Anda di halaman 1dari 27

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN

PADA PASIEN KATARAK
Dosen Pembimbing: Dr. Grido Handoko S.

Di Susun Oleh:
Kelompok 03
1.
2.
3.
4.

Ayu Kaprilia
Fathur Rozak (A)
Istatutik Nabillah
Lailatul Sya’diah

(14201.06.140)
(14201.06.140)
(14201.06.14022)
(14201.06.14025)

PRODI S1 KEPERAWATAN
STIKES HAFSHAWATY ZAINUL HASAN GENGGONG

PROBOLINGGO
2015-2016
HALAMAN PENGESAHAN

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN
PADA PASIEN DENGAN KASUS KATARAK

Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Ajar
SISTEM PERSEPSI SENSORI

Mengetahui,
Dosen Mata Ajar

Dr. Grido Handoko S.

KATA PENGANTAR

sebagai ketua STIKES Hafshawaty Zainul Hasan Genggong 3. atas segala limpah rahmat dan hidayahnya. Hasan Mutawakkil Alallah. yakni Nabi Muhammad SAW.MM sebagai pengasuh pondok pesantren Zainul Hasan Genggong 2. Adapun maksud penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas di STIKES Hafshawaty. Oleh karena itu. Grido Handoko S. Probolinggo. sebagai Ketua Prodi S1 Keperawatan 4. KH. Achmad Kusyairi.Kes.Kep. Sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini. sebagai dosen mata ajar Sistem Persepsi Sensori Pada akhirnya atas penulisan materi ini kami menyadari bahwa sepenuhnya belum sempurna.Alhamdulillah kami panjatkan puja dan puji syukur kehadirat Allah SWT. kami juga tidak lupa menyampaikan ucapan terima kasih kepada: 1. Maret 2016 Penyusun . kami susun dalam bentuk kajian ilmiah dengan judul “Laporan Pendahuluan dan Asuhan Keperawatan Pada Pasien Katarak” dan dengan selesainya penyusunan makalah ini. Ns. Dr. Iin Aini Isnawaty. Ns. pejuang tangguh yang tak gentar menghadapi segala rintangan demi umat manusia. dan sholawat serta salam semoga selalu tercurah limpahkan kepada proklamator sedunia. kami dengan rendah hati mengharap kritik dan saran dari pihak dosen dan para audien untuk perbaikan dan penyempurnaan pada materi makalah ini. M. Moh. SH. M.

.........5 Manifestasi Klinis............................ BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2..............................................................6 Pemeriksaan Penunjang....................................1 Pengkajian.....................................................................................3 Etiologi.....................................1 Definisi............................................................................................2 Rumusan Masalah ......................................................................................4 Pathway................ BAB 3 ASUHAN KEPERAWATAN 3.................................................... DAFTAR ISI ..................................................2 Klasifikasi ............................ 2......................................................................... 1..........................................................4 Mamfaat ........................................................................................................ .................... 2..........1 Latar Belakang ............... 2............................................................................................ 2.................................................. BAB 1 PENDAHULUAN 1................................ KATA PENGANTAR....... 2........................................................................................................................................................ HALAMAN PENGESAHAN......3 Tujuan .............................................................. 1................................................................. .....DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL......................... 2................................................................................................................................... 1.............................................................7 Penatalaksanaan..................... .....................................

4 Implementasi ........................................................................................................................3...................................... DAFTAR PUSTAKA ............................ BAB 4 PENUTUP 4.......... 4...... 3............................................................... 3....................................................2 Saran..............3 Intervensi Keperawatan.............1 Kesimpulan.............2 Diagnosa Keperawatan....................................................

1 Latar Belakang Katarak adalah perubahan lensa mata yang tadinya jernih dan tembus cahaya menjadi keruh. Bila terjadi proses katarak. peka atau silau terhadap cahaya sehingga mata hanya merasa nyaman bila melihat pada malam hari. yaitu 2. paparan sinar ultra violet dan faktor gizi. Gejala awal biasanya ditandai adanya penglihatan ganda.BAB 1 PENDAHULUAN 1.000 . maka penderita akan merasa adanya gangguan penglihatan.18 per 10. lensa menjadi buram seperti kaca susu. meningkat menjadi 3. Gejala gangguan penglihatan penderita katarak tergantung dari letak kekeruhan lensa mata. Lensa mata yang normal adalah jernih. dari hasil penelitian yang dilakukan di Inggris pada tahun 1995-1996. Penelitian-penelitian potong-lintang mengidentifikasi adanya katarak pada sekitar 10 % orang Amerika Serikat. Bila kekeruhan terdapat pada bagian tengah lensa. Insidensi kumulatif selama 5 tahun adalah 3. Bila katarak terdapat di bagian pinggir lensa.49 per 10. maka tajam penglihatan akan terganggu. dan prevalensi ini meningkat sampai sekitar 50 % untuk mereka yang berusia antara 65 dan 74 tahun dan sampai sekitar 70 % untuk mereka yang berusia lebih dari 75 tahun. didapatkan hasil bahwa insidensi dari katarak kongenital dan infantil tertinggi pada tahun pertama kehidupan. Katarak menyebabkan penderita tidak bisa melihat dengan jelas. Penyebabnya dapat faktor usia. Untuk katarak kongenital sendiri. Lensa mata penderita menjadi keruh dan tak tembus cahaya sehingga cahaya sulit mencapai retina dan akan menghasilkan bayangan yang kabur pada retina.46 per 10. Dan biasanya mata mengalami perubahan tajam penglihatan sehingga sering mengganti ukuran kaca mata. Sebagian besar katarak terjadi akibat adanya perubahan komposisi kimia lensa mata yang mengakibatkan lensa mata menjadi keruh.000 anak.000 dalam waktu .

