Anda di halaman 1dari 31

SISTEM EKONOMI INDONESIA

A. Pengertian Sistem
Sistem menurut Chester A. Bernard, adalah suatu kesatuan yang terpadu secara holistik,
yang di dalamnya terdiri atas bagian-bagian dan masing-masing bagian memiliki ciri dan batas
tersendiri. Suatu sistem pada dasarnya adalah organisasi besar yang menjalin berbagai subjek
(atau objek) serta perangkat kelembagaan dalam suatu tatanan tertentu. Subjek atau objek
pembentuk sebuah sistem dapat berupa orang-orang atau masyarakat, untuk suatu sistem sosial
atau sistem kemasyarakatan dapat berupa makhluk-makhluk hidup dan benda alam, untuk suatu
sistem kehidupan atau kumpulan fakta, dan untuk sistem informasi atau bahkan kombinasi dari
subjek-subjek tersebut.
Perangkat kelembagaan dimaksud meliputi lembaga atau wadah tempat subjek (objek) itu
berhubungan, cara kerja dan mekanisme yang menjalin hubungan subjek (objek) tadi, serta
kaidah atau norma yang mengatur hubungan subjek (objek) tersebut agar serasi.
Kaidah atau norma yang dimaksud bisa berupa aturan atau peraturan, baik yang tertulis
maupun yang tidak tertulis, untuk suatu sistem yang menjalin hubungan antar manusia.
Contohnya aturan-aturan dalam suatu sistem kekerabatan. Secara toritis pengertian sistem
ekonomi dapat dikatakan sebagai keseluruhan lembaga-lembaga ekonomi yang dilaksanakan
atau dipergunakan oleh suatu bangsa atau negara dalam mencapai cita-cita yang telah
ditetapkan.
Pengertian lembaga atau institusi ekonomi adalah suatu pedoman atau, atauran atau
kaidah yang digunakan seseorang atau masyarakat dalam melakukan kegiatan-kegiatan ekonomi
untuk memenuhi kebutuhannya. Kegiatan ekonomi adalah kegiatan yang berkaitan dengan
usaha(bisnis), dengan pasar, transaksi jual-beli, dan pembayaran dengan uang. Pengertian
ekonomi secara lembaga yaitu produk-produk hokum tertulis, seperti Tap MPR, Undang-Undang,
Peraturan Pemerintah, Peraturan Daerah, ARD/ART suatu organisasi dan lain-lain.

B. Sistem Ekonomi
Persoalan-persoalan ekonomi pada hakekatnya adalah masalah transformasi atau pengolahan
alat-alat/sumber pemenuh/pemuas kebutuhan, yang berupa faktor-faktor produksi yaitu tenaga kerja,
modal, sumber daya alam dan keterampilan (skill) menjadi barang dan jasa.
Sistem ekonomi merupakan cabang ilmu ekonomi yang membahas persoalan pengambilan
keputusan dalam tata susunan organisasi ekonomi untuk menjawab persoalan-persoalanekonomi
untuk mewujudkan tujuan nasional suatu negara. Menurut Dumairy (1966), Sistem ekonomi adalah
suatu sistem yang mengatur serta menjalin hubungan ekonomi antar manusia dengan seperangkat
kelembagaan dalam suat tatanan kehidupan, selanjutnya dikatakannya pula bahwa suatu sistem
ekonomi tidaklah harus berdiri sendiri, tetapi berkaitan dengan falsafah, padangan dan pola hidup
masyarakat tempatnya berpijak. Sistem ekonomi sesungguhnya merupakan salah satu unsur saja
dalam suatu supra sistem kehidupan masyarakat. Sistem ekonomi merupakan bagian dari kesatuan
ideologi kehidupan masyarakat di suatu negara.
Pada negara-negara yang berideologi politik leiberalisme dengan rezim pemerintahan yang
demokratis, pada umumnya menganut ideologi ekonomi kapitalisme dengan pengelolaan ekonomi
yang berlandaskan pada mekanisme pasar. Di negara-negara ini penyelenggara kenegaraannya
cendrung bersifat etatis dengan struktur birokrasi yang sentralistis. Sistem ekonomi suatu negara
dikatakan bersifat khas sehingga dibedakan dari sistem ekonomi yang berlaku atau diterapkan di
negara lain. Berdasarkan beberapa sudut tinjauan seperti :
1. Sistem pemilikan sumber daya atau faktor-faktor produksi
2. Keluwesan masyarakat untuk saling berkompentisi satu sama lain dan untuk menerima imbalan
atas prestasi kerjanya
3. Kadar peranan pemerintah dalam mengatur, mengarahkan dan merencanakan kehidupan bisnis
dan perekonomian pada umumnya.

C. Macam-Macam Sistem Ekonomi


1. Sistem Ekonomi Liberal-Kapitalis
Sistem ekonomi leiberal-kapitalis adalah suatu sistem yang memberikan kebebasan yang
besar bagi pelaku-pelaku ekonomi untuk melakukan kegiatan yang terbaik bagi kepentingan
individual atau sumber daya-sumber daya ekonomi atau faktor produksi. Secara garis besar, ciriciri ekonomi liberal kapitalis adalah sebagai berikut :
a. Adanya pengakuan yang luas terhadap hak pribadi
b. Praktek perekonomian di atur menurut mekanisme pasar
c. Praktek perekonomian digerakan oleh motif keuntungan (profile motife)
2. Sistem Ekonomi Sosialis-Komunistik
Dalam sistem ekonomi sosialis-komunistis adalah kebalikannya, dimana sumber daya
ekonomi atau faktor produksi dikuasai sebagai milik negara. Suatu negara yang menganut sistem
ekonomi sosialis-komunis, menekankan pada kebersamaan masyarakat dalam menjalankan dan
memajukan perekonomian.
Dalam sistem ini yang menonjol adalah kebersamaan, dimana semua alat produksi adalah
milik bersama (negara) dan didistribusikan untuk kepentingan bersama sesuai dengan kebutuhan
masing-masing.
3. Sistem Ekonomi Campuran (mixed ekonomi)
Di samping kedua ekstrim sistem ekonomi tersebut, terdapat sebuah sistem yang lain yang
merupakan atas campuran : antara keduanya, dengan berbagai fariasi kadar donasinya, dengan
berbagai fariasi nama dan oleh istilahnya. Sistem ekonomi campuran pada umumnya diterapkan
oleh negara-negara berkembang atau negara-negara dunia ke tiga.
Beberapa negara di antaranya cukup konsisten dalam meramu sistem ekonomi campuran,
dalam arti kadar kapitalisnya selalu lebih tinggi (contoh Filipina) atau bobot sosialismenya lebih
besar (contoh India). Namun banyak pula yang goyah dalam meramu campuran kedua sistem ini,
kadang-kadang condong kapitalistik.

Pada dasarnya sistem ekonomi campuran atau sistem ekonomi kerakyatan dengan
persaingan terkendali, agaknya merupakan sistem ekonomi yang paling cocok untuk mengelola
perekonomian di Indonesia, namun demikian akhir-akhir ini sistem ekonomi Indonesia semakin
condong ke ekonomi liberal dan kapitalis hal ini ditandai dengan derasnya modal asing yang
masuk ke Indonesia dan banyaknya BUMN dan BUMD yang telah diprivatisasi. Kecenderungan
tersebut dipacu derasnya arus globalisasi dan bubarnya sejumlah negara komunis di Eropa Timur
yang bersistem ekonomi sosialisme-komunistik.

PERKEMBANGAN SISTEM EKONOMI INDONESIA


A. Perkembangan Pemikiran Sistem Ekonomi Indonesia
Seperti yang kita ketahui bahwa yang menentukan bentuk suatu sistem ekonomi kecuali dasar
falsafah negara yang dijunjung tinggi, maka yang dijadikan kriteria adalah lembaga-lembaga,
khususnya lembaga ekonomi yang menjadi perwujudan atau realisasi falsafah tersebut.
Pergulatan pemikiran tentang sistim ekonomi apa yang sebaiknya di diterapkan Indonesia
telah dimulai sejak Indonesia belum mencapai kemerdekaannya. Sampai sekarang pergulatan
pemikiran tersebut masih terus berlangsung, hal ini tercermin dari perkembangan pemikiran tentang
Sistim Ekonomi Pancasila ESP. Menurut Sri-Edi Suwasono (1985), pergulatan pemikiran tentang
ESP pada hakikatnya merupakan dinamika penafsiran tentang pasal-pasal ekonomi dalam UUD
1945.

1. Pasal Ekonomi Dalam UUD 1945


Pasal 33 UUD 1945, yang dimaksud dengan cabang-cabang produksi yang menguasai hajat
hidup orang banyak adalah barang dan jasa yang vital bagi kehidupan manusia, dan tersedia dalam
jumlah yang terbatas. Tinjauan terhadap vital tidaknya suatu barang tertentu terus mengalami
perubahan sesuai dengan dinamika pertumbuhan ekonomi, peningkatan taraf hidup dan peningkatan
permintaan.

Dengan demikian penafsiran pasal-pasal di ataslah yang banyak mendominasi pemikiran SEP.
Pemikiran tentang ESP, sudah banyak, namun ada beberapa yang perlu dibahas secara rinci karena
mereka merupakan faunding father dan juga tokoh-tokoh ekonomi yang ikut mewarnai sistem
ekonomi kita, diantaranya :
a. Pemikiran Mohammad Hatta (Bung Hatta)
Bung Hatta selain sebagai tokoh Proklamator bangsa Indonesia, juga dikenal sebagai perumus
pasal 33 UUD 1945. bung Hatta menyusun pasal 33 didasari pada pengalaman pahit bangsa
Indonesia yang selama berabad-abad dijajah oleh bangsa asing yang menganut sitem ekonomi
liberal-kapitalistik. Penerapan sistem ini di Indonesia telah menimbulkan kesengsaraan dan
kemelaratan, oleh karena itu menurut Bung Hatta sistem ekonomi yang baik untuk diterapkan di
Indonesia harus berasakan kekeluargaan
b.

