Anda di halaman 1dari 106

SITUASI EPIDEMI dan KEBIJAKAN

PMS, HIV – AIDS di INDONESIA

DEPARTEMEN KESEHATAN RI

Penyakit Menular Seksual (PMS)

PMS Penyakit yang umumnya terjadi pada alat kelamin
dan ditularkan terutama melalui hubungan seksual
Beberapa organisme penyebab:
1. Bakteri: Neisseria gonorrhoeae, Chlamydia trachomatis,
Treponema pallidum, Gardanella vaginalis, Haemophilus
ducreyi, Donavania granulomatis, Mycoplasma hominis,
Ureaplasma urealycum.
2. Virus: Herpes simplex, Human papilloma, Hepatitis,
Cytomegalovirus, HIV.
3. Protozoa: Trichomonas vaginalis
4. Jamur: Candida albicans
5. Ektoparasit: Phtirus pubis, Sarcoptes scabei.

Macam – macam hubungan seksual:



Genito genital (kelamin dengan kelamin)
Oro-genital (mulut dengan kelamin)
Ano-genital (anus dengan kelamin)
Mano-genital (tangan dengan kelamin)

• Heteroseksual (berbeda jenis kelamin)
• Homoseksual (sesama jenis kelamin) seperti
waria, gay, dan lesbian
• Biseksual (sejenis maupun lain jenis kelamin)

Perilaku yang dapat mempermudah penularan PMS? • Berhubungan seks berisiko (banyak pasangan. pelacuran. tdk menggunakan kondom saat sedang terkena PMS) .

Gejala PMS: • • • • • • • Keputihan yg tidak biasanya Keluar cairan tidak normal dari penis Luka pada dan sekitar alat kelamin Nyeri perut bagian bawah pada perempuan Pembengkakan testis / skrotum Tumbuhan vegetasi Radang mata pada bayi baru lahir .

kebebasan seks • Perubahan sikap terutama dalam bidang agama dan moral • Kelalaian memberikan pendidikan seks • Perasaan aman karena mudah mendapatkan obat dan alat kontrasepsi • Fasilitas kesehatan kurang memadai • PMS yang tak bergejala • Kurangnya informasi tentang PMS di masyarakat .Faktor yang mempengaruhi penularan PMS di masyarakat? • Perubahan demographi: jumlah. mobilitas. sosial ekonomi.

HUBUNGAN PMS & HIV AI D S MELEMAHKAN TUBUH PMS & HIV MEMPERCEPAT PMS PERILAKU SEKSUAL BERISIKO HIV .

Apakah AIDS itu? AIDS (Acquired Immuno Deficiency Syndrome): Merupakan kumpulan gejala penyakit akibat menurunnya sistem kekebalan tubuh oleh virus yang disebut HIV. .

atau disebut juga ‘sel CD-4’. . HIV menyerang limfosit yang disebut ‘sel T-4’ atau ‘sel T-penolong’ (T-helper).Apakah HIV itu? HIV (Human Immuno-deficiency Virus): adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia dan menimbulkan AIDS.

mani • Melalui darah dan produk darah • Dari Ibu ke janin/bayi-nya .Cara penularan HIV • Melalui pertukaran cairan tubuh yaitu cairan vagina.

keringat.Mengapa cara-cara tersebut dapat menularkan HIV? Karena HIV dalam jumlah yang cukup dan poten untuk menginfeksi orang lain dapat ditemukan pada darah. air-mani. . air kencing. dan cairan vagina pengidap. dan melalui perantara nyamuk. air liur/ludah. Tak pernah dilaporkan penularan melalui: air mata.

Seorang pengidap HIV tidak dapat dibedakan dari orang lainnya. Hal ini bisa terjadi selama 5-10 tahun. . karena Seorang pengidap HIV terlihat biasa saja seperti halnya orang lain karena tak menunjukkan gejala klinis.

