Anda di halaman 1dari 8

Blue Carbon of Indonesia

Karbon Biru, Potensi Kemaritiman Indonesia


dalam Mitigasi Bencana Perubahan Iklim Global
Penggunaan bahan bakar fosil terutama minyak bumi dan batu bara yang kini masih
menjadi kompenen utama dalam partisi pemanfaatan energi nasional dan dunia, limbah
industri dan rumah tangga serta perubahan fungsi lahan yang tak lepas dari peradaban
manusia

modern

menyebabkan

peningkatan

konsentrasi

karbon

dioksida (CO 2)

yang

signifikan di atmosfer. Peningkatan konsentrasi gas karbondioksida ini memicu bencana yang
bersifat

global

seperti

pemanasan

global,

hujan

asam,

menipisnya

lapisan

ozon,

meningkatnya permukaan air laut dan perubahan iklim ekstrim lainya. Saat ini kita mulai
merasakan dampak adanya anomali iklim berupa bencana kekeringan namun di sebagian
wilayah lainya terjadi banjir, pergantian musim yang sudah tidak dapat diperediksi sehingga
menyebabkan tidak menentunya masa tanam dan masa panen petani serta kemunculan badai
tropis yang semakin intens.
Jika dirunut berdasar pada formulasinya, atom penyusun gas karbon dioksida (CO 2)
yakni karbon (C) merupakan komponen terintegrasi dari segala proses yang terjadi di bumi
dan merupakan materi utama penyusun sel mahluk hidup. Karbon merupakan unsur paling
berlimpah kedua (sekitar 18,5%) setelah oksigen. Keberlimpahan karbon ini, bersamaan
dengan keanekaragaman senyawa organik dan kemampuannya membentuk polimer membuat
karbon sebagai unsur dasar kimiawi kehidupan. Karbon dapat ditemui di atmosfer dalam
bentuk CO2 (Karbon Dioksida) setelah unsur tersebut bereaksi dengan O2 (Oksigen).
Karbon dioksida (CO2) adalah salah satu jenis gas rumahkaca (green house gases)
yang juga dikenal sebagai trace gas karena memiliki konsentrasi kelimpahan jauh lebih kecil
dibanding

oksigen (O2)

dan

nitrogen (N2),

namun

berperan

sangat

besar

terhadap

keseimbangan iklim. Energi matahari yang diabsorbsi bumi dipantulkan kembali dalam
bentuk radiasi infra-merah oleh awan dan permukaan bumi. Sebagian besar inframerah yang
dipancarkan bumi tertahan oleh gas CO 2 untuk dikembalikan kembali ke bumi. Pada kondisi
atmosfer normal atau tanpa kontribusi aktifitas manusia, dibutuhkan 650.000 tahun untuk
meningkatkan konsentrasi CO2 dari 180 ppm (part per million) menjadi 380 ppm yang
merupakan hasil dari proses alam (Le Quere et al., 2003 dan Bates et al., 2012). Namun

Blue Carbon of Indonesia

demikian, Sejak era pra-industri hingga tahun 2011 saja, telah terjadi peningkatan signifikan

konsentrasi C02 global di atmosfer yakni


ppm.

278 (275-281) ppm menjadi 390,5

Peningkatan CO2 di atmosfer terindikasi sebesar 4,0 (3,8-4,2) GtC Yr -1 di dekade


pertama abad 21 (IPCC, 2013).

Gambar 1. Perubahan Konsentrasi Gas Rumah Kaca di Atmosfer Dalam Rentang


Waktu 10.000 Tahun Terakhir (IPCC, 2007).
Para peneliti dunia mulai milirik konsep karbon biru (Blue Carbon) sebagai
salah

satu

kontribusi bagi target pengurangan emisi karbon di dunia. Saat ini laut mengandung
lebih
dari 40.000 giga ton karbon dengan dominasi ion bikarbonat. Menurut Filley et al.
(2006)
selama kurun waktu 200 Tahun terakhir laut telah menyerap 525 milyar ton karbon
dioksida
di atmosfer atau setengah dari emisi karbon yang dihasilkan oleh bahan bakar fosil.
Proses

penyerapan oleh lautan ini menjadi penting dalam menjaga keseimbangan konsentrasi
gas
karbon dioksida serta berpotensi sebagai upaya mitigasi bencana perubahan iklim yang
paling
efektif.
Sistem transport karbon dari atmosfer ke laut dikontrol oleh dua proses utama
yaitu
pompa fisis (Phsycal Pump) dan pompa biologis (Biological Pump). Pompa
fisis

yang

mempengaruhi sistem transport karbon disebabkan oleh downwelling dan


upwelling,
sedangkan pompa biologis merupakan kesatuan proses biologi yang mentranspor
karbon
(organik maupun anorganik) dari permukaan laut ke dasar laut. pompa fisis yang
terjadi
menyebabkan pertukaran gas antara laut dan udara serta proses fisis yang membawa
CO2

ke

laut dalam. Proses ini dipengaruhi oleh sirkulasi termohalin yang dikontrol oleh
gradien
densitas akibat perbedaan suplai air tawar dan panas permukaan laut. Setelah karbon
dioksida
terlarut

di

dalam

air

laut

kemudian

akan

dimanfaatkan

oleh

tumbuhan

mikroskopis
(Fitoplankton), padang lamun, mangrove dan terumbu karang untuk melakukan
reaksi
fotosintesis yang menghasilkan oksigen dan karbohidrat. Transfer CO 2 antara laut
dan
atmosfer dipengaruhi oleh kecepatan angin dan perbedaan tekanan parsial CO 2 lautudara.
Selain itu daya larut CO2 di laut juga dipengaruhi oleh temperatur dan salinitas.

