Anda di halaman 1dari 8

Pengetahuan Dan Sikap Keluarga Tentang Pemasungan Terhadap Pasien Schizophrenia

Studi Dilakukan Di Rumah Sakit Jiwa Provinsi Bali


Tahun 2015
Knowledge and Attitudes About deprived Against Family Study of Schizophrenia Patients
Do In Bali Provincial Mental Hospital 2015
Rahayuni I Gusti Ayu Rai1, Darsana I Wayan 2,
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Bali1
Rumah Sakit Jiwa Provinsi Bali2
Abstrak : Penanggulangan masalah pasien schizophrenia terkendala karena pengetahuan keluarga
yang kurang baik terhadap pasien, hal ini mengakibatkan pasien schizophrenia sering mendapat
diskriminasi dari masyarakat di sekitarnya bahkan dalam beberapa kasus oleh keluarganya sendiri.
Bentuk diskriminasi diantaranya pasien skizoprenia sering mendapat perlakuan yang tidak
manusiawi seperti perlakuan keras bahkan pemasungan. Tujuan penelitian adalah untuk
mengetahui pengetahuan keluarga tentang pemasungan terhadap pasien schizophrenia. Jenis
penelitian Deskriptip dengan rancangan Cross sectional. Subyek penelitian ini adalah keluarga
pasien schizophrenia sebanyak 45 orang dengan tehnik sampling consecutive sampling..
Pengumpulan data menggunakan kuisioner. Hasil penelitian menunjukkan pengetahuan responden
terbanyak yaitu 26 orang (57,8%) dalam kategori baik. sebaran kuesioner pengetahuan keluarga
tentang pemasungan terhadap pasien schizophrenia, seluruh responden (100%) menjawab benar
pada pertanyaan pasung merupakan salah satu perlakuan yang merampas kebebasan dan
kesempatan orang dengan gangguan kejiwaan (ODGJ) untuk mendapat perawatan yang memadai.
Responden paling banyak menjawab salah yaitu sebanyak 22 orang (48,9%) pada pertanyaan
tindakan pemasungan dapat menyebabkan ODGJ tidak dapat menggerakkan anggota badannya
dengan bebas sehingga terjadi atrofi kaku otot. Seringnya keluarga berinteraksi dengan petugas
kesehatan memungkinkan mereka sering terpapar dan memeroleh informasi tentang halusinasi
sehingga berimbas pada peningkatan pengetahuan keluarga.
Kata kunci : Pengetahuan, Keluarga, Pemasungan
Abstract : ombating the problem of patients with schizophrenia constrained because families are
less good knowledge of the patient, this has resulted in patients with schizophrenia are often
discriminated against on the surrounding communities and even in some cases by their own
families. Forms of discrimination among patients with schizophrenia often gets inhumane
treatment as harsh treatment and even deprivation. The research objective was to determine the
knowledge of the patient's family about the deprivation of schizophrenia. Type of descriptive study
with cross sectional design. , The subjects of this study are the families of patients with
schizophrenia were 45 people with a consecutive sampling sampling techniques .. The data was
collected using a questionnaire. The results showed that most respondents knowledge of 26 people
(57.8%) in both categories. distribution of questionnaires family knowledge about the deprivation
of patients with schizophrenia, all respondents (100%) responded correctly to the question of
stocks is one treatment that is denied freedom and opportunity of people with psychiatric disorders
(ODGJ) to receive adequate treatment. Most respondents answered incorrectly as many as 22
people (48.9%) in question may lead to deprivation of ODGJ can not move his limbs freely,
causing stiff muscles atrophy. Often families interact with health workers allowing them often
exposed to and obtain information about hallucinations so the impact on increasing the knowledge
of the family.

