Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam perjalanan fakta sejarah bangsa Indonesia, tidak bisa dipungkiri
bahwa peran dan konstribusi Nahdlatul Ulama (NU) sangatlah besar. Sebagai
organisasi kemasyarakatan terbesar di Indonesia, rasa memiliki dan tanggung
jawab NU terhadap bangsa ini sangatlah kuat, baik secara jamiyyah
(kelembagaan), maupun jamaah (umat). Fakta tersebut bisa kita lihat dari
perjuangan para kyai dalam memperjuangkan tanah air sebelum kemerdekaan,
pun upaya mereka dalam mempertahankan bentuk dan keutuhan NKRI pasca
kemerdekaan. Apa yang selama ini sudah dilakukan NU bukanlah hanya sekedar
basa-basi atau pencitraan belaka, tetapi memang muncul dari tekad yang terdalam
dan keikhlasan para sesepuh NU sebagai langkah perjuangan mengayomi
masyarakat, yang kemudian langkah-langkah tersebut dituangkan dalam kebijakan
organisasi.
Berbicara tentang NU, maka tidak bisa dipisahkan dengan pesantren dan
para kyai (Ulama) yang ada didalamnya. Dari sini sudah tergambar jelas, bahwa
basis utama NU adalah para kyai dan para santri itu sendiri, walaupun meNUrut
Martin Van Bruinessen, ada juga pihak lain diluaryang berminat dan merespon
positif, sehingga NU berkembang dengan pesat dan kuat.
Dalam berkhidmah di masyarakat, para ulama tidak hanya mengurus perihal
ibadah dan permasalahan keagamaan saja, tetapi juga merespon berbagai gejala
dan situasisosialyang terjadi di sekitar lingkungannya. Salah satunya adalah
gerakanNahdlatul Wathon(Kebangkitan kebangsaan) pada tahun 1916, yang
dimotori oleh para kyai. Gerakan tersebut muncul sebagai respon para ulama
melihat adanya penindasan yang dilakukan oleh penjajah, dalam hal ini dari
kolonial Belanda kepada pribumi Indonesia.
1

Gerakan ini juga merupakan bentuk keberpihakan ulama kepada rakyat dan
orang kecil yang terdzolimi. Semangat yang pada saat itu digelorakan adalah
semangat memupuk dan membangkitkan rasacintatanah air, yang tidak lain
bertujuan untuk berjuang bersama-sama melawan imperialisme dan mengusir
penjajah dalam mencapai cita-cita kemerdekaan. Nahdlatul Wathoninilah salah
satu gerakan yang melatarbelakangi berdirinya NU pada 31 JaNUari 1926.
Selain itu, perlu diketahui juga tentang peranan dan kontribusi para kyai NU
ketika bangsa ini mempersiapkan kemerdekaan. Tak sedikit tokoh NU yang turut
terlibat di dalamnya, termasuk dalamforumresmi di BPUPKI yang dibentuk
tanggal 29 April 1945. Pada saat itu, tokoh dari NU yang mewakili adalahK.H. A.
Wahid Hasyim(Ayah Gusdur). Beliau juga termasuk ulama yang ikut merumuskan
dasarNegaraIndonesia. Pasca kemerdekaan 17 Agustus 1945, di saat rakyat baru
saja merasakan alam kemerdekaan, mereka kembali terusik dengan rencana
hadirnya sekutu ke Indonesia. Hal yang kemudian kembali memanggil naluri para
ulama, yang kemudian berupaya sekuat tenaga untuk mempertahankan
kemerdekaan Negara Indonesia yang telah dideklarasikan oleh presiden Soekarno.
Pada saat itu, Rois Akbar Syuriah NU,K.H. Hasyim Asyari, secara langsung
mengumpulkan para ulama di Jawa untuk berkonsolidasi dan mengambil sikap,
sehingga lahirlah sebuah deklarasi masyhur yang disebut sebagai Resolusi
Jihad. Semangat resolusi jihad adalah semangat nasionalisme para kyai untuk
mempertahankan kemerdekaan dan mengawal kelangsungan NKRI. Melalui
resolusi ini, semangat jihad para santri, kyai, beserta para pejuang lainnya seperti
terbakar, hingga dapat memukul mundur sekutu yang akan menjajah kembali
Indonesia.
B. Rumusan Masalah
1. Siapa saja tokoh yang terlibat dalam membentuk dasar Negara?
2. Bagai mana cara mempertahankan keutuhan NKRI?
3. Seperti apa peran NU dalam mempertahankan NKRI?
4. Apa pandangan NU terhadap pancasila dan NKRI?
C. Tujuan Makalah

