Anda di halaman 1dari 28

SALINAN

PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP

NOMOR 21 TAHUN 2008

TENTANG

BAKU MUTU EMISI SUMBERTIDAK BERGERAK BAGI USAHA DAN/ATAU

KEGIATAN PEMBANGKIT TENAGA LISTRIK TERMAL

MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP,

Menimbang

a. bahwa dalam rangka 'p eles tarian fungsi lingkungan
hidup -perlu dilakukan upaya pengendalian terhadap
usaha
'dan ,' atau ,kegiatan
yang
berpotensi
menimbulkan pencemaran danjatau kerusakan
lingkungan hidup;
"
b. bahwa usaha danjatau kegiatan pembangkit tenaga
listrik termal berpotensi menimbulkan pencemaran
udara oleh karena itu periu dilakukan pengendalian
terhadap emisi gas yang di buang ke udara;

c. bahwa baku mutu emisi untuk pembangkit Iistrik
. tenaga uap berbahan bakar batu bara sebagaimana
tercantum dalarn Larnpiran III A dan Lampiran III B
Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup
Nomor: KEP-13jMENLHj03/1995 tentang Baku
Mutu Emisi ' Sumber Tidak Bergerak tidak sesuai
dengan perkembangan keadaan sehingga perlu
dilakukan penyempumaan;

d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana
dimaksud dalam huruf a, huruf b, dan huruf c,
perlu rnenetapkan Peraturan Menteri Negara
Lingkungan Hidup tentang Baku Mutu Emisi
Sumber Tidak Bergerak Bagi Usaha darr/ atau
Kegiatan Pembangkit Tenaga Listrik Termal.
Mengingat

L Undang-Undang Nomor 15 Tahun 1985 tentang
Ketenagalistrikan
(Lernbaran
Negara · Republik
Indonesia Tahun 1985 Nomor 74, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3317);

1


• '0

2 . Undang-Undang Nornor 23 tahun 1997 tentang
Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 68,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 3699);
3. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437)
sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang­
Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan
Kedua Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004
tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4844);

4. Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1989 tentang
Penyediaan dan Pemanfaatan Tenaga Listrik
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1989
Nomor 24, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 3394);
5. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang
Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup
{Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999
Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 3838) ;
6. Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 1999 tentang
Pengendalian Pencemaran Udara (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 86,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 3853);

7. Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 2005 tentang
Kedudukan, Tugas, Fungsi, Susunan Organisasi dan
Tata Kerja Kementerian Negara Republik Indonesia,
sebagaimana telah diubah terakhir dengan Peraturan
Presiden Nomor 94 Tahun 2006;

MEMUTUSKAN :
Menetapkan

PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP
TENTANG BAKU MUTU EMISI SUMBER TIDAK
BERGERAK BAGI USAHA DAN/ATAU KEGIATAN
PEMBANGKIT TENAGA LISTRIK TERMAL.

2

eair. 5. 7 . eair. gas. 80 Pencemaran udara adalah masuknya atau dimasukkannya zat. danl atau komponen lain ke dalam udara ambien oleh kegiatan manusia. Pusat Listrik Tenaga Diesel yang selanjutnya disingkat PLTD adalah suatu kegiatan yang IDemproduksi tenaga listrik dengan menggunakan bahan bakar eair (minyak) yang menghasilkan tenaga berupa gas hasil pembakaran udara terkompresi yang digunakan untuk mengubah energi gerak Luneur Piston menjadi energi putar pada poros engkol yang selanjutnya digunakan untuk menggerakkan turbin yang seporos dengan generator sehingga membangkitkan tenaga listrik. Pembangkit Tenaga Listrik Tennal adalah suatu kegiatan yang memproduksi tenaga listrik dengan menggunakan bahan bakar padat. sehingga mutu udara ambien turon sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan udara ambien tidak dapat memenuhi fungsinya.Pasall Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan : 1. Perencanaan adalah proses kegiatan rancang bangun yang dilakukan untuk melaksanakan pembangunan fisik usaha danjatau kegiatan pembangkitan tenaga listrik. danjatau gas. eair. eampuran antara padat. Pusat Listrik Tenaga Uap yang selanjutnya disingkat PLTU adalah suatu kegiatan yang mernproduksi tcnaga listrik dengan menggunakan bahan bakar padat. Pusat Listrik Tenaga Panas Bumi yang selanjutnya disingkat PLTP adalah kegiatan yang memproduksi tenaga listrik dengan memanfaatkan panas bumi yang selanjutnya digunakan untuk menggerakkan turbin yang seporos dengan generator sehingga membangkitkan tenaga listrik. Pusat Listrik Tenaga Gas dan Uap yang selanjutnya disingkat PLTGU adalah suatu kegiatan yang memproduksi tenaga listrik dengan menggunakan bahan bakar minyak atau gas yang menghasilkan gas hasil pembakaran yang digunakan untuk menggerakkan turbin yang seporos dengan generator sehingga membangkitkan tenaga listrik sedangkan sisa panas yang dihasilkan selanjutnya dimanfaatkan proses pemanasan air di unit Heat Recovery Steam Generator (HRSG) untuk memproduksi uap yang digunakan sebagai media penggerak turbin uap yang seporos dengan generator sehingga membangkitkan tenaga Iistrik. Pusat Listrik Tenaga Gas yang selanjutnya disingkat PLTG adalah suatu kegiatan yang memproduksi tenaga listrik dengan menggunakan bahan bakar minyak atau gas yang menghasilkan gas dari hasil pembakaran yang digunakan urituk menggerakkan turbin yang seporos dengan generator sehingga membangkitkan tenaga listrik. 4 . 2. 6 . 3. atau uap panas bumi. energi. darr/ atau gas untuk memanaskan air dalam ketel uap (boiler) yang memproduksi uap untuk menggerakkan turbin yang seporos dengan generator sehingga membangkitkan tenaga listrik. 3 .

