Anda di halaman 1dari 9

Kota dan Warga Kota

KOTA DAN WARGA KOTA

Abstrak
Paper ini mencoba meninjau hubungan antara kota dan warga kota.
Menurut Louis Wirth kondisi warga kota (dalam hal ini jumlah penduduk,
kepadatan dan keragamannya) akan membentuk kota dan sebaliknya
kondisi kota dapat membentuk perilaku warga kota. Hal ini akan diperjelas
dengan mengambil contoh keadaan kota di Indonesia.

Landasan Teoritis
Suparlan mengatakan bahwa dalam kehidupan masyarakat kota-kota di Indonesia
terdapat tiga kebudayaan atau pedoman bagi kehidupan masyarakat, yang secara
bersama-sama berlaku tetapi yang kegunaannya sebagai acuan berbeda-beda
menurut konteks lingkungan kegiatannya. Ketiga kebudayaan ini adalah :
 Kebudayaan Nasional
Kebudayaan ini operasional dalam dalam kehidupan sehari-hari warga kota
melalui berbagai pranata yang tercakup dalam sistem nasional. Kegiatan-
kegiatan sehari-hari warga kota yang dimaksud adalah kegiatan-kegiatan
pada waktu mereka harus bertindak sebagai warganegara dan berada dalam
suasana-suasana nasional.
 Kebudayaan-kebudayaan sukubangsa
Kebudayaan sukubangsa fungsional dan operasional dalam kehidupan sehari-
hari di dalam suasana-suasana sukubangsa, terutama dalam hubungan-
hubungan kekerabatan dan keluarga, dan dalam berbagai hubungan sosial
dan pribadi yang suasananya adalah suasana sukubangsa. Hubungan-
hubungan sosial ini mencakup hubungan-hubungan pribadi, hubungan
ekonomi, maupun hubungan politik di antara sesama mereka yang tergolong
sebagai warga sukubangsa yang sama.
 Kebudayaan umum
Kebudayaan ini berlaku di tempat-tempat umum atau pasar. Kebudayaan
umum ini bukanlah kebudayaan nasional, karena kemunculan dan
keberlangsungan fungsinya tidak bersumber pada Pancasila dan UUD 1945.

1
Kota dan Warga Kota

Kebudayaan umum muncul di dalam dan melalui interaksi sosial yang


berlangsung secara spontan untuk kepentingan-kepentingan pribadi para
pelakunya, kepentingan ekonomi, kepentingan politik, ataupun kepentingan-
kepentingan sosial. Berbeda dengan kebudayaan nasional kebudayaan umum
ini menekankan pada prinsip tawar-menawar dari para pelakunya, baik
tawar-menawar secara soaial maupun secara ekonomi, yang dibakukan
sebagai konvensi-konvensi soaial, yang menjadi pedoman bagi para pelaku
dalam bertindak di tempat-tempat umum dalam kehidupan kota.

Secara struktural di Indonesia, kota-kota merupakan pusat-pusat yang ada


dalam jaringan-jaringan politik, administrasi, ekonomi, dan komunikasi yang
diatur melalui suatu sistem yang mencerminkan adanya suatu hubungan hirarki
yang saling terkait .

Sementara itu menurut Louis Wirth bila kita ingin meninjau kota maka kita perlu
melihat 3 kunci karakteristik kota, yaitu ukuran populasi yang besar, keragaman
sosial, kepadatan penduduk yang tinggi. (Wirth dalam Stout,1996)Lebih lanjut
Wirth menjelaskan bahwa ketiga kunci karakteristik kota ini saling terkait satu
dengan yang lain sehingga dapat berpengaruh kepada bagaimana warga kota
berlaku di dalam kehidupan kota. Adapun gambaran keterkaitan tersebut adalah
sebagai berikut (Nas, 1984)
 Semakin meningkat luasan dan jumlah penduduk, kepadatan dan
heterogenitasnya, berubah pula sifat warganya
 Makin luas kotanya makin besar kemungkinan terjadi diferensiasi dan
bertambahnya hubungan sekunder yang menjadi non pribadi, datar, sepintas
lalu dan terkotak-kotak.
 Bertambahnya kepadatan penduduk berakibat adanya diferensiasi dan
spesialisasi serta menyebabkan segregasi (terpisahnya) manusia dan fungsi
(terpisahnya tempat tinggal dan tempat kerja)
 Semakin besar heterogenitas akan mengakibatkan diferensiasi dalam
masyarakat, tidak mudah memiliki gambaran yang menyeluruh mengenai
masyarakat karena tidak ada lagi hirarki yang jelas dan dan orang sering
berganti kelompok

2
Kota dan Warga Kota

 Muncul gejala depersonalisasi (hilangnya sifat pribadi), massafikasi


(terhimpunnya manusia dalam massa) serta bertambah pentingnya uang
sebagai ukuran umum dalam masyarakat heterogen.