Adapun tujuan peNUlisan makalah ini adalah selain memeNUhi tugas


dosen, dalam rangka pengambilan nilai, juga dijadikan bahan diskusi kelompok
pada mata kuliah AgamaIslam V.
BAB II
PEMBAHASAN
A. PERAN NU DALAM MEMBENTUK DASAR NEGARA
Bahwa perjuangan umat Islam Indonesia untuk menolak penjajahan dan
memperjuangkan kemerdekaan bangsa dari tangan penjajah telah berlangsung
sejak lama. Begitu pula ketika perjuangan merebut kemerdekaan sudah mendekati
keberhasilannya. Umat Islam memberikan saham yang sangat besar dalam
mempersiapkan lahirnya Negara Indonesia merdeka, yaitu melalui para
pemimpinnya, umat Islam ikut menentukan wujud, asas dan hukum negara yang
akan lahir itu.
Untuk mematangkan persiapan Indonesia menyambut kemerdekaannya,
pada tanggal 29 April 1945 dibentuklah Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai (Badan
Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia, BPUPKI) yang
anggotanya berjumlah 62 orang diketuai oleh Soekarno dan Mohammad Hatta
sebagai wakilnya juga di dalamnya KH. Abdul Wahid Hasyim sebagai anggota.
Selanjutnya KH. Abdul Wahid Hasyim juga terlibat aktif dalam perumusan
konstitusi dan dasar negara bersama tokoh lain, yaitu : Soekarno, Mohammad
Hatta, Muhammad Yamin, Achmad Soebardjo, Abikoesno Tjokrosoejoso, H. Agus
Salim, A.A. Maramis dan Abdul Kahar Muzakkir yang disebut Panitia Sembilan.
Mereka membubuhkan tanda tangannya pada Piagam Jakarta pada tanggal 22 Juni
1945.
Piagam Jakarta sendiri merupakan kesepakatan awal antara golongan Islam
dengan golongan nasionalis dalam hal perumusan Undang-Undang Dasar.
Kesepakatan itu termaktub dalam suatu naskah yang akan dijadikan sebagai
preambul atau pembukaan Undang-Undang Dasar. Dalam naskah pembukaan
itulah disebutkan bahwa Pancasila menjadi dasar negara Indonesia.

Bagi Nahdlatul Ulama Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI),


Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 merupakan bentuk final dari sistem
kebangsaan dan akan terus dipertahankan kelestariannya, telah menjadi salah satu
bukti bahwa Nahdlatul Ulama memiliki semangat nasionalisme yang tinggi.
B. UPAYA MENJAGA KEUTUHAN NEGARA KESATUAN REPUBLIK
INDONESIA
Hal yang harus kita tanggulangi dalam rangka mempertahankan keutuhan
Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah ancaman. Ancaman adalah setiap
upaya dan kegiatan, baik dari dalamnegerimaupunluarnegeri yang dinilai
mengancam atau membahayakan kedaulatan negara, keutuhan wilayah negara,
dan keselamatan segenap bangsa.
Bagaimana agar keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia tetap
terjaga? Salah satu caranya adalah kita sebagai warga negara berpartisipasi dalam
upaya menjaga keutuhan wilayah dan bangsa Indonesia. Berpartisipasi artinya
turut serta atau terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang dapat menjaga keutuhan
wilayah dan bangsa Indonesia.
Untuk turut menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia
diperlukan sikap-sikap:
1. Cinta tanah air
Sebagai warga negara Indonesia kita wajib mempunyai rasa cinta terhadap
tanah air. Cinta tanahair danbangsa dapat diwujudkan dalam berbagai hal,
antara lain:
a. Menjaga keamanan wilayah negaranya dari ancaman yang datang dari luar
maupun dari dalam negeri.
b. Menjaga kelestarian lingkungan dan mencegah terjadinya pencemaran
lingkungan.
c. Mengolah kekayaan alam dengan menjaga ekosistem guna meningkatkan
kesejahteraan rakyat.
d. Rajin belajar guna menguasai ilmu pengetahuan dari berbagai disiplin untuk
diabdikan kepada negara.
4

2. Membina persatuan dan kesatuan


Pembinaan persatuan dan kesatuan harus dilakukan di manapun kita
berada,baik di lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat, bangsa, dan negara.

