Anda di halaman 1dari 8
Siklus KDRT Kekerasan dalam rumah tangga biasanya terjadi mengikuti suatu siklus tertentu. Hal ini dikarenakan pada umumnya korban KDRT menganggap bahwa kekerasan yang dilakukan oleh pasangannya merupakan kekhilafan sesaat. Sehingga KDRT biasanya terjadi dalam pola berikut ini:    Tindak kekerasan/pemukulan: pelaku melakukan kekerasan terhadap pasangannya. Permintaan maaf: pelaku menyesali perbuatannya dan meminta maaf kepada korban. Bulan madu: pelaku menunjukkan sikap mesra kepada pasangannya, seolah-olah tidak  pernah melakukan kekerasan. Konflik: periode mesra akan berakhir ketika terjadi konflik yang kemudian membawa pelaku untuk melakukan kekerasan lagi, dan seterusnya. Dari pola ini dapat diperhatikan bahwa hubungan antara perempuan dan pasangannya selalu diliputi oleh rasa cinta, harapan dan teror. Rasa cinta dan sayang kepada pasangan, berusaha memaklumi dan mencoba untuk mengerti, serta berusaha menganggap bahwa kekerasan timbul akibat kekhilafan yang bersifat sesaat. Korban juga berharap bahwa pasangannya akan berubah menjadi baik, sehingga ketika pelaku meminta maaf dan bersikap mesra lagi harapan tersebut terpenuhi untuk sementara waktu. Hal inilah yang menyebabkan KDRT biasanya berulang, sehingga hal ini menimbulkan rasa terancam pada korban bahwa setiap saat ia mungkin dianiaya lagi, ketakutan ditinggal dan sakit hati atas perlakuan pasangannya. Pemeriksaan Fisik Pada Korban KDRT Banyak wanita menganggap kekerasan dalam rumah tangga sebagai suatu hal yang tabu. Itulah mengapa mereka cenderung menutupi penderitaan fisik dan psikologis yang dilakukan pasangannya. Adanya sikap posesif terhadap korban ataupun perilaku mengisolasi korban dari dunia luar dapat dilihat sebagai tanda awal KDRT. Korban biasanya tampak depresi, sangat takut pada pengunjung/pasien lainnya dan yang merawatnya, termasuk pegawai rumah sakit. Perhatikan perubahan sikap korban. Mereka akan cenderung menarik diri dari lingkungan sosialnya. Mereka umumnya tak ingin orang sekitarnya melihat tanda-tanda kekerasan pada diri mereka. Kontak mata biasanya buruk. Korban menjadi pendiam. Korban harus diperiksa secara menyeluruh untuk memeriksa dengan teliti tanda-tanda kekerasan yang pada umumnya tersembunyi. Sebagai contoh, kulit kepala dapat menunjukkan tanda-tanda kekerasan. Korban juga akan mencoba untuk menyembunyikan atau menutupi luka-lukanya dengan memakai riasan wajah tebal, leher baju yang tinggi, rambut palsu atau perhiasan.1  Karakteristik Luka Orang yang mendapat siksaan fisik dari pasangannya tak jarang mengalami cedera. Hanya saja mereka cenderung menutupinya dengan mengatakan bahwa luka tersebut akibat terjatuh, atau kecelakaan umum. Untuk membedakannya, perlu diketahui cirri-ciri khusus luka akibat kekerasan yang dilakukan dalam rumah tangga.Karakteristik luka yang disebabkan oleh adanya KDRT, biasanya menunjukkan gambaran sebagai berikut: o Luka bilateral, terutama pada ekstremitas. o Luka pada banyak tempat. o Kuku yang tergores, luka bekas sundutan rokok yang terbakar, atau bekas tali yang terbakar. o Luka lecet, luka gores minimal, bilur. Perdarahan subkonjungtiva yang diduga karena adanya perlawanan yang kuat antara korban dengan pelaku.  Bentuk-Bentuk Luka Adanya bentukan luka memberi kesan adanya kekerasan. Bentukan luka merupakan tanda, cetakan atau pola yang timbul dengan segera di bawah epitel oleh senjata penyebab luka. Bentuk luka dapat karena benda tumpul, benda tajam (goresan atau tikaman) atau karena panas. o Kekerasan Tumpul Kekerasan tumpul yang melukai kulit merupakan luka yang paling sering terjadi, berupa luka memar, lecet dan luka goresan. Adanya luka memar yang sirkuler ataupun yang linier memberi kesan adanya penganiayaan. Luka memar parallel dengan sentral yang bersih memberi kesan adanya penganiayaan dari objek linear. Adanya bekas tamparan dengan bentukan jari juga harus dicatat. Luka memar sirkuler dengan diameter 1 – 1,5 cm dengan tekanan ujung jari mungkin terlihat sama dengan bentuk penjambretan. Bentukan-bentukan tersebut sering tampak pada lengan atas bagian dalam dan area-area yang tidak terlihat waktu pemeriksaan fisik. Penganiayaan dengan menggunakan ikat pinggang atau kawat menyebabkan luka memar yang datar, dan penganiayaan dengan sol atau hak sepatu akan menyebabkan luka memar pada korban yang ditendang.  