Anda di halaman 1dari 31

Portofolio

LUKA BAKAR DERAJAT II A

Disusun Oleh :
dr. Abdul Hakim Rambe

Pendamping :
dr. Hedi Mulyadora

RUMAH SAKIT UMUM DAERAH BAYUNG LENCIR


SUMATERA SELATAN
PROGRAM DOKTER INTERNSIP KEMENTRIAN KESEHATAN
REPUBLIK INDONESIA
2016

PORTOFOLIO

Kasus 1
Topik: Luka Bakar Derajat II A
Tanggal (Kasus) : 04 Desember 2015
Presenter : dr. Abdul Hakim Rambe
Tanggal Presentasi : 23 Februari 2016
Pendamping : dr. Hedi Mulyadora
Tempat Presentasi : Ruang Pertemuan RSUD Bayunglencir
Objektif Presentasi :
Keilmuan
Keterampilan
Penyegaran
Tinjauan Pustaka
Diagnostik
Manajemen
Masalah
Istimewa
Bayi
Anak
Remaja
Dewasa
Lansia
Bumil
Neonatus
Deskripsi : Laki-Laki 34 tahun, luka bakar derajat IIA
Tujuan : Tatalaksana luka bakar derajat IIA
Bahan
Tinjauan
Riset
Kasus
Audit
Bahasan :
Pustaka
Cara membahas
Diskusi
Presentasi dan
Email
Pos
diskusi
Data
Pasien:

Nama : Tn. J Umur : 34 tahun Pekerjaan : Tani


No. Reg :
Alamat : Sri Mulyo Agama : Islam
Bangsa :
038348
Indonesia
Nama RS: RSUD
Telp :
Terdaftar sejak :
BayungLencir
Data utama untuk bahan diskusi:
1. Diagnosis / Gambaran Klinis: Luka Bakar derajat IIA / Keadaan Umum Sakit
sedang.
2. Riwayat Pengobatan : 3. Riwayat Kesehatan / Penyakit :
Sejak 2 jam SMRS kulit kedua lengan dan kedua tungkai melepuh karena
terkena minyak panas. Saat os sedang mengangkat kuali berisi minyak panas, tibatiba minyak panas tertumpah sehingga mengenai kedua lengan dan kedua tungkai.
Os merasa nyeri pada kedua lengan dan kedua tungkai, nyeri dirasakan bertambah
apabila terkena hembusan angin, sesak nafas tidak ada, merasa kedinginan tidak
ada, terbentur di kepala tidak ada, pingsan tidak ada. Os kemudian dibawa ke
UGD RSUD Bayung Lencir.

4. Riwayat Keluarga : 5. Riwayat Pekerjaan : pasien bekerja sebagai tani


6. Lain-lain :
Riwayat penyakit kencing manis
Riwayat penyakit darah tinggi
Riwayat penyakit jantung
Riwayat penyakit paru
Riwayat penyakit ginjal
Riwayat penyakit alergi disangkal
Riwayat imunisasi tetanus disangkal
Daftar Pustaka:
1. European Burn Association. 2013. European practice guidelines for burn care.
Minimum level of burn care provision in Europe. Vienna, Austria: EBA
http://euroburn.org/142/guidelines.html
2. Cubison TCS, Pape SA, Parkhouse N. 2006 . Evidence for the link between
healing time and the development of hypertrophic scars (HTS) in paediatric
burns due to scald 32:9929
3. Hettiaratchy S, Dziewulski P. ABC of burns. Introduction.

BMJ

2004;328:13668
4. Forjuoh SN. 2006. Burns in low- and middle-income countries: a review of
available literature on descriptive epidemiology, risk factors, treatment, and
prevention. 32:52937
5. Van Niekerk H, Rode H, Laflamme L. 2004. Incidence and patterns of
childhood injuries in the Western Cape, South Africa. 30:3417
6. Bishara A, at all. 2014. Best Practice Guidelines: Effective Skin and Woung
Management of Non-Complex Burns. Wound International.
7. Clarke J. Burns. 1999. Br Med Bull. 55:88594
8. Hettiaratchy S, Dziewulski P. 2004. ABC of burns. Pathophysiology and types
of burns. BMJ;328:14279
9. Minimus DA. 2007. A critical evaluation of the Lund and Browder chart.
Wounds UK;3:58-68
10. Wallace AB. 1951. The exposure treatment of burns. Lancet;1: 5014
11. American Burn Association. 2001. Practice guidelines for burn care.
www.Ameriburn.org
12. National Burn Care Review. 2001. National burn injury referral guidelines.
In: Standards and strategy for burn care. London: NBCR:689
13. British Burn Association. 2008. Emergency management of severe burns
course manual, UK version. Wythenshawe Hospital, Manchester.
14. Alsbjrn B, Gilbert P, Hartmann B, Kazmierski M, Monstrey S, Palao R, et al.

2007. Guidelines for the management of partial-thickness burns in a general


hospital or community settingrecommendations of a European Working
Party. Burns:33:15560
15. Senarath-Yapa K, Enoch S. 2009. Management of burns in the community.
Wounds UK;5:3848
16. Yuan J, Wu C, Holland AJA, et al. 2007. Assessment of cooling on an acute
scald burn injury in a porcine model. J Burn Care;28:51420
17. Atiyeh B, Masellis A, Conte C. 2009. Optimizing burn treatment in
developing low- and middle-income countries with limited healthcare
resources (Part 2). Ann Burns Fire Disasters;22:18995
18. Bloemsma GC, Dokter J, Boxma H, Oen IM. 2008. Mortality and causes of
death in a burn centre. Burns;34:11037 ..
19. World Health Organization. 2014. WHOs pain relief ladder. WHO. Available
at: www.who.int/cancer/palliative/painladder/en/
20. World Union of Wound Healing Societies. 2004. Principles of Best
Practice:minimising pain at wound dressing related procedures. A consensus
document. London: MEP Ltd.
21. Judkins K, Clark L. 2010. Managing the pain of burn wounds. Wounds
UK;6:1108
Hasil Pembelajaran
1. Memperkirakan luas luka bakar dan menentukan adanya cedera yang menyertai
2. Penilaian awal dan tatalaksana penderita luka bakar
3. Mengenali masalah khusus penderita luka bakar dan tatalaksanya
4. Menentukan kriteria untuk merujuk penderita luka bakar
1. Subjektif :
Sejak 2 jam SMRS kulit kedua lengan dan kedua tungkai melepuh karena
terkena minyak panas. Saat os sedang mengangkat kuali berisi minyak panas, tibatiba minyak panas tertumpah sehingga mengenai kedua lengan dan kedua tungkai.
Os merasa nyeri pada kedua lengan dan kedua tungkai, nyeri dirasakan bertambah
apabila terkena hembusan angin, sesak nafas tidak ada, merasa kedinginan tidak
ada, terbentur di kepala tidak ada, pingsan tidak ada. Dari keluhan berupa masih
adanya rasa nyeri yang dirasakan pasien, nyeri yang sensitif terhadap angin, dan
juga penyebab luka bakar adalah minyak panas, kita dapat menilai bahwa luka
bakar yang dialami adalah luka bakar derajat IIA atau superficial dermal

