Anda di halaman 1dari 49

[PT.

DISIPLAN CONSULT]

Laporan Akhir

2.1. UMUM
Wacana pembentukan satu wilayah metropolitan Jabodetabek (sekarang
Jabodetabekjur), disebabkan oleh adanya keterkaitan dan hubungan antar
wilayah yang sangat erat dan saling terkait. Perkembangan setiap
kabupaten/kota dalam wilayah ini merupakan hubungan timbal balik
secara langsung, ditambah adanya aliran investasi asing dan dalam negeri
serta kebijakan-kebijakan pemerintah yang mendukung pembentukan
wilayah metropolitan. Pada tahun 1970-an, wilayah ini dikenal dengan
sebutan Jabotabek, yaitu singkatan dari Jakarta-Bogor-Tangerang-Bekasi.
Akan tetapi seiring dengan bertumbuhnya jumlah penduduk dan
meluasnya kegiatan perekonomian perkotaan, pada tahun 1990-an,
kawasan ini dikenal dengan Jabodetabek (ditambah dengan Kota Depok)
dan kini dalam wacana berkembang menjadi Jabodetabekjur (ditambah
dengan
beberapa
kecamatan
di
Kabupaten
Cianjur).
Melihat
perkembangan yang terus berlangsung maka tidak menutup kemungkinan
bertambahnya kawasan metropolitan baru di dalam Kawasan metropolitan
ini.
Sebelum terbentuknya wilayah metropolitan ini, Jakarta yang dulu dikenal
dengan Sunda Kelapa, merupakan pelabuhan perdagangan kecil di hilir
Sungai Ciliwung. Setelah kemenangan Portugis tahun 1527, Sunda Kelapa
beralih nama menjadi Jayakarta yang mengandung arti ‘Kemenangan’
(The Victory). Pada tahun 1618 Jayakarta beralih nama kembali menjadi
Batavia pada masa penjajahan Belanda yang melakukan perluasan kota
demi keperluan VOC sebagai pelabuhan utama di Indonesia. Hingga abad
berikutnya, Batavia terus tumbuh menjadi kota yang berpenduduk
500.000 jiwa. Jalur kereta api dalam kota menghubungkan Batavia dengan
Tangerang (bagian barat Batavia), Serpong, dan Selat Sunda di Barat
Daya, Bogor dan Bandung di bagian selatan, Bekasi dan Cirebon di bagian
Timur. Sejak saat itu, perluasan Kota Batavia telah dimulai seiring dengan
permintaan akan lahan perumahan.
Setelah pengakuan dunia internasional terhadap kemerdekaan Indonesia,
nama Batavia kembali menjadi Jakarta yang berfungsi sebagai ibukota
negara. Akan tetapi, pada tahun 1960-an terjadi kesulitan oleh karena
adanya transformasi sosial dari Negara jajahan ke negara merdeka, dan
adanya kebijakan anti-kapitalis yang mempersulit pertumbuhan ekonomi
akibat menurunnya investasi asing dan domestik. Apabila dilihat dari
Evaluasi dan Inventarisasi Kinerja Jaringan Transportasi Jalan di Wilayah Jabodetabek
Bab 2 - 1

[PT. DISIPLAN CONSULT]

Laporan Akhir

perkembangan jumlah penduduknya, pada tahun 1950-an jumlah
penduduk Jakarta telah mencapai 1,5 juta jiwa, lebih dari dua kali lipat dari
tahun 1945. Lalu, pada tahun 1961, jumlah penduduk Jakarta mencapai
2,9 juta yang menjadikan Jakarta sebagai kota terbesar di dunia. Sebagian
penduduk Jakarta tinggal di kampung-kampung padat penduduk dengan
infrastruktur yang buruk, selain itu transportasi umum juga sangat tidak
diperhatikan. Master Plan pertama untuk Kota Jakarta disiapkan pada
tahun 1952 yang merencanakan jalan lingkar (ring road) sebagai batas
pertumbuhan kota yang dikelilingi oleh green belt mengikuti prinsipprinsip Garden City Ebenezer Howard. Rencana ini tidak pernah terealisasi,
sampai 35 tahun berikutnya terjadi pertumbuhan pesat dan perubahan
struktur kota. Seiring dengan pertumbuhan ekonomi, Jakarta menjadi
pusat pertumbuhan nasional. Sejak tahun 1961 sampai 1971, jumlah
penduduk Jakarta hampir mencapai dua kali lipat dari 2,9 juta jiwa menjadi
4,6 juta jiwa dengan laju pertumbuhan 5,8 persen per tahun. Dengan
adanya industrialisasi di wilayah Jakarta, tingkat urbanisasi meningkat
melebihi batas-batas adminitratif hingga ke kabupaten-kabupaten di
sekitarnya. Oleh karena itu, Master Plan kedua tahun 1967, untuk periode
1965 – 1985, berusaha untuk mengatasi pertumbuhan besar baru.
Perkembangan Kota Jakarta yang tadinya merupakan kota kecil mengalami
perkembangan yang sangat pesat dan seiring dengan adanya peningkatan
perekonomian dan pembangunan infrastruktur telah mendorong
pertumbuhan wilayah di sekitarnya sampai terbentuk suatu kawasan
metropolitan seperti sekarang. Saat ini kawasan metropolitan
Jabodetabekjur tidak dapat dipandang sebagai suatu unit yang berdiri
sendiri, akan tetapi terus memberikan pengaruhnya terhadap
perkembangan wilayah yang terintegrasi.

2.2. SOSIAL EKONOMI DAN DEMOGRAFI
a). DKI Jakarta
i) Produk Domestik Regional Bruto
Produk Domestik Regional Bruto DKI Jakarta tahun 2008 mengalami
peningkatan, ditunjukkan dari nilai nominal PDRB atas dasar harga
berlaku yang sebesar 677,411 triliun rupiah, dibandingkan tahun
2007 yang masih sebesar 566,449 triliun rupiah. Jika menganggap
harga
konstan
(mempertimbangkan
kenaikan
harga-harga
menggunakan harga tahun dasar 2000), maka PDRB atas dasar
harga konstan pada tahun 2008 tersebut bernilai 353,539 triliun
rupiah, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang berjumlah
sebesar 332,971 triliun rupiah.
ii) Demograf
Jumlah penduduk DKI Jakarta, berdasarkan hasil survai penduduk
tahun 200 adalah sebanyak 7.003.180 jiwa, dengan luas wilayah
Evaluasi dan Inventarisasi Kinerja Jaringan Transportasi Jalan di Wilayah Jabodetabek
Bab 2 - 2

[PT. DISIPLAN CONSULT]

Laporan Akhir

adalah 661,5 km2. Penduduk laki-laki berjumlah 3.945.994 jiwa
sedangkan penduduk perempuan berjumlah 3.670.844 jiwa.

Tabel 2. 1. PDRB DKI Jakarta Atas Dasar Harga
konstan dan Harga Berlaku Tahun 2002 - 2007
Tahun
2002
2003
2004
2005
2006
2007
2008

(Juta Rupiah)
Harga Konstan
Harga Berlaku
2000
250,331,157
299,967,606
263,624,242
334,331,300
278,524,823
375,561,523
295,270,545
433,860,253
312,700,301
501,584,807
332,971,263
566,449,345
353,539,000
677,411,000

Sumber : BPS Propinsi DKI Jakarta

b). Kota Bogor
i) Produk Domestik Regional Bruto
Produk Domestik Regional Bruto DKI Jakarta tahun 2008 mengalami
peningkatan, ditunjukkan dari nilai nominal PDRB atas dasar harga
berlaku yang sebesar 10,089 triliun rupiah, dibandingkan tahun
2007 yang masih sebesar 8,558 triliun rupiah. Jika menganggap
harga
konstan
(mempertimbangkan
kenaikan
harga-harga
menggunakan harga tahun dasar 2000), maka PDRB atas dasar
harga konstan pada tahun 2008 tersebut bernilai 4,252 triliun
rupiah, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang berjumlah
sebesar 4,012 triliun rupiah.
Tabel 2. 2. PDRB Kota Bogor Atas Dasar Harga konstan dan
Harga Berlaku Tahun 2002 - 2006
Tahun
2002
2003
2004
2005
2006
2007
2008

(Juta Rupiah)
Harga Konstan
Harga Berlaku
2000
2,986,837
3,282,218
3,168,241
3,645,651
3,361,438
5,245,746
3,567,230
6,191,918
3,782,273
7,275,742
4,012,743
8,558,035
4,252,821
10,089,943

Sumber : BPS Kota Bogor

ii) Demograf
Jumlah penduduk hasil Survai Sosial Ekonomi Daerah tahun 2008
tercatat bahwa penduduk Kota Bogor adalah sebanyak 942.204
Evaluasi dan Inventarisasi Kinerja Jaringan Transportasi Jalan di Wilayah Jabodetabek
Bab 2 - 3

[PT. DISIPLAN CONSULT]

Laporan Akhir

jiwa, terdiri dari 476.476 penduduk laki-laki dan 465.728 penduduk
perempuan. Sementara itu luas wilayah Kota Bogor adalah sebesar
11.850 Ha atau 118,5 km2.

c). Kabupaten Bogor
i) Produk Domestik Regional Bruto
Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Bogor tahun 2007
mengalami peningkatan, ditunjukkan dari nilai nominal PDRB atas
dasar harga berlaku yang meningkat 15,72 persen sebesar 51,834
triliun rupiah, dibandingkan tahun 2006 yang masih sebesar 44,792
triliun rupiah. Jika menganggap harga konstan (mempertimbangkan
kenaikan harga-harga menggunakan harga tahun dasar 2000),
maka PDRB atas dasar harga konstan pada tahun 2007 tersebut
meningkat 6,07 persen bernilai 28,156 triliun rupiah, meningkat
dibandingkan tahun sebelumnya yang berjumlah sebesar 26,546
trilyun rupiah.
Tabel 2. 3. PDRB Kabupaten Bogor Atas Dasar Harga
konstan dan Harga Berlaku Tahun 2002 - 2007
Tahun
2002
2003
2004
2005
2006
2007

(Juta Rupiah)
Harga Konstan
Harga Berlaku
2000
19,782,266
22,265,799
21,083,382
25,369,473
23,671,429
30,684,780
25,056,365
38,182,119
26,546,186
44,792,697
28,156,543
51,834,564

Sumber: BPS Kabupaten Bogor

ii) Demograf
Kabupaten Bogor memiliki luas wilayah sebesar 2.301,95 km2. Jumlah
penduduk Kabupaten Bogor pada tahun 2006 menurut hasil Sensus
Daerah (SUSDA) sebanyak 4.215.585 jiwa dan pada tahun 2007 telah
mencapai 4.237.962 jiwa (penyempurnaan hasil SUSDA melalui coklit,
2007). Penduduk Kabupaten Bogor terdiri dari 2.204.952 penduduk
laki-laki dan 2.111.284 penduduk perempuan.

d). Kota Depok
i) Produk Domestik Regional Bruto
Produk Domestik Regional Bruto Kota Depok pada tahun 2007
mengalami peningkatan, ditunjukkan dari nilai nominal PDRB atas
dasar harga berlaku yang sebesar 10,426 triliun rupiah,
dibandingkan tahun 2006 yang masih sebesar 8,967 triliun rupiah.
Jika menganggap harga konstan (mempertimbangkan kenaikan
Evaluasi dan Inventarisasi Kinerja Jaringan Transportasi Jalan di Wilayah Jabodetabek
Bab 2 - 4

420.069.890. Jika menganggap harga konstan (mempertimbangkan kenaikan harga-harga menggunakan harga tahun dasar 2000).418.920. Kota Tangerang i) Produk Domestik Regional Bruto Produk Domestik Regional Bruto Kota Tangerang tahun 2008 mengalami peningkatan.966 17.122.888.505 trilyun rupiah. 5.418 triliun rupiah.653 22.555.144 19.257 21.433.823 6.198 4.069 18.967.480 jiwa.666 5. e).862.166.232 4.932.148.541.238.669 4.688 triliun rupiah.626 5. naik dibandingkan tahun sebelumnya yang berjumlah sebesar 5.2007 Tahun 2002 2003 2004 2005 2006 2007 (Juta Rupiah) Harga Konstan Harga Berlaku 2000 3. Tabel 2.779 5.066.066 trilyun rupiah. maka PDRB atas dasar harga konstan pada tahun 2008 tersebut bernilai 26.969 jiwa dan penduduk perempuan 700.129 8.29 km2.102.[PT.354 triliun rupiah.066 triliun rupiah. Sementara itu luas wilayah Kota Depok adalah sebesar 200.600 35.150. naik dibandingkan tahun sebelumnya yang berjumlah sebesar 24.426. Tabel 2. dibandingkan tahun 2007 yang masih sebesar 39.511 jiwa.5 .616 4.151 26.855.517 20. yang terdiri dari laki-laki 719.314. 4.034 7.082 Sumber : PDRB Kabupaten/Kota Indonesia ii) Demograf Jumlah penduduk Kota Depok pada Tahun 2006 mencapai 1.192 23.590 Evaluasi dan Inventarisasi Kinerja Jaringan Transportasi Jalan di Wilayah Jabodetabek Bab 2 .247 10. DISIPLAN CONSULT] Laporan Akhir harga-harga menggunakan harga tahun dasar 2000).750. maka PDRB atas dasar harga konstan pada tahun 2007 tersebut bernilai 5. PDRB Kota Depok Atas Dasar Harga konstan dan Harga Berlaku Tahun 2002 . ditunjukkan dari nilai nominal PDRB atas dasar harga berlaku yang sebesar 44. PDRB Kota Tangerang Atas Dasar Harga konstan dan Harga Berlaku Tahun 2002 – 2005 Tahun 2002 2003 2004 2005 2006 (Juta Rupiah) Harga Konstan Harga Berlaku 2000 16.

