Anda di halaman 1dari 9

Ringkasan Kuliah Ekonomi Perkotaan

PERAN PEMERINTAH KOTA

Dalam kegiatan ekonomi tidak sepenuhnya dilepas kepada mekanisme pasar,


namun harus ada campur tangan dari pemerintah kota yang dapat mempengaruhi
pula kegiatan ekonomi masyarakat. Sasaran yang ingin dicapai oleh pemerintah,
antara lain:

1. Stabilitas ekonomi
Tujuan kebijakan stabilitas:
- Pemenuhan kesempatan kerja
- Kestabilan harga
- Pertumbuhan ekonomi
- Posisi neraca pembayaran yang sehat
Perwujudan dari kebijakan-kebijakan tersebut antara lain dengan:
- Kebijakan moneter, dengan merubah-rubah tingkat bunga SBI untuk
"mengatur" tingkat permintaan.
- Kebijakan fiskal, tidak memadainya permintaan agregat sehingga
dilakukan perbesaran belanja negara dan penurunan pajak serta
penerbitan obligasi.
Upaya untuk mendorong kurva S ke kanan:
- Keyakinan akan sistem pasar, dengan menurani intervensi
pemerintah.
- Peningkatan efisiensi pasar, dengan mengembangkan pasar modal
"bebas".
- Penurunan biaya, dengan peningkatan kualitas tenaga kerja.
- Mendorong partisipasi swasta, dengan penurunan pajak
perusahaan.

2. Alokasi sumber daya secara efisien


Dalam pasar yang sempurna, mekanisme harga akan menjamin alokasi
sumber daya secara efisien, artinya barang dan jasa yang dihasilkan sesuai
degan keinginan masyarakat dan dapat dicapai dengan biaya terjangkau.
Namun dapat terjadi kondisi tidak ideal, seperti:
- Kesulitan mendapat informasi
- Persaingan tidak sempurna
- Faktor produksi yangtidak bergerak
- Eksternalitas

1
Ringkasan Kuliah Ekonomi Perkotaan

- Penyediaan fasilitas umum


Salah satu strategi untuk mengalokasikan sumber daya ekonomi kota secara
efisien adalah "bank tanah". Namun terjadi pro dan kontra yang salah
satunya adalah terjadinya monopoli swasta atau monopoli pemerintah. Maka
kompromi yang dapat dilakukan:
- Pemerintah tetap mengatur penggunaan lahan
- Pengelolaan lahan dilakuakn dengan sistem desentralisasi
3. Pemerataan
Pemerataan dalam arti memperoleh pendapatan dan kesempatan usaha,
lebih merupakan keputusan politik. Kebijakan pemerintahan dapat memberi
dampak pemerataan antara lain menyangkut:
- Pengaturan tata ruang
- Pembebanan retribusi
- Subsidi
- Perpajakan
- UU anti monopoli, misalnya dalam kasus Telkom

Dalam penyediaan fasilitas umum, perlu adanya dana untuk pembiayaan. Untuk
menunjang penyediaan tersebut terdapat beberapa metode pembiayaan,
seperti:
a. Pendapatan (pas- as- you- go), membiayai pengeluaran untuk fasilitas
dengan pendapatan daerah saat ini dengan sumber dana: pajak, retribusi,
alokasi dana dari pemerintah pusat.
Keuntungan
- Biaya bunga relatif rendah
- Dapat digunakan untuk proyek berskala besar
Kerugian
- Tidak diberikan secara otomatis, perlu mengikuti proses tender
- Seringkali adanya persyaratan dana pendamping
- Proyek yang dibiayai tidak selalu menjadi prioritas

b. Pinjaman jangka panjang yang idealnya berumur sama dengan umur


fasilitasnya. Pinjaman ini diperoleh dari:
- Sumber dana murah dari pemerintah pusat atau lembaga pemberi
bantuan.
- Obligasi pemerintah kota, yang merupakan surat tanda hutang, yag
pelunasannya dijamin penuh oleh pemerintah kota.
Keuntungan

