Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN
Bronkitis adalah sebuah kondisi dimana saluran bronkus mengalami inflamasi.
Saluran ini membawa udara ke paru – paru. Orang yang mengalami bronkitis sering
menderita batuk disertai lendir (mukus). Mukus merupakan cairan pelicin pada
saluran bronkial. Bronkitis juga dapat menyebabkan mengi (sebuah siulan atau suara
melengking ketika bernapas), nyeri dada atau ketidaknyamanan, demam, dan sesak
napas (1).
Klasifikasi bronkitis terdiri dari bronkitis akut dan bronkitis kronik. Karakter
bronkitis akut ditandai dengan adanya batuk dengan atau tanpa produksi sputum yang
berlangsung kurang dari 3 minggu. Bronkitis akut sering terjadi selama masa akut
akibat virus seperti influenza. Virus menyebabkan sekitar 90% kasus bronkitis,
dimana bakteri mencapai sekitar 10% (2; 3).
Bronkitis kronik, salah satunya adalah jenis penyakit paru obstruktif kronik
(PPOK). ditandai dengan adanya batuk selama 3 bulan atau lebih pertahun sekurangkurangnya selama 2 tahun. Bronkitis kronik biasanya berkembang karena cedera yang
berulang pada saluran udara yang disebabkan oleh iritasi zat-zat yang dihirup.
Merokok merupakan penyebab paling umum, diikuti dengan paparan polutan udara
seperti sulfur dioksida atau nitrogen dioksida, pajanan iritasi pernapasan individu
yang terpapar asap rokok, iritasi paru-paru kimia, atau immunocompromised yang
memiliki peningkatan resiko mengembankan bronkitis (4).
Bronkitis sangat umum terjadi pada seluruh belahan dunia manapun dan
merupakan 5 alasan teratas penyebab seseorang mencari pengobatan medis di negaranegara yang memang mengumpulkan data mengenai penyakit ini. Tidak ada
perbedaan ras terhadap kejadian bronkitis ini meskipun lebih sering terjadi pada
populasi dengan status sosioekonomi rendah dan orang-orang yang tinggal di daerah
urban dan industri.

1

Hal mengenai insidensi penyakit terkait jenis kelamin, bronkitis lebih sering
dialami oleh pria dibandingkan wanita. Di Amerika Serikat, hingga dua pertiga pria
dan seperempat wanita mengalami bronkitis yang disertai emfisema hingga
menyebabkan kematian. Meskipun dapat ditemukan hampir pada semua usia,
bronkitis akut lebih sering didiagnosis pada anak-anak berumur kurang dari 5 tahun,
sementara prevalensi bronkitis kronis lebih sering terjadi pada orang tua yang berusia
lebih dari 40 tahun. Sementara itu, data epidemiologi di Indonesia itu sendiri masih
sangat minim(10;12).
Penegakan diagnosis dari bronkitis ini dapat ditegakkan dari gejala klinis,
pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan penunjang berupa pemeriksaan radiologi dan
laboratorium. Pemeriksaan radiologi merupakan salah satu pemeriksaan penunjang
yang penting dilakukan untuk mendiagnosis penyakit ini, yaitu seperti foto thoraks,
Computerized Tomography Scanning (CT-Scan), bronkoskopi dan pemeriksaan
radiologi lainnya. Berdasarkan uraian di atas, maka penulis ingin meninjau lebih jauh
mengenai gambaran radiologi pada bronkitis.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2

bronkus. dan paru-paru. Gambar 2. yang merupakan batas saluran nafas atas dan bawah. sel-sel tersebut memrlukan struktur tertentu untuk menukar maupun mengangkut gas-gas tersebut(4).1 Anatomi Sistem Respirasi Pernafasan adalah pergerakan oksigen (O2) dari atmosfer menuju sel dan keluarnya karbondioksida (CO2) dari sel ke udara bebas.1.2. Saluran penghantar udara yang membawa udara ke dalam paru adalah rongga hidung (cavum nasi). Anatomi Saluran Pernafasan Bagian masing-masing dari saluran nafas atas dan bawah ini dijelaskan sebagai berikut(13): 1. trakea. Karena itu. Saluran nafas ini terbagi atas saluran nafas bagian atas dan bawah. Saluran nafas atas terdiri dari rongga hidung (cavum nasi) dan faring yang terbagi atas nasofaring. bronkiolus. Pemakaian O2 dan pengeluaran CO2 diperlukan untuk menjalankan fungsi normal sel di dalam tubuh. tetapi sebagian besar sel-sel tubuh kita tidak dapat melakukan pertukaran gas-gas langsung dengan udara karena sel-sel tersebut letaknya sangat jauh dari tempat pertukaran gas tersebut. serta alveolus yang berada di paru-paru(24). trakea. Saluran nafas atas 3 . bronkiolus. dan laringofaring. laring. orofaring. bronkus. faring. Sementara itu saluran nafas bagian bawah terdiri dari laring.

