Anda di halaman 1dari 29

BAB I

NAPZA (Narkotika, Psikotropika, dan


Zat Aditif)

I. PENDAHULUAN
A.

Kepanjangan NAPZA

NAPZA merupakan istilah yang dipakai saat ini, yang merupakan


kepanjangan dari Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif lainnya, yang sering
dikenal Narkoba (Narkotika dan Bahan / Obat Berbahaya lainnya).
Sebenarnya kedua istilah tersebut sama saja, tidak ada bedanya. Kalau
dalam istilah Narkoba, psikotropika dan zat adiktif itu masuk dalam bahan
atau obat berbahaya. Sedangkan dalam istilah NAPZA, psikotropika dan zat
adiktif itu sendiri-sendiri. Istilah NAPZA biasanya digunakan dalam dunia
kedokteran,
sedangkan
Narkoba
lebih
umum
digunakan
khalayak/masyarakat dan dunia kepolisian/hukum. Narkoba atau NAPZA

adalah bahan/zat yang dapat mempengaruhi kondisi kejiwaan/psikologi


seseorang ( pikiran, perasaan dan perilaku ) serta dapat menimbulkan
ketergantungan fisik dan psikologi.

B. Tingkat pemakaian zat adiktif


Tingkat Pemakaian Zat Adiktif.

Terdapat beberapa tingkatan pemakaian adiktif, yaitu :


Pemakaian coba-coba (experimental use) yang bertujuan hanya ingin
mencoba memenuhi rasa ingin tahu. Sebagian pemakai berhenti
menggunakannya dan sebagian lain meneruskan.
Pemakaian sosial (social use) yang bertujuan hanya untuk bersenangsenang (saat rekreasi atau santai). Sebagian pemakai tetap bertahan
pada tahap ini, namun sebagian lagi meningkat ke tahapan selanjutnya.

Pemakaian situasional (situasional use) pemakaian pada saat


mengalami keadaan tertentu (ketegangan, kesedihan, kekecewaan)
dengan maksud menghilangkan perasaan tersebut.
Penyalahgunaan (abuse), pemakaian sebagai suatu pola penggunaan
yang bersifat patologik atau klinis (menyimpang), minimal satu bulan
lamanya, dan telah terjadi gangguan dalam fungsi sosial atau
pekerjaannya.
Ketergantungan (defendence), telah terjadi toleransi dan gejala putus
zat, bila pemakaian zat dihentikan atau dikurangi atau tidak ditambah
dosisnya.
Halaman | 1

C. Istilah-istilah dalam NAPZA


1. Penyalahgunaan adalah : penggunaan salah satu atau beberapa jenis
NAPZA secara berkala atau teratur diluar indikasi medis, sehingga
menimbulkan gangguan kesehatan fisik, psikis dan gangguan fungsi
sosial.
2. Ketergatungan adalah : keadaan dimana telah terjadi ketergantungan fisik
dan psikis, sehingga tubuh memerlukan jumlah NAPZA yang makin
bertambah
(toleransi),
apabila
pemakaiannya
dikurangi
atau
diberhentikan akan timbul gejala putus obat (withdrawal symptom).
3. Sakaw adalah : keadaan yang menyakitkan karena lagi ketagihan
4. Relaps adalah : kembali lagi mengonsumsi NAPZA karena keinginan yang
berlebihan.
5. over dosis (O-de) adalah: konsumsi NAPZA secara berlebihan hingga
dapat menimbulkan kematian.
6. Papir adalah: kertas untuk melinting ganja
7. Buprenorphine : suatu pengobatan yang efektif untuk ketergantungan
opioid
8. Haluasi (halusinasi) : khayalan / imajinasi yang berlebihan
9. Halusinogen : Obat yang dapat mengubah perasaan dan pikiran, sering
kali dengan menciptakan daya pandang yang berbeda, meskipun seluruh
perasaan dapat terganggu.
10. Metadon : obat narkotik yang dipakai sebagai pengganti heroin dalam
pengobatan pecandunya. Dengan memakai metadon, pecandu dapat
menghentikan penggunaan heroin tanpa ada efek samping yang parah.
D. Komplikasi Medik akibat penggunaan NAPZA
NAPZA berpengaruh terhadap tubuh manusia dan lingkungannya. Komplikasi
medik : biasanya digunakan dalam jumlah cukup banyak dan waktu yang cukup
lama. Pengaruhnya pada:

a. Otak dan susunan saraf pusat:

