Anda di halaman 1dari 2

Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam

Ringkasan artikel:
Cakupan sejarah pemikiran ekonomi Islam dalam artikel ini adalah mengkaji bagaimana pemikiran para
ilmuwan Islam sepanjang sejarah, dan membahas sejarah ekonomi Islam yang terjadi secara aktual.
Sejarah telah membuktikan bahwa ilmuwan muslim pada era klasik telah banyak menulis dan mengkaji
ekonomi Islam tidak secara normatif, tetapi juga secara empiris dan ilmiah dengan metodologi yang
sistematis.
Ahmad, Khursid membagi perkembangan pemikiran ekonomi Islam kontemporer menjadi empat fase:
Fase Pertama
Pada pertengahan 1930-an banyak muncul analisis analisis masalah ekonomi sosial dari sudut syariah
Islam sebagai wujud kepedulian teradap dunia Islam yang secara umum dikuasai oleh negara-negara Barat.
Meskipun kebanyakan analisis ini berasal dari para ulama yang tidak memiliki pendidikan formal bidang
ekonomi, namun langkah mereka telah membuka kesadaran baru tentang perlunya perhatian yang serius
terhadap masalah sosial ekonomi. Berbeda dengan para modernis dan apologist yang umum berupaya
untuk menginterpretasikan ajaran Islam sedemikian rupa sehingga sesuai dengan praktek ekonomi
modern, para ulama ini secara berani justru menegaskan kembali posisi Islam sebagai comperehensive way
of life, dan mendorong untuk suatu perombakan tatanan ekonomi dunia yang ada menuju tatatan yang
lebih Islami. Meskipun pemikiran-pemikiran ini masih banyak membahas hal-hal elementer dan dalam
lingkup yang terbatas, namun telah menandai sebuah kebangkitan pemikiran Islam modern.
Fase Kedua
Pada sekitar tahun 1970-an banyak ekonom muslim yang berjuang keras mengembangkan aspek tertentu
dari ilmu ekonomi Islam , terutama dari sisi moneter. Mereka banyak mengetengahkan pembahasan
tentang bunga dan riba dan mulai menawarkan alternatif pengganti bunga. Kerangka kerja suatu
perbankang yang bebas bunga mendapat bahasan yang komperehensif. Berbagai pertemuan internasional
untuk pembahasan ekonomi Islam diselenggarakan untuk mempercepat akselerasi penmgembangan dan
memperdalam cakupan bahasan ekonomi Islam. Konferensi internasional pertama diadakan di Mekkah,
Saudi Arabia pada tahun 1976, disusul Konferensi Internasional tentang Islam dan Tata Ekonomi
Internasional Baru di London, Inggris pada tahun 1977, dua seminar Ilmu Ekonomi Fiskal dan Moneter
Islam di Mekkah (1978) dan di Islamabad, Pakistan (1981), Konferensi tentang Perbankan Islam dan
Strategi Kerjasama Ekonomi di Baden-baden Jerman Barat (1982), serta Konferensi Internasional Kedua
tentang Ekonomi Islam di Islamabad (1983). Pertemuan yang terakhir ini secara rutin tetap berlangsung
(2001) dengan tuan rumah negara-negara Islam. Sejak itu banyak karya tulis yang dihasilkan dalam wujud
makalah, jurnal ilmiah hingga buku, baik
Fase Ketiga
Perkembangan pemikiran ekonomi Islam selama satu setengah dekade terakhir menandai fase ketiga di
mana banyak berisi upaya-upaya praktikal-operasional bagi realisasi perbankan tanpa bunga, baik di sektor
publik maupun swasta. Bank-bank tanpa bunga banyak didirikan, baik di negara-negara muslim maupun
di negara-negara non muslim, misalnya di Eropa dan Amerika. Dengan berbagai kelemahan dan
kekurangan atas konsep bank tanpa bunga yang digagas oleh para ekonom muslim dan karenannya terus
disempurnakan- langkah ini menunjukkan kekuatan riil dan keniscayaan dari sebuah teori keuangan tanpa
bunga.
Fase Keempat
Pada saat ini perkembangan ekonomi Islam sedang menuju kepada sebuah pembahasan yang lebih integral
dan komperehensif terhadap teori dan praktek ekonomi Islam. Adanya berbagai keguncangan dalam
sistem ekonomi konvensional, yaitu kapitalisme dan sosialisme, menjadi sebuah tantangan sekaligus
peluang bagi implementasi ekonomi Islam. Dari sisi teori dan konsep yang terpenting adalah membangun
sebuah kerangka ilmu ekonomi yang menyeluruh dan menyatu, baik dari aspek mikro maupun makro
ekonomi. Berbagai metode ilmiah yang baku banyak diaplikasikan di sini. Dari sisi praktikal adalah
bagaimana kinerja lembaga ekonomi yang telah ada (misalnya bank tanpa bunga) dapat berjalan baik
dengan menunjukkan segala keunggulannya, serta perlunya upaya yang berkesinambungan untuk
mengaplikasikan teori ekonomi Islam. Hal-hal inilah yang banyak menjadi perhatian dari para ekonom
muslim saat ini.
Perkembangan keilmuan konomi Islam berkembang mengalami proses yang berbeda. Secara umum kita
bisa membaginya menjadi beberapa periode, yaitu:
Periode Pertama/Fondasi (Masa awal Islam 450 H / 1058 M)
Pada periode ini banyak sarjana muslim yang pernah hidup bersama para sahabat Rosulullah dan para
tabiin sehingga dapat memperoleh referensi ajaran Islam yang akurat. Seperti Zayd bin Ali (120 H / 798
M), Abu Yusuf (182/798), Muhammad Bin Hasan al Shaybani (189/804), Abu Ubayd (224/838) Al Kindi
(260/873), Junayd Baghdadi (297/910), Ibnu Miskwayh (421/1030), dll.
Periode Kedua (450 850 H / 1058 1446 M)
Pemikiran ekonomi pada masa ini banyak dilatarbelakangi oleh menjamurnya korupsi dan dekadensi
moral, serta melebarnya kesenjangan antara golongan miskin dan kaya, meskipun secara umum kondisi
perekonomian masyarakat Islam berada dalam taraf kemakmuran. Terdapat pemikir-pemikir besar yang

