Anda di halaman 1dari 17

MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH dan UNDANG-UNDANG

REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2005 TENTANG GURU


DAN DOSEN

Diajukan Untuk Melengkapi Tugas Mata Kuliah

Profesi Kependidikan

Disusun Oleh :

Harum Rahman J. 5315077558


Muhammad Alfian 5315077588
Obie Sutrisno A. 5315077562
Wahyudi 5315077554
Yudho Bagus P. 5315077596

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN TEKNIK MESIN

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA

2009
BAB I
PENDAHULUAN

A . Latar Belakang
Upaya peningkatan mutu pendidikan melalui pendekatan pemberdayaan sekolah
dalam mengelola institusinya, telah dilakukan Depdiknas. Baik sebelum otonomi daerah
maupun sesudah otonomi daerah. Pada era otonomi daerah muncul program pemberdayaan
sekolah melalui Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). MBS akan terlaksana apabila
didukung oleh sumber daya manusia (SDM) yang memiliki kemampuan, integritas dan
kemauan yang tinggi. Salah satu unsur SDM dimaksud adalah guru, di mana guru merupakan
faktor kunci keberhasilan peningkatan mutu pendidikan karena sebagai pengelola proses
belajar mengajar bagi siswa.
Berbagai upaya telah dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional
khususnya pendidikan dasaar dan menengah pada setiap jenjang dan satuan pendidikan,
antara lain melalui berbagai pelatihan dan peningkatan kompetensi guru, pengadaan buku dan
alat pelajaran, perbaikan sarana dan prasarana pendidikan, dan pewningkatan mutu
manajemen sekolah. Namun berbagai indikator mewujudkan bahwa, mutu pendidikan masih
belum meningkat secara signifikan. Sebagian kecil saja sekolah menunjukkan peningkatan
mutu pendidikan yang cukup menggembirakan, namun sebagian besar lainnya masih
memprehatinkan.
Dari berbagai pengamatan dan analisis, ada tiga hal pokok yang menyebabkan mutu
pendidikan kita tidak mengalami peningkatan secara signifikan. Pertama, kebijakan dan
penyelenggaraan pendidikan nasional menggunakan pendekatan yang menganggap bahwa
apabila semua komponen pendidikan seperti pelatihan guru, pengadaan buku dan alat
pelajaran, perbaikan sarana serta prasarana pendidikan lainya terpenuhi, maka hasil
pendidikan yang dikehendaki yaitu mutu pendidikan secara otomatis akan terwujud. Dan
yang terjadi tidak demikian, karena hanya memusatkan pada masalah pendidikan dan tidak
memperhatikan proses pendidikannya. Kedua, penyelenggaraan pendidikan nasional
dilakukan secara birokratik-sentralistik sehingga menempatkan sekolah sebagai
penyelenggara pendidikan sangat tergantung pada keputusan birokrasi yang mempunyai jalur
yang sangat panjang dan kadang-kadang kebijakan ayang dikeluarkan tidak sesuai dengan
kondisi setempat. Lebih parah lagi jika sekolah sendiri pasif dalam arti tidak punya
kreativitas. Ketiga, peran serta masyarakat, khususnya orang tua siswa dalam
penyelenggaraan pendidikan selama ini sangat minim. Partisipasi masyarakat pada umumnya
lebih banyak bersifat dukungan dana, bukan pada proses pendidikan. Sekolah tidak
mempertanggungjawabkan hasil pelaksanaan pendidikan kepada masyarakat, khususnya
orang tua siswa, sebagai salah satu unsur yang berkepentingan dengan pendidikan.

B. Pengertian Manajemen Berbasis Sekolah


Manajemen Berbasis Sekolah adalah model manajemen yang memberikan otonomi
lebih besar kepada sekolah dan mendorong pengambilan keputusan bersama/partisipatif dari
semua warga sekolah dan masyarakat. Untuk mengelola sekolah dalam rangka meningkatkan
mutu pendidikan berdasarkan kebijakan pendidikan nasional. Otonomi yang demikian
memberikan kebebasan sekolah untuk membuat program-program sesuai dengan kebutuhan
sekolah. Pengambilan keputusan bersama dengan warga sekolah dan dedikasi tanggung
jawab bersama untuk kemajuan sekolah. Dengan tidak mengurangi otonomi sekolah, demi
kepentingan-kepentingan pribadi atau kelompok untuk menguasai sekolah tanpa partisipasi
warga sekolah dan masyarakat.

