi kawan,,

Di derai lelah nafas mu

Sebentar lagi... Bersabarlah..

Si penuhi kasih sayang yang luar biasa

Perjalanan akan berakhir indah..

Demi aku kau rela si sengat matahari

Dan kita akan menyaksikan seperti apa tunas -tunas


yang akan tumbuh..

Hujan pun tak dapat membatasi mu


untuk aku anakmu...

Si setiap doamu kau haturkan segenap harapan

Ketika minggu dating menjelang


Ketika kesibukan berkurang

Ayah...

Kuajak teman sekampungku halamanku

kan ku jaga setiap nasehatmu

Berkerja bakti membersikan lingkungan

Di setiapnafas ku

Lingkungan bersih kita ciptakan

Di relung hati akan ku hangatkan nmamu

Lingkungan sehat selalu kita dambakan

Akan ku kobarkan semua impianmu

Orang-orang bijak sering mengatakan

Hanya untuk menikmati senyumu

Kebersihan pangkal kesehatan.

Di ufuk senjamu
Ayah

CINTA LINGKUNGAN

Mari teman, mari kemari


Kita singsingkan lengan baju
Kita bersihkan rumah
Kita bersihkan lingkungan
Kita jaga selalu kebersihan
Jangan biarkan sampah berserakan
Buanglah sampah pada tempatnya
Kita cinta kebersihan
Rumah bersih nyaman
Lingkungan bersih sehat

KEBERSIHAN SEKOLAH
Suatu ketika aku berjalan
Dari lorongan kelain lorongan jalan
Kiri kanan sampah berhamburan
Menanti jangkauan uluran tangan
Dalam hati ini terasa ada sentuhan
Dalam telinga terasa ada bisikan
Dalam mata ini memancarkan keharuman

SENYUM TERAKHIR IBU

Pagi ini, di saat matahari belum terlihat jelas, seorang pemuda telah sibuk menyiapkan kotak semir yang
akan dibawanya untuk mengais rezeki. Pemuda itu bernama Ardit. Umurnya baru 16 tahun, biasanya tahun ini ia
masih duduk di bangku SMA. Ardit dulu pernah bersekolah di sebuah SMA Negeri. Tetapi, karena ekonominya yang
tidak mendukung, ia terpaksa berhenti bersekolah dan memilih membantu ibunya untuk mencari makan. Ia hanya
tinggal berdua bersama ibunya yang sudah sakit-sakitan di sebuah rumah yang tepatnya disebut gubuk yang tak
layak huni. Sedangkan ayahnya telah meninggal sejak ia berumur 8 tahun. Di balik kekurangannya, Ardit memiliki
kelebihan yang istimewa. Ia mahir bermain sepak bola dan membuat cerita pendek. Tak jarang ia mendapatkan
pujian karena hasil karyanya.
Setelah selesai menyiapkan kotak semirnya, ia kemudian berangkat untuk mencari seseorang yang
sepatunya perlu disemir. Di sebuah halte bus, seorang pria meminta Ardit untuk menyemir sepatunya. Tentu saja
Ardit sangat bahagia karena pria itu adalah pelanggan pertamanya hari ini. Sesudah selesai menyemir sepatu pria
itu, Ardit hanya dibayar Rp.3000. Dan si Pri a berlari meninggalkan Ardit, seolah mengejar bus. Meski begitu ia tetap
menikmati pekerjaannya. Hari pun semakin sore dan matahari hampir tenggelam di ufuk barat. Namun, Ardit tetap
menjalani pekerjaannya tanpa terlihat lelah. Karena lama tak mendapat pel anggan di halte bus itu, Ardit lalu
berpindah lokasi menuju sebuah lapangan sepak bola. Sambil menunggu pelanggan di sana, ia melihat beberapa
anak-anak sedang bermain bola. Ia juga melihat sebuah klub sepak bola.
Betapa beruntungnya mereka, bisa masuk ke klub sepak bola seperti itu. Sedangkan aku hanya bisa
membantu ibuku dari pagi hingga petang. Bahkan, aku hanya bergaul dengan teman -temanku yang senasib. Kapan
ya aku bisa seperti mereka? pikirnya dalam hati. Tiba -tiba sebuah bola melambung ke arahnya. Ya, bola itu milik
klub sepak bola yang ia kagumi. Salah seorang dari mereka meminta Ardit untuk melempar bola itu kepadanya. Ardit
kemudian menurutinya. Namun, sambil menunjukkan gerakan-gerakan yang sudah ia pelajari. Klub sepak bola itu
kagum, dan langsung menghampiri Ardit.
Wah gerakan kamu keren banget belajar dari mana? tanya Tara kapten dari klub itu.
Oh, aku cuma melihat gerakan-gerakan ini dari kalian kok, jawabnya malu-malu.
Ah, masa. Kau tak usah merendah. Kami tahu, gerakan-gerakan yang kau tunjukkan itu sangat rumit. Kami
saja harus berlatih bertahun-tahun. Dan kamu hanya melihat kami dan langsung bisa mempraktekkannya di depan
kami. Itu sangat hebat. Kau tahu. Menakjubkan, kata Irfan, dengan logatnya yang santai.
Bagaimana jika kami merekomendasikan kamu kepada pelatih kami? Siapa tahu kamu bisa masuk klub
ini? kata Tara.
Boleh. Sebenernya itu impianku sejak SD. Dan siapa tahu sekarang bisa terwujud,
Oya, ngomong-ngomong nama kamu siapa? tanya Aldi.
Namaku Arditya Wirawan. Kalian boleh manggil aku Ardit, jawab Ardit.
Oh Ardit ya. Besok kamu dateng ke sini lagi ya di jam yang sama biar kami bisa ngenalin kamu sama pelatih
kami, ujar Irfan. Baiklah. Terima kasih banyak ya, Jawab Ardit.
Iya sama-sama. Kami tidak ingin menyia-nyiakan bakat sehebat kamu. Jadi ingat ya besok, Ujar Tara
kembali mengingatkan. Iya. Kalau begitu aku pulang dulu ya, kata Ardit.

