Anda di halaman 1dari 386

PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN

TERKAIT PENATAAN PESISIR DAN
KELAUTAN
1. UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 27 TAHUN
2007 TENTANG PENGELOLAAN WILAYAH PESISIR DAN PULAUPULAU KECIL
2. UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN
2014 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR
27 TAHUN 2007 TENTANG PENGELOLAAN WILAYAH PESISIR
DAN PULAU-PULAU KECIL
3. UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN
2014 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH
4. UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN
2014 TENTANG KELAUTAN
5. PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK
INDONESIA
NOMOR
1/PERMEN-KP/2015
TENTANG
PENANGKAPAN LOBSTER (Panulirus spp.), KEPITING (Scylla
spp.), DAN RAJUNGAN (Portunus pelagicus spp.)
6. PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK
INDONESIA NOMOR 2/PERMEN-KP/2015 TENTANG LARANGAN
PENGGUNAAN ALAT PENANGKAPAN IKAN PUKAT HELA
(TRAWLS) DAN PUKAT TARIK (SEINE NETS) DI WILAYAH
PENGELOLAAN PERIKANAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 27 TAHUN 2007
TENTANG
PENGELOLAAN WILAYAH PESISIR DAN PULAU-PULAU KECIL
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
Menimbang : a. bahwa Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil merupakan
bagian dari sumber daya alam yang dianugerahkan oleh
Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan kekayaan yang
dikuasai oleh negara, yang perlu dijaga kelestariannya dan
dimanfaatkan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat, baik
bagi generasi sekarang maupun bagi generasi yang akan
datang;
b. bahwa Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil memiliki
keragaman potensi Sumber Daya Alam yang tinggi, dan
sangat penting bagi pengembangan sosial, ekonomi,
budaya, lingkungan, dan penyangga kedaulatan bangsa,
oleh karena itu perlu dikelola secara berkelanjutan dan
berwawasaan global, dengan memperhatikan aspirasi dan
partisipasi masyarakat, dan tata nilai bangsa yang
berdasarkan norma hukum nasional;
c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud
dalam huruf a, dan huruf b, perlu membentuk UndangUndang tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan PulauPulau Kecil;
Mengingat

:

Pasal 20, Pasal 21, Pasal 25A, dan Pasal 33 ayat (3), dan
ayat (4) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun 1945;
Dengan Persetujuan Bersama

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA
dan
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

Menetapkan

:

MEMUTUSKAN:
UNDANG-UNDANG
TENTANG
PENGELOLAAN
PESISIR DAN PULAU-PULAU KECIL.

WILAYAH

BAB I KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Dalam Undang–Undang ini yang dimaksud dengan:
1. Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil adalah suatu proses
perencanaan, pemanfaatan, pengawasan, dan pengendalian Sumber
Daya Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil antarsektor, antara Pemerintah dan
Pemerintah Daerah, antara ekosistem darat dan laut, serta antara ilmu
pengetahuan dan manajemen untuk meningkatkan kesejahteraan
masyarakat.
2. Wilayah Pesisir adalah daerah peralihan antara Ekosistem darat dan laut
yang dipengaruhi oleh perubahan di darat dan laut.
3. Pulau Kecil adalah pulau dengan luas lebih kecil atau sama dengan 2.000
km2 (dua ribu kilometer persegi) beserta kesatuan Ekosistemnya.
4. Sumber Daya Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil adalah sumber daya hayati,
sumber daya nonhayati; sumber daya buatan, dan jasa-jasa lingkungan;
sumber daya hayati meliputi ikan, terumbu karang, padang lamun,
mangrove dan biota laut lain; sumber daya nonhayati meliputi pasir, air
laut, mineral dasar laut; sumber daya buatan meliputi infrastruktur laut
yang terkait dengan kelautan dan perikanan, dan jasa-jasa lingkungan
berupa keindahan alam, permukaan dasar laut tempat instalasi bawah air
yang terkait dengan kelautan dan perikanan serta energi gelombang laut
yang terdapat di Wilayah Pesisir.
5. Ekosistem adalah kesatuan komunitas tumbuh-tumbuhan, hewan,
organisme dan non organisme lain serta proses yang menghubungkannya
dalam membentuk keseimbangan, stabilitas, dan produktivitas.
6. Bioekoregion adalah bentang alam yang berada di dalam satu hamparan
kesatuan ekologis yang ditetapkan oleh batas-batas alam, seperti daerah
aliran sungai, teluk, dan arus.
7. Perairan Pesisir adalah laut yang berbatasan dengan daratan meliputi
perairan sejauh 12 (dua belas) mil laut diukur dari garis pantai, perairan
yang menghubungkan pantai dan pulau-pulau, estuari, teluk, perairan
dangkal, rawa payau, dan laguna.
8. Kawasan adalah bagian Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil yang
memiliki fungsi tertentu yang ditetapkan berdasarkan kriteria karakteristik
fisik, biologi, sosial, dan ekonomi untuk dipertahankan keberadaannya.
9. Kawasan Pemanfaatan Umum adalah bagian dari Wilayah Pesisir yang
ditetapkan peruntukkannya bagi berbagai sektor kegiatan.

10. Kawasan Strategis Nasional Tertentu adalah Kawasan yang terkait dengan
kedaulatan negara, pengendalian lingkungan hidup, dan/atau situs
warisan dunia, yang pengembangannya diprioritaskan bagi kepentingan
nasional.
11. Zona adalah ruang yang penggunaannya disepakati bersama antara
berbagai pemangku kepentingan dan telah ditetapkan status hukumnya.
12. Zonasi adalah suatu bentuk rekayasa teknik pemanfaatan ruang melalui
penetapan batas-batas fungsional sesuai dengan potensi sumber daya
dan daya dukung serta proses-proses ekologis yang berlangsung sebagai
satu kesatuan dalam Ekosistem pesisir.
13. Rencana Strategis adalah rencana yang memuat arah kebijakan lintas
sektor untuk Kawasan perencanaan pembangunan melalui penetapan
tujuan, sasaran dan strategi yang luas, serta target pelaksanaan dengan
indikator yang tepat untuk memantau rencana tingkat nasional.
14. Rencana Zonasi adalah rencana yang menentukan arah penggunaan
sumber daya tiap-tiap satuan perencanaan disertai dengan penetapan
struktur dan pola ruang pada Kawasan perencanaan yang memuat
kegiatan yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan serta kegiatan
yang hanya dapat dilakukan setelah memperoleh izin.
15. Rencana Pengelolaan adalah rencana yang memuat susunan kerangka
kebijakan, prosedur, dan tanggung jawab dalam rangka pengoordinasian
pengambilan keputusan di antara berbagai lembaga/instansi pemerintah
mengenai kesepakatan penggunaan sumber daya atau kegiatan
pembangunan di zona yang ditetapkan.
16. Rencana Aksi Pengelolaan adalah tindak lanjut rencana pengelolaan
Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil yang memuat tujuan, sasaran,
anggaran, dan jadwal untuk satu atau beberapa tahun ke depan secara
terkoordinasi untuk melaksanakan berbagai kegiatan yang diperlukan oleh
instansi Pemerintah, Pemerintah Daerah, dan pemangku kepentingan
lainnya guna mencapai hasil pengelolaan sumber daya pesisir dan pulaupulau kecil di setiap Kawasan perencanaan.
17. Rencana Zonasi Rinci adalah rencana detail dalam 1 (satu) Zona
berdasarkan arahan pengelolaan di dalam Rencana Zonasi yang dapat
disusun oleh Pemerintah Daerah dengan memperhatikan daya dukung
lingkungan dan teknologi yang dapat diterapkan serta ketersediaan
sarana yang pada gilirannya menunjukkan jenis dan jumlah surat izin
yang dapat diterbitkan oleh Pemerintah Daerah.
18. Hak Pengusahaan Perairan Pesisir, selanjutnya disebut HP-3, adalah hak
atas bagian-bagian tertentu dari perairan pesisir untuk usaha kelautan
dan perikanan, serta usaha lain yang terkait dengan pemanfaatan Sumber
Daya Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil yang mencakup atas permukaan laut
dan kolom air sampai dengan permukaan dasar laut pada batas keluasan
tertentu.

