Anda di halaman 1dari 15

EVALUASI SISTEM PENYANGGA BERDASARKAN PERUBAHAN

DEFORMASI BATUAN DI PT NUSA HALMAHERA MINERALS,


MALUKU UTARA

I.

LATAR BELAKANG
PT Nusa Halmahera Minerals (PTNHM) adalah usaha patungan
antara Newcrest 75% dan PT Aneka Tambang (Persero) 25%. PT Nusa Halmahera
Minerals mengoperasikan Tambang Emas Gosowong di Kabupaten Halmahera
Utara, Propinsi Maluku Utara, Indonesia.
PT Nusa Halmahera Minerals melakukan kegiatan penambangan dengan
metode penambangan Cut and and Fill, yaitu penggalian di tempat penambangan
urat bijih (untuk membuat terowongan), kemudian ditimbun kembali dengan
campuran tufa, pasir dan semen.
Penggalian lubang bukaan bawah tanah (terowongan) mengakibatkan
perubahan distribusi tegangan di sekitar lubang bukaan tersebut. Perubahan
distribusi tegangan akan berpengaruh pada kestabilan lubang bukaan. Kestabilan
lubang bukaan dapat dipengaruhi oleh pelapukan batuan, pengembangan batuan,
gempa bumi, tekanan dan aliran air tanah yang berlebihan dan tegangan yang ada
di sekitar lubang bukaan bawah tanah. Untuk mengatasi masalah ketidakstabilan
pada lubang bukaan bawah tanah adalah dengan melakukan penyanggaan.
Penyanggaan dalam suatu pembukaan lubang bawah tanah merupakan
suatu hal yang sangat penting. Hal ini disebabkan sebelum massa batuan dikenai
kegiatan pembuatan lubang bukaan bawah tanah, massa batuan dapat menahan

sendiri beban yang ditimbulkan dari gaya berat yang dimiliki oleh massa batuan
tersebut. Setelah dibuat lubang bukaan maka kekuatan batuan untuk menyangga
beban di atasnya akan mengalami pengurangan. Sistem penyanggaan yang
digunakan harus sesuai dengan kondisi lubang bukaan bawah tanah sehingga
diharapkan lubang bukaan tersebut dapat menjadi stabil dan aman bagi para
pekerja dan peralatan tambang yang ada di dalam lubang bukaan bawah tanah.

II.

PERUMUSAN MASALAH
Perumusan masalah dari Tugas Akhir ini adalah sebagai berikut:
1. Apakah ada perubahan deformasi batuan di sekeliling terowongan?
2. Penentuan klasifikasi massa batuan dengan metode Rock Mass Rating (RMR).
3. Apakah sistem penyanggahan yang diterapkan pada lubang bukaan
(terowongan ) masih dapat menahan perubahan deformasi batuan yang terjadi
di lubang bukaan bawah tanah.

III.

TUJUAN PENELITIAN
Tujuan yang ingin dicapai dari penenlitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui besar deformasi batuan yang terjadi di lubang bukaan
bawah tanah.
2. Untuk mengetahui klasifikasi massa batuan pada lubang bukaan bawah tanah.
3. Untuk mengetahui apakah jenis penyangga yang digunakan dapat mengatasi
deformasi batuan pada lubang bukaan bawah tanah.

IV.

MANFAAT PENELITIAN
Tugas akhir memberikan manfaat terutama bagi mahasiswa, bagi pihak

Perguruan Tinggi juga perusahaan yang bersangkutan:


1. Bagi Mahasiswa
Dapat meningkatkan wawasan mahasiswa terhadap kondisi nyata perusahaan,
dan dapat menambah kemampuan, serta keyakinan akan teori yang diperoleh dari
perkuliahan.
2. Bagi Perguruan Tinggi
Tercipta hubungan yang baik dengan perusahaan tempat mahasiswa
melaksanakan Tugas Akhir mengenai berbagai persoalan yang muncul untuk
kemudian dicari solusi bersama yang lebih baik.
3. Bagi Perusahaan
Adanya masukan bermanfaat yang dapat digunakan untuk meningkatkan
produktivitas perusahaan sesuai dengan hasil pengamatan yang dilakukan
mahasiswa selama melaksanakan Tugas Akhir.

V.

