Anda di halaman 1dari 18

BAB I

LAPORAN PENDAHULUAN
A. Anatomi hidung
Gambar 1. Anatomi Hidung

1. Hidung Luar
Hidung luar berbentuk piramid dengan bagian – bagiannya dari atas ke
bawah :
a. Pangkal hidung (bridge)
b. Dorsum nasi
c. Puncak hidung
d. Ala nasi
e. Kolumela
f. Lubang hidung (nares anterior)
Hidung luar dibentuk oleh kerangka tulang dan tulang rawan yang
dilapisi kulit, jaringan ikat dan beberapa otot kecil yaitu M. Nasalis pars
transversa dan M. Nasalis pars allaris. Kerja otot – otot tersebut
menyebabkan nares dapat melebar dan menyempit. Batas atas nasi
eksternus melekat pada os frontal sebagai radiks (akar), antara radiks
sampai apeks (puncak) disebut dorsum nasi. Lubang yang terdapat pada
bagian inferior disebut nares, yang dibatasi oleh :

Infratroklearis) b. Medial : septum nasi yang membagi kavum nasi menjadi dua ruangan (dekstra dan sinistra). jaringan subkutan dan kartilago alaris mayor. Nasalis anterior (cabang A. os maksila b. A. os maksila. Posterior : berhubungan dengan nasofaring b. korpus sfenoidale dan sebagian os vomer c. Supratroklearis. konka nasalis inferior. os frontal. kartilago nasi lateralis. Bagian ini dipisahkan dengan kavum oris oleh palatum durum. cabang dari A. Perdarahan : a. os nasal. Cabang dari N.a.Sfenopalatinum. Cabang dari N. Bagian dari septum yang terdiri dari kartilago ini disebut sebagai septum pars membranosa = kolumna = kolumela. Fasialis) Persarafan : a. palatum dan os sfenoid. A. Oftalmikus (N. os lakrima. Kavum nasi ini berhubungan dengan sinus frontal. superior dan media merupakan tonjolan dari tulang etmoid. Kavum Nasi Dengan adanya septum nasi maka kavum nasi dibagi menjadi dua ruangan yang membentang dari nares sampai koana (apertura posterior). Maksilaris (ramus eksternus N. fossa kranial anterior dan fossa kranial media. Karotis interna). kedudukannya hampir horisontal. b. Atap : os nasal. Etmoidalis yang merupakan cabang dari A. os etmoid. Angularis (cabang dari A. Sedangkan konka nasalis inferior merupakan tulang yang . N. sinus sfenoid. Batas – batas kavum nasi : a. Maksilaris interna. Superior : os frontal. kartilago alaris mayor dan kartilago alaris minor Dengan adanya kartilago tersebut maka nasi eksternus bagian inferior menjadi fleksibel. Lateral : dibentuk oleh bagian dari os medial. bentuknya konkaf dan bagian dasar ini lebih lebar daripada bagian atap. lamina kribriformis etmoidale. Karotis interna) c. Lantai : merupakan bagian yang lunak. Konka nasalis suprema. Nasalis posterior (cabang A. e. Oftalmika. Inferior : kartilago septi nasi. septum nasi dilapisi oleh kulit. Etmoidalis anterior) 2. cabang dari a. d. pada bagian bawah apeks nasi. cabang dari A.

Silia yang terdapat pada permukaan epitel mempunyai fungsi yang penting. Etmoidale anterior yang merupakan cabang dari A. Vena tampak sebagai pleksus yang terletak submukosa yang berjalan bersama – sama arteri. 3. Oftalmika. palut lendir di dalam kavum nasi akan didorong ke arah nasofaring. Persarafan : a. Dalam keadaan normal mukosa berwarna merah muda dan selalu basah karena diliputi oleh palut lendir (mucous blanket) pada permukaannya. Mukosa Hidung Rongga hidung dilapisi oleh mukosa yang secara histologik dan fungsional dibagi atas mukosa pernafasan dan mukosa penghidu. Mukosa pernafasan terdapat pada sebagian besar rongga hidung dan permukaannya dilapisi oleh epitel torak berlapis semu yang mempunyai silia dan diantaranya terdapat sel – sel goblet. Kadang – kadang konka nasalis suprema dan meatus nasi suprema terletak di bagian ini. Ruangan di atas dan belakang konka nasalis superior adalah resesus sfeno-etmoid yang berhubungan dengan sinis sfenoid. Posterior kavum nasi dipersarafi oleh serabut saraf dari ganglion pterigopalatinum masuk melalui foramen sfenopalatina kemudian menjadi N. Anterior kavum nasi dipersarafi oleh serabut saraf dari N.sfenopalatina yang merupakan cabang dari A. Pada bagian yang lebih terkena aliran udara mukosanya lebih tebal dan kadang – kadang terjadi metaplasia menjadi sel epital skuamosa.maksilaris dan A.terpisah. Gangguan pada fungsi silia akan menyebabkan banyak sekret terkumpul dan menimbulkan keluhan . Perdarahan : Arteri yang paling penting pada perdarahan kavum nasi adalah A. Sfenopalatinus. Palatina mayor menjadi N. Trigeminus yaitu N. Etmoidalis anterior b. Dengan gerakan silia yang teratur. Palut lendir ini dihasilkan oleh kelenjar mukosa dan sel goblet. Dengan demikian mukosa mempunyai daya untuk membersihkan dirinya sendiri dan juga untuk mengeluarkan benda asing yang masuk ke dalam rongga hidung.

