Anda di halaman 1dari 28

BAB II

KODE ETIK GURU INDONESIA

A.

PENGERTIAN KODE ETIK GURU INDONESIA
Ditinjau dari segi etimologi, pengertian kode etik ini telah dibahas
dan dikembangkan oleh beberapa tokoh yang mempunyai jalan fikiran yang
berbeda-beda. Namun pada dasarnya mempunyai pengetian yang sama.
Socrates seorang filosof yang hidup di zaman Romawi, yang dianggap
sebagai pencetus pertama dari etika yang mana dia telah menguaraikan etika
secara ilmu tersusun. Malah sampai sekarang perkembangan etika semakin
berkembang, hal ini dapat dirasakan dengan adanya fenomena-fenomena
yang realita dalam masyarakat.
Menurut

Adi

Negoro

dalam

bukunya

Ensiklopedi

Umum

sebagaimana yang dikutip oleh Sudarno, dkk, mengemukakan : Etika
berasal dari kata Eticha yang berarti ilmu kesopanan, ilmu kesusilaan. dan
kata Ethica (etika, ethos, adat, budi pekerti, kemanusiaan).1
Menurut Hendiyat Soetopo, "Etik diartikan sebagai tata-susila (etika)
atau hal-hal yang berhubungan dengan kesusilaan dalam mengerjakan suatu
pekerjaan".2
William Lillie, mendefinisikan “Ethics as the normative science of
conduct of human being living in societies – a science which judges this
conduct to be right or wrong, to be good or bad, or in some similar way.” 3
Maksud dari pengertian di atas bahwa etik adalah ilmu pengetahuan
tentang norma/ aturan ilmu pengetahuan tentang tingkah laku kehidupan
manusia dalam masyarakat, yang mana ilmu pengetahuan tersebut

1

Sudarno, dkk., Administrasi Supervisi Pendidikan, (Surakarta : Sebelas Maret University
Press, 1989), Cet. II, hlm. 117.
2
Hendiyat Soetopo, Wasty Soemanto, Kepemimpinan dan Supervisi Pendidikan, (Jakarta:
PT. Bina Aksara, 1988), hlm. 281.
3
William Lillie, An Introduction to Ethics, (New York : Barnes and Noble, 1996), hlm.
1-2.

16

menentukan tingkah laku itu benar atau salah, baik atau buruk atau sesuatu
yang semacamnya.
Kemudian secara etimologi kode etik berasal dari dua kata kode dan
etik. Kode berasal dari bahasa Prancis Code yang artinya norma atau aturan.
Sedangkan Etik berasal dari kata Etiquete yang artinya Tata cara atau
Tingkah laku.4
Sementara itu menurut Elizabeth B. Hurlock mendifinisikan tingkah
laku sebagai berikut :
Behaviour which may be called “true morality” not only conforms to
social standards but also is carried out valuntarilly, it comes with the
transition from external to internal authority and consists of conduct
regulated from within.5
Arti definisi tersebut di atas adalah tingkah laku boleh dikatakan
sebagai moralitas yang sebenarnya itu bukan hanya sesuai dengan standar
masyarakat tetapi juga dilaksanakan dengan sukarela. Tingkah laku itu
terjadi melalui transisi dari kekuatan yang ada di luar (diri) ke dalam (diri)
dan ada ketetapan hati dalam melakukan (bertindak) yang diatur dari dalam
(diri).
Selanjutnya definisi guru, yaitu semua orang yang berwenang dan
bertanggung jawab untuk membimbing dan membina anak didik, baik
secara individual atau klasikal, di sekolah maupun luar sekolah.6
Sebagai pendidik, guru dibedakan menjadi dua, yakni pertama, guru
kodrati dan guru jabatan. Guru kodrati adalah orang dewasa yang mendidik
terhadap anak-anaknya. Disebut kodrat karena mereka mempunyai
hubungan darah dengan anak (si terdidik). Kedua, guru jabatan, yaitu
mereka yang memberikan pendidikan dan pengajaran di sekolah. Peran
mereka terutama nampak dalam kegiatan pendidikan dan pengajaran di
4

Kunarto, Tri Brata dan Catur Prasetya Sejarah-Perspektif dan Prospeknya, Jakarta :
Cipta Manunggal, 1997), hlm. 322.
5
Elizabeth B. Hurlock, Child Development, Edisi VI, (Kugalehisa : Mc. Grow Hiil, 1978),
hlm. 386.
6
Syaeful Bahri Djamarah, Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif, (Jakarta : PT.
Rineka Cipta, 2000), Cet. 1, hlm. 31-32.

yaitu “A Code Ethics for The Teaching Profession”. sopan-santun dan keadaban. yaitu mentransformasikan kebudayaan secara terorganisasi demi perkembangan peserta didik (siswa) khususnya di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Kemudian kode etik ini mengalami perbaikan dan revisi pada tahun 1941. 8 Hendiyat Soetopo. op. Pengantar Pendidikan 1.. 34-35. Cet. hlm. cit. . Maksudnya aturan-aturan tentang keguruan (yang menyangkut pekerjaanpekerjaan guru) dilihat dari segi susila. Kata susila adalah hal yang berkaitan dengan baik dan tidak baik menurut ketentuan-ketentuan umum yang berlaku. Sejarah Lahirnya Kode Etik Guru Indonesia Dalam pembahasan ini akan diterangkan secara singkat tentang sejarah lahirnya Kode Etik Guru Indonesia. hlm. 2. “kode etik guru” diartikan : aturan tata-susila keguruan. Dalam hal ini kesusilaan diartikan sebagai kesopanan. Istilah kode etik tenaga kependidikan yang dirumuskan secara tertulis untuk pertama kalinya oleh The National Education Association (NEA) pada tahun 1929. Wasty Soemanto. 1953 dan terakhir tahun 1963. Adapun untuk menelusuri sejarahnya terlebih dahulu kita melihat ke belakang istilah adanya kode etik yang digunakan secara formal.17 sekolah.8 Dengan demikian yang dimaksud dengan Kode Etik Guru Indonesia adalah pedoman/ aturan-aturan/ norma-norma tingkah laku yang harus ditaati dan diikuti oleh guru profesional di Indonesia dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sehari-hari sebagai guru profesional. Jadi. 1992). (Jakarta : PT. The National Education 7 Zahara Idris dan Lisma Jamal. Grasindo. 281. B.7 Pembahasan selanjutnya yang dimaksudkan dalam kajian ini adalah guru profesional yang secara khusus mempunyai tugas dan tanggung jawab membimbing dan membina anak didik dalam proses belajar mengajar di Negara Indonesia.

