Anda di halaman 1dari 6

a.

Metode SWOT
Strategi

merupakan

alat

untuk

mencapai

tujuan.

Upaya

pengendalian

pencemaran air memerlukan perencanaan yang strategis yang meliputi proses
analisis, perumusan dan evaluasi strategi-strategi itu. Salah satu model
perencanaan

strategis

adalah

analisis

SWOT

(Strength,

Weaknesses,

Opportunities dan Threats). Analisis ini dapat digunakan sebagai dasar untuk
merancang strategi dan program kerja.
Analisis SWOT adalah analisis untuk mengetahui faktor-faktor internal dan
eksternal yang digunakan untuk menentukan strategi yang dilakukan. Komponen
faktor internal adalah : (1) Strength (S) adalah kekuatan dan potensi suatu sektor
yang dimanfaatkan untuk menunjang pengembangan, (2) Weakness (W) adalah
kelemahan atau masalah yang dihadapi oleh sektor yang dikembangkan dan
dapat menghambat pengembangan potensi yang dimiliki. Komponen faktor
eksternal adalah : (1) Opportunity (O) adalah peluang atau kesempatan dari luar
yang dapat digunakan bagi pengembangan potensi, (2) Threat (T) adalah
ancaman atau hambatan yang berasal dari luar yang dapat mengganggu
pengembangan potensi.
Analisis SWOT didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan dan
peluang, namun secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan dan
ancaman. Untuk dapat mengambil keputusan strategis perlu dilakukan analisis
faktor-faktor strategis (kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman) dalam
kondisi yang ada saat ini. Analisis dilakukan melalui kegiatan pembobotan
terhadap setiap komponen pada kekuatan, kelemahan, ancaman dan peluang.
Kegiatan pembobotan merupakan upaya untuk menentukan besar kecilnya
tingkat kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman untuk diperbandingkan
antara kekuatan dan kelemahan sebagai kemampuan internal dan antara
peluang dan ancaman sebagai faktor eksternal. Hasil perbandingan antara
keduanya akan menentukan posisinya dalam kudran SWOT

negatif apabila S < W dan O < T Menunjukkan bahwa kondisi saat ini tidak menguntungkan. Rekomendasi strategi yang diusulkan adalah dengan melakukan diversifikasi strategi. Kuadran IV: negatif. Strategi yang Kuadran II: harus diterapkan adalah progresif dengan mendukung kebijakan pengendalian pencemaran yang agresif. Kuadran III: negatif. Kekuatan dan peluang yang dimiliki masing-masing indikator pengendalian pencemaran dapat terlaksana dengan baik. positif apabila S > W dan O > T Menunjukkan bahwa situasi saat ini sangat menguntungkan. Rekomendasi strategi yang diberikan adalah strategi bertahan untuk mengendalikan pencemaran berupaya membenahi diri.Gambar 3-4 Kuadran SWOT Hasil analisis pada kuadran SWOT memiliki interpretasi sebagai berikut : Kuadran I: positif. positif. yang terjadi sambil terus . negatif apabila S > W dan O < T Menunjukkan bahwa strategi mempunyai kekuatan tetapi menghadapi ancaman yang tidak menguntungkan. positif apabila S < W dan O > T Menunjukkan bahwa strategi pengendalian saat ini tidak efektif namun sangat berpeluang sehingga harus dilakukan perubahan strategi untuk meminimalkan kelemahan yang dimiliki dan memanfaatkan peluang-peluang yang ada.