Tindakan yang menunjukkan usaha membina persatuan dan kesatuan, antara


lain:
a. Menyelenggarakan kerja sama antar daerah.
b. Menjalin pergaulan antarsuku bangsa.
c. Memberi bantuan tanpa membedakan suku bangsa atau asal daerah.
d. Ikut merasakan kesedihan dan penderitaan orang lain, serta tidak mudah
marah atau menyimpan dendam.
e. Menerima teman tanpa mempertimbangkan perbedaan suku, agama,
maupun bahasa dan kebudayaan
3. Rela Berkorban
Sikap rela berkorban adalah sikap yang mencerminkan adanya kesediaan dan
keikhlasan memberikan sesuatu yang dimiliki untuk orang lain, walaupun akan
menimbulkan penderitaan bagi diri sendiri. Dalam pengertian yang lebih
sederhana, rela berkorban adalah sikap dan perilaku yang tindakannya
dilakukan dengan ikhlas serta mendahulukan kepentingan orang lain dari pada
kepentingan diri sendiri. Sikap rela berkorban ditunjukkan dengan cara
membiasakan merelakan sebagian kepentingan kita untuk kepentingan orang
lain atau kepentingan bersama. Partisipasi dalam menjaga keutuhan NKRI
dapat dilakukan dengan hal-hal sebagai berikut:
a. Partisipasi tenaga
b. Partisipasi pikiran

C. PERAN NU DALAM MEMPERJUANGKAN DAN


MEMPERTAHANKAN KEUTUHAN NKRI
Sejak berdiri, Nahdlatul Ulama menegaskan dirinya sebagai organisasi
keagamaan Islam (Jamiyyah Diniyyah Islamiyah). Nahdlatul Ulama didirikan
untuk meningkatkan mutu pribadi-pribadi muslim yang mampu menyesuaikan
hidup dan kehidupannya dengan ajaran agama Islam serta mengembangkannya,
sehingga terwujudlah peranan agama Islam dan para pemeluknya sebagai
rahmatan lil alamin (sebagai rahmat bagi seluruh alam) sebagaimana firman
Allah SWT :

Artinya : Tidaklah Kami mengutusmu (Muhammad) kecuali menjadi
rahmat bagi seluruh alam. (QS. Ali Imran:107)
Sebagai organsasi keagamaan, Nahdlatul Ulama merupakan bagian tak
terpisahkan dari umat Islam Indonesia yang senantiasa berusaha memegang teguh
prinsip persaudaraan (ukhuwah), toleransi (tasamuh), kebersamaan dan hidup
berdampingan antar sesama umat Islam maupun dengan sesama warga negara
yang mempunyai keyakinan atau agama lain untuk bersama-sama mewujudkan
cita-cita persatuan dan kesatuan bangsa yang kokoh dan dinamis
NU juga mendorong bagi semua orang berekonomi yang merupakan
perintah Allah SWT dan pelaksanaannya harus disesuaikan dengan ajaran dan
hukum agama. Berekonomi adalah sarana mutlak untuk memelihara kelangsungan
hidup dan di dalam hidup itulah orang dapat ibadah, berbuat sesuatu untuk
kepentingan agama, bangsa dan Negara.Islam mendorong secara tegas supaya
para pemeluknya memiliki harta benda yang berlebih dari kebutuhan pokoknya,
sehingga mampu melaksanakan kewajiban berzakat.
Nahdlatul Ulama tidak melupakan aspek ekonomi dalam program kerjanya
yang permanen, karena seluruh warganya berekonomi dan dalam berekonomi itu
harus ditaati dan diikuti ketentuan-ketentuan yang ditetapkan oleh agama.

