Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Indonesia merupakan pusat keragaman terumbu karang dunia termasuk
didalamnya spons laut. Spons merupakan salah satu komponen biota penyusun terumbu
karang yang mempunyai potensi bioaktif yang belum banyak dimanfaatkan. Senyawa
bioaktif yang dihasilkan oleh spons laut adalah sebagai antibakteri, antijamur, antitumor,
antivirus, antifouling dan menghambat aktivitas enzim.
Hewan laut ini mengandung senyawa aktif yang persentase keaktifannya lebih
besar dibandingkan dengan senyawa-senyawa yang dihasilkan oleh tumbuhan darat
(Muniarsih dan Rachmaniar, 1999). Jumlah struktur senyawa yang telah didapatkan dari
spons laut sampai Mei 1998 menurut Soest dan Braekman (1999) adalah 3500 jenis
senyawa, yang diambil dari 475 jenis dari dua kelas, yaitu Calcarea dan Demospongiae.
Senyawa tersebut kebanyakan diambil dari Kelas Demospongiae terutama dari ordo
Dictyoceratida dan Dendroceratida (1250 senyawa dari 145 jenis), Haplosclerida (665
senyawa dari 85 jenis), Halichondrida (650 senyawa dari 100 jenis), sedangkan ordo
Astroporida, Lithistida, Hadromerida dan Poecilosclerida, senyawa yang didapatkan
adalah sedang dan kelas Calcarea ditemukan sangat sedikit.
Beberapa tahun terakhir ini peneliti kimia memperlihatkan perhatian pada spons,
karena keberadaan senyawa bahan alam yang dikandungnya. Ekstrak metabolit dari
spons mengandung senyawa bioaktif yang diketahui mempunyai sifat aktifitas seperti:
sitotoksik dan antitumor

(Kobayashi dan Rachmaniar, 1999), antivirus (Munro et,

al.,1989), anti HIV dan antiinflamasi, antifungi (Muliani et, al.,1998), antileukimia
(Soediro, 1999), penghambat aktivitas enzim (Soest dan Braekman, 1999). Selain sebagai
sumber senyawa bahan alam, spons juga memiliki manfaat yang lain, seperti:
1) digunakan sebagai indikator biologi untuk pemantauan pencemaran laut (Amir, 1991),
2) indikator dalam interaksi komunitas (Bergquist, 1978) dan
3) sebagai hewan penting untuk akuarium laut (Riseley, 1971; Warren, 1982).
Pemanfaatan spons laut sekarang ini cenderung semakin meningkat,
terutama untuk mencari senyawa bioaktif baru dan memproduksi senyawa
bioaktif tertentu.

1.2 Tujuan Pembuatan Makalah
Tujuan pembuatan makalah adalah untuk mengkaji senyawa-senyawa bioaktif penting
dari spons laut dalam bidang farmasi.

dan bentuk tubuh mereka yang diadaptasi untuk memaksimalkan efisiensi dari aliran air. meskipun ada spesies air tawar. mulai dari zona pasang surut sampai kedalaman lebih dari 8. Porifera Porifera berasal dari bahasa latin yaitu porus berarti pori dan fer berarti membawa. Porifera atau spons atau hewan berpori adalah sebuah filum untuk hewan multiseluler yang paling sederhana.1. tapi kebanyakan hidup di laut mulai dari daerah perairan pantai yang dangkal hingga kedalaman 5. Karena hewan ini memiliki ciri yaitu tubuhnya berpori seperti busa atau spons sehingga porifera disebut juga sebagai hewan spons. sebagian besar mengandalkan mempertahankan aliran air konstan melalui mereka badan untuk mendapatkan makanan dan oksigen dan untuk menghilangkan limbah.seperti mesohyl terjepit di antara dua lapisan tipis sel.000-10. sering bermigrasi antara lapisan sel utama dan mesohyl dalam proses.800 meter (5. Sebaliknya.. Beberapa jenis spons yang hidup di lingkungan makanan miskin telah menjadi karnivora yang memangsa terutama pada krustasea kecil. . Porifera hidup di air laut dan air tawar. beberapa host photosynthesizing mikroorganisme sebagai endosymbionts dan aliansi ini sering menghasilkan lebih banyak makanan dan oksigen dari yang mereka konsumsi. Semua sessile air hewan dan. Hewan ini merupakan hewan multiseluler purba alias paling sederhana struktur tubuhnya ketimbang filum-filum hewan multi seluler yang lain.5 km hidupnva selalu melekat pada substrat (sesil) dan tidak dapat berpindah tempat secara bebas.000 dikenal spesies memakan bakteri dan partikel makanan lainnya di air. Di dalam tubuhnya terdapat rongga tubuh yang disebut spongosol. yang sebagian besar adalah laut (air garam) spesies. pencernaan atau sistem peredaran darah. Sementara sebagian besar sekitar 5.5 mi). Tubuh spons terdiri dari jelly. Bentuk tubuhnya seperti tabung atau jambangan bunga yang bersifat simetris radial. spons yang unik dalam memiliki beberapa sel-sel khusus yang dapat berubah menjadi jenis lain. Spons tidak memiliki saraf. Sementara semua hewan memiliki sel terspesialisasi yang dapat berubah menjadi sel-sel khusus.BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.