karyanya banyak dijadikan rujukan hingga kini, misalnya Al Ghazali (451-505 H / 1055-1111 M), Nasiruddin
Tutsi (485 H /1093 M), Ibnu Taimyah (661-728 H / 1263-1328 M), Ibnu Khaldun (732-808 H/ 1332-1404
M), Al Maghrizi (767-846 H / 1364-1442 M), Abu Ishaq Al Shatibi (1388 M), Abdul Qadir Jaelani (1169 M),
Ibnul Qayyim (1350 M), dll.
Periode Ketiga (850 1350 H / 1446 1932 M)
Dalam periode ketiga ini kejayaan pemikiran, dan juga dalam bidang lainnya, dari umat Islam sebenarnya
telah mengalami penurunan. Namun demikian, terdapat beberapa pemikiran ekonomi yang berbobot
selama dua ratus tahun terakhir, Seperti Shah Waliullah (1114-1176 M / 1703-1762 M), Muhammad bin
Abdul Wahab (1206 H / 1787 M), Jamaluddin al Afghani (1294 M / 1897 M), Muhammad Abduh (1320 H /
1905 M), Ibnu Nujaym (1562 M), dll
Periode Kontemporer (1930 sekarang)
Era tahun 1930-an merupakan masa kebangkitan kembali intelektualitas di dunia Islam. Kemerdekaan
negara-negara muslim dari kolonialisme Barat turut mendorong semangat para sarjana muslim dalam
mengembangkan pemikirannya Zarqa (1992) mengklasifikasikan kontributor pemikiran ekonomi berasal
dari: (1) ahli syariah Islam, (2) ahli ekonomi konvensional, dan (3) ahli syariah Islam sekaligus ekonomi
konvensional.
Dari kajian puluhan doktor dan profesor ekonomi Islam yang ahli dalam ekonomi konvensional dsn
syariah, menemukan bahwa teori ekonomi Islam sebenarnya bukan ilmu baru yang diturunkan secara
mendasar dari teori ekonomi modern yang berkembang saat ini. Fakta historis menunjukkan bahwa, para
ilmuwan Islam zaman klasik adalah penemu dan peletak dasar semua bidang keilmuan termasuk ilmu
ekonomi.