gangguan daya ingat

gangguan perhatian/konsentrasi

gangguan bertindak rasional

gangguan persepsi, sehingga menimbulkan halusinasi

gangguan motivasi, sehingga malas bersekolah dan bekerja

gangguan pengendalian diri, sehingga sulit membedakan yang baik


dan yang buruk
Halaman | 2

b. Pada saluran napas: dapat terjadi radang paru (bronchopneomia),


pembengkakan paru (oedema paru).
c. Jantung: peradangan otot jantung, penyempitan pembuluh darah
jantung.
d. Hati: terjadi hepatitis B dan C yang menular melalui jarum suntik,
hubungan seksual.
e. Penyakit menular seksual (PMS) dan HIV/AIDS
f. Para pengguna NAPZA dikenal dengan perilaku seks resiko tinggi,
mereka mau melakukan hubungan seks demi mendapatkan zat atau
uang untuk membeli zat. Penyakit menular seksual yang terjadi
adalah: kencing nanah (GO), raja singa (shipilis), dll. Dan juga
pengguna NAPZA yang menggunakan jarum suntik secara bersamasama membuat angka penularan HIV/AIDS semakin meningkat.
Penyakit HIV/AIDS menular melalui jarum suntik dan hubungan
seksual, selain melalui tranfusi darah dan penularan dari ibu ke janin.
g. Alat reproduksi: sering terjadi kemandulan
h. Kulit: terdapat bekas suntikan bagi pengguna yang menggunakan
jarum suntik, sehingga mereka sering menggunakan baju berlengan
panjang.
i. Komplikasi pada kehamilan:

Ibu: anemia, infeksi pada vagina, hepatitis, AIDS.

Kandungan: abortus, keracunan kehamilan, bayi lahir mati.

Janin: pertumbuhan terhambat, premature, berat bayi rendah.

E. Cara Analisa laboratorium


Tes untuk mengetahui seseorang
mempergunakan narkotika

pecandu

atau

pernah

1. Nalorphine Test
Prinsip :
Halaman | 3

Mengamati reaksi pupil yang terjadi setelah pemberian nalorphine.


Jika terjadi midriasis berarti orang tersebut morfinis.Tetapi jika tidak
terjadi midriasis belum tentu orang tersebut bukan morfinis
Cara :
-

Ukur diameter pupilometer yang dikerjakan dalam ruang khusus


yang tidak dipengaruhi cahaya, kemudian diberikan 3 mg nalorfin
secara subkutan

Setelah 30 menit, diameter pupil diukur kembali


Nalorfin tes ini harus dikerjakan ditempat yang fasilitasnya
lengkap dan pada kasus-kasus yang selektif saja, oleh karena
kemungkinan terjadinya efek agonis yang dapat berakibat fatal
dapat saja terjadi

2. Analisa Urine
Dapat dikerjakan tersendiri atau bersama-sama dengan nalorfin test
memberikan hasil yang meragukan
Menggabungkan kemampuan untuk mendeteksi 5 jenis NAPZA
sekaligus yang digunakan untuk mendeteksi adanya penggunaan
beberapa jenis narkoba dalam urin seseorang. Kelima jenis narkoba
tersebut adalah kombinasi dari amfetamin, metamfetamin, morfin,
kokain, THC, PCP, dan benzodiazepin.
Cara Penggunaan
Sebelum pengujian dilakukan, alat UJI NAPZA COMBO, spesimen urin,
dan/atau specimen harus dalam kondisi suhu ruang (15-30oC).

Cara Penggunaan

Halaman | 4

Analisa urine dilakukan secara kualitatif dengan menggunakan one step


device urine test yang menilai ada tidaknya narkotika jenis tertentu sesuai
ambang batas pada alat tersebut.
Misalnya pada test kokain memiliki ambang batas 300 ng/mL, maka jika
dalam urine pasien terdapat hasil ekskresi dari kokain sebesar 300 ng/mL
atau lebih, tes akan menghasilkan positif, smentara jika dibawah 300 ng/mL
maka tes akan menhasilkan hasil negatif. Sehingga uji ini tidak spesifik bagi
seseorang pemakai kokain tetapi dalam jumlah sedikit ,, karena tidak akan
terdeteksi oleh alat ini
Analisa urine dikerjakan minimal dengan kromatografi lapisan tipis (TLC),
kromatografi gas dan kromatografi massa sebagai metode konfirmasi. Serta
diperlukan pertimbangan ahli/pakar untuk menkonfirmasi hasil tes urin
kualitatif ini.

3. Sindroma Abstinensia
Mengobservasi sindroma abstinensia atau withdrawal symptom ini
dasarnya hanyalah melihat bila suplai narkotikanya dihentikan.Tetapi
harus diingat bahwa seseorang itu mendapat narkotika secara teratur
maka sulit bagi kita untuk mengetahui atau membedakan apakah
seseorang itu pecandu narkotik atau bukan.

Tes terhadap benda-benda yang diduga mengandung morfin


Halaman | 5

1. Marquis Test
Sensitivitasnya adalah sebesar 1-0,25 mikrogram
Reagensia dapat dibuat dari 3 mL asam sulfat pekat ditambah 2 tetes
formaldehid 40%
Pada umumnya dengan tes ini narkotika akan memberikan warna ungu
Morfin/Heroin/Kodein + Marquis ungu
Pethidin + Marquis Jingga
Gambar buat uji marquis

2. Tes Khas untuk Heroin


-

10 tetes campuran asam nitrat pekat dan 85% asam fosfor dalam
perbandingan 12:38, ditaruh dalam tabung centrifuge ukuran 5 mL

Tambahkan 3,25 mL chloroform

Kocok selama 30 detik

Lihat lapisan warna yang terjadi pada dasar tabung setelah 10


menit

Penafsiran :
1. Heroin (-) : hijau muda
2. 10 mikogram : kuning muda
3. 1 miligram : kuning kecoklatan
4. 10 miligram : merah coklat gelap
Halaman | 6