Ciri-ciri Porifera Ciri-ciri morfologinya antara lain:  tubuhnya berpori (ostium)  multiseluler  tubuh porifera asimetri (tidak beraturan).Tubuhnya memiliki lubang-lubang kecil atau pori(ostium).Pencernaan dilakukan secara intraseluler di dalam koanosit dan amoebosit. kuning bahkan ungu. ada yang berwarna pucat.5 Cara Hidup dan Habitat Porifera hidup secara heterotof. 2. Bentuknya ada yang seperti tabung. Tubuh porifera pada umumnya asimetris atau tidak beraturan meskipun ada yang simetris radial. Di antara kedua lapisan itu terdapat bahan gelatin yang disebut mesoglea. jingga. dapat pula rangka silikat seperti yang dimiliki hexactinellida. Kerangka pada porifera merupakan kerangka luar atau eksoskeleton. Epidermis (lapisan luar) terdiri atas sel-sel epithelium berbentuk pipih (pinakosit). atau bercabang seperti tumbuhan. Kerangkanya dapat berupa kapur seperti pada Calcarea.2. dan ada yang berwarna cerah.Makananya adalah bakteri dan plankton. misalnya Haliciona dari kelas Demospongia.Beberapa jenis porifera ada yang berukuran sebesar butiran beras. atau tumbuhan  warnanya bervariasi  tidak berpindah tempat (sesil) 2.2.  berbentuk seperti tabung. vas bunga. Ukuran dan bentuk Ukuran porifera sangat beragam. meskipun ada yang simetri radial. mulai dari tepi pantai hingga laut dengan kedalaman 5 km.Sekitar 150 jenis porifera hidup di ait tawar.3. mangkuk. hidupnya menempel pada batu atau benda lainya di dasar .Porifera yang telah dewasa tidak dapat berpindah tempat (sesil). seperti merah. vas bunga.Warna tubuh bervariasi.4. mangkuk. sedangkan jenis yang lainnya bisa memiliki tinggi dan diameter hingga 2 meter. Struktur dan fungsi tubuh Struktur tubuh porifera terdiri atas dua lapisan yaitu epidermis dan endodermis. atau kerangka lunak (spongin) pada Demospongia. Endodermis terdiri atas sel berflagela yang berfungsi mencerna makanan dan bercorong yang disebut sel leher atau koanosit.Makanan yang masuk kedalam tubuhnya berbentuk cairan.Habitat porifera umumnya di laut. 2.

