Anda di halaman 1dari 5

Modul PRJL-I Undang- Undang Jalan dan Undang-Undang Jasa Konstruksi

Bab IV . Kewenangan Penyelenggaraan Jalan

BAB IV
KEWENANGAN PENYELENGGARAAN JALAN
4.1. PENGATURAN KEWENANGAN PENYELENGGARAAN JALAN
Berbeda dengan UU No. 13/1980 yang wewenang pembinaan jalan

diberikan kepada

Pemerintah (Pusat) dan kemudian sebagian wewenang tersebut kepada pemerintah daerah
melalui proses penyerahan wewenang, UU No. 38/2004 telah memberikan wewenang
penyelenggaraan jalan secara tegas kepada Pemerintah (Pusat) dan pemerintah daerah
tanpa melalui proses penyerahan wewenang, sekalipun UU ini juga mengatur penyerahan
sebagian wewenang Pemerintah kepada pemerintah daerah seperti sebagian wewenang
pembangunan Jalan Nasional yang dapat dilaksanakan kepada pemerintah daerah. Hal ini
merupakan upaya secara nyata desentralisasi penyelenggaraan jalan serta terwujudnya
otonomi daerah sesuai amanat peraturan perundang-undangan bidang pemerintahan
daerah.. Dengan pembagian wewenang penyelenggaraan jalan antara Pemerintah dan
pemerintah daerah secara jelas tersebut dimaksudkan agar diperoleh hasil penanganan jalan
yang memberikan pelayanan yang optimal melalui penyelenggaraan jalan yang terpadu dan
bersinergi antarsektor, antardaerah dan antarpemerintah serta masyarakat.

Wewenang penyelenggaraan jalan tersebut secara tegas diatur sebagai berikut:


q

Wewenang

Pemerintah

mencakup

penyelenggaraan

Jalan

Nasional,

dan

penyelenggaraan jalan secara umum yakni penyelenggaraan jalan secara makro untuk
seluruh status jalan (nasional, provinsi, kabupaten, kota, dan desa),;
q

Wewenang pemerintah provinsi meliputi penyelenggaraan Jalan Provinsi;

Wewenang pemerintah kabupaten meliputi penyelenggaraan Jalan Kabupaten dan


Jalan Desa;

Wewenang pemerintah kota meliputi penyelenggaraan Jalan Kota;

Sekalipun pembagian wewenang secara umum telah diatur seperti di atas, namun secara
khusus dalam UU ini diatur juga pelaksanaan maupun penyerahan sebagian wewenang
penyelenggaraan jalan sebagai berikut:
q

Sebagian wewenang Pemerintah di bidang pembangunan Jalan Nasional yang


mencakup

perencanaan

teknis,

pelaksanaan

konstruksi,

pengoperasian,

Badan Sertifikasi Asosiasi Pusat HPJI-Modul Pembekalan/Pengujian Ahli Perencana Jalan/ Maret 2010

I-1

dan

Modul PRJL-I Undang- Undang Jalan dan Undang-Undang Jasa Konstruksi

Bab IV . Kewenangan Penyelenggaraan Jalan

pemeliharaannya dapat dilaksanakan oleh pemerintah daerah sesuai peraturan


perundang-undangan (seperti melalui dekonsentrasi dan atau tugas pembantuan);
q

Dalam hal pemerintah provinsi belum dapat melaksanakan sebagian wewenangnya,


pemerintah provinsi dapat menyerahkan wewenang tersebut kepada Pemerintah;

Dalam

hal

pemerintah

kabupaten/kota

belum

dapat

melaksanakan

sebagian

wewenangnya, pemerintah kabupaten/kota dapat menyerahkan wewenang tersebut


kepada pemerintah provinsi.
Penyerahan wewenang pemerintah provinsi kepada Pemerintah dan wewenang
pemerintah kabupaten/kota kepada pemerintah provinsi tersebut bertujuan agar peran
jalan dalam melayani kegiatan masyarakat dapat tetap terpelihara dan keseimbangan
pembangunan antarwilayah terjaga.