752 Sumber : BPS Kab.561.066.55 km2. Jika menganggap harga konstan (mempertimbangkan kenaikan hargaEvaluasi dan Inventarisasi Kinerja Jaringan Transportasi Jalan di Wilayah Jabodetabek Bab 2 .354.186.322 jiwa penduduk laki-laki dan 755.492.555 16.070. DISIPLAN CONSULT] 2007 2008 24. Nilai tersebut mengalami peningkatan sebesar 14.459 23. 6.505.752 triliun rupiah. Tabel 2.57 triliun rupiah. Kota Tangerang Selatan i) Produk Domestik Regional Bruto Produk Domestik Regional Bruto Kota Tangerang Selatan tahun 2007 mengalami peningkatan.435. PDRB Kabupaten Tangerang Atas Dasar Harga konstan dan Harga Berlaku Tahun 2003-2006 Tahun 2003 2004 2005 2006 (Juta Rupiah) Harga Konstan Harga Berlaku 2000 14.745.55 km2.730 Sumber : Kota Tangerang Dalam Angka ii) Demograf Jumlah penduduk Kota Tangerang berdasarkan data statistik tahun 2007 tercatat 1. ditunjukkan dari nilai nominal PDRB atas dasar harga berlaku yang sebesar 5.092 jiwa penduduk perempuan.97 persen dari tahun sebelumnya. f).92 persen dari tahun sebelumnya.138 18.990 Laporan Akhir 39.263. Kabupaten Tangerang i) Produk Domestik Regional Bruto Total produksi barang dan jasa yang dihasilkan para pelaku ekonomi di Kabupaten Tangerang dicerminkan oleh besaran angka PDRB-nya.863 15. g). dibandingkan tahun 2006 yang masih sebesar 4. dengan komposisi jumlah penduduk laki-laki sebesar 1.810 jiwa.780 20.267 27. Secara harga konstan nilai perekonomian Kabupaten Tangerang mencapai 17.580 44. Pada tahun 2006. dengan luas wilayah sebesar 164.256 triliun rupiah.770.120 26.31 triliun rupiah atau meningkat 6.6 . Tangerang Tahun 2006 ii) Demograf Pada tahun 2005 jumlah penduduk Kabupaten Tangerang sebesar 3. nilai PDRB Kabupaten Tangerang sekitar 27.317.205 jiwa pada tahun 2006.688.689.414 jiwa terdiri dari 753.395 jiwa sedangkan perempuan 1.571.dengan luas 164.508.314.[PT.331 jiwa menjadi 3.951 17.

7 .452.256.[PT.752. naik dibandingkan tahun sebelumnya yang berjumlah sebesar 2. DISIPLAN CONSULT] Laporan Akhir harga menggunakan harga tahun dasar 2000).882.142.112.43 4.642.05 Sumber : Kota Tangerang Selatan Dalam Angka ii) Demograf Jumlah penduduk Kota Tangerang Selatan berdasarkan data statistik pada pertengahan tahun 2007 tercatat 1.768.973 10.028.17 5.334.331 12.2006 Tahun 2002 2003 2004 2005 2006 (Juta Rupiah) Harga Konstan Harga Berlaku 2000 10.298 11. h).620.787.519 15.491.80 2. nilai PDRB Kota Bekasi sekitar 22.042.226.682 jiwa.37 2.599 trilyun rupiah.85 triliun rupiah. 7.37 2.87 persen dari tahun sebelumnya. Pada tahun 2006. dengan luas 147. PDRB Kota Bekasi Atas Dasar Harga konstan dan Harga Berlaku Tahun 2002 . PDRB Kota Tangerang Selatan Atas Dasar Harga konstan dan Harga Berlaku Tahun 2004 – 2007 Tahun 2004 2005 2006 2007 (Juta Rupiah) Harga Konstan Harga Berlaku 2000 1.768 triliun rupiah. Kota Bekasi i) Produk Domestik Regional Bruto Total produksi barang dan jasa yang dihasilkan para pelaku ekonomi di Kota Bekasi dicerminkan oleh besaran angka PDRB-nya.944.60 2.455 13.01 3.545.191. Tabel 2.224 16.45 triliun rupiah atau meningkat 6.154 Sumber : BPS Kota Bekasi Evaluasi dan Inventarisasi Kinerja Jaringan Transportasi Jalan di Wilayah Jabodetabek Bab 2 .459 19.601.214.641 11.310.19 km2. 8.599.714 22. Tabel 2. Nilai tersebut mengalami peningkatan sebesar 18.175.07 persen dari tahun sebelumnya.381. maka PDRB atas dasar harga konstan pada tahun 2007 tersebut bernilai 2.855.186. Secara harga konstan nilai perekonomian Kota Bekasi mencapai 12.730.

Sedangkan luas wilayah Kota Bekasi adalah 210.471 48.110.160 43.084.464 perempuan.121 41.263 trilyun rupiah.008 jiwa. yaitu DKI Jakarta sebagai pusat utamanya.025. STRUKTUR RUANG JABODETABEK Adapun struktur Kawasan Metropolitan Jabodetabek.996 jiwa penduduk perempuan. meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang berjumlah sebesar 41. maka PDRB atas dasar harga konstan pada tahun 2006 tersebut bernilai 43. dibandingkan tahun 2005 yang masih sebesar 57. Kabupaten Bekasi i) Produk Domestik Regional Bruto Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Bekasi tahun 2006 mengalami peningkatan.835 jiwa penduduk laki-laki dan 998. 2.017 triliun rupiah.737 triliun rupiah.263.2006 Tahun 2002 2003 2004 2005 2006 (Juta Rupiah) Harga Konstan Harga Berlaku 2000 33. Sementara itu luas wilayah Kabupaten Bekasi adalah 127.387 38. serta ditambah dengan kawasan Puncak-Cianjur yang juga diperhatikan pengaruhnya terhadap wilayah metropolitan. ditunjukkan dari nilai nominal PDRB atas dasar harga berlaku yang sebesar 66.3. Kota Depok. 9. Evaluasi dan Inventarisasi Kinerja Jaringan Transportasi Jalan di Wilayah Jabodetabek Bab 2 .927.[PT.446 37.006. Tangerang (kabupaten dan kota).903 66.316.032.435 35. Selain itu dapat dengan jelas kita lihat bagaimana pengaruh DKI Jakarta sebagai pusat terhadap wilayah sekitarnya yang menghasilkan suatu daerah perkotaan yang meluas. PDRB Kabupaten Bekasi Atas Dasar Harga konstan dan Harga Berlaku Tahun 2002 .017.085.544 laki-laki dan 1. Jika menganggap harga konstan (mempertimbangkan kenaikan harga-harga menggunakan harga tahun dasar 2000).8 .239 triliun rupiah.906 Sumber : BPS Kabupaten Bekasi ii) Demograf Penduduk Kabupaten Bekasi pada tahun 2007 mencapai 2. i).186. Tabel 2. Bekasi (kabupaten dan kota) sebagai sub pusat yang melayani kota dan daerah otonomnya.49 km2.737.788 57.388 ha.334 41.239. dan memiliki Bogor (kabupaten dan kota).224.255. yang terdiri dari 1. DISIPLAN CONSULT] Laporan Akhir ii) Demograf Jumlah penduduk Kota Bekasi pada tahun 2007 mencapai 2. menunjukkan suatu pola struktur yang polisentrik (banyak pusat).831 jiwa yang terdiri dari 1.

Secara teknik. seluruh wilayah Kota bogor. koridor Jakarta – Depok – Cibinong – Bogor dimana pengembangan kota telah terealisasi. Th 2000 Evaluasi dan Inventarisasi Kinerja Jaringan Transportasi Jalan di Wilayah Jabodetabek Bab 2 . dan Kecamatan Sukaresmi. Karena itu arah pengembangan kota terutama adalah arah Timur-Barat dan Zona buffer yang telah didesain antara daerah pemukiman.[PT. Sumber:Sitramp Jabotabek -Phase I. lahan irigasi pertanian yang berlokasi terutama di Bagian Utara Kabupaten Bekasi. metropolitan Jabodetabek-Punjur merupakan Pusat Kegiatan Nasional (PKN). meskipun pengembangan ke arah selatan dibatasi. seluruh wilayah Kota Depok. Kecamatan Pacet. a). yang mencakup seluruh wilayah Kabupaten Tangerang dan seluruh wilayah Kota Tangerang.9 .  Sebagian wilayah Propinsi Banten. Wilayah ini meliputi:  Seluruh wilayah DKI Jakarta. mencakup seluruh wilayah Kabupaten Bekasi. Namun demikian. seluruh wilayah Kabupaten Bogor. DISIPLAN CONSULT] Laporan Akhir Berdasarkan Raperpres Penataan Ruang Kawasan Jabodetabek-Punjur. dan sebagian wilayah Kabupaten Cianjur. Arah Pengembangan Regional Jabotabek 2015 Wilayah Jabotabek Bagian Selatan direncanakan sebagai daerah terbatas untuk resapan air.  Sebagian wilayah Propinsi Jawa Barat. terbatas untuk pengembangan. harus diterima untuk pengembangan tata guna lahan yang beralasan. yang meliputi Kecamatan Cugenang. seluruh wilayah Kota Bekasi.

Rencana Tata Guna Lahan Jabotabek Sumber:Sitramp Jabotabek -Phase I. Untuk mendukung pertumbuhan pusat-pusat aktifitas. Zoning Pengembangan Jabotabek Dalam konteks kebijakan pengembangan Kota Jabotabek. fungsi sistem transportasi harus mendukung pengembangan kota arah TimurBarat dengan meningkatkan aksesibilitas. b). Rencana tata ruang DKI Jakarta i) Kebijakan Pengembangan Tata Ruang a) Memantapkan fungsi kota Jakarta sebagai kota jasa skala nasional dan internasional. 1.[PT. 2. untuk mencegah tumpang tindih fungsi perkotaan di Jakarta. Th 2000 Gambar 2. DISIPLAN CONSULT] Laporan Akhir Gambar 2. Evaluasi dan Inventarisasi Kinerja Jaringan Transportasi Jalan di Wilayah Jabodetabek Bab 2 . Karena itu beberapa kota sekitarnya telah didesain sebagai pusat-pusat kota dan rencananya adalah untuk meningkatkan fungsi kota di pusat-pusat kegiatan ini.10 . tidak hanya aksesibilitas antara pusat-pusat aktifitas ini dan Jakarta tetapi juga antara pusat-pusat kota Botabek yang harus ditingkatkan.

parawisata. Wilayah Pengembangan (WP) Selatan terdiri atas : 1. industri/pergudangan. serta permukiman yang ditunjang dengan pengembangan Sentra Primer Baru Timur dan Barat. WP Tengah Pusat (WP-TP).11 . Wilayah Pengembangan (WP) Tengah terdiri dari : 1.3. dengan kebijakan meliputi : - Pantai Lama. Jakarta dibagi atas 3 (tiga) Wilayah Pengembangan (WP) utama dengan kebijakan pembangunan untuk masing-masing Wilayah Pengembangan (WP) sebagai berikut : Wilayah Pengembangan (WP) Utara terdiri atas :  WP Kepulauan Seribu (WP-KS). WP Selatan Selatan (WP-SS). pengembangan diarahkan pada sektor parawisata.  WP Pantai Utara (WP-PU). barat. 2. d) Mengembangkan sistem prasarana dan sarana kota yang berintegrasi dengan sistem regional. WP Tengah Barat (WP-TB).[PT. Kebijakan pengembangan secara umum diarahkan untuk pusat pemerintahan. perdagangan. WP Tengah Timur (WP-TT). ii) Wilayah Pengembangan Sesuai dengan karakteristik fisik dan perkembangannya. pemukiman dan pelestarian lingkungan. Kebijakan pengembangan kawasan permukiman secara terbatas dan penerapan Koefisien Dasar Bangunan rendah untuk mempertahankan fungsi kawasan resapan air. - Pantai Baru. nasional dan internasional. Kebijakan secara umum mencakup pengembangan fungsi pelabuhan. Evaluasi dan Inventarisasi Kinerja Jaringan Transportasi Jalan di Wilayah Jabodetabek Bab 2 . pusat kegiatan perdagangan dan jasa. 2. WP Selatan Utara (WP-SU). utara dan membatasi pengembangan ke arah selatan agar tercapai keseimbangan ekosistem. DISIPLAN CONSULT] Laporan Akhir b) Memprioritaskan arah pengembangan kota ke arah koridor timur. 3. peningkatan kehidupan masyarakat nelayan dan konservasi alam. Peta wilayah pengembangan kota DKI Jakarta dapat dilihat pada Gambar 2. c) Melestarikan fungsi dan keserasian lingkungan hidup di dalam penataan ruang dengan mengoptimalkan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup.

Kawasan Budaya Situ Babakan 17. pusat niaga terpadu.Pancoran 11. DISIPLAN CONSULT] Laporan Akhir Error: Reference source not found 5 7 6 8 10 2 12 1 9 3 19 4 11 13 18 15 14 20 16 17 Keterangan: 1. Kawasan Pusat Pemerintahan 2. Kawasan Sentra Primer BAru Timur 19. Misi pengembangan tata ruang setiap Kotamadya adalah : 1. Kotamadya Jakarta Selatan : Mempertahankan kawasan sebagai daerah resapan dan mewujudkan bagian utara kawasan sebagai pusat niaga baru. Kawasan Kota Tua Glodok . Kawasan Wisata Sunda Kelapa 7. 3. 3. dan Sentra Primer Baru Barat sebagai pusat kegiatan wilayah. Kawasan Waduk Halim Perdana Kusuma Sumber : RTRW DKI Jakarta th 2005 . Kawasan Pusat BIsnis Bandar Baru Kemayoran 3. kota pantai dan kawasan wisata bahari. Kawasan Terminal Stasiun Terpadu Manggarai 16. Kawasan Sentra Primer Baru Barat 10. WP DKI Jakarta iii) Strategi Pengembangan Tata Ruang Strategi pengembangan tata ruang propinsi yang ditempuh yaitu pengembangan sentra primer baru serta pemanfaatan ruang secara terpadu dengan mengoptimalkan penataan ruang yang disesuaikan dengan fungsi Wilayah Pengembangan (WP) berdasarkan tipologi kawasan. Kawasan Industri Pulogadung-Cakung 20. Kotamadya Jakarta Utara : Mengembangkan kawasan sebagai kawasan pelabuhan.2010 Gambar 2. 2. Evaluasi dan Inventarisasi Kinerja Jaringan Transportasi Jalan di Wilayah Jabodetabek Bab 2 .12 . Kawasan Pemukiman Nelayan Muara Angke 8. Kawasan Segitiga Emas Kuningan 14. Kotamadya Jakarta Pusat : Mewujudkan pusat kota pemerintahan. Kawasan Hutan Angke Kapuk 9. Kotamadya Jakarta Barat : Mewujudkan kawasan pusat wisata budaya-sejarah. Kawasan Terpadu Rawa Buaya 13. perdagangan dan jasa terpadu dengan mendorong pembangunan fisik secara vertikal dan terkendali. Kawasan Terpadu Waduk Melati 5.[PT. Kawasan Wisata Situ Mangga Bolong 18. industri selektif. Kawasan Perdagangan Tanah Abang 4. Kawasan Wisata Kepulauan Seribu 6. 4. Kawasan Sentra Bunga Rawa Belong 12. Kawasan Niaga Terpadu Sudirman 15. pengembangan kawasan permukiman.

