Anda di halaman 1dari 125

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Arsitektur meruppakan ilmu yang sangat luas tidak hanya mempelajari mengenai konstruksi, struktur, estetika, dan bangunan semata namun perlu
juga memahami pengetahuan mengenai kawasan urban yang menjadi bagian dari sebuah keterkaitan antara bangunan dan karakteristik kawasan.
Salah satu kawasan urban yang dapat dikaji adalah Kota Batu dimana kota tersebut merupakan salah satu sektor wisata yang ada di Jawa Timur. Hal
tersebut dapat dilihat pada penanda Kota Batu berupa Alun-alun Batu yang juga berfungsi sebagai sarana wisata. Pengkajian Alun-alun KotaBatu
sebagai sektor wisata yang menjadi bagian dari kawasan urban akan diamati dari aspek fisik dan non fisik kawasan. Aspek fisik tersebut meliputi
delapan elem kota antara lain sirkulasi dan parkir, open space, pedestrian ways, activity support, sainage, preservasi ditunjang pengamatan aspek non
fisik yang meliputi aspek sosial, ekonomi, budaya dan religi pada kawasan tersebut. Pengkajian ini dilakukan untuk mengidentifikasi kelebihan dan
kekurangan Alun-alun Kota Batu guna memberikan rekomendasi pada kawasan untuk pembenahan ke ara yang lebih baik.
1.2 Tujuan Penugasan
Pengkajian kawasan urban ini dilakukan untuk memngetahui kekurangan dan kelebihan sehingga dapat memahami bagaimana memanfaatkan
kelebihan kawasan sebagai potensi dan dapat memberi ide pemikiran berupa solusi untuk mengatasi masalah yang ada pada sebuah kawasan urban
sehingga dapat meningkatkan kualitas kawasan dan mengarahkan perkembangan kawasan ke arah yang lebih baik.
1.3 Batasan StudiLokasi : Kawasan Alun - Alun Kota Batu
Batasan Lokasi Studi:
Lokasi studi dibagi menjadi lima zona yaitu:
Zona A
: Jl. Semeru dan Jl. Gajah Mada
Zona B
: Jl. Kartini
Zona C
: Jl. Semeru Sisir Batu dan Jl. Sudiro
Zona D
: Jl. Diponegoro dan Jl. Munif
Zona E
: Alun-alun Kota Batu

TUGAS II: KARAKTERISTIK KAWASAN ALUN-ALUN KOTA BATU

Page 1

zona A
zona B
zona D
zona C

Gambar 1.1. Kawasan Studi di Alun-alun Kota Batu


1.4 Metode Penyusunan
1.4.1 Pengumpulan data
Terdapat dua jenis data yang dikumpulakan dalam penyusunan tugas iniyaitu sebagai berikut.
A. Data Primer
Data primer ini dilperoleh melaui survei lapangan dan wawancara data yang dihasilkan:
1.
Jumlah intensitas kendaraan yang melintas
2.
Jumlah penanda jalan
3.
Pola sirkulasi pejalan kaki
4.
Jumlah PKL (Pedagang Kaki Lima)
5.
Pola parkir kendaraan bermotor

TUGAS II: KARAKTERISTIK KAWASAN ALUN-ALUN KOTA BATU

Page 2

B.

Data Sekunder
Pengumpulan data juga melalui studi literatur guna mendapatkan informasi mengenai kondisi di lapangan dan teori-teori beserta peraturan
yang berlaku di kawasan studi. Literatur ini diperoleh melalui buku, website dan jurnal ilmiah.

1.4.2 Analisis data


Melakuakan penelitian dengan metode deskriptif terhadap data yang telah diperoleh. Menggabungkan antara keadaan dilapangan
disesuaikan dengan teori-teori dan kebijakan pemerintah yang berlaku pada kawasan tersebut. Sehingga dapat dianalisa permasalahan pada
kawasan tersebut.
1.4.3 Rekomendasi desain
Mengajukan alternatif penyelesaian terhadap permasalahan yang terjadi dilapangan dengan berdasar teori dan peraturan yang ada dalam
bentuk rekomendasi desain yang baru terhadap tata ruang kota pada kawasan tinjauan.
1.4.4 Simpulan akhir
Membuat kesimpulan dari seluruh permasalahan, penyebab dan penyelesaiannya secara singkat untuk menguji kesesuaian penyelesainaan
antar masalah pada setiap elemen perancanagan kota.

TUGAS II: KARAKTERISTIK KAWASAN ALUN-ALUN KOTA BATU

Page 3

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Permasalahan Perkotaan
Kota sebagai pusat kehidupan sosial, ekonomi dan politik masyarakat menjadi suatu tempat yang diidam-idamkan oleh orang-orang yang
mempunyai keinginan untuk melakukan mobilisasi sosial. Proses bermigrasinya penduduk desa ke kota yang sering kali disebut dengan istilah
urbanisasi ini mengakibatkan tingginnya angka pertumbuhan penduduk di wilayah perkotaan. Akibatnya munculah muncul berbagai permasalahan
sosial yang kompleks, saling terkait satu sama lain dan sulit untuk terselesaikan. Selain itu, sistem sosial masyarakat perkotaan yang bersifat lebih
terbuka terhadap budaya luar mengakibatkan anomi ataucultural shock di kalangan masyarakat. Hal tersebut biasanya berujung pada tingkah laku
penyimpangan sosial yang pada umumnya sering dilakukan oleh generasi muda.
Perkotaan di Indonesia, tak lagi terbatas sebagai pusat pemukiman masyarakat. Kini kota juga berfungsi sebagai pusat pemerintahan,sentral hirarki,
dan pusat pertumbuhan ekonomi. Sebagai konsekuensi logis dari peran kota sebagai pusat pertumbuhan dan ekonomi, sumbangan perkotaan terhadap
pertumbuhan ekonomi nasional, semakin meningkat. Data menunjukkan, terdapat peningkatan peranan perkotaan terhadap pertumbuhan nasional
yang cukup signifikan. Pada awal Pelita I, peranan kota terhadap pertumbuhan ekonomi nasional tercatat 50%, namun pada Pelita V, peranan kota
terhadap pertumbuhan telah mencapai 70% (National Urban Development Strategy, 2001).
Pertumbuhan tersebut membawa dampak yang besar bagi kota itu sendiri. Dari sisi penduduk misalnya, terdapat pertumbuhan jumlah penduduk
yang besar dari tahun ke tahun. Pada tahun 1990, jumlah penduduk perkotaan di Indonesia mencapai 31,1%, sementara pada 1995 mencapai 35,9%
dari jumlah penduduk Indonesia. Berdasarkan proyeksi National Urban Development Strategy, jumlah penduduk perkotaan pada tahun 2003 mencapai
55,3% dari penduduk Indonesia. Di lain pihak, penduduk pedesaan pada 1990,mencapai 68,9% pada 1995 mencapai 64,4% dan pada 2003 penduduk
pedesaan mencapai kurang dari 45% dari jumlah penduduk Indonesia.
Penambahan komposisi kependudukan perkotaan memang tak terelakkan. Pada kenyataannya negara-negara dengan tingkat perekonomian yang
tinggi, memiliki tingkat urbanisasi yang tinggi pula. Negara-negara industri pada umumnya memiliki tingkat urbanisasi di atas 75 persen. Bandingkan
dengan negara berkembang yang sekarang ini. Tingkat urbanisasinya masih sekitar 35 persen sampai dengan 40 persen saja. (Prijono Tjiptoherijanto,
Urbanisasi dan Perkotaan, Artikel kompas 2000).
Tentu juga pertumbuhan penduduk yang demikian pesat tersebut membawa konsekuensi yang besar bagi perkotaan. Penambahan jumlah
penduduk di tengah semakin terbatasnya ruang publik, menjadikan kota semakin lama semakin kehilangan fungsi sebagai sarana pemukiman yang
nyaman. Krisis perekonomian yang melanda Indonesia dalam beberapa tahun terakhir ini, menjadikan kota harus menanggung beban tambahan yang
cukup serius. Arus urbanisasi yang semakin meningkat dari desa ke kota, ditambah dengan meningkatnya jumlah pengangguran dari 3 juta pada

TUGAS II: KARAKTERISTIK KAWASAN ALUN-ALUN KOTA BATU

Page 4

September 1998, menjadi 26 juta pada Januari 1999 (NUDS 2, 2000) menjadikan permasalahan kota menjadi semakin kompleks.Sebagai dampak
pertumbuhan penduduk perkotaan tersebut, beberapa prinsip perencanaan perkotaan seperti liveability, kenyamanan kota yang dinilai akan
mendorong warganya berproduktivitas tinggi, competitiveness, kebersaingan untuk mengundang investor1, menjadi sulit untuk tercapai.Dengan
berbagai persoalan ini, penataan perkotaan menjadi semakin kompleks. Beberapa permasalahan kota tersebut diantaranya adalah sebagai berikut:
2.1.1

Arus Urbanisasi yang Cepat


Urbanisasi menurut Prijono Tjiptoherijanto berarti persentase penduduk yang tinggal di daerah perkotaan. Sedangkan mereka yang awam dengan
ilmu kependudukan seringkali mendefinisikan urbanisasi sebagai perpindahan penduduk dari desa ke kota (Prijono, Urbanisasi, Kompas, Senin 8 Mei
2000). Berdasarkan survei penduduk antar sensus (Supas) 1995, tingkat urbanisasi di Indonesia pada tahun 1995 adalah 35,91 persen yang berarti
bahwa 35,91 persen penduduk Indonesia tinggal di daerah perkotaan. Tingkat ini telah meningkat dari sekitar 22,4 persen pada tahun 1980 yang lalu.
Sebaliknya proporsi penduduk yang tinggal di daerah pedesaan menurun dari 77,6 persen pada tahun 1980 menjadi 64,09 persen pada tahun 1995.
Meningkatnya kepadatan penduduk perkotaan membawa dampak yang sangat besar kepada tingkat kenyamanan yang tinggi. Kota seperti Jakarta
misalnya tidak dirancang untuk melayani mobilitas penduduk lebih dari 10 juta orang. Dengan jumlah penduduk lebih dari 8 juta penduduk saat ini,
ditambah dengan 4-6 juta penduduk yang melaju dari berbagai kota sekitar Jakarta, menjadikan Jakarta sangatlah sesak. Kedekatan jangkauan
terhadap pusat-pusat perekonomian di perkotaan, menjadikan daya tarik lain sehingga sebagian penduduk lebih memilih tinggal di kota, meski mereka
terpaksa tinggal di ruang yang sangat terbatas. Akibatnya, area-area kumuh, dengan fasilitas kehidupan dan kebutuhan umum yang terbatas, menjadi
semakin meluas.
2.1.2 Hilangnya Ruang Publik
Dalam praktiknya berbagai kepentingan dan fungsi perkotaan kerap harus mengorbankan fungsi kota lainnya. Kota sebagai pusat pertumbuhan
ekonomi tentu saja memerlukan lahan bagi pengembangan ekspansi kepentingan tersebut. Persoalannya, ruang dan wilayah perkotaan jumlahnya
tetap, sehingga untuk kepentingan ekonomi tersebut harus menggunakan ruang wilayah fungsi kota lainnya. Yang kerap dikorbankan adalah ruangruang publik. Sarana olahraga, pendidikan kerap harus tersingkir oleh kepentingan ekonomi.Kasus penggusuran sebuah sekolah di Kawasan Melawai
Jakarta baru-baru ini, merupakan salah satu contoh betapa sebuah kepentingan ekonomi harus mengorbankan fungsi kota lainnya, meski itu juga
penting, yakni pendidikan. Pergeseran fungsi lahan atau penghilangan fungsi ruang publik, disadari atau tidak menimbulkan implikasi lain yang serius.
Sejak puluhan tahun terakhir ini, ruang-ruang publik antara lain untuk keperluan olahraga harus dikorbankan. Akibantnya, anak-anak muda jakarta
kehilangan tempat untuk mengekspresikan jiwa muda dan kelebihan energinya. Hidup di lingkungan dan ruang yang terbatas, tidak adanya sarana
untuk mengekpresikan diri, menimbulkan dampak sosial yang serius. Perkelahian pelajar misalnya, salah satu penyebabnya adalah karena mereka
kehilangan ruang publik tempat mengekspresikan jiwa mudanya. Kondisi ini digambarkan secara cepat oleh Prijono Tjiptoherijanto: Kebijaksanaan
pembangunan perkotaan saat ini cenderung terpusat pada suatu arena yang memiliki tingkat konsentrasi yang tinggi. Hubungan positif antara
konsentrasi penduduk dengan aktivitas kegiatan ekonomi ini akan menyebabkan makin membesarnya area konsentrasi penduduk sehingga

TUGAS II: KARAKTERISTIK KAWASAN ALUN-ALUN KOTA BATU

Page 5

menimbulkan apa yang yang dikenal dengan nama daerah perkotaan. Sementara terdapat keterkaitan timbal balik antara aktivitas ekonomi dengan
konsentrasi penduduk.
Para pelaku ekonomi cenderung melakukan investasi di daerah yang telah memiliki konsentrasi penduduk tinggi serta memiliki sarana dan
prasarana yang lengkap. Karena dengan demikian mereka dapat menghemat berbagai biaya, antara lain biaya distribusi barang dan jasa. Sebaliknya,
penduduk akan cenderung datang kepada pusat kegiatan ekonomi karena di tempat itulah mereka akan lebih muda memperoleh kesempatan untuk
mendapatkan pekerjaan (Urbanisasi dan perkotaan di Indonesia, Artikel Harian Kompas, Senin, 8 Mei 2000).
2.1.3. Meningkatnya Kemacetan
Pertumbuhan jumlah kendaraan sebagai akibat pertumbuhan ekonomi dan meningkatnya pendapatan penduduk, membawa implikasi lain bagi
perkotaan. Masalah kemacetan lalu lintas merupakan masalah yang tidak mudah dipecahkan oleh para pengambil kebijakan perkotaan. Terbatasnya
wilayah untuk memperluas jaringan jalan, merupakan kendala terbesar sehingga penambahan ruas jalan yang dilakukan pemerintah tak dapat
mengimbangi laju pertambahan penduduk. Akibatnya persoalan kemacetan lalu lintas ini semakin lama semakin menjadi.Persoalannya semakin pelik,
ketika pemerintah tidak mampu menyediakan sarana transportasi umum dan massal yang memadai, sehingga masyarakat lebih nyaman menggunakan
kendaraan pribadi dan akhirnya menjadikan masalah kemacetan ini makin menjadi.Di lain pihak pembangunan kota-kota satelit di sekitar Jakarta, tak
mampu memecahkan masalah ini, karena para penduduk kota satelit ini justru masih mencari penghidupan di Jakarta. Akibatnya pembangunan kotakota ini justru hanya memperluas sebaran daerah-daerah pusat kemacetan lalu lintas.
Masalah kemacetan merupakan masalah sosial yang sudah tidak asing lagi di wilayah perkotaan, khususnya dikota-kota besar yang berada di
Indonesia. Kemacetan merupakan sebuah fenomena antrian panjang kendaraan di ruas jalan raya yang diakibatkan oleh volume kendaraan yang terlalu
banyak dan tidak diimbangi dengan luas badan jalan. Masalah kemacetan biasanya sering dikait-kaitkan dengan keberadaan sektor ekonomi informal
kota yang dianggap liar, kumuh dan menyebabkan kemacetan. Keberadaan Pedagang Kaki Lima (PKL) yang selalu menjajakan dangangannya dibadan
ruas jalan mengakibatkan terjadinya penyempitan jalan raya. Tentu saja hal tersebut membuat arus lalu lintas diperkotaan tidak berjalan sebagaimana
mestinya. Sehingga untuk mengatasi permasalahan tersebut biasanya pemerintah menggunakan cara pintas yang sederhana dengan mengusir dan
merampas barang dagangan para PKL.
Disisi lain, aksi-aksi yang dilakukan pemerintah untuk membersihkan badan-badan jalan tersebut sangat merugikan bagi mereka yangbekerja
sebagai pedagang kaki lima. Pemerintah cenderung tidak peduli bagaimana keadaan mereka yang selalu dimarjinalkan. Pekerjaan sebagai pedagang
kaki lima sendiri sebenarnya bukan kemauan, namun itu lebih merupakan sebuah keterpaksaan yang diakibatkan oleh ketidakmampuan pemerintah
menyediakan lapangan pekerjaan yang banyak bagi rakyatnya.
Sebenarnya keberadaan sektor ekonomi informal kota ini mempunyai beberapa dampak positif, yaitu:
A.
Dapat menyerap tenaga kerja yang berlatarbelakang pendidikan rendah dan tidak mempunyai keahlian tinggi.
B.
Melayani masyarakat kelas ekonomi rendah dengan menjual barang dengan harga yang relatif murah.

TUGAS II: KARAKTERISTIK KAWASAN ALUN-ALUN KOTA BATU

Page 6

C.

Meminimalisir kecendrungan untuk berbuat kriminal dalam mempertahankan hidup.

2.1.4

Disparitas Pendapatan Antarpenduduk Perkotaan


Perbedaan tingkat kemampuan, pendidikan dan akses terhadap sumber-sumber ekonomi menjadikan persoalan perbedaan pendapatan
antarpenduduk di perkotaan semakin besar.Di satu pihak, sebagian kecil dari penduduk perkotaan menguasai sebagian besar sumber perekonomian.
Sementara di sisi lain, sebagian besar penduduk justru hanya mendapatkan sebagian kecil sumber perekonomian. Akibatnya, terdapat kesenjangan
pendapatan yang semakin lama semakin besar.
Sebagai bagian dari mekanisme pasar, kondisi ini sebenarnya sah-sah saja dan sangat wajar terjadi. Persoalannya, ternyata dan praktiknya disparitas
pendapatan ini menimbulkan persoalan sosial yang tidak ringan. Terjadinya kecemburuan sosial yang bermuara pada kerusuhan massal, kerap terjadi
karena persoalan ini. Dalam skala yang lebih kecil, meningkatnya kriminalitas di perkotaan, merupakan implikasi tidak meratanya kemampuan dan
kesempatan untuk menikmati pertumbuhan perekonomian di perkotaan.

2.1.5

Meningkatnya Sektor Informal


Kesenjangan antara kemampuan menyediakan sarana penghidupan dengan permintaan terhadap lapangan kerja, memacu tumbuhnya sektor
informal perkotaan.Pada saat krisis ekonomi terjadi jumlah penduduk perkotaan yang bekerja di sektor informal ini semakin besar. Di satu sisi
tumbuhnya sektor informal ini merupakan katup pengaman bagi krisis ekonomi yang melanda sebagian besar Bangsa Indonesia. Namun, pada
gilirannya peningkatan aktivitas sektor informal, terutama yang berada di perkotaan dan menyita sebagian ruang publik perkotaan, menimbulkan
masalah baru terutama menyangkut aspek kenyamanan dan ketertiban yang juga menjadi hak publik bagi warga perkotaan yang lain.

2.1.6

Demoralisasi dan Penyimpangan Sosial


Demoralisasi merupakan sebuah proses degradasi (kemerosotan) moral pada masyarakat. Demoralisasi yang terjadi di wilayah perkotaan
diakibatkan oleh adanya proses difusi kebudayaan dari masyarakat lain. Difusi kebudayaan sendiri adalah proses penyebaran kebudayaan dari satu
individu kepada individu yang lainnya, dari satu masyarakat ke masyarakat lain.[1] Pada umumnya masyarakat kota cenderung bersifat terbuka
terhadap pengaruh budaya luar, terutama dikalangan remaja. Akibatnya terjadi cultural shockatau kegoncangan budaya dimana nilai dan norma yang
berlaku dalam tatanan masyarakat adalah pranata sosial yang lama, tetapi perilaku-perilaku yang sering dilakukan oleh generasi muda adalah budaya
baru. Sehingga terjadi ketidaksinkronan antara nilai-norma dengan tindakan.
Tindakan-tindakan sosial yang tidak sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku dimasyarakat disebut penyimpangan sosial. Generasi muda adalah
penyumbang terbesar yang berpartisipasi melakukan tindakan-tindakan sosial tersebut. Salah satu contoh tindak penyimpangan sosial adalah perilaku
seks bebas remaja. Hasil penelitian Komnas perlindungan anak pada tahun 2012 mengenai perilaku seks remaja di 17 kota besar Indonesia menyatakan
bahwa 97% dari 4.726 responden, mengatakan pernah menonton pornografi, 93,7% mengaku sudah tidak perawan dan 21,26% pernah melakukan

TUGAS II: KARAKTERISTIK KAWASAN ALUN-ALUN KOTA BATU

Page 7

aborsi.[2] Hal tersebut tentu saja sangat mengejutkan sekaligus memprihatinkan. Perilaku penyimpangan sosial laninya adalah tawuran pelajar, aksi
jalanan geng motor, premanisme, homosesual, lesbian, konsumsi minuman keras, narkoba dan lain sebagainya.
2.1.7

Urbanisasi dan Krisis Lingkungan Hidup


Urbanisasi adalah proses perpindahan penduduk dari desa ke kota.[3] Sebenarnya, istilah urbanisasi bisa mengacu pada dua pengertian, yaitu : (1)
proses berpindahnya penduduk dari desa ke kota, (2) berkembangnya suatu kawasan yang penduduknya sederhana menjadi kompleks menyerupai
kota. Namun, kedua-duanya sama-sama mengindikasikan adanya pertambahan jumlah penduduk yang cukup besar baik dikarenakan oleh adanya
mortalitas maupaun migrasi.
Kota merupakan pusat kegiatan politik, sosial, ekonomi dan budaya masyarakat dimana kota memiliki berbagai fasilitas yang memungkinkan
kegiatan tersebut berjalan dengan lancar efisien. Di lain pihak, desa yang notabene dihuni oleh masyrakat tradisional mempunyai kondisi sosial yang
berbanding 180 derajat dengan kondisi sosial perkotaan. Fasilitas umum yang tidak lengkap, wilayah pertanian yang terus menyempit, sistem sosial
yang cenderung tertutup, dan gemerlapnya dunia perkotaan membuat sebagian dari mereka berkeinginan untuk melakukan mobilitas sosial vertikal
dengan mengadu nasib di perkotaan.
Secara garis besar faktor terjadinya urbanisasi terbagi kedalam dua macam, yaitu: push factor (faktor pendorong) dan full factor (faktor
penarik).[4] Push factor atau faktor yang mendorong terjadinya urbanisasi adalah : semakin terbatasnya lapangan pekerjaan di desa, kemiskinan akibat
bertambahnya jumlah penduduk, jalur transfortasi dari desa ke kota yang semakin lancar, rendahnya upah buruh di desa dan meningkatnya tingkat
pendidikan di desa. Sementara full factor atau faktor penarik terjadinya urbanisasi adalah : kesempatan kerja yang lebih luas di perkotaan, tingkat upah
yang lebih tinggi, sistem sosial terbuka yang memungkinkan untuk melakukan mobilitas sosial, fasilitas umum yang lengkap dan dapat menghindarkan
diri dari kontrol sosial yang ketat.
Pertambahan jumlah penduduk dalam jumlah besar yang berlangsung secara terus-menerus mengakibatkan munculnya sejumlah permasalahan di
perkotaan. Salah satunya adalah krisis lingkungan hidup. Populasi manusai yang terlalu banyak mengakibatkan terjadinya alih fungsi daerah resapan air
menjadi wilayah pemukiman. Akibatnya muncul krisis lingkungan hidup di perkotaan. Mereka yang tidak mampu membeli lahan-lahan perumahan yang
mahal terpaksa harus membuat pemukiman di bantaran sungai. Kemudian, perilaku tidak ketidakpedulian masyarakat terhadap lingkungan membuat
mereka nyaman membuang sampah kesungai. Industri-industri liar pun turut berpartisipasi dengan membuang limbah ke sungai. Akhirnya sungai
menjadi tercemar, kotor, menyempit dan menjadi dangkal. Maka terjadilah banjir saat musim hujan.

