Anda di halaman 1dari 32

PANDUAN

RESUS ITASI JANTUNG DAN PARU

RS PKU MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA UNIT II
Jl. Wates KM 5,5 Gamping, Sleman,

Yogyakarta—55294 Telp. 0274
6499706, Fax. 0274 6499727

RS PKU MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA UNIT II
Jl.Wates Km 5,5 Gamping, Sleman, Yogyakarta – 55294
Telp. (0274) 6499706, IGD (0274) 6499118
Fax. (0274) 6499727,e-mail:pkujogja2@yahoo.co.id

KEPUTUSAN DIREKTUR
RUMAH SAKIT PKU MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA UNIT II
Nomor : 0425/PS.1.2/IV/2015
Tentang
PANDUAN RESUSITASI JANTUNG DAN PARU
DIREKTUR RUMAH SAKIT PKU MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA UNIT II
Menimbang

: a. Bahwa dalam upaya
meningkatkan
kualitas dan
keamanan pelayanan pasien, maka diperlukan adanya
Panduan Resusitasi Jantung dan Paru di Rumah Sakit
PKU Muhammadiyah Yogyakarta Unit II.
b. Bahwa sesuai butir a diatas perlu menetapkan Keputusan
Direktur Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta
Unit II tentang Panduan Resusitasi Jantung dan Paru

Mengingat

: 1. Undang-Undang RI Nomor 36 Tahun
Kesehatan

2009

tentang

2. Undang-Undang RI Nomor 44 Tahun 2009 tentang
Rumah Sakit
3. Undang-Undang RI Nomor 29 Tahun 2004 tentang
Praktek Kedokteran
4. Keputusan
Menteri
Kesehatan
RI
Nomor
1165.A/MenKes/SK/X/2004 tentang Komisi Akreditasi
Rumah Sakit.
5. Surat Keputusan Badan Pelaksana Harian Rumah Sakit
PKU Muhammadiyah Yogyakarta nomer 015/B-II/BPHII/XII/2013 tanggal 12 Desember 2013 M, tentang
Susunan Direksi Rumah Sakit PKU Muhammadiyah
Yogyakarta Unit II.

dr. Kes. NBM: 797. : Panduan Resusitasi Jantung dan Paru dimaksudkan sebagaimana tercantum dalam Panduan di Keputusan ini. Ditetapkan di : Sleman Pada Tanggal : 4 April 2015 Direktur. Sp.M E M U T U S K AN Menetapkan : PERTAMA KEPUTUSAN DIREKTUR RUMAH SAKIT PKU MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA UNIT II TENTANG PANDUAN RESUSITASI JANTUNG DAN PARU RUMAH SAKIT PKU MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA UNIT II. H. : Pelaksanaan Panduan Resusitasi Jantung dan Paru dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas dan keamanan pelayanan pasien sebagaimana dimaksud dalam Diktum kesatu KEDUA KETIGA KEEMPAT : Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan. .692 M. Ahmad Faesol.

Masukan. Sleman. Panduan ini dibuat untuk menjadi panduan kerja bagi semua staf dalam melakukan Resusitasi Jantung dan Paru di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta unit II. Tuhan semesta alam yang telah memberikan Ridlo dan Petunjuk – Nya. sehingga Panduan Resusitasi Jantung Dan Paru ini dapat selesaikan dan dapat diterbitkan. Dalam panduan ini antara lain berisi tentang tatalaksana Resusitasi Jantung dan Paru Untuk peningkatan mutu pelayanan diperlukan pengembangan kebijakan. panduan dan prosedur. Untuk tujuan tersebut panduan ini akan kami evaluasi setidaknya setiap 2 tahun sekali. kritik dan saran yang konstruktif untuk pengembangan panduan ini sangat kami harapkan dari para pembaca. 1 April 2015 Direktur RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta unit II i . pedoman.KATA PENGANTAR Segala puji hanyalah bagi Allah Subhanahuwata’ala.

Bantuan Hidup Lanjut Pada Dewasa 13 D. Terapi Elektrik 10 C. Etika Menunda Dan Menghentikan Resusitasi Jantung 18 Paru KEPUSTAKAAN 22 RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta unit II ii . Perawatan Pasca Henti Jantung 14 E.DAFTAR ISI Halaman: SK DIREKTUR KATA PENGANTAR i DAFTAR ISI ii BAB I : DEFINISI 1 BAB II : RUANG LINGKUP 3 BAB III : TATA LAKSANA A. Bantuan Hidup Dasar Dewas 4 B.

