Anda di halaman 1dari 25

ANALISIS

DAERAH
POTENSI
LONGSOR DI
JAWA BARAT

OLEH :
Riandi Namara

15111036

Eka Fidiyanti

15111046

Dinan Abdul Khalik


Rio Raharja
Usriyah
Nadia Shalehah

15111048
15111052

15111060
15111062

LATAR BELAKANG
Tanah longsor adalah perpindahan material pembentuk lereng berupa
batuan, bahan rombakan, tanah, atau material campuran tesebut bergerak
ke bawah atau ke luar lereng.
Hampir seluruh wilayah Jabar memiliki potensi longsor, karena pergerakan
tanah sangat tinggi. Bencana alam geologi yang dominan di Jawa Barat
terdapat di bagian selatan. Kondisi topografi yang kasar dan berlereng terjal
menyebabkan daerah ini rawan akan tanah longsor.

TUJUAN
Menganalisis daerah berpotensi longsor di Jawa Barat bedasarkan
parameter-parameter yang telah diketahui terhadap stabilitas area

RUMUSAN MASALAH
Bagaimana cara menentukan daerah-daerah di Jawa Barat yang berpotensi
bencana longsor.
Apa faktor-faktor yang mempengaruhi besarnya potensi longsor daerah di
Jawa Barat.

RUANG LINGKUP
Menitikberatkan pada pengkajian seluruh daerah yang berada di kawasan
Jawa Barat dengan melakukan analisis spasial terhadap daerah yang
memiliki potensi bencana longsor.

METODE PENELITIAN
Studi literatur, dari buku, laporan penelitian, tugas akhir, dan internet.
Pengumpulan data, berupa peta kelerengan, tutupam lahan, curah hujan
dan jenis tanah
Analisis spasial dengan menggunakan sistem informasi geografis
Penarikan kesimpulan dan saran.

DASAR TEORI
Tanah longsor adalah perpindahan material pembentuk lereng berupa
batuan, bahan rombakan, tanah, atau material campuran bergerak ke
bawah atau keluar lereng.
Ada 6 jenis tanah longsor yaitu longsoran translasi, longsoran rotasi,
pergerakan blok, runtuhan batu, rayapan tanah, dan aliran bahan rombakan.
Jenis longsoran translasi dan rotasi paling banyak terjadi di Indonesia.
Sedangkan longsoran yang paling banyak memakan korban jiwa manusia
adalah aliran bahan rombakan.

FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB
TANAH LONGSOR :
1.

Hujan

2.

Lereng Terjal

3.

Tanah yang kurang padat dan tebal

4.

Batuan yang kurang kuat

5.

Jenis tata lahan

6.

Getaran

7.

Susut muka air danau dan bendungan

8.

Adanya beban tambahan

9.

Pengikisan atau erosi

10. Adanya material timbunan pada tebing


11. Bekas longsoran lama
12. Adanya material timbunan pada tebing
13. Bekas longsoran lama
14. Adanya bidang diskontinuitas

LANGKAH KERJA
1. Tentukan data yang dibutuhkan untuk membuat model tersebut. Data yang dibutuhkan yaitu
peta Jawa Barat, data curah hujan, data jenis tanah, data tutupan lahan, dan data lereng.
2.Tentukan klasifikasi dari masing- masing data dan tentukan bobot dari data bersebut.
3.Buka semua data dengan aplikasi Arc GIS.
4.Untuk masing-masing layer data, buka open data atribute kemudian tambahkan field baru
(add field), lalu tambahkan bobot dari masing-masing layer tersebut.
5.Gabungkan semua data dengan menggunakan menu union pada tool geoprocessing.
6.Setelah semua data digabung maka akan didapat total bobot dari semua data tersebut.
Dengan total bobot yang ada, kita dapat membuat klasifikasi akhir untuk menentukan daerah
mana saja yang tergolong aman, rawan, atau sangat rawan longsor.
7.Buka open data atribute untuk layer union, kemudian tambahkan field baru (add field) untuk
data klasifikasi akhir dan berikan keterangan untuk memperjelas apakah daerah pada data
tersebut tergolong daerah yang aman atau rawan longsor.

DIAGRAM ALIR

PENGOLAHAN DATA
Masukkan data-data yang dibutuhkan, seperti data lereng, curah hujan,

tutupan lahan dan jenis tanah.

Buka data (layer) curah hujan, buka open atribute table dan masukan nilai

bobot dari curah hujan

Buka data (layer) jenis tanah, buka open atribute table dan masukan nilai

bobot dari jenis tanah.

Buka data (layer) tutupan lahan, buka open atribute table dan masukan

nilai bobot dari tutupan lahan

Buka data (layer) lereng, buka open atribute table dan masukan nilai bobot

dari lereng.

Buka data (layer) tutupan lahan, buka open atribute table dan masukan

nilai bobot dari tutupan lahan.

Buka data (layer) lereng, buka open atribute table dan masukan nilai bobot

dari lereng.

Setelah semua data diberi bobot, gabungkan semuanya dengan union.

Buka open attribute table pada hasil union, beri bobot sesuai total dari

semuanya. Lalu klasifikasikan.


Total = bobot jurah hujan + bobot jenis tanah + bobot lereng + bobot

tutupan lahan

Didapat hasil akhir.

Klasifikasi

Total

Aman

<8

Rawan

8-13

Bahaya

>13

KESIMPULAN
Dengan analisis yang kami lakukan, akan didapatkan hasil daerah mana saja
di Jawa Barat yang rawan akan longsor. Klasifikasi kelas status banjir kami
bagi menjadi tiga. Aman, rawan, dan bahaya. Daerah yang berwarna merah
merupakan daerah yang bahaya akan terjadi longsor. Dengan hasil yang
kami dapatkan ini, diharapkan mampu memberikan gambaran kepada
masyarakat khususnya yang tinggal di daerah yang bahaya longsor di Jawa
Barat untuk waspada akan terjadinya bencana tersebut.

SARAN
Data yang kami gunakan untuk menganalisis daerah rawan longsor di Jawa
Barat hanya data curah hujan, kemiringan, tutupan lahan, dan jenis tanah.
Keempat hal tersebut dirasa kurang, karena masih perlu adanya
penyempurnaan dengan data lainnya yang tidak kami masukan dalam
analisis ini. Perlu adanya perhatian dari pemerintah mengenai pembaruan
secara berkala peta analisis spasial seperti ini karena setiap tahunnya dapat
terjadi perubahan. Selain itu, perlu adanya kesadaran dari masyarakat untuk
menyadari pentingnya peta seperti ini untuk mengantisipasi bahaya
bencana.

TERIMA KASIH