2.1.8 Kemiskinan
Kemiskinan merupakan masalah sosial yang sangat kompleks. Kemiskinan sendiri terjadi akibat adanya ketidakmampuan bersaing dalam usahanya
memenuhi kebutuhan ekonomisnya. Kemiskinan juga bisa terjadi akibat tidak adanya peluang untuk melakukan mobilisasi sosial. Misalnya, salah satu
saluran mobilitas sosial adalah pendidikan. Untuk dapat bersaing dalam dunia pekerjaan maka peraturan yang umumnya berlaku harus menempuh
jalur pendidikan terlebih dahulu. Begitupun juga dengan masyarakat misikin, untuk melakukan mobilitas sosial maka mereka harus menempuh jalur

TUGAS II: KARAKTERISTIK KAWASAN ALUN-ALUN KOTA BATU

Page 8

pendidikan yang tentunya tidak gratis. Meskipun sekarang ada program wajib belajar 9 tahun, tapi tetap saja masih ada pungutan-pungutan lain
yang tentu saja masih memberatkan masyarakat miskin. Ditambah lagi pendidikan 9 tahun pada saat ini sebenarnya masih belum siap untuk
menghadapi kerasnya dunia pekerjaan.
Kemiskinan sendiri terbagi kedalam dua macam, yaitu kemiskinan struktural dan kemiskinan budaya. Kemiskinan struktural adalah kemiskinan
yang diakibatkan oleh buruknya struktur sosial yang berlaku dimasyarakat sehingga ada sebagian kalangan yang tidak mendapat kesempatan untuk
memperbaiki nasibnya. Sementara kemiskinan budaya adalah kemiskinan yang diakibatkan oleh kebiasaan mereka sendiri yang malas bekerja, tidak
punya keinginan yang tinggi dan berfikir pesimis.
Kota memiliki jumlah penduduk yang banyak, sehingga tentu saja persaingan dalam melakukan mobilitas sosialnya pun ketat. Mereka yang tidak
mempunyai social capital (modal sosial) yang tinggi akan tersingkirkan dari arena pergulatan ekonomi kota yang sangat ketat. Akhirnya bagi mereka
yang tersingkir harus rela hati menerima kehidupan dalam naungan kemiskinan.
2.1.9

Kriminalitas
Semakin banyak orang dengan latar belakang budaya dan kepentingan yang berbeda yang disatukan dalam kehidupan sosial masyarakat kota,
maka semakin banyak pula persaingan, pertentangan serta perbenturan kentingan diantara mereka. Tak jarang, mereka yang kalah bersaing terpaksa
harus melakukan tindakan-tindakan yang melanggar hukum dan norma sosial yang berlaku. Kriminalitas merupakan sebuah bentuk tindakan yang tidak
selaras dengan aturan hukum dan norma sosial yang berlaku.
Secara garis besar, kriminalitas dapat diakibatkan oleh beberapa faktor, yaitu:
A. Ketidakmampuan menghadapi arus perubahan sosial
B. Kemiskinan dan kesenjangan sosial ekonomi
C. Ketatnya persaingan dalam melakukan mobilitas sosial
D. Disorganisasi keluarga
E. Anomi dan kegoncangan budaya (cultural shock)
F. Pola pikir yang lebih mementingkan nilai ekonomis dari pada nilai agamis
G. Pluralitas masyarakat perkotaan yang kadang memicu konflik
H. Memudarnya nilai dan norma agama dalam kepribadian masyarakat

2.2. Konsep Pengembangan Kawasan Kota


2.2.1. Pengertian Wilayah/Kawasan dalam Tata Ruang
Wilayah/Kawasan adalah ruang yang merupakan kesatuan geografis beserta segenap unsur terkait padanya batas dan sistemnya ditentukan
berdasarkan aspek administratif dan atau aspek fungsional. Kawasan adalah wilayah dengan fungsi utama lindung atau budidaya, terdiri dari :

TUGAS II: KARAKTERISTIK KAWASAN ALUN-ALUN KOTA BATU

Page 9

1. Kawasan lindung adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumber daya alam
dan sumber daya buatan.
2. Kawasan budidaya adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama untuk dibudidayakan atas dasar kondisi dan potensi sumber daya alam,
sumber daya manusia, dan sumber daya buatan.
Kawasan perkotaan adalah kawasan yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat pemukiman
perkotaan, pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial dan kegiatan ekonomi.
2.2.2. Tata Ruang Kawasan
Perkotaan perlu dibedakan dalam 3 Jenis rencana dengan tingkat kedalaman yang berbeda:
A. Rencana Struktur, adalah kebijakan yang menggambarkan arahan tata ruang untuk Kawasan Perkotaan Metropolitan dalam jangka waktu sesuai
dengan rencana tata ruang;
B. Rencana Umum, adalah kebijakan yang menetapkan lokasi dari kawasan yang harus dilindungi dan dibudidayakan serta diprioritaskan
pengembangannya dalam jangka waktu perencanaan ;
C. Rencana Rinci, terdiri dari :
1. Rencana Detail, merupakan pengaturan yang memperlihatkan keterkaitan antara blok-blok penggunaan kawasan untuk menjaga keserasian
pemanfaatan ruang dengan manajemen transportasi kota dan pelayanan utilitas kota.
2. Rencana Teknik, merupakan pengaturan geometris pemanfaatan ruang yang menggambarkan keterkaitan antara satu bangunan dengan
bangunan lainnya, serta keterkaitannya dengan utilitas bangunan dan utilitas kota/kawasan (saluran drainase, sanitasi dll)
2.2.3. Lingkup Perkotaan
Daerah perkotaan merupakan daerah yang memiliki fungsi daerah strategis dalam tinjauan kegiatan ekonomi. Oleh karena daerah ini memiliki
infrastruktur yang cukup memadai maka perlu penataan beberapa komponen untuk pengembangan kawasan perkotaan sebagai daerah pusat kegiatan
pemerintahan. Beberapa komponen-komponen yang menjadi program prioritas dalam pengembangan kawasan ini, yaitu:
A. Pengembangan pusat-pusat permukiman potensial termasuk permukiman kumuh pada daerah pinggiran dengan program penataan kembali
wilayah adminitratif kecamatan.
B. Peningkatan pelayanan prasarana transportasi dan komunikasi untuk membuka keterisolasian daerah dengan daerah sekitarnya.
C. Pengembangan pusat sentra produksi dan peningkatan modal usaha guna membuka pemasaran produksi.
D. Peningkatan pelayanan sosial dasar khususnya pendidikan dan kesehatan, serta penyuluhan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan dan
kesadaran masyarakat.
E. Pengembangan partisipasi swasta dalam pemanfaatan potensi wilayah khususnya bidang pendidikan.

TUGAS II: KARAKTERISTIK KAWASAN ALUN-ALUN KOTA BATU

Page 10

F. Penetapan pusat-pusat pertumbuhan dan pengembangan pusat-pusat pemukiman potensial yang tetap berorientasi pada system atau pola
pengembangan wilayah.
G. Penanggulangan kemiskinan yang dicapai melalui pemenuhan kebutuhan mendesak dan melalui redistribusi manfaat yang diperoleh dari
pertumbuhan ekonomi khususnya dari sektor-sektor produksi seperti industri rumah tangga.
Pengembangan kawasan ini dilakukan dengan penyerasian pendekatan pembangunan (prosoperity approach) dan pendekatan keamanan (security
approach). Dari segi aspek sosial ekonominya, daerah ini merupkan daerah yang cukup berkembang. Hal ini dapat dilihat dari segi kondisi kehidupan
masyarakat sekitarnya, yang pada umumnya hidup cukup modern. Secara gamblang dapat kita perhatikan dari kondisi bangunan yang ada mulai dari
perumahan sampai bangunan gedung bertingkat yang ada pada daerah ini sangat modern dari segi tampilan. Masyarakatnya hidup dengan taraf kehidupan
yang cukup layak. Tetapi juga masih ada masyarakatnya yang hidup dibawah garis kemiskinan. Daerah yang masih terdapat masyarakat yang kurang mampu
ini umumnya ada di daerah pinggiran. Ada beberapa aspek sosial ekonomi yang menyebabkan masih adanya masyarakat yang hidup kumuh di dalam daerah
hal ini disebabkan antara lain oleh:
A. Aksesibilitas ke daerah kota yang rendah;
B. Rendahnya tingkat pendidikan dan rendahya pengetahuan tentang kesehatan masyarakatnya;
C. Rendahnya tingkat kesejahteraan sosial ekonomi masyarakatnya;
D. Langkanya informasi tentang pemerintah dan minimnya perhatian dari pemerintah yang diserukan pada kelompok masyarakat pinggiran ini.
2.3. Penataan Ruang Kawasan Perkotaan

Gambar 2.1. Kawasan Perkotaan

TUGAS II: KARAKTERISTIK KAWASAN ALUN-ALUN KOTA BATU

Page 11

Penataan ruang kawasan perkotaan diselenggarakan pada:


kawasan perkotaan yang merupakan bagian wilayah kabupaten; atau
kawasan yang secara fungsional berciri perkotaan yang mencakup 2 (dua) atau lebih wilayah kabupaten/kota pada satu atau lebih wilayah provinsi.

Kawasan perkotaan sebagaimana dimaksud di atas menurut besarannya dapat berbentuk kawasan perkotaan kecil, kawasan perkotaan sedang,
kawasan perkotaan besar, kawasan metropolitan, atau kawasan megapolitan. Kriteria mengenai kawasan perkotaan menurut besarannya sebagaimana
dimaksud diatur dengan peraturan pemerintah.
2.3.1. Perencanaan Tata Ruang Kawasan Perkotaan
Rencana tata ruang kawasan perkotaan yang merupakan bagian wilayah kabupaten adalah rencana rinci tata ruang wilayah kabupaten. Dalam
perencanaan tata ruang kawasan perkotaan sebagaimana dimaksud di atas berlaku sebagaimana perencanaan tata ruang wilayah kota dengan
memperhatikan ruang terbuka hijau. Rencana tata ruang kawasan perkotaan yang mencakup 2 (dua) atau lebih wilayah kabupaten/kota pada satu atau
lebih wilayah provinsi merupakan alat koordinasi dalam pelaksanaan pembangunan yang bersifat lintas wilayah. Rencana tata ruang sebagaimana
dimaksud di atas berisi arahan struktur ruang dan pola ruang yang bersifat lintas wilayah administratif.
2.3.2. Rencana Tata Ruang Kawasan Metropolitan
Rencana tata ruang kawasan metropolitan merupakan alat koordinasi pelaksanaan pembangunan lintas wilayah. Rencana tata ruang kawasan
metropolitan dan/atau kawasan megapolitan berisi:
A. Tujuan, kebijakan, dan strategi penataan ruang kawasan metropolitan dan/atau megapolitan;

Rencana struktur ruang kawasan metropolitan yang meliputi sistem pusat kegiatan dan sistem jaringan prasarana kawasan metropolitan dan/atau
megapolitan;
C. Rencana pola ruang kawasan metropolitan dan/atau megapolitan yang meliputi kawasan lindung dan kawasan budi daya;
D. Arahan pemanfaatan ruang kawasan metropolitan dan/atau megapolitan yang berisi indikasi program utama yang bersifat interdependen
antarwilayah administratif; dan
E. Ketentuan pengendalian pemanfaatan ruang kawasan metropolitan dan/atau megapolitan yang berisi arahan peraturan zonasi kawasan
metropolitan dan/atau megapolitan, arahan ketentuan perizinan, arahan ketentuan insentif dan disinsentif, serta arahan sanksi.
B.

TUGAS II: KARAKTERISTIK KAWASAN ALUN-ALUN KOTA BATU

Page 12

2.3.3. Pemanfaatan Ruang Kawasan Perkotaan

Gambar 2.2. Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan


Pemanfaatan ruang kawasan perkotaan yang merupakan bagian wilayah kabupaten merupakan bagian pemanfaatan ruang wilayah kabupaten.
Pemanfaatan ruang kawasan perkotaan yang merupakan bagian dari 2 (dua) atau lebih wilayah kabupaten/kota pada satu atau lebih wilayah provinsi
dilaksanakan melalui penyusunan program pembangunan beserta pembiayaannya secara terkoordinasi antarwilayah kabupaten/kota terkait.

2.3.4. Pengendalian Pemanfaatan Ruang Kawasan Perkotaan


Pengendalian pemanfaatan ruang kawasan perkotaan yang merupakan bagian wilayah kabupaten merupakan bagian pengendalian pemanfaatan
ruang wilayah kabupaten. Pengendalian pemanfaatan ruang kawasan perkotaan yang mencakup 2 (dua) atau lebih wilayah kabupaten/kota pada satu atau
lebih wilayah provinsi dilaksanakan oleh setiap kabupaten/kota. Untuk kawasan perkotaan yang mencakup 2 (dua) atau lebih wilayah kabupaten/kota yang
mempunyai lembaga pengelolaan tersendiri, pengendaliannya dapat dilaksanakan oleh lembaga dimaksud.
2.3.5. Kerja Sama Penataan Ruang Kawasan Perkotaan
Penataan ruang kawasan perkotaan yang mencakup 2 (dua) atau lebih wilayah kabupaten/kota dilaksanakan melalui kerja sama antardaerah. Ketentuan
lebih lanjut mengenai penataan ruang kawasan perkotaan diatur dengan peraturan pemerintah.

TUGAS II: KARAKTERISTIK KAWASAN ALUN-ALUN KOTA BATU

Page 13

2.4. Perancangan Kawasan


Di dalam RTBL terdapat rencana umum dan panduan rancangan untuk kawasan perkotaan maupun perdesaan yang berupa:
A. Struktur Peruntukan Lahan
Struktur peruntukan lahan merupakan unsur dalam rancangan kawasan/lingkungan yang mempunyai peran penting dalam penentuan
banyaknya atau luasan penggunaan suatu lahan yang sudah ditetapkan pada suatu kawasan/lingkungan perencanaan tertentu dalam rencana tata
ruang wilayah. Komponen-komponen penataan berupa:
1. Peruntukan lahan makro, merupakan rencana penentuan banyaknya atau luasan penggunaan dan pemanfaatan lahan pada wilayah tertentu atau
biasa disebut dengan tata guna lahan. Peruntukan ini mempunyai sifat yang mutlak karena sudah diatur pada ketentuan dalam rencana tata ruang
wilayah.
2. Peruntukan lahan mikro, merupakan rencana penentuan peruntukan lahan yang ditetapkan pada skala ruang yang lebih kecil, termasuk juga
secara vertikal, yang berdasar kepada prinsip keragaman yang seimbang. Hal-hal yang diatur adalah:
a) Peruntukan lantai dasar, lantai atas, maupun lantai basement.
b) Peruntukan lahan tertentu, misalnya yang mempunyai kaitan dengan lahan perkotaan-perdesaan, bentang alam/lingkungan daerah
konservasi, ataupun pengaturan pada ruang-ruang yang mempunyai tema tertentu. Dalam penetapan peruntukan lahan yang mikro ini
dapat memungkinkan untuk melibatkan masukan-masukan suatu desain dari hasil proses hubungan berbagai pihak seperti penata kota,
pihak pemilik lahan, ataupun pihak yang memakai atau yang menggunakan sehingga terjadinya suatu lingkungan dengan ruang yang
mempunyai karakter tersendiri yang sesuai dengan konsep struktur perancangan kawasan.
B. Intensitas Pemanfaatan Lahan
Intensitas pemanfaatan lahan merupakan tingkat penentuan banyaknya atau luasan dan penyaluran luas lantai maksimum bangunan terhadap
tapak peruntukannya. Komponen-komponen penataan berupa:
1. Koefisien Dasar Bangunan (KDB), yaitu angka yang diperoleh dari perbandingan antara luas semua atau seluruh lantai dasar pada bangunan gedung
yang dapat untuk dibangun dengan luas lahan/tapak yang ada.
2. Koefisien Lantai Bangunan (KLB), yaitu angka dalam bentuk desimal yang merupakan perbandingan anatara jumlah seluruh luas lantai pada
bangunan yang dapat dibangun dan luas lahan/tapak yang ada.
3. Koefisien Daerah Hijau (KDH), yaitu angka yang diperoleh melalui perbandingan antara luas dari seluruh ruang terbuka yang berada di luar
bangunan gedung yang dibuat untuk taman atau daerah hijau dan luas tanah yang ada.
4. Koefisien Tapak Basement (KTB), yaitu angka yang diperoleh dari perbandingan antara luasan tapak basement dengan luas lahan/tapak yang ada.
5. Insentif-Disinsentif Pengembangan, terdiri dari :
a) Insentif Luas Bangunan, yaitu suatu penambahan yang berkaitan dengan koefisien lantai bangunan dan akan diberikan jika bangunan gedung
yang telah terbangun sudah memenuhi syarat untuk lantai dasar yang sudah dianjurkan. Luas lantai pada bangunan yang telah ditempati oleh
fungsi tersebut akan dipertimbangkan untuk tidak dimasukkan dalam perhitungan koefisien lantai bangunan.

TUGAS II: KARAKTERISTIK KAWASAN ALUN-ALUN KOTA BATU

Page 14

b) Insentif langsung, yaitu suatu penambahan yang dapat memungkinkan untuk adanya luas lantai yang maksimum bagi bangunan gedung yang
menyediakan fasilitas umum, yang berupa sumbangan positif bagi lingkungan permukiman, termasuk juga diantaranya jalur untuk para pejalan
kaki, ruang terbuka umum, dan fasilitas umum.
c) Sistem Pengalihan Nilai Koefisien Lantai Bangunan ( TDR=Transfer of Development Right), merupakan hak pemilik bangunan atau yang
mengembangkan bangunan yang bisa dialihkan kepada pihak atau lahan lain yang dihitung berdasar pada pengalihan nilai koefisien lantai
bangunan, yaitu selisih antara koefisien lantai bangunan aturan dan koefisien lantai bangunan yang telah terbangun.
C. Tata Bangunan
Tata bangunan merupakan perwujudan dari penyelenggaraan bangunan gedung beserta lingkungan luarnya sebagai fisik dari pemanfaatan
ruang, hal ini dapat meliputi berbagai aspek termasuk pembentukan karakter fisik dari lingkungan, besaran, dan tata letak elemen-elemen: blok,
kaveling/petak lahan, bangunan, serta ketinggian dan elevasi lantai bangunan, yang akan menciptakan dan menjelaskan berbagai kualitas ruang
dalam kota yang bersifat menyesuaikan diri terhadap keragaman kegiatan yang ada, terutama yang berlangsung di dalam ruang-ruang publik. Fungsi
tata bangunan disini juga sebagai sistem untuk merencanakan bagian dari penyelenggaraan bangunan gedung beserta lingkungan luarnya, termasuk
sarana dan prasarananya pada suatu daerah lingkungan binaan baik dalam skala perkotaan maupun perdesaan yang sesuai dengan peruntukan
lokasi yang diatur dengan menggunakan aturan tata ruang yang berlaku dalam RTRW Kabuaten/Kota, dan rencana rincinya. Kompoen-komponen
penataan berupa:
1. Pengaturan blok lingkungan, yaitu suatu perencanaan pembagian lahan pada kawasan menjadi blok dan jalan, pada blok tersebut terdiri atas
petak lahan dengan konfigurasi tertentu. Pengaturan ini terdiri dari:
a) Bentuk dan Ukuran Blok;
b) Pengelompokan dan Konfigurasi Blok;
c) Ruang terbuka dan tata hijau.
2. Pengaturan kaveling/petak lahan, yaitu suatu perencanaan pembagian lahan yang ada didalam blok menjadi kavling-kavling dengan ukuran,
bentuk, pengelompokan dan konfigurasi tertentu. Pengaturan ini terdiri dari:
a) Bentuk dan Ukuran Kaveling;
b) Pengelompokan dan Konfigurasi Kaveling;
c) Ruang terbuka dan tata hijau.
d) Pengaturan bangunan, yaitu suatu perencanaan tentang pengaturan masa bangunan dalam kavling. Pengaturan ini terdiri dari:
e) Pengelompokan Bangunan;
f) Letak dan Orientasi Bangunan ;
g) Sosok Massa Bangunan;
h) Ekspresi Arsitektur Bangunan.
i) Pengaturan Ketinggian dan Elevasi Lantai Bangunan, yaitu suatu perencanaan pengaturan ketinggian dan elevasi pada bangunan pada skala
bangunan tunggal ataupun bangunan yang berkelompok pada lingkungan yang makro. Pengaturan ini terdiri dari:

TUGAS II: KARAKTERISTIK KAWASAN ALUN-ALUN KOTA BATU

Page 15

1) Ketinggian Bangunan;
2) Komposisi Garis Langit Bangunan;
3) Ketinggian Lantai Bangunan.
D. Sistem Sirkulasi dan Jalur Penghubung
Sistem sirkulasi dan jalur penghubung terdiri dari jaringan jalan dan pergerakan, sirkulasi kendaraan umum, sirkulasi kendaraan pribadi,
sirkulasi kendaraan informal setempat dan sepeda, sirkulasi untuk pejalan kaki, sistem dan sarana transit, sistem parkir, perencanaan jalur untuk
pelayanan lingkungan, dan sistem jaringan penghubung. Komponen-komponen penataan berupa:
1. Sistem jaringan jalan dan pergerakan, yaitu suatu rancangan untuk pergerakan yang terkait, antara tingkatan jalan yang tersebar dalam
kawasan perencanaan dan jenis pergerakan yang melaluinya, baik masuk dan keluar dari kawasan, maupun masuk dan keluar dari kaveling.
2. Sistem sirkulasi kendaraan umum, yaitu suatu rancangan sistem untuk pergerakan kendaraan umum yang formal, dipetakan pada tingkatan
jalan yang ada pada kawasan perencanaan.
3. Sistem sirkulasi kendaraan pribadi, yaitu suatu rancangan untuk pergerakanbagi kendaraan pribadi sesuai dengan tingakatan jalan pada
kawasan perencanaan.
4. Sistem sirkulasi kendaraan umum informal setempat, yaitu suatu rancangan sistem untuk pergerakan bagi kendaraan umum dari sektor
informal, seperti ojek, becak, andong, dan sejenisnya, yang dipetakan pada tingkatan jalan yang ada pada kawasan perencanaan.
5. Sistem pergerakan transit, yaitu suatu rancangan sistem untuk perpindahan pergerakan dari dua ataupun lebih modatransportasi yang
berbeda, yang dipetakan pada tingkatan jalan yang ada pada kawasan perencanaan.
6. Sistem parkir, yaitu suatu rancangan untuk gerakan arus masuk dan keluar dari kavling atau grup kavling untuk parkir kendaraan didalam
kavling.
7. Sistem perencanaan jalur servis/pelayanan lingkungan, yaitu suatu rancangan sistem pergerakan dari kendaraan servis (pengangkut sampah,
pengangkut barang, dan kendaraan pemadam kebakaran) dari suatu kavling ataublok lingkungan tertentu, yang dipetakan pada tingkatan jalan
yang ada pada kawasan perencanaan.
8. Sistem sirkulasi pejalan kaki dan sepeda, yaitu suatu rancangan sistem pergerakan bagi pejalan kaki (termasuk penyandang cacat dan lanjut
usia) dan pemakai sepeda, yang khusus telah disediakan pada kawasan perencanaan.
9. Sistem jaringan jalur penghubung terpadu ( pedestrian linkage ), yaitu suatu rancangan sistem pada jaringan pada berbagai jalur penghubung
yang dapat memungkinkan untuk menembus beberapa bangunan ataupun beberapa kavling tertentu dan dapat dimanfaatkan bagi
kepentingan jalur publik. Jalur ini dibutuhkan terutama pada daerah yang mempunyai intensitas kegiatan tinggi dan beragam, seerti pada area
komersial lingkungan permukiman atau are fungsi campuran (mixed-used). Jalur penghubung terpadu harus dapat memberikan kemudahan
bagi para pejalan kaki.

