Anda di halaman 1dari 1

NAFSUL MUTMAINNAH

Oleh: Jum’an

Sulitnya menggaruk punggung diantara dua tulang belikat. Tangan kiri


tak sampai tangan kananpun tak sampai. Lewat atas sulit lewat
bawahpun sulit. Padahal dekat belikat sering berasa gatal karena sulit
dan jarang saya membersihkannya. Saya tidak pernah melihatnya
sebersih apa sekotor apa. Kalau saja Tuhan tidak menyertakan rasa
sakit pada luka, mungkin punggung ini sudah berlubang atau
membusuk tanpa ketahuan.

Dalam lamunan saya yang keanak-kanakan selalu muncul keinginan


untuk melihat diri sendiri arah belakang. Tuhan telah menciptakan dua
permukaan berbeda untuk kita yang tidak pernah saling bertemu
selamanya, melekat satu sama lain. Apa manfaatnya Tuhan
menyembunyikan punggung dari mata? Mungkin sekedar untuk
menunjukkan kelemahan manusia yang tidak akan pernah tahu
rahasia dirinya. Antara punggung dan dada tempat terlindungnya
semua instalasi kehidupan, mengapa saya sebagai pemiliknya hanya
diizinkan melihat yang sebelah saja? Saya bangga dapat menepuk
dada tetapi dengan punggung, menggaruknyapun saya mengalami
kesulitan.

Sebenarnya saya bukan hanya ingin melihat penampilan saya dari


belakang, tetapi juga bagian penting saya yang lain yang tak
terjangkau oleh panca indera. Yang selama ini kurang terawat, yang
perlu digaruk karena selalu gatal dan yang harus dijaga agar tidak
berlubang dan membusuk. Saya selalu berusaha untuk membujuknya
agar mau mendekat dan tinggal bersama tetapi tidak pernah ada
hasilnya. Kadang-kadang saya menemukannya dalam keadaan
terlunta-lunta, dekil, berkudis dan lapar. Lau saya rawat, saya pelihara
dan saya obati kurap dan kudisnya. Tetapi dia tidak pernah mau tingal
lama. Begitu merasa dirinya pulih, diam-diam ia menyelinap pergi,
kembali mengembara tak tentu arah. Begitu berulang-ulang terjadi.

Seandainya saja dia tidak selalu gelisah dan mau berjinak-jinak tentu
saya akan merasa senang. Saya ingin memanggilnya dengan nama
nafsul mutmainnah. Terakhir saya berjumpa saya katakan kepadanya
bahwa pada saatnya nanti, saya harus pergi sedangkan dada dan
punggung saya tidak bisa ikut, jadi dialah yang akan menjadi saya
satu-satunya. Karena itu saya minta agar jangan selalu berkelana
mengembara kemana-mana. Kalau ia tidak betah tinggal dan selalu
pergi, lama-lama pulangpun tidak lega dan tidak rela. Dan kalau
pulang dengan tidak rela, Dia pun tidak rela menerima kepulangannya,
yaitu kepulangan saya. Ya ayuhan nafsul mutmainnah, kapankah
engkau menjadi saya?