Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PENDAHULUAN

BRONCHOPNEUMONIA
A. DEFINISI
Bronchopneumoni adalah salah satu jenis pneumonia yang mempunyai pola
penyebaran bercak, teratur dalam satu atau lebih area terlokalisasi di dalam bronchi dan
meluas ke parenkim paru yang berdekatan di sekitarnya. (Smeltzer&Suzanne C, 2012)
Bronkopneumonia adalah peradangan pada parenkim paru yang melibatkan
bronkus atau bronkiolus yang berupa distribusi berbentuk bercak-bercak (patchy
distribution) (Bennete, 2013). Pneumonia merupakan penyakit peradangan akut pada
paru yang disebabkan oleh infeksi mikroorganisme dan sebagian kecil disebabkan oleh
penyebab non-infeksi yang akan menimbulkan konsolidasi jaringan paru dan gangguan
pertukaran gas setempat (Bradley et.al., 2011)
Kesimpulannya bronchopneumonia adalah jenis infeksi paruyang disebabkan oleh
agen infeksius dan terdapat di daerah bronkus dan sekitar alveoli.
B. ETIOLOGI
Secara umum bronchopneumonia diakibatkan penurunan mekanisme pertahanan
tubuh terhadap virus virulensi organisme patogen. Orang normal dan sehat mempunyai
mekanisme pertahanan tubuh terhadap organ pernafasan yang terdiri atas: reflek glotis
dan batuk, adanya lapisan mukus, gerakan silia yang menggerakkan kuman keluar dari
organ, dan sekresi humoral setempat.
Timbulnya bronchopneumonia disebabkan oleh virus, bakteri, jamur, protozoa,
mikrobakteri, mikroplasma, dan riketsia. (Sandra M. Nettiria, 2011) antara lain:
1. Bakteri: Streptococcus, Staphylococcus, H. Influenzae, Klebsiela.
2. Virus: Legionella Pneumoniae.
3. Jamur: Aspergillus Spesies, Candida Albicans
4. Aspirasi makanan, sekresi orofaringeal atau isi lambung ke dalam paru-paru
5. Terjadi karena kongesti paru yang lama.
Penyebab bronkopneumonia yang biasa dijumpai adalah (Bradley et.al., 2011) :
1.

Faktor Infeksi
a. Pada neonatus: Streptokokus group B, Respiratory Sincytial Virus (RSV).
b. Pada bayi :
1) Virus: Virus parainfluensa, virus influenza, Adenovirus, RSV,
Cytomegalovirus.
2) Organisme atipikal: Chlamidia trachomatis, Pneumocytis.
3) Bakteri: Streptokokus pneumoni, Haemofilus influenza, Mycobacterium
tuberculosa, Bordetella pertusis.
c. Pada anak-anak :

2.

1) Virus : Parainfluensa, Influensa Virus, Adenovirus, RSV


2) Organisme atipikal : Mycoplasma pneumonia
3) Bakteri: Pneumokokus, Mycobakterium tuberculosis
d. Pada anak besar dewasa muda :
1) Organisme atipikal: Mycoplasma pneumonia, C. trachomatis
2) Bakteri: Pneumokokus, Bordetella pertusis, M. tuberculosis
Faktor Non Infeksi.
Terjadi akibat disfungsi menelan atau refluks esophagus meliputi
a. Bronkopneumonia hidrokarbon :
Terjadi oleh karena aspirasi selama penelanan muntah atau sonde lambung
(zat hidrokarbon seperti pelitur, minyak tanah dan bensin).
b. Bronkopneumonia lipoid :
Terjadi akibat pemasukan obat yang mengandung minyak secara
intranasal, termasuk jeli petroleum. Setiap keadaan yang mengganggu
mekanisme menelan seperti palatoskizis, pemberian makanan dengan
posisi horizontal, atau pemaksaan pemberian makanan seperti minyak ikan
pada anak yang sedang menangis. Keparahan penyakit tergantung pada
jenis minyak yang terinhalasi. Jenis minyak binatang yang mengandung
asam lemak tinggi bersifat paling merusak contohnya seperti susu dan
minyak ikan.