di 9 Ibid. tut wuri handayani (mendorong dan memepengaruhi bila berada di belakangnya). yang pertama kali mendirikan sekolah di Indonesia (Perguruan Taman Siswa). pelindung dan pengasuh. ing madyo mangun karso (ikut aktif dan giat serta menggugah semangat bila berada di tengah). yaitu ing ngarso sung tulodo (memberi contoh dan suri tauladan bila berada di depan). Sehingga muncullah tokoh pendidikan yang bernama Ki Hajar Dewantoro. Keadaan yang demikian itu mengandung konsekuensi adanya kewajiban guru Indonesia untuk melaksanakan tugas dan perannya selaku pembimbing. Guru Indonesia telah memegang peranan penting bersama rakyat dalam perjuangan merebut.18 Association (NEA) ini merupakan organisasi professional dalam bidang pendidikan di Amerika.9 Semasa penjajahan Belanda pendidikan di Indonesia diarahkan sesuai dengan kehendak penjajah. tidak demokratis dan menganaktirikan siswa. Sebagai bagian yang tidak terlepaskan dari sejarah perjuangan bangsa. sehingga rakyat menjadi bersifat statis. mempertahankan dan mengisi kemerdekaan Indonesia. Beliau mengharapkan kiranya semboyan ini dapat diresapi dan diwujudkan sebagai pedoman tata cara akhlak bagi tenaga kependidikan dalam melakukan tugasnya dan dalam kehidupan sehari-hari. Lahirnya guru Indonesia di zaman modern. . Namun beliau menggunakan semboyan yang mencakup 4 pengertian. dan para guru yang mengajarpun sangat berpengaruh dalam cara pendidikannya yang bersifat otoriter dan suka menjajah memperlihatkan kekuasaannya. Di mana beliau memberi buah pikiran kepada kita mengenai tata cara akhlak guru. waspodo purbo waseso (harus selalu waspada dan mengawasi serta sanggup melakukan koreksi). guru Indonesia yang juga merupakan bagian dari rakyat Indonesia mempunyai peranan sebagai kebanggaan. hlm. pendidik. 285. Walaupun istilah kode etik guru tidak dipakai oleh beliau dalam sistem pendidikannya..

Sekitar Kongres PGRI 1973 sebuah tim telah membahas. bersama-sama Kepala Sekolah. Artinya segenap pola pikir. yang mudah dibawa ke mana-mana. menjajaki dan merumuskan melalaui beberapa tahap dalam forum pertemuan para ahli pendidikan. Mereka berorientasi pada semangat jiwa dan nilai-nilai luhur kepribadian dan budaya bangsa yang tumbuh secara embrioal. Kepala-kepala Kabin se-Madya dan Kabupaten Malang. Selanjutnya tentang Kode Etik Guru Indonesia oleh PGRI merupakan pekerjaan berat yang harus dirumuskan. untuk itu guru Indonesia dituntut berpegang teguh pada jati diri yang telah dimilikinya. Sehingga pada tahun 1971 FIP-IKIP Malang telah diadakan seminar tentang Etika Jabatan Guru yang diikuti oleh kepala Perwakilan Departemen P & K Provinsi Jawa Timur. sikap dan tindakannya senantiasa bertumpu pada sendisendi dan realitas kehidupan bangsa. Guru Indonesia senantiasa berpegang teguh pada jati diri. Dalam seminar ini menghasilkan rumusan kode etik jabatan guru yang dituangkan dalam buku kecil.19 mana bangsa ini benar-benar menjadi bangsa yang cerdas dan berakhlak mulia. Jati diri tersebut merupakan kode etik dan sekaligus sebagai pedoman bagi setiap guru Indonesia yang harus dijunjung tinggi dan dilaksanakan dengan baik dalam kegiatan pribadi maupun organisasi. termasuk di dalam menjawab tantangan globalisasi dan laju arus reformasi. kemudian . maka pada Kongres PGRI ke XIII tahun 1873 yang diselenggarakan tanggal 21-25 November 1973 di Jakarta telah menetapkan Kode Etik Guru Indonesia. Harapan Dekan FIP-IKIP Malang kepada kita tentang betapa agung dan beratnya jabatan guru itu dan betapa besar pula dan berat tanggung jawabnya. Guru Indonesia harus memiliki jati diri ke – Indonesia – an. Mengingat tugasnya guru Indonesia semakin lama semakin berat dan semakin kompleks. guru-guru se-Kota Madya serta para Dosen FIP-IKIP Malang.

Bahwa guru Indonesia berjiwa Pancasila dan UUD 1945 merasa bertanggung jawab atas terwujudnya citacita proklamasi kemerdekaan RI (17-8-1945). Sebagai contoh kita mengenal Kode Etik Jurnalistik. Kode Etik Kehormatan Hakim. III. Tahap penyempurnaan (kongres PGRI XIV. . dan ketiga tindakan administratif. Sapta Marga ABRI. V. dkk. kedua skorsing. IV. bangsa dan tanah air serta kemanusiaan pada umumnya. 6-7. Tahap pengesahan (kongres XIII. Pedidikan Sejarah Perjuangan PGRI (PSP-PGRI).A. Tapi yang lebih berat adalah sanksi moral. hlm. yaitu pertama peringatan/teguran. ( Semarang : IKIP PGRI. 1998). Wasty Soemanto. cit. November 1973) 3. Sanksi yang akan dijatuhkan tergantung pada berat ringannya pelanggaran tersebut. Kode Etik Guru Indonesia dalam perumusannya/ waktu kelahirannya mengalami 4 (empat) tahap yaitu : 1. hlm. Tahap penguraian (kongres XIV. Juni 1979) 4. Juli 1989). Prinsip-prinsip yang ada dalam Kode Etik Guru Indonesia ini selaras dengan prinsip-prinsip azasi “A code ethics for the teaching profession” yang dirumuskan oleh The National Educatioan Association. op. Kode Etik Pers (Sapta Prasetya).. Tri Brata dan Catur Prasetya Polri dan sebagainya.. Sanksi yang akan dikeluarkan itu tentunya tidak salah dijatuhkan secara langsung dijatuhkan. yang artinya bahwa apabila para guru melakukan pelanggaran atas kode etik maka akan dikenakan sanksi. Kode Etik Kedoketran. Di dalam Kongres PGRI mengenai kode etik antara lain disebutkan bahwa pendidikan suatu bidang pengabdian terhadap Tuhan Yang Maha Esa.11 10 R. 289-290.10 Pada tahun 1973 inilah Kode Etik Guru Indonesia dirumuskan oleh PGRI secara yuridis. Tahap pembahasan/ perumusan (tahun 1971/1973) 2. Soepardi Hadiatmadja.20 diperbandingkan dengan profesi lain. Jilid II. 11 Hendiyat Soetopo. tetapi melalui beberapa tingkatan.