Gambar 2. Mekanisme Pompa Fisis dan Pompa Biologisterkait Trasport Karbon antara
Atmosfer dan Hidrosfer (Anderson et al., 2000)
Seluruh proses kompleks penyerapan karbon dioksida dari atmosfer menuju laut
ini
akan mentrasformasi karbon dioksida yang jumlahnya di atmosfer sudah sangat
tinggi,
mengubahnya menjadi gas bermanfaat bagi mahluk hidup non-tumbuhan termasuk
manusia
untuk melakukan proses respirasi dan yang paling utama menjaga keseimbangan
konsentrasi
karbon di atmosfer. Berpijak pada kemampuan ekosistem laut dan pesisir
menjaga
keseimbangan penyerapan karbon dan potensi pengurangan emisi gas rumah kaca
(GRK),
UNEP telah bekerjasama dengan Badan Pangan Dunia (FAO) dan Badan Pendidikan
dan
Pengetahuan (UNESCO) menggaungkan konsep Karbon Biru (Blue Carbon).

Berdasarkan hasil berbagai penelitian, konsep karbon biru adalah salah satu solusi
yang menjanjikan bagi upaya menekan laju perubahan iklim dan mengurangi timbunan
CO2
di atmosfer. Karbon biru, secara prinsip, merupakan upaya untuk mengurangi emisi
karbon
dioksida di Bumi dengan cara menjaga keberadaan hutan bakau, padang lamun, rumput
laut,
dan ekosistem pesisir. Vegetasi pesisir diyakini oleh kalangan peneliti dapat
menyimpan
karbon 100 kali lebih cepat dan lebih permanen dibandingkan dengan hutan di daratan.
Pertanyan yang mungkin muncul adalah mengapa kita

harus peduli dan

mendukung
konsep Blue Carbon? Dekalarasi UNCLOS 1982 menempatkan Indonesia sebagai
Negara
Kepulauan dengan potensi ekonomi maritim sangat besar. Sebagai Negara
Kepulauan
terbesar di dunia, Indonesia memiliki wilayah laut seluas 5,8 juta km 2 yang terdiri
dari
wilayah teritorial sebesar 3,2 juta km2 dan wilayah Zona Ekonomi Eksklusif
Indonesia
(ZEEI) 2,7 juta km2. Selain itu, terdapat 17.840 pulau di Indonesia dengan garis
pantai
sepanjang 95.181 km. Ekosistem laut dan pesisir yang sehat berperan penting dalam
menjaga
keseimbangan iklim serta penyerapan karbon yang merupakan kontributor perubahan
iklim.
Namun demikian, jika fenomena penyerapan ini berlangsung secara terus menerus
tanpa
didukung ekosistem laut yang prima justru akan membawa dampak negatif
berupa

peningkatan

suhu

air laut.

Tingginya

suhu

air

laut

akan

menyebabkan

ketidaktersediaan
nutrient bagi tumbuhan mikroskopis yang berdampak pada menurunya populasi ikan
serta
mengurangi tingkat kemampuan laut dalam menyerap gas karbondioksida.
Apabila
Kemampuan penyeimbang ini mulai terganggu dengan meningkatnya CO 2 yang
berdifusi

ke

ekosistem laut dapat dipastikan dalam beberapa dekade mendatang akan terjadi
pengasaman
laut yang diikuti kerusakan missal berbagai ekosistem Laut.
Langkah sederhana yang bisa kita lakukan untuk meningkatkan peran laut
Indonesia
dalam upaya mitigasi bencana perubahan iklim global adalah dengan cara
menjaga
kelestarian ekosistem mangrove, ekosistem lamun dan ekosistem terumbu karang serta
tidak
mencemari laut nusantara sehingga Indonesia menjadi poros maritim dunia
terkait
kemampuamya dalam mengtasi bencana perubahan iklim global yang tengah menjadi
fokus
dunia internasional.
Didi Adisaputro
Indonesian Education Schoolarship Awardee, LPDP
Indonesia.
for Masters Marine Engineering, Institut
Teknologi Bandung.
Jln. Sutan Takdir No. 36 Kelurahan Sepang Jaya
Bandar Lampung.
Email: adisapoetro@aol.com; phone : +6285641000052/
(+6721) 707201

Daftar Pustaka :
Anderson, R., Archer, D., Bathmann, U., Boyd, P., Buesseler, K., & Burkill, P. 2000.
Ocean Biogeochemistry and Global Change. (B. M. Balino, M. J. . Fasham, &
M. C. Bowles, Eds.) (IGBP Science.). Williamsburg.
Bates, N. R., Best, M. H. P., Neely, K., Garley, R., Dickson, a. G., & Johnson, R. J.
2012.
Detecting anthropogenic carbon dioxide uptake and ocean acidification in the
North
Atlantic.Ocean. Biogeosciences,vol 9(7).
Feely, R. A., Sabine, C., & Fabry, V. L. 2006. Carbon Dioxide And Our Ocean Legacy.
Intergovermental Panel on Climate Change. 2007.The Physical Science Basis
Contribution of Working Group I to the Fourth Assessment Report of the IPCC.
Intergovermental Panel on Climate Change (IPCC). 2013.The Physical Science
Basis
Contribution of Working Group I to the Fifth Assessment Report of the IPCC.
Le Quere, C., Aumont, O., Bopp, L., Bousquet, P., Ciais, P., Francey, R., Heimann, M.,
et al.
2003. Two decades of ocean CO2 sink and variability. Tellus Series B
Chemical
And Physical Meteorology, 55(2), p649-656.