Dalam Anggaran Dasar Nahdlatul Ulama pasal 6 huruf d ditegaskan bahwa


di bidang ekonomi, mengusahakan terwujudnya pembangunan ekonomi dengan
mengupayakan pemerataan kesempatan untuk berusaha dan menikmati hasil-hasil
pembangunan dengan mengutamakan tumbuh dan berkembangnya ekonomi
kerakyatan. Dengan demikian jelas bahwa kesejahteraan umat merupakan masalah
yang menjadi perhatian utama Nahdlatul Ulama dalam kiprahnya di bidang
ekonomi.
1. Peran Nahdlatul Ulama Dalam Bidang Pendidikan
Nahdlatul Ulama memaknai pendidikan tidak semata-mata sebagai
sebuah hak, melainkan juga kunci dalam memasuki kehidupan baru.
Pendidikan merupakan tanggung jawab bersama dan harmonis antara
pemerintah, masyarakat dan keluarga. Ketiganya merupakan komponen
pelaksana pendidikan yang interaktif dan berpotensi untuk melakukan
tanggung jawab dan harmonisasi.Fungsi pendidikan bagi Nahdlatul Ulama
adalah, satu, untuk mencerdaskan maNUsia dan bangsa sehingga menjadi
terhormat dalam pergaulan bangsa di dunia, dua, untuk memberikan wawasan
yang plural sehingga mampu menjadi penopang pembangunan bangsa.
2. Peran Nahdlatul Ulama Pada Masa Reformasi
Masa reformasi yang menjadi tanda berakhirnya kekuasaan pemerintahan
orde baru merupakan sebuah momentum bagi Nahdlatul Ulama untuk
melakukan pembenahan diri. Selama rezim orde baru berkuasa, Nahdlatul
Ulama cenderung dipinggirkan oleh penguasa saat itu. Ruang gerak Nahdlatul
Ulama pada masa orde baru juga dibatasi, terutama dalam hal aktivitas
politiknya.Pada masa reformasi inilah peluang Nahdlatul Ulama untuk
memainkan peran pentingnya di Indonesia kembali terbuka. Nahdlatul Ulama
yang merupakan ormas Islam terbesar di Indonesia, pada awalnya lebih
memilih sikap netral menjelang mundurnya Soeharto. Namun sikap ini
kemudian berubah, setelah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU)
7

mengeluarkan sebuah pandangan untuk merespon proses reformasi yang


berlangsung di Indonesia, yang dikenal dengan Refleksi Reformasi.
3. Peran Nahdlatul Ulama Dalam Bidang Politik
MeNUrut KH. Ahmad Mustofa Bisri, setidaknya ada 3 jenis politik
dalam pemahaman Nahdlatul Ulama, yaitu politik kebangsaan, politik
kerakyatan dan politik kekuasaan. Nahdlatul Ulama sejak berdiri memang
melakukan aktivitas politik, terutama dalam pengertian yang pertama, yakni
politik kebangsaan, karena Nahdlatul Ulama sangat berkepentingan dengan
keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).Dalam sejarah
perjalanan Indonesia, tercatat bahwa Nahdlatul Ulama selalu memperjuangkan
keutuhan NKRI. Selain dilandasi oleh nilai-nilai ke-Islam-an, kebijakankebijakan yang diambil oleh Nahdlatul Ulama juga didasari oleh nilai-nilai keIndonesia-an dan semangat nasionalisme yang tinggi.
Politik jenis kedua yang dijalankan oleh Nahdlatul Ulama yaitu politik
kerakyatan. Politik kerakyatan bagi Nahdlatul Ulama sebenarnya adalah
perwujudan dari prinsip amar maruf nahi munkar yang ditujukan kepada
penguasa untuk membela rakyat. Hal itulah yang kemudian diambil alih oleh
generasi muda Nahdlatul Ulama melalui LSM-LSM, ketika melihat Nahdlatul
Ulama secara struktural kurang peduli terhadap permasalahan yang
menyangkut kepentingan rakyat kecil.
Nahdlatul Ulama juga menjalankan politik jenis ketiga, yaitu politik
kekuasaan atau yang lazim disebut politik praktis. Politik kekuasaan
merupakan jenis politik yang paling banyak menarik perhatian orang Nahdlatul
Ulama. Dalam catatan sejarah, terlihat bahwa Nahdlatul Ulama pernah
mendapatkan kesuksesan dalam pemilu pertama di Indonesia pada tahun 1955.
Pada saat itu, dalam waktu persiapan yang relative sangat pendek, Partai
Nahdlatul Ulama yang baru keluar dari Masyumi dapat menduduki peringkat
ketiga setelah PNI dan Masyumi yang sangat siap waktu itu. Disusul pada
pemilu pertama orde baru pada tahun 1971, dimana Partai Nahdlatul Ulama
8