katarak dibuang melalui pembedahan. Untuk mengetahui intervensi yang harus dibuat pada penyakit katarak 11.2 1.1 Tujuan Umum Untuk memahami tentang Asuhan Keperawatan pada pasien dengan kasus 1.2 Rumusan Masalah 1.3. Untuk mengetahui diagnosa yang muncul pada penyakit katarak 10.2.2.3 Apa etiologi dari penyakit katarak? 1.2.5 Apa saja manifestasi klinis dari katarak? 1. 5.2.3 Tujuan 1.2 Apa saja klasifikasi dari penyakit katarak? 1.2. 1. maka dilakukan pengobatan terhadap penyebab terjadinya katarak kongenital. akan tetapi juga didapatkan bahwa insidensi ini tidak diperbedakan oleh jenis kelamin dan tempat.2.2.2.3.4 Manfaat 1.15 tahun. Jika penyebabnya diketahui.4 Bagaimana pathway dari penyakit katarak? 1.11 Apa saja implementasi yang harus dilakukan pada penderita katarak? 1.2. Insidensi katarak bilateral lebih tinggi jika dibandingkan yang unilateral.6 Apa saja pemeriksaan penunjang yang dilakukan pada penderita katarak? 1.1 Apa definisi dari penyakit katarak? 1. 6.10 Apa saja intervensi yang harus dibuat pada penyakit katarak? 1.8 Apa saja pengkajian yang dilakukan pada penderita katarak? 1. 2. Katarak harus diangkat sesegera mungkin agar fungsi penglihatan bisa berkembang secara normal. yang diikuti dengan pemasangan lensa intraokuler.7 Bagaimana penatalaksanaan yang dilakukan pada penderita katarak? 1.2. 3.1 Bagi Institusi Pendidikan . Untuk mengetahui pengkajian yang dilakukan pada penderita katarak 9. Katarak Tujuan Khusus Untuk mengetahui definisi dari penyakit katarak Untuk mengetahui klasifikasi dari penyakit katarak Untuk mengetahui etiologi dari penyakit katarak Untuk mengetahui pathway dari penyakit katarak Untuk mengetahui manifestasi klinis dari penyakit katarak Untuk mengetahui pemeriksaan penunjang yang dilakukan pada penderita katarak 7. 4.4. Untuk mengetahui penatalaksanaan yang dilakukan pada penderita katarak 8.2.9 Apa saja diagnosa yang muncul pada penyakit katarak? 1. Untuk mengetahui implementasi yang harus dilakukan pada penderita katarak 1.

3. 1.2.4.4. 1. Bagi Mahasiswa Manfaat makalah ini bagi mahasiswa baik menyusun maupun pembaca adalah untuk menambah wawasan terhadap seluk beluk tentang penyakit katarak. . Bagi Tenaga Kesehatan (Perawat) Makalah ini bagi tenaga kesehatan khususnya untuk perawat adalah untuk mengetahui pentingnya bagaimana pelayanan yang tepat kepada pasien katarak.Makalah ini bagi Institusi pendidikan kesehatan adalah untuk mengetahui tingkat kemampuan mahasiswa sebagai peserta didik dalam menelaah suatu fenomena kesehatan yang spesifik tentang penyakit katarak.