Kebijakan Wilayah Propinsi Jawa Barat yang berpengaruh bagi perkembangan Kota Bogor. Selaras dengan itu arah kebijakan Pemerintah Kota tahun 2005 . Mewujudkan kota yang bersih. DISIPLAN CONSULT] Laporan Akhir 5. baik pengembangan sektoral maupun keseluruhan.2009 memprioritaskan 4 bidang utama. Hal tersebut dikarenakan kebijakan pembangunan wilayah merupakan pedoman pembangunan dalam rangka pengembangan daerah untuk mencapai keadaan yang lebih baik. yaitu Penanggulangan Kemiskinan.13 . Mengembangkan perekonomian masyarakat dengan titik berat pada jasa yang mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya yang ada. kawasan industri dan melanjutkan pengembangan Sentra Primer Baru. Untuk mencapai visi dan misi tersebut di atas. 3. perdagangan. Mewujudkan pemerintahan kota yang efektif dan efisien serta menjunjung tinggi supremasi hukum. antara lain:  Pengembangan Jalan Tol Bogor . Bidang-bidang lain berfungsi sebagai pilar penunjang utama. 2. pendidikan dan pariwisata. Kebijakan tersebut disesuaikan dengan visi dan misi Kota Bogor. Kotamadya Jakarta Timur : Mempertahankan kawasan hijau dan pengembangan permukiman. Peningkatan Kebersihan Kota dan Penataan Pedagang Kaki Lima (PKL). Peraturan Daerah Propinsi Jawa Barat Nomor 3 Tahun 1994 mengenai Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi Jawa Barat menetapkan bahwa Kota Bogor termasuk ke dalam Wilayah Pengembangan Tengah dengan pusat pertumbuhan DKI Jakarta dan Bandung. dalam mengembangkan Bogor sebagai kota jasa. tertib dan aman dengan sarana dan prasarana perkotaan yang memadai dan berwawasan lingkungan. 4. Meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang beriman dan berketerampilan. c). Pengembangan Transportasi. potensi strategis kota pada saat ini mendukung pertumbuhan ekonomi.[PT. indah.Sukabumi – Padalarang. Evaluasi dan Inventarisasi Kinerja Jaringan Transportasi Jalan di Wilayah Jabodetabek Bab 2 . sebagai berikut: Visi Kota Bogor "Kota Jasa Yang Nyaman Pemerintahan Amanah" Dengan Masyarakat Madani Dan Misi Kota Bogor 1. Rencana Tata Ruang Kota Bogor Kebijakan pembangunan wilayah merupakan salah satu aspek yang harus diperhatikan/dipertimbangkan dalam melakukan pengembangan wilayah.

Pengawasan dan pengendalian penggunaan kendaraan pribadi pada ruas-ruas jalan kawasan-kawasan tertentu. Ciomas. Cikampek dan Bandung dengan kegiatan utamanya kv\dv\sV. 6. Cisarua. Dramaga. Pembangunan ruas-ruas jalan penghubung dua atau lebih zona dengan keterkaitan pergerakan tinggi. DISIPLAN CONSULT] Laporan Akhir  Meningkatkan status dan fungsi jalan menjadi Jalan Negara (arteri) pada ruas jalan Bogor . Ciawi. Megamendung dan Citeureup. 4.  Pengembangan wilayah Bodetabek untuk mengurangi tekanan penduduk di wilayah DKI Jakarta dan mengusahakan agar kegiatan industri dan perdagangan di DKI Jakarta dapat lebih mendorong kegiatan di daerah yang berbatasan dengan ibukota. meliputi: Tangerang. 7. Perwujudan sistem terminal terpadu. Kedung Halang. Bogor sesuai RTRW adalah meliputi hal-hal sebagai berikut: 1. permukiman dan perdagangan regional. 5. Caringin.  Penetapan hirarki kota IIA. 2. 3.  Menyerasikan pengembangan ekonomi DKI Jakarta dan Bodetabek sebagai wilayah Mega City yang kompetitif dalam skala internasional.Parung – Tangerang. Cijeruk. Bogor.14 . d).  Peran dan kedudukan Kota Bogor dalarn perwilayahan regional adalah sebagai pusat Pengembangan Wilayah Pembangunan VII yang meliputi: Kecamatan Semplak. Peningkatan prasarana transportasi yang sudah ada. karakteristik fisik geografis serta tujuan dan kebijakan pengembangan wilayah maka konsep arahan fungsi dan pemanfaatan ruang digambarkan seperti terlihat pada Sumber: RTRW Kabupate Bogor.[PT. Bekasi. Rencana Tata Ruang Kabupaten Bogor i) Strategi Pemanfaatan Ruang Kabupaten Bogor Dengan dasar pola pemanfaatan ruang yang ada. ii) Strategi Pengelolaan Sistem Prasarana Transportasi di Kabupaten Bogor Arahan sistem prasarana transportasi di Kab. Penambahan armada angkutan dan pengaturan rute. Pembangunan jalan tol alternatif pada ruas-ruas pada koridor Timur-Barat pada bagian utara wilayah. Pengelolaan lalu lintas. Evaluasi dan Inventarisasi Kinerja Jaringan Transportasi Jalan di Wilayah Jabodetabek Bab 2 . Cikarang.

Sehubungan dengan pengembangan kawasan-kawasan pusat produksi di atas maka perlu dukungan sistem transportasi wilayah yang akan menghubungkan kawasan-kawasan tersebut dengan pusat pemasaran yang ada. 5.[PT. 2. 22 tahun 2009. 6. Dengan demikian pengembangan sistem transportasi diarahkan untuk dapat mendorong perkembangan pusatpusat dan kawasan dibagian Barat dan bagian timur wilayah. kawasan wisata dan daerah tertinggal. Terciptanya kelancaran. rehabilitasi. 3. baik didalam wilayah maupun diluar wilayah. Meningkatnya disiplin pengguna jalan. Program yang akan dilaksanakan bagi sistem transportasi adalah sebagai berikut: 1. 2. Lancarnya penyaluran hasil produksi. Membangun terminal bus dan sub-sub terminal di Bogor dan Cibinong. Selain itu mengingat pesatnya perkembangan kegiatan dibagian Tengah wilayah perlu diidentifikasikan dan diteliti Evaluasi dan Inventarisasi Kinerja Jaringan Transportasi Jalan di Wilayah Jabodetabek Bab 2 . Arahan dan kebijakan bagi strategi pengembangan prasarana transportasi adalah sebagai berikut: sistem 1. Citayam – Nambo. ketertiban dan keamanan angkutan. Studi kelayakan daya angkut Kereta Api yang melintasi stasiun Bogor (Depok – Bogor. Pemasyarakatan UU Lalu lintas No. Strategi pengelolaan sistem prasarana transportasi adalah untuk: 1. bantalan. Pengadaan. Pembuatan jalan-jalan baru di luar kota Bogor – Cibinong. Perbaikan dan pemeliharaan lintas rel.15 . 7. Pembangunan prasarana baru. pemeliharaan serta peningkatan jalan dan jembatan untuk memperlancar arus angkutan orang dan barang ke seluruh pelosok daerah terutama jalur yang menghubungkan ke sentra produksi. Pengadaan sistem angkutan umum massal serta pengintegrasian dan pemerataan rute angkutan umum yang sudah ada. DISIPLAN CONSULT] Laporan Akhir 8. 2. depot telekomunikasi dan lainnya. pengembangan obyek wisata melalui peningkatan kondisi jalan. 3. 8. 4. perbaikan dan pemeliharaan rambu-rambu jalan. baik dalam bentuk peningkatan terhadap sistem transportasi yang ada maupun pengembangan baru atau tambahan. Bandung – Cianjur – Sukabumi – Bogor – Jakarta).

Rencana Fungsi Pusat Pusat Pelayanan Kota Depok Evaluasi dan Inventarisasi Kinerja Jaringan Transportasi Jalan di Wilayah Jabodetabek Bab 2 . Rencana Tata Ruang Kota Depok i) Kebijakan Tata Ruang Kota Depok dalam RTRWN Dalam Review Rencana Tata Ruang Nasional (RTRWN) edisi Desember 2003. Kota Depok termasuk ke dalam konstelasi ruang Kawasan Andalan DKI Jakarta-Jawa Barat-Banten atau disebut juga Kawasan Perkotaan Jakarta. Pengembangan dan peningkatan sistem transportasi wilayah tersebut akan mencakup transportasi kereta api yang akan memberikan pelayanan baik internal maupun eksternal wilayah. 9.. Kota Tangerang dan Kota Bekasi. sedangkan penetapan orde kota di kota Depok disajikan pada Tabel 2. 10. Kota Depok ditetapkan sebagai Kota Satelit dan mempunyai fungsi sebagai PKN (Pusat Kegiatan Nasional) bersamasama dengan Kota Bogor. 4. 10. 11. Sumber: RTRW Kabupate Bogor Gambar 2. dan berfungsi sebagai PKN. Tabel 2. dengan DKI Jakarta ditetapkan sebagai Kota Inti.[PT. DISIPLAN CONSULT] Laporan Akhir untuk kemudian ditingkatkan atau dibangun sistem transportasi yang dapat mendukung pergerakan orang dan barang.16 . ii) Rencana Fungsi Pusat Pelayanan dan Hirarki Kota Rencana Fungsi Pusat-Pusat Pelayanan Kota Depok yang meliputi satu pusat kota dan 8 (delapan) pusat pelayanan disajikan pada Tabel 2. Konsep Arahan Fungsi dan Pemanfaatan Ruang e).

Harjamukti.Pusat Pembibitan .Kawasan Pendidikan .Perkantoran & Bisnis . Serua dan Pondok Petir.Terminal B . Pondok Cina. Abadi Jaya. Beji Timur.Terminal C . Kelurahan Pengasinan. Bojongsari.Jasa Pergudangan . Ke!urahan Kalibaru. dan Cimpaeun. Bojong Pondok Terong.Rumah Pemotongan Hewan (RPH) . Jatimulya.[PT. Kelurahan Krukut.Pusat Agrobisnis (Holtikultura) .Pusat Jasa Perbengkelan . Cisalak Pasar. Mampang.Perdagangan & Jasa . Cilodong. Meruyung. Cisalak. Cipayung.Pusat Perdagangan Grosir & Eceran . Depok.Kawasan Pendidikan . dan Bedahan.Perdagangan. Cipayung Jaya. Rangkapan Jaya Baru. Kebijakan Penetapan Orde Kota Depok Kecamatan Orde Kota Kecamatan Orde Kota Cimanggis PKL Sawangan PKL Sukmajaya PKL Limo PKW Pancoran Mas PKW Beji PKL Evaluasi dan Inventarisasi Kinerja Jaringan Transportasi Jalan di Wilayah Jabodetabek Bab 2 . Kukusan. Curug. 1 Jenjang Pelayanan Pusat Kota Margonda Rencana Pelayanan Kegiatan Kelurahan Yang Dilayani Pusat - - Pemerintahan Pusat - Bisnis Konvensi - 2 Cinere 3 Sawangan 4 Citayam 5 Cimanggis (Jatijajar) 6 Cisalak 7 Tapos 8 Bojongsari 9 Krukut Laporan Akhir Pusat Perdagangan Komersial & Jasa Konservasi Budaya Taman Kota Terminal Terpadu dalam Kota Pendidikan. Curug. Gandul. Sumber: Revisi RTRWK Depok 2000-2010 Tabel 2. Kelurahan Tapos.Pusat Perdagangan Grosir & Eceran .PusatJasa . Leuwinanggung.PusatJasa . Pancoran Mas. Bojongsari Baru. Sukamaju.Terminal C Perdagangan dan Jasa - Seluruh Kota Depok Kelurahan yang ada disekitarnya yaitu Sukmajaya. dan Kalibaru.Kawasan Pendidikan .Sentra Niaga dan Budaya .Pusat Perdagangan Grosir & Eceran . Bakti Jaya. Tirtajaya. Pasir Putih. Pondok Jaya. Beji. Pangkalan Jati Baru.Terminal C . Duren Mekar.Terminal C . Kalimulya. 11. Komersial & Jasa . Kelurahan Sukamaju Baru. dan Cilangkap. Kedaung.17 . Sukatani. Mekarjaya Kelurahan Cinere.Pusat Perdagangan & Jasa . Pasirgunung Selatan. Pangkalan Jati. Kelurahan Sawangan Baru.Pusat Perdagangan Grosir & Eceran . Kemiri Muka. Grogol dan Tanah Baru.Terminal C . Mekarsari. DISIPLAN CONSULT] No. Cinangka. Duren Seribu. Riset & Teknologi . Ratujaya. Jatijajar. RangkapanJaya.Perdagangan Eceran . Limo. Depok Jaya. Tugu. Sawangan.

j. 12. wilayah Tabel 2. Melestarikan fungsi dan keserasian lingkungan hidup didalam penataan ruang dengan mengoptimalkan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup. Mempersiapkan Sub Bagian Wilayah Kota (Sub BWK) menjadi Bagian Wilayah Kota (BWK). Rencana Tata Ruang Kota Tangerang i) Kebijakan Pengembangan Tata Ruang Berdasarkan pertimbangan mengenai kebijakan pengembangan dalam rangka restrukturisasi kehidupan kota serta visi kota Tangerang. Mengurangi dan menghilangkan daerah rawan banjir dan rawan kemacetan lalu lintas secara sistematis dan berkelanjutan. DISIPLAN CONSULT] Laporan Akhir Sumber: Revisi RTRWK Depok 2000-2010 f). c. Mengatur dan mengendalikan pemanfaatan ruang dengan cara mendorong. 1. kebijakan pokok pengembangan tata ruang dibagi menjadi dua. Eksisting Ciledug Rencana Pemecahan Ciledug Arahan Pengembangan Karang Tengah  Perumahan menengah kecil  Perumahan menengah kecil Evaluasi dan Inventarisasi Kinerja Jaringan Transportasi Jalan di Wilayah Jabodetabek Bab 2 . 12. permukiman dan pariwisata. g. h. f.18 . kemitraan dan pemberdayaan masyarakat dalam penataan ruang. d..[PT. Mengusahakan keterpaduan pembangunan dan pembinaan wilayah dengan daerah-daerah di sekitar Kota Tangerang. Arahan Pengembangan Wilayah Kecamatan No. membatasi perkembangan sesuai tipologi masalah dan potensi perkembangan tiap wilayah kota. menstabilkan. Kebijakan pengembangan struktur tata ruang adalah sebagai berikut: a. i. Mengembangkan kota dalam rangka mendukung otonomi daerah. Mengembangkan partisipasi para pelaku pembangunan. Adapun pengembangan kesatuan fungsional kecamatan adalah seperti pada Tabel 2. e. perdagangan dan jasa. b. yaitu pengembangan struktur tata ruang dan pengembangan wilayah kecamatan. Memantapkan fungsi Kota Tangerang sebagai pusat industri. Mengendalikan jumlah penduduk kota Tangerang serta diatur sebaran penduduknya sesuai daya dukung dan daya tampung ruang tiap BWK.