Pemikiran Wipolo
Pemikiran Wipolo disampaikan pada perdebatan dengan Wijoyo Nitisastro tentang pasal 38

UUDS (pasal ini identik dengan pasal 33 UUD 1945), 23 september 1955.menurut Wilopo, pasal 33
memiliki arti SEP sangat menolak sistem liberal, karena itu SEP juga menolak sector swasta yang
merupakan penggerak utama sistem ekonomi liberal-kapitalistik

c. Pemikiran Wijoyo Nitisastro


Pemikiran Wijoyo Nitisastro ini merupakan tanggapan terhadap pemikiran Wilopo. Menurut
Wijoyo Nitisastro, pasal 33 UUD 1945 sangat ditafsirkan sebagai penolakan terhadap sector swasta.

d. Pemikiran Mubyarto
Menurut Mubyarto, SEP adalah sistem ekonomi yang bukan kapitalis dan juga sosialis. Salah
satu perbedaan SEP dengan kapitalis atau sosialis adalah pandangan tentang manusia. Dalam
sistem kapitalis atau sosialis, manusia dipandang sebagai mahluk rasional yang memiliki
kecenderungan untuk memenuhi kebutuhan akan materi saja.

e. Pemikiran Emil Salim


Konsep Emil Salim tentang SEP sangat sederhana, yaitu sistem ekonomi pasar dengan
perencanaan. Menurut Emil Salim, di dalam sistem tersebutlah tercapai keseimbangan antara sistem
komando dengan sistem pasar. lazimnya suatu sistem ekonomi bergantung erat dengan pahamideologi yang dianut suatu negara
Sumitro Djojohadikusumo dalam pidatonya di hadapan School of Advanced International
Studies di Wasington, AS Tanggal 22 Februari 1949, menegaskan bahwa yang dicita-citakan bangsa
Indonesia adalah suatu macam ekonomi campuran. Lapangan-lapangan usaha tertentu akan
dinasionalisasi dan dijalankan oleh pemerintah, sedangkan yang lain-lain akan terus terletak dalam
lingkungan usaha swasta.

Persaingan terkendali
Untuk mengetahui sistem ekonomi yang dianut oleh suatu negara, maka perlu dianalisis kandungan
faktor-faktor diatas.
Sistem ekonomi Indonesia (sistem persaingan terkendali);

Bukan kapitalis dan bukan sosialis. Indonesia mengakui kepemilikan individu terhadap
sumber ekonomi, kecuali sumber ekonomi yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai
oleh negara sesuai dengan UUD 45.

Pengakuan terhadap kompetisi antar individu dalam meningkatkan taraf hidup dan antar
badan usaha untuk mencari keuntungan, tapi pemerintah juga mengatur bidang pendidikan,
ketenagakerjaan, persaingan, dan membuka prioritas usaha.

Pengakuan terhadap penerimaan imbalan oleh individu atas prestasi kerja dan badan usaha
dalam mencari keuntungan. Pemerintah mengatur upah kerja minimum dan hukum perburuhan.

Pengelolaan ekonomi tidak sepenuhnya percaya kepada pasar. Pemerintah juga bermain
dalam perekonomian melalui BUMN dan BUMD serta departemen teknis untuk membantu
meningkatkan kemampuan wirausahawan (UKM) dan membantu permodalan.

Kadar Kapitalisme dan Sosialisme


Unsur kapitalisme dan sosialisme yang ada dalam sistem ekonomi Indonesia dapat dilihat dari sudut
berikut ini:
(a) Pendekatan faktual struktural yakni menelaah peranan pemerintah dalam perekonomian
Pendekatan untuk mengukur kadar campur tangan pemerintah menggunakan kesamaan Agregat
Keynesian.
Y = C + I + G + (X-M)
Y adalah pendatan nasional.
Berdasarkan rumus tersebut dapat dilihat peranan pemerintah melalui variable G (pengeluaran
pemerintah) dan I (investasi yang dilakukan oleh pemerintah) serta (X-M) yang dilakukan oleh
pemerintah.
Pengukuran kadar pemerintah juga dapat dilihat dari peranan pemerintah secara sektoral terutama
dalam pengaturan bisnis dan penentuan harga. Pemerintah hampir mengatur bisnis dan harga untuk
setiap sector usaha.
(b) Pendekatan sejarah yakni menelusuri pengorganisasian perekonomian Indonesia dari
waktu ke waktu.
Berdasarkan sejarah, Indonesia dalam pengeloaan ekonomi tidak pernah terlalu berat kepada
kapitalisme atau sosialisme.
Percobaan untuk mengikuti sistem kapitalis yang dilakukan oleh berbagai kabinet menghasilkan
keterpurukan ekonomi hingg akhir tahun 1959.
Percobaan

untuk mengikuti sistem sosialis yang dilakukan oleh Presiden I menghasilkan

keterpurukan ekonomi hiingg akhir tahun 1965.

PENDAPATAN NASIONAL
Pendapatan nasional adalah jumlah pendapatan yang diterima oleh seluruh rumah tangga keluarga
(RTK) di suatu negara dari penyerahan faktor-faktor produksi dalam satu periode, biasanya selama
satu tahun.
Sejarah
Konsep pendapatan nasional pertama kali dicetuskan oleh Sir William Petty dari Inggris yang
berusaha menaksir pendapatan nasional negaranya(Inggris) pada tahun 1665. Dalam
perhitungannya, ia menggunakan anggapan bahwa pendapatan nasional merupakan penjumlahan
biaya hidup (konsumsi) selama setahun. Namun, pendapat tersebut tidak disepakati oleh para ahli
ekonomi modern, sebab menurut pandangan ilmu ekonomi modern, konsumsi bukanlah satu-satunya
unsur dalam perhitungan pendapatan nasional. Menurut mereka, alat utama sebagai pengukur
kegiatan perekonomian adalah Produk Nasional Bruto (Gross National Product, GNP), yaitu seluruh
jumlah barang dan jasa yang dihasilkan tiap tahun oleh negara yang bersangkutan diukur menurut
harga pasar pada suatu negara.
Konsep
Berikut adalah beberapa konsep pendapatan nasional

Produk Domestik Bruto (GDP)


Produk domestik bruto (Gross Domestic Product) merupakan jumlah nilai produk berupa
barang dan jasa yang dihasilkan oleh unit-unit produksi di dalam batas wilayah suatu negara
(domestik) selama satu tahun. Dalam perhitungan GDP ini, termasuk juga hasil produksi
barang dan jasa yang dihasilkan oleh perusahaan/orang asing yang beroperasi di wilayah
negara yang bersangkutan. Barang-barang yang dihasilkan termasuk barang modal yang
belum diperhitungkan penyusutannya, karenanya jumlah yang didapatkan dari GDP dianggap
bersifat bruto/kotor.

Pendapatan nasional merupakan salah satu ukuran pertumbuhan ekonomi suatu negara

Produk Nasional Bruto (GNP)

Produk Nasional Bruto (Gross National Product) atau PNB meliputi nilai produk berupa barang
dan jasa yang dihasilkan oleh penduduk suatu negara (nasional) selama satu tahun; termasuk
hasil produksi barang dan jasa yang dihasilkan oleh warga negara yang berada di luar negeri,
tetapi tidak termasuk hasil produksi perusahaan asing yang beroperasi di wilayah negara
tersebut.
Pendapatan Nasional Neto (NNI)

Pendapatan Nasional Neto (Net National Income) adalah pendapatan yang dihitung menurut
jumlah balas jasa yang diterima olehmasyarakat sebagai pemilik faktor produksi. Besarnya
NNI dapat diperoleh dari NNP dikurang pajak tidak langsung. Yang dimaksud pajak tidak
langsung adalah pajak yang bebannya dapat dialihkan kepada pihak lain seperti pajak
penjualan, pajak hadiah, dll.
Pendapatan Perseorangan (PI)
Pendapatan perseorangan (Personal Income)adalah jumlah pendapatan yang diterima oleh
setiap orang dalam masyarakat, termasuk pendapatan yang diperoleh tanpa melakukan
kegiatan apapun. Pendapatan perseorangan juga menghitung pembayaran transfer (transfer
payment). Transfer payment adalah penerimaan-penerimaan yang bukan merupakan balas
jasa produksi tahun ini, melainkan diambil dari sebagian pendapatan nasional tahun lalu,

contoh pembayaran dana pensiunan, tunjangan sosial bagi para pengangguran, bekas
pejuang, bunga utang pemerintah, dan sebagainya. Untuk mendapatkan jumlah pendapatan
perseorangan, NNI harus dikurangi dengan pajak laba perusahaan (pajak yang dibayar setiap
badan usaha kepada pemerintah), laba yang tidak dibagi (sejumlah laba yang tetap ditahan di
dalam perusahaan untuk beberapa tujuan tertentu misalnya keperluan perluasan perusahaan),
dan iuran pensiun (iuran yang dikumpulkan oleh setiap tenaga kerja dan setiap perusahaan
dengan maksud untuk dibayarkan kembali setelah tenaga kerja tersebut tidak lagi bekerja).
Pendapatan yang siap dibelanjakan (DI)
Pendapatan yang siap dibelanjakan (Disposable Income) adalah pendapatan yang siap untuk
dimanfaatkan guna membeli barang dan jasa konsumsi dan selebihnya menjadi tabungan
yang disalurkan menjadi investasi. Disposable income ini diperoleh dari personal income (PI)
dikurangi dengan pajak langsung. Pajak langsung (direct tax) adalah pajak yang bebannya
tidak dapat dialihkan kepada pihak lain, artinya harus langsung ditanggung oleh wajib pajak,
contohnya pajak pendapatan.