Hati-hati di jalan, jawab Tara, Irfan, Aldi, dan anggota klub lainnya.
Ardit pun pulang dengan gembira. Dan hal itu membuat ibunya heran melihat putranya yang begitu
gembira.
Wah-wah, anak Ibu kelihatannya seneng banget. Ada apa sih? kata ibunya sambil membuat kue untuk
dijual besok.
Ibu, tadi aku pergi ke lapangan sepak bola. Terus aku ditawarin masuk ke klub itu, Bu. Tapi yang nawarin
itu anggotanya. Dan besok aku bakal dikenalin sama pelatihnya. Aku seneng banget loh, Bu, jawab Ardit dengan
wajahnya yang berseri -seri. Anak Ibu emang hebat. Ibu seneng deh punya anak kayak kamu, kata ibunya.
Di tengah canda tawa mereka, ibu Ardit tiba -tiba batuk dan hidung serta mulutnya mengelukan darah segar.
Ibu, ibu gak apa-apa. Kita ke dokter ya? kata Ardit cemas melihat kejadian itu sambil berusaha
membersihkan darah yang ke luar. Gak usah, Ibu gak apa -apa. Paling cuma kecapean. Kamu gak usah khawatir. Ibu
kan kuat, jawab ibunya yang berusaha menenangkan Ardit.
Ya sudah. Ibu istirahat saja. Biar aku yang buat kuenya, Jawab Ardit.
Ya udah, Ibu ke kamar dulu ya. Kamu gak apa-apa kan bikin kuenya sendiri? kata Ibu.
Nggak kok, kue buatanku mah enak Bu. Dijamin kalau dijual pasti laku, Jawab Ardit dengan percaya diri
sambil menyembunyikan kekhawatirannya pada ibu.
Ya udah mulai sekarang kamu yang buatin Ibu kuenya ya, Kata ibu.
Ardit kemudian membalas perkataan ibu dengan senyum lebar di bibirnya, hingga giginya yang tertata rapi
terlihat. Ibu pun membalasnya dengan senyumannya yang begitu manis hingga matanya berkaca -kaca. Karena tak
tahan, Ibu pun memeluk Ardit sambil menangis. Terasa beban yang ada di dadanya mulai berkurang. Ardit kemudian
membalas pelukan Ibunya dengan erat. Setelah usai berpelukan, Ibu pun memasuki kamarnya untuk beristirahat.
Keesokkan paginya, Ardit berpamitan kepada ibunya untuk pergi bekerja sambil menjual kuenya. Ia juga meminta
doa restu agar ia diterima mas uk ke klub itu oleh pelatihnya.
Ibunya kemudian mengangguk sambil tersenyum manis sekali. Ia tak pernah melihat ibunya tersenyum
begitu manis. Ia kemudian menjajakkan kue Ibunya ke warung-warung dan mulai mencari pelanggan. Di tengah
pekerjaannya, ia mendengar seorang perempuan telah kecopetan. Ardit kemudian langsung mengejar pencopet itu
dan berhasil menangkapnya. Pencopet itu kemudian dilaporkan ke pihak yang berwajib. Dan Ardi t pun
mengembalikan tas perempuan itu. Perempuan itu melihat isi tasnya, dan ternyata tak ada yang hilang. Ia kemudian
berterima kasih kepada Ardit dan memberikan imbalan sebesar Rp.500.000. Awalnya Ardit menolak. Namun, karena
dipaksa Ardit bersedia menerimanya. Perempuan itu juga berkata, Kamu anak yang baik. Saya yakin orangtuamu
akan bangga di mana pun mereka berada, Ardit pun mengangguk sambil tersenyum.
Sekitar pukul 17.00, Ardit sampai di lapangan sepak bola tersebut. Ia melihat banyak anggota klu b telah
berkumpul. Pelatihnya kemudian datang dan menanyakan kepada salah seorang anggota tentang Ardit. Aldi melihat
Ardit di luar lapangan. Dan menyuruh Ardit untuk masuk ke tengah lapangan dengan bahasa isyarat. Ardit mengerti
dengan maksud Aldi dan langsung berlari menuju klub itu. Di sana pelatih melihat Ardit yang berlari menuju ke
arahnya. Sesampai di depan pelatih, Ardit memperkenalkan dirinya. Seusai itu, pelatih memberikannya ujian seleksi
untuk masuk klub tersebut. Tentunya bukan dengan ujian ter tulis. Tetapi, dengan ujian praktek. Ardit pun
memperlihatkan keterampilannya bermain bola.