. kantor dan sama-sama menggunakan fasilitas umum. satu sekolah.Apakah hubungan sosial biasa dapat menularkan HIV? Tidak ! Karena hubungan sosial biasa tidak memungkinkan terjadinya pertukaran cairan tubuh yang dapat menularkan HIV. Hubungan sosial dimaksud seperti: serumah.

Bagaimana kronologi HIV/AIDS? • Stadium pertama: awal terinfeksi HIV termasuk masa “window pariod” (periode jendela) • Stadium ke-dua: tanpa gejala (asimptomatik) • Stadium ke-tiga: Pembesaran kelenjar limfe (AIDS Related Complex) • Stadium ke-empat: AIDS .

PERJALANAN INFEKSI-HIV HIV CD-4 ANTIBODI PERIODE JENDELA 8 – 12 MG SERO-POSITIF 5 – 10 TAHUN AI D S 2 TAHUN .

dan Pneumonia Pneumocystis Carinii • Jika jumlah sel T-4 menurun dibawah 200 .Bagaimana kriteria AIDS? • WHO: minimal 2 gejala major dan 1 gejala minor serta didukung dengan test HIV positif atau adanya penyakit petunjuk utama • Penyakit petunjuk utama: Sarkoma Kaposi.

Pencegahan penularan HIV? • Berperilaku seks yang aman • Mencegah melalui alat-alat tercemar dengan prinsip “universal precaution” • Pencegahan pada transfusi darah dengan skrining • Program pencegahan penularan ibu ke anak .

Mengapa Indonesia perlu waspada terhadap HIV/AIDS? • • • • • • • Industri seks komersial cukup luas Penggunan Napza suntik yang tinggi Prevalensi PMS cukup tinggi Pemakaian kondom rendah Proses urbanisasi yang cepat Hubungan seks premarital dan ekstramarital Sarana Pelayanan Kesehatan kurang menerapkan pencegahan terhadap PMS • Dibeberapa daerah skrining darah transfusi belum memenuhi persyaratan .

SKRINING ORANG. ORGAN –“LINKED CONFIDENTIAL” (tidak untuk diberitahu kepada ybs) . VCT. DETEKSI KASUS. SURVEI. TERAPI. RISET. STUDI –“UNLINKED ANONYMOUS” •DIAGNOSIS. KONSELING •SKRINING PENGAMANAN DARAH. REHABILITASI – “LINKED CONFIDENTIAL”. INFORMED CONSENT.TUJUAN TESTING HIV •SURVEILANS.

ATAU MEMBUAT KEPUTUSAN YANG MENYANGKUT PERILAKU DAN PERSOALAN YANG SANGAT PRIBADI .KONSELING SUATU PROSES YANG MELIBATKAN DUA ORANG YANG TIDAK ADA HUBUNGANNYA SATU SAMA LAIN BERTEMU UNTUK MEMECAHKAN SUATU MASALAH.

MAKSUD KONSELING HIV/AIDS • MENYEDIAKAN DUKUNGAN PSIKOLOGIS • MENCEGAH PENULARAN HIV • MENGEFEKTIFKAN PENGOBATAN. PEMECAHAN MASALAH .

KEADAAN PSIKOLOGIS ODHA • • • • • • Ketidak pastian dalam hidup Kualitas dan lama hidup Pengaruh pengobatan Tanggapan lingkungan/masyarakat Harus membuat keputusan-keputusan Penyesuaian dalam hidup .

REAKSI ODHA • • • • • • • Terkejut (Syok) Penyangkalan Kemarahan Pikiran bunuh diri Ketakutan Menarik diri (isolasi) Hipokondria • • • • • • • Kehilangan Kesedihan Perasaan bersalah Depresi/tertekan Kecemasan Hilang harga diri Perhatian spiritual .

mengenal perilaku. menggali potensi & memecahkan masalah • PENYULUHAN • Komunikasi tidak rahasia • Memberikan informasi dan diskusi untuk mencapai kesehatan masyarakat .PERBEDAAN KONSELING & PENYULUHAN KESEHATAN • KONSELING • Komunikasi rahasia • Dukungan emosi secara pribadi • Meningkatkan individu & keluarga menghadapi dampak emosi.