menduduki posisi kedua setelah Golongan Karya. Sejak saat itu banyak tokoh
Nahdatul Ulama yang terjun ke dunia politik praktis. Hal ini membawa dampak
negatif pada aktivitas penting Nahdlatul Ulama lainnya seperti dalam bidang
pendidikan, ekonomi, sosial dan dakwah yang menjadi terbengkalai.
Selanjutnya dalam merespon perkembangan politik pada masa reformasi,
Nahdlatul Ulama memfasilitasi pendeklarasian sebuah partai politik.
Pendeklarasian partai tersebut bertujuan untuk menyalurkan dan memproses
warga nahdliyin yang ingin berkiprah dalam politik praktis agar menjadi
politisi sejati, yang pada gilirannya menjadi negarawan.Pada sisi lain,
Nahdlatul Ulama memberikan kebebasan pada warganya untuk memasuki
partai politik manapun yang diyakininya dapat menjadikan dirinya sebagai
politisi sejati dan negarawan. Dengan catatan senantiasa mengacu pada etika
berpolitik nahdliyin yang didasarkan pada nilai-nilai Ahlussunnah Wal Jamaah
dan tidak kehilangan kesetiaan kepada cita-cita dan kepentingan Nahdlatul
Ulama

D. PANCASILA DAN NKRI DALAM PANDANGAN NAHDLATUL


ULAMA
Sebagaimana yang telah tercatat dalam perjalanan sejarah berdirinya
Nahdlatul Ulama` yang dilatar belakangi oleh faktor keagamaan dan faktor
kebangsaan, NU berupaya mempertahankan dan mengembangkan ajaran Islam
yang berhaluan Ahlussunnah Waljamaah di Indonesia. Meskipun demikian
NUtidak mengidealkan bentuk negara Islam Indonesia. Nahdlatul Ulama melalui
wakilnya, KH.Abdul Wahid Hasyim dalam tim sembilan PPKI ikut merumuskan
dan memutuskanPancasila sebagai dasar negara republik Indonesia.
Bagi NU, Pancasila dipandang bukan sebagai saingan agama apalagi
menggantikan posisi agama,melainkan sebagai falsafah bangsa sedangkan agama
merupakan wahyu yang berasal dari Allah SWT. Nahdlatul Ulama menerima
Pancasila sebagai asas tunggal dan dasar negara bukanlah merupakan akibat dari
9

tekanan politik dari pihak luar, dan sikapoportunis NU dalam melihat realitas
politik tetapi penerimaan yang positif karena Pancasila dinilai sah berlandaskan
dalil-dalil atau pendapat tradisional Islam.
Beberapa hal yang mendasari NU menerima Pancasila sebagai dasar negara
dan asas tunggal adalah karena sikap para Ulama NU yang bersifat Tasamukh
(toleran) dan tawasuth (moderat) yang memandang bahwaPancasila diangkatdari
nilai adat-istiadat,nilai-nilai budaya Indonesia,sertanilai-nilai religius yang

terdapat dalam pandangan hidupmasyarakat Indonesia sejak sebelum membentuk


negara. Disamping itu,faktor kerukunan dan saling menghormati antar komponen
dalam negara Indonesia merupakan hal yang lebih diutamakan dari pada sekedar
memaksakan diri membentuk Indonesia sebagai negara Islam. Pandangan ini
sangat relevan dengan kaidah Ushul Fiqhi yang akrab dalam idiom Dar`ul
Mafasid muqoddam `ala jalbil Mashalih.(Menghindari kerusakan/kehancuran
lebih diutamakan daripadamemperoleh kebaikan ).
Penerimaan NU terhadap Pancasila dan NKRI tidak bisa dipungkiri sangat
berharga bagi bangsa dan negara Indonesia khususnya terciptanya iklim persatuan
dan kesatuan diantara warga negara. Menurut penulis tidak bisa dibayangkan jika
sekian puluh juta warga NU dan Ulamanya berupaya untuk menjadikan Islam
sebagai dasar negara di Indonesia bersama para komunitas lain yang ingin
menjadikan Islam sebagai dasar negara atau mengembalikan Piagam jakarta
kedalam pembukaan UUD 1945, khususnya di era reformasi yang penuh dengan
keterbukaan sekarang ini. Tentunya hal ini sangat membuat persatuan dan
kesatuan NKRI rawan untuk terpecah belah sehingga dengan sendirinya sangat
merugikan bagi aktifitas kehidupan masyarakat di setiap sektor kehidupan.