4. Atap sinus etmoid berhubungan dengan sinus frontal dan fossa kranii anterior. Di superior berbatasan dengan hipofisa. Pstium sinus maksila berhubungan dengan meatus media. lobus frontal dan sinus kavernosus. Sinus etmoid seperti sarang tawon (honeycomb).hidung tersumbat. sel basal dan sel reseptor penghidu. Sinus frontal terletak pada tulang frontal. di inferior terletak nasofaring. Mukosa penghidu terdapat pada atap rongga hidung. Dibagi dua oleh septum. sekret kental dan obat – obatan. yaitu sel penunjang. sinus etmoid. Di posterior terletak pons cerebri dan arteri basilaris. Terletak antara dinding lateral hidung dan dinding medial orbita (lamina papirasea). . sinus frontal. Di inferior sinus ini berbatasan dengan orbita dan sinus etmoid. Dinding posterior sinus frontal membentuk dinding anrerir fosa kranii. Epitelnya dibentuk oleh tiga macam sel. c. Sinus paranasal ada empat buah yaitu sinus maksila. radang. Sinus etmoid posterior berhubungan dengan sinus sphenoid. Arteri karotis terletak di lateral sinus ini. d. b. a. Sinus sphenoid terletak di garis tengah. Sinus Paranasal Polip nasi sering dihubungkan dengan sinusitis. atap sinus maksila berhubungan dengan dasar orbita. dasar sinus maksila adalah processus alveolaris gigi. Dibagi menjadi dua bagian anterior dan posterior. Mukosa dilapisi oleh epitel torak berlapis semu dan tidak bersilia (pseudostratified columnar non ciliated epithelium). Di inferolateral sinus etmoid berhubungandengan sinus maksila. dan sinus sphenoid. Drainase sinus ini melalui duktus nasofrontal langsung ke hidung atau melalui infundibulum etmoid. Gangguan gerakan silia dapat disebabkan oleh pengeringan udara yang berlebihan. konka superior dan sepertiga bagian atas septum. Daerah mukosa penghidu berwarna coklat kekuningan. Sinus maksila terdapat dilateral hidung.

berwarna putih keabuan. 36 % penderita dengan intoleransi aspirin. 2. 20% pada penderita fibrosis kistik.Istilah polip berasal dari kata Yunani poly-pous yang berarti berkaki banyak. Epidemiologi Polip nasi sudah di kenal sejak 4000 tahun yang lalu. Pada awal perkernbangannya polip nasi sering dihubungkan dengan neoplasma.Gambar 2 : Anatomi sinus B. Polip nasi bukan merupakan penyakit tersendiri tapi merupakan manifestasi klinik dari berbagai macam penyakit dan sering dihubungkan dengan sinusitis. baru pada tahun 1882 Zuckerkandl menyatakan bahwa polip nasi merupakan suatu proses inflamasi (Abdul Qadar Punagi). fibrosis kistik dan asma. Polip eusinofilik Polip jenis ini biasanya disebabkan proses hipersensitivitas atau alergi. polip dikelompokkan menjadi 2 : 1. Polip nasi digambarkan sebagai buah anggur yang turun melalui hidung ( grapes coming down from the nose) . Polip neutrofilik Polip jenis ini biasanya disebabkan oleh proses inflamasi non-alergi C. berbentuk bulat atau lonjong. Polip nasi ditemukan 1-4 % dari populasi. rhinitis alergi. Berdasarkan jenis sel peradangannya. Definisi Polip Nasi Polip nasi merupakan kelainan mukosa hidung berupa massa lunak yang bertangkai. 7% pada . melalui pengetahuan dari prasasti yang ditemukan pada makam raja-raja Mesir. dengan permukaan licin dan agak bening karena mengandung banyak cairan.