4.2. KEWAJIBAN MEMPRIORITASKAN PEMELIHARAAN JALAN


Pasal 30 ayat (1) angka b. UU No. 38/2004 menyatakan bahwa penyelenggara jalan wajib
memprioritaskan pemeliharaan, perawatan dan pemeriksaan jalan secara berkala untuk
memepertahankan tingkat pelayanan jalan sesuai dengan standar pelayanan minimal yang
ditetapkan.
Sesuai dengan ketentuan tersebut maka tujuan utama dari kewajiban melakukan
pemeliharan jalan dengan memberikan skala prioritas paling tinggi tersebut adalah dalam
rangka mempertahankan tingkat pelayanan jalan yang ditetapkan.
Kenyataan menunjukkan bahwa pemeliharaan jalan yang tidak memadai mengakibatkan
penurunan kondisi jalan yang sangat drastis dan dari segi pelayanan kepada masyarakat, hal
tersebut akan mengakibatkan penurunan tingkat pelayanan masyarakat baik aksesibilitas,
mobilitas maupun keselamatan masyarakat.
Dari segi pengguna jalan kondisi jalan yang buruk menyebabkan tingginya kerusakan
kendaraan, kecepatan tempuh kendaran yang rendah, penggunaan bahan bakar (termasuk
minyak pelumas) dan ban yang boros yang berarti semakin tingginya biaya transportasi.
Sedangkan dari segi penyedia prasarana jalan, semakin buruknya kondisi jalan sebagai
akibat pemeliharaan yang tidak memadai, akan mengakibatkan lebih mahalnya biaya
rehabilitasi dan rekonstruksi terlebih lagi apabila kondisi tersebut diperburuk dengan
rendahnya mutu pekerjaan pembangunan, rehabilitasi, rekonstruksi dan pemeliharaan jalan
yang kemudian mengakibatkan kenaikan biaya pemeliharaan yang berlipat ganda
dibandingkan dengan apabila pemeliharaan dilakukan dengan baik dan benar.

Badan Sertifikasi Asosiasi Pusat HPJI-Modul Pembekalan/Pengujian Ahli Perencana Jalan/ Maret 2010

I-2

Modul PRJL-I Undang- Undang Jalan dan Undang-Undang Jasa Konstruksi

Bab IV . Kewenangan Penyelenggaraan Jalan

Selama ini pemberian prioritas pemeliharaan jalan hanya terlihat dalam kriteria pemrograman
yang hanya sekedar pemberian pendanaan pemeliharaan tanpa melihat kecukupan dana
yang dibutuhkan, dengan dalih tidak cukupnya ketersediaan dana yang dibutuhkan, maupun
cara-cara penanganan pemeliharaan yang benar yang dapat menjamin tercapainya tujuan
pemeliharaan jalan itu sendiri yakni terjagnya tingkat layanan kepada masyrakat seperti yang
dibutuhkan.

4.3. STANDAR PELAYANAN MINIMAL


UU ini mewajibkan penyelenggara jalan untuk memenuhi tingkat pelayanan jalan sesuai
standar pelayanan yang ditetapkan. Standar pelayanan minimal tersebut yang menunjukkan
keandalan pelayanan jalan meliputi standar pelayanan jaringan jalan dan standar pelayanan
minimal ruas jalan.
Standar pelayanan jaringan jalan meliputi aspek aksesibilitas (kemudahan pencapaian),
mobilitas, kondisi jalan, keselamatan, sedangkan standar pelayanan ruas jalan meliputi
aspek kondisi jalan, dan kecepatan tempuh rata-rata.
Aksesibilitas merupakan indikator pelayanan yang menunjukkan tersedianya jaringan jalan
yang mudah diakses oleh masyarakat dengan ditunjukkan oleh jumlah panjang jalan di satu
wilayah dalam kilometer panjang jalan per kilometer persegi luas wilayah (km/km2).
Sedangkan mobilitas merupakan indikator pelayanan yang menunjukkan tersedianya
jaringan jalan yang dapat menampung mobilitas masyarakat dengan ditunjukkan oleh jumlah
panjang jalan di satu wilayah dalam kilometer panjang jalan per jumlah penduduk wilayah
tersebut dalam satuan ribuan jiwa (km/1000 jiwa),
Keselamatan yang menunjukkan indikator pelayananan berupa tersedianya jaringan jalan
yang dapat melayani pengguna jalan dengan aman adalah jumlah kejadian kecelakaan di
satu wilayah per jumlah pergerakan di wilayah tersebut dalam satuan kendaraan, dalam satu
tahun kalender (kejadian/kend/tahun).
Kondisi jalan yang merupakan tersedianya ruas jalan yang dapat memberikan kenyamanan
pengguna jalan ditunjukkan dengan nilai kerataan permukaan dan dinyatakan dengan IRI
(International Roughness Index)
Kecepatan tempuh rata-rata yang merupakan tersedianya ruas jalan yang dapat
memberikan kenyamanan pengguna jalan ditunjukkan dengan perhitungan waktu tempuh
rata-rata pada panjang ruas jalan yang dilalui (km/jam)