Fungsi utama faring adalah menyediakan saluran bagi udara yang keluar masuk dan juga sebagi jalan makanan dan minuman yang ditelan. Juga terdapat konka yang mempunyai banyak kapiler darah yang berfungsi menghangatkan udara yang masuk. terdapat juga rambut pendek dan tebal yang berfungsi menyaring partikel kotoran yang masuk bersama udara.Rongga Hidung (Cavum Nasalis) Udara dari luar akan masuk lewat rongga hidung (cavum nasalis). bernapas. Selaput lendir berfungsi menangkap benda asing yang masuk lewat saluran pernapasan. Makan sambil berbicara dapat mengakibatkan makanan masuk ke saluran pernapasan karena saluran pernapasan pada saat tersebut sedang terbuka. Pada permukaan rongga hidung terdapat rambut-rambut halus dan selaput lendir yang berfungsi untuk menyaring udara yang masuk ke dalam rongga hidung. Di sebelah belakang rongga hidung terhubung dengan nasofaring melalui dua lubang yang disebut choana. Dinding tenggorokan tipis dan kaku. . dikelilingi 4 . Selain itu. Pada bagian belakang faring (posterior) terdapat laring (tekak) tempat terletaknya pita suara (pita vocalis). di dalamnya terdapat kelenjar minyak (kelenjar sebasea) dan kelenjar keringat (kelenjar sudorifera). terletak sebagian di leher dan sebagian di rongga dada (torak). Masuknya udara melalui faring akan menyebabkan pita suara bergetar dan terdengar sebagai suara. faring juga menyediakan ruang dengung (resonansi) untuk suara percakapan. .Batang Tenggorokan (Trakea) Tenggorokan berupa pipa yang panjangnya ± 10 cm. saraf kita akan mengatur agar peristiwa menelan. yaitu saluran pernapasan (nasofaring) pada bagian depan dan saluran pencernaan (orofaring) pada bagian belakang.Faring (Tenggorokan) Udara dari rongga hidung masuk ke faring. Rongga hidung berlapis selaput lendir.. dan berbicara tidak terjadi bersamaan sehingga mengakibatkan gangguan kesehatan. Walaupun demikian. Faring merupakan percabangan 2 saluran.

batang tenggorok bercabang menjadi dua cabang tenggorok (bronkus). Di dalam paru-paru. berbentuk ¾ cincin tulang rawan seperti huruf C. Saluran Nafas Bawah Pemisah saluran nafas atas dan bawah adalah laring yang kemudian akan menuju trakea. Epiglotis terletak di ujung bagian pangkal laring. Ujung bronkiolus berupa gelembung kecil yang disebut gelembung paru-paru (alveolus). Bagian belakang dihubungkan oleh membran fibroelastic menempel pada dinding depan esofagus. Laring berada diantara orofaring dan trakea. dan alveolus yang terdapat di paru-paru. Batang tenggorok (trakea) terletak di sebelah depan kerongkongan. katup tersebut menutup pangkal tenggorok dan pada waktu bernapas katu membuka. dan pada bagian dalam rongga bersilia. cabang tenggorok bercabang-cabang lagi menjadi saluran yang sangat kecil disebut bronkiolus. Pangkal tenggorok disusun oleh beberapa tulang rawan yang membentuk jakun. . Laring diselaputi oleh membrane mukosa yang terdiri dari epitel berlapis pipih yang cukup tebal sehingga kuat untuk menahan getaran-getaran suara pada laring. misalnya pada waktu kita bicara. Pada pangkal tenggorok terdapat selaput suara yang akan bergetar bila ada udara dari paru-paru. . bronkus.Trakea Merupakan pipa silider dengan panjang ± 11 cm.oleh cincin tulang rawan. Salah satu tulang rawan pada laring disebut epiglotis. . Pangkal tenggorok dapat ditutup oleh katup pangkal tenggorok (epiglotis). Fungsi utama laring adalah menghasilkan suara dan juga sebagai tempat keluar masuknya udara. Pada waktu menelan makanan. didepan laringofaring. 2. bronkiolus. Silia-silia ini berfungsi menyaring benda-benda asing yang masuk ke saluran pernapasan.Pangkal Tenggorokan (laring) Laring merupakan suatu saluran yang dikelilingi oleh tulang rawan. Di dalam rongga dada.Bronkus 5 .