C. Tujuan Manajemen Berbasis Sekolah


1. Meningkatkan mutu pendidikan melalui kemandirian dan inisiatif sekolah dalam
mengelola dan memberdayakan sumber daya yang tersedia.
2. Meningkatkan kepedulian warga sekolah dan masyarakat dalam penyelenggaraan
pendidikan melalui pengambilan keputusan bersama/partisipatif.
3. Meningkatkan tanggung jawab sekolah kepada orang tua masyarakat dan pemerintah
tentang sekolahnya.
4. Meningkatkan kompetensi yang sehat antar sekolah tentang mutu pendidikan yang
akan dicapai.
BAB II
ANALISIS PEMBAHASAN

A. Paradigma Manajemen Berbasis Sekolah


Dengan diberlakukannya otonomi daerah, maka sebagai konsekwensi logis bagi
manajemen pendidikan di Indonesia adalah perlu dilakukannya penyesuaian terhadap
manajemen paradigma lama menuju manajemen paradigma baru yang lebih bernuansa
otonomi dan yang lebih demokratis Pergeseran paradigma pendidikan dasar dan menengah
telah tercermin dalam visi pembangunan pendidikan nasional yang tercantum dalam GBHN
1999 ”mewujudkan sistem dan iklim pendidikan nasional yang demokratis dan berkualitas
guna mewujudkan bangsa yang berakhlak mulia, kreatif, inovatif, berwawasan kebangsaan,
cerdas sehat, disiplian, bertanggung jawab, trampil, serta menguasai ilmu pengetahuan dan
teknologi”. Amanat GBHN ini menyiratkan suatu kekhawatiran yang mendalam dari
berbagai komponen bangsa terhadap prestasi sistem pendidikan nasional yang kini tampak
mulai menurun dalam mempersiapkan SDM yang tangguh dan mampu bersaing di era tanpa
batas ke depan.
MBS bermaksud mengembalikan sekolah kepada pemiliknya dalam arti yang
mengetahui perkembangan sekolah baik di bidang mutu maupun lainya tergantung pada
sekolah dan masyarakat partisipannya. Kepala sekolah merupakan orang yang paling tahu
tentang prestasi guru-gurunya, kekurangan buku, sarana-prasarana yang menyangkut proses
pembelajaran. Untuk itu kepala sekolah dan guru-guru harus dikembangkan kemampuannya
dalam melakukan kajian serta analisis agar semakin peka terhadap masalah-masalah yang
terjadi di sekolahnya.
Salah satu cara menuju peningkatan mutu dan relevansi adalah demoktratisasi,
partisipasi, dan akuntabilitas pendidikan. Kepala sekolah guru, dan masyarakat adalah peran
utama dan terdepan dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah sehingga segala
keputuisan mengenai penanganan persoalan pendidikan pada tingkatan mikro harus
dihasilkan dari interaksi dari ketiga pihak. Masyarakat adalah stakeholder pendidikan yang
memiliki kepentingan akan keberhasilan pendidikan di sekolah, karena mereka adalah
pembayar pendidikan baik melalui uang sekolah maupun pajak sehingga sudah sewajarnya
sekolah bertangggung jawab kepada masyararakat. Bentuk stakeholder masyarakat tersebut
adalah Dewan Komite Sekolah dan Dewan Pendidikan di tingkat kota/kabupaten
Kemandirian sekolah sangat diharapkan oleh pemerintah terutama pada kebijakan