3. Tes Mikrokristal
Lebih sensitive dan lebih spesifik bila dibandingkan dengan tes yang
berdasarkan pada reaksi warna
Cara :
Tetes larutan narkotika + reagensia, dan kemudian dilihat kristalyang
terbentuk dibawah mikroskop
Hanging microdrop technique merupakan modifikasi, yaitu untuk
narkotika yang pembentukan kristalnya agak lama
-

Morfin + reaggensia potassium cadmium iodide Kristal yang


terbentuk jarum, sensitvitas tes ini adalah 0,01 mikogram

Morfin + Potassium triodide


sensitivitasnya 0,1 mikogram

Heroin + Mercury Chloride Kristal yang berbentuk


sensitivitasnya 0,1 mikogram

dendrit,

Heroin + Platinum klorida Kristal


sensitivitasnya 0,25 mikogram

rosette,

Pethidin + Asam pikrat jenuh Kristal yang berbentuk rosette,


sensitivitasnya 0,1 mikogram

Ini Kristal yg bentuknya rosset


bentuknya jarum

kristalyang

yang

terbentuk

berbentuk

plates,

Ini Kristal yg

Halaman | 7

gambaran Kristal hasil uji mikrokristal narkotika dengan beberapa

reagen

Halaman | 8

BAB II
NARKOTIKA

I. Definisi
Narkotika dalam bahasa Yunani : Narkosis, ialah setiap obat yang dapat
menghilangkan rasa nyeri yang bersifat tumpul dan dapat menimbulkan
suatu keadaan stupor.
Menurut UU RI No 22/1997, Narkotika adalah: zat atau obat yang
berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintetis maupun
semisintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan
kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa
nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan.
Drug Abuse (Penyalahgunaan Obat) : Ialah pemakaian setiap obatobatan kimia diluar bidang kedokteran, baik yang dilarang tegas secara
Undang Undang maupun yang tidak, yang dimaksudkan untuk
menimbulkan suatu ketentraman atau perasaan senang bagi para
pemakainya.
Ketergatungan adalah : keadaan dimana telah terjadi ketergantungan
fisik dan psikis, sehingga tubuh memerlukan jumlah NAPZA yang makin
bertambah
(toleransi),
apabila
pemakaiannya
dikurangi
atau
diberhentikan akan timbul gejala putus obat (withdrawal symptom).

II.

Jenis Jenis Narkotika

A. Opiat / Opium
Definisi :
Opiat atau opium adalah bubuk yang dihasilkan
langsung oleh tanaman yang bernama poppy /
papaver somniferum di mana di dalam bubuk haram
tersebut terkandung morfin yang sangat baik untuk
menghilangkan rasa sakit dan kodein yang berfungsi
sebagai obat antitusif.
Cara Penggunaan : Dihirup (Inhalasi)

Halaman | 9

B. Morfin
Definisi :
Morfin adalah alkaloida yang merupakan hasil
ekstraksi serta isolasi opium dengan zat kimia
tertentu untuk penghilang rasa sakit atau
hipnoanalgetik bagi pasien penyakit tertentu.
Dampak atau efek dari penggunaan morfin yang
sifatnya negatif membuat penggunaan morfin diganti dengan obatobatan lain yang memiliki kegunaan yang sama namun ramah bagi
pemakainya.
Cara Penggunaan :disuntik di bawah kulit, ke dalam otot atau
pembuluh darah (intravena)

C. Heroin
Definisi :
Heroin adalah keturunan dari morfin atau
opioda semisintetik dengan proses kimiawi
yang
dapat
menimbulkan
ketergantungan/kecanduan yang berlipat
ganda dibandingkan dengan morfin.
Cara Penggunaan : disuntik ke otot, kulit/sub kutan atau pembuluh
vena. Atau dapat dimakan/dihisap/ditabur
D. Kodein
Definisi :
Kodein adalah sejenis obat batuk yang digunakan oleh dokter,
namun dapat menyebabkan ketergantungan/efek adiksi sehingga
peredarannya dibatasi dan diawasi secara ketat.
Cara Penggunaan : Disuntikkan/dimakan
E. Opiat Sintetik/Sintetis
Definisi :
Jenis obat yang berasal dari opiat buatan tersebut seperti metadon,
petidin dan dektropropoksiven (distalgesic) yang memiliki fungsi
Halaman | 10

sebagai obat penghilang rasa sakit.Metadon berguna untuk


menyembuhkan ketagihan pada opium / opiat yang berbentuk serbuk
putih.Opiat sintesis dapat memberi efek seperti heroin, namun kurang
menimbulkan ketagihan / kecanduan.Namun karena pembuatannya
sulit, opiat buatan ini jarang beredar kalangan non medis.
F. Kokain / Cocaine Hydrochloride
Definisi :
Kokain adalah bubuk kristal putih yang
didapat dari ekstraksi serta isolasi daun coca
(erythoroxylon coca) yang dapat menjadi
perangsang pada sambungan syaraf dengan cara
/ teknik diminum dengan mencampurnya dengan
minuman, dihisap seperti rokok, disuntik ke
pembuluh darah, dihirup dari hidung dengan pipa
kecil, dan beragam metode lainnya. Kenikmatan menggunakan kokain
hanya dirasakan sebentar saja, yaitu selama 1 sampai 4 menit seperti
rasa senang riang gembira, tambah pede, terangsang, menambah
tanaga dan stamina, sukses, dan lain-lain. Setelah 20 menit semua
perasaan enak itu hilang seketika berubah menjadi rasa lelah / capek,
depresi mental dan ketagihan untuk menggunakannya lagi, lagi dan
lagi sampai mati.
Cara