Berdasar proporsi angka kematian di perkotaan pada kelompok umur 45 – 54 tahun. tergantung kepada kemampuan penolong.1.9%) dan urutan kedua adalah diabetes melitus (14.LAMPIRAN Keputusan Direktur Nomor : 0416/PS.2/IV/2015 Tentang Panduan Resusitasi Jantung dan Paru BAB I DEFINISI Kejadian mati mendadak masih merupakan penyebab kematian utama baik di Negara maju maupun di negara berkembang seperti Indonesia. Rantai pertama pada rantai kelangsungan hidup (the chain of survival) adalah mendeteksi segera kondisi korban dan meminta pertolongan (early access). penyakit jantung iskemik menduduki urutan ketiga (8. dan sumber daya yang tersedia. penyakit jantung iskemik merupakan urutan keempat. Bantuan hidup dasar menekankan pada pentingnya mempertahankan sirkulasi dengan segera melakukan kompresi sebelum membuka jalan napas dan memberikan napas bantuan. Pada kelompok umur yang sama untuk daerah pedesaan. rantai kedua adalah resusitasi jantung paru (RJP) segera (early cardiopulmonary resuscitation).7%). rantai ketiga adalah defibrilasi segera (early defibrillation). kondisi korban.Perubahan pada siklus bantuan hidup dasar menjadi C-A-B (compression – airway – breathing) ini dengan pertimbangan segera mengembalikan sirkulasi jantung sehingga perfusi jaringan dapat terjaga.7%) sebagai penyebab kematian.Urutan pertama adalah stroke (15.Meskipun pencapaian optimal dari RJP ini dapat bervariasi. Resusitasi jantung paru merupakan serangkaian tindakan untuk meningkatkan daya tahan hidup setelah terjadinya henti jantung. tantangan mendasar tetap pada bagaimana melakukan RJP sedini mungkin dan efektif. rantai keempat adalah tindakan bantuan hidup lanjut segera (early advanced cardiovascular RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta unit II 1 .

Keban yakan pasien mengalami takikardi ven trikel (ventricular tachycardia/ VT) se belum akhirnya berubah menjadi VF. irama jantung sudah mengal ami perburukan lagi menjadi asistol.life support) dan rantai kelima adalah perawatan pasca henti jan tung (post cardiacarrest care) Berbagai penelitian menunjukkan bahwa pada sekitar 40 % pasien sindroma koroner akut (SKA) dapat terjadi iraa fibrilasi ventrikel (ventricu lar fibrillation/VF). suatu irama yang menyebabkan henti jantung mendadak (sudden cardiac death/SCD). da n pada saat pasien akhirnya direkam irama jantungnya. RS PKU Muhammadi yah Yogyakarta unit II 2 . Tera pi optimal untuk mengatasi VF adalah res usitasi jantung paru (RJP) dan defibrilasi elektrik.

dan kedalaman absolut yang direkomendasikan untuk anak dan bayi lebih dalam daripada versi AHA sebelumnya. Menghindari ventilasi yang berlebihan. dokter gigi. RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta unit II 3 .BAB II RUANG LINGKUP Pada panduan resusitasi ini akan ditekankan pada pemberian bantuan hidup dasar yang harus dikuasai oleh setiap dokter. Perhatikan bahwa rentang 1. 3. breathing. dokter spesialis maupun first responder di lapangan.5 inchi (4 cm) pada bayi dan 2 inchi (5 cm) pada anak). Bantuan hidup dasar diutamakan pada penanganan airway. Menciptakan pengembangan dinding dada yang optimal di setiap akhir kompresi. Kecepatan kompresi minimal 100 kali/ menit (perubahan dari panduan sebelumnya yang menyatakan “kurang lebih” 100 kali/ menit). Kedalaman kompresi paling tidak 2 inchi (5 cm) pada dewasa dan kedalaman kompresi paling tidak sepertiga diameter antero posterior dari thorax pada bayi dan anak (kurang lebih 1. circulation berdasarkan panduan terbaru dari American Heart Association 2010 mengenai Panduan Resusitasi Jantung Paru (RJP). Detail dari tiap-tiap siklus C – A – B akan dijelaskan pada bab berikutnya.5 sampai 2 inchi tidak lagi digunakan untuk korban dewasa. Beberapa hal yang ditekankan pada panduan resusitasi ini yaitu : 1. 4. 5. Meminimalkan kompresi saat melakukan kompresi dada. 2.