Pancasila merupakan dasar dari pada Kode Etik Guru Indonesia. (Jakarta : CV. Edisi I. 17. Sedangkan hubungan vertikal adalah merupakan realisasi dari sila pertama. Cet. Kode Etik Guru Indonesia harus disusun berdasarkan antara lain kepada: 1. sebagai warga negara yang bertanggung jawab. Pengantar Didaktik Metodik Kurikulum PBM. DASAR KODE ETIK GURU INDONESIA Kode Etik Guru Indonesia merupakan usaha pendidikan untuk mencapai cita-cita luhur bangsa dan negara Indonesia sebagaimana termaktub dalam pembukaan UUD 1945 yang mutlak diperlukan sebagai sarana yang teratur dan tertib sebagai pedoman yang merupakan tanggung jawab bersama. yaitu Pancasila. yang harus ditanamkan dan menjiwai setiap pendidik dan profesinya baik sebagai manusia. sila-sila tersebut menyatakan adanya dua macam interaksi antara hubungan secara horizontal (manusia dengan sesama makhluk) dan hubungan secara vertikal (antara manusia dengan Tuhan). Hubungan horizontal tersebut merupakan realisasi dari sila-sila sampai dengan kelima. Sebab Pancasila juga merupakan dasar pendidikan dan penganjaran Nasional. Rajawali. Tujuan Pendidikan dan pengajaran Nasional sesuai dengan TAP MPRS No.21 C.1989). XXVII/MPRS/1966 yang berbunyi : “Tujuan pendidikan adalah 12 Team Pembina Mata Kuliah Didaktik Metodik/Kurikulum IKIP Surabaya. hlm. Dasar falsafah negara. Sebab dalam falsafah negara itu terkandung maksud dan tujuan dari negara tersebut.12 Dengan demikian Kode Etik Guru Indonesia disusun haruslah merupakan sendi dasar norma-norma tertentu dari kode etik tersebut. 4. 2. . Sila-sila dari Pancasila di samping merupakan norma-norma fundamental juga merupakan normanorma praktis.

berdaya guna. 1990).22 membentuk manusia Pancasila sejati yang berdasarkan ketentuan yang dikehendaki oleh Pembukaan UUD 1945 dan Isi UUD 45. Dari segi ini. Burhanuddin.”13 Tap MPR No. (Malang : Bumi Aksara. hlm. op. kode etik juga sering disebut kode kehormatan. Oleh karenanya. TUJUAN KODE ETIK GURU INDONESIA A. II/1983 Peraturan-praturan Pemerintah misalnya menurut PP Nomor 10 tahun 1979 tentang Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan Pegawai Negeri Sipil maupun PP Nomor 30 tahun 1980 tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil. 282-283. Secara umum kode etik mempunyai tujuan sebagai berikut : 1. 14 . Analisis Administrasi Manajemen dan Kepemimpinan Pendidikan. Semua dasar ini dijadikan pedoman dalam rangka membina aparatur negara agar penuh kesetiaan dan ketaatan kepada Pancasila dan UUD 45 dan kepada pemerintah untuk bersatu padu bermental baik. hlm. berwibawa.. cit. Untuk menjunjung tinggi martabat profesi Dalam hal ini kode etik dapat menjaga pandangan dan kesan dari pihak luar atau masyarakat. 348. Tujuan Kode Etik Tujuan merumuskan kode etik dalam suatu profesi adalah untuk kepentingan anggota organisasi profesi itu sendiri. agar mereka jangan sampai memandang rendah atau remeh terhadap profesi yang bersangkutan. berhasil guna. bersih mutu dan penuh tanggung jawab dalam melaksanakan tugas-tugasnya dalam pembangunan.14 D. setiap kode etik suatu profesi akan melarang berbagai bentuk tindak-tanduk atau kelakuan anggota profesi yang dapat mencemarkan nama baik profesi terhadap dunia luar. 13 Hendiyat Soetopo dan Wasty Soemanto.

Oleh karena itu. melainkan untuk pengabdian kepada masyarakat. sehingga siapa-siapa yang mengadakan tarif di bawah minimum akan dianggap tercela dan merugikan rekan-rekan seprofesi. kode etik umumnya memuat larangan-larangan kepada anggotanya untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang merugikan kesejahteraan para anggotanya. Untuk meningkatkan pengabdian para anggota profesi Tujuan lain Kode Etik dapat juga berkaitan dengan peningkatan kegiatan pengabdian profesi. sehingga bagi para anggota profesi dapat dengan mudah mengetahui tugas dan tanggung jawab pengabdiannya dalam melaksanakan tugasnya. 1999).15 Suatu profesi bukanlah dimaksudkan untuk mancari keuntungan bagi diri sendiri. . merusak atau menimbulkan 15 31-32. Ini berarti. Dalam hal kesejahteraan batin para anggota profesi. baik dalam arti ekonomis maupun dalam arti psikis. Sutjipto dan Raflis Kosasi. Kode etik juga sering mengandung peraturan-peraturan yang bertujuan membatasi tingkah laku yang tidak pantas atau tidak jujur bagi para anggota profesi dalam berinteraksi dengan sesama rekan anggota profesi. 3. Untuk menjaga dan memelihara kesejahteraan para anggota profesi guru Yang dimaksud kesejahteraan di sini meliputi kesejahteraan lahir (material) maupun kesejahteraan batin (spiritual atau mental). bahwa profesi tidak boleh sampai merugikan. kode etik merumuskan ketentuan-ketentuan yang perlu dilakukan para anggota profesi dalam menjalankan tugasnya.23 2. Misalnya dengan menetapkan tarif minimum bagi honorarium anggota profesi dalam melaksanakan tugasnya. Profesi Keguruan. Kode Etik umumnya memberi petunjuk kepada para anggotanya untuk melaksanakan profesinya. (Jakarta : PT. Rineka Cipta. Dalam hal ini kesejahteraan lahir pada anggota profesi. hlm.

Tujuan Kode Etik Guru Indonesia Secara umum tujuan kode etik jabatan seorang guru adalah untuk menjamin para guru atau petugas lainnya agar dapat melaksanakan tugas kependidikan mereka sesuai dengan tuntutan etis dari segala aspek kegiatan penyelenggaraan pendidikan. hlm. Administrasi Pendidikan untuk Fakultas Tarbiyah Komponen MKDK. 348. 1998).18 B. op. 32. 18 Yusak Burhanuddin. hlm.19 Sedangkan secara khusus tujuan Kode Etik Guru Indonesia adalah sebagai berikut : 16 Oemar Hamalik. . hlm. (Bandung : Mandar Maju. PGRI. sehingga PGRI tetap berwibawa di dalam masyarakat dan tetap berfungsi sebagai wadah profesi yang dapat menghimpun dan memecahkan masalah-masalah prinsip. (Bandung : Pustaka Setia. 19 Burhanuddin. cit. cit.. op. Pendidikan Guru Konsep dan Strategi. hlm. 2. 138. 1991).. keberuntungan kesempurnaan serta kesejahteraan bagi masyarakat. Sebaliknya. profesi harus berusaha menimbulkan kebaikan. dan 16 4.17 Yakni. Untuk meningkatkan mutu profesi Untuk meningkatkan mutu profesi kode etik juga memuat normanorma dan anjuran agar para anggota profesi selalu berusaha untuk meningkatkan mutu pengabdian para anggotanya. Untuk meningkatkan mutu organisasi profesi Untuk meningkatkan mutu organisasi profesi. 17 Sutjipto dan Raflis Kosasi.24 malapetaka bagi orang lain dan bagi masyarakat. sehingga peranan dan kedudukan guru berfungsi sebagaimana mestinya. 5. maka diwajibkan kepada semua anggota untuk secara aktif berpartisipasi dalam membina organisasi profesi dan kegiatan yang dirancang organisasi.