Kondisi tidak normal adalah kondisi operasi di bawahj di luar parameter operasi normal kondisi rancang bangunjdesain namun masih dapat dikendalikan. PLTG.Emisi adalah zat. energi dany atau komponen lain yang dihasilkan dari suatu kegiatan yang masuk dan. Sumber emisi adalah setiap usaha danjatau kegiatan yang menge1uarkan emisi dari sumber bergerak. 9. dan PLTP. tepat dan terkoordinasi terhadap sistem peralatan atau proses yang di luar kondisi normal dan tidak normal. Kondisi darurat adalah kondisi yang memerlukan tindakan secara cepat. 17. 14.' atau dimasukkannya ke dalam udara ambien yang mempunyai danj atau tidak mempunya. Pasal2 Pembangkit tenaga listrik tennal terdiri atas PLTU. 19. 12. Pasal3 Setiap usaha darr/ atau kegiatan pembangkit tenaga listrik tennal wajib menaati baku mutu emisi sumber tidak bergerak bagi usaha danjatau kegiatan pembangkit tenaga listrik termal . Pembangkit berbahan bakar fosil adalah pembangkit yang menggunakan bahan bakar yang berasal dari proses pelapukan sisa­ sisa fosil yang berumur jutaan tahun di dalam peru t bumi. sumber bergerak spesifik. Sumber tidak bergerak adalah sumber emisi yang tetap pacta sua tu tempat. 11 . Kadar maksimum adalah kadar emisi gas buang tertinggi yang masih diperbolehkan dibuang ke udara ambien. 20. Pasal4 (1) Baku mutu emisi sumber tidak bergerak bagi usaha danjatau kegiatan pembangkit tenaga listrik termal sebagaimana dimaksud dalam Pasa13 terdiri atas: 4 . PLTD. Kondisi normal adalah kondisi operasi yang sesuai dengan parameter desain operasi sesuai kondisi rancang bangunjdesain. sumber tidak bergerak. 10 . Beban emisi maksimum adalah beban emisi gas buang tertinggi yang masih diperbolehkan dibuang ke udara ambien. Baku mutu emisi pembangkit tenaga listrik termal adalah batas kadar maksimum danj atau beban emisi maksimum yang diperbolehkan masuk atau climasukkan ke dalam udara ambien dari kegiatan pembangkit tenaga Iistrik termaL 13. PLTGU. 15. Menteri adalah menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pengelolaan lingkungan hidup.i potensi sebagai unsur pencemar. maupun sumber tidak bergerak spesifik. Pembangkit tenaga listrik termal yang beroperasi secara terus­ menerus adalah pembangkit listrik yang secara normal beroperasi selama 24 (dua puluh empat) jam sehari. 16. 18 .

baku mutu ernisi sumber tidak bergerak bagi usaha danj atau kegiatan PLTD sebagaimana tercantum dalam Lampiran IV A dan Lampiran IV B. c. baku mutu emisi dapat dilampaui sampai batas 5 % (lima persen] dari data rata-rata harlan selama 3 (tiga) bulan waktu operasi. Pasal6 (I) Pada kondisi normal. baku mutu emisi sumber tidak bergerak bagi usaha danj atau kegiatan PLTGU sebagaimana tercantum dalam Larnpiran III A dan Larnpiran III B. baku mutu emisi sumber tidak bergerak bagi usaha danj atau kegiatan Pusat Listrik berbahan bakar campuran adalah sebagaimana tercantum dalam Lampiran VI A dan Lampiran VI B. Pasal 7 (I) Pemerintahan daerah provinsi dapat menetapkan: a. berlaku baku mutu emisi sebagaimana tercantum dalam Lampiran A. berlaku baku mutu emisi sebagaimana tercantum dalam Lampiran A dan wajib memenuhi Baku Mutu Emisi sebagaimana tercantum dalam Larnpiran B paling lama tanggal 1 Januari 2015. perencanaannya disusun sebelum ditetapkannya Peraturan Menteri ini dan beroperasi setelah ditetapkannya Peraturan Menteri ini. e. baku mutu emisi sebagaimana tercantum dalam Lampiran Peraturan Menteri ini setiap saat tidak boleh clilampaui. (2) Bagi usaha danjatau kegiatan pembangkit tenaga listrik termal yang menggunakan cerobong yang memasang Continuous Emission Monitoring System (CEMSj. baku mutu emisi bagi usaha danjatau kegiatan pembangkit tenaga listrik termal dengan ketentuan sama atau Iebih ketat dari ketentuan sebagaimana tercantum dalam. (2) Lampiran sebagaimana dimaksud pacta ayat (I) merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.a. perencanaannya disusun dan beroperasi setelah ditetapkannya Peraturan Menteri ini berlaku baku mutu emisi sebagaimana tercantum dalam Lampiran B. darr/ atau 5 . baku mutu emisi sumber tidak bergerak bagi usaha danjatau kegiatan PLTU sebagaimana tercantum dalam Lampiran I A dan Larnpiran I B. d. b. dan f. telah beroperasi sebelum ditetapkannya Peraturan Menteri ini. baku mutu emisi sumber tidak bergerak bagi usaha danjatau kegiatan PLTG sebagaimana tercantum dalam Lampiran II A dan Lampiran II B. b. baku mutu emisi sumber tidak bergerak bagi usaha danjatau kegiatan PLTP sebagaimana tercantum dalam Lampiran V. Pasal S Bagi usaha danjatau kegiatan unit pembangkit tenaga listrik tennal sebagaimana dimaksud dalam Pasa14 ayat (1) yang: a. c. Lampiran Peraturan Menteri ini.