-.KONSELING HIV DITUJUKAN KE: • • • • • • • • • Orang Dengan HIV-AIDS Bermasalah akibat HIV/AIDS Akan atau sedang di test HIV Menerima hasil test HIV (+ . meragukan) Keluarga / kerabat pengidap HIV-AIDS Khawatir terinfeksi HIV Petugas kesehatan yang sering kontak Kelompok rawan yang menolak test Pekerja atau umum yang ingin tahu status HIV .

pengucilan/isolasi. stigma kelompok.SURVEILANS PADA PENJAJA SEKS • TUJUAN: – Mendapatkan prevalensi HIV – + Deteksi PMS (sipilis) untuk diobati • METODA – “Unlinked Anonymous” – Disertai atau tidak disertai “Informed Consent” – KIE tentang PMS • PROSEDUR: sampel dipisahkan – Sampel  Sipilis dengan identitas (confidential) sedangkan  HIV hanya menggunakan kode (UA) • PERMASALAHAN: – Bias partisipasi. . pelacakan. balas dendam / pindah tempat. pengusiran.

pelacakan dengan segala konsekuensinya. konflik keluarga (suami/pasangan). risiko pada bayi. “unwanted child”. PMTCT .SURVEILANS PADA IBU HAMIL • TUJUAN: – Mendapatkan prevalensi HIV – + Deteksi PMS (sipilis) untuk diobati • METODA – “Unlinked Anonymous” – Disertai atau tidak disertai “Informed Consent” – KIE tentang PMS & Konseling PMS • PROSEDUR: sampel dipisahkan – Sampel  Sipilis dengan identitas (confidential) sedangkan  HIV hanya menggunakan kode (UA) • PERMASALAHAN: – Bias partisipasi.

konflik pasangan . pelacakan.SURVEILANS PADA MSM (LSL) / WARIA • TUJUAN: – Mendapatkan prevalensi HIV – + Deteksi PMS (sipilis) untuk diobati • METODA – “Unlinked Anonymous” – Disertai atau tidak disertai “Informed Consent” – KIE tentang PMS • PROSEDUR: sampel dipisahkan – Sampel  Sipilis dengan identitas (confidential) sedangkan  HIV hanya menggunakan kode (UA) • PERMASALAHAN: – Bias partisipasi. stigma kelompok. balas dendam / pindah tempat. pengucilan/isolasi.

ruangan. kebocoran rahasia medis / catatan medis.TES HIV PADA ORANG BERGEJALA (AIDS) • TUJUAN: – Melakukan diagnosis untuk tindakan & dukungan medis • METODA – “Linked Confidential – Harus dengan “Informed Consent & Konseling” • PROSEDUR: sampel dipisahkan – Pre-tes konseling  Informed consent  pengambilan sampel oleh Medis  sampel + kode ke laboratorium  kirim kembali hasil kepada pengirim (medis)  pasca-tes konseling  konseling lanjutan. . tindakan. konflik keluarga / pasangan. • PERMASALAHAN: – Diskriminasi pelayanan. stigma akibat perlakuan khusus (alat.

pengucilan/isolasi. .SURVEILANS PADA LAPAS (NAPI) • TUJUAN: – Mendapatkan prevalensi HIV – + Deteksi PMS (sipilis) untuk diobati • METODA – “Unlinked Anonymous” – Disertai atau tidak disertai “Informed Consent” – KIE tentang PMS • PROSEDUR: sampel dipisahkan – Sampel  Sipilis dengan identitas (confidential) sedangkan  HIV hanya menggunakan kode (UA) • PERMASALAHAN: – Bias partisipasi. balas dendam. pelacakan. pengusiran. diskriminasi. stigma individu / kelompok.