Kandungan kalium lebih tinggi di lensa dari pada jaringan lain. 35% protein. tak berwarna dan transparan. Asam askorbat dan glutation terdapat dalam bentuk teroksidasi maupun tereduksi. sehingga lensa lama-kelamaan menjadi kurang elastic. serat-serat lamelar subepitel terus diproduksi. Sesuai dengan bertambahnya usia. Dibelakang iris lensa digantung oleh zonula ( zonula Zinnii) yang menghubungkan dengan korpus siliare. Anatomi Lensa . Tidak ada serat nyeri. Disebelah depan terdapat selapis epitel subkapsular.1. avaskular.Kapsul lensa adalah suatu membran semipermeabel yang dapat dilewati air dan elektrolit. dan sedikit sekali mineral yang biasa ada di jaringan tubuh lainnya. Tebal sekitar 4 mm dan diameternya 9 mm.1 Anatomi dan Fisiologi Lensa 2.BAB 2 PEMBAHASAN 2.1 Anatomi Lensa Lensa adalah suatu struktur bikonveks. Disebelah anterior lensa terdapat humos aquos dan disebelah posterior terdapat viterus. pembuluh darah ataupun saraf di lensa. Gambar 1. Nukleus lensa lebih keras daripada korteksnya. Lensa terdiri dari 65% air.

Kapsul lensa yang elastik kemudian mempengaruhi lensa menjadi lebih sferis diiringi oleh peningkatan daya biasnya. kemampuan refraksi lensa perlahan-lahan berkurang. Selain itu juga terdapat fungsi refraksi. otot-otot siliaris relaksasi.Dioptri.2 Fisiologi Lensa Fungsi utama lensa adalah memfokuskan berkas cahaya ke retina. Anatomi Lensa 2. Seiring dengan pertambahan usia. dan lensa untuk memfokuskan benda dekat ke retina dikenal sebagai akomodasi.1. menegangkan serat zonula dan memperkecil diameter anteroposterior lensa sampai ukurannya yang terkecil. otot siliaris berkontraksi sehingga tegangan zonula berkurang. lensa menyumbang +18. daya refraksi lensa diperkecil sehingga berkas cahaya paralel atau terfokus ke retina. . zonula. yang mana sebagai bagian optik bola mata untuk memfokuskan sinar ke bintik kuning.Gambar 2.0. Kerjasama fisiologik tersebut antara korpus siliaris. Untuk memfokuskan cahaya dari benda dekat. Untuk memfokuskan cahaya yang datang dari jauh.

2015) Katarak adalah opasitas lensa kristalina yang normalnya jernih. Smeltzer. pemajanan radiasi.2.2 Bedasarkan penyebabnya. (Kusuma. 2. Katarak traumatika Katarak terjadi akibat rudapaksa / trauma baik karena trauma tumpul maupun tajam.1999:207). katarak yang sudah terlihat pada usia < 1 tahun 2. dan benda asing. Hardhi. pamajanan yang lama sinar matahari (sinar UV).1 Berdasarkan pada usia. atau kelainan mata lain seperti uveitis anterior. yaitu penglihatan seperti tertutup aiar terjun akibat lensa yang keruh. 1999:208) 2. penyakit sistemis. seperti diabetes mellitus atau hipoparatiroidisme. penggunaan kortikosteroid jangka panjang.2 Definisi Katarak berasal dari bahasa Yunani “kataarrhakies” yang berarti air terjun. Katarak senil. denaturasi protein lensa / akibat keduanya (Ilyas. Dalam bahasa Indonesia.3 Klasifikasi 2.3. Dapat juga berhubungan dengan trauma mata tajam maupun tumpul. Rudapaksa ini dapat mengakibatkan katarak pada satu mata (katarak monocular). (Suzanne C. Katarak juvenile. radioaktif. Katarak kongenital. Katarak toksika . Katarak adalah kekeruhan pada lensa mata yang menyebabkan gangguan penglihatan. Katarak adalah setiap keadaan kekeruhan pada lensa yang dapat terjadi akibat hidrasi (penambahan cairan) lensa. Biasanya terjadi akibat proses penuaan tapi dapat timbul pada saat kelahiran (katarak kongenital. 2001) 2. Penyebab katarak ini antara lain karena radiasi sinarX. katarak setelah usia 50 tahun (Ilyas. Biasanya kekeruhan mengenai kedua mata dan berjalan progresif ataupun dapat tidak mengalami perubahan dalam waktu yang lama. katarak dapat diklasifikasikan menjadi: 1. katarak yang terjadi sesudah usia 1 tahun 3. katarak dapat dibedakan menjadi: 1. katarak disebut bular.3.