Badan Sertifikasi Asosiasi Pusat HPJI-Modul Pembekalan/Pengujian Ahli Perencana Jalan/ Maret 2010

I-3

Modul PRJL-I Undang- Undang Jalan dan Undang-Undang Jasa Konstruksi

Bab IV . Kewenangan Penyelenggaraan Jalan

4.4. LAIK FUNGSI


Dalam rangka memenuhi ketentuan tingkat pelayanan jalan kepada masyarakat, maka setiap
ruas jalan yang selesai dibangun dapat dioperasikan setelah dinyatakan memenuhi
persyaratan laik fungsi secara teknis dan administrasi. Ketentuan laik fungsi tersebut juga
berlaku untuk ruas jalan yang sudah beroperasi dengan melakukan uji laik fungsi secara
berkala dan atau sesuai kebutuhan selama pengoperasiannya.
Laik fungsi secara teknis meliputi antara lain kelaikan perwujudan bagian-bagian jalan, jalan
terowongan, jalan lintas atas, jalan lintas bawah, jalan layang, termasuk bangunan
pelengkap, dan perlengkapanan jalan.
Laik fungsi adminstrasi meliputi antara lain kelengkapan dan kelaikan dokumen penetapan
aturan perintah dan larangan (APIL), dokumen penetapana titik lokasi perlengkapana jalan,
status jalan, kelas jalabn, kepemilikan tanah ruang milik jalan, dan dokumen AMDAL.
Prosedur pelaksanaan uji kelaikan funsgsi dilakukan oleh tim uji laik fungsi yang dibentuk
oleh penyelenggara jalan yang bersangkutan dan terdiri dari unsur penyelenggara jalan dan
instansi yang bertugas dan bertanggungjawab di bidang lalu lintas dan angkutan jalan.
Penetapan kaik fungsi oleh penyelenggara jalan yang bersangkutan berdasarkan
rekomendasi yang diberikan oleh tim uji laik fungsi.

4.5. PEMBERIAN IZIN, REKOMENDASI, DISPENSASI DAN


PERTIMBANGAN PEMANFAATAN RUANG-RUANG JALAN
Dalam rangka pelayanan kepada masyarakat umum, maka ruang milik jalan dan ruang
manfaat jalan selain digunakan untuk kepentingan pengguna jalan, dapat juga dimanfaatkan
untuk kepentingan lain sepanjang tidak mengganggu fungsi jalan seperti:
q

pemasangan papan iklan, hiasan gapura, dan benda-benda sejenis yang bersifat
sementara;

pembuatan bangunan-bangunan sementara untuk kepentingan umum yang mudah


dibongkar setelah fungsinya selesai;

penanaman pohon-pohon dalam rangka penghijuan;

penempatan bangunan dan instalasi utilitas sepert telpon, listrik, air minum, gas, pipa
limbah dan lainnya yang bersifat melayani kepentingan umum.

Badan Sertifikasi Asosiasi Pusat HPJI-Modul Pembekalan/Pengujian Ahli Perencana Jalan/ Maret 2010

I-4

Modul PRJL-I Undang- Undang Jalan dan Undang-Undang Jasa Konstruksi

Bab IV . Kewenangan Penyelenggaraan Jalan

Izin, rekomendasi, dispensasi dan pertimbangan pemanfaatan ruang-ruang jalan dilakukan


dengan ketentuan yang akan diatur lebih lanjut dalam PP Jalan antara lain sebagai berikut:
q

tidak

mengganggu

kelancaran

dan

keselamatan

pengguna

jalan

serta

membahayakan konstruksi jalan;


q

sesuai pedoman yang ditetapkan Menteri Pekerjaan Umum; dan

sesuai peraturan perundang-undangan;

Badan Sertifikasi Asosiasi Pusat HPJI-Modul Pembekalan/Pengujian Ahli Perencana Jalan/ Maret 2010

I-5

tidak