Anda di halaman 1dari 23

BAB IV

ANALISIS PEMIKIRAN NURCHOLISH MADJID TENTANG


SEKULARISASI POLITIK

A.

Kerangka Metodologis Pemikiran Nurcholish


1.

Al-Quran dan Kebebasan Berpikir


Tidak dapat dipungkiri, bahwa dalam Islam pendekatan terhadap al-

Quran adalah awal untuk memaknai dan memahami apa yang menjadi
pengetahuan berikutnya. Sebagai primary resources, al-Quran tidak hanya
menjadi media bagi ilmu pengetahuan tetapi juga objek ilmu pengetahuan itu
sendiri. Karenanya, pemahaman awal terhadap al-Quran menjadi kata kunci
untuk kemudian menetapkan sebuah hukum. Apalagi kemudian didasarkan atas
fakta dan ketetapan para ulama (ijma) bahwa al-Quran menempati posisi
teratas1 dalam hierarki sumber hukum Islam.
Penafsiran terhadap al-Qur`an merupakan tahapan awal yang menentukan
ekspresi keberagamaan seseorang. Karena bagaimanapun juga agama itu pada
dasarnya mengandaikan hadirnya sebuah struktur masyarakat yang mengakui
sebuah otoritas. Kristen mengakui Bibble dan umat Islam mengakui Qur`an.
Kita menerima al-Qur`an itu sebagai kitab suci.
Lalu alat apakah yang bisa kita gunakan untuk mencari makna dibalik
teks-teks suci tersebut? Dalam khazanah tafsir klasik persoalan ini sebenarnya

Imam Syafiie menggambarkan hierariki sumber hukum Islam dalam empat sumber yakni, alQuran, Hadits, Ijma dan Qiyas.

100

101
sudah banyak dibahas. Namun, satu hal yang perlu dicermati bersama, bahwa
keterlibatan manusia dalam kerja-kerja penafsiran, selalu melibatkan proses
penalaran. Karenanya, akan menjadi sangat penting untuk melihat bagaimana
akal berfungsi dalam kegiatan tafsir menafsir ini.
Hal yang paling mendasar dari persoalan ini sebenarnya adalah sejauh
mana kemampuan akal ketika berhadapan dengan wahyu Tuhan. Atau pada titik
yang paling ekstrem bisa juga diajukan pertanyaaan yang agak menggelitik,
bisakah kita melawan dan mengalahkan wahyu Tuhan? Adakah misalnya batasbatas operasi akal ketika menjadi subyek penafsir kehendak Tuhan. Ataukah
batasannya itu justru merupakan kebebasan tanpa batas, seperti ketika Tuhan
menggambarkan burung yang sedemikian bebas terbang dan tak seorangpun
bisa menghentikannya kecuali dirinya ?
Dua obyek yang menjadi fokus persoalan kita adalah kebebasan
berfikir/akal (manusia) dan wahyu/al-Quran (Tuhan). Sebagian besar umat
Islam menilai akal sebagai satu hal yang bersifat profan, partikular dan tidak
memiliki kebenaran mutlak. Sedangkan wahyu, karena diyakini sebagai fatwa
langit sudah barang tentu memiliki kebenaran mutlak. Kurang lebih
demikianlah pendapat umum yang biasa kita tangkap dari corak pemikiran
keumuman umat Islam.
Pandangan ini menimbulkan implikasi terhadap agama yang hanya
menjadi identitas tanpa signifikansi. Karena agama hanya dimiliki oleh individu
yang otonom memiliki kebebasan dan bertanggung jawab. Dan semuanya ada
dalam manusia yang berakal. Bukankah agama itu sendiri adalah wadl`un

102
ilaahiyyun saiqun lidzawil `uqquli bi ikhtiyaarihi iyyahu ila al-sholaahi fil haal
wal falaahi fil maal. Agama hanya turun pada manusia yang berakal dan
memiliki kehendak untuk bebas memilih jalan menuju kebahagiaan di dunia dan
akhirat.
Menurut Nurcholish, ijtihad merupakan sebuah proses yang harus
dilakukan secara terus menerus dari pemikiran orisinal, berlandaskan penilain
atas gejala-gejala sosial dan sejarah, yang sewaktu-waktu harus ditinjau kembali
benar salahnya menurut ukuran prinsip-prinsip Islam. Karena ijtihad merupakan
proses, maka sudah seharusnya umat Islam menggali kebenaran tanpa berhenti.
Namun, yang menjadi masalah adalah, selama pengamatan penulis dalam
membaca karya-karya Nurcholish, dalam menafsirkan teks-teks al-Quran
sangat jarang Nurcholish atau malah kelupaan terhadap penampilan sebabsebab turunnya ayat al-Quran, padahal hal itu merupakan salah satu hal
penguat sehingga apa yang disajikan Nurcholish tidak terkesan kehilangan
kekayaan nuansa dalam arti konsep-konsep yang dibangunnya sendiri.
Menurut hemat penulis, apa yang dilakukan oleh Nurcholish adalah
sebuah tindakan politik yang menginginkan agar Islam tetap dijalankan oleh
umatnya. Tindakan politik itu yaitu dengan selalu menyandarkan segala sesuatu
kepada teks-teks al-Quran, hal ini merupakan sebuah keniscayaan.
Politik dari pengertian orang salaf, dalam pengajian KH. Dimyati Rois,
disebutkan adalah sebuah upaya untuk tetap membuat umat Islam tetap jaya dan
tidak ketinggalan dari barat. Sudah sepantasnya kita tetap berpegang kepada alQuran dan hadits demi jayanya Islam.