melakukan pengukuran parameter S02. d. untuk pembangkit berbahan bakar fosil dengan kapasitas di atas 25 MW yang clibangun sebelum diberlakukannya Peraturan Menteri ini. total partikulat. (3) Apabila dalam jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (2) Menteri tidak menyetujui atau menolak pennohonan penambahan parameter. 02. f. Opasitas. laju alir dan 02 secara manual bagi cerobong Iainnya yang tidak dipasang CEMS oleh laboratorium terakreditasi paling sedikit 1 (satu) kali dalam 6 (enam) bulan. melakukan pengelolaan emisi sehingga mutu emisi yang eli buang ke udara tidak melampaui baku mutu emisi yang telah ditetapkan. dan beroperasi secara terus­ menerus. Pasal8 Apabila hasil kajian Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL) atau rekomendasi Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UFL) bagi usaha darr/atau kegiatan pembangkit tenaga listrik termal mensyaratkan baku mutu emisi lebih ketat dari baku mutu emisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) atau Pasal 7. untuk kegiatan tersebut berlaku baku mutu emisi sebagaimana yang dipersyaratkan oleh AMDAL atau rekomendasi UKL dan UPL. membuang ernisi gas melalui cerobong yang dilengkapi dengan sarana pendukung pengambilan sampel dan alat pengaman sesuai peraturan perundang-undangan. opasitas.b. Pasal9 (1) Penanggung jawab usaha dan /arau kegiatan pembangkit tenaga listrik tennal kecuali PLTP wajib: a.. pennohonan dianggap disetujui. memasang alat Continuous Emission Monitoring System (CEMS) pada cerobong dengan beban pencemaran tertinggi. NOx. memasang alat Continuous Emission Monitoring System (CEMS) pada pembangkit berbahan bakar fosil dengan kapasitas diatas 25 MW atau kapasitas kurang dari 25 MW dengan kandungan Sulfur dalam bahan bakar le bih dari 2% dan beroperasi secara terus-menerus yang dibangun sesudah diberlakukannya Peraturan Menteri ini. b. c. mengukur parameter S02. NOx.CO dan laju alir serta menghitung C02 dan total partikulat bagi pengukuran emisi dengan Continuous Emission Monitoring System (CEMS). yang dihitung pada tahap awal perencanaan pemasangan. (2) Menteri dapat menyetujui atau menolak permohonan penambahan parameter yang diajukan oleh Pemerintahan daerah provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b paling lama 90 (sembilan puluh) hari kerja sejak diterimanya pennohonan. 6 . parameter tambahan di luar parameter sebagairnana tercantum dalam Lampiran Peraturan Menteri ini setelah menciapat persetujuan Menteri. e.

f. 1. h. total partikulat. e. d. k. (2) Penanggung jawab usaha danjatau kegiatan PLTP wajib: a . menangani kondisi tidak normal atau kondisi darurat sebagaimana dimaksud pacta huruf f dengan menjalankan prosedur perianganan yang telah ditetapkan. NOx. 1. melaporkan terjadinya kondisi tidak normal atau darurat dalam jangka waktu paling lama 7 x 24 jam kepada Menteri dan instansi teknis terkait. NOx. menyampaikan laporan hasil pemantauan dan pengukuran emisi sesuai format laporan sebagaimana tercantum dalam Lampiran IX yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini kepada bupatijwalikota dengan tembusan kepada gubernur dan Menteri setiap 6 (enam) bulan sekali.ur dan Menteri. melakukan pengelolaan emisi sehingga mutu emisi yang ill buang ke udara tidak melampaui baku mutu emisi yang telah ditetapkan. melaporkan terjadinya kondisi tidak normal atau darurat dalam jangka waktu paling lama 7 x 24 jam kepada Menteri dan instansi teknis terkait. menghitung beban emisi parameter H2S. NH3 dan C02 setiap satuan produksi listrik yang dihasilkan dan melaporkannya setiap 1 (satu) tahun sekali. total partikulat. melakukan pengukuran emisi parameter H2S dan NH3 secara manual di se1uruh menara pendingin oleh laboratorium terakreditasi paling sedikit 1 {satu) kali dalarn 6 (enam) bulan. sehingga tidak rnembahayakan keselamatan dan kesehatan manusia. c. dan C02 setiap satuan produksi listrik yang dihasilkan dan melaporkannya 1 (satu) kali daJam 1 (satu) tahun. memiliki sistem jaminan mutu (Quality Assurance) dan pengendalian mutu (Quality Controls untuk perhitungan beban ernisi parameter H2S. b. melaporkan hasil pemantauan dan pengukuran sesuai format laporan sebagaimana tercantum dalam Lampiran VII Peraturan Menteri ini setiap 6 (en am) bulan sekali untuk pengukuran secara manual kepada bupatijwalikota dengan tembusan kepada gubernur dan Menteri. g. melaporkan hasil pemantauan dan pengukuran sesuai format laporan sebagaimana tercantum dalam Lampiran VIII Peraturan Menteri ini setiap 3 (tiga) bulan sekali untuk pengukuran CEM8 kepada bupatijwalikota dengan tembusan kepada gubern. menangani kondisi tidak normal atau kondisi darurat sebagaimana dimaksud pada huruf k dengan menjalankan prosedur penanganan yang telah ditetapkan.g. serta tidak menimbulkan pencemaran danj atau perusakan lingkungan. memiliki sistern jaminan mutu (Quality Assurance) dan pengendalian mutu (Quality Controls untuk pengoperasian CEMS dan perhitungan beban ernisi parameter S02. NH3 dan C02. menghitung beban emisi parameter 802. sehingga tidak roembahayakan keselamatan 7 . dan C02. J.