Gemmulae adalah sejumlah sel mesenkim yang berkelompok dan berbentuk seperti bola yang dilapisi kitin serta diperkuat spikula. Terbentuklah kumpulan/cluster dan kapsul yang mengelilingi. Dari peleburan ini dihasilkan zigot yang kemudian berkembang menjadi larva bersilia.Karena porifera yang bercirikan tidak dapat berpindah tempat. Gemmulae (butir benih). Gemmulae terbentuk jika keadaan lingkungan sedang tidak menguntungkan. Oksigen diambil langsung dari air oleh sel-sel koanosit secara absorpsi. kadang porifera dianggap sebagai tumbuhan. . Makanannya dicerna secara intrasel oleh sel-sel koanosit. yaitu : 1. Sistem Pencernaan dan Pernafasan Porifera memakan zat-zat organik dan organisme-organisme kecil seperti plankton. Proses pembentukan gemmulae adalah sebagai berikut : Pertama-tama arkeost mengumpulkan nutrient dengan memfagosit sel lain untuk dikumpulkan dalam rongga tubuh. Ketika keadaan lingkungan membaik.6. Gemmulae hanya dimiliki oleh porifera air tawar. 7. Karbondioksida hasil pernafasan dikeluarkan langsung dari dalam sel ke lingkungan. Di dalam sel. Pembentukan tunas. 2. Sel tertentu kemudian mengelilingi secret kumpulan tersebut dan membungkusnya. makanan dicerna oleh vakuola makanan. 2. Reproduksi Perkembangbiakan Porifera dapat dilakukan secara vegetatif dan generatif. yaitu dengan peleburan gamet jantan (mikrogamet) dengan gamet betina (makrogamet). Perkembangbiakan secara vegetatif dapat dilakukan dengan dua cara. Tunas yang terbentuk memisahkan diri dari induknya kemudian terbentuk individu yang baru 2. Pada kondisi yang tepat gemmulae menetas dan sel-sel di dalamnya keluar dan berdiferensiasi membentuk spons baru Sedangkan perkembangbiakan generatif berlangsung secara anisogami. Sedangkan sisa makanan diteruskan ke spongosol kemudian dikeluarkan melalui oskulum Sistem pernafasan yang dimilikipun sangat sederhana. gemmulae akan terbentuk menjadi individu baru. kemudian diteruskan oleh sel amebosit dan diedarkan ke seluruh tubuh.laut.

tidak ada spikul. namun beberapa anggota dari kelompok Dictyoceratida. b. Mereka kebanyakan hidup di laut jeluk dan tersebar luas.8 Klasifikasi Spons Spons merupakan kelompok hewan dari Filum Porifera yang terdiri dari tiga kelas. berbentuk massif. a. c. dan Verongida memiliki spikula yang hanya terdiri dari serat spongin. bentuk tubuh bulat atau datar tanpa percabangan. bentuk tubuh bervariasi. adakalanya besar sekali. Spikulanya terdiri dari silikat dan tidak mengain. Spons dari kelas ini tidak memiliki spikula “triaxon” (spikula kelas Heksaktinelidae). melimpah dan umum. Subkelas Monaxonida. bentuk tubuh bulat. Semua anggota kelas ini mempunyai spikula silikat dan serat spongin dengan tipe saluran leuconoid. dan Hexactinellidae. ada yang berserat. Ada yang tidak mempunyai rangka atau mempunyai rangka dari serabut spongin (zat tanduk). Subkelas Keratosa. 1) Demospongiae Hampir 75% jenis sponge yang terdapat di laut adalah dari kelas Demospongiae. Umumnya spikula terbuat dari silikat. Kelas Hexactinellida merupakan spons gelas. jenis serta individunya sangat banyak. berwarna cerah. Kelas Demospongiae adalah kelas spons paling dominan di atara porifera saat ini. ditepi pantai sampai kedalaman 45 m. warna gelap terutama hitam. Elemenelemin ini dikelilingi oleh jaringan hidup yang terdapat pada basal kalsium karbonat yang kokoh atau pada rongga yang ditutupi oleh kalsium karbonat. Spons ini mempunyai struktur sederhana dibandingkan jenis lainnya. diperairan dangkal.Subkelas Tetractinellida. “tetraxon” yang mengandung silikat. terdiri dari Dictyoceratida. Demospongiae memliki bentuk dan warna yang bervariasi serta sistem saluran yang rumit. Mereka tersebar luas di alam dan jumlah.2. Spikula terdiri dari kalsium karbonatdalam bentuk calcite dan tidak akan berdiri tegak tanpa adanya spikula atau sponging yang membentuk kerangka untuk menopang tubuhnya sehingga memungkinkan adanya saluran dan ruangan berflagela. serat kolagen bahkan tidak memilki spikula. dan dihubungkan dengan kamar-kamar bercambuk kecil yang bundar. Rangka dari serat sponge yang mengandung zat tanduk. Calcarea merupakan spons yang kesemua anggota kelasnya hidup di laut. yaitu Calcarea Demospongiae. Dendroceratida. tetapi spikulanya berbentuk “monaxon”. . spikul monaxon. spikul tetraxon atau tidak ada.