(superficial partial thickness).


2. Objektif :
Dari hasil pemeriksaan fisik dapat ditegakkan diagnosis luka bakar derajat IIA
atau superficial dermal (superficial partial thickness).
Gejala Klinis :
Pasien mengaku tersiram minyak panas pada bagian lengan dan tungkai 2 jam
sebelum masuk rumah sakit. Pasien masih merasa nyeri pada kedua lengan dan
kedua tungkai, nyeri dirasakan bertambah apabila terkena hembusan angin, sesak
nafas tidak ada, merasa kedinginan tidak ada, terbentur di kepala tidak ada,
pingsan tidak ada
Pemeriksaan Fisik :
Primary survey
A: jalan nafas bebas, bulu hidung tidak terbakar
B: nafas spontan, frekuensi nafas 20x/menit, reguler
C: Tekanan darah 130/90 mmHg, frekuensi nadi 90x/menit, isi dan tegangan
cukup, akral hangat, CRT <2
D: GCS 15 E4M6V5, pupil isokor, reflek pupil (+)
Secondary Survey
Keadaan Umum
Keadaan sakit
Kesadaran
Tekanan Darah
Nadi
Pernafasan
Suhu
Status generalisata
o Kepala
:
Mata

: tampak sakit sedang


: compos mentis, GCS 15 E4M6V5
: 130/90 mmHg
: 90 kali per menit, reguler, isi dan tegangan cukup
: 20 kali per menit, thoracoabdominal
: 36,7o C (aksila)

: Konjungtiva anemis (-/-), Sklera ikterik (-/-), Pupil isokor,


RC (+/+) 3mm/3mm.

Hidung : Nafas cuping hidung (-/-)


Mulut

: Gurgling (-), Snoring (-) , atrofi papil lidah (-)

o Leher

: JVP(5-2) mmHg, pembesaran KGB (-), kaku kuduk (-)

o Thorak

: Bentuk dada normal, retraksi (-), nyeri tekan (-), nyeri ketok(-)
krepitasi (-), penggunaan otot bantu nafas (-)

Paru
5

Inspeksi : Statis simetris kanan dan kiri, dinamis kanan = kiri, tidak
ada yang tertinggal
Palpasi : Stemfremitus kanan=kiri
Perkusi : Sonor di kedua lapangan paru
Auskultasi: Vesikuler (+) normal kanan = kiri, ronkhi (-) kedua
paru, wheezing (-)
Jantung
Inspeksi : ictus cordis tidak terlihat
Palpasi : ictus cordis teraba linea axilaris anterior sinistra ICS VI
Perkusi : batas atas ICS II, batas kanan linea parasternalis dextra,
batas kiri linea axilaris anterior sinistra ICSVI
Auskultasi :HR 79 x/menit, reguler, Bunyi Jantung I dan II normal,
Murmur (-), Gallop (-)
o Abdomen
Inspeksi : datar, scar (-)
Palpasi : lemas, nyeri tekan (-), hepar tidak teraba,lien tidak teraba.
Auskultasi: bising usus (+) normal
Perkusi : timpani, shifting dullness (-)
o Genital (Tidak diperiksa)
o Ekstremitas
- Regio antebrachii posterior dextra: luka bakar dengan luas 4,5%, warna
kemerahan, permukaan luka basah/
berair, bula (+), nyeri (+)
- Regio brachii et antebrachii anterior sinistra: luka bakar dengan luas
4,5%, warna kemerahan,
permukaan luka basah/berair,
bula (+), nyeri (+)
- Regio tibialis anterior et posterior dextra: luka bakar dengan luas
9%, warna kemerahan,
permukaan luka basah/berair,
bula (+), nyeri (+)
- Regio tibialis anterior et posterior sinistra:luka bakar dengan luas
9%, warna kemerahan,
permukaan luka basah/berair,
bula (+), nyeri (+)
Pemeriksaan Penunjang :
Pemeriksaan darah rutin
Hemoglobin : 14 g/dl (dbn)
Eritrosit : 5,0 juta sel (dbn)
Hematokrit : 39 % (dbn)
Leukosit : 8600/ mm3 (dbn)
3
Trombosit : 220.000 /mm (dbn).
3. Assessment :
Tuan J, Laki-laki berusia 34 tahun, sudah menikah, bekerja sebagai petani datang
dengan keluhan utama kulit kedua lengan dan kedua tungkai melepuh karena
terkena minyak panas. Saat os sedang mengangkat kuali berisi minyak panas, tiba6