2
Ringkasan Kuliah Ekonomi Perkotaan

- Dana dapat berjumlah besar, Kredibilitas pemerintah kota dipertaruhkan


- Pelunasan hutang disebar sepanjang umur proyek
- Jika ekonomi perkotaan berkembang, kemampuan membayar bunga
semakin meningkat
Kerugian
- Perlu kesiapan aturan main agar masyarakat dapat memahami dapat
memahami dan mengendalikan prosesnya secara efektif
- Kewajiban membayar bunga dan biaya lainnya, atau jika proyek gagal,
membatasi pemanfaatan pendapatan daerah untuk keperluan lain
- Perlu ada insentif pajak untuk menarik minat pembeli sertifikat obligasi

c. Penyewaan, pemerintah memperoleh fasilitas dengan cara menyewa dan


memegang opsi pemilikan sarana atau prasarana tersebut. Dapat dilakukan
dengan 2 cara:
- Sewa Operasi
Pihak Pemkot membutuhkan suatu peralatan yang akan dioperasikan
untuk kepentingan masyarakat dengan cara sewa yang dilakukan melalui
institusi keuangan
- Sewa Beli
Pihak Pemkot membutuhkan suatu peralatan yang akan dioperasikan
untuk kepentingan masyarakat dengan cara sewa yang dilakukan melalui
bantuan jasa lembaga keuangan, dan diakhir masa sewa, alat menjadi
milik Pemkot
Keuntungan
- Pola sewa menyewa memperkecil resiko jika pengoperasian
sarana/prasarana tidak berjalan baik
- Menyerupai pinjaman jangka panjang
Kerugian
- Biaya sewa biasanya lebih tinggi dari bunga pinjaman
- Penggunaan hanya untuk sarana/prasarana tertentu

d. Pendayagunaan aset kota atas lahan melalui bentuk:


- Sewa
- Build Operate Transfer (BOT), memberi hak pengusahaan kepada
investor selama masa kontrak, dan pada akhir masa kontrak, fasilitas
menjadi milik pemerintah
- Build Own Operate (BOO), memberi hak bagi mitra untuk membangun,
memiliki dan mengusahakan fasilitas selama periode waktu tertentu

3
Ringkasan Kuliah Ekonomi Perkotaan

- Build Own Operate Transfer (BOOT), swasta diminta membiayai fasilitas,


lalu memiliki dan mengelolanya, serta akhirnya menyerahkan kepada
pemerintah pada masa akhir kontrak
Keuntungan
- Tidak perlu mengeluarkan dana dalam kerja sama
- Posisi pemerintah sebagai pemilik HPL sangat kuat
Kerugian
- Bila pemerintaj/BUMD kurang menguasai aspek bisnis dan hukum,
mereka akan jarang mendapat kompensasi yangwajar
- Lahan yang sedang dipakai tidak dapat dimanfaatkan untuk usaha lain
- Properti BOT dapat dikenai PPN yang tinggi
e. Pengembangan wilayah khusus dengan menetapkan bagian kota sebagai
wilayah khusus dan memungut fee dari pemilik bisnis.
Keuntungan
- Manfaat suatu proyek akan berlangsung dirasakan dan dibiayai oleh yang
bersangkutan
- Merupakan salah satu cara pelibatan masyarakat
Kerugian
- Masyarakat harus terdidik dan paham akan hak-haknya
- Sulit mengidentifikasikan siapa yang menerima manfaat dan
berapa besar
- Butuh aturan main yang rinci, kelengkapan dan kemampuan
administrasi yang tinggi

f. Impact fee dipungut dari pengembang sebagai kompensasi atas kegiatan


yang dilakukannya dan jumlah pungutan tidak boleh melebihi total biaya
dibagi dengan jumlah unit yang akan menikmati pelayanan dari fasilitas
tersebut.
Keuntungan
- Merupakan cara untuk memenuhi "kewajiban" pembangunan secara adil
- Menjadi alternatif jika kenaikan pajak mulai dirasa memberatkan
Kerugian
- Sulit dalam mengidentifikasi siapa yang menerima manfaat dan berapa
besar
- Butuh aturan main yang rinci, kelengkapan dan kemampuan admnistrasi
yang tinggi

4
Ringkasan Kuliah Ekonomi Perkotaan

PERUBAHAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH


(KEPMENDAGRI NO. 29 TAHUN 2002)
dalam Undang-Undang No. 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan daerah

Sistematika Pembahasan :
1. Latar Belakang
2. Tujuan Perubahan
3. Prinsip Pengaturan Kedua dalam Sistem Pemerintahan Daerah
4. Pokok-pokok Materi Perubahan
5. Cakupan Materi UU Implikasi atau Prasyarat Perubahan Paradigma
Pengelolaan Keuangan Daerah
6. Manajemen Perubahan dalam Implementasi UU Pemerintahan Daerah Bidang
Keuangan Daerah.