3. glaucoma. atau akibat kelainan local seperti uveitis.3 Berdasarka stadium. Belum terjadi gangguan tajam penglihatan. menyebabkan terjadinya myopia.Merupakan katarak yang terjadi akibat adanya pajanan dengan bahan kimia tertentu. Sudut bilik mata depan dapat tertutup sehingga mungkin timbul glaucoma sekunder. Iris dalam posisi biasa disertai kekeruhan ringan pada lensa. Pada stadium ini. dan iris terdorong ke depan serta bilik mata depan menjadi dangkal. 3. katarak senil dapat dibedakan menjadi: 1. 3. Katarak insipient Merupakan stadium awal katarak yaitu kekeruhan lensa masih berbentuk bercak-bercak kekeruhan yang tidak teratur. Selain itu. Katarak imatur Lensa mulai menyerap cairan sehingga lensa agak cembung. 2. proses degenerasi belum menyerap cairan sehingga bilik mata depan memiliki kedalaman normal. Katarak matur . Katarak komplikata Katarak terjadi akibat gangguan sistemik seperti diabetes mellitus. Klien mengeluh gangguan penglihatan seperti melihat ganda pada penglihatan satu mata. dan myopia atau proses degenerasi pada satu mata lainnya. katak ini dapat juga terjadi karena penggunaan obat seperti kortikosteroid dan chlorpromazine. hipoparatiroidisme. 2.

terjadi kekeruhan lensa. Bahan lensa dapat menutup jalan keluar cairan bilik mata depan sehingga timbul glaucoma fakolitik. Katarak kongenitalis bisa merupakan penyakit keturunan (diwariskan secara autosomal dominan) atau bisa disebabkan oleh:  Infeksi congenital  Berhubungan dengan penyakit metabolic. 4. Pada stadium ini. 2. seperti galaktosemia . Tajam penglihatan sudah menurun dan hanya tinggal proyeksi sinar positif. terjadi proses degenerasi lanjut lensa dan morteks lensa dapat mencair sehingga nucleus lensa tenggelam di dalam korteks lensa. Tekanan cairan dalam lensa sudah dalam keadaan seimbang dengan cairan dalam mata sehingga ukuran lensa akan normal kembali. Katarak hipermatur Pada stadium ini.Merupakan proses degenerasi lanjut lensa.4 Etiologi Katarak kongenitalis adalah katarak yang ditemukan pada bayi ketika lahir (atau beberapa saat kemudian). Pada stadium ini. dapat juga terjadi degenerasi kapsul lensa sehingga bahan lensa maupun korteks lensa yang cair dapat masuk ke dalam bilik mata depan.

sinar UV) . Fisik 2. Diabetes Mellitus 8. Kadar kalsium yang rendah 7. Pemakaian kortikosteroid jangka panjang 9.Factor resiko terjadinya katarak kongenitalis adalah:  Penyakit metabolic yang diturunkan  Riwayat katarak dalam keluarga  Infeksi virus pada ibu ketika bayi masih dalam kandungan Banyak penderita katarak yang hanya mengalami gangguan penglihatan yang ringan dan tidak sadar bahwa mereka menderita katarak. Infeksi virus di masa pertumbuhan janin 5. Usia 6. Berbagai penyakit peradangan dan penyakit metabolic 10. Genetik dan gangguan perkembangan 4. Kimia 3. penyinaran. Katarak disebabkan oleh berbagai factor seperti: 1. Factor lingkungan (trauma.

dapat diperkirakan adanya katarak dalam berbagai derajat. tampak lebih nyata. sedangkan kadunga kalium. Penyelidikan epidemiologi menunjukkan bahwa di daerah-daerah yang sepanjang tahun selalu ada sinar matahari yang kuat. Kandungan natrium dan kalsium bertambah. Akhir-akhir ini. atau penyulit penyakit mata local menahun. dan penyebab maupun implikasinya tidak diketahui. Pengobatan katarak adalah denga tindakan pembedahan: setelah pembedahan. Usaha mempercepat / memperlambat perubahan kimiawi ini denga cara pengobatan belum berhasil. lensa digantidengan kacamata afakia.2. asam askorbat dan protein berkurang. insiden kataraknya meningkatnya pada usia 65 tahun atau lebih.5 Patofisiologi Katarak umumnya merupakan penyakit usia lanjut dan pada usia di atas 70 tahun. Lensa ynag mengalami katarak tidak mengandung glutation. Lensa kontak / lensa tanam intraocular . Pada penelitian lebih lanjut. Secara kimiawi. peran radiasi sinau UV sebagai salah satu factor dalm pembentukan katarak senil. pembentukan katarak ditandai oleh berkurangnya ambilan oksigen dan bertambahnya air yang kemudian diikuti dengan dehidrasi. namun katarak dapat juga diakibatkan oleh kelainan kongenital. ternyata sinar UV memang mempunyai efek terhadap lensa.