desentralisasi pendidikan. Namun untuk sampai pada kemampuan untuk mengurus dan
mengatur penyelenggaraan pendidikan di setiap satuan pendidikan diperlukan program yang
sistematis dengan melakukan ”capasity building”. Untuk melakukan kegiatan ”capasity
building” perlu tahapan-tahapan agar arahnya terarah dan terukur. Ada empat tahapan yang
perlu dilalui untuk kegiatan tersebut. Masing-masing tahap pengembangan dilakukan
terhadap setiap kelompok satuan pendidikan yang mempunyai karateristik yang setara.
Capasity building dilakukan untuk meningkatkan (up grade) suatu kelompok satuan
pendidikan pada tahap perkembangan tertentu ke tahap berikutnya.
Keempat tahap tersebut adalah:
1. Tahap Pra format, ialah tahap dimana satuan pendidkan belum memiliki standar
formal pendidikan masih belum terpenuhi sebagai sumber-sumber pendidikan dan
perlu ditingkatkan ke tahap berikutnya.
2. Tahap Formalitas, ialah sekolah yang sudah memiliki sumber-sumber pendidikan
secara minimal. Satuan pendidikan tersebut sudah memiliki standar teknis minimal
seperti kualifikasi guru, jumlah dan kualitas ruang kelas, kualitas buku serta jumlah
kualitas pendidikan lainnya. Dengan capasity building sekolah dapat meningkatkan
kemampuan administratur dan pelaksanaan pendidikandan dapat meningkatkan
pembelajarannya lebih kreatif dan inovatif. Jika satuan pendidikan tersebut sudah
berhasil ditingkatkan lagi ke tingkat transsional. Keberhasilan tersebut dapat diukur
dengan standar pelayanan minimum tingkat sekolah, terutama menyangkut output
pendidikan seperti penurunan tingkat putus sekolah, mengulang kelas, kemampuan
para siswa, tingkat kelulusan, serta tingkat melanjutkan sekolah.
3. Tahap Transisional, ialah satuan pendidikan sudah mampu memberikan pelayanan
minimal pendidikan yang bermutu, seperti kemampuan mendayagunakan sumber-
sumber pendidikan secara optimal, meningkatkan kreativitas guru, pendayagunaan
perpustakaan, sekolah secara optimal.
4. Tahap otonomi, pada tahap ini dapat dikatakan sekolah sudah mencapai tahap
penyelesaian capasity building menuju profesionalisme pendidikan ke pelayanan
pendidikan yang bermutu. Satuan pendidikan sudah dianggap dapat memberikan
pelayanan di atas Standar Pelayanan Minimal dan bertanggung jawab terhadap klien
serta stakeholder pendidikan lainnya.
Dari uraian di atas, dapat dikatakan bahwa perubahan paradigma itu antara lain:
1. Melaksanakan program menjadi merumuskan/melaksanakan program
2. Keputusan terpusat menjadi keputusan bersama/partisipatif
3. Ruang gerak terbatas menjadi ruang gerak fleksibel
4. Sentralistik menjadi desentralistik
5. Individual menjadi kerjasama
6. Basis birokratik menjadi basis professional
7. Diatur menjadi mandiri
8. Malregulasi menjadi deregulasi
9. Informasi terbatas menjadi informasi terbuka
10. Boros menjadi efisien
11. Pendelegasian menjadi pemberdayaan
12. Organisasi vertical menjadi organisasi horizontal