tiba minyak panas tertumpah sehingga mengenai kedua lengan dan kedua tungkai.
Os merasa nyeri pada kedua lengan dan kedua tungkai, nyeri dirasakan bertambah
apabila terkena hembusan angin, sesak nafas tidak ada, merasa kedinginan tidak
ada, terbentur di kepala tidak ada, pingsan tidak ada
Dari kondisi tersebut, kita menilai bahwa pasien masih merasakan nyeri pada luka
bakar dan nyeri bertambah atau sensitif terhadap suhu. Dari gejala klinis ini, kita
menilai bahwa luka bakar yang dialami pasien meliputi epidermis dan lapisan atas
dari dermis (luka bakar derajat II). Gejala nyeri yang masih dirasakan
menunjukkan bahwa saraf-saraf perifer/superfisial tidak mengalami kerusakan.
Dengan rusaknya lapisan epidermis, maka saraf-saraf nyeri yang masih berfungsi
berhubungan langsung dengan dunia luar sehingga akan sangat sensitif oleh
rangsangan yang minimal. Oleh karena itu pasien merasakan nyeri semakin
bertambah apabila terkena hembusan angin.
Pasien menyangkal adanya tanda-tanda hipotermi (kedinginan atau menggigil),
dehidrasi, syok hipovolemik (sesak nafas), gangguan jalan nafas, dan trauma
tambahan seperti cedera kepala, dll.
Pada riwayat penyakit dahulu pasien menyangkal pernah mengalami penyakit
kencing manis, penyakit darah tinggi, penyakit jantung, penyakit paru, penyakit
ginjal, penyakit alergi, dan menyangkal telah melakukan imunisasi tetanus.
Dari pemeriksaan fisik, kesadaran pasien masih baik yaitu compos mentis, tanda
tanda vital pasien dalam batas normal. Pada pemeriksaan status generalisata, tidak
terdapat tanda tanda hipotermi, dehidrasi, syok, gangguan jalan nafas yang
merupakan gejala kegawatdaruratan pada luka bakar
Pemeriksaan lokal pada lokasi luka yang ditemukan ialah warna luka kemerahan,
permukaan luka basah/berair, terdapat bula, nyeri, luka sangat sensitif pada udara
dan akan menjadi lebih pucat bila terkena tekanan. Luka kemerhahan menandakan
perfusi jaringa baik, dan jaringa sangat mungkin pulih kembali. Pembuluh kapiler
yang terpajan suhu tinggi rusak dan permeabilitas meninggi. Sel darah yang ada di
dalamnya ikut rusak sehingga dapat terjadi anemia. Meningkatnya permeabilitas
menyebabkan oedem dan menimbulkan bula yang banyak elektrolit. Hal itu
menyebabkan berkurangnya volume cairan intravaskuler.
4. Plan :
7

Diagnosis : Luka bakar derajat IIA 27% ec minyak panas


Penatalaksanaan :
Non farmakologi :
-

Oksigen nasal 3-5 l/menit


Edukasi pasien dan keluarga pasien mengenai kondisi pasien
Luka didinginkan atau irigasi dengan NaCl 0,9% minimal selama 20 menit
Luka dibalut dengan perban katun
Periksa laboratorium darah rutin pasien

Farmakologi :
-

IVFD RL
Rumus Baxter = 4 x BB x luas luka bakar
= 4 x 55 x 27
= 5940 cc
8 jam I 2970 cc = 120 gtt/menit
16 jam II 2970 cc = 80 gtt/menit
Inj Ketorolac 2x 30 mg iv
Burnazin zalp di seluruh luka
Inj. Anti tetanus 1500 IU IM
Evaluasi urin output

Prognosis
Vitam : dubia ad bonam
Functionam : dubia ad bonam
Edukasi keluarga :
1.

Menjelaskan kepada keluarga pasien mengenai luka bakar dan tatalaksana

2.

yang akan diberikan


Memberikan penjelasan kepada keluarga pasien mengenai kondisi klinis
pasien, dan proses penyembuhan luka memerlukan waktu yang tidak

3.

sebentar.
Memberikan

penjelasan

kepada

keluarga

pasien

bahwa

pasien

membutuhkan dukungan mental atau psikis yang baik.

TINJAUAN PUSTAKA
Luka Bakar
1.

Definisi
Luka bakar adalah rusak atau hilangnya jaringan yang disebabkan
kontak dengan sumber panas seperti kobaran api di tubuh (flame), jilatan
api ketubuh (flash), terkena air panas (scald), tersentuh benda panas
(kontak panas), akibat sengatan listrik, akibat bahan-bahan kimia, serta
sengatan matahari (sunburn).1
Luka bakar adalah suatu bentuk kerusakan atau kehilangan jaringan
yang disebabkan kontak dengan sumber panas seperti api, air panas, bahan
kimia, listrik dan radiasi. Luka bakar merupakan suatu jenis trauma dengan
morbiditas dan mortalitas tinggi. Biaya yang dibutuhkan untuk

2.

penanganannya pun tinggi.1,2


Etiologi luka bakar

Mekanisme penyebab terjadinya luka bakar sangat penting untuk


diketahui, karena akan mempengaruhi patofisiologi dari luka dan
bagaimana penatalaksanaannya . Secara garis besar, penyebab terjadinya
luka bakar dapat dibagi menjadi luka bakar termal, luka bakar listrik, dan
luka bakar kimia.
2.1 Luka bakar termal
Luka bakar yang paling sering terjadi adalah luka bakar termal,
terutama luka bakar akibat air panas dan api.3
2.1.1

Luka bakar api (Flame injuries)


Luka bakar api terjadi akibat kontak langsung antara jaringan
dengan api terbuka, dan menyebabkan cedera langsung ke jaringan.
Api dapat membakar pakaian terlebih dahulu baru mengenai tubuh.
Serat alami memiliki kecenderungan untuk terbakar, sedangakan
serat sintetik cenderung meleleh atau menyala dan menimbulkan
cedera tambahan berupa cedera kontak.
Di negara maju, luka bakar api sering terjadi pada laki-laki
dan wanita pada usia produktif 15-64 tahun. Insiden pada anakanak menurun setelah undang-undang memperketat desain dan
bahan dari pakaian tidur. Di negara sedang berkembang, luka bakar
api juga menajadi penyebab utama terjadinya dari luka bakar,
terutama pada wanita usia 16-35 tahun.4,5
Gambar 1: Luka bakar api.6

2.1.2 Luka bakar air panas (Scalds)

10

Luka bakar air panas terjadi akibat kontak dengan air panas.
Semakin kental cairan dan semakin lama waktu kontaknya,
semakin besar kerusakan yang akan ditumbulkan. Luka bakar air
panas cenderung menyebabkan luka bakar superfisial dan
melibatkan area kulit yang luas. Luka bakar air panas sering terjadi
akibat menumpahkan minuman panas, cairan panas, dan berendam
di air panas atau shower panas. Sekitar 70% kasus terjadi pada
anak-anak, meskipun demikian orang dewasa juga sering
mengalami luka bakar air panas.6