Sang pelatih pun kagum melihat kemampuan Ardit. Meskipun tidak sebanding dengan para anggota klub.
Tetapi, sang pelatih kagum karena Ardit mampu menunjukkan keterampilannya bermain bola. Seusai ujian tersebut,
Ardit ternyata lolos dan langsung menjadi anggota klub. Awalnya ia tak menyangka. Tapi, ia sangat bahagia daningin
segera memberitahukan hal ini pada ibunya. Para anggota klub pun ikut bahagia dan langsung memberi ucapan
selamat kepada Ardit dan memeluknya. Pelatih pun kemudian memberitahukan jadwal latihan mereka. Setelah Ardit
mengetahui jadwal tersebut, ia kemudian pamit untuk pulang ke rumahnya dan memberitahukan tentang berita
gembira ini kepada ibunya. Sesampai di depan rumahnya, ia kaget melihat banya k orang berkerumun di rumahnya.
Ini ada apa, Bu? Kok rame banget, kata Ardit kepada Bu Ningsih tetangganya.
Sabar ya, Dit. Ibu kamu, Jawab Bu Ningsih dengan sedih.
Ibu kenapa, Bu? Ibu aku di mana? jawab Ardit cemas.
Ibu kamu meninggal dunia, Jawab Bu Ningsih dengan berat hati.
Bu Ningsih, jangan bercanda dong! Aku serius! Ibu aku di mana? jawab Ardit dengan sedikit membentak.
Bu Ningsih, serius Dit. Ibu kamu meninggal. Beliau jatuh dari kamar mandi. Dan kepalanya berdarah,
Jawab Bu Ningsih dengan mata berkaca -kaca.
Gak, gak mungkin. I-ibu aku itu orang yang kuat. Dia sayang banget sama aku. Gak mungkin dia ninggalin
aku secepat ini. Ini, ini bohongan kan? jawab Ardit terbata -bata.
Ardit, Bu Ningsih gak bakal bohong tentang Ibu kamu. Bu Ningsih juga tahu kalau Ibu kamu kuat. Tapi,
kenyataan kayak gini. Ibu kamu sudah tiada. Beliau sudah meninggal, Jawab Bu Ningsih dengan air mata yang
terjatuh. kalau kamu gak percaya kamu bisa lihat di dalam, sambung Bu Ningsih. Dengan kaki yang sudah lemas,
Ardit berlari menuju ruang tamunya. Dan benar saja, ia melihat ibunya telah terbujur kaku dengan balutan kain
kafan. Air matanya mengucur dengan deras ketika mengingat senyum manis ibunya yang terakhir kali dilontarkan
kepadanya. Dengan penuh sesak, dia memeluk tubuh ibunya yang sudah terbaring ta k berdaya.
Hatinya terasa remuk mengingat bahwa separuh jiwanya kini telah pergi meninggalkannya untuk
selamanya. Keluarga satu-satunya sekaligus sahabat baginya, kini telah berpulang ke pelukkan-Nya. Ardit merasa
sangat terpukul karena telah kehilangan I bunya. Ibu ha, hari ini a-aku diterima Bu di-di klub sepak bola itu. Ibu pasti
seneng kan? katanya kepada ibunya yang telah terbaring kaku. Air mata makin mengucur deras, ketika menatap
wajah Ibunya. Ardit melihat sebuah senyuman tipis di wajah dingin Ib unya. Karena kasihan melihat Ardit yang
terpukul, Bu Ningsih menawarkan tempat tinggalnya untuk ditempati Ardit sementara. Agar Ardit tidak berlarut larut dalam kesedihannya. Ardit menerimanya meski dengan berat hati. Jadi, malam itu Ardit tidur di rumah B u
Ningsih. Keesokan harinya, klub sepak bola itu mendatangi rumah Ardit. Entah siapa yang memberitahu mereka.
Namun, Ardit terlihat senang dengan kedatangan teman-teman barunya.
Kami turut berbelasungkawa atas kematian Ibumu, kata Tara.
Yang sabar ya, Ardit, lanjut Aldi.
Dengan kedatangan kalian, aku sudah merasa lebih baik, jawab Ardit sambil menghela napas.
Ngomong-ngomong kalian tahu dari mana berita itu dan tempat tinggalku? lanjut Ardit.
Aku tahu dari kicauan burung di taman, jawab Irfan sambil menoleh ke arah Ade anak Bu Ningsih yang
sekelas dengannya waktu SMA.