Sub Pusat. seperti kegiatan perdagangan dan jasa dengan skala pelayanan bagian wilayah kota. Sub pusat ini akan terdiri dari komponen-komponen yang berpotensi untuk menjadi struktur pengikat. serta penempatan fasilitas umum dengan skala pelayanan kota. 2.19 . c. Evaluasi dan Inventarisasi Kinerja Jaringan Transportasi Jalan di Wilayah Jabodetabek Bab 2 . b. 5. pemerintahan kota dan perkantoran. DISIPLAN CONSULT] No. Sub pusat Cipondoh. 6. Kegiatan yang akan dikembangkan adalah kegiatan perdagangan dan jasa skala kota maupun regional. Sub Pusat – sub pusat yang direncakan adalah: a. Pusat kota. Eksisting Cipondoh Tangerang Jatiuwung Batuceper Benda Laporan Akhir Rencana Pemecahan Larangan Arahan Pengembangan Cipondoh  Perumahan menengah kecil  Industri Rumah Tangga Pinang  Perumahan menengah kecil  Industri Rumah Tangga Tangerang  Pusat Kota  Perdagangan dan Jasa Karawaci  Perumahan menengah kecil  Perdagangan dan Jasa  Campuran perumahan dan industri Jatiuwung  Industri Cibodas  Industri  Perumahan penunjang industri Periuk  Industri  Perumahan penunjang industri Batuceper  Industri  Pergudangan Neglasari  Pengembangan terbatas  Pertanian Benda  Pengembangan terbatas  Pertanian  Perumahan menengah kecil Sumber: RTRW Kota Tangerang 2010 ii) Rencana Pembentukan Struktur Pelayanan Kota Pusat pelayanan Kota Tangerang diarahkan kepada mengklasifikasikan secara hirarki sehingga diperoleh pelayanan sebagai berikut: 1. Sub pusat Cimone. 4. Sub pusat Ciledug.[PT. dimaksudkan untuk menciptakan pusat orientasi bagi penduduk di bagian kota yang bersangkutan. 2. 3. sebagai pusat primer. Pusat kota ini menjdai wilayah konsentrasi peruntukan kegiatan pelayanan skala kota.

disebabkan wilayah kabupaten Tangerang kini menjadi wilayah belakang (hinterland) bagi kota Tangerang. dan DKI Jakarta maka dalam menentukan pusat-pusat pertumbuhan Evaluasi dan Inventarisasi Kinerja Jaringan Transportasi Jalan di Wilayah Jabodetabek Bab 2 . e. Sub pusat Batuceper. h. Sub-sub pusat Pinang. 2 Tahun 1993 menyebabkan wilayah kabupaten menjadi wilayah belakang bagi kota Tangerang dan ibukota kabupaten berpindah ke kota Tigaraksa. Sub-sub pusat Neglasari. Pusat Kegiatan Khusus. Di lain pihak. Subsub pusat tersebut akan diletakkan pada setiap kecamatan pembantu. 3. Sub-sub pusat Benda. b. merupakan pusat kegiatan yang menjadi kekhasan Kota Tangerang dengan skala pelayanan regional yang dapat bersaing dengan wilayah sekitar. yaitu :  Terbentuknya kota Tangerang lewat UU No. Sub-sub pusat Larangan. pusat pemasaran industri rumah tangga. Sub-sub pusat Karang Tengah. f. Pusat kegiatan khusus yang dapat dikembangkan diantaranya adalah pusat garmen. Sub-sub pusat. pusat pasar loak dan sebagainya. yang dikembangkan sebagai pusat skala lingkungan untuk melayani kebutuhan tingkat kelurahan.[PT.  Untuk menggantikan pusat pertumbuhan kota Tangerang.simpul pertumbuhan baru sebagai pusat koleksi distribusi dan sarana penjalaran pembangunan wilayah. g). c.  Turunnya UU Nomor : 23 Tahun 2000 tentang Pembentukan Propinsi Banten yang mengubah orientasi pelayanan pemerintahan dari kota Bandung ke kota Serang. d. g. 4. Sub-sub pusat Cibodas.20 . Kabupaten Tangerang membutuhkan simpul . DISIPLAN CONSULT] Laporan Akhir d. Rencana Tata Ruang Kabupaten Tangerang i) Kebijakan Pengembangan Tata Ruang Beberapa perkembangan dalam kebijakan pengembangan wilayah di Kabupaten Tangerang telah membawa implikasi berubahnya struktur ruang wilayah kabupaten. Sub-sub pusat Jatiuwung. Sub-sub pusat Periuk. yaitu: a.

Dengan pertimbangan utama keseimbangan wilayah ini maka untuk Kabupaten Tangerang diperlukan 3 (tiga) pusat pertumbuhan yaitu : 1. Untuk membentuk struktur ruang yang hirarki maka perlu disusun suatu konfigurasi kota-kota yang pembentukannya mempertimbangkan tingkat pertumbuhan kota (dengan parameter tingkat kepadatan dan ketersediaan fasilitas pelayanan). 3. Pondok Aren. dan Sepatan. Serpong. Balaraja di bagian Barat yang menunjukkan perkembangan sebagai kawasan industri dan permukiman. Teluknaga di bagian Utara yang dibutuhkan untuk pemacu pertumbuhan dan penyeimbang pertumbuhan antar wilayah. Pamulang. Maka berdasarkan Analisis Skalograrn (metode Guttman) diperoleh konfigurasi kota-kota. Untuk itu perlu metode kombinasi antara skalograrn dengan konsep keterwakilan tiap pusat perturnbuhan. Untuk kelompok kota-kota dengan pusat pertumbuhan tinggi diwakili oleh Kota Serpong.21 .[PT. Pusat Perturnbuhan Orde I Kota kota ini berfungsi sebagai pusat pelayanan yang melayani seluruh wilayah di Kabupaten Tangerang. untuk kelompok kota-kota dengan tingkat perturnbuhan sedang diwakili oleh Kota Balaraja. 2. dan pembatas fisik. Itu sernua berpengaruh terhadap pola orientasi kegiatan yang menjadi prinsip dasar penentuan wilayah pelayanan. tetapi sesuai fungsinya sebagai pusat pernerintahan lbukota Kabupaten Tangerang (UU Nomor : 2 Tahun 1993) maka dapat Evaluasi dan Inventarisasi Kinerja Jaringan Transportasi Jalan di Wilayah Jabodetabek Bab 2 . Wilayah pelayanan ini ditentukan berdasarkan kecenderungan perkembangan ruang dan infrastruktur. homogenitas wilayah. Berdasarkan metode tersebut maka pendekatan pemerataan dan penjalaran fungsi pusat-pusat pelayanan di Kabupaten Tangerang belum tercapai karena pusat-pusat pertumbuhan justru mengelompok di satu simpul. Serpong. Selanjutnya setiap pusat pertumbuhan memiliki wilayah pelayanannya masing-masing. Serpong di bagian Selatan yang menunjukkan perkembangan pesat sebagai daerah permukiman. DISIPLAN CONSULT] Laporan Akhir baru itu harus dimasukkan pertimbangan keseimbangan wilayah. Kota kota ini adalah : Ciputat. Kota Tigaraksa meskipun termasuk kelompok perturnbuhan sedang. Pondok Aren. 1. Kelompok kota-kota ini memiliki kedekatan dengan DKI Jakarta dan Kota Tangerang. Kelompok kota-kota primer adalah kota Ciputat. Pamulang. dan Sepatan. faktor-faktor potensi wilayah. serta untuk kelompok kota-kota dengan tingkat pertumbuhan rendah diwakili oleh Kota Teluknaga.

Dengan sudut pandang wilayah Kabupaten Tangerang sebagai wilayah tertutup (endave) maka secara tidak langsung kota-kota yang ada di sekitar pusat-pusat pelayanan/orde merupakan wilayah pengaruh/ pelayanan dari pusat-pusat tersebut sehingga dapat menjadi kelompok Satuan Wilayah Pengembangan (SWP). 2. SWP II : Terdiri dari kota-kota yang masih memanfaatkan Kota Tangerang sebagai pusat pelayanan.22 . Pusat Perturnbuhan Orde II Kota-kota ini mempunyai pelayanan cukup baik. Termasuk dalarn orde ini adalah Kota Pakuhaji. SWP ini merupakan landasan dalam merumuskan usaha pengembangan wilayah yaitu melalui upaya pengelompokan kota-kota kecil agar dapat bersinergi untuk menjadi besar dan kuat. SWP ini terdiri dari satu pusat dan beberapa daerah belakangnya (hinterland). dan Legok dengan pusat pertumbuhan di Kota Serpong. Jayanti. Pasar Kemis. Kronjo. Dengan demikian maka di Kabupaten Tangerang akan ditemui 5 (lima) SWP sebagai hasil sinergi kelompok kota-kota yang diikat oleh kesatuan aksesibilitas (satu simpul koleksi distribusi) dan homogenitas kegiatan. Rajeg. mencakup Kota Kosambi. pelayanan sosial. Mauk. dan Sepatan dengan pusat perturnbuhan di Kota Pasar Kemis. Curug. atau sebagai pusat ketiga. Kemiri. Pagedangan.[PT. perdagangan dan jasa. Balaraja. pariwisata. Pondok Aren. Cisoka. Pusat Perturnbuhan Orde III Merupakan kota-kota kecamatan yang hanya berperan melayani wilayah kecamatannya sendiri. dan Sukadiri. SWP ini diarahkan kepada pengembangan pusat permukiman perkotaan secara intensif. DISIPLAN CONSULT] Laporan Akhir dikelompokan kedalarn kota sebagai pusat perturnbuhan Orde 1. Cisauk. Cikupa. industri. SWP l : Terdiri dari kota Serpong. Cisauk. Dalam rangka mengendalikan tingkat perkembangan antar wilayah maka perlu dibentuk satuan wilayah pengembangan yang dalarn lingkup kabupaten/kota disebut Satuan Wilayah Pengembangan (SWP) dimana tiap SWP terdiri dari satu kota pusat dan beberapa kota hinterland-nya. Legok. Kota-kota ini terdiri dari kota Curug. Pasar Kemis. Kota ini selain mampu melayani sendiri juga bisa berperan lebih besar bagi wilayah pengaruhnya. Pagedangan. Panongan. 3. Pamulang. Ciputat. serta peternakan. pendidikan. dan Jambe. Teluknaga. SWP ini diarahkan kepada pusat Evaluasi dan Inventarisasi Kinerja Jaringan Transportasi Jalan di Wilayah Jabodetabek Bab 2 . Cikupa. Kresek.

Mauk. pelayanan sosial.[PT.23 .. perkotaan terbatas. Jambe. Kemiri. pertanian tanaman pangan. Panongan. DISIPLAN CONSULT] Laporan Akhir permukiman perkotaan terbatas. perdagangan dan jasa. Tigaraksa. SWP ini diarahkan kepada pengembangan kegiatan pertanian tanaman pangan. dan Sukadiri dengan pusat perturnbuhan ada di Kota Mauk. perikanan. dan pertanian tanaman pangan. Rajeg. kegiatan industri. SWP ini diarahkan bagi pengembangan pusat pelayanan sosial. SWP III : Terdiri dari kota Balaraja. Kosambi. SWP IV : Terdiri dari kota-kota yang berorientasi kepada kegiatan pantai yaitu kota Kronjo. Cisoka. peternakan. SWP V : Terdiri dari kota-kota yang berorientasi kepada kegiatan pantai dan perkotaan terbatas yaitu kota Teluknaga. SWP ini diarahkan bagi pengembangan kegiatan pusat pelayanan pernerintahan. serta pertanian tanaman pangan. perkotaan terbatas. dan pariwisata. dan Pakuhaji dengan pusat perturnbuhan ada di kota Teluknaga. Evaluasi dan Inventarisasi Kinerja Jaringan Transportasi Jalan di Wilayah Jabodetabek Bab 2 . kegiatan industri. Jayanti. serta pariwisata. perikanan. dan Kresek dengan pusat pertumbuhan ada di Kota Balaraja.

Berikut ini pengelompokannya: 1. DISIPLAN CONSULT] Laporan Akhir Sumber: Revisi Rencana RTRW Kabupaten Tangerang th 2006 Gambar 2.  Kecamatan Pamulang.  Kecamatan Pondok Aren. Struktur Ruang Kabupaten Tangerang h). Rencana Tata Ruang Kota Tangerang Selatan i) Rencana Kebijakan Pengembangan Tata Ruang Tata ruang Kota Tangerang Selatan. akan dibagi menurut karakteristik tujuh kecamatan yang ada. 5. 2.  Kecamatan Ciputat Timur.  Kecamatan Serpong Utara. 3. rencananya. Evaluasi dan Inventarisasi Kinerja Jaringan Transportasi Jalan di Wilayah Jabodetabek Bab 2 . Wilayah Industri:  Kecamatan Setu. Wilayah Resapan Air:  Kecamatan Ciputat.24 . Wilayah Pusat Bisnis dan Perumahan:  Kecamatan Serpong.[PT.