Berdisiplin dalam menjalankan tugas-tugas jabatan. 12.. 8. MATERI KODE ETIK GURU INDONESIA Guru sebagai profesi adalah bagian dari jabatan yang secara khusus bergelut dalam dunia pendidikan. dkk. hlm. . profesional dan sosial). Dapat memegang rahasia jabatan. 3.. Bertanggung jawab atas segala tugas yang dibebankan kepadanya. Tugas pokok jabatan. dan karenanya segala sepak terjang profesinya harus sesuai dengan nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945.20 E. Tidak melibatkan diri dalam hal-hal di luar jabatan yang mengganggu.. Secara umum jabatan itu mempunyai materi pokok yang sangat mendasar. 14. Menanamkan kesadaran kepada anggotanya bahwa kode etik merupakan produk anggota profesinya yang berlandaskan kepada falsafah Pancasila dan UUD 1945. 4. 11. yaitu :21 6. 120-121. 7. 10. IKIP Semarang Press. Profesi Kependidikan. cit. Susila dalam sikap. Jujur. Beritikad baik dalam melaksanakan jabatannya. 1998). 2. 1. op. 20 Sutomo. 13. dkk. Bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. 9. (Semarang : CV.25 1. Cet. 44. Mewujudkan terciptanya individu-individu profesional di bidang kependidikan yang mampu tampil profesional sesuai dengan kompetensinya (personal. Meningkatkan kualitas profesional Tenaga Kependidikan untuk keperluan pengembangan kode etik itu sendiri. Membentuk sikap professional di kalangan Tenaga Kependidikan maupun masyarakat umumnya dalam rangka penyelenggaraan pendidikan. hlm. 21 Sudarno.

Oleh karena itu. 19. rapi dan sopan sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia. Bangsa dan Negara serta kemanusiaan pada umumnya. bahwa pendidikan adalah bidang pengabdian terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Guru memiliki dan melaksanakan kejujuran profesional dalam menerapkan kurikulum sesuai dengan kebutuhan anak didik masingmasing. Pada prinsipnya guru Indonesia menyadari. . Menjujung tinggi keadilan dan kebesaran dalam melaksanakan tugas. 18. Guru Indonesia berjiwa Pancasila dan setia pada UUD 1945 turut bertanggung jawab atas terwujudnya cita-cita proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945. Menjaga nama bail sekolah/ tempat di mana ia bekerja. 17. Tabah dan sabar menghadapi atau menjalankan tugas. guru Indonesia terpanggil untuk menunaikan karyanya dengan dengan mempedomani dasar-dasar sebagai berikut : 1. Memandang mulia jabatannya. Bersedia mengabdi kepada jabatan. 24. Berpakaian bersih. 20. Guru berbakti membimbing peserta didik untuk membentuk manusia Indonesia seutuhnya yang ber-Pancasila. Ramah tamah dalam pergaulan. Sedangkan materi Kode Etik Guru Indonesia secara spesifik adalah berisikan beberapa butir-butir dan penjelasannya telah disempurnakan dan ditetapkan oleh Kongres PGRI XVI tahun 1989 di Jakarta. Berbudi luhur dan baik hati. Bijaksana dan teliti dalam menyelesaikan segala persoalan. Rela berkorban untuk kepentingan jabatan. 22. 2. 25. 23. Kasih sayang kepada rekan-rekan dan anak didik. 16. 26. Bersedia bekerjasama dengan rekan-rekan lain. 21.26 15.

Guru berbakti membimbing peserta didik seutuhnya untuk membentuk manusia pembangunan yang ber-Pancasila. mengembangkan dan meningkatkan mutu profesinya.. Guru memelihara hubungan baik dengan masyarakat di sekitar sekolahnya maupun masyarakat yang lebih luas untuk kepentingan pendidikan. hlm.23 Dari pernyataan di atas. 156. 7. Guru secara bersama-sama memelihara. MP. Guru menciptakan dan memelihara hubungan antara sesama guru beik berdasarkan lingkungan kerja maupun di dalam hubungan keseluruhan. Guru secara sendiri-sendiri dan atau bersama-sama. 8. 23 Ngalim Purwanto. Cet. 5.22 Rumusan Kode Etik Guru Indonesia tersebut di atas adalah masih global sehingga perlu penjabaran secara lebih rinci. kiranya dapat di kelompokkan menjadi dua komponen yaitu bahwa guru berbakti membimbing anak seutuhnya dan guru membimbing anak agar menjadi manusia pembangunan yang 22 Soetomo. Guru mengadakan komunikasi. 1993). . membina dan meningkatkan organisasi guru profesional sebagai sarana pengabdian. Sebagai penjabaran dari Kode Etik Guru Indonesia tersebut adalah sebagai berikut : 1. 271-272. terutama dalam memperoleh informasi tentang anak didik. Remaja Rosdakarya. 9. 1995). (Bandung : PT. Administrasi dan Supervisi Pendidikan.27 3. 1. tetapi menghindarkan diri dari segala bentuk penyalahgunaan. (Surabaya : Usaha Nasional. yang kemudian dituangkan dalam item-item. hlm. Guru melaksanakan segala ketentuan yang merupakan kebijaksanaan pemerintah dalam bidang pendidikan. 6. 4. Guru menciptakan suasana kehidupan sekolah dan memlihara hubungan dengan orang tua murid dengan sebaik-baiknya bagi kepentingan anak didik. Dasar-dasar Interaksi Belajar Mengajar.