METODOLOGI PENELITIAN
Tahapan dalam penelitian Tugas Akhir ini adalah studi pustaka,

identifikasi masalah, pengumpulan data dan informasi, pengolahan data, analisa


dan pembahasan, serta kesimpulan dan saran. Adapun urutan pekerjaan penelitian
adalah sebagai berikut:

1. Studi Pustaka
Studi pustaka dilakukan untuk mengumpulkan dan mempelajari
bahan bahan pustaka yang bersumber dari perpustakaan kampus,
karya ilmiah, media internet dan data data dari perusahaan yang
berhubungan dengan permasalahan yang akan dibahas untuk
penyelesaian penelitian ini
2. Identifikasi Masalah
Menemukan masalah yang timbul sehingga dapat dilakukan
penelitian untuk mencari solusi dari akar permasalahan yang sedang
dihadapi.
3. Pengumpulan Data dan Informasi
Data data yang diperoleh untuk dibahas dalam penelitian ini
adalah data primer dan data sekunder.

Data Primer
Data primer adalah data data hasil pengamatan langsung di
lapangan. Data yang diambil yaitu: data kondisi dan orientasi
kekar, data spasi atau jarak kekar, data hasil pengukuran konvergen
meter.

Data Sekunder
Data data yang diperoleh dari pihak perusahaan yang dibutuhkan
sebagai data penunjang. Data yang diambil yaitu: morfologi,
stratigrafi batuan, struktur geologi, data mekanika tanah, data sifat
fisik batuan (bobot isi, berat jenis, porositas, absorpsi, dan

voidratio), sifat mekanik batuan (seperti kuat tekan, kuat tarik,


modulus elastisitas, dan nisbah poisson), data geoteknik, data curah
hujan, geologi umum, peta.
4. Pengolahan Data
Data merupakan suatu dasar dalam melakukan suatu analisa.
Pengolahan data merupakan suatu pekerjaan yang harus dilakukan
dalam proses pencapaian data dengan perhitungan secara teoritis.
5. Analisis dan Pembahasan
Analisa dilakukan berdasarkan data yang diperoleh dari studi
pustaka, data lapangan, pengujian di laboratorium untuk dilakukan
pembahasan sehingga diperoleh suatu penyelesaian masalah.
6. Kesimpulan dan Saran
Dikemukakan dalam bagian kesimpulan dan saran yang dapat
membantu dalam penyelesaian masalah yang sedang dihadapi.

EVALUASI SISTEM PENYANGGA BERDASARKAN PERUBAHAN


DEFORMASI BATUAN DI PT NUSA HALMAHERA MINERALS,
MALUKU UTARA

Studi Pustaka

Pengamatan Lapangan

Pengambilan Data

Data Primer

Data Sekunder
Curah Hujan

Kondis dan Orientasi


Kekar

Peta lokasi

Jenis Batuan

Data laboratorium
mekanika batuan

Spasi /jarak kekar

Penentuan Kelas Batuan Dengan


RMR

Penentuan Penyangga

Kesimpulan dan
Rekomendasi
Gambar 5.1
Diagram Alir Kegiatan

VI.

LOKASI PENELITIAN
Tempat pelaksanaan Tugas Akhir ini berada di PT NUSA HALMAHERA
MINERALS, MALUKU UTARA

VII.

WAKTU PENELITIAN
Waktu pelaksanaan dari Tugas Akhir ini adalah tanggal Februari 2016
sampai April 2016, (waktu disesuaikan dengan kebijaksanaan Perusahaan) dengan
jadwal sebagai berikut:
Tabel 7.1
Jadwal Rencana Kegiatan
No

Jenis Kegiatan
1

Januari
Kampus
2
3

Februari
4

Maret
Lapangan ( Perusahaan)
4
5
6
7
8
9

April
10

11

12

Pembuatan
1
Proposal
Konfirmasi
2
Kegiatan
Orientasi
3
Lapangan
Pengambilan
4
Data
5

Analisis Data
Penyusunan

6
Laporan
Presentasi
7
Tugas Akhir

VIII.

TINJAUAN PUSTAKA
8.1.

Klasifikasi Massa Batuan


Klasifikasi massa batuan adalah pembagian massa batuan menjadi grup-grup

yang mempunyai kesamaan sifat teknis. Dalam kenyataannya, klasifikasi

digunakan sebagai dasar praktis untuk merancang struktur di bawah tanah yang
kompleks. Beberapa metode klasifikasi massa batuan yang umum digunakan
adalah:
8.1.1. Metode Rock Load Clasification
Menurut Terzaghi (1946), klasifikasi massa batuan yang digunakan untuk
penyangga besi pada terowongan.
8.1.2. Klasifikasi Stand-Up Time
Stini (1950) mengemukakan, berbagai kondisi yang dapat diterapkan pada
terowongan. Menurutnya struktur batuan dan tegangan disekitar terowongan
sangat berpengaruh pada massa batuan. Berdasarkan pada hal itu pada tahun 1958,
Lauffer mengemukakan beberapa hal mengenai Active Unsupported Span dan
Stand-Up Time. Active Unsupported Span adalah jarak dari permukaan ke
penyangga atau lebar bukaan terowongan. Stand-Up Time adalah jangka waktu
dimana terowongan dapat stabil tanpa penyangga sesudah penggalian. Faktor
yang mempengaruhi Stand-Up Time, seperti orientasi sumbu terowongan, bentuk
penampang terowongan, metode penggalian dan metode penyanggaan.
Hubungan antara Span dengan Stand-Up Time bersifat langsung karena
penambahan Span terowongan akan mengurangi Stand-Up Time.