rahasia terbuka. penolakan perusahaan kerja (bertentangan dengan deklarasi PARIS.TESTING CALON TENAGA KERJA • TUJUAN: – Melakukan diagnosis untuk PERSYARATAN KERJA • METODA – “Voluntary (sukarela bukan atas kehendak perusahaan) – “Linked Confidential” – Harus dengan “Informed Consent & Konseling” • PROSEDUR: sampel dipisahkan – Syarat kesehatan dari Perusahaan kerja  Calon naker ke unit VCT Pre-tes konseling  Informed consent  pengambilan sampel oleh Medis  sampel + kode ke laboratorium  kirim kembali hasil kepada pengirim (medis)  pasca-tes konseling  keputusan ada pada calon naker. . • PERMASALAHAN: – Tes ulang di negara penerima.

tidak reaktif (-) darah dapat digunakan. Seleksi donor (deferal system) dengan VCT – “Linked Confidential” • PROSEDUR: – Registrasi  nomor pada kantong darah “pack”  donasi  tes HIV dengan “unlinked anonymous”  dilakukan test dengan sensitivitas tinggi  reaktif (+) darah tidak dipakai . • PERMASALAHAN: – Pelacakan. Periode jendela.SKRINING (PENGAMANAN) DARAH DONOR • TUJUAN: – Pengamanan darah pada kegiatan transfusi • METODA – Donor sukarela. Stigma individu. remisi. donor pengganti) . rasionalisasi transfusi darah. perilaku risiko tinggi menjadi donor (donor bayaran. . motivasi penghargaan.

SURVEILANS PADA Injecting Drug User • TUJUAN: – Mendapatkan prevalensi HIV • METODA – “Unlinked Anonymous” – Disertai “Informed Consent” untuk diambil darah. pengusiran. stigma kelompok. pelacakan. . pengucilan/isolasi. • PROSEDUR: sampel dipisahkan – Inrormed consent  ambil sampel darah  kirim sampel hanya menggunakan kode (Unlinked Anonymous) • PERMASALAHAN: – Bias partisipasi. balas dendam / pindah tempat.

.

laporan AIDS triwulan II.JUMLAH KUMULATIF KASUS AIDS 10 TAHUN TERAKHIR S/D JUNI 2007 Depkes RI. 2007 .

Depkes RI . 2007.KUMULATIF KASUS AIDS PER PROPINSI S/D Juni 2007 Jumlah Kumulatif Kasus : 9689 10 provinsi dengan kasus AIDS terbanyak Sumber : Laporan AIDS Triwulan II .

laporan AIDS triwulan II.PERSENTASE KASUS AIDS DI INDONESIA BERDASARKAN JENIS KELAMIN S/D JUNI 2007 Depkes RI. 2007 .

laporan AIDS triwulan II.KUMULATIF KASUS AIDS DI INDONESIA BERDASARKAN KELOMPOK UMUR S/D JUNI 2007 Depkes RI. 2007 .

laporan AIDS triwulan II. 2007 .KUMULATIF KASUS AIDS DI INDONESIA BERDASARKAN FAKTOR RISIKO S/D JUNI 2007 Depkes RI.

PROPINSI DENGAN KASUS AIDS TERBANYAK PADA PENGGUNA NAPZA SUNTIK S/D JUNI 2007 Depkes RI. 2007 . laporan AIDS triwulan II.

Estimasi PopulasiRawan Tertular 2006 Depkes RI. laporan Nasional Estimasi Populasi Rawan tahun 2006 .

Laporan NAsional Estimasi Populasi Rawan tahun 2006 .ESTIMASI HIV DAN AIDS 2006 Total Nasional : 193.000 Sumber : Depkes RI.

