Anda di halaman 1dari 22

MATA PELAJARAN 05

Pelumasan

TUJUAN PEMBELAJARAN :
Setelah mengikuti pembelajaran pelumasan ini peserta mampu
memahami pelumasan pada pembangkit dengan aman dan
benar sesuai SOP yang berlaku di perusahaan

DURASI
PENYUSUN

: 4 JP
:

1. MM

Simple Inspiring Performing Phenomenal

DAFTAR ISI

TUJUAN PEMBELAJARAN : ........................................................................................... i


DAFTAR ISI .................................................................................................................... ii
DAFTAR GAMBAR ........................................................................................................ iii
DAFTAR TABLE ............................................................................................................ iv
PRINSIP DASAR PELUMASAN .................................................................................... 1
1.

Gesekan dan Keausan ........................................................................................ 1

2.

Fungsi Pelumasan .............................................................................................. 1

3.

Jenis-Jenis Pelumas ........................................................................................... 4

4.

Sistem Pelumasan .............................................................................................. 7

4.1.

Sistem Terbuka ................................................................................................... 7

4.2.

Sistem Tertutup ................................................................................................... 9

5.

Metoda Pemurnian Minyak Pelumas (Oil Conditioning) ......................................12

5.1.

Tangki Pengendap (Settling Tank) .....................................................................13

5.2.

Penyaringan Minyak ...........................................................................................13

5.3.

Pemisah Sentrifugal (Oil Centrifuge) ..................................................................15

6.

Penanganan Pelumas ........................................................................................17

6.1.

Faktor Kebersihan dan Perawatan .....................................................................17

6.2.

Keselamatan kerja dan kesehatan yang perlu diperhatikan meliputi : .................17

Simple Inspiring Performing Phenomenal

ii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 Gaya yang Bekerja pada Bidang Permukaan tanpa Pelumas ....................... 2
Gambar 2 Pelumas Menjadi Media Pemisah ................................................................. 2
Gambar 3 Pelumasan Film ............................................................................................ 2
Gambar 4 Pelumas sebagai Perapat ............................................................................. 3
Gambar 5 Pelumasan sebagai Peredam Kejut .............................................................. 3
Gambar 6 Peralatan Sistem Pelumas Manual ............................................................... 7
Gambar 7 Pelumasan Gemuk secara manual ............................................................... 7
Gambar 8 Pelumasan gemuk secara otomatis .............................................................. 8
Gambar 9 Pelumasan Tetes dengan Katup ................................................................... 9
Gambar 10 Pelumasan tetes dengan tanpa katup ......................................................... 9
Gambar 11 Pelumasan dengan cincin ..........................................................................10
Gambar 12 Pelumasan dengan percikan ......................................................................11
Gambar 13 pelumasan dengan Sirkulasi Bertekanan ...................................................11
Gambar 14 Tipical Minyak Pendingin Pelumas .............................................................12
Gambar 15 tangki Pengendap ......................................................................................13
Gambar 16 Pemurnian dengan saringan ......................................................................15
Gambar 17 Pemurnian minyak pelumas dengan conditioning.......................................15
Gambar 18 Saringan centrifugal minyal pelumas ..........................................................16

Simple Inspiring Performing Phenomenal

iii

DAFTAR TABLE
Tabel 1 Macam-macam Grease..................................................................................... 6

Simple Inspiring Performing Phenomenal

iv

PRINSIP DASAR PELUMASAN


1. Gesekan dan Keausan
Gesekan adalah suatu gaya yang bekerja pada bidang kontak diantara dua
permukaan benda yang bergerak secara relatif sesamanya dan gaya ini cenderung
menghambat. Secara umum, gesekan ada 2 macam, yaitu :
a. Gesekan Statik adalah gesekan yang terjadi pada bidang kontak diantara dua
benda yang cukup besar untuk mencegah terjadinya gesekan. Contoh
gesekan statik adalah gesekan antara mur dengan baut. Gesekan statik
adalah gerakan sehingga mur tetap terpancang erat pada baut.
b. Gesekan Kinetik adalah gesekan yang terjadi pada bidang kontak diantara
dua benda yang saling bergerak secara relatif sesamanya. Contoh gesekan
kinetik adalah gesekan antar permukaan bantalan dengan permukaan poros
turbin .
Gesekan statik selalu lebih besar dari gesekan kinetik. Akibat adanya gesekan ini,
terjadi pengikisan material pada bidang kontak antara dua permukaan tersebut.
Pengikisan ini disebut keausan.