24 Soetomo. cit. 2003).24 Sedangkan manusia pembangunan yang ber-pancasila ini dijelaskan dalam Tujuan pendidikan Nasional yaitu tap UU No. op. 12. b. (Yogyakarta : Media Wacana Press. hlm. e. Guru menghormati hak individu dan kepribadian anak didiknya masing-masing. Guru dengan bersungguh-sungguh mengintensifkan Pendidikan Moral Pancasila bagi anak didiknya.28 ber-pancasila. ”Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. 1 . 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional bab II pasal 3 bahwa. hlm. c. Guru melatih dalam memecahkan masalah-masalah dan membina daya kreasi anak didik agar kelak dapat menunjang masyarakat yang sedang membangun.. Guru harus menghayati dan mengamalkan Pancasila. selain itu juga mempunyai intelektual. 25 . sosial maupun segi-segi lainnya pada pribadi anak didik yang sesuai dengan hakikat pendidikan. berilmu. kreatif. sehat. berakhlak mulia. Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Yang dimaksud dengan manusia seutuhnya adalah manusia dewasa jasmani dan rohani.25 Pada bagian yang pertama di atas masih memerlukan perincian lebih lanjut dan karena itu maka teks lengkap dari kode etik guru Indonesia bagian pertama diberi penjelasan sebagai berikut: a. Cet. d. mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Guru berusaha mensukseskan pendidikan yang serasi (jasmaniah dan rohaniah) bagi anak didiknya. cakap. UU Sisdiknas No. 265. 20 Tahun 2003. bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

26 2. op. akan tetapi anak didik. sedangkan guru sebagai pembimbing (pengarah) anak didik agar dia mencapai tujuan yang diharapkan. cit. a. hlm. cit. Sedangkan yang menjadi pokok yang terpenting adalah anak didik.. 27 . Kurikulum hanyualah jalan atau alat untuk membawa anak mencapai tujuan. Dan yang jelas pada bagian yang kedua ini mempedomani kepada guru untuk memperlakukan kepada anak didik sebagaimana ia adanya dan secara konsekwen memperhatikan dan memperlakukannya secara individual serta dengan tidak menghiraukan dengan status orang tuanya. Guru menghargai dan memperhatikan perbedaan dan kebutuhan anak didiknya masing-masing. MP. b. tetapi guru sebagai pembimbing yang harus dapat menciptakan suasana belajar pada anak didiknya.28 26 Ngalim Purwanto. 267. Denghan demikian pada bagian ini menyadarkan pada guru atau kurikulum yang menjadi pokok tumpuan. c.27 Pada kode etik bagian yang kedua di atas diletakkan pada kejujuran profesional. Guru hendaknya luwes dalam menerapkan kurikulum sesuai dengan kebutuhan anak didik masing-masing. 156. Guru membantu sekolah di dalam usaha menanamkan pengetahuan. Ibid.. hlm. loc. Guru memiliki kejujuran profesional dalam menerapkan kurikulum sesuai dengan kebutuhan anak didik masing-masing. Dalam hal ini guru bukan raja yang serba menentukan.. bukan guru dan bukan kurikulum. Guru memberi pelajaran di dalam dan di luar sekolah berdasarkan kurikulum tanpa membeda-bedakan jenis dan posisi orang tua muridnya. 28 Soetomo.29 f. Di sini dapat ditarik garis lurus antara guru kurikulum-anak didik. keterampilan kepada anak didik.

Guru menciptakan suasana kehidupan sekolah dan memelihara hubungan dengan orang tua murid dengan sebaik-baiknya bagi kepentingan anak didik. Soetomo. a. MP. tetapi menghindarkan diri dari segala bentuk pengalahgunaan. b.30 3. Guru megadakan komunikasi. . cit. 29 30 Ngalim Purwanto. terutama dalam memperoleh informasi tentang anak didik. Guru menciptakan hubungan baik dengan orang tua murid sehingga dapat terjalin pertukaran informasi timbal balik untuk kepentingan anak didik. op. cit.. Guru menciptakan suasana kehidupan sekolah sehingga anak didik betah berada dan belajar di sekolah. tetapi hubungan itu hanya didasarkan dengan tujuan untuk memperoleh informasi yang berhubungan dengan pendidikan anak didiknya. Dengan saling memberi informasi. Komunikasi guru ini hanya kepentingan pendidikan anak didik. hlm. a. 268. diadakan semata-mata untuk 29 Dari penjelasan di atas kiranya jelas bahwa pekerjaan ghuru adalah menuntut dirinya untuk mengeadakan komunikasi (hubungan) dengan anak didik baiki di dalam dan di luar sekolah serta hubungan dengan orang tuanya. Komunikasi guru dan anak didik di dalam dan di luar sekolah dilandaskan pada rasa kasih sayang. Untuk berhasilnya pendidikan. maka guru harus mengetahui kepribadian anak dan latar belakang keluarganya masing-masing. c. maka gurupun dapat mengetahui latar belakang anak dan kepribadian anak secara menyeluruh sehngga guru dapat menyampaikan bahan pengajaran disesuaikan dengan masing-masing kebutuhan anak didiknya. b.. loc.30 4.

6. Mengikuti penataran. a. d. Guru memelihara hubungan baik dengan masyarakat di sekitar sekolahnya maupun masyarakat yang lebih luas untuk kepentingan pendidikan. 2. a. gerakan koperasi. Guru memperluas pengetahuan masyarakat mengenai profesi keguruan. Guru mengusahakan terciptanya kerjasama yang sebaik-baiknya antara sekolah. Guru secara sendiri-sendiri dan atau bersama-sama. 4. Mengikuti lokakarya. orang tua murid. dan masyarakat bagi kesempurnaan usaha pendidikan atas dasar kesadaran bahwa pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah. c. Guru turut bersama-sama masyarakat sekitarnya di dalam berbagai aktivitas. Membaca buku-buku. 5. d. dan .31 c. Pertemuan dengan orang tua murid harus diadakan secara teratur. Mengadakan kegiatan-kegiatan penelitian. Guru melanjutkan studinya dengan : 1. e. orang tua murid dan masyarakat. 3. seminar. Guru turut menyebarkan program-program pendidikan dan kebudayaan kepada msyarakat sekitarnya. mengembangkan dan meningkatkan mutu profesinya. Guru senantiasa menerima dengan dada lapang setiap kritik membangun yang disampaikan orang tua murid/masyarakat terhadap kehidupan sekolahnya. Guru harus berperan agar dirinya dan sekolahnya dapat berfungsi sebagai unsur pembaharu bagi kehidupan dan kemajuan daerahnya. sehingga sekolah tersebut turut berfungsi sebagai pusat pembinaan dan pengembangan pendidikan dan kebudayaan di tempat itu. pertemuan-pertemuan pendidikan dan keilmuan lainnya. b.

