Anda di halaman 1dari 120

ANALISA PERCEPATAN GETARAN TANAH MAKSIMUM

SERTA HUBUNGAN PERCEPATAN GETARAN TANAH DENGAN
INTENSITAS DI PULAU JAWA MENGGUNAKAN METODE
GUTENBERG RICHTER DAN METODE MUPHY O’BREIN

SKRIPSI

Disusun Oleh :

Rahmat Nurhidayat
115.040.011

JURUSAN TEKNIK GEOFISIKA
FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN”
YOGYAKARTA
2011

HALAMAN PENGESAHAN

ANALISA PERCEPATAN GETARAN TANAH MAKSIMUM SERTA
HUBUNGAN PERCEPATAN GETARAN TANAH DENGAN INTENSITAS
DI PULAU JAWA MENGGUNAKAN METODE GUTENBERG RICHTER
DAN METODE MURPHY O’BREIN

SKRIPSI

Diajukan sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh
Gelar Sarjana Teknik Program S-1
Progam Studi Teknik Geofisika Fakultas Teknologi Mineral
Universitas Pembangunan Nasional “Veteran”
Yogyakarta
Oleh
Rahmat Nurhidayat
115.040.011

Yogyakarta, 13 April 2011
Telah diperiksa dan disetujui oleh:
Pembimbing I

Pembimbing II

Ir. Agus Santoso, M.Si
19530816.198803.1.001

Nia Maharani, S.Si, M.Si
280101002891
Mengetahui

Ketua
Jurusan Teknik Geofisika
Fakultas Teknologi Mineral
UPN “Veteran” Yogyakarta

Dr. Ir. H. suharsono, MT
19620923.199003.1001

ii

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT, karena atas rahmat dan
hidayah-Nya penulis diberi kesehatan serta kemampuan dalam menyelesaikan
skripsi ini sesuai dengan yang diharapkan. Atas tersusunnya Skirpsi ini penulis
mengucapkan terimakasih terimakasih kepada :
1. Bapak Dr.Ir.H. Suharsono, MT selaku Ketua Prodi Teknik Geofisika UPN
“Veteran” Yogyakarta.
2. Bapak Ir. Agus Santoso, Msi selaku dosen pembimbing I dalam
penyusunan skripsi ini yang banyak memberikan masukan dan saran
kepada penulis
3. Ibu Nia Maharani, Msi selaku dosen pembimbing II dalam penyusunan
skripsi ini yang sudah meluangkan waktu serta memberikan masukan,
saran dan motivasi kepada penulis.
4. Seluruh Dosen Prodi Teknik Geofisika UPN “Veteran” Yogyakarta yang
telah banyak membagi ilmunya kepada penulis selama dibangku kuliah.
5. Staff Tata Usaha Prodi Teknik Geofisika UPN “Veteran” Yogyakarta yang
telah banyak membantu penulis dalam urusan administrasi.
6. Teman-teman Geofisika 2004 Apin,Visi, Satria, Dedi, Banria, Memet,
Rico, Babe, dan temen-temen GF04 lainnya yang telah banyak
memberikan motivasi,dan dukungannya
7. Semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan Skripsi ini baik
secara langsung maupun tidak langsung.

Akhir kata penulis menyadari masih ada kekurangan dan kesalahan dalam
penulisan Skripsi ini. Oleh karena itu penulis mohon maaf apabila ada kekurangan
atau pihak yang merasa dirugikan dalam penulisan Skripsi ini. Semoga Skripsi ini
bisa bermanfaat bagi kita semua.
Yogyakarta, April, 2011
Penulis
Rahmat Nurhidayat
115.040.011

iii

ANALISA PERCEPATAN GETARAN TANAH MAKSIMUM
SERTA HUBUNGAN PERCEPATAN GETARAN TANAH DENGAN
INTENSITAS DI PULAU JAWA MENGGUNAKAN METODE
GUTENBERG RICHTER DAN METODE MURPHY O’BREIN

Oleh :
Rahmat Nurhidayat
115.04.0011
Abstrak
Pulau Jawa merupakan bagian dari satuan seismotektonik busur sangat
aktif dan busur aktif. Guna mewaspadai bencana gempa bumi di kawasan ini perlu
dilakukan suatu kajian mendasar tentang analisa percepatan tanah maksimum,
serta menentukan wilayah-wilayah potensi gempa bumi serta bahaya yang
ditimbulkan. Terbatasnya peralatan jaringan accelerograf yang tidak lengkap dari
segi periode waktu maupun tempatnya menyebabkan penentuan nilai percepatan
getaran tanah maksimum lebih banyak menggunakan pendekatan formula empiris,
di antaranya yaitu dengan menggunakan Metode Guterberg Richter dan Metode
Murphy O’Brein.
Model berdasarkan titik pengukuran di setiap station pengukuran, grid
yang digunakan dalam penelitian ini adalah 0.25° x 0.25° atau sekitar 27.75 Km x
27.75 Km yang terdapat 615 titik pengukuran menggunakan data katalog gempa
dari USGS data gempabumi selama 37 tahun, yaitu dari tahun 1973 sampai
dengan tahun 2010 yang meliputi wilayah pulau jawa dan sekitarnya dengan
magnitudo lebih besar dan sama dengan 5.0 SR dengan kedalaman kurang dari 70
km serta dibatasi lintang 6.00° LS - 9.00° LS dan 105.00° BT - 115° BT.
Hasil yang diperoleh berupa peta percepatan getaran tanah maksimum dan
peta intensitas gempa di pulau jawa. Nilai percepatan getaran tanah maksimum
pada metode Guterberg Richter antara 0 -500 cm/sec2 dan pada metode Murphy
O’brein adalah 0 – 1200 Cm/Sec2. Sedangkan nilai intensitas maksimumnya
adalah antara I sampai dengan IX MMI pada metode Guterberg Richter dan IV
sampai dengan XI MMI pada metode Murphy O’brein. Selain lebih besar nilai
percepatan getaran tanah dan intensitas maksimumnya pada metode Murphy
O’brein ini sifat maupun karakteristik atenuasinya cenderung lebih kecil dan lebih
stabil dibandingjan dengan peta yang diolah dengan menggunakan metode
Gutenberg Richter, sehingga pada metode Murphy O’brein penyebaran tingkat
resikonya lebih luas dibandingkan dengan metode Gutenberg Richter.
Kata Kunci : PGA (peak ground acceleration), intensitas MMI, epicenter,
atenuasi, hubungan PGA dan MMI

iv

THE ANALYSIS PEAK GROUND ACCELERATION AND
RELATIONSHIP OF THE INTENSITY WITH PEAK GROUND
ACCELERATION IN JAVA USING METHODS GUTENBERG RICHTER
AND MURPHY O'BRIEN

By:
Rahmat Nurhidayat
115.040.011
Abstract
Java Island is part of the arc seismotectonic unit is very active and active
arc. In order to be aware of the devastating earthquake in this region need to be a
fundamental review of the analysis of maximum peak ground acceleration, and
determine areas of potential earthquakes and the danger posed. The limited
equipments of network accelerograf incomplete in terms of time period or place
cause determination of the peak ground acceleration values more empirical
formula approach, among them is by using the method of Richter and Methods
Guterberg Murphy O'Brien.
Models based on the measurement point at each station of measurement,
the grid is used in this study were 0.25° x 0.25° or approximately 27.75 km x
27.75 km that there are 615 measurement points using the earthquake catalog data
from the USGS earthquake data for 37 years, is that from 1973 to 2010 which
includes the island of Java and the surrounding area with magnitude greater and
equal to 5.0 SR with a depth of less than 70 km and is limited latitude S 6.00° –
9.00 ° S and 105.00 ° E – 115.00 ° E.
Results obtained in the form of PGA maps and map seismic intensity on
the island of Java. The maximum of peak ground acceleration values on the
Guterberg Richter method between 0 -500 cm/sec2 and on the method of Murphy
O'Brien is 0-1200 cm/sec2. While the value of maximum intensity is between I to
IX MMI on the Guterberg Richter method and IV to XI MMI on the method of
Murphy O'Brien. In addition to higher peak ground acceleration values and
maximum intensity on the method of Murphy O'Brien is the nature of its
attenuation characteristics tend to be smaller and more stable compared to maps
prepared by using the method of Gutenberg Richter, so that by the method of
Murphy O'Brien deployment risk level more broadly comparable with the method
of Gutenberg Richter.
Keywords: PGA (peak ground acceleration), MMI intensity, epicenter,
attenuation, the relationship PGA and MMI

v

DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN JUDUL ........................................................................................i
HALAMAN PENGESAHAN ...........................................................................ii
KATA PENGANTAR ......................................................................................iii
ABSTRAK ........................................................................................................iv
ABSTRACT ......................................................................................................v
DAFTAR ISI .....................................................................................................vi
DAFTAR GAMBAR ........................................................................................ix
DAFTAR TABEL ............................................................................................xii
DAFTAR LAMPIRAN ....................................................................................xiii

BAB I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Penelitian ................................................................1
1.2. Perumusan masalah ..........................................................................2
1.3. Tujuan Penelitian .............................................................................2
1.4. Batasan Masalah...............................................................................2
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Kegempaan Pulau Jawa ....................................................................4
2.1. 1. Kondisi Tektonik Indonesia ................................................4
2.1.2. Tektonik Regional Pulau Jawa ............................................6
2.1.2.1. Tatanan Tektonik Jawa ............................................7
2.1.2.2. Kegempaan Regional Pulau Jawa ...........................10
2.1.2.3. Seismotektonik Regional Pulau Jawa......................12
2.2. Penelitian Terdahulu ........................................................................13
BAB III. DASAR TEORI
3.1. Teori Gempa Bumi ...........................................................................18
3.1.1. Mekanisme Terjadinya Gempa ............................................19
3.1.2. Teori Tektonik Lempeng .....................................................20
3.1.3. Jenis-Jenis Gempabumi .......................................................22
3.1.4. Parameter Sumber Gempabumi ...........................................24
vi

...................45 4.....5........................37 3................5....................... Metode Murphy dan O’Brein ..1956) .......................43 3...28 3. Hershberger (1956) .......................5........1.......1...... ..........31 3.......3.......................................46 4...................6.1......... Seismisitas Gempa Bumi ............................2............1.................................6....25 3.............. Pengolahan Data .............................3...........6......................25 3..6..5..............2................ Daerah Penelitian .............................6..47 vii ...... Percepatan Getaran Tanah Maksimum..42 3...........5...................3...................................... Guirre R.............. Gelombang Badan............................................40 3............6...................................................................1.... Gelombang Permukaan ............6.......................2.................... Intensitas Gempa Bumi .28 3....43 3...........39 3...................4........................6.. Deskripsi Data .1...............................5..................46 4...3........... Metode Murphy dan O’Brein ................. Gelombang Love .........................42 3.......... Metode Mc........................... Hubungan Percepatan Getaran Tanah dengan Intensitas Gempa ................................................................................... Gelombang Seismik .......................................1...K........1. Metode Kanai .......5..6...................1.8...... Kawasumi (1951) ........ Kedalaman Hiposenter ............. Metode Kawashumi (1950) ..6.4............. METODOLOGI PENELITIAN 4...........................1956).......2..................4................1...........40 3...... Gelombang Rayleigh ...35 3....4............2............................5....................................38 3...33 3.......1.. Waktu kejadian gempa bumi (Origin time) .......................44 BAB IV..............................................................39 3....4..........3.... Peralatan Penelitian ..........2.......24 3..................28 3.......................................43 3..4.. Trifumac dan Brady (1975) ......... Neuman (1954) ......................................3. Magnitudo ............. Metode Gutenberg and Richter (1942 .............43 3......1...................................................... Gutenberg and Richter (1942 ...........4........4......7.............44 3......2...1...1.... Medvedev dan Sponhouer (1968) .............2................ Episenter...........................42 3..............4.............31 3............................. Ambrasseys (1974) ...........37 3..........................2......

.................................48 4.................2.2... Percepatan Getaran Tanah Maksimum .............3....3........3.............4..49 4.........................................4............................ HASIL DAN PEMBAHASAN 5.......64 5..................2........4......66 5....... Hungungan Intensitas Dengan Jarak Epicenter ..........64 5....................... Percepatan Getaran Tanah Maksimum.......................50 5.............50 4................ Penyeragaman magnitudo gempa................1........................1................. Hubungan Nilai Percepatan Getaran Tanah Dengan Intensitas ..............................................47 4...54 5......................................4........... Diagram Alir Penelitian ...........................................2........72 BAB VI.. Saran ........ Kesimpulan.........................................6.............5...........................................4..............................60 5.75 DAFTAR PUSTAKA ........................3........4.............. KESIMPULAN DAN SARAN 6..............................1...........80 viii ......................................... Hubungan Percepatan Getaran Tanah Maksimum Dengan Jarak Epicenter .....................51 BAB V.........................................74 6..................................................... Perbedaan Pada Metode Gutenberg Richter dan Murphy O’brein ........................... Hubungan intensitas dengan percepatan getaran tanah maksimum......................... Intensitas Maksimum .......3................................ Interpretasi .........3...76 LAMPIRAN ... Perhitungan Intensitas Gempa Bumi ....1....................................

.........................8........DAFTAR GAMBAR Halaman Gambar 2.................................................... 33 ix ............. Peta tektonik Indonesia (BMG).......................6 Penjalaran Gelombang Reyleigh ............. 16 Gambar 2........................................................................................4.. 33 Gambar 3................................. 13 Gambar 2..................... 5 Gambar 2.............................................. 10 Gambar 2.........2 Penjalaran Gelombang P . 16 Gambar 2. Peta percepatan getaran tanah metode Murphy O’brien wilayah Jawa Bagian Barat ...............................................................12.....................................................7.......... Peta percepatan getaran tanah metode Murphy O’brien wilayah Bagian Timur ........................................9........................................1 Proses deformasi batuan yang mengakibatkan terjadinya gempa bumi ..........................................................................................13..............................3 Penjalaran Gelombang S ................................. 32 Gambar 3. Peta rawan bencana gempa bumi Indonesia ......................... 8 Gambar 2.................. 29 Gambar 3...5...................................... 4 Gambar 2.......................................................3 Komponen tektonik ideal pada penunjaman tepian lempeng aktif ...................................... 15 Gambar 2......................................5 Terbentuknya Gelombang Love .................................. 15 Gambar 2...........................Tumbukan antar lempeng samudera dan lempeng benua .. Peta Seismotektonik Jawa dan Bali ..... 11 Gambar 2..........................4 Penjalaran Gelombang Love .............................................................................2.....6............................. Peta percepatan getaran tanah metode Gutenberg Ricther wilayah Jawa Bagian Timur . Peta percepatan getaran tanah metode Gutenberg Ricther wilayah Jawa Bagian Barat ...........................11................ Peta percepatan getaran tanah metode Murphy O’brien wilayah Jawa Bagian Tengah ...Blok diagram morfologi kedalaman gempa bumi lajur penunjaman selatan Jawa – Bali .....................1..Tatanan tektonik regional Pulau Jawa .................. Peta percepatan getaran tanah metode Gutenberg Ricther wilayah Jawa Bagian Tengah . 17 Gambar 3..................... 18 Gambar 3.............................................. 14 Gambar 2. 30 Gambar 3....10................................ 6 Gambar 2....................

........................ 67 x .............. 45 Gambar 4........................Gambar 4........................................ 57 Gambar 5......................................................................................6 Peta percepatan getaran tanah maksimum Pulau Jawa Bagian Barat menggunakan metode Murphy O’brein ..................... 53 Gambar 5........... 54 Gambar 5......................................................5 Peta percepatan getaran tanah maksimum Pulau Jawa Bagian Barat menggunakan metode Gutenberg Richter ...5 Diagram Alir Penelitian .......................................8 Peta percepatan getaran tanah maksimum Pulau Jawa Bagian Timur menggunakan metode Murphy O’brein ..................................................10 Peta intensitas maksimum dengan metode Murphy O’brein pada skala MMI Pulau Jawa .... 59 Gambar 5.......................................6 Diagram Alir Pengolahan Data .............................................. 61 Gambar 5................................. 55 Gambar 5.....2 Peta percepatan getaran tanah maksimum Pulau Jawa menggunakan metode Muphy O’brein..............................9 Peta intensitas maksimum dengan metode Gutenberg Richter pada skala MMI Pulau Jawa .............. 55 Gambar 5................ 52 Gambar 4...4 Peta percepatan getaran tanah maksimum Pulau Jawa Bagian Tengah menggunakan metode Murphy O’brein ................. 47 Gambar 4.................................7 Peta percepatan getaran tanah maksimum Pulau Jawa Bagian Timur menggunakan metode Guthrnburg Richter .......4 Posisi grid titik pengukuran .............1 Peta daerah penelitian............. 49 Gambar 4................................................................. 65 Gambar 5...................................12b.......................................12a....................... 57 Gambar 5.................................... 47 Gambar 4..... 61 Gambar 5....1 Peta percepatan getaran tanah maksimum Pulau Jawa menggunakan metode Gutenberg Richter ............... Grafik hubungan intensitas maksimum dengan jarak epicenter pada intensitas 8 MMI ................. 59 Gambar 5...................................3: Peta percepatan getaran tanah maksimum Pulau Jawa Bagian Tengah menggunakan metode Gutenberg Richter..................................... Grafik hubungan intensitas maksimum dengan jarak epicenter pada intensitas 8 MMI ............... 67 Gambar 5.......... 56 Gambar 5............2 Peta sebaran episenter dan magnitudo gempa bumi...........................................3 Peta kedalaman sumber gempa bumi ....11 Grafik hubungan perceptan getaran tanah maksimum dengan intensitas (MMI) ........................................................................

...................................13.................14......... 71 Gambar 5................................................... 73 xi ...... Grafik hubungan PGA dengan jarak epicenter ..Gambar 5......... Komparasi hubungan intensitas maksimum dengan jarak epicenter ................

.... 63 Tabel 5.........1 Magnitudo...... 70 xii ............................................... Frekuensi Dan Skala MMI Gempa Bumi ......... Efek Karakteristik. Koreksi Intensitas Terhadap Jarak ...................DAFTAR TABEL Halaman Tabel 3....................1 Tingkat resiko gempa bumi......... Tingkat resiko gempa bumi berdasarkan nilai intensitas dan PGA .............. 35 Tabel 4................3..... 51 Tabel 5......................2................................................................................. Hubungan Intensitas Dengan PGA ............1....................... 66 Tabel 5..................................................................

25° LAMPIRAN K PETA KONTUR PGA PULAU JAWA MENGGUNAKAN METODE GUTENBERG RICHTER LAMPIRAN L PETA KONTUR PGA PULAU JAWA MENGGUNAKAN METODE MUPHY O’BREIN LAMPIRAN M PETA INTENSITAS MAKSIMUM PULAU JAWA MENGGUNAKAN METODE GUTENBERG RICHTER LAMPIRAN N PETA INTENSITAS MAKSIMUM PULAU JAWA MENGGUNAKAN METODE MUPHY O’BREIN xiii .25° X 0.25° LAMPIRAN E HASIL PENGOLAHAN DATA MENGGUNAKAN METODE MURPHY O’BTRIN KE GRID 0.25° X 0.25° X 0.DAFTAR LAMPIRAN LAMPIRAN A DATA KATALOG GEMPA BUMI DARI USGS TAHUN 1973-2009 LAMPIRAN B PENYERAGAMAN MAGNITUDE GEMPA MENGGUNAKAN MICROSOFT EXCEL 2007 LAMPIRAN C PERHITUNGAN PGA MENGGUNAKAN MICROSOFT EXCEL 2007 LAMPIRAN D HASIL PENGOLAHAN DATA MENGGUNAKAN METODE GUTENBERG RICHTER KE GRID 0.25° LAMPIRAN F KOREKSI INTENSITAS MMI DENGAN JARAK EPICENTER METODE MURPHY O’BREIN LAMPIRAN G HASIL KOREKSI INTENSITAS MMI DENGAN JARAK EPICENTER METODE MURPHY O’BREIN LAMPIRAN H PETA SEISMISITAS PULAU JAWA TAHUN DATA USGS 1973-2010 LAMPIRAN I PETA KEDALAMAN GEMPA JAWA TAHUN DATA USGS 1973-2010 LAMPIRAN J TITIK STASIUN PENGUKURAN DI PULAU JAWA 0.

LAMPIRAN O TABEL TINGKAT RESIKO GEMPA BUMI BERDASARKAN NILAI INTENSITAS DAN PGA METODE GUTENBERG RICTER LAMPIRAN P TABEL TINGKAT RESIKO GEMPA BUMI BERDASARKAN NILAI INTENSITAS DAN PGA METODE MURPHY O’BREIN xiv .

Guna mewaspadai bencana gempa bumi di kawasan ini perlu dilakukan suatu kajian mendasar tentang analisa percepetan getaran tanah maksimum. 1 . Percepatan getaran tanah maksimum merupakan salah satu parameter yang sering digunakan dalam mengestimasi tingkat kerusakan tanah akibat goncangan gempa. Berdasarkan tatanan seismotektoniknya. sehingga dengan adanya data ini maka dapat digunakan untuk mengetahui nilai percepetan tanah di wilayah Pulau Jawa. diantaranya yaitu dengan menggunakan Metode Gutenberg Richter dan Metode Murphy O’Brein. Percepatan getaran tanah maksimum adalah nilai terbesar percepatan tanah pada suatu tempat akibat getaran gempa bumi dalam periode waktu tertentu. Latar Belakang Pulau Jawa merupakan wilayah Indonesia yang paling padat penduduk dan infrastrukturnya. Dalam kegiatan analisa percepatan tanah ini terdapat dua kegiatan yaitu pengambilan data dan pengolahan data. serta menentukan wilayah-wilayah potensi gempa bumi serta bahaya yang ditimbulkan. Kemajuan teknologi telah menghasilkan data-data bawah permukaan yang dapat menampilkan gambaran bawah permukaan dengan keakurasian yang tinggi berupa data-data seismisitas salah satunya. Risiko bahaya gempa bumi sangat ditentukan oleh kepadatan penduduk dan infrastruktur di suatu wilayah yang telah dinyatakan rawan bencana dan risiko gempa bumi. Percepatan tanah di suatu daerah dapat diukur langsung dengan accelerograf atau strongmotion seismograf yang dipasang pada tempat tersebut atau dengan pendekatan formula empiris.BAB I PENDAHULUAN 1. Terbatasnya peralatan jaringan accelerograf yang tidak lengkap dari segi periode waktu maupun tempatnya menyebabkan penentuan nilai percepatan getaran tanah maksimum lebih banyak menggunakan pendekatan formula empiris.1. Pulau Jawa ini merupakan bagian dari satuan seismotektonik busur sangat aktif dan busur aktif.

serta asumsi bahwa kondisi tanah adalah bersifat homogen.9. Model berdasarkan katalog gempa bumi dari USGS data gempa bumi 37 tahun terakhir. dan 3. 2. 2. serta bagaimana hubungan nilai percepatan getaran tanah maksimum terhadap intensitas gempa bumi menggunakan Metode Gutenberg Richter dan Metode Murphy O’Brein. Mencari hubungan nilai percepatan tanah maksimum dengan intensitas dalam skala MMI (Modified Mercalli Intensity).0 SR. Perumusan Masalah Pulau Jawa merupakan bagian dari satuan seismotektonik aktif dan terletak di jalur subduksi sehingga sangat berpotensi untuk terjadinya gempa bumi.1. dengan magnitudo lebih besar dan sama dengan 5. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui nilai percepatan getaran tanah maksimum di tiap-tiap daerah rawan gempa serta tingkat resiko akibat gempa bumi di pulau Jawa dengan menggunakan metode Gutenberg Richter dan metode Murphy O’brein. Batasan Masalah Dalam penelitian ini dilakukan beberapa batasan masalah. yaitu dari tahun 1973 sampai dengan tahun 2010 yang meliputi wilayah Pulau Jawa dan sekitarnya. Perhitungan PGA bersifat matematis dengan asumsi bahwa sumber gempa bumi berupa point source. Tujuan Penelitian 1. dalam skripsi ini rumusan masalah yang dibahas adalah menentukan besarnya nilai intensitas gempa bumi dan percepatan tanah maksimum di wilayah Pulau Jawa dilihat dari besarnya nilai percepatan getaran tanah maksimum atau PGA (Peak Ground Acceleration) di daerah tersebut berdasarkan parameter gempa bumi berupa episenter. 1. Untuk menggali perbedaan pada kedua metode tersebut. yaitu: 1. 1.00° LS . hiposenter dan magnitudo. 2 .4.00° LS dan 105.2. Oleh karena itu. dengan kedalaman kurang dari 70 km serta dibatasi lintang 6.00° BT .115° BT dengan menggunakan metode Gutenberg Richter dan metode Murphy O’Brein.3.