Tarumajaya . diarahkan pada terbentuknya strukur wilayah yang terintegrasi dengan wilayah Jabodetabek. Tabel 2.Permukiman Perkotaan .25 .RS Umum.Permukiman Pedesaan .Pertokoan/Pasar Ke kota Bekasi dan Cikarang (calon ibukota Kabupaten): . yaitu kawasan yang didominasi oleh kegiatan industri dan pemukiman skala besar dengan berbagai fasilitas pendukungnya.178 Fungsi Utama . Konsep pengembangan eksternal. DISIPLAN CONSULT] Laporan Akhir i).[PT. seperti diperlihatkan Tabel 2.RS Umum. Kawasan transisi. dimana keberadaannya tidak terlepas dari perkembangan wilayah Kota Bekasi.Pertokoan/Pasar. menunjukkan konsepsi pengembangan wilayah dan wilayah pelayanan seperti dimaksudkan di atas. Rencana Struktur Ruang Wilayah Kabupaten Bekasi 2003 Wilayah Pelayanan Kecamatan WP I Zona Barat . . terutama wilayah DKI Jakarta dan Kota Bekasi sebagai Mega Urban Region. Kawasan pedesaan yaitu kawasan yang masih didominasi oleh kegiatan pertanian dan belum ada indikasi ekspansi kegiatan perkotaan Sesuai dengan uraian di atas maka untuk pengembangan wilayah Kabupaten Bekasi dibagi menjadi 3 Wilayah Pelayanan (WP). 2. 13. dan Sumber : RTRW Kabupaten Bekasi th 2003. Rencana Tata Ruang Kabupaten Bekasi i) Tata Guna Lahan dan Struktur Perkembangannya Kabupaten Bekasi merupakan bagian dari wilayah Jabodetabek.Permukiman Pedesaan .Pertanian -Kws Lindung Pantai Orientasi Pemanfaatan Fasilitas Ke DKI Jakarta dan Kota Bekasi: . 13.702 569. sebagai salah satu kawasan tertentu yang tumbuh cepat dalam skala nasional dan sebagai wilayah penyangga DKI Jakarta.Perdagangan dan Jasa .063 621.Pertanian . Evaluasi dan Inventarisasi Kinerja Jaringan Transportasi Jalan di Wilayah Jabodetabek Bab 2 .Tambun WP II Zona Utara - Muaragembong Cabangbungin Sukatani Tambelang Pebayuran Kedungwaringin Sebagian Cikarang Sebagian Cibitung Luas (Ha) Penduduk Th 2003 19. Pendidikan.975 59. Sedangkan dalam konsep internal rencana struktur pemanfaatan ruang wilayah Kabupaten Bekasi diarah dengan memperhatikan adanya perbedaan karakteritik sebagai berikut: Kawasan perkotaan atau kawasan tumbuh cepat. yaitu kawasan yang meskipun masih menunjukkan karakteristik pedesaan. 1.Babelan . akan tetapi ada indikasi sedang mengalami pergeseran ke arah fungsi perkotaan. .

Sukatani 4. Sebagian Cibitung Wilayah Pelayanan I Zona Barat: 1. DISIPLAN CONSULT] Wilayah Pelayanan WP III Zona Selatan Kecamatan - Lemahabang Serang Setu Sebagian Cikarang Sebagian Cibitung Jumlah Luas (Ha) Penduduk Th 2003 48. Sebagian Cikarang 5. Babelan 3. Pemanfaatan ruang atau penggunaan lahan eksisting yang menunjukkan pola sebaran lokasi kegiatan-kegiatan utama kota Evaluasi dan Inventarisasi Kinerja Jaringan Transportasi Jalan di Wilayah Jabodetabek Bab 2 .Bogor Sumber : RTRW Kabupaten Bekasi th 2003 Gambar 2. Sebagian Cikarang 8. Kedung Waringin 7.953 127. Tambelang 5.623 922. Cibarusah Kab.Perdagangan dan Jasa . perumusan konsep struktur tata ruang Kota Bekasi didasarkan pada pertimbangan: 1. Sebagian Cibitung 6. Serang 3. Sumber : RTRW Kabupaten Bekasi th 2003 Wilayah Pelayanan II Zona Utara: 1.Industri . Wilayah Pelayanan Kabupaten Bekasi j).314. Karawang DKI Jakarta Wilayah Pelayanan III Zona Selatan: 1. Cabang Bungin 3.RS Umum.[PT. Lemah Abang 2.Permukiman Perkotaan .106 Laporan Akhir Fungsi Utama .Pertokoan/Pasar. Rencana Tata Ruang Kota Bekasi i) Konsep Struktur Tata Ruang Kota Dalam lingkup internal. Setui 4. 6. .Pertanian Orientasi Pemanfaatan Fasilitas Ke DKI Jakarta dan Kota Bekasi: . Tarumajaya 2.388 2.B e k a s i Kab. Tambun K ab . Pebayuran 6. Muara Gembong 2.Pemerintahan .26 .

Mengingat ketersediaan lahan yang semakin terbatas dibagian utara kota. Keberadaan pusat-pusat pelayanan kegiatan perkotaan (terutama perdagangan.[PT.78 % 77. Pengembangan pusat-pusat pelayanan kegiatan kota (pusat kota. DISIPLAN CONSULT] Laporan Akhir (perumahan. Dengan dasar pertimbangan di atas maka konsep struktur tata ruang Kota Bekasi meliputi: 1. Dalam hal ini peranan pusat kota yang ada selama ini baik sebagai Central Business District (CBD) maupun pusat pemerintahan masih sangat dominan menjadi pusat pelayanan dan orientasi pergerakan penduduk. jasa dan pemerintahan) yang terkonsentrasi pada beberapa lokasi tertentu dengan wilayah pelayanannya masing-masing. pemerintahan. jasa dan industri) yang menunjukkan kecenderungan perkembangan sekaligus mengindikasikan minat investasi dalam pengembangan kawasan perkotaan dimasa yang akan datang. 3. 2.27 . 14. pusat bagian wilayah kota). Diluar itu terdapat pusat kegiatan lainnya yaitu Pondok gede yang perkembangan dan orientasi pelayanannya lebih mengarah pada Jakarta serta adanya beberapa embrio pusat kegiatan baru dibagian selatan (Bantargebang dan Jatisampurna). 14. 4. industri) serta keterkaitan satu sama lainnya yang membentuk tata ruang yang cenderung pada pola konsentrik di bagian utara (eks wilayah kota administrasi Bekasi). kecenderungan pola spasial izin lokasi mengarah ke bagian selatan (Bantargebang dan Jatisempurna) yang selama ini sebagian besar masih termasuk kawasan yang relatif belum terbangun. Pola jaringan jalan utama yang telah ada dan akan dikembangkan baik yang berfungsi sebagai jalan arteri (primer dan sekunder) maupun jalan kolektor serta pengembangan jalan tol yang melintasi Kota Bekasi. Pola pengembangan jaringan jalan utama kota yang menjadi kerangka (arteri. Pola spasial izin kegiatan-kegiatan utama kota (perumahan. Luasan rencana pemanfaatan ruang di Kota Bekasi seperti terlihat pada Tabel 2. 2. perdagangan dan jasa.228. kolektor).10 Evaluasi dan Inventarisasi Kinerja Jaringan Transportasi Jalan di Wilayah Jabodetabek Bab 2 . Luas Rencana Pemanfaatan Ruang Kota Bekasi Tahun 2000 – 2010 Jenis Pemanfaatan Kawasan Terbangun Luas HA 16. Berikut: Tabel 2.

00 4.35 3.643. 2.[PT. 2) Mengintegrasikan sistem MRT dengan angkutan umum lain..75 282. 6) Mengembangkan jaringan jalan di wilayah perkotaan. 3) Meningkatkan penggunaan angkutan kereta penumpang. Pertamanan 2. 2) Meningkatkan jaringan jalan primer.049.00 1.2010 2.49 2.93 53. ii) Arah Pengembangan Regional Dalam Jabodetabek 2015 Arah pengembangan sistem transportasi secara umum di wilayah Jabotabek adalah direncanakan sebagai berikut sesuai dengan pengembangan regional: 1) Mensosialisasi sistem MRT.00 631.4. 7) Memelihara jaringan jalan.45 210.56 1.47 22. DISIPLAN CONSULT] Luas Jenis Pemanfaatan 1.28 . 4.00 15.052.50 0.11 11.49 3. Tinjauan Rencana Induk Pengembangan Sistem Transportasi JABODETABEK i) Kebijakan dan Strategi Pengembangan Sistem Tranportasi di Jabodetabek 2015 1) Pengembangan Sistem Kereta Api. LRT dan MRT dalam koridor Timur-Barat.72 195. Jalur Hijau 4.00 1. Laporan Akhir HA Perdagangan dan Jasa Pemerintahan dan Bangunan Umum Perumahan Industri Pendidikan Jaringan Prasarana Perkotaan Ruang Terbuka Hijau 1.00 Sumber: RTRW Kota Bekasi th 2000 .34 300 21.820.00 12. 3. RENCANA STRUKTUR JABODETABEK JARINGAN TRANSPORTASI JALAN a).90 5. Evaluasi dan Inventarisasi Kinerja Jaringan Transportasi Jalan di Wilayah Jabodetabek Bab 2 . 5.22 1. Lapangan Olah Raga 3. 4) Meningkatkan Jaringan Jalan Non Tol.47 210.299.06 631.157.68 3. railway dan bus. Pemakaman 5. 5) Meningkatkan jaringan jalan ke wilayah permukiman. khususnya akses ke jalan tol.00 100. Pertanian Total % 736. 6.

Priok Toll Road. baik untuk pergerakan menerus antar kota (misalnya: Tangerang-Bekasi. Lokasi lain yang dikembangkan adalah wilayah barat Jakarta yakni ruas jalan alternatif sejajar Daan Mogot. daerah luar kota untuk 5) Meningkatkan jaringan jalan Non Tol dan membangun jalan baru.Tg. diusulkan pengembangan wilayah sekitar Jakarta dengan tujuan untuk mencapai tingkat pelayanan untuk perjalanan komuter. Bekasi.Bekasi Elevated Toll Road (Kali Malang Toll Road). Beberapa lokasi yang ditetapkan untuk dikembangkan adalah ruas lingkar luar yang berupa jalan tol dan arteri. Pengembangan koridor ini selain bertujuan untuk membantu mengurangi beban lalu Evaluasi dan Inventarisasi Kinerja Jaringan Transportasi Jalan di Wilayah Jabodetabek Bab 2 . 2) Jakarta .Bandara) maupun pergerakan dalam kota jarak sedang. 4) Kota Bogor Ring Toll Road.Serpong Toll Road. Pengembangan Jaringan Jalan DKI Jakarta Rencana pengembangan jaringan jalan dan peningkatan fungsi jalan yang ditetapkan dalam RTRW 2010 diharapkan akan dapat mengakomodasi demand transportasi mendatang. Ruas ini diharapkan akan dapat menjadi jalur alternatif. 3) Jakarta .Parung Panjang Toll Road (Extension of JakartaSerpong Toll Road). 6) Mendukung penggunaan angkutan railway dan bus. 6) Cikarang . 5) Serpong .29 . b). Bojonegara dan Bandara Soekarno-Hatta. DISIPLAN CONSULT] Laporan Akhir 3) Meningkatkan aksesibiltas dari daerah industri ke Pelabuhan Tanjung Priok. 4) Meningkatkan aksesibilitas ke pendistribusian hasil pertanian. Rencana Pengembangan Jaringan Jalan Arteri di Jabodetabek 2015 Untuk pengembangan jaringan jalan arteri. Peningkatan jalan eksisting diutamakan dan sejumlah pembangunan jalan baru diusulkan.[PT. iii) Tinjauan Rencana Pengembangan Jaringan Jalan di Jabodetabek 2015 Rencana Pengembangan Jaringan Jalan Jabodetabek 2015 diuraikan sebagai berikut: Pengembangan Jalan Tol dalam Jabodetabek 2015 Dalam Jabodetabek berikut : 2015 diusulkan pengembangan jalan tol 1) Jakarta Outer Ring Road.

4) Pemindahan terminal utama ke Sentul. 7) Pembangunan pasar-pasar guna menghidari "pasar tumpah". Pengembangan Jaringan Jalan Kota Bogor Rencana pengembangan prasarana jalan dan prasarana pendukung lainnya: 1) Pembanguan jalan tembus Sentul-Delima Jaya untuk menghindari kemacetan. Batu tulis dari Selatan-Tenggara.                         Jaringan Pendukung Pelabuhan dan Bandara Jaringan Pendukung Angkutan Barang  Jaringan Jalan Tol Jalan Arteri Jalan Kolektor Jalan Lokal   MRT Blok M . 6) Pengaturan sistem terminal di stasiun. DISIPLAN CONSULT] Laporan Akhir lintas jalan Daan Mogot tetapi juga untuk turut mendukung pengembangan kawasan prioritas Rawa Buaya yang berada di sekitar lokasi koridor. memberikan gambaran lokasi pengembangan jaringan dan pengembangan fungsi jalan dalam RTRW 2010. Untuk lebih jelasnya Sumber : RTRW DKI Jakarta th 2010.[PT. Gedung Bedal dari utarabarat. 2) Pembangunan jalan tembus Sentul bagian barat-Ciawi untuk memisahkan arus primer. 3) Pembangunan flyover di perlintasan kereta api. Evaluasi dan Inventarisasi Kinerja Jaringan Transportasi Jalan di Wilayah Jabodetabek Bab 2 . Rencana Jaringan Prasarana dan Sarana Transportasi DKI Jakarta c).Kota Jaringan Missing Link    Jaringan Jalan Rel     Terminal Barang Terminal Bus Bandara Pelabuhan Sumber : RTRW DKI Jakarta th 2010 Gambar 2. 5) Pembangunan sub-sub terminal. 7.30 .

ii) Jalan Kolektor Primer I Jaringan jalan kolektor primer dikembangkan untuk melayani dan menghubungkan kota-kota antar pusat kegiatan wilayah. 8. antar pusat kegiatan wilayah dengan pusat kegiatan lokal dan atau kawasan berskala kecil. Evaluasi dan Inventarisasi Kinerja Jaringan Transportasi Jalan di Wilayah Jabodetabek Bab 2 . 4) Ruas jalan Tole Iskandar Depok – Sawangan. Jaringan jalan arteri primer ini menghubungkan ruas jalan Sukabumi – Ciawi – Kodya Bogor – Cibinong – Cimanggis atau Batas DKI Jakarta. Rencana Jaringan Prasarana dan Sarana Kota Bogor d). 3) Ruas jalan Ciawi – Puncak atau Batas Cianjur.31 . Ruas jalan di Kab. 2) Ruas jalan Batas Bekasi atau Cileungsi – Citeureup – Cibinong. berikut ini: Sumber : Laporan Akhir Survey Pola Perjalanan Bogor Raya Tahun 2005 Gambar 2. DISIPLAN CONSULT] Laporan Akhir Gambaran rencana pengembangan wilayah Kota Bogor dapat dilihat pada Gambar 2. Bogor yang termasuk jalan kolektor primer I adalah: 1) Ruas jalan batas Cianjur atau Cariu – Jonggol – Cileungsi – Tol Cibubur. Pengembangan Jaringan Jalan Kabupaten Bogor i) Jaringan Arteri Primer Jaringan jalan arteri primer dikembangakan untuk melayani dan menghubungkan kota-kota antar pusat wilayah dan atau pusat kegiatan nasional.8.[PT.