19. Konservasi

Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil adalah upaya
perlindungan, pelestarian, dan pemanfaatan Wilayah Pesisir dan PulauPulau Kecil serta ekosistemnya untuk menjamin keberadaan,
ketersediaan, dan kesinambungan Sumber Daya Pesisir dan Pulau-Pulau
Kecil dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas nilai dan
keanekaragamannya.
20. Kawasan Konservasi di Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil adalah
kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil dengan ciri khas tertentu yang
dilindungi untuk mewujudkan pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau
Kecil secara berkelanjutan.
21. Sempadan Pantai adalah daratan sepanjang tepian yang lebarnya
proporsional dengan bentuk dan kondisi fisik pantai, minimal 100
(seratus) meter dari titik pasang tertinggi ke arah darat.
22. Rehabilitasi Sumber Daya Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil adalah proses
pemulihan dan perbaikan kondisi Ekosistem atau populasi yang telah
rusak walaupun hasilnya berbeda dari kondisi semula.
23. Reklamasi adalah kegiatan yang dilakukan oleh Orang dalam rangka
meningkatkan manfaat sumber daya lahan ditinjau dari sudut lingkungan
dan sosial ekonomi dengan cara pengurugan, pengeringan lahan atau
drainase.
24. Daya Dukung Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil adalah kemampuan
Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil untuk mendukung perikehidupan
manusia dan makhluk hidup lain.
25. Mitigasi Bencana adalah upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik
secara struktur atau fisik melalui pembangunan fisik alami dan/atau
buatan maupun nonstruktur atau nonfisik melalui peningkatan
kemampuan menghadapi ancaman bencana di Wilayah Pesisir dan PulauPulau Kecil.
26. Bencana Pesisir adalah kejadian karena peristiwa alam atau karena
perbuatan Orang yang menimbulkan perubahan sifat fisik dan/atau hayati
pesisir dan mengakibatkan korban jiwa, harta, dan/atau kerusakan di
Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil.
27. Dampak Besar adalah terjadinya perubahan negatif fungsi lingkungan
dalam skala yang luas dan intensitas lama yang diakibatkan oleh suatu
usaha dan/atau kegiatan di Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil.
28. Pencemaran Pesisir adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk
hidup, zat, energi, dan/atau komponen lain ke dalam lingkungan pesisir
akibat adanya kegiatan Orang sehingga kualitas pesisir turun sampai ke
tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan pesisir tidak dapat
berfungsi sesuai dengan peruntukannya.
29. Akreditasi adalah prosedur pengakuan suatu kegiatan yang secara
konsisten telah memenuhi standar baku sistem Pengelolaan Wilayah

Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil yang meliputi penilaian, penghargaan, dan
insentif terhadap program-program pengelolaan yang dilakukan oleh
masyarakat secara sukarela.
30. Pemangku Kepentingan Utama adalah para pengguna Sumber Daya
Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil yang mempunyai kepentingan langsung
dalam mengoptimalkan pemanfaatan Sumber Daya Pesisir dan PulauPulau Kecil, seperti nelayan tradisional, nelayan modern, pembudidaya
ikan, pengusaha pariwisata, pengusaha perikanan, dan Masyarakat Pesisir.
31. Pemberdayaan Masyarakat adalah upaya pemberian fasilitas, dorongan
atau bantuan kepada Masyarakat Pesisir agar mampu menentukan pilihan
yang terbaik dalam memanfaatkan Sumber Daya Pesisir dan Pulau-Pulau
Kecil secara lestari.
32. Masyarakat adalah masyarakat yang terdiri dari Masyarakat Adat dan
Masyarakat Lokal yang bermukim di Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil.
33. Masyarakat Adat adalah kelompok Masyarakat Pesisir yang secara turuntemurun bermukim di wilayah geografis tertentu karena adanya ikatan
pada asal-usul leluhur, adanya hubungan yang kuat dengan Sumber Daya
Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, serta adanya sistem nilai yang menentukan
pranata ekonomi, politik, sosial, dan hukum.
34. Masyarakat Lokal adalah kelompok Masyarakat yang menjalankan tata
kehidupan sehari-hari berdasarkan kebiasaan yang sudah diterima
sebagai nilai-nilai yang berlaku umum tetapi tidak sepenuhnya
bergantung pada Sumber Daya Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil tertentu.
35. Masyarakat tradisional adalah masyarakat perikanan tradisional yang
masih diakui hak tradisionalnya dalam melakukan kegiatan penangkapan
ikan atau kegiatan lainnya yang sah di daerah tertentu yang berada
dalam perairan kepulauan sesuai dengan kaidah hukum laut internasional.
36. Kearifan Lokal adalah nilai-nilai luhur yang masih berlaku dalam tata
kehidupan masyarakat.
37. Gugatan Perwakilan adalah gugatan yang berupa hak kelompok kecil
Masyarakat untuk bertindak mewakili Masyarakat dalam jumlah besar
dalam upaya mengajukan tuntutan berdasarkan kesamaan permasalahan,
fakta hukum, dan tuntutan ganti kerugian.
38. Orang adalah orang perseorangan dan/atau badan hukum.
39. Dewan Perwakilan Rakyat, selanjutnya disebut DPR, adalah Dewan
Perwakilan Rakyat sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar
Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
40. Pemerintah Pusat, selanjutnya disebut Pemerintah, adalah Presiden
Republik Indonesia yang memegang kekuasaan pemerintahan Negara
Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

41. Pemerintah Daerah adalah gubernur, bupati, atau walikota, dan perangkat
daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah.

42. Pemerintahan Daerah adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh
Pemerintah Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, menurut asas
otonomi dan tugas pembantuan dengan prinsip otonomi seluas-luasnya
dalam sistem dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia
sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945.
43. Mitra Bahari adalah jejaring pemangku kepentingan di bidang pengelolaan
Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil dalam penguatan kapasitas sumber
daya manusia, lembaga, pendidikan, penyuluhan, pendampingan,
pelatihan, penelitian terapan, dan pengembangan rekomendasi kebijakan.
44. Menteri adalah Menteri yang bertanggung jawab di bidang kelautan dan
perikanan.
Pasal 2
Ruang lingkup pengaturan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil meliputi
daerah peralihan antara Ekosistem darat dan laut yang dipengaruhi oleh
perubahan di darat dan laut, ke arah darat mencakup wilayah administrasi
kecamatan dan ke arah laut sejauh 12 (dua belas) mil laut diukur dari garis
pantai.
BAB II ASAS DAN TUJUAN
Pasal 3
Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil berasaskan:
a. keberlanjutan;
b. konsistensi;
c. keterpaduan;
d. kepastian hukum;
e. kemitraan;
f.
pemerataan;
g. peran serta masyarakat;
h. keterbukaan;
i.
desentralisasi;
j.
akuntabilitas; dan
k. keadilan.
Pasal 4
Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil dilaksanakan dengan tujuan:
a. melindungi,
mengonservasi,
merehabilitasi,
memanfaatkan,
dan
memperkaya Sumber Daya Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil serta sistem
ekologisnya secara berkelanjutan;

b. pemanfaatan. antara Pemerintah dan Pemerintah Daerah. menciptakan keharmonisan dan sinergi antara Pemerintah dan Pemerintah Daerah dalam pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan PulauPulau Kecil. dan keberkelanjutan. terdiri atas: a. dan Masyarakat.b. antara Pemerintah. dan pengendalian terhadap interaksi manusia dalam memanfaatkan Sumber Daya Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil serta proses alamiah secara berkelanjutan dalam upaya meningkatkan kesejahteraan Masyarakat dan menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Rencana Strategis Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil yang selanjutnya disebut RSWP-3-K. ekonomi. Rencana Aksi Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil yang selanjutnya disebut RAPWP-3-K. c. antara ilmu pengetahuan dan prinsip-prinsip manajemen. Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil yang selanjutnya disebut RZWP-3-K. memperkuat peran serta masyarakat dan lembaga pemerintah serta mendorong inisiatif Masyarakat dalam pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil agar tercapai keadilan. Pasal 6 Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 wajib dilakukan dengan cara mengintegrasikan kegiatan: a. b. pengawasan. dan d. keseimbangan. . d. e. antarsektor. antara Ekosistem darat dan Ekosistem laut. BAB IV PERENCANAAN Bagian Kesatu Umum Pasal 7 (1) Perencanaan Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5. dan meningkatkan nilai sosial. c. dan f. dan budaya Masyarakat melalui peran serta Masyarakat dalam pemanfaatan Sumber Daya Pesisir dan PulauPulau Kecil. dunia usaha. Rencana Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil yang selanjutnya disebut RPWP-3-K. antar-Pemerintah Daerah. d. c. BAB III PROSES PENGELOLAAN WILAYAH PESISIR DAN PULAU-PULAU KECIL Pasal 5 Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil meliputi kegiatan perencanaan.

dan pedoman sebagaimana dimaksud pada ayat (2). dan c. keterpaduan pemanfaatan berbagai jenis sumber daya. (3) Jangka waktu RSWP-3-K Pemerintah Daerah selama 20 (dua puluh) tahun dan dapat ditinjau kembali sekurang-kurangnya 5 (lima) tahun sekali. RZWP-3-K diserasikan. keselarasan. diselaraskan. RZWP-3-K ditetapkan dengan Peraturan Daerah. dimensi ruang dan waktu. . (1) (2) (3) (4) (5) Bagian Ketiga Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Pasal 9 RZWP-3-K merupakan arahan pemanfaatan sumber daya di Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil pemerintah provinsi dan/atau pemerintah kabupaten/kota. standar. dan keseimbangan dengan daya dukung ekosistem. keserasian. dan diseimbangkan dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) pemerintah provinsi atau pemerintah kabupaten/kota. Bagian Kedua Rencana Strategis Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Pasal 8 (1) RSWP-3-K merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari rencana pembangunan jangka panjang setiap Pemerintah Daerah. Perencanaan RZWP-3-K dilakukan dengan mempertimbangkan: a. serta fungsi pertahanan dan keamanan. fungsi pemanfaatan dan fungsi perlindungan. (4) Pemerintah Daerah menyusun rencana Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil dengan melibatkan masyarakat berdasarkan norma. b. (5) Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota menyusun Rencana Zonasi rinci di setiap Zona Kawasan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil tertentu dalam wilayahnya. kewajiban untuk mengalokasikan ruang dan akses Masyarakat dalam pemanfaatan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil yang mempunyai fungsi sosial dan ekonomi. dimensi teknologi dan sosial budaya. fungsi. Jangka waktu berlakunya RZWP-3-K selama 20 (dua puluh) tahun dan dapat ditinjau kembali setiap 5 (lima) tahun.(2) Norma. standar. (3) Pemerintah Daerah wajib menyusun semua rencana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sesuai dengan kewenangan masing-masing. dan kualitas lahan pesisir. (2) RSWP-3-K sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib mempertimbangkan kepentingan Pemerintah dan Pemerintah Daerah. dan pedoman penyusunan perencanaan Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil diatur dengan Peraturan Menteri. estetika lingkungan.