8.1.3. Indeks Rock Quality Designation (RQD)


Menurut Deere (1967), RQD didefinisikan sebagai persentase

dari

perolehan intact core yag mempunyai ukuran lebih dari 100 mm (4 inchi) dari
total panjang core hasil pemboran.

RQD (%)
< 25
25 - 50
50 - 75
75 - 90
90 - 100

Table 8.1
Indeks RQD Dengan Kualitas Batuan
Kuliatas Batuan
Sangat Buruk
Buruk
Sedang
Baik
Sangat Baik

8.1.4. Konsep Rock Structure Rating (RSR)


Menurut Wickham, Tiedemann, dan Skinner (1972), konsep ini
menyajikan metode kuantitatif untuk mendeskripsikan kualitas massa batuan dan
untuk memilih penyangga yang tepat. Ini merupakan system kualifikasi massa
batuan yang lengkap yang diusulkan Terzagih pada 1946.
8.1.5. Klasifikasi Rock Mass Rating (RMR)
Klasifikasi RMR atau lebih dikenal dengan klasifikasi Geomekanika, telah
dikembangkan dan dimodifikasi oleh Bieniawski sejak 1972 -1973. Massa batuan
yang di klsifikasi secara RMR merupakan hasil total penjumlahan dari
pembobotan yang dilakukan dari setiap parameternya. Ada 6 parameter yang
digunakan untuk mengklasifikasikan secara RMR, yaitu:
a. Kuat tekan uniaksial
Suatu materi batuan yang mempunyai kekuatan tinggi tetapi dengan
jarak ketidakmenerusan yang sangat dekat maka massa batuannya
tergolong lemah.
Tabel 8.2
Klasifikasi Batuan Utuh (Deere,1967)
UCS (Mpa)
Pemerian Kekuatan
1 - 25
Sangat Lemah
25 - 50
Lemah

50 - 100
100 - 200
>200

Sedang
Kuat
Sangat Kuat

b. Rock Quality Designation (RQD)


Menurut Deere (1967), RQD didefinisikan sebagai persentase dari
perolehan intact core yag mempunyai ukuran lebih dari 100 mm (4 inchi)
dari total panjang core hasil pemboran.
c. Spasi Ketidakmenerusan
Adalah jarak antara bidang-bidang lemah dalam massa batuan pada
arah tegak lurus bidang-bidang ketidakmenerusan.
d. Kondisi Ketidakmenerusan
Parameter ketidakmenerusan terdiri dari kekasaran permukaan
ketidakmenerusan, pemisahan, pelapukan batuan dinding dari bidang
lemah, panjang atau kesinambungan dan material pengisi.
e. Kondisi Air Tanah
Suatu keadaan struktur yang stabil dalam keadaan kering akan menjadi
tidak stabil bila kandungan airnya meningkat.
f. Orientasi Ketidakmenerusan
Arah arah dari pembuatan lubang bukaan (terowongan) dan orientasi
ketidakmenerusan dangat penting dalam menetapkan sistem penyanggaan.
Tabel 8.3
Klasifikasi Geomekanik Massa Batuan (Bieniawski, 1973)
1.

Parameter
Kuat

PLI (MPa)

>10

4 - 10

Selang Pembobotan
2-4

1-2

UCS

10

Tekan
Batuan

UCS (MPa)

> 250

100 - 250

50 - 100

25 - 50

5 - 25

1-5

<1

15
90 - 100
20
>2 m
20

12
75 90
17
0.6-2 m
15

7
50 - 75
13
0.2-0.6 m
10

4
25 - 50
8
0.06-0.2 m
8

1
< 25
3
<0.06 m
5

Muka agak kasar,

Muka agak kasar,

slickensided,

Gouge lunak >5 mm,

Utuh
Bobot
RQD (%)
Bobot
Jarak Kekar
Bobot

2.
3.

Muka sangat
kasar, tak
4.