Gambar 2: Luka bakar air panas.6


2.1.3 Luka bakar kontak
Luka bakar kontak adalah luka bakar yang terjadi akibat
kulit bersentuhan langsung dengan benda yang sangat panas
(sering terjadi pada kecelakaan industri) atau bersentuhan dengan
benda yang kurang panas dalam waktu yang sangat lama. Luka
bakar yang dihasilkan terbatas pada area tubuh yang mengalami
kontak. Sumber yang paling sering menyebabkan luka bakar
kontak adalah besi, pintu oven, vitro-keramik, tempat memasak,

11

radiator, dan permukaan kaca akibat kebakaran gas. Luka bakar


kontak cenderung menyebabkan luka bakar deep dermal atau full
thickness.6
Gambar 3: Luka bakar kontak.6
2.2 Luka bakar listrik
Luka bakar listrik terjadi ketika aliran listrik melalui tubuh dari
titik masuk ke jalur keluar. Luka bakar diakibatkan oleh energi panas
dari listrik yang merusak jaringan sepanjang jalur yang dilalui aliran
listrik.6

Gambar 4: Luka bakar listrik.6


Tingkat kerusakan jaringan dipengaruhi oleh tegangan arus:
-

Luka bakar tegangan rendah (low-voltage): Kecil, kedalaman luka


bakar dapat dilihat pada titik masuk dan jalur keluar.

Luka bakar tegangan tinggi (high-voltage): Arus listrik dengan


tegangan lebih dari 1.000 volt akan menyebabkan kerusakan
jaringan yang dalam dan luas, bahkan kehilangan anggota tubuh.
Arus listrik lebih dari 70.000 volt biasanya fatal.
Luka bakar kilat terjadi ketika seseorang terkena pancaran arus

tegangan tinggi, tetapi arus tidak masuk ke dalam tubuh. Hubungan


energi panas menyebabkan luka bakar superfisial pada bagian tubuh
12

yang terkena (seperti wajah, leher, tangan dan tungkai atas). Pakaian
yang terbakar dapat menyebabkan luka bakar yang lebih dalam. Luka
bakar listrik dapat juga mengganggu siklus jantung dan menyebakan
aritmia. Pemantauan jantung harus dipertimbangkan pada saat pasien
datang.6
2.3 Luka bakar kimia
Luka bakar yang berasal dari bahan-bahan korosif sering terjadi
pada kecelakaan industri, tetapi bahan korosif juga dihasilkan dari
produk-produk yang ditemukan di rumah. Luka bakar kimia disebabkan
oleh:
-

Asam (misalnya sulfur, nitrat, hidroflorik, hidroklorik, dan


posporik)

Alkali/basa (misalnya sodium atau potassium hidroksida, sodium


atau kalsium hipoklorit, ammonia atau pospat, dan bahan kimia
dalam pembersih rumah tangga, pemutih dan semen)

Produk organik (misalnya bitumen)


Luka bakar kimia cenderung menyebabkan luka yang dalam atau

luka bakar full thickness karena jaringan terus mengalami kerusakan


sampai bahan kimia benar-benar dihilangkan (misalnya dengan irigasi).
Waspada terhadap efek serius penyerapan bahan kimia dari kulit. Sebagai
contoh yaitu merkuri dapat menyebablan gagal ginjal bahkan dari daerah
kecil kerusakan pada kulit.

13

Gambar 5: Luka bakar kimia

3.

Patofisiologi
Kulit adalah organ tubuh terluas yang menutupi otot dan mempunyai
peranan dalam homeostasis. Kulit merupakan organ terberat dan terbesar
dari tubuh. Seluruh kulit beratnya sekitar 16 % berat tubuh, pada orang
dewasa sekitar 2,7 3,6 kg dan luasnya sekitar 1,5 1,9 meter persegi.
Tebalnya kulit bervariasi mulai 0,5 mm sampai 6 mm tergantung dari
letak, umur dan jenis kelamin. Kulit tipis terletak pada kelopak mata,
penis, labium minus dan kulit bagian medial lengan atas. Sedangkan kulit
tebal terdapat pada telapak tangan, telapak kaki, punggung, bahu dan
bokong. Secara embriologis kulit berasal dari dua lapis yang berbeda,
lapisan luar adalah epidermis yang merupakan lapisan epitel berasal dari
ectoderm sedangkan lapisan dalam yang berasal dari mesoderm adalah
dermis atau korium yang merupakan suatu lapisan jaringan ikat.2
Akibat pertama luka bakar adalah syok karena kaget dan kesakitan.
Pembuluh kapiler yang terpajan suhu tinggi rusak dan permeabilitas
meninggi. Sel darah yang ada di dalamnya ikut rusak sehingga dapat
terjadi anemia. Meningkatnya permeabilitas menyebabkan oedem dan
menimbulkan bula yang banyak elektrolit. Hal itu menyebabkan
berkurangnya volume cairan intravaskuler.2,3
Kerusakan kulit akibat luka bakar menyebabkan kehilangan cairan
akibat penguapan yang berlebihan, masuknya cairan ke bula yang
terbentuk pada luka bakar derajat dua dan pengeluaran cairan dari
keropeng luka bakar derajat tiga. Bila luas luka bakar kurang dari 20%,
biasanya mekanisme kompensasi tubuh masih bisa mengatasinya, tetapi
bila lebih dari 20% akan terjadi syok hipovolemik dengan gejala yang

14

khas, seperti gelisah, pucat, dingin, berkeringat, nadi kecil, dan cepat,
tekanan darah menurun, dan produksi urin berkurang.2
Pembengkakkan terjadi pelan-pelan, maksimal terjadi setelah
delapan jam.3 Pada kebakaran dalam ruang tertutup atau bila luka terjadi
di wajah, dapat terjadi kerusakan mukosa jalan napas karena gas, asap,
atau uap panas yang terhisap. Oedem laring yang ditimbulkannya dapat
menyebabkan hambatan jalan napas dengan gejala sesak napas, takipnea,
stridor, suara serak dan dahak bewarna gelap akibat jelaga.
Dapat juga keracunan gas CO dan gas beracun lainnya. Karbon
monoksida akan mengikat hemoglobin dengan kuat sehingga hemoglobin
tak mampu lagi mengikat oksigen. Tanda keracunan ringan adalah lemas,
bingung, pusing, mual dan muntah. Pada keracunan yang berat terjadi
koma. Bisa lebih dari 60% hemoglobin terikat CO, penderita dapat
meninggal. Setelah 12 24 jam, permeabilitas kapiler mulai membaik dan
mobilisasi serta penyerapan kembali cairan edema ke pembuluh darah. Ini
di tandai dengan meningkatnya diuresis.3
Patofisiologi luka bakar adalah sebuah proses yang berkembang
dengan lambat, tidak seperti bentuk trauma yang lain. Apapun
mekanismenya, luka bakar menyebabkan sebuah respon lokal dan respon
sistemik (luka bakar komplek).7
3.1 Respon lokal
Respon lokal pada luka bakar terdiri dari inflamsi/peradangan,
regenerasi, dan perbaikan.6
Zona koagulasi/nekrosis
-