C. MANIFESTASI KLINIS
Bronchopneumonia biasanya didahului oleh suatu infeksi di saluran pernafasan
bagian atas selama beberapa hari. Pada tahap awal, penderita bronchopneumonia
mengalami tanda dan gejala yang khas seperti menggigil, demam, nyeri dada pleuritis,
batuk produktuf, hidung kemerahan, saat bernfas menggunakan otot aksesorius dan bisa
timbul sianosis.
Terdengar adanya krekels di atas paru yang sakit dan terdengar ketika terjadi
konsolidasi (pengisisan rongga udara oleh eksudat).
Pemeriksaan Penunjang
Untuk dapat menegakkan diagnosa keperawatan dapat digunakan cara
1. Pemeriksaan laboratorium
a. Pemerikaan darah
b. Pemeriksaan sputum
c. Analisa tes darah
d. Kultur darah
e. Sampel darah, sputum dan urin
2. Pemeriksaan radiologi
a. Rontgenogramtoraks
b. Laringoskopi/ bronkoskopi
Dalam pemeriksaan fisik penderita pneumonia khususnya bronkopneumonia
ditemukan hal-hal sebagai berikut (Bennete, 2013):

a. Pada inspeksi terlihat setiap nafas terdapat retraksi otot epigastrik, interkostal,
suprasternal, dan pernapasan cuping hidung.
Tanda objektif yang merefleksikan adanya distres pernapasan adalah retraksi
dinding dada; penggunaan otot tambahan yang terlihat dan cuping hidung;
orthopnea; dan pergerakan pernafasan yang berlawanan. Tekanan intrapleura yang
bertambah negatif selama inspirasi melawan resistensi tinggi jalan nafas
menyebabkan retraksi bagian-bagian yang mudah terpengaruh pada dinding dada,
yaitu jaringan ikat inter dan sub kostal, dan fossae supraklavikula dan
suprasternal. Kebalikannya, ruang interkostal yang melenting dapat terlihat
apabila tekanan intrapleura yang semakin positif. Retraksi lebih mudah terlihat
pada bayi baru lahir dimana jaringan ikat interkostal lebih tipis dan lebih lemah
dibandingkan anak yang lebih tua.
Kontraksi yang terlihat dari otot sternokleidomastoideus dan pergerakan
fossae supraklavikular selama inspirasi merupakan tanda yang paling dapat
dipercaya akan adanya sumbatan jalan nafas. Pada infant, kontraksi otot ini terjadi
akibat head bobbing, yang dapat diamati dengan jelas ketika anak beristirahat
dengan kepala disangga tegal lurus dengan area suboksipital. Apabila tidak ada
tanda distres pernapasan yang lain pada head bobbing, adanya kerusakan sistem
saraf pusat dapat dicurigai.
Pengembangan cuping hidung adalah tanda yang sensitif akan adanya distress
pernapasan dan dapat terjadi apabila inspirasi memendek secara abnormal
(contohnya pada kondisi nyeri dada). Pengembangan hidung memperbesar pasase
hidung anterior dan menurunkan resistensi jalan napas atas dan keseluruhan.
Selain itu dapat juga menstabilkan jalan napas atas dengan mencegah tekanan
negatif faring selama inspirasi.
b. Pada palpasi ditemukan vokal fremitus yang simetris.
Konsolidasi yang kecil pada paru yang terkena tidak menghilangkan getaran
fremitus selama jalan napas masih terbuka, namun bila terjadi perluasan infeksi
paru (kolaps paru/atelektasis) maka transmisi energi vibrasi akan berkurang.
c. Pada perkusi tidak terdapat kelainan
d. Pada auskultasi ditemukan crackles sedang nyaring.
Crackles adalah bunyi non musikal, tidak kontinyu, interupsi pendek dan
berulang dengan spektrum frekuensi antara 200-2000 Hz. Bisa bernada tinggi
ataupun rendah (tergantung tinggi rendahnya frekuensi yang mendominasi), keras
atau lemah (tergantung dari amplitudo osilasi) jarang atau banyak (tergantung