10

PENUTUP

Umat Islam di Indonesia tumbuh dan berkembang seiring dengan


pertumbuhan dan perkembangan agama Islam di Tanah Air. Demikian juga
dengan Nahdlatul Ulama (NU) yang tumbuh dan berkembang dengan pesat di
Indonesia sejak dilahirkan pada 1926 hingga sekarang. NU adalah sebuah
organisasi (jamiyah) yang didirikan oleh para ulama dan mengumpulkan
komunitas umat Islam (jamaah) dengan berbagai karakteristik khusus yang
dimiliki. Kekhasan yang dimiliki NU menjadi modal utama dalammencirikan
dirinya di tengah pluralitas bangsa. Corak NU yang dikenal tradisional
(menghargai tradisi)moderat, toleran, sekaligus mengutamakan keselarasan ini
telah menjadi salah satu warna dari umatIslam Indonesia yang lebih majemuk.
Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, NU berdasarkan kepada
Ketuhanan yang Maha Esa, KemaNUsiaan yang adil dan beradab, Persatuan
Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam
permusyawaratan/perwakilandan Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia
(Pancasila). Wawasan kebangsaan (nasionalisme) yang dimiliki oleh NU tersebut
dapat dilihat pada setiap langkah dan kebijakan NU sejak dulu hingga sekarang
yang selalu mengutamakan kepentingan bangsa dan negara dan menjaga
kedaulatan serta keutuhan NKRI
11

Di tengah era globalisasi yang melahirkan ideologi kapitalisme, kedaulatan


wilayah NKRI menghadapitantangan dari upaya-upaya pencaplokan pulau-pulau
terpencil oleh negara lain. Hal ini dikarenakanwilayah Indonesia baik darat
maupun perairan memiliki kekayaan alam yang melimpah sehingga menjadi
sasaran negara lain. Salah satu contoh masalah yang masih terjadi hingga saat ini
adalah masalah Blok Ambalat dan Ambalat Timur yang diklaim Malaysia untuk
itu NU juga sangat berperan mempertahankan keutuhan NKRI di masa Indonesia
dipimpin oleh Presiden K.H. Abdurrahman Wahid yang juga Ketua Umum PBNU
1984-1999.
Merespon

berkembangnyaupaya

meNUmbuhkan

federalisme

yang

bertujuan mengganti bentuk negara kesatuan menjadi negarafederasi, NU merasa


perlu

untuk

meneguhkan

kembali

semangat

kebangsaan

Indonesia

denganmenyatakan bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)


merupakan bentuk final dari sistemkebangsaan di negara ini. Hal ini sebagaimana
telah ditetapkan dalam keputusan Muktamar NU ke-31 diBoyolali, Solo tahun
2004.Kedaulatan dan keutuhan NKRI seringkali terancam dengan munculnya
berbagai gerakan separatisme diberbagai tempat di Indonesia, misalnya adalah
yang terjadi di Aceh dan Papua. Menanggapi hal ini, para kiai NU mengadakan
Bahtsul Masail tentang gerakan separatisme. Dari perspektif konsep bughat
dalam fikih, para ulama NU menyimpulkan bahwa separatisme itu memang tidak
dibenarkan. Dalam fikih, gerakan separatisme meNUrut ulama NU, sering disebut
dengan alkhuruj an al-imam (membangkangterhadap penguasa).

12

Daftar Pustaka

Suryanegara, Ahmad Mansur. 2005. Mensyukuri Nikmat Kemerdekaan Republik


Indonesia. Majlis Al-Ihya Bogor.
13

Ismatullah Deddy, Gatara Sahid, A.A ; Ilmu Negara Mutahir Kekuasaan,


Masyarakat, Hukum dan Agama (Bandung`:Pustaka Attabdir : 2006).
Anwar Ali; Avonturisme NU.(Bandung: Hunaniora:2004).
Feillard Andree:NU vis--vis NegaraPencarian Isi, Bentuk, dan Makna.
(Yogyakarta:LKIS:2009).

14