Pada paradigma lama, tugas dan fungsi sekolah hanya melaksanakan program dari
pada mengambil inisiatif merumuskan dan melaksanakan program yang dibuat sendiri oleh
sekolah.

B. Konsep Dasar MBS


MBS adalah model manajemen yang memberikan otonomi lebih besar kepada sekolah
dan mendorong sekolah untuk melakukan pengambilan keputusan secara
bersama/partisipatif. Untuk memenuhi kebutuhan sekolah atau untuk mencapai tujuan
sekolah dalam kerangka pendidikan nasional. Otonomi diartikan kemandirian, artinya
otonomi sekolah adalah kewenangan sekolah untuk mengatur dan mengurus kebutuhan warga
sekolah yang didukung kemampuan tertentu sesuai dengan peraturan perundang-undangan
pendidikan nasional yang berlaku. Pengambilan keputusan bersama merupakan cara
pengambilan keputusan melalui penciptaan lingkungan yang terbuka dan demokratis dimana
warga sekolah langsung terlibat dalam pengambilan keputusan. Sekolah dapat
memberdayakan warga sekolah berupa pemberian kewenangan, tanggungjawab,
kebersamaan dalam pemecahan masalah serta pemberian kepercayaan dan penghargaan.
Manajemen Berbasis Sekolah memiliki karateristik yang harus dipahami oleh sekolah
yang akan menerapkannya yang meliputi komponen pendidikan dan perlakuannya pada
setiap tahap pendidikan input, prose dan outputnya. Pada hasil pendidikan (output)
diharapkan mendapatkan prestasi akademik dan non akademik. Prestasi akademik misalnya
NEM, lomba karya ilmiah, olympiade, siswa berprestasi. Sedangkan non akademin berupa
kesenian, olah raga, kejujuran, kerajinan, pramuka dan lain-lain.
Pada proses pendidikan biasanya penekanannya pada :
1. Proses Belajar Mengajar yang efektifitasnya tinggi.
Proses belajar mengajar yang menekankan pada bekerja, belajar hidup bersama dan
belajar menjadi diri sendiri.
2. Kepemimpinan sekolah yang tangguh.
Kepala sekolah memiliki kemampuan dan kepemimpinan yang tangguh , kuat dan
mampu meningkatkan mutu sekolah sesuai dengan visi, misi tujuan dan sasaran yang
telah ditetapkan.
3. Lingkungan sekolah yang tertib, aman, dan nyaman.
4. Pengelolaan tenaga pendidikan yang efektif.
Kebutuhan tenaga, analisis, perencanaan, pengembangan, evaluasi, hubungan kerja.
5. Sekolah memiliki budaya mutu.
Sekolah memiliki kualitas informasi untuk perbaikan hasil diikuti penghargaan atau
sanksi, warga merasa aman, warga sekolah merasa memiliki sekolah.
6. Sekolah memiliki kebersamaan yang kompak.
Sekolah memiliki budaya kerjasama antar individu tanpa adanya kelompok-kelompok
tertentu yang dapat menghambat kemajuan sekolah.
7. Sekolah memiliki kewenangan.
Kewenangan sekolah merupakan kesanggupan kerja dan tidak menggantungkan orang
lain. Kepala sekolah mempunyai kreatifitas yang tinggi untuk menuju sekolah yang
lebih baik.
8. Partisipasi warga sekolah dan masyarakat.
Hubungan antara sekolah dan masyarakat merupakan bagian kehidupan sekolah yang
paling tinggi terutama di bidang non akademik dan akademik.
9. Keterbukaan (transparasi) manajemen.
Masalah manajemen perlu keterbukaan antara warga sekolah dan masyarakat
terutama komite sekolah. Apalagi manajemen tersebut menyangkut perencanaan
anggaran (RAPBS) dan penggunaan uang sekolah. Komite sekolah harus tahu
terutama menyangkut anggaran sekolah. Contoh: DOP, BOS, Block Grant, dan
anggaran rutin sekolah.
10. Sekolah memiliki kemauan untuk berubah
Perubahan sekolah diharapkan menuju yang lebih baik. Perubahan tersebut dapat
berupa perubahan fisik sekolah, prestasi akademik dan non akademik.
11. Sekolah melakukan evaluasi dan perbaikan.
Evaluasi bukan sekedar untuk memenuhi daya serap siswa menerima pelajaran.
Namun, evaluasi dapat dipakai tolak ukur untuk meningkatkan mutu sekolah pada
proses belajar mengajar selanjutnya. Sekolah harus selalu melaksanakan evaluasi
secara terus menerus baik berupa pengayaan dan perbaikan untuk siswa demi
peningkatan mutu di sekolah.
12. Sekolah responsif dan antisipatif terhadap kebutuhan.
Sekolah harus mampu mengantisipasi setiap kejadian yang adaa di sekolah terutama
menyangkut mutu sekolah. Sekolah tidak pasif melainkan anatisipatif mencari ke
sekolah–sekolah lain atau ke lembaga-lemabaga pendidikan dengan kata lain
menjemput bola demi kemajuan sekolah.
13. Sekolah memiliki komunikasi yang baik.
Sekolah memiliki komunikasi yang baik terutama antara warga sekolah. Kebersamaan
antar warga sekolah dapat mengantar sekolah ke hal-hal yang lebih bermutu. Contoh
Kelompok Kerja Guru di setiap Gugus Sekolah.
14. Sekolah memiliki Akuntabilitas.
Sekolah memiliki tanggung jawab atas keberhasilan pelaksanaan penyelenggaraan
program sekolah. Akuntabilitas berbentuk laporan prestasi yang harus dilaporkan
kepada pemerintah, orang tua, dan masyarakat. Berdasarkan laporan hasil program,
pemerintah dapat menilai apakah program MBS dapat mencapai tujuan atau tidak.
Jika mencapai tujuan maka diberi penghargaan atau sebaliknya jika tidak berhasil
perlu diberikan sanksi atau teguran atas kinerjanya yang tidak memenuhi syarat.
Sedangkan para orang tua murid dapat memberikan penilaian terhadap program MBS
yang dapat meningkatkan prestasi anak-anaknya atau kinerja sekolahnya. Jika berhasil
orang tua dapat memberikan dorongan dan semangat kepada sekolah, atau sebaliknya
jika tidak berhasil orang tua dapat meminta pertanggungjawaban dan penjelasan
sekolah atas kegagalan yang telah dilakukan.