hlm. Karena itulah diharapkan para guru terus meningkatkan pengetahuan dan pengalamannya demi kemajuan zaman. apalagi dengan bertemu teman sejawat untuk saling tukar pikiran dan saling mengemukakan masalahnya masing-masing untuk dipecahkan bersama. Guru tidak melakukan tindakan-tindakan yang merugikan nama baik rekan-rekan seprofesinya dan menunjang martabat guru baik secara pribadi maupun keseluruhan. bersikap dan bertindak sesuai dengan martabat profesinya..32 b. b. menunjukkan bahwa seorang guru diharapkan mempunyai sikap yang terbuka terhadap pembaharuan dan peningkatan khususnya pembaharuan dan peningkatan yang berhubungan dengan ilmu yang diajarkan kepada anak didik. Bagi seorang guru yang merasa bahwa ia sudah menjadi guru dan tidak mau belajar lagi . Guru selalu bicara. pendapat. saling menasihati dan bantu-membantu satu sama lainnya. Belajar bersama saling memberi dan menerima tukar menukar poengalaman dan ilmu adalah cara yang baik bagi guru-guru. 7. op. Guru menciptakan dan memelihara hubungan antara sesama guru baik berdasarkan lingkungan kerja maupun di dalam hubungan keseluruhan. 157-158. 31 Ngalim Purwanto. berarti ia menutup kemungkinan untuk tetap berada dalam profesinya itu dan suatu saat ia akan merasa bahwa ia akan kehilangan fungsinya sebagai guru. Guru senantiasa saling bertukar informasi. baik dalam hubungan kepentingan pribadi maupun dalam menunaikan tugas profesinya.31 Pada bagian di atas. MP. cit. .. yang pada akhirnya akan berguna bagi guru itu sendiri dalam mengajar perkembangan pengetahuan dan teknologi yang semakin cepat. a.

Guru secara bersama-sama memelihara. Guru melakukan tugas profesinya dengan disiplin dan rasa pengabdian. Dan dengan demikian di samping suatu organisasi profesi penting untuk anggotanya juga penting untuk profesi itu sendiri. Guru menjadi anggota dan membantu organisasi guru yang bermaksud membina profesi dan pendidikan pada umumnya. Guru melaksanakan segala ketentuan yang merupakan kebijaksanaan pemerintah dalam bidang pendidikan. 8. b. saling hormat menghormati. Guru senantiasa tunduk terhadap kebijaksanaan dan ketentuanketentuan pemerintah dalam bidang pendidikan. dan tindakan-tindakan yang merugikan organisasi. jangan sampai selalu menceritakan kejelekan teman-temannya sesama guru dan harus dapat menjaga kewibawaan profesinya. a. saling tolong menolong dan saling kerjasama. 9. pada pokoknya adalah berkisar pada masalah organisasi profesional keguruan. . Guru senantiasa berusaha terciptanya persatuan di antara sesama pengabdi pendidikan c.33 Pada kode etik ini jelas bahwa sesama guru hendaknya saling berkomunikasi yang baik dan saling bantu membantu. Pada kode etik yang kedelapan di atas. b. Kiranya kita semua sependapat bahwa organisasi professional bermaksud meningkatkan profesi anggota-anggotanya. a. ucapan-ucapan. Guru senantiasa berusaha agar menghindarkan diri dari sikap-sikap. Sesama guru harus dapat menjaga rahasia temannya. membina dan meningkatkan organisasi guru profesional sebagai sarana pengabdian. Sehingga dengan adanya organisasi profesi maka angota-anggotanya dapat terpelihara sehingga keseluruhan korps dapat terjaga mutu serta peningkatannya.

cit. tuntunan sikap dan perbuatan serta berkarya oleh guru Indonesia dalam melaksanakan kependidikan disuatu sekolah keluarga dan masyarakat. 32 Soetomo. op. hlm.34 c. Guru berusaha membantu menyebarkan kebijaksanaan dan program pemerintah dalam bidang pendidikan kepada orang tua murid dan masyarakat sekitarnya. 271-272. d. Guru berusaha menunjang terciptanya kepemimpinan pendidikan di lingkungan atau di daerah sebaik-baiknya. 32 Demikianlah konsep dari Kode Etik Guru Indonesia yang harus ditaati. dihormati dan diamalkan selama ini dan digunakan sebagai pedoman hidup.. Artinya bahwa setiap guru baik dalam usaha untuk mencapai tujuan pendidikan di dalam sekolah maupun berperilaku sehari-hari di luar sekolah harus sesuai dengan kaidah atau garis etika tersebut. Sehingga guru akan menjadi profesional di dalam kelas dan teladan yang baik (digugu dan ditiru) di luar aktivitas belajar mengajar di sekolah. .

Hamzah Ya’kub. Dasar-dasar Interaksi Belajar Mengajar Cet. Ibid. 1998. 49. Pengantar Didaktik Metodik Kurikulum PBM. hlm. 1996. Sinar Baru. 1993. Rineka Cipta. 1997. Surabaya. IKIP Semarang Perss.. Guru dalam Proses Balajar Mengajar. PT. Eksistensi dan Proses Belajar. 1. M.. dkk. 3. hlm. 4. I. 2002. CV. 147. Drs. . Semarang. hlm. 4. 7. hlm. hlm. 2. 1997. Etika Islam Pembinaan Akhlakul Karimah. Barnes and Noble. Drs. CV.. IKIP Semarang Press. 1. Pustaka Pelajar. Guru dan Anak Didik Dalam Interaksi Edukatif. 1997. Jakarta. hlm. 64. hlm. M. hlm. Jakarta. 8. 179. 10. 32. 11. hlm. Drs. Yogyakarta.Pd. PBM-PAI Disekolah.. hlm. 12. 30. 1999. Team Pembina Mata Kuliah Didaktik Metodik/Kurikulum IKIP Surabaya. dkk. Muhammad Ali.. Sutomo. Raflis Kosasi. Bandung. Pemikiran Al-Ghazali Tentang Pendidikan. Drs. Drs. New York. III. PT. M. Dr. 1987. Drs. CV. hlm. 13.. Profesi Kependidikan. An Introduction to Ethics. Semarang. Pustaka Pelajar.35 DAFTAR PUSTAKA Bab I Proposal 1. IKIP Semarang Press.. 1993. Rineka Cipta. 9. 5. hlm. CV. Soetjipto dan Drs. Lihat Pembukaan UUD 1945 alenea Keempat. H. Subagyo. 6. 14. Pendidikan Kewarganegaraan Cet. Semarang. 1-2. Team Pembina Mata Kuliah Didaktik Metodik/Kurikulum IKIP Surabaya. Usaha Nasional. Abidin Ibnu Rush. 1.Pd. CV. hlm. Semarang. William Lillie. Yogyakarta. Pengantar Didaktik Metodik Kurikulum PBM. 1998. 264. 2000. Prof. CV. Profesi Keguruan.Mengajar Pendidikan Agama Islam. 16.Sc. Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo. Sutomo. 11-12. Bandung. Diponegoro. Syaiful Bahri Djamarah. cet. IKIP Semarang Press.