lebih longgar dari baku mutu emisi sumber tidak bergerak sebagaimana tercantum dalam Lampiran Peraturan Menteri ini. dinyatakan tetap berlaku. Pasal13 Peraturan Menteri ini mulai berlaku pacta tanggal ditetapkan. ttd RACHMAT WITOELAR. atau b. baku mutu emisi untuk tenaga uap berbahan bakar batu bara sebagaimana tercantum dalam Lampiran III A dan Lampiran III B Keputusan Menteri Negara Lingkungan . wajib disesuaikan dengan baku mutu emisi sumber tidak bergerak sebagairnana tercantum dalam Lampiran Peraturan Menteri ini paling lama 1 (satu) tahun setelah ditetapkannya Peraturan Menteri illl. Pasal12 Pada saat Peraturan Menteri ini mulai berlaku.dan kesehatan manusia. 8 . serta tidak menimbulkan pencemaran danj atau perusakan lingkungan. Pasalll Baku mutu ennsr sumber tidak bergerak bagi usaha danjatau kegiatan sebagaimana dimaksud dalam Pasa14 ayat (1) yang telah ditetapkan: a. lebih ketat atau sama dengan baku mutu emisi sumber tidak bergerak sebagaimana tercantum dalam Lampiran Peraturan Menteri ini. Ditetapkan di Jakarta pacta tanggal: 01 Desember 2008 MENTERINEGARA LINGKUNGAN HIDUP. Hidup Nemer: KEP-13jMENLHj03j1995 tentang Baku Mutu Emisi Sumber Tidak Bergerak dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.

Desember 2008 BAKU MUTU EMISI SUMBER TIDAK BERGERAK PLTU No. Pemberlakuan baku mutu emisi untuk 95% waktu operasi normal selama 3 (tiga) bulan. Volume gas diukur dalam keadaan standar (25°C dan tekanan 1 atmosfer) .Lampiran I A Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidu p Nomor 21 Tahun 2008 Tanggal : 01 . Sulfur Dioksida (S02) 750 1500 150 2. Opasitas digunakan sebagai indikator praktis pemantauan. Semua parameter dikoreksi dengan O2 sebesar 5% untuk bahan bakar minyak dalarn keadaan kering kecuali opasitas. I Kadar Maksimum (mg/Nm3 ) Parameter Batubara Minyak Gas 1. Semua parameter dikorekai dengan 02 sebesar 3% untuk bahan bakar gas dalam keadaan kering kecuali opasitas. . 1 . 4. Nitrogen Oksida (NOx) dinyatakan sebagai N02 850 800 400 3. 6 . 2. ttd RACHMAT WITOELAR. 3. 5. Opasitas 20 % 20% - Catatan : 1. Salinan sesuai dengan aslinya Deputi MENLH Bidang Pe kungan. Semua parameter dikoreksi dengan 02 sebesar 7% untuk bahan bakar batubara dalam keadaan kering kecuali opasitas . MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HID UP. Total Partikulat 150 150 50 4.

Batubara Minyak Gas l. 4 . Volume gas diukur dalam keadaan standar (25°C dan tekanan 1 atmosfer). Opasitas digunakan sebagai indikator praktis pemantauan. Nitrogen Oksida (NOx) dinyatakan sebagai 750 450 320 100 100 30 20 % 20% - N02 3. Opasitas Catatan : 1. Semua parameter dikoreksi dengan 02 sebesar 3% urituk bahan bakar gas dalam keadaan kering kecuali opasitas. Pernberlakuan baku mutu emisi untuk 95% waktu operasi normal selama 3 (tiga) bulan bagi yang menggunakan GEMS. Semua parameter dikoreksi dengan 02 sebesar 7% untuk bahan bakar batubara dalam keadaan kering kecuali opasitas. Sulfur Dioksida (S02) 750 650 50 2. Total Partikulat 4. 5. Semua parameter dikoreksi dengan 02 sebesar 5% untuk bahan bakar minyak dalam keadaan kering kecuali opasitas. 2 . 6. MENTER! NEGARA LINGKUNGAN HIDUP. ttd RACHMAT WITOELAR. 3. 2.Lampiran I B Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor : 21 Tahun 2008 Tanggal : 01 Desember 2008 BAKU MUTU EMISI SUMBER TIDAK BERGERAK BAGI PLTU Kadar Maksimum (mgjNm 3 ) Parameter No.