Walaupun demikian polip juga dapat timbul dari tiap bagian mukosa hidung atau sinus paranasal dan seringkali bilaterak dan multipel. Angka mortalitas polip nasi tidaklah signifikan. Selain dari fenomena Bernouli terdapat beberapa hipotesa lainnya. terdapat sejumlah hipotesis mengenai asal dari polip nasi eosinofilik dan neutrofilik yang berkisar dari predisposisi genetik. Namun saat ini yang banyak digunakan. 2. sampai ketidakseimbangan vasomotor. Fenomena ini menjelaskan mengapa polip kebanyakan berasal dari daerah yang sempit di kompleks ostiomeatal (KOM) di meatus medius. infeksi kronis. namun polip nasi dihubungkan dengan turunnya kualitas hidup seseorang. Polip nasi lebih banyak ditemukan pada penderita asma non alergi (13%) dibanding penderita asma alergi (5%). Infeksi . Polip nasi jarang ditemukan pada anak usia dibawah 10 tahun. Etiologi dan Faktor Risiko Sampai saat ini belum ada kesepakatan mengenai etiologi polip nasi. 2.penderita asma. Jaringan yang lemah akan terhisap oleh tekanan negatif ini sehingga mengakibatkan edema mukosa dan pembentukan polip. Polip multipel yang jinak biasanya timbul setelah usia 20 tahun dan lebih sering pada usia diatas 40 tahun. 1. Etiologi yang pasti belum diketahui tetapi ada 3 faktor penting pada terjadinya polip. hanya kurang lebih 0. 3. Polip nasi terutama ditemukan pada usia dewasa. Perubahan Polisakarida di postulatkan pada 1971 oleh Jackson dan Arihood. Adanya peradangan kronik yang berulang pada mukosa hidung dan sinus. variasi anatomi.1% ditemukan pada anak-anak. yaitu : 1. Adanya peningkatan tekanan cairan interstitial dan edema mukosa hidung. D. Fenomena Bernoulli menyatakan bahwa udara yang mengalir melalui tempat yang sempit akan mengakibatkan tekanan negatif pada daerah sekitarnya. lebih sering ditemukan pada laki-laki dibanding dengan wanita dengan rasio 2:1 atau 3:1 dan dapat ditemukan pada seluruh kelompok rasdan kelas ekonomi. alergi inhalan. Adanya gangguan keseimbangan vasomotor. alergi makanan. yaitu : teori infeksi dan teori inflamasi.

. Sumbatan hidung oleh kelainan anatomi seperti deviasi septum dan hipertrofi konka. Epitel polip menunjukan hiperplasia sel goblet dan hipersekresi mukus yang berperan dalam obstruksi hidung dan rinorea. dan tumor. Banyak faktor yang mempengaruhi pementukan polip nasi. Kerusakan epitel merupakan patogenesa dari polip. Polip biasanya ditemukan pada orang dewasa dan jarang pada anak – anak. 2. 3. Predisposisi genetik diketahui sebagai penyebab polipoid pada fibrosis kistik. Alergi Alergi telah di implikasikan sebagai penyebab. Sel-sel epitel teraktivasi oleh alergen. sejak sekresi hidung mengandung eosinofil dan pasien mempunyai gejala alergi. Iritasi. Sel melepaskan berbagai faktor yang berperan dalam reson inflamasi dan perbaikan. 4. Teori vasomotor Gangguan keseimbangan otonomik di duga mungkin sebagai penyebab pada individu non atopi. sering dikaitkan dengan asma dan atopi. 1. Polip berasal dari pembengkakan lapisan permukaan mukosa hidung atau sinus.3. Yang dapat menjadi faktor predisposisi terjadinya polip antara lain :. Infeksi berulang pada sinus predisposisi pada mukosa menjadi perubahan polipoid. Sinusitis kronik. Peranan infeksi pada pembentukan polip hidung belum diketahui dengan pasti tetapi ada keragu – raguan bahwa infeksi dalam hidung atau sinus paranasal seringkali ditemukan bersamaan dengan adanya polip. Pada anak – anak. Patofisologi Polip hidung biasanya terbentuk sebagai akibat reaksi hipersensitif atau reaksi alergi pada mukosa hidung. polutan dan agen infeksius. yang kemudian menonjol dan turun ke dalam rongga hidung oleh gaya berat. Juga di kaitkan dengan mediator inflamasi. Alergi terutama rinitis alergi. 4. polip mungkin merupakan gejala dari kistik fibrosis. 5. faktor anatomi lokal. E. Polip banyak mengandung cairan interseluler dan sel radang (neutrofil dan eosinofil) dan tidak mempunyai ujung saraf atau pembuluh darah.

