Anda di halaman 1dari 2

Hasil dan Pembahasan

3.1. Preparasi dan karakterisasi mikroemulsi
Diagram fase pseudo-terner pada tiga perbandingan surfaktan/co-surfaktan (S/CoS)
ditunjukkan pada Gambar1.1. Pada Gambar.1A, dapat diamati bahwa kapasitas maksimum
solubilisasi air sistem mikroemulsi diperoleh dengan perbandingan S/CoS 1:1 sekitar 30%. Di
sisi lain, mikroemulsi pada gambar 1B dan C dengan perbandingan S/Co-S masing-masing
adalah 2:1 dan 3:1 diperoleh solubilisasi air hampir 80%. Selanjutnya peningkatan
perbandingan S/CoS juga meningkatkan perbandingan minyak dalam wilayah isotropic,
seperti yang ditunjukkan pada diagram Labrasol/Plurol Oleique 3:1 (Gambar 1C). Daerah
mikroemulasi yang luas menunjukkan fleksibilitas film surfaktan/co-surfaktan, yang
memungkinkan adanya transisi structural terus menerus dengan peningkatan fraksi volume
fase air dalam campuran minyak/surfaktan/co-surfaktan. Dengan cara ini, mikroemulsi
terbentuk dengan Labrasol/Plurol Oleique 3:1 yang dipilih untuk studi lanjut. Sifat elektrokonduktivitas sampel mikroemulsi dalam diagram 1C yang disiapkan sepanjang garis
pengenceran 8:2 (campuran surfaktan/minyak) diptunjukkan dalam gambar 2. Dapat dilihat
bahwa peningkatan perbandingan wolume air (.. w) dari 5 menjadi 20%, konduktivitas listrik
(…) dari sistem sedikit meningkat. Peningkatan linieritas dan ketajaman (…) diamati sampai
(…w) > 60%, ketika konduktivitas sistem tidak secara signifikan terpengaruh dengan
penambahan air secara lebih lanjut. Peningkatan (…) secara tiba-tiba diketahyi sebagai
peristiwa perkolasi. Djordjevic, dkk. Memperoleh profil yang sangat mirip untuk sistem
mikroemulsi yang terdiri dari campuran surfaktan/co-surfaktan non-ionik yang sama tetapi
dengan fase minyak yang berbeda. Ada kemungkinan untuk mengkorelasi antra sifat elektrokonduktivitas dengan struktur sistem mikroemulsi. Dalam wilayah rendah kandungan air,
mikroemulsi O/W terbentuk. Pada daerah dengan kandungan air yang tinggi (… >50%),
terbentuk mikroemulsi O/W. oleh Karen aitum tiga wilayah structural ( W/O, bikontinyu-Bc
dan O/W) ditemukan dalam analisis sifat elektro-konduktivitas dan dibedakan pada gambar
2.
Untuk menegaskan wilayah, dilakukan pengukuran viskositas sepanjang garis
pengenceran 8:2 surfaktan/minyak (gambar 2). Peningkatan viskositas awal dengan
meningkatnya (,,,) merupakan batas perkolasi. Dengan peningkatan konsentrasi fase air,
viskositas sampel menurun, menunjukkan transformasi dari mikroemulsi W/O melalui sistem
biskontinyu menjadi sistem O/W (… >50%). Oleh karena itu, tiga komposisi mikroemulsi
(Tabel 1), satu dari masing-masing wilayah diagram elektro-konduktivitas dan viskositas
(gambar 2), dipilih untuk digabungkan dengan 5-ALA.
3.2. Mikroemulsi 5-ALA
Setelah penambahan obat, sistem menjadi isotropic dan transparan. Tidak ada
pemisahan fase yang dimati dengan sentrifugasi. Akan tetapi, ukuran droplet sedikit eningkat
dengan penambahan obat. Perlu ditekankan bahawa analisis penghamburan cahaya dilakukan
tanpa pengenceran sistem karena berdasarkan studi konduktivitas dan viskositas (gambar 2)
dapat mengubah tipe mikrostruktur yang terbentuk. Oleh karena itu populasi droplet kedua
diamati untuk sistem O/W (table 2).
pH mikroemulsi O/W dan Bc juga berubah dari sekitar 7,4 menjadi 4 ketika
ditambahkan 5-ALA. Adanya gugus karboksilat dalam struktur obat kemungkinan
bertanggung jawab pada penurunan pH. Perbedaan pH antara sesudah dan sebelum

yang ditunjukkan dengan ukuran droplet. dilakukan studi pelepasan 5-ALA dari mikroemulsi. suhu. Namun. dan derajat oksigenasi medium disperse. Dalam penelitian mereka.4.3. dengan waktu paruh 10 hari. konsentrasi 5-ALA menurun secara signifikan dengan peningkatan suhu. pH 4. dkk. Memungkinkan untuk mengamati bahwa konsentrasi sisa dari 5-ALA dalam sediaan menurun sebagai fungsi dari lama penyimpanan. Sistem Bc menunjukkan nilai D diantara mikroemulsi O/W dan W/O. Studi Pelepasan Untuk memperoleh informasi tentang mikrostruktur dalam sistem pengembangan. stabilitas 5-ALA buruk dalam sistem larutan pada pH 6 atau lebih.penambahan 5-ALA berperan pada menataan ulang struktur mikro. konsentrasi. Tabel 4 menunjukkan perhitungan nilai koefisien difusi (D) 5-ALA dari control (larutan dapar fosfat pH 5) dan dari mikroemulsi. Dapat dilihat pada table bahwa nilai D mikroemulsi 5-ALA menurun dibandingkan nilai D larutan kontrol. Elfsson. Percobaan penembusan kulit in vitro . bisa diasumsikan bahwa mikroemulsi melindungi obat dari reaksi kondensasi dan dari pengaruh suhu. Mengatakan bahwa dekomposisi 5-ALA dalam larutan (1%. Namun konsentrasi obat dalam larutan dua kali lebih rendah daripada penelitian ini. stabilitas 5-ALA bergantung pada pH. Mikroemulsi W/O menurunkan difusi 5-ALA oleh factor empat. Karena diketahhui ketidakstabilan 5-ALA dalam larutan. 3. 3. Waktu paruh dekomposisi 2% 5-ALA dalam mikroemulsi O/W pada 4 pH adalah sekitar 30 hari. dan tidak dilakukan penyesuaian pH. Sehingga dapat dilihat bahwa 5-ALA benar-benar berada dalam fase internal mikroemulsi W/O dan dalam fase dispersi O/W. maka dilakukan studi stabilitas dipercepat untuk obat dalam mikroemulsi O/W. sedangkan sistem O/W menurunkan difusi obat dengan hanya factor dua. Tabel 3 menunjukkan presentase sisa 5-ALA dalam mikroemulsi O/W sebagai fungsi dari waktu dan suhu.8) mengikuti kinetika orde 2.