Bantuan Hidup Dasar Dewasa Bila menemukan penderita dalam keadaan henti jantung. harus segera memberikan pertolongan pertama berupa Bantuan Hidup Dasar (BHD).BAB III TATA LAKSANA 1.BHD dapat dilakukan oleh satu atau dua penolong. Gambar 1. Alur bantuan hidup dasar yang disederhanakan RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta unit II 4 .

Tahapan yang harus dilakukan dalam BHD adalah sebagai berikut : 1. Lakukan cek respon penderita dengan memanggil nama atau menepuk bahu. 4. RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta unit II 5 . Penolong yang mengetahui pertama kali harus segera melakukan penilaian dini kesadaran korban. Pastikan lingkungan penderita aman untuk dilakukan pertolongan. Cek respon penderita 2. Gambar 2. Meminta bantuan pertolongan atau mengaktifkan sistem pengananan kegawat daruratan terpadu. Lakukan pengecekan nadi karotis untuk memastikan apakah penderita mengalami henti jantung atau tidak (nadi karotis normal : 60 – 100 kali/ menit). Tahap Resusitasi Jantung Paru 1. 3. Tahap Pertolongan 1. 2.

5 – 2 inci (4 – 5. Kompresi yang berkualitas tinggi pada anak .Gambar 3. Lakukan kompresi dada sebanyak 30 kali. Gambar 4. Kedalaman kompresi dada minimal 2 inchi (5 cm) pada dewasa. Cek nadi karotis penderita 2. 4) Minimalkan interupsi selama melakukan kompresi dada. 1. 3) Upayakan pengembangan dada secara sempurna (complete chest recoil) di setiap kompresi.cm) pada bayi dan anak. dengan ketentuan sebagai berikut : 1) 2) Kompresi dada minimal 100 kali/ menit.

RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta unit II 6 .

Lakukan pemeriksaan jalan napas untuk mengevaluasi apakah ada sumbatan jalan napas. 6) Akral hangat. 3) Ditemukan suara napas tambahan saat inspirasi (gurgling atau snoring). tidak efektif. 4) Kesulitan bernapas. Sedangkan sumbatan jalan napas total memiliki tanda sebagai berikut : 1) Pertukaran udara buruk atau tidak ada. 6) Tidak mampu bicara. 5) Sianosis. Sumbatan jalan napas parsial memiliki tanda sebagai berikut : 1) Pertukaran udara di perifer masih baik. lakukan pembebasan jalan napas dengan cara sebagai berikut : 1) Tekan dahi angkat dagu (head tilt – chin lift) bila tidak ada trauma. 8) Akral dingin. 2) Masih ada suara napas. 4. Bila ditemukan adanya sumbatan. 4) Ada upaya batuk dari pasien untuk mengeluarkan sumbatan. 7) Memegangi leher. atau tidak ada. 2) Batuk yang lemah. 5) Pasien masih mampu berbicara meskipun terbata-bata atau satu dua patah kata.3. 3) Suara napas tambahan saat inspirasi atau tidak ada suara napas. Sumbatan jalan napas dapat digolongkan sebagai sumbatan jalan napas total dan sumbatan jalan napas parsial. RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta unit II 7 .

Teknik melakukan jaw thrust RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta unit II 8 . Gambar 6. Teknik melakukan head – tilt chin – lift 2) Mendorong rahang bawah (jaw trust) bila ada trauma.Gambar 5.

Apabila nadi tetap tidak ada.3) Berikan napas bantuan sebanyak 2 kali. lanjutkan kompresi dada lagi. Teknik memberikan napas bantuan dengan masker 4) Setelah memberikan napas bantuan 2 kali. Gambar 7. RJP tetap dilakukan sampai tim bantuan emergensi datang atau tersedia alat defibrilasi dan siap digunakan. Lakukan siklus ini sampai 5 kali. setiap napas bantuan selama 1 detik. dilanjutkan kompresi dada sebanyak 30 kali. Berikan napas bantuan 2 kali. Setelah 5 kali siklus RJP dilakukan pengecekan kembali apakah nadi teraba. Cara memberikan napas bantuan dapat menggunakan teknik dari mulut ke mulut atau menggunakan alat (masker atau bagging). RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta unit II 9 .