susu Protein lensa berkoagulasi Hilangnya transparansi lensa Membentuk daerah keruh Protein lensa terputus di sertai Lensa menjadi cembung menggantikan serabut 2 dengan influx air ke lensa iris terdorong kedepan protein Bluires vision Pandangan >jelas malam hari Sudut bilik mata depan Kekeruhan lensa Mata berair menjadi patah sempit Aliran COA tak lancar Serabut lensa yang tegang Sinar terpantul kembali Blocking sinar yang masuk Transmisi sinar terganggu kornea Komplikasi glaukoma TIO meningkat Banyangan tidak sampai Resiko cedera Resiko infeksi keretina ketakutan Gangguan sensori perceptual (vlsul) Pandangan kabur Bayangan semu yang Menghambat jalan cahaya sampai ke retina keretina Otak memprentasikan sebagai bayangan berkabut Pandangan berkabut .PATHWAY Katarak Usia penuaan Penyakit sistemik DM Daya akomodasi Lensa secara bertahap Korteks memproduksi lensa terganggu kehilangan air serat lensa baru Pupil kontriksi Metabolit larut air dengan BM rendah masuk ke sel pada nucleus Serat lensa ditekan menuju Distensi lensa tertampung banyak Kortek lensa >terhidrasi dari pada siang hari pada nucleus lensa Serbitol menetap di dalam lensa sentral lensa Sinar tidak Kadar glukosa darah meningkat Ketidak seimbangan metabolism protein mata Protein dalam serabut 2 lensa dibawah kapsul mengalami daturasi Mata buram seperti kaca.

Pada beberapa orang. sangat keruh. Kekeruhan lensa ini mengakibatkan lensa tidak transparan sehingga pupil akan berwarna putih / abu-abu. Akan tetapi. Lensa yang sedang dalam proses pembentukan katarak ditandai dengan adanya sembap lensa. Jika kandungan airnya maksimal dan kapsul lensa teregang. Hal ini disebabkan oleh adanya distorsi bayangan karena kekeruhan sebagian lensa. Pada mata. terjadinya perubahan lensa sesuai dengan tahap perkembangan katarak. penurunan tajam penglihatan tidak sebanding dengan derajat kekeruhan lensa. katarak stadium dini dapat dipantau dengan oftalmoskop. Sebagian besar katarak tidak dapat dilihat oleh pengamat yang awam sampai kekeruhannya sydah cukup padat (matur atau hipermatur) yang menyebabkan kebutaan. lup. Pada umumnya. Klien katarak mengeluh penglihatan seperti berasap dan tajam penglihatan menurun secara progresif. tetapi yang bersangkutan masih dapat melihat cukup baik untuk kerja sehari-hari. Walaupun demikian. sampai akhirnya reflex fundus negative. Semakin padat kekeruhan lensa. herediter) atau kelainan kongenital mata. semakin sulit memantau fundus okuli. Kekeruhan lensa pada katarak imatur (insipient) tipis. secara klinis ditemukan katarak yang bermakna. atau lampu celah dengan pupil yang telah dilebarkan. akan tampak .6 Manifestasi Klinis Katarak dapat ditemukan dalam keadaan tanpa adanya kelainan mata / sistemik / kelainan (katarak senil. Katarak hipermatur (katarak lanjut) ditandai keluarnya air meninggalkan lensa yang relative mengalami dehidrasi. katarak ini dinamakan intumesens (sembap). perubahan protein. dan terganggunya kesinambungan normal serabut-serabut lensa. katarak sudah masak dan pupilnya tampak putih. ditentukan oleh tajam penglihatan secara langsung sebanding dengan kepadatan katarak. Pada kasus lain. dan kapsulnya keriput. jika diperiksa memakai oftalmoskop atau lampu celah. pada katarak matur. Tingkatan klinis terjadinya katarak dengan asumsi tidak adanya penyakit lain. juvenile. (perkembangan agak lanjut) kekeruhan lensa sudah sempurna dan agak sembap. nekrosis. Pada tahap ini.2.

penglihatan ke retina 2. Lapang penglihatan : penurunan mungkin karena massa tumor.7 Pemeriksaan Penunjang 1. Oftalmoskopi : mengkaji struktur internal okuler. Penglihatan akan suatu objek benda atau cahaya menjadi kabur dan buram. LED : menunjukkan anemi sistemik / infeksi 8. 2. tes toleransi glukosa : control DM . akueus / vitreus humor. 6. misalnya cahaya putih yang ditangkap menjadi cahaya kuning 8. lensa. Darah lengkap. Tanda dan Gejala Katarak: 1. lipid. EKG. 5. Tes provokatif : menentukan adanya / tipe glaucoma 6. dan tonometer selain pemeriksaan prabedah yang diperlukan lainnya. atrofi lempeng optic. Warna cahaya memudar dan cenderung berubah warna saat melihat. Kesulitan melihat ketika malam hari Mata terasa sensitive bila terkena cahaya Bayangan cahaya yang ditangkap seperti sebuah lingkaran Membutuhkan pasokan cahaya yang cukup terang untuk membaca atau beraktifitas lainnya. Kartu mata snellen / mesin telebinokuler : mungkin terganggu dengan kerusakan kornea. Sering mengganti kacamata atau lensa kontak karena sudah merasa tidak nyaman menggunakannya 7. Jika melihat hanya dengan satu mata. kesalahan refraksi. papiledema. funduskopi pada kedua mata bila mungkin. Kekeruhan ini juga ditemukan pada berbagai lokasi di lensa seperti korteks dan nucleus. kolesterol serum. Bayangan benda terlihat seakan seperti bayangan semu atau seperti asap. bayangan benda atau cahaya terlihat ganda 2. Pengukuran gonioskopi membedakan sudut terbuka dari sudut tertutup glukoma 5. 3. glukoma 3. perdarahan 7. karotis. 4. Pengukuran tonografi : TIO (12-25 mmHg) 4.kekeruhan lensa dalam beragam bentuk dan tingkat. penyakit system saraf. Pemeriksaan yang dilakukan pada klien katarak adalah pemeriksaan dengan lampu celah (splitlamp).