III.
N
o
1

Penggunaan

:Dengan

cara menghirup yaitu membagi


setumpuk
kokain
menjadi
beberapa bagian berbaris lurus
di atas permukaan kaca dan
benda
yang
mempunyai
permukaan datar. Kemudian
dihirup dengan menggunakan
penyedot atau gulungan kertas.
Cara lain adalah dibakar bersama tembakau yang
sering disebut cocopuf

KEGUNAAN DI BIDANG KEDOKTERAN


Jenis
Narkotika
Kodein

Kegunaan dalam Bidang Kedokteran


Analgesik lemah, sehingga jarang digunakan
sebagai analgesic, tetapi sebagai obat anti batuk
Halaman | 11

yang kuat

IV.

Morfin

Methadone

Meperidin

Menghilangkan rasa nyeri yang hebat yang tidak


dapat diatasi dengan analgetik non narkotik. Untuk
mengurangi rasa tegang pra operassi pada pasien
Pengobatan ketergantungan dan overdosis opium
serta sebagai analgesia bagi penderita rasa nyeri
Sebagai analgetik dan obat diare

PENGGOLONGAN NARKOTIKA

A. Menurut Undang Undang


1. Golongan I
Narkotika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan
pengembangan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi,
serta
mempunyai
potensi
sangat
tinggi
mengakibatkan
ketergantungan. Contoh : Heroin, Kokain, Ganja.
2. Golongan II
Narkotika yang berkhasiat pengobatan, digunakan sebagai
pilihan terakhir dan dapat digunakan dalam terapi dan / atau untuk
tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi
tinggi mengakibatkan ketergantungan. Contoh : Morfin, Petidin.
3. Golongan III
Narkotika yang berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan
dalam terapi dan / atau tujuan pengebangan ilmu pengetahuan serta
mempunyai potensi ringan mengakibatkan ketergantungan. Contoh :
Codein.

Berdasarkan Bahan Pembuatannya


1. Narkotika Alami
Zat dan obat yang langsung bisa dipakai sebagai narkotik tanpa
perlu adanya proses fermentasi, isolasi dan proses lainnya terlebih
dahulu karena bisa langsung dipakai dengan sedikit proses sederhana.
Bahan alami tersebut umumnya tidak boleh digunakan untuk terapi
pengobatan secara langsung karena terlalu beresiko.Contoh narkotika
alami yaitu seperti ganja dan daun koka.
2. Narkotika Sintetis / Semi Sintesis

Halaman | 12

Narkotika jenis ini memerlukan proses yang bersifat sintesis untuk


keperluan medis dan penelitian sebagai penghilang rasa sakit /
analgesik.
Contohnya
yaitu
seperti
amfetamin,
metadon,
dekstropropakasifen, deksamfetamin, dan sebagainya.
Narkotika sintetis dapat menimbulkan dampak sebagai berikut :
b. Depresan = Membuat pemakai tertidur atau tidak sadarkan
diri.
c. Stimulan =
Membuat
berkativitas kerja dan

pemakai

bersemangat

dalam

merasa badan lebih segar.

d. Halusinogen
=
Dapat
membuat
berhalusinasi yang mengubah

si

pemakai

jadi

perasaan serta pikiran.


3. Narkotika Semi Sintesis / Semi Sintetis
yaitu zat / obat yang diproduksi dengan cara isolasi, ekstraksi,
dan lain sebagainya seperti heroin, morfin, kodein, dan lain-lain.

Berdasarkan Pada Struktur Kimianya


1. Morfin dan Turunannya
Contoh : Morfin, Heroin, Kodein, Dilaudid, Nalorfin naloxonez
2. Morfinan dan derivat-derivat Benzomorfan
Contoh: Pentazosine dan Levorfanol
3. Golongan 4-Phenylpiperidine

Halaman | 13

Contoh: Pethidine(Mepheridine) dan Trimepertidin


4. Golongan Diphenylpropilamines dan acidic-analgesid
Contoh: Methadon dan Tieardo
5. Lain-lain
Contoh : derivate dari fenothiazin, levoprom, dan derivate dari
benzimidazol

V. MEKANISME TOKSISITAS

Metabolisme Narkotika dalam tubuh


Terutama berlangsung dalam hati, sedangkan organ organ lainnya
seperti paru, otak, darah, ginjal, dan plasentajuga dapat dimetabolisir.
Untuk morfin, hamper 90% diikat (konyugasi) dengan asam glukurunida,
untuk heroin, dalam tubuh dengan sangat cepat diubah glukurunida,
untuk heroin dalam tubuh dengan sangat cepat diubah menjadi mono
asetil morfin (MAM), dan selanjutnya menjadi morfin
Ekskresi terutama melalui ginjal dan saluran empedu, dapat juga
dijumpai dalam tinja dan keringat.Dalam urine, heroin terdapat dalam
bentuk morfin yang terikat sebesar 50%, dan dalam bentuk bebas
sebesar 7%.Heroin dalam urine didapatkan dalam jumlah yang sangat
kecil sekali.
Morfin dalam urine terdapat dalam bentuk bebas 1-14% dan yang
terikat 11-60%. Kodein dalam urine akan ditemukan dalam bentuk terikat
yaitu 44%, bentuk bebas 11%, norkodein 13% dan dalam bentuk morfin
(total) sebesar 10%