Karena defibrilasi merupakan suatu proses elektrofisiologis yang terjadi dalam 300 – 500 milidetik setelah penghantaran energi. istilah “defibrilasi” (keberhasilan shock) .Secara ringkas bantuan hidup dasar adalah sebagai berikut : Algoritma 1. Pengaturan energi untuk defibrilator diatur untuk menyediakan energi dengan tingkat terendah namun masih efektif dalam menghilangkan VF. Langkah – langkah bantuan hidup dasar 2. Terapi Elektrik Defibrilasi Proses defibrilasi mencakup penghantaran energi listrik melalui dinding dada menuju ke jantung untuk mendepolarisasikan sel-sel miokard dan menghilangkan VF.

RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta unit II 10 .

Pada anakanak dapat diberikan energi awal 0. Dosis energi awal dengan alat bifasik yang direkomendasikan untuk atrial flutter dan supraventrikular takikardia yaitu 50 – 100 J. Kardioversi tersinkronisasi Kardioversi tersinkronisasi adalah hantaran kejut yang bersamaan dengan kompleks QRS (sinkron). atrial fibrilasi. Pasien yang tidak stabil memperlihatkan tanda-tanda perfusi yang jelek termasuk status mental yang berubah. Jika dengan dosis 50 J awal gagal. dan atrial flutter.5 – 1 J/kg untuk supra ventrikular takikardia.didefinisikan sebagai hilangnya VF selama kurang lebih 5 detik setelah dilakukan kejutan listrik.Kardioversi juga direkomendasikan untuk mengobati VT monomorfik yang tidak stabil.Hantaran kejut dapat menghentikan irama ini karena memutuskan pola reentri. hipotensi. atau tanda lain syok dan edema paru. nyeri dada berlanjut. Kardioversi tersinkronisasi direkomendasikan untuk mengobati SVT yang tidak stabil akibat reentry. RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta unit II 11 .Energi (dosis kejut) yang digunakan untuk kejut sinkronisasi lebih rendah dari yang digunakan untuk kejut yang tidak tersinkronisasi (defibrilasi). Kardioversi tidak akan efektif untuk pengobatan junctional tachycardia atau ektopik atau multifocal atrial tachycardia karena irama ini memiliki fokus yang otomatis. penolong dapat meningkatkan dosis secara bertahap.Hantaran kejut tersinkronisasi (kardioversi) diindikasikan untuk mengobati takiaritmia yang tidak stabil yang berhubungan dengan pembentukan kompleks QRS dan irama nadi. dengan dosis maksimal 2 J/kg.

Algoritma 1. Penanganan ventricular fibrillation dan pulseless ventricular tachycardia RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta unit II 12 .

parameter fisiologis (partial pressure of end-tidal CO2 [PETCO2]. Bantuan Hidup Lanjutan Pada Dewasa Dalam melakukan bantuan hidup jantung lanjut tetap ditekankan pada pentingnya RJP yang berkualitas tinggi sebagai manajemen dasar dari henti jantung. melakukan kejut jantung.3. atau saturasi oksigen vena sentral/ central venous oxygen saturation [Scvo2]). diupayakan tidak mengganggu kompresi dada atau menunda pemberian defibrilasi. pemberian obat. Ventilasi diberikan setiap 6 atau 8 detik sekali (8 – 10 ventilasi per menit) dan harus menghindari pemberian hiperventilasi. atau bila memungkinkan. Melakukan monitor dan optimalisasi kualitas RJP menggunakan parameter mekanis (kecepatan dan kedalaman kompresi dada. atau lakukan manajemen advanced airway. tekanan arteri selama fase relaksasi dinding dada saat melakukan kompresi. RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta unit II 13 . Setelah penggunaan alat bantu napas tingkat lanjut salah satunya berupa endotracheal tube (ETT). kompresi harus dilanjutkan dengan kecepatan setidaknya 100 kali kompresi per menit tanpa harus ada jeda untuk memberikan ventilasi atau oksigenasi. menilai pulsasi nadi karotis bila terdeteksi irama jantung ritmis. Pemasangan akses intravena. Sehingga diharapkan tenaga medis dapat melakukan intervensi secara tepat pada pasien dengan irama jantung tersebut. Apabila tidak terdapat sarana manajemen jalan napas tingkat lanjut. dan meminimalkan intervensi selama kompresi). kompresi – ventilasi tersinkronisasi dengan rasio 30:2 lebih direkomendasikan dengan kecepatan kompresi setidaknya 100 kali per menit. Penghentian RJP secara periodik harus diminimalisir dan hanya dilakukan untuk menilai ritme jantung. pengembangan kembali dinding dada secara adekuat. dan manajemen jalan napas tingkat lanjut. Ritme yang secara spesifik meningkatkan angka kelangsungan hidup setelah dilakukan defibrilasi adalah ventrikel fibrilasi atau ventrikel takikardi tanpa pulsasi nadi.

