Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Rumah sakit merupakan tempat kerja yang unik dan kompleks, tidak saja
menyediakan pelayanan kesehatan bagi masyarakat, tetapi juga merupakan tempat
pendidikan dan penelitian kedokteran dan keperawatan. Semakin luas pelayanan
kesehatan dan fungsi suatu rumah sakit maka semakin kompleks peralatan dan
fasilitasnya. Kerumitan yang meliputi segala hal tersebut menyebabkan rumah
sakit mempunyai potensi yang bahaya yang sangat besar, tidak hanya bagi pasien
dan tenaga medis, risiko ini juga membahayakan pengunjung rumah sakit
tersebut.
Dalam Undang-undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan, Pasal 23
dinyatakan

bahwa

upaya

Kesehatan

dan

Keselamatan

Kerja

harus

diselenggarakan di semua tempat kerja, khususnya tempat kerja yang mempunyai
risiko bahaya kesehatan, mudah terjangkit penyakit atau mempunyai karyawan
paling sedikit 10 orang. Jika memperhatikan isi dari pasal di atas maka jelaslah
bahwa Rumah Sakit (RS) termasuk ke dalam kriteria tempat kerja dengan
berbagai ancaman bahaya yang dapat menimbulkan dampak kesehatan, tidak
hanya terhadap para pelaku lansung yang bekerja d RS, tapi juga terhadap pasien
maupun pengunjung RS. Sehingga sudah seharusnya pihak pengelola RS
menerapkan upaya-upaya K3 di RS.
1

Hasil laporan National Safety Council (NSC) tahun 1988 menunjukkan
bahwa terjadinya kecelakaan di rumah sakit 41% lebih besar dari pekerja di
industri lain. Kasus yang sering terjadi adalah tertusuk jarum, terkilir, sakit
pinggang, tergores/terpotong, luka bakar, dan penyakit infeksi, dan sebagainya.
Sejumlah kasus dilaporkan mendapatkan kompensasi pada pekerja rumah sakit
yaitu sprains, strains: 52%; contussion, crushing, bruising: 11%; cuts, laceration,
puncture: 10,8%; fractures: 5,6%; multiple injuries: 2,1%; thermal burns: 2%;
scratches, abrasions: 1,9%; infections: 1,3%; dermatitis : 1,2%; dan lain-lain:
12,4% (US Departement of Laboratorium, Bureau of Laboratorium Statistics,
1983).
Dari berbagai potensi bahaya tersebut, maka perlu upaya untuk
mengendalikan, meminimalisasi dan bila mungkin meniadakannya, oleh karena
itu K3 rumah sakit perlu dikelola dengan baik. Agar penyelenggaraan K3 rumah
sakit lebih efektif, efesien dan terpadu diperlukan sebuah manajemen K3 di
rumah sakit baik bagi pengelola maupun karyawan rumah sakit.
1.2 Rumusan Masalah
Masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah:
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Apakah definisi dari Sistem Manajemen K3?
Apakah dasar hukum Sistem Manajemen K3?
Apakah tujuan dari Sistem Manajemen K3?
Apakah manfaat dari adanya Sistem Manajemen K3?
Bagaimana langkah penerapan SMK3 di Industri?
Bagaimana standar mutu penilaian SMK3?

1.3 Tujuan Penulisan

2

1 Tujuan umum Tujuan yang ingin dicapai dalam penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui dan memahami penerapan Standar Manajemen K3 (SMK3) di Indonesia dan berbagai langkah penerapannya.3.3.2.3 Apakah tujuan dari Sistem Manajemen K3? 1.1.3.3.2.2 Apakah dasar hukum Sistem Manajemen K3? 1. 1.6 Bagaimana standar mutu penilaian SMK3? 1.4 Apakah manfaat dari adanya Sistem Manajemen K3? 1.4 Manfaat Penulisan Manfaat dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui dan memahami penerapan Standar Manajemen K3 (SMK3) di Indonesia dan berbagai langkah penerapannya.3.2.5 Bagaimana langkah penerapan SMK3 di Industri? 1. 3 .1 Apakah definisi dari Sistem Manajemen K3? 1.2.3.2 Tujuan Khusus 1.3.3.2.2.