2. Fungsi Pelumasan
Keausan akibat gesekan dapat dikurangi dengan cara mencegah terjadinya kontak
langsung antara dua permukaan benda yang saling bersinggungan seperti poros
dengan bantalan. Untuk mengurangi singgungan langsung ini, dapat dilakukan
dengan memberikan pelumasan. Pelumas akan menjadi media pemisah diantara
dua permukaan sehingga tidak terjadi kontak langsung. Secara umum, prinsip
pelumasan dapat dibedakan menjadi 2 macam, yaitu :
a. Pelumasan Batas adalah pelumas dimana kedua permukaan benda hanya
dipisahkan oleh selapis pelumas yang sangat tipis sehingga pada beberapa
lokasi masih terjadi kontak langsung antara kedua permukaan tersebut.
b. Pelumasan Film adalah pelumasan dimana kedua permukaan benda
dipisahkan oleh lapisan pelumas yang cukup (film) sehingga tidak terjadi
kontak langsung antara kedua permukaan.
Prinsip pelumasan yang baik adalah pelumasan film. Jadi fungsi utama pelumasan
adalah untuk mengurangi gesekan.
Selain fungsi utama tersebut, pelumasan juga mempunyai fungsi lain seperti :

Pendingin

Gesekan akan menimbulkan panas. Panas yang berlebihan dapat merusakkan


komponen. Pelumas akan menyerap sebagian panas yang timbul sehingga
panas yang berlebihan dapat dihindari. Apabila panas yang timbul diperkirakan
cukup besar, biasanya pelumas disirkulasikan melalui pendingin minyak.
Simple Inspiring Performing Phenomenal

Gambar 1 Gaya yang Bekerja pada Bidang Permukaan tanpa Pelumas

Gambar 2 Pelumas Menjadi Media Pemisah

Gambar 3 Pelumasan Film

Untuk mengurangi korosi

Pelumas dapat mengurangi laju korosi dengan cara membentuk lapisan


pelindung pada permukaan logam. Lapisan ini akan mencegah kontak langsung
antara permukaan logam dengan zat penyebab korosi seperti asam dan
sebagainya.

Sebagai perapat

Pelumas dapat membentuk perapat sehingga kotoran dari luar dapat dicegah
agar tidak masuk ke dalam bidang kontak
Simple Inspiring Performing Phenomenal

Sebagai peredam beban kejut

Beban kejut dapat terjadi pada banyak komponen mesin dimana dua permukaan
kontak langsung seperti roda-roda gigi yang saling berhubungan dan berputar
pada kecepatan tinggi. Pelumas akan memperkecil kejutan/benturan yang terjadi
pada titik B sehingga dapat meredam getaran dan mengurangi kebisingan.