Anatomi Saluran Nafas Bawah 2.2 Fisiologi Sistem Pernafasan Keadaan fisiologi paru seseorang dikatakan normal jika hasil kerja proses ventilasi. dan lebih dekat dengan trakea dibandingkan dengan bronkus kiri. bronkiolus terminalis. distribusi. perfusi. lebar. serta hubungan antara ventilasi dengan perfusi pada orang tersebut dalam keadaan normal (jantung dan paru tanpa beban kerja yang berat) menghasilkan tekanan aerosol gas darah arteri ( PaO2 sekitar 96 mmHg dan PaCO2 sekitar 40 mmHg) yang normal.Merupakan percabangan trakea kanan dan kiri.Paru Merupakan suatu jalinan atau merupakan suatu susunan bronkiolus. Tempat percabangan ini disebut carina. dan inferior sedangkan bronkus kiri terdiri dari lobus superior dan inferior. . yaitu saat tidur kebutuhan 6 .2. Bronkus kanan bercabang menjadi lobus superior. syaraf. sistem limfatik. Bronkus kanan lebih pendek. sirkulasi paru. bronkiolus respiratorius. alveoli. medius. difusi. Gambar 2. Tekanan parsial ini diupayakan dipertahankan tanpa memandang kebutuhan oksigen yang berbeda.

bronchiolus terminalis. Proses yang berkaitan dengan volume udara napas dan distribusi ventilasi Proses yang berkaitan dengan volume darah di paru dan distribusi aliran darah Proses yang berkaitan dengan difusi O2 dan CO2 Proses yang berkaitan dengan regulasi pernafasan.oksigen 100 mL/menit dibandingkan dengan saat ada beban kerja (exercise) 20003000 mL/Menit(6). alveolus). bronchus segmentalis.3. epiglotis. 7). 4. Fisiologi Pernafasan Secara anatomi sistem respirasi dibagi menjadi bagian atas (nasal caviti. bronchiolus respiratorius. larynx) dan bagian bawah (trachea. perfusi. bronchus lobaris. 7 . 3. pharynx. oral cavity. Respirasi adalah suatau proses pertukaran gas (pengambilan oksigen dan emilinasi karbondioksida). dan difusi (6. bronchus principalis. Pertukaran gas memerlukan empat proses yang mempunyai ketergantungan satu sama lain(6) : 1. 2. Gambar 2. Terdapat tiga langkah dalam proses oksigenasi yaitu : ventilasi.

di mana pada saat inspirasi tekanan intrapleural lebih negatif (752 mmHg) dari pada tekanan atmosfer (760 mmHg) sehingga udara akan masuk ke alveoli. b. ventilasi tergantung pada faktor :  Kebersihan jalan nafas. Inspirasi yang Bersifat Aktif Selama inspirasi terjadi kontraksi otot diafragma dan intercosta eksterna. 2. internal interkosta.  Adekuatnya sistem saraf pusat dan pusat pernafasan. eksternal interkosta. Ekspirasi yang Bersifat Pasif Selama ekspirasi terjadi relaksasi otot diafragma dan interkosta eksterna. Hukum Boyle’s : Jika volume meningkat maka tekanan menurun Jika volume menurun maka tekanan meningkat a. di mana pada sirkulasi paru adalah darah deoksigenasi yang mengalir 8 .1. hal ini akan menurunkan volume intratorak dan meningkatkan tekanan intratorak. Hal ini membuat paru mengembang dan tekanan intrapulmoner menjadi semakin negatif sehingga udara masuk ke paru-paru. Hal ini menyebabkan tekanan intrapleural semakin positif dan paru-paru mengempis sehingga tekanan intrapulmonal menjadi makin positif dan udara keluar dari paruparu. adanya sumbatan atau obstruksi jalan nafas akan menghalangi masuk dan keluarnya udara dari dan ke paru. Ventilasi Ventilasi adalah proses keluar masuknya udara dari dan ke paru. hal ini akan meningkatkan volume intrathorak sehingga akan menurunkan tekanan intratorak dan tekanan intrapleural semakin negatif. otot abdominal. Perfusi paru Perfusi paru adalah gerakan darah yang melewati sirkulasi paru untuk dioksigenasi.  Adekuatnya pengembangan dan pengempisan paru-paru  Kemampuan otot-otot pernafasan seperti diafragma. Udara yang masuk dan keluar terjadi karena adanya perbedaan tekanan antara intrapleura dengan tekanan atmosfer. Ventilasi paru mencakup gerakan dasar atau kegiatan bernafas atau inspirasi dan ekspirasi.