3. 3 . Meneliti dan menganalisa hubungan percepatan getaran tanah maksimum dengan intensitas pada skala MMI (Modified Mercalli Intensity) dengan pendekatan menggunakan rumus empiris pada kedua metode tersebut.

Oleh karena itu. Indonesia merupakan daerah yang secara tektonik bersifat labil (terutama di wilayah Indonesia tengah) dan merupakan kawasan pingir benua yang paling aktif di dunia. Pertemuan antar lempeng menyebabkan sering terjadi gempa bumi karena tumbukan atau pergeseran lempeng (gambar 2. yang relatif bergerak ke selatan.1.1. Kondisi Tektonik Indonesia Indonesia merupakan jalur pertemuan tiga lempeng besar (triple junction plate convergence) yaitu Lempeng Indo-Australia. Lempeng Eurasia. yang relative bergerak ke utara. Gambar 2. Kegempaan Pulau Jawa 2.BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. dan Lempeng Pasifik yang relatif bergerak ke Barat Laut (gambar 2. Peta tektonik Indonesia (BMG) 4 .2).1.1).

dan 5 . Bagian yang dalam membentuk cekungan kerak samudera yang terisi oleh sedimen yang berasal dari dataran India membentuk Bengal Fan hingga ke perairan Nias dengan ketebalan sedimen antara 2. cekungan busur muka (forearc basin). sebelumnya pada Oligosen awal hanya 5 cm/tahun (Katili. Tumbukan antar lempeng samudera dan lempeng benua (www. Daerah Pematang Tengah Samudra pada Lempeng Indo-Australia merupakan implikasi dari proses Sea Floor Spereading (Pemekaran Lantai Samudera) yang mencapai puncaknya pada Miosen Akhir dengan kecepatan 6-7 cm/tahun.indogeoart.2. 2008). Di bagian tengah kerak samudera India ini terbentuk suatu jalur lurus yang disebut Mid Oceanic Ridge (Pematang Tengah Samudra). sedangkan di bagian timurnya atau sebelah barat terbentuk jalur punggungan lurus utara – selatan yang disebut Ninety East Ridge (letaknya hampir berimpit dengan bujur 90 timur) merupakan daerah mineralisasi (Usman. 1999).Gambar 2. punggungan busur muka (forearc ridge). 2006).000 meter (Ginco. Pada gambar 2.000 – 3. busur gunungapi (volcanic arc). prisma akresi (accretionary prism).com).3 memperlihatkan bentuk ideal geomorfologi pada tepian lempeng aktif adalah mengikuti proses-proses penunjaman yaitu palung samudera (trench).

Gambar 2. Struktur tersebut dapat diamati di daratan Pulau Jawa bagian barat hingga bagian timur. Sesar Pasuruan. 1979) 2. 2007).1.3.cekungan busur belakang (backarc basin). Sesar Wonogiri. Sesar Bumiayu. Sesar Citarik. Sesar Citanduy. Sesar Rawapening. Busur gunung api dan cekungan busur belakang lazimnya berada di bagian daratan atau kontinen (Lubis et al. Sesar Baribis. Sesar Kebumen – Semarang . Sesar Lasem. Sesar Pacitan. Akibat tunjaman tersebut terbentuk struktur-struktur geologi regional di wilayah daratan Pulau Jawa. diantaranya Sesar Banten. dan Sesar Jember.2 Tektonik Regional Pulau Jawa Tektonik regional wilayah Pulau Jawa dikontrol oleh tektonik tunjaman selatan Pulau Jawa.Jepara. Komponen tektonik ideal pada penunjaman tepian lempeng aktif (Hamilton. 6 . Sesar Cimandiri. Sesar Opak.

ada tiga arah pola umum struktur yaitu arah Timur Laut –Barat Daya (NE-SW) yang disebut pola Meratus. di bagian barat tampak lebih dominan sementara perkembangan ke arah timur tidak terekspresikan. Cekungan tuban dan juga tercermin dari pola konfigurasi tinggian karimun jawa. perlipatan dan vulkanisme di bawah pengaruh stress regime yang berbeda-beda dari waktu ke waktu. Dari data 7 . Pola meratus tampak lebih dominan terekspresikan di bagian timur. Secara geologi Pulau Jawa merupakan suatu komplek sejarah penurunan basin. Secara umum.2. Tatanan Tektonik Jawa Perkembangan tektonik pulau Jawa dapat dipelajari dari pola-pola struktur geologi dari waktu ke waktu. “central deep”.1. “florence” timur. Pola meratus di bagian barat terekspresikan pada sesar cimandiri. Sedangkan di bagian timur ditunjukkan oleh sesar pembatas cekungan pati. pensesaran. disamping mengundang pertanyaan bagaimanakah mekanisme perubahan tersebut. di bagian tengah terekspresikan dari pola penyebaran singkapan batuan pra-tersier di daerah karang sambung.2. Perubahan jalur penunjaman berumur kapur yang berarah Timur Laut – Barat Daya (NE-SW) menjadi relatif Timur – Barat (E-W) sejak era Oligosen sampai sekarang telah menghasilkan tatanan geologi Tersier di Pulau Jawa yang sangat rumit. Pola Sunda pada Umumnya berupa struktur regangan. Pola Jawa di bagian barat ini diwakili oleh sesar-sesar naik seperti sesar Beribis dan sesar-sesar dalam Cekungan Bogor. Cekungan Sunda dan Cekungan Arjuna. tinggian bawean dan tinggian masalembo. arah Utara – Selatan (N-S) atau pola Sunda dan arah Timur – Barat (E-W).1. Pola Sunda berarah Utara-Selatan. Di bagian tengah tampak pola dari sesar-sesar yang terdapat pada zona Serayu Utara dan Serayu Selatan. Struktur geologi yang ada di Pulau Jawa memiliki pola-pola yang teratur. Di bagian Timur ditunjukkan oleh arah Sesar Pegunungan Kendeng yang berupa sesar naik. Ekspresi yang mencerminkan pola ini adalah pola sesar-sesar pembatas Cekungan Asri. Kerumitan tersebut dapat terlihat pada unsur struktur Pulau Jawa dan daerah sekitarnya.

4. Penampang stratigrafi yang diberikan oleh Kusumadinata. Pola Sunda lebih muda dari pola Meratus. Sesar-sesar yang termasuk dalam pola ini berumur kapur sampai paleosen dan tersebar dalam jalur tinggian Karimun Jawa menerus melalui Karang Sambung hingga di daerah Cimandiri Jawa Barat. Sesar ini teraktifkan kembali oleh aktivitas tektonik yang lebih muda.com) Pola Jawa menunjukkan pola termuda dan mengaktifkan kembali seluruh pola yang telah ada sebelumnya (Pulunggono.wordpress. Tatanan tektonik regional Pulau Jawa (www. Data seismik menunjukkan bahwa pola sesar naik dengan arah barat-timur masih aktif hingga sekarang. Fakta lain yang harus dipahami ialah bahwa akibat dari pola struktur dan persebaran tersebut dihasilkan cekungan-cekungan dengan pola yang tertentu pula. 1975 dalam 8 . 1994).lasonearth. Data seismik menunjukkan Pola Sunda telah mengaktifkan kembali sesar-sesar yang berpola meratus pada eosen akhir hingga oligosen akhir. Gambar 2.stratigrafi dan tektonik diketahui bahwa pola meratus merupakan pola yang paling tua.files.

Pada pola ini struktur yang terbentuk berarah timur-barat. terdapat perbedaan antara Jawa Barat. Pada akhir cretasius terbentuk zona penunjaman yang terbentuk di daerah Karang sambung menerus hingga pegunungan meratus di Kalimantan. tetapi karena pengaruh dari jejak-jejak tektonik yang lebih tua yang mengontrol struktur batuan dasar. UtaraSelatan. Gaya ini membentuk pola sesar geser (oblique wrench fault) dengan arah barat laut-tenggara. Kemudian selama tersier pola ini bergeser sehingga zona penunjaman ini berada di sebelah selatan Pulau Jawa. Kelompok cekungan Jawa Utara bagian barat mempunyai bentuk geometri memanjang relative Utara-Selatan dengan batas cekungan berupa sesar-sesar dengan arah utara selatan dan Timur-Barat. yang kurang lebih searah dengan pola pegunungan akhir cretasisus. Pada periode Pliosen-Pleistosen arah tegasan utama masih sama. 1994 menunjukkan bahwa ada dua kelompok cekungan yaitu cekungan Jawa Utara bagian barat dan cekungan Jawa Utara bagian timur yang terpisahkan oleh tinggian Karimun Jawa. Jawa Tengah dan Jawa Timur.Pulunggono. Aktifitas tektonik periode ini menghasilkan pola struktur naik dan lipatan dengan arah timur-barat yang dapat dikenali di Zona Kendeng. khususnya pada perkembangan tektonik yang lebih muda. Sedangkan cekungan yang terdapat di kelompok cekungan Jawa Utara Bagian Timur umumnya mempunyai geometri memanjang timur-barat dengan peran struktur yang berarah timur-barat lebih dominan. 9 . Tumbukkan antara lempeng Asia dengan lempeng Australia menghasilkan gaya utama kompresi Utara-Selatan. Meskipun secara regional seluruh Pulau Jawa mempunyai perkembangan tektonik yang sama. Zona ini membentuk struktur kerangka struktur geologi yang berarah timur laut-barat daya.

2008). VI. sedangkan yang berkekuatan 5 – 6 SR sering terjadi di wilayah Jawa bagian selatan (NEIC. USGS. Gempa bumi lajur tunjaman Jawa dijumpai berkedalaman dangkal hingga dalam (0 – 400 km) (Gambar 2.5). Gempa bumi lajur tunjaman ini umumnya memperlihatkan mekanisme gempa bumi sesar naik. Gambar 2. gempa bumi bermekanisme 10 . VII. 2004) (gambar 2. Blok diagram morfologi kedalaman gempa bumi Lajur penunjaman selatan Jawa – Bali (Soehaimi.1.5.2. 2006).5 SR. Kegempaan Regional Pulau Jawa Kegempaan regional wilayah Jawa dapat dibagi atas dua kelompok kegempaan. VIII.2. Gempa bumi di lajur tunjaman ini umumnya tercatat berkekuatan >4 SR. dan IX (Puslitbang Geologi. terutama di Jawa bagian barat. Wilayah Jawa ini merupakan daerah rawan bencana gempa bumi Indonesia No. Gempa bumi berkekuatan besar di wilayah Jawa ini dapat mencapai 8.2. yakni kegempaan lajur tunjaman selatan Jawa dan kegempaan lajur sesar aktif Jawa.6).

Gambar 2. 11 . Gempa bumi berkedalaman dangkal (<30 km) yang berpusat pada lajur sesar aktif memperlihatkan mekanisme sesar naik. Gempa bumi dengan mekanisme normal tersebut disebabkan oleh proses peregangan (extension) pada lajur di bawah rumpang gempa bumi (seismic gap). Gempa bumi Majalengka 1990 bermekanisme sesar naik telah terjadi pada lajur sesar naik Baribis. geser.6.sesar normal dapat juga terjadi pada lajur ini. terutama pada kedalaman >300 km di sebelah utara Jawa. dan normal. 2008). Gempa bumi bermekanisme sesar mendatar menganan telah terjadi di lajur sesar geser Bumiayu pada peristiwa gempa bumi Bumiayu (1995). Gempa bumi bermekanisme sesar naik telah terjadi pada lajur Sesar Cimandiri pada peristiwa gempa bumi Gandasoli Sukabumi (1982) dan gempa bumi Cibadak Sukabumi (2000). Demikian pula halnya pada peristiwa gempa bumi Yogyakarta (2006) yang memperlihatkan mekanisme sesar mendatar relatif ke kiri. Peta rawan bencana gempa bumi Indonesia (Soehaimi.

yakni lajur seismotektonik tunjaman selatan Jawa dan lajur seismotektonik sesar sesar aktif daratan Jawa (Gambar 2.Jawa Tengah Bagian Barat. lajur seismotektonik sesar aktif Citarik. Lajur seismotektonik sesar aktif daratan Jawa berkaitan erat dengan keberadaan struktur sesar aktif. lajur seismotektonik sesar aktif Citanduy. Lajur Jawa Tengah Bagian Timur-Jawa Timur Bagian Barat.7). yakni Lajur Selat Sunda. lajur seismotektonik sesar aktif Pacitan. lajur tunjaman selatan Jawa ini dapat dibagi atas enam lajur. dan Lajur Bali. 1987). diantaranya lajur seismotektonik sesar aktif Banten. Lajur Jawa Timur Bagian Timur . Karakteristik lajur seismotektonik tunjaman selatan Jawa ini merupakan bagian dari lempeng tektonik Samudra Hindia – Australia yang menunjam di bawah bagian lempeng tektonik Benua Asia – Eropa. khususnya struktur geologi dengan kejadian gempa bumi (seismogenetik) serta bahaya yang diikutinya (Pavoni. Berdasarkan kondisi hubungan antara tektonik dan kegempaannya. Dari wilayah Jawa bagian barat hingga Jawa bagian timur sudut tunjaman tersebut makin tegak.2. dan lajur seismotektonik sesar aktif Jember.2.3. Batas antara lajur satu dengan lajur lainnya diperlihatkan oleh perbedaan sudut kemiringan tunjamannya dari satu tempat ke tempat lainnya dan disebut sebagai rumpang gempa bumi mendatar.Jepara. lajur seismotektonik sesar aktif Wonogiri. lajur seismotektonik sesar aktif Bumiayu. lajur seismotektonik sesar aktif Baribis. Rumpang gempa bumi tegak pada lajur tunjaman ini juga dapat ditemui pada kedalaman bervariasi antara 250 . lajur seismotektonik sesar aktif Rawapening. Pulau Jawa dapat dibagi menjadi dua lajur seismotektonik. lajur seismotektonik sesar aktif Opak. Berdasarkan penampakan morfologi kedalaman kegempaannya. Lajur seismotektonik Kebumen – Semarang . lajur seismotektonik sesar aktif Pasuruan. Lajur Jawa Barat Bagian Barat. 12 . Seismotektonik Regional Pulau Jawa Seismotektonik merupakan ilmu pegetahuan yang mempelajari tentang hubungan antara tektonik.1.350 km.Madura. lajur seismotektonik sesar aktif Cimandiri. lajur seismotektoniksesar aktif Lasem. Lajur Jawa Barat Bagian Timur .

Perhitungan ini melibatkan parameter-parameter yang terkait dengan percepatan getaran tanah maksimum atau PGA (Peak Ground Acceleration). Mc Guirre (1976) membuat program komputer EQRISK 13 . Metode ini lalu berkembang cukup pesat dan banyak digunakan untuk menghitung tingkat bahaya gempa bumi pada daerah yang memiliki bangunan vital seperti pembangkit tenaga listrik.000 2.7.Gambar 2. bendungan dan lain-lain. Peta Seismotektonik Jawa dan Bali (Soehaimi. 2005) Skala 1 : 2. ataupun intensitas gempa bumi. Perhitungan yang dilakukan bisa dengan metode deterministik maupun probabilistik.750.2. Perhitungan tingkat bahaya gempa bumi dengan metode probabilistik pertama kali diperkenalkan oleh Cornell (1968). Penelitian Terdahulu Perhitungan tingkat bahaya gempa bumi ditujukan untuk mengetahui seberapa besar tingkat bahaya yang ditimbulkan jika terjadi gempa bumi khususnya terhadap bangunan.

9). (2005) yang menghitung PGA di semenanjung Malaysia.10). dan 100 – 900 cm/sec2 pada wilayah Jawa bagian timur (gambar 2. 14 .13). dan untuk wilayah Jawa Timur 200 – 300 cm/sec2 (gambar 2.(2005) juga menggunakan metode probabilistik untuk menghitung nilai PGA di kepulauan Republik Vanuatu. misalnya Adnan et al. Dan hasil untuk nilai percepatan getaran tanah dengan menggunakan metode O’Brein didapatkan nilai percepatan tanah maksimum 100 – 400 cm/sec2 pada wilayah Jawa bagian tengah (gambar 2.11). Penelitian mengenai tingkat bahaya gempa bumi untuk Indonesia dan khususnya Jawa sebelumnya telah dilakukan oleh PT.untuk menghitung bahaya gempa berdasarkan paper Cornell (1968). Hasil dari penelitian tersebut diantaranya untuk metode Richter mendapatkan nilai percepatan getaran tanah maksimum wilayah Jawa Tengah dan DIY sekitar 100 – 400 cm/sec2 (gambar 2. serta 100 – 600 cm/sec2 pada wilayah Jawa Barat (gambar 2. Beberapa peneliti menggunakan metode probabilistik untuk memetakan tingkat bahaya gempa bumi pada suatu area tertentu. Suckale et al.12) dan 100 – 1000 cm/sec2 pada wilayah Jawa bagian barat (gambar 2. metode Ricther. Reasuransi Internasional Indonesia dan peneliti dari Badan Meteorologi dan Geofisika (2001) yang telah melakukan perhitungan percepatan getaran tanah secara empiris dengan menggunakan beberapa metode yaitu metode O’brien.8).

Peta percepatan getaran tanah metode Gutenberg Ricther wilayah Jawa Bagian Tengah (http://www.9.html) Gambar 2.Gambar 2.id/gempa/Percepatan/richter/jatim.id/gempa/Percepatan/richter/jateng.co.html) 15 .reindo.co.8. Peta percepatan getaran tanah metode Gutenberg Ricther wilayah Jawa Bagian Timur (http://www.reindo.

reindo.reindo. Peta percepatan getaran tanah metode Gutenberg Ricther wilayah Jawa Bagian Barat (http://www.Gambar 2.html) 16 .html) Gambar 2.co. Peta percepatan getaran tanah metode Murphy O’brien wilayah Jawa Bagian Tengah (http://www.11.id/gempa/Percepatan/obrien/jateng_obrien.10.id/gempa/Percepatan/richter/jabar.co.

id/gempa/Percepatan/obrien/jabar_obrien.html) Gambar 2.reindo.13. Peta percepatan getaran tanah metode Murphy O’brien wilayah Bagian Timur (http://www.reindo. Peta percepatan getaran tanah metode Murphy O’brien wilayah Jawa Bagian Barat (http://www.co.12.id/gempa/Percepatan/obrien/jatim_obrien.co.html) 17 .Gambar 2.

Deformasi batuan terjadi akibat adanya tekanan (stress) dan regangan (strain) pada lapisan bumi. Mekanisme gempa bumi dapat dijelaskan secara singkat sebagai berikut: Jika terdapat 2 buah gaya yang bekerja dengan arah berlawanan pada batuan kulit bumi. maka lama kelamaan daya dukung pada batuan akan mencapai batas maksimum dan akan mulai terjadi pergeseran. Bolt 1985) menyatakan bahwa gempa bumi merupakan gejala alam yang disebabkan oleh pelepasan energi regangan elastis batuan. 1965. batuan tersebut akan terdeformasi. Reid.1.BAB III LANDASAN TEORI 3. (Bullen. karena batuan mempunyai sifat elastis. energi stress yang tersimpan akan dilepaskan dalam bentuk getaran yang kita kenal sebagai gempa bumi. Bila gaya yang bekerja pada batuan dalam waktu yang lama dan terus menerus. namun sudah mengalami perubahan bentuk atau posisi. Tekanan atau regangan yang terus-menerus menyebabkan daya dukung pada batuan akan mencapai batas maksimum dan mulai terjadi pergeseran dan akhirnya terjadi patahan secara tiba-tiba. Akibatnya batuan akan mengalami patahan secara tiba-tiba sepanjang bidang fault (gambar 3.1). yang disebabkan adanya deformasi batuan yang terjadi pada lapisan lithosfer. 18 . Pada saat batuan mengalami gerakan yang tiba-tiba akibat pergeseran batuan. Teori Gempa Bumi Menurut Teori Elastic Rebound yang dinyatakan oleh Seismolog Amerika. Setelah itu batuan akan kembali stabil.