36 15. hlm. 1996. M. op. Wasty Soemanto. Pemikiran Al-Ghazali tentang Pendidikan. Solo. op. Prof. Tri Brata dan Catur Prasetya Sejarah-Perspektif dan Prospeknya. 31-32. hlm. M. 16. Drs. Yogyakarta. Mizan. Metodologi Penelitian Filsafat. 52. Metodologi Penelitian Kualitatif. Jakarta. Metodologi Pendidikan Agama. Dra. M. Drs. hlm.. Jilid I. Prosedur Penelitian. 322.A.. cit. H. hlm. Yogyakarta. Andi Offset. Quraish Shihab. Bab II Kode Etik Guru Indonesia 1. 245. . PT.. Drs. Yogyakarta. Sudarto. Akhlak Al Qur’an. sutrisno Hadi. Tentang Sistem Pendidikan Nasional. hlm. 49. Cet. hlm. cit. 20.. 1989. 30. Bina Aksara. PT. Drs. 27. hlm. 1989. 1996.. 1998. 9. Dr. M. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 2 tahun 1989. Suharsimi Arikunto. hlm. Ali Hasan. hlm. 17. 26. 106. Kunarto. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Zuhairini. hlm. Jakarta. hlm. I.. 1993. 25. hlm.. Bulan Bintang. hlm. dkk. Tuntunan Akhlak. Prof. 1990. Cet. Cipta Manunggal. 261. cit. 29. hlm. 24. Syaeful Bahri Djamarah. 675. Abidin Ibnu Rusn.. 41. 6. 1993. Drs.hlm. Jakarta. Wawasan Al Qur’an.. Jakarta.A.Pd. 18. 22. Ramadani. 106. Drs. op. Drs. Metodologi Risearch. 19. Pustaka Pelajar. Surabaya. Kepemimpinan dan Supervisi Pendidikan. Raja Grafindo Persada. 1997. Rineka Cipta. Rakesarasin.A. Hendiyat Soetopo. Intan Pariwara. hlm. 285. 14. Dr. 21. 23. 1992. PT. Bina Ilmu. 1991. M. 64. Dr. cit. Soetomo. op. Sudarto. Bandung. Solo. Anwar Masy’ary. III. 28. M. H. Jakarta. Noeng Muhadjir.

Soepardi Hadiatmadja. PT. Drs. CV.37 2. Sutjipto dan Drs.A. PT.A.. hlm. Ngalim Purwanto. Remaja Rosdakarya. 17. 1995.. IKIP Semarang Pres. Drs. Prof.. hlm. Gunung Agung. 3. H. hlm. 8. dkk. Bandung. hlm. 1999.A. Jakarta. Kota Kembang. Sutomo. 7. Raflis Kosasi. 1999. M. dkk. profesi Keguruan. Prof. Jakarta. MP.Sc. Bina Aksara. 1987. 5. hlm. 9. Jakarta. Filsafat Pendidikan. Team Pembina Mata Kuliah Didaktik Metodik/Kurikulum IKIP Surabaya. Henry. 11. Drs. Pedidikan Sejarah Perjuangan PGRI (PSPPGRI) Jilid II/Bag. 7-8. hlm. Nelson B. M. III. Rineka Cipta. dkk. hlm. Profesi Keguruan. PT. Hamdani Ali. 1997. Semarang. Pengantar Didaktik Metodik Kurikulum PBM. V). 1998. Sutjipto dan Drs. Semarang.Pd. 31-32. 257. IV.. 3. 2. Profesi Kependidikan. PT. Wasty Soemanto. Drs.Sc. Drs. Rineka Cipta. Soepardi Hadiatmadja. . Pendidikan Guru Konsep dan strategi. R. IKIP PGRI. hlm. 289-290.. hlm. The University. M. 8. 10. Bina Aksara.1989.. Drs. Drs. Dr. The United of States of America. M. hlm. Oemar Hamalik. Bandung. 1962. Jakarta. 6-7.B. hlm. 7-8. M. hlm. Yogyakarta. 32. R. Mandar Maju. 6. Jakarta. 1991. 1982. Poerbakawatja. Jakarta. 2. Prof. cit. Bab III Konsep Pendidikan Akhlak 1.. Wasty Soemanto. CV. Rajawali.. Kepemimpinan dan Supervisi Pendidikan. Kepemimpinan dan Supervisi Pendidikan. op.. Hendiyat Soetopo. 282-283. Raflis Kosasi. 209. Philosophy of Education. Hendiyat Soetopo dan Drs. hlm. Ensiklopedi Pendidikan. 4. PT.Ed. Dr. 156-159. Administrasi dan Supervisi Pendidikan.

Bandung. Dienul Islam. 916. Ahmadi. Jakarta. Ali Hasan. Drs. Dkk. I.H. 27. cit. 6. Yogyakarta. hlm.. Pemikiran Pendidikan Islam. Abdul Mujib. Dahlan Idhamy. Fathur R. 7. dkk. Prof. 53-54. H. Semarang. 9. terj. Soenarjo.H. Cetakan I. I.A.. Bandung. Drs. S. 1949. Cet. Dr... 85. Prof. 161. Etika Islam. hlm. Fathiyah Hasan. 1995. hlm. dkk. Prof. Materia Akhlak. hlm. Faizan. t. Jakarta. Cet. 1993. Hamzah Ya’qub. Soenarjo. hlm. 10. Rachmat Djatnika. 916. 11. Bandung. op. Syeikh Musthafa Al-Ghulayani.H. Yogyakarta. Prof. Al-Qur’an dan Terjemahnya. cit. 22. dkk. 14. 79. Ibid. 63-64. 20. Trigenda Karya. Semarang. H. Soenarjo. 189. 18.. Alih Bahasa Drs. 1992. Al-Ma’arif. 62. dkk.. Nasruddin Razak. Diponegoro. hlm. cit. Mesir. Nasruddin Razak. Aditya Media. Prof.38 4. Drs. Al-Ma’arif. Bandung. 66. hlm. hlm. Ruhut Tarbiyah wa Ta’lim. 23. 12. Prof. hlm. hlm. op. op. Surabaya. Soenarjo. Achmadi. 14. 1992. Mahkota. Sistem Etika Islam.. Etika (Ilmu Akhlak). cit. 16. 1983. Farid Ma’ruf. Pt. Bulan Bintang. 17. M. hlm. hlm. Drs. CV. 19. S. 1989. Cet.. Aditya Media. Tuntunan Akhlak. Prof. M. S. 101. Islam sebagai Paradigma Ilmu Pendidikan. Drs. Bulan Bintang. Dr. 3. Islam Sebagai Paradigma Ilmu Pendidikan. cit. ke-12 Ramadhani. 147. op. 21. 6. 1996.. S.. hlm.. Seluk Beluk Hukum Islam. 916. Cet. 11. M. hlm. Athiyah Al-Abrasyi. hlm. 1996. CV. Barmawie Umary. May. Drs. hlm.H. 24.H. Solo. Pustaka Panjimas. 100. Ahmad Amin. hlm. hlm. Muhaimin... 8. Isa Al-Babil Al-Halal wa Syirkah.. Dr. K. 1992..th. 1975. 13. hlm. dan Drs. II. Dr. Toha Putra. hlm. op. Hamzah Ya’qub. Sistem Pendidikan Versi Al-Ghazali. Idhatun Nasyi’in. 15. . 5. 1989.