4 .

dalam rangka pengendalian resiko yang berkaitan dengan kegiatan kerja guna terciptanya tempat kerja yang aman. efisien dan produktif (PER.BAB II PEMBAHASAN 2. promosi kesehatan. pengendalian bahaya di tempat kerja. penerapan. Dari dua definisi tentang Sistem Manajemen K3 di atas dapat disimpulkan bahwa Sistem Manajemen K3 adalah sistem manajemen yang terintergrasi untuk menjalankan dan mengembangkan kebijakan K3 yang telah ditetapkan perusahaan serta menanggulangi resiko bahaya yang mungkin terjadi di perusahaan Kesehatan dan keselamatan kerja di rumah sakit merupakan upaya untuk memberikan jaminan kesehatan dan meningkatkan derajat kesehatan para pekerja/buruh dengan cara pencegahan kecelakaan dan penyakit akibat kerja.1 Pengertian Sistem Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja (SMK3) Sistem Manajemen K3 adalah bagian dari sistem manajemen perusahaan secara keseluruhan yang dibutuhkan bagi pengembangan. Sedangkan menurut OHSAS 18001. pengkajian dan pemeliharan kewajiban K3. SMK3 (OH&S Management System) adalah bagian dari sistem manajemen organisasi yang digunakan untuk mengembangkan dan mengimplementasikan kebijakan K3 dan mengelola resiko K3 dalam organisasi.05/MEN/1996 pasal 1). pengobatan 5 . pencapaian.

2 Tujuan Penerapan Sistem Manajemen K3 Tujuan dari diterapkannya Sistem Manajemen K3 ini pada Rumah Sakit adalah terciptanya cara kerja. baik fisik atau mental maupun sosial dengan usaha-usaha preventif dan kuratif terhadap penyakitpenyakit/gangguan-gangguan kesehatan yang diakibatkan faktor-faktor pekerjaan dan lingkungan kerja serta terhadap penyakit-penyakit umum. Pelaksanaan K3 harus merupakan bagian dari semua kegiatan operasional. dan dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan karyawan RS. pengorganisasian. Maka dari itu pekerjaan atau tugas apapun tidak dapat diselesaikan secara efisien kecuali jika si pekerja telah mengikuti setiap tindak pencegahan dan peratuan K3 untuk melindungi dirinya dan kawan kerjanya. maka pengelompokan unsur K3 diarahkan kepada pengendalian sebab dan pengurangan akibat terjadinya kecelakaan. Sesuai dengan konsep sebab akibat kecelakaan serta prinsip pencegahan kecelakaan. agar masyarakat pekerja memperoleh derajat kesehatan setinggi-tingginya. Kesehatan kerja menurut Suma’mur didefinisikan sebagai spesialisasi dalam ilmu kesehatan/kedokteran beserta prakteknya. Manajemen K3 di rumah sakit adalah suatu proses kegiatan yang dimulai dengan tahap perencanaan. nyaman.dan rehabilitasi. aman. pelaksanaan dan pengendalian yang bertujuan untuk memberdayakan K3 di rumah sakit. lingkungan kerja yang sehat.(3) 2. Adapun tujuan keselamatan kerja menurut Suma’mur (1987) adalah sebagai berikut : 6 .