Mekanisme Kematian
Kematian pada para morfinis biasanya terjadi pada mereka yang
menggunakan morfin atau heroin secara intravena, sedangkan pada
Halaman | 14

pemakaian dengan cara lain, misalnya dengan penyuntikan subkutan ,


peroral atau secara inhalasi kematian sangat jarang.
Perbedaan tersebut karena penyerapan heroin dan morfin dengan cara
pemakaian tersebut diatas tidak baik. Sebab kematian pada morfin dapat
dibagi menjadi 2, yaitu:

1. Kematian yang langsung, segera setelah penyuntikan, dan ini dapat


disebabkan oleh karena :
a. Depresi pusat pernafasan
b. Edema Pulmonumm
c. Syok anafilaktik

2. Kematian tidak langsung, merupakan akibat dari pemkaian


( jarum/spuit), dan bahan bahan (pelarutnya atau narkotikanya) yang
tidak steril, sehingga mengakibatkan infeksi yang dapat menyebabkan
kematian, misalnya :
a. Pada paru-paru, terjadi emboli, atau pneumonia
b. Pada jantung terjadi endokraditis
c. Pada hati, terjadi hepatitis
d. Infeksi infeksi lainnya seperti tetanus, malaria dan sepsis

VI.

DOSIS LETAL
Sebenarnya tidak dapat ditentukan secara pasti, tergantung dari
sensitifitas seseorang. Dosis terkecil yang pernah dilaporkan yang dapat
menyebabkan kematian adalah sebesar 60 mg mofin. Sebagai patokan
biasanya dosis fatal baik untuk morfin maupun heroin adalah sebesar 200
mg, bagi mereka yang tidak toleran. Elain kadar morfin dalam darah,
maka kadar morfin dalam urin pun dapat pula dijadikan pegangan untuk
mengetahui berapa banyak dosis morfin atau heroin yang terdapat pada
tubuh korban.
Halaman | 15

Jika kadar morfin dalam urin 5 mg %, ini berarti sikorban memakai


morfin atau heroin

jika kadar antara 5-20 mg % atau kadar morfin dalam darah sebesar
0,1-0,5 mg % ini berarti seseorang telah memakai morfin/heroin dalam
tingkat toksis.

VII. AKIBAT PENYALAHGUNAAN NARKOTIKA


NAPZA berpengaruh pada tubuh manusia dan lingkungannya :
1. Komplikasi Medik : biasanya digunakan dalam jumlah yang banyak
dan cukup lama.
Pengaruhnya pada :

a. Otak dan susunan saraf pusat :


gangguan daya ingat
gangguan perhatian/konsentrasi
gangguan bertindak rasional
gagguan perserpsi sehingga menimbulkan halusinasi
gangguan motivasi, sehingga malas sekolah atau bekerja
gangguan pengendalian diri, sehingga sulit membedakan baik/buruk.
b. Pada saluran napas : dapat terjadi radang paru (Bronchopnemonia).
pembengkakan paru (Oedema Paru)

c. Jantung : peradangan otot jantung, penyempitan pembuluh darah


jantung.
d. Hati : terjadi Hepatitis B dan C yang menular melalui jarum suntik,
hubungan seksual.
e. Penyakit Menular Seksual ( PMS ) dan HIV/AIDS.
Para pengguna NAPZA dikenal dengan perilaku seks resiko tinggi,
mereka mau melakukan hubungan seksual demi mendapatkan zat
atau uang untuk membeli zat. Penyakit Menular Seksual yang
terjadi adalah : kencing nanah (GO), raja singa (Siphilis) dll. Dan
juga pengguna NAPZA yang mengunakan jarum suntik secara
bersama sama membuat angka penularan HIV/AIDS semakin
meningkat. Penyakit HIV/AIDS menular melalui jarum suntik dan
hubungan seksual, selain melalui tranfusi darah dan penularan dari
ibu ke janin.
f. Sistem Reproduksi : sering terjadi kemandulan.

Halaman | 16

g. Kulit : terdapat bekas suntikan bagi pengguna yang menggunakan


jarum suntik, sehingga mereka sering menggunakan baju lengan
panjang.
h. Komplikasi pada kehamilan :

Ibu : anemia, infeksi vagina, hepatitis, AIDS.


Kandungan : abortus, keracunan kehamilan, bayi lahir mati
Janin : pertumbuhan terhambat, premature, berat bayi rendah.

BAB III
PSIKOTROPIKA
I. DEFINISI
Menurut UU RI No 5 / 1997, Psikotropika adalah : zat atau obat, baik
alamiah maupun sintetis bukan narkotika, yang berkhasiat psikoaktif
melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan
perubahan khas pada aktifitas mental dan perilaku.
Zat psikoaktif ialah zat atau bahan yang apabila masuk ke dalam
tubuh manusia akan akan mempengaruhi tubuh, terutama susunan saraf
pusat, sahingga menyebabkan perubahan aktivitas mental-emosional
dan perilaku. Apabila digunakan akan menyebabkan ketergantungan
(oleh karena itu disebut zat adiktif).