Estimasi Tren Epidemi HIV di
Indonesia sampai tahun 2020

Sumber : Laporan Nasional Estimasi Populasi Rawan, Depkes, 2006

Hasil STHP di Populasi Umum
Tanah Papua tahun 2006
HIV Prevalence Among General Population Aged 15-49 yo in Tanah
Papua
IBBS Tanah Papua, M0H - 2006

Sumber : Situasi Perilaku dan Prevalensi HIV di Tanah Papua tahun 2006, BPS dan Depkes RI, 2007

Proyeksi Epidemi HIV 1990 – 2020 di Tanah Papua

Depkes RI, Laporan Nasional Proyeksi Epidemi HIV, 2006

KEBIJAKSANAAN PROGRAM PENANGGULANGAN HIV DAN AIDS DI INDONESIA .

konseling • Perundangan mendukung dan selaras STRANAS • Setiap pemberi pelayanan wajib memberi layanan tanpa diskriminasi .Prinsip-prinsip dasar penanggulangan HIV/AIDS • Upaya penanggulangan oleh masyarakat&pemerintah • Setiap upaya harus mencerminkan agama&budaya • Pencegahan diarahkan pd pendidikan&penyuluhan • Setiap orang berhak mendapat informasi yg benar untuk melindungi diri dan orang lain • Setiap kebijakan. program. informed-consent. pelayanan dan kegiatan harus menghormati harkat dan martabat pengidap • Setiap mendiagnosa.

STRATEGI • UPAYA PENCEGAHAN DILAKUKAN DENGAN MEMUTUS RANTAI PENULARAN TERUTAMA PADA POPULASI RAWAN TERTULAR DAN MENULARKAN • UPAYA PELAYANAN DILAKUKAN SECARA KOMPREHENSIF DAN TERPADU DALAM RANGKA MENINGKATKAN KUALITAS HIDUP ORANG DENGAN HIV/AIDS DAN MENGURANGI DAMPAK SOSIAL DARI HIV/AIDS • MENINGKATKAN JANGKAUAN DAN KUALITAS PENGENDALIAN SECARA BERTAHAP BERDASARKAN EPIDEMIOLOGI DENGAN MENGGUNAKAN SETIAP SUMBER DAYA DAN MENGIKUTSERTAKAN SELURUH KOMPONEN MASYARAKAT (PARTNERSHIP) .

I. CASE MGT PALIATIF DUKUNGAN PERAWATAN LAB HARM REDUCTION P’AMANAN LITBANG PERATURAN & UU KONDOM PMTCT TATA LAKSANA IMS . LS & LP KPA KEGIATAN PENUNJANG DIKLAT 100% KEGIATAN PENCEGAHAN COSTING UP IMAI VCT DARAH DONOR ART IO HOTLINE SERVICE HOME BASE CARE GIZI PELAYANAN P.PROGRAMKEGIATAN P2 PMS & AIDS K.E SURVEILANS IT ESTIMASI JAR.KOM.D.P.

RESPONSE UPAYA PENANGGULANGAN DAN RENCANA KEDEPAN .

LAYANAN YANG TELAH ADA • VCT (Voluntary Conseling and Testing) terdapat di 296 klinik • ART (Anti Retroviral Therapy) terdapat 153 Rumah Sakit • IMAI (Integrated Management Adult Illnesses) terdapat di 20 Jaringan rujukan • PMTCT (Prevention Mother To Child Transmission) terdapat di 19 RS • Methadone Program terdapat di 4 RS dan 10 Puskesmas • Peningkatan upaya pencegahan di seluruh lini .

Fokus Utama Penanggulangan AIDS ke depan • Memperkuat koordinasi internal Departemen Kesehatan dengan melibat-aktifkan semua unit yang terkait. KPA Provinsi dan KPA Kabupaten/kota • Meningkatkan cakupan kelompok populasi berisiko yang mengetahui status HIVnya dengan  eskalasi dan intensifikasi layanan Klinik VCT (1 pada semua Kab/kota) . • Meningkatkan peran Depkes dan jajarannya (Dinkes Provinsi dan kab/kota) sebagai leading sektor dan berperan aktif dalam struktur KPAN.

.

Hasil STHP pada Populasi Umum di Tanah Papua 2006 .