103
Sehingga apa yang dijelaskan secara panjang lebar di depan tentang AlQuran dan Kebebasan Berpikir merupakan sebuah langkah politik dengan
mengembalikan kembali al-Quran sebagai dasar utama tanpa melupakan
kebebasan berfikir yang merupakan anugerah yang diberikan oleh Allah SWT.

2. Sosio-Politik
Untuk memahami setting sosial politik kehidupan Nurcholish, terutama
masalah gagasan dan pemikiran Islam yang dilontarkan oleh Nucholish, hal itu
bisa dilacak aktifitasnya di lingkungan keluarga, di dunia pendidikan, serta
aktifitasnya dalam organisasi dan juga tokoh yang dijadikan panutan oleh
Nurcholish Madjid. Dari latar belakang inilah, paling tidak, gagasan dan
pemikiran Nurcholish diwarnai dan dipengaruhi.
Pada

dasarnya,

latar

belakang

pemikiran

Nurcholish

memiliki

keseimbangan antara pemikiran tradisional dan pemikiran modernis. Hal ini


dikarenakan, Nurcholish Madjid adalah seorang tokoh yang secara intelektual
dididik dan dibesarkan dalam lingkungan tradisi keagamaan Islam yang kuat
dan dunia keilmuan Barat yang kritis2 Seperti yang sudah dibahas diatas,
pemikiran Nurcholish Madjid sedemikian rupa tidak bisa dilepaskan dari
pengaruh lingkungan rumah dan eksistensi keluarganya. Pengaruh yang paling
menonjol terletak pada seorang ayah yang berperan besar dalam membentuk
embrio dan watak pemikiran keyakinan dan intelektualitas awal Nurcholish
Madjid. Ayahnya yang pertama-tama mengajarkan, mendidik, dan menanamkan

Junaidi, Junaidi Idrus, Rekonstruksi Pemikiran Nurcholish Madjid, Yogyakarta: Logung Pustaka,
2004, hlm. 1

104
nilai-nilai Quran dalam jiwa Nurcholish Madjid meskipun ketika itu usia
Nurcholish Madjid 6 Tahun.3
Pada sisi lain, ayahnya yang merupakan salah satu tokoh partai politik
Islam Masyumi -yang berlatar belakang tradisionalis dan modernis- juga salah
satu yang membangun dasar-dasar pemikiran Nurcholish secara politik.4
Pengalaman yang sangat berpengaruh lagi terhadap perkembangan
intelektual Nurcholish Madjid adalah studinya di Pesantren Modern Darussalam
Gontor, Ponorogo, Jawa Timur. Pendidikan di Gontor ini yang pada akhirnya
menunjang kemampuan Nurcholish menguasai bahasa Internasional, yaitu
Arab-Inggris. Dengan kemampuan tersebut, Nurcholish mampu mengakses
bahan bacaan yang cukup luas termasuk khazanah kitab-kitab klasik.5 Inilah
yang menjadi andalan bagi kelanjutan belajar Nurcholish Madjid sehingga
menghasilkan keluasan wawasan yang dijadikan bekal saat pergi ke Jakarta
pada tahun 1961.6
Dorongan untuk membahas masalah keharusan pembaruan pemikiran
Islam dan salah satunya adalah tema tentang sekularisasi dan masalah integrasi
umat, menurut Nurcholish Madjid, merupakan sebuah keharusan mengingat
kaum Muslimin Indonesia telah mengalami kejumudan dalam pemikiran dan
pengembangan ajaran-ajaran Islam.7 Namun, sebuah dilema segera dihadapkan

Ibid. hlm. 20

Idris Thaha, Demokrasi religius: Pemikiran Politik Nurcholish Madjid dan M. Amien Rais,
Bandung: Mizan, hlm. 98
5

Junaidi, op. cit., hlm. 22

Ibid., hlm. 26

Nurcholish Madjid, Islam kemodernan dan keIndonesiaan, Bandung: Mizan, 1987, hlm. 204

105
kepada umat Islam: apakah akan memilih menempuh jalan pembaruan dalam
dirinya, dengan merugikan integrasi yang selama ini didambakan, ataukah akan
mempertahankan dilakukannya usaha-usaha ke arah integrasi itu, sekalipun
dengan akibat keharusan ditolerirnya kebekuan pemikiran dan hilangnya
kekuatan-kekuatan moral yang ampuh?
Memang, ada sebuah dilema ketika harus memilih apakah akan memilih
jalur pemikiran dirinya, dengan merugikan integrasi yang didambakan, ataukah
akan mempertahankan dilakukannya usaha-usaha ke arah integrasi itu,
sekalipun dengan akibat keharusan ditolerirnya kebekuan pemikiran dan
hilangnya kekuatan-kekuatan moral yang ampuh?
Nurcholish sepengetahuan penulis menggunakan langkah pertama, setelah
perjalanannya ke Amerika, hal ini bisa dikarenakan atas keterpukauannya atas
apa yang dilihat oleh Nurcholish di Amerika ataukah karena keprihatinannya
melihat kejumudan pemikiran Islam. Menurut hemat penulis, Nurcholish dilihat
dari sosio-politik hanya ingin menyelamatkan Islam dari belenggu kejumudan
yang sudah sedemikian mengakar.