6) Ruas jalan Batas Tangerang atau Parung Panjang – Bangun Jaya (Cigudeg) – Bunar (Cigudeg). Bogor yaitu: 1) Ruas jalan Pasir Tanjung (Cariu). 5) Ruas jalan Bangun Jaya (Cigudeg) – Rumpin – Putat Nutug – Ranca bungur – Ciampea.Bogor meliputi: 1) Ruas jalan Tol Jagorawi (Jakarta – Bogor – Ciawi). 5) Rencana ruas jalan Tol Jakarta Selatan – Sukmajaya. 6) Ruas jalan Batas Kebupaten Lebak atau Jasingan – Leuwiliang – Ciampea – Kodya Bogor. iii) Jalan Kolektor Primer II Jaringan jalan kolektor primer II yang terdapat di Kab. DISIPLAN CONSULT] Laporan Akhir 5) Ruas jalan Batas Tangerang (Ciputat) – Sawangan – Parung – Kemang – Kodya Bogor. 3) Rencana ruas jalan Tol Ciawi – Sukabumi.[PT. v) Rencana Jalan Tol Jalan tol dikembangkan untuk meningkatkan efisiensi pelayanan jasa transportasi serta memacu perkembangan wilayah. terdiri dari: 1) Ruas jalan Babakan Madang – Megamendung. Evaluasi dan Inventarisasi Kinerja Jaringan Transportasi Jalan di Wilayah Jabodetabek Bab 2 . Rencana jalan tol di Kab. 4) Rencana ruas jalan Tol Ciputat – Sawangan. iv) Jalan Kolektor Primer III Jaringan jalan kolektor primer III yang terdapat di Kab Bogor. 7) Ruas jalan Batas Tigaraksa atau Tenjo – Jasinga.Sukamakmur – Babakan Madang. 3) Ruas jalan Leuwilliang – Pamijahan – Tamansari – Caringin. 2) Rencana ruas jalan Tol Gunung Putri – Sawangan – Parung Panjang – Tangerang. 2) Ruas jalan Jonggol – Sukamakmur. 3) Ruas jalan Citeureup – Sukaraja. 4) Ruas jalan Gunung Sindur – Parung Panjang – Tenjo. 4) Ruas jalan Batas Serpong atau Gunung Sindur – Parung – Putat Nutug. 2) Ruas jalan Citeureup – Hambalang (Babakan Madang).32 .

Pengembangan Jaringan Jalan Kota Tangerang Kebijakan pokok pembangunan jalan adalah sebagai berikut: a. Pengembangan Jaringan Jalan Kota Depok Kebijakan pengembangan jaringan jalan Kota Depok mengacu kepada Studi on Integrated Transportation Masterplan II (SITRAMP II) dan Rencana Jaringan Jalan Tol. DISIPLAN CONSULT] Laporan Akhir e). Evaluasi dan Inventarisasi Kinerja Jaringan Transportasi Jalan di Wilayah Jabodetabek Bab 2 . perbaikan dan pertambahan rambu-rambu lalu lintas.2003) f). Master Plan Transportasi Jabodetabek (SITRAMP. melarang parkir dibadan jalan dan menyediakan lokasi untuk sektor informal diluar badan jalan. penyediaan fasilitas bagi pejalan kaki. Mengoptimalkan ruang jalan yang tersedia bagi lalu lintas kendaraan dengan pengelolaan lalu lintas secara menyeluruh. 9.[PT. Sumber : SITRAMP Phase II – Th 2003 Gambar 2.33 .

Mewajibkan para pemilik gudang dan industri untuk menyediakan fasilitas parkir dan bongkar muat di luar badan jalan. 15. Menyediakan tambahan jalan baru baik berupa arteri primer. Halim Perdanakusuma Peningkatan 7. Menetapkan hirarki jalan-jalan dengan maksud untuk mengurangi lalu lintas lokal pada jalan arteri dan sebaliknya. maupun tak sebidang dengan pembangunan flyover dan underpass. Simpang Sudirman/KH Hasyim Ashari Flyover 2. Jl. jalan arteri sekunder. Lokasi dan jenis peningkatan adalah sebagaimana terlihat pada Tabel 2. Husein Sastranegara Pelebaran 6. 10. d. Simpang Halim Perdanakusuma/Daan Mogot Peningkatan Evaluasi dan Inventarisasi Kinerja Jaringan Transportasi Jalan di Wilayah Jabodetabek Bab 2 . Jl. DISIPLAN CONSULT] Laporan Akhir b. Jl. jalan arteri primer dan jalan bebas hambatan. Program Jangka Pendek – Menengah Kota Tangerang No. Kebijaksanaan yang dilakukan dalam mengatasi kemacetan yang diakibatkan angkutan barang dipusat kota adalah sebagai berikut: a. c.[PT. c. : Tabel 2. b. dan Gambar 2. Sangego Cadas Peningkatan 4. i) Rencana Jangka Pendek Rencana jangka pendek/menengah sub sektor jaringan jalan yang akan dilakukan pada prinsipnya belum membangun jalan baru. 15. Simpang HOS Cokroaminoto/R Saleh Underpass 3. Upaya masih pada peningkatan jalan berupa pelebaran ruas-ruas jalan. Hirarki akan ditetapkan sesuai urutan jalan lokal. arteri sekunder kolektor maupun lokal dengan cara membangun jalan baru dan meningkatkan jalan-jalan yang telah ada. simpang baik sebidang melalui pembuatan pulau atau kanalisasi.34 . jalan pengumpul (kolektor). Garuda (akses bandara) Pelebaran 5. Jl. Menyediakan fasilitas terminal barang di jalur koridor angkutan barang yang dekat dengan perbatasan Jakarta. Nama Jalan / Simpang Jenis Pekerjaan 1. Membagi fungsi jalan dengan maksud untuk mengurangi percampuran moda seperti becak dan kontainer dalam suatu ruas jalan. Menerapkan rencana sistem pengelolaan lalu lintas angkutan barang dengan mengarahkan pengembangan koridor khusus angkutan barang dan penumpang.

Dalam tujuan menstimulir atau merangsang pertumbuhan bagian-bagian kota yang akan dikembangkan.35 . 10.Turn Sumber: Studi Pengembangan Jaringan Jalan Kota Tangerang Sumber : RTRW 2010 dan RDTR Kec Benda 2005 Gambar 2. Nama Jalan / Simpang Laporan Akhir Jenis Pekerjaan 8.[PT. b. Rencana Jaringan Transportasi Kota Tangerang ii) Rencana Jangka Panjang a. Simpang Maulana Hasanudin/Hasyim Ashari Peningkatan 10. dan . Evaluasi dan Inventarisasi Kinerja Jaringan Transportasi Jalan di Wilayah Jabodetabek Bab 2 . DISIPLAN CONSULT] No. Simpang Siliwangi/Gatot Subroto Peningkatan 9. Penyediaan tanah bagi masing-masing kebutuhan jalan selalu diusahakan sedini mungkin. Simpang Prabu Kiansantang/Moh Toha Peningkatan 11. Jaringan jalan sebagai salah satu faktor utama terbentuknya struktur kota sehingga dalam pelaksanaannya harus dipertimbangkan strategi sebagai berikut: . Pintu Tol Tangerang Pembangunan U .Dalam tujuan menghambat atau mengekang pertumbuhan bagian-bagian kota yang tidak dikembangkan.

Jalan kreta api yang menghubungkan Tangerang ke Duri.Menghubungkan Soekarno-Hatta.Menghubungkan Tangerang dengan Jakarta Barat. Rencana Pengembangan: a. e. dengan jalur rel ganda. Sistem jaringan barang adalah Jl. e. f. h. Suryadarma – Jl. Jaringan jalan arteri primer : . Jalan sisi bandara. Jalan sisi rel (perpanjangan jalan Benteng Betawi). c. Kecamatan Ciledug dengan Bandara . Jalur penumpang melalui jalan sisi rel Jakarta – Tangerang ke Lingkar Luar Jakarta dan Jl. f. Evaluasi dan Inventarisasi Kinerja Jaringan Transportasi Jalan di Wilayah Jabodetabek Bab 2 . Terminal terpadu antara angkutan jalan dan angkutan kereta api dikembangkan di Kecamatan Cipondoh.Menghubungkan Jakarta – Merak melalui Tangerang. g. d. Menjadikan penyediaan parkir sebagai salah satu mekanisme pembatasan lalu lintas. Cisadane. h. Sudirman – sisi tol – Kebon Nanas – Binong – Puri Kembangan. Pemisahan jalur angkutan barang dan penumpang. Angkutan barang tidak lagi melalui pusat kota dan Jl. Jalan sejajar SUTET (frontage tol). Jalan sisi sungai Cisadane (promenad). Melakukan koordniasi dengan Pemda DKI dan instansi terkait lainnya dalam melaksanakan pembangunan jalan arteri primer.Menghubungkan Serpong dengan Bandara Soekarno-Hatta melalui Tangerang.[PT. d. i. b. g. Jalan sepanjang perbatasan Kota Tangerang – DKI Jakarta. Pembangunan 3 – Jl. Daan Mogot – Jl. Membangun terminal barang. DISIPLAN CONSULT] c.36 . Jalan tol Serpong – Tangerang – Teluk Naga. . Gatot Subroto akan diturunkan kelasnya menjadi jalan sekunder. . Pengelolaan sistem lalu lintas diutamakan pada pengurangan pengguna moda angkutan pribadi dengan mendorong kemudahan-kemudahan bagi angkutan umum. Laporan Akhir Pembangunan jaringan jalan khususnya jalan-jalan lokal dapat dilakukan dengan cara bekerja sama dengan pihak pengusaha real estate terutama yang berskala besar dengan mewajibkan mereka untuk mengikuti arahan konsep pola jaringan jalan yang telah ditetapkan.

Jalur Busway/feeder : Pulo Gadung – Kalieres – Cimone. Pada beberapa titik pusat aktivitas perekonomian. Mauk. dan berfungsi sebagai jalan kolektor primer dengan ROW 60 meter. sedangkan interkoneksi dengan jalur luar pantai utara Jawa dihubungkan pada ruas Kronjo. poros tengah. Kabupaten Serang. Fungsi dan peranan jaringan jalan poros tengah adalah arteri primer. Sistem jaringan jalannya meliputi Cisoka. Fungsi dan peranan jaringan jalan lingkar Utara adalah kolektor primer. sedangkan beberapa ruas membutuhkan perbaikan. Sistem Jaringan Jalan Bebas Hambatan Jalan bebas hambatan yang ada pada kabupaten Tangerang adalah ruas jalan tol Jakarta Merak dan jalan tol Jakarta Serpong. Lebar ROW ini disesuaikan dengan lebar rencana jalan tol terusan dari ruas Pondok Aren Serpong. jalan arteri sekunder. Sistem Jaringan Jalan Lingkar Utara Sistem Jaringan Jalan Lingkar Utara direncanakan untuk mendukung pusat perkembangan wilayah pertanian lahan basah. Legok . perikanan dan pariwisata bahari. Sedangkan untuk ruas Serpong. Di samping itu jaringan lingkar utara merupakan bagian dari jalur luar Pantai Utara (Pantura) Jawa. Jalan tol Evaluasi dan Inventarisasi Kinerja Jaringan Transportasi Jalan di Wilayah Jabodetabek Bab 2 . 2.37 . 4. Teluk Naga. Tigaraksa. Kronjo. Sistem Jaringan Jalan Lingkar Selatan Sistem jaringan jalan lingkar Selatan direncanakan untuk mendukung aksesibilitas pada kawasan permukiman. g). seperti ruas Legok Serpong. 3. Serpong. beberapa ruas sudah memenuhi syarat sebagai jalan kolektor primer. Kresek. DISIPLAN CONSULT] Laporan Akhir j. Pengembangan Jaringan Jalan Kabupaten Tangerang Perencanaan sistem jaringan jalan di Kabupaten Tangerang akan meliputi sistem jaringan jalan kolektor primer yaitu jalan lingkar utara. Ciledug Raya. bebas hambatan. Kota Tangerang dengan ROW 40 meter (dengan jumlah lajur jalan : 4). k. Jl. perlu dilakukan relokasi ruas atau pembangunan infrastruktur untuk mengatasi kemacetan yang ada. Sistem jaringan jalannya meliputi ruas Kosambi. 1. Dengan ROW 40 meter (dengan jumlah lajur jalan : 4).[PT. Sistem Jaringan Jalan Poros Tengah Sistem jaringan jalan Poros Tengah merupakan jaringan pendukung kawasan industri dan merupakan bagian dari jalan negara Jakarta Merak. Raya Serpong. Pada kondisi eksisting. dengan ROW 40 meter (dengan jumlah lajur jalan : 4). seperti ruas Serpong Kota Tangerang. seperti Balaraja dan Cikupa. lingkar selatan. dan kolektor. Jalan sisi kali Mookervaart.

Jaringan jalan ini direncanakan terintegrasi dengan sistem jaringan yang sudah ada pada Kota Tangerang dan DKI Jakarta. dan pendistribusian konsentrasi volume lalu lintas agar lebih merata. perikanan dan pariwisata. Jarak antar ruas paralel dalam jaringan kurang lebih 5 Km dimana untuk meminimalkan cost sedapat mungkin memanfaatkan ruas jalan yang sudah ada.38 . Hal ini dilakukan untuk menghindari kerusakan tata guna lahan yang mungkin terjadi. Pengembangan jaringan jalan ini dilakukan hanya pada wilayah Selatan kabupaten. keberadaan jalan tol Balaraja Pelabuhan Tanjung Priok merupakan suatu alternatif bila jaringan jalan poros tengah tidak mampu mendukung pergerakan yang ada. Daerah penguasaan jalan (ROW) pada jaringan kolektor ini adalah 30 meter (dengan jumlah lajur jalan : 4). mengingat dominasi peruntukan wilayah Utara ditujukan bagi sektor pertanian. Jaringan ditujukan untuk maksud yang sama dengan jaringan arteri tetapi fungsi jaringan adalah jalan kolektor dan lebih diutamakan untuk pendistribusian lalu lintas ke kawasan permukiman. 6. sehingga kontinuitas pergerakan tidak terhenti dan sasaran pendistribusian volume lalu lintas tercapai. DISIPLAN CONSULT] Laporan Akhir Jakarta Serpong juga berfungsi sebagai penerus jaringan jalan Lingkar Selatan untuk ke dan dari arah DKI Jakarta. 5. Sistem Jaringan Jalan Kolektor Sistem ini merupakan pengembangan dari jaringan jalan arteri sekunder.[PT. Sistem Jaringan Jalan Arteri Sekunder Keberadaan sistern jaringan jalan arteri sekunder dibutuhkan untuk peningkatan aksesibilitas wilayah. nilai tata guna lahan. Jalan arteri sekunder dibuat berdasarkan struktur jalan arteri dan kolektor primer dengan sedapat mungkin memanfaatkan ruas eksisting. Untuk mengantisipasi perkembangan pusat pertumbuhan Balaraja yang berupa kebutuhan jalur distribusi barang ke pelabuhan Tanjung Priok dan Bandara Soekarno . Evaluasi dan Inventarisasi Kinerja Jaringan Transportasi Jalan di Wilayah Jabodetabek Bab 2 . Daerah penguasaan jalan (ROW) pada jaringan arteri sekunder adalah 40 meter (dengan jumlah lajur jalan : 4).Hatta.