Organisasi Ruang Kota


Manusia menata ruang untuk memudahkan mereka dalam berkegiatan yang sesuai
kebutuhan dan kepentingannya untuk memaksimalkan produktivitas dengan usaha
sekecil-kecilnya. Kegiatan ini bermotif ekonomi, sehingga memperhitungkan biaya
yang harus dikeluarkan dari interaksi kegiatan yang berlangsung pada lokasi yang
berbeda. Penataan ini memperhatikan sumber daya alam yang tersedia, kegiatan
perdagangan, jalur transportasi dan kegiatan individunya.

Tetapi dalam menata ruang tidak semata-mata memperhatikan kebutuhan fisik


manusia, kebutuhan non-fisiknya juga mendapat porsi, seperti masalah budaya.
Manusia secara sadar atau tidak mengubah lingkungan fisik menjadi lingkungan
budaya untuk dimanfaatkan bagi pemenuhan kebutuhan-kebutuhannya. Menata dan
menggunakan ruang sesuai dengan konsep yang ada dalam kebudayaannya.

Contoh : Kota Denpasar (diambil dari www.baliguide.i-p.com )


Untuk lebih jelasnya penulis akan mengambil contoh Kota Denpasar. Denpasar
adalah "kota-desa" dengan masa lalu aristrokrat. Lahir dari sisa-sisa kekalahan
kerajaan Pemecutan mengikuti Perang Puputan 1906, Denpasar menjadi pusat
administratif yang ‘tidur’ selama masa penjajahan Belanda. Sejak Kemerdekaan, dan
terutama setelah menjadi Ibukota Propinsi Bali di tahun 1958, kota ini telah
mengalami transformasi menjadi kota yang sibuk dengan sekitar 350.000 penduduk
yang menyediakan jasa pelayanan administrasi, perdagangan dan pendidikan tidak
hanya bagi Bali yang sedang booming, tapi juga bagi sebagian besar wilayah
Indonesia Timur. Denpasar adalah kota yang paling dinamis di sebelah timur
Surabaya, dan mungkin yang terkaya di Indonesia, melihat bahwa ada lebih banyak
kendaraan per orang disini daripada di Jakarta.

3
Kota dan Warga Kota

Kota Baru, Desa Lama

Aslinya merupakan kota pasar – nama Denpasar berarti ‘ sebelah timur pasar’ –
Denpasar telah jauh melampaui batas-batasnya semula, yang dulu dibatasi oleh
Puri-puri Pemecutan, Jero Kuta dan Satriya dan rumah-rumah Brahmana : Tegal,
Tampakgangsul dan Gemeh. Dipacu oleh perkembangan populasi dengan
transportasi kendaraan bermotor, pertumbuhan kota hanya sedikit melibatkan desa-
desa sekitarnya, meninggalkan wajah baru kota yang baru berkembang dengan
perumahan-perumahan baru di tengah sawah di tengah kota.

Di sebelah timur utara, urbanisasi berkembang di seberang Sungai Ayung ke desa


Batubulan. Ke selatan, ia mencapai Sanur dan bahkan sampai ke Kuta dan Bukit. Ke
timur barat, kota ini menjangkau sejauh Kapal, yang pura-pura cantiknya hanya bisa
dilihat di atas kemacetan lalulintas suburban.

Perkembangan yang tak terbendung ini telah menelan banyak desa-desa tua yang
sederhana,yang kehidupannya tetap sama seperti yang dulu - arsitektur mereka
terfokus pada courtyard pusat, demikian juga susunan pura dan banjar tidak
berubah. Struktur kekuasaan, walaupun telah beradaptasi dengan tugas-tugas dan
pekerjaan-pekerjaan baru, tetap tidak berubah banyak. Golongan satriya lokal, tak
peduli apakah dia seorang manajer hotel atau pegawai negeri, tetap berstatus
sebagai bangsawan - mereka masih mempunyai kontrol terhadap tanah dan pura-
pura teritorial dan dapat memobilisasi ‘kawula’ mereka untuk penyelenggaraan
upacara-upacara. Golongan Brahmana lokal bahkan lebih kuat lagi melanjutkan

4
Kota dan Warga Kota

pelayanan ritual bagi pengikut mereka dan mendapatkan beberapa posisi terbaik
dalam tata susunan kekuasaan Bali baru. Maka Denpasar masih merupakan
pertunjukan ketahanan sosial Bali – masih “Bali” dan berhak mendapatkan
kunjungan bagi gerbang-gerbangnya, tempat pemujaannya dan istana-istananya.