TUGAS II: KARAKTERISTIK KAWASAN ALUN-ALUN KOTA BATU

Page 16

E. Sistem Ruang Terbuka dan Tata Hijau


Sistem ruang terbuka hijau merupakan bagian dari perancangan kawasan yang bukan merupakan elemen tambahan ataupun elemen sisa dari
proses rancang bangunan diselesaikan, tetapi merupakan rancangan yang diciptakan sebagai bagian dari suatu lingkunganyang lebih luas. Penataan
sistem ruang terbuka dapat diatur melaluipendekatan desain berkonsep tata hijau yang akan membentuk suatu karakter lingkungan yang memiliki
peran penting baik secara ekologis, rekreatif dan estetis bagi lingkungan sekitarnya, dan memiliki karakter yang terbuka sehingga mudah untuk
diakses sebesar-besarnya oleh publik. Komponen-komponen penataan berupa:
1. Sistem ruang terbuka umum (kepemilikan publik-aksesibilitas publik), yaitu ruang yang mempunyai karakter fisik terbuka, bebas dan mudah
untuk diakses publik karena lahan ini bukan milik perseorangan.
2. Sistem ruang terbuka prbadi (kepemilikan pribadi-aksebilitas pribadi), yaitu ruang yang mempunyai karakter fisik terbuka tetapi terbatas, ruang
ini hanya dapat diakses oleh pemiliknya, pengguna, atau pihak tertentu, karena ruang ini bukan ruang publik.
3. Sistem ruang terbuka privat yang dapat diakses oleh umum (kepemilikan pribadi-aksesibilitas publik), yaitu ruang yang memiliki karakter fisik
terbuka, serta bebas dan mudah diakses oleh publik, meskipun ruang ini milik pihak tertentu, karena telah berikan haknya untuk kepentingan
publik sebagai hasil dari kesepakatan antara pemilik ruang dengan pihak pengelola/pemerintah daerah setempat,dimana pihak pemilik
mengizinkan lahannya untuk digunakan oleh kepentingan publik, dengan mendapatkan kompensasi atau hasilberupa insentif tertentu, tanpa
mengubah status kepemilikan ruang tersebut.
4. Sistem pepohonan dan tata hijau, yaitu pola untuk penanaman pohonyang akan disebar pada ruang terbuka publik.
5. Bentang alam, yaitu ruang yang memiliki karakter fisik terbuka dan terkait dengan are yang digunakan sebesar-besarnya demi kepentingan
publik, pemanfaatan sebagai bagian dari alam yang akan dilindungi. Pengaturan ini diperuntukkan untuk kawasan:
a)
Pantai dan laut, sebagai batas yang melingkupi tepian kawasan, menentukan atmosfir dari suasana kehidupan kawasan, serta dasar
penciptaan pola tata ruang;
b)
Sungai, sebagai pembentuk koridor ruang terbuka;
c)
Lereng dan perbukitan, sebagai potensi pemandangan luas;
d)
Puncak bukit, sebagai titik penentu arah orientasi visual, serta memberikan kemudahan dalam menentukan arah (tengaran alam);
e)
Area jalur hijau, yaitu salah satu bagian dari ruang terbuka hijau yang memiliki fungsi sebagai area preservasi dan tidak dapat dibangun
untuk bangunan. Pengaturan ini untuk kawasan:
1) Sepanjang sisi dalam Daerah Milik Jalan (Damija);
2) Sepanjang bantaran sungai;
3) Sepanjang sisi kiri kanan jalur kereta;
4) Sepanjang area di bawah jaringan listrik tegangan tinggi;
5) Jalur hijau yang diperuntukkan sebagai jalur taman kota atau hutan kota, yang merupakan pembatas atau pemisah suatu wilayah

TUGAS II: KARAKTERISTIK KAWASAN ALUN-ALUN KOTA BATU

Page 17

F. Tata Kualitas Lingkungan


Penataan kualitas lingkungan mengacu pada upaya penerapan ilmu pelaksanaan elemen-elemen kawasan yang sedemikian rupa agar tercipta
suatu kawasan dengan sistem lingkungan yang informatif, mempunyai karakter yang khas, dan memiliki orientasi tertentu. Komponen-komponen
penataan berupa:
1. Konsep identitas lingkungan, yaitu proses merancang karakter dari suatu lingkungan yang dapat diwujudkan melalui pengaturan dan proses
perancangan elemen fisik dan nonfisik lingkungan tertentu.
2. Tata karakter bangunan/lingkungan (built-in signage and directional system), yaitu proses mengolah elemen-elemen yang bersifat fisik dari
bangunan/lingkungan untuk memberi atau mengarahkan tanda pengenal suatu lingkungan/bangunan, sehingga para pengguna dapat mengerti
atau mengenali karakter apa yang ada pada lingkungan untuk dikunjungi atau hanya dilaluinya sehingga akan memudahkan pengguna kawasan
untuk berorientasi dan bersikulasi.
3. Tata penanda identitas bangunan, yaitu cara mengolah suatu elemen fisik dari bangunan/lingkungan untuk lebih mempertegas identitas atau
penamaan suatu bangunan sehingga pengguna dapat lebih mudah untuk mengenali bangunan yang akan menjadi tujuannya.
4. Tata kegiatan pendukung secara formal dan informal (supporting activities), yaitu pengolahan secara terintegrasi seluruh aktivitas informal
sebagai daya dukung dari aktivitas formal tersebut untuk diwadahi dalam ruang/bangunan agar dapat menghidupkan interaksi sosial dari para
pemakainya.
5. Konsep orientasi lingkungan, yaitu proses merancang elemen yang ebrsifat fisik dan nonfisik yang bertujuan untuk membentuk lingkungan yang
informatif sehingga akan lebih memudahkan para pemakai untuk berorientasi dan bersikulasi atau bergerak.
6. Sistem tata informasi (directory signage system), yaitu cara untuk mengolah elemen yang bersifat fisik pada lingkungan untuk menjelaskan
berbagai informasi maupun penunjuk mengenai tempat yang akan dikunjungi tersebut, sehingga akan memudahkan para pemakai dalam hal
mengenali lokasi dirinya terhadap lingkungan disekitarnya.
7. Sistem tata rambu pengarah (directional signage system), yaitu cara untuk mengolah elemen yang berkarakter fisik pada daerah lingkungan
untuk mengarahkan para pemakai untuk bersikulasi dan berorientas baik menuju mapun dari bangunan ataupun area tempat yang akan dituju.
8. Wajah jalan, yaitu cara untuk merancang elemen yang bersifat fisik dan nonfisik unuk membentuk suatu daerah lingkungan yang mempunyai
skala manusia pemakainya, pada suatu ruang publik dapat berupa ruas jalan yang dapat memperkuat karakter suatu blok perancangan yang
lebih besar.
9. Wajah penampang jalan dan bangunan;
10. Perabot jalan ( street furniture );
11. Tata hijau pada penampang jalan;
12. Elemen tata informasi dan rambu pengarah pada penampang jalan;
13. Elemen papan reklame komersial pada penampang jalan.

TUGAS II: KARAKTERISTIK KAWASAN ALUN-ALUN KOTA BATU

Page 18

G. Sistem Prasarana dan Utilitas Lingkungan


Sistem prasarana dan utilitas lingkungan merupakan kelengkapan yang dasar dari fisik suatu lingkungan yang dalam pengadaannya
memungkinkan adanya suatu lingkungan yang dapat beroperasi dan berfungsi sebagaimana semestinya. Sistem prasarana dan utilitas lingkungan
terdiri dari jaringan air bersih dan air limbah, jaringan drainase, jaringan persampahan, jaringan gas dan listrik, serta jaringan telepon, sistem
jaringan pengamanan kebakaran, dan sistem jaringan jalur penyelamatan atau evakuasi. Komponen-komponen penataan berupa:
1. Sistem jaringan air bersih, yaitu sistem dalam sebuah jaringan dan penyebaran pelayanan penyediaan air bagi penduduk suatu lingkungan, yang
dapat memenuhi persyaratan bagi operasionalisasi bangunan atau lingkungan, dan dapat berbaur dengan jaringan air bersih secara makro dari
wilayah regional yang lebih luas.
2. Sistem jaringan air limbah dan air kotor, yaitu sistem dalam sebuah jaringan dan penyebaran pelayanan pembuangan atau pengolahan air dari
buangan rumah tangga, lingkungan yang komersial, daerah perkantoran, dan bangunan umum lainnya, yang berasal dari manusia, binatang,
atau bida juga dari tumbuh-tumbuhan, untuk diolah dan kemudian akan dibuang dengan cara yang aman bagi lingkungan itu sendiri, termasuk
juga didalamnya buangan industri dan buangan kimia.
3. Sistem jaringan drainase, yaitu sistem dalam sebuah jaringan dan penyebaran drainase sutau lingkungan yang mempunyai fungsi sebagai
pematus bagi lingkungan, yang terintegrasi melalui sistem jaringan drainase makro dari suatu wilayahregional yang lebih luas.
4. Sistem jaringan persampahan, yaitu sistem yang terdapat pada jaringan dan penyebaran pelayanan pembuangan atau pengolahan sampah dari
rumah tangga, lingkungan komersial, daerah perkantoran dan bangunan umum lainnya, yang terintegrasi dengan sistem yang ada pada jaringan
pembuangan sampah makro dari wilayah regional yang lebih luas.
5. Sistem jaringan listrik, yaitu sistem yang ada dalam jaringan dan penyebaran pelayanan penyediaan daya listrik dan jaringan sambungan listrik
bagi penduduk suatu lingkungan, dan terintegrasi dengan jaringan instalasi listrik makro dari wilayah regional yang lebih luas.
6. Sistem jaringan telepon, yaitu sistem dalam jaringan dan penyebaran pelayanan penyediaan jasa untuk kebutuhan sambungan dan jaringan
dari telepon bagi penduduk dalam suatu lingkungan yang dapat memenuhi persyaratan bagi operasionalisasi bangunan atau lingkungan, yang
terintegrasi dengan melalui jaringan instalasi listrik makro dari wilayah regional yang lebih luas.
7. Sistem jaringan pengamanan kebakaran, yaitu sistem dalam sebuah jaringan pengamanan di lingkungan/kawasan untuk memperingatkan
penduduk sekitar terhadap keadaan darurat, penyediaan tempat untuk penyelamatan, membatasi penyebaran kebakaran, dan/atau
pemadaman kebakaran.
8. Sistem jaringan jalur penyelamatan atau evakuasi, yaitu jaluryang digunakan untuk perjalanan yang menerus (termasuk jalan ke arah luar,
koridor/selasar umum dan sejenisnya) dari setiap bagian bangunan gedung termasuk di dalam unit suatu hunian tunggal ke tempat yang aman,
sistem ini disediakan bagi suatu lingkungan/kawasan sebagai tempat pnyelamatan atau evakuasi.
2.5. Perencanaan Ruang Terbuka Hijau Kawasan Perkotaan
Penyusunan rencana pemanfaatan RTHKP merupakan bagian dari rencana pemanfaatan tata ruang, dan RTHKP dituangkan dalam Rencana Detail
Tata Ruang Kawasan Perkotaan dengan skala peta sekurang-kurangnya 1 : 5.000. Undang-undang mengamanatkan bahwa alokasi ruang untuk RTHKP luas
ideal minimal 30% dari luas kawasan menurut Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, Pasal 29 , namun pada regulasi yang lain

TUGAS II: KARAKTERISTIK KAWASAN ALUN-ALUN KOTA BATU

Page 19

disebutkan luas minimal sebesar 20%dari luas kawasan menurut Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 1 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang Terbuka
Hijau Kawasan Perkotaan, Pasal 9.
Dalam perencanaan RTHKP, ruang terbuka hijau yang diatur dalam perencanaan mencakup RTH publik dan privat. Komponen yang perlu
diperhatikan dalam perencanaan RTHKP adalah i) jenis, ii) lokasi, iii) luas, iv) kebutuhan biaya, v) waktu pelaksanaan dan vi) desain teknis. Selanjutnya
perencanaan RTHKP lebih lanjut ditetapkan melalui peraturan daerah. Dalam pengembangan RTH, ada beberapa hal yang dapat dilakukan dan
dipertimbangkan, yakni :
1. Pencetakan baru
Secara umum dalam sebuah kota, RTH biasanya dikuasai oleh pemerintah dengan cara perolehan antara lain melalui alih fungsi lahan menjadi /
diperuntukkan menjadi RTH, mangalihfungsikan RTH yang telah mengalami alihfungsi, tukar belai atau membeli. Mendorong swasta / privat untuk
memanfaatkan lahannya (lahan yang belum difungsikan) sebagai RTH, tetapi untuk kepentingan swasta / privat namun dapat menambah kapasitas sistem
alami perkotaan. Selain itu, mendorong kawasan permukiman baru untuk menyediakan / diharuskan menyediakan lahan untuk RTH secara proporsional dan
pembangunannya diawasi secara ketat.
2. Intensifikasi hijau
Ruang-ruang terbuka kota yang tidak hijau sebaiknya dihijaukan, seperti tepi jalan, median jalan, bantaran sungai, area bahaya dibawah jaringan
listrik tegangan tinggi.
3. Pengaturan kapling milik swasta / privat
Kapling milik swasta / privat terbagi menjadi area yang murni pribadi (misalnya patio dan halaman belakang) serta semi publik (misalnya halaman
depan). Area yang murni pribadi dapat dapat dikendalikan melalui peraturan Koefisian Dasar Hijau KDH, sedangkan halam depan menggunakan peraturan
garis sempadan bangunan GSB. Pengaturan ini masuk dalam penggalangan peranserta masyarakat kota.
Selanjutnya dalam tahap rencana pembangunan dan pengembangan RTHKP ini, ada 4 (empat) hal utama yang harus diperhatikan ( Teknis
Perencanaan RTH, Lab. Perencanaan Lansekap Dep. Arsitektural Lansekap, Fakultas Pertanian IPB, Makalah Lokakarya), yaitu :
1. Luas RTH minimum yang diperlukan dalam suatu wilayah perkotaan ditentukan secara komposit oleh 3 (tiga) komponen berikut ini,
yaitu a) kapasitas atau daya dukung alami wilayah, b) kebutuhan per kapita (kenyamanan, kesehatan dan bentuk pelayanan lainnya), c) arah dan
tujuan pembangunan kota. RTH berluas minimum merupakan RTH yang berfungsi ekologis yang berlokasi, berukuran dan berbentuk pasti yang
melingkupi RTH publik dan privat. RTH publik harus berukuran sama atau lebih luas dari RTH luas minimal, dan RTH privat merupakan RTH
pendukung dan penambah nilai rasio, terutama dalam meningkatkan nilai dan kualitas lingkungan dan kultural kota.
2. Lokasi lahan kota yang potensial dan tersedia untuk RTH.

TUGAS II: KARAKTERISTIK KAWASAN ALUN-ALUN KOTA BATU

Page 20

3. Struktur dan pola RTH yang akan dikenbangkan (bentuk, konfigurasi dan distribusi).
4. Seleksi tanaman sesuai kepentingan dan tujuan pembangunan kota.
2.6. Desain Urban
2.6.1. Pengertian Desain Urban
Perhatian utama dari urban design adalah bentuk fisik kota. Oleh sebab itu Urban design merupakan suatau penghubung antara profesi
perencanaan kota dan arsitektur. Urban design dibagi menjadi dua kategori, yaitu sadar-diri dan tidak sadar-diri. Urban design sadar-diri diciptakan oleh
orang-orang yang menyebut diri mereka sebagai seorang designer yang mempergunakan keahlian design mereka untuk merancang suatu wilayah perkotaan
yang nyaman. Urban design sadar-diri biasanya berdasarkan dari pemikiran-pemikiran dan prinsip-prinsip yang jelas. Sedangkan urban design tidak sadardiri diciptakan oleh orang orang yang bukan dari kalangan designer tetapi berperan dalam mempengaruhi bentuk wilayah perkotaan. Biasanya urban design
tidak sadar-diri berdasarkan intuisi-intuisi yang belum jelas. Definisi tentang urban design dapat berubah sesuai jaman dan kebudayaan yang berdasarkan
harapan-harapan dan kemungkinan-kemungkinan tersendiri. Bagi seorang arsitek, tindakan yang sederhana untuk meletakkan suatu bangunan dalam suatu
lingkungan kota merupakan sebuah tindakan urban design, sebab suatu bangunan dapat mengubah karakter daripada lingkungan tersebut.

Arsitektur

Urban Design

Perencanaan

Gambar 2.3. Kedudukan Perancangan Kota


2.6.2. Perancangan Desain Urban
Urban design yang menitikberatkan pada masalah penting bagi kehidupan manusia dan kegiatan kota sehingga urban design memiliki
keterkaitan erat antara arsitektur dengan perancangan kota. Dalam hal ini perancangan kota mengutamakan pada pemecahan masalah dan tidak
mengutamakan akan adanya kebutuhan aktivitasnya. Perancangan kota merupakan bagian dari kota sehingga fungsi dari perancangan tersebut harus
berkaitan dengan fungsi-fungsi banguan kota yang lain dan secara menyeluruh. Sehingga urban design menjadi sebuah strategi dalam pelaksanaan kebijakan
serta tidak terjadi kerancuan program dalam proses pembangunan. Dalam proses perancangan kota, urban design tidak hanya sebagai konsep estetika
dalam suatu desain, tetapi juga menjadi suatu proses pengambilan keputusan dalam aspek sosiologi kota dengan mengacu pada strategi global.

TUGAS II: KARAKTERISTIK KAWASAN ALUN-ALUN KOTA BATU

Page 21

2.6.3. Teori-teori dalam Desain Urban

Gambar 2.4. Teori-teori Desain Urban


A. Teori Figure Ground
Teori ini dapat dipahami melailui pola perkotaan dengan hubungan antara bentik yang dibangun (building mass) dan ruang terbuka (open
space). Analisis figure ground sendiri adalah sarana untuk mengidentifikasi sebuah tekstur dan pola-pola tata ruang perkotaan(urban fabric) dan
mengidentifikasi masalah keteraturan massa/ ruang perkotaan.
Figure/ground sendiri berisikan tentang lahan terbangun (urban solid) dan lahan terbuka (urban void). Pendekatan figure ground adalah suatu
bentuk usaha untuk memanipulasi atau mengolah pola existing figure ground dengan cara penambahan, pengurangan, atau pengubahan pola
geometris dan juga merupakan bentuk analisa hubungan antara massa bangunan dengan ruang terbuka.
1. Urban solid
Tipe urban solid terdiri dari:
a) Massa bangunan, monument.
b) Persil lahan blok hunian yang ditonjolkan.
c) Edges yang berupa bangunan.

TUGAS II: KARAKTERISTIK KAWASAN ALUN-ALUN KOTA BATU

Page 22

2.

Urban void
Tipe urban void terdiri dari:
a) Ruang terbuka berupa pekarangan yang bersifat transisi antara publik dan privat.
b) Ruang terbuka di dalam atau dikelilingi massa bangunan bersifat semi privat sampai privat.
c) Jaringan utama jalan dan lapangan bersifat publik karena mewadahi aktivitas publik berskala kota.
d) Area parkir publik bisa berupa taman parkir sebagai nodes yang berfungsi preservasi kawasan hijau.
e) Sistem ruang terbuka yang berbentuk linier dan curvalinier. Tipe ini berupa daerah aliran sungai, danau dan semua yang alami dan basah.

Tiga prinsip open space dalam focus kota


1. Open space adalah ruang terbuka yang lebih berarti dari pada sesuatu yang kosong saja
2. Open space dibentuk secara organis atau teknis oleh benda-benda yang membatasinya
3. Open space dapat dilihat dari aspek fungsional public space dan semi public space
Solid dan void sebagai elemen perkotaan
Elemen Solid
1. Elemen solid blok tunggal
Bersifat indidividu diamana elemen ini dapat dilihat sebagai bagian satu unit yang lebih besar, dimana elemen tersebut sering memiliki sifat
penting semisal sebagai penentu sudut kota, hirarki atau bahkan penyambung
2. Elemen solid blok yang mendefinisi sisi
Berfungsi sebagai pembatas secara linear, pembatas ini tidak hanya dalam bentuk garis yang membatasi sisi-sisi tapi juga dapat dibentuk oleh
elemen lebih dari dua atau tiga sisi
3. Elemen solid blok medan
Blok ini memiliki bermacam-macam massa dan bentuk, naming masing-masing tidak dapat dilihat secara individu, melaikan secara keseluruhan
massa yang ada sehingga membentuk medan yang jelas
Elemen Void
1. Elemen Void sisten tertutup linear
Sistem ini memperhatikan ruang yang bersifat linear tetapi kesannya tertutup. Elemen coid dalam jenis ini adalah elemen yang sering ditemui
dalam perkotaan.
2. Elemen void sistem tertutup memusat

TUGAS II: KARAKTERISTIK KAWASAN ALUN-ALUN KOTA BATU

Page 23

Sistem ini sudah lebih sedikit jumlahnya karena memiliki pola ruang yang berkesan terfokus dam tertutup. Ruang yang terbentuk dalam elemen
ini dapat diamati dalam skala yang besar semisal pusat kota maupun kawasan.
3. Elemen void sistem terbuka sentral
Sistem ini memperlihatkan dimana kesan ruang yang bersifat terbuka namum masih tampak terfokus. Sistem ini dapat berupa alum-alun
perkotaan dan jug ataman kota yang terpusat dan memiliki lahan yang cukup luas
4. Elemen void sistem terbuka linear
Sistem ini adalah sistem yang sering dijumpai didekat DAS (daerah aliran sungai) merupakan pola ruang terbuka dan juga linear mengikuti aliran
sungai. Selain itu dapat juga berada di sepanjang jalur kereta api
B. Linkage Theory
Linkage merupakan suatu garis semu yang menghubungkan antara dua elemen yang berbeda, antara suatu daerah dengan daerah lainnnya.
Elemen-elemen linkage berfungsi sebagai suatu sarana pemandu bagi orang-orang yang berada dalam daerah tersebut dan juga membantu memahami
bagaimana hubungan dalam suatu daerah tersebut. Teori ini dibagi menjadi 3 bagian besar, yaitu:
1. Linkage Visual
Dalam linkage visual, dua atau lebih fragmen visual dihubungkan menjadi suatu kesatuan secara visual. Terdapat dua macam linkage visual :
a. Menghubungkan dua daerah secara netral

b.

Menghubungkan dua daerah dengan mengutamakan satu daerah (diantaranya)

A
C

TUGAS II: KARAKTERISTIK KAWASAN ALUN-ALUN KOTA BATU

Page 24

Elemen linkage visual:


a. Garis
Menghubungkan secara langsung dua tempat dengan deretan massa. Bisa deretan pohon atau bangunan yang memiliki rupa masif.
b. Koridor
Dua deretan massa yang yang membentuk sebuah ruang.
c. Sisi
Menghubungkan dua massa dengan karakter sisi masif pada bagian belakang dan spasial pada bagian depan.
d. Sumbu
Menghubungkan dengan mengutamakan salah satu daerah tersebut.
e. Irama
Menghubungkan dengan variasi massa dan ruang
2.

Linkage Struktural
Merupakan sebuah jaringan yang menyebabkan suatu kesatuan dalam tatanan perkotaan. Linkage struktural memiliki peranan penting
dalam tatanan perkotaan. Tanpa adanya linkage struktural akan muncul ketidak selarasan antara bentuk, wujud, serta funsi dari penataan
sebuah kawasan yang ada. Berikut merupakan beberapa elemen dari linkage struktural:
a. Tambahan
Merupakan elemen struktural dimana menghadirkan suatu massa/ruang kota pada suatu kawasan dengan melanjutkan pola yang sudah
ada pada eksisting yang ada. Memiliki bentuk ruang dan massa yang cenderung sama terhadap bentuk ruang/massa sebelumnya.
b. Sambungan
Merupakan elemen dimana menghadirkan suatu massa/ruang kota pada suatu kawasan yang sifatnya relative berbeda atau benar-benar
baru dikarenakan memiliki suatu fungsi istimewa didalamnya.
c. Tembusan
Merupakan elemen yang menghadirkan suatu massa/ruang kota dengan mencampurkan atau membaurkan sifatnya dengan pola eksisting,
sehingga menghasilkan kesan rumit.

TUGAS II: KARAKTERISTIK KAWASAN ALUN-ALUN KOTA BATU

Page 25

3.

Linkage Bentuk Kolektif


Upaya mencapai kualitas kawasan melalui penguatan karakter kawasan. Selain memiliki tampak secara visual maupun struktural, sebuah
kawasan juga memiliki bentuk rupa secara kolektif yang dimana hal ini menonjolkan ciri khas dan organisasi dari suatu kawasan. Berikut
merupakan elemen dari linkage kolektif:
a.

b.

c.

C.

