Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PRAKTIKUM GENETIKA

Buta Warna

Disusun oleh :

Bowo Prakoso
(13304244019)
Pendidikan Biologi C

JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2015

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Buta warna merupakan suatu penyakit yang disebabkan karena kelainan sejak lahir atau
karena penggunaan obat yang berlebihan. Penyakit ini mengakibatkan penderitanya tidak dapat
mengenali warna, baik warna tertentu (parsial) maupun semua warna (total). Penyakit buta
warna merupakan penyakit keturunan, umumnya diderita oleh laki-laki sedangkan pada wanita
hanya membawa gen buta warna atau resesif.
Untuk mengetahui apakah seseorang menyandang buta warna atau tidak, dapat dilakukan
test dengan menggunakan suatu buku test buta warna, buku tersebut dikenal dengan ISHIHARA
TEST yang terdiri dari plat atau lembaran yang didalamnya terdapat titik-titik dengan berbagai
warna dan ukuran. Titik tersebut membentuk lingkaran dan membentuk semacam pola atau
angka serta warna dari titik tersebut dibuat sedemikian rupa sehingga orang buta warna tidak
akan melihat perbedaan warna seperti yang dilihat oleh orang normal. (Jurnal Teknologi
Informasi DINAMIK Volume 16, No.2, Juli 2011 : 160-170).
Pada praktikum kali ini juga menggunakan buku test buta warna ISHIHARA TEST yang
bertujuan untuk mengetahui cara melakukan test buta warna. Setelah dilakukanya praktikum ini
diharapkan mampu mengetahui cara melakukan test buta warna dan mengetahui apakah
praktikan mengalami buta warna atau tidak.
B. Tujuan
1. Mengetahui cara melakukan pengujian test buta warna

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Dasar Teori
Salah satu gangguan yang terjadi pada mata adalah buta warna. Buta warna merupakan
suatu penyakit yang disebabkan karena kelainan sejak lahir atau karena penggunaan obat yang
berlebihan. Penyakit ini mengakibatkan penderitanya tidak dapat mengenali warna, baik warna
tertentu (parsial) maupun semua warna (total).
Buta warna adalah suatu kelainan yang disebabkan ketidak mampuan sel-sel kerucut mata
untuk menangkap suatu spektrum warna tertentu yang disebabkan oleh faktor genetis.
Normalnya, sel kerucut (cone) di retina mata mempunyai spektrum terhadap tiga warna dasar,
yaitu merah, hijau dan biru. Pada orang yang mempunyai sel-sel kerucut yang sensitif untuk tiga
jenis warna ini, maka ia dikatakan normal. Pada orang tertentu, mungkin hanya ada dua atau
bahkan satu atau tidak ada sel kerucut yang sensitif terhadap warna-warna tersebut, pada kasus
ini orang disebut buta warna. Jadi buta warna biasanya menyangkut warna merah, biru atau
hijau.
Buta warna merupakan kelainan genetika yang diturunkan dari orang tua kepada anaknya,
kelainan ini sering juga disebut sex linked, karena kelainan ini dibawa oleh kromosom X. Artinya
kromosom Y tidak membawa faktor buta warna. Hal inilah yang membedakan antara penderita
buta warna pada laki-laki dan perempuan (Agusta Sofiar, Tony Mulia dan M. Sidik. JURNAL
ILMIAH ELITE ELEKTRO, VOL. 3, NO. 1, MARET 2012: 15-2).
Suleman Rondonuwu (1989) menyatakan bahwa buta warna, ialah orang yang tidak bisa
melihat sejenis cahaya dan dibedakan atas buta warna merah dan buta warna hijau. Penyakit ini
jarang dijumpai pada perempuan. Perempuan normal memiliki dua macam genotip, yaitu X CXC
dan XCXc. Yang pertama homozigot dominan dan yang kedua heterozigot atau pembawa (carier).
Perempuan buta warna hanya satu macam genotip X c Xc. Laki-laki normal hanya satu macam
genotip XC Y, sedangkan laki-laki buta warna Xc Y.
Apabila seorang perempuan normal menikah dengan laki-laki butawarna, maka semua
anak mereka akan normal. Tetapi sebaliknya, seorang perempuan butawarna yang menikah
dengan laki-laki normal, maka semua anak laki-laki akan butawarna. Pada kasus yang terakhir

tampak bahwa sifat keturunan butawarna diwariskan kepada keturunan laki-laki, dan sifat yang
dimiliki ayah diwariskan kepada keturunan perempuan (Suryo, 1996).