b. (2) keterkaitan antarekosistem Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil dalam suatu Bioekoregion. penetapan prioritas Kawasan laut untuk tujuan konservasi. mekanisme pelaporan yang teratur dan sistematis untuk menjamin tersedianya data dan informasi yang akurat dan dapat diakses. kebijakan tentang pengaturan serta prosedur administrasi penggunaan sumber daya yang diizinkan dan yang dilarang. skala prioritas pemanfaatan sumber daya sesuai dengan karakteristik Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. b. Zona. alokasi ruang dalam Rencana Kawasan Pemanfaatan Umum. dan alur laut. c. terdiri atas: a. industri strategis. . c.Paragraf 1 Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Provinsi Pasal 10 RZWP-3-K Provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9. dan d. serta pertahanan dan keamanan. d. sosial budaya. rencana Kawasan Strategis Nasional Tertentu. transportasi laut. penetapan pemanfaatan ruang laut. ketersediaan sumber daya manusia yang terlatih untuk mengimplementasikan kebijakan dan prosedurnya. serta e. dan/atau Alur Laut yang telah ditetapkan sesuai dengan peraturan perundangundangan. Bagian Keempat Rencana Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Pasal 12 (1) RPWP-3-K berisi: a. ekonomi. (3) Penyusunan RZWP-3-K sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diwajibkan mengikuti dan memadukan rencana Pemerintah dan Pemerintah Daerah dengan memperhatikan Kawasan. rencana Kawasan Konservasi. pengalokasian ruang dalam Kawasan Pemanfaatan Umum. keterkaitan antara Ekosistem darat dan Ekosistem laut dalam suatu Bioekoregion. Kawasan Strategis Nasional Tertentu. jaminan terakomodasikannya pertimbangan-pertimbangan hasil konsultasi publik dalam penetapan tujuan pengelolaan Kawasan serta revisi terhadap penetapan tujuan dan perizinan. Paragraf 2 Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Kabupaten/Kota Pasal 11 (1) RZWP-3-K Kabupaten/Kota berisi arahan tentang: a. dan rencana alur. Kawasan Konservasi.

dan RAPWP-3-K untuk mendapatkan masukan. RZWP-3-K. .(2) RPWP-3-K berlaku selama 5 (lima) tahun dan dapat ditinjau kembali sekurang-kurangnya 1 (satu) kali. dan RAPWP-3-K pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota dilakukan dengan melibatkan Masyarakat. Gubernur menyampaikan dokumen final perencanaan Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil provinsi kepada Menteri dan bupati/walikota di wilayah provinsi yang bersangkutan. maka dokumen final perencanaan pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil dimaksud diberlakukan secara definitif. Bagian Kelima Rencana Aksi Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Pasal 13 (1) RAPWP-3-K dilakukan dengan mengarahkan Rencana Pengelolaan dan Rencana Zonasi sebagai upaya mewujudkan rencana strategis. (2) RAPWP-3-K berlaku 1 (satu) sampai dengan 3 (tiga) tahun. RZWP-3-K. Bagian Ketujuh Data dan Informasi Pasal 15 (1) Pemerintah dan Pemerintah Daerah wajib mengelola data dan informasi mengenai Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. Pemerintah Daerah berkewajiban menyebarluaskan konsep RSWP-3-K. (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) Bagian Keenam Mekanisme Penyusunan Rencana Pasal 14 Usulan penyusunan RSWP-3-K. dan RAPWP-3-K dilakukan oleh Pemerintah Daerah serta dunia usaha. tanggapan. Gubernur atau Menteri memberikan tanggapan dan/atau saran terhadap usulan dokumen final perencanaan Pengelolaan Wilayah Pesisir dan PulauPulau Kecil dalam jangka waktu 30 (tiga puluh) hari kerja. Mekanisme penyusunan RSWP-3-K. Bupati/walikota menyampaikan dokumen final perencanaan Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil kabupaten/kota kepada gubernur dan Menteri untuk diketahui. RPWP-3-K. (2) Pemutakhiran data dan informasi dilakukan oleh Pemerintah dan Pemerintah Daerah secara periodik dan didokumentasikan serta dipublikasikan secara resmi. RPWP-3-K. dan saran perbaikan. RPWP-3-K. sesuai dengan peraturan perundang-undangan. sebagai dokumen publik. RZWP-3-K. Dalam hal tanggapan dan/atau saran sebagaimana dimaksud pada ayat (6) tidak dipenuhi.

(5) Perubahan data dan informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya dapat dilakukan dengan seizin Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah. Pasal 19 HP-3 diberikan untuk jangka waktu 20 (dua puluh) tahun. (6) Pedoman pengelolaan data dan informasi tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil diatur dalam Peraturan Menteri. BAB V PEMANFAATAN Bagian Kesatu Hak Pengusahaan Perairan Pesisir Pasal 16 (1) Pemanfaatan perairan pesisir diberikan dalam bentuk HP-3. dan kepentingan nasional serta hak lintas damai bagi kapal asing. Pemberian HP-3 sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib mempertimbangkan kepentingan kelestarian Ekosistem Pesisir dan PulauPulau Kecil. (1) (2) . atau c. (4) Setiap Orang yang memanfaatkan Sumber Daya Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil sebagaimana dimaksud pada ayat (2) wajib menyampaikan data dan informasi kepada Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah selambat-lambatnya 60 (enam puluh) hari kerja sejak dimulainya pemanfaatan.(3) Data dan informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dimanfaatkan oleh setiap Orang dan/atau pemangku kepentingan utama dengan tetap memperhatikan kepentingan Pemerintah dan Pemerintah Daerah. (1) (2) Pasal 17 HP-3 diberikan dalam luasan dan waktu tertentu. Badan hukum yang didirikan berdasarkan hukum Indonesia. (3) Jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat diperpanjang lagi untuk tahap kedua sesuai dengan peraturan perundangundangan. Orang perseorangan warga negara Indonesia. Masyarakat Adat. Pasal 18 HP-3 dapat diberikan kepada: a. b. Jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diperpanjang tahap kesatu paling lama 20 (dua puluh) tahun. Masyarakat Adat. (2) HP-3 sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi pengusahaan atas permukaan laut dan kolom air sampai dengan permukaan dasar laut.

dialihkan. dan pencabutan HP-3 diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. b. Tata cara pemberian. ditelantarkan.(1) (2) (3) (4) (1) (2) (3) (4) (5) Pasal 20 HP-3 dapat beralih. dan operasional. dan dijadikan jaminan utang dengan dibebankan hak tanggungan. dicabut untuk kepentingan umum. pemohon wajib memiliki hak atas tanah. dan melindungi hak-hak Masyarakat Adat dan/atau Masyarakat lokal. . mengakui. Pasal 21 Pemberian HP-3 wajib memenuhi persyaratan teknis. dalam hal HP-3 berbatasan langsung dengan garis pantai. Persyaratan administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: a. serta d. administratif. HP-3 berakhir karena: a. serta c. b. pertimbangan hasil pengujian dari berbagai alternatif usulan atau kegiatan yang berpotensi merusak Sumber Daya Pesisir dan PulauPulau Kecil. c. b. atau c. penyediaan dokumen administratif. pembuatan sistem pengawasan dan pelaporan hasilnya kepada pemberi HP-3. b. hasil konsultasi publik sesuai dengan besaran dan volume pemanfaatannya. menghormati. Persyaratan teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: a. penyusunan rencana dan pelaksanaan pemanfaatan Sumber Daya Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil sesuai dengan daya dukung ekosistem. terdapat ancaman yang serius terhadap kelestarian Wilayah Pesisir. melakukan rehabilitasi sumber daya yang mengalami kerusakan di lokasi HP-3. jangka waktunya habis dan tidak diperpanjang lagi. Penolakan atas permohonan HP-3 wajib disertai dengan salah satu alasan di bawah ini: a. HP-3 diberikan dalam bentuk sertifikat HP-3. c. pendaftaran. serta d. memperhatikan hak Masyarakat untuk mendapatkan akses ke sempadan pantai dan muara sungai. kesesuaian dengan rencana Zona dan/atau rencana Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. Persyaratan operasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencakup kewajiban pemegang HP-3 untuk: a. memberdayakan Masyarakat sekitar lokasi kegiatan.