anti inflamasi.. Senyawa bioaktif yang dimiliki oleh porifera kemungkinan bermanfaat dalam proses pencernaan. spesies yang sama belum tentu memiliki kandungan metabolit yang sama. Misalnya Porifera kapur. 2. Euspongia mollisima. Porifera mampu menyaring bakteri untuk dimanfaatkan sebagai makanan dan dicerna secara enzimatik. Selama 50 tahun terakhir telah banyak kandungan bioaktif yang telah ditemukan. Callyspongia sp. Porifera menghasilkan metabolit primer dan metabolit sekunder sebagai hasil dari proses metabolisme. Pembentukan metabolit ini dipengaruhi oleh faktor lingkungan. dimana diasumsikan bahwa pada kondisi lingkungan yang berbeda. antioksidan. Kandungan bioaktif tersebut dikelompokan beberapa kelompok besar yaitu antiflammantory. Setiap jenis porifera juga tersusun oleh kandungan kimia yang berbeda. Porifera jenis ini kerangka tubuhnya terbuat dari bahan kristal silikat H2 Si3 O7. antibiotik. Poterion dan Oscarella sp. Phyllospongia sp. Spons merupakan biota laut potensial untuk menghasilkan senyawa bioaktif. Xestospongia testudinaria (Rachmat.. Spons dapat memproduksi racun dan senyawa lain yang digunakan untuk mengusir predator. makanan kesehatan dan kosmetik. 2007). dan antifouling. antitumor. Beberapa bahan kimia ini telah ditemukan memiliki efek farmasi bermanfaat bagi manusia. sebagai substansi bioaktif untuk obat-obatan. immunosuppessive. serta Corticium candelabrum (rangka dari spongin dan silikat). dan antibiotik. Porifera jenis ini kerangka tubuhnya terbuat dari bahan kristal zat kapur atau CaCO3 dan Porifera silikat. antitumor. termasuk senyawa untuk obat pernapasan. Porifera memiliki potensi yang bermanfaat bagi kehidupan dari kandungan kimia yang dimiliki oleh tubuhnya.9 Kandungan Kimia Spons laut memiliki potensi bioaktif yang sangat besar. Manfaat untuk manusia. antivirus. Metabolit ini memiliki manfaat yaitu sebagai chemical defense untuk melindungi dirinya terhadap serangan lingkungannya. sehingga senyawa bioaktif yang diperoleh diperkirakan bervariasi sesuai dengan kebiasaan makan masing-masing jenis porifera. kristalkristal yang berbentuk seperti duri. (tanpa rangka tubuh). kompetisi dengan hewan sesil lain dan untuk berkomunikasi dan melidungi diri dari infeksi. dan Spongila carteri (rangka dari spongin). mata kail. bintang. kardiovaskular. dengan kata lain untuk mempertahankan hidupnya dari serangan predator. Lebih dari 10 % spons memiliki aktifitas citotoksik yang dapat yang berpotensial untuk bahan obat-obatan. gastrointestinal.Contohya: Euspongia officinalis. . jangkar dan lain-lain yang biasa disebut specula itu merupakan hasil bentukan atau sekresi dari sel-sel scleroblast. antimalaria.