Pada input pendidikan,


1. Pendidikan memiliki kebijakan, tujuan dari sasaran program yang jelas.
Kebijakan tujuan dan sasaran sekolah harus disosialisasikan kepada semua warga
sekolah, sehingga tertanam pemikiran, tindakan, kebiasaan dan karakter yang kuat
oleh warga sekolah.
2. Sumber daya yang tersedia.
Sekolah harus memiliki sumber daya yang kuat baik sumberdaya manusia maupun
sumber daya lainnya berupa uang, peralatan, perlengkapan, bahan dan lain-lain.
3. Staf yang kompeten dan dedikasi tinggi.
4. Memiliki harapan prestasi yang tinggi.
Kepala sekolah memiliki komitmen dan dedikasi yang tinggi untuk mencapai prestasi
serta anak didik juga mempunyai motivasi untuk selalu meningkatkan diri untuk
berprestasi sesuai dengan bakat dan kemampuannya.
5. Fokus pada pelanggan
Anak didik merupakan fokus utama semua kegiatan proses pembelajaran yang
dikerahkan di sekolah dengan tujuan utama untuk meningkatkan mutu dan kepuasan
siswa.
6. Manajemen
Kelengkapan dan kejelasan manajemen yang dibutuhkan sekolah akan membantu
kepala sekolah mengelola sekolahnya dengan efektif.

C. Fungsi- fungsi Pendidikan yang Didesentralisasikan


• Perencanaan dan Evaluasi
• Pengelolaan kurikulum
• Pengelolaan PBM
• Pengelolaan Ketenagaan Proses Prestasi
• Pengelolaan Keuangan Belajar Siswa dan
• Pengelolaan Layanan Siswa Mengajar Tamatan
• Pengelolaan Hubungan Sekolah dan Masyarakat
• Pengelolaan iklim sekolah
• Masukan pendidikan
• Proses pendidikan
• Hasil pendidikan
BAB III
PELAKSANAAN

A. Rasional
Pelaksanaan MBS disesuaikan dengan potensi dan kebutuhan tiap-tiap sekolah. Ada
empat hal pokok yang memerlukan perubahan dalam melaksanakan MBS:
1. Peraturan perundang-undangan yang menetapkan sekolah bersifat otonom.
2. Kebiasaan berperilaku unsur-unsur sekolah perlu disesuaikan dengan tuntutan MBS.
3. Peran sekolah menjadi sekolah yang mandiri dan bermotivasi diri tinggi.
4. Struktur organisasi pendidikan perlu di tata kembali sesuai dengan tuntutan
kebutuhan.