B.

Analisis pemikiran Nurcholish Madjid tentang sekularisasi Politik


1.

Sekularisasi
Sebelum penulis menganalisis sekularisasi politik pemikiran Nurcholish,

ada baiknya jika penulis menganalisis sekularisasi dalam kajian akidah terlebih
dahulu, penulis merasa penting untuk mencantumkannya, karena ini salah satu
yang dijadikan pijakan oleh Nurcholish dalam menggagas paham sekularisasi.

106
Penulis sendiri menganalisis, bahwa kelompok yang anti-sekularisasi
menolak dengan alasan:
1.

Dikarenakan memang tidak ada aturan yang jelas dari Islam mengenai
konsep sekularisasi ini. Hal ini bisa disandarkan pada salah satu tokoh
yang menolak dengan tegas tentang konsep sekuler, sekulerisme, dan
sekulerisme. Al-Attas, pada dasarnya Islam secara total menolak
penerapan apa pun mengenai konsep-konsep sekuler, sekularisasi, maupun
sekularisme, karena semuanya itu bukanlah milik Islam dan berlawanan
dengan Islam dalam segala hal.8

2.

Penulis menganalisisnya dengan melihat latar belakang sejarah. Jika


disimak latar belakang yang menyebabkan terjadinya sekularisasi di
Indonesia, hal ini tentu sangat jauh berbeda dengan apa yang terjadi di
Barat, yang notabene, sebagai tempat munculnya sekularisasi dan
sekularisme, sehingga apa yang terjadi di Barat belum tentu bisa
digunakan di Indonesia, apalagi bagi kebanyakan tokoh yang dengan tegas
menolak penerapan sekularisasi.

3.

Adanya salah faham dalam penggunaan makna. Suatu perdebatan


biasanya memang hanya berupa salah pengertian yang disebabkan karena
perbedaan persepsi atau sudut pandang. Begitu pula dengan istilah
sekularisasi, harus diketahui dari sudut pandang mana orang melihatnya.
Melihat dengan kacamata Barat tentu saja akan berlainan dengan
kacamata kita orang Indonesia, begitu pula kalau yang digunakan adalah

Syed Muhammad Al-Naquib Al-Attas, Islam dan Sekularisme, 1981, Penerjemah: Karsidjo
Djojosoewarno, hal. 33

107
kacamata orang lain, karena masing-masingnya dilatarbelakangi oleh
kultur, politik, maupun sejarah yang berlainan.9
Oleh karena itu, ada baiknya jika kita menyimak kata-kata Nurcholish
dalam membedakan antara konsep sekularisasi dengan sekularisme:
Sekularisasi tidaklah dimaksudkan sebagai penerapan sekulerime, sebab
seculerisme is the name for an ideology, a new closed world view with function
very much like a new religion. Dalam hal ini yang dimaksudkan ialah setiap
bentuk liberating development proses pembebasan ini diperlukan karena umat
Islam, akibat perjalanan sejarahnya sendiri, tidak sanggup lagi membedakan
mana nilai-nilai yang disangka Islami itu mana yang transendental dan mana
yang temporal.
Jadi, menurut Nurcholish, sekularisasi tidaklah dimaksudkan sebagai
penerapan sekulerisme dan mengubah kaum Muslimin menjadi sekularis. Tetapi
dimaksudkan untuk menduniawikan nilai-nilai yang sudah semestinya bersifat
duniawi, dan melepaskan umat Islam dari kecenderungan umat Islam umtuk
mengukhrawikannya. Dengan demikian kesedian mental untuk selalu menguji
dan menguji kebenaran suatu nilai dihadapkan kenyataan-kenyataan materill,
moral ataupun historis, menjadi sifat kaum Muslimin. Lebih lanjut, sekularisasi
dimaksudkan untuk lebih memantapkan tugas duniawi manusia sebagi khalifah
allah di bumi.
Dari pemikiran Nurcholish diatas, sudah tentu terdapat pro dan kontra,
Rasjidi adalah seorang yang paling keras menentang dalam pengistilahan yang

Ibid

108
digagas oleh Nurcholish. Terbukti dengan terbitnya buku Koreksi terhadap buku
Nurcholish Madjid tentang sekularisasi. sepengetahuan penulis, dalam buku 106
halaman tersebut, lebih pada perdebatan masalah istilah sekularisasi.
Soal istilah sekularisasi itu sendiri, misalnya, telah menimbulkan
polemik keras sejak diluncurkan oleh Nurcholish Madjid pada 2 Januari 1970.
Ketika itu, dalam diskusi yang diadakan oleh HMI, PII, GPI, dan Persami, di
Menteng Raya 58, Nurcholish Madjid Nurcholish Madjid menyatakan:
dengan sekularisasi tidaklah dimaksudkan penerapan sekularisme dan merobah
kaum

muslimin

menjadi

kaum

sekularis.