1. Proses deformasi batuan yang mengakibatkan terjadinya gempa bumi (Bolt 1985). Teori ini dikenal dengan nama “Elastic Rebound Theory”. hingga akhirnya menimbulkan rekahan 19 . Seorang Seismolog Amerika. Garis putus-putus merupakan garis imajiner yang menunjukkan posisi batuan sebelum dan sesudah daya dukung batuan terlampaui. Reid (Bullen. Pada umumnya gempa bumi terjadi pada batas lempeng dan pada daerah patahan aktif. Mekanisme Terjadinya Gempa Gempa bumi tektonik terjadi dimulai dengan adanya proses akumulasi energi yang diakibatkan oleh pergerakanm lempeng. Energi yang dilepaskan ke segala arah berupa gelombang gempa bumi. Tegangan pada batuan akan berkumpul terus–menerus sehingga pada suatu saat sesuai dengan karekteristik batuannya akan sampai pada titik patah.1.1. pada saat tersebut energi yang terkumpul selama terjadi proses tegangan akan dilepaskan berupa deformasi batuan atau patahan.Gambar 3. Pada daearah pertemuan lempeng timbul suatu tegangaan yang diakibatkan oleh tumbukan dan pergeseran antar lempeng yang mempunyai sifat–sifat elastis batuan. Suatu titik di sepanjang sesar tempat mulainya gempa disebut fokus atau hyposenter dan tititk di permukaan bumi yang tepat di atasnya disebut episenter. Bolt 1985) mengemukakan suatu teori yang menjelaskan mengenai bagaimana umumnya gempa bumi terjadi. Garis merah horizontal pada akhir proses deformasi merupakan bidang sesar yang terjadi (Bolt 1988). 1965. Gempa bumi adalah rangkaian gelombang getaran atau kejutan (shock wave) yang berasal dari suatu tempat dalam mantel atau kerak bumi. Energi yang tersimpan dalam deformasi ini berbentuk elastis strain dan akan terakumulasi sampai daya dukung batuan mencapai batas maksimum. 3. Menurut teori ini gempa bumi terjadi pada daerah atau area yang mengalami deformasi.

atau patahan. Mekanisme gempa bumi dapat dijelaskan secara singkat sebagai
berikut:
Jika terdapat dua buah gaya yang bekerja dengan arah berlawanan pada
batuan kulit bumi, batuan tersebut akan terdeformasi, karena batuan mempunyai
sifat elastis. Bila gaya yang bekerja pada batuan dalam waktu yang lama dan
terus menerus, maka lama kelamaan daya dukung pada batuan akan mencapai
batas maksimum dan akan mulai terjadi pergeseran. Akibatnya batuan akan
mengalami patahan secara tiba-tiba sepanjang bidang fault (gambar 3.1). Setelah
itu batuan akan kembali stabil, namun sudah mengalami perubahan bentuk atau
posisi. Pada saat batuan mengalami gerakan yang tiba-tiba akibat pergeseran
batuan, energi stress yang tersimpan akan dilepaskan dalam bentuk getaran yang
kita kenal sebagai gempa bumi.
Dari penjelasan di atas (gambar 3.1) syarat terjadinya gempa bumi antara lain:
1. Distribusi stress
2. Pembangunan stress
3. Adanya pergerakan relatif bumi

3.1.2. Teori Tektonik Lempeng
Teori Tektonik Lempeng berasal dari hipotesis continental drift yang
dikemukakan Alfred Wegener tahun 1912. Dan dikembangkan lagi dalam
bukunya The Origin of Continents and Oceans terbitan tahun 1915. Ia
mengemukakan bahwa benua-benua yang sekarang ada dulu adalah satu bentang
muka yang bergerak menjauh sehingga melepaskan benua-benua tersebut dari inti
bumi seperti 'bongkahan es' dari granit yang bermassa jenis rendah yang
mengambang di atas lautan basal yang lebih padat. Namun, tanpa adanya bukti
terperinci dan perhitungan gaya-gaya yang dilibatkan, teori ini dipinggirkan.
Mungkin saja bumi memiliki kerak yang padat dan inti yang cair, tetapi
tampaknya tetap saja tidak mungkin bahwa bagian-bagian kerak tersebut dapat

20

bergerak-gerak. Di kemudian hari, dibuktikanlah teori yang dikemukakan geolog
Inggris Arthur Holmes tahun 1920 bahwa tautan bagian-bagian kerak ini
kemungkinan ada di bawah laut. Terbukti juga teorinya bahwa arus konveksi di
dalam mantel bumi adalah kekuatan penggeraknya.
Bukti pertama bahwa lempeng-lempeng itu memang mengalami
pergerakan didapatkan dari penemuan perbedaan arah medan magnet dalam
batuan-batuan yang berbeda usianya. Penemuan ini dinyatakan pertama kali pada
sebuah simposium di Tasmania tahun 1956. Mula-mula, penemuan ini
dimasukkan ke dalam teori ekspansi bumi, namun selanjutnya justeru lebih
mengarah ke pengembangan teori tektonik lempeng yang menjelaskan pemekaran
(spreading) sebagai konsekuensi pergerakan vertikal (upwelling) batuan, tetapi
menghindarkan keharusan adanya bumi yang ukurannya terus membesar atau
berekspansi (expanding earth) dengan memasukkan zona subduksi/hunjaman
(subduction zone), dan sesar translasi (translation fault). Pada waktu itulah teori
tektonik lempeng berubah dari sebuah teori yang radikal menjadi teori yang
umum dipakai dan kemudian diterima secara luas di kalangan ilmuwan. Penelitian
lebih lanjut tentang hubungan antara seafloor spreading dan balikan medan
magnet bumi (geomagnetic reversal) oleh geolog Harry Hammond Hess dan
oseanograf Ron G. Mason menunjukkan dengan tepat mekanisme yang
menjelaskan pergerakan vertikal batuan yang baru.
Seiring dengan diterimanya anomali magnetik bumi yang ditunjukkan
dengan lajur-lajur sejajar yang simetris dengan magnetisasi yang sama di dasar
laut pada kedua sisi mid-oceanic ridge, tektonik lempeng menjadi diterima secara
luas. Kemajuan pesat dalam teknik pencitraan seismik mula-mula di dalam dan
sekitar zona Wadati-Benioff dan beragam observasi geologis lainnya tak lama
kemudian mengukuhkan tektonik lempeng sebagai teori yang memiliki
kemampuan yang luar biasa dalam segi penjelasan dan prediksi.
Penelitian tentang dasar laut dalam, sebuah cabang geologi kelautan yang
berkembang pesat pada tahun 1960-an memegang peranan penting dalam
pengembangan teori ini. Sejalan dengan itu, teori tektonik lempeng juga

21

dikembangkan pada akhir 1960-an dan telah diterima secara cukup universal di
semua disiplin ilmu, sekaligus juga membaharui dunia ilmu bumi dengan
memberi penjelasan bagi berbagai macam fenomena geologis dan juga
implikasinya di dalam bidang lain seperti paleogeografi dan paleobiologi.

3.1.3. Jenis-Jenis Gempabumi
Menurut sumber terjadinya gempa, Hoernes (Subardjo, 2001)
mengelompokan menjadi :
1. Gempa bumi vulkanik (Volcanic Earthquake), ialah gempa bumi yang
terjadi karena adanya aktifitas vulkanik.
2. Gempa bumi terban/runtuhan (Collapse Earthquake), yaitu gempa bumi
yang terjadi karena adanya runtuhan atau longsoran dari massa batuan.
3. Gempa bumi buatan, yaitu gempa bumi yang terjadi karena adanya
ledakan dinamit atau ledakan nuklir.
4. Gempa bumi tektonik (Tectonic Earthquake), yaitu gempa bumi yang
terjadi karena adanya gejala tektonik alam misalnya adanya pergeseran
lempeng benua atau sesar.

Berdasarkan

dalamnya

sumber

gempa,

Howell

(1969)

mengelompokan gempa bumi menjadi :
1.

Gempa bumi dangkal, dengan kedalaman hiposenternya kurang dari
70 km di bawah permukaan bumi.

2.

Gempa bumi menengah, dengan kedalaman hiposenter antara 70 –
300 km di bawah permukaan bumi.

3.

Gempa bumi dalam, dengan kedalaman hiposenternya lebih dari 300 –
700 km di bawah permukaan bumi.

22

0 Berdasarkan urutaan waktu terjadinya. Gempa bumi tipe ini biasanya terjadi di daerah yang mempunyai medium homogen dengan (stress) yang bekerja hamper merata (uniform) sebagian besar gempa bumi tektonik yang terjadi di bumi tergolong jenis ini.Berdasarkan kekuatan. Gempa bumi tipe ini terjadi dalam daerah yang terbatas.0 3. Tipe II Yaitu gempa bumi utama (mainshock) didahului gempa-gempa pendahuluan (foreshock) kemudian diikuti gempa susulan (aftershock) yang cukup banyak jumlahnya.5 < M < 7. Tipe I Yaitu gempa bumi utama dalam (mainshock) tanpa didahului gempa permulaan (foreshock). Tipe III Yaitu gempa bumi yang tidak terdapat gempa utama (mainshock). 7. M > 8. Hagiwara (Subardjo. Gempa sangat besar. M < 1. Gempa bumi tipe ini terjadi pada daerah dengan struktur batuan yang tidak seragamdengan distribusi (stress) yang bekerja tidak seragam. 2. biasa disebut gempa bumi “swarm”. Gempa ultra mikro. Gempa bumi ini 23 . 2001) mengklasifikasikan gempa bumi menjadi: 1.0 2.5 5.0 4.0 < M < 4. biasanya terjadi di daerah gunung api. Gempa mikro. 3. Mogi (1967) membagi tipe gempabumi menjadi 3 (tiga) jenis yaitu: 1. Tetapi diikuti dengan banyak gempa bumi susulan (aftershock). 4. Gempa besar.0 < M < 8. Gempa sedang. 1.

2. Waktu kejadian gempabumi (origin time) 2. 3. Dengan 24 .terjadi pada daerah yang struktur mediumnya tidak seragam dengan stress yang bekerja terkonsentrasi pada area yang terbatas. Metode ini menggunakan data waktu tiba gelombang P ditiga stasiun. Metode lingkaran. Parameter yang harus diketahui adalah kecepatan gelombang harus konstan dan kedalamannya dianggap = 0 atau berada dipermukaan. Parameter pokok gempabumi tersebut meliputi: 1. karena untuk menentukannya diperlukan pengukuran amplitudo dan periode. Metode ini menggunakan prinsip lingkaran untuk menentukan posisi episenter. Hasil rekaman tersebut dapat memberikan informasi parameter pokok mengenai gempabumi yang terjadi di suatu tempat.1. Episenter Ada berbagai macam cara dalam penentuan posisi episenter yaitu: 1.4. karena untuk menentukannya hanya diperlikan waktu penjalaran gelombang.1. Sering disebut juga dengan istilah focal depth.4. 3. Parameter Sumber Gempabumi Hasil rekaman getaran permukaan tanah yang diakibatkan oleh gempabumi baik analog maupun digital disebut seismograph.1. Kekuatan gempabumi (magnitudo) Parameter origin time. 4. Posisi lintang dan bujur (latitude/longitude) episenter (titik pada permukaan bumi yang terletak vertical diatas pusat gempa / hiposenter) 3. Sedangkan parameter kekuatan gempa bumi (magnitudo) berkaitan dengan energi yang dipancarkan oleh sumber gempa disebut sebagai parameter dinamik. dan hiposenter disebut sebagai parameter kinematik. episenter. Metode hiperbola. yaitu menggambar lingkaran dengan stasiun sebagai pusatnya dan jarak episenter sebagai jari-jarinya. Kedalaman pusat gempabumi (kedalaman hiposenter).

Magnitudo pertama kali dihitung oleh Richter pada tahun 1935 untuk gempa lokal di California dengan alat 25 . Perbandingan antara amplitudo gelombang S dan gelombang P.4. Dengan mengukur beda waktu tiba antara fase gelombang P dengan fase gelombang pP. maka akan didapatkan tiga lingkaran yang berpotongan. yang sering disebut sebagai pP-P. Metode Galitzin. 2. Data yang digunakan adalah data komponen horisontal (Utara-Selatan dan Timur-Barat) dan komponen vertikal serta selisih waktu tiba gelombang P dan gelombang S. antara lain : 1.3.4. 3. Metode Richter.1. Dengan menggunakan fungsi parameter penerima gelombang yang diterima dari berbagai stasiun. atau perbandingan antara amplitudo gelombang permukaan yang ditimbulkannya dengan amplitudo gelombang P (kedua parameter ini makin kecil bila gempanya makin dalam). Perhitungan ini hanya untuk memperkirakan atau membedakan gempa dangkal dan gempa dalam. Magnitudo Magnitudo adalah ukuran untuk menyatakan kekuatan gempabumi berdasarkan energi yang dipancarkan pada saat terjadinya gempabumi dan dinyatakan dalam Skala Richter. Metode ini kurang akurat untuk gempa kurang dari 100 km karena ralatnya yang terlalu besar. Fungsi ini bersifat empiris yaitu hasil riset atau eksperimen. 3.menggunakan data waktu tiba dari tiga stasiun. 4. 3. Episenter didapatkan dari perpotongan antara ketiga lingkaran tersebut disuatu titik. Kedalaman Hiposenter Kedalaman gempa atau hiposenter dapat ditentukan dengan berbagai cara.2.1. Metode ini memungkinkan penentuan posisi episenter hanya dengan menggunakan data dari satu stasiun. Metode ini sangat kuantitatif karena menggunakan data waktu tiba gelombang P dari banyak stasiun.

Standart Wood Anderson yang memperhitungkan nilai pergerakan tanah yang terletak pada jarak tertentu pada pusat gempa. A = amplitudo maksimum getaran tanah (μm) dan Δ = jarak episenter dengan stasiun pengamat (km). Magnitudo bodi berdasarkan amplitudo gelombang P yang menjalar melalui bagian dalam bumi.2) Dengan: Mb = magnitudo bodi. 26 . Magnitudo gempa dapat dibedakan atas: 1. Magnitudo lokal pertama kali diperkenalkan oleh Richter (1935) berdasarkan pengamatan gempa bumi di California Selatan yang direkam menggunakan seismograf WoodAnderson. Magnitudo Bodi (Mb).1) Dengan : MI = magnitudo lokal. 2. Magnitudo Lokal (MI).2.h) adalah fungsi jarak dan kedalaman dan c adalah koreksi stasiun. T = periode (sekon). Magnitudo ini digunakan untuk menghitung kekuatan gempa-gempa dalam yaitu: Mb = log (A/T) + f(Δ. Δ<600 km. Secara umum Magnitudo lokal dirumuskan: MI= log A + 3 log Δ .h) + c (3. A = amplitudo gelombang P (μm).92 (3. f(Δ.

73 (3. 4. Momen seismik adalah dimensi pergeseran bidang sesar atau dari analisa gelombang pada broadband seismograf. periode 20 sekon. 5.4) Dengan: Mw = magnitudo momen dan M0 = adalah momen seismik. Magnitudo momen merupakan magnitudo berdasarkan harga momen seismik. Magnitudo durasi merupakan jenis magnitudo berdasarkan lamanya getaran gempa. Magnitudo ini berguna dalam kasus amplitudo getaran sangat besar (off scale) yang dirumuskan: Md = a log τ + b Δ + c (3.5 – 10.3. Magnitudo Momen (Mw).β adalah konstanta. dan gempa dangkal (h<60 km) dirumuskan: Ms = log A + α log Δ + β (3. A = amplitudo maksimum (μm). Magnitudo ini digunakan untuk menghitung kekuatan gempa dengan jarak lebih dari 600 km. Magnitudo ini dirumuskan: Mw = (log M0)/1. Δ = jarak episenter (km) dan α. Magnitudo permukaan berdasarkan amplitudo gelombang permukaan. Magnitudo Permukaan (Ms). Magnitudo Durasi (Md).3) Dengan: Ms = magnitudo permukaan.5) 27 .

1. jam . Gelombang badan . Waktu kejadian gempa bumi (Origin time) Waktu kejadian gempa bumi adalah waktu saat terlepasnya akumulasi regangan (strain) yang berbentuk penjalaran gelombang gempa bumi dan dinyatakan dalam hari. bulan. Gelombang Seismik Gelombang seismik adalah gelombang elastic yang menjalar di dalam medium bumi.Dengan: Md = magnitudo durasi. Δ = jarak hiposenter (km).4.c adalah konstanta. Gelombang badan di bagi menjadi dua bagian. Gelombang elastik yang menjalar di dalam medium seperti gelombang suara. Gelombang seismik di ukur dengan mengunakan alat seismometer. berdasarkan sifat-sifatnya. 3. Gelombang Badan Gelombang badan adalah gelombang yang merambat disela-sela bebatuan di bawah permukaan bumi. tanggal.b. 3. detik dalam satuan UTC (Universal Time Coordinated). menit.4.2. τ = lamanya getaran (sekon). Efek kerusakan yang ditimbulkan dari gelombang ini cukup kecil. Gelombang seismik di bagi menjadi dua kelompok yaitu: 1. gelombang ini dapat dikategorikan juga menjadi gelombang seismik. a. 3. Gelombang seismik sering timbul akibat adanya gempabumi atau ledakan. yaitu: 28 . tahun.2.1. 2. Gelombang permukaan.

1.

Gelombang P (Pressure Wave) atau Gelombang Longitudinal.
Gelombang ini dapat menjalar melalui segala medium (padat, cair dan
gas). Gerakan partikel medium yang dilewati gelombangini adalah
searah dengan arah penjalaran gelombang (Gambar 3.2). Karena
waktu penjalaran gelombang P lebih cepat diantara gelombang S,
maka gelombang P merupakan gelombang yang pertama tiba pada
detector gempa.

Gambar 3.2. Penjalaran Gelombang P (Bolt,1978)

Kecepatan penjalaran gelombang P dapat di kemukakan
dengan persamaan:
Vp 

k

4

3

(3.6)

Dengan :

2.

Vp

= Kecepatan gelombang P

μ

= Modulus geser

ρ

= Densitas material yang dilalui gelombang

Қ

= Modulus Bulk

Gelombang S (Shear Wave) disebut juga sebagai Gelombang
Sekunder atau Gelombang Transversal.

29

Gelombang ini memiliki arah gerakan yang tegak lurus dengan
arah perambatan gelombang (Gambar 3.3). Gelombang S merambat
disela-sela bebatuan dan bergantung pada medium yang dilaluinya.
Gelombang ini hanya dapat mkenjalar melalui medium padat karena
cairan dan gas tidak punya daya elstisitas untuk kembali ke bentuk
asal. Waktu penjalaran gelombang S lebih lambat dari pada
gelombang P.

Gambar 3.3. Penjalaran Gelombang S (Bolt,1978)

Kecepatan gelombang S dapat diperlihatkan dengan persamaan:

Vs 


(3.7)

Dengan:
Vs

= Kecepatan gelombang S

μ

= Modulus geser

ρ

= Densitas material yang dilalui gelombang

30

Gelombang S dibagi menjadi dua bagian yaitu gelombang SV dan
gelombang SH. Gelombang SV adalah gelombang S yang gerakan partikelnya
terpolarisasi pada bidang vertical. sedangkan gelombang SH adalah gelombang S
yang gerakan partikelnya horizontal.
Kegunaan gelombang P dan S dalam ilmu kegempaan adalah untuk
menentukan posisi episenter gempa. Amplitudo gelombang P juga digunakan
dalam perhitungan magnitudo gempa.

3.2.2. Gelombang Permukaan
Gelombang permukaan adalah gelombang yang merambat dipermukaan
bumi, tidak menetrasi kedalam medium bumi. Mempunyai frekuensi lebih rendah
dari gelombang badan, sehingga sifat gelombang tersebut merusak. Amplitudo
gelombang permukaan akan mengecil dengan cepat terhadap kedalaman. Hal ini
diakibatkan oleh adanya dispersi pada gelombang permukaan, yaitu penguraian
gelombang berdasarkan panjang gelombangnya sepanjang permbatan gelombang.
Gelombang permukaan dibagi menjadi dua kelompok, yaitu:
1. Gelombang Love
2. Gelombang Reyleigh

3.2.2.1. Gelombang Love
Gelombang love

adalah

gelombang

geser

(S-wave)

yang

terpolarisasi secara horizontal dan tidak menghasilkan perpindahan
vertical (Gambar 3.4) . Gelombang love diambil dari nama seorang
Geofisika Inggris Augustus Edward Hough Love (1863-1940). Gelombang
love merambat pada permukaan bebas medium berlapisdengan gerak
partikel seperti glombang SH. Kecepatan merambat gelombang love selalu
lebih kecil dari pada gelombang P, dan umumnya lebih lambat dari
gelombang S.

31

Penjalaran Gelombang Love (Bolt.Gambar 3.4. 32 .1978) Kecepatan penjalaran gelombang Love dapat dikemukakan dengan persamaan : 2 1 1      2  2  c 1  1 1  VL  tan  H        2   1  2   1  1 '     2  2  2  c 1 2 (3. Sebagian besar energi kemudian direfleksikan kembali menuju permukaan (SHR).8) dengan : VL = kecepatan gelombang Love (m/s) H = ketebalan lapisan (m) ω = frekuensi angular (rad/s) c = kecepatan sesaat (m/s) β1 = kecepatan gelombang S pada medium 1 (m/s) β2 = kecepatan gelombang S pada medium 2 (m/s) µ = rigiditas medium 1 (N/m2) µ’ = rigiditas medium 2 (N/m2) Gelombang Love terbentuk karena adanya interferensi konstruktif dari gelombang SH pada permukaan bebas.5. sedangkan sebagian kecil energi lainnya akan ditransmisikan melalui lapisan (SHT) seperti terlihat pada Gambar 3. Awal gelombang terbentuk ketika gelombang SH yang datang membentur permukaan bebas pada sudut poskritis sehingga energi terperangkap pada lapisan tersebut.

2.9) : 33 . Pada saat gempabumi besar. Gelombang reyleigh adalah gelombang yang menjalar di permukaan bebas medium berlapis maupun homogeny dengan pergerakan menyerupai ellip (Gambar 3.SH SH R SH T Gambar 3. maka amplitude gelombang reyleigh akan berkurang dengan bertambahnya kedalaman.5. Gelombang Reyleigh Diambil dari nama fisikawan Inggris Lord Reyleigh (1842-1919).7). Gambar 3. Karena menjalar di permukaan bumi. Penjalaran Gelombang Reyleigh (Bolt.2. Kecepatan merambat gelombang reyleigh lebih lambat dari pada gelombang love. Terbentuknya Gelombang Love (Widigdo. gelombang reyleigh terlihat pada permukaan tanah yang bergerak keatas dan kebawah.6.1978) Kecepatan penjalaran gelombang Rayleigh pada medium dapat diperlihatkan dengan persamaan (3. 2006) 3.2.

sehingga gelombang akan mengalami dispersi akan berubah bentuk sepanjang penjalarannya.1   c2  c2  2  c2  VR   2  2   41  2  1  2   V  Vs  Vs  p     2 (3. Dalam hal ini gelombang dengan frekuensi rendah menjalar lebih lambat dari pada kecepatan gelombang dengan frekuensi yang lebih tinggi.1995). Gelombang Rayleigh adalah gelombang yang dispersif dengan periode yang lebih panjang akan mencapai material yang lebih dalam dan sampai sebelum periode pendek. Gerakan pertikel gelombang Rayleigh adalah vertikal. sehingga gelombang Rayleigh hanya ditemukan pada komponen vertikal seismogram.9) Dengan : VR = kecepatan gelombang Rayleigh (m/s) Vp = kecepatan gelombang P (m/s) Vs = kecepatan gelombang S (m/s) c = kecepatan sesaat (m/s) Terbentuknya gelombang Rayleigh adalah karena adanya interaksi antara bidang gelombang SV dan P pada permukaan bebas yang kemudian merambat secara parallel terhadap permukaan. Hal ini menjadikan gelombang Rayleigh sebagai alat yang sesuai untuk menentukan struktur keras atas suatu area. 34 . Karena gelombang rayleigh adalah gelombang permukaan. maka sumber yang lebih dekat dengan permukaan akan menimbulkan gelombang Rayleigh yang lebih kuat di bandingkan sumber yang terletak di dalam bumi (Lay dan Wallace. yaitu pemisahan gelombang di sepanjang penjalarannya karena kecepatan sebagai fungsi frekuensi atau panjang gelombangnya. Gelombang Rayleigh yang menjalar pada permukaan medium homogen (tidak berlapis) tidak mengalami dispersi.