Penghitungan
Jasa perbankan turut memengaruhi besarnya pendapatan nasional
Pendapatan negara dapat dihitung dengan tiga pendekatan, yaitu:

Pendekatan pendapatan, dengan cara menjumlahkan seluruh pendapatan (upah, sewa,


bunga, dan laba) yang diterima rumah tangga konsumsi dalam suatu negara selama satu periode
tertentu sebagai imbalan atas faktor-faktor produksi yang diberikan kepada perusahaan.
Pendekatan produksi, dengan cara menjumlahkan nilai seluruh produk yang dihasilkan suatu
negara dari bidang industri, agraris, ekstraktif, jasa, dan niaga selama satu periode tertentu. Nilai
produk yang dihitung dengan pendekatan ini adalah nilai jasa dan barang jadi (bukan bahan
mentah atau barang setengah jadi).
Pendekatan pengeluaran, dengan cara menghitung jumlah seluruh pengeluaran untuk
membeli barang dan jasa yang diproduksi dalam suatu negara selama satu periode tertentu.
Perhitungan dengan pendekatan ini dilakukan dengan menghitung pengeluaran yang dilakukan
oleh empat pelaku kegiatan ekonomi negara, yaitu: Rumah tangga (Consumption), pemerintah
(Government), pengeluaran investasi (Investment), dan selisih antara nilai ekspor dikurangi impor
(
)

Rumus menghitung pertumbuhan ekonomi adalah sebagai berikut :


g = {(PDBs-PDBk)/PDBk} x 100%
g = tingkat pertumbuhan ekonomi PDBs = PDB riil tahun sekarang PDBk = PDB riil tahun kemarin
Contoh soal :
PDB Indonesia tahun 2008 = Rp. 467 triliun, sedangkan PDB pada tahun 2007 adalah = Rp. 420
triliun. Maka berapakah tingkat pertumbuhan ekonomi pada tahun 2008 jika diasumsikan harga tahun
dasarnya berada pada tahun 2007 ?
jawab :
g = {(467-420)/420}x100% = 11,19%

Manfaat[
Selain bertujuan untuk mengukur tingkat kemakmuran suatu negara dan untuk mendapatkan datadata terperinci mengenai seluruh barang dan jasa yang dihasilkan suatu negara selama satu periode,
perhitungan pendapatan nasional juga memiliki manfaat-manfaat lain, diantaranya untuk mengetahui
dan menelaah struktur perekonomian nasional. Data pendapatan nasional dapat digunakan untuk
menggolongkan suatu negara menjadi negara industri, pertanian, atau negara jasa. Contohnya,
berdasarkan perhitungan pendapatan nasional dapat diketahui bahwa Indonesia termasuk negara
pertanian atau agraris, Jepang merupakan negara industri, Singapura termasuk negara yang unggul
di sektor jasa, dan sebagainya.
Disamping itu, data pendapatan nasional juga dapat digunakan untuk menentukan besarnya
kontribusi berbagai sektor perekomian terhadap pendapatan nasional, misalnya sektor pertanian,
pertambangan, industri, perdaganan, jasa, dan sebagainya. Data tersebut juga digunakan untuk
membandingkan kemajuan perekonomian dari waktu ke waktu, membandingkan perekonomian
antarnegara atau antardaerah, dan sebagai landasan perumusan kebijakan pemerintah.
Faktor yang memengaruhi
Permintaan dan penawaran agregat
Permintaan agregat menunjukkan hubungan antara keseluruhan permintaan terhadap barangbarang dan jasa sesuai dengan tingkat harga. Permintaan agregat adalah suatu daftar dari
keseluruhan barang dan jasa yang akan dibeli oleh sektor-sektor ekonomi pada berbagai
tingkat harga, sedangkan penawaran agregat menunjukkan hubungan antara keseluruhan
penawaran barang-barang dan jasa yang ditawarkan oleh perusahaan-perusahaan dengan
tingkat harga tertentu.

Konsumsi merupakan salah satu faktor yang memengaruhi pendapatan nasional


Jika terjadi perubahan permintaan atau penawaran agregat, maka perubahan tersebut akan
menimbulkan perubahan-perubahan pada tingkat harga, tingkat pengangguran dan tingkat
kegiatan ekonomi secara keseluruhan. Adanya kenaikan pada permintaan agregat cenderung
mengakibatkan kenaikan tingkat harga dan output nasional (pendapatan nasional), yang
selanjutnya akan mengurangi tingkat pengangguran. Penurunan pada tingkat penawaran
agregat cenderung menaikkan harga, tetapi akan menurunkan output nasional (pendapatan
nasional) dan menambah pengangguran.
Konsumsi dan tabungan

Konsumsi adalah pengeluaran total untuk memperoleh barang-barang dan jasa dalam suatu
perekonomian dalam jangka waktu tertentu (biasanya satu tahun), sedangkan tabungan
(saving) adalah bagian dari pendapatan yang tidak dikeluarkan untuk konsumsi. Antara
konsumsi, pendapatan, dan tabungan sangat erat hubungannya. Hal ini dapat kita lihat dari
pendapat Keynes yang dikenal dengan psychological consumption yang membahas tingkah
laku masyarakat dalam konsumsi jika dihubungkan dengan pendapatan.
Investasi
Pengeluaran untuk investasi merupakan salah satu komponen penting dari pengeluaran
agregat.

PERTUMBUHAN EKONOMI
DEFINISI
Pertumbuhan ekonomi adalah proses peningkatan pendapatan (PDB) tanpa mengaitkannya dengan
tingkat pertambahan penduduk. Pertumbuhan penduduk biasanya dikaitkan dengan tingkat pembangunan
ekonomi, atau bahkan tidak jarang dianggap hal yang sama.
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
Faktor-faktor yang mempengaruhi perekonomian Indonesia tidak terlepas dari permasalahan
kesenjangan dalam pengelolaan perekonomian, dimana para pemilik modal besar selalu mendapatkan
kesempatan yang lebih luas dibandingkan dengan para pengusaha kecil dan menengah yang kekurangan modal.
Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi secara garis besar ialah :

Sumber Daya Manusia

Sama halnya dengan proses pembangunan, pertumbuhan ekonomi juga dipengaruhi oleh SDM. Sumber
daya manusia merupakan faktor terpenting dalam proses pembangunan, cepat lambatnya proses pembangunan
tergantung kepada sejauh mana sumber daya manusianya selaku subjek pembangunan memiliki kompetensi
yang memadai untuk melaksanakan proses pembangunan dengan membangun infrastruktur di daerah-daerah.

Sumber Daya Alam

Sebagian besar negara berkembang bertumpu kepada sumber daya alam dalam melaksanakan proses
pembangunannya. Namun, sumber daya alam saja tidak menjamin keberhasilan proses pembanguan ekonomi,
apabila tidak didukung oleh kemampaun sumber daya manusianya dalam mengelola sumber daya alam yang
tersedia. Sumber daya alam yang dimaksud dinataranya kesuburan tanah, kekayaan mineral, tambang, kekayaan
hasil hutan dan kekayaan laut.

Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin pesat mendorong adanya percepatan proses
pembangunan, pergantian pola kerja yang semula menggunakan tangan manusia digantikan oleh mesin-mesin
canggih berdampak kepada aspek efisiensi, kualitas dan kuantitas serangkaian aktivitas pembangunan ekonomi
yang dilakukan dan pada akhirnya berakibat pada percepatan laju pertumbuhan perekonomian.

Budaya

Faktor budaya memberikan dampak tersendiri terhadap pembangunan ekonomi yang dilakukan, faktor ini
dapat berfungsi sebagai pembangkit atau pendorong proses pembangunan tetapi dapat juga menjadi penghambat
pembangunan. Budaya yang dapat mendorong pembangunan diantaranya sikap kerja keras dan kerja cerdas,
jujur, ulet dan sebagainya. Adapun budaya yang dapat menghambat proses pembangunan diantaranya sikap
anarkis, egois, boros, KKN, dan sebagainya.

Sumber Daya Modal

Sumber daya modal dibutuhkan manusia untuk mengolah SDA dan meningkatkan kualitas IPTEK. Sumber
daya modal berupa barang-barang modal sangat penting bagi perkembangan dan kelancaran pembangunan
ekonomi karena barang-barang modal juga dapat meningkatkan produktivita
Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi di Indonesia secara umum yaitu:

Faktor produksi, yaitu harus mampu memanfaatkan tenaga kerja yang ada dan penggunaan bahan baku
industri dalam negeri semaksimal mungkin

Faktor investasi, yaitu dengan membuat kebijakan investasi yang tidak rumit dan berpihak pada pasar

Faktor perdagangan luar negeri dan neraca pembayaran, harus surplus sehingga mampu meningkatkan
cadangan devisa dan menstabilkan nilai rupiah

Faktor kebijakan moneter dan inflasi, yaitu kebijakan terhadap nilai tukar rupiah dan tingkat suku bunga
ini juga harus di antisipatif dan diterima pasar

Faktor keuangan negara, yaitu berupa kebijakan fiskal yang konstruktif dan mampu membiayai
pengeluaran pemerintah

Kebanyakan negara berkembang menghadapi banyak masalah dalam mempercepat pertumbuhan ekonomi.
Hambatan-hambatan terpenting yang dialami adalah

Kegiatan sektor pertanian masih tetap tradisonal dan produktivitasnya sangat rendah

Kebanyakan negara masih menghadapi masalah kekurangan dana modal dan barang modal (peralatan
produksi) yang modern

Tenaga terampil, terdidik dan keahlian keusahawanan penawarannya masih jauh dibawah jumlah yang
diperlukan

Perkembangan penduduk sangatlah pesat

Berbagai masalah institusi, sosial, kebudayaan dan politik yang sering dihadapi.