Difusi udara respirasi terjadi antara alveolus dengan membran kapiler.0 lt/mnt Besarnya rasio ini menunjukkan adanya keseimbangan pertukaran gas.0 lt/mnt = 0. Berbeda halnya dengan CO2 dengan PCO2 dalam kapiler 45 mmHg sedangkan alveoli 40 mmHg maka CO2 akan berdifusi keluar alveoli. 2. 3. Sirkulasi paru bersifat fleksibel dan dapat mengakodasi variasi volume darah yang besar sehingga dapat dipergunakan jika sewaktu-waktu terjadi penurunan volume atau tekanan darah sistemik. sedangkan aliran darah kapiler pulmonal (Q) sekitar 5. Misalnya jika ada penurunan ventilasi karena sebab tertentu maka rasio V/Q akan menurun sehingga darah yang mengalir ke alveolus kurang mendapatkan oksigen. Demikian halnya dengan jika perfusi kapiler terganggu sedangkan ventilasinya adekuat maka terjadi penigkatan V/Q sehingga daya angkut oksigen juga akan rendah. sehingga rasio ventilasi dan perfusi adalah : Alveolar ventilasi (V) = 4. Adekuatnya pertukaran gas dalam paru dipengaruhi oleh keadaan ventilasi dan perfusi.0 lt/menit. Sirkulasi paru merupakan 8-9% dari curah jantung. Difusi Difusi adalah pergerakan molekul dari area dengan konsentrasi tinggi ke area konsentrasi rendah. Darah ini memperfusi paru bagian respirasi dan ikut serta dalam proses pertukaran oksigen dan karbondioksida di kapiler dan alveolus.3 Definisi Bronkitis 9 . Perbedaan tekanan pada area membran respirasi akan mempengaruhi proses difusi.dalam arteri pulmonaris dari ventrikel kanan jantung. Pada orang dewasa sehat pada saat istirahat ventilasi alveolar (volume tidal = V) sekitar 4.0 lt/menit. Oksigen terus menerus berdifusi dari udara dalam alveoli ke dalam aliran darah dan karbondioksida (CO2) terus berdifusi dari darah ke dalam alveoli.8 Aliran darah kapiler pulmonar(Q) 5. Misalnya pada tekanan parsial (P) O2 di alveoli sekitar 100 mmHg sedangkan tekanan parsial pada kapiler pulmonal 60 mmHg sehingga oksigen akan berdifusi masuk dalam darah.

Bentuk dari penyakit ini terdiri dari 2 bentuk.Bronkitis adalah penyakit respiratorius di mana membran mukosa pada jalur bronkus di paru-paru mengalami inflamasi.9. maka proses peradangan membran mukosa tersebut akan pulih dalam beberapa hari(8. Sebagai pembanding. Hal ini dilihat dari gejala batuk yang diikuti pengeluaran dahak dan dapat juga disertai keluahn lainnya seperti sesak nafas. 2. berdasarkan estimasi dari National Center for Health Statistics tahun 10 . Jika kondisi seseorang tersebut baik.4 Klasifikasi 1. Karena mukosa bronkus tersebut membengkak (edema) dan menebal sehingga akan mempersempit saluran nafas yang menuju paru-paru.10) 2. Bentuk dari bronkitis akut ini sering menyebabkan serangan batuk dan produksi sputum yang dapat juga disertai oleh infeksi saluran nafas atas. Bronkitis kronik ini merupakan gangguan jangka panjang yang serius yang sering membutuhkan pengobatan medis secara teratur. Pada bronkitis kronis terdapat inflamasi dan pembengkakan pada dinding lumen saluran nafas yang menyebabkan penyempitan dan obstruksi jalur udara yang masuk.9). yaitu bronkitis akut (berlangsung kurang dari 3 minggu) dan bronkitis kronik yang frekuensinya hilang timbul selama periode lebih dari 2 tahun(8). 2. virus merupakan penyebab tersering infeksi walaupun terkadang bakteri juga dapat menyebabkannya. Bronkitis Akut Bronkitis akut biasanya terjadi dalam waktu yang cepat (kurang dari 3 minggu) dan membaik dalam beberapa minggu.5 Epidemiologi Di Indonesia belum ada data mengenai prevalensi penyakit bronkitis. Inflamsi ini akan merangsang produksi mukus di mana menyebabkan obstruksi saluran nafas yang lebih berat lagi dan akan meningkatkan resiko infeksi oleh bakteri pada paru-paru(. Dalam beberapa kasus. Bronkitis Kronik Secara klinis didefinisikan sebagai batuk harian dengan produksi sputum selama paling kurang selama 3 bulan dalam periode waktu 2 tahun.