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) Bagian Kedua Pemanfaatan Pulau–Pulau Kecil dan Perairan di Sekitarnya Pasal 23 Pemanfaatan Pulau-Pulau Kecil dan perairan di sekitarnya dilakukan berdasarkan kesatuan ekologis dan ekonomis secara menyeluruh dan terpadu dengan pulau besar di dekatnya. e. f. serta penelitian dan pengembangan. Pemanfaatan Pulau-Pulau Kecil dan perairan di sekitarnya oleh Orang asing harus mendapat persetujuan Menteri. Pemanfaatan Pulau-Pulau Kecil dan perairan di sekitarnya diprioritaskan untuk salah satu atau lebih kepentingan berikut: a. dan/atau h. pendidikan dan pelatihan. budidaya laut. suaka perikanan. Pemanfaatan Pulau-Pulau Kecil dan perairan di sekitarnya sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan memenuhi persyaratan pada ayat (3) wajib mempunyai HP-3 yang diterbitkan oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah sesuai dengan kewenangannya. menggunakan teknologi yang ramah lingkungan. pendidikan dan pelatihan. peternakan. Bupati/walikota memfasilitasi mekanisme musyawarah sebagaimana dimaksud pada ayat (5). pariwisata. Kecuali untuk tujuan konservasi. tidak didukung bukti ilmiah. memperhatikan kemampuan sistem tata air setempat. pertanian organik. atau kerusakan yang diperkirakan terjadi tidak dapat dipulihkan. b. kawasan pelabuhan. alur pelayaran. pemanfaatan pulau-pulau kecil dan perairan di sekitarnya wajib: a. dan pantai umum. usaha perikanan dan kelautan dan industri perikanan secara lestari. c. g. memenuhi persyaratan pengelolaan lingkungan. d. serta c. Pasal 24 . Untuk pemanfaatan Pulau-Pulau Kecil dan perairan di sekitarnya yang telah digunakan untuk kepentingan kehidupan Masyarakat. Pasal 22 HP-3 tidak dapat diberikan pada Kawasan Konservasi. b. penelitian dan pengembangan.b. c. konservasi. Pemerintah atau Pemerintah Daerah menerbitkan HP-3 setelah melakukan musyawarah dengan Masyarakat yang bersangkutan. (6) Pemberian HP-3 sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui pengumuman secara terbuka.

c. dan gugusan karang yang ditetapkan sebagai titik pangkal pengukuran perairan Indonesia ditetapkan oleh Menteri sebagai kawasan yang dilindungi. . wilayah yang diatur oleh adat tertentu. (2) Pemanfaatan Pulau-Pulau Kecil terluar sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah. dan kompilasi data untuk pengembangan ilmu pengetahuan wajib melibatkan lembaga dan/atau instansi terkait dan/atau pakar setempat. melindungi alur migrasi ikan dan biota laut lain. sumber daya ikan. dan d. Pasal 25 Pemanfaatan Pulau-Pulau Kecil dan perairan di sekitarnya untuk tujuan observasi. b. panglima laot. atol. dan d. gosong. melindungi situs budaya tradisional. c. Kawasan Konservasi di Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil ditetapkan dengan Peraturan Menteri. dan Pasal 25 diatur dengan Peraturan Menteri. tempat persinggahan dan/atau alur migrasi biota laut lain. Pasal 24. mane’e. seperti sasi. awig-awig. melindungi habitat biota laut.Pulau Kecil. (1) (2) (3) (4) Bagian Ketiga Konservasi Pasal 28 Konservasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil diselenggarakan untuk a. sebagian Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil dapat ditetapkan sebagai Kawasan Konservasi. menjaga kelestarian Ekosistem Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. ekosistem pesisir yang unik dan/atau rentan terhadap perubahan. Pasal 26 Pengaturan lebih lanjut mengenai pemanfaatan Pulau-Pulau Kecil dan perairan di sekitarnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23. b. dan/atau istilah lain adat tertentu. Untuk kepentingan konservasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). penelitian. Kawasan konservasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) yang mempunyai ciri khas sebagai satu kesatuan Ekosistem diselenggarakan untuk melindungi: a. Pasal 27 (1) Pemanfaatan Pulau-Pulau Kecil terluar dilakukan oleh Pemerintah bersama-sama dengan Pemerintah Daerah dalam upaya menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

b. perlindungan pantai dari erosi atau abrasi. Zona lain sesuai dengan peruntukan Kawasan. d. kebutuhan ekonomi dan budaya. estuaria. biofisik. yaitu: a. Ketentuan lebih lanjut mengenai batas sempadan pantai sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan Presiden. Menteri menetapkan: a. Pasal 30 Perubahan status Zona inti sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 untuk kegiatan eksploitasi yang dapat menimbulkan dampak besar dilakukan oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah dengan memperhatikan pertimbangan DPR. dan/atau oleh Pemerintah/Pemerintah Daerah berdasarkan ciri khas Kawasan yang ditunjang dengan data dan informasi ilmiah.(5) Pengelolaan Kawasan Konservasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilaksanakan oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah berdasarkan kewenangan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. hal lain yang dianggap penting dalam pencapaian tujuan tersebut. c. banjir. dan c. pengaturan akses publik. perlindungan terhadap ekosistem pesisir. Bagian Keempat . b. seperti lahan basah. (7) Pengusulan Kawasan Konservasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat dilakukan oleh perseorangan. pola dan tata cara pengelolaan Kawasan Konservasi. gumuk pasir. padang lamun. Zona inti. dan bencana alam lainnya. serta ketentuan lain. Pasal 29 Kawasan konservasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (2) dibagi atas tiga Zona. c. (6) Untuk mencapai tujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Penetapan batas Sempadan Pantai mengikuti ketentuan: a. dan delta. kategori Kawasan Konservasi. (1) (2) (3) Pasal 31 Pemerintah Daerah menetapkan batas Sempadan Pantai yang disesuaikan dengan karakteristik topografi. mangrove. serta f. e. kelompok masyarakat. b. terumbu karang. perlindungan sumber daya buatan di pesisir dari badai. Zona pemanfaatan terbatas. dan d. perlindungan terhadap gempa dan/atau tsunami. Kawasan Konservasi nasional. pengaturan untuk saluran air dan limbah. hidro-oseanografi pesisir.

keberlanjutan kehidupan dan penghidupan Masyarakat. lingkungan. Rehabilitasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan cara: a. dan penimbunan material. dan d. Pelaksanaan Reklamasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib menjaga dan memperhatikan: a. Bagian Keenam Larangan Pasal 35 Dalam pemanfaatan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. persyaratan teknis pengambilan. mengambil terumbu karang di Kawasan konservasi. menambang terumbu karang yang menimbulkan kerusakan Ekosistem terumbu karang. c. b. Ketentuan lebih lanjut mengenai Rehabilitasi diatur dengan Peraturan Presiden. dan sosial ekonomi.(1) (2) (1) (2) (1) (2) (3) Rehabilitasi Pasal 32 Rehabilitasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil wajib dilakukan dengan memperhatikan keseimbangan Ekosistem dan/atau keanekaragaman hayati setempat. ramah lingkungan. perlindungan spesies biota laut agar tumbuh dan berkembang secara alami. keseimbangan antara kepentingan pemanfaatan dan kepentingan pelestarian fungsi lingkungan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. Perencanaan dan pelaksanaan Reklamasi diatur lebih lanjut dengan Peraturan Presiden. setiap Orang secara langsung atau tidak langsung dilarang: a. . Bagian Kelima Reklamasi Pasal 34 Reklamasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil dilakukan dalam rangka meningkatkan manfaat dan/atau nilai tambah Wilayah Pesisir dan PulauPulau Kecil ditinjau dari aspek teknis. serta c. perbaikan habitat. Pasal 33 Rehabilitasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 dilakukan oleh Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah dan/atau setiap Orang yang secara langsung atau tidak langsung memperoleh manfaat dari Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. pengayaan sumber daya hayati. b. pengerukan. b.

dilakukan pengawasan dan/atau pengendalian terhadap pelaksanaan ketentuan di bidang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. i. h. f. dan metode lain yang merusak Ekosistem terumbu karang. menebang mangrove di Kawasan konservasi untuk kegiatan industri. menggunakan cara dan metode yang merusak Ekosistem mangrove yang tidak sesuai dengan karakteristik Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. (3) Pejabat pegawai negeri sipil tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (2) berwenang: . melakukan penambangan minyak dan gas pada wilayah yang apabila secara teknis. ekologis. serta melakukan pembangunan fisik yang menimbulkan kerusakan lingkungan dan/atau merugikan Masyarakat sekitarnya. dan/atau kegiatan lain. sosial. dan/atau bahan lain yang merusak Ekosistem terumbu karang. menggunakan bahan peledak. e. menggunakan peralatan. melakukan penambangan mineral pada wilayah yang apabila secara teknis dan/atau ekologis dan/atau sosial dan/atau budaya menimbulkan kerusakan lingkungan dan/atau pencemaran lingkungan dan/atau merugikan Masyarakat sekitarnya. cara. oleh pejabat tertentu yang berwewenang di bidang pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil sesuai dengan sifat pekerjaaannya dan diberikan wewenang kepolisian khusus. dan/atau budaya menimbulkan kerusakan lingkungan dan/atau pencemaran lingkungan dan/atau merugikan Masyarakat sekitarnya. BAB VI PENGAWASAN DAN PENGENDALIAN Bagian Kesatu Umum Pasal 36 (1) Untuk menjamin terselenggaranya Pengelolaan Wilayah Pesisir dan PulauPulau Kecil secara terpadu dan berkelanjutan. (2) Pengawasan dan/atau pengendalian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh pejabat pegawai negeri sipil tertentu yang menangani bidang pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil sesuai dengan sifat pekerjaan yang dimilikinya. k. j. melakukan penambangan pasir pada wilayah yang apabila secara teknis. bahan beracun. ekologis. l. melakukan konversi Ekosistem mangrove di Kawasan atau Zona budidaya yang tidak memperhitungkan keberlanjutan fungsi ekologis Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. d.c. pemukiman. sosial dan/atau budaya menimbulkan kerusakan lingkungan dan/atau pencemaran lingkungan dan/atau merugikan Masyarakat sekitarnya. menggunakan cara dan metode yang merusak padang lamun. g.