Ada tiga jenis gangguan penglihatan terhadap warna, yaitu:


1. Monochromacy adalah keadaan dimana seseorang hanya memiliki sebuah sel pigmen
cones atau tidak berfungsinya sel cones. Monochromacy ada dua jenis, jenis pertama
yaitu rod monochromacy adalah ketidakmampuan dalam membedakan warna sebagai
akibat dari tidak berfungsinya semua cones retina. Penderita rod monochromacy tidak
dapat membedakan warna sehingga yang terlihat hanya hitam, putih dan abu-abu. Jenis
kedua yaitu Cone monochromacy adalah tipe monochromacy disebabkan oleh tidak
berfungsinya dua sel cones. Penderita cone monochromacy masih dapat melihat warna
tertentu, karena masih memiliki satu sel cones yang berfungsi.
2. Dichromacy adalah jenis buta warna dimana salah satu dari tiga sel cone tidak ada atau
tidak berfungsi. Akibat dari disfungsi salah satu sel pigmen pada cone, seseorang yang
menderita dikromatis akan mengalami gangguan penglihatan terhadap warna-warna
tertentu. Dichromacy dibagi menjadi tiga bagian berdasarkan sel pigmen yang rusak,
yakni :
a. Protanopia adalah salah satu tipe dichromacy yang disebabkan oleh tidak adanya
photoreseptor retina merah. Pada penderita protanopia, penglihatan terhadap
warna merah tidak ada.
b. Deutanopia adalah gangguan penglihatan terhadap warna yang disebabkan tidak
adanya photoreseptor retina hijau.
c. Tritanopia adalah keadaan dimana seseorang tidak memiliki short-wavelength
cone. Seseorang yang menderita tritanopia akan mengalami kesulitan dalam
membedakan warna biru dan kuning dari spektrum cahaya tampak
3. Anomalous trichromacy adalah gangguan penglihatan warna yang dapat disebabkan oleh
faktor keturunan atau kerusakan pada mata setelah dewasa. .(Agusta Sofiar, Tony Mulia
dan M. Sidik. JURNAL ILMIAH ELITE ELEKTRO, VOL. 3, NO. 1, MARET 2012: 1522).

BAB III
METODOLOGI
A. Alat dan bahan
1. Alat tulis
2. Manusia
3. Buku test buta warna (Ishiharas Tests)
B. Cara kerja
Menguji masing-masing praktikan untuk melihat kemampuannya membedakan warna
dengan menulis apa yang terlihat pada buku test buta warna
Mencocokan hasil angka maupun pola yang teramati dengan angka atau pola yang
sebenarnya
Menghitung kesalahan yang dibuat dalam test tersebut

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
No.

Angka/pola yang

Angka/pola yang

teramati

sebenarnya

1.

12

12

2.

3.

4.

29

29

5.

74

74

6.

7.

45

45

8.

9.

Pola

Pola

10.

16

16

11.

Pola

Pola

12.

35

35

13.

