Anda di halaman 1dari 1

Berjuang untuk Bangkit

Pagi masih sangat dingin. Adi menggeliat membetulkan posisi selimutnya ketika bunyi alarm
membangunkannya. Alarm masih tetap berbunyi selama beberapa menit sebelum akhirnya Adi bangun
dan mematikannya. Dia lalu menuju kamar mandi dengan wajah masih mengantuk.Air kran yang
dingin membangunkannya,terdengan suara iqomat dari masjid dekat rumahnya. Adi terlambat untuk
shalat berjama'ah di masjid.Dengan sedikit kecewa dia mengenakan sarung dan shalat sendiri di rumah.
Selesai shalat Adi kembali kekamarnya. Dia melihat buku-bukunya yang belum sempat
dirapikan. Dia mengambilnya satu-persatu sambil mengingat-ingat pelajaran hari ini. Adi adalah
seorang pelajar tingkat SMP di daerah Yogyakarta. Tadi malam dia belajar hingga larut karena sebentar
lagi ujian semester 2. Kemudian dia akan bisa naik ke kelas 3.Adi telah selesai menyiapkan tasnya lalu
keluar dari kamar sambil melihat kalender. “27 Mei 2006,ujian tinggal beberapa minggu lagi.” gumam
Adi.
Adi telah selesai mandi. Dia mengenakan seragam putih birunya lalu duduk di meja makan,
menunggu ibunya selesai masak.Tiba-tiba dia merasakan lantai yang di injaknya bergerak. Adi tidak
langsung sadar terhadap apa yang terjadi. Ibunya berlari dari dapur.”Ayo Adi cepat keluar !”teriak
ibunya. Adi segera berlari keluar mengikuti ibunya. Ayahnya sudah diluar sambil menggendong
adiknya. Adi dan Ibunya lalu berkumpul dengan mereka. Adi baru tersadar kalau sedang terjadi gempa.
Dia melihat orang-orang berlarian sambil berteriak. Adi melihat ayah dan ibunya menggumamkan
sesuatu,berharap gempa segera berhenti. Adi menjadi takut lalu memejamkan matanya.
Gempa berhenti tak lebih dari satu menit kemudian.Adi membuka matanya.Dia melihat
pemandangan yang mengerikan. Rumah-rumah roboh,rata dengan tanah. Rumahnya sendiri
retak,namun tidak roboh. Dia lalu mendengar seseorang berteriak,menjerit-jerit di depan rumahnya
yang roboh,mengatakan kalau salah satu keluarganya masih didalam.
Selang beberapa jam kemudian datang mobil-mobil membawa bantuan. Adi berteduh di bawah
tenda sambil memakan roti yang tawar rasanya,dia tidak menyukainya,tetapi hanya itu yang ada.
Semenjak itu kehidupan Adi berubah.Bila malam tiba,ketakutan menyelimuti. Tenda yang
penuh sesak menambah ketidaknyamanan. Namun dia masih beruntung,rumahnya masih berdiri. Dia
bisa mengambil buku-bukunya.
Adi melalui hari demi hari dengan sabar hingga datang hari ujian semester. Ujian dilaksanakan
di tenda-tenda bantuan. Perasaan miris masih menyelimuti hatinya. Dia bingung apakah dia masih bisa
sekolah, karena gedung sekolahnya juga ambruk.
Tak ada yang bisa dilakukan Adi kecuali bersabar dan berdoa. Ayahnya selalu berkata bahwa
Tuhan takkan memberikan ujian yang diluar kemampuan kita. Ayahnya juga menggambarkan ujian ini
seperti ujian semester yang baru saja dilaluinya.
“Adi bagaimana semesterannya ? ” tanya ayahnya.
“Sulit.” jawab Adi singkat
“Tapi kamu bisa mengerjakannya,kan ” kata ayahnya
“Iya.”
Beberapa minggu berlalu,seluruh korban gempa sudah diurus. Warga mulai berpikir untuk
memperbaiki rumah mereka masing-masing. Banyak pihak yang memberikan bantuan perbaikan
rumah. Termasuk juga sebuah perusahaan memberikan bantuan untuk memperbaiki sekolah Adi.
Setelah beberapa bulan,desa Adi telah kembali seperti semula.Malah beberapa rumah tampak
baru.Termasuk juga sekolahnya.Adi senang melihat gedung sekolahnya yang baru. Di hari pertama
masuk sekolah setelah libur panjang akhirnya dia dapat bertemu temannya-temannya dengan wajah
bahagia.