Compositional Form
Bentuk komposisi merancang objek-objek komposisi dua demensi dan memiliki hubungan secara abstrak satu dengan yang lain. Linkage
cenderung diasumsikan pengamat, dan tidak memperhatikan fungsi ruang terbuka. Bentuk ini tercipta dari bangunan yang berdiri sendiri
secara 2 dimensi. Dalam tipe ini hubungan ruang jelas walaupun tidak secara langsung
Mega Form
Susunan-susunan yang dihubungkan ke sebuah kerangka berbentuk garis lurus atau sebagai grid dan memiliki hirarki yang bersifat open
ended.
Group Form
Merupakan elemen yang muncul dari penambahan bentuk dan struktur yang pada umumnya berada pada ruang terbuka publik. Kota-kota
tua dan bersejarah serta daerah pedesaan menerapkan pola ini.

Place Theory
Teori yang berkaitan dengan space yang terletak pada pemahaman atau pengertian terhadap budaya dan karakteristik manusia terhadap ruang
fisik. Space dan place memiliki kaitan dimana, space bisa dianggap sebagai place apabila ia memiliki makna kontekstual dari muatan suatu budaya
atau potensi kawasan lokalnya. Lynch (1960) mengemukakan beberapa aturan yang menurutnya merukapan salah satu bentuk keberhasilan
pembentuk place untuk desain ruang kota pada suatu kawasan tidak terlepas dari beberapa aspek berikut:
1. Legibility (kejelasan)
Salah satu bentuk kejelasan dari suatu kota dapat dirasakan secara langsung oleh warga kotanya maupun pendatang yang berkunjung ke
kota tersebut. Dengan kata lain suatu kota atau kawasan atau kawasan bisa dikenali dengan cepat dilihat dari pembagian distriknya,
landmarknya maupun jalan sebagai sebuah pola secara keseluruhan.
2. Structure and Identity (identitas dan susunan)
Susunan memiliki arti sebagai adanya kemudahan pemahaman pola suatu blok-blok khusus pada sebuah kawasan atau kota yang menyatu
antar bangunan dan ruang terbukanya.Sedangkan identitas merupakan gambaran pengunjung sebuah kota atau kawasan yang dimana kota
atau kawasan tersebut dapat diingat atau dikenal dengan mudah melalui objek atau lokasi khusus.
3. Imageability

TUGAS II: KARAKTERISTIK KAWASAN ALUN-ALUN KOTA BATU

Page 26

Kualitas secara fisik suatu objek yang memberikan peluang besar untuk timbulnya gambaran yang kuat dan dapat diterima setiap orang
merupakan syarat penting dari suatu kota atau kawasan. Gambaran yang dimaksud ditekankan pada kualitas fisik suatu kawasan atau kota yang
menghubungkan antara identitas dan struktur kota atau kawasan yang bersangkutan.

a.
b.
c.

d.
e.

Gambaran dari sebuah kota atau kawasan dibentuk oleh 5 (lima) elemen pembentuk wajah kota, yaitu:
Paths, merupakan suatu penghubung yang memungkinkan sirkulasi didalamnyadan dapat diakses dengan mudah. Paths dapat berupa
pedestrian ways, kanal, rel kerata api dan lain sebagainya.
Edges, merupakan elemen jalur linear memanjang tetapi tidak berupa paths dan merupakan pembatas antara 2 jenis fase kegiatan. Edges
dapat berupa sungai, pantai, hutan kota, dinding, dan lain sebagainya.
District, merupakan suatu elemen yang hanya bisa dirasakan ketika seseorang memasuki suatu kawasan tertentu, atau hal ini dapat
dirasakan dari luar apabila meiliki kesan secara visual yang jelas. District dapat dikenali karena adanya suatu karakteristik kegiatan dalam
suatu wilayah.
Nodes, berupa titik konsentrasi dimana ia merupakan sumber dari paths dan siapapun yang berada di area ini memiliki pilihan bebas
memasuki district yang berbeda.
Landmark, merupakan titik pedoman atau penanda sehingga pengunjung atau penghuni suatu kawasan atau kota dapat dengan mudah
mengenali lokasi mereka saat itu berada. Landmark dapat berupa menara, gerbang, sculpture, gedung, kubah dan lain sebagainya.

Gambar 2.5. Wajah Kota


Sumber: Kevin Lynch (1959)

TUGAS II: KARAKTERISTIK KAWASAN ALUN-ALUN KOTA BATU

Page 27

4. Visual and symbol conection


a. Visual conection
Visual conection adalah hubungan yang terjadi karena adanya kesamaan visual antara satu bangunan dengan bangunan lain dalam suatu
kawasan, sehingga menimbulkan image tertentu. Visual conection ini lebih mencangkup ke non visual atau ke hal yang lebih bersifat konsepsi dan
simbolik, namun dapat memberikan kesan kuat dari kerangka kawasan. Dalam pengaturan suatu landuse atau tata guna lahan, relasi suatu
kawasan memegang peranan penting karena pada dasarnya menyangkut aspek fungsional dan efektivitas. Seperti misalnya pada daerah
perkantoran pada umumya dengan perdagangan atau fungsi-fungsi lain yang kiranya memiliki hubungan yang relevan sesuai dengan
kebutuhannya.
b. Symbolic conection
Symbolic conection dari sudut pandang komunikasi simbolik dan cultural anthropology meliputi:
1) Vitality
Melalui prinsip-prinsip sustainance yang mempengaruhi sistem fisik, safety yang mengontrol perencanaan urban struktur, sense seringkali
diartikan sebagai sense of place yang merupakan tingkat dimana orang dapat mengingat tempat yang merupakan tingkat dimana orang
dapat mengingat tempat yang memiliki keunikan dan karakteristik suatu kota.
2) Fit
Menyangkut pada karakteristik pembangkit sistem fisikal dari struktur kawasan yang berkaitan dengan budaya, norma dan peraturan yang
berlaku.

2.6.4. Elemen Desain Urban Menurut Shirvani


Perancangan kota (Urban design) bertujuan untuk mewujudan proses ruang kota yang berkualitas tinggi yang dapat dilihat dari kemampuan ruang
tersebut dalam membentuk pola hidup masyarakat urban yang sehat. Unsur-unsur arsitektur kota yang berpengaruh terhadap proses pembentukan
ruang harus diarahkan serta dikendalikan perancangannya sesuai dengan perencanaan pembangunan yang telah disepakati bersama yang disebut
sebagai elemen-elemen perencanaan kota. Menurut Shirvani (1985:8), elemen desain urban dapat dikelompokkan menjadi menjadi 8 kategori sebagai
berikut:
A. Tata Guna Lahan (Land Use)
Tata guna lahan adalah ketentuan mengenai kegiatan apa saja yang harus dilakukan dan ketentuan menganai kapan, bagaimana, berapa
banyak, dan mengapa kegiatan tersebut dilakukan. Tata guna lahan juga perlu mempertimbangkan dua hal penting, yaitu pertimbangan segi umum
dan aktifitas pejalan kaki (street level) yang akan menciptakan lingkungan yang lebih manusiawi (Shirvani, 1985). Rencana tata guna lahan adalah
kerangka kerja yang menetapkan keputusan-keputusan terkait dengan lokasi, kapasitas dan jadwal pembuatan jalan, saluran air bersih dan air
limbah, gedung sekolah, pusat kesehatan, taman, dan pusat-pusat pelayanan serta fasilitas umum lainnya (Catanese dan Snyder, 1988).

TUGAS II: KARAKTERISTIK KAWASAN ALUN-ALUN KOTA BATU

Page 28

Penggunaan Lahan menurut Sandy (1977:24) dapat diklasifikasikan sebagai berikut:


1. Lahan permukiman, meliputi perumahan termasuk pekarangan dan lapangan olah raga.
2. Lahan jasa, meliputi perkantoran pemerintah dan swasta, sekolahan, puskesmas, dan tempat ibadah.
3. Lahan perusahaan, meliputi pasar, toko, kios, dan tempat hiburan.
4. Lahan industri, meliputi pabrik dan percetakan.
Tujuan perumusan dan perencanaan tata guna lahan adalah sebagai berikut:
1. Menentukan tipe penggunaan lahan yang diizinkan dalam suatu kawasan.
2. Menciptakan hubungan fungsional antarkota.
3. Menetukan floor area yang memungkinkan untuk setiap penggunaan yang diijinkan.
4. Menentukan skala pembangunan baru.
5. Menentukan tipe insentif pembangunan yang sesuai untuk area tertentu.
B.

Bentuk dan Massa Bangunan (Building Form and Massing)


Bentuk dan massa bangunan membahas mengenai bagaimana bangunan yang ada dapat membentuk sebuah kota dan bangaimana hubungan
antarmassa tersebut. Pada penataan suatu kota, bentuk dan hubungan antar-massa seperti ketinggian bangunan, jarak antar-bangunan, bentuk
bangunan, fasad bangunan, dan sebagainya harus diperhatikan sehingga ruang yang terbentuk menjadi teratur serta menghindari adanya ruang
yang tidak terpakai. Bentuk dan massa bangunan ditentukan oleh beberapa hal yang menyangkut penampilan bangunan seperti berikut:
1. Ketinggian Bangunan
Ketinggian bangunan sangat erat kaitannya dengan jarak pandang pemerhati dan juga skyline yang akan terbentuk pada suatu kawasan. Skyline
yang terbentuk akan memberikan dampak yang dinamis pada kota. Makna skyline di dalam kota adalah:
a. Sebagai simbol kota;
b. Sebagai indeks sosial;
c. Sebagai alat orientasi;
d. Sebagai perangkat estetis dan ritual.
2. Kepejalan bangunan
Hal ini berkaita dengan penampilan bangunan-bangunan di dalam konteks kota. Kepejalan bangunan ditentukan oleh dimensi bangunan,
olahan massa bangunan, serta materialnya. Selain itu, hubungan antara bangunan dengan lingkungan sekitar sangat perlu diperhatikan dalam
membuat solid-void lingkungan.
3. Koefisien Lantai Bangunan (KLB)
Menurut Peraturan daerah kota Malang No. 1 tahun 2012, KLB adalah angka persentase perbandingan antara luas seluruh lantai bangunan
gedung dan luas tanah perpetakan/daerah perencanaan yang dikuasai sesuai rencana tata ruang dan rencana tata bangunan dan lingkungan.

TUGAS II: KARAKTERISTIK KAWASAN ALUN-ALUN KOTA BATU

Page 29

4.

5.

6.

7.

8.

C.

Menurut UU No. 28 tahun 2002, Koefisien Luas Bangunan (KLB) adalah koefisien perbandingan antara luas keseluruhan lantai bangunan gedung
dan luas persil/ kaveling/blok peruntukan.
Koefisien Dasar Bangunan (KDB)
Menurut UU No. 28 tahun 2002, Koefisien Dasar Bangunan (KDB) adalah koefisien perbandingan antara luas lantai dasar bangunan gedung dan
luas persil/ kaveling/blok peruntukan. Peraturan mengenai KDB dimaksudkan untuk menyediakan daerah terbuka agar bangunan tidak
dibangun diseluruh tapak.
Garis Sempadan Bangunan (GSB)
Menurut UU No. 28 tahun 2002, garis sempadan adalah garis yang membatasi jarak bebas minimum dari bidang terluar suatu massa bangunan
gedung terhadap batas lahan yang dikuasai, antar massa bangunan lainnya, batas tepi sungai/ pantai, jalan kereta api, rencana saluran,
dan/atau jaringan listrik tegangan tinggi. GSB ditujukan untuk mengatur keteraturan bangunan di tepi jalan.
Langgam
Langgam adalah kumpulan karakteristik bangunan di mana struktur, kesatuan, dan ekspres digabungkan menjadi satu wilayah (satu periode
waktu). Langgam digunakan untuk menyatukan fragmen-fragmen kota.
Skala
Skala di dalam bangunan dapat digunakan sebagai kontras visual yang dapat membangkitkan kedinamisan kawasan kota. Skalasangat erat
hubungan dengan sudut pandang manusia, sirkulasi, dan dimesi bangunan sekitar. Bangunan yang ada di kota harus sesuai dengan skala
manusia karena bangunan diciptakan untuk kebutuhan manusia.
Material, tekstur, dan warna
Ketiga hal ini dapat memberikan citra diri kota.
Tujuan adanya pengaturan mengenai massa dan bentuk bangunan adalah sebagai berikut:
a. Mengatur penampilan bangun-bangunan di suatu kawasan agar kawasan tersebut memiliki penampilan yag khas, di antaranya mengenai
ketinggian (height), sempadan (setback) dan ketutupan (coverage), bulk, dan kongurasi bangunan
b. Mengatur skala yang berhubungan dengan human vision, sirkulasi, ketetanggaan antar bangunan dan ukuran bangunan-bangunan
prkotaan
c. Mengatur ruang kota baik berupa bentuk dan tipenya, keterkaitan dengan bangunan pembentuknya, serta elemen yang ada di dalamnya
d. Mengatur massa kota yang berupa bangun-bangunan, permukaan lansekap, dan besar atau kecilnya objek dalam kota

Sirkulasi dan parkir (circulation and parking )


Sirkulasi adalah salah satu elemen perencanaan kota yang dapat secara langsung membentuk dan mengntrol pola aktivitas di dalam perkotaan.
Sirkulasi meliputi area transportasi oleh jalan publik (kendaraan), jalan pedestrian, dan tempat-tempat transit yang saling berhubungan satu sama
lain dan membentuk sebuah pergerakan di dalam kota. Sirkulasi juga dapat membentuk karakter suatu daerah, tempat aktivitas, dan sebagainya.

TUGAS II: KARAKTERISTIK KAWASAN ALUN-ALUN KOTA BATU

Page 30

Sirkulasi dan lahan parkir sangat erat kaitannya dengan bagaimana rencana sistem transportasi di dalam suatu kota. Proses perencanaan
transportasi menurut (Catanese dan Snyder, 1988) mencangkup beberapa konsep teoritis diantaranya sebagai berikut:
1. Hubungan transportasi dengan tata guna lahan
Pengembangan tata guna lahan yang bermacam-macam menghasilkan kebutuhan akan jalur transportasi. Susunan sistem sirkulasi juga
dapat mempengaruhi pola pengembangan lahan sehingga sistem transportasi dan tata guna lahan saling berpengaruh dan dengan sedikit
perubahan pada salah satu bagian akan merubah pula bagian yang lain.
2. Hubungan transportasi dengan pengiriman barang dan jasa
Transportasi dilakukan untuk mencapai suatu tujuan kebutuhan yaitu pengiriman baran dan jasa. Konsep dasar dari perlakuan tersebut
adalah mengurangi rintangan dalam proses pengiriman.
Kebutuhan perjalanan di kawasan perkotaan meningkat seiring dengan peningkatan jumlah penduduknya sehingga diperlukan suatu konsep
peramalan kebutuhan sirkulasi dan area parkir di masa yang akan datang sebelum adanya keputusan lebar dimensi jalan yang akan dibuat. Selain
itu, dibutuhkan pula suatu manajemen transportasi menyeluruh terkait dengan aspek bentuk struktur kota, fasilitas pelayanan umum, serta jumlah
kendaraan bermotor.
Menurut UU No. 13 tahun 1980 tentang jalan, jalan adalah suatu prasarana perhubungan dalam bentuk apapun meliputi segala bagian jalan
termasuk bangunan pelengkap yang diperuntukkan bagi lalu lintas. Selain itu, jalan dikelompokkan menjadi 6 yaitu:
1. Jaringan jalan berdasarkan sistem penghubung
a. Sistem jaringan jalan primer
Sitem jaringan yang menghubungkan kota/wilayah (simpul/distribusi) di tingkat nasional atau regional
b. Sistem jaringan jalan sekunder
Sitem jaringan yang menghubungkan zona-zona atau kawasan pada suatu kota
2. Jaringan jalan berdasarkan peranan/fungsi
a. Arteri, karakteristik jalannya yaitu:
1) Jarak jauh
2) Kecepatan tinggi
3) Jalan masuk dibatasi
b. Kolektor, karakteristik jalannya yaitu:
1) Jarak sedang
2) Kecepatan rendah
3) Jalan masuk dibatasi
c. Lokal, karakteristik jalannya yaitu:
1) Jarak pendek

TUGAS II: KARAKTERISTIK KAWASAN ALUN-ALUN KOTA BATU

Page 31

2) Kecepatan rendah
3) Jalan masuk tidak dibatasi
d. Jaringan jalan berdasarkan peruntukan
1) Jalan umum, yaitu jalan untuk lalu lintas umum
2) Jalan khusus, yaitu jalan yang tidak untuk umum, seperti jalan inspeksi saluran, jalan perkebunan, dan jalan pertambangan.
e. Jaringan jalan berdasarkan klasifikasi teknis
1) Jalan kelas I, karakteristik jalannya yaitu:
a) Kendaraan dengan lebar maksimal 2,5 meter
b) Kendaraan dengan panjang maksimal 18 meter
c) Kendaraan dengan muatan lebih dari 10 ton
d) Berada di jalan arteri
2) Jalan kelas II, karakteristik jalannya yaitu:
a) Kendaraan dengan lebar maksimal 2,5 meter
b) Kendaraan dengan panjang 18 meter
c) Kendaraan dengan muatan maksimal 10 ton
d) Berada di ajlan arteri
f. Jaringan jalan berdasar status pembinaan
1) Jalan nasional/negara
2) Jalan provinsi
3) Jalan kabupaten/kota
4) Jalan desa/kampung
Kendaraan bermotor yang beroprasi di dalam kota dapat dibedakan menjadi dua berdasarkan kepemilikan yaitu kendaraan pribadi yang dimiliki
sendiri serta kendaraan umum yang dimiliki pemerintah. Dengan meningkatkan kesadaran penduduk untuk menggunakan kendaraan umum,
pengurangan polusi udara, kebisingan, serta kemacetan di jalan dapat dicegah. Kebijakan ini mengarah terciptanya suatu lingkungan kota menuju
kondisi minimalisir transportasi (zero transportation).
Selain kebutuhan ruang untuk bergerak, modal transport juga membutuhkan tempat untuk berhenti (parkir). Kebutuhan parkir semakin
meningkat terutama di pusat-pusat kegiatan kota atau Central Bussiness District (CBD). Area parkir memiliki dampak penting terhadap perkotaan,
yaitu:
1. Keberhasilan atau ketidakberhasilan suatu fasilitas (terutama komersial)
2. Dampak visual yang memperburuk kualitas sik suatu ruang, sehingga peletakan area parkir harus dirancang sebelum bangunan berdiri

TUGAS II: KARAKTERISTIK KAWASAN ALUN-ALUN KOTA BATU

Page 32

D.

Ruang terbuka (open space)


Ruang terbuka (open space) selalu menyangkut lansekap. Elemen lansekap terdiri dari:
1. Elemen keras (hardscape),seperti jalan (aspal), trotoar, patun, bebatuan dan sebagainya) serta
2. Elemen lunak (softscape),berupa semua elemen lansekap dalam kota
3. Taman-taman dan alun-alun
4. Ruang rekreasional
Perencanan open space akan terkait dengan perabot taman/jalan (street furniture). Street furniture adalah segala sesuatu yang berada di
jalan yang diletakkan dengan tujuan tertentu dan dapat berupa lampu, tempat sampah, papan nama, bangku taman dan sebagainya. Perabot
jalan yang ada di suatu kawasan perkotaan berbeda-beda tergantung dari jenis kawasannya. Pada umumnya, perabot jalan terdiri atas hal-hal
sebagai berikut:
a. Trotoar adalah fasilitas tepi jalan yang diperuntukkan untuk pedestrian. Trotoar dilengkapi dnegan kanstin yang tinggi sebagai pengaman
bagi pedestrian ang menggunakannya agar kendaraan tidak dapat mengakses jalur tersebut.
b. Lampu jalan yang berfungsi sebagai penerangan jalan untuk mencegah kecelakaan dan meningkatkan keamanan pengguna jalan. Jarak
antarlampu biasanya 5 meter.
c. Rambu lalu lintas, merupakan perangkat komunikasi antara jalan dengan pengguna dengan menggunakan lambang, angka, dan tulisan
berupa perintah, larangan, petunjuk, dan peringatan.
d. Marka jalan adalah suatu tanda yang berada di permukaan jalan atau di atas permukaan jalan yang berfungsi untuk mengarahkan arus lalu
lintas dan membatasi daerah kepentingan lalu lintas
e. Lampu lalu lintas adalah perangkat isyarat lampu untuk mengatur lalu lintas.
f. Jembatan penyeberangan orang adalah fasilitas jembatan untuk menyeberang jalan yang arus lalu lintasnya tinggi.
g. Tempat perhentian bus adalah halte bus tempat untuk menaikkan dan menurunkan penumpang bus.
h. Nama jalan adalah petunjuk nama jalan.

TUGAS II: KARAKTERISTIK KAWASAN ALUN-ALUN KOTA BATU

Page 33

Gambar 2.6. Beberapa Contoh Perabot Jalan


Konsep pendekatan open space dalam suatu kawasan kota dapat dibedakan menjadi dua, yaitu secara aktif dan secara pasit. Secara aktif
berarti ruang terbuka di dalam suatu kota sebagai tujuan pembentukan massa bangunan dan secara pasif berarti ruang terbuka tersebut terbentuk
akibat dari pembentukan massa. Indonesia menganut konsep open space secara negatif sehingga open space-nya tidak berarturan seperti di negaranegara Eropa.
E.

Area pedestrian (pedestrian ways)


Elemen pejalan kaki harus dibantu dengan interaksinya pada elemen-elemen dasar desain tata kota dan harus berkaitan dengan lingkungan
kota dan pola-pola aktivitas sertas sesuai dengan rencana perubahan atau pembangunan fisik kota di masa mendatang. Area ditujukan untuk
pejalan kaki yang bebas hambatan dan memiliki jalur tersendiri di samping ataupun melalui jalur kendaraan. Jalur ini bermanfaat sebagai pendukung
kegiatan manusia ke suatu tujuan tertentu. Selain itu, jalur ini tidak akan menyebabkan polusi udara seperti jalur kendaraan. Kota yang baik adaah
kota yang memiliki penduduk dengan kesadaran tinggi untuk pergi ke mana saja dengan berjalan kaki (the walking city). .

TUGAS II: KARAKTERISTIK KAWASAN ALUN-ALUN KOTA BATU

Page 34

Gambar 2.7. Berbagai Macam Area Pedestrian


Sumber: google.com
F.

Pendukung kegiatan (activity support)


Pendukung kegiatan adalah semua fungsi bangunan dan kegiatan-kegiatan yang mendukung ruang publik suatu kawasan kota. Aktivitas
pendukung ini menyediakan jalan pedestrian maupun plasa dengan mempertimbangkan fungsi utama dan penggunaan elemen-elemen yang dapat
menggerakkan aktivitas penduduk.

1.
2.
3.
4.
5.
G.

Hal-hal yang sangat perlu diperhatikan dalam penerapan desain pendukung kegiatan adalah sebagai berikut:
Adanya koordinasi antara kegiatan yang berlangsung dengan lingkungan binaan
Adanya keragaman aktivitas di dalam suatu ruang tertentu
Bentuk kegiatan harus memperhatikan aspek kontekstual
Pengadaan fasilitas lingkungan
Sesuatu yang terukur yang menyangkut dimensi, bentuk, lokasi, dan fasilitas

Papan penanda (signage)


Segala sesuatu yang behubungan dengan iklan dan petunjuk disebut sebagai papan penanda. Papan penanda akan mempengaruhi visualisasi
wilayah perkotaan oleh karena itu pengaturan papan penanda harus diperhatikan, antara lain:
1. Papan penanda harus merefleksikan keadaan dan karakter kota untuk menciptakan ataupun memperkuat karakternya
2. Jarak dan ukuran antarpapan mudah dilihat dan tidak menimbulkan kemacetan

TUGAS II: KARAKTERISTIK KAWASAN ALUN-ALUN KOTA BATU

Page 35

3.
4.
5.

Papan iklan harus harmonis dengan lingkungan arsitektur di sekitarnya


Pembatasan jumlah lampu hias
Pembatasan jumlah papan penanda pada kawasan tertentu agar suatu kawasan tidak terlalu terlihat ramai akan papan penanda

Gambar 2.8. Papan Penanda Sebuah Kota


Sumber: google.com
H.