Memar Beberapa faktor mempengaruhi perkembangan luka memar, meliputi kekuatan kekerasan tumpul yang diterima oleh kulit, kepadatan vaskularisasi jaringan, kerapuhan pembuluh darah, dan jumlah darah yang keluar ke dalam jaringan sekitar. Luka memar yang digunakan untuk identifikasi umur dan penyebab luka, tidak selalu menunjukkan kesamaan warna pada tiap orang dan tidak dapat berubah dalam waktu yang sama antara satu orang dengan orang lain. Beberapa petunjuk dasar tentang penampakan luka memar sebagai berikut:2 gambar 1. luka memar Waktu merah, biru, ungu, atau hitam dapat terjadi kapan saja dalam waktu 1 jam setelah trauma sebagai resolusi dari memar. Gambaran warna merah tidak dapat digunakan untuk memperkirakan umur memar. Memar dengan gradasi warna kuning umurnya lebih dari 18 jam. Meskipun warna memar kuning, coklat, atau hijau merupakan indikasi luka yang lama, tetapi untuk mendapatkan waktu yang spesifik sulit. o Bekas Gigitan Merupakan bentuk luka lain yang sering ada pada domestic violence. Beberapa bentukan gigitan ini sulit untuk dikenali, misalnya penampakan memar semisirkuler yang non spesifik, luka lecet, atau luka lecet memar, dan masih banyak lagi gambaran yang dapat dikenali karena lokasi anatomi dari gigitan dan pergerakan tidak tetap pada kulit. Gambar 2. Bekas gigitan o Bekas Kuku Ada 3 macam tanda bekas kuku yang mungkin terjadi, bisa tunggal atau kombinasi, yaitu sebagai berikut:  Impression marks Bentukan ini merupakan akibat patahnya kuku pada kulit.  Bentuknya seperti koma atau setengah lingkaran. Scratch marks Bentuk ini superficial dan memanjang, kedalamannya sama dengan kedalaman kuku. Bentukan ini terjadi karena wanita yang menjadi korban berkuku panjang. Gambar 3. Luka lecet  Claw marks Bentukan ini terjadi ketika kulit terkoyak, dan tampak lebih menyeramkan. Gambar 4. Bekas cakar o Strangulasi Hanging, ligature, atau manual adalah 3 tipe dari strangulasi (penjeratan). Dua tipe terakhir mungkin berhubungan dengan domestic violence.  Ligature strangulation (garroting) dan Manual strangulation (throttling). Ligature strangulation (garroting) merupakan bentuk strangulasi dengan menggunakan tali, seperti kabel telepon atau tali jemuran. Sedangkan Manual strangulation (throttling) biasanya menggunakan tangan, dilakukan dengan tangan depan sambil berdiri atau berlutut di depan tenggorokan korban. Strack dan McLane melakukan penelitian pada 100 wanita yang dilaporkan mengalami pencekikan oleh pasangan mereka dengan tangan kosong, lengan ataupun menggunakan alat (kabel listrik, ikat pinggang, tali, peralatan mandi). Petugas kepolisian melaporkan luka tidak tampak pada 62% wanita, luka tampak minimal pada 22% dan luka yang signifikan seperti warna merah, memar ataupun bekas tali yang terbakar pada 16% sisanya. Hampir 50% dari para korban mengalami perubahan suara dari disfonia sampai afonia. Disfagia, odinofagia, hiperventilasi, dispneu, dan apneu dilaporkan atau ditemukan. Dengan catatan, laporan menunjukkan bahwa beberapa korban dengan keadaan awal ringan, dapat meninggal dalam waktu 36 jam setelah strangulasi. Pada ligature strangulation sering tampak petechiae. Petechiae pada konjungtiva terlihat sama banyaknya dengan petechiae pada daerah jeratan, seperti wajah dan daerah periorbita. Pada leher mungkin ditemukan goresan dan luka lecet dari kuku korban atau kombinasi dari luka yang dibuat oleh pelaku dan korban. Lokasi dan luas bervariasi dengan posisi pelaku (depan atau belakang) dan apakah korban atau pelaku menggunakan satu atau dua tangan. Pada Manual strangulation korban sering merendahkan dagunya dalam upaya melindungi leher, hal ini akan mengaakibatkan luka lecet pada dagu korban dan tangan pelaku. Luka memar tunggal atau area eritematous sering terlihat pada ibu jari pelaku. Area dari luka memar dan eritema sering terlihat bersama, berkelompok pada bagian samping leher, sepanjang mandibula, bagian atas dagu, dan di bawah area supraklavikula. Ligature