Oh, jadi begitu, kata Ardit yang mengerti maksud Irfan.


Tak lama kemudian, banyak rombongan yang datang. Mereka kemudian mengiringi perjalanan terakhir Ibu
Ardit. Di pemakaman mereka berdoa agar Ibu Ardit mendapatkan tempat yang layak bersama -Nya. Hari berganti
hari dan tahun pun berganti tahun. Kini Ardit telah berumur 25 tahun. Ia telah sukses menjadi pemain sepak bola
unggulan di klub sepak bola daerahnya. Dan ia juga membuka sebuah toko yang menjual kue seperti yang pernah
dibuat Ibunya. Bahkan bulan lalu, ia memenangi pertandingan sepak bola antar daerah dan ia mendapat piala
sebagai lambang kemenangannya. Dan saat diwawancarai, seorang reporter bertanya.
Untuk siapa piala itu anda persembahkan?
Saya akan mempersembahkan piala ini sebagai lambang kebanggaan untuk kedua orangtua saya,
terutama Ibu saya yang telah membesarkan saya dengan sangat baik. Dan saya berharap mereka melihat saya yang
telah sukses berkat mereka. jawab Ardit sambil menahan tangisnya.

Cerpen Karangan: Ayu Gita

Why the Sun and the Moon Live In the Sky


A long time ago, the Sun and the Moon were best friend. They had been best friend for a long time. They always
spent time together, playing, laughing and just having fun. They were always happy together that their whole body
were shining so bright. The Moon was like a little sister for the Sun. He always protected her and made her laughed.
But little did he know that the Moon had been secretl y in love with him. She admired him very much.

One day when the Sun and the Moon were hanging out on the top of a mountain, the Water walked by. She was so
beautiful that she dragged the Suns attention.
Wow.. Whos that beautiful lady?. The Sun asked the Moon.
Its the Water. She lives in the north. The Moon said quietly.
I think I like her. The Sun said while smiling.
Go get her then. The Moon said while trying to smile when on the inside she was falling apart.
Really? I mean, are you okay if I leave and talk to her?. The Sun said eagerly.
Its okay, Ill just stay here. The Moon said reassuring the Sun. She just wanted her best friend to be happy.
The Sun then chased after the Water, leaving the heartbroken Moon alone on the top of the mounta in crying her
heart out.