B. Tahap-tahap pelaksanaan MBS


1. Sosialisasi
Sekolah mensosialisasikan konsep MBS kepada seluruh warga sekolah dan
masyarakat melalui berbagai kegiatan antara lain seminar, lokakarya, diskusi, rapat
kerja.
Kegiatan mensosialisasi MBS dapat dilakukan dengan cara :
a. Melakukan identifikasi dan mengenalkan sistem, budaya, dan sumber daya yang
diperlukan untuk menyelenggarakan MBS.
b. Membuat komitmen secara rinci jika terjadi perubahan sistem, budaya, dan sumber
daya yang cukup mendasar.
c. Mengklarifikasikan visi,misi dan tujuan, sasaran rencana, dan program-program
penyelenggaraan MBS.
d. Memberikan penjelasan secara rinci mengapa diperlukan manajemen berbasis
sekolah.
e. Mendorong sistem, budaya, dan sumber daya manusia yang mendukung penerapan
MBS dan memberi penghargaan kepada warga sekolah yang menerapkannya.
f. Mengarahkan proses perubahan agar sesuai dengan visi, misi, tujuan, sasaran,
rencana, dan program-program sekolah.
2. Identifikasi Tantangan sekolah
Sekolah mengidentifikasi tantangan yang dihadapi oleh sekolah. Tantangan
adalah selisih antara hasil yang diharapkan di masa yang akan datang, contoh hasil
prestasi akademik dan non akademik. Tantangan sekolah bersumber dari hasil sekolah
yang dapat dikelompokkan menjadi empat, yaitu kualitas, produktivitas, efektivitas,
dan efisien.

3. Visi, Misi, Tujuan dan Sasaran Sekolah


• Visi
Setiap sekolah memiliki visi yang berisi tentang:
a. Wawasan yang menjadi sumber arahan bagi sekolah dan digunakan untuk
memandu perumusan misi sekolah.
b. Pandangan jauh ke depan kemana sekolah akan di bawa.
c. Gambaran masa depan yang diinginkan oleh sekolah agar sekolah yang
bersangkutan dapat menjamin kelangsungan hidup dan perkembangannya.
Visi sekolah harus mengacu kebijakan pendidikan nasional tetapi sesuai dengan
butuhan peserta didik yang dilayani. Oleh karena itu, visi suatu sekolah tak harus
sama dengan sekolah lainsepanjang tidak keluar dari ketentuan nasional yaitu
tujuan pendidikan nasional. Visi sebaiknya dilengkapi dengan indikator sebagai
penjelasan apa yang dimaksudkan oleh visi tersebut agar tidak menimbulkan
aneka tafsir. Misalnya Unggul dalam prestasi berdasarkan iman dan taqwa.

• Misi
Misi adalah tindakan untuk mewujudkan/merealisasikan visi tersebut. Dalam
merumuskan misi harus mempertimbangkan tugas pokok sekolah dan aspirasi semua
warga sekolah yang terkait. Misi adalah bentuk layanan untuk memenuhi tuntutan
yang dituangkan dalam visi dengan berbagai indikatornya. Contoh Visi sekolah
”Unggul dalam prestasi berdasarkan iman dan taqwa” dapat merumuskan misi sebagai
berikut:
1. Melaksanakan pembelajaran dan bimbingan secara efektif, bagi siswa sesuai
potensi masing-masing.
2. Menumbuhkan semangat keunggulan kepada seluruh warga sekolah.
3. Mendorong dan membantu setiap siswa untuk mengenali potensi dirinya, sehingga
dapat dikembangkan secara optimal.
4. Menumbuhkan penghayatan terhadap ajaran agama yanga dianut dan juga budaya
bangsa sehingga menjadi sumber kearifan dalam bertindak.

• Tujuan
Tujuan adalah apa yang akan dicapai dihasilkan oleh sekolah yang bersangkutan dan
kapan tujuan tersebut akan dicapai. Tujuan pada dasarnya merupakan tahapan wujud
sekolah menuju visi yang telah ditetapkan.

• Sasaran
Sasaran adalah penjabaran tujuan: yaitu suatu yang akan dihasilkan/dicapai oleh
sekolah dalam jangka waktu lebih singkat dibanading tujuan sekolah. Rumusan
sasaran harus selalu mengandung peningkatan baik peningkatan kualitas, efektivitas,
produktivitas, maupun efisiensi.Sasaran harus dibuat spesifik, terukur jelas kriterianya
dan disertai indikator-indikator yang rinci, dan mengacu pada visi, misi, dan tujuan
sekolah.