________________________________________________________________________
Alamat korespondensi :
Email
:

Latar Belakang
Gangguan jiwa (jiwa disorder)
merupakan salah satu dari empat
masalah kesehatan utama di negaranegara maju, modern dan industri.
Keempat masalah kesehatan utama
tersebut adalah penyakit degeneratif,
kanker,
gangguan
jiwa
dan
kecelakaan.
World
Health
Organization
tahun
2001
menyatakan bahwa gangguan jiwa
mencapai 13% dari penyakit di
dunia, dibandingkan TBC (7,2%),
kanker (5,8%), jantung (4,4%)
maupun malaria (2,6%). Masalah
gangguan jiwa dapat terus meningkat
jika tidak dilakukan penanganan
(Tobing, 2007).
Jenis gangguan jiwa berat salah
satunya
adalah
schizophrenia.
Sekitar 45% penderita yang masuk
rumah sakit jiwa merupakan pasien
schizophrenia dan sebagian besar
pasien schizophrenia memerlukan
perawatan (rawat inap dan rawat
jalan) yang lama (Maramis, 2008).
Berdasarkan rekam medik RSJ
Provinsi Bali tahun 2013, pasien
gangguan jiwa yang dirawat jalan
sebanyak 7411 orang, dari jumlah
pasien tersebut yang menderita
schizophrenia sebanyak 4748orang
(64,06%). Jumlah pasien gangguan
jiwa yang dirawat inap tahun 2013
sebanyak
5175 orang, yang
menderita schizophrenia 4798 orang
(92,71%).
Sejalan dengan paradigma sehat
yang
dicanangkan
Departemen
Kesehatan yang lebih menekankan
upaya proaktif dan berorientasi pada
upaya
kesehatan
pencegahan
(preventif) dan promotif maka
penanganan masalah kesehatan jiwa
telah bergeser dari hospital based
menjadi
community
based
psychiatric services. Gangguan jiwa
dapat dicegah dan diatasi, untuk itu

penyelesaiannya tidak hanya oleh


tenaga kesehatan tetapi juga perlu
melibatkan peran aktif semua pihak
terutama keluarga.
Penanggulangan masalah pasien
schizophrenia terkendala karena
pengetahuan dan sikap keluarga yang
kurang baik terhadap pasien, hal ini
mengakibatkan pasien schizophrenia
sering mendapat diskriminasi dari
masyarakat di sekitarnya bahkan
dalam
beberapa
kasus
oleh
keluarganya
sendiri.
Bentuk
diskriminasi diantaranya pasien
skizoprenia
sering
mendapat
perlakuan yang tidak manusiawi
seperti perlakuan keras bahkan
pemasungan (Yosep, 2010).
Hukum
pasung
merupakan
metode yang paling "populer" karena
ada dimanamana. Alat pasung pun
sangat beragam dari satu tempat ke
tempat lain. Umumnya hukuman
pasung
dilaksanakan
sebagai
pengganti penjara. Kementerian
kesehatan
Republik
Indonesia
memperkirakan jumlah penderita
gangguan jiwa berat yang mengalami
pemasungan di seluruh Indonesia
mencapai lebih 18 ribu jiwa. Masih
banyaknya
pasien
jiwa
yang
dipasung
sehingga
pemerintah
membuat
program
"menuju
Indonesia Bebas Pasung" tidak akan
terhenti pada tahun 2014, namun
akan terus dilakukan secara bertahap
disesuaikan dengan kondisi yang
ada. Data jumlah pasien pasung di
Provinsi Bali, berdasarkan data
Rumah Sakit Jiwa Provinsi Bali,
jumlah warga yang masih dipasung
saat ini mencapai 300 orang lebih.
Jumlah ini tersebar di 57 kecamatan
di Bali. Jumlah pasien gangguan jiwa
yang diketahui dipasung oleh
keluarganya tahun 2014 mencapai 30
orang dari seluruh Bali. Dari jumlah
itu, masih ada beberapa orang