Tujuan awal dari perawatan pasca henti jantung adalah : RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta . Disfungsi organ dan komplikasi pasca resusitasi memerlukan berbagai tindakan yang terpadu. Bantu hidup jantung lanjut 4. Suatu keadaan henti jantung akan berdampak terhadap berbagai sistem organ. Sebagian besar kematian terjadi dalam 24 jam pertama setelah onset henti jantung. Perawatan Pasca Henti Jantung Perawatan pasca henti jantung merupakan suatu komponen penting pada bantuan hidup lanjut.Algoritma 2.

unit II 14 .

bantu dengan rehabilitasi ketika dibutuhkan. Bila korban selamat. Pada kasus henti jantung di luar rumah sakit. Patensi jalan napas Pasien tidak sadar membutuhkan alat bantu napas lanjut untuk pemberian ventilasi mekanik. Pada kasus henti jantung yang terjadi di rumah sakit. 4. Mengoptimalkan fungsi jantung dan paru serta perfusi organ vital. RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta unit II 15 . Berbagai sistem organ yang harus diperhatikan pada kembalinya sirkulasi spontan (return on spontaneus circulation/ ROSC) yaitu : 1. 4.1. pasien hendaknya dirujuk ke rumah sakit yang sesuai yang memiliki sistem perawatan pasca henti jantung yang komprehensif. Tujuan selanjutnya dari perawatan pasca henti jantung : 1. Mengurangi resiko kerusakan multi organ dan menunjang fungsi organ tersebut jika diperlukan. perawatan neurologik. meliputi intervensi koroner akut. 2. Hindari pemakaian fiksasi ETT yang melingkari leher pasien karena berpotensi mengganggu aliran darah vena dari otak. 5. 6. Secara obyektif menilai prognosis untuk pemulihan. pindahkan pasien unit perawatan intensif yang sesuai yang mampu memberikan perawatan pasca henti jantung yang komprehensif. Bila perlu gunakan endotracheal tube (ETT) untuk menjaga patensi jalan napas. Mencari dan melakukan tata laksana sindroma koroner akut. 2. Mengoptimalkan ventilasi mekanik untuk meminimalkan trauma pada paru. Mengendalikan suhu tubuh untuk mengoptimalkan kelangsungan hidup dan pemulihan neurologis. dan hipotermia. 3. goal – directed critical care. Mencoba mencari dan mengatasi penyebab yang mencetuskan henti jantung dan mencegah berulangnya henti jantung. 3.