Opasitas (NOx) Minyak Gas 1000 150 800 400 150 30 20 % - Catatan: 1. an. 3. Nitrogen Oksida dinyatakan sebagai N02 3. MENTERl NEGARA LINGKUNGAN HIDUP. ~~ ~ ~ 1 . 4. Opasitas digunakan sebagai indikator praktis pemantauan . Volume gas diukur dalam kcadaan standar (25°C dan tekanan 1 atmosfer). Sulfur Dioksida (802) 2. Total Partikulat 4. ttd RACHMAT WITOELAR Sallnan sesuai dengan aslinya De H Bidang P. Semua parameter dikoreksi dengan 02 sebesar 15% dalam keadaan kering kecuali opasitas. 2.Lampiran II A Peraturan Meriteri Negara Lingkungan Hidup Nomor : 21 Tahun 2008 Tanggal : 01 Desember 2008 BAKU MUTU EMISI SU11BER TIDAK BERGERAK BAGI PLTG Kadar Maksimurn {mgjNm 3 } Parameter No. Pemberlakuan baku mutu emisi untuk 95% waktu operasi normal selama 3 (tiga) bulan. 1.

Salinan sesuai dengan aslinya De~~~ioM~. (mgjNm 3 ) Parameter No.·*butkungan.'~" ~ ': 2 . Pemberlakuan baku mutu emisi untuk 95% waktu operasi normal selama 3 (tiga) bulan. . 3. Oksida Nitrogen dinyatakan sebagai N02 3. l(j·· '''::. '''-'' -" ~~:~G:~\ ~:. 4. Semua parameter dikoreksi derigan 02 s ebesar 15% dalam keadaan kering kecuali opasitas. Volume gas diukur dalam keadaan standar {25°C dan tekanan 1 atmosfer). Opasitas (NOx) Minyak Gas 650 150 450 320 100 30 20 % - Catatan : 1. 2. MENTER! NEGARA LINGKUNGAN HIDUP. ttd RACHMAT WITOELAR.-:NLHBidang 1'~taQ. Opasitas digunakan sebagai indikator praktis pemantauan.. Total Partikulat I 4.Lampiran II B Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor : 21 Tahun 2008 Tanggal : 01 Deseruber 2008 BAKU MUTU EMISI SUMBER TIDAK BERGERAK BAGI PLTG Kadar Maksimum 1­ Sulfur Dioksida (S02) 2.

Semua parameter dikoreksi dengan 02 sebesar 15% dalam keadaan kering kecuali opasitas. 2. Nitrogen Oksida (NOx) dinyatakan sebagai N02 800 400 3. 1 . Opasitas 20% - Catatan : 1. Minyak Gas 1. 4. Total Partikulat 150 30 4.Lampiran III A Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor: 21 Tahun 2008 Tanggal: 01 Desember 2008 BAKU MUTU EMISI SUMBER TIDAK BERGERAK BAGI PLTGU Kadar Maksimum (mg/Nm-) Parameter No. 3. ttd RACHMAT WITOELAR. MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP. Volume gas diukur dalam keadaan standar (25 vC dan tekanan 1 atmosferJ . Opasitas digunakan sebagai indikator praktis pemantauan. Pemberlakuan baku mutu emisi untuk 95% waktu operasi normal selama 3 (tiga) bulan. Sulfur Dicksida (S02) 800 150 2.

Volume gas diukur dalam keadaan standar (25°C dan tekanan 1 atmosfer). MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HID UP. ttd RACHMAT WITOELAR. Nitrogen Oksida dinyatakan sebagai N02 3. 4 . l. Sulfur Dioksida (802) 2 . 2. 3. Opasitas (NOx) Minyak Gas 650 150 450 320 100 30 20% - Catatan: 1. Pemberlakuan baku mutu emisi untuk 95% waktu operasi normal selarna 3 (tiga) bulan.Lampiran III B Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor . Total Partikulat 4. 21 Tahun 2008 Tanggal : 01 Desember 2008 BAKU MUTU EMISI SUMBER TIDAK BERGERAK BAGI PLTGU Kadar Maksimum (mgjNm 3 ) Parameter No. Opasitas digunakan sebagai indikator praktis pemantauan. Semua parameter dikoreksi dengan 02 sebesar 15% dalam keadaan kering kecuab opasitas . 2 .