jumlah crackles individual) halus atau kasar (tergantung dari mekanisme


terjadinya).
Crackles dihasilkan oleh gelembung-gelembung udara yang melalui sekret
jalan napas/jalan napas kecil yang tiba-tiba terbuka.
PEMERIKSAAN RADIOLOGI
Gambaran radiologis mempunyai bentuk difus bilateral dengan peningkatan corakan
bronkhovaskular dan infiltrat kecil dan halus yang tersebar di pinggir lapang paru.
Bayangan bercak ini sering terlihat pada lobus bawah (Bennete, 2013).
PEMERIKSAAN LABORATORIUM
Pada pemeriksaan laboratorium terdapat peningkatan jumlah leukosit. Hitung leukosit
dapat membantu membedakan pneumoni viral dan bakterial. Infeksi virus leukosit
normal atau meningkat (tidak melebihi 20.000/mm3 dengan limfosit predominan) dan
bakteri leukosit meningkat 15.000-40.000 /mm3 dengan neutrofil yang predominan. Pada
hitung jenis leukosit terdapat pergeseran ke kiri serta peningkatan LED. Analisa gas
darah menunjukkan hipoksemia dan hipokarbia, pada stadium lanjut dapat terjadi
asidosis respiratorik. Isolasi mikroorganisme dari paru, cairan pleura atau darah bersifat
invasif sehingga tidak rutin dilakukan (Bennete, 2013).
D. MASALAH YANG SERING MUNCUL
1. Ketidakefektivan bersihan jalan nafas b.d inflamasi trakea bronkial, pembentukan
edema, peningkatan produksi sputum
2. Gangguan pertukaran gas b.d perubahan membran alveolus kapiler, gangguan
kapasitas membawa oksigen darah, gangguan pengiriman oksigen
3. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d kebutuhan metabolik
sekunder terhadap demam dan proses infeksi, anreksia yang berhubungan dengan
toksi bakteri bau dan rasa sputum, distensi abdomen atau gas
4. Resiko ketidakseimbangan elektrolit b.d kehilangan cairan berlebih, penurunan
masukan oral
5. Intoleransi aktivitas insufiseiensi O2 untuk aktivitas sehari-hari.
E. KRITERIA DIAGNOSIS
Diagnosis ditegakkan bila ditemukan 3 dari 5 gejala berikut (Bradley et.al., 2011):
1. Sesak napas disertai dengan pernafasan cuping hidung dan tarikan dinding dada
2. Panas badan
3. Ronkhi basah halus-sedang nyaring (crackles)
4. Foto thorax meninjikkan gambaran infiltrat difus

5. Leukositosis (pada infeksi virus tidak melebihi 20.000/mm3 dengan limfosit


predominan, dan bakteri 15.000-40.000/mm3 neutrofil yang predominan)
F. PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan pneumonia khususnya bronkopneumonia pada anak terdiri dari 2
macam, yaitu penatalaksanaan umum dan khusus (IDAI, 2012; Bradley et.al., 2011)
1. Penatalaksaan Umum
a. Pemberian oksigen lembab 2-4 L/menit sampai sesak nafas hilang atau PaO2
pada analisis gas darah 60 torr.
b. Pemasangan infus untuk rehidrasi dan koreksi elektrolit.
c. Asidosis diatasi dengan pemberian bikarbonat intravena.
2. Penatalaksanaan Khusus
a. Mukolitik, ekspektoran dan obat penurun panas sebaiknya tidak diberikan pada
72 jam pertama karena akan mengaburkan interpretasi reaksi antibioti awal.
b. Obat penurun panas diberikan hanya pada penderita dengan suhu tinggi,
takikardi, atau penderita kelainan jantung
c. Pemberian antibiotika berdasarkan mikroorganisme penyebab dan manifestasi
klinis. Pneumonia ringan amoksisilin 10-25 mg/kgBB/dosis (di wilayah dengan
angka resistensi

