Anda di halaman 1dari 13

TEKNOLOGI KATALIS

Makalah ini ditulis untuk memenuhi tugas mata kuliah Teknologi Katalis
Dosen Pengampu : Juliananda, S.T., M.Sc.

Disusun Oleh:
Defani Saadatul Abadiyati

125061101111010

PROGRAM STUDI TEKNIK KIMIA


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2016

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Fenomena Katalisis
Katalis adalah suatu zat yang dapat mempercepat laju reaksi tanpa terkonsumsi. Pada
proses katalisis, katalis akan mengalami perubahan ikatan kimia dengan reaktan sehingga
dapat dikatakan katalis tetap ikut terlibat dalam reaksi. Tetapi pada akhir reaksi katalis akan
dihasilkan kembali dalam bentuk semula. Menurut Ostwald (1895) walaupun katalis
mempercepat reaksi kimi tetapi katalis tidak mempengaruhi kesetimbangan reaksi. Yang
dimaksudkan dalam definisi tersebut adalah katalis tidak mempengaruhi energi dari reaktan
dan energi dari produk (Fatimah, 2013). Dalam sistem kesetimbangan, katalis tidak
mempengaruhi letak kesetimbangan, katalis hanya berperan untuk mempercepat proses
kesetimbangan. Hal ini disebabkan katalis mempercepat laju pembentukan produk dan
penguraiannya sama besar nya (reaksi kekanan dan kekiri sama besar).
Katalis dapat mempercepat laju reaksi dengan menurunkan energi aktivasi. Energi
aktivasi merupakan energi minimum yang dibutuhkan untuk menghasilkan produk. Semakin
kecil energi aktivasi maka semakin banyak molekul yang memiliki energi untuk bereaksi.
Selain sifat katalis yang dapat mempercepat reaksi, katalis juga mempunyai sifat yang
penting yaitu dapat mempengaruhi selektifitas reaksi kimia. Hal ini berarti setiap katalis
dapat menghasilkan produk yang berbeda dari reaktan yang sama denga katalis yang berbeda.
Pada industri, kontrol reaksi seperti ini lebih penting dari pada aktivitas katalitik.
Dalam teori, katalis yang ideal tidak akan dikonsumsi, tapi ini tidak terjadi di
praktek.

Karena

reaksi

bersaing,

katalis

mengalami

perubahan

kimia,

dan aktivitasnya menjadi lebih rendah (deaktivasi katalis). Sehingga katalis harus
diregenerasi atau digantikan.
Katalis dapat berbentuk gas, cair atau padat. Pada industri katalis yang sering
digunakan adalah katalis cair atau padat, dimana pada padatan yang bereaksi hanya melalui
permukaannya.
Teknologi penggunaan katalis telah banyak dikembangkan dan digunakan oleh
industri-industri didunia. Katalis digunakan untuk konverter katalitik pada kendaraan
bermotor dengan katalis platinadan rodium, proses kontak pada pembuatan asam sulfat

dengan katalis V2O5, proses sintesis amonia dari N2 dan H2 dengan katalis Fe dan lain-lain.
Pentingnya katalisis di industri kimia ditunjukkan oleh fakta bahwa 75 % produk kimia
dihasilkan dengan bantuan katalis, diantaranya adalah produksi plastik, obat-obatan, pewarna,
peptisida, serat sintesis, resin dan pigmen. Sebagian besar proses pengolahan minyak bumi
seperti tahap pemurnian, pengilangan dan transformasi kimia membutuhkan katalis.
1.2 Mode of Action of Catalysts
Pada proses industri katalis yang sesuai digunakan tergantung pada tiga sifat utama
sebagai berikut :
1.2.1