8 PETA RENCANA JARINGAN JALAN Ke Cilegon KETERANGAN : KECAMATAN SUKADIRI KECAMATAN KRONJO Batas Propinsi KECAMATAN MAUK Batas Kabupaten KECAMATAN TELUK NAGA Batas Kecamatan KECAMATAN KOSAMBI KECAMATAN PAKU HAJI 60 04'30" Ibukota Kabupaten 60 04'30" Ibukota Kecamatan Jalan Tol Jalan Arteri Primer Jati Waringin Pangarengan KECAMATAN KEMIRI Jalan Kolektor Primer Ke Cengkareng Jalan Kolektor Sekunder Jalan Lokal Jalan Kereta Api KECAMATAN SEPATAN Rencana Jalan Tol KECAMATAN KRESEK Rencana Jalan Kolektor Primer KECAMATAN RAJEG Rencana Jalan kolektor Sekunder Sungai 0 0 6 09'00" 6 09'00" DKI JAKARTA Ke Grogol KECAMATAN PASAR KEMIS Ke Merak KECAMATAN BALARAJA Ke Tomang KOTA TANGERANG Ke Serang KECAMATAN JAYANTI Palem Semi Estate 60 13'30" 60 13'30" KECAMATAN CIKUPA KABUPATEN SERANG KECAMATAN CISOKA KECAMATAN TIGARAKSA Ke Kebayoran Lama KECAMATAN CURUG Ke Tanah Abang Ke Serang Sumber : Hasil Analisis dan Rencana KECAMATAN PONDOK AREN Ke Pondok Indah KECAMATAN PANONGAN Parigi PERIHAL PELABUHAN UDARA BUDIARTO KECAMATAN PAGEDANGAN KECAMATAN CIPUTAT KECAMATAN LEGOK Nusa Loka KECAMATAN JAMBE LEMBAR JML LEMBAR Ke Lebakbulus 60 18'00" Bulak Timur Solong TD. SE RIB U P.25 Sumber: RTRW Kabupaten Tangerang th 2006 Gambar 2.TANGAN Direncana Bukit Indah 60 18'00" NAMA Digambar Ke Lebakbulus Diperiksa Disetujui KECAMATAN SERPONG PETA ORIENTASI Skala. 11.S ERT UNG Serang Tangerang P.D EL I P .000 BOJONEG A RA P . PAN JA NG K ARA NG SER ANG + Tg . Peta Rencana Jaringan Jalan Kabupaten Tangerang Evaluasi dan Inventarisasi Kinerja Jaringan Transportasi Jalan di Wilayah Jabodetabek Bab 2 . PAS IR K E P.[PT.7 5.R AK A TA K ECIL P. 1 : 170.R AK A TA Ke Jasinga STASIUN MAJA Ke Cikadu STASIUN DARUPOS 0 Ke Cikadu Rangkasbitung 1. PAN AI T AN KECAMATAN CISAUK Ke Rangkasbitung Ke Parung Panjang T E LUK S E LAM AT DATA NG JAZ I RA H P. DISIPLAN CONSULT] 647 573 mT 106 020'00" 1060 29'00" 1060 33'30" 1060 38'00" 1060 42'30" 93 36472 mU 0 897393 mT 0 1060 24'30" 9336 614 mU 0 Laporan Akhir 6 00'00" 106 47'00" 6 00'00" L A U T J A W A REVI SI RENCANA TATA RUANG WI LAYAH KABUPATEN TANGERANG Gambar : 5.39 .TIN JIL 647 573 mT 0 KABUPATEN LEBAK KABUPATEN BOGOR Ke Daru STASIUN BARU CILEJET Ke Bogor Ke Rumpin 9295 149 mU Ke Bogor Ke Bogor Ke Bogor 0 1060 24'30" 1060 29'00" 1060 33'30" 1060 38'00" 1060 42'30" 697253 mT 106 0 47'00" 106 20'00" PU LO MAN UK UJU NG GEN TENG 6 0 00'00" PEMERINTAH KABUPATEN TANGERANG TAHUN ANGGARAN 2006 6 22'30" 92 94998 mU V .5 Km HANGGAR PONDOK CABE STASIUN TENJO Pandeglang P.1 8. HA ND EU LE UM UJ UNG KULON KECAMATAN PAMULANG Dukuh Dua P.

c. Jalan Babelan – CBL. e. Jalan Cibarusah – Tegal Danas. Pengembangan Jaringan Jalan Kabupaten Bekasi i) Rencana Makro Peningkatan Jalan a.Overpass dan Jembatan Tegaldanas.40 . Jalan desa Jatimulya – Pasir Tanjung (jalan inspeksi Kalimalang dari Batas Kota Bekasi . Evaluasi dan Inventarisasi Kinerja Jaringan Transportasi Jalan di Wilayah Jabodetabek Bab 2 . Terminal AKAP – Sukamahi. b. Jalan Tambelang – Cikarang. Jalan Jatibaru (Citarik) – Tegal Danas. Jalan Tegal Danas – Sukamahi. f. Jalan Cikarang – Sukatani – Cabangbungin. Jalan Sukasejati – Kawasan Industri MM2100. Jalan Cikarang – CBL – Muaragembong. Pembangunan jalan tol selatan Jatiasih – Purwakarta. e. Jalan Setu – Kalimalang. d. i. b. c. c. f. d.Jalan Simpangan – Hegarmanah (Cibeber – Bugelsalam). d. b.Tanjung Priok. Jalan Negara – Kawasan Industri jababeka. ii) Rencana Middle Peningkatan Jalan a. Jalan Antar Kawasan. Pembangunan jalan Tol Cikarang . Jalan Hegarmukti – terminal AKAP. Jalan Cikarang – Cibarusah. d. Jalan desa pantaibakti – pantai bahagia. Jalan Cabangbungin – Sindangjaya (sukaindah – sindangjaya). f. Pembangunan Jalan a. Jalan Negara Bekasi – Cikampek. c. g.[PT. DISIPLAN CONSULT] Laporan Akhir h). Pembangunan Jalan a. h. Jalan Pebayuran – Kedungwaringin (Pasir Bojong). Jalan Serang – Tegaldanas.Batas Karawang). Jalan tarumajaya – CBL. e. b.

12. Modifikasi simpang susun Cikarang dengan membangun jalan masuk baru dari arah selatan. pada STA 36+700 Jalan Tol Jakarta Secara umum pengembangan sistem transportasi akan bertumpu pada sistem angkutan jalan raya dan angkutan kereta api. Evaluasi dan Inventarisasi Kinerja Jaringan Transportasi Jalan di Wilayah Jabodetabek Bab 2 . rencana pemindahan Ibukota Kabupaten ke Cikarang serta perkembangan Kawasan Jabodetabek membutuhkan dukungan sistem primer yang memadai. Pengembangan kedua moda angkutan tersebut sebagai basis sistem transportasi merupakan suatu keharusan mengingat perkiraanperkiraan yang dilakukan menunjukan bahwa jumlah perjalanan akan semakin meningkat dan pengembangan sistem angkutan jalan raya akan membutuhkan investasi yang relatif besar. yang secara konsep menggambarkan arahan-arahan pengembangan jaringan jalan dan fungsinya serta pengembangan jaringan kereta api. Pengembangan Kabupaten Bekasi dengan pola pengembangan kota mandiri dengan skala menengah dan besar kota seperti kota Legenda dan Lippo Cikarang. i. Pusat kota (CBD) CikarangCibitung sebagai pusat primer membutuhkan sistem sekunder untuk mengakomodasi pertumbuhan perjalanan baik orang maupun barang. k. Pelebaran overpass Cikampek. Jalan Dalam Kawasan Delta. Secara makro arahan pengembangan sistem transport dapat dilihat pada gambar Gambar 2. f. Jalan Serang – Pusat Pemerintahan. Pembangunan Flyover pada lintasan KA Tambun dan Cibitung. h. DISIPLAN CONSULT] e. Laporan Akhir g. Pengembangan kereta api sebagai satu alternatif moda terutama untuk angkutan umum dirasakan sudah mendesak dan mengacu pada pengembangan kawasan Jabodetabek maka moda kereta api akan sangat membantu terutama untuk perjalanan komuter. j.41 . Jalan Cikedokan – Jatiwangi.[PT. Jalan Pasir Gombong – Cikarang Baru.

42 . Arah Pengembangan Sistem Transportasi Kabupaten Bekasi i). 4. Jalan Pekayon – Jatiasih – DKI Jakarta (Kali Sunter).[PT. 6. DISIPLAN CONSULT] Laporan Akhir Keterangan: Jalan Negara Jalan Tol Peningkatan dan Pembangunan Jalan Double-double Tracking Jalan K Rencana Simpang Tidak Sebidang KA Rencana Terminal AKAP Gambar 2. Pengembangan Jaringan Jalan Kota Bekasi Pada saat ini ada 6 (enam) akses jalur jalan yang menghubungkan Kota Bekasi – Jakarta yaitu: 1. Jalan Tol Cikampek – Jakarta. Secara konseptual pengembangan jaringan didasarkan pada beberapa pertimbangan: jalan Kota Bekasi Evaluasi dan Inventarisasi Kinerja Jaringan Transportasi Jalan di Wilayah Jabodetabek Bab 2 . Jalan Jatiwaringin – Pondok gede. 2. Jalan Bintara – Pondok Kopi. Jalan arteri Juanda – Sudirman – Sultan Agung. 12. Jalan Kalimalang – Cawang. 3. 5.

selatan (Bogor) dan Timur (Bekasi).[PT. Timur (Cikarang) dan utara (Babelan). Pahlawan). Pola perkembangan Kota Jakarta yang bersifat radial dengan arah perkembangan kearah barat (Tangerang). Selatan (Cileungsi). 3. Pola perkembangan Kota Bekasi yang bersifat radial dengan arah perkembangan kearah barat (Jakarta). Rencana pembangunan jalan tol eksternal - Pembangunan outer ring road Cikunir – Taman Mini. Jalan ini akan melayani masyarakat di zona industri dan kawasan perumahan di Bekasi Barat dan Bekasi Utara khususnya yang akan menuju ke wilayah DKI Jakarta. Rencana Pengembangan Jalan Internal Evaluasi dan Inventarisasi Kinerja Jaringan Transportasi Jalan di Wilayah Jabodetabek Bab 2 . Rencana pembangunan jaringan jalan Kota Bekasi sebagai berikut: 1. Pembangunan jalan tol dalam kota - Dari Bintara (Terusan jalan Ngurah Rai) – Aren Jaya (Jl. 6. 4. - Pembangunan jalan tol layang Cawang – Bekasi Timur. DISIPLAN CONSULT] Laporan Akhir 1. - Pembangunan jalan tol Jatiasih – Karawang Timur. Bantargebang yang dapat dihubungkan untuk meningkatkan kelancaran lalu lintas di Kota Bekasi. Jalan ini akan berfungsi sebagai aksesibilitas ke DKI Jakarta dan untuk mengantisipasi rencana double-double tracking kereta api dari Manggarai ke Cikarang yang akan dioperasikan pada tahun 2007. 2. Antisipasi terhadap perkembangan Kota Bekasi ke arah selatan dilakukan dengan pengembangan jaringan jalan yang disesuaikan dengan fungsinya. 2. Dalam jaringan jalan Kota Bekasi diidentifikasi terdapat beberapa ruas jalan seperti Jatiasih. Pola perkembangan radial (melingkar) menciptakan sistem infrastruktur yang bersifat radial (melingkar) sehingga membentuk pola jalan lingkar (ring road) yaitu ”Jakarta Outer Ring Road dan jalan Lingkar Luar Bekasi”. Yani – jalan Pejuang. Kebutuhan pembentukan jaringan internal dalam kawasan perumahan baru diperlukan guna mendukung pertumbuhan aktivitas penghuni Kota Bekasi. - Dari jalan A. 3.43 . - Pembangunan jalan tol Cibubur – Cileungsi – Bantargebang. Desakan perkembangan dari Kota Jakarta menimbulkan arah perkembangan Kota Bekasi lebih kuat menuju arah timur. 5.

- Ruas jalan yang menghubungkan ruas jalan Pekayon – jalan Siliwangi Narogong.[PT. DISIPLAN CONSULT] Laporan Akhir 4. Pembangunan Jembatan Evaluasi dan Inventarisasi Kinerja Jaringan Transportasi Jalan di Wilayah Jabodetabek Bab 2 . - Ruas jalan yang menghubungkan ruas jalan Pengasinan – Mustikajaya. Peningkatan Fungsi Jalan Peningkatan fungsi jalan yang terdapat di Kota Bekasi bertujuan unuk meningkatkan aksesibilitas antar Bagian Wilayah Kota (BWK) yaitu: - BWK Pusat Kota. - Ruas jalan sejajar dengan rel KA yaitu jalan I Gusti Ngurah Rai (Kelurahan Kranji Bintara). Peningkatan Kondisi Jalan - BWK Pusat Kota dan BWK Bantargebang berbatasan dengan Kabupaten Bekasi. - Jalan terusan A. Bogor. - BWK Jatisampurna (Jalan Jatisampurna berbatasan dengan Cimanggis Kota Depok). - BWK Jati Sampurna. 6. - BWK Bantargebang dan BWK Jatisampurna berbatasan dengan Kab. - BWK Pusat Kota. 7. Yani menyambung ke ruas jalan Pondok Ungu Kelurahan pejuang. jalan Cikunir dan jalan Pekayon. - Ruas jalan yang menghubungkan ruas jalan Cikunir . BWK Pondok Gede dan BWK Jatisampurna berbatasan dengan wilayah DKI Jakarta. jalan Hankam – 5. - Ruas jalan yang menghubungkan jalan Jatiwaringin. Pengembangan Jalan Baru - Jalan Jatiasih – Bojong Menteng sebagai jalan alternatif jalan Narogong agar tidak melewati pusat kota.44 .Pekayon . - BWK Bantar gebang. - BWK Pondok Gede. - Ruas jalan yang menghubungkan ruas Jatisari/Cakung Payangan.