TEORI DAN KONSEPSI

Teori dibangun berdasarkan pengalaman empiris, sehingga teori dapat dijadikan sebagai dasar untuk
memprediksi dan membuat suatu kebijakan. Terdapat beberapa teori yang mengungkapkan tentang konsep
pertumbuhan ekonomi, secara umum teori tersebut sebagai berikut:
Teori Pertumbuhan Ekonomi Historis
Teori ini dikemukakan oleh beberapa ahli sebagai berikut:

Werner Sombart (1863-1947)

Menuru z t Werner Sombart pertumbuhan ekonomi suatu bangsa dapat dibagi menjadi tiga tingkatan:
1. Masa perekonomian tertutup
Pada masa ini, semua kegiatan manusia hanya semata-mata untuk memenuhi kebutuhannya sendiri. Individu
atau masyarakat bertindak sebagai produsen sekaligus konsumen sehingga tidak terjadi pertukaran barang atau
jasa. Masa pererokoniam ini memiliki ciri-ciri:
1. Kegiatan manusia untuk memenuhi kebutuhan sendiri
2. Setiap individu sebagai produsen sekaligus sebagai konsumen
3. Belum ada pertukaran barang dan jasa
2. Masa kerajinan dan pertukangan
Pada masa ini, kebutuhan manusia semakin meningkat, baik secara kuantitatif maupun secara kualitatif akibat
perkembangan peradaban. Peningkatan kebutuhan tersebut tidak dapat dipenuhi sendiri sehingga diperlukan
pembagian kerja yang sesuai dengan keahlian masing-masing. Pembagian kerja ini menimbulkan pertukaran
barang dan jasa. Pertukaran barang dan jasa pada masa ini belum didasari oleh tujuan untuk mencari
keuntungan, namun semata-mata untuk saling memenuhi kebutuhan. Masa kerajinan dan pertukangan memiliki
beberapa ciri-ciri sebagai berikut:

Meningkatnya kebutuhan manusia

Adanya pembagian tugas sesuai dengan keahlian

Timbulnya pertukaran barang dan jasa

Pertukaran belum didasari profit motive

3. Masa kapitalis

Pada masa ini muncul kaum pemilik modal (kapitalis). Dalam menjalankan usahanya kaum kapitalis
memerlukan para pekerja (kaum buruh). Produksi yang dilakukan oleh kaum kapitalis tidak lagi hanya sekedar
memenuhi kebutuhanya, tetapi sudah bertujuan mencari laba.

Friedrich List (1789-1846)

Menurut Friendrich List, pertumbuhan ekonomi suatu bangsa dapat dibagi menjadi empat tahap sebagai berikut:
1. Masa berburu dan pengembaraan
2. Masa beternak dan bertani
3. Masa bertani dan kerajinan
4. Masa kerajinan, industri, perdagangan

Walt Whiteman Rostow (1916-1979)

W.W.Rostow mengungkapkan teori pertumbuhan ekonomi dalam bukunya yang bejudul The Stages of
Economic Growth menyatakan bahwa pertumbuhan perekonomian dibagi menjadi 5 (lima) sebagai berikut:
o

Masyarakat Tradisional (The Traditional Society)

1. Merupakan masyarakat yang mempunyai struktur pekembangan dalam fungsi-fungsi produksi yang
terbatas.
2. Belum ada ilmu pengetahuan dan teknologi modern
3. Terdapat suatu batas tingkat output per kapita yang dapat dicapai
o

Masyarakat pra kondisi untuk periode lepas landas (the preconditions for take off)

1. Merupakan tingkat pertumbuhan ekonomi dimana masyarakat sedang berada dalam proses transisi.
2. Sudah mulai penerapan ilmu pengetahuan modern ke dalam fungsi-fungsi produksi baru, baik di bidang
pertanian maupun di bidang industri.
o

Periode Lepas Landas (The take off)

1. Merupakan interval waktu yang diperlukan untuk emndobrak penghalang-penghaang pada pertumbuhan
yang berkelanjutan.
2. Kekuatan-kekuatan yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi diperluas
3. Tingkat investasi yang efektif dan tingkat produksi dapat meningkat

4. Investasi efektif serta tabungan yang bersifat produktif meningkat atau lebih dari jumlah pendapatan
nasional.
5. Industri-industri baru berkembang dengan cepat dan industri yang sudah ada mengalami ekspansi
dengan cepat.
o

Gerak Menuju Kedewasaan (Maturity)

1. Merupakan perkembangan terus menerus daimana perekonoian tumbuh secaa teratur serta lapangan
usaha bertambah luas dengan penerapan teknologi modern.
2. Investasi efektif serta tabungan meningkat dari 10 % hingga 20 % dari pendapatan nasional dan
investasi ini berlangsung secara cepat.
3. Output dapat melampaui pertamabahn jumlah penduduk
4. Barang-barang yang dulunya diimpor, kini sudah dapat dihasilkan sendiri.
5. Tingkat perekonomian menunjukkkan kapasitas bergerak melampau kekuatan industri pad masa take off
dengan penerapan teknologi modern
o

Tingkat Konsumsi Tinggi (high mass consumption)

1. Sektor-sektor industri emrupakan sektor yang memimpin (leading sector) bergerak ke arah produksi
barang-barang konsumsi tahan lama dan jasa-jasa.
2. Pendapatn riil per kapita selalu meningkat sehingga sebagian besar masyarakat mencapai tingkat
konsumsi yang melampaui kebutuhan bahan pangan dasar, sandang, dan pangan.
3. Kesempatan kerja penuh sehingga pendapata nasional tinggi.
4. Pendapatan nasional yang tinggi dapat memenuhi tingkat konsumsi tinggi

Teori Klasik
o

Adam Smith

Teori Adam Smith beranggapan bahwa pertumbuhan ekonomi sebenarnya bertumpu pada adanya pertambahan
penduduk. Dengan adanya pertambahan penduduk maka akan terdapat pertambahan output atau hasil. Teori
Adam Smith ini tertuang dalam bukunya yang berjudul An Inquiry Into the Nature and Causes of the Wealth of
Nations.
o

David Ricardo

Ricardo berpendapat bahwa faktor pertumbuhan penduduk yang semakin besar sampai menjadi dua kali lipat
pada suatu saat akan menyebabkan jumlah tenaga kerja melimpah. Kelebihan tenaga kerja akan mengakibatkan

upah menjadi turun. Upah tersebut hanya dapat digunakan untuk membiayai taraf hidup minimum sehingga
perekonomian akan mengalami kemandegan (statonary state). Teori David Ricardo ini dituangkan dalam
bukunya yang berjudul The Principles of Political and Taxation.

Teori Neoklasik
o

Robert Solow

Robert Solow berpendapat bahwa pertumbuhan ekonomi merupakan rangkaian kegiatan yang bersumber pada
manusia, akumulasi modal, pemakaian teknologi modern dan hasil atau output. Adapun pertumbuhan penduduk
dapat berdampak positif dan dapat berdampak negatif. Oleh karenanya, menurut Robert Solow pertambahan
penduduk harus dimanfaatkan sebagai sumber daya yang positif.
o

Harrord Domar

Teori ini beranggapan bahwa modal harus dipakai secara efektif, karena pertumbuhan ekonomi sangat
dipengaruhi oleh peranan pembentukan modal tersebut. Teori ini juga membahas tentang pendapatan nasional
dan kesempatan kerja

Kebijakan mempercepat pertumbuhan ekonomi yang dilakukan pemerintah adalah:

Kebijakan diversivikasi kegiatan ekonomi, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah memodernkan
kegiatan ekonomi yang ada. Sedankan langkah penting yang harus dilakukan adalah mengembangkan
kegiatan ekonomi yang baru yang dapat mempercepat informasi kegiatan ekonomi yang bersifat
tradisional kepada kegiatan ekonomi yang modern.

Mengembangkan infrastruktur, modernisasi pertumbuhan ekonomi memerlukan infrasturuktur yang


modern pula. Berbagai kegiatan ekonomi memerlukan infrastruktur yang berkembang, seperti jalan,
jembatan, lapangan terbang, pelabuhan, kawasan perindustrian, irigasi dan penyediaan air, listrik dan
jaringan telepon.

Meningkatkan tabungan dan investasi, pendapatan masyarakat yang rendah menyebabkan tabungan
masyarakat rendah. Sedangakan pembangunan memerlukan tabungan yang besar untuk membiayai
investasi yang dilakukan. Kekurangan invesatsi selalu dinyatakan sebagai salah satu sumber yang dapat
menghambat pembangunan ekonomi. Oleh sebab itu syarat penting yang perlu dilakukan untuk
mempercepat pertumbuhan dan pembangunan ekonomi adalah meningkatkan tabungan masyaraka

Meningkatkan taraf pendidikan masyarakat, dari segi pandangan individu maupun dari segi secara
keseluruhan, pendidikan merupakan satu investasi yang sangat berguna dalam pembangunan ekonomi.