Intensitas tinggi biasanya terjadi pada daerah yang dekat sumber gempa dibandingkan tempat yang jauh dari sumber gempa. namun juga kerusakan yang dirasakan. Parameter ini dinyatakan dengan skala intensitas yang umumnya dalam MMI.1. kondisi geologi. Tabel 3.1 berikut ini. struktur bangunan. Besarnya intensitas gempa bumi di suatu tempat tidak hanya bergantung pada kekuatan gempa bumi (magnitudo).4 Hanya terekam oleh seismograf 800 I 3. dan lingkungan pada tempat tertentu. jarak dari sumber gempa. Terdapat beberapa skala pengukuran intensitas.3.3. dan skala intensitas Rossi-Forrel (RF) yang digunakan di Cina. Intensitas Gempa Bumi Intensitas gempa bumi adalah skala kekuatan gempa bumi berdasarkan hasil pengamatan efek gempa bumi terhadap manusia. sedangkan magnitudo adalah hasil pengamatan instrumental menggunakan seismograf. Besarnya intensitas sangat tergantung dari besarnya magnitudo. efek karakteristik. skala intensitas Japan Meteorological Agency (JMA) yang digunakan di Jepang. Tingkat intensitas gempa bumi dapat dilihat pada Tabel 3. dan struktur bangunannya. Intensitas merupakan hasil pengamatan visual pada suatu tempat. Skala tersebut adalah skala intensitas Modified Mercalli Intensity (MMI) yang diakui sebagai standar internasional.2 Dirasakan oleh beberapa orang 30 II dan III Magnitudo(Skala Modified Mercalli (MMI) 35 . Magnitudo.4. skala intensitas Medvedev-Sponheur-Karnik (MSK) yang sejak 1992 diubah menjadi European Macroseismic Scale (EMS) dan digunakan di Eropa Timur.5 . frekuensi dan skala MMI gempa bumi (Skinner dan Porter 1992) Skala Intensitas Efek karakteristik Jumlah Richter) serta kerusakan yang ditimbulkan per tahun <3.

7.9 .3 .6.7. Untuk mengetahui besarnya intensitas dapat menggunakan persamaan Gutenberg Richter yang menyatakan hubungan antara intensitas gempabumi dan magnitude yaitu: I = 1. Skala ini mempunyai 12 tingkatan akibat gempa bumi.5. gelombanggelombang Satu kali terasa di permukaan tanah.4 V 5.10) Dengan : I : adalah intensitas (MMI).2 .8 Dirasakan oleh banyak orang 4.1). benda-benda dalam 5- terlempar 10 Tahun XII Intensitas terkuat terjadi di daerah episenter.5 (M-0.9 Kerusakan banyak bangunan 100 VIII dan IX 15 X 4 XI 7.0 .4.4 .9 >8. jembatanjembatan terpuntir.0 Kerusakan serius. M : magnitudo gempa bumi (SR) 36 . bangunanbangunan ambruk Kerusakan total.1 Kerusakan bangunan kecil 500 VI dan VII 6.6.3 7.8 IV 4.5) (3.5 .4. Intensitas gempa bumi yang paling banyak digunakan adalah skala Mercally yang biasa disebut MMI (Modified Mercally Intensity). temboktembok retak Kerusakan besar. dimulai dari yang lemah sampai yang kuat (Tabel 3.4 Dirasakan oleh setiap orang 1.

Percepatan tanah merupakan parameter yang perlu dikaji pada setiap terjadinya gempabumi untuk dipetakan agar bisa memberikan pengertian tentang efek paling parah yang pernah dialami suatu lokasi. Nilai percepatan tanah yang akan diperhitungkan sebagai salah satu bagian dalam perencanaan bangunan tahan gempa adalah nilai percepatan tanah maksimum. kondisi tanah. Percepatan tanah maksimum atau Peak Ground Acceleration (PGA) adalah nilai terbesar percepatan tanah pada suatu tempat akibat getaran gempabumi dalam periode waktu tertentu. maka perhitungan empiris sangat perlu dibuat. Namun karena begitu pentingnya nilai percepatan tanah dalam menghitung koefisien seismik untuk bangunan tahan gempa.3. sedangkan jaringan accelerograf tidak lengkap baik dari segi periode waktu maupun tempatnya. jarak episenter. Oleh sebab itu untuk keperluan bangunan tahan 37 . antara lain adalah magnitudo gempa.4. kedalaman hiposenter. 3. Nilai percepatan tanah dapat dihitung langsung dengan seismograph khusus yang disebut strong motion seismograph atau accelerograph. Seimisitas Gempa Bumi Seismisitas adalah frekuensi dan distribusi gempa pada suatu daerah. Percepatan Getaran Tanah Maksimum Percepatan adalah parameter yang menyatakan perubahan kecepatan mulai dari keadaan diam sampai pada kecepatan tertentu. Sedangkan untuk harga percepatan tanah minimum adalah pada saat terjadi gempa pada suatu titik tertentu. Untuk harga percepatan terbagi menjadi 2 bagian yaitu percepatan tanah maksimum dan percepatan tanah sesaat.5. Faktor-faktor yang mempengaruhi besar kecilnya nilai percepatan tanah pada suatu tempat. Seismisitas biasanya digambarkan pada peta dengan symbol-simbol tertentu pada peta yang menggambarkan frekuensi dan intensitas gempa pada lokasi yang di gambarkan pada peta. Peta yang dimaksud disebut peta seismic.

Log  = 472.3 10 0.K.301 (3.5. namun cukup memberikan gambaran umum tentang percepatan tanah maksimum atau Peak Ground Acceleration (PGA).11) Dengan :  = percepatan tanah pada permukaan (gal atau cm/sec2) M = magnitudo permukaan atau Ms (SR) R = jarak hiposenter (km) R  2  h 2 ∆ = jarak episenter (km) h = kedalaman sumber gempa (km) Pada model percepatan getaran tanah di atas menggunakan parameterparameter dasar gempa yaitu : - Magnitudo (M) - Kedalaman sumber gempa (h) - Jarak Episenter (∆) 38 . Pengukuran percepatan tanah dengan cara empiris dapat dilakukan dengan pendekatan dari beberapa rumus yang diturunkan dari magnitudo gempa atau data intensitas.1.gempa harga percepatan tanah dapat dihitung dengan cara pendekatan dari data historis gempabumi.278 M (R+25)-1. Beberapa metode dalam perhitungan percepatan getaran tanah maksimum secara empiris dengan menggunakan data historis gempa bumi diantaranya adalah antara lain : 3. Metode Mc. bahkan dari satu metode ke metode lainnya tidak selalu sama. Perumusan ini tidak selalu benar. Guirre R.

Hal terpenting adalah.5. karena hubungan antara percepatan permukaan setempat dan magnitudo. akibat yang ditimbulkan oleh gempa tidak sama untuk setiap tempat.13) Dengan: M = magnitudo gempa bumi (SR) I = Intensitas dalam MMI. R = Jarak Hyposenter. Log  M  5. akibat yang ditimbulkan semakin besar pula dibanding dengan struktur tanah yang keras. Metode Kawashumi (1951).5 (3.3. karena adanya faktor geometri dan struktur tanah. 3.  = percepatan tanah pada tempat yang dicari dalam satuan cm/dt2 atau gal. Metode Gutenberg and Richter (1942 .43429 (3.12) Dengan : M = Magnitudo gempa.5.  = percepatan dalam gals.2.3.00084 ( R  100 )  log 100 1 . Untuk daerah dengan struktur tanah yang lembek (perioda predominan besar dan faktor pembesaran besar). 39 . Penggunaan rumus Kawashumi praktis.45  0.1956) log  = I /3 – 0. R 0.

15) 40 .5.4.24 M .0.60 βJapan = 0.68 log R + βk (3.14 IMM + 0. ( dalam standar MMI) M = magnitudo R = jarak episenter dalam km βk = tetapan untuk sumber data dari stasiun pengukuran yang terekam oleh seismograf (source data record) 2.ao (3. Metode Murphy dan O’Brein log  = 0.5. Metode Kanai Percepatan tanah di permukaan akibat gempa tergantung pada karakteristik tanah di tempat tersebut. Besarnya percepatan tanah pada lapisan dan permukaan tanah tergantung pada periode Predominan dan periode getaran seismik.14) Dengan: βWestern Ubited Satates = 0.5. Model empiris percepatan tanah dari kanai adalah:   G(T ).3.88  = percepatan tanah pada tempat yang akan dicari IMM = intensitas gempa pada tempat yang akan dicari.69 βSouthern Europe = 0.

18) dengan : α = Percepatan tanah di lapisan permukaan (gal) G(T) = Faktor perbesaran T = Periode getaran seismik (detik) To = Periode predominan (detik) C = I mpedensi antara lapisan permukaan dan lapisan dasar e1.10 0.17) 0.1671.16) 1 1 C 1 C 0.2 To (T / To ) 2 {1  {T / To ) 2 }] 2  [{ (3. maka besar pula faktor 41 .61Ms(1.ρ2 = Rapat massa lapiasan permukaan dan lapisan dasar ao = Percepatan tanah di lapisan dasar (gal) Ms = Magnitudo gelombang di permukaan R = Jarak hiposenter (km) Faktor perbesaran G(T) tergantung dari rapat massa antara lapisan itu.60 / R ) log R  ( 0.Dengan: a 1 .3 To (T / To )}] 2 (3.e2 = Konstanta elastik lapisan permukaan dan lapisan dasar ρ1.83 / R ) T 1 G (T )  {1  (T / To ) 2  { G (T )  1  (3.66 3. Apabila kontras antara kedua lapisan itu besar.

663.60 / R ) logR ( 0.6.6.6.500 IJMA – 0. 3.61Ms(1.1671. Gutenberg and Richter (1942 .347 (3. harga periode predominan tanah dapat dicari dengan melakukan pengukuran micro tremor sehingga : g  3.perbesarannya. Percepatan tanah pada lapisan permukaan menjadi maksimum apabila perioda getaran seismik yang merambat pada permukaan sama dengan perioda predominan.5 (3.21) Dengan : α adalah percepatan tanah maksimum dan IJMA adalah intensitas yang diukur dalam Agensi Meteorological Japanese 42 .1.83/ R ) 5 10 To (3. 0.20) Dengan : α adalah percepatan tanah maksimum dan IMM adalah Intensitas dalam MMI 3.1956) log α = 0.2.333 IMM – 0.19) Hubungan Percepatan Getaran Tanah Dengan Intensitas Gempa Hubungan percepatan getaran tanah dengan intensitas gempa bumi dapat di ketahui dengan pendekatan secara empiris mengunakan berapa metode di bawah ini yang menyatan hubungan pecepatan getaran tanah dengan intensitas dalam MMI. Kawasumi (1951) log α = 0.

Medvedev dan Sponhouer (1969) log amax = 0.6.16 (3.5.0.308 IMM – 0.6.041 (3.22) Sedangakan untuk jarak rata-rata 160 kilometer menggunakan persamaan : log α max = 0.3.408 (3. Neuman (1954) Untuk jarak rata-rata 25 kilometer yaitu dengan persamaan : log α max = 0.429 IMM .6.429 (3.301 IMM .3.0.0.26) Dengan : αh max adalah percepatan tanah maksimum dan IMM adalah Intensitas dalam MMI 43 . Hershberger (1956) log α = 0.6.900 (3.308 IMM – 0.4.24) Dengan : α adalah percepatan tanah maksimum dan IMM adalah Intensitas dalam MMI 3. Ambrasseys (1974) log αh max = 0.25) Dengan : αmax adalah percepatan tanah maksimum dan IMM adalah Intensitas dalam MMI 3.6.23) Dengan : αmax adalah percepatan tanah maksimum dan IMM adalah Intensitas dalam MMI 3.36 IMM .

8.66 log α – 1.3.25 (3. Metode Murphy dan O’Brein log a = 0.29) Dengan : α adalah Percepatan getaran tanah maksimum (gal).66 (3.25 IMM + 0. dan IMM adalah Intensitas gempa dalam skala MMI 44 .6.3 IMM (3.27) Yang kemudian Wald (1999) merevisi persamaan menjadi : IMM = 3. Trifumac dan Brady (1975) log α = 0. dan IMM adalah Intensitas gempa dalam skala MMI 3.014 + 0.28) Dengan : α adalah Percepatan getaran tanah maksimum (gal).7.6.

Daerah Istimewa Yogyakarta.id) 45 . Daerah Penelitian Dalam penelitian ini daerah yang dijadikan area penelitan adalah wilayah pulau Jawa yang meliputi Propinsi Jawa Timur. DKI Jakarta dan Banten.BAB IV METODOLOGI PENELITIAN 4.1. Area penelitian terletak pada koordinat 9° 00’ LS – 6 °00’ LS dan 105° 00’ BT – 115° 00’ BT seperti terlihat pada Gambar 4.go.bnpb. geospasial. Jawa Tengah.1.1 Gambar 4. Jawa Barat. Peta daerah penelitian (www.

2. Perangkat lunak yang terdiri dari : a.0 – 9. Jumlah kejadian gempa yang dikumpulkan sebanyak 532 titik gempa kemudian diklasifikasikan berdasarkan kriteria pencarian sehingga menjadi 302 titik gempa.3.0 d. 2. Magnitudo gempa : 5.0 c. Komputer PC 2. Kedalam fokus gempa : 0 – 70 km ( gempa dangkal ) Sebaran episenter dan magnitudo gempa serta kedalamnya untuk wilayah pulau Jawa yang dikumpulkan dari tahun 1973-2010 berdasarkan data gempa dari USGS (United States Geological Survey) dapat dilihat pada Gambar 4. Microsoft Windows XP Service Pack 3 b. Data gempa yang terjadi antara tahun 1973 sampai dengan 2010 dari data gempa USGS (United States Geological Survey) data gempa yakni sebanyak 346 kejadian gempa bumi (Lampiran A). Microsoft Office 2007 (Word.2.gov) dengan spesifikasi data sebagai berikut : 1. Surfer 8 d.usgs. Deskripsi Data Data gempa yang digunakan dalam penelitian ini diambil dari database situs resmi USGS (www. Koordinat bujur : 105° BT – 115° BT c.4. Excel) 4. Data gempa dari USGS (United States Geological Survey) kemudian diklasifikasikan berdasarkan kriteria pencarian yaitu : a. 46 . Koordinat lintang : 6°LS – 9°LS b. Peralatan Penelitian Dalam penelitian ini peralatan yang digunakan sebagai penunjang dalam pengolahan data adalah : 1. Map Info Professional 9.

Yogyakarta DKI.525 to 7.001 Propinsi Jawa Timur -8 Propinsi Jawa Barat Propinsi Banten Propinsi Jawa Tengah DI.3. Jakarta -9 105 Sumber Data : United States Geological Survey 1973-2010 106 107 108 109 0 111 222 333 Kilometer 110 111 112 113 114 Longitde Gambar 4.75 19.5 to 53.005) Ms + 2.03) (4.25 to 70 Propinsi Jawa Timur Propinsi Jawa Barat -8 Propinsi Banten Propinsi Jawa Tengah DI.525 6. PETA KEDALAMAN GEMPA JAWA DATA USGS TAHUN 1973-2010 PETA KEDALAMAN SUMBER GEMPA TAHUN 1973 . Peta kedalaman sumber gempa bumi.PETA SEISMISITAS PULAU JAWA TAHUN DATA USGS 1973-2010 PETA SEISMISITAS TAHUN 1973 .75 to 36. Peta sebaran episenter dan magnitudo gempa bumi. Jakarta -9 105 Sumber Data : United States Geological Survey 1973-2010 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 Longitde 0 111 222 333 Kilometer Gambar 4.67(±0.575 5.4.4. Pengolahan Data 4.575 to 6. Yogyakarta DKI. 4. Mw = 0. Penyeragaman magnitudo gempa Data gempa yang didapat dari katalog USGS/ NEIC Dari katalog kegempaan ini memuat berbagai tipe magnitudo.2010 -6 KETERANGAN Kedalaman (KM) -7 Latitude 3 to 19.07(±0. penyeragaman ini dilakukan berdasarkan formulasi (Scordilis 2006).1) 47 .5 36.25 53.2. sehingga perlu dilakukan penyeragaman data.1.2010 -6 Latitude KETERANGAN Magnitude (SR) -7 5.1 to 5.05 6.05 to 6.

0 ≤ Ms ≤ 6.68 log R+βk 48 . Ms. Sedangkan untuk mencari intensitas pada suatu daerah titik pengukuran pada metode Gutenberg Richter menggunakan fungsi atenuasi hubungan Intensitas terhadap jarak dari persamaan Subardjo dan Prih Harjadi yang ditentukan berdasarkan gempa Flores.02) Ms + 0. dan Mw adalah magnitudo gelombang badan. Mw = 0.23) (4.Dengan syarat : Nilai 3. log a = 0.0021 R (4.13) (4.4. Mw = 0.85(±0. ISC.10) yang menyatakan hubungan antara intensitas gempabumi dan magnitudo.14 IMM + 0.2 berlaku untuk data NEIC. Perhitungan Intensitas Gempa Bumi Perhitungan intensitas gempa bumi menggunakan persamaan Gutterberg Richter (persamaan 3.03(±0. JMA dan IDC. dan magnitudo moment. Dengan Mb.04) mb + 1.2.1 hanya berlaku untuk data katalog NEIC dan ISC. 12 Desember 1992 yaitu : I0 = I exp –0. magnitudo gelombang permukaan.14) dengan mengalikan fungsi atenuasi Murphy O’brein yaitu. 4.2 hanya berlaku untuk data katalog NEIC dan ISC.08(±0.24 M – 0.4) Sedangkan fungsi atenuasi pada metode Murphy O’brein didapatkan dari persaaman (3.99(±0.2) Dengan syarat : Nilai 6.2 ≤ Ms ≤ 8.3) Dengan syarat : Nilai 3.5 ≤ Mb ≤ 6.

Dengan : I = Intensitas gempa bumi (skala MMI) I0 = Intensitas pada jarak episenter dengan titik pengukuran R = Jarak pada episenter (km) exp = Suatu bilangan atau logaritma natural =2.75 Km seperti terlihat pada Gambar 4.25° x 0. Perhitungan nilai percepatan getaran tanah ini menggunakan metode Gutenberg Richter seperti yang terdapat pada 49 .25° X 0.71828 βk = Tetapan untuk sumber data 4.25° LATITUDE -6 KETERANGAN -7 Titik Stasiun Pengukuran Propinsi Jawa Timur Propinsi Jawa Barat Propinsi Banten Propinsi Jawa Tengah -8 DI. TITIK STASIUN PENGUKURAN DI PULAU JAWA 0. Posisi grid titik pengukuran Dari 615 titik pengukuran kemudian dihitung nilai percepatan getaran tanah maksimumnya tiap titiknya yang diakibatkan oleh 302 kejadian gempa bumi yang terjadi di sekitar daerah penelitian.25° X 0. Percepatan Getaran Tanah Maksimum Dalam pembuatan kontur percepatan getaran tanah maksimum langkah pertama yang terlebih dahulu dilakukan adalah dengan membuat grid atau titik pengukuran. Jakarta -9 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 LONGITUDE 0 111 222 333 Kilometer Gambar 4.3.75 Km x 27. Ukuran untuk tiap-tiap grid yang digunakan dalam penelitian ini adalah 0.4 yang terdapat 615 titik pengukuran.25° atau sekitar 27.25° berdasarkan pertimbangan lokasi daerah penelitian yang cukup luas dan ukuran grid tersebut sudah cukup mewakili daerah-daerah di sekitar lokasi penelitian.25° x 0.4. Yogyakarta DKI.25° TITIK STASIUN PENGUKURAN DI PULAU JAWA 0. Pemilihan ukuran grid 0.4.

4.13) dan metode Murphy O’brein pada persamaan (3. Nilai dari hasil perhitungan tersebut kemudian dipetakan sehingga dapat dianalisis. Setelah di dapatkan nilai percepatan getaran tanah maksimum tiap site atau titik pengukuran kemudian dibuat peta kontur percepatan getaran tanah maksimum dengan menggunakan program Mapinfo dan Surfer.persamaan (3. dengan melakukan analisa pada pola penyebaran nilai percepatan getaran tanah maksimum dan intensitas gempa.14). Hubungan intensitas dengan percepatan getaran tanah maksimum Pencarian hubungan percepatan getaran tanah dengan intensitas gempa bumi dapat diketahui dengan pendekatan secara empiris mengunakan persamaan (3. dan magnitudo gempa berupa gelombang badan (mb) yang kemudian dikonversi ke gelombang permukaan(ms).20) pada metode Gutenberg Richter dan persamaan (3. Parameter lainnya yang digunakan sebagai data masukan formula perhitungan percepatan getaran tanah maksimum yakni data gempa bumi dengan parameter lintang. Analisis dilakukan pada peta kontur percepatan getaran tanah untuk mengetahui pola penyebaran nilai percepatan getaran tanah maksimum di daerah penelitian. Hal yang sama juga dilakukan pada peta intensitas gempa bumi. Sehingga dapat diperkirakan daerah-daerah mana saja yang memiliki nilai percepatan getaran tanah maksimum yang tinggi sampai ke yang rendah.29) pada metode Murphy O’brein. yaitu berupa nilai perhitungan percepatan getaran tanah maksimum dan nilai intensitas gempa bumi. Interpretasi Interpretasi dilakukan setelah mendapatkan hasil pengolahan data.4. Kemudian dari Peta percepatan tanah maksimum dan peta intensitas maksimum tersebut akan ditentukan daerah-daerah mana saja yang mempunyai tingkat resiko paling besar sesuai dengan 50 . bujur. Pada perhitungan ini menggunakan Microsoft Excel 2004 dengan membuat formula matematisnya (Lampiran B). kedalaman sumber gempa.5.4. 5.

2005).6. Tingkat resiko gempa bumi (Fauzi ed. dan bagaimana korelasi percepatan getaran tanah maksimumnya dengan jarak epicenter pada kedua metode tersebut.1 Tabel 4. 5.1. serta bagaimana korelasi antara intensitas maksimum dengan jarak. Diagram Alir Penelitian Diagram alir penelitian yang di tampilkan terbagi menjadi dua macam yaitu diagram alir penelitian (Gamabar 4. No Tingkat Resiko Nilai Percepatan (gal) 1 Resiko sangat kecil <25 (MMI) <VI 2 Resiko kecil 25 – 50 VI – VII 3 Resiko sedang satu 50 – 75 VII – VIII 4 Resiko sedang dua 75 – 100 VII – VIII 5 Resiko sedang tiga 100 – 125 VII – VIII 6 Resiko besar satu 125 – 150 VIII – IX 7 Resiko besar dua 150 – 200 VIII – IX 8 Resiko besar tiga 200 – 300 VIII – IX 9 Resiko sangat besar satu 300 – 600 IX – X 10 Resiko sangat besar dua >600 Intensitas >X kemudian dilihat korelasi antara kedua peta tersebut bagaimana hubungan antara intensitas dengan nilai percepatan getaran tanah maksimumnya.pengklasifikasian menjadi 10 macam tingkat resiko berdasarkan percepatan tanah maksimum dan intensitas seperti pada tabel 4.al.6) yang menggambarkan tahapan pengolahan data.5) yang menggambarkan secara garis besar tahapan penelitian. sedangkan diagram alir kedua adalah diagram alir pengolahan data (Gambar 4. 51 .