Minyak Gas 1. Volume gas diukur dalam keadaan standar (25 dan tekanan 1 atmosfer). 2. Kadar Maksimurn (mg/Nm-) Parameter No. 4. ttd RACHMAT WITOELAR. 1 . Karbon Monoksida (CO) 600 500 3. QC MENTER! NEGARA LINGKUNGAN HIDUP. Opasitas 20% - Catatan: 1. Sulfur Dioksida (S02) 800 150 5. Nitrogen Oksida (NOx) sebagai N02 1000 400 4.Larnpiran IV A Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 21 Tahun 2008 Tanggal : 01 Desember 2008 BAKU MUTU EMISI SUMBER TIDAK BERGERAK BAGI PLTD. Semua parameter dikoreksi dengan 0 2 sebesar 13% dalam keadaan kering kecuali opasitas. Pemberlakuan baku mutu emisi untuk 95% waktu operasi normal selama 3 (tiga) bulan. 3 . Opasitas digunakan sebagai indikator praktis pemantauan. Total Partikulat 150 30 2.

Opasitas 20% - Catatan : 1. Opasitas digunakan sebagai indikator praktis pemantauan. MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP. Pemberlakuan baku mutu emisi untuk 95% waktu operasi normal selama 3 (tiga) bulan. 4.Lampiran IV B Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 21 Tahun 2008 Tanggal : 01 Desember ae08 BAKU MUTU EMISI SUMBER TIDAK BERGERAK BAG! PLTD I=- Parameter Kadar Maksimum (mgjNm 3 ) Minyak Gas 1. Total Partikulat 120 30 2. Volume gas diukur dalam keadaan standar (25°C dan tekanan 1 atmosfer). 2 . ttd RACHMAT WITOELAR. Nitrogen Oksida (NOx) sebagai 1000 320 N02 4. Sulfur Dioksida (S02) 600 150 5. 2. Semua parameter dikoreksi dengan 02 sebesar 5 % dalam keadaan kering kecuali opasitas. 3 . Karbon Monoksida (CO) 540 sao 3.

~~ ~~ ~ "tc 1 . Ammonia (NH3) 0. an. SaJinan sesuai dengan aslinya Deputi MENLH Bidang Pena J. ttd RACHMAT WITOELAR . Parameter Kadar Maksimum (mgj Nm"] 1. Hidrogen Sulfida (H2S) 35 2. MENTERl NEGARA LINGKUNGAN HID UP.Lampiran V Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor : 21 Tahun 2008 Tanggal : 01 Desember 2008 BAKU MUTU EMISI SUMBER TIDAK BERGERAK BAGI PLTP No.5 Catatan : Volume gas diukur dalam keadaan standar (25°C dan tekanan 1 atmosfer].

Parameter Angka baku mutu ermsi lampiran A untuk parameter x bahan bakar batubara (mg/Nm-) Angka baku mutu emisi lampiran A untuk parameter x bahan bakar roinyak (mgjNm 3 ) Angka baku mutu emisi lampiran A untuk parameter x bahan bakar gas (mgj Nm'') Ratio heat input untuk bahan bakar batubara Ratio heat input untuk bahan bakar minyak Ratio heat input untuk bahan bakar gas MENTERINEGARA LINGKUNGAN HIDUP. ttd RACHMAT WITOELAR.Lampiran VI A Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor : 21 Tahun 2008 Tanggal : 01 Desember 2008 BAKU MUTU EMISI SUMBER TIDAK BERGERAK BAGI PUSAT LISTRIK BERBAHAN BAKAR CAMPURAN Baku Mutu Emisi x = AxX + BxY + CxZ dimana : x Ax Bx = ex = x = = = y '7 L. 1 .

' \ (.~ 2 . ·C' ..'~4). .~.~4 ..-:\~' \. ttd RACHMAT WITOELAR.I . '.~i MEN~H Bidang Peq:aatin :t~kungan. 01 Desember 2008 BAKU MUTU EMISI SUMBER TIDAK BERGERAK BAGI PUSAT LISTRIK BERBAHAN BAKAR CAMPURAN Baku Mutu Ernisi x = AxX + BxY + CxZ dimana Parameter X =0 Ax = Angka baku mutu emisi lampiran B untuk: parameter x bahan bakar batubara (mgjNm 3 ) Angka baku mutu ernisi lampiran B untuk parameter x bahan bakar minyak [mg/ Nrn-'] Angka baku mutu emisi lampiran B untuk parameter x bahan bakar gas (rng/Nme) = Ratio heat input untuk bahan bakar batubara = Ratio heat input untuk bahan bakar minyak = Ratio heat input untuk bahan bakar gas Bx Cx X Y Z MENTERINEGARA LINGKUNGAN HIDUP. Salinan sesuai dengan aslinya Depu.Lampiran VI B Peraturan Men ten N egara Lingkungan Hidup Nomor : 21 Tahun 2008 Tanggal.