Individu yang memperoleh pendidikan tinggi cenderung akan memperoleh pendapatan yang lebih tinggi,
jadi semakin tinggi pendidikan maka semakin tinggi pula pendapatan yang diperoleh

Merumuskan dan melaksanakan perencanaan ekonomi, kebijakan pemerintah yang konvensional yaitu
kebijakan fiskal dan moneter tidak dapat mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang diharapkan. Untuk
mengatasinya pada tahap mula dari pembangunan ekonomi perencanaan pembanguna perlu dilakukan.
Melalui perencanaan pembangunan dapat pula ditentukan sejauh mana investasi swasta dan pemerintah
perku dilakukan untuk mencapai suatu tujuan pertumbuhan yang telah ditentukan

DATA PERTUMBUHAN EKONOMI TAHUN 2009-2011


Sebelum membahas apa saja yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi di Indonesia, kita lihat dulu
tabel pertumbuhan ekonomi berserta GDP atau PDB.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2009 20111[4]
TAHUN

Nilai (Miliar Rupiah) dan pertumbuhan


(%)

2009

PDB
2,178,850.4

%
4,6

2010

2,313,838.0

6,1

2011

2,463,242.0

6,5

Pertumbuhan Ekonomi Tahun 2009


Kondisi perekonomian global yang masih mengalami tekanan akibat krisis, menyebabkan
memperlambatnya pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2009. Perlambatan ekonomi domestik akibat
kontraksi ekspor serta suku bunga perbankan yang masih tinggi, yang menyebabkan pada melambatnya
pertumbuhan investasi. Dengan penurunan ekspor dan investasi ini, pertumbuhan ekonomi pada tahun ini
banyak ditopang oleh kegiatan konsumsi domestik, baik konsumsi rumah tangga maupun konsumsi pemerintah.
Peran konsumsi secara keseluruhan masih mampu menopang kegiatan ekonomi Indonesia tahun 2009 untuk
tetap tumbuh positif sebesar 4,5%. Meskipun lebih rendah dibandingkan dengan tahun sebelumnya sebesar
6,1%.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2009 juga lebih baik dibandingkan dengan pertumbuhan
ekonomi negara lain yang sebagian besar mencatat kontraksi. Secara keseluruhan pengaruh kuat perlambatan
ekonomi dunia mengakibatkan ekspor barang dan jasa pada tahun 2009 mencatat kontraksi 9,7% atau
merupakan kinerja ekspor terburuk dalam dekade ini.
Investasi pada tahun 2009 tumbuh 2,8% atau melemah dibandingkan dengan pertumbuhan tahun
sebelumnya. Berdasarkan jenis investasi, perlambatan pertumbuhan investasi dipengaruhi oleh penurunan PMA
yang tercatat Rp133,8 triliun pada tahun 2009, turun 27,2% dibandingkan dengan capaian tahun 2008.
1

Sementara itu, penanaman modal dalam negeri meningkat dari Rp20,4 triliun pada tahun 2008 menjadi Rp37,8
triliun pada tahun 2009.
Di tengah kinerja ekspor yang menurun dan investasi yang melambat tersebut, konsumsi rumah tangga
masih tumbuh kuat sehingga dapat menopang pertumbuhan ekonomi. Konsumsi rumah tangga pada tahun 2009
masih tumbuh 4,85%. Sejalan dengan besarnya pangsa konsumsi rumah tangga terhadap PDB yang mencapai
58%, pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang masih tinggi secara keseluruhan cukup berperan mendukung
pertumbuhan ekonomi tahun 2009.
Pertumbuhan kuat konsumsi rumah tangga antara lain didorong oleh kontribusi positif pelaksanaan
Pemilu 2009, serta peningkatan keyakinan konsumen dan pendapatan. Inflasi cukup rendah selama tahun 2009,
pada satu sisi, telah menjaga daya beli dan keyakinan masyarakat untuk tetap dapat melakukan konsumsi. Pada
sisi lain, kenaikan gaji dan peningkatan nilai tukar petani semakin memperbaiki daya beli masyarakat sehingga
mendukung masih kuatnya konsumsi.
Peran konsumsi rumah tangga yang cukup kuat juga dipengaruhi oleh dampak positif konsumsi
pemerintah yang cukup besar. Peningkatan terbesar konsumsi pemerintah tumbuh tinggi sebesar 19,25% antara
lain dipengaruhi oleh besarnya pengeluaran terkait Pemilu. Selain itu, pengeluaran konsumsi pemerintah juga
dipengaruhi dengan

komitmen pemerintah meningkatkan stimulus fiskal. Beberapa stimulus fiskal yang

memengaruhi konsumsi pemerintah dan kemudian memberikan dampak pengganda kepada perekonomian,
termasuk konsumsi rumah tangga, antara lain adalah implementasi jaring pengaman sosial dalam bentuk
program Bantuan Langsung Tunai (BLT), pengurangan pajak penghasilan, serta kenaikan gaji dan realisasi ke13 bagi PNS/TNI. Secara keseluruhan tahun, pertumbuhan konsumsi pemerintah mencapai 15,7%, meningkat
dari 10,4% pada tahun 2008.
Selain itu, peran konsumsi juga cukup terlihat dalam Pertumbuhan ekonomi yang terjadi pada PDB
sektoral banyak dipengaruhi oleh pertumbuhan yang tetap tinggi pada sektor non-tradable seperti sektor listrik,
gas dan air bersih, sektor bangunan, sektor pengangkutan dan komunikasi serta sektor jasa-jasa. Sektor listrik,
gas dan air bersih serta sektor pengangkutan dan komunikasi yang masing-masing tumbuh sebesar 13,78% dan
15,53%. Berbeda dengan kinerja sektor nontradable tersebut, sektor tradable seperti sector industri pengolahan
cukup signifikan terimbas gejolak eksternal. Pertumbuhan sektor industri pengolahan, yang memiliki pangsa
sekitar 45% terhadap ekspor nasional, turun pada tahun 2009 menjadi 2,1%. peningkatan kinerja yang cukup
signifikan ditunjukkan oleh sektor pertambangan yang mencatat peningkatan pertumbuhan menjadi 4,37%
sejalan dengan dampak positifnya pertumbuhan ekspor batubara.
Satu faktor yang tetap mendukung kuatnya permintaan domestik ini adalah peran positif UMKM. Salah
satu indikator yang menunjukkan peran UMKM ialah masih kuatnya pertumbuhan kredit UMKM pada tahun
2009 yang mencapai 16,3%. Meskipun di sisi lain kredit non-UMKM hanya tumbuh sebesar 4,0%.
Peran kuat permintaan domestik juga didukung oleh beberapa penyesuaian perilaku sektor swasta
domestik. Pada satu sisi, pelaku swasta domestik merespons gejolak ekonomi global dengan meningkatkan

efisiensi. Pada sisi lain, penyesuaian juga dilakukan dengan memanfaatkan dana internal yang tidak sensitif
terhadap suku bunga sebagai respons suku bunga kredit perbankan yang masih cukup tinggi.2[5]
Pertumbuhan Ekonomi Tahun 2010
Di tengah kondisi perekonomian global yang semakin kondusif tersebut, perekonomian Indonesia pada
tahun 2010 tumbuh mencapai 6,1%, lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan tahun sebelumnya yang
tercatat sebesar 4,6%. Pertumbuhan ekonomi yang meningkat tersebut didukung oleh peran investasi dan ekspor
yang meningkat. Peningkatan investasi pada tahun 2010 semakin menggembirakan mengingat sifatnya yang
menambah kapasitas perekonomian sebagaimana diindikasikan oleh meningkatnya peran investasi
nonbangunan, khususnya investasi mesin. Sementara itu, perbaikan kinerja ekspor juga diikuti oleh semakin
terdiversifikasinya komoditas dan pasar tujuan ekspor. Hal ini tercermin pada membaiknya kinerja sektor-sektor
yang menghasilkan komoditas yang diperdagangkan secara internasional (tradable sector), khususnya industri
pengolahan. Meskipun demikian, sektor nontradable masih menjadi sektor penopang utama pertumbuhan
ekonomi, terutama sektor pengangkutan dan komunikasi serta sektor perdagangan, hotel dan restoran.
Perkembangan yang kondusif di perekonomian global tersebut mendukung kinerja Neraca Pembayaran
Indonesia (NPI) 2010. Pada tahun laporan, NPI mencatat surplus yang cukup besar mencapai 30,3 miliar dolar
AS, baik yang bersumber dari transaksi berjalan maupun transaksi modal dan finansial. . Ekspor mencatat
pertumbuhan yang tinggi sehingga mampu mempertahankan surplus transaksi berjalan di tengah impor dan
pembayaran transfer pendapatan yang meningkat tajam. Sementara itu, seiring dengan kuatnya aliran masuk
modal asing, neraca transaksi modal dan finansial mencatat surplus yang sangat besar dengan komposisi yang
semakin membaik. Hal ini tercermin dari kuatnya aliran masuk modal asing dalam bentuk investasi langsung
(FDI) yang meningkat tajam, di samping investasi dalam bentuk portofolio yang juga meningkat cukup
signifikan. Dengan perkembangan tersebut, posisi cadangan devisa pada akhir tahun 2010 tercatat sebesar 96,2
miliar dolar AS, cukup memadai untuk mendukung kebutuhan impor dan kewajiban eksternal, serta
memberikan keyakinan dalam menjaga stabilitas nilai tukar.
Sejalan dengan perkembangan NPI tersebut, nilai tukar rupiah mencatat apresiasi dan disertai volatilitas
yang cukup rendah. Selama tahun 2010, nilai tukar rupiah secara rata-rata menguat 3,8% dibanding dengan
akhir tahun 2009 menjadi Rp 9.081 per dolar AS. Kinerja nilai tukar rupiah tersebut didukung oleh terjaganya
persepsi positif terhadap perekonomian Indonesia sebagaimana diindikasikan oleh meningkatnya peringkat
utang Pemerintah dan indeks risiko yang membaik. Apresiasi nilai tukar rupiah pada tahun laporan juga cukup
moderat dibandingkan dengan negara-negara kawasan sehingga tidak mengganggu kinerja ekspor secara
signifikan. Hal ini tidak terlepas dari berbagai kebijakan dalam mengelola arus masuk modal asing dalam
rangka memperkuat daya tahan perekonomian dalam menghadapi pembalikan arus modal jangka pendek.