pasien dengan kekeruhan di bagian perifer lensa (area pupil masih jernih) dapat diinstruksikan menggunakan pencahayaan yang terang. dapat berubah sangat cepat. menghindari radiasi (inframerah atau sinar-X) dapat memperlambat atau mencegah terjadinya proses kataraktogenesis 2. Penggunaan kacamata gelap. menghentikan konsumsi obat-obatan yang bersifat kataraktogenik seperti kortikosteroid. Indikasi visus 2. Pengaturan pencahayaan.8 Penatalaksanaan Meski telah banyak usaha yang dilakukan untuk memperlambat progresivitas atau mencegah terjadinya katarak. hal ini akan memberikan hasil yang baik dan nyaman apabila beraktivitas di luar ruangan d. Indikasi kosmetik 2. Refraksi. dan miotik kuat. Terapi Penyebab Katarak Pengontrolan DM. tatalaksana masih tetap dengan pembedahan. Penilaian terhadap perkembangan visus pada katarak insipient dan imatur a. Mansjoer) 2. Indikasi medis 3.8. Midriatil. pada pasien dengan kekeruhan lensa di bagian sentral.2 Penatalaksanaan Non-Bedah 1. cahaya remang yang ditempatkan di samping dan sedikit di belakang kepala pasien akan memberikan hasil terbaik c. Memperlambat progresivitas 3.8.2. (Vaughan DG & Arif. Midriatil seperti fenilefrin 5% atau tropikamid 1% dapat memberikan penglihatan yang jelas . Berbeda dengan kekeruhan yang bagian sentral lensa. dilatasi pupil akan memberikan efek positif pada lataral aksial dengan kekeruhan sedikit. sehingga harus sering dikoreksi b.1 Penatalaksanaan Bedah Indikasi penatalaksanaan bedah pada kasus katarak mencakup: 1. fenotiasin.

Riwayat penyakit trauma mata. Miopisasi Perkembangan katarak pada awalnya di dapat meningkatkan kekuatan dioptri lensa. Ketergantungan pasien presbiopia pada kacamata bacanya akan berkurang karena pasien ini mengalami penglihatan kedua. Umur. Pengkajian 1. hal ini mungkin disebabkan adanya daya kontriksi pupil yang kuat. Ketajaman penglihatan dekat lebih sering menurun jika dibandingkan dengan ketajaman penglihatan jauh. Psikososial: kemampuan aktivitas. Katarak imatur dari sekitar 6/9 sampai 1/60. pada katarak matur hanya 1/300 sampai 1/~. b.ASUHAN KEPERAWATAN TEORI A. penyakit DM. dan cendrung diatasi dengan ekstraksi katarak. 2. Riwayat pekerjaan. biasanya menyebabkan derajat myopia yang ringan hingga sedang. Namun setelah sekian waktu bersamaan dengan memburuknya kualitas lensa. glaucoma b. hipotiroid. . uveitis. Pemeriksaan Fisik Khusus pada Mata a. Penglihatan menurun tergantung pada derajat katarak. Riwayat keluhan gangguan: stadium katarak c. Riwayat a. Perkembangan miopisasi yang asimetris pada kedua mata akan menyebabkan anisometropia yang tidak dapat dikoreksi lagi. Penurunan ketajaman penglihatan Katarak seringkali berkaitan dengan terjadinya penurunan ketajaman penglihatan. risiko jatuh. berkendaraan. katarak bisa terjadi pada semua umur tetapi umumnya pada usia lanjut. Anamnesa a. d. gangguan membaca. rasa nyaman ini berangsur menghilang dan diikuti dengan terjadinya katarak sklerotik nuclear. penggunaan obat kortikosteroid. pada pekerjaan laboratorium atau yang berhubungan dengan bahan kimia atau terpapar radioaktif/sinar-X 3. baik untuk melihat jauh maupun dekat.