96

96

14.

pola

pola

B. Pembahasan
Pada praktikum kali ini yaitu mengenai buta warna yang bertujuan untuk mengetahui cara
melakukan pengujian test buta warna. Test buta warna ini dapat dilakukan dengan menggunakan
buku test buta warna atau biasa disebut Ishiharas test.
Ishiharas test terdiri dari plat atau lembaran yang didalamnya terdapat titik-titik dengan
berbagai warna dan ukuran. Titik tersebut membentuk lingkaran dan membentuk semacam pola
atau angka, warna dari titik-titik tersebut dibuat sedemikian rupa sehingga orang buta warna
tidak akan melihat perbedaan warna seperti yang dilihat oleh orang normal.
Penyakit buta warna adalah suatu keadaan dimana seseorang tidak dapat membedakan
warna tertentu yang bisa dibedakan oleh orang dengan mata normal. Buta warna merupakan
penyakit keturunan yang terpaut seks. Buta warna ini disebabkan oleh gen resesif c (dari kata :

colour blind) yang terpaut kromosom-X. Artinya kromosom Y tidak membawa faktor buta
warna. Seorang wanita terdapat istilah 'pembawa sifat' hal ini menujukkan ada satu kromosom X
yang membawa sifat buta warna. Wanita dengan pembawa sifat, secara fisik tidak mengalami
kelalinan buta warna sebagaimana wanita normal pada umumnya. Tetapi wanita dengan
pembawa sifat berpotensi menurunkan faktor buta warna kepada anaknya.
Dalam praktikum kali ini masing-masing praktikan diuji untuk melihat kemampuannya
membedakan warna dengan menuliskan apa yang terlihat pada buku test buta warna pada kertas
yang telah disediakan. Selanjutnya hasil yang telah diperoleh berupa angka atau gambar
dicocokkan dengan angka atau gambar yang sebenarnya. Kemudian menghitung berapa persen
kesalahan yang dibuat dalam test tersebut.
Pada buku Ishiharas test, penderita buta warna merah-hijau akan membaca angka yang
berbeda dengan seharusnya. Contohnya yaitu :
Pada No. 2 mata normal akan membaca 8 sedangkan untuk penderita buta warna merahhijau akan membaca 3.
Pada No. 3 mata normal akan membaca 5 sedangkan untuk penderita buta warna merahhijau akan membaca 2.
Pada No. 4 mata normal akan membaca 29 sedangkan untuk penderita buta warna
merah-hijau akan membaca 70.
Pada No. 5 mata normal akan membaca 74 sedangkan untuk penderita buta warna
merah-hijau akan membaca 21.
Pada No. 9 mata normal sulit membacanya sedangkan untuk penderita buta warna merahhijau akan membaca 2.
Pada buku ishiharaes test ini juga dapat digunakan untuk mengetahui penderita protanopia
dan deuteranopia. Hal ini dapat diketahui dari plat-plat sebagai berikut :
Pada No. 12 mata normal akan membaca 35 tetapi penderita protanopia akan membaca
5 dan deuteranopia akan membaca 3.
Pada No 13 mata normal akan membaca 96 tetapi penderita protanopia akan membaca
6 dan deuteranopia akan membaca 9.
Berdasarkan hasil pengujian dengan Ishiharas test tersebut, terlihat bahwa hasil yang
didapat semua jawaban sesuai dengan angka atau pola yang seharusnya sehingga presentase
kesalahanya yaitu 0%. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa praktikan tidak menderita buta
warna.

Hal ini diperkuat dengan melihat riwayat keturunan dari keluarga, prakrikan tidak

mempunyai keturunan buta warna sehingga keturunan praktikan tidak memiliki gen resesif ( c )
yang menyebabkan buta warna. Hal tersebut sesuai dengan teori yang telah disebutkan diatas,

bahwasannya penyakit butawarna merupakan penyakit menurun yang terpaut kromosom kelamin
yang disebabkan oleh gen resesif (c) yang terpaut pada kromosom X yang dilambangkan dengan
XC. Sehingga apabila dalam silsilah keluarganya tidak ada yang menderita penyakit butawarna,
otomatis tidak akan terkena penyakit butawarna karena tidak ada keturunan yang membawa sifat
tersebut.

BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Buta warna merupakan kelainan mata yang menyebabkan seseorang tidak dapat
membedakan warna-warna dasar tertentu. Kelainan buta warna ini dapat diketahui dengan
menggunakan metode Ishihara test, dimana di dalamnya berisi plate-plate yang membentuk
angka dan pola dimana penderita buta warna tidak dapat melihat angka dan pola tersebut seperti
pada orang normal. Metode Ishihara test dapat digunakan untuk mengetahui mata normal, buta
warna parsial, dan buta warna total.
B. Saran
Agar dapat menghasilkan data yang tepat, ada beberapa saran yang penulis anjurkan,
diantaranya yaitu dalam praktikum ini pastikan plat-plat pada buku Ishiharas test masih dalam
kondisi baik, selain itu pencahayaan ruangan praktikum juga harus baik agar praktikan dapat
melihat dengan jelas.

DISKUSI
1. Seorang wanita tidak mungkin menderita buta warna, hal tersebut karena gen buta warna
disebabkan oleh gen resesif/pembawa yang terkait pada kromosom X. Sehingga jika
seorang wanita bergenotip XC Xc/heterozigot menikah dengan laki-laki bergenotip Xc maka
akan menghasilkan keturunan bergenotip: XC X: Xc Y : Xc Y : Xc Xc dengan fenotip
perempuan carrier(pembawa sifat) 25% : laki-laki normal 25% : perempuan buta warna
25% : laki-laki buta warna 25%.
2. Buta warna merupakan sifat yang terpaut kelamin, dan dibawa oleh genosom. Buta warna
merupakan salah satu sifat resesif yang menempel pada kromosom X. Laki-laki hanya
memiliki satu kromosom X, oleh karena itu apabila seorang laki-laki memiliki kromosom
X yang resesif, maka laki-laki tersebut akan menunjukkan sifat buta warna. Berbeda
dengan perempuan yang mempunyai dua kromosom X. Bila salah satunya memiliki sifat
resesif, maka akan ditutupi oleh kromosom X lainnya.
3. Suami istri yang normal bisa menghasilkan keturunan yang buta warna karena mungkin
saja ibu normal tetapi bersifat carier (pembawa). Jika keturunan tersebut berjenis kelamin
laki-laki maka kemungkinan anak laki-laki menderita buta warna adalah 50%. Keturunan
yang berjenis kelamin perempuan tidak mungkin menderita buta warna karena memiliki
dua buah sepasang kromosom X dan kemungkinan akan bersifat carier.
4. Kemungkinan kedua orang tuanya menderita buta warna
P

XcXc

X XcY

Buta warna
G
F

buta warna

XC, Xc

Xc, Y

XcXc (), buta warna


XcXc (), buta warna
XcY (), buta warna
XcY (), buta warna

atau
Ayah menderita buta warna sedangkan ibu adalah carier (pembawa) sifat buta warna.
P

XCXc X
Normal carier

XcY
buta warna

XC, Xc

Xc, Y

XCXc (), normal carier


XcXc (), buta warna
XCY (), normal
XcY

(), buta warna

5. Maksudnya adalah perkawinan yang menyilangkan sifat yang dibawa oleh suatu individu jantan
atau betina ke keturunan yang berjenis kelamin yang berbeda. Misal suatu sifat yang dibawa oleh
individu betina akan diturunkan kepada keturunannya yang berjenis kelamin jantan, atau
sebaliknya.

DAFTAR PUSTAKA

Agusta Sofiar, Tony Mulia dan M. Sidik. Jurnal ilmiah elite elektro, Volume 3, No. 1, Maret
2012: 15-22.
Ishihara S. 1994. Ishiharas test for Colour-Blindness. Japan : kanehara & C.Ltd
Murti hari dan Rina Candra Noor Santi. Jurnal Teknologi Informasi Dinamik Volume 16, No.2,
Juli 2011 : 160170.
Rondonuwu, Suleman. 1989. Dasar-dasar genetika.Jakarta: Erlangga.
Suryo.1996. Genetika.Yogyakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal
Pendidikan Tinggi Proyek Pendidikan Tenaga Akademik.
Widianingsih, Ratri, dkk. 2010. Aplikasi Tes Buta Warna Dengan Metode Ishihara Berbasis
Komputer. Jurnal Informatika Mulawarman. Vol.5 No 1 Februari 2010

Anda mungkin juga menyukai