Preservasi (preservation)
Preservasi adalah perlindungan terhadap lingkungan tempat tinggal dan urban place seperti halnya dengan perlindungan bangunan bersejarah.
Menurut Catanese dan Snyder (1988), preservasi adalah upaya untuk melindungi bangunan, monumen, dan lingkungan dari kerusakan serta
mencegah terjadinya proses kerusakan. Hal-hal terebut akan dipertahankan sesuai dnegan bentukan aslinya tetapi tetap disesuaikan dnegan
perkembangan kebutuhan fungsionalnya kerena merupakan kawasan yang memiliki nilai-nilai sejarah, seni, budaya, ataupun nilai arsitektur. Nilainilai ini juga dapat merupakan ciri khas kota tersebut.
Manfaat yang didapatkan dari preservasi kawasan adalah sebagai berikut:
1. Nilai lahan akan meningkat
2. Nilai lingkungan akan meningkat
3. Bangunan dan elemen lainnya tidak akan berubah seiring berkembangnya aspek komersial
4. Peningkatan pendapatan dari pajak

TUGAS II: KARAKTERISTIK KAWASAN ALUN-ALUN KOTA BATU

Page 36

2.6.5. Aspek Manusia dan Aspek Sosial dalam Desain Urban


A. Aspek Manusia dalam Desain Urban
Permasalahan perkotaan sangat berkaitan dengan aspek kehidupan manusia. Kepesatan perkembangan suatu kota membawa dampak sosial yg
tinggi kepada kehidupan masyarakatnya. Masyarakat cenderung terbagi menjadi 2 segmen, yaitu (1) kelompok masyarakat yang menang dan
berhasil dalam iklim kompetisi ini dan (2) kelompok masyarakat yang kalah dan tersingkir. Dampak yg lainnya adalah perilaku masyarakat yang
cenderung individualis antar segmen. R.E Park, E.W. Burgess dan R.E McKenzie mengatakan bahwa penyebaran kelompok heterogen dalam kota
tidak berlangsung secara liar yang terbukti dengan adanya pengelompokan berdasarkan ras, keagamaan, atau pekerjaan.

Gambar 2.9. Elemen Pembentuk Kota


Sumber: Zahnd (1999)
Kota memiliki 3 elemen, yaitu:
1. Hardware : Bentuk, tata, dan produk kota
2. Software : Sistem dan program proses perkotaan
3. Pelaku
: Keberadaan dan kegiatan manusia
Pelaku meliputi keberadaan dan kegiatan manusia yang merupakan salah satu aspek ruang perkotaan adalah manusia. Kegiatan manusia
adalah bentuk dari sosialisasi manusia pada beberapa proses penyesuaian diri dalam ruang kota, baik dengan sesama manusia maupun dengan
lingkungan alam dan budaya sekitar. Pandangan sebuah kota terhadap masyarakat tergantung pada bagaimana manusia di dalam kota tersebut
menciptakan cirri khasnya. Terciptanya suatu cirri khusus bermula dari kecenderungan manusia untuk mengelompokkan, mengatur, dan
menghasilkan hal-hal baru. Keberagaman cirri kota, juga berperan dalam menentukan nilai-nilai kehidupan masyarakatnya. Semakin berkembang
suatu kota, semakin baik kualitasnya, juga semakin sejahtera masyarakat kota tersebut.

TUGAS II: KARAKTERISTIK KAWASAN ALUN-ALUN KOTA BATU

Page 37

Menurut Sarlito (1992), salah satu persoalan yang sampai saat ini terus dirasakan adalah adanya perbedaan kelas sosial ekonomi yang makin
lama makin menyolok. Golongan yang mampu makin berkuasa dan makin kaya sedangkan golongan miskin bertambah miskin. Semakin besar,
semakin padat dan heterogen penduduknya, semakin jelaslah ciri-ciri tersebut.
Permasalahan kehidupan masyarakat perkotaan yaitu persaingan antar individu yang sangat tinggi dan sifat hubungan antar personal yang
lebih dititikberatkan pada pertimbangan keuntungan secara ekonomis. Pada kondisi ini, perlahan-lahan akan terjadi perubahan tata nilai pada
kehidupan masyarakat yang mengacu pada permasalahan tersebut, antara lain:
1. Adanya keinginan untuk membatasi hubungan/ pergaulan, khususnya terhadap orang atau kelompok diluar lingkungan atau kelasnya.
2. Adanya konflik kepentingan masing-masing kelompok atau individu akibat dari pemaksaan kehendak dan salah satu kelompok atau individu
terhadap kelompok atau individu lain, yang sebenarnya berakar dari pemikiran egosentris masing-masing kelompok atau individu tersebut
tanpa mempertimbangkan kepentingan kelompok atau individu lainnya.
Kedua hal itulah yang menjadi sebab pokok dominasi perilaku individualis pada kehidupan perkotaan, yang sekaligus sebagai salah satu ciri
kehidupan kota.Bintarto (1989: 54) mengatakan, bahwa kesibukan setiap warga kota dalam tempo yang cukup tinggi dapat mengurangi perhatian
terhadap sesamanya. Apabila hal ini berlebihan akan menimbulkan sifat acuh tak acuh atau kurang mempunyai toleransi sosial.
Dengan adanya fenomena di atas dan melihat sifat kehidupan kota yang cenderung kepada kondisi: 1) heterogenitas, jumlah dan kepadatan
penduduk yang cukup tinggi, 2) sifat kompetitif, egosentris dan hubungan personal berdasarkan kepentingan pribadi dan keuntungan secara
ekonomi, masyarakat kota cenderung menyikapi kondisi tersebut dengan cara:
1. Hanya saling mengenal terutama dalam satu peranannya saja, misalnya sebagai kondektur, penjaga toko dan sebagainya. Oleh karena itu juga
dikatakan bahwa sifat hubungan-personal masyarakat kota tidak bersifat primer, namun lebih bersifat sekunder (berdasarkan peran dan
atributnya).
2. Melindungi diri sendiri secara berlebihan agar tidak terjadi terlalu banyak hubungan-hubungan yang sifatnya pribadi, mengingat konsekuensi
waktu, tenaga dan biaya. Orang kota juga harus melindungi dan membatasi diri terhadap relasi yang dianggap potensial membahayakan
baginya. Akibatnya ialah seringnya terjadi kontak personal yang ditandai oleh semacam reserve, acuh tak acuh dan kecurigaan.
3. Cenderung mengadakan kontak, personal bukan dengan keinginan yang berlandaskan kepentingan bersama, namun kebanyakan hubungan itu
hanya digunakan sebagai sarana untuk mencapai tujuan dan kepentingan masing-masing individu.
Perilaku individualis masyarakat kota cenderung akan tercermin atau diungkapkan dalam suatu ungkapan fisik yang berupa batas ruang
(territory) atau ungkapan bentuk. Ungkapan fisik yang berupa batas ruang (territory) bisa bersifat tetap atau suatu kondisi yang relatif tidak
berubah-ubah, namun bisa juga bersifat tidak tetap. Ini sejalan dengan pendapat Lang (1987: 76), bahwa teritorialitas adalah salah satu perwujudan
ego yang tidak ingin diganggu, dan merupakan perwujudan dan privasi. Yang perlu diperhatikan adalah, apabila keinginan perwujudan privasi ini
sangat berlebihan, hal ini merupakan indikasi dari sikap dan perilaku individualis.
Beberapa contoh ungkapan fisik sebagai perwujudan perilaku individualis pada masyarakat kota yaitu:

TUGAS II: KARAKTERISTIK KAWASAN ALUN-ALUN KOTA BATU

Page 38

1.

Pemasangan pagar halaman depan yang dibuat sangat tinggi dan masif, mencerminkan ketertutupan, kecurigaan, kehati-hatian dan kurangnya
welcome terhadap tamu yang akan berkunjung.
2. Perwujudan bentuk-bentuk bangunan yang tidak selaras dengan lingkungan, hanya karena untuk memenuhi ego pemilik supaya tidak
disamakan atau tidak ingin sama dengan lingkungannya, dalam arti supaya dianggap lebih tinggi derajatnya dari lingkungan tersebut.
3. Tulisan-tulisan atau tanda-tanda petunjuk yang mempunyai indikasi untuk menunjukkan bahwa sesuatu area adalah milik pribadi, bukan untuk
masyarakat umum sehingga masyarakat umum tidak boleh masuk area tersebut, atau setidak-tidaknya enggan untuk memasuki mengingat
risiko yang mungkin timbul.
Perilaku individualis selain diwujudkan dalam ungkapan fisik, juga banyak didapati pada sikap dan perilaku masyarakat kota. Hal ini bisa dilihat
dari beberapa contoh:
1. Kurang akrabnya antartetangga pada suatu kompleks perumahan atau perkampungan, karena masing-masing orang telah sibuk dengan
urusannya sendiri.
2. Masing-masing tetangga merasa tidak perlu menyapa apabila bertemu di jalan, karena merasa tetangga tersebut adalah orang asing bagi orang
tersebut. Kemungkinan lain dan kondisi tersebut adalah tidak terpikirkannya orang tersebut untuk menyapa, karena pikirannya memang sudah
dipenuhi dengan berbagai kesibukan kerja hari itu.
3. Kurangnya tenggang rasa dalam bersikap dan berbuat.
B. Aspek Sosial dalam Desain Urban
Istilah sosiologi kota sebenarnya dapat diberi pengertian sebagai ilmu yang mempelajari hubungan antarmanusia, baik secara individu maupun
kelompok manusia yang terdapat dalam kawasan kota (Hariyono, 2007). Kawasan kota adalah sebuah daerah yang mencangkup berbagai macam
aspek, yaitu ekonomi, hukum, kesehatan, dan sebagainya. Sosiologi kota adalah sebuah ilmu yang dapat mengantarkan arsitek untuk memahami
aspek sosial di dalam merancang, mendesain, dan merencanakan bangunan di kawasan kota sehingga arsitek dapat menciptakan suatu karya yang
cukup akrab dengan masyarakat. Hal ini sangat penting untuk dikaji karena secara tidak langsung masalah sosial telah tejadi saat seorang arsitek
mulai merencanakan desain.
Aspek sosial dalam perencanaan kota mencangkupi bagaimana hubungan antara keterpaduan kota dengan segala fasilitas umum dan aktivitas
ekonomi, pemerintahan, hiburan, simbol kota di beberapa ruas jalan/tempat dapat dihidupkan (Hariyono, 2007). Pengaturan kota bukan hanya
pada masalah fisik dan fasad bangunan secara visual saja tetapi menyangkut tata nilai dan aspek-aspek poleksosbudhankamnas yang kompleks
(Budihardjo, 1983). Apabila tidak ditangani dengan pemikiran yang matang mengenai aspek sosial tersebut, maka akan timbul berbagai macam
masalah baru di dalam suatu kawasan.Hal ini menyebabkan aspek sosial adalah dasar pertimangan yang tidak disadari oleh seorang arsitek. Selain
menciptakan lingkungan fisik, arsitek juga harus mempertimbangkan bagaimana keadaan sosial yang akan muncul oleh lingkungan fisik yang
dibangun karena masyarakatlah yang akan menggunakan dan yang akan menghidupkan suasana kota. Hal iyu menyebabkan pembangunan kota
harus berasal dari masyarakat yang akan menggunakannya (bottom-up) bukan berdasarkan kebijakan pemerintah saja (up-bottom).

TUGAS II: KARAKTERISTIK KAWASAN ALUN-ALUN KOTA BATU

Page 39

1.

2.

3.

4.

Pokok bahasan utama yang dibahas dalam kaitannya dengan arsitektur kota adalah sebagai berikut.
Masyarakat dan kebudayaan sebagai simbol dalam arsitektur
Penataan tata ruang sangat dipengaruhi oleh aktivitas pelakunya. Apabila masyarakat memiliki aktivitas yang membutuhkan ruang banyak,
maka perencanaan untuk kawasan tersebut juga memerlukan ruang yang besar agar kegiatan dapat terwadahi.
Pola perilaku dan penataan kawasan
Penataan kawasan akan mengakibatkan perubahan pola tingkah laku tertentu di dalam masyarakat. Perubahan perilaku tersebut akan
menuntun pada aktivitas negatif maupun aktivitas positif. Misalnya apabila suatu kawasan diperuntukkan utuk kawasan perdagangan pasar
modern maka dalam perencanaannya kawasan tersebut harus memiliki corak modern dan menjaga masalah kebersihan sehingga pengunjung
yang datang tak segan untuk masuk ke dalamnya.
Kemerosotan nilai sosial dan pemanfaatan ruang
Suatu fasilitas kota yang tidak difungsikan dalam jangka waktu yang lama akan menjadi suatu kawasan yang kumuh dan digunakan untuk
aktivitas yang kurang sehat. Seperti halnya dnegan jalan pedestrian yang digunakan untuk pengendara sepeda motor, meludah disembarang
tempat, membuang sampah tidak pada tempatnya, dan sebagainya. Hal ini akan membuat kerusakan lingkungan.
Gerakan sosial dan pembangunan kota
Arsitektur sebagai bidang ilmu yang memberikan rekomendasi tentang perencanaan suatu kawasan memiliki wewenang untuk menegur
aktivitas pembangunan fisik yang tidak sesuai dengan prinsip-prinsip yang dibenarkan (Hariyono, 2007). Contohnya adalah perencanaan
bangunan pada ruang terbuka hijau yang dapat merusak fungsi taman kota dapat dihentikan melalui gerakan sosial.

Sosiologi kota untuk arsitek lebih menekankan pada hubungan timbal balik antara gejala-gejala sosial dengan gejala-gejala kota dalam aspek
fisiknya. Di dalamnya dipelajari relasi antara pola-pola sosial dengan pola-pola fisik yang terjadi beserta akibatnya (Hariyono, 2007). Hubungan
timbal balik antara aspek sosial dengan aspek fisik di dalam kawasan kota dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu:
1. Aspek fisik kota terhadap aspek sosial
Aspek ini menekankan kepada berdirinya sebuah bangunan yang dapat merubah pola hidup masyarakatnya. Suatu bangunan yang berdiri
kemudian ditinggalkan dan tidak difungsikan kembali akan menimbulkan aktivitas negatif di sekitar bangunan tersebut. Seperti halnya di
terminal angkutan umum di Yogyakarta yang semula berada di tengah kota kemudian dipindahkan ke pinggir kota. Terminal yang lama tidak
difungsikan kembali dalam jangka waktu cukup lama. Akibatnya terminal lama tersebut menjadi kumuh dan tempat aktivitas negatif lainnya
seperti sarang pelacuran, tempat tidur para gelandangan, dan tempat persembunyian pelaku tindak kriminal. Setelah beberapa waktu, terminal
lama tersebut akhirnya beralih fungsi menjadi tempat rekreasi dan kesenian dan membuat situasinya berubah. Dalam kasus tersebut, dapat
dirasakan bahwa arsitektur sangat berperan di dalam perencanaan sebuah lingkungan fisik yang berpengaruh pada aspek sosial. Apabila aspek
fisik direncanakan dengan pertimbangan aspek sosial, maka lingkungan yang semula negatif akan menjadi lingkungan positif.
2. Aspek sosial terhadap aspek fisik

TUGAS II: KARAKTERISTIK KAWASAN ALUN-ALUN KOTA BATU

Page 40

Aspek ini menekankan kepada keputusan masyarakat bersama yang dapat mempengaruhi aspek fisik kota. Hal ini dapat dilihat dari masyarakat
kota Semarang yang memprotes kebijakan pemerintah daerah provonsi Jawa Tengah dalam membangun gedung PWRI (Persatuan Wredatama
Republik Indonesia) di taman Keluarga Berencana (KB) di Semarang. Apabila masyarakat kota Semarang tidak beraksi maka pembangunan
gedung PWRI akan tetap dilaksanakan dan akan mengubah keadaan di sekitar gedung. Kawasan di taman KB akan menjadi padat bangunan
dengan lingkungan fisik disekitarnya dan keteduhan di kawasan tersebut juga akan berkurang. Apabila aspek fisik gedung PWRI dibangun,
pegaruh terhadap aspek sosial masyarakat adalah hilangnya ruang terbuka sebagai tempat rekreasi dengan udara yang segar. Akibatnya
masyarakat akan mencari tempat rekreasi lain sehingga akan menambah kepadatan tempat rekreasi yang telah ada. Alternatif untuk tempat
rekreasi menjadi berkurang sehingga masyarakat akan lebih memilih untuk tinggal di dalam rumahnya masing-masing ketika hari libur dengan
pikiran yang penat. Kepenatan ini akan berpengaruh pada prestasi kerja aerta tingkat agresivitas seseorang.
Kasus lainnya adalah pembatas jalan yang membatasi arus jalan yang berlawanan arah terlalu panjang dan tinggi serta tidak adanya akomodasi
untuk menyebrang jalan. Akibatnya jalan taman akan dirusak oleh pejalan kaki. Kalupun pembatas ini tidak terlalu tinggi, manusia akan melompatlompati pembatas jalan seklaipun tempat penyeberang jalan telah disediakan. Kasus ini adalah salah satu contoh sikap agresifitas manusia yang
tertekan oleh perencanaan bangunan fisik yang tidak sesuai.

Gambar 2.10. Aktivitas Menyeberang Jalan


2.7. Pengertian dan Klasifikasi Kegiatan Perdagangan
Uraian berikut ini akan menjelaskan tentang pengertian dan klasifikasi kegiatan perdagangan dalam menunjang karakteristik kawasan studi di Alunalun Kota Batu.
A.

Pengertian Kegiatan Perdagangan


Kegiatan penduduk dalam perekonomian suatu kota secara umum dijalin oleh tiga faktor yang mempunyai arti penting di dalam kehidupan
suatu kota, yaitu kegiatan produksi, distribusi dan konsumsi. Ketiga kegiatan utama tersebut merupakan mata rantai yang saling berkaitan satu sama
lain (Ratcliff dalam Karyani, 1992:61). Kegiatan produksi merupakan kegiatan dalam menghasilkan barang atau jasa dari bahan mentah menjadi
barang setengah jadi atau barang jadi untuk memenuhi kebutuhan penduduk. Pihak yang melakukan kegiatan produksi ini disebut dengan

TUGAS II: KARAKTERISTIK KAWASAN ALUN-ALUN KOTA BATU

Page 41

produsen. Kegiatan konsumsi merupakan kegiatan permintaan dari pihak yang memakai/menghabiskan barang/jasa. Pihak ini biasa disebut
konsumen. Sedangkan kegiatan distribusi ialah kegiatan yang menghubungkan atau mempertemukan kegiatan produksi dengan kegiatan konsumen.
Kegiatan inilah yang kemudian lebih dikenal sebagai kegiatan pedagang.
B.

Klasifikasi Kegiatan Perdagangan


Kegiatan perdagangan dapat diklasifikasikan berdasarkan volume barang yang dijual, bentuk tempat, jenis komoditas yang dijual, cara transaksi
barang, dan lain-lain sebagai berikut.
1.

Berdasarkan volume barang yang dijual


Berdasarkan volume barang yang dijual, kegiatan perdagangan dibagi menjadi dua sebagai berikut.
a. Perdagangan grosir
Perdagangan grosir atau wholesaler adalah pedagang yang memperjualbelikan komoditas dalam partai atau skala yang besar dan
konsumennya merupakan konsumen pertama yang akan mendistribusikan lagi kepada konsumen berikutnya, sedangkan pedagang eceran
atau retail adalah perdagangan yang memperjualbelikan komoditas dalam partai kecil dan konsumennya merupakan konsumen akhir yang
langsung memakai komoditas tersebut untuk memenuhi kebutuhannya sendiri.
b. Perdagangan eceran
Perdagangan eceran adalah semua perdagangan yang berkenaan dengan penjualan barang-barang dan jasa-jasa secara langsung kepada
konsumen akhir untuk penggunaan pribadi, bukan penggunaan bisnis (Kotler, 1986:116). Perdagangan eceran juga sering diutarakan
sebagai the sale of goods in small quantities. Hal ini sesuai dengan jumlah yang diperlukan untuk konsumen akhir seperti kebutuhan rumah
tangga untuk langsung dikonsumsi (Sinungan dalam Prisma, 1987). Perdagangan eceran lebih didefinisikan sebagai perdagangan barang
dan jasa namun pada umumnya jenis ini lebih mengutamakan barang yang kongkrit dan di dalamnya tidak tercangkupjasa-jasa, seperti
listrik, jasa komunikasi, ataupun hiburan.

2.

Berdasarkan cara distribusi barang


Berdasarkan cara distribusi barang kegiatan perdagangan dibagi atas dua cara yaitu sebagai berikut.
a. Penjual mendatangi lokasi konsumen,
b. Konsumen mendatangi lokasi penjual. Khusus untuk cara kedua, para pedagang akan menempati lokasi-lokasi dalam ruang yang
menguntungkan dan strategis

3.

Berdasarkan bentuk tempat perdagangan


Bentuk tempat perdagangan eceran di Indonesia, dapat dibeda-bedakan sebagai berikut: pasar tradisional, warung toko, pusat
perbelanjaan, pusat pertokoan, departement store, supermarket, super bazaar, spesciality store, boutique, dan pasar khusus (Sunungan dalam
Prisma , 1987). Sedangkan menurut Direktorat Bina Sarana Pasar Dalam Negeri, pasar dibagi menjadi dua jenis, yaitu Pasar Modern (meliputi:
departement store dan pasar swalayan) serta pasar tradisional (meliputi: pasar tradisional dan pasar desa).

TUGAS II: KARAKTERISTIK KAWASAN ALUN-ALUN KOTA BATU

Page 42

4. Berdasarkan jenis komoditas yang dijual


Berdasarkan jenis komoditi yang dijual menurut kegiatan perdagangan dapat digolongkan menjadi tiga yaitu:
a. Kegiatan perdagangan komoditas primer
Merupakan jenis perdagangan komoditas yang dibutuhkan sehari-hari, seperti beras, sayur-sayuran, bumbu masak, daging, telur, buahbuahan dan sebagainya. Frekuensi pembelian harian tinggi dan volume pembelian omoditas ini biasanya dalam limit yang relatif kecil.
b. Kegiatan perdagangan komoditas sekunder
Merupakan komoditas yang mempunyai sifat pelayanan kebutuhan tidak teratur, dalam arti frekuensi pembelian tidak tetap, dimana rasa
kebutuhan timbul dalam selang waktu tertentu.komoditas ini dapat dikatakan agak jarang dibeli, akan tetapi pembeli akan sanggup
mendapatkannya ke lokasi kegiatan walaupun jaraknya relatif jauh. Kelompok komoditi sekunder terdiri atas komoditas sandang dan
kelontongan mahal seperti pakaian, sepatu, tekstil, alat-alat rumah tangga, pecah belah, buku dan alat-alat tulis, dan sebagainya.
c. Kegiatan perdagangan komoditas tersier
.Kegiatan perdagangan komoditas tersier memiliki karakteristik pelayanan kebutuhan penduduk yang jarang sekali dibeli dan biasanya
dibeli oleh penduduknya yang benar-benar perlu dan cukup mampu, seperti perhiasan, televisi, dan komoditi mewah/lux lainnya

BAB III
KARAKTERISTIK KAWASAN STUDI

3.1 Lokasi Kawasan Studi

TUGAS II: KARAKTERISTIK KAWASAN ALUN-ALUN KOTA BATU

Page 43

Gambar 3.1. Peta Kota Batu

TUGAS II: KARAKTERISTIK KAWASAN ALUN-ALUN KOTA BATU

Page 44

Gambar 3.2. Peta kawasan Alun-alun Kota Batu


Lokasi kawasan yang menjadi objek studi untuk survey kelompok 5 berada di area sekitar Alun-alun Kota Batu. Kota Batu adalah salah satu kota
yang direncanakan dan nantinya akan menjadi kota wisata.

TUGAS II: KARAKTERISTIK KAWASAN ALUN-ALUN KOTA BATU

Page 45

3.2 Tata Guna Lahan


Menurut RTRW Kota Batu tahun 2008 2028 kawasan Alun-alun Kota Batu ini sebagian besar adalah kawasan perdagangan jasa,pemukiman,dan
RTH. Pada analisa aspek-aspek berikutnya kawasan ini kami bagi menjadi 5 zona berdasarkan koridor jalannya karena setiap koridor jalan memiliki
karakteristik yang berbeda-beda. Kawasan tersebut dibagi menjadi lima bagian sebagai berikut.

zona A
zona B
zona D
zona C

Gambar 3.3. Zona Analisa Pada Kawasan Studi

TUGAS II: KARAKTERISTIK KAWASAN ALUN-ALUN KOTA BATU

Page 46

Gambar 3.4. Pola Ruang Kawasan Alun-alun Batu

3.2.1

Pembagian Zona Pada Kawasan Studi

Zona A
Zona B
Zona C
Zona D
Zona E

: Jl. Semeru dan Jl. Gajah Mada


: Jl. Kartini
: Jl. Semeru Sisir Batu dan Jl. Sudiro
: Jl. Diponegoro dan Jl. Munif
: Alun-alun Kota Batu

TUGAS II: KARAKTERISTIK KAWASAN ALUN-ALUN KOTA BATU

Page 47

A.