Aktivitas

Aktivitas merupakan ukuran seberapa cepat katalis untuk mengubah bahan baku
(reaktan) menjadi produk. Aktivitas dapat dihitung dari kinetika reaksi atau laju reaksi. Laju
reaksi dinyatakan sebagai laju perubahan jumlah nA dari reaktan A dengan waktu terhadap
volume reaksi atau massa katalis.
r=

jumlah konversi reaktan


1 1
1 1
(mol L h mol kg h )
volume ataumassa katalis x waktu

Aktivitas kinetik dari dasar hukum laju reaksi seperti reaksi ireversibel sederhana
A P:
d nA
=kVf (c A )
dt
k = Konstanta laju
f(cA) merupakan konsentrasi yang menunjukkan ketergantungan orde pertama atau
lebih tinggi pada kesetimbangan adsorbs.
Pengaruh suhu terhadap konstanta r dijelaskan oleh persamaan Arrhenius :
(

k =k 0 e

Ea
)
RT

Ea = Energi aktivasi reaksi

K0 = Faktor pre-eksponensial
R = Konstanta gas
Sehingga aktivitas katalis dapat diketahui dengan tiga cara yaitu :
1. Laju Reaksi
2. Laju konstanta k
3. Energi aktivasi Ea
Selain itu aktivitas katalis dapat dihitung dengan Turn Over Number (TON).
Perhitungan ini didasarkan dari ukuran katalisis enzimatik. Pada katalis homogen Turn Over
Number (TON) mudah ditentukan karena ukuran molekulnya sama, sedangkan pada katalis
heterogen Turn Over Number (TON) sulit ditentukan karena aktivitas katalis terjadi pada
permukaan katalis yang ukuran strukturnya berbeda.

Dalam kasus katalisis homogen

dianggap bahwa setiap molekul katalisis berfungsi aktif dalam proses katalisis. Sebaliknya
pada katalis heterogen sangat tergantung pada banyaknya faktor yang membuat sisi aktif
yang menyebabkan tidak semua sisi bersifat aktif. Kesulitan penentuan TON untuk katalis
heterogen, maka aktivitas katalis heterogen diukur dari parameter :
1. Konversi pada reaksi konstan
2. Space Time Yield (STY)
3. Space Velocity pada konversi konstan
4. Suhu yang dibutuhkan untuk mencapai nilai konversi tertentu
Nilai konversi (X0) didefinisikan sebagai fungsi dari perubahan konsentrasi reaktan
dibandingkan dengan konsentrasi mula-mula, untuk reaktor batch :
X A=

n A 0 n A mol
(
)
n A0
mol

Untuk kondisi yang sama dari dua katalis, konversi yang lebih besar menunjukkan
aktivitas yang lebih besar dari suatu katalis. Jika konversi ditentukan untuk membandingkan
dua jenis katalis dapat dilakukan dengan pengukuran space velocity. Space velocity
merupakan laju alir mula-mula reaktan terhadap massa katalis. Jika laju alir yang dibutuhkan
untuk mencapai konversi tertentu lebih besar maka aktivitas katalis juga lebih besar.
Sehingga kontak yang dibutuhkan antara reaktan dengan permukaan katalis untuk
membentuk produk dapat dilalui lebih cepat.
Space velocity=

V0
m3
(
)
mkatalis kg . s

Kinerja reaktor disajikan terhadap massa atau volume katalis, sehingga reaktor
dengan ukuran atau konstruksi yang berbeda dapat dibandingkan satu sama lain. Besarnya
dikenal sebagai space time yield (STY) :

STY =

jumlah produk yang diinginkan


( mol L1 h1 )
volume katalis x waktu

1.2.1.1 Turnover Frequency (TOF)


Turnover Frequency (TOF) merupakan ukuran aktivitas proses katalitik atau siklus
katalitik yang terjadi tiap satuan waktu. Pada industri TOF yang digunakan adalah antara 10 -2
-102 s-2 (enzim 103-107 s-1) Pada katalis heterogen biasanya nilai aktivitas ini diperoleh dari
metode serapan dengan persamaan sebagai berikut :
TOF=

laju volumetric reaksi


mol
volume
1
=
x
=
volume
volume x waktu
mol
w aktu

1.2.1.2 Turnover Number (TON)


Turnover Number (TON) merupakan jumlah maksimum dari siklus katalisis dalam
total reaksi sampai terjadinya kerusakan pada katalis. Pada industri TON yang digunakan
adalah antara 106 -107. Hubungan antara TOF dan TON ditunjukkan pada persamaan berikut :
TON = TOF (waktu -1) x life time katalis (waktu)
1.2.2