• Survei khusus perlu dilakukan untuk lebih memahami prevalensi HIV dan dinamika penularan di Papua. • Dilakukan survei Integrasi antara survei HIV dan Survei Perilaku Survei Terpadu HIV dan Perilaku (STHP) .Pendahuluan • Pada sebagian besar wilayah di Indonesia. Epidemi HIV terkonsentrasi (pada subpopulasi berisiko telah > 5% tetapi populasi umum <1%) • Beberapa surveilans mengindikasikan bahwa kemungkinan penularan HIV sudah meluas ke masyarakat umum di Papua.

Metodologi Survei Terpadu HIV & Perilaku (STHP) Papua 2006 .

• Menghasilkan data perilaku yang terintegrasi dengan biologis untuk penyusunan intervensi di Papua. jenis kelamin dan tingkat sosial ekonomi di Papua • Mengetahui tentang dinamika penularan HIV.Tujuan • Memperoleh angka prevalensi HIV di Tanah Papua • Mengetahui lebih detail dan memahami distribusi infeksi HIV menurut geografis. termasuk perilaku seksual di Papua. umur. .

• Tiga tahapan pemilihan sampel kelompok dengan stratifikasi pada wilayah pegunungan. • Wawancara dan tes HIV dilaksanakan pada seluruh lelaki dan perempuan yang berusia 1549 tahun yang ada pada rumah tangga terpilih. pesisir mudah.Metode • Survai pada penduduk pada tingkat rumahtangga yang dilakukan pada periode AgustusOktober 2006. dan pesisir sulit. .

• Tes HIV bersifat rahasia dan tidak ada informasi jati diri . LSM dan KPA.Prosedur Pengumpulan Data • Wawancara tatap muka dilakukan tim pengumpul data yang terdiri dari staf BPS. petugas kesehatan. • Pengumpulan data dilakukan dengan menjamin kerahasiaan dan tanpa dicatat jatidiri responden. • Darah tepi diambil dari jari untuk pemeriksaan.

Hasil STHP Papua 2006 .

500 individu ditargetkan untuk berpartispasi dari 10 wilayah kabupaten dan kota • 6.Hasil • 6.305 (97%) yang berhasil diwawancara • 6.223 (96%) yang berhasil didapatkan sampel darah .

Karakteristik sampel STHP Papua 2006 .

Sampel Menurut Distribusi Topografi di Papua .

Sebagian Besar Responden Tinggal di Pedesaan .

Sekitar 70% Responden dengan Ethnis Papua .

Pengetahuan dan Perilaku yang terkait dengan HIVAIDS STHP Papua 2006 .

Separuh populasi pernah mendengar AIDS. lebih sedikit perempuan pernah mendengar AIDS dibandingkan lelaki .

lebih banyak yang pernah dengar tentang HIV/AIDS .Lebih tinggi tingkat pendidikan.

Sebagian besar penduduk Papua tidak pernah dengar informasi langsung tentang HIV/AIDS .

lebih besar pada pendidikan yang lebih tinggi .Cakupan Media terbanyak adalah Radio dan TV.

Hanya 1/3 Penduduk Papua Tahu Manfaat Kondom .

juga Penduduk Perempuan .Sekitar 20% Penduduk Lelaki Papua Punya Banyak Pasangan.

Penduduk dengan Banyak Pasangan. Setengahnya Adalah Pasangan Seks dengan Imbalan Jenis pasangan Pada Penduduk Papua yang Masih Seksual Aktif Seks Imbalan Seks “Casual” .

Pemakaian kondom pada seks berisiko sangat rendah Pasangan Tidak Tetap. Menurut jenis Pasangan Seks .

1/3 Lelaki and 1/7 Perempuan minum alkohol sebelum seks non-marital .