penisillin tinggi dosis dapat dinaikkan menjadi 80-90

mg/kgBB/hari).
Faktor yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan terapi :
1.
2.
3.
4.

Kuman yang dicurigai atas dasas data klinis, etiologis dan epidemiologis
Berat ringan penyakit
Riwayat pengobatan selanjutnya serta respon klinis
Ada tidaknya penyakit yang mendasari
Pemilihan antibiotik dalam penanganan pneumonia pada anak

harus

dipertimbangkan berdasakan pengalaman empiris, yaitu bila tidak ada kuman yang
dicurigai, berikan antibiotik awal (24-72 jam pertama) menurut kelompok usia.
1. Neonatus dan bayi muda (< 2 bulan) :
a. ampicillin + aminoglikosid
b. amoksisillin - asam klavulanat
c. amoksisillin + aminoglikosid
d. sefalosporin generasi ke-3
2. Bayi dan anak usia pra sekolah (2 bl-5 thn)
a. beta laktam amoksisillin
b. amoksisillin - asam klavulanat
c. golongan sefalosporin
d. kotrimoksazol
e. makrolid (eritromisin)
3. Anak usia sekolah (> 5 thn)
a. amoksisillin/makrolid (eritromisin, klaritromisin, azitromisin)
b. tetrasiklin (pada anak usia > 8 tahun)

Karena dasar antibiotik awal di atas adalah coba-coba (trial and error) maka harus
dilaksanakan dengan pemantauan yang ketat, minimal tiap 24 jam sekali sampai hari
ketiga. Bila penyakit bertambah berat atau tidak menunjukkan perbaikan yang nyata
dalam 24-72 jam ganti dengan antibiotik lain yang lebih tepat sesuai dengan kuman
penyebab yang diduga (sebelumnya perlu diyakinkan dulu ada tidaknya penyulit seperti
empyema, abses paru yang menyebabkan seolah-olah antibiotik tidak efektif).
G. DISCHARGE PLANNING
1. Berhenti merokok
2. Minum anyak air putih dan berhenti minum minuman beralkohol
3. Hindari iritan atau alergen yang dapat memperparah penyakit seperti asap rokok
4. Tingkatkan imunitas tubuh dengan makan makanan yang mengandung nutrisi
seimbang, berolahraga dan cukup istirahat serta mengurangi stres
5. Jika penyakit bertambah parah segera berkonsulasi dengan dokter

H. PATHWAY
Jamur, virus, bakteri,
protozoa
a.Penderita yg dirawat di rs
b.Penderita yg mengalami
supresi sistem pertahanan
tubuh
c. Kontaminasi peralatan RS
Saluran pernapasan
atas
Kuman
berlebih di
brokeolus
Proses
peradangan
Akumulasi di
bronkeolus

Penurunan
capilance
paru O2
Suplai
menurun

Hiperventilasi

dispneu
Retraksi
dada/nafas
cuping hidung

Kuman terbawa disaluran


cerna

Infeksi saluran
pernafasan bawah

Infeksi saluran
percernaan
Peningkatan flora normal
Ketidakefektifan
bersihan jalan
nafas
Edema paru
Eksporasi
meningkat
Peningkatan
metabolisme
Eksudat plasma
masuk alveoli
Gangguan difusi
dalam plasma
Iritan PMN eritosit
pecah
Pergeseran dinding
paru