Ventilasi/ oksigenasi yang cukup Meskipun oksigen 100% mungkin diperlukan pada awal resusitasi. Disability Patofisiologi cedera otak pasca henti jantung melibatkan rangkaian kompleks molekular yang dicetuskan oleh iskemia dan reperfusi yang masih berlangsung selama beberapa jam sampai beberapa hari setelah ROSC. 4. Hiperventilasi atau overbagging harus dihindari karena dapat meningkatkan tekanan dalam rongga dada yang kemudian menurunkan cardiac output. Sirkulasi Pengawasan tanda vital dan aritmia harus dilakukan secara kontinyu. Kejadian dan kondisi dari periode pasca henti jantung memiliki potensi untuk mencetuskan atau melemahkan jalur ini dan mempengaruhi hasil akhir. Monitoring EKG kontinyu harus dilanjutkan setelah ROSC. Cairan dingin dapat digunakan bila dipilih terapi hipotermia. Akses intravena harus dipasang bila sebelumnya selama resusitasi belum diperoleh. selama transport.Apabilapasienhipotensi(tekanandarahsistolik≤90mmHg). oksigen harus dititrasi hingga level paling rendah yang dibutuhkan untuk mempertahankansaturasioksigen≥94% untukmenghindariintoksikasi oksigen. atau Epinefrin dapat dimulai jika diperlukan dan dititrasi hingga mencapaitekanan darah sistolik minimum ≥ 90 mmHg atau tekananarterirata-rata≥65mmHg. dan kesesuaian ventilator. Norepinefrin. nilai AGDA. Ventilasi dapat diberikan mulai 10 – 12 kali per menit dan dititrasi untuk mencapai PaCO2 40 – 45 mmHg. pertimbangkan pemberian bolus cairan. Sedangkan untuk ventilasi mekanik harus diatur berdasarkan saturasi oksihemoglobin. Manifestasi klinis dari cedera otak pasca henti jantung RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta unit II 16 . Infus obat vasoaktif seperti Dopamin. ventilasi per menit. dan selama di ICU sampai kondisi stabil tercapai. 3.2. Penurunan PaCO2 yang terjadi pada hiperventilasi berpotensi menurunkan aliran darah ke otak secara langsung.

meliputi koma. Penghangatan kembali pada pasien koma yang secara spontan menjadi hipotermia ringan (> 32°C) setelah resusitasi selama 48 jam pertama setelah ROSC. Exposure Direkomendasikan bahwa pasien dewasa dalam kondisi koma dengan ROSC pasca henti jantung di luar rumah sakit sebaiknya didinginkan sampai suhu 32°C . beberapa tingkat disfungsi neurokognitif (mulai dari defisit daya ingat sampai status vegetatif) dan kematian otak. Agen neuroprotektif dengan obat – obat antkonvulsi seperti halnya Thiopental dan Diazepam dosis tunggal atau Magnesium atau keduanya dapat diberikan pada kejang setelah ROSC. Hipotermia yang diinduksi juga bisa dipertimbangkan untuk pasien dewasa yang koma dengan ROSC pasca henti jantung di dalam rumah sakit dengan irama awal pulseless electrical activity atau asystole. 5. myoclonus. kejang. namun tidak dapat meningkatkan status neurologis dari pasien.34°C selama 12 – 24 jam. RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta unit II 17 .

Terapi optimal disfungsi organ miokard dan iskemia miokard dapat meningkatkan kemungkinan harapan hidup. Penatalaksanaan pasca henti jantung Keadaan pasca henti jantung biasanya dihubungkan dengan instabilitas hemodinamik. seperti gangguan metabolik. antara RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta . Intervensi untuk mengurangi cedera otak sekunder. Tata laksana komprehensif pasca henti jantung melibatkan berbagai disiplin ilmu. Setiap sistem organ menjadi beresiko pada saat tersebut dan pasien juga beresiko untuk mendapat disfungsi multi organ. seperti terapi hipotermia.Algoritma 3. dapat meningkatkan angka harapan hidup dan kembalinya fungsi neurologis.

unit II 18 .