Gambar 4 Pelumas sebagai Perapat

Gambar 5 Pelumasan sebagai Peredam Kejut

Simple Inspiring Performing Phenomenal

3. Jenis-Jenis Pelumas
Menurut wujudnya, pelumas dapat dibedakan menjadi :
a. Pelumas Cair (minyak pelumas)
Minyak pelumas yang banyak dipakai adalah minyak pelumas mineral. Minyak
pelumas ini merupakan hasil sampingan dari penyulingan minyak bumi. Karakteristik
minyak pelumas merupakan gambaran dari sifat-sifat pelumas serta
kemampuannya untuk melumasi. Dipasaran tersedia cukup banyak jenis minyak
pelumas. Diantara sifat-sifat minyak pelumas yang terpenting adalah :
Kadar Viskositas (Viscosity)
Viskositas atau kekentalan merupakan suatu ukuran yang menyatakan besarnya
tahanan cairan terhadap aliran. Dengan kata lain juga disebut sebagai
kemampuan suatu cairan untuk mengalir. Viskositas cairan merupakan fungsi
dari temperatur. Menurut SAE (Society of Automotive Engineers), kekentalan
minyak pelumas dibedakan menurut nomor. Makin tinggi nomornya makin kental
minyak pelumas tersebut.
Contoh :
Minyak pelumas SAE 30 lebih kental dari minyak pelumas SAE 10.
Indeks Viskositas (Viscosity Index / V.I). Merupakan ukuran dari laju perubahan
viskositas minyak pelumas terhadap perubahan temperatur. Minyak pelumas
yang viskositasnya berubah cukup banyak terhadap perubahan temperatur
dikatakan memiliki indeks viskositas rendah dan sebaliknya. Indeks viskositas
dinyatakan dengan angka dari 0 sampai 100.
Titik Tuang (Pour Point)
Merupakan temperatur dimana minyak pelumas mulai menjadi kental dan tidak
dapat mengalir. Minyak pelumas yang akan digunakan pada temperatur rendah
harus memiliki titik tuang yang rendah.
1. Titik Nyala (Flash Point)
Merupakan temperatur terendah dimana uap minyak pelumas akan terbakar bila
diberikan sumber panas tetapi pembakaran berhenti bila sumber panas
dihilangkan.
2. Titik Bakar (Fire Point)
Merupakan temperatur dimana uap minyak/pelumas yang timbul akan terbakar
dan akan terus menyala meskipun tidak diberikan sumber panas.
b. Pelumas Semi Padat (grease)
Pelumas semi padat berwujud pasta dan sering disebut gemuk (grease). Gemuk
merupakan campuran yang terdiri dari 4 komponen yaitu :

Simple Inspiring Performing Phenomenal

Cairan dasar (base fluid)

Bahan dasar gemuk kebanyakan adalah minyak mineral. Minyak mineral dengan
viskositas rendah dipakai sebagai bahan dasar bagi gemuk untuk temperatur
rendah dan kecepatan tinggi. Untuk pemakaian temperatur tinggi dan kecepatan
rendah dipakai gemuk dengan bahan dasar minyak mineral viskositas lebih
tinggi. Bahan pengental berfungsi untuk mengentalkan bahan dasar hingga
menjadi gemuk (grease).

Bahan Pengental

Bahan pengental yang sering dipakai adalah sabun yang berasal dari campuran
lemak (binatang dan tumbuh-tumbuhan) dengan logam seperti : Logam Barium,
Lithium, Calsium, Timah atau Seng.

Bahan tambah (additive)

Berfungsi untuk memperbaiki sifat dan daya lumas gemuk. Tipe-tipe bahan
tambah yang dipakai diantaranya adalah : bahan anti oksida, anti korosi, dsb.

Bahan pengisi (filler)

Berfungsi untuk meningkatkan stabilitas gemuk. Bahan yang paling banyak


dipakai adalah Graphite, Molybdenum, dan Mica. Bahan pengisi dapat
dilepaskan sedikit demi sedikit untuk membantu pelumasan dengan membentuk
lapisan pelumas pada permukaan yang dilumasi. Meskipun bahan pengisi (filler)
juga memiliki daya lumas, tetapi peranan utama tetap dipegang oleh bahan
dasarnya sendiri.
Karakteristik gemuk yang perlu diketahui diantaranya :

Kekerasan (hardness)

Bila minyak pelumas memiliki indeks viskositas maka gemuk memiliki kekerasan /
kepadatan (hardness). Pengaruh dan kegunaannya setara dengan viskositas.

Titik leleh (dropping point)

Adalah temperatur dimana gemuk mulai mencair

Ketahanan terhadap air (water resistance)

Adalah sifat gemuk tentang kekedapan terhadap air

Kemampuan untuk dipompa (pump ability)

Ialah sifat gemuk yang menyatakan dapat atau tidaknya gemuk tersebut
dipompakan, dan merupakan sifat gemuk yang menyatakan tingkat stabilitasnya
terhadap kondisi operasi dari peralatan yang dilumasi.