Zona A
Zona ini terletak pada Jalan Semeru dimana terdapat fasilitas umum seperti Masjid Agung dan Plaza Batu pada zona ini terdapat pula fasilitas
pendidikan seperti SD dan MTS. Pada RTRW Batu 2008-2028 pada area ini termasuk dalam kawasan perdagangan jasa.

Gambar 3.5. Eksisting Kawasan Studi Alun-alun Kota Batu Zona A

TUGAS II: KARAKTERISTIK KAWASAN ALUN-ALUN KOTA BATU

Page 48

B.

Zona B
Zona ini terletak di sebelah barat alun-alun dan di sepanjang jalan ini terdapat beberapa ruko dan perumahan penduduk.Pada RTRW Batu
2008-2028 pada area ini termasuk dalam kawasan perdagangan jasa

Gambar 3.6. Eksisting Kawasan Studi Alun-alun Kota Batu Zona B

TUGAS II: KARAKTERISTIK KAWASAN ALUN-ALUN KOTA BATU

Page 49

C.

Zona C
Zona ini terletak di sebelah selatan alun-alun dan di sepanjang jalan ini terdapat beberapa ruko dan area pasar serta terdapat bangunan
kolonial yang sekarang di transformasi menjadi cafe.Pada RTRW Batu 2008-2028 pada area ini termasuk dalam kawasan perdagangan jasa.

Gambar 3.7. Eksisting Kawasan Studi Alun-alun Kota Batu Zona C

TUGAS II: KARAKTERISTIK KAWASAN ALUN-ALUN KOTA BATU

Page 50

D.

Zona D
Zona ini terletak pada Jalan Diponegoro dan Jalan Munif yang ada di sebelah selatan alun-alun. Pada zona ini banyak terdapatruko dan hampir
keseluruhan digunakan sebagai area perdagangan. Pada RTRW Batu 2008-2028 pada area ini termasuk dalam kawasan perdagangan jasa.

Gambar 3.8. Eksisting Kawasan Studi Alun-alun Kota Batu Zona D

TUGAS II: KARAKTERISTIK KAWASAN ALUN-ALUN KOTA BATU

Page 51

E.

Zona E
Zona ini terletak di pusat alun-alun. Pada zona ini adalah area RTH dalam bentukruangpublik dan juga terdapat bangunan bangunan dalam
bentuk apel sebagai fasilitas umum disana.Pada RTRW Batu 2008-2028 pada area ini termasuk dalam kawasan RTH kota.

Gambar 3.9. Eksisting Kawasan Studi Alun-alun Kota Batu Zona E

TUGAS II: KARAKTERISTIK KAWASAN ALUN-ALUN KOTA BATU

Page 52

3.3 Bentuk dan Tata Massa Bangunan


3.3.1 Set back bangunan
GSB atau yang disebut Garis Sempadan Bangunan dalam penjelasan di Pasal 13 Undang Undang No. 28 Thn 2002, Garis Sempadan Bangunan atau
GSB tersebut memiliki arti sebuah garis yang membataskan jarak bebas minimum dari sisi terluar sebuah massa bangunan terhadap batas lahan yang
dikuasai. Pengertian ini dapat disimpulkan bahwa GSB ialah batas bangunan yang diperbolehkan untuk dibangun rumah atau gedung.

Gambar 3.10. Pemetaan GSB di Kawasan Studi Alunalun Kota Batu (Garis Merah)

Lebar garis sempadan bangunan pada lokasi yang ditinjau tidak selalu sama pada setiap zona. Ada yang memiliki lebar garis sempadan 1 1,5
m, dan ada pula yang memiliki garis sempadan hingga lebih dari 8 meter. Bangunan bangunan pada zona D cenderung memiliki garis sempadan

TUGAS II: KARAKTERISTIK KAWASAN ALUN-ALUN KOTA BATU

Page 53

yang lebih pendek dibandingkan dengan zona lainnya dan zona B kebanyakan garis sempadannya sesuai. Pada zona D antara bangunan satu
dengan lainnya saling berhimpitan dan tidak berjarak yang menyebabkan kemenerusan visual.

A.

Zona A

Gambar 3.11. Pemetaan GSB Kawasan Studi Pada Zona A


Pada zona A termasuk tidak ada GSB atau yang disebut GSBnya paling tidak sesuai karena hanya berjarak 1 meter dari jalan ke bangunan
langsung. Seharusnya GSB berjarak minimal setengah dari lebar jalan raya pada zona A tersebut.

TUGAS II: KARAKTERISTIK KAWASAN ALUN-ALUN KOTA BATU

Page 54

B.

Zona B

Gambar 3.12 Pemetaan GSB Kawasan Studi Pada Zona B

TUGAS II: KARAKTERISTIK KAWASAN ALUN-ALUN KOTA BATU

Page 55

C.

Zona C

Gambar 3.13 Pemetaan GSB Kawasan Studi Pada Zona C

TUGAS II: KARAKTERISTIK KAWASAN ALUN-ALUN KOTA BATU

Page 56

D.

Zona D

Gambar 3.14. Pemetaan GSB Kawasan Studi Pada Zona D

TUGAS II: KARAKTERISTIK KAWASAN ALUN-ALUN KOTA BATU

Page 57

3.3.2

Langgam bangunan
Fasad bangunan pada kawasan yang ditinjau cukup beragam. Pada bangunan rumah tinggal kebanyakan masih menggunakan bangunan lama
dengan gaya arsitektur kolonial.Sedangkan pada bangunan dengan fungsi perdagangan dan jasa menerapkan gaya yang gaya sedikit modern dan
bervariasi. Namun ada juga bangunan lama yang berfungsi sebagai perdagangan dan jasa.

Gambar 3.15. Pemetaan Langgam Bangunan Pada Kawasan Studi Alun-alun Kota Batu

TUGAS II: KARAKTERISTIK KAWASAN ALUN-ALUN KOTA BATU

Page 58

Gambar 3.16. Ruko (Gaya Arsitektur Modern)

Gambar 3.17. Rumah Tinggal (Gaya Arsitektur Kolonial)

Gambar 3.18. Bekas Kafe (Gaya Arsitektur Kolonial)

TUGAS II: KARAKTERISTIK KAWASAN ALUN-ALUN KOTA BATU

Page 59

Gambar 3.19. Kantor (Gaya Arsitektur Kolonial)

3.3.3

Skyline bangunan
Skyline atau pada kawasan di alun alun batu ini skyline yang terbentuk adalah merata. Maksudnya merata adalah tidak adanya ketinggian yang
terlalu mencolok dengan bangunan sekitar. Ketinggian bangunan berkisar 6 15 meter. Hal ini dapat di tujukkan dari berbagai zona.
A.

Zona A

Gambar 3.20. Skyline Kawasan Studi Pada Zona A

TUGAS II: KARAKTERISTIK KAWASAN ALUN-ALUN KOTA BATU

Page 60

Pada zona A bagian timur terdapat 13 ruko dan 1 sekolah. Sedangkan pada bagian utara terdapat 1 masjid, 1 mall, dan 1 pos polisi.

Gambar 3.21. Panorama Kawasan Studi Pada Zona A Dari Arah Utara ke Selatan
Ruko pada zona A tingginya bervariasi (10 15 meter).

Gambar 3.22. Masjid yang Terletak Di Kawasan Studi Pada Zona A Bagian Utara

TUGAS II: KARAKTERISTIK KAWASAN ALUN-ALUN KOTA BATU

Page 61

B.

Zona B

Gambar 3.23. Skyline Kawasan Studi Pada Zona B


Pada zona B, bentuk bangunan bervariasi. Pada bagian utara didominasi oleh kantor dan toko. Sedangkan pada bagian selatan didominasi oleh
rumah makan dan komplek ruko.

TUGAS II: KARAKTERISTIK KAWASAN ALUN-ALUN KOTA BATU

Page 62

Gambar 3.24. Rumah Makan yang Terletak Pada Zona B Bagian Selatan

Gambar 3.25. Kawasan Ruko yang Terletak Pada Zona B Bagian Selatan

Gambar 3.26. Salah Satu Kantor yang Terletak pada Zona B Bagian Utara

TUGAS II: KARAKTERISTIK KAWASAN ALUN-ALUN KOTA BATU

Page 63

C.

Zona C

Gambar 3.27. Skyline Kawasan Studi Pada Zona C


Pada zona ini, bangunan bervariasi dengan adanya rumah, ruko, gudang, dan lahan kosong.

TUGAS II: KARAKTERISTIK KAWASAN ALUN-ALUN KOTA BATU

Page 64

Gambar 3.28. Lahan Kosong yang Terletak Pada Zona C Bagian Barat

Gambar 3.29. Bangunan Bekas Belanda yang terletak Pada Lahan Kosong

Pada lahan kosong tersebut terdapat juga sebuah bangunan bekas kolonial Belanda, sempat dijadikan sebuah kafete tapi sekarang hanya menjadi
bangunan kosong.

Gambar 3.30. Panorama Kawasan Studi Pada Zona C Dari Arah Utara Ke Selatan

TUGAS II: KARAKTERISTIK KAWASAN ALUN-ALUN KOTA BATU

Page 65

Gambar 3.31. Panorama Kawasan Studi Pada Zona C Dari Arah Selatan Ke Utara
D.

Zona D

Gambar 3.32. Skyline Kawasan Studi Pada Zona D


Pada ketiga zona tersebut lebih kepada kawasan perdagangan dan tempat makan dikarenakan sekitar 90% dari kawasan adalah ruko.

TUGAS II: KARAKTERISTIK KAWASAN ALUN-ALUN KOTA BATU

Page 66

Gambar 3.33. Panorama Kawasan Studi Pada Zona D Bagian Selatan

Gambar 3.34. Panorama Kawasan Studi Pada Zona D Bagian Timur

Gambar 3.35. Kawasan Studi Pada Zona D Bagian Barat

TUGAS II: KARAKTERISTIK KAWASAN ALUN-ALUN KOTA BATU

Gambar 3.36. Kawasan Studi Pada Zona D Bagian Timur

Page 67

3.4 Sirkulasi dan Parkir


3.4.1 Jalan
A. Jenis dan klasifikasi jalan
1. Klasifikasi Jalan Semeru
i. Jenis jalan
: Jalan Umum
ii. Fungsi jalan
: Jalan Lokal
iii. Peran jalan
: Jalan Primer
iv. Kelas jalan
: Jalan Kelas IIB
2. Klasifikasi Jalan Gajah Mada
i. Jenis jalan
; Jalan Umum
ii. Fungsi jalan
: Jalan Kolektor
iii. Peran jalan
: Jalan Primer
iv. Kelas jalan
: Jalan Kelas IIB
3. Klasifikasi Jalan RA. Kartini
i. Jenis jalan
: Jalan Umum
ii. Fungsi jalan
: Jalan Lokal
iii. Peran jalan
: Jalan Sekunder
iv. Kelas jalan
: Jalan Kelas IIC
4. Klasifikasi Jalan Semeru Sisir Batu
i. Jenis jalan
: Jalan Umum
ii. Fungsi jalan
: Jalan Lokal
iii. Peran jalan
: jalan Sekunder
iv. Kelas jalan
: Jalan Kelas IIC
5. Klasifikasi Jalan Sudiro
i. Jenis jalan
: Jalan Umum
ii. Fungsi jalan
: Jalan Lingkungan
iii. Peran jalan
: Jalan Sekunder
iv. Kelas jalan
: Jalan Kelas III
6. Klasifikasi Jalan Munif
i. Jenis jalan
: Jalan Umum

TUGAS II: KARAKTERISTIK KAWASAN ALUN-ALUN KOTA BATU

Page 68

ii. Fungsi jalan


: Jalan Lingkungan
iii. Peran jalan
: Jalan Sekunder
iv. Kelas jalan
: Jalan Kelas III
7. Klasifikasi terusan Jalan Agus Salim
i. Jenis jalan
: Jalan Umum
ii. Fungsi jalan
: Jalan Lokal
iii. Peran jalan
: Jalan Sekunder
iv. Kelas jalan
: Jalan Kelas IIC
8. Klasifikasi Jalan Diponegoro
i. Jenis jalan
: Jalan Umum
ii. Fungsi jalan
: Jalan Kolektor
iii. Peran jalan
: Jalan Primer
iv. Kelas jalan
: Jalan Kelas IIB
B. Bagian-bagian Jalan
1. Jalan Semeru
i. Satu jalur dengan lebar kurang lebih 12m.
ii. Dua lajur dan satu arah, dengan lebar satu lajur kurang lebih 4.5m
iii. Bahu jalan dengan lebar kurang lebih 2m
iv. Satu arah, sehingga tidak terdapat median jalan.
v. Terdapat pedestrian ways pada sisi barat jalan dengan lebar kurang lebih 2m.
2. Jalan Gajah Mada
i. Satu jalur dengan lebar kurang lebih 15 m.
ii. Dua lajur dan satu arah, dengan lebar satu lajur kurang lebih 5m
iii. Bahu jalan dengan lebar kurang lebih 5m
iv. Satu arah, sehingga tidak terdapat median jalan.
v. Terdapat pedestrian ways pada sisi utara jalan (depan masjid) dengan lebar kurang lebih 4.5m dan di selatan jalan (alun alun)
sekitar 2.5 m.
3. Jalan R.A Kartini
i. Satu jalur dengan lebar kurang lebih 10 m.

TUGAS II: KARAKTERISTIK KAWASAN ALUN-ALUN KOTA BATU

Page 69

4.

5.

6.

7.

ii. Dua lajur dan satu arah, dengan lebar satu lajur kurang lebih 3.5m
iii. Bahu jalan dengan lebar kurang lebih 1.5m
iv. Dua arah, tanpa median jalan.
v. Terdapat pedestrian ways pada kedua sisi jalan selebar 1.5m
Jalan Semeru Sisir Batu
i. Satu jalur dengan lebar kurang lebih 9 m.
ii. Dua lajur dan duaarah, dengan lebar satu lajur kurang lebih 3.5m
iii. Bahu jalan dengan lebar kurang lebih 1.m
iv. Dua arah, tanpa median jalan.
v. Terdapat pedestrian ways pada kedua sisi jalan selebar 1.5m
Jalan Munif
i. Satu jalur dengan lebar kurang lebih 14 m.
ii. Dua lajur dan satu arah, dengan lebar satu lajur kurang lebih 5m
iii. Bahu jalan dengan lebar kurang lebih 4.m
iv. Dua arah, tanpa median jalan.
v. Terdapat pedestrian ways pada sisi selatan jalan selebar 2m dan pada sisi utara jalan selebar 1.5 meter
Terusan Jalan Munif dan Jalan Diponegoro
i. Dua jalur dengan lebar jalur terusan jalan munif selebar 4m dan lebar jalur jalan diponegoro selebar 14m
ii. Tiga lajur dan dua arah, dengan lebar satu lajur kurang lebih 4m
iii. Bahu jalan dengan lebar kurang lebih 4.m pada jalur jalan diponegoro
iv. Median jalan. Berupa RTH selebar 5.5 m
v. Terdapat pedestrian ways pada sisi barat jalan selebar 2m dan pada sisi timur jalan selebar 1.5 meter
Jalan Diponegoro
i. Dua jalur dengan lebar jalur kurang lebih 14m
ii. Dua lajur dan dua arah, dengan lebar satu lajur kurang lebih 3m
iii. Bahu jalan dengan lebar kurang lebih 2m
iv. Dua arah tanpa median jalan
v. Terdapat pedestrian ways pada sisi barat jalan selebar 3m dan pada sisi timur jalan selebar 2.5 meter

TUGAS II: KARAKTERISTIK KAWASAN ALUN-ALUN KOTA BATU

Page 70

Gambar 3.37. Potongan Jalan Pada Kawasan Studi

TUGAS II: KARAKTERISTIK KAWASAN ALUN-ALUN KOTA BATU

Page 71

3.4.2

Sarana Transportasi
Sekitar kawasan batu dilalui oleh kendaraan pribadi dan angkutan umum. Angkutan umum yang melalui kawasan ini antara lain; BB,
BB BS Lyn A dan BS
Lyn B. Angkutan umum BB datang dari arah Jalan Kelud dengan frekuensi angkutan yang melintas di kawa
kawasan
san ini cukup sering. Jika ditinjau dari teori
Steward and David (1980), dalam Warpani (1990), terkait pemilihan pangsa pasar angkutan umum penumpang yang dibagi menjadi beberapa perjalanan,
perja
perjalanan
an kerja. Perjalanan ulangalik merupakan perjalanan di mana penumpang
angkutan umum BB termasuk dalam perjalanan ulangalik dan perjalan
melakukannya setiap hari pada waktu yang tetap dan mempunyai rentang waktu yang tetap dan pasti dalam hal perjalanan dari dan ketempat
tujuan. Sedangkan perjalanan kerja merupakan perjal
perjalanan
anan yang dilakukan dengan maksud bekerja. Setelah menelaah tinjauan di atas, Alun-alun
Kota Batu,
atu, yang menjadi salah satu jalan pada alur yang dilewati oleh angkutan umum BB, sudah cukup mendukung angkutan umum tersebut
tersebu
untuk memenuhi syarat perjalanan ulang
ang alik dan perjalanan kerja. Pasalnya, persebaran pusat keramaian di Alun-alun
A
yang di lewati angkutan
umum BB cukup merata membuat angkutan umum BB tidak berhenti pada satu titik untuk menarik penumpang, sehingga ketepatan waktu
wakt yang
seharusnya dicapai oleh angkutan
an umum ini tidak terhambat di A
Alun-alun.
BS Lyn A dan B juga merupakan salah satu
tu angkutan umum yang melewati Alun-alun,
alun, BS Lyn A datang dari Jalan Terusan Agus Salim sedangkan BS
Lyn B datang dari Lippo
o Batu Plaza. Setelah melewati Alun-alun batu,
atu, angkutan umum BS berbelok ke kiri menuju Jalan Gajah Mada dan berlanjut ke
Jalan Achmad Yani. BS Lyn B sama seperti BS Lyn A, hanya saja setelah berbelok ke Jalan Gajah Mada, BS Lyn B melanjutkan perjalanan
perj
ke arah Jalan
Panglima Sudirman. Alur angkutan umum BS yang melalui Alun-alun
alun ini merupakan alur masuk. Angkutan umum BS sendiri memiliki frekuensi
kemunculan yang cukup sering di Alun-alun.
Sama seperti halnya angkutan umum BB, jika ditinjau dari teori Stewart dan David dalam Warpani, angkutan umum BS juga melakukan perjalanan
ulangalik dan perjalanan kerja.

Gambar 3.38. Sirkulasi Transportasi Kota Pada Kawasan Studi


Jenis angkutan umum yang melalui alun alun tidak sebatas angkutan umum saja. Taksi juga terlihat melaui kawasan ini, hanya saja
sa pada kawasan ini tidak
terdapat pangkalan taksi dan intensitas kemunculannya pun tergolong jarang. Selain angkot dan taksi salah satu angkutan umum yang sering terlihat
berada di kawasan ini ialah bis pariwisata yang secara teknis alun
alun-alun kota batu merupakan area wisata.

TUGAS II: KARAKTERISTIK KAWASAN ALUN


ALUN-ALUN KOTA BATU

Page 72

3.4.3

Parkir
Hampir semua bangunan perdagangan dan jasa menyediakan lahan parker untuk pelanggannya. Hanya luasannya yang berbeda-beda. Beberapa
bangunan pada kawasan alun alun sudah menyediakan lahan parkir yang memadai, beberapa diantaranya mengambil sebagian badan jalan sebagai area
parkir bagi kendaraan roda dua maupun roda empat. Jenis parkir pada kawasan ini kebanyakan menggunakan parkir pararel dengan panduan dari juru
parkir, sementara parkir di beberapa titik jalan berupa parkir seri. Bahkan beberapa kendaraan roda dua yang parkir di kawasan ini terkadang
menggunakan pedestrian sebagai tempat parkir dikarenakan keterbatasan parkir yang ada.

Zona Parkir

Beberapa
bangunan
pada
lokasi
menyediakan tempat parkir pengunjung, namun
beberapa lainya tidak. Sehingga parkir kendaraan
diletakkan pada jalan raya, diamana telah di beri
ruang untuk parkir pada badan jalan

Gambar 3.39. Eksisting Parkir Pada Kawasan Studi

TUGAS II: KARAKTERISTIK KAWASAN ALUN-ALUN KOTA BATU

Page 73

3.5. Vegetasi
3.5.1
Pohon

Gambar 33.40. Titik Pemetaan Pohon Pada kawasan Studi Alun-alun Kota Batu

TUGAS II: KARAKTERISTIK KAWASAN ALUN


ALUN-ALUN KOTA BATU

Page 74

Gambar 3.41. Titik Pohon Kawasan Studi Pada Zona A


Zona A merupakan bagian utara dari Alun
Alun-alun Batu, meliputi Jl.Semeru sampai Jl.Gajah
l.Gajah mada. Terdapat 4 titik vegetasi pada zona A yaitu berupa
pohon, bersifat aktif yang berfungsi ekologi dan fisik. Yang terletak di tepian jalan.

TUGAS II: KARAKTERISTIK KAWASAN ALUN


ALUN-ALUN KOTA BATU

Page 75

Gambar 3.42. Titik Pohon Kawasan Studi Pada Zona B


Zona B merupakan bagian barat dari Alun
lun-alun Kota Batu, meliputi Jl.Kartini.
l.Kartini. Terdapat 10 titik vegetasi pada zona B yaitu berupa pohon, bersifat
aktif yang berfungsi ekologis dan fisik. Yang terletak di tepian jalan.

TUGAS II: KARAKTERISTIK KAWASAN ALUN


ALUN-ALUN KOTA BATU

Page 76

Gambar 3.43. Titik Pohon Kawasan Studi Pada Zona C


Zona C merupakan bagian selatan dari alun
alun-alun
alun Batu, meliputi jl.Semeru sisir batu. Terdapat 11 titik vegetasi pada zona C yaitu berupa pohon
yang bersifat aktif berfungsi ekologi dan fisik. Yang terletak di tepian jalan dan median jalan.

TUGAS II: KARAKTERISTIK KAWASAN ALUN


ALUN-ALUN KOTA BATU

Page 77

Gambar 3.44. Titik Pohon Kawasan Studi Pada Zona D


Zona D merupakan bagian Timur dan tenggara dari A
Alun-alun Kota Batu, meliputi Jl.Diponegoro sampai Jl.Agus
l.Agus Salim .Terdapat 37 titik vegetasi
pada zona D yaitu berupa pohon, bersifat aktif yang berfungsi ekologis dan fisik. Yang terletak di tepian jalan, median jalan dan simpul jalan.

TUGAS II: KARAKTERISTIK KAWASAN ALUN


ALUN-ALUN KOTA BATU

Page 78

Gambar 3.45. Element Softscape Kawasan Studi Pada Zona E


Zona E merupakan alun-alun
alun Batu itu sendiri. Vegetasi yang tersebar merata pada alun
alun-alun yaitu berupa pohon, perdu, rerumputan. Bersifat aktif
yang berfungsi ekologis dan arsitektural.

TUGAS II: KARAKTERISTIK KAWASAN ALUN


ALUN-ALUN KOTA BATU

Page 79

Gambar 3.46. Element Hardscape Kawasan Studi Pada Zona E


Element hardscape pada zona E berupa perkerasan paving block 70% dari zona Alun-Alun. Elemen ini terdapat di dalam zona Alun-Alun dan juga pada
area sekitarnya. Element hardscape digunakan sebagai sirkulasi pejalan kaki pada umumnya dan sebagian kecil digunakan untuk kantung parkir pada slaah
satu sisi Alun-Alun. Selain itu element hardscape digunakan untuk menunjang aktivitas di dalam Alun-Alun, seperti penggunaannya untuk tempat PKL di
dalam Alun-Alun serta untuk area bermain.