dan 31 juta kasus dengan infeksi saluran nafas atas lainnya yang terjadi pada tahun itu(11).5 juta orang atau 4% dari jumlah populasinya didiagnosis mengalami bronkitis kronik. Meskipun dapat ditemukan hampir pada semua usia. bronkitis lebih sering dialami oleh pria dibandingkan wanita. bronkitis akut diderita oleh 44 dari 1000 orang dewasa setiap tahunnya.18) Hal mengenai insidensi penyakit terkait jenis kelamin. Perbandingannya yaitu 91 juta kasus influenza. Tidak ada perbedaan ras terhadap kejadian bronkitis ini meskipun lebih sering terjadi pada populasi dengan status sosioekonomi rendah dan orang-orang yang tinggal di daerah urban dan industri(11.16). bronkitis akut lebih sering didiagnosa pada anak-anak berumur kurang dari 5 tahun. Bronkitis akut sangat umum terjadi pada seluruh belahan dunia manapun dan merupakan 5 alasan teratas penyebab seseorang mencari pengobatan medis di negaranegara yang memang mengumpulkan data mengenai penyakit ini.14). Bagaimanapun juga istilah bronkitis sering dianggap sebagai peradangan paru yang tidak spesifik serta gejala batuk yang dialami bersifat self-limiting atau sembuh sendiri sehingga kriteria diagnosisnya tidak ditemukan dan menyebabkan insidensinya terus meningkat(11). Di Amerika Serikat. 2. 66 juta kasus deman flu biasa. Data statistik ini masih di bawah taksiran dari prevalensi penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) yaitu sebesar 50%.2006 di Amerika Serikat. sementara prevalensi bronkitis kronis lebih sering terjadi pada orang tua yang berusia lebih dari 50 tahun. Dalam sebuah studi. Sementara itu. terdapat sekitar 9. Hal ini dikarenakan tidak tercatatnya laporan gejala dan kondisi bronkitis ini masih belum terdiagnosis(11.6 Manifestasi Klinis 11 . hingga dua pertiga pria dan seperempat wanita mengalami emfisema hingga menyebabkan kematian. dan 82% episodenya terjadi pada musim gugur atau dingin. Overdiagnosis terhadap bronkitis kronik sebaiknya perlu dilakukan oleh para klinisi. . data epidemiologi di Indonesia itu sendiri masih sangat minim(13.

nyeri kepala.21). kuning. Mual. atau bahkan seperti seperti warna darah. 2. gejala dengan sensasi terbakar pada daerah substernal akan dirasakan dan nyeri dada berhubungan pada saat batuk serta proses bernafas(18. saluran nafas menjadi menjadi sempit akibat debris dan proses inflamasi. Meskipun demikian. Pasien dengan bronkitis akut. hijau. Akibatnya. Sesak nafas dan sianosis tidak teramati pada penyakit bronkitis ini kecuali pasien memiliki penyakit paru obstruktif kronik ataupun kondisi lainnya yang mengganggu fungsi paru. (12) Demam bukan merupakan tanda khas dan biasanya ketika disertai dengan batuk akan lebih mengarah pada influenza ataupun pneumonia. Bronkitis akut mungkin akan sulit dibedakan dari infeksi saluran nafas atas lainnya pada beberapa hari pertama. Perubahan warna sputum dikarenakan pelepasan peroksidase oleh leukosit dalam sputum. warna sputum tidak dapat menjasi indikator terhadap adanya infeksi bakteri. muntah. Warna sputum biasanya jernih. Respon akibat produksi mukus yang banyak ini akhirnya ditandai dengan batuk produktif(12.Batuk merupakan gejala klinis yang sering diamati.18) . Kasus yang berat mungkin akan menyebabkan malaise dan nyeri dada. Gejala lain dari bronnkitis akut ini meliputi nyeri tenggorokan. dapat biasanya dapat terjadi selama lebih dari 1020 hari.7 Patofisiologi Selama episode bronkitis akut. Ketika keluhan berat hingga mengenai trakea. Sputum purulen dilaporkan pada 50% orang dengan bronkitis akut.16). (12. 12 . Produksi sputum hampir dialami pada seluruh orang yang mengeluhkan batuk akibat bronkitis akut ini. dan diare jarang dikeluhkan. nyeri otot dan kelelahan.18). Karena itulah. hidung berair atau tersumbat. jika batuk berlangsung lebih dari 5 hari maka bisa diarahkan sebagai penyakit bronkitis akut(12. jaringan yang melapisi lumen bronkus megalami iritasi dan membran mukosa menjadi hiperemis dan edema sehingga mengganggu fungsi mukosiliar bronkus.

bronkiolus dan kantung alveolus.13). Proses Peradangan pada Bronkitis 13 . dan stimulus inflamasi lainnya serta untuk mengurangi pelepasan produk regulasi seperti angiotensin-converting enzim ataupun endopeptidase(10. Sel epitel saluran nafas akan melepaskan mediator inflamasi ini sebagai respon terhadap toksin. Bronkitis akut biasanya berlangsung kurang lebih 10 hari. Epitel alveoli merupakan target maupun tempat awal inflamasi pada bronkitis kronik(10). agen infeksi. Bronkitis kronik dihubungkan dengan produksi mukus yang berlebihan sehingga menyebabkan batuk berdahak selama lebih dari 3 bulan atau lebih dalam periode waktu minimal 2 tahun. iritasi bronkus menyebabkan perlekatan organisme (Mycoplasma pneumonia) pada mukosa saluran respirasi yang akan membuat sekresi mukosa semakin kental.4. colony-stimulating factors. Jika inflamasinya terus berlajut ke bawah hingga ujung cabang bronkus. dan kemotaktik serta sitokin proinflamatori lainnya. Gambar 2. maka akan menyebabkan bronkopneumonia(12).Dalam kasus pneumonia mycoplasma. Infiltrasi netrofil dan distribusi perubahan jaringan fibrotik peribronkial disebabkan oleh aktivitas dari interleukin 8 (IL-8).