II.

KEGUNAAN

a. Penggunan zat Psikotropika dalam kedokteran dapat digunakan untuk


menghilangkan cemas sebelum oprasi (obat penenang), mengurangi
depresi, mengobati kecanduan alkohol, mengobati parkinson
kegemukan,
mengobati keracunan zat tertentu, menambah
kewaspadaan, menghilangkan rasa kantuk dan lelah, serta menambah
keyakinan diri dan konsentrasi.
Halaman | 17

b. Obat stimulan ( obat perangsang ) adalah obat yang merangsang


system saraf sehingga orang yang merasakan lebih pwecaya diri dan
selalu waspada contoh obat ini adalah, kafein nikotin dan kokain
c. Obat depresan ( obat penenang ) adalah obat yang dapat menekan
system saraf sehingga pemakaiannya merasa ngantuk dan tingkat
kesadarannyaturun. Contoh obat jenis ini adalah alcohol dan
barbiturate
d. Obat halusinogen adalah obat yang dapat membelokkan pikiran
pemakaiannya. Orang yang menggunakan obat psikotropika ajkan
mengalami gangguan system saraf.

III.

PENGOLONGAN.
1. Psikotropika terdiri dari 4 golongan :
Golongan I : Psikotropika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan
ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi, serta
mempunyai potensi kuat mengakibatkan sindroma ketergantungan.
Contoh : Ecstasy (MDMA), psilosibin (jamur meksiko)/jamur tahi
sapi, meskalin (kaktus amerika)
Golongan II : Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan dapat
digunakan dalan terapi dan / atau untuk tujuan ilmu pengetahuan
serta
mempunyai
potensi
kuat
mengakibatkan
sindroma
ketergantungan.
Contoh
:
Amphetamine,
metakualon,
dan
metilfenidat.
Golongan III : Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan banyak
digunakan dalam terapi dan / atau untuk tujuan ilmu pengetahuan
serta mempunyai potensi sedang mengakibatkan sindroma
ketergantungan. Contoh : Phenobarbital. Amorbarbital, flunitrazepam,
kastina dll
Golongan IV : Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan sangat
luas digunakan dalam terapi dan / atau untuk tujuan ilmu
pengetahuan serta mempunyai potensi ringan mengakibatkan
sindroma ketergantungan. Contoh : Diazepam, Nitrazepam ( BK,
DUM ). Barbital, bromasepam, estazolam, fenorbarbital, klobazam,
klorazepam, dll

IV.

PENYEBAB PENGGOLONGAN
a.
Psikotropika digolongkan menurut dampak dan fungsi yang
ditimbulkan dari zat psikotropika tersebut.

V. CARA PENGGUNAAN PSIKOTROPIKA


a.
b.
c.
d.

Inhalasi (pernapasan hidung). Contoh : shabu shabu.


Injeksi intravena (suntikan melalui vena). Contoh : Cocain.
Menghirup Asap. Contoh : Marijuana.
Di makan / ditelan. Contoh : Ekstasi
Halaman | 18

VI.

GAMBAR
A. Psikotropika Golongan 1
a. Ekastasi

o Jamur Psilosibin

o Kaktus meskalin.

B. Psikotropika Golongan 2
o Amphetamin.

Halaman | 19

o Metilfenidat

C. Psikotropika Golongan 3
o Amobarbital

o Phenobabital

D. Psikotropika Golongan 4
Halaman | 20

Diazepam

VII. AKIBAT PENGGUNAN PSIKOTROPIKA


Zat atau obat psikotropika ini dapat menurunkan aktivitas otak atau
merangsang susunan syaraf pusat dan menimbulkan kelainan perilaku,
disertai dengan timbulnya halusinasi (mengkhayal), ilusi , gangguan cara
berpikir, perubahan alam perasaan dan dapat menyebabkan
ketergantungan serta mempunyai efek stimulasi (merangsang) bagi para
pemakainya.
Pemakaian Psikotropika yang berlangsung lama tanpa pengawasan dan
pembatasan pejabat kesehatan dapat menimbulkan dampak yang lebih
buruk, tidak saja menyebabkan ketergantungan bahkan juga
menimbulkan berbagai macam penyakit serta kelainan fisik maupun
psikis si pemakai, tidak jarang bahkan menimbulkan kematian.

VIII. PEMERIKSAAN
Pemeriksaan laboratorium narkoba dibedakan menjadi 2 macam
tujuan. Tujuan pertama pemeriksaan laboratorium narkoba adalah untuk
keperluan pro justicia yaitu pemeriksaan untuk melengkapi data-data yang
diajukan ke pengadilan. Pemeriksaan seperti ini dilakukan oleh institusi
terbatas yaitu kepolisian, BNN, Puslabfor dan institusi kesehatan lain yang
telah ditunjuk oleh undang-undang.