TUGAS II: KARAKTERISTIK KAWASAN ALUN-ALUN KOTA BATU

Page 80

3.5.2

Pot tanaman

Gambar 3.47. Pemetaan Titik Pot Tanaman Pada Kawasan Studi

TUGAS II: KARAKTERISTIK KAWASAN ALUN-ALUN KOTA BATU

Page 81

Gambar 3.48. Pemetaan Titik Pot Tanaman Pada Zona B

TUGAS II: KARAKTERISTIK KAWASAN ALUN-ALUN KOTA BATU

Page 82

Gambar 3.49. Pemetaan Titik Pot Tanaman Pada Zona C

TUGAS II: KARAKTERISTIK KAWASAN ALUN-ALUN KOTA BATU

Page 83

Gambar 3.50. Pemetaan Titik Pot Tanaman Pada Zona D

TUGAS II: KARAKTERISTIK KAWASAN ALUN-ALUN KOTA BATU

Page 84

3.6. Street Furniture


3.6.2 Bangunan penunjang

Gambar 3.51. Bangunan Penunjang Aktivitas Pada Kawasan Alun-Alun


3.6.2 Tempat sampah
Tempat sampah pada zonaA terdapat 2 jenis:
A. Tempat sampah 1 memiliki warna merah dan biru dan terdapat tulisan Shining Batu. Tempat sampah ini memiliki ukuran 0,6 x 0,3 x 0,9. Pada
zona A tempat sampah ini terdapat 2 buah yang berada di Jalan Gajah Mada.
B. Tempat sampah 2 berbentuk seperti strawberry, memiliki warna merah dan hijau. Tempat sampah ini memiliki ukuran diameter 50 cm. Pada zona A
tempat sampah ini terdapat 2 buah yang berada di Jalan Semeru.

TUGAS II: KARAKTERISTIK KAWASAN ALUN-ALUN KOTA BATU

Page 85

Gambar 3.52. Pemetaan Tempat Sampah Pada Zona A


Tempat sampah pada zona B terdapat 1 jenis:
A. Tempat sampah 1 memiliki warna merah dan biru dan terdapat tulisan Shining Batu. Tempat sampah ini memiliki ukuran 0,6 x 0,3 x 0,9. Pada
zona B tempat sampah ini terdapat 1 buah yang berada di Jalan Kartini.

Gambar 3.53. Pemetaan Tempat Sampah Pada Zona B


Tempat sampah pada zona C terdapat 1 jenis:
A. Tempat sampah 1 memiliki warna merah dan biru dan terdapat tulisan Shining Batu. Tempat sampah ini memiliki ukuran 0,6 x 0,3 x 0,9. Pada
zona C tempat sampah ini terdapat 1 buah yang berada di Jalan Sudiro.

TUGAS II: KARAKTERISTIK KAWASAN ALUN-ALUN KOTA BATU

Page 86

Gambar 3.54. Pemetaan Tempat Sampah Pada Zona C


Tempat sampah pada zona D terdapat 1 jenis:
A. Tempat sampah 1 memiliki warna merah dan biru dan terdapat tulisan Shining Batu. Tempat sampah ini memiliki ukuran 0,6 x 0,3 x 0,9. Pada
zona D tempat sampah ini terdapat 5 buah yang berada di Jalan Diponegoro dan 1 buah di Jalan Munif.
B. Tempat sampah 2 berbentuk seperti strawberry, memiliki warna merah dan hijau. Tempat sampah ini memiliki ukuran diameter 50 cm. Pada zona D
tempat sampah ini terdapat 1buah yang berada di Jalan Munif.

Gambar 3.55. Pemetaan Tempat Sampah Pada Zona D

TUGAS II: KARAKTERISTIK KAWASAN ALUN-ALUN KOTA BATU

Page 87

3.6.3 Lampu jalan


Lampu jalan pada zona A terdapat 4 jenis:
A. Lampu jalan 2 terdapat 4 buah di Jalan Semeru.
B. Lampu jalan 3 terdapat 1 buah di Jalan Gajah Mada.
C. Lampu jalan 4 terdapat 3 buah di Jalan Gajah Mada.
D. Lampu jalan 7 terdapat 1 buah di Jalan Gajah Mada.

Gambar 3.56. Pemetaan Lampu Jalan Pada Zona A


Lampu jalan pada zona B terdapat lima jenis:
A. Lampu jalan 2 terdapat 6 buah di Jalan Kartini
B. Lampu jalan 3 terdapat 1 buah di Jalan Kartini
C. Lampu jalan 4 terdapat 2 buah di Jalan Kartini
D. Lampu jalan 5 terdapat 10 buah di Jalan Kartini

TUGAS II: KARAKTERISTIK KAWASAN ALUN-ALUN KOTA BATU

Page 88

Gambar 3.57. Pemetaan Lampu Jalan Pada Zona B


Lampu jalan pada zona C terdapat dua jenis:
A. Lampu jalan 2 terdapat 3 buah di JalanSudiro
B. Lampu jalan 6 terdapat 3 buah di JalanSudiro

Gambar 3.58. Pemetaan Lampu Jalan Pada Zona C

TUGAS II: KARAKTERISTIK KAWASAN ALUN-ALUN KOTA BATU

Page 89

Lampu jalan pada zona D terdapat dua jenis:


A. Lampu jalan 2 terdapat 1 buah di Jalan Munifdan 3 buah di Jalan Diponegoro
B. Lampu jalan 8 terdapat 1 buah di Jalan Diponegoro

Gambar 3.59. Pemetaan Lampu Jalan Pada Zona D


Lampu jalan pada zona E terdapat dua jenis:
A. Lampu jalan 1a dan 1b terdapat 20 buah di area Alun-alun Batu
B. Lampu jalan 9 terdapat 1 buah di area Alun-alun Batu

Gambar 3.60. Pemetaan Lampu Jalan Pada Zona E

TUGAS II: KARAKTERISTIK KAWASAN ALUN-ALUN KOTA BATU

Page 90

3.6.4 Tempat duduk


Tempat duduk pada kawasan alun-alun Batu hanya terdapat pada zona E, yaitu zona alun-alun saja dan tidak ditemukan di tempat lainnya
Jumlah tempat duduk yang telah didata adalah sebagai berikut.
A.
B.

Tempat duduk jenis 1 sebanyak 7 buah


Tempat duduk jenis 2 sebanyak 28 buah

Gambar 3.61. Pemetaan Tempat Duduk Pada Zona E

TUGAS II: KARAKTERISTIK KAWASAN ALUN-ALUN KOTA BATU

Page 91

3.7 Activity support


3.7.1 PKL (Pedagang Kaki Lima)
PKL pada zona A
A. PKL mainan terdapat 6 buah di Jalan Gajah Mada
B. PKL makanan terdapat 22 buah di Jalan Gajah Mada

Gambar 3.62. Pemetaan PKL Pada Zona A


PKL pada zona B:
A. PKL mainan terdapat 14 buah di Jalan Kartini
B. PKL makanan terdapat 19 buah di Jalan Kartini

Gambar 3.63. Pemetaan PKL Pada Zona B

TUGAS II: KARAKTERISTIK KAWASAN ALUN-ALUN KOTA BATU

Page 92

PKL pada zona C:


A. PKL mainan terdapat 1 buah di Jalan Sudiro
B. PKL makanan terdapat 34 buah di Jalan Sudiro

Gambar 3.64. Pemetaan PKL Pada Zona C


PKL pada zona D:
A. PKL mainan terdapat 1 buah di Jalan Munif
B. PKL makanan terdapat 6 buah di Jalan Diponegoro

Gambar 3.65. Pemetaan PKL Pada Zona D

TUGAS II: KARAKTERISTIK KAWASAN ALUN-ALUN KOTA BATU

Page 93

PKL pada zona E:


A. PKL mainan terdapat 17 buah di area Alun-alun Batu
B. PKL makanan terdapat 6 buah di area Alun-alun Batu

Gambar 3.66. Pemetaan PKL Pada Zona E


3.8. Signage
3.8.1 Rambu dan Penanda Lokasi
Rambu lalu lintas pada zona A terdapat dua jenis:
A. Penunjuk arah terdapat 1 buah di Jalan Semeru
B. Rambu penanda pejalan kaki terdapat 4 buah di Jalan Gajah Mada dan 3 buah di Jalan Diponegoro

Gambar 3.67. Pemetaan Rambu dan Penanda Lokasi Pada Zona A

TUGAS II: KARAKTERISTIK KAWASAN ALUN-ALUN KOTA BATU

Page 94

Rambu lalu lintas pada zona B terdapat dua jenis:


A. Penanda jalan 2 terdapat 1 buah di Jalan Kartini
B. Rambu lalu lintas

Gambar 3.68. Pemetaan Rambu dan Penanda Lokasi Pada Zona B


Rambu lalu lintas pada zona C terdapat dua jenis:
A. Rambu pejalan kaki terdapat 1 buah di Jalan Sudiro
B. Penunjuk arah terdapat 1 buah di Jalan Sudiro
C. Penanda jalan 2 terdapat 1 buah di Jalan Sudiro

Gambar 3.69. Pemetaan Rambu dan Penanda Lokasi Pada Zona C

TUGAS II: KARAKTERISTIK KAWASAN ALUN-ALUN KOTA BATU

Page 95

Rambu lalu lintaspadazona D terdapat dua jenis:


A. Penanda jalan 1 terdapat 1 buah di Jalan Munif
B. Rambu 2 terdapat 2 buah di Jalan Munif

Gambar 3.70. Pemetaan Rambu dan Penanda Lokasi Pada Zona D


Rambu lalu lintas pada zona E terdapat dua jenis:
A. Rambu lampu merah terdapat 1 buah di Jalan Gajah Mada
B. Penanda dilarang parkir terdapat 10 buah di area Alun-alun Batu

Gambar 3.71. Pemetaan Rambu dan Penanda Lokasi Pada Zona E

TUGAS II: KARAKTERISTIK KAWASAN ALUN-ALUN KOTA BATU

Page 96

3.8.2 Reklame
Reklame pada zona A terdapat 6 jenis:
A. Reklame 1 terdapat 1 buah di Jalan Semeru
B. Reklame 2 terdapat 5 buah di Jalan Gajah Mada
C. LCD terdapat 1 buah di Jalan Gajah Mada
D. Bendera 1 terdapat 21 buah di Jalan Semeru
E. Bendera 4 terdapat 4 buah di Jalan Gajah Mada dan 4 buah di Jalan Semeru
F. Bendera 5 terdapat 12 buah di bunderan pertigaan Jalan Gajah Mada, Jalan Semeru, dan Jalan Diponegoro.

Gambar 3.72. Pemetaan Reklame Pada Zona A

TUGAS II: KARAKTERISTIK KAWASAN ALUN-ALUN KOTA BATU

Page 97

Reklame padazona B danzona C tidak ada.

Gambar 3.73. Pemetaan Rambu dan Penanda Lokasi Pada Zona B dan C

TUGAS II: KARAKTERISTIK KAWASAN ALUN-ALUN KOTA BATU

Page 98

Reklame pada zona D terdapat 5 jenis:


A. Reklame 1 terdapat 1 buah di Jalan Diponegoro
B. Reklame 2 terdapat 2 buah di Jalan Munif dan 1 buah di Jalan Diponegoro
C. Bendera 1 terdapat 9 buah di Jalan Diponegoro
D. Bendera 3 terdapat 2 buah di Jalan Diponegoro
E. Bendera 4 terdapat 3 buah di Jalan Diponegoro

Gambar 3.74. Pemetaan Reklame Lokasi Pada Zona D

TUGAS II: KARAKTERISTIK KAWASAN ALUN-ALUN KOTA BATU

Page 99

Reklame pada zona E terdapat 1 jenis:


A. LCD terdapat 1 buah yang menghadap jalan Diponegoro

SIGNAGE ZONA E
Gambar 3.75. Pemetaan Reklame Pada Zona E
3.9

Aspek Non Fisik


Aspek non fisik adalah segala aspek yang berhubungan dengan aktivitas manusia, baik dari segi ekonomi, budaya, ataupun pendidikan. Aspek non
fisik sangat berkaitan dengan titik-titik ataupun pusat keramaian yang ada pada daerah tersebut. Untuk kawasan Alun-alun Kota Batu, aspek non fisik
dapat dikategorikan menjadi lima buah zona sebagai berikut.

3.9.1 Aktivitas pada Zona A


Pada Zona A ini terdapat dua jalan, yaitu Jalan Semeru yang mengarah kearah utara selatan dan Jalan Gajah Mada yang mengarah kearah barat timur.
Jalan Semeru
A. Aktivitas sosial
Pada Jalan Semeru ini hanya ada satu jalur kendaraan yang menuju kearah alun-alun. Banyak kendaraan bermotor yang melewati jalan ini, baik
itu kendaraan beroda dua, beroda empat, atau lebih. Dalam waktu satu menit ada 25 mobil, 60 motor, dan 3 pejalan kaki.

Gambar 3.76. Aktivitas Sosial di Jl. Semeru

TUGAS II: KARAKTERISTIK KAWASAN ALUN-ALUN KOTA BATU

Page 100

B.

Aktivitas ekonomi
Kegiatan ekonomi pada jalan ini berupa kegiatan jual beli dikanan kiri jalan. Tidak ada kegiatan yang melibatkan tukang parkir pada jalan ini.
Jika ingin memarkir kendaraan dapat langsung diparkir dibagian bahu jalan.

Gambar 3.77. Aktivitas Ekonomi di Jl. Semeru


C.

Aktivitas pendidikan
Terdapat siswa-siswi yang sering melewati jalan ini, suasana menjadi ramai pada jam-jam berangkat ataupun pulang sekolah.

Jalan Gajah Mada


A. Aktivitas sosial
Pada Jalan Gajah Mada hanya ada satu jalur kendaraan yang menuju kearah barat. Banyak kendaraan bermotor dan pejalan kaki yang melewati
jalan ini. Dalam waktu satu menit ada 19 mobil, 55 motor,dan 12 pejalan kaki. Selain itu, pada jalan ini juga ada zebracross yang dapat digunakan
oleh pejalan kaki untuk menyeberang dari jalan ke arah alun-alun atau sebaliknya.

Gambar 3.78. Aktivitas Sosial di Jl.Gajah Mada


B.

Aktivitas ekonomi
Pada jalan ini terdapat aktivitas ekonomi berupa parkir dan juga orang yang berjualan di kaki lima. Pedagang kaki lima tersebut menjual
makanan dan minuman ringan, ada juga yang menjual makanan berat berupa nasi. Selain itu pedagang kaki lima juga ada yang berjualan pernak-

TUGAS II: KARAKTERISTIK KAWASAN ALUN-ALUN KOTA BATU

Page 101

pernik. Aktivitas yang dilakukan orang-orang disana cenderung singkat, mereka hanya menggunakan waktunya untuk sekedar membeli apa yang
mereka inginkan dan hanya memarkir kendaraan mereka.

Gambar 3.79. Aktivitas Ekonomi di Jl. Gajah Mada

C.

Aktivitas religi
Pada hari Jumat di jalan ini diramaikan oleh muslim yang menunaikan ibadah sholat Jumat, jalanan di tutup sementara untuk kelangsungan
kegiatan ibadah tersebut.

Gambar 3.80. Aktivitas Religi di Jl. Gajah Mada

TUGAS II: KARAKTERISTIK KAWASAN ALUN-ALUN KOTA BATU

Page 102

3.9.2 Aktivitas pada Zona B

Gambar 3.81 Aktivitas di Zona B

TUGAS II: KARAKTERISTIK KAWASAN ALUN-ALUN KOTA BATU

Page 103

Zona B ditandai pada jalur yang bewarna hijau zona ini terdapat pada alun-alun bagian barat.
A.

Aktivitas sosial

Garis putus-putus merah merupakan alur masuk kendaraan dari Jalan Gajahmada
Gambar 3.82. Alur Pergerakan Kendaraan di Jalan Kartini
Pada jalan ini terdapat beberapa kendaraan yang parkir on street. Kendaraan yang melewati jalan ini dari arah Jalan Kartini terdapat 10 motor,
5 mobil dan 1 pengendara sepeda rata-rata tiap menit.

Garis putus-putus ungu menunjukkan alur kendaraan keluar ke arah jalan Semeru Sisir Batu

TUGAS II: KARAKTERISTIK KAWASAN ALUN-ALUN KOTA BATU

Page 104

Pada jalan ini terdapat beberapa kendaraan yang parkir on street. Kendaraan yang melewati jalan ini dari arah jalan Gajahmada terdapat 19
motor dan 4 mobil 1 pengendara rata-rata tiap menit
B.

Aktivitas ekonomi
Pada jalan ini terdapat pedagang kaki lima yang berjejer dibagian kanan jalan jika kita berjalan dari alun-alun. Terdapat juga restaurant yang

Gambar 3.83. Aktivitas Ekonomi Pada Zona B


C.

3.9.3

Aktivitas pendidikan
Terdapat aktivitas pendidikan yaitu adanya Taman Kanak- kanak yang berada di depan kantor pegadaian, jalan ini akan ramai saat jam masuk dan
pulang sekolah yaitu sekitar pukul 8.00 dan 10.00 WIB
Aktivitas pada Zona C

Pada Zona C ini terdapat dua jalan, yaitu jalan Semeru Sisir Batu yang berada di sebelah barat alun-alun dan Jalan Sudiro yang berada pada selatan
jalan alun-alun.
Jalan Sudiro
A. Aktivitas sosial
Pada jalan ini terdapat dua jalur kendaraan. Banyak kendaraan yang melintasi jalan ini. Untuk arah yang menjauhi alun-alun, dalam satu menit
ada 14 motor, 1 mobil, dan 3 pejalan kaki, sedangkan untuk arah yang menuju alun-alun ada 26 motor dan 2 mobil.

TUGAS II: KARAKTERISTIK KAWASAN ALUN-ALUN KOTA BATU

Page 105

Gambar 3.84. Aktivitas Sosial pada Zona C


B.

Aktivitas ekonomi
Pada jalan ini terdapat kegiatan ekonomi berupa orang berjualan dengan menggunakan gerobak atau sebagai pedagang kaki lima. Mereka
menjual makanan, minuman, dan mainan. Masyarakat biasanya menggunakan waktu mereka selama kurang lebih 15 menit untuk menikmati apa
yang mereka beli. Pada jalan ini juga ada kendaraan yang memarkir mobilnya, meski jalan ini tidak diperuntukkan sebagai tempat parkir. Selain itu,
pada jalan ini juga ada lahan yang kosong, pada malam hari, lahan tersebut digunakan sebagai tempat bermain oleh anak-anak yang berbentuk
seperti pasar malam.

Gambar 3.85. Aktivitas Ekonomi pada Zona C

3.9.4

Aktivitas pada Zona D

Pada Zona D ini terdapat dua jalan, yaitu Jalan Diponegoro yang menghubungkan kota Batu dengan Kota Malang dan Jalan Munif yang berada di
selatan alun-alun.
Jalan Diponegoro

TUGAS II: KARAKTERISTIK KAWASAN ALUN-ALUN KOTA BATU

Page 106

A.

Aktivitas sosial
Jalan Diponegoro ini merupakan jalan penghubung antara Kota Batu dengan Kota Malang, sehingga arus kendaraan pada jalan ini cukup padat.
Dalam satu menit ada 54 motor dan 19 mobil yang melewati jalan ini pada salah satu sisi jalan. Jarang ada pejalan kaki yang melewati jalan ini,
meski ada beberapa yang menggunakannya , tetapi kebanyakan orang hanya melintas saja menggunakan kendaraan bermotor.

Gambar 3.86. Aktivitas Sosial Pada Zona D


B.

Aktivitas ekonomi
Pada jalan ini terdapat aktivitas ekonomi berupa tempat parkir yang berada pada jalan (onstreet) disepanjang jalan. Selain itu terdapat rukoruko yang merupakan kegiatan ekonomi pada daerah tersebut, ketika malam hari, terdapat pedagang kaki lima yang berjualan diteras toko-toko
yang sudah tutup.

Gambar 3.87. Aktivitas Ekonomi Pada Zona D


Jalan Munif
A. Aktivitas sosial
Jalan Munif ini merupakan jalan satu lajur kendaraan, arahnya dari barat menuju ke timur. Dalam satu menit terdapat 24 motor, 2 mobil, 6
pejalan kaki, dan 1 pedagang yang melintas, tetapi ada pengguna yang melanggar arus, dalam satu menit terdapat 16 motor dan 1 mobil yang
melanggar.

TUGAS II: KARAKTERISTIK KAWASAN ALUN-ALUN KOTA BATU

Page 107

Gambar 3.88. Aktivitas Sosial Pada Zona D


B.

Aktivitas ekonomi
Pada jalan ini terdapat aktivitas ekonomi berupa parkir, pedagang kaki lima, dan permainan anak. Parkir ini berada di sebelah kanan jalan,
berada didepan ruko-ruko, parkir ini khusus untuk kendaraan beroda dua. Pedagang kaki lima pada jalan ini kebanyakan berada pada ujung jalan
dibagian barat zona, pedagang kaki lima ini menjual makanan dan minuman. Sedangkan untuk permainan anak terdapat di kanan jalan.

Gambar 3.89. Aktivitas Ekonomi Pada Zona D


3.9.4
A.

Aktivitas pada Zona E


Aktivitas sosial
Di dalam alun-alun kota Batu Terdapat beberapa aktivitas keramaian di dalam alun-alun seperti area bianglala, area taman dengan beberapa
tempat duduk yang nyaman serta playground untuk bermain anak-anak. Kebanyakan masyarakat yang berkunjung di alun alun kota Batu
merupakan penduduk sekitar kota Malang. Terdapat juga beberapa wisatawan dari luar kota. Banyak aktivitas yang dilakukan masyarakat disini
seperti bermain dan berkumpul bersama teman, keluarga. Fasilitas yang terapatpada alun-alun kota Batu ini juga nyaman seperti adanya smoking
area dan toilet yang bersih.

TUGAS II: KARAKTERISTIK KAWASAN ALUN-ALUN KOTA BATU

Page 108

B.

Gambar 3.90. Aktivitas Sosial Pada Zona E


Aktivitas ekonomi
Dari segi ekonomi terdapat mainan bianglala yang dikelola oleh pemerintah setempat untuk meliahat pemandangan kota Batu dari atas serta
menambah fasilitas rekreasi di dalam alun-alun. Untuk naik ke bianglala dipungut biaya sebesar 3.000 rupiah. Terdapat juga beberapa PKL yang
berjualan di pedestrian alun-alun yaitu penjual makanan dan mainan.

Gambar 3.91. Aktivitas Ekonomi Pada Zona E

TUGAS II: KARAKTERISTIK KAWASAN ALUN-ALUN KOTA BATU

Page 109

C.

Aktivitas budaya
Pada hari tertentu terdapat festival di sekitar alun-alun sehingga sangat ramai pengunjung.

Gambar 3.92. Aktivitas Budaya Pada Zona E


3.10 Perancangan dan Perencanaan Kota menurut Roger Trancik
3.10.1 Teori Place
Kawasan Alun-Alun Batu merupakan kawasan yang karakteristiknya termasuk kawasan perdagangan. Pada kawasan ini terdapat pula beberapa
bangunan penunjang seperti Masjid yang terletak dekat dengan Plaza Batu, area perkantoran yag berupa pemadam kebakaran, penggadaian, PU Cipta
Karya, serta beberapa bangunan sekolah seperti play ground dan MTs. Semua massa tersebar merata pada kawasan Alun-Alun.

Gambar 3.93 Teori Place pada kawasan Alun-Alun

TUGAS II: KARAKTERISTIK KAWASAN ALUN-ALUN KOTA BATU

Page 110

3.10.2

Teori Figure Ground


Teori figure ground adalah sebuah teori yang menunjukkan solid-void lingkungan ataupun kawasan. Pada kawasan Alun-Alun, void lebih banyak
dijumpai dibandingkan dengan kehadiran solid. Solid pada kawasan ini berupa kumpulan berbagai massa bangunan sedangkan void pada kawasan
berupa jalan, pedestrian way, taman, dan tempat-tempat yang belum dijadikan bangunan.

Gambar 3.94. Teori Figure Ground pada Kawasan Alun-ALun.