Studi Studi Literatur Literatur -.5. Diagram Alir Penelitian 52 .Informasi Informasi Geotektonik Geotektonik Dan Seismotektonik Dan Seismotektonik Penentuan Penentuan Daerah Daerah Penelitian Penelitian Pengumpulan Pengumpulan Data Data Pengolahan Pengolahan Data Data Analisa Analisa Hasil Hasil Pengolahan Pengolahan Data Data Kesimpulan Kesimpulan Selesai Selesai Gambar 4.Mulai Mulai Studi Studi Pendahuluan Pendahuluan -.

6. Diagram Alir Pengolahan Data 53 .Data Base Gempa Bumi Dimasukkan Ke Microsoft Excel Mengkonversi Magnitude Ke Ms Pemilahan Event Gempa Pembuatan Grid Area Penelitian Peta Percepatan Getaran Tanah Maksimum Perhitungan Nilai Intensitas Gempa Bumi Peta Intensitas Gempa Bumi Perhitungan Percepatan Getaran Tanah Hubungan Intensitas Dengan Percepatan Getaran Tanah Maksimum Grafik Hubungan Perceptan Getaran Tanah Maksimum Dengan Intensitas Grafik Hubungan Intensitas Dengan Jarak Epicenter Grafik Hubungan PGA Dengan Jarak Epicenter Gambar 4.

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5. tetapi pola kontur pada kedua peta tersebut keduanya sangat mirip baik yang diolah dengan metode Gutenberg Richter maupun dengan metode Murphy O’brein. Percepatan Getaran Tanah Maksimum Berdasarkan hasil pengolahan data dan perhitungan nilai percepatan getaran tanah maksimum di wilayah Pulau Jawa dengan menggunakan metode Gutenberg Richter dan Murphy O’brein yang diolah menggunakan program Microsoft Excel dan Surfer8 sesuai dengan persamaan (3. Besarnya nilai percepatan getaran tanah pada kedua peta tersebut.13) pada metode Gutherburg Richter diperoleh nilai percepatan getaran tanah maksimum antara 0 cm/sec2 sampai dengan 450 cm/sec2 (gambar 5. metode Murphy O’brein mempunyai nilai percepatan getaran tanah maksimum yang lebih besar nilainya dibandingkan dengan peta yang diolah dengan menggunakan metode Gutenberg Richter.14) diperoleh nilai percepatan getaran tanah maksimum antara 0 cm/sec2 sampai dengan 1050 cm/sec2 pada Gambar (5. Peta percepatan getaran tanah maksimum Pulau Jawa menggunakan metode Gutenberg Richter (interval kontur 25 cm/sec2) 54 .1.1.2).1). Dan peta percepatan getaran tanah maksimum yang diolah dengan menggunakan metode Murphy O’brein dengan persamaan (3. PETA KONTUR PGA PULAU JAWA MENGGUNAKAN METODE GUTENBERG RICHTER Cm/Sec2 450 425 -6 400 375 350 LATITUDE 325 300 -7 275 250 225 200 175 150 -8 125 100 Kilometer -9 105 75 0 111 222 333 106 107 108 109 50 25 110 111 112 113 114 115 0 LONGITUDE Gambar 5.

75 55. yaitu wilayah Jawa Bagian Tengah.Peta percepatan getaran tanah maksimum Pulau Jawa menggunakan metode Muphy O’brein (interval kontur 75 cm/sec2) Dari kedua gambar di atas dapat dianalisa satu persatu dalam tiga bagian berdasarkan wilayahnya.25 Purbolinggo Purwokerto Wonosobo Banjarnegara Temanggung Salatiga Kebumen Cilacap -7.5 110.5 160 108.2.5 LONGITUDE Gambar 5.5 83.5 Boyolali Sleman Purworejo Klaten Yogyakarta Wates 85 Surakarta Karanganyar 70 Sukoharjo 55 Wonogiri Bantul 40 Wonosari -8 25 Kilometer 108. PETA PGA PADA DAERAH JAWA BAGIAN TENGAH MENGGUNAKAN METODE GUTENBERG RICHTER Cm/Sec2 -6 220 -6.25 109 109.75 Kudus Brebes Tegal LATITUDE 175 Rembang Pemalang Pekalongan Batang Demak Kendal 145 Blora Semarang -7 130 Purwodadi Ungaran 115 -7.PETA KONTUR PERCEPATAN GETARAN TANAH PULAU JAWA DENGAN METODE MURPHY O'BREIN Cm/Sec2 1050 975 -6 900 825 Latitude 750 675 -7 600 525 450 375 -8 300 225 150 Kilometer -9 105 0 111 222 333 106 107 108 109 75 0 110 111 112 113 114 115 Longitude Gambar 5.5 Jepara Pati -6. Jawa Bagian timur dan Wilayah Jawa Bagian Barat.5 109.25 111. Peta percepatan getaran tanah maksimum Pulau Jawa Bagian Tengah menggunakan metode Gutenberg Richter (interval kontur 25 cm/sec2) 55 .25 109.25 110.75 111 111.75 10 110 110.75 0 27.75 100 Sragen Magelang -7.25 205 190 -6.3.

Tingginya nilai percepatan getaran tanah di sekitar Daerah Istimewa Yogyakarta ini disebabkan oleh besarnya pengaruh gempa yang terjadi di Yogyakarta pada tanggal 27 Mei 2006 dengan magnitudo 6.5 110.4).25 -6. 56 .25 109. dan Gunung Kidul (gambar 5. Peta percepatan getaran tanah maksimum Pulau Jawa Bagian Tengah menggunakan metode Murphy O’brein (interval kontur 25 cm/sec2) Dari peta kontur percepatan getaran tanah maksimum terlihat bahwa nilai maksimum percepatan getaran tanah tersebar di Daerah Istmewa Yogyakarta yakni Kota Yogyakarta.75 111 111. Posisi episenter gempa Yogyakarta terletak di darat tepatnya pada sekitar Sesar Opak.5 109.3 SR (USGS).75 110 110. Beberapa gempa besar juga sering terjadi di sekitar laut pantai selatan Yogyakarta tetapi tidak sampai menyebabkan kerusakan yang parah dan terjadinya Tsunami.4 83.5 Longitude Gambar 5. hal ini dikarenakan posisi sumber gempa yang dekat dengan daerah tersebut dan terletak pada kedalaman yang dangkal. Nilai maksimum percepatan getaran tanah ini berkisar antara 145 cm/sec2 sampai dengan 220 cm/sec2pada metode Gutenberg Richter dan 220 cm/sec2 sampai dengan 520 cm/sec2 pada peta yang diolah dengan menggunakan metode O’Brein (gambar 5.25 520 495 470 445 420 395 370 345 320 295 270 245 220 195 170 145 120 95 70 45 20 111. Kulon Progo.75 Boyolali Sleman Purworejo Klaten Yogyakarta Wates Surakarta Karanganyar Sukoharjo Wonogiri Bantul Wonosari -8 Kilometer 108.1 109. Sleman.5 Jepara Pati -6.25 Wonosobo Banjarnegara Purbolinggo Purwokerto Temanggung Salatiga Sragen Magelang -7.PETA KONTUR PGA JAWA BAGIAN TENGAH MENGGUNAKAN METODE O'BREIN Cm/Sec2 -6 -6.7 55.3). Hal ini menggambarkan bahwa Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan daerah yang sangat rawan terjadinya gempa bumi.25 110.5 108.75 109 0 27.75 Brebes Tegal Latiitude Rembang Kudus Pekalongan Batang Pemalang Demak Kendal Blora Semarang -7 Purwodadi Ungaran -7.5 Kebumen Cilacap -7.4. Bantul.

25 105.5 LONGITUDE Gambar 5.25 108.PETA PGA PADA DAERAH JAWA BAGIAN TENGAH MENGGUNAKAN METODE GUTENBERG RICHTER Cm/Sec2 -5.75 Kilometer -8 105 0 105.75 108 108.5 -7.5 106.25 105.75 Cianjur Kilometer Sumedang Majalengka Sukabumi Kuningan -7 Garut -7.75 27.75 1125 -6 Cilegon Serang 1050 975 Tangerang Jakarta Bekasi -6.1 0 106.75 106 106.7 106 55.25 Karawang Pandeglang Rangkas belitung -6.75 55.5 500 475 450 425 400 375 350 325 300 275 250 225 200 175 150 125 100 75 50 25 0 -5.5 107.25 -6.6.25 107.5.25 108.75 108 108.75 Kilometer -8 105 0 27.25 106.5 225 150 -7.5 83.75 Cianjur Sukabumi Kuningan -7 675 600 Sumedang Majalengka 525 450 Garut -7.5 Longitude Gambar 5.25 Tasikmalaya Ciamis 375 300 -7.75 -6 Cilegon Serang LATITUDE Tangerang Jakarta Bekasi -6.25 106.75 107 107.75 107 107.5 105.4 75 83.5 107. Peta percepatan getaran tanah maksimum Pulau Jawa Bagian Barat menggunakan metode Gutenberg Richter (interval kontur 25 cm/sec2) -5.25 105.5 105.25 Tasikmalaya Ciamis -7. Peta percepatan getaran tanah maksimum Pulau Jawa Bagian Barat menggunakan metode Murphy O’brein (interval kontur 75 cm/sec2) 57 .25 107.5 Latitude 900 Karawang Pandeglang Rangkas belitung Purwakarta Bogor Indramayu 825 750 Subang Cirebon -6.5 PETA KOMTUR PGA JAWA BAGIAN BARAT DENGAN MENGGUNAKAN METODE O'BREIN Cm/Sec2 1200 -5.5 106.5 Purwakarta Bogor Indramayu Subang Cirebon -6.

Berdasarkan peta kontur percepatan getaran tanah pada wilayah Jawa Bagian Barat yang meliputi Propinsi Banten. Berikutnya gempa bumi Jawa Barat 2 September 2009 yang lebih dikenal dengan Gempa Bumi Tasikmalaya dengan magnitudo 7. Propinsi Jawa Timur yaitu antara 20 cm/sec2 sampai dengan 145 cm/sec2 (dengan metode Gutenberg Richter).8 SR (USGS) yang bepusat pada kedalaman 38 km dan koordinat 6.7) dan nilai 20 cm/sec2 sampai dengan 420 cm/sec2 pada metode Murphy O’brein (gambar 5. DKI Jakarta dan Jawa Barat di dapatkan nilai antara 0 cm/sec2 sampai dengan 500 cm/sec2 pada peta yang diolah dengan menggunakan metode Gutenberg Richter (gambar 5.105. Dengan percepatan getaran tanah maksimum terbesar terdapat di daerah Kabupaten Banyuwangi.778° LS 107.328° BT sebelah Selatan Indramayu atau Barat Daya Tasikmalaya.6). sedangakan Gempa Bumi Tasikmalaya 2009 mempengaruhi percepatan getaran tanah maksimum di wilayah Propinsi Jawa Barat.8).0 SR (USGS) pusat gempa berada di Samudera Hindia pada kedalaman 49 km dan 7. Berikutnya peta kontur percepatan getaran tanah maksimum pada wilayah Jawa Bagian Timur tampak pada gambar di bawah ini (gambar 5.63° BT sebelah Barat Daya atau 59 km dari Kabupaten Pandeglang Banten.7 dan 5.8) yang meliputi wilayah Propinsi Jawa Timur didapatkan nilai antara 20 cm/sec2 sampai dengan 270 cm/sec2 pada peta yang diolah dengan menggunakan metode Gutenberg Richter (gambar 5. dan 70 cm/sec2 sampai dengan 270 cm/sec2 (dengan metode Murphy O’brein). Propinsi Banten yaitu antara 225 cm/sec2 sampai dengan 325 cm/sec2 pada metode Gutenberg Richter dan 300 cm/sec2 sampai dengan 600 cm/sec2 pada peta yang diolah dengan menggunakan metode Muphy O’brein. Gempa yang mempengaruhi percepatan getaran tanah 58 . Dengan percepatan getaran tanah maksimum terbesar terdapat di daerah Kabupaten Pandeglang. Pada event gempa 25 oktober 2000 mempengaruhi percepatan getaran tanah maksimum di wilayah sekitar Propinsi Banten.5) dan nilai 0 cm/sec2 sampai dengan 1200 cm/sec2 pada metode Murphy O’brein (gambar 5.55° LS . Percepatan getaran tanah maksimum pada wilayah Jawa Bagian Barat di pengaruhi oleh dua event gempa berkekuatan besar yaitu gempa yang terjadi pada 25 oktober 2000 dengan magnitudo 6.

Peta percepatan getaran tanah maksimum Pulau Jawa Bagian Timur menggunakan metode Murphy O’brein (interval kontur 72 cm/sec2) 59 .75 114 114.89º BT pada kedalaman 40 km.5 111.25 113.25 Sumenep Bangkalan Jember 195 Banyu wangi 170 145 120 -8.7.25 345 Pamekasan Sampang 320 295 Ngawi Latitude Gresik Surabaya -7.75 112 112.25 112.5 270 -6.75 55.25 20 111 111.1 111 111.75 115 LONGITUDE Gambar 5.5 MagetanMadiun Nganjuk -7.25 Sumenep Bangkalan Trenggalek Tulungagung Blitar Lumajang Pacitan 120 Jember Banyu wangi 95 -8.25 113.4 83.25 114. PETA PGA PADA DAERAH JAWA BAGIAN TIMUR MENGGUNAKAN METODE GUTENBERG RICHTER Cm/Sec2 -6.8.75 370 Tuban -7 Lamongan Bojonegoro -7.17º LS dan 114.5 111.maksimum pada daerah tersebut adalah gempa pada tahun 1976 dengan skala gempa 6.75 Ponorogo Nganjuk Mojokerto Sidoarjo Jombang 270 Pasuruan Probolingo Kediri Trenggalek Tulungagung Blitar Lumajang Pacitan Besuki 245 Situbondo 220 Bondowoso Malang -8 -8.75 45 Kilometer 0 -9 27.75 112 112.5 113.25 111. Peta percepatan getaran tanah maksimum Pulau Jawa Bagian Timur menggunakan metode Gutenberg Richter (interval kontur 25 cm/sec2) PETA KONTUR PGA JAWA BAGIAN TIMUR DENGAN MENGGUNAKAN METODE O'BREIN Cm/Sec2 -6.5 70 -8.25 111.5 114.75 114 114.5 420 395 -6.7 55.5 114.5 112.5 95 -8.75 Tuban 245 -7 Lamongan Bojonegoro Gresik -7.75 -9 70 Kilometer 0 27.75 113 113.25 114.75 113 113.5 83.5 112.5 113.75 115 45 20 Longitude Gambar 5.25 112.75 Mojokerto Sidoarjo Jombang 170 Pasuruan Probolingo Kediri Ponorogo Situbondo Besuki 145 Bondowoso Malang -8 -8.25 195 Ngawi LATITUDE 220 Pamekasan Sampang Surabaya -7.5 MagetanMadiun -7.5 SR (USGS) yang berpusat pada koordinat 8.

) pada metode Gutenberg Richter dan 0 – 700 cm/sec2 pada metode Murphy O’brein(gambar 2.).10.). 5.9 dan 5.) dan 0 – 400 cm/sec2 pada metode Murphy O’brein (gambar 2. Reasuransi Internasional Indonesia adalah karena terdapatnya dua event gempa bumi besar pada penelitian ini yaitu gempa bumi Yogyakarta tahun 2006 dan gempa bumi tasikmalaya tahun 2009. Reasuransi Internasional Indonesia dan peneliti dari Badan Meteorologi dan Geofisika menggunakan data seismisitas tahun 1900 sampai dengan tahun 2000 yaitu untuk wilayah Jawa Bagian Tengah antara 0 – 300 cm/sec2 pada metode Gutenberg Richter (gambar 2.). sedangkan untuk wilayah Jawa Bagian Timur adalah 0 – 300 cm/sec2 (gambar 2.10). Baik nilai percepatan getaran tanah maksimum yang diolah dengan menggunakan metode Gutenberg Richter dan juga metode Murphy O’brein nilai percepatan getaran tanah maksimumnya maupun pola konturnya sangat berbeda dengan penelitian yang pernah dilakukan oleh PT.14) 60 .11.Dari beberapa peta kontur PGA di atas baik yang diolah dengan menggunakan metode Gutenberg Richter maupun metode Murphy O’brein masing-masing peta menggambarkan daerah yang paling besar tingkat resiko yang diakibatkan oleh gempa bumi adalah Propinsi Banten dan Jawa Barat. kemudian berikutnya adalah Daerah Istimewa Yogyakarta.9. maka dapat dibuat peta kontur intensitas gempa seperti terlihat pada Gambar (5.13. dan pada wilayah Jawa Bagian Barat yaitu antara 0 – 400 cm/sec2 (gambar 2. Intensitas Maksimum Nilai intensitas maksimum gempa didapatkan setelah melakukan perhitungan nilai intensitas pada epicenter dengan memasukan parameter percepatan getaran tanah maksimum sesuai dengan persamaan (4.12.4) Subarjo dan Prih Harjadi (1993). Suatu hal yang menyebabkan perbedaan pada penelian ini dengan penelitian yang pernah dilakukan oleh PT.8.) pada metode Gutenberg Richter dan 0 – 400 cm/sec2 pada metode Murphy O’brein (gambar 2. pada peta intensitas yang diolah dengan metode Gutenberg Richter dan metode Murphy O’brein dengan persamaan (3.2.

9.9) antara 1 sampai dengan 9 skala MMI (Modified Mercalli Intensity).5 Latitude 9 8. sedangka pada peta yang diolah dengan menggunakan metode Murphy O’brein (gambar 5.5 Kilometer -9 105 5 0 111 222 333 106 107 108 109 4.5 -6 10 9.Peta intensitas maksimum dengan metode Gutenberg Richterpada skala MMI Pulau Jawa Peta Intensitas Maksimum Pulau Jawa Menggunakan Metode Murphy O'brein MMI 11 10. Nilai intensitas untuk daerah di Pulau Jawa pada peta yang diolah dengan metode Gutenberg Richter (gambar 5. Dari peta kontur intensitas gempa bumi.5 -8 6 5. daerah yang memiliki nilai intensitas tinggi (gambar 5.5 -7 8 7.5 7 6.9) adalah 6 sampai dengan 8 skala MMI 61 .5 110 111 112 113 114 4 115 Longitude Gambar 5.10.10)) antara 4 sampai dengan 11 skala MMI (Modified Mercalli Intensity).PETA INTENSITAS MAKSIMUM PULAU JAWA MENGGUNAKAN METODE GUTENBUERG RICHTER MMI 9 -6 Jakarta 8 Latitude 7 Bandung Semarang -7 6 Surabaya 5 Yogyakarta 4 -8 3 Kilometer -9 105 2 0 111 222 333 106 107 108 109 1 110 111 112 113 114 115 Longitude Gambar 5.Peta intensitas maksimum dengan metode Murphy O’breinpada skala MMI Pulau Jawa Berdasarkan peta kontur intensitas gempa bumi terlihat bahwa pola konturnya hampir sama dengan peta kontur percepatan getaran tanah maksimum.

dan Gunung Kidul (Media Center Gempa DIY. Daerah dengan nilai intensitas gempa bumi sedang 6 sampai dengan 7 skala MMI (gambar 5.1.10).0 SR(USGS). Purwodadi. Ciamis.9) dan 6.10) berada di Propinsi Jawa Barat yaitu. Dan selanjutnya untuk tingkat resiko pada tiap-tiap daerah rawan gempa di Pulau Jawa berdasarkan besarnya nilai intensitas dan percepatan getaran tanah maksimum dengan menggunakan metode Gutenberg Richter dan Murphy O’brein. Sedangkan nilai intensitas di daerah Kabupaten Pandeglang. Cianjur. Purbalingga. serta sebagian dari wilayah Gunung Kidul. Tasikmalaya.5 skala MMI (gambar 5. sebagian daerah Sukoharjo dan Boyolali dan beberapa kabupaten/kota di Propinsi Jawa Timur. dari tingkat sedang hingga tingkat sangat besar dapat dilihat pada tabel 5. Garut.9) dan 5. Kulon Progo. 2006). Banjarnegara. kerusakan terparah terdapat pada daerah Bantul. dan Sleman serta Kabupaten Pandeglang Propinsi Banten. yakni daerah yang sebagian besar terdapat di bagian tengah propinsi Jawa Tengah seperti Purwokerto. kota Yogyakarta. Temanggung. Banten disebabkan oleh gempa yang terjadi pada 25 oktober 2000 dengan magnitudo 6.63° BT. Bantul.Untuk daerah dengan nilai intensitas gempa bumi rendah 4 sampai dengan 5 skala MMI (gambar 5.5 sampai dengan 7 MMI (gambar 5.55° LS . Wonosobo.5 sampai dengan 8. Kulon Progo. Sragen. Besarnya nilai intensitas gempa di Daerah Istimewa Yogyakarta ini disebabkan pengaruh dari gempa bumi yang terjadi di Yogyakarta (27 Mei 2006) karena letak sumber gempa yang berada dekat dengan daerah tersebut.105.(Modified Mercalli Intensity) dan 4 sampai dengan 11 (gambar 5. Karanganyar. Sukabumi. Surakarta.10) yaitu Daerah Istimewa Yogyakarta yang meliputi kota Yogyakarta.8 SR (USGS) yang berpusat pada kedalaman 38 km dan koordinat 6. Nilai intensitas pada daerah ini dipengaruhi oleh gempa yang terjadi pada gempa bumi Tasikmalaya pada tahun 2009 dengan magnitudo 7. Hal ini juga sesuai dengan kenyataan di lapangan yang banyak terdapat kerusakan bangunan rumah serta fasilitas-fasilitas pemerintahan dan juga banyak menelan korban jiwa. Sleman. 62 .