jelas dan mudah dimengerti serta diketahui oleh seluruh karyawan rumah sakit.1 Tahap persiapan (komitmen dan kebijakan) Komitmen diwujudkan dalam bentuk kebijakan (policy) tertulis. mental. tenaga K3 dan sarana untuk 7 .2 produksi serta produktivitas nasional.2.2.3 oleh kondisi pekerjaan Perlindungan bagi pekerja dalam pekerjaannya dari resiko akibat faktor yang merugikan kesehatan. Sumber produksi dipelihara dan dipergunakan secara aman dan efisien. dan penempatan serta pemeliharaan pekerja dalam suatu lingkungan kerja yang disesuaikan dengan kondisi fisiologi dan psikologisnya.1 Melindungi tenaga kerja atas hak keselamatannya dalam melakukan pekerjaan untuk kesejahteraan hidup dan untuk meningkatkan 2.2. Menurut WHO / ILO (1995).2.2.3. dan 2. Manajemen rumah sakit mengidentifikasi dan menyediakan semua sumber daya esensial seperti pendanaan.3 kerja. Kesehatan kerja bertujuan. 2. Menjamin setiap keselamatan setiap orang lain yang berada di tempat 2.1 Untuk peningkatan dan pemeliharaan kesehatan fisik.2 sosial yang setinggi-tingginya bagi pekerja disemua jenis pekerjaan Pencegahan terhadap gangguan kesehatan pekerja yang disebabkan 2.2.3 Pedoman Sistem Manajemen K3 Pedoman Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja menurut Peraturan Menteri Kesehatan 2007 terdiri atas meliputi langkah-langkah sebagai berikut : 2. 2.2.

Perencanaan meliputi: a. b. d. Identifikasi sumber bahaya dapat dilakukan dengan mempertimbangkan: 8 . Monitoring dan evaluasi secara internal dan eksternal secara berkala 2.terlaksananya program K3 di rumah sakit. Perencanaan K3 di rumah sakit dapat mengacu pada standar sistem manajemen K3RS diantaranya self assesment akreditasi K3 rumah sakit dan SMK3. perlu disusun strategi antara lain: a. Membuat program kerja K3 rumah sakit yang mengutamakan upaya peningkatan dan pencegahan h. Advokasi sosialisasi program K3 rumah sakit Menetapkan tujuan yang jelas Organisasi dan penugasan yang jelas Meningkatkan SDM profesional di bidang K3 rumah sakit pada setiap unit kerja di lingkungan rumah sakit e. Sumber daya yang harus didukung oleh manajemen puncak f. c. Kebijakan K3 di rumah sakit diwujudkan dalam bentuk wadah K3RS dalam struktur organisasi rumah sakit.3. Kajian resiko secara kualitatif dan kuantitatif g.1 Tahap perencanaan Rumah sakit harus membuat perencanaan yang efektif agar tercapai keberhasilan penerapan sistem manajemen K3 dengan sasaran yang jelas dan dapat diukur. Untuk melaksanakan komitmen dan kebijakan K3 rumah sakit.

Tujuan dan sasaran. satuan/indikator pengukuran. menetapkan dan melaksanakan standar operasional prosedur (SOP) sesuai dengan peraturan. diperbaharui dan harus dikomunikasikan serta disosialisasikan pada karyawan dan pihak yang terkait. Indikator kinerja. Pengendalian faktor risiko. bahaya potensial. sasaran pencapaian dan jangka waktu pencapaian (SMART) d. menggantikan sumber risiko dengan sarana/peralatan lain yang tingkat risikonya lebih rendah /tidak ada (engneering/rekayasa). SOP ini harus dievaluasi. dan risiko K3 yang bisa diukur. Membuat peraturan. yaitu rumah sakit harus mempertimbangkan peraturan perundang-undangan. harus dapat diukur sebagai dasar penilaian kinerja K3 yang sekaligus merupakan informasi mengenai keberhasilan pencapaian SMK3 rumah sakit. yaitu rumah sakit harus membuat.• Kondisi dan kejadian yang dapat menimbulkan potensi bahaya • Jenis kecelakaan dan PAK yang mungkin dapat terjadi Penilaian faktor resiko. 9 . perundangan dan ketentuan mengenai K3 lainnya yang berlaku. administrasi dan alat pelindung pribadi (APP) b. dilakukan melalui empat tingkatan pengendalian risiko yaitu menghilangkan bahaya. yaitu proses untuk menentukan ada tidaknya resiko dengan jalan melakukan penilaian bahaya potensial yang menimbulkan risiko kesehatan dan keselamatan kerja. c.