Selektivitas

Selektivitas (sp) merupakan fraksi awal bahan sampai terkonversi menjadi produk (P)
yang diinginkan. Selektivitas dinyatakan dengan rasio dari jumlah produk yang diinginkan
terhadap reaktan yang terkonversi. Pada reaksi memungkinkan adanya dua kemungkinan
reaksi yaitu reaksi paralel atau reaksi berkelanjutan. Pada gambar 1 menunjukkan reaksi
paralel yang mana A sebagai reaktan yang dalam satu waktu akan menghasilkan dua produk
sekaligus. P sebagai produk yang diinginkan dan P1, P2 merupakan produk samping.

Gambar 1. Reaksi Paralel


Pada gambar 2 menunjukkan reaksi berkelanjutan yang mana A bertindak
sebagai reaktan yang secara bertahap menghasilkan P yaitu produk yang diinginkan
kemudian selanjutnya akan menghasilkan P1 yaitu produk samping.

Gambar 2. Reaksi Berkelanjutan


Saat kualitas dibandingkan dengan bahan awal dan produk, maka koefisien
stokiometri (vi) dari reaktan harus dihitung, kenaikan yang diberikan dihitung dengan
persamaan berikut :
S p=

n p /v p
np x v A
mol
=
(
)
( n A 0 n A ) ( n0 A n A ) v p mol
vA
Pada perhitungan selektivitas suhu, konversi atau space velocity saat reaksi

sedang berlangsung harus konstan. Jika reaksi merupakan reaksi tunggal pada
stokiometri makan selektivitasnya bernilai satu, sp = 1. Selektivitas sangat penting
untuk industri katalisis, seperti pada gambar 3 menunjukkan bahwa sintesis gas akan
menghasilkan produk yang berbeda tergantung pada katalis yang digunakan.

1.2.3

Gambar 3. Reaksi gas sintesis menggunakan beberapa katalis


Stabilitas
Stabulitas kimia, panas dan mekanik pada katalis menentukan lifetime katalis

tersebut. Stabilitas katalis dipengaruhi beberapa faktor termasuk dekomposisi,


pengerakkan, dan keracunan. Deaktivitasi katalis dapat ditentukan dengan mengukur
aktivitas atau selektivitas pada fungsi waktu. Katalis yang kehilangan aktivitas selama
proses dapat diregenerasi sebelum harus benar benar dengan diganti.

Penggunaan bahan baku dan energi yang efisien merupakan hal yang sangat
penting. Berikut urutan prioritas yang harus diperhatikan dalam pemilihan katalis
untuk berbagai alasan :
Selektivitas > Stabilitas > Aktivitas
Selektivitas merupakan hal yang pertama harus diperhatikan dalam pemilihan
katalis. Hal ini dimaksudkan untuk mendapatkan konversi produk yang tinggi
sehingga cost yang didapatkan lebih besar dengan tingkat konversi produk yang
tinggi. Kedua yang harus diperhatikan adalah stabilitas pengggunaan katalis. Semakin
tinggi stabilitas katalis maka life time dari katalis tersebut akan semakin lama.
Sehingga waktu regenerasi atau penggantian katalis juga semakin lama, menurunkan
biaya maintenance. Ketiga yang harus diperhatikan adalah aktivitas katalis. Aktivitas
katalis yang semakin tinggi maka produk yang dihasilkan semakin tinggi. Semua
pertimbangan tersebut berdasarkan nilai ekonomi yang dikeluarkan oleh sebuah
perusahaan.
1.3 Klasifikasi Katalis
Katalis dapat diklasifikasikan menurut berbagai kriteria yaitu: struktur,
komposisi, dan fase bahan. Menurut fase bahan, ada dua kelompok besar yaitu :
katalis homogen dan katalis heterogen.