Walaupun satu atau lebih polip yang muncul. Biasanya terjadi di sinus maksila. Polip di kavum nasi terbentuk akibat proses radang yang lama dan berulang. Kemudian stroma akan terisi oleh cairan interseluler sehingga mukosa yang sembab menjadi polipoid Mukosa akan menjadi ireguler dan terdorong ke sinus dan pada akhirnya membentuk suatu struktur bernama polip. tetapi mukus bisa terperangkap dalam sinus. Pasien polip dengan sumbatan total rongga hidung atau polip tunggal yang besar memperlihatkan gejala sleep apnea obstruktif dan pernafasan lewat mulut yang kronik. tetapi polip dapat juga timbul akibat iritasi kronis yang disebabkan oleh infeksi hidung dan sinus. perubahan pengecapan. kemudian sinus etmoid. Gejala Klinis Pasien dengan polip yang masif biasanya mengalami sumbatan hidung yang meningkat. Dalam hal ini . dan drainase post nasal persisten. Penyebab tersering adalah sinusitis kronik dan rinitis alergi. Begitu sampai dalam kavum nasi. pasien mungkin memperlihatkan gejala akut. Dalam jangka waktu yang lama.Polip dapat timbul pada hidung yang tidak terinfeksi kemudian menyebabkan sumbatan yang mengakibatkan sinusitis. mukosa yang sembab makin membesar dan kemudian tururn kedalam rongga hidung sambil membentuk tangkai yang akan turun ke kavum nasi kebanyakan terjadi di daerah meatus medius. Bila proses ini berlanjut. rekuren. Beberapa polip dapat timbul berdekatan dengan muara sinus. vasodilatasi lama dari pembuluh darah submukosa menyebabkan edema mukosa. Pasien dengan polip soliter seringkali hanya memperlihatkan gejala obstruktif hidung yang dapat berubah dengann perubahan posisi. hiposmia sampai anosmia. Sakit kepala dan nyeri pada muka jarang ditemukan dan biasanya pada daerah periorbita dan sinus maksila. F. Hal ini terjadi karena bersin dan pengeluaran sekret yang berulang yang sering dialami oleh orang yang mempunyai riwayat rinitis alergi karena pada rinitis alergi terutama rinitis alergi perennial yang banyak terdapat di Indonesia karena tidak adanya variasi musim sehingga alergen terdapat sepanjang tahun. polip akan terus membesar dan bisa menyebabkan obstruksi di meatus media. sehingga aliran udara tidak terganggu. atau rinosinusitis bila polip menyumbat ostium sinus.

Mukus yang terperangkap tadi cenderung terinfeksi. Diagnosis 1. suara nasal (bindeng). gangguan tidur dan penurunan kualitas hidup. Anamnesa Pada anamnesa kasus polip. dan mungkin perdarahan pada hidung. Pemeriksaan Fisik a. Pasien sering mengeluhkan terasa ada massa di dalam hidung dan sukar membuang ingus. telinga terasa penuh. sehingga menimbulkan nyeri. mendengkur. penurunan penciuman.dapat timbul perasaan penuh di kepala. Deformitas septum membuat pemeriksaan menjadi lebih sulit. nyeri muka. asma. 2. intoleransi terhadap aspirin dan alergi obat serta makanan. Sumbatan ini menetap. dan mungkin sakit kepala. Tampak sekret mukus dan polip multipel atau soliter. Inspeksi Polip yang masif sering sudah menyebabkan deformitas hidung luar. keluahan utama biasanya ialah: a. halitosis. yakni dengan cara memasukan kapas yang dibasahi dengan . Gejala sekunder yang dapat timbul adalah bernafas melalui mulut. b. rasa nyeri pada hidung disertai sakit kepala di daerah frontal. Selain itu juga harus di tanyakan riwayat rhinitis alergi. b. Polip yang kecil pada daerah dimana polip biasanya tumbuh dapat menimbulkan gejala dan menghambat aliran saluran sinus. d. Bila disertai infeksi sekunder mungkin di dapati post nasal drip dan rinore purulen. Polip yang terletak posterior biasanya tidak teridenfikasi pada waktu pemeriksaan rutin rinoskopi posterior. Dapat dijumpai pelebaran kavum nasi terutama polip yang berasal dari sel-sel etmoid. demam. Manifestasi polip nasi tergantung pada ukuran polip. G. tidak hilang dan semakin lama semakin berat. Rinoskopi Anterior Memperlihatkan massa yang berwarna pucat yang berasal dari meatus medius yang mudah digerakkan. Rinore mulai dari yang jernih sampai purulen c. menyebabkan gejala-gejala sinusitis akut atau rekuren. Hidung tersumbat dari yang ringan sampai berat. Polip kadang perlu dibedakan dengan konka nasi inferior. Polip yang kecil mungkin tidak menimbulkan gejala dan mungkin teridentifikasi sewaktu pemeriksaan rutin. Hiposmia atau anosmia Mungkin disertai bersin-bersin.