dengan gangguan jiwa yang tidak


dirawat di rumah sakit karena
sebagian keluarga mereka keberatan
membawa ke rumah sakit dengan
alasan beragam. Sebanyak 14 orang
dengan
gangguan
jiwa
yang
terpasung itu menjalani perawatan
medis di rumah mereka masingmasing.
Keluarga merupakan unit yang
paling dekat dengan pasien dan
merupakan perawat utama bagi
pasien. Oleh karenanya peran
keluarga
sangat
besar
dalam
menentukan cara atau asuhan yang
diperlukan pasien di rumah. Jika
keluarga dipandang sebagai suatu
sistem maka gangguan yang terjadi
pada salah satu anggota dapat
mempengaruhi
seluruh
sistem,
sebaliknya
disfungsi
keluarga
merupakan salah satu penyebab
gangguan pada anggota keluarga.
Keluarga
merupakan
sistem
pendukung utama yang dapat
membantu klien dengan gangguan
jiwa
untuk
beradaptasi
dan
meningkatkan kemampuannya dalam
masyarakat.
Kemampuan keluarga dalam
merawat
pasien
dengan
schizophrenia dan mencegah praktek
pemasungan dapat dipengaruhi oleh
pengetahuan.
Kurangnya
pengetahuan
keluarga
tentang
schizophrenia membuat penafsiran
dan pemahaman yang salah dalam
merawat pasien. Menurut Keliat
(2007) keluarga banyak tidak
mengetahui
bagaimana
cara
menangani perilaku pasien, seperti :
menarik diri, tidak aktif, penampilan
yang tidak serasi, dan komunikasi
yang terhambat. Keluarga juga tidak
mengetahui apa yang masih dapat
diharapkan dari pasien. Masalah
yang dihadapi adalah karena
sebagian besar keluarga pasien

schizophrenia kurang memahami dan


pengetahuan tentang perawatan
pasien schizophrenia masih rendah.
Menurut Yosep (2009) secara umum
dapat diketahui bahwa keluarga
masih kurang memiliki informasiinformasi yang adekuat tentang
schizophrenia,
perjalanan
penyakitnya
dan
bagaimana
tatalaksana untuk mengupayakan
rehabilitasi bagi pasien. Sedangkan
menurut Nurdiyana, dalam Wulansih
(2008), bahwa kekambuhan tinggi
disebabkan
oleh
kurangnya
pengetahuan
keluarga
tentang
penyakit schizophrenia sehingga
peran serta keluarga rendah atau
75,95% (221 orang).
Bahan dan Metode
Jenis
penelitiannnya
adalah
Deskriptip
dengan
rancangan
penelitian yang digunakan adalah
Cross Sectional. Penelitian ini telah
dilaksanakan di ruang perawatan
Rumah Sakit Jiwa Provinsi Bali
pada bulan Nopember Desember
2014. Subyek penelitian ini adalah
keluarga
pasien
schizophrenia
sebanyak 45 orang dengan tehnik
sampling consecutive sampling..
Pengumpulan data menggunakan
kuisioner. Tehnik sampling yang
digunakan
adalah
probability
sampling jenis total Sampling.
Prosedur
analisis
dalam
penelitian ini proses pengolahan data
mengikuti langkah - langkah sebagai
berikut editing, coding, entri data
dan cleaning atau tabulasi. Analisa
data dilakukan setelah semua data
terkumpul
dan
diolah.
Pada
penelitian ini tehnik analisa data
yang digunakan adalah statistik
deskriptif

Hasil Penelitian dan Pembahasan

Karakteristik Subyek Penelitian


a. Umur
No Umur
1 21-30 th
2 31-40 th
3 41-50 th
4 51-60 th
Total

f
12
14
14
5
45

No
1
2
3
4

%
26,7
31,1
31,1
11,1
100

Berdasarkan
tabel
diatas
menunjukkan
karakteristik
berdasarkan umur terbanyak berumur
31-40 tahun dan umur 51-60 tahun,
masing-masing sebanyak yaitu 14
orang (31,1%).
b. Jenis Kelamin
No Jenis Kelamin
1 laki-laki
2 perempuan
Total

f
33
12
45

%
73,3
26,7
100

Berdasarkan
tabel
diatas
menunjukkan
karakteristik
berdasarkan jenis kelamin terbanyak
berjenis kelamin laki-laki yaitu 33
orang (73,3%)
c.

Status Perkawinan
Status
No
Perkawinan
1 Married
2 Single
Total

32
13
45

71,1
28,9
100

Berdasarkan
tabel
diatas
menunjukkan
karakteristik
berdasarkan
status
perkawinan
terbanyak sudah sebanyak 32 orang
(71,1%).

d.