Gambar 3. Klasifikasi katalis

Katalis homogen merupakan katalis yang fase nya sama dengan reaktan atau
produk. Misalnya pada reaksi esterifikasi etil asetat menggunakan katalis larutan
HCL. Biasanya katalis homogen berfasa cair-cair atau gas-gas. Sedangkan katalis
heterogen merupakan katalis yang fasanya berbeda antara reaktan atau produknya.
Katalis heterogen pada industri umumnya berbentuk padatan sedangkan reaktannya
berbentuk gas atau cairan. Misalnya penggunaan katalis silika alumina yang berfasa
paddatan untuk mengkonversi minyak metah pada industri minyak bumi.
Katalis enzim merupakan molekul protein dengan ukuran kolodi. Katalis ini
memiliki fasa diantara katalis homogen dan heterogen. Biasanya berupa enzim-enzim
dalam sistem pencernaan manusia. Katalis enzim mempunyai aktivitas dan selektifitas
yang tinggi, misal enzim katalase mengurai hidrogen peroksida 10 9 kali lebih cepat
dari pada katalis anorganik. Keuntungan lain dari enzim adalah beroperasi pada suhu
ringan, umumnya pada suhu ruang dan mempunyai pH yang mendekati 7.
Kerugiannya adalah tidak tahan terhadap suhu dan tekanan yang tinggi sehingga
molekul akan tidak stabil, harganya relatif mahal dan sulit didapatkan dalam bentuk
murni.
1.4 Perbandingan Katalisis Heterogen dan Homogen
Katalis homogen memiliki tingkat dispersi yang lebih tinggi dari katalis
heterogen karena dalam teori setiap atom pada katalis homogen merupakan sisi aktif
katalis, sedangkan pada katalis heterogen hanya permukaan yang merupakan sisi
aktif. Tingkat dispersi yang tinggi menyebabkan aktivitas yang dimiliki oleh katalis
homogen lebih tinggi per massa logam dari katalis heterogen. Mobilitas yang tinggi
ditunjukkan dari banyaknya tumbukan antara molekul pada hasil reaksi campuran
dengan molekul substrat.
Pada katalis homogen reaktan dapat bereaksi dengan sisi aktif katalis dari
berbagai arah, hal ini memungkinkan penggunaan konsentrasi katalis homogen lebih
rendah dari pada katalis heterogen.
Ciri yang paling penting dari katalis homogen logam transisi adalah
selektivitasnya yang tinggi. Kerugian utama dari karalis homogen logam transisi
adalah kesulitan untuk memisahkan katalis dari produk. Biasanya digunakan proses

lain untuk memisahkan seperti distilasi, ekstraksi dan pertukaran ion. Reaksi katalisis
homogen umumnya dikontrol oleh kinetika dan transport material. Stabilitas termal
pada organologam berada pada fase cair sehingga katalis homogen harus berada pada
suhu dibawah 200 0C. Dalam rentang suhu ini, katalis homogen lebih mudah
distabilkan atau dimodifikasi. Modifikasi dilakukan dengan penambahan ligan.
Organologam merupakan terikatnya atom-atom karbon dari gugus organik ke atom
logam.
Keuntungan dan kerugian dari katalis heterogen dan katalis homogen
ditunjukkan pada tabel 1.
Tabel 1. Keuntungan dan Kerugian dari Katalis Heterogen dan Katalis Homogen

Efektifitas
Sisi aktif
Konsentrasi
Selektivitas
Masalah difusi
Kondisi Reaksi
Penerapan
Hilangnya aktivitas

Homogen

Heterogen

Semua atom logam


Rendah
Tinggi
Tidak ada
Rendah (50-200)0C
Limit
Reaksi bolak balik dengan

Hanya permukaan atom


Tinggi
Rendah
Ada
Parah (biasanya > 250 0C)
Lebar
Keracunan

produk

(pembentukan

kluster); keracunan
Sifat Katalis
Struktur / stokiometri
Kemungkinan Modifikasi
Stabilitas Termal
Pemisahan Katalis
Regenerasi Katalis
Biaya kerugian