Simple Inspiring Performing Phenomenal

Tabel 1 Macam-macam Grease


Tipe
(Gemuk)

Titik leleh (dropping


Point)

Tempera
Water
tur Max.
Wujud
Warna
Resistan
operasi
(texture) (colour)
ce
kontinyu

Aplikasi

Calsium

200 F

160 F

Baik

Kuning
Tujuan umum, gemuk mangkok,
Smooth kemerah
gemuk poros, plain beraring kerja
Buttery an
berat

Sodium

325 F

250 F

Jelek

Fibroua/ Kuning/hi Tujuan umum, bearing-bearing,


spongy
jau
convayer, bearing anti friksi tugas

Barium

375 F

275 F

Baik

Kuning berat. Tujuan umum, plain bearing


Smooth
kemerah dan bearing anti friksi, pelumasan
to sringy
an
untuk kendaraan, alat berat

Lithium

300 F

300 F

Baik

pertambangan dan alat konstruksi,


Buttery
Kecoklat banyak tujuan plain bearing dan
to sringy
bearing anti friksi

Calcium
complex

500 F

250 F

Baik

Coklat pemakaian temperatur rendah dan


Buttery Kemerah tinggi, banyak tujuan, bearing roda,
bearing anti friksi
an

c. Pelumas Padat
Pelumas padat biasanya terbuat dari graphite dan molybden disulfida (MoS2).
Pelumas ini dipakai apabila pelumas cairdan pelumas semi padat sudah tidak
memungkinkan untuk dipakai misalnya pada temperatur operasi yang terlalu
tinggi atau terlalu rendah.
Cara terbaik untuk memakai pelumas padat adalah dengan cara
menyemprotkan (spraying) ke permukaan yang akan dilumasi. Bila cara spray
tidak tersedia, bahan pelumas padat dapat disapukan ke permukaan yang akan
dilumasi dengan menggunakan kuas meskipun sebenarnya cara ini kurang
menjamin pemerataan distribusi pelumas. Baut dapat dikencangkan sampai
kekuatan maksimum tanpa mengalami kesukaran waktu melepaskan kembali
asalkan sebelumnya ulir / drad baut tersebut dibubuhi pelumas padat Molybden
Disulfida (MoS2). Pelumas ini seing dipakai untuk melumasi baut-baut ketel,
melumasi baut-baut turbin, flens katup sampai rantai-rantai conveyor yang
bersuhu tinggi.

Simple Inspiring Performing Phenomenal

4. Sistem Pelumasan
4.1. Sistem Terbuka
Pada sistem ini tidak terjadi sirkulasi tertutup pada pelumas. Metoda pelumasan
untuk sistem terbuka dibedakan :
a. Pelumasan secara manual
Penggunaannya terbatas dan dilakukan secara periodik. Kemungkinan terjadinya
kelebihan atau kekurangan pelumas sangat besar. Pemberian pelumas dilakukan
secara manual dengan bantuan peralatan seperti pada gambar berikut.

Gambar 6 Peralatan Sistem Pelumas Manual

b. Pelumasan Gemuk secara manual


Pelumasan cara ini dilakukan dengan menginjeksikan gemuk secara berkala
pada bantalan yang dilumasi. Gemuk yang diinjeksikan dengan menggunakan
peralatan khsusus (grease gun) melalui saluran pemasukan (grease nipple)
yang disediakan.

Gambar 7 Pelumasan Gemuk secara manual

Simple Inspiring Performing Phenomenal

c. Pelumasan secara otomatis


Pelumasan dengan cara ini lebih terjamin dibanding cara manual, karena
meskipun tanpa sirkulasi tertutup, tetapi kontinuitas pelumas dapat diandalkan.
Metoda pelumasan dilaksanakan dengan cara :

Pelumasan gemuk secara otomatis

Prinsip pelumasan ini sama dengan prinsip pelumasan yang baru dibahas.
Perbedaannya hanya terletak pada menginjeksikan gemuk yang tidak lagi
dilakukan secara manual tetapi secara otomatis. Penginjeksian otomatis ini
dapat dengan menggunakan pompa grease atau dengan menggunakan
mangkuk grease. Alat pengisian sering dipasang di mesin bilamana kecepatan
rendah membuat pelumasan dengan minyak pelumas tidak praktis dan
pengisian gemuk-gemuk secara kontinyu dengan satu pompa adalah hanya
satu-satunya cara. Cara ini juga digunakan untuk pengisian gemuk sliding feet
dan pasak-pasak pada turbin besar.