Pendidikan

Pendidikan
SD
SMP
SMA
Sarjana
Total

f
9
9
22
5
45

%
20,0
20,0
48,9
11,1
100

Berdasarkan
tabel
diatas
menunjukkan
karakteristik
berdasarkan pendidikan terbanyak
tamat SMA yatitu 22 orang (48,9%)
e. Pekerjaan
No Pekerjaan
f
%
1 PNS
2
4,4
2 Petani
9
20,0
3 Pedangang/
14
31,1
wiraswasta
4 swasta
20
44,4
Total
45
100
Berdasarkan
tabel
diatas
menunjukkan
karakteristik
berdasarkan pekerjaan terbanyak
swasta yaitu 20 orang (44,4%).
f. Lama Hidup Dengan Pasien
Lama Hidup
No
f
%
Dengan Pasien
1 2->3 tahun
4
8,9
2 4 - >5 tahun
20
44,4
3 lebih dari 5
21
46,7
tahun
Total
45
100
Berdasarkan
tabel
diatas
menunjukkan
karakteristik
berdasarkan lama hidup dengan
pasien terbanyak lebih dari 5 tahun
yaitu 21 orang (46,7%).

g.

Hubungan Dengan Pasien

No
1
2
3
4

Lama
Hidup
Dengan Pasien
Ayah
Pasangan
suami/istri)
Anak
Saudara
Total

5
11

11,1
24,4

9
20
45

20,0
44,4
100

No
1
2
3

Pengetahuan
Baik
Cukup
Kurang
Total

f
26
11
8
45

%
57,8
24,4
17,8
100

Berdasarkan
tabel
diatas
menunjukkan
karakteristik
berdasarkan hubungan dengan pasien
terbanyak adalah saudara yaitu 20
orang (44,4%)

Berdasarkan
tabel
diatas
menunjukkan pengetahuan keluarga
tentang pemasungan terhadap pasien
schizophrenia terbanyak yaitu 26
orang (57,8%) dalam kategori baik,
sebanyak 11 orang (24,4%) dalam
ketegori cukup dan sebanyak 8 orang
(17,8%) dalam kategori kurang.

h.

Pembahasan

Mengikuti Psiko-Edukasi
Keluarga
Mengikuti
No Psiko-Edukasi
f
%
Keluarga
1 Ya
0
0
2 Tidak
45
100
Total
45
100

Berdasarkan
tabel
diatas
menunjukkan
karakteristik
berdasarkan mengikuti psiko-edukasi
keluarga seluruhnya (100%) tidak
pernah
i. Situasi Lingkungan
Situasi
No
f
%
Lingkungan
1 Menerima
38 84,4
2 Tidak
7
15,6
Menerima
Total
45
100
Berdasarkan
tabel
diatas
menunjukkan
karakteristik
berdasarkan
situasi
lingkungan
terbanyak adalah menerima yaitu 38
orang (84,4%).
Pengetahuan keluarga
pemasungan
terhadap
schizophrenia

tentang
pasien

Hasil penelitian menunjukkan


pengetahuan
keluarga
tentang
pemasungan
terhadap
pasien
schizophrenia terbanyak yaitu 26
orang (57,8%) dalam kategori baik.
Pengetahuan pada keluarga pasien
schizophrenia adalah hasil dari tahu
dan memahami setelah orang
melakukan penginderaan terhadap
suatu objek tertentu. Keluarga
diharapkan dapat lebih mengerti,
mengetahui dan memahami yang
pada akhirnya dapat berperan secara
aktif sebagai pendukung utama bagi
penderita
yang
juga
akan
meningkatkan
kemampuan
penyesuaian dirinya serta tidak
rentan lagi terhadap pengaruh stresor
psikososial. Pengetahuan keluarga
tentang pemasungan terhadap pasien
schizophrenia sangat dipengaruhi
oleh informasi yang diterima oleh
keluarga baik melalui petugas
kesehatan maupun sumber informasi
lainnya seperti media cetak dan
elektronik yang berkaitan dengan
pemasungan
terhadap
pasien
schizophrenia.
Responden pada penelitian ini
paling banyak memiliki pengetahuan