Ditemukan
Tinggi
Rendah
Rendah
Dapat dilakukan
Tinggi

Tidak ditemukan
Rendah
Tinggi
Fiexed bed ; Filtrasi
Tidak diperlukan
Rendah

BAB II
Katalis Homogen dengan Katalis Logam Transisi
Kemajuan katalisis homogen dalam industri didasarkan pada pengembangan katalis
organologam. Katalis logam transisi dijelaskan dengan reaktivitas ligan organik yang terikat
pada inti logam.
Reaksi paling penting dalam siklus katalitik yang melibatkan ligan terletak di pusat
logam yang sama.

BAB III
Katalisis Homogen Pada Industri
3.1 Peninjauan
Katalis logam transisi telah banyak dikembangkan dan telah banyak produk baru yang
tersedia. Reaksi katalisis homogen logam transisi sekarang digunakan pada hampir semua
bidang industri kimia, seperti yang ditunjukkan dalam gambar 4 yaitu : Hidrogenasi,
Oksidasi, Oligomerisasi, Polimerisasi, Hidrosianasi, Isomerisasi, Hidrosililasi, Metetesis, dan
Bahan Kimia.

Gambar 4. Reaksi katalisis homogen logam transisi pada industri


Hidrogenasi merupakan reaksi kimia yang menghasilkan adisi hidrogen. Hidrogenasi
homogen biasanya digunakan dalam sintesis polimer, hidrogenasi aldehida ke alkohol,
hidrogenasi asimetris, dan hidrogenasi benzena untuk sikloheksana.
Aplikasi katalisis homogen pada industri yang paling penting adalah oksidasi
hidrokarbon dengan oksigen atau peroksida. Mekanisme yang membedakan antara homolitik
dan heterolitik adalah pada proses homolitik, logam transisi bereaksi dengan pembentukan
radikal dan oksidasi atau reduksi dengan satu elektron sedangkan pada proses heterolitik
bereaksi dengan dua elektron kimia koordinasi.
Oligomerisasi adalah proses kimia yang hanya mengubah monomer sampai pada
derajat polimerisasi tertentu, biasanya 10 sampai 100. Reaksi oligomerisasi melibatkan
mono-olefin dan diena. Polimerisasi adalah proses bereaksi molekul monomer bersama

dalam reaksi kimia untuk membentuk tiga dimensi jaringan atau rantai polimer. Hidrosianasi
adalah proses dimana ion H+ dan Cl- ditambahkan ke molekul substrat. Biasanya substratnya
adalah alkena dan produknya adalah nitril.
3.2 Contoh Proses Pada Industri
3.2.5 Penggandengan Suzuki
Penggandengan Suzuki merupakan penggandengan silang antara asam organoboronat
dan halida dengan katalis paladium. Industri bahan kimia menggunakan proses
penggandengan Suzuki dalam prosesnya.
Langkah-langkah dasar mekanisme ditunjukkan pada gambar 5.

Gambar 5. Mekanisme reaksi Penggandengan Suzuki dengan katalis paladium


Langkah-langkah mekanisme reaksi Penggandengan Suzuki dengan katalis
paladium :
-

Langkah pertama adalah adisi oksidatif paladium ke aril halida terhadap Pd (0),
biasanya Pd (0) merupakan diphospine kompleks. Adisi oksidatif pertama-tama akan
membentuk kompleks cispaladium yang dengan cepat akan berisomerisasi menjadi
kompleks trans-isomer.

Transmetalasi. Halida pada aril Pd (II) diganti dengan gugus aril dari reagen
organoboron. Senyawa organoboron memiliki sifat sangat kovalen dan tidak mudah
mengalami transmetalasi tanpa adanya basa. Sehingga harus diaktivasi menggunakan
basa dalam hal ini NaOH. Aktivasi atom boron dapat meningkatkan polarisasi ligan

dan membantu proses transmetalasi.


Eliminasi reduktif. Aril-aril mengarah ke produk biaril dan katalitik aktif Pd (0)
komplek dapat di recycle.