Pemerintah wajib menyelenggarakan Akreditasi terhadap program Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil.a. Bagian Ketiga Pengendalian Paragraf 1 Program Akreditasi Pasal 40 (1) Dalam melaksanakan pengendalian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 ayat (1). Kawasan Konservasi. pengamatan lapangan. (4) Wewenang Pejabat sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diatur dengan Peraturan Menteri. Pasal 38 Pengawasan oleh Masyarakat dilakukan melalui dan/atau pengaduan kepada pihak yang berwenang. serta b. (3) Standar dan Pedoman Akreditasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencakup: . (6) Masyarakat dapat berperan serta dalam pengawasan dan pengendalian Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil sebagaimana dimaksud pada ayat (1). penyampaian laporan Pasal 39 Ketentuan lebih lanjut mengenai pengawasan terhadap perencanaan dan pelaksanaan Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37 dan Pasal 38 diatur dengan Peraturan Menteri. menerima laporan yang menyangkut perusakan Ekositem Pesisir. dan Kawasan Strategis Nasional Tertentu. (5) Dalam rangka pelaksanaan pengawasan dan pengendalian Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Kawasan Pemanfaatan Umum. mengadakan patroli/perondaan di Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil atau wilayah hukumnya. dan/atau evaluasi terhadap perencanaan dan pelaksanaannya. Pemerintah dan Pemerintah Daerah wajib melakukan pemantauan. (2) Dalam hal penyelenggaraan akreditasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Pemerintah dapat melimpahkan wewenang penyelenggaraan akreditasi kepada Pemerintah Daerah. Bagian Kedua Pengawasan Pasal 37 Pengawasan terhadap perencanaan dan pelaksanaan pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil dilakukan secara terkoordinasi oleh instansi terkait sesuai dengan kewenangannya.

lembaga swadaya masyarakat. kemampuan implementasi yang memadai. dampak positif terhadap pelestarian lingkungan. proses konsultasi publik. dan/atau dunia usaha. Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah memberikan insentif kepada pengelola Program Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil yang telah mendapat akreditasi berupa: a. dan/atau b. organisasi profesi. dan f. serta d. c. Kegiatan Mitra Bahari difokuskan pada: a. b. penelitian terapan. Pemerintah Daerah. Ketentuan lebih lanjut mengenai kegiatan Mitra Bahari sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diatur dengan Peraturan Menteri. dampak terhadap peningkatan kesejahteraan Masyarakat. pendidikan dan pelatihan. Ketentuan lebih lanjut mengenai program akreditasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri. perguruan tinggi. pendampingan dan/atau penyuluhan. dan/atau dunia usaha. Pemerintah Daerah. rekomendasi kebijakan. c. b. . Gubernur berwenang menyusun dan/atau mengajukan usulan akreditasi program Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil yang menjadi kewenangannya kepada Pemerintah sesuai dengan standar dan pedoman sebagaimana dimaksud pada ayat (3). tokoh Masyarakat. relevansi isu prioritas. Mitra Bahari sebagaimana dimaksud pada ayat (1) difasilitasi oleh Pemerintah. bantuan program sesuai dengan kemampuan Pemerintah yang dapat diarahkan untuk mengoptimalkan program akreditasi. Paragraf 2 Mitra Bahari Pasal 41 Dalam upaya peningkatan kapasitas pemangku kepentingan Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil dibentuk Mitra Bahari sebagai forum kerja sama antara Pemerintah. d. Bupati/walikota berwenang menyusun dan/atau mengajukan usulan akreditasi program Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil yang menjadi kewenangannya kepada gubernur dan/atau Pemerintah sesuai dengan standar dan pedoman sebagaimana dimaksud pada ayat (3). bantuan teknis. e. Organisasi Masyarakat dan/atau kelompok Masyarakat dapat menyusun dan/atau mengajukan usulan akreditasi program Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil kepada Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah sesuai dengan standar dan pedoman sebagaimana dimaksud pada ayat (3). dukungan kebijakan dan program Pemerintah dan Pemerintah Daerah.(4) (5) (6) (7) (8) (1) (2) (3) (4) a.

dan Pasal 45 diatur dengan Peraturan Presiden. dan penyuluhan Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil untuk meningkatkan . (2) Pemerintah mengatur. ekonomis. lembaga swadaya masyarakat. BAB VIII PENDIDIKAN. DAN PENYULUHAN Pasal 47 Pemerintah menyelenggarakan pendidikan. Pasal 44.BAB VII PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN Pasal 42 (1) Untuk meningkatkan kualitas perencanaan dan implementasi Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. dan/atau menyelenggarakan penelitian dan pengembangan Pengelolaan Wilayah Pesisir dan PulauPulau Kecil untuk menghasilkan pengetahuan dan teknologi yang dibutuhkan dalam pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil agar lebih efektif. Pasal 43 Penelitian dan pengembangan Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil dapat dilaksanakan oleh Pemerintah. lembaga penelitian dan pengembangan swasta. Pasal 43. (3) Setiap orang asing yang melakukan penelitian di Wilayah Pesisir dan PulauPulau Kecil harus menyerahkan hasil penelitiannya kepada Pemerintah. Pasal 44 Hasil penelitian bersifat terbuka untuk semua pihak. (2) Penelitian yang dilakukan oleh orang asing dan/atau badan hukum asing sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus mengikutsertakan peneliti Indonesia. pelatihan. Pemerintah Daerah. efisien. Pasal 45 (1) Setiap orang asing yang melakukan penelitian di Wilayah Pesisir dan PulauPulau Kecil wajib terlebih dahulu memperoleh izin dari Pemerintah. berdaya saing tinggi dan ramah lingkungan. kecuali hasil penelitian tertentu yang oleh Pemerintah dinyatakan tidak untuk dipublikasikan. perguruan tinggi. PELATIHAN. serta menghargai kearifan tradisi atau budaya lokal. Pasal 46 Ketentuan lebih lanjut mengenai penyelenggaraan penelitian dan pengembangan di Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42. dan/atau perseorangan sesuai dengan peraturan perundangundangan. mendorong. Pemerintah melakukan penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta pengembangan sumber daya manusia di bidang pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil secara berkelanjutan.

(2) Penetapan HP-3 sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan penyuluhan Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil sebagaimana dimaksud dalam Pasal 47 dan Pasal 48 diatur dengan Peraturan Presiden. maupun di tingkat internasional. dan penyuluhan Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil dapat bekerja sama dengan berbagai pihak. b. Pasal 48 Pemerintah dalam menyelenggarakan pendidikan. HP-3 di Kawasan Strategis Nasional Tertentu. Pemerintah dapat membentuk unit . (2) Gubernur berwenang memberikan HP-3 di wilayah Perairan Pesisir sampai dengan 12 (dua belas) mil laut diukur dari garis pantai ke arah laut lepas dan/atau ke arah perairan kepulauan. (3) Tata cara penetapan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah. Perubahan status Zona inti pada Kawasan Konservasi Perairan nasional. Pasal 52 (1) Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil dilaksanakan oleh Pemerintah dan Pemerintah Daerah. dilakukan setelah memperhatikan pertimbangan DPR. (3) Dalam upaya mendorong percepatan pelaksanaan otonomi daerah di Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. baik di tingkat nasional. Ijin pemanfaatan Pulau-Pulau Kecil yang menimbulkan dampak besar terhadap perubahan lingkungan. pelatihan. Pasal 51 (1) Menteri berwenang menetapkan: a. dan c. Pemerintah dapat melakukan pendampingan terhadap Pemerintah Daerah dalam merumuskan dan melaksanakan Rencana Aksi Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. Pasal 49 Ketentuan lebih lanjut mengenai penyelenggaraan pendidikan. dan Perairan Pesisir lintas kabupaten/kota. pelatihan. sesuai dengan peraturan perundang-undangan. (3) Bupati/walikota berwenang memberikan HP-3 di wilayah Perairan Pesisir 1/3 (satu pertiga) dari wilayah kewenangan provinsi.pengembangan sumber daya manusia di bidang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. BAB IX KEWENANGAN Pasal 50 (1) Menteri berwenang memberikan HP-3 di wilayah Perairan Pesisir lintas provinsi dan Kawasan Strategis Nasional Tertentu. (2) Untuk meningkatkan efektivitas Pengelolaan Wilayah Pesisir dan PulauPulau Kecil.