Gangguan
pertukaran
Sumber:
Nurarif A H, Kusuma. 2013
gas

I. RENCANA KEPERAWATAN

Peningkatan
peristaltik usus
diar
e
Resiko ketidak
seimbangan
elektrolit
Peningkatan suhu
sebtikimia
Dilatasi pembuluh
darah
Ketidakefektifan
bersihan jalan
nafas
Edema antra kapiler
dan alveoli

DX KEP

INTERVENSI
TUJUAN
TINDAKAN
1. Ketidakefektif NOC
NIC prioritas
1) Status pernapasan: pertukaran 1) Pengelolaan
jalan
napas:
an
bersihan
gas: SaO2 dalam batas normal,
fasilitas untuk kepatenan jalan
jalan napas
mudah bernapas, tidak ada
udara
2) Pengisapan
jalan
napas:
dispnea/sianosis/gelisah,
memindahkan sekresi jalan
temuan sinar X dada dalam
napas dengan memasukkan
rentang
yang
diharapkan,
sebuah kateter penghisap ke
pertukaran CO2 atau O2
dalam jalan napas oral dan atau
alveolar untuk memertahankan
trakea.
konsentrasi gas darah arteri.
AKTIVITAS:
2) Ventilasi: pergerakan udara
1) Kaji
dan
dokumentasikan
masuk dan keluar paru
keefektifan pemberian oksigen,
pengobatan

yang

diresepkan

dan kaji kecenderungan pada


gas darah arteri
2) Auskultasi bagian dada anterior
dan posterior untuk mengetahui
adanya penurunan atau tidak
adanya ventilasi dan adanya
bunyi tambahan
3) Tentukan kebutuhan pengisapan
oral dan atau trakea
4) Pantau status oksigen pasien
dan

status

hemodinamik

(tingkat Mean Arterial Pressure


dan

irama

jantung)

segera

sebelum, selama dan setelah


pengisapan
5) Catat tipe dan jumlah sekret
yang dikumpulkan.
PENDIDIKAN UNTUK PASIEN/
KELUARGA:
6) Jelaskan pengunaan peralatan
pendukung

dengan

benar

(misalnya oksigen, pengisapan,


spirometer, inhaler)
7) Informasikan kepada pasien dan
keluarga

bahwa

merupakan
dilarang

merokok

kegiatan

yang

dalam

ruang

di

perawatan
8) Instruksikan kepada pasien dan
keluarga
perawatan

dalam
di

rencana

rumah

(misal

pengobatan, hidrasi, nebulisasi,


peralatan,

drainase

postural,

tanda dan gejala komplikasi)


9) Instruksikan kepada pasien
tentang batuk efektif dan teknik
napas

dalam

untuk

memudahkan keluarnya sekresi


10) Ajarkan untuk mencatat dan
mencermati

perubahan

pada

sputum seperti: warna, karakter,


jumlah dan bau
11) Ajarkan pada
keluarga

pasien

bagaimana

atau
cara

melakukan pengisapan sesuai


denan kebutuhan.
AKTIVITAS KOLABORASI
12) Konsultasikan dengan dokter
atau ahli pernapasan tentang
kebutuhan untuk perkusi dan
atau alat pendukung
13) Berikan oksigen yang telah
dihumidifikasi sesuai protap
14) Bantu dengan memberikan
aerosol,
perawatan

nebulizer
paru

lain

dan
sesuai

kebijakan institusi
15) Beritahu dokter ketika analisa

gas darah arteri abnormal


AKTIVITAS LAIN
16) Anjurkan aktivitas fisik untuk
meningkatkan

pergerakan

sekresi
17) Lakukan ambulasi tiap dua jam
jika pasien mampu
18) Informasikan kepada
sebelum

memulai

pasien
prosedur

untuk menurunkan kecemasan


dan peningkatan kontrol diri.
19) Pertahankan
keadekuatan
hidrasi

untuk

menurunkan

viskositas sekret
2. Gangguan
pertukaran gas

NOC
NIC
1) Status Pernapasan: pertukaran 1) Pengelolaan
gas: Pertukaran CO2 atau O2 di