5% Lelaki – 0.Perilaku seks berisiko lainnya • Seks Antri setahun yang lalu pada yang penduduk yang aktif seksual: – 0.2% .8% Perempuan • Pemaksaan Seks setahun yang lalu pada yang seksual aktif: – 6% Lelaki memaksa untuk Hubungan Seks • 57% adalah Istrinya – 12% Perempauan Dipaksa untuk Hubungan Seks • by husband 84% of cases • Lelaki dengan seks anal dengan lelaki: 0.

Seks imbalan adalah faktor risiko utama untuk IMS .10% Penduduk melaporkan gejala IMS setahun lalu.

di pegunungan memilih ke non-medis (terutama mengobati sendiri) .Penduduk dengan IMS di pesisir berobat ke unit kesehatan.

Yang Pernah Tes Banyak yang Tidak Tahu Hasilnya .Sangat Jarang Penduduk yang pernah Tes HIV.

Perilaku Penggunaan Narkoba • Pernah Menggunakan Narkoba: 0.14% – Heroin 0.02% .4% – Ekstasi 0.03% • Jenis narkoba yang dipakai setahun yang lalu – Ganja 0.8% • Menggunakan narkoba Suntikan Setahun yang lalu: 0.

Perilaku Berisiko di Pegunungan .

Persen Penduduk yang punya banyak pasangan lebih tinggi di Pegunungan .

Penduduk di Pegunungan Lebih Banyak yang Melakukan Seks Imbalan .

Kondom sulit didapat di pegunungan .

Prevalensi HIV .

Prevalensi HIV lebih tinggi pada lelaki dibandingkan perempuan (p=0.008) .

HIV menyebar di Seluruh Tanah Papua (Ini Bukan Gambaran Prevalensi Kabupaten) .

Perilaku yang terkait dengan penularan HIV .

HIV lebih tinggi pada yang lebih tua dan lebih muda pada lelaki dan Perempuan .

Seks pertama sebelum usia 15 tahun meningkatkan risiko tertular HIV .

Generasi Termuda Lebih Banyak yang Seks Pertama Sebelum Usia 15 tahun .

Penduduk yang lebih muda cenderung punya banyak pasangan .

Punya banyak pasangan seks meningkatkan risiko tertular HIV .

Seks imbalan adalah faktor risiko utama

Lelaki dengan IMS berisiko tinggi untuk
tertular HIV

Prevalensi HIV lebih tinggi di
daerah perdesaan

Penduduk yang disirkumsisi lebih rendah risiko tertular HIV .

Non-Papua .Penularan HIV Papua Vs.

HIV lebih tinggi pada etnis Papua dibandingkan Non-Papua .

Lelaki Papua Lebih Banyak Melakukan Seks Imbalan dibandingkan Lelaki Non-papua .

Jarang lelaki Papua yang Disunat .

Kesimpulan dan Saran .

Kesimpulan • Prevelansi HIV sudah tinggi di seluruh Papua. termasuk di pedalaman • Perilaku Seks Imbalan merupakan faktor utama pada prevalensi HIV yang tinggi • Kaum muda cenderung lebih berisiko karena mempunyai banyak pasangan dan seks pertama yang sangat muda .

Kesimpulan • Kondom tidak mudah diperoleh di Tanah Papua • Prevalensi IMS lebih tinggi pada yang berperilaku seks imbalan. Adanya IMS mempermudah penularan HIV • Perilaku minum alkohol dan narkoba bukan faktor utama penularan HIV .

Kesimpulan • Tingkat pengetahuan tentang pencegahan penularan HIV masih rendah • Upaya pencegahan belum menjangkau penduduk dengan tingkat pendidikan rendah • Media Massa merupakan media yang efektif untuk menjangkau sebagian besar penduduk .

Saran • Promosi pencegahan termasuk kondom perlu ditingkatkan untuk menjangkau penduduk yang berisiko. termasuk kaum muda di seluruh tanah Papua • Akses kondom perlu ditingkatkan di seluruh Tanah Papua • Program Pengendalian IMS perlu ditingkatkan di seluruh Tanah Papua .