1. Bantargebang Bintara (terusan Jl. Ngurah Rai  Peningkatan Jl. Tabel 2.45 . Bogor. Sudirman – Jl. Raya Hankam Jalan Kolektor Primer  Peningkatan Jl. Tol Layang Cawang – Bekasi Timur Jl. Sudirman Perempatan Narogong (R Panjang) Jl. Jatiwaringin  Peningkatan Jl. Pahlawan)  Jl. Yamin. Mansyur. 5. Lingkar Utara Kota 4. Hierarki dan Fungsi Ruas Jalan Jl. Penanganan Persimpangan Sebidang di Kota Bekasi - Pembangunan Interchange A. 8. Juanda          Jl. Jalan Arteri Primer  Peningkatan Jl. Tol Bekasi Bekasi Timur – Bantargebang Pekayon-Jatiasih-Pd gede (kali sunter – DKI Jakarta)  Pd gede – DKI Jakarta  Pd Gede – Jatisampurno (jl. Alternatif ibubur) batas kota Depok (Kec. Imanggis)  Tambun Mustika Jaya – Bantargebang  Jatiasih – Caman/Kalimalang 20 – 30 20 – 30 Evaluasi dan Inventarisasi Kinerja Jaringan Transportasi Jalan di Wilayah Jabodetabek Bab 2 . Perempatan Narogong Taman Cut Mutia Jl. Lingkar Utara Kota Bekasi  Pemb. Yani  Peningkatan Jl. - Pembangunan Over Pass Agus Salim. Tol Cibubur. Sultan Agung – Jl. Siliwangi – Batas Kab Bogor Pdk Ungu Karang Satria Kec Tambun Batas DKI (Bintara) – Jl Layang Kranji Batas DKI Jakarta – Jl. - Pembangunan Skycross Ampera. Yani. Cut Mutia  Peningkatan Jl. A Yani Karang Satria – Duren Jaya – Jl. Jalan Tol Dalam Kota 3. - Jembatan di Mayor Oking yang menghubungkan Bekasi Selatan dan Bekasi timur sebagai alternatif Jalan Juanda.A. - Pembangunan Interchange Bulak Kapal. Jalan Tol 2. Ngurah Rai – Aren Jaya/Jl. Rencana Pengembangan Jaringan Jalan Kota Bekasi Berdasarkan Hierarkinya No. DISIPLAN CONSULT] Laporan Akhir - Jembatan di Desa Jatirasa yang melintasi Kota Bekasi sebagai akses ke Kab.[PT. Pahlawan Mulyadi Joyo Martono  Peningkatan Jl. Narogong Jalan Arteri Sekunder  Peningkatan Jl. 16. - Pembangunan Under Pass Pasar Baru dan Over Pass M. Tabrani. A. - Jembatan Mekarsari yang menghubungkan Bekasi Timur dan Bekasi Selatan melalui Jalan H. Cileungsi. Pejuang     Damija (m) 80 – 100 80 – 100 30 – 40  Jl. - Pembangunan Skycross KH. Pekayon – Batas DKI Jakarta (Kali Suntr)  Peningkatan Jl. Terusan Jl. Outer Ring Road Cikunir – Taman Mini Jl.Yani – Jl. - Pembangunan Interchange Bulan-Bulan. Bekasi – Batas DKI Jakarta  Peningkatan Jl. Pengasinan – Bantargebang  Peningkatan Jl.

......... Juanda – Jl....... 6...................................... 3 i) Produk Domestik Regional Bruto. Perjuangan  Under Pass Pasar Baru Laporan Akhir Ruas Jalan Jl............ Kabupaten Bogor.... Pengasinan – Narogong  Pmb Jl. Perjuangan – Kaliabang Tengah – Jl.................... DISIPLAN CONSULT] No...........................1........2........ Juanda – Teluk Pucung  Jl.............................................................. Hierarki dan Fungsi Bekasi  Peningkatan Jl................... 7........ H................... Hankam Raya – DKI Jakarta Jl........ Perjuangan Alun-alun Mayor Oking Jl..........................Cikiwul 15 – 20     Jl........ Raya Jati makmur  Peningkatan Jl................................... A......... 3 c)..Bantargebang Pembangunan Jembatan  Jembatan Mekar Sari  Jembatan Bojong Menteng  Jembatan Mayor Oking (Pasar Lama)  Fly Over Jl......... Tabrani Jl.......................................... Kalibaru fly over Kranji Jl. A.. Yani  Fly Over Jl.. 4 i) Produk Domestik Regional Bruto...... Cikunir – Caman  Peningkatan Jl........... Sosial Ekonomi dan Demografi........ Perjuangan  Peningkatan Jl...4 Evaluasi dan Inventarisasi Kinerja Jaringan Transportasi Jalan di Wilayah Jabodetabek Bab 2 ................................ Tol Bekasi Timur – Cut Mutia Jl.................... 2 i) Produk Domestik Regional Bruto.......................... Agus Salim  Peningkatan Jl.2 ii) Demografi................ Tabrani/J.... Juanda – Cut Mutia – Narogong Jl........ Tambun .... Teluk Angsan Teluk Buyung – Kalibaru – Batas DKI  Peningkatan Jl.. Siliwangi Mustikasari – Mustikajaya Tambun Cimuning – Sumur Batu ............. Pemuda Jalan Kolektor Sekunder  Peningkatan Jl...... Agus Salim – Jl............... Yani – Perjuangan  Peningkatan Jl...........Kalimalang Damija (m)               Jl.... Jatiasih – Jati Ranggon  Jl... Pejuang Jl............ Baru – Mustikasari – Mustikajaya  Jl........................................... Bekasi Jl........... Juanda – Batas Kab.... Jati Sampurna Kranji .................. 2 b). Pejuang Jl........... Agus Salim – Jl..... Pakyon – Pd Gede – Jl.....[PT. Tabrani  Peningkatan Jl..... Juanda – Duren Jaya 7 -15 2...............3 ii) Demografi.. Kota Bogor............. M. Pahlawan  Fly Over Jl........... A Yani – Juanda – Kel.......................... Juanda – Karang Satria Jl............... 1 2........ H................ UMUM.......... Pramuka – Jl......46 ... Pahlawan – Pintu Tol Bekasi Timar  Jl......... KH....... DKI Jakarta.Pjuang Karang Satria – Jl.......................2 a).................... Kartini  Peningkatan Jl........ Perjuangan – Jl...............

...................................................................................................................................................... 6 i) Produk Domestik Regional Bruto..................................................................................................................................................................................................28 Rencana Pengembangan Jaringan Jalan Arteri di Jabodetabek 2015.........................................................6 ii) Demografi........ Rencana tata ruang DKI Jakarta. 5 e)......................................24 i) Tata Guna Lahan dan Struktur Perkembangannya............................................... Rencana Tata Ruang Kabupaten Tangerang.........................................................10 i) Kebijakan Pengembangan Tata Ruang.........................14 i) Strategi Pemanfaatan Ruang Kabupaten Bogor............................................... Kota Bekasi................................47 ............................................................................................ Rencana Tata Ruang Kabupaten Bogor..................................................6 ii) Demografi....................................................16 ii) Rencana Fungsi Pusat Pelayanan dan Hirarki Kota............................................................................... Rencana Tata Ruang Kota Bogor....................... 4 i) Produk Domestik Regional Bruto.................. Rencana Tata Ruang Kabupaten Bekasi.............[PT.....................................7 ii) Demografi............................................... Kabupaten Tangerang...................................3............. Kabupaten Bekasi....... ......................................12 c)......................................................................................................................................................... Arah Pengembangan Regional Jabotabek 2015..............14 ii) Strategi Pengelolaan Sistem Prasarana Transportasi di Kabupaten Bogor 14 e)..... Kota Depok................ 7 i)................... Struktur ruang JABODETABEK......... Kota Tangerang....8 a)............................................................... 7 h)... 7 i) Produk Domestik Regional Bruto.................................................................................................................... Rencana Tata Ruang Kota Depok..13 d)............23 i).........9 b)... 27 i) Kebijakan dan Strategi Pengembangan Sistem Tranportasi di Jabodetabek 2015................ Rencana Tata Ruang Kota Tangerang. 7 i) Produk Domestik Regional Bruto..................................................................................................5 ii) Demografi............................4.......... Rencana Tata Ruang Kota Bekasi.............7 ii) Demografi............................ DISIPLAN CONSULT] Laporan Akhir ii) Demografi...................................4 ii) Demografi...............................................................28 Pengembangan Jalan Tol dalam Jabodetabek 2015......... 6 g)..............................20 h)................................................................................................25 i) Konsep Struktur Tata Ruang Kota...... 6 i) Produk Domestik Regional Bruto............................19 g)..16 f).................................................................27 a)...................................................................23 i) Rencana Kebijakan Pengembangan Tata Ruang.........................................................................20 i) Kebijakan Pengembangan Tata Ruang......................................................................................................................27 iii) Tinjauan Rencana Pengembangan Jaringan Jalan di Jabodetabek 2015.........................................................................24 j)....................... Rencana Tata Ruang Kota Tangerang Selatan.................17 i) Kebijakan Pengembangan Tata Ruang......................................................16 i) Kebijakan Tata Ruang Kota Depok dalam RTRWN.................................... Tinjauan Rencana Induk Pengembangan Sistem Transportasi JABODETABEK.............28 Evaluasi dan Inventarisasi Kinerja Jaringan Transportasi Jalan di Wilayah Jabodetabek Bab 2 ....11 iii) Strategi Pengembangan Tata Ruang.....................................25 2.. Kota Tangerang Selatan. 5 i) Produk Domestik Regional Bruto.....................................................................17 ii) Rencana Pembentukan Struktur Pelayanan Kota...............................................................................................................10 ii) Wilayah Pengembangan...................................... 4 d).................................... Rencana Struktur JARINGAN Transportasi Jalan JABODETABEK................................................................. 5 f).................................................................................................................... 27 ii) Arah Pengembangan Regional Dalam Jabodetabek 2015....... 8 2.......

................................................................2007........................16 5.... 38 ii) Rencana Middle.................39 Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar 2................... 5.......................... Konsep Arahan Fungsi dan Pemanfaatan Ruang......................................... 4..............2007......................32 10........ PDRB Kabupaten Bekasi Atas Dasar Harga konstan dan Harga Berlaku Tahun 2002 ...........9 2..................... 8 Tabel 2............................................................... 10............................ Pengembangan Jaringan Jalan Kota Bogor......................2006......2006............................29 d)......... Pengembangan Jaringan Jalan Kabupaten Bekasi........................ 9..........................17 Evaluasi dan Inventarisasi Kinerja Jaringan Transportasi Jalan di Wilayah Jabodetabek Bab 2 ........ Pengembangan Jaringan Jalan Kota Tangerang................... Rencana Fungsi Pusat Pusat Pelayanan Kota Depok......... PDRB Kabupaten Tangerang Atas Dasar Harga konstan dan Harga Berlaku Tahun 2003-2006.................................. 30 ii) Jalan Kolektor Primer I......................................................... Rencana Jaringan Prasarana dan Sarana Kota Bogor.................................................. PDRB Kota Bogor Atas Dasar Harga konstan dan Harga Berlaku Tahun 2002 ........... 5 Tabel 2.........................[PT...................................... 1.... Wilayah Pelayanan Kabupaten Bekasi........... 39 i).............................................................. 2....................................30 9..........................................28 c)............. 31 e)...................................................................................................... Zoning Pengembangan Jabotabek... 7 Tabel 2.......................2007............... 7 Tabel 2...................................................... Master Plan Transportasi Jabodetabek (SITRAMP............... 29 8. 2......... 3 Tabel 2..............23 6................................. 5 Tabel 2.......... PDRB Kabupaten Bogor Atas Dasar Harga konstan dan Harga Berlaku Tahun 2002 ..................................................................................... Arah Pengembangan Sistem Transportasi Kabupaten Tangerang 39 Tabel 2...........................25 7.................... 2.......................................................... 2......................... 3.......... Rencana Jaringan Transportasi Kota Tangerang.31 v) Rencana Jalan Tol....38 i) Rencana Makro................... Pengembangan Jaringan Jalan Kabupaten Tangerang................................................................................. PDRB Kota Tangerang Atas Dasar Harga konstan dan Harga Berlaku Tahun 2002 – 2005..................... Kebijakan Penetapan Orde Kota Depok..............................................33 ii) Rencana Jangka Panjang. Pengembangan Jaringan Jalan DKI Jakarta..... 2.................................................................. Pengembangan Jaringan Jalan Kota Bekasi........................... 2..................... 2................ 6 Tabel 2. 7. Pengembangan Jaringan Jalan Kota Depok..................................................... WP DKI Jakarta........35 h)........................................................2003)........... 31 iv) Jalan Kolektor Primer III.................................... DISIPLAN CONSULT] Laporan Akhir b)........................ Rencana Jaringan Prasarana dan Sarana Transportasi DKI Jakarta...................................... Pengembangan Jaringan Jalan Kabupaten Bogor............ 12 4............................. Rencana Tata Guna Lahan Jabotabek................................34 g).............................. 2.... 6.34 11.................................................. 3 Tabel 2.. 11........... PDRB DKI Jakarta Atas Dasar Harga konstan dan Harga Berlaku Tahun 2002 .................32 i) Rencana Jangka Pendek......... PDRB Kota Bekasi Atas Dasar Harga konstan dan Harga Berlaku Tahun 2002 ...................... 4 Tabel 2..................2006........... 1. 2...........38 12.....30 i) Jaringan Arteri Primer........ 30 iii) Jalan Kolektor Primer II.......... Struktur Ruang Kabupaten Tangerang.................... Peta Rencana Jaringan Jalan Kabupaten Tangerang....... PDRB Kota Depok Atas Dasar Harga konstan dan Harga Berlaku Tahun 2002 ....................................................16 Tabel 2......... 2. 2.....48 ............. 8.................................................10 3........................ 2........................31 f)... PDRB Kota Tangerang Selatan Atas Dasar Harga konstan dan Harga Berlaku Tahun 2004 – 2007..................

26 Tabel 2.............. Rencana Struktur Ruang Wilayah Kabupaten Bekasi 2003... 13......... Luas Rencana Pemanfaatan Ruang Kota Bekasi Tahun 2000 – 2010........ 15..[PT....33 Tabel 2.......... Arahan Pengembangan Wilayah Kecamatan.....18 Tabel 2................................................ 16....................49 ................. Program Jangka Pendek – Menengah Kota Tangerang.......... DISIPLAN CONSULT] Laporan Akhir Tabel 2. 12........... Rencana Pengembangan Jaringan Jalan Kota Bekasi Berdasarkan Hierarkinya...... 39 Evaluasi dan Inventarisasi Kinerja Jaringan Transportasi Jalan di Wilayah Jabodetabek Bab 2 .......24 Tabel 2.. 14................