Latar belakang filosofi :


1. Spirit Desentralisasi, secara ekonomi menekankan pada upaya efisiensi
dan efektivitas pengelolaan Sumber Daya Daerah untuk meningkatkan
pelayanan umum dan kesejahteraan masyarakat di daerah;
2. Spirit Good Governance yang mengedepankan perlunya transparansi,
akuntabilitas dan mendekatkan masyarakat dalam proses pengambilan
keputusan;
3. Spirit UU Pemerintahan Daerah membawa konsekuensi pada penyerahan
urusan dan pendanaan (money follows function).

Latar belakang teknis :


1. Realitas dinamika yang berkembang khususnya yang terkait dengan
merebaknya permasalahan pengelolaan APBD, pembiayaan dan terbatasnya
sumber pendanaan;
2. Perlunya penyelarasan dengan paket UU Keuangan Negara, yaitu UU No.
17/2003 tentang Keuangan Negara, UU No. 1/2004 tentang Perbendaharaan
Negara, UU No. 15/2004 tentang Pemeriksaan dan Tanggungjawab KN serta
UU No. 25/2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional;
3. Lemahnya muatan dan materi teknis dari produk pengaturan yang tersedia
(a.l. PP 105/2000, Kepmendagri 29/2002).

Tujuan perubahan :
1. Mempertajam esensi sistem penyelenggaraan pemerintahan daerah dalam
kerangka pengelolaan keuangan daerah;

5
Ringkasan Kuliah Ekonomi Perkotaan

2. Memperjelas dan melengkapi serta sinkronisasi dengan paket UU Keuangan


Negara dan UU Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional;
3. Memperkuat peran Gubernur selaku wakil pemerintah dalam melakukan
fungsi pembinaan dan pengendalian keuangan daerah (kabupaten dan kota)
yang selama ini cenderung terabaikan.

Prinsip pengaturan keuangan daerah dalam sistem pemerintahan :


1. Bahwa adanya UU Pemerintahan Daerah membawa konsekuensi pada
penyerahan urusan dan pendanaan (money follows function);
2. Akibat adanya penyerahan urusan dan pendanaan diperlukan kerangka
hubungan keuangan pusat dan daerah yang direfleksikan dalam hak dan
kewajiban di bidang keuangan daerah;
3. Hak daerah dibidang keuangan meliputi:
a. Menetapkan pajak dan retribusi daerah (UU pasal 158 ayat (1) UU
Pemda);
b. Memperoleh dana perimbangan (UU pasal 163 ayat (2) UU Pemda);
c. Memperoleh pinjaman (PP pasal 171 ayat (1) UU Pemda);
4. Kewajiban daerah dibidang keuangan meliputi:
a. Mengelola hak-haknya secara efisien dan efektif (Pasal 155 s/d 194
UU Pemda);
b. Sinkronisasi dengan kebijakan nasional (Pasal 150 ayat (1) dan (3)
UU Pemda);
c. Melaporkan dan mempertanggungjawabkan (Pasal 184 dan Pasal 194
UU Pemda).

Pokok-pokok materi perubahan :


1. Keterkaitan dokumen perencanaan dlm mekanisme penganggaran;
2. Penegasan KDH sebagai pemegang kekuasaan PKD dan prinsip
pelimpahan sebagian atau seluruhnya dengan pertimbangan perlunya
kejelasan peran yang memerintah, menguji, dan mengeluarkan atau
menerima uang;
3. Penegasan Struktur APBD yang terdiri dari Pendapatan, Belanja, dan
Pembiayaan, termasuk adanya dana darurat serta peran pinjaman dan dana
cadangan (Pasal 157 s/d 173). Pemda dlm hal ini juga dpt menerbitkan
obligasi daerah (Pasal 169 ayat (2));
4. Pemerintah dilarang melakukan pungutan di luar yang telah
ditetapkan UU (Pasal 157 ayat (2));
5. Alokasi/usulan DAK dikoordinasikan oleh Gubernur (Pasal 162).