4. Identifikasi fungsi-fungsi yang diperlukan


Fungsi-fungsi yanag digunakan untuk mencapai sasaran dan yang masih perlu
tingkat kesiapannya, antara lain fungsi proses belajar mengajar, pengembangan
kurikulum perencanaan dan evaluasi, ketenagaan, fungsi keuangan, fungsi pelayanan
kesiswaan, pengembangan iklim akademik sekolah, fungsi hubungan sekolah
masyarakat, dan fungsi pengembangan fasilitas.

5. Analisis SWOT
Analisis SWOT (Strenght, Weakness, Opportunity, Threat) dilakukan untuk
mengetahui tingkat kesiapan setiap fungsi dari keseluruhan fungsi sekolah untuk
mencapai sasaran yang ditetapkan, analisis SWOT dilakukan terhadap keseluruhan
faktor dalam setiap fungsi, baik faktor yang tergolong internal maupun eksternal.
Fungsi yang memadai sebagai kekuatan dan fungsi yang kurang dinyatakan sebagai
kelemahan, untuk faktor internal dan ancaman.

6. Alternatif Pemecahan Masalah


Tindakan tersebut merupakan upaya untuk mengatasi kelemahan maupun
ancaman, agar menjadi kekuatan atau peluang, yakni dengan memanfaatkan faktor
lain yang menjadi kekuatan atau peluang.

7. Rencana dan Program Sekolah


Rencana harus menjelaskan secara detail aspek-aspek yang ingin dicapai,
kegiatan yang harus dilakukan siapa, kapan dan dimana dilaksanakan, serta biaya
yang diperlukan untuk melaksanakan kegiatan tersebut. Program adalah bentuk
dukumen untuk menggambarkan langkah dalam mewujudkan keterpaduan dlam
pelaksanaan.

8. Implementasi Rencana dan Program Sekolah


Dalam kaitannya dengan implementasi Rencana dan Program sekolah kepala
sekolah dan guru hendaknya mendayagunakan sumberdaya pendidikan yang tersedia
semaksimal mungkin semata-mata untuk kualitas pembelajaran.

9. Evaluasi Pelaksanaan
Sekolah harus melakukan evaluasi pelaksanaan program, baik jangka pendek
(akhir semester), jangka menengah (satu tahun), jangka panjang uantuk mengetahui
seberapa jauh program sekolah memenuhi tuntutan pasar. Hasil evaluasi dibuat
laporan meliputi laporan teknis yang menyangkut program pelaksanaan dan hasil
MBS dan laporan keuangan tentang penggunaan uang serta pertanggungjawabannya.

10. Sasaran Baru


Hasil evaluasi untuk menentukan sasaran baru untuk tahun yang akan datang.
Setelah sasaran baru ditetapkan, kemudian dilakukan analisis SWOT untuk
mengetahui tingkat kesiapan masing-masing fungsi dalam sekolah.

C. Tugas dan Fungsi Sekolah


Tugas dan fungsi sekolah adalah mengelola penyelenggaraan MBS di sekolah
masing-masing. Mengingat sekolah merupakan unit terdepan dalam penyelenggaraan MBS,
maka sekolah menjalankan tugas dan fungsi sebagai berikut:
1. Menyusun rencana dan program pelaksanaan MBS dengan melibatkan semua
unsur sekolah.
2. Mengkoordinasikan dan menyerasikan segala sumberdaya yang ada di sekolah
dan di luar sekolah untuk mencapai sasaran MBS yang telah ditetapkan.
3. Melaksanakan MBS secara efektif dan efisien.
4. Melaksanakan pengawasan dan bimbingan dalam pelaksanaan MBS untuk
mencapai sasaran MBS.
5. Pada setiap akhir tahun ajaran melakukan evaluasi untuk menilai tingkat
ketercapaian sasaran program MBS yang telah ditetapkan guna untuk menentukan
sasaran baru program MBS tahun-tahun berikutnya.
6. Menyusun laporan-laporan program MBS secara lengkap.
7. Mempertanggungjawabkan hasil penyelenggaraan MBS kepada semua pihak yang
berkepentingan.