Inflasi Indeks Harga Komsumen (IHK) pada tahun 2010 tercatat 6,96%. Komoditas bahan pokok
seperti beras dan aneka bumbu memberi kontribusi kenaikan harga yang sangat besar sehingga inflasi kelompok
volatile food mencapai 17,74%, lebih tinggi dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang hanya sebesar
3,95%. Meski pada tahun laporan terdapat lonjakan inflasi volatile food, inflasi inti tetap terjaga pada level
yang cukup rendah, yaitu 4,28%. Hal ini didukung oleh terkendalinya faktor fundamental sebagaimana
diindikasikan oleh nilai tukar rupiah yang menguat, ekspektasi inflasi yang terjaga, serta kapasitas
perekonomian yang sejauh ini masih dapat memenuhi peningkatan permintaan. Sementara itu, kelompok
administered prices menunjukkan inflasi yang moderat, yaitu sebesar 5,40%.
Stabilitas sistem keuangan pada tahun 2010 tetap terjaga. Industri perbankan semakin solid sebagaimana
tercermin pada tingginya rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio) dan rasio kredit bermasalah (Non
Performing Loan) yang rendah. Selain itu, intermediasi perbankan juga semakin membaik tercermin dari
pertumbuhan kredit yang mencapai 22,8%. Kinerja pasar saham dan pasar obligasi didukung oleh menurunnya
risiko investasi dan relatif menariknya imbal hasil sehingga menarik masuknya arus modal asing ke instrumen
tersebut. Di pasar saham, meningkatnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga ditopang oleh
membaiknya kinerja laporan keuangan emiten dan struktur pasar yang semakin kondusif. Perkembangan
tersebut mendorong IHSG mencatat kenaikan tertinggi di kawasan. Di pasar obligasi, perbaikan tercermin dari
peningkatan volume perdagangan dan penurunan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) sejak awal tahun,
yang antara lain disebabkan oleh kesinambungan fiskal yang relatif terjaga. Di pasar uang, likuiditas meningkat
dan suku bunga cenderung mengarah ke batas bawah koridor. Hal ini mengindikasikan melimpahnya likuiditas
di sektor perbankan dan preferensi perbankan yang masih cenderung menempatkan kelebihan likuiditasnya
pada instrumen jangka pendek.3[6]

Pertumbuhan Ekonomi Tahun 2011


Di tengah ketidakpastian pemulihan ekonomi global, perekonomian Indonesia tumbuh menguat. Produk
Domestik Bruto (PDB) Indonesia tumbuh meningkat dari 6,2% pada tahun 2010 menjadi 6,5% pada tahun
2011. Tingkat pertumbuhan tersebut merupakan pencapaian tertinggi pascakrisis tahun 1997. Stabilitas
makroekonomi yang terjaga, seperti rendahnya inasi, terjaganya volatilitas nilai tukar, serta relatif stabilnya
kondisi politik dan keamanan dalam negeri menyokong tingginya kinerja perekonomian tersebut.
Dari sisi permintaan, pertumbuhan ekonomi yang tinggi terutama berasal dari konsumsi rumah tangga
yang masih berdaya tahan dan investasi yang tumbuh cukup tinggi. Daya beli yang tetap terjaga, sejalan dengan
tingkat inasi yang cukup rendah serta pendapatan masyarakat yang meningkat menjadi faktor pendorong
kuatnya konsumsi rumah tangga. Secara umum perbaikan penghasilan masyarakat tercermin dari meningkatnya
pendapatan per kapita yang kini telah mencapai 3.543 dolar AS. Dengan kondisi tersebut, konsumsi rumah
3

tangga mampu tumbuh sebesar 4,7%, lebih tinggi dari rata-ratanya 4,4%.

Hal tersebut sejalan dengan

meningkatnya penyerapan tenaga kerja pada sektor formal dan meningkatnya jumlah pekerja berpenghasilan
menengah ke atas serta membaiknya nilai tukar petani. Peningkatan pendapatan juga terjadi pada upah buruh
bangunan seiring dengan meningkatnya aktivitas investasi di sektor konstruksi. Di samping itu, peningkatan
upah minimum provinsi (UMP) juga menjadi faktor pendukung kuatnya konsumsi rumah tangga. Rata-rata
peningkatan UMP riil tahun 2011 di seluruh provinsi sekitar 5,0%, lebih ti nggi dari tahun lalu yang hanya
sebesar 1%.
Kontribusi pertumbuhan konsumsi Pemerintah pada pertumbuhan PDB tahun 2011 mengalami
peningkatan. Konsumsi Pemerintah tumbuh sebesar 3,2%, meningkat dari tahun sebelumnya yang hanya
sebesar 0,3%. Hal ini sejalan dengan meningkatnya de sit Pemerintah dalam APBN dari 0,6% dari PDB pada
2010 menjadi 1,2% dari PDB pada 2011. Peningkatan konsumsi Pemerintah berasal dari penyerapan
pengeluaran yang lebih baik dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Pengeluaran belanja Pemerintah terutama
ditujukan untuk belanja pegawai dan transfer ke daerah. Sementara itu, belanja barang baru terakselerasi pada
akhir tahun.
Sementara itu, kondisi fundamental makroekonomi Indonesia yang cukup terjaga mendukung semakin
kondusifnya iklim usaha dan meningkatkan optimisme dunia usaha sehingga mendorong aktivitas investasi.
Dengan kondisi yang lebih kondusif tersebut, investasi tumbuh meningkat menjadi 8,8%. Meningkatnya
investasi tersebut juga merupakan respons dunia usaha terhadap tingginya utilisasi kapasitas seiring dengan
kuatnya permintaan domestik maupun ekspor. Selain itu, peningkatan investasi tahun ini dipengaruhi oleh
penguatan nilai tukar rupiah yang mendorong peningkatan impor barang modal.
Selain konsumsi rumah tangga dan investasi, Ekspor Indonesia yang tetap berkinerja baik, di tengah
melemahnya ekonomi global, juga turut andil dalam membangun perekonomian Indonesia. Terjaganya kinerja
ekspor tidak terlepas dari keberhasilan upaya diversikasi negara tujuan ekspor, khususnya ke negara-negara
emerging markets di Asia. Dengan diversikasi tersebut ekspor mampu tumbuh tinggi mencapai 13,6%, jauh di
atas historisnya 7,5%.
Pada tahun 2011 pertumbuhan sektor tradables mencapai 4,5%, meningkat cukup signikan
dibandingkan dengan tahun sebelumnya sebesar 4,0%. Sementara itu, pertumbuhan sektor non-tradables
tumbuh tinggi mencapai 8,2%, relatif sama dengan pertumbuhan tahun 2010. Seiring dengan peningkatan
pertumbuhan yang lebih cepat, peran sektor tradables pada pertumbuhan ekonomi juga semakin meningkat,
meskipun masih tetap didominasi oleh sektor non-tradables.
Pertumbuhan ekonomi yang meningkat disertai peningkatan peran daerah luar Jawa. Peranan daerah luar
Jawa dalam perekonomian meningkat mencapai 42,3% dibandingkan dengan historisnya. Membaiknya
pertumbuhan di daerah, mendorong penguatan permintaan domestik yang tercermin dari konsumsi dan investasi
yang perannya terus meningkat di seluruh daerah. Perkembangan pada tahun 2011 menunjukkan hampir semua

daerah tumbuh meningkat kecuali kawasan yang mengalami gangguan teknis pertambangan, seperti dialami
oleh kawasan Kalimantan dan Bali Nusa Tenggara
DATA PERTUMBUHAN EKONOMI PER KUARTAL HINGGA 2013
Pemerintah mengakui sulit mengejar target pertumbuhan yang ditetapkan dalam
APBN-P 2014 yakni sebesar 5.5 persen. Wakil Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro
bahkan memperkirakan Indonesia harus bekerja keras mengejar pertumbuhan di level
5.3 persen. Kita mencoba realistis. Mudah-mudahan di semester II bisa memperbaiki
jadi sedikit bisa ke 5.3 persen. Outlook range kami di 5.2-5.3 persen, tutur Bambang,
pekan ini.
Dia menjelaskan Indonesia tidak bisa memaksa pertumbuhan supaya bisa di atas 5.3
persen karena sumbangan dari belanja pemerintah dan ekspor belum akan siginifkan
pada tahun ini. Kondisi tersebut membuat pertumbuhan ekonomi kuartal I dan II/2014
hanya di level 5.22 persen dan 5.12 persen.

Indonesia's Quarterly GDP Growth 20092014 (annual % change):


Year
2014
2013
2012
2011
2010
2009

Quarter I
5.22
6.03
6.29
6.45
5.99
4.60

Quarter II
5.12
5.89
6.36
6.52
6.29
4.37

Quarter III

Quarter IV

5.62
6.16
6.49
5.81
4.31

5.78
6.11
6.50
6.81
4.58

Source: Statistics Indonesia (BPS)

Gross Domestic Product of Indonesia 2006-2013:


2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013
GDP
(in billion USD)
GDP
(annual percent change)
GDP per Capita
(in USD)

285.9 364.6 432.1 510.2 539.4 706.6 846.8 878.0


5.5

6.3

6.1

4.6

6.1

6.5

6.2

5.8

1,643 1,923 2,244 2,345 2,984 3,467 3,546 3,468

Sources: World Bank, International Monetary Fund (IMF) and Statistics Indonesia (BPS)

Sebagai informasi, pada kuartal I/2014, belanja pemerintah hanya tumbuh negatif (0.7
persen) jauh lebih rendah dibandingkan kuartal II/2013 yakni 2.2 persen. Sementara itu,
ekspor pada kuartal II/2014 hanya tumbuh negatif (1.0 persen) sementara pada kuartal
II/2013 bisa 4.8 persen.
Namun, Bambang berharap ekspor akan sedikit membaik di semester II sehingga bisa
mendorong pertumbuhan ekonomi. Terlebih, mulai Agustus, diperkirakan sudah ada
beberapa perusahaan seperti PT Freeport Indonesia yang mengekspor mineral
konsentrat. Nilai ekspor pun bisa terdongkrak. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS),
nilai ekspor semester I/2014 hanya menembus USD $88.83 miliar atau turun 2.46 persen
dibandingkan semester I/2013.
Mudah-mudahan di semester II akan rebound ekspornya dengan mulainya ekspor
tambang jadi mudah-mudahan bisa kembali ke surplus, papar Bambang.
Merujuk pada data BPS, pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam empat tahun terakhir
hampir selalu meleset dari target, kecuali di tahun 2010 di mana pertumbuhan ekonomi
justru jauh di atas targetnya. Dalam setahun terakhir, Indonesia bahkan kesulitan
mengejar pertumbuhan di atas 6 persen. Melemahnya investasi serta ekspor menjadi
salah satu penyebabnya. Investasi melambat karena keputusan pemerintah dan Bank
Indonesia untuk menstabilkan defisit transaksi berjalan. Upaya tersebut salah satunya
adalah dengan menaikkan suku bunga acuan menghambat pertumbuhan investasi.
Sementara itu, ekspor anjlok karena pemberlakua larangan ekspor mineral mentah per
12 Januari 2014 menyusul diberlakukannya UU No.4 Tahun 2009 Mengenai Minerba.
Padahal, ekspor mineral mentah merupakan komoditas andalan Indonesia.