Orientasikan klien terhadap ruang rawat b. Ansietas berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang kejadian operasi Diagnosa Keperawatan Pascaoperasi 1. Klien mengidentifikasi factor-faktor yang memengaruhi fungsi penglihatan b. Penurunan persepsi sensori: penglihatan berhubungan dengan penurunan tajam penglihatan dan kejelasan penglihatan 2. kehilangan vitreus 2. Klien mengidentifikasi dan menunjukkan pola-pola alternative untuk meningkatkan penerimaan rangsangan penglihatan Intervensi: 1. Gangguan perawatan diri berhubungan dengan penurunan penglihatan. Letakkan alat di tempat yang tetap e. Penurunan persepsi sensori: penglihatan berhubungan dengan penurunan tajam penglihatan dan kejelasan penglihatan Tujuan: Klien melaporkan atau memeragakan kemampuan yang lebih baik untuk proses rangsang penglihatan dan mengomunikasikan perubahan visual Kriteria Hasil: a. Berikan pencahayaan cukup d. Diagnosa Keperawatan Diagnosa Keperawatan Preoperasi 1. Identifikasi alternative untuk optimalisasi sumber rangsangan 3. Nyeri berhubungan dengan luka pascaoperasi 3. Sesuaikan lingkungan untuk optimalisasi penglihatan: a. Letakkan alat yang sering digunakan di dekat klien atau pada sisi mata yang lebih sehat c. Intervensi Keperawatan Intervensi Diagnosa Keperawatan Preoperasi 1. Risiko ketidakefektifan penatalaksanaan regimen terapeutik berhubungan dengan kurang pengetahuan. Kaji ketajaman penglihatan klien 2. pembatasan aktivitas pascaoperasi 4. Risiko cedera berhubungan dengan peningkatan tekanan intraocular (TIO). perdarahan.B. kurang sumber pendukung C. Hindari cahaya menyilaukan .

Tempatkan klien pada tempat tidur yang lebih rendah dan anjurkan untuk membatasi pergerakan mendadak menggerakkan kepala berlebih 3. Klien berpartisipasi dalam persiapan operasi Intervensi: 1. Nyeri berhubungan dengan luka pascaoperasi Tujuan: . manfaat operasi. taktil 2. kehilangan vitreus Tujuan: Tidak terjadi cedera mata pascaoperasi Kriteria Hasil: a. perdarahan. Diskusikan rasa sakit. pembatasan aktivitas dan pembalutan mata 2. Risiko cedera berhubungan dengan peningkatan tekanan intraocular (TIO). Ajarkan klien untuk menghindari / tindakan tiba-tiba yang serta dapat menyebabkan cedera 5. Klien menyebutkan factor yang menyebabkan cedera b.dan pascaoperasi. Amati kondisi mata: luka menonjol.f. Klien tidak melakukan aktivitas yang meningkatkan risiko cedera Intervensi: 1. Informasikan bahwa perbaikan penglihatan tidak secara langsung. Anjurkan penggunaan alternative rangsang lingkungan yang dapat diterima: auditorik. tetapi bertahap sesuai penurunan bengkak pada mata dan perbaikan kornea. Perbaikan penglihatan memerlukan waktu 6 bulan atau lebih Intervensi Diagnosa Keperawatan Pascaoperasi 1. dan sikap yang harus dilakukan klien selama masa operasi 2. bilik mata depan menonjol. Bantu aktivitas selama fase istirahat 4. Jawab pertanyaan khusus tentang pembedahan. Ansietas berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang kejadian operasi Tujuan: Tidak terjadi kecemasan Kriteria Hasil: a. Berikan waktu untuk mengekspresikan perasaan. Klien mengungkapkan kecemasan hilang atau minimal b. nyeri mendadak setiap 6 jam pada awal operasi dan seperlunya 2. Jelaskan gambaran kejadian pre.