Tapi di balik semua itu Denpasar adalah kota modern. Pertokoan, jalan dan pasar-
pasar telah mengalahkan daerah persawahan yang diperbolehkan untuk
diperjualbelikan dan disewakan oleh komuniti desa. Disini, urbanisasi telah
mengambil bentuk yang sama dengan yang ditemukan di daerah-daerah lain di
Indonesia – barisan toko dengan hiasan mencolok di area bisnis; villa-villa cantik
sepanjang jalan-jalan ‘protokol’, gang-gang sempit, rumah-rumah dan compound
kecil di area residensial.

Eksperimen dalam integrasi

Ruang urban yang baru ini terus menyambut gelombang imigran baru – baik orang
Bali maupun non-Bali. Hal ini melambangkan eksperimen dalam integrasi nasional.
Orang Bali tentu saja masih mendominasi sebagian terbesar dari populasi. Para
bangsawan dan brahmana dari utara dan selatan telah ada disini lebih dulu.
Penerima yang pertama dari pendidikan kolonial, mereka mengambil alih profesi
dan posisi-posisi penting dalam administrasi dan politik, bersama dengan
bangsawan-bangsawan lokal, dasar dari burjois pribumi. Villa-villa mereka – dengan
tempat pemujaan di atap, kolom-kolom neoklasik dan balkon-balkon spanyol –
adalah istana-istana “modern” Bali.

Akhir-akhir ini, populasi Bali yang baru telah menetap disini, ditarik oleh pekerjaan-
pekerjaan seperti guru, perawat, pedagang, dll. Orang-orang asing di antara
“penduduk desa” lokal, mereka adalah pencipta lanskap urban dan arsitektur baru.
Bukannya membuat rumah tradisional lengkap dengan berbagai bangunan terpisah
dan tempat pemujaan, mereka membangun rumah kompak yang terpisah dengan
satu tempat pemujaan yang multifungsi. Dalam hal-hal religius, mereka tidak abadi
– mempertahankan keanggotaan ritual di desa asal mereka, berdoa kepada Dewa-
dewa dan arwah leluhur dari jarak jauh melalui medium tempat pemujaan baru
tersebut. Mereka kembali ke desa asal mereka untuk upacara-upacara penting,

5
Kota dan Warga Kota

untuk memperbaharui diri mereka melalui sumber-sumber sosial dan spiritual dari
desa asal mereka.

Di luar mayoritas orang Bali, ada beberapa minoritas yang tidak berasal dari Bali di
Denpasar, membentuk seperempat dari populasi total. Muslim Bugis datang ke Bali
sebagai tentara bayaran pada abad 18. Mereka mempunyai “banjar” mereka sendiri
di desa Kepaon, dimana mereka hidup berdampingan dengan orang-orang Bali,
berbahasa dengan bahasa mereka dan saling menikah dengan mereka. Orang-orang
tua di “pemecutan” akan memperlihatkan tempat pemujaan “Bugis” di pura kecil
dekat tempat pembakaran jenazah keluarga.

Orang-orang Cina datang mula-mula untuk berdagang dengan bangsawan-


bangsawan lokal. Mereka berintegrasi dengan mudah, membaurkan nenek moyang
Bali dan Cina mereka. Mereka juga mempunyai tempat pemujaan, Ratu Subandar
atau “raja perdagangan” di Pura Batur, di sebelah tempat pemujaan bagi dewa
nenek moyang orang Bali. Orang cina baru, lebih sering beragma Kristen, telah
berdatangan, ditarik oleh booming ekonomi Bali.

Ada juga orang Arab dan India beragama Islam yang datang pada tahun 30-an
sebagai penjual kain dan sejak itu telah menjadi salah satu kominitas lokal yang
paling sejahtera. Mereka tinggal di pusat kota, di area Kampung Arab, dimana
mereka mempunyai mesjid. Kebanyakan pendatang, bagaimanapun, adalah orang-
orang Jawa dan Madura, yang dikenal secara umum sebagai “jawa”. Mereka
memenuhi posisi pegawai negeri dan militer (Area Sanglah dan Kayumas) dan kelas
pekerja, baik yang terlatih maupun tidak terlatih (area Pekambingan, Kayumas,
“Kampung Jawa”). Aktor-aktor baru dalam panggung sosial Bali, mereka
memperkenalkan kebiasaan baru – penjualan makanan, penjaja kaki lima, dsb.
Mereka juga pembangun bangunan gaya baru : rumah-rumah kecil dan gubuk-
gubuk kumuh yang membuat Denpasar sama dengan kota-kota lain di Indonesia
modern.

Maka Denpasar adalah tempat dimana tema pembangunan kebangsaan dimainkan.