184 Kediri 8.428 resiko besar satu 125.1 14 134.0 149.772 18 Magelang 7.502 26 Magetan 7.793 28 Tuban 7.8 8.1.Tabel 5.0 149.913 190.1 71.0 176.84 27 Kebumen 7.443 Garut 8.016 Pandeglang dua 155.7 117.1 159.2 77.012 7 Klaten 8.674 Cilegon Rangkas belitung Bandung 8.863 2 3 Wonosari Pandeglang 8.1 189.7 262.079 11 Serang 8.069 6 Wates 8.33 16 Wonogiri 7.7 119.126 Wates 8.528 17 Purworejo 7.4 8.303 25 Majalengka 7.34 Tasikmalaya 8.0 180.6 109.811 29 Sumedang 7.5 234.657 Tuban 8.951 8.7 152.818 21 Bogor 7.393 Boyolali 7.728 24 Cianjur 7.3 373.7 112.4 94.3 82.8 122.9 190.447 13 Ciamis 7.854 19 Sukabumi 7.8 154.843 Sukoharjo 7.82 Sumedang 7.403 Cianjur 8.2 197.9 164.47 Boyolali 7.5 102.8 162.2 202.249 299.2 76.814 besar tiga Metode Murphy O'brein Kota MMI PGA Bantul 9.912 Pacitan 7.2 203.821 10 Cilegon Rangkas belitung Banyu wangi Magetan resiko besar 159.1 8.9 137.0 173.1 74.7 112.979 20 Surakarta 7.1 155.717 Majalengka 7.9 310.608 9 resiko sedang tiga Resiko sedang dua Zona Bahaya Resiko sangat besar satu Resiko besar tiga Resiko besar dua Resiko besar satu Tabel 5.874 Kuningan 7.661 23 Salatiga 7.0 177.0 174.6 141.7 114.4 221.5 98.562 Banyu wangi 8.9 168.432 4 Yogyakarta 8. Tingkat resiko gempa bumi berdasarkan nilai intensitas dan PGA No 1 Metode Gutenberg Richter MM Zona KOTA PGA I Bahaya Resiko Bantul 8.68 Ciamis 7.1.995 Sleman 8.678 30 Garut 7.1 162.4 206.6 139.7 270.2 197.1 184.016 8.6 140.26 Yogyakarta 8.657 8.16 5 Sleman 8.1 8.009 Klaten 8.3 195.2 202.449 Purwakarta 7.1 74.624 22 Pacitan 7.7 145.978 Bogor 8.29 8 8.971 Serang 8.042 Sampang 8.3 186.245 Tangerang 7.1 189. di atas dapat dilihat bahwa wilayah yang paling besar tingkat resikonya adalah Kabupaten Bantul kemudian Wonosari Daerah Istimewa Yogyakarta baik pada metode Gutenberg Richter maupun metode Murphy 63 .0 8.478 Wonosari Sukabumi 9.447 12 Tasikmalaya 7.693 15 Sukoharjo 7.

11) dan tabel (5. sedangkan pada 64 . yang terdapat suatu hubunngan yang berbanding lurus antara nilai intensitas dengan PGA. Perbedaan Pada Metode Gutenberg Richter dan Murphy O’brein Hal mendasar yang membedakan pada kedua metode tersebut adalah penulis mendapatkan beberapa parameter yang menyebabkan besarnya nilai percepatan getaran tanah maksimum maupun nilai intensitas maksimum pada metode Murphy O’brein lebih besar nilainya dibandingkan dengan metode Gutenberg Richter.3. Hubungan intensitas dengan jarak epicenter 3. Propinsi Banten pada metode Gutenberg Richter dan Kabupaten Sukabumi.2) di bawah ini yang menyatakan hubungan nilai intesitas (MMI) gempa bumi dengan PGA (Peak Ground Acceleration).O’brein. Hubungan percepatan getaran tanah maksimum dengan intensitas MMI pada metode Murphy O’Brein dan metode Gutenberg Richter dapat dilihat pada Gambar (5. Hubungan Nilai Percepatan Getaran Tanah Dengan Intensitas Nilai percepatan getaran tanah maksimum pada suatu daerah dipengaruhi oleh besarnya nilai intensitas gempa bumi. Pada metode Murphy O’Brein nilai percepatan getaran tanah maksimumnya adalah sekitar 1778 gal (cm/sec2). 5. Hubungan nilai percepatan getaran tanah dengan intensitas 2. Hubungan percepatan getaran tanah maksimum dengan jarak epicenter 5.3.1. Kemudian tingkat resiko paling besar ketiga adalah Kabupaten Pandeglang. sehingga terdapat suatu hubungan yang berbanding lurus antara nilai intensitas dengan nilai percepatan getaran tanah maksimumnya. Semakin besar intensitasnya maka semakin besar pula nilai percepatan getaran tanahnya. artinya semakin besar nilai intensitasnya maka semakin besar pula nilai PGA-nya. Peopinsi Jawa Barat pada metode Murphy O’brein. Untuk itu penulis menganalisa dari beberapa sudut pandang diantaranya adalah: 1.

namun kenyataannya jika dilihat dari beberapa peta kontur percepatan getaran tanah maksimumnya di atas justru metode Murphy O’brein lah yang memiliki nilai percepatan getaran tanahnya yang lebih besar. Hal ini karena pada metode Murphy O’brein memiliki nilai PGA yang lebih besar dari Guntenburg Richter pada sekala 1 sampai dengan 9 MMI. Gambar 5. Komparasi hubungan percepatan getaran tanah maksimum dengan intensitas (MMI) metode Gutenberg Richter dan Metode Murphy O’brein 65 . Dari gambar (5. sedangkan pada skala intensitas lebih dari 9 sampai dengan 12 MMI nilai PGA pada metode Guntenberg Richter lebih besar dibandingkan metode Murphy O’brein.metode Gutenberg Richter nilai percepatan getaran tanah maksimumnya adalah sekitar 2884 gal (cm/sec2).11) grafik tersebut dapat dilihat bahwa secara umum dalam skala 1 sampai dengan 12 MMI metode Gutenberg Richter memiliki nilai percepatan getaran tanah maksimum lebih besar dibandingkan dengan metode Murphy O’brein.11.

6761 3. Sehingga menghasilkan suatu hubungan yang berbanding terbalik antara nilai intensitas dengan jarak episenter.1995 56.4454 5.2794 5.6234 3 3.0000 4 6.1209 316. Hubungan intensitas maksimum dengan jarak epicenter pada metode Gutenberg Richter menggunakan persamaan (4.0384 177.Tabel 5. menghasilkan suatu grafik di bawah ini (gambar 5.14).0903 10.8279 9 295.2341 7 64.12b).1254 31.1623 2 1.9629 1000.6228 6 30.2.5654 100.3.0315 1778.12a dan 5. Hubungan intensitas dengan PGA Nilai PGA MMI Metode GutenbergRichter Metode Murphy O’brein 1 0.4) dan metode Murphy O’brein menggunakan persamaan (3. Hubungan Intensitas Dengan Jarak Epicenter Nilai intensitas maksimum yang diakibatkan oleh gempa bumi akan semakin kecil seiring dengan bertambahnya jarak atau semakin jauh dari episenter gempa bumi. 66 .0000 12 2884.3413 11 1348.9573 562.2278 10 630.6069 17.2.0000 8 138.7828 5 14.

4) 67 .Gambar 5. Komparasi hubungan intensitas maksimum dengan jarak epicenter pada metode Gutenberg Richter dan Metode Murphy O’brein pada intensitas 8 MMI Gambar 5.12b. Komparasi hubungan intensitas maksimum dengan jarak epicenter pada metode Gutenberg Richter dan Metode Murphy O’brein pada intensitas 8 MMI (kurva linier) Pada metode Gunthenburg Richter hubungan intensitas maksimum terhadap jarak episenter didapatkan dari fungsi atenuasi hubungan intensitas terhadap jarak menurut Subardjo dan Prih Haryadi (1993) (Persamaan 4.12a.

menghasilkan garis kurva linier dengan R2=1. nilai intensitasnya lebih susah untuk diprediksi dikarenakan grafiknya yang unlinier. nilai intensitas di epicenter turun pada nilai 6.12a dan 5. log a = 0.002x dengan standar deviasi R² = 1.e-0.14 IMM + 0. Dan untuk mendapatkan suatu kurva yang linier pada metode Murphy O’brein ini.12b menghasilkan suatu 68 . Berbeda untuk hubungan intensitas dengan jarak pada metode Murphy O’brein yang pada setiap jaraknya.12a). sedangkan pada metode Murphy O’brein untuk mendapatkan suatu nilai intensitas 8 MMI dan menghasilkan kurva yang linier maka nilai standar deviasinya adalah R2 = 0. x = jarak pada epicenter.68 log R+βk Dengan : I = Intensitas gempa bumi (skala MMI) R = Jarak pada episenter (km) M = Magnitudo gempa bumi (SR) βk = Rekaman sumber data menghasilkan suatu kurva yang unlininer (gambar 5.55831 sehingga didapatkan persamaan exponensialnya adalah y = 8.00106x. Pada hubungan intensitas dengan jarak epicenter antara metode Gutenberg Richter dengan Murphy O’brein terjadi pertemuan nilai intensitas yang sama yaitu pada jarak epicenter R= 200 km.14) yaitu.2 MMI dengan R2=0.12b hubungan antara jarak dengan intensitas menhasilkan suatu persamaan exponensial yaitu y = 8.008e-0. Sedangkan fungsi atenuasi pada metode Murphy O’brein didapat dari persaaman (3. Pada gambar 5. y = intensitas MMI.24 M –0. Gambar 5. dengan R2 adalah nilai simpangan baku atau deviasi standar dengan data sebenarnya. Jadi pada metode Guntenberg Richter hubungan jarak dengan intensitas untuk setiap jarak tertentu dapat dipastikan nilai intensitasnya. artinya pada metode Guntenberg Richter ini memiliki ketepatan nilai dengan data sebenarnya.91344.

Hubungan intensitas maksimum dengan jarak pada metode Murphy O’brein setelah dilakukan analisa menghasilkan data tabel berikut (tabel 5.3) yang menyatakan intensitas maksimum suatu titik pengukurannilainyaadalah sama pada epicenter dan saat R=0 adalah sebagai berikut.5 km nilai intesitasnya bersuaian dengan nilai intensitas yang berada di epicenter (R=0 Km). maka nilai intensitasnya terlihat lebih besar dari nilai intensitas di episenter atau pusat gempa bumi. Satu hal lagi yang menyebabkan nilai intensitas maksimum maupun percepatan getaran tanah maksimumnya pada peta yang diolah dengan menggunakan metode Murphy O’brein terlihat lebih besar dibandingan dengan peta yang diolah dengan menggunakan metode Gutenberg Richter. Berbeda sekali pada perhitungan nilai intensitas maksimum dengan metode Guthenberg Richter. dengan semakin besar jaraknya pada epicenter maka semakin kecil nilai intensitasnya. setelah dilakukan pengukuran untuk menentukan nilai saat intensitas maksimum sama nilai intensitasnya yang berada di episenter (Lampiran E) dengan menggunakan contoh sample dengan intensitas yang dimaksukkan adalah 8 MMI pada jarak epicenter yang lebih dari 17 Km dan kurang 21.hubungan yang berbanding terbalik antara nilai intensitas dengan jarak episenter. sedangkan pada saat jarak epicenter kurang dari 17 km hingga medekati di epicenter (R hampir = 0 km) nilai intensitasnya lebih besar dari nilai intensitas yang ada di sumber gempa (R=0 km). yaitu pada saat jarak tertentu dan bahkan hampir sangat berdekatan dengan episenter nilai intensitas maksimumnya selalu di bawah nilai intensitas yang ada di episenter. 69 . Pada hubungan intensitas MMI dengan jarak epicenter pada metode Murphy O’brein. hal ini dikarenakan fungsi atenuasi dari metode Murphy O’brein apabila titik pengukuran sangat berdekatan dengan jarak episenter (pada jarak kurang dari 10 Km misalnya).

85 8 17 km > R < 21.5 9 20 km> R < 25. Oleh karena itu perlu di lakukan suatu pengukuran intensitas maksimum yang benar.5 km > R < 29.5 12 33 km > R < 42 km Maka dari pengujian nilai intensitas maksimum pada metode Murphy O’brein tidaklah tepat jika nilai intensitas maksimum pada jarak titik pengukuran ke episenter nilai intensitasnya melebihi nilai intensitas yang ada di episenter atau melebihi nilai intensitas yang dimasukkan dalam formula atenuasi Murphy O’brein tersebut.85 5 10.5 km> R < 13 km 4.5 km 7.5 km 6.15 1 Pada Saat I(x) Sama Dengan Intensitas Di Episenter (R =0Km) 5.5 km > R < 6.5 km 5.15 7 14 km > R <17.5 km > R < 10.5 km > R < 7.5 km 1. sehingga menghasilkan suatu grafik hubungan nilai intesitas maksimum dengan jarak pada epicenter yang linier dan berbanding terbalik antara nilai intensitas dengan jarak episenter (gambar 5.15 10 23.5 km 2.5 km 7.5 km> R < 36 km >8.85 11 28.13) adalah kurva grafik suatu perbandingan nilai intensitas terhadap jarak antara metode Gutenberg Richter dengan metode Murphy O’brein yang telah dilinierkan kurva grafiknya dengan standar deviasi atau simapangan bakunya adalah R² = 0.55831.5 6 12 km > R < 15 km 5.3. koreksi intensitas terhadap jarak pada saat intensitas bersuaian dengan intensitas di episenter Ms Intensitas (MMI) 1. Pada gambar grafik tersebut (gambar 5.5 km> R < 9 km 3.85 2 6.13) yaitu: 70 .5 3 7.15 4 8.Tabel 5. Maka dari grafik hubungan intensitas dengan jarak episenter pada metode Murphy O’brein (kurva linier) dapat diambil suatu persamaan exponensialnya untuk mencari nilai intensitas maksimum pada titik pengukuran terhadap jarak episenter dengan melinierkan garis grafik (5.13).5 km 3.

000107 R dengan deviasi standart R² = 0.Imax = IMM exp-0.55831 Sehingga pencarian suatu nilai percepatan getaran tanah maksimum pada metode Murphy O’brein dapat dicari dengan persamaan hubungan percepatan getaran tanah dengan intensitas yaitu : log α = 0.13. Komparasi hubungan intensitas maksimum dengan jarak epicenter Pada gambar 5. Murphy O’brein serta pada metode Murphy O’brein yang telah dilinierkan kurva grafiknya.13. Baik pada metode Murphy O’brein yang unlinier 71 .25 IMaX + 0.25 Dengan : α : percepatan getaran tanah maksimum Imax : intensitas maksimum dari titik pengukuran IMM : Intensitas MMI pada epicenter R : jarak titik pengukuran dari epicenter Gambar 5. jelas sekali perbedaannya antara metode Gutenberg Richter.

maupun yang telah dilinierkan kurva grafiknya.14 tersebut hubungan antara nilai percepatan getaran tanah maksimum adalah sama halnya dengan hubungan antara nilai intensitas dengan jarak. fungsi atenuasi pada metode murphy O’brein ini mempunyai efek resiko lebih luas radiusnya yang diakibatkan oleh suatu gempa. Sehingga. dan kurang sesuai jika diaplikasikan untuk pendekatan atau pendugaan tingkat resiko atau penentuan hazard map di Pulau Jawa ini.14) pada metode Murphy O’brein menghasilkan suatu nilai percepatan getaran tanah maksimum yang pada metode Murphy O’brein nilai percepatannya getaran tanah maksimumnya lebih besar dari metode Gutenberg Richter (gambar 5. Hubungan Percepatan Getaran Tanah Maksimum Dengan Jarak Epicenter Pada grafik Hubungan PGA dengan jarak epicenter menggunakan persamaan (3.13) pada metode dan persamaan (3. 72 . Karena mempunyai karakteristik kurva atenuasi terhadap jarak yang mirip dan sesuai dengan kondisi kerusakan di lapangan yang diakibatkan oleh gempa bumi. 5. 12 Desember 1992 pada metode Gutenberg Richter untuk penentuan tingkat resiko atau hazard map di Pulau Jawa ini. Pada gambar 5.3.14).3. hubungan nilai intensitas terhadap jarak lebih besar dan cenderung stabil redamannya dibandingkan dengan metode Gutenberg Richter. yaitu suatu hubungan yang berbanding terbalik antara nilai intensitas dengan jarak episenter. tetapi berbeda dan justru lebih sesuai jika menggunakan fungsi atenuasi dari Subardjo dan Prih Haryadi 1993 yang ditentukan berdasarkan gempa Flores.

14. sedangkan pada metode Murphy O’brein nilai percepatan getaran tanahnya pada 12.9 SR. 73 .Gambar 5. Jadi.69 cm/sec2 pada jarak 925 Km. pada jarak <825 Km nilai percepatan getaran tanah maksimum pada metode Gutenberg Richter adalah 0 cm/sec2. pada metode Murphy O’brein efek resiko yang diakibatkan oleh gempa bumi lebih luas dibandingkan efek yang diakibatkan oleh gempa bumi dengan metode Gutenberg Richter.9) Pada grafik hubungan PGA dengan jarak epicenter metode Murphy O’brein nilai percepatan maksimum yang didapatkan lebih stabil dibandingkan dengan metode Gutenberg Richter pada intensitas 8 MMI dan Magnitudo 5. Grafik komparasi hubungan PGA dengan jarak epicenter (MMI=8 dan M=5.

2. Propinsi Banten. dan peta intensitas gempa bumi maka dapat diambil beberapa kesimpulan yaitu : 1.BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6. sedangkan pada metode Murphy O’brein nilai percepatan getaran tanah maksimum terbesarnya adalah 1778 cm/sec2. kemudian berapa Kota/Kabupaten lain di Propinsi Daerah Isimewa Yogyakarta. Kesimpulan Berdasarkan hasil dan pembahasan dari peta percepatan getaran tanah maksimum. Baik nilai percepatan getaran tanah maksimum maupun intensitas maksimum pada peta yang diolah dengan menggunakan metode Murphy O’brein lebih besar nilainya dibandingkan dengan metode Gutenberg Richter. dikarenakan: 74 .1. Kabupaten Bantul dan Wonosari Propinsi Daearah Istimewa Yogyakarta. Berdasarkan besarnya tingkat resiko dan besarnya nilai percepatan getaran tanah maksimum dan nilai intensitas maksimumnya. Dari hubungan intensitas 1 sampai dengan 12 MMI dengan percepatan getaran tanah maksimum pada metode Gutenberg Richter secara umum lebih besar nilai percepatan getaran tanahnya yaitu sampai dengan 2884 cm/sec2. kemudian wilayah Kabupaten Pandeglang Propinsi Banten dan Kabupaten Sukabumi Propinsi Jawa Barat. 4. Sedangkan nilai intensitas maksimumnya adalah 1 sampai dengan 9 MMI pada peta yang diolah dengan menggunakan metode Gutenberg Richter dan 4 sampai dengan 11 MMI pada peta yang diolah dengan menggunakan metode Murphy O’brein. daerah yang menjadi rawan bencana gempa bumi yaitu daerah. 3. Percepaan getaran tanah maksimum Pulau Jawa pada peta yang diolah dengan menggunakan metode Gutenberg Richter antara 0 – 500 Cm/Sec2 dan pada peta kontur yang diolah dengan menggunakan metode Murphy O’brein adalah 0 – 1200 Cm/Sec2.

Dari hubungan percepatan getaran tanah maksimum dengan intensitas pada metode Murphy O’brein. Pada daerah-daerah rawan gempa bumi yang mempunyai tingkat resiko besar sebaiknya memperhatikan teknik serta konstruksi bangunan tahan gempa sehingga dapat memberikan faktor pengamanan yang lebih tinggi terhadap resiko gempa yang akan terjadi. Untuk penelitian selanjutnya perlu dikaji lagi fungsi atenuasi yang sesuai untuk kondisi lithologi maupun struktur geologi di Pulau Jawa untuk kedua metode tersebut. khususnya pada metode MuphyO’brein. 6. nilai percepatan getaran tanah maksiumnya pada skala 1 sampai dengan 9 MMI lebih besar dibandingkan dengan metode Gutenberg Richter. Baik nilai intensitas maupun percepatan getaran tanah maksimum pada metode Murphy O’brein radiusnya lebih luas dibandingkan dengan metode Gutenberg Richter. sehingga tingkat resiko yang diakibatkan oleh suatu gempa lebih luas radiusnya.a. Saran 1. Dari hubungan intensitas maksimum dengan jarak episenter pada metode Murphy O’brein pada saat jarak yang dekat dengan pusat gempa nilai intensitasnya melebihi nilai intensitas yang ada di pusat gempa. c. Sedangkan pada metode Guntenberg Richter nilai intensitas maksimumnya semakin mengecil sebanding dengan bertambahnya jarak dari pusat gempa ke titik pengukuran.2. 75 . sehingga baik nilai intensitas maupun nilai percepatan getaran tanah maksimumnya sesuai dengan kondisi kerusakan yang diakibatkan oleh suatu gempa yang terjadi di Pulau Jawa. b. 2.

K.N. 1985. pp. No.57-73. Second/Revised Edition”. Cambridge University Press. XV April 2008. Wandono. Vol.1 Thn. Douglas.2 Thn. dan Masyhur Irsyam.. 1978. Bulletin Of The Seismological Society Of America. Technology and Medicine. R. 42(B). Pasaribu Roberto. “Seismic Hazard Assasment For Peninsular Malaysia Using Gumbel Distribution Method”. Trieste. Karyono. San Francisco”. No. In Advancements In Engineering Seismology In Europe”.2008. A. 509 pp Cornel.5. “Peta Respons Spektrum Provinsi Sumatera Barat untuk Perencanaan Bangunan Gedung Tahan Gempa”. Guswanto. Birkhauser Verlag. “Earthquakes. Aminaton Marto. Freeman. B. Bullen. “Allowance for Seismic Velocity Gradient in a Horizontally Layered Flat Earth”. Geophysical Journal of the Royal Astronomical Society... No.2 Vol. 10: 45–49 Bullen. “The Correlation Of Intensity With Ground Motion. “Introduction To Seismology. “An Introduction to the Theory of Seismology”. Civil engineering Department. “Analisis Terhadap Intensitas Dan Percepatan Tanah Maksimum Gempa Sumbar”. K.. H.. London. W. Delfebriyadi. XV April 2008. and B. Laboratorium Geofisika Jurusan Teknik Sipil Unand Fauzi. 2009 . Imperical College of Science. Yuliana P. Edwiza Daz dan Novita Sri. N. “Engineering Seismology and Earthquake Engineering”. Iqbal.E. Ariska. 29 Vol. Bath. Masturyono. Mardiyono Rinto. Muzli. Azlan Adnan. A. 2001.1583-1606. Hendriyawan. "Aplikasi Sistem Informasi Geografi Untuk Peta Bencana Alam Di Indonesia”. J. 1974.RR. 2005. Laboratorium Geofisika Jurusan Teknik Sipil Unand Edwiza Daz. No. Reasuransi Internasional Indonesia 76 . Nugroho Sindhu. Jurnal Teknologi. A Primer. “Engineering Seismic Risk Analysis”. Bolt. Sulaiman Rasyidi.DAFTAR PUSTAKA Ambraseys. Paritusta Rizkita.58.“Pemetaan Percepatan Tanah Maksimum Dan Intensitas Seismik Kota Padang Panjang Menggunakan Metode Kanai”. 1979. E. M . C. Adi Rameo. 2005. (1965). 428 pp Bolt. 1968. 2008. Jurnal Teknik Sipil Universitas Andalas. PT. 29 Vol. Gafur Abdul.16. Subardjo. 4th Edition.

bulletin seismology. Inc: The United States of America.. JR. “Geoscientific Investigations on the Active Convergence Between the East Eurasian and Indo-Australian Plates Along Indonesia”. Sonne Cruise So-137 (Unpublished). 1967. Bulletin Seismology. Amsterdam.. Intensity. T.. and Richter. chilie. Proceeding APRU/AEARU Research Symposium 2007. Inst.469. and Salahuddin M. Incorporated.F.. Seismology. 1942. Jakarta. 1956. Hutagaol P. Academic Press.J. Santiago. “Earthquake and Fracture”. and Richter. World conf. Cruise Report.McGraw-Hill Book Company” . 4th.. Gutenberg B. 1999. 26. Earthquake Res. CF. “Seismicity of the Earth and associated phenomena”. “Scale of seismic intensity”. Hersberger. “Earthquake Magnitude. 77 . Lay. Tectonophysics. And C. 32: 163-191. Intensity. Gutenberg. Hafner Publishing Co.A. a.. j.. Soc. Lubis S. proc.sponheuer 1969. H. K. Tokyo University. 1965. Richter. “Introduction to Geophysics.. Hamilton. and T. Howell Benjamin F. Kawashumi. 46: 105.Ginco. 1975. 46. 521 pp. Wallace. 1951. Medvedev. 317 Katili. Amer. Soc. “Modern Global Seismology”.. 165-188. Mogi. and w. 1956. 2007. “Earthquake Magnitude. W. “Tectonic Of Indonesian Region”. Bull. earthquake eng. Energy. CF. 310 pp. B. 1995. Amer. 1979. J.C. 29. Am. Washington. 1959.. Energy. And Acceleration”(Second Paper). “Volcanism and plate tectonics in the Indonesian island arcs”. “Measure Of Earthquake Danger And Expectancy Of Maximum Intensity Throughout Japan As Inferred From The Seismic Activity In Historical Times”. Gutenberg B.Tectonophysics-Elsevier Publishing Company. v. Geological Survey Professional Paper 1078. “Tectonic Setting in the Vicinity of Subduction Zone off West Sumatera and South Java”. “A comparison of earthquake accelerations with intensity ratings”. And Acceleration (Second Paper)”. Bulletin. Soc.