libatkan klien dalam memenuhi kebutuhan diri 4.Nyeri berkurang. Anjurkan klien untuk tidak melakukan gerakan tiba-tiba yang dapat memprovokasi nyeri 4. Risiko ketidakefektifan penatalaksanaan regimen terapeutik berhubungan dengan kurang pengetahuan. Terangkan bernbagai kondisi yang perlu dikonsultasikan . Klien mendapatkan bantuan parsial dalam pemenuhan kebutuhan diri b. Ajarkan teknik distraksi dan relaksasi 5. Terangkan aktivitas yang diperbolehkan dan dihindari (minimal untuk 1 minggu) untuk mencegah komplikasi pascaoperasi 3. Klien melaporkan nyeri berkurang atau hilang Intervensi: 1. Kolaborasi untuk pemberian analgesic topical / sistemik 3. pembatasan aktivitas pascaoperasi Tujuan: Kebutuhan perawatan diri klien terpenuhi Kriteria Hasil: a. Kaji tingkat pengetahuan klien tentang perawatan pascahospitalisasi 2. Keluarga menyatakan siap untuk mendampingi klien dalam melakukan perawatan Intervensi: 1. kurang sumber pendukung Tujuan: Perawatan rumah berjalan efektif Kriteria Hasil: a. Terngkan pentingnya perawatan diri dan pembatasan aktivitas selama fase pascaoperasi b. Anjurkan klien untuk melaporkan perkembangan nyeri setiap hari atau segera saat terjadi peningkatan nyeri mendadak 3. Bantu klien untuk memenuhi kebutuhan perawatan diri c. Klien mendemonstrasikan teknik penurunan nyeri b. Gangguan perawatan diri berhubungan dengan penurunan penglihatan. Klien mampu mengidentifikasi kegiatan perawatan rumah (lanjutan) yang diperlukan b. Kaji skala nyeri 2. hilang. dan terkontrol Kriteria Hasil: a. Klien memeragakan perilaku perawatan diri secara bertahap Intervensi: a. Secara bertahap.

7.4. Terngkan cara penggunaan obat-obatan Berikan kesempatan bertanya Tanyakan kesiapan klien untuk perawatan pascahospitalisasi Identifikasi kesiapan keluarga dalam perawatan diri klien pascahospitalisasi . 6. 5.

dapat terjadi penglihatan ganda pada satu mata memerlukan pencahayaan yang baik untuk dapat membaca. Tajam penglihatan dikaitkan dengan tugas sehari-hari penderita. . iodium tetes. lensa mata berubah menjadi buram seperti kaca susu. denaturasi protein lensa atau terjadi akibat kedua-duanya. dan Katarak senilis katarak setelah usia 50 tahun. Pengobatan yang diberikan biasanya hanya memperlambat proses.1 Kesimpulan Katarak adalah setiap keadaan kekeruhan pada lensa yang dapat terjadi akibat hidrasi (penambahan cairan) lensa. Untuk menentukan kapan katarak dapat dibedah ditentukan oleh keadaan tajam penglihatan. Katarak juvenile. Penatalaksanaan pada katarak adalah tindakan pembedahan. Berdasarkan usia dapat diklasifikasikan dalam: Katarak kongenital. tetapi tidak menghentikan proses degenerasi lensa. peka terhadap sinar atau cahaya. Beberapa obat-obatan yang digunakan untuk menghambat proses katarak adalah vitamin dosis tinggi.BAB 3 PENUTUP 3. namun dapat dilakukan pencegahan terhadap hal-hal yang memperberat seperti mengontrol penyakit metabolik. Pengobatan pada katarak adalah pembedahan. Katarak senilis tidak dapat dicegah karena penyebab terjadinya katarak senilis ialah disebabkan oleh faktor usia. Katarak yang sudah terlihat pada usia dibawah 1 tahun. kalsium sistein. mencegah paparan langsung terhatap sinar ultraviolet dengan menggunakan kaca mata gelap dan sebagainya. Gejala umum gangguan katarak meliputi penglihatan tidak jelas seperti terdapat kabut menghalangi objek. Apabila dibiarkan katarak akan menimbulkan gangguan penglihatan dan komplikasi seperti glaukoma. uveitis dan kerusakan retina. Biasanya kekeruhan mengenai kedua mata dan berjalan progresif ataupun dapat tidak mengalami perubahan dalam waktu yang lama. Katarak yang terjadi sesudah usia 1 tahun.

penanganan medis yang tepat. Karena efek penundaan penanganan dapat berakibat buruknya prognosis dan kemungkinan berkembangnya berbagai komplikasi .3. Oleh karena begitu pentingnya fungsi lensa mata. serta asuhan keperawatan yang segera sangat dibutuhkan untuk menangani pasien dengan kelainan gangguaan lensa (katarak).2 Saran Katarak adalah kekeruhan pada lensa mata yang menyebabkan gangguan penglihatan.

Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: EGC Wijana. Ilmu Penyakit Mata Edisi Ketiga. Cetakan ke-6. Lens and Cataract. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2001. Anas. 2005. 2008-2009. Sidarta. American Academy of Ophtalmology: AAO Smeltzer. Ilmu Penyakit Mata. Nana S. Suzanne C. San Fransisco.D.DAFTAR PUSTAKA Ilyas. 2010. Klien Gangguan Mata dan Penglihatan: Keperawatan Medikal-Bedah. 1993. Jakarta:EGC Tamsuri. Jakarta: Penerbit Abadi Tegal .