merumuskan permasalahan serta menganalisis penyebab timbulnya masalah bersama unit-unit kerja. Maka dari itu pekerjaan atau tugas apapun tidak dapat diselesaikan secara efisien kecuali jika si pekerja telah mengikuti setiap tindak pencegahan dan peratuan K3 untuk melindungi dirinya dan kawan kerjanya. bimbingan dan latihan serta penegakan disiplin. untuk mencapai sasaran harus ada monitoring. yaitu rumah sakit harus menetapkan dan melaksanakan proram K3 rumah sakit.2 Tahap penerapan atau pelaksanaan Pelaksanaan K3 harus merupakan bagian dari semua kegiatan operasional. kemudian mencari jalan pemecahannya dan mengkomunikasikannya kepada unit-unit kerja. Tanggung jawab ini harus ditanamkan melalui adanya aturan yang jelas.e. Ketua organisasi/satuan pelaksana K3 rumah sakit secara spesifik harus mempersiapkan data dan informasi pelaksanaan K3 di semua tempat kerja. Program kerja.3. Sesuai dengan konsep sebab akibat kecelakaan serta prinsip pencegahan kecelakaan. sehingga 10 . evaluasi dan dicatat serta dilaporkan. 2. maka pengelompokan unsur K3 diarahkan kepada pengendalian sebab dan pengurangan akibat terjadinya kecelakaan. Pelaksanaan K3 di rumah sakit sangat tergantung dari rasa tanggung jawab manajemen dan petugas terhadap tugas dan kewajiban masing-masing serta kerja sama dalam pelaksanaan K3. Pola pembagian tanggung jawab. penyuluhan kepada semua petugas.

dan yang terbaik atau terbagus adalah pelaksanaan dan penerapan K3 nya mendapat reward dari direktur rumah sakit. untuk menilai sejauh mana program yang dilaksanakan telah berhasil. petunjuk pelaksanaan dan prosedur •Membuat program K3 rumah sakit – Fungsi: • Mengumpulkan dan mengolah seluruh data dan informasi serta permasalahan yang berhubungan dengan K3 11 . pedoman. peraturan. – Tugas pokok : •Memberi rekomendasi dan pertimbangan kepada direktur rumah sakit mengenai masalah-masalah yang berkaitan dengan K3 •Merumuskan kebijakan. maupun pengunjung yaitu mengenai segala upaya pencegahan KAK dan PAK di rumah sakit. pasien. Organisasi/unit pelaksana K3 rumah sakit membantu melakukan upaya promosi di lingkungan rumah sakit baik pada petugas. Kalau masih terdapat kekurangan. Juga bisa diadakan lomba pelaksanaan K3 antar bagian atau unit kerja yang ada di lingkungan kerja rumah sakit. Tugas dan fungsi organisasi/unit pelaksana K3 rumah sakit. Selanjutnya memonitor dan mengevaluasi pelaksanaan program. maka perlu diidentifikasi penyimpangannya serta dicari pemecahannya. a.dapat dilaksanakan dengan baik.