Gambar 8 Pelumasan gemuk secara otomatis

Pelumasan tetes dengan katup

Pelumasan tetes model ini volume aliran pelumas diatur melalui katup pengatur.
Bila peralatan yang perlu dilumasi tidak sedang operasi (stop), maka katup
penutup harus ditutup untuk menghentikan tetesan.

Simple Inspiring Performing Phenomenal

Gambar 9 Pelumasan Tetes dengan Katup

Pelumasan tetes dengan botol

Pelumasan model ini tidak memerlukan katup. Spindel yang dipasang


menyentuh permukaan poros yang dilumasi. Bila poros berputar, spindel akan
bergetar yang mengakibatkan pelumas mengalir. Bila poros berhenti maka aliran
pelumas pun akan berhenti dengan sendirinya.

Gambar 10 Pelumasan tetes dengan tanpa katup

4.2. Sistem Tertutup


Pada pelumasan sistem tertutup terjadi sirkulasi tertutup pada pelumas, jadi pelumas
yang sama dipergunakan secara berulang-ulang. Perlumasan sistem tertutup
dibedakan menjadi 2 macam, yaitu :
- Pelumasan tanpa tekanan
- Pelumasan bertekanan

Pelumasan tanpa tekanan

Pelumasan ini menerapkan sirkulasi pelumas tertutup tanpa menggunakan


pompa Metoda pelumasan seperti ini dilaksanakan dengan cara :
Simple Inspiring Performing Phenomenal

Pelumasan dengan cincin

Ring minyak pelumas ditempatkan melingkar pada poros. Bagian atas cincin
menyentuh pada poros sedangkan bagian bawah terendam pada minyak
pelumas. Pada saat poros berputar, cincin akan turut berputar. Waktu berputar
cincin akan membawa minyak pelumas ke poros. Selanjutnya minyak pelumas
ini akan menyebar sepanjang poros melalui alur-alur minyak pelumas pada
bantalan.
Tipe bantalan seperti ini biasanya mempunyai clearance (kelonggaran pada
bagian atas). Panas pada minyak pelumas dihilangkan oleh konveksi udara
yang mengalir melalui reservoir minyak pelumas. Bila metoda ini tidak cukup
memberi pendingin, dapat ditambah dengan pendinginan air melalui pipa-pipa
yang dipasang pada reservoir minyak pelumas.

Gambar 11 Pelumasan dengan cincin

Pelumasan dengan percikan

Pada metoda pelumasan ini minyak dipercikkan kebagian-bagian yang akan


dilumasi. Menurut gambar, minyak dipercikkan ke bantalan oleh roda gigi yang
berputar. Setelah melumasi, minyak mengalir kembali ke penampung.

Simple Inspiring Performing Phenomenal

10

Gambar 12 Pelumasan dengan percikan

Pelumasan dengan bertekanan

Sistem sirkulasi tertutup bertekanan menggunakan minyak yang bertekanan


untuk melumasi bagian-bagian yang perlu dilumasi. Karena itu diperlukan
pompa untuk mensirkulasikan minyak. Metoda pelumasan ini banyak dipakai
pada peralatan- peralatan yang harus memikul beban berat dan berputar pada
putaran yang tinggi. Di PLTU, metoda pelumasan ini dipakai pada sistem
pelumasan turbin, pompa besar dan fan.
Peralatannya terdiri dari komponen-komponen seperti :
-