memanfaatkan kekuatan (S) secara maksimal untuk mengantisipasi/menghadapi ancaman (T) dan berusaha secara maksimal  menjadikan ancaman menjadi peluang WO. . yaitu dua paling atas adalah kotak faktor internal (kekuatan dan kelemahan) sedangkan dua kotak sebelah kiri adalah faktor eksternal (peluang dan tantangan). Tabel 3-2 Matriks dalam Analisis SWOT External Environment Internal Audit Strength (S)/Kekuatan Weakness (W)/Kelemahan Opportunity (O)/Peluang SO WO Threat (T)/Ancaman ST WT Keterangan :  SO. Empat kotak lainnya merupakan kotak isu-isu strategis yang timbul sebagai hasil titik pertemuan antara faktor . peluang dan ancaman dalam upaya pengendalian pencemaran air saat ini. Unsur-unsur yang digunakan dalam analisis ini adalah : 1.faktor internal dan eksternal. meminimalkan kelemahan (W) untuk menghindari secara lebih baik ancaman (T) Dalam analisis SWOT pengendalian pencemaran ini digunakan indikator-indikator sebagai dasar penilaian untuk mengidentifikasi kekuatan. Kondisi fisik sungai. Pada tahap ini digunakan pendekatan kualitatif dengan menampilkan delapan kotak.2). Unsur ini meliputi tingkat pencemaran air. Indikatorindikator ini ditentukan berdasarkan unsur-unsur yang mempengaruh tingkat pencemaran sungai dan prinsip-prinsip pengendalian pencemaran. meminimalkan kelemahan (W) untuk meraih peluang (O)  WT. merupakan unsur yang menjelaskan kondisi lingkungan sungai saat ini dengan masalah yang dihadapi dan potensi yang ada secara fisik. kelemahan.Penyusunan strategi pengendalian pencemaran yang didasarkan pada analisis SWOT pada kondisi saat ini dilakukan analisis lanjut dengan menggunakan matriks SWOT (Tabel 3. memanfaatkan kekuatan (S) secara maksimal untuk meraih peluang  ST.

merupakan unsur yang menjelaskan kebijakan pemerintah pusat. pemerintah provinsi. Masing-masing unsur memiliki indikator-indikator berdasarkan Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 01 Tahun 2010 tentang Tata Laksana Pengendalian Pencemaran Air dan parameter-parameter yang ditelusuri melalui proses analisis serta ketersediaan informasi yang ada di daerah penelitian. Perizinan pembuangan air limbah ke sumber air 13. Indikator-indikator yang ada yang digunakan dalam analisis ini meliputi 17 indikator yang dapat dilihat pada Tabel 3. 4.3. Pembinaan dan pengawasan 16. 6. 3. 4. Penyediaan informasi 14. Peran Pemerintah dalam upaya pengendalian pencemaran air. pemerintah kabupaten dan instansi terkait tentang pengendalian pencemaran air.Koordinasi antar instansi yang berkepentingan dalam pengendalian pencemaran air 17. baik yang bersifat mendukung maupun menghambat keberhasilan pengendalian pencemaran air. Perlakuan pengendalian 2. Tabel 3-3 Penentuan Indikator Analisis SWOT Pengendalian Pencemaran Air Unsur Kondisi fisik sungai 1. 10. baik yang bersifat mendukung maupun menghambat. 9.Penetapan kebijakan pengendalian pencemaran air 15. Indikator Pencemaran perairan Pemantauan kualitas air Penetapan daya tampung beban pencemaran air Penetapan baku mutu air limbah Pembuatan IPAL Inventarisasi dan identifikasi sumber pencemar air Sikap dan perilaku masyarakat Pembuangan limbah industry Pembuangan limbah pemukiman Pembuangan limbah perternakan Kesadaran mentaati peraturan yang berlaku Pengetahuan dalam pengelolaan limbah Peran Pemerintah 7. 5. pencemaran ai 3. 12. untuk mengurangi tingkat pencemaran air. Upaya pengendalian pencemaran air.2. Unsur-unsur tersebut diharapkan dapat menjadi dasar penilaian evaluasi upaya pengendalian pencemaran air dan penyusunan strategi pengendalian pencemaran yang baru. 8. Sikap dan perilaku masyarakat. 11. merupakan unsur yang menjelaskan sikapsikap dan perilaku masyarakat setempat dalam upaya pengendalian pencemaran air. merupakan unsur yang menjelaskan usaha-usaha pengendalian pencemaran air yang telah dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat. Penerapan konsep partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan kegiatan pengendalian pencemaran air .