Berada di tengah luka

Tidak ada perfusi jaringan

kerusakan jaringan yang ireversibel karena koagulasi protein

Zona stasis
-

Mengelilingi zona pusat koagulasi

Perfusi jaringan menurun

15

Memiliki peluang untuk pemulihan jaringan dengan


penanganan yang optimal

Zona hiperemis
- Berada di pinggir luka
-

Perfusi jaringan baik

Jaringan sangat mungkin untuk pulih kembali

Gambar 6: Zona luka bakar.6


Zona-zona ini adalah daerah yang dinamis. Pada area superfisial
dan di sekitar tepi luka, biasanya mengalami proses perbaikan luka
(pertumbuhan kapiler dan fibroblas diikuti oleh pembentukan jaringan
granulasi dan jaringan parut). Setelah 3-4 hari, hilangnya viabilitas
jaringan di zona statis (misalnya karena penanganan tertunda atau
kurang optima) akan menyebabkan luka bakar menjadi lebih dalam dan
luas.6
3.2 Respon sistemik
Pada luka bakar kompleks lebih dari 20-30% TBSA, selalu terjadi
respon sistemik karena pelepasan mediator inflamasi yang banyak pada
luka. Efek yang lebih serius yaitu hipotensi sistemik, konstriksi
16

bronkus, peningkatan metabolisme basal tiga kali lipat, dan respon


imun berkurang.8

4.

Penilaian luas dan dalam luka bakar


Jaringan lunak tubuh akan terbakar bila terpapar pada suhu di atas
460C. Luasnya kerusakan akan ditentukan oleh suhu permukaan dan
lamanya kontak. Luka bakar menyebabkan koagulasi jaringan lunak.
Seiring dengan peningkatan suhu jaringan lunak, permeabilitas kapiler
juga meningkat, sehingga terjadi kehilangan cairan, dan viskositas plasma
meningkat dengan resultan pembentukan mikrotrombus. Hilangnya cairan
dapat menyebabkan hipovolemi dan syok. Luka bakar juga menyebabkan
peningkatan laju metabolik dan energi metabolisme. Semakin luas
permukaan tubuh yang terlibat mordibitas dan mortalitas juga meningkat,
dan penanganannya juga akan semakin kompleks.
Waktu dan estimasi yang tepat dalam menentukan luas permukaan
dan kedalaman luka bakar sangat penting, agar dapat memberikan
penanganan yang tepat, proses penyembuhan yang cepat, dan mencegah
komplikasi
4.1 Penilaian luas luka bakar
Total luas luka bakar dinyatakan dalam presentasi dari luas total
permukaan tubuh atau Total Body Surface Area (TBSA). Tiga metode
yang sering digunakan dalam menilai luas luka bakar yaitu Lund and
Browder chart, Wallaces rule of nine, dan permukaan telapak
tangan.6
4.1.1 Lund and Browder chart

17

The Lund and Browder chart adalah satu dari banyak metode
yang sering digunakan untuk menilai luas luka bakar. Metode in
memperhitungkan

variasi

luas

permukaan

tubuh

dengan

pertumbuhan dan dapat digunakan untuk orang dewasa dan anakanak.9

Gambar 7: Lund and Browder chart.9


4.1.2. Wallaces rule of nines
Metode ini digunakan untuk memperkirakan luas area luka
bakar pada orang dewasa. Pada orang dewasa digunakan rumus
9, yaitu luas kepala dan leher, dada, punggung, pinggang dan
bokong, ekstremitas atas kanan, ekstremitas atas kiri, paha
kanan, paha kiri, tungkai dan kaki kanan, serta tungkai dan kaki
kiri masing-masing 9%. Sisanya 1% adalah daerah genitalia.10

18

Gambar 8: Wallaces rule of nines.10


4.1.3. Permukaan Telapak Tangan
Sebuah

metode

yang

mudah

dilakukan

untuk

memperkirakan luas luka bakar dengan memperkirakan telapak


tangan pasien dengan jari tertutup mewakili sekitar 1% dari luas
permukaan tubuh. Metode ini efekttif untuk memperkirakan area
luka bakar yang kecil (<15 %) atau luka bakar yang luas
(>85%). Pada luka bakar yang luas, area yang terbakar bisa
cepat dihitung dengan memperkirakan area kulit yang terluka
dan mengurankan dari 100.

Gambar 9: Permukaan telapak tangan.6


4.2 Penilaian kedalaman luka bakar
Kedalaman luka bakar ditentukan oleh jumlah energi yang
mengenai kulit dan ketebalan kulit. Selain api yang langsung menjilat
tubuh, baju yang ikut terbakar juga memperdalam luka bakar.
Kedalaman luka bakar dapat meningkat seiring berjalannya
waktu, jadi sangat penting untuk melakukan penilaian ulang setelah

19

24-72 jam. Kedalaman luka bakar dideskripsikan dalam derajat luka


bakar, yaitu luka bakar derajat I, II, III.
4.2.1 Luka bakar derajat I (Superficial/epidermal)
Luka bakar hanya merusak epidermis sehingga masih
menyisakan banyak jaringan untuk dapat melakukan regenerasi.
Luka bakar derajat I biasanya sembuh dalam 5-7 hari dan dapat
sembuh secara sempurna. Luka biasanya tampak sebagai eritema,
tidak melepuh dan timbul dengan keluhan nyeri dan atau
hipersensitivitas lokal. Contoh luka bakar derajat I adalah
sunburn.6