Tangki minyak pelumas

Saringan / strainers

Pompa minyak pelumas

Pendingin minyak pelumas

Gambar 13 pelumasan dengan Sirkulasi Bertekanan


Simple Inspiring Performing Phenomenal

11

Minyak pelumas disirkulasikan oleh pompa ke bantalan-bantalan atau komponen


yang dilumasi. Setelah melakukan tugasnya, minyak pelumas akan kembali ke
tangki penampung. Setelah melalui saringan, pelumas ini disirkulasikan kembali ke
bantalan oleh pompa pelumas. Sebelum mencapai bantalan, minyak pelumas
didinginkan terlebih dahulu di dalam pendingin pelumas dengan media pendingin
yang dipakai biasanya air.
Disamping sebagai pelumas, minyak pada sistem ini juga berfungsi sebagai
pendingin bantalan (minyak menyerap panas dari bantalan dan membawa ke
pendingin minyak). Tangki pelumas harus cukup besar sehingga aliran minyak yang
melaluinya dapat mengalir dengan lambat, ini dimaksudkan agar minyak tidak
berbusa. Selain itu juga untuk memudahkan kotoran dan air mengendap ke dasar
tangki. Dasar tangki dibuat miring agar endapan air dan kotoran dapat berkumpul di
satu lokasi untuk selanjutnya mudah untuk di drain.
Pendingin minyak pelumas :
Umumnya pendingin pelumas dipasang 2 buah yang beroperasi 100% bergantian,
bila salah satu dari pendingin tersebut dipelihara / diperbaiki, maka yang lain masih
tetap dapat beroperasi denga beban penuh. Pendingin ini dipasang secara paralel,
terletak di antara main oil pump (pompa pelumas utama) atau auxiliary oil pump
(pompa pelumas bantu) dan pipa-pipa minyak menuju bantalan-bantalan.

Gambar 14 Tipical Minyak Pendingin Pelumas

5. Metoda Pemurnian Minyak Pelumas (Oil Conditioning)


Minyak pelumas dalam sistem perlu selalu di jaga agar tetap dalam kondisi baik
terutama kebersihannya. Minyak yang tercemar akan mengurangi daya pelumasan
Simple Inspiring Performing Phenomenal

12

dan bahkan mengakibatkan gesekan dan keausan pada komponen yang dilumasi.
Beberapa contoh pencemaran minyak diantaranya adalah air, pasir, partikel logam,
karat, abu, lumpur.
Metoda pemurnian minyak pelumas terdiri dari :
- Pemurnian minyak dengan tangki pengendap (Settling Tank)
- Pemurnian minyak dengan penyaring minyak (Oil Filter)
- Pemurnian minyak dengan pemisah sentrifugal (Oil Centrifuge)

5.1. Tangki Pengendap (Settling Tank)

Gambar 15 tangki Pengendap

Gambar di atas memperlihatkan tangki pengendap sebagai perlengkapan sistem


pelumasan. Minyak yang digunakan dikeluarkan dari sistem dan dialirkan dengan
lambat ke salah satu tangki pengendap. Minyak kemudian dipanaskan untuk
menurunkan viskositasnya. Ini dimaksudkan untuk mempercepat proses
pengendapan bahan-bahan pencemaran ke dasar tangki. Kotoran dan air yang
mengendap dan terkumpul di dasar tangki kemudian dapat di drain. Dengan cara ini
diharapkan minyak dapat dibersihkan dari pencemaran kotoran dan air.

5.2. Penyaringan Minyak


Ada dua jenis penyaring yang lazim dipakai yaitu : saringan halus dan saringan
kasar (filters and strainers).

Simple Inspiring Performing Phenomenal

13

Saringan minyak (Oil Filter)