Pemantauan Emisi secara Manual 1.Lampiran VII Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor : 21 Tahun 2008 Tanggal : 01 Desember: 2008 LAPORAN PEMANTAUAN DAN PENGUKURAN SECARA MANUAL EMISI SUMBER TIDAK BERGERAK BAGI USAHA DAN/ ATAU KEGIATAN. Alamat perusahaan a. Identitas Perusahaan 1.Zfax. 4. Nama cerobong 2. Heat Input (BTU/Jam atau MMBTU/Jam) C. Kabupaterr/Kota b. telp . Nama perusahaan 2. Provinsi c. Kapasitas pembangkit total 6. Tinggi I) 2) Untuk cerobong yang berpenampang lingkaran Untuk cerobong yang berpenampang persegi 1 . Jumlah bahan bakar yang digunakan per bulan (ton] Jumlah daya listrik yang dihasilkan (MWh] Kandungan sulfur bahan bakar rata-rata per bulan (%) Nilai kalori netto bahan bakar (TJ /kton bahan bakar] Waktu operasional pembangkit per enam bulan (Jam) 7 . 4. No. Kondisi Operasional Pembangkit per Unit 1. 5. 6. Diameter"! b. Nama unit pembangkit 2. PEMBAN"GKIT TENAGA LISTRIK TERMAL A. Koordinat 3. Dimensi cerobong a. 3. Jenis pembangkit 5. Jumlah cerobong B. Panjang x Lcbar-l c.

02 carr) / (21 . = = = Laju emisi pencemar (kgjtahun) Konsentrasi terukur (mgj Nm 3) Laju alir emisi volumetric (m 3 j detik) Faktor konversi dari mgj detik ke kgfjam Jam operasi pembangkit selama 1 (satu) tahun 2 .02 terukur]. Laju Alir (v) mjdetik Me tode Analisis Konsentrasi Baku Mutu Terukur" Terkoreksi" Catatan: * ** Konseritrasi te rukur adalah konsentrasi yang diukur secara manual Konsentrasi terkoreksi adalah konsentrasi yang telah dikoreksi dengan faktor koreksi oksigen. Satuan 1.0036 Op Hours.4. Karbon Monoksida (CO) mgjNm3 5. Opasitas % 7. dimana CCOIT Konsentrasi terkoreksi dengan koreksi O 2 yang ditetapkan dalam Baku Mutu Ernisi (mgjNm 3 ) Konsentrasi terukur sebelurn dikoreksi dengan koreksi 02 (rng/Nm> Koreksi 02 yang ditetapkan dalarn Baku Mutu Emisi (%) Prosentase 02 diukur langsung dalam gas emisi i%) D. Laboratorium penguji Parameter No. Tanggal sampling 5. Sulfur Dioksida (S02) mgj'Nm-' 2.0036 x [Op Hours] Q =v x A _. Nitrogen Oksida (NOx) mg/Nm> 3. Oksigen (0 2) % 8. Dihitung d engan rurnus : C corr = Cterukur X (21 . Perhitungan Beban Emisi dari Hasil Pengukuran Manual E = ex Q x 0. Total Partikulat mg/ Nrn" 4. Karbon Dioksida (CO2) mg/Nm-' 6. - (1) (2) dimana: E C Q 0.

Beban Emisi = 2:.98 3 .995 0..F X AcCC X OF X MWcoz/ ANc EC02 .v Laju alir (ml detik) Luas penampang cerobong (m 2 ) "" "" A E. (3) dimana: EC02 L:F AceC OF MWC02 ANc = Emisi C02 (ton) = Jumlah konsumsi bahan bakar (kton) = Kandungan Karbon Aktual (ton C/kton) = Faktor Oksidasi = Berat Molekul C02 (44) == Berat Atom C (12) Tabel Faktor Oksidasi Bahan Bakar Oil Natural Gas 80al OF 0. Perhitungan Beban Emisi berdasarkan Kandungan Sulfur di Bahan Bakar E = QfX (Op Hours] x [Cf/IOO] x {MWp/EWt} dimana: E Q[ Op Hours Cr "" Laju emisi pencemar (kg/tahun) "" Bahan bakar yang digunakan (kgJjam) Jam operasi pembangkit selama 1 (satu) tahun "" Konsentrasi pencemar dalam bahan bakar (%) "" Berat molekul 802 (64) = Berat Atom S (32) MW p ANs F. Perhitungan Beban Emisi (C02) a.99 0.

Salinan sesuai dengan aslinya Dep~~ Bidang Pe ~$. } \ ~ ~_-.b. ttd RACHMAT WITOELAR. Beban Ernisi Tahunan Etahunan = EC02 X Op Hours (4) dimana: Etahunan == Beban Emisi tahunan (ton/tahun) E C02 == Emisi C02 (ton) Op Hours = Jam operasi pembangkit selama 1 (satu) tahun MENTERINEGARA LINGKUNGAN HIDUP..~~~ngan.l..\ " '\ r/»..." ~. ~ ·t. ./ ~~: '~ ? :\" 4 . \~) • ~j .

Pelaporan CEMS 1. Nama cera bong 2. Identitas Perusahaan 1. Nama perusahaan 2 . Parameter yang diukur 5 .Lampiran VIII Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor : 21 Tahun 2008 Tanggal : 01 Desember 2008 LAPORAN HASIL PEMANTAUAN DAN PENGUKURAN CEMS EMISI SUMBER TIDAK BERGERAK BAGI USAHA DANj ATAU KEGIATAN PEMBANGIGT TENAGA LISTRIK TERMAL A. Kondisi Operasional Pembangkit per Unit 1. Diameter b. Provinsi c. Alamat perusahaan a . Jumlah bahan bakar yang digunakan per bulan (ton) 3. Kapasitas pembangkit total 5. Panjang x Lebar c.j'Fax. Tinggi 4. Koordinat 3. Telp. Nilai kalori netto bahan bakar (TJ/kton bahan bakar) 6. Bakumutu 1 . Dimensi cerobong a. Heatlnput (BTU/Jam atau MMBTUjJam) C. 3. No. Nama unit pembangkit 2. Jumlah daya listrik yang dihasilkan (MWh) 4. Jumlah cerobong B. Kandungan sulfur bahan bakar rata-rata per bulan (%) 5. Jenis pembangkit 4. Waktu operasional pern bangkit per tiga bulan (Jam) 7. KabupatenjKota b.