Tapi

dimaksudkan

untuk

menduniakan nilai-nilai yang sudah semestinya bersifat duniawi dan


melepaskan ummat Islam dari kecenderungan untuk mengukhrowikannya.
Dalam bukunya, HM Rasjidi mengritik keras cara-cara Nurcholish dalam
menggunakan istilah yang dapat menimbulkan pengertian yang menyesatkan di
kalangan muslim. Dengan mengampanyekan sekularisasi, Menurut Rasjidi,
Nurcholish Madjid melukiskan seolah-olah Islam memerintahkan sekularisasi
dalam arti Tauhid.
Dalam pengantar bukunya, ia semula merasa tidak perlu ikut berpolemik,
karena lebih suka mengutamakan pendekatan secara personal dan persaudaraan
serta dalam kalangan terbatas, sehingga dapat menghasilkan konklusi yang tepat
dengan tidak menghebohkan masyarakat yang sebagian besar tidak dapat
mengikuti argumentasi serta menyelami bidang perbedaan pendapat. Ia
mengaku telah tiga kali menyampaikan pesan itu kepada Nurcholish, melalui
teman-temannya. Namun, harapan Prof. Rasjidi tidak mendapat tanggapan.

109
Kata Rasjidi: Kalau soalnya seperti yang dituturkan saudara Nurcholish,
maka segala sesuatu telah menjadi arbitrair atau semau gue. Secara ekstrim
boleh saja kata sekularisasi tersebut diganti dengan pisang goreng, atau kopi
jahe atau es jahe dan sebagainya dengan tidak ada konsekuensi apa-apa. Kalau
saya berkata, yang saya maksud dengan pisang goreng adalah sikap manusia
yang mengesakan Tuhan dan menganggap benda-benda lain tidak layak dipuja,
maka tak seorang pun berhak melarang saya berbuat demikian. Mereka hanya
ketawa dalam hati mereka, karena keanehan istilah tersebut.
Sebagai ilmuwan sejati, Rasjidi berusaha berdisiplin dalam menggunakan
istilah. Bahkan, ia mengutip pendapat Alan Richardson dalam bukunya
Religion in Contemporary Debate, yang menyatakan, bahwa Saya lebih
suka mengatakan bahwa tujuan agama Kristen adalah untuk menghilangkan
bidang sekuler, sehingga tak ada bidang kehidupan yang berada di luar kuasa
Kristus.
Bagi para ilmuwan, kedisiplinan dalam penggunaan istilah adalah hal yang
prinsip. Sebab, satu istilah yang sudah dikenal secara luas di kalangan ilmuwan,
tidak mudah begitu saja diubah, tanpa ada teori baru yang kuat.
Istilah sekularisasi merupakan istilah yang mapan dan tidak bisa begitu
saja digunakan secara serampangan. Apalagi, istilah yang muncul dalam latar
belakang tradisi Kristen-Barat itu kemudian dicangkokkan begitu saja ke dalam
khazanah tradisi Islam. Cangkok mencangkok satu istilah tanpa melalui proses
adopsi dan adapsi yang tepat akan menimbulkan dampak yang fatal.

110
Ia menulis dalam bukunya dengan nada prihatin terhadap ulah anak muda
itu: Soal yang begitu prinsipil tidak sepatutnya dilancarkan kepada umum
sebelum ada diskusi yang matang di kalangan orang-orang yang merasa
bertanggung jawab.
Itulah sepenggal kisah sosok Nurcholish Madjid saat diberi nasehat oleh
seorang ilmuwan besar seperti Prof. Rasjidi. Ketika itu, Nurcholish bukanlah
apa-apa dibanding Rasjidi. Tetapi, nasehat Rasjidi tidak digubris dan
dibiarkan saja berlalu.
Selain oleh Rasjidi, tokoh yang menolak Nurcholish adalah Amien Rais,
walau dalam makalah maupun risalahnya tidak pernah menyebutkan nama
Nurcholish, namun dari isi statementnya dapat diketahui bahwa ia menolak
konsep yang ditawarkan oleh Nurcholish. Menurutnya:
Fenomena Amerika Latin. Memperlihatkan bahwa tesis sekularisasi tidak laku di
benua Katolik itu, sehingga asumsi bahwa sekularisasi adalah suatu gejala universal tidak
dapat dipertahankan lagi. Karena itu, kita agak heran bahwa ada sementara orang
Indonesia yang menawarkan sekularisasi, seolah-olah tidak tahu bahwa dalam konteks
budaya dan politik Barat sendiri sekularisasi itu sudah mulai goyah dan tidak laku.
Barangkali, hal ini terjadi karena adanya semacam kelatahan intelektual yang mudahmudahan tidak akan terulang lagi di masa depan.10

Selain yang kontra diatas, ada pula tokoh yang pro kepada Nurcholish,
diantaranya adalah Dawam Rahardjo dan Komaruddin Hidayat. Ini tidak perlu
dijelaskan lagi karena sudah ada pembahasan dalam bab sebelumnya.
Dari penjelasan diatas, penulis dapat menganalisa bahwasanya apa yang
terjadi antara Nurcholish Madjid dengan tokoh-tokoh yang kontra terutama
dengan HM. Rasjidi, hanya merupakan sebuah kesalah pahaman dalam
penggunaan istilah kata, hal ini pun pada akhirnya disadari oleh Nurcholish,
10

Pardoyo, Sekularisasi dalam Polemik, Jakarta: PT. Temprint, 1993, hlm. 104

111
sehingga Nurcholish tidak pernah menggunakan istilah sekularisasi lagi walau
dalam pelaksanaan sehari-hari masih menerapkan proses sekularisasi.
Menyangkut gagasan sekularisasi sendiri, Nurcholish terpengaruh oleh
pemikiran Cox maupun bellah. Dalam pengamatan penulis, paling tidak ada tiga
konsep yang terdapat kemiripan antara konsep yang dilontarkan oleh Nurcholish
Madjid dengan apa yang ditawarkan oleh Harvey Cox:
a.