mark terlihat dari halus sampai keras. Menyerupai lipatan kulit. Tanda (misalnya pola seperti gelombang kabel telepon, seperti jalinan pita dari tali) dapat memberi kesan korban telah dicekik. Sifat dan sudut pola ini diperlukan untuk membedakan penggantungan dengan Ligature strangulation. Pada Ligature strangulation, penekanan dari penjeratan biasanya horizontal pada level yang sama dengan leher, dan tanda penjeratan biasanya di bawah kartilago thyroid dan sering tulang hyoid patah. Pada penggantungan, penekanan cenderung vertical dan berbentuk seperti air mata, di atas kartilago thyroid, dengan simpul pada daerah tengkuk, di bawah dagu, atau langsung di depan telinga. Tulang hyoid biasanya masih utuh. Keluhan lainnya termasuk kehilangan kesadaran, defekasi, muntah yang tidak terkontrol, mual dan kehilangan ingatan. Distribusi Luka Luka-luka pada KDRT biasanya mempunyai distribusi tertentu, sebagai berikut:1  Luka pada domestic violence biasanya sentral.  Tempat luka yang umum adalah daerah yang biasanya tertutup oleh pakaian (misalnya dada, payudara dan perut). Wajah, leher, tenggorokan dan genitalia juga tempat yang  sering mengalami perlukaan. Lebih dari 50% luka disebabkan karena kekerasan pada kepala dan leher. Pelaku laki-laki   menghindari untuk menyerang wajah, tetapi kemudian memukul kepala bagian belakang. Luka pada wajah dilaporkan pada 94% korban domestic violence. Trauma pada maxillofacial termasuk luka pada mata dan telinga, luka pada jaringan lunak, kehilangan pendengaran, dan patah pada mandibula, patah tulang hidung, orbita  dan zygomaticomaxillary complex. Luka karena perlawanan, misalnya patah tulang, dislokasi sendi, keseleo, dan atau luka memar dari pergelangan tangan atau lengan bawah dapat mendukung adanya tanda dari korban untuk menangkis pukulan pada wajah atau dada. Termasuk luka pada bagian ulnar dari tangan dan telapak tangan (yang mungkin digunakan untuk menahan serangan). Luka lain yang umum ada termasuk luka memar pada punggung, tungkai bawah, bokong, dan kepala bagian belakang (yang disebabkan karena korban membungkuk untuk melindungi diri). Luka lecet yang banyak atau luka memar pada tempat yang berbeda sering terjadi memperkuat kecurigaan adanya domestic violence. Peta tubuh dapat membantu penemuan fisik adanya kekerasan termasuk dengan memperhatikan kemungkinan tanda-tanda kekerasan pada daerah-daerah yang tersembunyi. Terdapatnya luka yang banyak dengan tahap penyembuhan yang bervariasi memperkuat dugaan adanya KDRT yang berulang. Kekerasan Selama Kehamilan Kekerasan umumnya meningkat selama kehamilan. Luka-luka kekerasan yang terjadi selama kehamilan biasanya terdapat pada bagian payudara atau perut. Pasien juga dapat memperlihatkan trauma pada genitalia, nyeri yang tidak dapat dijelaskan, serta kekurangan gizi. Kekerasan selam kehamilan dapat membawa dampak yang fatal bagi ibu maupun janin, seperti aborsi spontan yang tidak dapat dijelaskan, keguguran, atau kelahiran prematur. Penganiayaan Seksual Penganiayaan seksual merupakan salah satu bentuk KDRT yang kerap terjadi. Penganiayaan seksual dilaporkan oleh 33% - 46% wanita yang mengalami kekerasan fisik. Bagi korban penganiayaan seksual perlu dilakukan pemeriksaan untuk menemukan bukti penganiayaan seksual jika diindikasikan oleh gambaran klinik. Beberapa bukti dari luka genital seperti hematom vagina, luka lecet kecil pada vagina, atau benda asing pada rectovagina, dapat diajukan untuk menentukan kekerasan seksual. Adanya darah yang mengering dan semen juga harus dicatat. Perlu diindentifikasi pula adanya penyakit menular seksual yang dapat diduga akibat kekerasan seksual.3 Daftar Pustaka : 1. E. Kristi Poerwandari, Kekerasan Terhadap Perempuan : Tinjauan Psikologi Feministik, dalam Pemahaman Bentuk-bentuk Tindak Kekerasan Terhadap perempuan dan Alternatif Pemecahannya, Penyunting, Achie Sudiarti Luhulima, Alumni, Bandung, 2000, hal. 33-4. 2. Chapman. Violence Against Women as a Violation of Human Rights. Social Justice Vol. 17 (2), Summer, 1990. 3. Arif Gosita. Masalah Perlindungan Anak. Jakarta : CV. Akademika Pressindo, 1989 : Edisi pertama – Cetakan Kedua, hal 94.