Saringan minyak (filter) berfungsi untuk menangkap zat pencemar padat dalam
minyak pelumas. Bahan-bahan yang dipakai untuk saringan dapat berupa
logam, selulosa, tanah liat, bulu (flet) dan kertas.
Saringan terbuat dari piringan-piringan logam tipis yang disusun menjadi satu
dengan jarak yang sangat rapat antar sesamanya. Piringan pembersih (cleaning
blades) dan pemisah (spacer) ditempatkan diantara piringan-piringan tersebut.
Minyak kotor akan mengalir dari bawah melintasi ruang jarak diantara piringanpiringan menuju ke bagian atas filter.
Partikel-partikel padat yang berukuran lebih besar dari ruang jarak akan
tertinggal pada saringan.
Bila kotoran yang yang tertangkap sudah cukup banyak, piringan-piringan dapat
diputar melalui handel pemutar. Berputarnya piringan pemutar akan
mengakibatkan kotoran-kotoran akan menempel pada sisi piringan pembersih
(cleaning blade) dan selanjutnya jatuh ke bagian bawah rumah saringan.
Kotoran-kotoran tersebut kemudian dapat di buang dengan membuka sumbat
yang ada di bawah rumah saringan.
Oil conditioner (Filter and Strainers)
Saringan-saringan halus dan kasar (filter dan strainers). Cara ini juga dikenal
sebagai kondisioner minyak (oil condisioner). Terdiri dari saringan- saringan
yang dipasang pada sistem pelumas turbin dan terdiri dari satu paket saringan
metal. Minyak pelumas yang kembali ke tangki dialirkan melalui saringan
tersebut sebelum disirkulasikan kembali. Dua atau lebih paket saringan
(baskets) dipasang dan disusun secara seri sehingga memungkinkan salah satu
paket saringan dilepas untuk dibersihkan dalam keadaan turbin operasi.
Terkadang juga dilengkapi dengan saringan tipe autoclean yang dipasang
pada sisi tekan pompa untuk menangkap partikel-partikel asing dari minyak
pelumas bantalan dan minyak governor.

Simple Inspiring Performing Phenomenal

14

Gambar 16 Pemurnian dengan saringan

Gambar 17 Pemurnian minyak pelumas dengan conditioning

5.3. Pemisah Sentrifugal (Oil Centrifuge)


Pemurnian minyak pelumas dengan sistem sentrifugal menerapkan efek gaya
sentrifugal terhadap material-material yang mempunyai berat jenis yang berbeda
untuk volume yang sama. Minyak pelumas diputar pada kecepatan tinggi dalam
Simple Inspiring Performing Phenomenal

15

pemisah sentrifugal sehingga benda-benda padat yang mempunyai berat jenis lebih
besar dari pada minyak pelumas akan terlempar keluar ke sisi bagian luar mangkok.

Gambar 18 Saringan centrifugal minyal pelumas

Benda-benda padat yang terlempar keluar terkumpul disisi luar mangkok dan dapat
dikeluarkan dengan tangan atau secara otomatis. Air dalam minyak pelumas juga
terlempar keluar melalui saluran buang air dan minyak pelumas yang bersih kembali
ke sistem melalui saluran pelepasan minyak pelumas.
Sebuah pompa kecil memompa minyak pelumas dari tangki minyak pelumas,
melalui sebuah pemanas menuju ke saluran masuk pemisah sentrifugal. Setelah
pembersihan, minyak pelumas jatuh kembali ke tangki. Suatu contoh yang spesifik
dari tiga tipe saringan sentrifugal digunakan pada turbin-turbin modern sebagaimana
terlihat pada gambar di atas.
Pemisah sentrifugal terdiri dari berisi sejumlah piringan kerucut yang diputar pada
kecepatan tinggi. Minyak pelumas kotor memasuki atas mangkok dan mengalir ke
bawah ke distributor . Minyak terus mengalir ke dasar dan selanjutnya akan
terlempar oleh efek gaya sentrifugal melalui celah-celah bagian kiri antara piringan
dasar dengan dasar mangkok atau melalui lubang-lubang di piringan dasar.
Air dan benda-benda padat dibuang ke sisi mangkok, sedangkan minyak pelumas
yang lebih ringan daripada benda padat mengalir naik ke atas dan masuk ke dalam
saluran diantara piringan kerucut. Minyak pelumas yang bersih akhirnya mengalir ke
atas dan keluar dari mangkok melalui saluran dalam dan dikembalikan ke tangki
minyak pelumas. Benda-benda padat tetap pada sisi-sisi mangkok, sedangkan air
mengalir naik dan keluar dari mangkok melalui saluran keluar dan akhirnya dibuang
sebagai limbah.
Pemisah sentrifugal dilengkapi dengan pemanas sehingga minyak pelumas diisikan
ke mangkok pada temperatur dan viskositas yang tepat. Pada peralatan yang
mutakhit, minyak pelumas dari sentrifugal mengalir kembali melalui pipa-pipa air
yang berdekatan sehingga sejumlah panas diambil dari minyak pelumas yang
mengalir kembali ke tangki minyak pelumas turbin. Hal ini tentunya lebih ekonomis.
Waktu pemisah sentrifugal baru dijalankan, air perapat dapat di supply ke mangkok
Simple Inspiring Performing Phenomenal