sianobakteri. antibiotik polybrominated biphenyl ether yang diisolasi dari Dysidea herbacea sebenarnya dihasilkan oleh endosimbiotik sianobakterium. Callyspongia sp. antivirus. Pada fraksi polar banyak mengandung senyawa alkaloid yang memiliki aktivitas antitumor. antibakteri. antimalaria dan lain-lain. Secara umum pada spons ditemukan kelompok senyawa pada fraksi non polar seperti senyawa terpenoid. Pada fraksi n-Heksana banyak mengandung senyawa dari golongan steroid. 1999). Simbion tersebut seperti archaea bakteria. Dibawah ini merupakan metode identifikasi senyawa antioksidan dalam spons Callyspongia sp. dan asam lemak. senyawa steroid. Sebagai contoh. Spons Aaptos Sp. antijamur. Spons dari jenis Heliclona Sp. dan mikroalgae. antifouling. Pada beberapa jenis spons dari genus Aaptos mengandung metabolit sekunder dari golongan alkaloid yaitu aaptamine dan aaptosin pada fraksi methanol. dan lain-lain. Fungi yang berasosiasi dengan spons diketahui pula menghasilkan senyawa bioaktif. Pada spons terdapat populasi mikroorganisme simbion. Isolat dari spons ini dilaporkan memiliki aktivitas antikanker. : . 1996). antimikroba dan antiparasit (Amir dan Budiyanto.Pada spons juga telah ditemukan berbagai senyawa yang dapat digunakan sebagai campuran obat seperti senyawa antitumor. merupakan salah satu jenis spons yang banyak tumbuh di perairan wilayah Indonesia. antivirus. Mikrooranisme tersebut merupakan sumber metabolit sekunder. antimicrobial. Spons ini adalah salah satu biota laut yang mengandung berbagai metabolit sekunder yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan obat (Satari.

Alat-alat yang digunakan antara lain :  alat gelas untuk ekstraksi. kemudian dimaserasi selama 6 jam dalam 800 ml aseton.  asam linoleat.1-difenil-2-pikrilhidrazil (DPPH). Bahan kimia yang digunakan antara lain:  1.BAB III METODOLOGI PERCOBAAN Bahan: Bahan uji yang digunakan adalah spons Callyspongia sp. sampai lapisan metanol tidak berwarna.  2. dan sudah dideterminasi di Lembaga Oseanologi Nasional.  pereaksi Lieberman-Buchard. Jakarta.2’ azobis (2-amidino-propan)  dihidroklorida (AAPH). - Residu dimaserasi lebih lanjut menggunakan metanol 450 ml dengan cara yang sama.  BHT.  KLT dan spektrofotometer UV Shimadzu 265.  ammonium tiosianat. Dragendorff.  besi (II) klorida. Cara kerja: Pembuatan ekstrak. Spons sejumlah 650 g dipotong-potong sampai halus. Mayer dan Bouchardat. - Spons Callyspongia sp yang dikumpulkan dari daerah Kepulauan Seribu segera direndam dalam metanol dan baru dikeluarkan waktu penelitian dimulai.  larutan dapar fosfat. - Lapisan aseton dipisahkan.  vitamin C. kemudian maserasi diulang 4 kali (tiap kali menggunakan 400 ml aseton) dengan cara yang sama sampai filtrat aseton tidak berwarna. . ulangi 3 kali. sambil sekali-kali dikocok.

5%. Metode tiosianat (Mun’im et al.1 ml ditambah dengan 0. dan 0. dan untuk pembanding digunakan vitamin C (konsentrasi 2. Masing-masing dimasukkan ke dalam tabung reaksi.3% w/v).- Filtrat yang diperoleh disatukan. Pengambilan sampel dilakukan setiap satu jam selama 4jam.25 ml larutan AAPH 46. Ke dalam tiap tabung reaksi ditambahkan 500μl larutan DPPH 1mM dalam metanol. Selanjutnya serapannya diukur pada panjang gelombang 515 nm. - Homogenkan dengan vortex - Setelah 3 menit serapannya diukur pada panjang gelombang 500 nm. 1.5 ml larutan buffer fosfat 0.0ml. 1958) Ekstrak Callyspongia sp.3. 4. 1989) . 6 dan 8 ppm). Uji aktivitas antioksidan Pengujian aktivitas antioksidan dilakukan dengan 2 cara. 2.5 ml larutan asam linoleat (1.2003) - Sebanyak 500 μl larutan ekstrak Callyspongia sp dengan konsentrasi100 ppm dimasukkan ke dalam tabung reaksi dan ditambahkan berturut-turut 2. 2. 1. Volume dicukupkan sampai 5. - Kemampuan aktivitas antioksidan dilihat dari rendahnya resapan yang terbentuk terhadap kontrol.2 M (pH=7). - Selanjutnya diinkubasi dalam keadaan gelap. Pemeriksaan kandungan kimia menggunakan pereaksi kimia (Anonim. diuapkan menggunakan rotary evaporator sampai diperoleh ekstrak kental sejumlah 90. Metode DPPH (Blois.1 ml larutan ammonium tiosianat 10% dan dicukupkan volumenya dengan etanol 75% menjadi 10 ml. yaitu metode DPPH dan tiosianat.0. - Larutan uji sebanyak 0. 4 dan 5 ppm) dan BHT (konsentrasi 2. kemudian diinkubasi pada suhu 37 oC selama 30 menit. 30.6 mM dalam etanol 40%. Sebagai control positif.0 ml airsuling.25 g. pada suhu 50oC. Nilai IC 50 dihitung masing-masing dihitung dengan menggunakan rumus persamaan regresi.1 ml larutan besi(II) klorida 20mM dalam HCl 3.dilarutkan dalam metanol dan dibuat dalam berbagai konsentrasi ( 10. 50 dan70 ppm).