Secara etimologi, hal ini dapat dilihat sebagai berikut:

Menurut Harvey Cox:


Istilah sekuler berasal dari kata Latin saeculum yang berarti ganda, ruang
dan waktu. Ruang menunjuk pada pengertian duniawi, sedangkan waktu
menunjuk pada pengertian sekarang atau zaman kini. Jadi kata saeculum berarti
masa kini atau zaman kini. Dan masa kini atau zaman kini menunjuk pada
peristiwa di dunia ini, atau berupa peristiwa masa kini. Atau bisa dikatakan
bahwa makna sekuler lebih ditekankan pada waktu atau periode tertentu di
dunia yang dipandang sebagai suatu proses sejarah.
Sedang jika menurut Nurcholish Madjid:
Kata-kata sekuler dan sekularisasi berasal dari bahasa barat (Inggris,
Belanda dan lain-lain). Sedangkan asal kata-kata itu, sebenarnya, dari bahasa
Latin, yaitu Saeculum, yang artinya zaman sekarang ini. Dan kata-kata
saeculum sebenarnya adalah salah satu dari dua kata latin yang berarti dunia.
Kata lainnya adalah mundus. Tetapi, jika saeculum adalah kata waktu, maka
mundus adalah kata ruang.

112
b.

Secara Analogy

Dalam masalah analogy ini, pada dasarnya konsep yang ditawarkan oleh
Harvey Cox dengan apa yang ditawarkan oleh Nurcholish memiliki kesamaan,
yaitu kesamaan dalam penganalogikan istilah. Menurut keduanya sekularisasi
dan sekularisme akan semakin jelas jika di analogikan dengan pembedaan
antara konsep rasionalisasi dan rasionalisme. Yang membedakan diantara
keduanya adalah dalam hal legitimasi sekularisasi, jika Harvey cox
menyandarkan pada ajaran Kristen, sebaliknya dengan Nurcholish yang
menyandarkan pada ajaran agama.
Sungguh menarik ketika membicarakan masalah ide yang muncul dari
pemikiran Nurcholish seperti dikutip oleh Harun Nasution, yaitu:
1.

Urusan bumi ini diserahkan kepada umat manusia. Manusia diberi


wewenang penuh untuk memahami dunia ini.

2.

Akal pikiran adalah alat manusia untuk memahami dan mencari


pemecahan masalah-masalah duniawi.

3.

Oleh karena itu terdapat konstelasi antara sekularisasi dan rasionalisasi.

4.

Terdapat

pula

konsistensi

antara

rasionalisasi

dan

desakralisasi

(desakralisasi sama dengan sekularisasi dala memandang yang sakral


bukan lagi sakral.
5.

Membedakan antara hari Dunia dengan hari Agama. Pada hari Dunia yang
berlaku adalah hokum kemayarakatan manusia dan pada hari Agama yang
berlaku hokum ukhrawi.

6.

Bismillah artinya Atas Nama Tuhan dan bukan Dengan Nama Allah.

113
7.

Al-Rahman sifat kasih Tuhan di Dunia dan Al-Rahim kasih sayang Tuhan
di akhirat.

8.

Dimensi kehidupan duniawi adalah ilmi dan kehidupan spiritual adalah


ukhrawi.

9.

Islam adalah din, din adalah agama, dan agama tidak bersifat ideologis,
politis, ekonomis, sosiologis, dan sebagainya.

10.

Apa yang disebut negara Islam tidak ada.11


Jika melihat isi dari 10 dasar yang merupakan kesimpulan dari Harun

Nasution, ternyata, hampir keseluruhan kajian Nurcholish berada dalam kajian


akidah, dan hanya beberapa yang dalam kajian politik.
Walau banyak tokoh, termasuk Harun Nasution, yang menganggap bahwa
dari beberapa ide yang sudah disebutkan di atas, Nursholish telah sampai ke
tingkat pemisahan dunia dari akhirat, soal dunia adalah soal dunia dan soal
akhirat adalah soal akhirat, tetapi menurut pengamatan dan analisa penulis
bahwasanya apa yang dilakukan oleh Nurcholish adalah sebuah upaya yang
dilakukan untuk selalu dan selalu lebih baik.
2.

Sekularisasi Politik
Walau kebanyakan konsep sekularisasi yang ditawarkan oleh Nurcholish

berkisar dalam masalah akidah, namun, sejak tahun 1970-an hingga era
reformasi, tidak mungkin bisa dipisahkan dari konteks sosial-politik orde baru.
Dalam teori sosial politik filsafat kata itu menimbulkan multi interpretasi.
Kita sering mengatakan sekuralisme itu sebagaimana Amerika, anti-Tuhan.