20). Terutama pada musim dimana udara dingin dan berkabut. sesak napas semakin lama semakin hebat.20. dan rokok tembakau dapat juga menyebabkan iritasi bronkus akut(19.2. Respiratory Syncitial Virus (RSV). dan Haemophilus influenza serta virus seperti influenza. b. dan Mikroorganisme lain pada Bronkitis Akut Bronkitis akut biasanya disebabkan oleh infeksi seperti spesies jamur (Mycoplasma). Batuk biasanya merupakan tanda dimulainya bronkitis. Wheezing (mengi).21): a. Sering menderita infeksi pernafasan (misalnya flu). zat kimia. dan Coxsackie virus.9. Batuk berdahak. adenovirus. virus parainfluenza. 2. rhinovirus. Clamydia pneumonia. jika ada infeksi menjadi purulen atau mukopurulen. Bakteri. Saluran napas menyempit dan selama bertahun-tahun terjadi sesak progresif lambat disertai mengi yang semakin hebat pada episode infeksi akut 14 . Paparan zat iritan seperti polusi.1 Anamnesis Anamnesis bertujuan untuk mendapatksan gejala sebagai berikut(15.20). c. Pada awalnya pasien mengalami batuk produktif di pagi hari dan tidak berdahak. tetapi 1-2 hari kemudian akan mengeluarkan dahak berwarna putih atau mukoid. Streptococcus pneumonia. Sesak nafas Bila timbul infeksi. virus influenza tipe A dan B. d. Moraxella catarrhalis.8 Etiologi Infeksi Virus.9 Penegakan Diangnosis 2. Bordetella pertussis harus dipertimbangkan sebagai agen penyebab bronkitis akut pada anak-anak yang tidak mendapatkan vaksinasi secara lengkap meskipun studi terbaru melaporkan bahwa bakteri ini juga dapat menjadi agen penyebab pada orang dewasa(19.

Wajah. refluks hepato jugular dan edema kaki 15 . 6) Pada kor pulmonal terdapat tanda-tanda payah jantung kanan dengan peninggian tekanan vena. lelah. yaitu hidung meler. akan terdengar ronki pada waktu ekspirasi maupun inspirasi disertai bising mengi. hepatomegali. setelah sebagian besar gejala lainnya membaik. 2) Pasien biasanya tampak kurus dengan barrel-shape chest (diameter anteroposterior dada meningkat).e. Pada bronkitis berat. sakit otot.20. Bronkitis infeksiosa seringkali dimulai dengan gejala seperti pilek. 3) Iga lebih horizontal dan sudut subkostal bertambah. akan terlihat pulsasi di dada kiri bawah di pinggir sternum. pekak jantung berkurang. 5) Pada pembesaran jantung kanan. kadang terjadi demam tinggi selama 3-5 hari dan batuk bisa menetap selama beberapa minggu 1.2 Pemeriksaan fisik. Pemeriksaan fisik bisa di dapatkan(19. telapak tangan atau selaput lendir berwarna kemerahan. demam ringan dan nyeri tenggorokan.9. 4) Perkusi dada hipersonor. batas paru hati lebih rendah. peranjakan hati mengecil. menggigil. sakit punggung.21): 1) Bila ada keluhan sesak.

Cultures dan Staining. Kultur darah dapat membantu jika superinfeksi bakteri dicurigai. dan Bordetella pertussis ketika organisme ini diduga.1. Mycoplasma pneumoniae. Mendapatkan kultur sekresi pernapasan untuk virus influenza.21) 1. Metode kultur dan tes imunofluoresensi telah dikembangkan untuk diagnosis laboratorium pneumoniae infection dengan mendapatkan usap tenggorokan.20. meskipun tes ini biasanya tidak menunjukkan pertumbuhan atau flora saluran pernapasan normal.3 Pemeriksaan Penunjang Beberapa pemeriksaan penunjang yang mendukung diangnosis adalah sebagai berikut: (19. 16 .9. Kultur dan gram stainning dari dahak sering dilakukan.