Kondisi Kekar

Muka

menerus, tak

pemisahan<1mm,

pemisahan<1mm,

gouge <5mm,

pemisahan >5 mm,

terpisah, dinding

dinding agak lapuk

dinding sangat lapuk

pemisahan 1-

menerus

tak lapuk
Bobot
Aliran
Perbandingan
5.

Air Tanah

Tekana air denga


tegangan utama

5mm, menerus

30
kosong

25
<10

20
10 - 25

10
25 - 125

0
>125

<0.1

0.1 0.2

0.2 - 0.5

>0.5

Kering
15

Lembab
10

Basah
7

Menetes
4

Mengalir
0

major
Bobot

Tabel 8.4
Kelas Massa Batuan (Bieniawski, 1973)
Bobot
No. Kelas
Deskripsi

100 - 81
I
Batu sangat
baik

80 - 61
II

60 - 41
III

40 - 21
IV

Batu Baik

Batu Sedang

Batu Buruk

<20
V
Batu Sangat
Buruk

Penentuan beban penyangga yang ditentukan dari RMR menurut (Unal, 1983):

Keterangan:

P = Beban penyangga, kg/m2 (kN)


B = Lebar terowongan, m
= Density batuan, kg/m3

8.2.

Sistem penyangga

11

Tujuan utama dari merancang penyangga pada lubang bukaan di bawah


tanah adalah untuk membantu massa batuan penyanga dirinya sendiri.
8.2.1. Secara umum penyangga dapat dibagi menjadi dua bagian:
1. Penyangga permanen
Penyangga yang dipasang pada lubang bukaan dengan rentang waktu
yang lama, misalnya pada terowongan sipil.
2. Penyangga sementara
Penyangga yang bersifat sementara , dengan tujuan untuk memberikan
keyakinan kondisi kerja yang aman selama proses penggalian kepada
para pekerja.
8.2.2. Sistem penyangga terbagi atas beberapa macam diantaranya:
1. Penyangga Kayu
Kayu sebagai penyangga harus mampu menyangga beban dengan aman.
Karenaya dalam perancangan penyangga kayu, kekuatan kayu harus dapat
menyangga beban yang ada. Keuntungan yang dimiliki maerial kayu adalah:
Mudah dibawa, dibentuk dan dipasang
Mudah untuk dideteksi apabila penyangganya rusak
Sisa potongan atau pahatan dapat digunakan sebagai pasak,
material isian
2. Penyangga Baja
Keuntungan penggunaan penyangga baja antara lain:
a. Dapat dibentuk sesuai dengan kebutuhan
b. Reatif lebih mudah dalam pelaksanaanya

12

Jenis jenis penyangga antara lain:


a. Continous rib type
b. Rib and Post type
c. Rib and past wall type
d. Rib wall plane andpost type
e. Full circle rib type
3. Rock Bolt
Penggunaan baut batuan untuk menyangga kestabilan atap dan dinding
lubang bukaan, tergantung kepada kuat ikat batuan dengan batuan.
4. Penyangga Beton
Beton adalah campura antara semen, pasir dan air. Beberapa alasan
penggunaan beton untuk penyanggaan antara lain:
a. Bahan-bahan mudah didapat
b. Mempunyai kuat tekan tinggi
c. Mudah dalam pelaksanaan konstruksi
d. Tahan terhadap pengaruh cuaca
e. Relative ekonomis
5. Penyangga khusus
a. Forepoling
Adalah salah satu bentuk penyangga dari kayu atau baja atau
kombinasi yang diterapkan untuk permukaan kerja pada penggalian batuan
lunak.
b. Wiremesh

13

Adalah anyaman kawat yang terbuat dari baja yang berfungsi untuk
menahan atap atau dinding terowongan. Pada umumnya pemasangan
wiremesh menggunakan rock bolt agar wiremesh dapat terpasang di
dinding terowongan.
c. Truss Bolting
Digunakan untuk mengatasi kondisi atap yang jelek dimana kondisi
tersebut tidak dapat diatasi dengan rock bolt atau metode konvensional
lainnya.

IX.

PENUTUP
Demikian Proposal Tugas Akhir ini saya susun dengan judul Evaluasi Sistem
Penyangga Berdasarkan Perubahan Deformasi Batuan Di Pt Nusa Halmahera
Minerals, Maluku Utara, mohon agar menjadi bahan penjelasan dan
pertimbangan bagi semua pihak. Oleh karena itu, saya berharap bantuan dari
semua pihak agar dapat diberikan kesempatan untuk melaksanakan Tugas Akhir
ini. Atas perhatian dan bantuannya, saya ucapkan banyak terima kasih.

Jakarta, Januari 2016

14

Maringan Lamhot B.
(073.12.113)
081210931653
maringan.ftke@gmail.com

15