11

Harun Nasution, Islam Rasional, Jakarta: Mizan, 1989, hlm. 193

114
Amerika itu di mata saya negara yang sangat religus. Bahkan suatu hari saya
ketemu seorang artis dan mengatakan Amerika itu negara teokrasi. Jadi di sini
ketika orang mengatakan sekuralisme itu dan kalau dikejar apa sebetulnya yang
dimaksud itu tidak jelas.12
Menurut Komaruddin Hidayat, kalau sekuralisme dalam arti kedekatan
urusan politik secara profesional dan kompetensi, hemat saya ada benarnya
sehingga kemudian agama diposisikan pada posisi yang anggun, yang tidak
terkontiminasi oleh konflik politik. Dalam pengertian itu mungkin seperti
Vatikan yang mengambil jarak dari politik praktis. Dalam pengertian itu
mungkin ada benarnya.
Tapi sekularalisme dalam kontek Islam yang dimaksudkan Cak Nur,
masih menurut Komaruddin Hidayat tidak seperti itu. Itu kan sebagai antitesis
terhadap proses sakralisasi partai politik. Waktu itu Parpol disakralkan maka
sekularisme dalam pengetian itu lebih tepat diletakan, maksud Cak Nur. Dan
hemat saya pemilu kemarin membenarkan tesis Cak Nur. Kalau orang memilih
partai bukan karena semata Islamnya tapi karena visi dan programnya. Hasil
penelitian, orang memilih PKS bukan karena PKS Islam tapi karena efesien dan
bersih. Jadi walaupun memakai simbol Islam tapi ketika tidak didukung
kompetensi dan intergritas tidak akan laku. Dalam pengertian ini hemat saya,
sekularisasi maksud Cak Nur itu lebih poporsional.
Gagasan sekularisasi atau desakralisasi, dalam kehidupan politik, menurut
Nurcholish, mengandung semangat dan demokratisasi dan implikasinya adalah
penolakan terhadap partai Islam atau Negara Islam. Bagi Nurcholish, adanya
12

www.komunitasdemokrasi.or.id/comments.php?id=P9_0_3_0_C - 33k Supplemental

115
sekularisasi diharapkan akan menciptakan suatu efek yang meruntuhkan
monopoli dan konsentrasi kekuasaan melalui kontrol terhadap di tangan
pemimpin partai.13
Hal ini berbeda dengan pandangan Yusuf Qardhawi dan alAttas, menurut
mereka, desakralisasi politik tidak bisa diterima karena ia bertentangan dengan
pandangan hidup Islam, dimana agama sangat berperan dalam soal
pemerintahan dan kepemimpinan. Dalam Islam, sebagaimana diungkapkan alAttas, kekuasaan politik didasarkan atas Kuasa Ilahi (Divine Authority) dan
kuasa Rasulullah Saw yang merefleksikan Kuasa Tuhan. Kuasa yang sama juga
ada pada mereka yang mengikuti sunnah Rasulullah Saw. Karena itu setiap
Muslim harus menolak klaim kuasa suci oleh siapa pun kecuali penguasa yang
meneladani sunnah Rasullullah Saw dan mematuhi undang-undang Allah.
Seorang Muslim hanya perlu taat kepada Allah, Rasulullah dan pemimpin yang
meneladaninya.
Desakralisasi jelas menafikan peranan ulama yang berwibawa dalam
sistem pemerintahan. Padahal, Rasulullah Saw sendiri sudah mencontohkan
dirinya sebagai pemimpin negara. Hal ini juga diikuti oleh para penggantinya,
Khulafa al-Rasyidin yang semuanya arif dalam masalah agama. Menceraikan
Islam dari politik akan menghalangi peranan pandangan hidup Islam untuk
tersebar di dalam masyarakat karena agama dianggap sebagai urusan pribadi
bukan publik.14

13

Junaidi Idrus, op. cit., hlm. 80

14

Hidayatullahhttp://swaramuslim.net/ISLAM/more.php?id=1872_0_4_9_M

116
Hal ini berbeda dengan pandangan Nurcholish dengan analogy yang sama,
namun pemahaman yang berbeda, Nurcholish menganalogikan

konstitusi

Madinah zaman Rosulullah dengan Pancasila. Keduanya menurut Nurcholish


adalah common platform, sebuah landasan pijak yang mempertemukan berbagai
aspirasi dan kepentingan yang pluralistik. Nurcholish menganggap bahwa tidak
perlu adanya Negara Islam karena itu sudah tercover dalam dasar Negara
Pancasila.
Hal inilah yang membuat hubungannya dengan para bekas pimpinan
Masyumi, termasuk M. Natsir sedikit terganggu saat pemimpin umum majalah
Mimbar Jakarta ini melontarkan pernyataan "Islam yes, partai Islam no".
Nurcholish ketika itu menganggap partai-partai Islam sudah menjadi "Tuhan"
baru bagi orang-orang Islam. Partai atau organisasi Islam dianggap sakral dan
orang Islam yang tak memilih partai Islam dalam pemilu dituding melakukan
dosa besar. "Waktu itu sedang tumbuh obsesi persatuan Islam. Kalau tidak
bersatu, Islam menjadi lemah. Cak Nur menawarkan tradisi baru bahwa dalam
semangat demokrasi tidak harus bersatu dalam organisasi karena keyakinan,
tetapi dalam konteks yang lebih luas, yaitu kebangsaan,15
Pada Pemilu 1977, dalam pertemuan di kantor KAMI, saat para aktivisnya
sedang cenderung memilih Golkar sebagai kendaraan politik. Nurcholish justru
satu-satunya tokoh yang meminta agar mahasiswa tidak memilih Golkar.
Bahkan Cak Nur ikut berkampanye untuk PPP, padahal Nurcholish pernah
menggagas Islam Yes, Partai Islam No, inilah bagian dari sekularisasi politik

15

http://www.tempointeraktif.com/harian/wawancara/waw-NurcholishMajid01.html

117
yang ditawakan oleh Nurcholish yang tetap memperhatikan keseimbangan,
politik Cak Nur tersebut yang membuat PPP menang di daerah Jakarta dari
Golkar.
Pemikiran Nurcholish semakin mengkerucut setelah ia kuliah di
Universitas Chicago, di Chicago, Illinois, Amerika Serikat, untuk meraih gelar
doktor dalam bidang filsafat. Nurcholish terlibat perdebatan segitiga yang seru
dengan Amien Rais dan Mohamad Roem. Pemicunya adalah tulisannya di
majalah Panji Masyarakat, Tidak Ada Negara Islam, yang menggulirkan
kegiatan surat-menyurat antara Nurcholish yang berada di Amerika dan Roem
di Indonesia. Cak Nur menyatakan tidak ada ajaran Islam yang secara qothi
(jelas) untuk membentuk negara Islam.
3.