6. Radiografi dada harus dilakukan bagi pasien yang fisik temuan pemeriksaan menunjukkan pneumonia. Tes serologi tambahan. Tes Influenza. Temuan histologis. dengan penurunan besar dalam volume ekspirasi paksa dalam satu detik (FEV1). karena itu. Laringoskopi. Bronkoskopi mungkin diperlukan untuk menyingkirkan adanya aspirasi benda asing. Bronkitis akut Radang akut bronkus berhubungan dengan infeksi saluran nafas bagian atas. dan penyakit kronis lainnya dari pohon trakeobronkial dan paru-paru. Kadar Procalcitonin.2. Laringoskopi dapat mengecualikan epiglotitis. tumor. Tes influenza mungkin berguna. Radiografi Dada. Tetapi foto roentgen berguna jika 17 . Penyakit ini biasanya tidak hebat dan tidak ditemukan komplikasi. 9. Sitologi sputum dapat membantu jika batuk persisten. busi lendir intraluminal. Kadar procalcitonin mungkin berguna untuk membedakan infeksi bakteri dari infeksi nonbakterial. Pasien tua mungkin tidak memiliki tandatanda pneumonia. Ini biasanya menyelesaikan lebih 4-6 minggu. 7. 4. Penelitian telah menunjukkan bahwa tes tersebut dapat membantu terapi panduan dan mengurangi penggunaan antibiotik 3. radiografi dada dapat dibenarkan pada pasien. seperti bahwa untuk pneumonia atipikal. Sitologi sputum. Sel piala hiperplasia. Bronkoskopi. fibrosis peribronchial. tuberkulosis. Gambaran radiologi pada bronkitis 1. 8. tidak ditunjukkan. sel-sel inflamasi mukosa dan submukosa. edema. dan otot polos peningkatan temuan karakteristik di saluran udara kecil pada penyakit paru obstruktif kronis. 5. Pemeriksaan radiologi Ada hal yang perlu diperhatikan yaitu adanya tubular shadow berupa bayangan garis-garis yang paralel keluar dari hilus menuju apeks paru dan corakan paru yang bertambah ataupun tramline shadow yang menunjukkan adanya penebalan dinding bronkus. bahkan tanpa tanda-tanda klinis lain infeksi. Juga tidak terdapat gambaran roentgen yang positif pada keadaan ini. Spirometri mungkin berguna karena pasien dengan bronkitis akut sering memiliki bronkospasme signifikan. Spirometri.

Gejala biasanya hebat(21).ada komplikasi pneumonitis pada penderita dengan infeksi akut saluran nafas. Gambaran radiologi normal pada seorang wanita 73 tahun sebelum dilakukan operasi 18 .

19 . infeksi. Tidak ada kriteria yang pasti untuk menegakkan diagnosis bronkitis kronik pada foto thoraks biasa. Gambaran khas bronkiektasis yang berupa tramline shadow pada foto thoraks juga dapat ditemukan pada bronkitis kronik. Pada foto hanya tampak corakan yang ramai di bagian basal paru. bronkiektasis dapat menjadi diagnosis banding dari bronkitis kronik ini. misalnya asma. Temuan klinis batuk pada pasien namun pada pasien ini ditemukan hiperemia sentral yang signifikan dan bayangan interstisial yang menyebar konsisten dengan bronkitis akut 2. Acapkali berdasarkan pemeriksaan klinis dan laboratorik sudah dapat ditegakkan diagnosisnya. Corakan yang ramai di basal paru ini dapat merupakan variasi normal foto thoraks. Gambaran radiogram bronkitis kronik hanya memperlihatkan perubahan yang minimal dan biasanya tidak spesifik. Kadang-kadang tampak corakan peribronkial yang bertambah di basis paru oleh penebalan dinding bronkus dan peribronkus. Diagnosis Banding Beberapa penyakit yang perlu diingat atau dipertimbangkan kalau kita berhadapan dengan pasien bronkitis(17) : · Tuberkulosis paru ( penyakit ini dapat disertai kelainan anatomis paru berupa bronkitis ) · Abses paru ( terutama bila telah ada hubungan dengan bronkus besar ) · Penyakit paru penyebab hemoptosis misalnya karsinoma paru) · Fistula bronkopleural dengan emfisema Namun berdasarkan kemiripan gambaran radiologi. Bronkitis kronik Penyakit bronkitis kronik tidak selalu memperlihatkan gambaran khas pada foto thoraks.Gambaran radiologi pada pasien yang sama setelah 6 bulan. Penyakit ini disebabkan oleh bermacam-macam etiologi. dan lain-lain(22).

Gambaran tramline appearance tampak pada foto thoraks.Gambar : Terlihat gambaran foto CT-Scan dan thoraks bronkiektasis. Gambaran tuberkulosis paru primer yang menunjukkan adanya penebalan hilus 20 .