- Bouchardat dan Mayer.Flavonoid - Larutan ekstrak sebanyak 2 ml ditambah dengan sedikit serbuk seng atau magnesium dan 2 ml HCl 2N. Larutan pengembang yang digunakan adalah campuran metanol-NH4OH (200:3). 2. dinginkan kemudian disaring. 3. dan 6 ml air suling. dengan larutandeteksi Dragendorff dan DPPH . - kemudian panaskan selama 2 menit. - Filtrat diperiksa adanya senyawa alkaloid dengan pereaksi Dragendorff.Steroid/ triterpenoid - Sebanyak 1 ml larutan ekstrak diuapkan sampai kering.Alkaloid - Larutan ekstrak sebanyak 3 ml ditambah dengan 1 ml HCl 2 N. kemudian ditambah dengan pereaksi Lieberman-Burchard.Identifikasi kandungan kimia dalam ekstrak dilakukan terhadap senyawasenyawa: 1. - Senyawa flavonoid akan menimbulkan warna jingga sampai merah Pemeriksaan kandungan kimia menggunakan KLT Pemeriksaan KLT dilakukan terhadap adanya senyawa yang memberikan hasil positif pada pemeriksaan menggunakan pereaksi kimia. - Warna biru-ungu yang timbul menunjukkan adanya senyawa terpenoid atau steroid.

yang umumnya berupa peroksida lipid. Metode DPPH dipilih karena sederhana.45 dan 3.BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Uji aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH menunjukkan bahwa ekstrak Callyspongia sp. Hasil uji aktivitas antioksidan ekstrak Callyspongia sp. Hal ini menunjukkan bahwa ektrak tersebut mempunyai aktifitas aktioksidan yang kuat.81 mg/ml. cepat dan peka serta hanya memerlukan sedikit sampel. Dekomposisi AAPH menghasilkan molekul nitrogen dan dua radikal karbon yang dapat menghasilkan produk yang stabil . seperti terlihat pada Gambar 1. Menggunakan metode tiosianat menunjukkan tidak adanya perbedaan aktivitas yang bermakna (Anava searah dengan tingkat kepercayaan 95%) dengan pembanding vitamin C dan BHT. karena mempunyai IC50 kurang dari 200 μg/ml (Blois. Pada metode tiosianat pengukuran aktivitas antioksidan berdasarkan daya penghambatan terbentuknya senyawa-senyawa radikal yang bersifat reaktif. Tetapi pada penelitian ini yang diuji masih berupa ekstrak kasar. Senyawa antioksidan akan bereaksi dengan radikal DPPH melalui mekanisme donasi atom hydrogen dan menyebabkan terjadinya peluruhan warna DPPH dari ungu ke kuning yang diukur pada panjang gelombang 517nm (Blois. Apabila dibandingkan dengan aktivitas antioksidan vitamin C dan BHT yang masingmasing mempunyai nilai IC50 sebesar 3. mempunyai IC50 sebesar 41. 1958). Oksidasi asam linoleat dipercepat oleh AAPH yang merupakan senyawa penginduksi pembentukan radikal bebas. Hasil pengujian dapat dilihat pada Tabel 1. masih lebih rendah. aktivitas antioksidan ekstrak Callyspongia sp. mudah. sehingga masih ada kemungkinan senyawa murni yang dikandung memiliki aktivitas peredaman radikal bebas lebih kuat dibandingkan ekstraknya.21 μg/ml. 1958).