Demokrasi dan Pluralisme


Penulis menduga bahwasanya, Nurcholish berpegang pada sebuah konsep

Musyawarah dalam Islam (Demokrasi dalam Barat) bahwasanya, yang


terpenting dalam proses demokrasi adalah bahwa dalam suatu masyarakat atau
Negara terdapat proses terus menerus, secara dinamis dalam gerak
perkembangan dan pertumbuhan ke arah yang lebih baik. Cukuplah suatu
masayarakat disebut demokratis selama ia bergerak tanpa berhenti menuju ke
arah yang lebih baik. Ayat al-Quran secara tekstual banyak mengatakan bahwa
bentuk hidup manusia di akhirat akan ditentukan oleh bentuk hidup manusia di
dunia sekarang.
Sehingga penulis merasa, bahwa kita perlu memberikan apresiasi setinggitingginya

kepada

Nurcholish

dalam

upayanya

memperkenalkan

dan

118
mempropagandakan konsep sekularisasi di Indonesia. Hal ini menurut penulis
hanya dapat berlangsung karena keteguhan dan kegigihan Nurcholish dalam
memperjuangkan keyakinannya. Menurut penulis, ada dua factor yang
membantu sekularisasi dapat diterima, yaitu:
Kaitannya dengan pluralisme, Nurcholish mengungkapkan,
Kita bisa merefleksikan, apa yang akan terjadi, jika agama menjadi
tertutup dan penuh kefanatikan, lalu mengklaim kebenaran sendiri dengan
mengirim ke neraka agama yang lain. Inilah yang menimbulkan problem yang
disebut dalam studi agama-agama sebagai masalah klaim kebenaran (problem
of truth claim).16
Sehingga pada dasarnya tidak akan pernah ada kebenaran mutlak,
kebenaran hanyalah milik Allah, sebagai umat manusia kita memang
diperintahkan untuk saling menghargai pendapat dan keyakinan orang lain.
Yang penting dari konsep demokrasi atau dalam istilah Islam dikenal
dengan musyawarah adalah bahwa dalam suatu masyarakat atau Negara
terdapat proses terus menerus, secara dinamis dalam gerak perkembangan dan
pertumbuhan ke arah yang lebih baik. Cukuplah suatu masyarakat disebut
demokratis selama ia bergerak tanpa berhenti menuju ke arah yang lebih baik.
Tanpa kedua hal diatas, niscaya sekularisasi tidak akan mungkin bergerak.,
sehingga penulis merasa yakin kedua factor diatas yang mendorong
berlangsungnya proses skularisasi.

16

Ibid

119
Indonesia seperti halnya kebanyakan Negara berkembang lainnya, secara
politik, sesungguhnya memiliki keuntungan-keuntungan keterbelakangan
artinya sebagai Negara muda yang ada di belakang Negara-negara yang lebih
maju dan berada di depan, Indonesia dapat belajar dari pengalaman yang baik
dan buruk dari bangsa-bangsa lain. Hal inilah menurut hemat penulis yang
mendorong

bangsa

Indonesia

sejak

kemerdekaan

sudah

mempunyai

kemampuan yang kuat untuk memilih dan menerapkan demokrasi sendiri yang
mengalami pasang naik dan pasang surut.
Hal ini, menurut hemat penulis, disebabkan karena Indonesia sudah
melakukan uji coba demokrasi sebanyak tiga kali yaitu demokrasi Liberal atau
demokrasi parlementer, demokrasi terpimpin dan demokrasi Pancasila. Yang
menarik adalah bahwa demokrasi liberal dikutuk oleh elit politik yang
menjalankan demokrasi terpimpin dan demokrasi terpimpin pun dikutuk oleh
elit politik yang menjalankan demokrasi pancasila.

C.

Relevansi dengan Perpolitikan di Indonesia


Walau saat ini, sudah banyak yang berbicara mengenai sekularisasi di
Indonesia, namun tampaknya bagi beberapa kalangan istilah ini masih asing dan
dianggap tabu. Bagi yang pro dengan istilah ini terutama masyarakat dengan
pemikiran liberal, bisa jadi apa yang ditawarkan oleh Nurcholish belum ada
apa-apanya, karena, sepengetahuan penulis, apa yang ditawarkan oleh
masyarakat dengan pemikiran liberal jauh memiliki pemikiran yang liberal
dibanding dengan pemikiran Nurcholish Madjid.