Gambar 10: Luka bakar derajat I (superficial).6


4.2.2 Luka bakar derajat II
Lesi melibatkan epidermis dan mencapai kedalaman dermis
namun masih terdapat epitel vital yang bisa menjadi dasar
regenerasi dan epitelisasi. Jaringan tersebut misalnya sel epitel
basal, kelenjar sebasea, kelenjar keringat, dan pangkal rambut.
Dengan adanya jaringan yang masih sehat tersebut, luka dapat
sembuh dalam 2-3 minggu.
4.2.2.1 Superficial dermal (superficial partial thickness)

20

Luka bakar meliputi epidermis dan lapisan atas dari dermis

Kulit tampak kemerahan, oedem dan rasa nyeri lebih berat


daripada luka bakar grade I (berhubungan dengan sarafsaraf superfisial)

Ditandai dengan bula yang muncul beberapa jam setelah


terkena luka

Bila bula disingkirkan akan terlihat luka bewarna merah


muda yang basah

Luka sangat sensitive pada udara dan akan menjadi lebih


pucat bila terkena tekanan

Gambar 11: Luka bakar derajat IIA (Superficial dermal)


4.2.2.2 Deep dermal (deep partial thickness)
- Luka bakar meliputi epidermis dan lapisan dalam dari
dermis, tetapi tidak sampai pada jaringan subkutan
- Disertai juga dengan bula
- Permukaan luka berbecak merah muda dan putih karena
variasi dari vaskularisasi pembuluh darah (bagian yang
putih punya hanya sedikit pembuluh darah dan yang merah
muda mempunyai beberapa aliran darah
- Sering akibat cairan panas dan ledakan

21

Gambar 12: Luka bakar derajat IIB (Deep dermal).6


4.2.3 Luka bakar derajat III (Full thickness)
- Luka bakar meliputi seluruh lapisan kulit, ujung saraf, dan
jaringan subkutan.
- Permukaan kulit kering dan warna putih, coklat, atau hitam
tanpa bula
- Jaringan di bawahnya pucat atau menghitam.
- Tampak jaringan lemak
- Rasa sakit kadang tidak terlalu terasa atau tidak ada karena
ujung-ujung saraf dan pembuluh darah sudah hancur.
- Kerusakan permanen karena tidak tersisa jaringan epitel yang
dapat

menjadi

dasar

regenerasi

sel,

sehingga

untuk

menumbuhkan kembali jaringan kulit harus dilakukan cangkok


kulit.
- Proses penyembuhan sering menimbulkan kontraktur dan skar.

22

5.

Kriteria rujukan

Gambar 13: Luka bakar derajat III (Full


Menurut American Burn Association luka 6bakar yang perlu dirujuk ke
thickness).
pusat luka bakar adalah sebagai berikut:11,12,13,14
a. Luka bakar derajat II dan III lebih dari 10% luas permukaan tubuh
pada penderita yang berumur kurang dari 10 tahun atau lebih dari 49
tahun.
b. Luka bakar derajat II dan III lebih dari 20% diluar dari usia tersebut
diatas.
c. Luka bakar derajat II dan III yang mengenai wajah, mata, telinga,
tangan, kaki, genitalia, atau perineum atau yang mengenai kulit sendisendi utama
d. Luka bakar derajat III lebih dari 5% luas permukaan tubuh pada
semua umur
e. Luka bakar listrik, termasuk tersambar petir (kerusakan jaringan
bawah kulit hebat dan menyebabkan gagal ginjal akut serta
komplikasi lain)
f. Luka bakar kimia
g. Trauma inhalasi
h. Luka bakar pada penderita yang karena penyakit yang sedang
dideritanya

dapat

mempersulit

penanganan,

memperpanjang

pemulihan, atau dapat menyebabkan kematian.


i. Luka bakar dengan cedera penyerta yang menambah risiko mordibitas
dan mortalitas.
j. Anak-anak dengan luka bakar yang dirawat di rumah sakit tanpa
petugas dan peralatan yang memadai

23

k. Penderita luka bakar yang memerlukan penanganan khusus seperti


masalah sosial, emosional atau yang rehabilitasinya lama, termasuk
adanya tindakan kekerasan pada anak atau anak yang terlantarkan.

6.

Tatalaksana luka bakar


6.1

Pertolongan pertama
Pertolongan pertama dan penanganan awal yang optimal pada
luka bakar dapat membatasi kerusakan jaringan dan kematian.
Manajemen kedaruratan efektif sampai 3 jam setelah terjadinya luka
bakar.
-

Adapun pertolongan pertolongan yang dilakukan yaitu:15

Segera hindari sumber api dan mematikan api pada tubuh, misalnya
dengan menyelimuti dan menutup bagian yang terbakar untuk
menghentikan pasokan oksigen pada api yang menyala

Singkirkan baju, perhiasan dan benda-benda lain yang membuat


efek Torniket, karena jaringan yang terkena luka bakar akan segera
menjadi oedem

Setelah sumber panas dihilangkan rendam daerah luka bakar dalam


air atau menyiramnya dengan air mengalir selama sekurangkurangnya dua puluh menit. Proses koagulasi protein sel di jaringan
yang terpajan suhu tinggi berlangsung terus setelah api dipadamkan
sehingga destruksi tetap meluas. Proses ini dapat dihentikan dengan
mendinginkan daerah yang terbakar dan mempertahankan suhu
dingin ini pada jam pertama sehingga kerusakan lebih dangkal dan
diperkecil. 13,16,17

Akan tetapi cara ini tidak dapat dipakai untuk luka bakar yang lebih
luas karena bahaya terjadinya hipotermi. Es tidak seharusnya
diberikan langsung pada luka bakar apapun.