kontrol bahaya. • Model 1 : Merupakan organisasi yang terstruktur dan bertanggung jawab kepada direktur rumah sakit.• Membantu direktur rumah sakit mengadakan dan meningkatkan upaya promosi K3. pelatihan dan penelitian K3 di rumah sakit • Pengawasan terhadap pelaksanaan program K3 • Memberikan saran dan pertimbangan berkaitan dengan tindakan korektif • Koordinasi dengan unit-unit lain yang menjadi anggota K3 rumah sakit • Memberi nasehat tentang manajemen K3 di tempat kerja. mengeluarkan peraturan dan inisiatif pencegahan • Investigasi dan melaporkan kecelakaan. misalnya komite medis/nosokomial • Model 2 : 12 . dan merekomendasikan sesuai kegiatannya • Berpartisipasi dalam perencanaan pembelian peralatan baru. pembangunan gedung dan proses b. Bentuk organisasi K3 di rumah sakit merupakan organisasi struktural yang terintegrasi ke dalam komite yang ada di rumah sakit dan disesuaikan dengan kondisi/kelas masing-masing rumah sakit. Struktur organisasi K3 di rumah sakit Organisasi K3 berada satu tingkat di bawah direktur dan bukan merupakan kerja rangkap.

bertanggung jawab langsung ke direktur rumah sakit. Mekanisme kerja 13 . • Sedang sekretaris organisasi/unit pelaksana K3 rumah sakit adalah seorang tenaga profesional K3 rumah sakit. Nama organisasinya adalah unit pelaksana K3 RS. yang dibantu oleh unit K3 yang beranggotakan seluruh unit kerja di rumah sakit. yaitu manajer K3 rumah sakit atau ahli K3 d. sekretaris. Organisasi/unit pelaksana K3 dipimpin oleh ketua. Keanggotaan : • Organisasi/unit pelaksana K3 rumah sakit beranggotakan unsur-unsur dari petugas dan jajaran direksi rumah sakit • Organisasi/unit pelaksana K3 rumah sakit terdiri dari sekurang-kurangnya ketua.dan anggota. • Pelaksanaan tugas ketua dibantu oleh wakil ketua dan sekretaris serta anggota Ketua organisasi/unit pelalsana K3 RS sebaiknya adalah salah satu manajemen tertinggi di rumah sakit atau sekurang-kurangnya manajemen dibawah langsung direktur rumah sakit.Merupakan unit organisasi fungsional (non struktural). c.

2. Pencatatan dan pelaporan K3 terintegrasi ke dalam sistem pelaporan RS (SPRS).3 Tahap Pengukuran dan evaluasi • Pemantauan dan Evaluasi Pada dasarnya pemantauan dan evaluasi K3 di rumah sakit adalah salah satu fungsi manajemen K3 rumah sakit yang berupa suatu langkah yang diambil untuk mengetahui dan menilai sampai sejauh mana proses kegiatan K3 rumah sakit itu berjalan dan mempertanyakan efektivitas dan efisiensi pelaksanaan dari suatu kegiatan K3 rumah sakit dalam mencapai tujuan yang ditetapkan. • Pencatatan dan pelaporan K3 • Pencatatan semua kegiatan K3 14 .• Ketua organisasi/unit pelaksana K3 rumah sakit memimpin dan mengkoordinasikan kegiatan organisasi/unit pelaksana K3 rumah sakit • Sekretaris organisasi/unit pelaksana K3 rumah sakit memimpin dan mengkoordinasikan tugas-tugas kesekretariatan dan melaksanakan keputusan organisasi/unit pelaksana K3 rumah sakit.3. Pemantauan dan evaluasi meliputi : a. • Anggota organisasi/unit pelaksana K3 RS mengikuti rapat organisasi/unit pelaksana K3 RS dan melakukan pembahasan atas persoalan yang diajukan dalam rapat. serta melaksanakan tugas-tugas yang diberikan organisasi.