DNAR (do not attempt rescucitation) Tidak seperti intervensi medis yang lain. Dokter yang berkompeten dibutuhkan untuk menentukan penundaan upaya resusitasi jantung paru pada pasien. Etika Menunda dan Menghentikan Resusitasi Jantung Paru Etika Menunda Upaya Resusitasi Jantung Paru Seluruh pasien anak dan dewasa yang mengalami henti jantung selama masa perawatan di rumah sakit. ilmu penyakit dalam.lain perawatan kritis. Dokter yang saat itu menangani pasien harus menulis permintaan DNAR di rekam medis pasien. diperlukan unit perawatan kritis yang baik dalam mengantisipasi. RJP dilakukan tanpa menunggu perintah atau persetujuan dari dokter tetapi langsung dilakukan apabila ada tanda henti jantung pada pasien. DNAR verbal tidak diperbolehkan. lebih takut diabaikan dan menghadapi rasa sakit dari pada kematian itu sendiri. dengan catatan mengapa DNAR dilakukan. Pasien dengan sakit yang sudah terminal. ilmu penyakit jantung. dan ilmu penyakit saraf. dan menatalaksana setiap masalah yang terjadi. hasil diskusi dengan pasien. harus segera dilakukan resusitasi. kondisi spesifik lain yang menyebabkan keterbatasan intervensi. termasuk penggunaan RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta unit II 19 . monitor. kecuali bila masuk ke dalam kriteria DNAR (do not attempt rescucitation) atau memiliki tanda kematian yang irreversible (misalnya pasien memiliki ketergantungan penuh pada alat bantuan hidup untuk kelangsungan hidupnya). sehingga dokter harus meyakinkan pasien dan keluarga bahwa pengendalian rasa nyeri dan kondisi lain yang dapat menurunkan kualitas hidup akan tetap dilakukan meskipun upaya resusitasi jantung paru mungkin ditunda. dan keluarga pasien.Perintah pembatasan terapi harus mencantumkan instruksi mengenai intervensi kegawatdaruratan spesifik yang mungkin dibutuhkan. 5. Oleh karena itu. lingkungan.

produk darah. Perintah DNAR harus dikaji oleh ahli anestesi sebelum operasi dilakukan. oksigen. kecuali intervensi ini masuk dalam perintah DNAR tersebut. Karakteristik henti jantung yang dipertimbangkan oleh tenaga medis dalam menghentikan upaya resusitasi meliputi durasi dilakukannya RJP. atau antibiotik. dan keputusan untuk menghentikan upaya resusitasi dapat bervariasi tergantung pada dokter dan institusi yang menangani. yang mengalami ROSC. RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta unit II 20 .Perintah DNAR harus menyebutkan secara spesifik intevensi mana yang ditunda. dan aspek lain dari rencana terapi harus didokumentasikan secara terpisah dan dikomunikasikan kepada tenaga medis yang lain. ventilasi mekanis. Menghentikan upaya resusitasi jantung paru Pada anak. ahli bedah yang akan menjadi operator operasi. atau vasopresor. waktu terjadinya henti jantung. etiologi henti jantung. terutama bila pasien mengalami perubahan kondisi. Dengan tidak adanya panduan yang jelas ini. belum ada laporan yang valid mengenai keputusan maupun aturan klinis sebagai panduan untuk menghentikan upaya resusitasi. Perintah DNAR tidak serta merta mencakup intervensi lain seperti pemberian cairan parenteral. Perintah DNAR harus dikaji ulang secara berkala sesuai dengan protokol lokal. anti aritmia. Perintah DNAR tidak membawa implikasi pada terapi lain. ritme jantung ketika pertama kali henti jantung dan sesudah dilakukan intervensi resusitasi. dan usia. Perpanjangan upaya resusitasi dapat dilakukan bila terjadi VF atau VT refrakter.Beberapa pasien mungkin memilih untuk diterapi dengan defibrilasi dan kompresi dada tetapi tidak bersedia diintubasi dan ventilasi mekanis. klinisi atau tenaga medis dapat menghentikan upaya resusitasi bila didapatkan tingkat kepastian yang tinggi bahwa pasien tidak akan berespon meskipun dilakukan bantuan hidup tingkat lanjut. nutrisi. sedasi. analgesik.agen vasopresor. dan pasien atau keluarga untuk menentukan apakah perintah DNAR ini aplikatif selama proses operasi dilakukan dan selama immediate postoperative recovery period. dosis pemberian epinefrin.

waktu defibrilasi. termasuk henti jantung yang diketahui dan tidak diketahui kejadiannya. waktu RJP. kondisi sebelum henti jantung.mengalami keracunan obat. penyakit komorbid. dan apakah terjadi ROSC selama dilakukan upaya resusitasi. Pada dewasa. ritme henti jantung yang pertama. penghentian upaya resusitasi jantung paru berdasarkan pada banyak pertimbangan. RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta unit II 21 . atau yang mengalami kejadian yang menyebabkan hipotermi.

Guidelines for Cardiopulmonary Resuscitation and Emergency Cardiovascular Care.(2010). RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta unit II 22 .KEPUSTAKAAN American Heart Association.