Ini membuat suara mantra pendeta, panggilan azan, dan doa para pendeta Kristen
saling melengkapi dalam jarak pendengaran. "Eka Wakya, Bhinna Srutti" - Satu
kata, banyak tulisan – begitulah kata orang lokal, yang mencerminkan toleransi
orang Bali sejalan dalam toleransi nasional.

6
Kota dan Warga Kota

Kota Orang Bali, Bangsa Indonesia

Pembangunan kebangsaan merupakan hal yang juga dipikirkan oleh orang Bali. Itu
adalah “indonesia” dan “pembangunan” mengambil alih Bali. Denpasar adalah pusat
dimana bahasa nasional, Bahasa Indonesia menyebar ke berbagai daerah lain di
pulau ini. Orang berbahasa Indonesia dicampur dengan kata-kata dalam bahasa Bali.
Melalui Denpasar, Bali telah menyerahkan kekuatan kebudayaannya yang paling
penting : bahasanya.

Denpasar juga merupakan tempat perbaikan kultur tradisional. Disinilah konsep


Hindu Bali dikembalikan sesuai asalnya, India oleh Parisadha Hindu Dharma (Dewan
Agama Hindu), dibalik timbunan lontar-lontar tua dan tradisi oral. Tuhan Yang Maha
Esa, Widhi, adalah yang paling tinggi, menurunkan dewa-dewa leluhur kepada
fungsi-fungsi minor. Doa baru diajarkan (tri-Sandhya) dan pendeta pemerintahan
baru diresmikan, dipanggil ke desa-desa untuk ritus-ritus peresmian jabatan dan
ritual yang melibatkan antar kasta.

Pemandangan Kota Denpasar

Sebagai mikrokosmos baik bagi Bali modern maupun Indonesia modern, Denpasar
lebih gampang dimengerti daripada dilihat. Jika kita dapat melupakan gambaran
tentang bali tradisional, kita akan melihat gambaran urban kota Denpasar. Di
jantung kota Denpasar, di belakang jalan arteri, Jalan Gajah Mada, kita dapat
melihat banyak rumah-rumah tradisional dengan gerbang khas mereka, tempat-
tempat pemujaan dan paviliun, bersebelahan dengan altar-altar toko orang Cina
yang dikerdilkan oleh antena parabola . Dewa-dewa masa lalu versus dewa-dewa
masa depan?

Bagi pemandangan yang lebih tipikal desa-desa dalam kota Denpasar , perjalanan
melalui jalan-jalan “desa” Kedaton, Sumerta, dan terutama Kesiman akan mewakili.
Kesiman mempunyai beberapa contoh terbaik bangunan bata gaya Badung yang
walaupun sederhana, tetapi atraktif. Gaya nii semakin lama semakin tertelan oleh
gaya baroque baru Gianyar, dan keburukan beton ekspos.

7
Kota dan Warga Kota

Kesimpulan

Struktur kota dipengaruhi oleh struktur organisasi penghuninya. Karena Denpasar


berasal dari pusat sebuah kerajaan yang kemudian diambil alih oleh kolonial menjadi
pusat pemerintahan kolonial di Bali, maka struktur kotanya pun memperlihatkan hal
tersebut.

Disini pengaruh struktur kota yang dibuat oleh Belanda rupanya tidak meninggalkan
bekas yang terlalu kentara, mungkin karena kedudukannya tidak dipandang terlalu
penting oleh pemerintah kolonial Belanda. Sebaliknya, semenjak masa kemerdekaan
barulah Denpasar menjadi kota yang sibuk dan berkembang, seiring perkembangan
pariwisata Bali.

Tetapi struktur kota yang telah terbentuk selama masa kerajaan rupanya masih
meninggalkan bekas yang nyata, terbukti dari tidak berubahnya posisi rumah-rumah
yang dianggap penting dalam struktur kekuasaan tradisional.

Maka dapat disimpulkan bahwa kondisi warga kota (dalam hal ini jumlah
penduduk, kepadatan dan keragamannya) telah membentuk kota Denpasar
dan sebaliknya kondisi kota Denpasar juga membentuk perilaku warganya.

8
Kota dan Warga Kota

Daftar Pustaka

Parsudi Suparlan
1996 Diktat Antropologi Perkotaan, Jurusan Antropologi Fakultas Ilmu Sosial
dan Ilmu Politik Universitas Indonesia

Stout, Frederic dan Richard T. Le Gates


1996 City Reader, Routledge, London

Nas Dr.P.J.M.
1984 Kota di Dunia Ketiga, Bharatara Karya Aksara, Jakarta

Bali for Travelers-Bali Complete Information


2003 www.baliguide.i-p.com