Perlu segera dilaksanakan strategi peningkatan imbuhan airtanah secara buatan. Besarnya nilai yang diberikan atas indikator tersebut disesuaikan dengan klasifikasinya. Melaksanakan kegiatan registrasi sumur produksi bagi yang telah berizin dan yang belum berizin. sehingga diberikan bobot nilai positif (+). Dari hasil registrasi ulang. c. Ditekankan untuk membuat satu sumur bor untuk setiap kluster dengan sistem distribusi ke rumah-rumah. Larangan bagi kompleks perumahan untuk membuat satu sumur bor per satu rumah yang dijual. Aspek Kebijakan: 1. merupakan kriteria penilaian yang berperan sebagai kekuatan dan peluang. sehingga diberikan bobot nilai negatif (-). . dapat dialihfungsikan menjadi sumur pantau atau sumur imbuhan. Untuk perijinan pengambilan air bagi bangunan komersial/perdagangan diwajibkan membuat proyeksi kebutuhan air dan proyeksi pemenuhan kebetuhan tersebut dari sumber airtanah dan sumber yang lain (air permukaan dan air hujan). Memanfaatkan potensi limpasan buatan untuk imbuhan airtanah. 7. 3.Metode penilaian yang digunakan terhadap indikator-indikator tersebut di atas dengan menentukan kriteria penilaian terhadap seluruh indikator ke dalam dua kriteria umum. misal hotel. 2. Bahwa airtanah merupakan sumber daya alam yang dapat diperbarui dalam waktu yang cukup. Kriteria penilaian yang bersifat menghambat. Bahwa sumber air untuk memenuhi kebutuhan air tidak hanya airtanah. 2. b. 8. masih ada sumber lain. yakni: air permukaan dan air hujan. yaitu : 1. 4. sumur produksi yang sudah tidak berfungsi. merupakan kriteria penilaian yang berperan sebagai kelemahan dan ancaman. 6. 5. Memanfaatkan potensi curah hujan dengan teknologi pengumpulan air hujan (rain harvesting) bagi gedung-gedung komersial. Kriteria penilaian yang bersifat mendorong. Pemanfaatan sumber daya air berdasarkan prinsip: a. kompleks perkantoran dan perbelanjaan. Besarnya nilai yang diberikan atas indikator tersebut disesuaikan dengan klasifikasinya. Bahwa airtanah jangan dijadikan sumber pemasukan untuk pendapatan daerah (PAD) secara terus-menerus. apalagi ditingkatkan targetnya dari tahun ke tahun. Sumur pantau dibuat oleh pemilik sumur (dengan jumlah sesuai ketentuan). dengan pemilihan lokasi sumur pantau ditentukan oleh pihak berwenang (BPLH).

Sedangkan sistem non-perpipaan dari masyarakat mencapai . pengendalian daya rusak air tanah. kebijakan pengelolaan sumber daya air pada tingkat kabupaten/kota. Petakan relasi antara airtanah dengan air sungai besar yang mengalir di Kota Tangerang. Analisis SWOT untuk air tanah a) Identifiksasi kekuatan/kelemahan dan peluang/ancaman A. Petakan kualitas airtanah secara lebih detail untuk mengetahui pengaruh pencemaran natural dan akibat limbah industri. pendayagunaan air tanah. kebijakan nasional sumber daya air. Kekuatan (strength) 1. dan sistem informasi air tanah yang disusun dengan memperhatikan kondisi air tanah setempat. b. penduduk memperoleh air bersih dari PDAM.46 %. (2) Kebijakan pengelolaan air tanah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disusun dan ditetapkan secara terintegrasi dalam kebijakan pengelolaan sumber daya air. i. yaitu melalui sistem perpipaan yang dilayani oleh PDAM Trita Kerta Raharja Kabupaten Tangerang dengan tingkat pelayanan 24 % dan PDAM Tirta Benteng Kota Tangerang dengan tingkat pelayanan 8. Kebijakan pengelolaan air tanah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ditujukan sebagai arahan dalam penyelenggaraan konservasi air tanah.9. (4) Kebijakan pengelolaan sumber daya air sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diatur dalam peraturan pemerintah mengenai pengelolaan sumber daya air. 10. 2014. dan c. kebijakan pengelolaan sumber daya air pada tingkat provinsi. (3) Kebijakan pengelolaan sumber daya air sebagaimana dimaksud pada ayat (2) terdiri atas: a. Cakupan Layananan PDAM Berdasarkan data dari PDAM Tirta Benteng.