Berdasarkan uraian di atas dalam pelaksanaan MBS perla dilakukan monitoring dan
evaluasi dengan tujuan dapat mengukur tingkat kemajuan pendidikan baik pada tingkat
sekolah, dinas pendidikan tingkat kota/kabupaten, dinas propinsi maupun pusat. Monitoring
menghasilakn informasi yang dapat digunakan untuk pengambilan keputusan. Dengan
monitoring sdan evaluasi kita dapat melihat apakah MBS benar-benar mampu
menyelenggarakan sekolah dengan baik khususnya dalam meningkatkan mutu pendidikan.
Monitoring hádala statu proses pemantauan untuk mendapatkan informasi tentang
pelaksanaan MBS. Fokus monitoring pada pelaksanaannya. Hasil monitoring dapat
digunakan untuk memberi masukan (umpan balik) bagi perbaikan pelaksanaan MBS baik
pada konteks, input, proses, output maupun dampaknya.

BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. MBS adalah model manajemen sekolah yang memberikan otonomi kepada
sekolah dan menekankan keputusan sekolah bersama/partisipatif dari semua
warga sekolah dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan berdasarkan
kebijakan pendidikan nasional.
2. MBS memberikan kemungkinan sekolah memiliki kewenangan yang besar
mengelola sekolahnya agar lebih berdaya kreatif sehingga dapat mengembangkan
program-program yang lebih cocok dengan kebutuhan dan potensi sekolah.
3. Tahap pelaksanaan MBS meliputi sosialisasi merumuskan visi, misi, tujuan dan
sasaran sekolah, identifikasi fungsi-fungsi pendidikan/sekolah, analisis tingkat
kesiapan fungsi, pemecahan masalah, menyiapkan/menyusun program, evaluasi
dan penyempurnaan.
4. MBS akan efektif apabila pelaksanaannya didukung oleh sumber daya manusia
(SDM) yang memiliki kemauan, integritas yang tinggi, baik dijajaran sekolah,
Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota, Dinas Pendidikan Propinsi maupun pusat.
5. Monitoring dan evaluasi pelaksanaan MBS adalah merupakan sistem dan bagian
integral pengelolaan pendidikan. Dengan monitoring dan evaluasi dapat diketahui
tingkat kemajuan pendidikan di sekolah, dimana dari hasil monitoring dan
evaluasi ini dipakai sebagai bahan masukan untuk penyempurnaan dalam
penyelenggaraan sekolah.
6. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru Dan
Dosen, di dalamnya menyatakan hal-hal yang menyangkut pada seorang guru dan
dosen dari mulai hak, kewajiban, perlakuan, kedudukan, sangsi, dan ketentuan
yang berkaitan dengan pelaksanaan profesi tugasnya sebagai pengajar.

B. Saran
1. Perubahan paradigma manajemen pendidikan dari manajemen sentralistik menuju
Manajemen Berbasis Sekolah perlu ditindak lanjuti dengan peraturan perundang-
undangan.
2. MBS diharapkan tidak disalah gunakan dalam artian memberi peluang terhadap
keinginan/ambisi baik individu maupun kelompok unttuk menguasai/mengelola
sekolah menurut kemauannya sendiri tanpa memperhatikan dan mengakomodasi
aspirasi dan partisipasi warga sekolah dan masyarakat.
3. Kepada Pemerintah RI dan Lembaga Pengawas Pendidikan, karena Undang-
undang tersebut belum dapat dilaksanakan sepenuhnya maka lebih baik
melakukan pembentukan Pengawas pelaksanaan Undang-undang pada tiap
daerah.
4. Adanya sangsi yang jelas bilamana guru atau dosen melakukan kesalahan yang
fatal dan sangsi tersebut dijatuhkan oleh Lembaga Pengawas Pelaksanaan
Undang-undang yang dilindungi oleh badan hukum Negara.
5. Diperlukan amandemen yang berkaitan dengan memudahkan pelaksanaan
Undang-undang tersebut oleh guru dan dosen.

DAFTAR PUSTAKA
H. E. Mulyasa, Prof. DR, MPd. 2002. Manajemen Berbasis Sekolah. Bandung:
PT. Remaja Rosdakarya.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru Dan
Dosen.