baik tentang pemasungan terhadap


pasien
schizophrenia
dapat
diakibatkan karena keluarga sudah
pernah terpapar informasi tentang
cara perawatan pasien schizophrenia
dari petugas kesehatan di Rumah
Sakit Jiwa Provinsi Bali. Pendidikan
kesehatan yang masih dilakukan
sampai saat ini adalah berupa
komunikasi edukasi dan informasi
(KIE) secara perorangan kepada
keluarga pasien pada saat melakukan
kunjungan ke RSJ Provinsi Bali dan
keluarga juga diberikan leaflet
tentang
pemasungan
pasien
gangguan jiwa.
Kondisi di atas sesuai dengan
teori menurut Notoatmodjo (2010)
tingkat pengetahuan selain diperoleh
dari bangku pendidikan, juga dapat
diperoleh dari pengalaman langsung
seperti informasi yang diterima dari
dari pelayanan kesehatan yang rutin
dikunjungi dan pengalaman tidak
langsung seperti informasi yang
didapatkan dari media massa,
sehingga
dapat
mempengaruhi
tingkat pengetahuan keluarga tentang
perawatan pasien halusinasi, selain
itu keluarga juga mempunyai rasa
keingintahuan yang tinggi tentang
gangguan yang diderita keluarganya
sehingga mereka berupaya mencari
tahu tentang gagguan ini dari
berbagai sumber.
Hasil penelitian yang didapat
sesuai dengan teori Keliat (2007)
kemampuan
keluarga
untuk
perawatan anggota keluarga yang
mengalami
gangguan
jiwa
dipengaruhi oleh informasi yang
diterima oleh keluarga tentang cara
perawatan pasien. Informasi yang
tepat akan menghilangkan saling
menyalahkan satu sama lain dalam
perawatan
pasien
dirumah,
memberikan pegangan untuk dapat
berharap
secara
realistis
dan

membantu keluarga mengarahkan


sumber daya yang mereka miliki
pada usaha-usaha yang produktif.
Pemberian informasi yang tepat
dapat dilakukan dengan suatu
program psikoedukasi untuk keluarga
seperti pendidikan kesehatan yang
diberikan oleh tim medis setiap
keluarga kontrol kerumah sakit.
Peneliti
berpendapat,
pengetahuan keluarga dalam kategori
baik, hal ini menunjukan bahwa
pengetahuan tentang pemasungan
pasien skizofrenia sudah diketahui
oleh keluarga. Seringnya keluarga
berinteraksi
dengan
petugas
kesehatan memungkinkan mereka
sering terpapar dan memeroleh
informasi
tentang
halusinasi
sehingga berimbas pada peningkatan
pengetahuan keluarga.
Interaksi
antara
keluarga
dan
petugas
kesehatan terjadi
dimungkinkan
karena rumah sakit jiwa Provinsi
Bali juga
yang memberikan
pelayanan kesehatan jiwa berbasis
komunitas
atau
diistilahkan
pelayanan luar gedurng seperti home
care dan home visit selain
memberikan pelayanan di dalam
gedung. Pelayanan yang diberikan
adalah dengan melakukan kunjungan
rumah pada pasien-pasien khususnya
riwayat pasung dimana salah satu
tindakan yang dilakukan adalah
memberikan
informasi
kepada
keluarga
tentang
dampak
pemasungan serta penyakit yang
diderita oleh anggota keluarga.
Petugas saat memberikan informasi
kepada keluarga memberikan leaflet
tentang dampak pemasungan. Hal ini
sesuai dengan yang peneliti temukan
dikeluarga saat pengambilan data,
keluarga yang mengatakan telah
memiliki leaflet tentang dampak
pemasungan dan perawatan pasien
dirumah yang diperoleh dari petugas