6.2

Survei primer

24

Prinsip penanganan pada luka bakar sama seperti penanganan


pada luka akibat trauma yang lain, yaitu dengan ABCDE (Airway
Breathing Circulation Disability Environment) yang diikuti dengan
pendekatan khusus pada komponen spesifik luka bakar pada survey
sekunder. Saat menilai airway perhatikan apakah terdapat luka
bakar inhalasi. Biasanya ditemukan sputum karbonat, rambut atau
bulu hidung yang gosong. Luka bakar pada wajah, oedem
oropharyngeal, perubahan suara, perubahan status mental. Bila benar
terdapat luka bakar inhalasi lakukan intubasi endotracheal, kemudian
beri Oksigen melalui mask face atau endotracheal tube.Luka bakar
biasanya berhubungan dengan luka lain, biasanya dari luka tumpul
akibat kecelakaan sepeda motor. Evaluasi pada luka bakar harus
dikoordinasi dengan evaluasi pada luka-luka yang lain. Meskipun
perdarahan dan trauma intrakavitas merupakan prioritas utama
dibandingkan luka bakar, perlu dipikirkan untuk meningkatkan jumlah
cairan pengganti. Anamnesis secara singkat dan cepat harus dilakukan
pertama kali untuk menentukan mekanisme dan waktu terjadinya
trauma. Untuk membantu mengevaluasi derajat luka bakar karena
trauma akibat air mendidih biasanya hanya mengenai sebagian lapisan
kulit (partial thickness), sementara luka bakar karena api biasa
mengenai seluruh lapisan kulit (full thickness).5,6
6.3

Resusitasi cairan
Sebagai bagian dari perawatan awal pasien yang terkena luka
bakar, Pemberian cairan intravena yang adekuat harus dilakukan,
akses intravena yang adekuat harus ada, terutama pada bagian
ekstremitas yang tidak terkena luka bakar. Adanya luka bakar
diberikan cairan resusitasi karena adanya akumulasi cairan edema
tidak hanya pada jaringan yang terbakar, tetapi juga seluruh tubuh.
Telah diselidiki bahwa penyebab permeabilitas cairan ini adalah

25

karena keluarnya sitokin dan beberapa mediator, yang menyebabkan


disfungsi dari sel, kebocoran kapiler.6
Tujuan utama dari resusitasi cairan adalah untuk menjaga dan
mengembalikan

perfusi

jaringan

tanpa

menimbulkan

edema.

Kehilangan cairan terbesar adalah pada 4 jam pertama terjadinya luka


dan akumulasi maksimum edema adalah pada 24 jam pertama setelah
luka bakar. Prinsip dari pemberian cairan pertama kali adalah
pemberian garam ekstraseluler dan air yang hilang pada jaringan yang
terbakar, dan sel-sel tubuh. Pemberian cairan paling popular adalah
dengan Ringer laktat untuk 48 jam setelah terkena luka bakar. Output
urin yang adekuat adalah 0.5 sampai 1.5mL/kgBB/jam.
Formula yang terkenal untuk resusitasi cairan adalah formula
Parkland :
24 jam pertama cairan ringer laktat : 4ml/kgBB/%luka bakar
-

contohnya pria dengan berat 80 kg dengan luas luka bakar 25


%.
Membutuhkan cairan : (25) X (80 kg) X (4 ml) = 8000 ml
dalam 24 jam pertama. jumlah cairan (4000 ml) diberikan
dalam 8 jam, jumlah cairan sisanya (4000 ml) diberikan
dalam 16 jam berikutnya.

Cara lain adalah cara Evans :


1. Luas luka bakar dalam % x berat badan dalam kg = jumlah NaCl
/ 24 jam
2. Luas luka bakar dalam % x berat badan dalam kg = jumah
plasma / 24 jam (no 1 dan 2 pengganti cairan yang hilang akibat
oedem. Plasma untuk mengganti plasma yang keluar dari
pembuluh

dan

meninggikan

tekanan

osmosis

hingga

26

mengurangi perembesan keluar dan menarik kembali cairan


yang telah keluar)
3. 2000 cc Dextrose 5% / 24 jam (untuk mengganti cairan yang
hilang akibat penguapan). Separuh dari jumlah cairan 1+2+3
diberikan dalam 8 jam pertama, sisanya diberikan dalam 16 jam
berikutnya. Pada hari kedua diberikan setengah jumlah cairan
pada hari pertama. Dan hari ketiga diberikan setengah jumlah
cairan hari kedua.

Rumus Baxter yaitu :


Rumus baster= % luka bakar x BB x 4 cc. Separuh dari jumlah
cairan ini diberikan dalam 8 jam pertama, sisanya diberikan dalam 16
jam berikutnya. Hari pertama terutama diberikan elektrolit yaitu
larutan RL karena terjadi defisit ion Na. Hari kedua diberikan
setengah cairan hari pertama.
Contoh: seorang dewasa dengan BB 50 kg dan luka bakar
seluas 20 % permukaan kulit akan diberikan 50 x 20 % x 4 cc = 4000
cc yang diberikan hari pertama dan 2000 cc pada hari kedua.18
6.4

Perawatan luka bakar


Setelah keadaan umum membaik dan telah dilakukan resusitasi
cairan dilakukan perawatan luka. Perawatan tergantung pada
karakteristik dan ukuran dari luka. Tujuan dari semua perawatan luka
bakar agar luka segera sembuh rasa sakit yang minimal. Setelah luka
dibersihkan dan di debridement, luka ditutup. Penutupan luka ini
memiliki beberapa fungsi, yaitu:6
a. Penutupan luka akan melindungi luka dari kerusakan epitel dan
meminimalkan timbulnya koloni bakteri atau jamur.
b. Luka harus benar-benar tertutup untuk mencegah evaporasi
pasien tidak hipotermi.

27

c. Penutupan luka diusahakan semaksimal mungkin agar pasien


merasa nyaman dan meminimalkan timbulnya rasa sakit
Pilihan penutupan luka sesuai dengan derajat luka bakar.
a. Luka bakar derajat I, merupakan luka ringan dengan sedikit

hilangnya barier pertahanan kulit. Luka seperti ini tidak perlu di


balut,

cukup dengan pemberian

salep antibiotik

untuk

mengurangi rasa sakit dan melembabkan kulit. Bila perlu dapat


diberi NSAID (Ibuprofen, Acetaminophen) untuk mengatasi rasa
sakit dan pembengkakan.
b. Luka bakar derajat II (superfisial ), perlu perawatan luka setiap
harinya, pertama luka diolesi dengan salep antibiotik, kemudian
dibalut dengan perban katun dan dibalut lagi dengan perban
elastik. Pilihan lain luka dapat ditutup dengan penutup luka
sementara yang terbuat dari bahan alami (Xenograft (pig skin)
atau Allograft (homograft, cadaver skin) ) atau bahan sintetis
(opsite, biobrane, transcyte, integra).
c. Luka derajat II (dalam) dan luka derajat III, perlu dilakukan