Caldwell dan AP) dapat memperlihatkan penebalan mukosa dan adanya batas udara cairan di dalam sinus. 6. Sekret mukopurulen ada kalanya berasal dari daerah etmoid atau rongga hidung bagian superior. polip atau sumbatan pada kompleks osteomeatal.10. 4. jika ada komplikasi dari sinusitis dan pada perencanaan tindakan bedah terutama bedah endoskopi. konka nasi yang berisi banyak pembuluh darah akan mengecil. Laboratorium . Pada kasus polip koanal juga sering dapat terlihat tangkai polip yang berasal dari ostium assesorius sinus maksila.9. ostium sinus maksilaris atau dari septum. sedangkan polip tidak mengecil. lateral. Nasoendoskopi Adanya fasilitas yang nasoendoskopi menandakan akan sangat adanya membantu diagnosis kasus baru. 3.6. kelainan anatomi. Pemeriksaan tomografi computer Pemeriksaan tomografi computer sangat bermanfaat untuk melihat dengan jelas keadaan di hidung dan sinus paranasal apakah ada proses radang. c. Polip stadium awal tidak terlihat pada pemeriksaan rinoskopi anterior tetapi tampak dengan pemeriksaan nasoendoskopi. Polip dapat diobservasi berasal dari daerah sinus etmoidalis. 5. tetapi sebenarnya kurang bermanfaat pada kasus polip nasi karena dapat memberikan kesan positif palsu atau negative palsu dan tidak dapat memberikan informasi mengenai keadaan dinding lateral hidung dan variasi anatomis di daerah kompleks osteomeatal. Rinoskopi Posterior Kadang-kadang dapat dijumpai polip koanal. Terutama pada kasus polip yang gagal diobati dengan terapi medikamentosa. rinosinusitis. Biasanya untuk tujuan penapisan dipakai potongan koronal. sedangkan polip yang rekuren juga dipeerlikan potongan aksial. Pemeriksaan Radiologi Foto polos sinus paranasal ( posisi waters.larutan efedrin 1% (vasokonstriktor).1. d. Tes alergi Evaluasi alergi sebaiknya dipertimbangkan pada pasien dengan riwayat alergi lingkungan atau riwayat alergi pada keluarganya.

yang ciri – cirinya sebagai berikut : a. . 7. dan kortikosteroid oral memiliki efektivitas paling baik dalam mengurangi inflamasi polip.Untuk membedakan sinusitis alergi atau non alergi. sedang pada non alergi ditemukannya neutrofil yang menandakan adanya sinusitis kronis. Nyeri bila ditekan dengan pinset d. tetapi secara relatif tidak efektif untuk polip yang masif. Kortikosteroid dapat diberikan secara sistemik ataupun intranasal. Penatalaksanaan Karena etiologi yang mendasari pada polip nasi adalah reaksi inflamasi. maka penatalaksanaan medis ditujukan untuk mpengobatan yang tidak spesifik. Mudah berdarah e. Steroid intranasal paling efektif pada periode post operatif untuk mencegah atau megurangi relaps. Stadium 3 : polip yang masif 8. Pada terapi medikamentosa dapat diberikan kortikosteroid. Pada sunisitis alergi ditemukan eosinofil pada swab hidung. Pemberian kortikosteroid sistemik diberikan dengan dosis tinggi dalam waktu yang singkat. Diagnosis Banding Polip didiagnosisbandingkan dengan konka polipoid. yang dapat mengurangi atau menurunkan pertumbuhan polip nasi yang kecil. Kortikosteroid juga dapat diberikan secara intranasal dalam bentuk spray steroid. Stadium 2 : polip sudah keluar dari meatus medius tapi belum memenuhi rongga hidung c. Stadium Polip Nasal Pembagian stadium polip menurut Mackay dan Lund (1997) : a. Sukar digerakkan c. H. Dapat mengecil pada pemakaian vasokonstriktor (kapas adrenalin). dan pemberiannya perlu memperhatikan efek samping dan kontraindikasi. Stadium 1 : polip masih terbatas di meatus medius b. Tidak bertangkai b. terutama dengan pemberian vasokonstriktor yang juga harus hati – hati pemberiannya pada pasien dengan penyakit kardiovaskuler karena bisa menyebabkan vasokonstriksi sistemik. Kortikosteroid oral adalah pengbatan paling efektif untuk pengobatan jangka pendek dari polip nasi. Pada pemeriksaan rinoskopi anterior cukup mudah untuk membedakan polip dan konka polipoid. maningkatkan tekanan darah yang berbahaya pada pasien dengan hipertensi dan dengan penyakit jantung lainnya.