meningkatkan

alveolar untuk memertahankan

asam-basa

konsentrasi gas darah arteri


2) Status Pernapasan: ventilasi:

komplikasi

Asam-Basa:
keseimbangan
dan

mencegah

akibat

dari

ketidakseimbangannya
Perpindahan udara masuk dan 2) Pengelolaan
jalan

napas:

keluar dari paru-paru


Contoh: Setelah dilakukan tindakan

memfasilitasi kepatenan jalan

napas
jam, AKTIVITAS KEPERAWATAN
1) Kaji bunyi paru, frekuensi
pasien
mempunyai
status
napas,kedalaman dan usaha
pernapasan: pertukaran gas tidak
napas serta produksi sputum
akan terganggu dibuktikan dengan:
2) Pantau saturasi O2 dengan
keperawatan

1)

selama

124

Status neurologis dalam

rentang yang diharapkan

oksimeter nadi
3) Pantau hasil gas darah (misal
PaO2 yang rendah, PaCO2 yang

2)

Dispnea pada saat istirahat dan

meningkat, kemunduran tingkat

aktivitas tidak ada

respirasi)
4) Pantau kadar elektrolit
3)
PaO2, PaCO2, pH arteri dan
5) Pantau status mental
SaO2 dalam batas normal
6) Peningkatan
frekuensi
4)

Tidak ada gelisah, sianosis, dan

keletihan

pemantauan pada saat pasien


tampak somnolen
7) Observasi terhadap

sianosis,

terutama

membran

mukosa

mulut
8) Identifikasi kebutuhan pasien
akan

insersi

jalan

napas

aktual/potensial
9) Auskultasi bunyi napas, tandai
area penurunan atau hilangnya
ventilasi

dan

adanya

bunyi

tambahan
10) Pantau status pernapasan dan
oksigenasi
PENDIDIKAN UNTUK PASIEN
DAN KELUARGA
11) Penggunaan alat bantu yang
diperlukan

(oksigen,

pengisap,spirometer)
12) Ajarkan teknik bernapas dan
relaksasi
13) Jelaskan

pada

pasien

dan

keluarga alasan suatu tindakan


dilakukan misal: terapi oksigen
14) Ajarkan teknik perawatan di
rumah (pengobatan, aktivitas,
alat bantu, tanda dan gejala
yang perlu dilaporkan)
15) Ajarkan batuk efektif
AKTIVITAS KOLABORATIF
16) Konsultasikan dengan dokter
tentang

kebutuhan

akan

pemeriksaan gas darah arteri


dan penggunaan alat bantu yang
dianjurkan
adanya

sesuai

dengan

perubahan

kondisi

pasien.
17) Laporkan perubahan sehubungan

dengan

pengkajian

data

(misal : bunyi napas, pola


napas, analisa gas darah arteri,
sputum,efek dari pengobatan)
18) Berikan obat yang diresepkan
(misal:

natrium

untuk

bikarbonat)

mempertahankan

kesiembangan asam-basa
19) Siapkan pasien untuk ventilasi
mekanis
20) Berikan oksigen atau udara
yang

dilembabkan

sesuai

dengan keperluan
21) Berikan bronkodilator, aerosol,
nebulasi
AKTIVITAS LAIN
22) Jelaskan kepada pasien sebelum
memulai pelaksanaan prosedur
untuk menurunkan ansietas dan
meningkatkan rasa kendali
23) Beri jaminan kepada pasien
selama periode disstres atau
cemas
24) Lakukan higiene mulut secara
teratur
25) Lakukan

tindakan

untuk

menurunkan konsumsi oksigen


(misal mengurangi kecemasan,
pengendalian demam dan nyeri)
26) Atur
posisi
untuk
memaksimalkan