eksisi awal dan cangkok kulit (early exicision and grafting )6,8
6.5

Kontrol nyeri
Rasa sakit merupakan masalah yang signifikan untuk pasien
yang mengalami luka bakar untuk melalui masa pengobatan. Pada
luka bakar yang mengenai jaringan epidermis akan menghasilkan rasa
sakit dan perasaan tidak nyaman. Dengan tidak terdapatnya jaringan
epidermis (jaringan pelindung kulit), ujung saraf bebas akan lebih
mudah tersensitasi oleh rangsangan.1,19
Pada luka bakar derajat II yang dirasakan paling nyeri,
sedangkan luka bakar derajat III atau IV yang lebih dalam, sudah tidak
dirasakan nyeri atau hanya sedikit sekali. Saat timbul rasa nyeri terjadi
peningkatan katekolamin yang mengakibatkan peningkatan denyut

28

nadi, tekanan darah dan respirasi, penurunan saturasi oksigen, tangan


menjadi berkeringat, flush pada wajah dan dilatasi pupil.20
Pasien akan mengalami nyeri terutama saat ganti balut, prosedur
operasi, atau saat terapi rehabilitasi. Dalam kontrol rasa sakit
digunakan

terapi

farmakologi

dan

non

farmakologi.

Terapi

farmakologi yang digunakan biasanya dari golongan opioid dan


NSAID. Preparat anestesi seperti ketamin, N2O (nitrous oxide)
digunakan pada prosedur yang dirasakan sangat sakit seperti saat ganti
balut. Dapat juga digunakan obat psikotropik sepeti anxiolitik,
tranquilizer dan anti depresan.
Penggunaan benzodiazepin bersama opioid dapat menyebabkan
ketergantungan dan mengurangi efek dari opioid.20,21

Bagan 1: Kontrol nyeri.6


6.6

Antimikroba untuk pencegahan dan penanganan infeksi


Dengan terjadinya luka mengakibatkan hilangnya barier
pertahanan kulit sehingga memudahkan timbulnya koloni bakteri atau
jamur pada luka. Bila jumlah kuman sudah semakin banyak, kuman
tersebut dapat menembus ke dalam jaringan yang lebih dalam
kemudian menginvasi ke pembuluh darah dan mengakibatkan infeksi
sistemik yang dapat menyebabkan kematian. Antimikroba topikal

29

dapat digunakan untuk pencegahan infeksi pada luka bakar yang


ditunjukkan dengan adanya tanda dan gejala infeksi lokal (misalnya ,
hipergranulasi jaringan, jaringan granulasi yang gelap atau rapuh).6
Pemberian antimikroba ini dapat secara topikal atau sistemik.
Pemberian secara topikal dapat dalam bentuk salep atau cairan untuk
merendam. Contoh antibiotik yang sering dipakai: Salep : Silver
sulfadiazine, Mafenide acetate, Silver nitrate, Povidone-iodine,
Bacitracin (biasanya untuk luka bakar grade I), Neomycin,
Polymiyxin B, Nysatatin, mupirocin, Mebo.6
Penggunaan

antibiotik

sistemik

untuk

profilaksis

tidak

dianjurkan. Namun, antibiotik sistemik dapat diberikan pada pasien


dengan dugaan toxic epidermal necrolysis atau infeksi beta haemolytic
streptococcus.6
6.7 Terapi Pembedahan
6.7.1

Eksisi dini dan skin grafting


Dengan metode ini eschar di angkat secara operatif dan
kemudian luka ditutup dengan cangkok kulit (autograft atau
allograft ), setelah terjadi penyembuhan, graft akan terkelupas
dengan sendirinya. E&G dilakukan 3-7 hari setelah terjadi luka,
pada umumnya tiap harinya dilakukan eksisi 20% dari luka bakar
kemudian dilanjutkan pada hari berikutnya. Tapi ada juga ahli
bedah yang sekaligus melakukan eksisi pada seluruh luka bakar,
tapi cara ini memiliki resiko yang lebih besar yaitu : dapat terjadi
hipotermi, atau terjadi perdarahan masive akibat eksisi.
Metode

ini

mempunyai

beberapa

keuntungan

dengan

penutupan luka dini, mencegah terjadinya infeksi pada luka bila


dibiarkan terlalu lama, mempersingkat durasi sakit dan lama
perawatan di rumah sakit, memperingan biaya perawatan di rumah
sakit, mencegah komplikasi seperti sepsis dan mengurangi angka
mortalitas. Beberapa penelitian membandingkan teknik E&G

30

dengan teknik konvensional, hasilnya tidak ada perbedaan dalam


hal kosmetik atau fungsi organ, bahkan lebih baik hasilnya bila
dilakukan pada luka bakar yang terdapat pada muka, tangan dan
kaki.
Pada luka bakar yang luas (>80% TBSA), akan timbul
kesulitan mendapatkan donor kulit. Untuk itu telah dikembangkan
metode baru yaitu dengan kultur keratinocyte. Keratinocyte didapat
dengan cara biopsi kulit dari kulit pasien sendiri. Tapi kerugian dari
metode ini adalah membuthkan waktu yang cukup lama (2-3
minggu) sampai kulit (autograft) yang baru tumbuh dan sering
timbul luka parut. Metode ini juga sangat mahal.6
6.7.2

Eskatromi
Luka bakar grade III yang melingkar pada ekstremitas dapat
menyebabkan iskemik distal yang progresif, terutama apabila
terjadi edema saat resusitasi cairan, dan saat adanya pengerutan
keropeng. Iskemi dapat menyebabkan gangguan vaskuler pada
jarijari tangan dan kaki. Tanda dini iskemi adalah nyeri, kemudian
kehilangan daya rasa sampai baal pada ujung-ujung distal. Juga
luka bakar menyeluruh pada bagian thorax atau abdomen dapat
menyebabkan gangguan respirasi, dan hal ini dapat dihilangkan
dengan escharotomy. Dilakukan insisi memanjang yang membuka
keropeng sampai penjepitan bebas.6

31