Halaman | 21

Tujuan lainnya adalah bersifat non pro justicia yaitu pemeriksaan


narkoba yang biasa dilakukan di lab swasta atau lab rumah sakit umum.
Pemeriksaan narkoba jenis ini bertujuan biasanya untuk seleksi karyawan,
penerimaan siswa baru atau keperluan khusus seperti seseorang yang
melakukan pemeriksaan narkoba kepada anaknya sendiri untuk tujuan
pengawasan keluarga. Pemeriksaan narkoba non pro justicia dilakukan
hanya

sebagai skrining tes (tes penapisan) yaitu

memerlukan

pemeriksaan

lebih

lanjut

untuk

tes

awal yang

memastikannya

(tes

konfirmasi).
Skrining tes dapat dilakukan dengan menggunakan alat pengujian
cepat, menggunakan metod one stop, semua pemeriksaan psikotropika
sama, hanya saja dalam skrining tes memiliki reagen pengidentifikasian
yang berbeda beda, semingga, satu alat hanya bisa digunakan untuk satu
kali pemeriksaaan dan satu macam pemeriksaan.

Halaman | 22

BAB IV
ZAT ADIKTIF LAINNYA
I. DEFINISI
Zat adiktif adalah obat serta bahan-bahan aktif yang apabila
dikonsumsi oleh organisme hidup dapat menyebabkan kerja biologi serta
menimbulkan ketergantungan atau adiksi yang sulit dihentikan dan
berefek

ingin

menggunakannya

secara

terus-menerus

yang

jika

dihentikan dapat memberi efek lelah luar biasa atau rasa sakit luar biasa.

II. JENIS OBAT YANG BERZAT ADIKTIF


Sesuai dengan Undang-Undang No.5 Tahun 1997 tentang Psikotropika
menyebutkan beberapa obat yang mengandung zat adiktif di antaranya
adalah :
1. Amfetamin
2. Amobarbital, Flunitrazepam
3. Diahepam, Bromazepam, Fenobarbital
4. Minuman Beralkohol / Minuman Keras / Miras
5. Tembakau / Rokok / Lisong
6. Kafein
7. Halusinogen
8. Bahan Pelarut seperti bensin, tiner, lem, cat, solvent, dll

III.

PENGGOLONGAN ZAT ADIKTIF


Yang termasuk Zat Adiktif lainnya adalah : bahan / zat yang berpengaruh
psikoaktif diluar Narkotika dan Psikotropika, meliputi :

1. ALKOHOL :
Merupakan zat psikoaktif yang sering digunakan manusia Diperoleh
dari proses fermentasi madu, gula, sari buah dan umbi umbian yang
mengahasilkan kadar alkohol tidak lebih dari 15 %, setelah itu
dilakukan proses penyulingan sehingga dihasilkan kadar alkohol yang
lebih tinggi, bahkan 100 %. Minuman Alkohol : mengandung etanol etil
alkohol, yang berpengaruh menekan susunan saraf pusat, dan sering
menjadi bagian dari kehidupan manusia sehari hari dalam kebudayaan
tertentu

Efek yang ditimbulkan : euphoria, bahkan penurunan kesadaran


Ada 3 golongan minuman beralkohol :
a. Golongan A : kadar etanol 1 5 % ( Bir ).
b. Golongan B : kadar etanol 5 20 % ( Berbagai minuman anggur )

Halaman | 23

c. Golongan C : kadar etanol 20 45 % ( Whisky, Vodca, Manson House,


Johny Walker ).

2. SOLVENT / INHALASI :
Adalah uap gas yang digunakan dengan cara dihirup. Contohnya :
Aerosol, Lem, Isi korek api gas, Tiner, Cairan untuk dry cleaning, Uap
bensin, Penghapus Cat Kuku,Tiner, dll. Biasanya digunakan dengan cara
coba coba oleh anak di bawah umur, pada golongan yang kurang
mampu.
Efek yang ditimbulkan : pusing, kepala berputar, halusinasi ringan,
mual, muntah gangguan fungsi paru, jantung dan hati.

3. NIKOTIN
Nikotin dapat diisolasi atau dipisahkan dari tanaman tembakau.
Namun, orang biasanya mengonsumsi nikotin tidak dalam bentuk zat
murninya, melainkan secara tidak langsung ketika mereka merokok.
Nikotin yang diisap pada saat merokok dapat menyebabkan
meningkatnya denyut jantung dan tekanan darah, bersifat
karsinogenik sehingga dapat meningkatkan risiko terserang kanker
paru-paru, kaki rapuh, katarak, gelembung paru-paru melebar
(emphysema), risiko terkena penyakit jantung koroner, kemandulan,
dan gangguan kehamilan.

A. Rokok

Halaman | 24

Rokok adalah silinder dari kertas berukuran panjang antara 70


hingga 120 mm yang berisi daun-daun tembakau yang telah
dicacah. Rokok dibakar pada salah satu ujungnya dan dibiarkan
membara agar asapnya dapat dihirup lewat mulut pada ujung
lainnya. Rokok biasanya dijual dalam bungkusan berbentuk kotak
atau kemasan kertas yang dapat dimasukkan dengan mudah ke
dalam kantong. Telah banyak riset yang membuktikan bahwa rokok
sangat menyebabkan ketergantungan, di samping menyebabkan
banyak tipekanker, penyakit jantung, penyakit
pernapasan, penyakit pencernaan, efek buruk bagi kelahiran,
dan emfisema.
Berikut adalah beberapa bahan kimia yang terkandung di dalam rokok :

Nikotin, kandungan yang menyebabkan perokok merasa rileks.