potensial

ventilasi dan megurangi dispnea


27) Masukkan jalan napas buatan
melalui hidung atau nasofaring
28) Lakukan fisioterapi dada sesuai
kebutuhan
29) Bersihkan

sekret

dengan

suctioning atau batuk efektif


30) Rencanakan perawatan pasien

yang menggunakan ventilator:


a) Meyakinkan
keadekuatan
pemberian oksigen dengan
melaporkan ketidaknormalan
gas

darah

arteri,

menggunakan ambubeg yang


dilekatkan

pada

sumber

oksigen di sisi bed dan


melakukan

hiperoksigenasi

sebelum

melakukan

pengisapan.
b) Meyakinkan keefektifan pola
napas

dengan

megkaji

sinkronisasi

dan

kemungkinan

kebutuhan

sedasi.
c) Memertahankan

kepatenan

jalan

napas

dengan

melakukan pengisapan dan


memertahankan

selang

endotrakea atau pindahkan ke


sisi tempat tidur.
d) Memantau
komplikasi
(pneumotoraks)
e) Memastikan
3. Resiko
Ketidakseimb
angan
Elektrolit

penempatan selang ET
IntervensiKeperawatan (NIC):

Kriteria Evaluasi (NOC):


a) Keseimbangan
b)
c)
d)
e)
f)
g)

elektrolit

asam/basa
Hidrasi
Pengetahuan: cara perawatan
Respon Pengobatan
Kontrol resiko
Deteksi resiko
Status tanda-tanda vital

ketepatan

&
a) Manajemen elektrolit
b) Manajemen
elektrolit

hiperkalsemia
c) Manajemen

elektrolit

hiperkalemia
d) Manajemen

elektrolit

hipermagnesemia
e) Manajemen
elektrolit

hiperpospatemia

f)

Manajemen

elektrolit

hipernatremia
g) Manajemen

elektrolit

hipokalsemia
h) Manajemen

elektrolit

i)

hipokalemia
Manajemen

elektrolit

j)

hipomagnesemia
Manajemen
elektrolit

hipopospatemia
k) Manajemen
elektrolit

l)
m)
n)
o)
p)

hiponatremia
Monitor elektrolit
Terapi intravena (IV)
Manajemen syok
Pengawasan
Monitor tanda-tanda vital

DAFTAR PUSTAKA
Bennete

M.J.

2013.

Pediatric

Pneumonia.

http://emedicine.medscape.com/article/967822-overview. (9 Marert 2014)


Bradley J.S., Byington C.L., Shah S.S, Alverson B., Carter E.R., Harrison C., Kaplan
S.L., Mace S.E., McCracken Jr G.H., Moore M.R., St Peter S.D., Stockwell J.A.,
and Swanson J.T. 2011. The Management of Community-Acquired Pneumonia in
Infants and Children Older than 3 Months of Age : Clinical Practice Guidelines
by the Pediatric Infectious Diseases Society and the Infectious Diseases Society
of America. Clin Infect Dis. 53 (7): 617-630

Ikatan Dokter Anak Indonesia. 2012. Panduan Pelayanan Medis Ilmu Kesehatan Anak.
Jakarta : Penerbit IDAI
Nurarif A H, Kusuma. 2013. Aplikasi ASKEP Berdasarkan Diagnosa Medis dan
NANDA.MedaAction PUBLISER: Jakarta
Smelzer, SuzannaC,2012. Buku Ajar keperawatan Medikal Bedah.Brunner &Suddart
edisi 8 volume 1,2,3.FGC.Jakarta

LAPORAN PENDAHULUAN
BRONCOPNEUMONIA
DI RUANG MELATI RSUD TUGUREJO SEMARANG
Untuk Memenuhi Modul Konsep Diri II Dan Rekreasi II

Disusun Oleh :
Fitri Chandra Dewi
22020111120018

PROGRAM STUDI ILMU KEP[ERAWATAN


JURUSAN KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
2014