120
Namun, hal ini akan berlainan jika yang ditanya adalah kelompok
fundamentalis dan anti-liberal, karena menurut masyarakat dengan pemikiran
fundamental, apa yang digagas dan ditawarkan oleh Nurcholish sudah
kebablasan dan sudah tidak dapat ditolerir.
Dalam konteks Indonesia, konflik dan perdebatan antara kelompok Islam
dan kelompok sekuler -yang biasa disebut Islamic nationalist dan secular
nationalist- sudah terjadi sebelum era kemerdekaan. Misalnya, pada 1927,
ketika nama Soekarno mulai mencuat di pentas perpolitikan nasional.
Soekarno adalah salah seorang pendukung penting gerakan secular
nationalism atau nasionalisme sekuler. Sementara tokoh-tokoh Islam seperti H
Agus Salim, Mohammad Natsir, dan juga Ahmad Hasan adalah orang-orang
yang menolak gagasan nasionalisme. Inti perdebatan mereka ketika itu adalah
isu nasionalisme.
Karena itu, menjelang kemerdekaan, bentuk respons atas isu nasionalisme
mengkristalkan pengkotakan antara mereka yang nasionalis-Islam dan yang
nasionalis-sekuler. Mereka lalu terkelompok menjadi kubu yang menginginkan
Pancasila dan yang menginginkan Islam sebagai dasar negara. Itulah puncak
perdebatan mereka.
Tapi yang menarik bagi saya, setelah zaman kemerdekaan, tidak ada tokoh
muslim Indonesia yang mengangan-angankan ide khilafah. Ini patut dicatat,
karena sebelum masa kemerdekaan, ide khilafah memang tidak pernah populer
di pentas perpolitikan Islam Indonesia. Beberapa tokoh Islam bahkan sempat
menertawakan gagasan khilafah. Kenyataan ini berbeda dengan di Timur

121
Tengah dan anak benua India. Di India, ada khilafat movement, tapi di
Indonesia tidak ada gagasan seperti itu. Kalau pun ada, gaungnya tidak sekeras
di Timur Tengah.
Nurcholish sendiri tercatat sebagai tokoh yang tidak menginginkan
berdirinya Negara Islam, Nurcholish menilai konsep Negara Islam tidak pernah
ada

dalam sejarah Islam, tidak didukung oleh nash-nash al-Quran serta

merupakan sebuah bentuk apologia umat Islam terhadap ekspansi pemikiran dan
politik Barat atas dunia Islam selama berabad-abad.
Hal ini hampir sejalan dengan pemikiran Soekarno yang menganjurkan
agar dalam sistem pemerintahan di Indonesia, agama Islam dan Negara
dipisahkan. Menurut pendapatnya, demokrasi di satu pihak, dan persatuan
agama dan Negara di pihak lain, adalah dua hal yang bertentangan dan tidak
mungkin bisa bersatu, padahal Islam mengajarkan demokrasi. Karena itu, sesuai
dengan fleksibilitas hokum Islam, pemisahan agama dan Negara sangat
mungkin dalam ajaran Islam. Apalagi, ia berpendapat, bahwa tidak ada ijma
ulama yang mewajibkan persatuan agama dan Negara dalam sistem politik
Islam.17
Di Indonesia sendiri, masalah sekularisasi telah menjadi polemik dan telah
menjadi perdebatan terutama pada dua dekade secara berturut-turut18, yaitu:
-

Pada dekade 1970-an, ketika terjadi perdebatan antara Nurcholish, sebagai


seorang cendekiawan muslim dengan tiba-tiba melontarkan gagasan

17

Pardoyo, op. cit., hlm. 104

18

Ibid. hlm. 181

122
sekularisasi, dan para oposannya. Ia sendiri dikecam naik oleh temantemannya, maupun oleh para tokoh yang lebih senior seperti HM. Rasjidi.
-

Pada dekade 1980-an, ketika muncul perdebatan antara Soenawar


Soekowati, ketua umum DPP F-PDI, dan kelompok penentangnya.
Soenawar melontarkan pernyataan bahwa Indonesia adalah Negara
sekuler. Ini dikecam oleh teman-temannya yang terutama di kalangan
DPR. Serta Pada akhir 1980-an, ketika Selo Soemardjan, seorang guru
besar UI, juga melontarkan sebuah sinyalemen, bahwa pada tahun 2012
Indonesia akan mengalami sekularisme. Hal ini juga mendorong polemik
yang lumayan menegangkan, walaupun tidak sekeras penentangan
terhadap Nurcholish.19
Barangkali benar apa yang dikatakan Karel Steenbrink, di Indonesia,

masalah sekularisasi atau sekularisme tidak perlu dirisaukan betul, lain di dunia
barat, karena yang dihadapi di sana adalah ateisme, sedangkan di Indonesia,
aplagi jika dikaitkan dengan watak dasar bangsa Indonesia yang religius, orang
Indonesia sulit menjadi kafir. Karena itu, di Indonesia sulit lahir faham sekuler.
Sekularisasi maupun sekularisme sulit berkembang. Apalagi jika dikaitkan
dengan tradisi, adat, pola pikir yang masih dekat dengan hal-hal yang mistis dan
sakral. Sartono Kartodirjo menandaskan bahwa pola pikir yang mistis seperti ini
sulit melahirkan sekularisasi. Sekularisasi hanya akan berkembang dalam
masyarakat yang berfikir positif rasional.20

19

Untuk konsep tentang sekularisasi yang digagas oleh Soenawar Soekowati serta Selo Somerdjan
sengaja tidak dilakukan pembahasan, hal ini dapat dilihat dari buku Pardoyo, hlm. 193-208
20

Ibid. hlm. 194