b. rekomendasi izin kegiatan sesuai dengan kewenangan instansi vertikal di daerah. serta e. Pasal 55 (1) Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil pada tingkat kabupaten/kota dilaksanakan secara terpadu yang dikoordinasi oleh dinas yang membidangi kelautan dan perikanan. dinas otonom. c. Pasal 53 (1) Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil pada tingkat nasional dilaksanakan secara terpadu di bawah koordinasi Menteri. daerah. d. perencanaan tiap-tiap instansi daerah. (3) Pelaksanaan kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan Presiden. d. b. penyediaan data dan informasi bagi Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil di provinsi. (2) Jenis kegiatan yang dikoordinasikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: a. penilaian setiap usulan rencana kegiatan tiap-tiap sektor sesuai dengan perencanaan Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil terpadu. Pasal 54 (1) Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil pada tingkat provinsi dilaksanakan secara terpadu yang dikoordinasikan oleh dinas yang membidangi Kelautan dan Perikanan. (3) Pelaksanaan kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur oleh gubernur. rekomendasi izin kegiatan sesuai dengan kewenangan tiap-tiap instansi Pemerintah. antarkabupaten/kota. program akreditasi skala provinsi. (2) Jenis kegiatan yang dikoordinasikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: a. penyediaan data dan informasi bagi Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil yang bersifat lintas provinsi dan Kawasan tertentu yang bertujuan strategis. . c.pelaksana teknis pengelola Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil sesuai dengan kebutuhan. program akreditasi nasional. dan dunia usaha yang bersifat lintas provinsi dan Kawasan Strategis Nasional Tertentu. atau badan daerah. penilaian setiap usulan rencana kegiatan tiap-tiap dinas otonom atau badan sesuai dengan perencanaan Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil terpadu Provinsi. perencanaan sektor. dan dunia usaha. e.

penilaian setiap usulan rencana kegiatan tiap-tiap pemangku kepentingan sesuai dengan perencanaan Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil terpadu. c. sosial.(2) Jenis kegiatan yang dikoordinasikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: a. ekonomi. lingkup luas wilayah. c. program akreditasi skala kabupaten/kota. . Pemerintah Daerah. Pasal 59 (1) Setiap Orang yang berada di Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil wajib melaksanakan mitigasi bencana terhadap kegiatan yang berpotensi mengakibatkan kerusakan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. serta e. kemanfaatan dan efektivitas. dan masyarakat. BAB X MITIGASI BENCANA Pasal 56 Dalam menyusun rencana pengelolaan dan pemanfaatan Wilayah Pesisir dan Pulau–Pulau Kecil terpadu. (3) Pelaksanaan kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur oleh bupati/walikota. Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah wajib memasukkan dan melaksanakan bagian yang memuat mitigasi bencana di Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil sesuai dengan jenis. perencanaan antarinstansi. (3) Pilihan kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditentukan oleh instansi yang berwenang. serta d. dan budaya Masyarakat. kelestarian lingkungan hidup. d. dunia usaha. penyediaan data dan informasi bagi Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil skala kabupaten/kota. b. Pasal 57 Mitigasi bencana Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil dilakukan dengan melibatkan tanggung jawab Pemerintah. dan/atau Masyarakat. (4) Ketentuan mengenai mitigasi bencana dan kerusakan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. dan wilayahnya. b. rekomendasi izin kegiatan sesuai dengan kewenangan tiap-tiap dinas otonom atau badan daerah. (2) Mitigasi bencana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui kegiatan struktur/fisik dan/atau nonstruktur/nonfisik. Pasal 58 Penyelenggaraan mitigasi bencana Wilayah Pesisir sebagaimana dimaksud dalam Pasal 57 dilaksanakan dengan memperhatikan aspek: a. tingkat.

i.(1) (2) a. dan/atau melaksanakan program Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil yang disepakati di tingkat desa. menyampaikan laporan terjadinya bahaya. menyatakan keberatan terhadap rencana pengelolaan yang sudah diumumkan dalam jangka waktu tertentu. memperoleh informasi berkenaan dengan Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. memperoleh kompensasi karena hilangnya akses terhadap Sumber Daya Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil yang menjadi lapangan kerja untuk memenuhi kebutuhan akibat pemberian HP-3 sesuai dengan peraturan perundang-undangan. mengajukan gugatan kepada pengadilan terhadap berbagai masalah Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil yang merugikan kehidupannya. pencemaran. c. menjaga. dan/atau perusakan lingkungan di Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. . memperoleh ganti kerugian. serta j. f. e. melakukan kegiatan pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan PulauPulau Kecil berdasarkan hukum adat yang berlaku dan tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan. BAB XI HAK. mengajukan laporan dan pengaduan kepada pihak yang berwenang atas kerugian yang menimpa dirinya yang berkaitan dengan pelaksanaan Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. Masyarakat mempunyai hak untuk: a. e. h. melindungi. Masyarakat dalam Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil berkewajiban: memberikan informasi berkenaan dengan Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. g. b. d. c. KEWAJIBAN. DAN PERAN SERTA MASYARAKAT Pasal 60 Dalam Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. melaporkan kepada penegak hukum atas pencemaran dan/atau perusakan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil yang merugikan kehidupannya. memperoleh akses terhadap perairan yang telah ditetapkan HP-3. memantau pelaksanaan rencana Pengelolaan Wilayah Pesisir dan PulauPulau Kecil. memperoleh manfaat atas pelaksanaan Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. d. dan memelihara kelestarian Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. b.

Dalam upaya pemberdayaan Masyarakat. serta h. pemberian penghargaan kepada orang yang berjasa di bidang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. Ketentuan mengenai pedoman Pemberdayaan Masyarakat diatur lebih lanjut dengan Peraturan Menteri. dan melindungi hak-hak Masyarakat Adat. (2) Ketentuan mengenai peran serta masyarakat dalam Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur lebih lanjut dalam Peraturan Menteri. dunia usaha. dan Pemerintah/Pemerintah Daerah. d. Masyarakat Tradisional. dan Kearifan Lokal atas Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil yang telah dimanfaatkan secara turuntemurun. c. Masyarakat Tradisional. dan pengawasan terhadap Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. menumbuhkan. pelaksanaan. pengembangan dan penerapan upaya preventif dan proaktif untuk mencegah penurunan daya dukung dan daya tampung Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. kemitraan antara masyarakat. g.Pasal 61 Pemerintah mengakui. (2) Pengakuan hak-hak Masyarakat Adat. Pemerintah dan Pemerintah Daerah mewujudkan. b. e. (1) (1) (2) (3) (4) BAB XII PEMBERDAYAAN MASYARAKAT Pasal 63 Pemerintah dan Pemerintah Daerah berkewajiban memberdayakan Masyarakat dalam meningkatkan kesejahteraannya. (1) Pasal 62 Masyarakat mempunyai kesempatan yang sama untuk berperan serta dalam perencanaan. pelaksanaan pengelolaan. BAB XIII PENYELESAIAN SENGKETA . pengembangan dan penerapan kebijakan nasional di bidang lingkungan hidup. dan meningkatkan kesadaran dan tanggung jawab dalam: a. pemanfaatan dan pengembangan teknologi yang ramah lingkungan. dan Kearifan Lokal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dijadikan acuan dalam Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil yang berkelanjutan. pengambilan keputusan. f. penyediaan dan penyebarluasan informasi lingkungan. Pemerintah wajib mendorong kegiatan usaha Masyarakat melalui berbagai kegiatan di bidang Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil yang berdaya guna dan berhasil guna. menghormati.

(2) Penyelesaian sengketa di luar pengadilan diselenggarakan untuk mencapai kesepakatan mengenai bentuk dan besarnya ganti kerugian dan/atau mengenai tindakan tertentu guna mencegah terjadinya atau terulangnya dampak besar sebagai akibat tidak dilaksanakannya Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. (3) Dalam penyelesaian sengketa di luar pengadilan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat digunakan jasa pihak ketiga. (4) Hasil kesepakatan penyelesaian sengketa di luar pengadilan harus dinyatakan secara tertulis dan bersifat mengikat para pihak. hakim dapat menetapkan sita jaminan dan jumlah uang paksa (dwangsom) atas setiap hari keterlambatan pembayaran. (1) Pasal 66 (1) Setiap Orang dan/atau penanggung jawab kegiatan yang melawan hukum dan mengakibatkan kerusakan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini wajib membayar ganti kerugian kepada negara dan/atau melakukan tindakan tertentu berdasarkan putusan pengadilan.Pasal 64 Penyelesaian sengketa dalam Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil ditempuh melalui pengadilan dan/atau di luar pengadilan. (4) Selain pembebanan untuk melakukan tindakan tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (2). (1) Pasal 65 Penyelesaian sengketa di luar pengadilan dilakukan para pihak sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Pasal 67 (1) Setiap Orang dan/atau penanggung jawab kegiatan yang mengelola Wilayah Pesisir Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil bertanggung jawab secara langsung dan seketika pada saat terjadinya pencemaran dan/atau . (3) Pelaku perusakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib membayar biaya rehabilitasi lingkungan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil kepada negara. (2) Penyelesaian sengketa di luar pengadilan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku terhadap tindak pidana Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang ini. baik yang memiliki kewenangan mengambil keputusan maupun yang tidak memiliki kewenangan mengambil keputusan untuk membantu penyelesaian sengketa. (2) Tindakan tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa kewajiban untuk melakukan rehabilitasi dan/atau pemulihan kondisi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil.