Tar, yang terdiri dari lebih dari 4000 bahan kimia yang mana 60 bahan
kimia di antaranya bersifat karsinogenik.
Sianida, senyawa kimia yang mengandung kelompok cyano.
Benzene, juga dikenal sebagai bensol, senyawa kimia organik yang
mudah terbakar dan tidak berwarna.

Cadmium, sebuah logam yang sangat beracun dan radioaktif.

Metanol (alkohol kayu), alkohol yang paling sederhana yang juga


dikenal sebagai metil alkohol.

Asetilena, merupakan senyawa kimia tak jenuh yang juga merupakan


hidrokarbon alkuna yang paling sederhana.

Amonia, dapat ditemukan di mana-mana, tetapi sangat beracun


dalam kombinasi dengan unsur-unsur tertentu.

Formaldehida, cairan yang sangat beracun yang digunakan untuk


mengawetkan mayat.

Hidrogen sianida, racun yang digunakan sebagai fumigan untuk


membunuh semut. Zat ini juga digunakan sebagai zat pembuat plastik
dan pestisida.

Arsenik, bahan yang terdapat dalam racun tikus.


Karbon monoksida, bahan kimia beracun yang ditemukan dalam
asap buangan mobil.
Halaman | 25

3. KAFEIN
Kafein, ialah senyawa alkaloid xantina berbentuk kristal dan berasa
pahit
yang
bekerja
sebagaiobat perangsang psikoaktif dan diuretik ringan. Kafeina dijumpai
Halaman | 26

secara
alami
pada
bahan pangan seperti biji kopi, daun teh, buah kola, guarana, dan mat.
Pada tumbuhan, ia berperan sebagai pestisida alami yang melumpuhkan
dan mematikan serangga-serangga tertentu yang memakan tanaman
tersebut.
Ia
umumnya
dikonsumsi
oleh
manusia
dengan
mengekstraksinya dari biji kopi dan daun teh. Kafeina merupakan
obat perangsang sistem pusat saraf pada manusia dan dapat mengusir
rasa kantuk secara sementara. Minuman yang mengandung kafeina,
seperti kopi, teh, dan minuman ringan, sangat digemari. Kafeina
merupakan zat psikoaktif yang paling banyak dikonsumsi di dunia.

CAFEIN
Berdasarkan efeknya terhadap perilaku yang ditimbulkan dari NAPZA dapat
digolongkan menjadi 3 golongan :

IV. DAMPAK / EFEK YANG DAPAT DITIMBULKAN ZAT ADIKTIF


Efek/Dampak Penyalahgunaan Minuman Alkohol
Alkohol dalam minuman keras dapat menyebabkan gangguan jantung dan
otot syaraf, mengganggu metabolism tubuh, membuat janis menjadi cacat,
impoten serta gangguan seks lainnya.
Efek/Dampak Penyalahgunaan Nikotin/ Rokok

Telah banyak riset yang membuktikan bahwa rokok sangat


menyebabkan ketergantungan, di samping menyebabkan banyak
tipekanker, penyakit jantung, penyakit pernapasan, penyakit
pencernaan, efek buruk bagi kelahiran, dan emfisema.
Efek/Dampak Penyalahgunaan Kafein

Pada tingkat ringan, keracunan kafein menimbulkan gejala mual dan


selalu terjaga. Keracunan kafein tingkat sedang menyebabkan gelisah,
tremor, agitasi, takikardia, hipertensi, dan muntah. Sedangkan keracunan
kafein tingkat berat menyebabkan muntah (parah, berkepanjangan),
hematemesis, hipotensi, jantung disritmia, hipertonisitas, myoklonus

Halaman | 27

(otot berkedut), kejang, hiperglikemia, asidosis metabolik, dan alkalosis


respiratorik.

DAFTAR PUSTAKA

www.anti.or.id
http://egimuhammadf.blogspot.com/2011/10/pengertian-zat-adiktif-danpsikotropika.html
http://gr33nleaf.blogspot.com/2011/12/bahaya-psikotropika-bagi-sistem-saraf.html
http://dampaknegatifpsikotropika.blogspot.com/
http://ndiel2.wordpress.com/2011/11/08/pemeriksaan-lab-napza-narkotikapsikotropika-dan-zat-adiktif-lain/

http://mediabelajaronline.blogspot.com/2010/03/zat-adiktif-danpsikotropika.html
Drs. soerodo . 1989. Toksikologi untuk Sekolah Menengah Analis Kesehatan.
Jakarta: Pusat Penddikan Tenaga Kesehatan Depkes.
http://mklh7zatadiktif.blogspot.com/

Halaman | 28

http://id.shvoong.com/medicine-and-health/epidemiology-public-health/2269436pengaruh-penyalahgunaan-napza/#ixzz2CUiezYjC

http://cybermed.cbn.net.id/cbprtl/cybermed/c_narkoba.aspx?
x=Narkoba&z=2_1
http://adedq.wordpress.com/2007/09/21/istilah-istilah-dalam-narkoba/

Halaman | 29