E. “On the correlation of seismic intensity scales with the peaks of recorded strong ground motion”. Peak Ground Velocity. Skinner. J. (1977). vol. 1999. “Peta Rawan Bencana Gempa Bumi”. 225-236. Am. Barber.Murphy J. Bulletin of the Seismological Society of America. “Contrasting tectonic styles in the Neogeneorogenic belts of Indonesia”.. 106. Peluang dan Tantangan Lembaga Riset Kelautan Nasional. Neumann.J. “Eksplorasi Mineral di Daerah Oceanic Crust”.. Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi. T. Journal of Seismology 10: pp. Balitbang Energi dan Sumber Daya Mineral. H. 2001. 2nd ed. S. 1975.. F. 57.. Jakarta. Badan Geologi. 185-201. 2006. Pub. Syahputra. “Fungsi Attenuasi Intensitas Gempa Flores 12 Desember 1992”. Soc. Brady. A. Brisbane. Pusat Survei Geologi. Richter C.. Usman.O. “Seismotektonik Dan Potensi Kegempaan Wilayah Jawa”.000.v. Washington. no. xvi + 570pp. 2007. and O’Brien L. C. jl. Proceding PIT-HAGI Subardjo. And Modified Mercalli Intensity In California”. 25. “Relationships Between Peak Ground Acceleration. Geol. “The correlation of peak ground acceleration amplitude with seismic intensity and other physical parameters”. Bulletin of the Seismological Society of America.. Soc. Skripsi Program Studi Geofisika UGM. Simanjuntak. Wald. Singapore Soehaimi A. 3 no. 4 Desember 2008: 227-240. Jurnal Geologi Indonesia. F.65. university press. Seism. New York. dan Porter. 3.J. (1935). “An instrumental earthquake magnitude scale”. seattle. Toronto. “Intensitas Seismik Maksimum dan Percepatan Tanah Untuk Beberapa Kota di Indonesia”. Bandung Subardjo dan Prih Harjadi P. 1993. USA 78 . Skala 1 : 10. “Earthquake intensity and related ground motion”..D. Diponegoro no. Yogyakarta Trifunac.G.J.. London Spec.000. Jakarta.D. “The Dynamic Earth. Bull. 1992. 4. M. 1954. 2004. Vol 67. and A. 1996. Soehaimi A.An Introduction to Physical Geology”. “Perhitungan Percepatan Getaran Tanah Maksimum di Wilayah Aceh dan Kepulauan Andaman Nicobar (India) Menggunakan Metode McGuirre”. pp.1-32. Chichester. Badan Meteorologi dan Geofisika. 139-162. B.. Scordilis E 2006: “Empirical global relations converting Ms and mb to moment magnitude”. Jurnal Mineral & Energi vol. 877-915.pp.

wordpress. 14 November. 2010.lasonearth.co.html.id/gempa/Percepatan/obrien/jabar_obrien. 14 November. 2010 www. 2010 www.June www.id diunduh pada hari Senin.id/gempa/Percepatan/obrien/jateng_obrien. 14 November. 14 November.html diunduh pada hari Senin.Widigdo Ferry Markus.html diunduh pada hari Senin.bnpb.co. January 2006 .reindo. “Earthquake Data Base”. 2006.id/gempa/Percepatan/richter/jabar. 14 November.htm diunduh pada hari Senin. 2010 www. pukul 8:27:02 PM www.reindo. 2010.html diunduh pada hari Senin. Undegraduate.html diunduh pada hari Senin.com/2010/01/geologi-pulau-jawa. 14 November.neic.co. 2010.blogspot.migasnet08fajarramadhan8071. 2010 www.co. 2010 www.files.usgs. 14 November. pukul 4:44:06 PM www.htm diunduh pada hari Jum’at.diunduh pada 17 November 2010. 2010.gov/neis/epic/ epic_rect.reindo. Universitas Gajah Mada Yogyakarta.reindo.id/gempa/Percepatan/obrien/jatim_obrien. 14 November. www.com__Lempeng-DiBUmi.html diunduh pada hari Senin. NEIC. MIPA.geospasial.co. “Perhitungan nilai percepatan getaran tanah maksimum Daerah Istimewa Yogyakarta dengan metode Kanai”.com/2010/01/potensi-hidrokarbonpada-sub-cekungan.html diunduh pada hari Senin. pukul12:18:48 PM 79 .id/gempa/Reference/peta_gempa.indogeoart.jpg diunduh pada hari Rabu. 11 Desember.id/gempa/Percepatan/richter/jatim. 09 Februari.co. 14 November.pdf diunduh pada hari Senin.co.reindo.go. 2011.reindo.id/gempa/Percepatan/richter/jateng.reindo. 2010 www. pukul 9:22:16 PM www. 2010 www.

LAMPIRAN .

3 mbGS 30 1980 3 31 -8.98 49 5.69 106.31 107.89 112.76 106.3 mbGS 29 1980 3 20 -7.1 mbGS 8 1974 11 28 -8.86 69 5.59 62 4.95 112.7 33 4.29 108.05 105.2 33 4.5 MsGS 12 1976 7 14 -8.93 61 5.13 105.58 63 5.89 110.34 51 6.9 mbGS 35 1980 12 24 -8.9 mbGS 3 1973 11 26 -6.2 mbGS 31 1980 7 23 -7.1 mbGS 28 1979 12 22 -6.25 62 6.67 105.6 MsGS 10 1976 2 14 -8.04 106.61 65 5.5 105.01 65 4.17 114.5 mbGS 20 1978 11 11 -7.1 mbGS 24 1979 5 27 -6.79 107.16 105.9 106.01 105.9 mbGS 21 1978 12 20 -6.73 106.66 108.96 106.9 mbGS 34 1980 11 3 -8.87 112.61 53 5.7 mbGS 15 1977 9 1 -7.1 mbGS 17 1978 7 9 -7.9 mbGS 4 1974 4 23 -8.64 52 5.17 33 5.23 38 4.8 33 5.86 33 5.39 33 5.77 106.44 33 4.04 33 5.33 107.9 mbGS 11 1976 7 14 -8.04 63 5.4 mbGS 22 1979 3 19 -8.71 108.89 40 6.67 111.97 106.8 mbGS 16 1978 5 30 -8.21 106.7 mbGS 14 1977 8 14 -7.29 106.57 106.33 33 4.2 37 5.3 mbGS 32 1980 8 13 -7.68 27 5.46 59 5 mbGS 6 1974 9 19 -6.59 105.05 33 5 mbGS 33 1980 8 30 -6.34 51 5.2 mbGS 19 1978 9 21 -6.17 107.6 mbGS 36 1981 1 28 -8.9 mbGS 5 1974 6 8 -6.57 33 5.13 114.02 64 5.9 mbGS 13 1977 8 10 -8.6 mbGS 26 1979 10 10 -7.75 111.9 mbGS 18 1978 9 12 -7.27 105.5 mbGS 2 1973 10 14 -8.1 mbGS 23 1979 5 14 -7.1 mbGS 7 1974 11 9 -6.9 mbGS 27 1979 11 2 -7.13 33 4.33 57 5.9 mbGS .1 mbGS 25 1979 8 7 -8.08 108.16 33 5.76 107.52 54 5.8 mbGS 9 1975 2 9 -6.36 68 4.73 70 4.LAMPIRAN A DATA KATALOG GEMPA BUMI DARI USGS TAHUN 1973-2009 NO YEAR MO DAY LAT LONG DEPT MAGNITUDE 1 1973 7 27 -8.

63 106.21 106.44 106.02 106.87 53 4.5 mbGS 74 1985 9 11 -7.4 mbGS 72 1985 6 8 -7.4 mbGS 51 1983 10 2 -8.37 55 4.96 52 5.97 33 5.17 33 4.78 106.42 68 5 mbGS 53 1984 3 10 -7.9 mbGS 47 1983 2 25 -7.66 33 5 mbGS 66 1984 11 8 -8.19 106.29 107.2 mbGS 69 1985 3 22 -6.5 mbGS 39 1981 10 23 -8.33 33 5.1 mbGS 63 1984 8 19 -8.14 107.1 mbGS 43 1982 5 23 -6.15 33 5.1 mbGS 62 1984 8 19 -8.64 106.24 54 5.03 105.7 MsGS 40 1982 2 10 -6.81 106.8 mbGS 59 1984 7 21 -8.15 33 5.76 107.5 106.58 105.5 mbGS 55 1984 4 18 -7.1 mbGS 73 1985 7 9 -8.75 111.2 mbGS 46 1982 10 31 -6.33 33 4.14 105.8 mbGS 57 1984 5 14 -6.86 106.46 33 5.08 105.51 60 5.94 106.94 39 5.73 105.01 34 5.38 107.45 33 5.59 33 5.3 mbGS 49 1983 6 25 -7.49 106.1 mbGS 52 1983 11 13 -6.2 mbGS 71 1985 4 23 -8.86 57 5 mbGS 44 1982 9 13 -8.36 33 5.95 33 4.14 49 5 mbGS 56 1984 5 13 -7.1 mbGS …317 2010 11 9 -8.76 38 5.04 105.8 mbGS 75 1985 11 25 -8.46 106.2 mbGS 60 1984 8 3 -6.1 mbGS 48 1983 5 2 -8.43 51 5.76 110.21 105.31 58 5.18 33 5.7 mbGS 54 1984 3 15 -6.42 69 5.65 33 4.51 68 4.65 108.05 45 4.7 mbGS 70 1985 4 2 -7.02 64 4.2 mbGS 65 1984 10 3 -6 105.46 61 5.9 mbGS 50 1983 7 29 -6.6 mbGS 38 1981 10 23 -8.37 1981 3 13 -8.8 mbGS 67 1984 11 20 -7.42 105.9 mbGS 64 1984 8 19 -8.09 107.13 107.16 33 4.5 110.61 105.88 108.33 67 5.9 mbGS 61 1984 8 3 -7.52 33 5.1 MwRMT .54 105.66 106.85 114.5 mbGS 41 1982 3 22 -8.5 67 5.8 mbGS 58 1984 7 20 -8.17 68 5.52 106.22 33 5.1 mbGS 45 1982 10 29 -8.54 33 5.55 106.24 60 5.24 106.8 mbGS 42 1982 3 22 -8.2 mbGS 68 1984 12 15 -6.

LAMPIRAN B PENYERAGAMAN MAGNITUDE GEMPA MENGGUNAKAN MICROSOFT EXCEL 2007 penyeragaman ini dilakukan berdasarkan formulasi (Kanamori 1997 dan Scordilis 2006). Rumus yang untuk penyeragaman magnitude menggunakan Microsoft Excel 2007 adalah : Mb ke mw = (0.99 Gambar B1. ISC.02) Ms + 0.07(±0. Mw = 0.03(±0.2 berlaku untuk data NEIC.03 Mw 4 ems = (K2.85(±0. Penyeragaman magnitude gempa menggunakan Microsoft Excel 2007 .85*I2) + 1.67(±0.04) mb + 1.08)/0.03) Dengan syarat : Nilai 3.2 ≤ Ms ≤ 8. Mw = 0.99(±0.2 hanya berlaku untuk data katalog NEIC dan ISC.23) Dengan syarat : Nilai 3.005) Ms + 2.0.5 ≤ Mb ≤ 6.13) Dengan syarat : Nilai 6. Mw = 0. JMA dan IDC.1 hanya berlaku untuk data katalog NEIC dan ISC.08(±0.0 ≤ Ms ≤ 6.

Formula perhitungan percepatan getaran tanah maksimum dengan metode Gutenberg Ricther menggunakan Microsoft excel 2007.5*(H2-0.5)^2)^0.7183^(-0. .1.5 LS dan 105.LAMPIRAN C PERHITUNGAN PGA MENGGUNAKAN MICROSOFT EXCEL 2007 Rumus Perhitungan Perhitungan metode Gutenberg Ricther menggunakan Microsoft excel 2007 Pada Titik Pengukuran Pada Koordinat 5.0021*I2)) Mencari Nilai PGA =10^((K2/3)-0.00 BT Formula yang digunakan adalah : Mencarian Jarak Epicenter 5.5)) Mencari Inensitas Maksimum Suatu Daerah =J2*(2.5) =111*((((F2-105)^2)+(E2- Mencari Besar Intensitas Gempa =(1.5) Gambar C.

25)/0.14*J2)+(0.Rumus Perhitungan Perhitungan metode Murphy O’brein menggunakan Microsoft excel 2007 Pada Titik Pengukuran Pada Koordinat 5.68*LOG(I2))+0. .5) Mencari Besar Intensitas Gempa Mencari Nilai PGA (0.5 LS dan 105.24*H2)- Mencari Inensitas Maksimum Suatu Daerah =(LOG(K2)-0.25 Gambar C.5*(H2-0.6) =111*((((F2-105)^2)+(E2- =(1.00 BT Formula yang digunakan adalah : Mencarian Jarak Epicenter 5.5)) =10^((0.2 Formula perhitungan percepatan getaran tanah maksimum dengan metode Murphy O’brein menggunakan Microsoft excel 2007.5)^2)^0.

66 5.3 7.98 5.4734 .8 125.1 6.75 2001 3 3 -6.5 1995 5 16 -8.3 85.236 7.5 45.547 7.6661 106 -7 1979 10 10 -7.66 5.0 30.8 106.0 6.1 6.844 7.78 106.25 -7.5 1984 8 19 -8.443 9.0 6.5825 106.9 21.91 5.020 7.04 6.3 6.31 5.1 6.8 91.7253 106.729 8.3484 106 -8.27 5.3 108.260 7.0 32.996 9.6632 106.2 5.4 5.5 1979 10 10 -7.25 -5.68 5.3 40.1 7.3 8.63 6.1 22.3 84.3 46.4 7.2 7.25 -8.8 41.3 7.0435 10 3 -6 105.49 106.8206 106.3 85.964 7.9 6.66 5.9 6.3 7.2 78.29 106.66 5.66 5.21 106.44 5.25 1992 11 18 -7.5 2003 11 24 -7.3 71.453 9.25 -8.0 150.2 36.7163 106.3357 106 -7.0 69.3735 106.27 106.55 105.75 1975 2 9 -6.7 52.05 105.883 6.2904 106 -8.21 106.621 8.63 6.22 5.495 8.1 6.75 2003 11 24 -7.508 7.5 1984 10 3 -6 105.1 35.25 1978 5 30 -8.69 106.2 5.621 7.1 6.155 7.25° GRID x GRID y YEAR MO DAY 106 -5.934 7.2 168.25 -6 2000 10 25 -6.1 12.75 1992 9 26 -7.4 4.5 7.63 6.25 -7.25 -8.4 12.5682 2000 10 25 -6.55 105.25 -8 1984 7 21 -8.3 67.1457 106.4 8.55 105.0 67.55 105.844 7.646 7.3001 106.550 7.5 1984 10 3 -6 105.25 -6.44 5.34 5.25 2000 10 25 -6.6 49.116 7.4 23.4204 106 -9 1989 2 19 -8.4868 106.9802 106.6331 3 -6 105.25 1979 10 10 -7.25° X 0.3799 106 -7.19 5.4367 106 -7.2 79.2017 106.8 123.2830 106.669 7.307 7.5 48.5 1984 10 3 106 -5.69 105.4 8.04 6.5248 106.66 106.25 1984 7 21 -8.1 5.4 7.006 6.4 11.7 24.4 205.530 7.8 106.874 9.0 69.8415 -6.1 6.25 -6.1 7.4 7.25 -7 2003 12 3 -6.0 23.9 60.8 5.9678 106 -8 2002 7 9 -8.4 92.740 7.5 -5.4 7.96 106.75 1990 1 20 -6.01 5.9 134.9 6.25 -6.21 106.279 8.56 106.3 7.3 32.3373 106.4 30.25 -7.25 -5.4 8.020 7.34 5.6 240.9 30.5 2001 3 3 -6.22 5.232 7.8 56.5 7.3 7.2868 106.5 2000 10 25 -6.5 7.8 76.7 112.96 5.21 106.21 106.78 106.16 5.8 52.1223 106.25 -9 1990 1 5 -8.85 105.7 54.0 66.7 120.3 7.2 81.3 10.75 1984 10 106 -6 1984 106 -6.2 17.15 5.75 1984 10 3 -6 105.5 -5.3 37.4 7.LAMPIRAN D HASIL PENGOLAHAN DATA MENGGUNAKAN METODE GUTHENBURG RICHTER KE GRID 0.61 106.56 106.8 106.75 1990 1 5 -8.127 7.5 14.75 2006 5 19 -8.4 8.04 6.2 80.66 5.1883 106 -8.9275 106 -6.63 6.65 105.2 7.808 8.3 18.25 106 LAT LONG MS d (ic) I0 Ix(ic) a max -6 105.4985 106.

75 -7 1982 5 23 -6.8 110.107 6.69 106.75 -8.9 7.855 8.600 7.8 29.234 7.1 7.234 7.97 106.8697 107 -6 1975 2 9 -6.4 26.4 5.9 6.5954 106.3 85.8 57.7 53.68 5.37 5.5 2000 7 12 -6.660 7.640 7.7 13.5 1975 2 9 -6.7 10.5 1984 3 10 -7.8 79.44 5.0394 106.75 1982 2 10 -6.2 14.4 5.3 6.7 9.8 5.68 5.5 -7.004 7.5 -6.476 7.5 1990 1 5 -8.68 5.8 57.0 7.8216 106.8 132.2 8.75 1975 2 9 -6.5 -8.983 7.85 5.25 1975 2 9 -6.4 95.7633 106.8 84.68 5.75 -7.6296 106.1 6.061 7.3 38.0 6.2 8.93 5.94 106.75 -8.3 7.0884 107 -6.25 1996 8 27 -7.25 1988 12 12 -8.25 1975 2 9 -6.1228 107 -7.3901 106.256 7.86 106.75 1975 2 9 -6.6 106.6830 106.68 5.0 68.4 7.07 5.68 5.0377 106.7134 106.426 7.2 76.1 72.69 106.115 ….69 106.75 -8 1978 9 12 -7.3 85.8 21.91 106.75 -6.9 6.94 5.25 1975 2 9 -6.126 7.1426 106.949 6.2 7.466 9.2 21.9 7.6 50.9 7.75 -9 1973 7 27 -8.1258 106.106.9 29.68 106.8072 107 -6.2 7.6405 106.48 5.6 105.68 5.8 76.5 -8.8 106.7 55.44 5.0 67.7 16.7 53.5 1991 9 21 -8.3 106.3045 107 -7.2504 106.9 7.3901 106.0 6.5 46.9 64.9 28.1636 107 -5.1716 107 -6.4 26.75 -8.1 74.051 7.75 1990 1 5 -8.454 7.1 7.86 5.9 7.67 5.8 106.3 7.8 126.9268 106.75 1990 1 5 -8.629 7.9 7.68 5.8 49.3 52.44 5.0 6.8 136.081 7.3 8.8 106.3 13.69 106.220 7.69 106.782 7.7694 106.65 114.35 106.69 106.5 -7.77 106.978 7.98 106.9451 107 -7.5926 106.75 1975 2 9 -6.75 1978 9 12 -7.69 106.35 106.9 5.5 103.29 107.9818 106.008 7.6 107.4 96..7542 ….0 7.7 55.68 5.9 7.49 5.2931 106.67 5.8 106.75 -5.9 34.908 7.9 6.8 5.75 2009 9 2 -7.0507 106.020 7.5 -6.8 104.9 6.96 5.25 1986 5 20 -7.9 16.44 5.9 62.69 106.4 7.9 6.-9 1996 7 20 -8.69 106.3 7.0 33.5 -9 1994 9 12 -8.75 -6.8 5.69 106.162 8.25 1991 1 30 -7.9 8.5 102.1713 106.0 31.8 22.908 7.9 6.6 107.69 106.9 33.68 5.015 8.78 107.5 1984 11 20 -7.8 7.94 5.669 8.8 122.5 1975 2 9 -6.77 106.5 -8 1978 11 11 -7.8989 106.68 5.75 -7.54 5.2483 106.69 5.9393 107 -5.75 -5.153 7.52 5.7 20.9 7.9 64.96 5.5 -8.391 7.25 1988 12 12 -8.96 106.893 7.32 106.6858 106.3 41.8 58.9 6.7 119.64 106.5 100.75 -7.5 -7.69 106.8 7.3461 .0 6.0 66.5 1984 3 10 -7.0784 106.8 7.1 334.8 52.69 106.73 5.8 60.64 106.907 7.769 7.0 148.4 7.75 1975 2 9 -6.5 1975 2 9 -6.318 7.5223 106.75 -6 1975 2 9 -6.3 6.75 -6.69 106.2 14.68 5.52 106.5 -6 1975 2 9 -6.978 7.8316 107 -7 1982 2 10 -6.68 5.55 106.68 5.75 1991 12 19 -7.5 1975 2 9 -6.6 104.959 8.215 7.1 8.5 -6.8 7.9 6.5 -7 1990 8 31 -6.5165 106.86 106.8 10.68 5.