pihak ketiga bertanggung jawab membayar ganti kerugian. pejabat pegawai negeri sipil tertentu yang lingkup tugas dan tanggung jawabnya di bidang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. c. dan d. BAB XV PENYIDIKAN Pasal 70 (1) Selain pejabat penyidik Kepolisian Negara Republik Indonesia. merupakan organisasi resmi di wilayah tersebut atau organisasi nasional. Pasal 69 (1) Dalam rangka pelaksanaan tanggung jawab Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. b. (3) Hak mengajukan gugatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terbatas pada tuntutan untuk melakukan tindakan tertentu tanpa adanya tuntutan ganti kerugian kecuali penggantian biaya atau pengeluaran yang nyatanyata dibayarkan. dapat diberi . memiliki anggaran dasar yang dengan tegas menyebutkan tujuan didirikannya organisasi untuk kepentingan pelestarian lingkungan. c. b. (2) Pengelola Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil dapat dibebaskan dari kewajiban membayar ganti kerugian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) jika yang bersangkutan dapat membuktikan bahwa pencemaran dan/atau perusakan lingkungan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil disebabkan oleh salah satu alasan berikut: a. bencana alam.perusakan dengan kewajiban mengganti kerugian sebagai akibat tindakannya. (2) Organisasi kemasyarakatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi persyaratan berikut: a. tindakan pihak ketiga. keadaan terpaksa di luar kemampuan manusia (force majeure). peperangan. (3) Dalam hal terjadi kerugian yang disebabkan kesengajaan oleh pihak ketiga sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf d. berbentuk badan hukum. atau d. telah melaksanakan kegiatan sesuai dengan anggaran dasar dan anggaran rumah tangganya. organisasi kemasyarakatan berhak mengajukan gugatan untuk kepentingan pelestarian fungsi lingkungan. BAB XIV GUGATAN PERWAKILAN Pasal 68 Masyarakat berhak mengajukan gugatan perwakilan ke pengadilan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

f. Pejabat pegawai negeri sipil tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah penyidik pegawai negeri sipil. h. melakukan penghentian penyidikan. Pasal 72 . dan/atau pencabutan HP-3. Penyidik pejabat pegawai negeri sipil menyampaikan hasil penyidikan kepada penuntut umum melalui penyidik pejabat Kepolisian Negara Republik Indonesia. pembekuan sementara. Penyidik pegawai negeri sipil sebagaimana dimaksud pada ayat (2) berwenang: a. c. membuat dan menandatangani berita acara pemeriksaan. Penyidik pejabat pegawai negeri sipil memberitahukan dimulainya penyidikan kepada penyidik pejabat Kepolisian Negara Republik Indonesia. mendatangkan Orang ahli yang diperlukan dalam hubungannya dengan tindak pidana Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. d. menerima laporan atau pengaduan dari seseorang tentang adanya tindak pidana bidang kelautan dan perikanan di Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai denda administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan Menteri. (2) Sanksi administratif sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) berupa peringatan. g. denda administratif. dan i. mengadakan tindakan lain menurut hukum. e. b. menyegel dan/atau menyita bahan dan alat-alat kegiatan yang digunakan untuk melakukan tindak pidana Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil sebagai alat bukti. BAB XVI SANKSI ADMINISTRATIF Pasal 71 (1) Pelanggaran terhadap persyaratan sebagaimana tercantum di dalam HP-3 dikenakan sanksi administratif. memanggil orang untuk didengar dan diperiksa sebagai saksi atau tersangka dalam perkara tindak pidana Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. melakukan pemeriksaan atas kebenaran laporan atau keterangan tentang adanya tindak pidana Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil.(2) (3) (4) (5) wewenang khusus sebagai penyidik sebagaimana dimaksud dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana. melakukan pemeriksaan prasarana Wilayah Pesisir dan menghentikan peralatan yang diduga digunakan untuk melakukan tindak pidana Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil.

000. e.00 (sepuluh miliar rupiah) setiap Orang yang dengan sengaja: a.000. melakukan kegiatan menambang terumbu karang.000. huruf f. melakukan konversi Ekosistem mangrove. menggunakan cara dan metode yang merusak Ekosistem mangrove. g. dan Masyarakat wajib memperbaiki ketidaksesuaian antara program pengelolaan dan dokumen perencanaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). . melakukan penambangan mineral sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 huruf k. huruf b. dan/atau kegiatan lain sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 huruf e. f. (3) Dalam hal Pemerintah Daerah. dan huruf d. dan Masyarakat tidak melakukan perbaikan terhadap ketidaksesuaian pada ayat (2). h.000. c. melakukan penambangan minyak dan gas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 huruf j.00 (dua miliar rupiah) dan paling banyak Rp10. dan/atau b. mengambil terumbu karang di Kawasan konservasi. dan/atau cara lain yang mengakibatkan rusaknya ekosistem terumbu karang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 huruf a. menggunakan bahan peledak dan bahan beracun. tidak melaksanakan mitigasi bencana di Wilayah Pesisir dan PulauPulau Kecil yang diakibatkan oleh alam dan/atau Orang sehingga mengakibatkan timbulnya bencana atau dengan sengaja melakukan kegiatan yang dapat mengakibatkan terjadinya kerentanan bencana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59 ayat (1). BAB XVII KETENTUAN PIDANA Pasal 73 (1) Dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun dan paling lama 10 (sepuluh) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp2. dan huruf g. pencabutan tetap Akreditasi program.000. pembekuan sementara bantuan melalui Akreditasi. Pemerintah dapat menghentikan dan/atau menarik kembali insentif yang telah diberikan kepada Pemerintah Daerah. melakukan penambangan pasir sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 huruf i. huruf c. melakukan pembangunan fisik yang menimbulkan kerusakan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 huruf l.(1) Dalam hal program Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil tidak dilaksanakan sesuai dengan dokumen perencanaan. pengusaha.000. pengusaha. b. Pemerintah dapat melakukan tindakan: a. dan Masyarakat yang telah memperoleh Akreditasi. (2) Pemerintah Daerah. d. menggunakan cara dan metode yang merusak padang lamun sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 huruf h. menebang mangrove untuk kegiatan industri dan permukiman. pengusaha.

00 (tiga ratus juta rupiah) setiap Orang yang karena kelalaiannya: a.000. BAB XIX KETENTUAN PENUTUP Pasal 79 Peraturan pelaksanaan Undang-Undang ini harus sudah ditetapkan paling lambat : .000. melakukan kegiatan usaha di Wilayah Pesisir tanpa hak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21ayat (1). dan/atau b. tetap berlaku sampai dengan dikeluarkannya peraturan pelaksanaan yang baru berdasarkan UndangUndang ini. Pasal 77 Setiap instansi yang terkait dengan Pengelolaan Wilayah Pesisir dan PulauPulau Kecil menjalankan tugas pokok dan fungsi serta kewenangannya secara terpadu sesuai dengan Undang-Undang ini. sepanjang tidak bertentangan dengan Undang-Undang ini.000. Pasal 74 Dipidana dengan pidana kurungan paling lama 6 (enam) bulan atau denda paling banyak Rp300. Pasal 78 Semua peraturan perundang-undangan yang terkait dengan Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil yang telah ada. tidak melaksanakan kewajiban rehabilitasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 ayat (1).000.00 (satu miliar rupiah). tidak melaksanakan kewajiban reklamasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 ayat (2).000.000. BAB XVIII KETENTUAN PERALIHAN Pasal 76 Program Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil serta lembaga/instansi yang telah ditunjuk untuk melaksanakannya masih tetap berlaku dan menjalankan kewenangannya sepanjang tidak bertentangan dengan Undang-Undang ini. dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp1.(2) Dalam hal terjadi kerusakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) karena kelalaian.000.00 (tiga ratus juta rupiah) setiap Orang yang karena kelalaiannya: a. tidak melaksanakan kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (4). dan/atau b. Pasal 75 Dipidana dengan pidana kurungan paling lama 6 (enam) bulan atau denda paling banyak Rp300.

a. Pasal 80 Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Peraturan Menteri yang diamanatkan Undang-Undang ini diselesaikan paling lambat 3 (tiga) bulan terhitung sejak Undang-Undang ini diberlakukan. c. ANDI MATTALATTA LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2007 NOMOR 84 . ttd. DR. Peraturan Presiden yang diamanatkan Undang-Undang ini diselesaikan paling lambat 6 (enam) bulan terhitung sejak Undang-Undang ini diberlakukan. H. memerintahkan pengundangan UndangUndang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. Agar setiap orang mengetahuinya. b. Peraturan Pemerintah yang diamanatkan Undang-Undang ini diselesaikan paling lambat 12 (dua belas) bulan terhitung sejak Undang-Undang ini diberlakukan. Disahkan di Jakarta. pada tanggal 17 Juli 2007 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO Diundangkan di Jakarta pada tanggal 17 Juli 2007 MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA. ttd.