TRANSFORMASI STRUKTURAL EKONOMI INDONESIA


Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk sebanyak 237,56 juta jiwa lebih menurut data
sensus penduduk tahun 2010 lalu. Dengan jumlah penduduk yang tinggi tersebut, Indonesia mampu
menempati posisi ke-4 di dunia dari peringkat negara dengan jumlah penduduk terbanyak. Jumlah
penduduk yang tinggi tersebut dapat menjadi keuntungan atau bahkan kerugian bagi Indonesia
kedepannya.

Salah satu keuntungan yang timbul dari jumlah penduduk yang tinggi tersebut adalah demographic
dividend atau bonus demografi. Demographic dividend adalah suatu pertumbuhan yang potensial
dalam suatu perekonomian negara yang dihasilkan oleh perubahan struktur umur penduduknya.
Pertumbuhan ekonomi akan meningkat seiring dengan peningkatan jumlah penduduk usia produktif
(15-64 tahun) dan diiringi pula oleh penurunan tingkat kelahiran serta kematian. Indonesia
diproyeksikan akan mengalami masa transisi demografi yang paling optimal (biasa disebut window of
opportunity) pada tahun 2020 hingga 2030, dimana 100 penduduk usia produktif hanya akan
menanggung sekitar 47 penduduk usia tidak produktif. Dengan angka ketergantungan yang rendah,
maka produktifitas penduduk usia produktif dapat disumbangkan kedalam pertumbuhan ekonomi
negara, dan negara dapat mencicipi imbas dari demographic dividend ini.
Pemerintah harus serius dalam menangani ledakan penduduk usia produktif ini, seluruh penduduk
usia produktif harus diberdayakan seoptimal mungkin. Dengan adanya momentum ini, Indonesia
diyakini dapat bangkit dari keterpurukan di segala bidang baik ekonomi, sosial, budaya dan yang
lainnya. Seiring dengan ledakan penduduk usia produktif, perubahan struktur
perekonomian Indonesia pun mulai tampak perlahan dari tahun ke tahun. Grafik 1 menjelaskan
persebaran tenaga kerja di tiap sektor. Sebelum tahun 2008, sektor pertanian masih mendominasi
kegiatan perekonomian nasional, terdapat lebih dari 40 juta tenaga kerja yang bekerja pada sektor
ini. Namun, pada tahun 2009 keatas sektor jasa mulai menunjukkan tren peningkatan dan melampaui
jumlah tenaga kerja sektor pertanian, sedangkan sektor pertanian mulai merangkak turun kebawah.
Itu berarti tenaga kerja sektor pertanian mulai beralih ke sektor jasa atau sektor industri.

Akan tetapi, kembali lagi pada inti dari transformasi struktural, yaitu perubahan struktur
perekonomian negara dari sektor agraris ke sektor industri dan ditandai oleh (1) menurunnya pangsa
sektor primer (pertanian), (2) menurunnya pangsa sekunder (industri), (3) pangsa sektor tersier (jasa)
cenderung konstan, atau meningkat sejalan dengan pertumbuhan ekonomi. Fenomena yang terjadi
pada pangsa tenaga kerja di Indonesia justru menunjukkan hal yang sebaliknya dimana sektor
industri justru hanya menyerap sedikit tenaga kerja dan cenderung konstan.
Ketimpangan pun dapat dilihat dari daya sumbang tiap sektor terhadap PDB. Grafik 2 menjelaskan
mengenai daya sumbang sektor industri yang mendominasi PDB. Itu berarti sektor industri yang

hanya menyerap sedikit tenaga kerja tetapi mampu menghasilkan PDB yang lebih besar dari kedua
sektor yang lainnya. Bahkan, sektor industri mampu berkontribusi dalam PDB 3 kali lipat lebih tinggi
dari sektor pertanian, sektor yang banyak menyerap tenaga kerja.

Keadaan seperti ini merupakan keadaan yang tidak biasa, dimana transformasi struktural hanya
terjadi pada tingginya daya sumbang sektor industri terhadap PDB, bukan pada jumlah tenaga kerja
yang turut serta di dalamnya. Ketimpangan ini perlu diselesaikan agar sektor yang paling banyak
menghasilkan uang, diisi oleh tenaga kerja yang tinggi pula agar terjadi kesejahteraan dan
kemakmuran bagi mayoritas mayarakat Indonesia, bukan hanya sebagian kecil masyarakat saja.
Indonesia memerlukan pembenahan mutu SDM khususnya bagi penduduk usia produktif (15-65
tahun) agar tenaga kerja yang berada pada sektor pertanian dan jasa dapat beralih ke sektor industri,
serta terjadi peningkatan pertumbuhan ekonomi yang sejalan dengan pembangunan manusia.
Sebelum menentukan arah kebijakan, pemerintah harus memperhatikan dengan cermat Indeks
Pebangunan Manusia (IPM) yang ada agar kebijakan peningkatan mutu ini dapat berjalan secara
efektif dan efisien dalam mengalihkan jumlah tenaga kerja sektor pertanian dan jasa ke sektor
industri. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) sendiri merupakan indeks yang digunakan untuk
mengukur capaian pembangunan manusia berbasis sejumlah komponen dasar kualitas hidup. IPM
yang tinggi dapat mencerminkan kualitas SDM yang tinggi dari suatu negara. Sehingga jika IPM
suatu negara meningkat setiap tahunnya maka negara tersebut dapat merasakan transformasi
struktural yang lebih optimal pula, seperti meningkatnya jumlah tenaga kerja terdidik, meningkatnya
harapan hidup dan sebagainya. Dengan begitu pengalihan tenaga kerja dari sektor pertanian dan
jasa menuju sektor industri dapat terlaksana.
Sebagai ukuran kualitas hidup, IPM dibangun melalui pendekatan tiga dimensi dasar. Dimensi
tersebut mencakup umur panjang dan sehat, pengetahuan, dan kehidupan yang layak. IPM
Indonesia pada tahun 2013 hanya menempati peringkat 108 dari 187 negara yang ada di dunia
dengan poin sebesar 0,684 dan dengan skala 0-1 poin. Dengan poin IPM yang tergolong sedang

tersebut, Indonesia tidak patut berbangga hati, hal itu menandakan bahwa penanganan 3 komponen
IPM seperti yang ada pada Bagan 1 masih belum terlalu baik.

Adapula penjelasan komponen Indeks Pembangunan Manusia seperti yang ada pada Bagan 1
adalah sebagai berikut:
1.

Angka Harapan Hidup saat lahir

Angka Harapan Hidup (AHH) pada waktu lahir merupakan rata-rata perkiraan banyak tahun yang
dapat ditempuh oleh seseorang selama hidup.
1.

Angka Melek Huruf

Angka Melek Huruf adalah persentase penduduk usia 15 tahun keatas yang dapat membaca dan
menulis huruf latin dan atau huruf lainnya.
1.

Rata-rata lama sekolah

Rata-rata lama sekolah menggambarkan jumlah tahun yang digunakan oleh penduduk usia 15 tahun
keatas dalam menjalani pendidikan formal.
1.
Pengeluaran riil per kapita yang disesuaikan
UNDP mengukur standar hidup layak menggunakan Produk Domestik Bruto (PDB) riil yang
disesuaikan, sedangkan BPS dalam menghitung standar hidup layak menggunakan rata-rata
pengeluaran per kapita riil yang disesuaikan dengan formula Atkinson. Pada dasarnya, pengeluaran
riil per kapita sama dengan PDB Riil per kapita berdasarkan PPP (Purchasing Power Parity).
Walaupun masih tergolong sedang, nilai IPM Indonesia telah mengalami peningkatan dari tahun ke
tahun seperti yang tergambar dalam Grafik 3 (garis hijau). Peningkatan IPM Indonesia disebabkan

karena adanya peningkatan pada ketiga komponen IPM. Berikut kondisi komponen-komponen IPM di
Indonesia.

Angka Harapan Hidup


Menururut survey terbaru WHO, usia harapan hidup Indonesia meningkat bila dibandingkan dengan
10 tahun lalu. Usia harapan hidup yang dulu hanya 50-60 tahun, pada tahun 2015 telah meningkat
menjadi 71 tahun.

Namun demikian, peningkatan tersebut tidak menajadikan peringkat Indonesia naik secara drastis,
karena menurut data BPS pada tahun 2010-2015, Indonesia masih berada pada peringkat 7

terendah pada usia harapan hidup. Hal ini tentu saja perlu mendapatkan perhatian khusus dari
pemerintah. Beberapa permasalahan yang perlu segera diatasi adalah rendahnya anggaran belanja
daerah pada fasilitas kesehatan, yaitu rata-rata 1,2% dari PDB saja, angka ini merupakan angka
terendah di dunia. Di sisi lain, masih banyak penduduk yang tidak memiliki asuransi, yaitu sekitar
49% penduduk Indonesia, hal ini menunjukkan bahwa Program Jaminan Kesehatan Nasional yang
digalakkan pemerintah melalui Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan belum menjangkau
seluruh kalangan masyarakat. Kurangnya akses terhadap fasilitas kesehatan juga menjadi masalah
serius, sebagai contoh di Papua, jarak failitas kesehatan terlalu jauh, bahkan mencapai 30 km. Selain
itu, permasalahan kesehatan seperti kesehatan anak dan juga kematian ibu melahirkan Indonesia
yang masih tinggi juga harus segera mendapatkan perhatian khusus.
2. Prosentase Buta Huruf
Angka Buta Huruf Indonesia masih terbilang tinggi bila dibandingkan dengan negara lain, hal ini
dapat dibuktikan dengan peringkat melek huruf Indonesia yaitu pada peringkat 85 dari 175 negara di
dunia. Posisi tersebut masih jauh dibawah negara Asia Tenggara lainnya, yaitu Malaysia, Filiphina,
Thailand, Singapura dan Brunei. Sedangkan sebaran penduduk buta huruf di Indonesia berdasarkan
pulau dapat dilihat dalam bagan berikut .