8 5.6925 7.051 7.8 151.249 9.78 106.3 106 -7.25 -6.25 -6.44 5.63 6.3 188.69 106.55 105.25 -8.4 4.96 5.8 114.1 106 -9 1989 2 19 -8.9 83.5949 7.94 5.5 7.7106 8.49 106.4 281.8 106 -6 2000 10 25 -6.043 9.25 1978 5 30 -8.94 5.107 6.34 5.56 106.574 9.25 -5.1 106.6363 7.4 157.4 .2 106 -8.8 106.63 6.2 5.669 7.4 185.4 199.0369 7.0 152.68 5.3 18.75 1981 1 28 -8.25 2000 10 25 -6.4 100.75 2003 11 24 -7.9 124.4 269.191 9.4 106 -8.020 6.LAMPIRAN E HASIL PENGOLAHAN DATA MENGGUNAKAN METODE MURPHY O’BTRIN KE GRID 0.25 -6 2000 10 25 -6.21 106.55 105.3206 7.1 106 -6.550 6.4 106.25 1992 11 18 -7.0233 8.8 91.7 106 -7 1989 1 31 -7.9360 7.4 133.8 106 -7.3443 6.7503 7.1 145.579 9.5 1975 2 9 -6.550 7.1 22.63 6.6 106.6 106.4 142.4 23.7183 7.9 30.2 5.4 167.25° GRID x 106 GRID y -5.55 105.8 106 -8.3 109.25 1984 7 21 -8.63 6.25 -6.9 160.5 2000 10 25 -6.3479 7.04 6.8 76.56 106.47 106.55 105.25° X 0.978 7.7 106.22 5.006 6.5 2000 10 25 -6.7 106 5.5 250.02 105.8 105.05 105.346 9.1 5.1 12.6134 8.3 461.5 2003 11 24 -7.25 -9 1990 1 5 -8.2 143.63 6.4709 8.9 106.6256 8.359 9.155 7.4 238.4 190.55 105.232 7.55 105.25 -7.9270 6.5 1982 3 22 -8.25 -8.5 -6 2000 10 25 -6.7 106.4 163.7 106.2933 7.8 41.530 6.0 106.25 -5.6273 7.27 106.874 9.8 123.352 9.453 9.25 -7.16 5.0978 9.279 8.63 6.8 29.5 -5.66 106.8687 8.9 111.21 106.25 1979 10 10 -7.31 5.5 106 YEAR MO DAY LAT LONG MS d (ic) I0 a max ix(ic) 2000 10 25 -6.4 125.669 7.5168 8.5 2006 5 18 -7.63 6.6 106 -8 2002 7 9 -8.8 131.8 106 -6.63 6.5 106 -6.2 5.1 7.2 106.838 9.5 -5.73 106.1137 7.621 8.25 -8.4 141.964 7.020 7.9266 6.8 97.8 52.547 7.2 5.09 5.8 69.6 106.0 6.19 5.2 106.55 105.1 106.2 106.8 52.63 6.75 1992 9 26 -7.2 17.5 -6.25 1975 2 9 -6.4 5.21 106.55 105.5 2000 10 25 -6.9441 7.4 30.9 106.68 5.530 7.1 7.55 105.75 1997 5 10 -6.75 1988 12 19 -8.4 128.5221 7.0 95.8 112.63 6.95 5.3 275.25 -7.996 9.96 106.25 -8 1984 7 21 -8.621 7.9 71.1 10.27 5.85 105.6394 8.9 106.15 5.55 105.75 2001 3 3 -6.75 2000 10 25 -6.4305 8.5 2000 10 25 -6.9781 7.55 105.4 106.4 116.0 195.63 6.75 2000 10 25 -6.3 10.769 7.55 105.75 2000 10 25 -6.54 105.55 105.63 6.5 -5.0409 8.7 106 -7.9 159.6714 7.9 188.6381 7.63 6.3 106.883 6.25 -7 2003 12 3 -6.8 106.29 106.0306 6.22 5.9275 7.6284 8.443 9.5 1984 8 19 -8.2 8.5 -6.8 73.307 7.69 106.25 2000 10 25 -6.3 79.3200 7.9 121.4 8.6 106.4 11.8 135.

5 -7 1990 8 31 -6.85 5.9 60.4465 8.9 145.8952 7.7 10.8 191.3 106.95 5.626 7.256 7.0 108.8 106.476 7.5 1975 2 9 -6.5 2010 8 11 -7.75 -9 1973 7 27 -8.2 131.67 5.48 5.86 106.4 2.44 106.5 92.7 25.2252 6.78 107.8 10.75 -6.9 8.1 11.06 5.5 107 -7.8398 7.978 7.69 106.5 23.8 76.5 1993 10 13 -8.8 170.234 7.599 7.8 145.9 64.482 7.3 223.9 75.68 5.5 -7.68 5.25 1996 8 27 -7.2 8.75 1991 12 19 -7.220 7.9 148.76 106.777 9.44 5.8 124.8 230.3 13.52 5.75 -7.5977 7.7 107 -8.3 106.2984 8.25 1986 5 20 -7.9 253.978 7.983 7.93 5.49 107.55 106.9 111.68 5.75 1978 9 12 -7.91 106.1 107 -6.8 22.59 5.908 7.35 106.75 -7 1982 5 23 -6.75 -8.77 106.008 7.63 6.9169 9.75 1975 2 9 -6.5193 7.63 6.75 -7.051 7.68 5.98 106.4 115.2933 7.1399 7.5 1984 11 20 -7.2 21.37 5.753 9.75 1973 7 27 -8.3 7.75 1990 1 5 -8.7 106.75 -5.061 7.94 5.596 9.600 7.7753 6.020 7.081 7.5 -7.-9 1976 7 14 -8.4 6.75 -6.68 106.75 -5.32 106.2 106.7845 8.7523 6.69 106.9 378.660 7.5 -9 1994 9 12 -8.0 137.1 107 -7 1999 7 22 -6.7 20.5 1983 5 2 -8.69 106.97 106.5 2000 10 25 -6.1 7.9 34.669 8.3 89.82 5.9 159.75 -8.75 -8 2009 9 2 -7.69 106.7845 8.1017 8.25 2009 9 2 -7.68 5.5573 7.25 1988 12 12 -8.5 106.936 9.5 -8.36 5.4 99.94 106.1 174.1 106.0 195.76 106.081 6.86 5.0 107 -8.8 5.55 105.8 107 -6.5 -7.65 5.89 6.75 1973 11 26 -6.3503 7.8 107 -6 1975 2 9 -6.908 7.5 -8 1978 11 11 -7.9789 7.893 7.17 114.0 107 -5.0 106.69 106.5278 8.234 7.6 106.892 9.6 106.1 106.3 7.2 338.3 8.6720 8.69 106.69 5.75 -7.75 -6 1975 2 9 -6.6760 7.55 105.5 1991 9 21 -8.3 106.6 107 -8 2008 5 23 -7.75 -6.2 10.8 49.409 9.4 255.1926 7.9 86.4 …115 ….949 6.8 5.5 -6.955 6.5 -8.5 109.6 106.78 107.7 264.8687 8.4 5.55 105.3826 7.25 1988 12 12 -8.7197 7.7 253.5 -8.6 106.7 107 -5.8 106.978 7.215 7.1 125.4 5.5621 7.73 5.93 5.98 106.49 5.69 106.44 5.0 61.2 106.63 6.3115 6.0 81.855 8.7 13.8 110.46 106.2 14.1 8.8 60.75 1996 11 6 -7.2781 9.3 21.4 107 -7.8480 7.97 106.2 106.54 5.5 2000 10 25 -6.4 255.29 107.3284 8.75 1990 1 5 -8.8 106.107 6.8 106.752 7.6691 7.4 .6 106.6787 7.3 106.3187 6.4066 8.6 106.1 8.8 106.004 7.0 106.75 1982 2 10 -6.1 106.52 106.98 106.8 106.68 5.5 2000 7 12 -6.3 209.5 1984 5 13 -7.35 106.68 5.96 106.75 1975 2 9 -6.9806 7.98 5.2 5.0210 6.3 441.426 7.75 -8.75 2000 10 25 -6.3 7.8 84.7745 8.25 1975 2 9 -6.7 107 -7.4 26.1 120.2 14.3 99.0 65.7626 9.25 1991 1 30 -7.9 136.4311 7.106.391 7.3 106.0 160.2 107 -8.07 5.44 5.5 107 -6.454 7.4 107.3172 5.1 106.66 106.8 152.9 50.25 1975 2 9 -6.93 5.8 188.5 106.67 5.

25)/0.88 a = percepatan tanah pada tempat yang akan dicari IMM = intensitas gempa pada tempat yang akan dicari.24 M .0.69 βSouthern Europe = 0.0. ( dalam standar MMI) M = magnitudo R = jarak episenter dalam km β = tetapan untuk sumber data dari stasiun pengukuran yang terekam oleh seismograf (source data record) . Pencarian nilai intenitas maksimum pada suatu jarak dari episenter menggunakan rumus hubungan Intensitas dengan PGA yaitu: IMM= (log a .68 log R + βk (3.LAMPIRAN F KOREKSI INTENSITAS MMI DENGAN JARAK EPICENTER METODE MURPHY O’BREIN Koreksi nilai intensitas maksimum di mana saat nilai intensitas pada suatu jarak sama dengan intensitas di episensenter.14 IMM + 0.60 βJapan = 0.25 Di mana : α adalah Percepatan getaran tanah maksimum (gal). dan IMM adalah Intensitas gempa dalam skala MMI Sedangkan untuk mencari nilai PGA (Peak Ground Acceleration) pada jarak episenter adalah log a=0.14) Di mana: βWestern Ubited Satates = 0.

βk yang digunakan dalam perhitungan ini adalah βk= 0.14*6)+(0.68*LOG(A2))+0.25 Gambar F1.6 karena menggunakan data USGS (United States Geological Survey.24*4.5 SR adalah: =10^((0. Pengujian intensitas MMI pada jarak epicenter menggunakan Microsoft excel 2007 .5)-(0. Formula yang dipakai untuk menghitung nilai PGA dengan Microsoft excel 2007 nilai intensitas pada episenter = 6 MMI dan Magnitudo = 4.6) Formula yang dipakai untuk menghitung nilai intensitas maksimum dengan Microsoft excel 2007 adalah: =(LOG(B2)-0.25)/0.

8 15.2 14.6 13.50 6.50 30.2 13.50 24.3 12.7 12.1 12.2 12.50 26.00 9.50 29.00 Nilai PGA 20893 15858 13041 11205 9898 8913 8140 7513 6994 6555 6178 5851 5563 5308 5080 4875 4689 4520 4365 4223 4091 3969 3856 3751 3652 3559 3472 3391 3313 3240 3171 3105 3043 Nilai intensitas 16.50 37.5 12.5 Skala Richter Jarak epicenter (km) 1.3 12.00 10.00 7.1 14.00 25.50 15.50 23.50 32.6 12.00 26.50 3.0 13.50 25.00 32.00 6.0 13.00 22.3 14.2 12.5 13.50 13.7 13.8 13.00 14.3 12.6 12.0 12.50 31.4 12.6 12.00 24.8 14.50 33.1 12.4 14.00 5.5 12.50 16.50 2.0 12.00 35.00 13.50 27.00 11.9 13.LAMPIRAN G HASIL KOREKSI INTENSITAS MMI DENGAN JARAK EPICENTER METODE MURPHY O’BREIN Tabel G1.50 12.9 Jarak epicenter (km) 21.00 23.2 13.6 12.50 28.3 12.00 31.1 12.00 4.7 12.3 13.00 33.6 13.3 13.00 16.50 8.4 13.00 3.50 4.5 12.50 17.50 5.4 12.00 30.0 13. hubungan intensitas dengan jarak pada skala 12 MMI dan magnitude 8.2 12.1 13.00 29.1 12.50 11.50 35.00 12.5 14.00 Nilai PGA 2636 2594 2554 2515 2478 2442 2407 2373 2341 2310 2279 2250 2222 2194 2167 2141 2116 2092 2068 2045 2022 2001 1979 1958 1938 1919 1899 1881 1862 1844 1827 1810 1793 Nilai intensitas 12.50 34.4 12.2 12.00 8.00 28.00 15.5 12.4 12.2 12.3 13.00 36.8 13.00 2.6 14.3 15.00 34.0 14.50 9.0 .5 15.50 10.1 12.50 36.00 1.50 14.2 15.00 21.4 13.3 12.50 7.50 22.0 12.1 12.00 27.1 13.

00 19.50 38.50 19.50 18.9 12.7 12.00 38.00 1777 1761 1745 1730 1715 1701 12.50 40.00 20.8 12.0 12.00 39.9 .50 39.8 12.0 12.9 11.7 37.17.0 11.9 12.8 12.0 12.50 2984 2927 2873 2821 2772 2725 2679 12.00 18.50 20.

Yogyakarta Propinsi Jawa Tengah Propinsi Banten Propinsi Jawa Barat Propinsi Jawa Timur 5.05 6.2010 LAMPIRAN H .001 Magnitude (SR) KETERANGAN PETA SEISMISITAS TAHUN 1973 .1 to 5.525 to 7. Jakarta DI.05 to 6.575 to 6.Latitude 105 -9 -8 -7 -6 333 222 111 0 Kilometer 109 108 107 106 Longitde 110 111 112 113 PETA SEISMISITAS PULAU JAWA TAHUN DATA USGS 1973-2010 114 Sumber Data : United States Geological Survey 1973-2010 DKI.575 5.525 6.

Yogyakarta Propinsi Jawa Tengah Propinsi Banten Propinsi Jawa Barat Propinsi Jawa Timur 3 to 19.75 19.75 to 36.Latitude 105 -9 -8 -7 -6 111 0 222 108 Kilometer 107 106 333 109 Longitde 110 111 112 113 PETA KEDALAMAN GEMPA JAWA DATA USGS TAHUN 1973-2010 114 115 Sumber Data : United States Geological Survey 1973-2010 DKI.5 36.25 53.25 to 70 Kedalaman (KM) KETERANGAN PETA KEDALAMAN SUMBER GEMPA TAHUN 1973 . Jakarta DI.2010 LAMPIRAN I .5 to 53.

25° 114 115 DKI. Jakarta DI.25° X 0.25° LAMPIRAN J . Yogyakarta Propinsi Jawa Tengah Propinsi Banten Propinsi Jawa Barat Propinsi Jawa Timur Titik Stasiun Pengukuran KETERANGAN TITIK STASIUN PENGUKURAN DI PULAU JAWA 0.25° X 0.LATITUDE -9 105 -8 -7 -6 333 222 111 0 Kilometer 109 108 107 106 LONGITUDE 110 111 112 113 TITIK STASIUN PENGUKURAN DI PULAU JAWA 0.

LATITUDE -9 105 -8 -7 -6 111 107 0 106 108 222 Kilometer 109 333 LONGITUDE 110 111 112 113 114 PETA KONTUR PGA PULAU JAWA MENGGUNAKAN METODE GUTENBERG RICHTER 115 0 25 50 75 100 125 150 175 200 225 250 275 300 325 350 375 400 425 450 Cm/Sec2 LAMPIRAN K .

Latitude -9 105 -8 -7 -6 333 109 222 108 111 107 0 106 Kilometer Longitude 110 111 112 113 114 PETA KONTUR PERCEPATAN GETARAN TANAH PULAU JAWA DENGAN METODE MURPHY O'BREIN 115 0 75 150 225 300 375 450 525 600 675 750 825 900 975 1050 Cm/Sec2 LAMPIRAN L .

Latitude -9 105 -8 -7 -6 Bandung 111 107 106 108 222 Kilometer 0 Jakarta 109 333 Longitude 110 Yogyakarta Semarang 111 112 113 Surabaya 114 PETA INTENSITAS MAKSIMUM PULAU JAWA MENGGUNAKAN METODE GUTENBUERG RICHTER 115 MMI 1 2 3 4 5 6 7 8 9 LAMPIRAN M .

5 11 LAMPIRAN N .Latitude -9 105 -8 -7 -6 333 109 222 108 111 107 0 106 Kilometer Longitude 110 111 112 113 114 Peta Intensitas Maksimum Pulau Jawa Menggunakan Metode Murphy O'brein 115 MMI 4 4.5 10 10.5 7 7.5 9 9.5 5 5.5 6 6.5 8 8.

34 109.3 8.7 7.016 155.184 149.484 69.778 66.8 7.8 7.1 7.126 137.3 8.971 117.9 7.1 7.1 8.0 7.0 7.1 8.82 94.042 159.1 7.951 122.016 159.LAMPIRAN O TABEL TINGKAT RESIKO GEMPA BUMI BERDASARKAN NILAI INTENSITAS DAN PGA METODE GUTENBERG RICTER No KOTA Intensitas max PGA Zona Bahaya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 Bantul Wonosari Pandeglang Yogyakarta Sleman Wates Klaten Cilegon Rangkas belitung Banyu wangi Serang Tasikmalaya Ciamis Boyolali Sukoharjo Wonogiri Purworejo Magelang Sukabumi Surakarta Bogor Pacitan Salatiga Cianjur Majalengka Magetan Kebumen Tuban Sumedang Garut Sampang Kediri Bondowoso Banjarnegara Tangerang 8.0 8.825 66.874 71.9 7.245 71.674 119.912 98.853 68.7 7.978 112.443 149.4 8.428 125.1 8.913 190.843 74.562 102.6 7.1 7.26 162.7 7.3 7.7 7.0 7.403 114.449 76.657 112.624 resiko besar tiga resiko besar dua resiko besar satu resiko sedang tiga Resiko sedang dua Resiko sedang satu .7 7.47 74.717 77.478 186.0 7.0 206.5 7.2 7.5 7.68 82.1 8.4 8.814 195.009 134.4 7.2 7.1 8.995 155.

8 6.867 39.7 6.663 40.779 45.063 41.4 6.5 6.5 6.224 60.5 6.625 Resiko kecil .5 6.7 6.7 6.7 6.49 40.6 6.26 37.8 6.673 41.953 47.8 6.99 56.859 38.127 40.038 46.9 6.436 48.028 56.507 55.4 6.0 6.641 45.3 6.561 52.324 62.149 49.135 44.3 6.094 39.5 6.6 6.254 45.848 54.475 52.6 6.8 6.3 6.3 6.167 38.3 6.524 47.3 6.25 40.787 41.159 57.944 47.3 6.92 43.6 6.8 6.924 38.2 66.36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 Jakarta Bojonegoro Kuningan Madiun Karanganyar Purwakarta Sragen Pamekasan Ngawi Tulungagung Blitar Malang Subang Semarang Nganjuk Ponorogo Ungaran Bekasi Cilacap Jombang Cirebon Trenggalek Bandung Indramayu Lamongan Pasuruan Brebes Tegal Bangkalan Karawang Purwokerto Gresik Lumajang Temanggung Blora Surabaya Demak Probolingo Purbolinggo Mojokerto Pemalang Purwodadi 7.7 6.4 6.3 6.045 59.4 6.7 6.017 54.195 47.608 59.5 6.692 55.169 43.2 6.103 51.961 51.4 6.8 6.3 6.5 6.5 6.

0 6.663 32.1 6.0 5.914 32.1 6.9 2.17 31.2 6.1 6.742 31.78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 Sidoarjo Sumenep Rembang Wonosobo Jepara Batang Kudus Besuki Situbondo Pati Jember Kendal Pekalongan 6.826 31.241 2.7 2.784 34.565 25.984 2.184 35.914 32.7 5.838 Resiko sangat kecil .2 6.0 6.9 36.0 6.365 25.

979 174.9 7.7 8.149 Resiko sangat besar satu Resiko besar tiga Resiko besar dua Resiko besar satu .635 135.5 7.2 8.811 140.8 7.5 8.608 138.7 7.502 152.821 202.704 135.854 176.693 189.7 8.432 270.16 262.9 8.528 180.1 8.9 7.863 310.069 234.728 162.0 8.7 7.303 154.2 8.6 7.0 8.793 141.624 168.6 7.079 197.657 202.447 197.0 8.447 190.472 130.5 373.6 7.393 189.0 8.5 7.LAMPIRAN P TABEL TINGKAT RESIKO GEMPA BUMI BERDASARKAN NILAI INTENSITAS DAN PGA METODE MURPHY O’BREIN No KOTA Intensitas max PGA Zona Bahaya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 Bantul Wonosari Sukabumi Yogyakarta Sampang Magetan Pandeglang Sleman Kediri Garut Wates Klaten Cilegon Rangkas belitung Bandung Serang Cianjur Tuban Bogor Tasikmalaya Banyu wangi Pacitan Sumedang Ciamis Majalengka Purwakarta Boyolali Sukoharjo Tangerang Kuningan Wonogiri Purworejo Karawang Magelang Bekasi Surakarta 9.678 139.6 7.2 8.656 131.1 8.478 132.818 173.8 7.661 164.5 7.29 203.0 8.2 8.5 7.1 8.84 145.33 184.772 177.3 9.249 299.0 7.1 8.2 8.4 8.012 221.

075 94.0 7.552 74.78 116.5 6.962 80.37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 Cirebon Jakarta Cilacap Indramayu Karanganyar Salatiga Kendal Purwokerto Brebes Situbondo Temanggung Tegal Purbolinggo Bondowoso Pemalang Subang Sragen Jember Kebumen Wonosobo Banjarnegara Ungaran Besuki Pekalongan Semarang Batang Bojonegoro Ponorogo Malang Purwodadi Trenggalek Demak Pamekasan Madiun Lumajang Ngawi Probolingo Surabaya Tulungagung Kudus Jepara Blitar 7.231 97.979 125.058 109.73 74.2 7.5 6.6 6.0 7.7 6.3 7.554 94.307 112.5 6.983 101.702 87.4 7.8 6.612 79.0 7.8 6.1 7.2 7.5 126.6 6.9 6.412 109.2 7.4 7.149 85.5 6.7 6.807 120.809 84.9 6.858 85.265 99.377 119.002 123.772 75.28 107.6 101.0 7.24 76.9 6.9 6.0 6.775 101.6 6.329 112.3 7.887 74.2 7.9 6.751 98.081 98.579 93.6 6.159 87.7 6.6 6.148 96.375 resiko sedang tiga Resiko sedang dua Resiko sedang satu .1 7.477 93.4 7.582 78.2 7.9 6.3 7.719 79.565 115.0 7.295 112.674 78.2 7.835 74.4 104.5 6.

3 6.1 6.56 63.2 6.159 66.4 6.888 58.79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 Pati Blora Pasuruan Rembang Nganjuk Sidoarjo Sumenep Bangkalan Gresik Jombang Mojokerto Lamongan 6.3 6.678 68.352 67.273 .3 6.1 6.614 62.515 60 58.994 60.2 6.728 60.3 6.1 70.1 6.4 68.1 6.