3. 2. terutama oleh petugas K3 rumah sakit sehingga kejadian PAK dan KAK dapat dicegah sedini mungkin. Inspeksi K3 di rumah sakit dilakukan secara berkala. evaluasi dan pengendalian.• Pencatatan dan pelaporan KAK • Pencatatan dan pelaporan PAK b. Tujuan audit K3: • Untuk menilai potensi bahaya. kebijakan dan prosedur. Kegiatan lain adalah pengujian baik terhadap lingkungan maupun pemeriksaan terhadap pekerja berisiko seperti biological monitoring (pemantauan secara biologis) c. penilaian risiko direkomendasikan kepada manajemen 15 . gangguan kesehatan dan keselamatan • Memastikan dan menilai pengelolaan K3 telah dilaksanakan sesuai ketentuan • Menentukan langkah untuk mengendalikan bahaya potensial serta pengembangan mutu. fasilitas dan peralatan. Inspeksi dan pengujian Inspeksi K3 merupakan suatu kegiatan untuk menilai keadaan K3 secara umum dan tidak terlalu mendalam. karyawan dan pimpinan. identifikasi.4 Tahap peninjauan ulang dan peningkatan Perbaikan dan pencegahan didasarkan atas hasil temuan dari audit. administrasi dan pengelolaan. Melaksanakan audit K3 Audit K3 meliputi falsafah dan tujuan. pengembangan karyawan dan program pendidikan.

Hasil rumusan disampaikan dalam bentuk rekomendasi kepada direktur rumah sakit. Data dan informasi dibahas dalam organisasi/unit pelaksana K3 rumah sakit untuk menemukan penyebab masalah dan merumuskan tindakan korektif maupun tindakan preventif.4.puncak.1 2.2 Penyuluhan K3 ke semua petugas RS Pelatihan K3 yang disesuaikan dengan kebutuhan individu dengan perilaku tertentu agar berperilaku sesuai dengan yang telah ditentukan sebelumnya sebagai produk akhir dari pelatihan 16 . meliputi : 2.4. Rekomendasi berisi saran tindak lanjut dari organisasi/unit pelaksana K3 RS serta alternatif-alternatif pilihan serta perkiraan hasil/konsekuensi setiap pilihan. 2. Tinjauan ulang dan peningkatan oleh pihak manajemen secara berkesinambungan untuk menjamin kesesuaian dan keefektifan dalam pencapaian kebijakan dan tujuan K3.4 Bentuk Kegiatan Penunjang K3 Bentuk kegiatan yang mendukung terselengaranya sistem manajemen K3 agar berjalan dengan benar. Informasi dikumpulkan dari hasil monitoring tempat kerja dan lingkungan kerja rumah sakit terutama yang berkaitan dengan sumber bahaya potensial baik yang berasal dari kondisi berbahaya maupun tindakan berbahaya serta data dari bagian K3 berupa laporan pelaksanaan K3 dan analisisnya.

dalam melaksanakan program K3 sesuai peraturan yang berlaku. berkala dan khusus) Penyediaan alat pelindung diri dan keselamatan kerja Penyiapan pedoman pencegahan dan penanggulangan keadaan darurat Penempatan pekerja pada pekerjaan yang sesuai kondisi kesehatan Pengobatan pekerja yang menderita sakit Menciptakan lingkungan kerja yang higienis secara teratur melalui monitoring lingkungan kerja dari hazard yang ada  Melakukan biological monitoring  Melaksanakan surveilans kesehatan pekerja 2.05/MEN/1996 Tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja 17 . • • • • • UU No.5 Dasar Hukum Terkait dengan SMK3 Adapun dasar hukum yang terkait dengan pelaksanaan Sistem Manajemen K3 antara lain. dapat dilakukan kegiatan yang diantaranya :       Pemeriksaan kesehatan petugas (prakarya.Sedangkan.: PER.1 tahun 1970 Tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja UU No.23 tahun 1992 Tentang Kesehatan Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang ketenagakerjaan Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 1998 tentang Pengamanan Sediaan Farmasi • dan Alat Kesehatan Peraturan Pemerintah nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak • Lingkungan Peraturan Pemerintah Nomor 63 Tahun 2000 tentang Keselamatan dan Kesehatan • Terhadap Pemanfaatan Radiasi Pengion Peraturan Menteri Tenaga Kerja No.