Injeksi steroid intrapolip ini merupakan pengobatan alternatif yang aman pada pasien tertentu tapi masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut. Bila reaksinya terbatas atau tidak ada perbaikan maka diberikan juga kortikosteroid sistemik. Hindari injeksi langsung ke dalam pembuluh darah. 2. pemberian masih secara empirik misalnya diberikan Prednison 30 mg per hari selama seminggu dilanjutkan dengan 15 mg per hari selama . Bila reaksinya baik. Perlu diperhatikan bahwa kortikosteroid intranasal mungkin harganya mahal dan tidak terjangkau oleh sebagian pasien. dekongestan dan sodiumcromolyn memberikan sedikit keuntungan. pengobatan ini diteruskan sampai polip atau gejalanya hilang. sebaiknya diberikan kortikosteroid intranasal selama 4-6 minggu. Keamanan mungkin tergantung pada ukuran spesifik partikel. Pemberian kortikosteroid untuk menghilangkan polip nasi disebut juga polipektomi medikamentosa.Pengobatan juga dapat ditujukan untuk mengurangi reaksi alergi pada polip yang dihubungkan dengan rhinitis alergi. Pada penderita dapat diberikan antihistamin oral untuk mengurangi reaksi inflamasi yang terjadi. Berat molekuler yang besar seperti Aristocort lebih aman dan sepertinya sedikit yang di pindahkan ke area intrakranial. Steroid oral dan topikal di berikan pada pengobatan pertama pada nasal polip. Injeksi langsung pada polip menunjukkan berkurangnya pertumbuhan polip dan berkurangnya gejala pada hidung dibandingkan dengan pengobatan intranasal.Untuk polip stadium 1 dan 2. baik secara topikal maupun sistemik. Antihistamin. ak dapat berguna pada polip yang telah ada. pemberian antibiotik bila terjadi superimposed infeksi bakteri. tapi bila digunakan sendirian. Bila telah terjadi infeksi yang ditandai dengan adanya sekret yang mukopurulen maka dapat diberikan antibiotic Pengobatan Medis polip nasal sebagai berikut : 1. Tapi tindakan ini kemudian tidak dibenarkan oleh Food and Drug Administration karena dilaporkan terdapat 3 pasien dengan kehilangan penglihatan unilateral setelah injeksi intranasal langsung dengan kenalog. Kortikosteroid adalah pengobatan pilihan. Dosis kortikosteroid saat ini belum ada ketentuan yang baku. Imunoterapi mungkin dapat berguna untuk pengobatan rhinitis alergi. sehingga dalam keadaan demikian langsung diberikan kortikosteroid oral. 3.

