Anda di halaman 1dari 3

KESIMPULAN DAN SARAN

Tingkat pendidikan ayah contoh, lebih dari sepertiga termasuk

berpendidikan SD dan juga SLTP, sedangkan rata-rata besar keluarga contoh,

lebih dari separuh masih kategori keluarga kecil (


 Menurut Biro Pusat
Statistik (2002) untuk wilayah kota propinsi Sumatera Utara mengenai rata-rata

pendapatan per kapita keluarga contoh tidak jauh berbeda dengan rata-rata

pendapatan per kapita. Proporsi pengeluaran pangan pada keluarga contoh lebih

dari tiga kali proporsi pengeluaran untuk non pangan.

Jumlah keluarga contoh yang tergolong tahan pangan tidak sampai dengan

sepersepuluh, sedangkan keluarga yang rawan ketahanan pangan tanpa kelaparan

dan rawan ketahanan pangan dengan kelaparan sedang terlihat hampir separuh,

namun persentase terbesar terjadi pada keluarga yang rawan ketahanan pangan

dengan kelaparan akut. Untuk mengatasi kekurangan pangannya maka lebih dari

tiga perempat keluarga contoh melakukan cara dengan berhutang ke warung.

Dalam hal pola asuh makan, lebih dari separuh contoh diberi ASI eksklusif

sampai umur empat bulan. Setelah itu umumnya contoh pernah diberi susu

formula dengan frekuensi pemberian berkisar lebih dari dua kali sehari. Demikian

halnya dengan frekuensi makan pada contoh yang umumnya direncanakan dan

disiapkan oleh ibu. Adapun penyusunan menu makan pada contoh berdasarkan

kepada makanan yang disukai, namun hampir seluruh contoh pernah mengalami

masalah makan. Untuk mengatasi, sepertiga dari ibu contoh melakukan upaya

dengan memberikan berbagai variasi pengolahan makanan.

Untuk meningkatkan kekebalan tubuh contoh dari berbagai penyakit, lebih

dari separuh contoh telah mendapatkan imunisasi BCG, DPT I dan polio I, namun
79

DPT II dan polio II, DPT III dan polio III, serta imunisasi campak mengalami

penurunan persentase dari imunisasi sebelumnya. Hal ini disebabkan oleh adanya

kekhawatiran dari ibu contoh bahwa anak setelah diimunisasi campak sering

mengalami demam (panas) dibandingkan dengan imunisasi lainnya. Selama tiga

bulan terakhir sebelum penelitian ini dilakukan, umumnya contoh pernah sakit

dan jenis penyakit yang diderita antara lain diare.

Rata-rata tingkat konsumsi energi, protein, lemak, kalsium, fosfor, zat besi

dan vitamin C untuk keluarga pada setiap pengukuran dan rata-rata dari tiga kali

pengukuran bernilai kurang dari (100,0%), sedangkan untuk konsumsi vitamin A

lebih dari (100,0%). Adapun rata-rata tingkat konsumsi energi, kalsium, zat besi

dan vitamin C anak baduta pada setiap pengukuran dan rata-rata dari tiga kali

pengukuran bernilai kurang dari (100,0%), tetapi untuk konsumsi protein, fosfor

dan vitamin A lebih tinggi dari (100,0%).

Terdapat hubungan positif nyata antara pendapatan per kapita keluarga

dengan ketahanan pangan rumah tangga. Ketahanan pangan rumah tangga

berhubungan positif nyata dengan tingkat kecukupan protein, kalsium dan phosfor

pada anak baduta, sedangkan dengan tingkat kecukupan energi, lemak, zat besi,

vitamin A dan vitamin C, memperlihatkan hubungan positif tapi tidak nyata.

Terdapat hubungan yang positif nyata antara ketahanan pangan rumah

tangga dengan pola asuh makan anak baduta. Hasil analisis korelasi Spearman

menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif nyata antara tingkat kecukupan

gizi keluarga dengan tingkat kecukupan gizi anak baduta untuk semua zat gizi

(8 macam) yang dianalisis. Terdapat hubungan yang nyata antara tingkat

kecukupan energi dengan penambahan berat badan dan terdapat juga hubungan
80

yang nyata antara tingkat kecukupan protein, lemak kalsium dan phosfor dengan

pertumbuhan tinggi badan anak baduta. Status kesehatan (ISPA) dan diare

berhubungan negatif tidak nyata dengan pertumbuhan anak baduta.

Saran

Persentase rumah tangga yang tidak tahan pangan di Kelurahan Medan

Marelan Kota Medan masih sangat tinggi maka diperlukan dukungan dari

berbagai pihak, khususnya pemerintah setempat dalam meningkatkan kualitas

ketahanan pangan rumah tangga di kelurahan tersebut, misalnya dengan

memberikan pelatihan tentang pengembangan ekonomi yang dapat membuka

usaha baru untuk meningkatkan pendapatan keluarga nelayan berupa teknik-

teknik pengolahan ikan.

Prevalensi anak baduta yang menderita diare dan ISPA masih cukup

tinggi. Oleh karena itu peningkatan perilaku hidup sehat perlu bagi keluarga

nelayan, khususnya di daerah penelitian melalui penyuluhan hidup sehat.

Disamping itu peran serta pemerintah sangat diharapkan guna peningkatan

kualitas kesehatan berupa sarana dan prasarana kesehatan yang dapat terjangkau

oleh masyarakat nelayan khususnya.