Karsinoma Bronkus. adanya gambaran tubular shadow dan tramline appearance yang berasal dari hilus paru. Nodul pada soft tissue merupakan proses metastasis. Namun pada beberapa kasus tamapak adanya corakan bronkovaskular yang ramai sehingga terlihat seperti dirty chest. BAB III KESIMPULAN Bronkitis merupakan suatu penyakit yang sering terjadi dan merupakan lima alasan teratas seseorang mencari pengobatan medis.Scan.Gambar . Bronkitis terbagi atas bronkitis akut dan bronkitis kronik. Tampak tumor primer pada hilus kiri. 21 . Penegakan diagnosis bronkitis dengan pemeriksaan radiologi sudah cukup baik di dapatkan dari foto thoraks konvensional dan juga CT. Gambaran radiologi yang khas pada bronkitis akut jarang ditemukan sementara pada bronkitis kronik hanya memperlihatkan perubahan yang minimal dan biasanya tidak spesifik.

3. Nelson Fausto.] http://www. Bowler. pp. The Lung Robbins Basic Pathology. [Cited: oktober 26. [Cited: Oktober 26. 2013. Abul K. vinay. Diagnosis and treatment of acute bronkitis. National Jewish Health. Infectious Diseases. 11. [Online] 2009. 8. Abbas.gov/health/healthtopics/topics/brnchi/. Lung and Blood Institute (NHLBI). Cohen. National Heart.] http://www.nhlbi. Philadelphia : Saunders Elsevier. 2. Am Fam Physician.. 2010. 4. NHLBI.DAFTAR PUSTAKA 1. Mosby : Elsevier. Kumar.nationaljewish. 5. [Online] 2009. 1345-1350. William.nih. Vol. Richard N and Mitchell. 2. 2nd ed. 2013. Powderly. Albert. 2004. 2007.org/healthinfo/conditions/copd-chronicobstructive-pulmonary-disease/associated-conditions/chronic-bronkitis/. 22 . Jonathan.

Bedah. Somantri. 13. 2009. [Medline]. Manurung. Thorax. 23 . Zulies. Wenzel RP. Smelzter. Volume 1. Jakarta : Salemba Medika. 2008. 8. Arif. 2009.6. Pediatr Infect Dis J. et al. N Engl J Med. Apr 1997. Edisi 2. Santa. Black S. Jakarta : EGC. Elizabeth J. Jakarta: EGC. Infection in the pathogenesis and course of chronic obstructive pulmonary disease.56(2):109-14. Buku Saku Patofisiologi Corwin. 2009. Muttaqin. Irman. 2008. Acute bronkitis. Nov 27 2008. Fowler AA 3rd. 9.65(10):2039-44. Farmakoterapi Penyakit Sistem Pernafasan. Respirologi (respirotory medicine). [Medline]. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Pernapasan. [Medline]. Clinical practice. Knutson D. [Medline]. Ikawati. 7. Feb 2001.359(22):2355-65. Diagnosis and management of acute bronkitis. Am Fam Physician. 2001. Jakarta Timur : CV. Macfarlane J. Buku Ajar Medikal. Nov 16 2006.. aetiology and outcome of adult lower respiratory tract illness in the community. Jakarta : EGC. Jakarta: Salemba Medika 17. 15. May 15 2002. 3. N Engl J Med. Corwin. Sethi S. 14. 10. Asuhan Keperawatan pada Klien Gangguan Sistem Pernapasan. Yogyakarta.355(20):2125-30. Pustaka Adipura. Djojodibroto. 12. Murphy TF. Epidemiology of pertussis.16(4 Suppl):S85-9. Gard P. 2009. Holmes W. Prospective study of the incidence. Trans Indo Media. 16. Darmanto. Asuhan Keperawatan gangguan Sistem Pernafasan Akibat Infeksi. Braun C. Suzanne C. 11. [Medline]. 1.

1996. 2011. Radiologi Diagnostik. CA & William EB. Sjahriar & Iwan Ekayuda. Lorraine M Wilson. British: Elsevier Science. Walsh EE. Volume 1. Rasad. Kasper DL (editors). 2003. Rab. 24. Sutton. Braman SS.18. Chest. Tabran. Philadelphia. Principles and Practice of Infectious Diseases. 24 . Jakarta: FK-UI 23. Harrison's principles of internal medicine. Pa: Elsevier Churchill Livingstone. eds. 25. 7th Edition Textbook of Radiology and Imaging. Fauci AS. 2007. Occupational exposures and pulmonary disease. In: Mandell GL. Fundamental Diagnostic of Radiology. 15th edition. David. USA. Edisi 6 volume 1. Speizer FE. Chronic cough due to acute bronchitis: ACCP evidence-based clinical practice guidelines. 2009:chap 61. Ilmu Penyakit Paru. Helms. New York. 129 (supplement 1): S95-S103. Acute bronchitis. McGraw-Hill Education. 2006. Sylvia A Price. 21. Jakarta : Hipokrates. 19. Patofisiologi Konsep Klinis ProsesProses Penyakit. 7th ed. Jakarta: EGC. 22. 2001. 20. Dolin R. Lippincott Wlliams & Wilkins. In: Braunwald E. 2003. Bennett JE. NY..