Banyak steroid nasal (seperti . Pemberian topikal kortikosteroid di beriakan secara umum karena lebih sedikit efek yang merugikan dibandingkan pemberian sistemik karena bioavaibilitasnya yang terbatas. rhinitis alergi. Beberapa penelitian mengindikasikan mempunyai onset yang lebih cepat dan mungkin sedikit lebih baik dari beclomethasone. terdapat resiko penekanan hipotalamus-pituari-adrenal aksis. perdarahan hidung. Pemberian jangka panjang khususnya dosis tinggi dan kombinasi dengan kortikosteroid inhalasi. gangguan psikis. Menurut Naclerio. Menurut van Camp dan Clement dikutip dari Mygind dan. Kalau ada tanda-tanda infeksi harus diberikan juga antibiotik. Lidholdt untuk polip dapat diberikan prednisolon dengan dosis total 570 mg yang dibagi dalam beberapa dosis. Diabetes Melitus. Penggunaan steroid oral jangka panjang tidak direkomendasikan karena efek sampingnya yang merugikan (seperti gangguan pertumbuhan. sebagai pengobatan primer atau pengobatan lanjutan mengikuti pemberian per oral.seminggu. 7. pemberian kortikosteroid tidak boleh lebih dari 4 kali dalam setahun. glukoma. jadi pasien dengan polip dan rhinitis alergi atau asma seharusnya respon dengan pengobatan ini. flucitason. katarak. osteoporosis). Respon dengan kortikosteroid tergambar dari ada atau tidaknya eosinofilia. atau bedah. Pasien dengan polip yang sedikit eosinofil mungkin tidak respon terhadap steroids. dan meningkatkan aliran udara di hidung ketika dipastikan secara objektif. yaitu 60 mg/hari selama 4 hari. 5. Pemberian suntikan kortikosteroid intrapolip sekarang tidak dianjurkan lagi mengingat bahayanya dapat menyebabkan kebutaan akibat emboli. dan pada jarang kasus terjadi perforasi septum. kemudian dilakukantapering off 5 mg per hari. beclomethasone. pembentukan katarak. gangguan pertumbuhan. Pemberian antibiotik pada kasus polip dengan sinusitis sekurang-kurangnya selama 10-14 hari 4. 6. dan . Mereka merupakan mediator inflamasi yang berperan dalam patogenesis asma. gangguan pencernaan. hipertensi. Banyak penulis menganjurkan pemberian steroid topikal untuk polip nasal. budesonide) efektik untuk menurunkan gejala subjektif. Inhibitor Leukotrien : Leukotrien dibentuk selama pemecahan asam arachidonat oleh enzim 5-lipoxigenase.

Hasilnya mereka menjadi target modulasi terapi. khususnya pada kasus polip yang tersembunyi atau polip yang sedikit. Kasus polip yang tidak membaik dengan terapi medikamentosa atau polip yang sangat masif dipertimbangkan untuk terapi bedah. atau berhubungan dengan tumor. 8. terapi diuretic topical. Macamnya operasi mulai dari polipektomi intranasal menggunakan jerat (snare) kawat dan/ polipektomi intranasal dengan cunam (forseps) yang dapat dilakukan di ruang tindakan unit rawat jalan dengan analgesi lokal. Terapi bedah yang dipilih tergantung dari luasnya penyakit (besarnya polip dan adanya sinusitis yang menyertainya). fasilitas alat yang tersedia dan kemampuan dokter yang menangani.polip nasal. Tindakan pengangkatan polip atau polipektomi dapat dilakukan dengan menggunakan senar polip dengan anestesi lokal. menghalangidr ainas e dari sinus sehingga sering terjadi infeksi sinus. untuk polip yang besar tetapi belum memadati rongga hidung. etmoidektomi intranasal atau etmoidektomi ekstranasal untuk polip etmoid. operasi Caldwell-Luc untuk sinus maksila. atau disertai unsinektomi atau lebih luas lagi disertai pengangkatan bula etmoid sampai Bedah Sinus Endoskopik Fungsional lengkap. Pembedahan dilakukan jika Polip menghalangi saluran pernafasan. Polipektomi sederhana cukup efektif untuk memperbaiki gejala pada hidung. yang merupakan . Obat-obatan lain : obat-obatan lain yang mungkin digunakan dalam pengobatan polip nasal adalah antibiotic makrolid. Alat mutakhir untuk membantu operasi polipektomi endoskopik ialahmicrodebrider (powered instrument) yaitu alat yang dapat menghancurkan dan mengisap jaringan polip sehingga operasi dapat berlangsung cepat dengan trauma yang minimal. Bedah sinus endoskopik (Endoscopic Sinus Surgery) merupakan teknik yang lebih baik yang tidak hanya membuang polip tapi juga membuka celah di meatus media. Yang terbaik ialah bila tersedia fasilitas endoskop maka dapat dilakukan tindakan endoskopi untuk polipektomi saja. dan asam asetilsalisilat-lisin intranasal. Penelitian baru-baru ini mengenai penghambatan sintesis leukotrien menunjukkan peningkatkan aliran udara dalam hidung dan pengecilan polip nasal yang dibuktikan dengan endoskopi dan studiim aging. Penggunaan inhibitor leukotrien ini menunjukkan hasil maksimal pada penderita dengan rhinitis alergi konkomitan dan polip nasal eosinofilik.