432/MENKES/SK/IV/2007 Tentang Pedoman Kesehatan dan Keselamatan Kerja di Rumah Sakit BAB V PENUTUP 4.1 Untuk dapat bersaing dalam era globalisasi diperlukan efisiensi dan peningkatan produktivitas kerja baik oleh perusahaan maupun pekerja 18 .• Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 1993 tentang Penyakit yang Timbul Akibat • Hubungan Kerja Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 876/Menkes/SK/VIII/2001 tentang Pedoman • Teknis Analisis Dampak Kesehatan Lingkungan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1217/Menkes/SK/IX/2001 tentang Pedoman • Penanganan Dampak Radiasi Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1335/Menkes/SK/X/2002 tentang Standar • Operasional Pengambilan dan Pengukuran Kualitas Udara Rumah Sakit Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1439/Menkes/SK/XI/2002 tentang Penggunaan • Gas Medis pada Sarana Pelayanan Kesehatan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 351/Menkes/SK/III/2003 tentang Komite • Kesehatan dan Keselamatan Kerja Sektor Kesehatan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1204/Menkes/SK/X/2004 tentang Persyaratan • Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit Peraturan Menteri Kesehatan Nomor1575/Menkes/Per/XI/2005 tentang Organisasi • dan Tata Kerja Departemen Kesehatan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.1.1 Kesimpulan Dari pembahasan diatas maka dapat disimpulkan: 4.

OHSAS 18001 dan Sistem Manajemen K3 memberikan kita sebuah instrumen dalam mengatur dan mengendalikan resiko kesehatan dan keselamatan kerja serta peningkatan kinerjanya.2 peningkatan produktivitas. membentuk peninjauan kelompok sistem.1. Selain itu. Upaya penerapan perlindungan tenaga kerja dari bahaya akibat kerja. 5. perusahaan diharapkan mampu mendemonstrasikan komitmennya dalam lingkungan kerja yang aman dan menjaga karyawan terhadap kecelakaan pada saat kerja. menetapkan cara penerapan.2 Saran 19 .3 sertifikasi. penyuluhan. Penerapan Sistem Manajemen K3 di industri meliputi dua tahap yakni tahap persiapan dan tahap pengembangan dan penerapan yang terdiri dari sepuluh langkah: menyatakan komitmen. dengan diraihnya sertifikasi OHSAS 18001 & Sistem Manajemen K3.secara professional. Pemenuhan persyaratan tersebut diharapkan dapat mengurangi kecelakaan dan meningkatkan effisiensi kinerja yang ada. kerja penerapan. pengembangan sistem manajemen K3.1. pencapaian derajat kesehatan dan keselamatan yang tinggi serta tingkat kenyamanan kerja melalui penerapan Sistem Manajemen K3 pada akhirnya akan berpengaruh positif terhadap 4. dan proses 4. penyusunan jadwal kegiatan kegiatan. penerapan sistem.

Menteri Kesehatan Republik Indonesia.com/manfaat-penerapan-smk3/ (diakses tanggal 23 Februari 2012) 20 . 1998.pdf (diakses tanggal 22 Februari 2012) http://healthsafetyprotection.153-194 http://repository. 2007. 1998.ac..1-15 Syamsudin M S. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 432/MENKES/SK/IV/2007 Tentang Pedoman Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja di Rumah Sakit.05/MEN/1996 Tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja. h : 3 – 5 Supari S F.usu.DAFTAR PUSTAKA Departemen Kesehatan RI Direktorat Jenderal PPM & PLP. h.id/bitstream/123456789/23650/4/Chapter%20II. Peraturan Menteri Tenaga Kerja No. Jakarta. Departemen Tenaga Kerja R. h.I Derektorat Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial dan Pengawasan Ketenagakerjaan. Peraturan Menteri Kesehatan RI dan Keputusan Direktur Jenderal PPM & PLP Tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit. Jakarta: DEPKES RI. : PER.

com/langkah-langkah-penerapan-smk3ohsas18001/ (diakses tanggal 23 Februari 2012) 21 .http://healthsafetyprotection.