bercak ini memberikan aktivitas peredaman radikal bebas. adalah senyawa golongan alkaloid. Hal ini berarti bahwa ekstrak Callyspongia sp. berarti senyawa yang mempunyai aktivitas antioksidan dalam ekstrak Callyspongia sp. kontrol negatif menunjukkan serapan sebesar 0. . Identifikasi lanjutan menggunakan KLT silica gel GF254 dengan larutan pengembang campuran methanol-NH4 OH (200 : 3) memperlihatkan adanya bercak dengan Rf 0. Proses oksidasi lemak menghasilkan produk primer peroksida. mengandung senyawa alkaloid Tabel2.415.133. vitamin C dan BHT masing-masing 0. Bercak ini memberikan warna jingga dengan pereaksi Dragendorff.05) menunjukkan bahwa ketiga larutan yang diuji tidak memperlihatkan perbedaan aktivitas antioksidan yang bermakna. Bilangan peroksida dinyatakan sebagai senyawa yang mampu mengoksidasi Fe2+ menjadi Fe3+.33.atau bereaksi dengan molekul oksigen menghasilkan radikal peroksil. yang pada pengamatan sinar UV memberikan warna kuning hijau. Pada pengamatan jam ke-4. dan selanjutnya Fe3+ dengan ion CNS menghasilkan warna merah yang diukur pada panjang gelombang 500 nm.(Mun’im. Pada uji dengan pereaksi DPPH. Hasil identifikasi kimia menunjukkan bahwa ekstrak Callyspongia sp. et al 2003).146.132 dan 0. sedangkan ekstrak Callyspongia sp mempunyai serapan 0. Penelitian lanjutan sedang dikerjakan untuk mengisolasi senyawa dan menentukan struktur kimia senyawa alkaloid tersebut. mampu menghambat hasil oksidasi asam linoleat maupun mereduksiradikal bebas. berarti bahwa bercak tersebut merupakan senyawa golongan alkaloid. Hasil uji statistic (anava searah dengan nilai α 0.

5. Kandungan bioaktif tersebut dikelompokan beberapa kelompok besar yaitu antiflammantory. sitotoksik.2 Saran . . Habitat porifera umumnya di laut. Makanannya adalah bakteri dan plankton. dan anti oksidan  Pada beberapa jenis spons mengandung metabolit sekunder seperti alkaloid. antibiotik.Diharapkan dapat lebih mengeksplor kandungan dari spon laut yang lain yang bermanfaat obat. immunosuppessive. antiparasitik. flavanoid dan antrakuinon.BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5. antivirus. antimalaria.  Spons merupakan biota laut potensial untuk menghasilkan senyawa bioaktif. steroid. terpenoid. Kesimpulan  Porifera hidup secara heterotof. mulai dari tepi pantai hingga laut dengan kedalaman 5 km.1. antitumor. .

org/wiki/Porifera) Hanani.wordpress.3 Desember.html) Anonymous.com/2009/03/hewan-spons-porifera.2. Majalah Kefarmasian. 2005. Endang. 127-133. Dkk. 2011. Hewan spons Porifera (http://kamuspengetahuan. 2009. Agus. Jurnal Oseana.. Nomor 2.blogspot.wikipedia. 2008. Mengenal seluk beluk phylum Porifera (http://gurungeblog.DAFTAR PUSTAKA Amir. 1996 15-31 Anonymous. Volume XXI. Mengenal Spons Laut (Demospongiae) Secara Umum. Vol. no. . Hal. 1996.com/2008/11/10/mengenal-seluk-beluk-phylum-porifera/) Anonymous. Identifikasi Senyawa Antioksidan Dari SponsCallyspongia sp Dari Kepulauan Seribu. dan Budiyanto. Ichsan. Porifera (http://id.