Klien sering pilek terus menerus dan berbau menyebabkan konsep l. suku. d. g. I. J. Proses keperawatan 1. tenggorokan. hidung Pola istirahat dan tidur Selama inditasi klien merasa tidak dapat istirahat karena klien sering pilek j. Pola Persepsi dan konsep diri k.umur. Biodata : Nama . alamat. Polip tunggal yang besar seperti polip antral-koanal jarang terjadi relaps. b. Surgical micro debridement merupakan prosedur yang lebih aman dan cepat. Riwayat penyakit dahulu : 1) Pasien pernah menderita penyakit akut dan perdarahan hidung atau trauma 2) Pernah mempunyai riwayat penyakit THT 3) Pernah menderita sakit gigi geraham e. Pengkajian : a. pemotongan jaringan lebih akurat dan mengurangi perdarahan dengan visualisasi yang lebih baik. pendidikan. Pola fungsi kesehatan 1) Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat a) Untuk mengurangi flu biasanya klien mengkonsumsi obat f. tanpa memperhatikan efek samping h. Riwayat keluarga : Adakah penyakit yang diderita oleh anggota keluarga yang lalu yang mungkin ada hubungannya dengan penyakit klien sekarang. sex.tempat asal polip yang tersering sehingga akan membantu mengurangi angka kekambuhan. Rekurensi dari polip umumnya terjadi bila adanya polip yang multipel. Pola nutrisi dan metabolism Biasanya nafsu makan klien berkurang karena terjadi gangguan pada i. pekerjaan. Keluhan utama : biasanya penderita mengeluh sulit bernafas. Riwayat Penyakit sekarang : c. bangsa. Riwayat spikososial 1) Intrapersonal : perasaan yang dirasakan klien (cemas/sedih) 2) Interpersonal : hubungan dengan orang lain. diri menurun Pola sensorik . Prognosis Polip nasi dapat muncul kembali selama iritasi alergi masih tetap berlanjut.

Resiko infeksi . kesadaran. m. Bersihan jalan nafas tidak efektif c. tidak nafsu makan 5) Merasa pusing Data Obyektif 1) Demam. Nyeri Akut berhubungan dengan agen injuri b. mukopurulen). Pemeriksaan fisik 1) status kesehatan umum : keadaan umum . 2) Pemeriksaan fisik data focus hidung : rinuskopi (mukosa merah dan bengkak). keluar darah 4) Klien merasa lesu. drainage ada : Serous Mukppurulen Purulen 2) Polip mungkin timbul dan biasanya terjadi bilateral pada hidung dan sinus yang mengalami radang ? Pucat. Data subyektif : 1) Hidung terasa tersumbat.Daya penciuman klien terganggu karena hidung buntu akibat pilek terus menerus (baik purulen . Pemeriksaan penunjung : Kultur organisme hidung dan tenggorokan 2. tanda vital. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan d. susah bernafas 2) Keluhan gangguan penciuman 3) Merasa banyak lender. serous. Diagnosa Keperawatan Yang Mungkin Muncul a. edema keluar dari hidung atau mukosa sinus 3) Kemerahan dan edema membran mukosa n.

Dalam: Adam.otolaryngology Blumenthal MN. Nurbaiti. Buku Ajar Penyakit THT. 2005. Boies.htm. edisi ke 6. Diakses tanggal 20 Juni 2008. Dalam Buku Ajar Ilmu Kesehatan Hidung dan Telinga editor : Eliaty AS. Diakses dariwww. McClay.emedicine.4 Oktober. Kelainan alergi pada pasien THT. Nizar. Higler. 2004. Diakses tanggal 20 Juni 2008 Nizar. Hal 123. Hal 263-267. . Kepala dan Leher dalam Anatomi Klinik alih bahasa dr. Hal 118122. di akses dari:www. Abdul Qadar.125 Perhimpunan Dokter Spesialis THT-KL Indonesia. Nuty W. Hal 58 Polip hidung. EGC. 2007. BOIES. Guideline Penyakit THT-KL di Indonesia. Endang Mangunkusumo.com .medicastore. Nuty W. Jan Tamboyang. 2007. edisi ke 6 tahun 2007. Snell.. Diakses dariwww. Hidung Dalam Buku Ajar Ilmu Kesehatan Hidung dan Telinga editor : Eliaty AS. Polip Hidung. Endang Mangunkusumo. Richard S. Houston. Hal 196-8. 1997. Jhon E MD.DAFTAR PUSTAKA Bechara. Jakarta. Peranan Sitokin Pada Polip Nasi dalam Jurnal Media Nusantara Volume 26 No. 1997. Nasal Polyps. EGC.Desember 2005. Nurbaiti.co m Diakses tanggal 20 Juni 2008 Punagi. Y Ghorayeb. Nasal polyps.

Polip Nasi.co m.solaraid. Diakses pada tanggal 24 Januari 2011 . 2007. Diakses dari www.Zulfadli.