saat berkunjung ke Rumah Sakit


Jiwa Provinsi Bali. Pada saat
pengambilan data sebagaian besar
keluarga menyebutkan ketika mereka
mengantar pasien berobat ke
Puskesmas
biasanya
petugas
kesehatan memberikan pendidikan
tentang
dampak
pemasungan,
penyakit yang diderita anggota
keluarganya serta bagaimana cara
merawat pasien di rumah. Pemberian
informasi
dari
petugas
ikut
berpengaruh
pada
tingkat
pengetahuan keluarga. Informasi
yang diperoleh baik dari pendidikan
formal maupun nonformal dapat
memberikan pengaruh jangka pendek
sehingga menghasilkan perubahan
atau peningkatan pengetahuan.
Simpulan Dan Saran
Simpulan
Pengetahuan
responden
terbanyak yaitu 26 orang (57,8%)
dalam kategori baik. sebaran
kuesioner pengetahuan keluarga
tentang pemasungan terhadap pasien
schizophrenia, seluruh responden
(100%) menjawab benar pada
pertanyaan pasung merupakan salah
satu perlakuan yang merampas
kebebasan dan kesempatan orang
dengan gangguan kejiwaan (ODGJ)
untuk mendapat perawatan yang
memadai. Responden paling banyak
menjawab salah yaitu sebanyak 22
orang (48,9%) pada pertanyaan
tindakan
pemasungan
dapat
menyebabkan ODGJ tidak dapat
menggerakkan anggota badannya
dengan bebas sehingga terjadi atrofi
kaku otot.
Saran
RSJ Provinasi
Meningkatkan upaya promotif
dan preventif melalui program
penyuluhan
kesehatan,
family

gathering, kunjungan rumah (home


visit) kepada keluarga untuk
menangani penderita skizofrenia.
Bagi keluarga
Disarankan untuk aktif mengikuti
kegiatan-kegiatan yang berhubungan
dengan peningkatan pemahaman
tentang perawatan pasien dirumah
seperti
mengikuti
penyuluhanpenyuluhan
sehingga
memiliki
persepsi yang baik dan mampu
memberikan
dukungan
dalam
perawatan pasien skizofrenia.
Daftar Pustaka
Anonim, (2014), Saatnya 'Care'
pada Penderita Gangguan
Jiwa. www.lampungpost.com.
diperoleh tanggal 26 Oktober
2014
Candra, (2011), Peran Serta
Keluarga
Merawat
Klien
dengan Masalah Psikososial
dan Gangguan Jiwa. Medan:
Usu Press.
Kaplan dan Sadock, (2005) Sinopsis
Psikiatri: ilmu pengetahuan
psikiatri klinis. (Jilid 1).
Jakarta: Bina Rupa Aksara
Hawari, (2009), Pendekatan Holistik
Pada Gangguan Jiwa :
Skizofrenia. Jakarta: Balai
Penerbit FKUI
Tobing,
(2007)
Penanganan
Penderita
Skizofrenia:
Tinjauan Psikologis. Makalah.
Simposium
Skizofrenia.
Yogyakarta: RSK Puri Nirmala
Keliat B.A, (2007) Pemberdayaan
Klien dan Keluarga dalam
Perawatan Klien Skizofrenia
dengan Perilaku Kekerasan di

RSJP Bogor. Disertasi. Jakarta.


FKM UI. tidak dipublikasikan
Suryani, (2009) Skizofrenia. online.
Available: www.gatra. com/ 26
Oktober 2014
Maramis, (2008), Catatan Ilmu
Kedokteran Jiwa. Surabaya.
Airlangga University Press.
Maslim,
(2009)
Buku
Saku
Diagnosis Gangguan Jiwa
Rujukan Ringkas Dari PPDGJIII. Jakarta: Bagian ilmu
Kedokteran Jiwa FK Unika
Atmajaya
Minas & Diatri, (2012), Pasung:
Physical
restraint
and
confinement of the mentally ill
in
the
community.
http://creativecommons.org.
diperoleh tanggal 26 Oktober
2014
Nair, 2012, North Rand police probe
'church
of
chains'.
http://www.wwrn.org/article.
diperoleh tanggal 26 Oktober
2014
Notoatmodjo, (2010), Pendidikan
dan
perilaku
kesehatan.
Jakarta: Rineka Cipta
Yosep, (2009) Kesehatan Jiwa.
Jakarta : Refika Aditama
Yosep, (2010) Kesehatan Jiwa. Edisi
revisi. Jakarta : Refika Aditama
Wulansih
(2008),
Tingkat
pengetahuan keluarga dalam
perawatan pasien halusinasi di
Poliklinik Psikiatri Rumah
Sakit Marzoeki Mahdi Bogor.
Tidak dipublikasikan