cit. Prof.. cit. Dr. Drs. Surabaya. 34. Duta Grafika. hlm. M. t. hlm. 120. Humaidi Tatapangarsa. Drs. op. op. Pendidikan Dalam Islam. hlm.S. 27..A. 1992. cit. Prof. 35.A. op.. 654. 43. hlm. Jami’ al Shaghir. Rineka Cipta. dkk. M. Al-Ikhlas. Prof.. hlm. op. Bina Ilmu. 29. R. S. 37. hlm.H. Barmawy Umary.A. Salim Harun. Juz IV. 41. hlm. dkk. 40. hlm. Muhammad Qutb... 42. hlm. 348. 32. 644. 351-352.. R. Quraish Shihab. 265. hlm. hlm. Prof. 61-63. PT. op. Bandung. 92. surabaya. cit. 1990. hlm.39 24. op. Pustaka. 92. hlm. 329.. Amin Syukur. 23... hlm. 1987. R. op. 261. Prof.. Quraish Shihab. 44. Pengantar Studi Akhlak. Beirut. 1988. Ibid.H. cit.. PT. S. Ensiklopedi Al-Qur’an.. Dr. hlm. 92-94. . op. Drs. Ahmad Amin. 24. Drs. M. op. 78. cit..A. 56. Terj. Mizan... M.H. Semarang. hlm. 264.. 1996 hlm. Al-Ma’arif Bandung. 213. Dr. Soenarjo. op. hlm.H. 26. cit. Soenarjo.H. Prof. 52. hlm. Dar Ihya Al – Kutub Al-Ilmiyyah. Fahruddin H. 25. Muhammad Qutb. R. hlm. op. Dr. Nasruddin Razak. M. 39. Mahyuddin. M. cit. Humaidi Tatapangarsa. Etika Al-Ghazali. Pengantar Kuliah Akhlak.H. 28. Soenarjo.. terj. 235-236. Imam Jalaluddin Abdurrahman Al-Suyuthi. 33. 36. hlm. Buku II. 63. cit. H. Bandung. cit.. 30. Hamzah Ya’qub. cit. Abul Quseem. op. cit. Soenarjo. 1993. 1994. Siistem Pendidikan Islam. Prof. Dr. Ahmad Amin.A..A. H. 31. 38.th. Drs. Hadari Nawawi. Drs. Wawasan Al Qur’an.

48. Pustaka Panjimas.. op. cit..A. Soenarjo. 951. op.A.40 45. S. 74. hlm.A. 56. 93. 143. PT.H. op.H. op. H. Prof. cit. hlm. Ibid. dan Drs. M.. Semarang. Ibid. hlm.. dkk. Prof. Dr.A. Prof.H. dkk. Drs.A. Abdul Mujib. 47. hlm.H.H. 54. S. R. op. 169-170 67. Terj. Dr. 128. cit. cit.A. Rachmat Djatnika.H. op. Hamzah Ya’qub. Akhlak Seorang Muslim. 157. 63. Dr. Quraish Shihab. Dr. cit... H. hlm. hlm.. Sistem Etika Islam.H. hlm 168. hlm. Drs. dkk. hlm.. 159. op. Wicaksana. op.. Soenarjo. R. 51. 136 69.. 164. dkk. 128. Semarang. 60. hlm. R. 55. dkk..A. 53. hlm. 93 68.. 49.. hlm..H. hlm. cit. 226. 144. 267. Drs. dkk. 1996. R. R.. hlm. op. Dr. hlm. 46. op. op. Ibid.. Hamzah Ya’qub. Amin Syukur. dkk.. 52. hlm. Muhammad Al-Ghazali... Soenarjo. Soenarjo. R. S. Prof.. R.. 61. (lihat Q. Akhlaq Seorang Muslim. M. 64.. op. Muhaimin. S.. An-Nisa’ ayat 36). 57. op..H. Soenarjo. 168.. 975. hlm. Amin Syukur. cit. M. cit. 62. Wicaksana. Soenarjo. cit. hlm. H. op.H. Prof. Rifa’i. S. 65. H.. Ibid. hlm.. hlm. Prof.. S.. H.H.H. cit. 1986.H.. hlm. M. Ibid. op.A. 326.S. 66. hlm. cit. 145 70. cit.. cit. 272 . Soenarjo. cit. Hamzah Ya’qub.H. Ibid.H. M.. cit... Prof.A.H. Moh. Muhammad Al-Ghazali. op. 58. Drs. Hamzah Ya’qub. cit. S. Prof. 59. Prof. Rifa’i.. 141. R. dkk. 50.. hlm 847. 383. S. Soenarjo. hlm. 1993. Terj.

cit. hlm. 1996.. hlm. hlm. Pustaka Panjimas. hlm. hlm. op. S. Bina Ilmu. 336 73. 138-140 79..41 71. 51 72.. Hamzah Ya’qub. 859 78. 917 . al-A’raf ayat 179) 77. H.. op.. Soenarjo. Dr..H.. 235 74. 169 75. cit. hlm. S.. Rachmat Djatnika. Soenarjo. Prof.H. Prof. Prof. dkk. cit. dkk. PT.H. dkk. Ibid. Surabaya. Jakarta. Drs. cit. dkk. Soenarjo. Prof. cit. 1990. H. Anwar Masy’ari. op. Prof.H. hlm. S. S. Soenarjo. 919 80. op. op. (lihat Q. 647 76...S. Akhlaq Al-Qur’an.. hlm. hlm. Sistem Etika Islami (Akhlak Mulia). Ibid.

mengembangkan meningkatkan mutu profesinya. Guru secara pribadi dan bersama-sama. turut bertanggung jawab atas terwujudnya cita-cita Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945. bangsa dan Negara. oleh sebab itu terpanggil untuk menunaikan kewajibannya dengan memedomani dasar-dasar sbb : 1. serta kemanusiaan pada umumnya. Guru memiliki dan melaksanakan kejujuran profesional.42 KODE ETIK GURU INDONESIA Guru Indonesia menyadari bahwa pendidikan adalah pengabdian terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Guru memelihara hubungan baik dengan orang tua murid dan masyarakat sekitarnya untuk membina peran serta dan rasa tanggungjawab bersama terhadap pendidikan. Guru memelihara hubungan seprofesi dan . 5. berusaha memperoleh informasi tentang peserta didik sebagai bahan melakukan bimbingan dan pembinaan. Guru berbakti dalam membimbing peserta didik untuk membentuk manusia Indonesia seutuhnya yang berjiwa pancasila. Guru menciptakan suasana sekolah sebaik-baiknya yang menunjang berhasilnya proses belajar mengajar. 3. 4. 6. 2. Guru Indonesia yang berjiwa Pancasila dan setia pada Undang-Undang Dasar 1945.