3.10.3

Teori Lingkage
Teori ini menyatakan tentang hubungan antarmassa bangunan yang membentuk sebuah pola kawasan. Pada kawasan ini, lingkage yag terlihat
adalah lingkage visual karena secara garis besar pola-pola jalan telah memberikan sebuah bentuk pada kawasan ini yaitu pola radial. Selain itu, elemen
garis yang terlihat adalah gabungan antara garis vertical dan garis horizontal.

Gambar 3.95. Teori lingkage pada Kawasan Alun-ALun

TUGAS II: KARAKTERISTIK KAWASAN ALUN-ALUN KOTA BATU

Page 111

3.11 Citra Kawasan


2.11.1 Landmark
Landmark pada kota Batu berupa daerah Alun-Alun yang terletak di tengah-tengah kota. Alun-Alun difungsikan sebgaai area bersama. Alun-Alun
ini juga memiliki sebuah patung apel sebagai ciri kota Batu.

Gambar 3.96. Landmark Kota Batu


2.11.2 Nodes
Nodes merupakan sebuah persimpangan yang akan membelah jalan. Nodes pada kawasan Alun-Alun terletak pada keempat sisinya. Nodes ini
dapat berupa jalan kendaraan ataupun jalan pedestrian.

Gambar 3.97. Nodes Pada Kawasan Alun-Alun Kota Batu

TUGAS II: KARAKTERISTIK KAWASAN ALUN-ALUN KOTA BATU

Page 112

BAB IV
DESAIN KAWASAN STUDI
4.1

Analisis Permasalahan
Analisis permasalahan yang akan dibahas akan mencangkupi kelima zona sesuai dengan pembagian zona yag telah disepakati bersama oleh
kelompok. Analisis permasalahan yangterjadi adalah sebagai berikut.

4.1.1 Zona A
Zona A adalah sebuah koridor jalan yang merupakan jalan arteri karena jalan tersebut menghubungkan antarkota. Permasalahan utama yang
terdapat pada koridor jalan arteri adalah masalah keamanan dan jalan pedestrian. Hal tersebut disebabkan oleh kendaraan besar yang melintasi jalan
dapat membahayakan pengguna jalan dan juga pengguna trotoar sehingga perlu adanya penanganan khusus pada jalan arteri tersebut. Beberapa
elemen fisik yang berada di jalan arteri dan perlu untuk dibahas yang akan menunjang keselamatan pengguna jalan dan trotoar adalah sebagai berikut.
Masalah aspek fisik yang berpengaruh pada issue kawasan adalah:
A. Lampu jalan
Lampu jalan sangat diperlukan oleh pedestrian untuk berjalan dengan aman pada zona tersebut. Namun pada kondisi eksisting terdapat lampu
jalan sekitar 4 buah pada jalan Semeru yang jaraknya sekitar 50 meter pada tiap sisinya. Sedangkan pada jalan Gajah Mada, peletakkan lampu jalan
berjarak setiap 25 meter. Hal ini tidak sesuai karena jarak dan jumlah lampu jalan yang ada di dua sisi jalan terlalu jauh ,sehingga akan mengurangi
kualitas cahaya pada pedestrian way pada malam hari
B.

Reklame
Reklame yang terdapat pada zona tersebut terlalu banyak terutama pada bendera-bendera yang terdapat di sisi jalan Semeru dan jalan Gajah
Mada yang dianggap tidak terlalu penting karena merupakan bendera iklan. Beberapa bendera juga menunjukkan daerah kelurahan Sisir, namun
jumlahnya terlalu banyak. Banyaknya bendera tersebut akan mengganggu pengguna jalan baik dari kualitas visual maupun citra kawasan yang
muncul .

TUGAS II: KARAKTERISTIK KAWASAN ALUN-ALUN KOTA BATU

Page 113

Gambar 4.1. Bendera terdapat di Zona A


C.

Pedestrian Way
Pada sisi jalan Semeru tidak ada pedestrian way yang dapat mengamankan pejalan kaki dari kendaraan yang berlalu lalang. Sedangkan pada
jalan Gajah Mada, pedestrian way yang terdapat di depan Masjid serta Plaza Batu dijadikan sebagai tempat PKL berjualan sehingga pedestian tidak
berfungsi dengan baik sebagai tempat untuk aktivitas pejalan kaki. Ukuran pedestrian way pada jalan Semeru adalah 1,6 meter, sedangkan pada
jalan Gajah Mada adalah 4,5 meter.

D.

GSB Bangunan
GSB bangunan berfungsi sebagai pengaman penduduk berupa aturan jarak antara bangunan dan jalan yang bertempat tinggal di sisi koridor
jalan tersebut. GSB eksisting rata-rata pada sisi kanan jalan Semeru berjarak 3 meter dan beberapa kavling tidak memiliki GSB. Pada sisi kiri jalan,
GSB sudah memenuhi yaitu berjarak 10 meter sedangkan GSB pada jalan Gajah Mada berjarak 7 sampai 8 meter.

E.

Tata guna lahan


Pada jalan Semeru sisi kanan menurut RTRW Kota Batu tahun 2008-2028 merupakan kawasan pemukiman, sedangkan pada kondisi eksisiting
terdapat sekolah MTs pada sela-sela ruko dan pemukiman. Selain itu pada sisi kiri jalan terdapat kantor kelurahan yang merupakan kawasan
perdagangan dan jasa. Hal ini tidak sesuai dengan RTRW Kota Batu. Pada jalan Gajah Mada sudah sesuai dengan RTRW.

TUGAS II: KARAKTERISTIK KAWASAN ALUN-ALUN KOTA BATU

Page 114

4.1.2 Zona B
Zona B adalah sebuah koridor jalan yang merupakan jalan arteri karena jalan tersebut adalah jalan penghubung antarkota yang bernama Jl. kartini.
Permasalahan utama yang terdapat pada koridor jalan ini adalah masalah pedestrian way, zonasi parkir dan pusat keramaian.
A.

B.

C.

D.

E.

Pedestrian way
pada zona ini terdapat vegetasi yang menghalangi jalur pedestrian way ,posisinya berada ditengah-tengah. Selain itu juga terdapat para PKL
yang menempati dan menggunakan area pedestrian way sehingga menggangu kenyamanan aktivitas pejalan kaki disana. Hal ini menyebabkan
pejalan kaki merasa tidak aman dan tidak nyaman untuk tetap berjalan pada pedestrian way.
Lampu jalan
Pada koridor jalan ini terdapat 12 buah lampu pada bagian selatan dan 5 buah lampu pada bagian utara. Namun 5 buah lampu pada bagian
selatan tersebut tidak berfungsi dengan baik serta ada lampu yang jaraknya terlalu dekat . Sedangkan pada sisi utara kondisi seluruh lampu tidak
berfungsi dan sebagian rusak , sehingga pada sisi jalan tersebut tidak ada penerangan yang memadai.
Tata guna lahan
Tataguna lahan untuk sisi utara sudah sesuai dengan fungsinya yaitu diperuntukan untuk perdagangan dan jasa. pada kondisi eksisiting ,lahan
digunakan sebagai area pemerintahan dan gudang barang. Namun pada bagian selatan tidak sesuai dengan RTRW Kota batu yakni difungsikan
sebagai area perdagangan (BTC) yang seharusnya sebagai daerah pemukiman.
Tempat sampah
Tempat sampah pada koridor jalan ini hanya terdapat 1 buah dan letaknya berada di ujung jalan, sehingga tempat sampah jumlahnya kurang.
tempat sampah yang minim ini dapat membentuk perilaku masyarakat membuang sampah tidak pada tempatnya sehingga diperlukan tempat
sampah yang lebih banyak dengan persebaran yang merata.
Parkir
Pada malam hari ,jalan ini sering difungsikan sebagai area parkir on street . hal ini berakibat pada sirkulasi jalan tersebut karena lebar jalan yang
sempit dan berpotensi menimbulkan kemacetan.

TUGAS II: KARAKTERISTIK KAWASAN ALUN-ALUN KOTA BATU

Page 115

4.1.3 Zona C
Zona C adalah sebuah koridor jalan yang berada di sisi selatan kawasan alun alun kota Batu yakni bernama Jl.Sudiro . Permasalahan utama yang
terdapat pada koridor jalan arteri adalah pedestrian way, pusat keramaian, dan juga area parkir.
A.

B.

C.

D.

E.

F.

Pedestrian way
Pada lokasi ini ,Pedestrian way difungsikan sebagai area tambahan untuk berdagang dan kesan yang ditimbulkan yaitu pedestrian way adalah
milik bangunan yang berada di depannya sehingga tidak adanya jalan khusus untuk pedestrian . Hal ini sangat mengganggu aktivitas pedestrian
sehingga harus berjalan kaki di jalur kendaraan meskipun jalur tersebut tidak ramai.
Tata guna lahan
Tata guna lahan menurut RTRW Kota Batu 2008-2028 untuk koridor ini adalah area pedagangan sedangkan untuk keadaan eksistingnya koridor
jalan ini memiliki beberapa kavling yang difungsikan untuk pemukiman dan sebagian lagi difungsikan sebagai area perdagangan dan jasa.
Lampu
Lampu jalan pada koridor jalan ini berjumlah 6 buah dengan perulangan yang teratur yaitu sekitar 25 meter. Namun lampu jalan hanya terdapat
pada salah satu sisi jalan yaitu sisi bagian timur . Jumlah lampu jalan dan persebarannya kurang merata pada koridor jalan ini.
Tempat sampah
Jumlah tempat sampah pada koridor jalan ini hanya berjumlah 1 buah dan terletak pada salah satu sisi jalan. Kurangnya tempat sampah dapat
meningkatkan ketidakpedulian penduduk ataupun pengguna jalan terhadap lingkungan sekitar .
Penanda toko
Penanda toko untuk koridor jalan ini tergolong banyak karena untuk satu unit PKL ataupun pertokoan terdapat lebih dari dua penanda. Selain
itu, penanda yang digunakan tidak beraturan sehingga peletakannya tidak teratur dan mengganggu kenyamanan visual pengguna jalan.
GSB Bangunan
GSB bangunan pada area ini tidak merata. Ada beberapa bangunan (rumah) yang memiliki GSB yang sesuai dengan peraturan yaitu 4,5 meter
sedangkan beberapa bangunan tidak memiliki GSB yang memadai karena letakknya sangat dekat dengan trotoar. Hal ini menyebabkan lingkungan
terasa kumuh dan tidak beraturan serta kesannya tidak terbina.

TUGAS II: KARAKTERISTIK KAWASAN ALUN-ALUN KOTA BATU

Page 116

4.1.4 Zona D
Zona D adalah zona perdagangan dan salah satu jalannya (jalan Diponegoro) merupakan jalan arteri. Hal ini menyebabkan diperlukannya
perlakuan khusus untuk perdagangan dan jasa yang tedapat pada jalan arteri. Beberapa masalah yang dimungkinkan untuk segera ditanggapi dalam hal
pengamanan penguna jalan adalah sebagai berikut.
A.

B.

C.

D.

E.

GSB Bangunan
GSB bangunan pada jalan Diponegoro tidak terlihat karena semua ruko sangat dekat dengan trotoar sedangkan pada bangunan ruko ataupun
tempat makan di jalan Munif berjarak sekitar 1 sampai 2 meter dari drainase jalan. GSB pada jalan Diponegoro tidak sesuai yang seharusnya
berjarak 6 meter , sedangkan pada jalan munif seharusnya 2 sampai 3 meter. GSB.
Reklame
Reklame yang menjadi masalah adalah bendera-bendera yang terdapat pada kedua sisi jalan Diponegoro sehingga jalan tersebut terlihat ramai.
Ramainya jalan akan mengurangi kualitas estetika kota secara visual sehingga bendera-bendera tersebut setidaknya dipasang dengan jumlah yang
sesuai saja.
Tempat sampah
Pesebaran tempat sampah pada jalan Diponegoro tidak merata karena hanya terdapat 1 buah tempat sampah pada setiap sisi dengan jarak
yang agak berjauhan. Hal ini tidak sesuai dengan peletakan tempat sampah menurut standar sehingga dapat diperkirakan perilakumanusia yang
membuang sampah sembarangan pada keudian hari.
Lampu jalan
Lampu jalan pada kedua jalan tidak memadai karena jumlahnya yang sangat sedikit sekali karena hanya terletak pada salah satu sisi saja. Hal ini
sebaiknya diganti saja dengan standar yang telah ada.
GSB
Pada zona D yang merupakan jalan arteri, ruko-ruko terletak di dekat trotoar sehingga tidak adanya jarak aman untuk ruko-ruko tesebut. Hal ini
menyebabkan ruko-ruko tersebut tidak aman terhadap kendaraan yang berlalu lintas pada jalan tersebut.

4.1.5 Zona E
Zona E adalah area alun-alun yang merupakan tempat wisata yang sering dikunjungi oleh masyarakat setempat baik dari warga Batu maupun
Malang, bahkan tak jarang orang dari luar kota juga berkunjung di tempat ini. Alun-alun Kota Wisata Batu menjadi daya tarik bagi kota Batu dan kota
Malang sehingga banyak orang yang berkunjung disana. Yang menarik dari alun-alun disini adalah adanya permainan bianglala dan air mancur yang
ditengahnya terdapat sclupture yang berbentuk buah apel besar. Di alun-alun ada lagi fasilitas umum lainnya yaitu playground, pusat informasi, toilet,
dan shelter.

TUGAS II: KARAKTERISTIK KAWASAN ALUN-ALUN KOTA BATU

Page 117

Sirkulasi di dalam alun-alun sudah tertata dengan rapi sehingga tidak membuat pengunjung bingung untuk menyusuri alun-alun. Di dalam alunalun juga terdapat shelter yang dijadikan sebagai smoking area sehingga tidak mengganggu bagi yang tidak merokok untuk menikmati alun-alun.
Vegetasinya sudah sangat tertata rapi yang membuat alun-alun menjadi semakin indah dan asri. Street furniture di dalam alun-alun sendiri juga sudah
tersebar secara merata baik berupa tempat sampah, lampu, kursi, dan signage.
Tetapi terdapat satu area tidak dilengkapi oleh street furniture seperti yang disebutkan sebelumnya. Sehingga membuat area ini tidak menjadikan
pusat keramaian di dalam alun-alun. Sebelumnya area ini adalah area permaianan mobil kecil tetapi saat ini sudah tidak ada lagi. Oleh karena itu pusat
keramaian di dalam alun-alun menjadi tidak merata penyebarannya karena terdapat area yang tidak terdapat fasilitas umumnya.
Masalah di dalam alun-alun selain pusat keramaian yang tidak tersebara secara merata yaitu pedagang kaki lima (PKL) yang berada di tepi alunalun. Seharusnya PKL punya kawasan sendiri untuk perdagangan karena alun-alun adalah kawasan wisata bukan perdagangan. Tempat PKL berjualan
adalah di trotoar sehingga menghalangi pejalan kaki yang berlalu-lalang.

AREA MOBIL KECIL

Gambar 4.2. Zonasi daerah Alun-Alun

TUGAS II: KARAKTERISTIK KAWASAN ALUN-ALUN KOTA BATU

Page 118

4.2
4.2.2

Rekomendasi Desain
Isu kawasan studi
Menurut laporan rencana RTRW kota Batu tahun 2008-2028 :

A.

Pengembangan sistem sirkulasi manusia untuk kegiatan komersial dikembangkan pada kawasan alun-alun Kota Batu yakni Jalan Diponegoro, hingga
Jalan Gajamada yang dikembangkan sebagai pusat perdagangan dan jasa berupa perbaikan sarana Pedestrian ways Disekitar alun alun kota batu

B.

Rencana pengembangan kawasan Perdagangan dan jasa regional di alun alun kota berupa Pusat Perbelanjaan dan Niaga (toko + pasar + bank +
kantor) dan Perdagangan sektor informal berupa pedagang kaki lima yaitu rencana pedagang kaki lima di kawasan alun alun kota yang terletak di
tiga titik yaitu BTC yang berada di jalan kartini ,rumah tua yang berada di jalan sudiro serta yang berada di Jl. Sisir
(keputusan walikota batu no 18 tahun 2011 tentang kawasan bebas pedagang kaki lima )

C.

Kawasan peruntukan perdagangan dan jasa di Kota Batu Dilengkapi dengan sarana kelengkapan antara lain tempat parkir umum, bank/ATM, pos
polisi,pos pemadam kebakaran, kantor pos pembantu, tempat ibadah, dan sarana penunjang kegiatan komersial serta kegiatan pengunjung;

4.2.1

Rekomendasi zona kawasan


Karena pada konteksnya alun alun kota batu adalah kawasan
perdagangan jasa dan juga kedepannya akan menjadi pusat dari sentra
perdagangan regional Pada kawasan alun alun direkomendasikan untuk
menambah area parkir baik itu on street maupun off street yang tersebar
merata pada kawasan alun alun Batu, Menertibkan PKL dengan
menetapkan area PKL center yang di gabung dengan ruang bersama berupa
taman dan tempat parkir pada Jl. Sudiro ,perbaikan pedestrian ways pada
semua area kawasan alun alun guna menunjang aktivitas perdagangan dan
jasa.

Gambar 4.3. Rekomendai Kawasan Alun-Alun

TUGAS II: KARAKTERISTIK KAWASAN ALUN-ALUN KOTA BATU

Page 119

A.

Parkir
1. On street
Kawasan alun alun batu yang akan dibuat parkir on street langsung di jalan ada 5 spot yaitu sisi selatan dan utara jl.Munif, Jl. Sudirodan
Jl. Diponegoro karena keterbatasan lahan parker pada kawasan alun alun yang nantinya akan di jadikan kawasan pusat perdagangan parkir on
street adalah solusi tanggap penataan parkir di kawasan ini.

Gambar 4.4. Rekomendasi Parkir On Street

TUGAS II: KARAKTERISTIK KAWASAN ALUN


ALUN-ALUN KOTA BATU

Page 120

2.

off street
Dalam penataan parkir di kawasan alun alun kota batu, kawasan Jl. Kartini , Jl. Gajah mada dan Jl. Sudiro akan di gunakan sebagai area
parkir off street . Adanya parkir off street ini diharapkan sirkulasi kendaraan dapat tertata dengan teratur.

Gambar 4.5. Rekomendasi Parkir Off Street


B. Pkl
Area PKL akan dipusatkan pada JL. Kartini dan digabungkan dengan taman bersama serta tempat parkir . Ini akan membuat landmark kota
yaitu alun alun tertata rapi dari PKL dengan begitu tujuan alun alun di pusatkan sebagai pusat perdagangan akan tercapai akibat tertata rapinya
kawasan ini. Kawasan PKL diatur mengelilingi area ditengahnya
ditengahnya. Kawasan PKL dilengkapi juga dengan ruang bersama statis dan dinamis. Ruang
bersama dinamis ditandai dengan adanya taman shelter pohon yang berbentuk segi lima pada site plan dan ruang bersama statis ditandai dengan
fasilitas tempat duduk dan meja .

Gambar 4.6. Site plan kawasan PKL

TUGAS II: KARAKTERISTIK KAWASAN ALUN


ALUN-ALUN KOTA BATU

Page 121

Gambar 4.7. Rekomendasi area PKL

TUGAS II: KARAKTERISTIK KAWASAN ALUN


ALUN-ALUN KOTA BATU

Page 122

C. Pedestrian ways
Di kawasan alun alun kota, semua bagian jala nmeliputi JL semeru, Jl. Gajahmada, JL. Kartini, Jl. Sudiro ,Jl.semerusisirbatu , Jl. Munif, dan
jalan Diponegoro akan diberi
beri pedestrian ways agar lebih aktif member wadah bagi pejalan kaki yang nyaman dengan segala kelengkapannya seperti
street furniture, lampu jalan, tempat sampah
sampah, dan taman jalan. Dengan begitu tujuan dari Kawasan alun alun yaitu pengembangan sector
perdagangan, jasa, dan pariwisata dapat tercapai.

Gambar 4.8. Rekomendasi jalan pedestrian

TUGAS II: KARAKTERISTIK KAWASAN ALUN


ALUN-ALUN KOTA BATU

Page 123

PENUTUP
4.1

4.2

Kesimpulan
Kawasan Alun-alun Kota Batu merupakan kawasan perdagangan yang memiliki beberapa daerah pemukiman. Pada kawasan ini masih banyak
ditemukannya beberapa kekurangan yang terlihat dari peletakan area PKL (Pedagang Kaki Lima), pelanggaran bangunan terhadap GSB (garis Sempadan
Bangunan), serta pelanggaran dan peletakan area parkir yang sangat berantakan. Area pedestrian yang seharusnya difungsikan untuk pejalan kaki
digunakan sebagai tempat usaha dan juga ada beberapa pedestrian yang ditumbuhi pohon sehingga mengganggu pejalan kaki yang menggunakannya.
Namun beberapa area pada kawasan ini sudah baik dari segi penyediaan fasilitas jalan, seperti zona alun-alun yang telah menyediakan tempat sampah,
lampu jalan, bahkan beberapa area yang digunakan sebagai tempat merokok sehingga pengguna yang lain dapat menikmati suasana alun-alun.
Rekomendasi yang diberikan berdasarkan isu kawasan studi yaitu kawasan perdagangan dan jasa yang berupa pengumpulan zona PKL pada sebuah
tempat, penambaan tempat parkir kendaraan, dan sebagainya.
Saran
Pada kawasan Alun-alun Kota Batu sebaikya perlu adanya penataan zona utuk zona PKL serta zona parkir agar peletakkannya teratur sehingga
kawasan tersebut tertata lebih rapi. Selain itu, area pedestrian sebaiknya jangan digunakan untuk peningkatan kondisi ekonomi tetapi lebih
memperhatikan kenyamanan bersama sebagai pengguna jalan.

TUGAS II: KARAKTERISTIK KAWASAN ALUN-ALUN KOTA BATU

Page 124

DAFTAR PUSTAKA
Bintarto. 1989. Interaksi Desa-Kota. Jakarta: Ghalia Indonesia.
Budihardjo, Eko. 1983. Arsitektur dan Kota di Indonesia. Bandung: Penerbit Alumni
Cole, Lawrence E. 1953. Human Behavior, Psychology as Bio Social Science. New York: World Book Company.
Catanese, Anthony J & James C Snyder. 1988. Urban Design. New York: Mc.Graw Hill Book.
Departemen Dalam Negeri RI. 1985. National Urban Development Strategy. Jakarta.
Hatt & Reis. 1966. Cities and Society. New York: The Free Press.
Hariyono, Paulus. 2007. Sosiologi Kota Untuk Arsitek. Jakarta: PT. Bumi Aksara.
Lang Jon. 1987. Creating Architectural Theory. New York: Reinhold Company Inc.
Lynch, Kevin. 1960. The Image of The City. Cambridge-Mass: The MIT Press.
Mangunwijaya. YB. 1985. Teknologi dan Dampak Kebudayaannya. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Mulyandari, Hesti. 2010. Pengantar Arsitektur Kota. Yogyakarta: CV. Andi Offset.
Pembangunan Daerah, Dirjend. 1989. Peraturan Menteri Dalam Negeri Tentang Pedoman Penyusunan Rencana Kota. Jakarta
Peraturan daerah kota Malang No. 1 tahun 2012.
Perpu No 26 Tahun 2007 tentang pedoman umum RTBL
Sarlito. WS. 1992. Psikologi Lingkungan. Jakarta: PT. Gramedia Widiasarana Indonesia.
Schoorl, JW. 1980. Modernisasi, Pengantar Sosiologi Pembangunan Negara-negara Berkembang. Jakarta: PT. Gramedia.
Shirvani, Hamid. 1985. The Urban Design Process. New York: Van Nostrand Reinhold
UU No. 13 tahun 1980 tentang jalan
UU No. 28 tahun 2002
Yunus, Hadi Sabari. 1993. Struktur Tata Ruang Kota. Yogyakarta: Penerbit Pustaka Pelajar.
Zahnd, Markus. 1999. Perancangan Kota Secara Terpadu: Teori Perancangan Kota dan Penerapannya. Yogyakarta: Penerbit Kanisius & Soegijapranata
University Press.
www.wikipedia.com
www.google.com
http://eprints.undip.ac.id/347/1/edy_darmawan.pdf
www.designoffurniture.com
www.liputan6.com
www.antarfoto.com

TUGAS II: KARAKTERISTIK KAWASAN ALUN-ALUN KOTA BATU

Page 125

Beri Nilai