Berdasarkan tabel di atas, dapat dilihat bahwa Kepulauan Maluku dan Papua memiliki angka buta
huruf tertinggi dibandingkan dengan kelima pulau lainnya. Hal ini dapat dikaitkan dengan fasilitas
pendidikan serta infrastruktur daerah tersebut yang masih kurang terjangkau oleh pemerintah.
Sedangkan secara keseluruhan, tingkat buta huruf di Indonesia mayoritas berasal dari penduduk
dengan usia lebih dari 45 tahun. Dengan demikian, selain pemerintah harus meningkatkan angka
melek huruf pada penduduk dengan usia dibawah 40 tahun dengan meningkatkan fasilitas
pendidikan formal, pemerintah juga harus meningkatkan tingkat melek huruf pada usia 45 tahun ke
atas, yang notabene sudah tidak mungkin lagi mengenyam pendidikan formal. Oleh karena itu,
program pemerintah berupa pendidikan non-formal yaitu Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM)
harus terus digencarkan. Berbagai solusi lain untuk meningkatkan tingkat melek huruf adalah dengan
menggalakkan lagi wajib belajar 9 tahun dan pemberian beasiswa bagi penduduk kurang mampu,
membuat buku-buku bacaan bersubsidi agar dapat terjangkau oleh masyarakat hingga kalangan

bawah, serta mendukung gerakan-gerakan pendidikan yang dilakukan oleh LSM, sanggar belajar,
dan lain sebagainya.

3. Rata-Rata Lama Sekolah


Tingkat rata-rata lama sekolah di Indonesia sudah mengalami peningkatan meskipun masih lambat.
Pada tahun 2011 rata-rata penduduk Indonesia yang berusia 15 tahun ke atas bersekolah sampai
kelas 2 SMP, tahun 2012 naik 1 tingkat menjadi kelas 3 SMP, dan tahun 2013 masih sama seperti
tahun sebelumnya hanya meningkat 0,06.
Berbagai program sebenarnya sudah dilakukan pemerintah utuh memajukan sektor pendidikan
seperti BOS (Bantuan Operasional Sekolah), wajib belajar 9 tahun sampai pengadaan anggaran
APBN sebesar 20% untuk bidang pendidikan. Akan tetapi, langkah-langkah tersebut belum
menunjukkan hasil yang memuaskan.
Ada banyak tantangan dalam usaha peningkatan kualitas SDM dalam aspek pendidikan. Tantangan
tersebut antara lain adalah belum meratanya pendidikan. Pendidikan formal belum dirasakan semua
kalangan terutama penduduk miskin. Terdapat kesenjangan tingkat pendidikan antar penduduk
dengan tingakat pendapatan tertentu. Pada tahun 2011 rentang pencapaian APS (Angka Putus
Sekolah) 13-15 antara 20% penduduk dengan pendapatan terendah dengan 20% penduduk
berpendapatan tertinggi sebesar 17,01 persen kemudian tahun berikutnya mengalami penurunan
hingga mencapai 12,69 persen pada tahun 2013. Tantangan berikutnya adalah mahalnya biaya
pendidikan. Ketidak mampuan masyarakat untuk membayar biaya pendidikan menyebabkan putus
sekolah kelompok umur 16-18 tahun. Menurunkan tingakat putus sekolah usia 13-15 tahun dan 1618 tahun harus menjadi prioritas pemerintah untuk meningkatkan kualitas SDM dalam rangka
peningkatan industriisasi.
4. Pengeluaran Riil Perkapita yang Disesuaikan
Tingginya tingkat pendapatan perkapita suatu negara tidak menjamin keberhasilan pencapaian IPM
yang baik selama masih ada kesenjangan yang besar dalam pemerataan pendapatan perkapita
tersebut. Pertumbuhan perekonomian perlu disertai ukuran pemerataan kesejahteraan untuk
dijadikan tolak ukur utama dalam penentuan keberhasilan pembangunan manusia.
Pengeluaran riil perkapita Indonesia mengalami kenaikan dari tahun ke tahun,tetapi masih jauh dari
target yang ditentukan pemerintah. Selama periode 3 tahun (2011-2013) PPP (Pengeluaran Per
Kapita Pertahun ) Indonesia mengalami peningkatan sebanyak Rp5.310,-, tetapi angka ini masih jauh
dari target jangka panjang 2018 yang ditetapkan sebesar Rp 732.720,-.
Pertumbuhan perekonomian yang ada juga tidak selaras dengan pemerataan sehingga terjadi
kegagalan pencapaian target IPM. Kesenjangan kesejahteraan di Indonesia selama tahun 2009
sampai tahun 2012 mengalami peningkatan (berdasarkan indeks Gini) yaitu dari 0,37 menjadi 0,41.
Hal ini tentunya harus menjadi perhatian khusus pemerintah apalagi dalam menghadapi puncak
bonus demografi 15 tahun mendatang.

Tingat kemiskinan merupakan permasalahan utama bisa mejadi salah satu faktor penghalang utama
tercapainya tinggkat IPM yang tinggi. Hal ini karena jika masyarakat miskin, masyarakat tidak akan
mampu memenuhi kebutuhan kesehatan dan pendidikan mereka. Tngkat kemiskinan di Indonesia
selama tahun 2011 sampai 2014 mengalami tren penurunan meskipun masih lambat. Penurunan
terjadi dari 29,89 juta jiwa (12,36 persen) tahun 2011 menjadi 28,55 juta jiwa (11,47 persen) pada
tahun 2013.

Kesimpulan
Untuk menghadapi periode window of opportunity dari bonus demografi di tahun 2020-2030 nanti,
perbaikan komponen-komponen IPM Indonesia perlu lebih ditingkatkan. Hal ini dikarenakan
transformasi struktural di Indonesia dari sektor agraris ke sektor industri membutuhkan perhatian dan
dukungan lebih. Sektor industri sendiri menyumbang pangsa terbesar pada PDB Indonesia dari tahun
ke tahun. Oleh karena itu, sektor ini perlu disokong dengan pembangunan manusia yang baik dan
merata. Perlu adanya persiapan sumber daya manusia untuk menyongsong industrialisasi, seperti
dengan pelatihan tenaga kerja yang terkait dengan sektor industri, peningkatan penyerapan tenaga
kerja di sektor industri, dan lain sebagainya agar jumlah tenaga kerja di sektor industri dapat
meningkat.
Tujuan utama dari peningkatan mutu SDM Indonesia pada dasarnya bukan hanya diarahkan untuk
peningkatan jumlah tenaga kerja di sektor industri, namun kualitas dari tenaga kerja tersebut perlu
diperhatikan pula. Rendahnya jumlah tenaga kerja terdidik yang bekerja di sektor Industri pun
bakal menjadi hambatan bagi Indonesia untuk menjadi raja di negeri sendiri. Pemerintah seharusnya
bukan hanya menentukan kebijakan yang dapat mengalihkan tenaga kerja sektor jasa dan petanian
ke sektor Industri, namun juga meningkatkan kualitas dari seluruh tenaga kerja itu sendiri dengan
cara peningkatan pendidikan tenaga kerja. Dengan tingkat pendidikan yang tinggi, penduduk usia
produktif dapat mengisi pos-pos penting dalam dunia kerja. Berbeda dengan tenaga kerja terlatih
yang mayoritas mengisi jabatan atau pekerjaan pada level yang rendah. Sehingga dengan datangnya
industrialisasi ini diharapkan penduduk Indonesia tidak hanya diperbudak pada jabatan-jabatan level
terbawah, namun mengisi pos-pos yang lebih tinggi.
Kunci lain yang harus diperhatikan agar terjadi peningkatan IPM dan tranformasi struktural dapat
diraih adalahpengalokasian belanja publik dan kesehatan harus ditingkatkan jumlah dan
penggunaannya sertapendistribusian pendapatan yang merata. Anggaran yang dialokasikan
pada bidang pendidikan untuk saat ini memang sudah besar yaitu sebesar 20% dar dana APBN,
namun peggunaannya masih belum maksimal. Anggaran kesehatan pun masih tergolong rendah,

namun penggunaannya selalu maksimal. Sedangkan pendistribusian pendapatan yang merata akan
meningkat seiring dengan peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan masyarakat.
Kesiapan Indonesia dalam memaksimalkan peluang demographic dividend masih perlu lebih
ditingkatkan lagi. Walaupun terus mengalami kenaikan, pertumbuhan pembangunan manusia di
Indonesia masih relatif lambat dibanding negara-negara lain. Peningkatan pada tiap komponen IPMnya pun belum disertai dengan pemerataan.
Pemerintah harus bergerak cepat dan tepat dalam menentukan arah pembangunan manusia agar
ketimpangan yang terjadi pada pangsa jumlah tenaga kerja dapat diatasi. Dengan peningkatan
pendidikan dan kesehatan maka pemerintah dapat meningkatkan harapan hidup masyarakat dan
pada akhirnya dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan. Ketika window of
opprtunity dari bonus demografi datang pada tahun 2020-2030, kondisi masyarakat Indonesia harus
berada pada kondisi yang paling optimal. Jika mayoritas penduduk Indonesia bekerja pada sektor
industri melebihi jumlah tenaga kerja di sektor jasa dan pertanian, maka PDB Indonesia pada sektor
Industri dapat meningkat dengan tajam sehingga tingkat kesejahteraan dan kemakmuran warga
Indonesia dapat meningkat drastis dan berbagai macam permasalahan bangsa dapat teratasi.