16

melalui saluran yang dihubungkan ke ruangan air pada pemanas minyak pelumas
seperti terlihat pada gambar di atas.

6. Penanganan Pelumas
6.1. Faktor Kebersihan dan Perawatan
Faktor kebersihan dan perawatan bagi pelumas merupakan hal sangat penting, baik
pelumas yang sedang di pakai maupun yang masih tersimpan harus dirawat dan
dijaga kebersihannya. Terlebih lagi pada daerah yang berdebu seperti PLTU. Debu
yang masuk ke dalam pelumas dapat berperan seperti ampelas sehingga dapat
merusak komponen yang dilumasi. Faktor kebersihan berhubungan erat dengan
perawatan. Bila kebersihan lingkungan diperhatikan dengan baik, maka beban
perawatan pelumas menjadi berkurang. Untuk mengurangi beban perawatan, maka
perlu dilakukan tindakan-tindakan preventif.
Tindakan-tindakan preventif ini diantaranya adalah :
Menjaga kebersihan lingkungan, baik lingkungan pada lokasi penyimpanan
maupun lingkungan sistem pelumasan. Disini termasuk juga menjaga suhu,
kelembaban, pengaruh cuaca dsb, agar tetap pada kondisi yang diizinkan.
Memberi tanda-tanda yang jelas pada setiap jenis pelumas sehingga
kemungkinan tertukarnya pelumas atau kesalahan pemakaian pelumas dapat
dihindari. Tanda-tanda ini dapat berupa kode, warna dan sebagainya.
Mengenali dan memahami ciri dan tanda-tanda setiap jenis pelumas. Bagi
petugas, hal ini sangat penting untuk menghindari kesalahan pemakaian
pelumas.
Selain itu dilakukan perawatan yang rutin, diantaranya :
Melakukan pembuangan air secara periodik pada sistem pelumas dengan
conditioner
Menjaga temperatur pelumas tetap pada batas yang diizinkan
Secara periodik mengalirkan pelumas ke dalam pemisah sentrifugal
Melakukan pengujian terhadap sampel minyak secara periodik

6.2. Keselamatan kerja dan kesehatan yang perlu diperhatikan meliputi :


Alat / kaleng pengambil pelumas jangan ditaruh pada sembarangan tempat,
maksudnya agar jangan sampai ada petugas yang terluka karena jatuh di atas
alat (ingat tempat pelumas kebanyakan licin).
Bekas ceceran minyak / gemuk di atas lantai harus cepat dibersihkan, agar
lantai tidak licin dan membahayakan.

Simple Inspiring Performing Phenomenal

17

Untuk mengangkat drum sebaiknya dipakai alat penyangga bukan dengan


sling atau tali.
Pelumas jangan diletakan pada tempat yang panas atau terik matahari, atau
jangan di tempat yang ada bunga api untuk mencegah kemungkinan
kebakaran.
Grease gun yang bertekanan tinggi harus dipakai dengan hati-hati, untuk
menghindari kecelakaan.
Majun yang berminyak dimasukkan dalam tempat sampah yang tertutup, dan
secara teratur di buang ke tempat pembuangan.
Vent tangki penyimpanan harus dalam keadaan terbuka terus.
Dilarang merokok di ruangan pelumas
Ruangan penyimpanan minyak ringan harus diberi ventilasi, agar uapnya tidak
terhisap terlalu banyak oleh personel / petugas.

Simple Inspiring Performing Phenomenal

18