After that day the Sun and the Water relationship were getting closer and closer everyday while his relationship with
the Moon was the opposite, they grew apart. They barely see each other again. The Sun whose too preoccupied with
his new girlfriend almost forgot his truly best friend. In the other hand, the Moon felt really sad and lonely that her
light slowly faded each day. All she did was sitting alone on the top of a mountain crying, while looking at the sky

where the little Stars dancing happily together. Everyday she always called for the Stars to bring her to the sky with
them so she wouldnt have to be alone and watched the Sun and the Water doing everything that she used to do
with the Sun. But little Stars always refused to bring her to the sky because it was so cold there, and beside that if
they brought the Moon to the sky, she wouldnt be able to go back to earth anymore. The Moon couldnt do anything
so she walked home disappointedly when in the middle of the way she o verheard the Sun and the Water
conversation.
Why do you want to meet her? Do you love her?. The Water asked the Sun.
What?! No.. Of course not. I love you, not her. Shes just a friend. Shes nothing. The Sun quickly answered.
The Moons heart fall apart hearing those words. She couldnt stop the tears that kept falling from her eyes.
Good. You dont need her cause youre with me now. The Water said smiling wickedly. She knew that the Moon
was there hearing everything. She wanted to make the Moon broken. She was jealous of the Moon because the
Moon was best friend with the Sun while she didnt have any friend.

The Moon ran back to the top of the mountain and begged the little Stars to please brought her with them because
she couldnt take it anymore. Finally little Stars brought the Moon to the sky because they couldnt bear to see her
crying her heart out.

Day after day passed and the Sun started getting tired of the Water behaviour that was very bossy and annoying, so
he went to visit his best friend that he really missed, the Moon, but she was nowhere to be found. The Sun panicked
and started looking for the Moon to every place that they used to go, and when he went to the mountain he saw
the Moon in the sky with little Stars. He was so sad seeing his best friend so far away from him. And he was even
more sad seeing that the Moon wasnt shining anymore, she lost her light. He then went to the top of the mountain
and talked to her.
Why are you went to the sky?. The Sun asked sadly.
Dont you understand that I am so lonely, sad, and hurt?!! My very own best friend said that I was nothing to him.
So whats the point of staying when nobody wants you?!!. Cant you see that I love you?!! The Moon said while
tears were streaming down her face.
I-Im sorry, I really didnt mean it. I really miss you, I love you. Please.. come back. The Sun said, looking at her with
his glossy eyes.
No, really. I love you. Not as a friend. I really do love you. But I know the feelings isnt mutual. I just wish you to be
happy with her. Good bye. The Moon said still crying, then she faded away in the dark.
In that moment the Sun finally realized that who he really love is the Moon. He broke down and cried, calling for the
Moon to come back. A few minutes later the Sun saw the Wishing Star in the sky so he called and asked the Wishing
Star to bring him to the sky.
Hey Wishing Star! Please help me, pleaseee!. The Sun pleading.
What do you want me to do?. Answered the Wishing Star.
Bring me to the sky with you. Said the Sun.

Its so dangerous you know. I fly with a really fast speed. You might get yourself burned. Explained the Wishing
Star.
I dont care. Just bring me to the sky, please. Im begging you.
Fine. But you know the consequence. Tell me to stop when youve reached your destination. The Wishing Star
said.
Then the Wishing Star brought the Sun with him, flew with a really fast speed that made the Suns body burned, full
of fire. But he didnt care. All he cared about was that he wanted to be with the Moon.
Stop! Stop!. The Shun shouted when he thought that he had been in the place near the Moon. The Wishing Star
released him and continued to fly away. The Sun looked around, searching for the Moon with his now fiery body. He
saw the Moon but she was so far away from him. The Sun flew away too far from the earth. He was about to go over
to the Moon when he realized that if he went too close to the Moon, she would get burned because of fire on his
body. So he canceled his intention because he didnt want to hurt the Moon ever again. All he could do was watch
the Moon from afar and shone her as best as he could so the Moon knew that he was there with her. Because of the
Suns light the Moon is shining again and she was warmed by his love. Now we can s ee the Moon shining every night,
brighten the earth. And every full moon, when the Moon is shining the most, the Water in the sea will tide. It was
because the Water wants to reach the moon and drown her. She couldnt accept the fact that the Sun had chosen
the Moon over her. But however, the Water will never reach the Moon because she is high in the sky.

Cerpen Karangan: Telly Innasy