6
Ringkasan Kuliah Ekonomi Perkotaan

6. Pemerintah Daerah dapat menerbitkan obligasi daerah (Pasal 169


ayat 2).
7. Prinsip surplus dan defisit APBD termasuk peran pemerintah (MDN)
dalam pengendalian defisit APBD (Pasal 174 dan 175).
8. Pengaturan lebih detail terkait dengan APBD dan Evaluasinya (Pasal
179 s/d 194).
9. Pengaturan tentang laporan keuangan (Pasal 184 ayat 1) dan
pengaturan RAPERDA APBD yang tidak disetujui DPRD.
10. Pemerintah mengevaluasi RAPERDA APBD yang telah dibahas oleh
DPRD.
11. Pemda menyampaikan RAPERDA tentang Pertanggungjawaban
Pelaksanaan APBD yang telah diperiksa BPK selambat-lambatnya 6 bulan
setelah tahun anggaran berakhir (Pasal 184 ayat 1).
12. Pedoman penggunaan, supervisi, monitoring, dan evaluasi atas Bagi
Hasil, DAU, dan DAK diatur dalam Permendagri (Pasal 163 ayat 1).

Lingkup materi UU :
1. Asas Umum (Pasal 155 dan 156);
2. Struktur APBD (Paragraf kedua);
3. Prinsip Pendapatan, Belanja, dan Pembiayaan (Pasal 157 s/d 176);
4. Mekanisme penyusunan, perubahan, dan pertanggung-jawaban pelaksanaan,
serta evaluasinya (Pasal 179 s/d 191);
5. Pelaksanaan Tata Usaha Keuangan Daerah (Pasal 192 dan 193);
6. Peraturan Perundang-undangan Pokok yang diamanatkan UU ini.

Azas umum :
1. Prinsip Pendanaan Urusan pemerintahan daerah dan urusan pemerintah
daerah (Pasal 155);
2. Pemegang keuangan dan prinsip pelimpahan kekuasaan pengelolaan daerah
(Pasal 156).

Azas-azas pengelolaan keuangan daerah :


1. Keuda dikelola secara tertib, taat pada peraturan perundang-undangan,
efisien, ekonomis, efektif, transparan dan bertanggungjawab dengan
memperhatikan aspek keadilan, kepatutan dan manfaat untuk masyarakat
(UU 33/04 pasal 66 ayat 1).
2. Urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan Daerah didanai dari dan
atas beban APBD, sedangkan urusan pemerintahan yang menjadi

7
Ringkasan Kuliah Ekonomi Perkotaan

kewenangan Pemerintah didanai dari dan atas beban APBN (UU 32/04 pasal
155 ayat 1 & 2).
3. Semua penerimaan dan pengeluaran daerah dalam tahun anggaran ybs
harus dimasukan dalam APBD (UU 33/04 pasal 66 ayat 4).
4. APBD, perubahan APBD dan pertanggungjawaban pelaksanaan APBD setiap
tahun ditetapkan dengan Perda (UU 33/04 pasal 66 ayat 2).
5. PERDA tentang APBD merupakan dasar bagi Pemda untuk melakukan
penerimaan dan pengeluaran daerah (UU 33/04 pasal 67 ayat 1).
6. Setiap pejabat dilarang melakukan tindakan yang berakibat pada
pengeluaran atas beban APBD jika anggaran untuk mendanai kegiatan
tersebut tidak ada atau tidak tersedia (UU 33/04 pasal 67 ayat 2).

Implikasi atau prasyarat perubahan paradigma pengelolaan keuangan daerah :


- Kelembagaan;
- Sumber Daya Manusia;
- Regulasi dan Instrumen Kerja;
- Intensitas Pembinaan;
- Koordinasi;
- Kejelasan Pada Masa Transisi.

Latar belakang penyempurnaan :


- Perubahan perundang-undangan : UU 17/2003, UU 1/2004, 10/2004, UU
15, UU 25/2004, UU 32/2004, UU 33/2004 dan rancangan SAP ;
- Hasil evaluasi pelaksanaan PP 105/2000 dan Kepmendagri No. 29/2002;
- Melengkapi pengaturan tentang sistem dan prosedur penatausahaan dan
pertanggungjawaban keuangan daerah

Pola pikir penyempurnaan :


- Aplikatif
- Gradual
- Integrate dengan perundang-undangan dan SAP
- Antisipatif terhadap berbagai perubahan di masa depan

Landasan hukum :
- Pasal 194 UU 32/2004 PP tentang penyusunan, pelaksanaan,
penatausahaan, pelaporan, pengawasan, dan pertanggunggjawaban;
- PERMENDAGRI untuk mencegah kekosongan;

8
Ringkasan Kuliah Ekonomi Perkotaan

- Penyempurnaan untuk integrate dengan paket undang-undang keuangan


negara dan perubahan undang-undang pemerintahan daerah.