Problem CEMS) per hari dan dinyatakan dalam persen (%). D.0036 X [Op Hours] Q = V av x A (5) (6J dimana: E = Laju emisi pencemar (kg/bari] Cay = Konsentrasi terukur rata-rata harian [mgz Nm-'] 2 .02 COTr) / (21 . Perhitungan Beban Emisi dari Hasil Pengukuran CEMS a. Catatan: " Konsentrasi rata-rata harlan yang terbaca terukur adalah konsentrasi rata-rata harian "* Konsentrasi rata-rata harian terkoreksi adalah konsentrasi rata-rata harian yang telah dikoreksi dengan faktor koreksi oksigen. Beban Emisi E = Cay X Q X 0.Konsentrasi Rata-rata Harian No. 3. Tangga 1 (mg/Nm 3 ) Laju Alir Rata-rata Harian Prosentase Data Melcbihi Baku Mutu (mjdetik) Terukur' Prosentase CEMS Tidak Beroperasi i (%)1It**+ (%) *** Terkoreksi* Waktu Operasi Pernbangkit (jam) " 1.mus : dari CEMS...O2 terukur) . dimana C zv Konsentrasi rata-rata harlan terkoreksi dengan koreksi 02 yang ditetapkan dalam Baku Mutu Emisi [rng ZNm''] Konsentrasi rata-rata harlan terukur sebelum dikoreksi dengan koreksi 02 (mg/ Nm 3 ) Koreksi O 2 yang ditetapkan dalam Baku Mutu Ernisi (%) Prosentase 02 diukur langsung da1am gas emisi (%) COJT Cav!>alian **" Prosentase data melebihi bakumuru adalah jumlah data yang melebihi dibagi total data harian dan dinyatakan dalam persen (%).. . 31. 2. Cav COJT = Cav harlan X (21 . Dihitung dengan ru.. . ***" Prosentase CEMS tidak beroperasi adalah lama waktu CEMS tidak beroperasi (Kalibrasi.

0036 = Faktor konversi dari mgjdetik ke kg/jam Op Hours = Jam operasi pembangkit selama 1 (satu) hari Vav = Laju alir rata-rata harian (m/ detik) A '" Luas penampang cerobong (m 2 ) = a. 3 . ttd RACHMAT WITOELAR.Q Laju alir emisi volumetrik (m 3/detik) 0. Beban Emisi Tahunan n E tahunan = L E i=l dimana: Etahunan n E '" Beban Emisi tahunan (kgjtahun) = Jumlah hari dalam 1 (satu) tahun = Beban Emisi (kgjhari) MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HID UP .

Kondisi Operasional Pembangkit per Unit 1. Nama unit pembangkit 2. 9. 5. No. 6. 3 . Jumlah menara pendingin B. Provinsi c . Nama Perusahaan 2.Lampiran IX Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor : 21 Tahun 2008 Tanggal: 01 Desember 2008 LAPORAN HASIL PEMANTAUAN DAN PENGUKURAN SECARA MANUAL EMISI SUMBER TIDAK BERGERAK BAGI USAHA DANj ATAU KEGIATAN PUSAT LISTRIK TENAGA PANAS BUMI A. 8. Jenis pembangkit 4 . Identitas Perusahaan 1.x. Kapasitas pembangkit total 5. Telp.jFa. 4. 7. 3. Alamat perusahaan a. Jumlah uap air yang digunakan per jam (ton) Jumlah daya listrik yang dihasilkan (MWh) Kandungan Non Condensable Gas (NCG) rata-rata per jam (%) Laju alir emisi volumetrik NCG (m3jjam) Kandungan C02 dalam NCG (%) Kandungan H2S dalam NCG (%) Kandungan NH3 dalam NCG (%) Waktu operasional pembangkit per enam bulan (Jam) 1 . KabupatenjKota b.

. ~' . Salinan sesuai dengan aslinya Deputi r~~H Bidang Pen~~P:?. Laboratorium penguji No.-:. MENTERl NEGARA LINGKUNGAN HIDUP.. Tanggal sampling 4. . dan C02 dalam NCG clikalikan waktu operasi selama 1 (satu) tahun. ~ .LJp:gk:ungan.. Koordinat 3 . <.C. . . Ammonia (NH3) mgjNm 3 Metode Analisis Baku Mutu Korisentrasi D. Hidrogen Sulfida (H2S) mgjNm 3 2.~". Nama venting menara pendingin 2 . ~ : . Parameter Satuan 1. .' ~ " . .. NH3. :~\ . ttd RACHMAT WITOELAR.'. Perhitungan Beban Emisi Beban emisi dihitung berdasarkan kandungan H2S.: 2 .... . Pemantauan Emisi secara Manual 1. .