Norma-norma Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil tersebut disusun dalam lingkup perencanaan. Kurang dihargainya hak masyarakat adat/lokal dalam pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil seperti sasi. Masyarakat perlu didorong untuk mengelola wilayah pesisirnya dengan baik dan yang telah berhasil perlu diberi insentif. keunikan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil yang rentan berkembangnya konflik dan terbatasnya akses pemanfaatan bagi masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil.PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA OMOR 27 TAHUN 2007 TENTANG PENGELOLAAN WILAYAH PESISIR DAN PULAU-PULAU KECIL I. Peraturan perundang-undangan yang ada lebih berorientasi pada eksploitasi Sumber Daya Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil tanpa memperhatikan kelestarian sumber daya. Oleh sebab itu. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4725). dengan memperhatikan norma-norma yang diatur dalam peraturan perundangundangan lainnya seperti Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 68. akumulasi dari berbagai kegiatan eksploitasi yang bersifat parsial/sektoral di Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil atau dampak kegiatan lain di hulu wilayah pesisir yang didukung peraturan perundang-undangan yang ada sering menimbulkan kerusakan Sumber Daya Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. Sistem pengelolaan pesisir tersebut belum mampu mengeliminasi faktor-faktor penyebab kerusakan dan belum memberi kesempatan kepada sumber daya hayati untuk dapat pulih kembali secara alami atau sumber daya nonhayati disubstitusi dengan sumber daya lain. kesadaran nilai strategis dari pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil secara berkelanjutan. Selain itu. dan berbasis masyarakat relatif kurang. tetapi yang merusak perlu diberi sanksi. pengelolaan. awig-awig. terbatasnya ruang untuk partisipasi masyarakat dalam pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil menunjukkan bahwa prinsip pengelolaan pesisir dan pulau-pulau kecil terpadu belum terintegrasi dengan kegiatan pembangunan dari berbagai sektor dan daerah. Sementara itu. pemanfaatan. dan pengawasan. Dasar Pemikiran Dalam satu dekade ini terdapat kecenderungan bahwa Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil yang rentan mengalami kerusakan akibat aktivitas Orang dalam memanfaatkan sumber dayanya atau akibat bencana alam. Norma-norma Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau- . mane’e. perlu dikelola secara baik agar dampak aktivitas manusia dapat dikendalikan dan sebagian wilayah pesisir dipertahankan untuk konservasi. panglima laot. pengendalian. UMUM 1. terpadu.

mitigasi bencana. konservasi. Norma-norma itu akan memberikan peran kepada Pemerintah. pengembangan sistem Pengelolaan Wilayah Pesisir dan PulauPulau Kecil sebagai bagian dari pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup harus diberi dasar hukum yang jelas. Dasar hukum itu dilandasi oleh Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. masyarakat. maupun kepentingan internasional melalui sistem pengelolaan wilayah terpadu. serta pengawasan dan pengendalian. dengan uraian sebagai berikut : . termasuk pihak pengusaha. penanganan konflik. serta c. Tujuan penyusunan Undang-Undang ini adalah: a. memberikan kepastian dan perlindungan hukum serta memperbaiki tingkat kemakmuran masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil melalui pembentukan peraturan yang dapat menjamin akses dan hak-hak masyarakat pesisir serta masyarakat yang berkepentingan lain. tegas.Pulau Kecil yang akan dimuat difokuskan pada norma hukum yang belum diatur dalam sistem peraturan perundang-undangan yang ada atau bersifat lebih spesifik dari pengaturan umum yang telah diundangkan. ke arah daratan mencakup wilayah administrasi kecamatan dan ke arah perairan laut sejauh 12 (dua belas) mil laut diukur dari garis pantai ke arah laut lepas dan/atau ke arah perairan kepulauan. membangun sinergi dan saling memperkuat antarlembaga Pemerintah baik di pusat maupun di daerah yang terkait dengan pengelolaan wilayah pesisir sehingga tercipta kerja sama antarlembaga yang harmonis dan mencegah serta memperkecil konflik pemanfaatan dan konflik kewenangan antarkegiatan di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil. pemanfaatan. Lingkup pengaturan Undang-Undang ini secara garis besar terdiri dari tiga bagian yaitu perencanaan. 2. dan penjabaran konvensi-konvensi internasional terkait. dan swasta sebagai pemangku kepentingan baik kepentingan daerah. rehabilitasi kerusakan pesisir. menyiapkan peraturan setingkat undang-undang mengenai Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil khususnya yang menyangkut perencanaan. Sesuai dengan hakikat Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai negara hukum. reklamasi pantai. kepentingan nasional. 3. dan menyeluruh guna menjamin kepastian hukum bagi upaya pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. pengelolaan. hak dan akses masyarakat. b. Ruang Lingkup Undang-Undang ini diberlakukan di Wilayah Pesisir dan PulauPulau Kecil yang meliputi daerah pertemuan antara pengaruh perairan dan daratan.

(iii) rencana pengelolaan. Pengelolaan pulau-pulau kecil dilakukan dalam satu gugus pulau atau kluster dengan memperhatikan keterkaitan ekologi. 3. dan (iv) rencana aksi. Pemanfaatan dan pengusahaan perairan pesisir dan pulau-pulau kecil dilaksanakan melalui pemberian izin pemanfaatan dan Hak Pengusahaan Perairan Pesisir (HP-3). pemanfaatan. sampai pencegahan dan penyelesaian konflik. (ii) rencana zonasi. Rencana bertahap tersebut disertai dengan upaya pengendalian dampak pembangunan sektoral yang mungkin timbul dan mempertahankan kelestarian sumber dayanya. b. Perencanaan Perencanaan dilakukan melalui pendekatan Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil terpadu (Integrated Coastal Management) yang mengintegrasikan berbagai perencanaan yang disusun oleh sektor dan daerah sehingga terjadi keharmonisan dan saling penguatan pemanfaatannya.a. pengawasan. 2. pelaksanaan. Perencanaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil dibagi ke dalam empat tahapan: (i) rencana strategis. Perencanaan terpadu itu merupakan suatu upaya bertahap dan terprogram untuk memanfaatkan Sumber Daya Pesisir dan PulauPulau Kecil secara optimal agar dapat menghasilkan keuntungan ekonomi secara berkelanjutan untuk kemakmuran masyarakat. Pengelolaan Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil mencakup tahapan kebijakan pengaturan sebagai berikut: 1. Pengaturan Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil dimulai dari perencanaan. Perencanaan Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil dilakukan agar dapat mengharmonisasikan kepentingan pembangunan ekonomi dengan pelestarian Sumber Daya Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil serta memperhatikan karakteristik dan keunikan wilayah tersebut. pengakuan hak dan pemberdayaan masyarakat. 4. serta antara ilmu pengetahuan dan manajemen. . pengendalian. Izin pemanfaatan diberikan sesuai dengan peraturan perundang-undangan dan kewenangan masing-masing instansi terkait. kewenangan. kelembagaan. Hak Pengusahaan Perairan Pesisir (HP-3) diberikan di Kawasan perairan budidaya atau zona perairan pemanfaatan umum kecuali yang telah diatur secara tersendiri. antara ekosistem darat dan laut. Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil terpadu merupakan pendekatan yang memberikan arah bagi pemanfaatan Sumber Daya Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil secara berkelanjutan dengan mengintegrasikan berbagai perencanaan pembangunan dari berbagai tingkat pemerintahan.

c. masih terdapat kecenderungan bahwa industrialisasi dan pembangunan ekonomi di Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil sering kali memarginalkan penduduk setempat. maupun sanksi pidana berupa penahanan ataupun kurungan. Apabila diabaikan. baik berupa sanksi administrasi seperti pembatalan izin atau pencabutan hak. Selain itu. Namun. hal itu akan berimplikasi meningkatnya kerusakan Ekosistem pesisir dan pulau-pulau kecil. sanksi perdata seperti pengenaan denda atau ganti rugi. Sumber Daya Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil yang relatif kaya sering menjadi pusat pertumbuhan ekonomi dan populasi penduduknya padat. 3. mengetahui adanya penyimpangan pelaksanaan rencana strategis. Oleh sebab itu. serta implikasi penyimpangan tersebut terhadap perubahan kualitas ekosistem pesisir. 4. dan keterkaitan sosial budaya dalam satu bioekoregion dengan pulau induk atau pulau lain sebagai pusat pertumbuhan ekonomi. mendorong agar pemanfaatan sumber daya di Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil sesuai dengan rencana pengelolaan wilayah pesisirnya. Pengawasan dan Pengendalian Pengawasan dan pengendalian dilakukan untuk: 1. Undang-Undang ini mempunyai hubungan saling melengkapi dengan undang-undang lain seperti: . Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil yang rentan terhadap perubahan perlu dilindungi melalui pengelolaan agar dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan hidup dan penghidupan masyarakat. Undang-Undang tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan PulauPulau Kecil ini merupakan landasan penyesuaian dengan ketentuan yang tercantum dalam peraturan perundangundangan yang lain. diperlukan kebijakan dalam pengelolaannya sehingga dapat menyeimbangkan tingkat pemanfaatan Sumber Daya Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil untuk kepentingan ekonomi tanpa mengorbankan kebutuhan generasi yang akan datang melalui pengembangan Kawasan Konservasi dan Sempadan Pantai. rencana pengelolaan. 2. rencana zonasi.keterkaitan ekonomi. sebagian besar penduduknya relatif miskin dan kemiskinan tersebut memicu tekanan terhadap Sumber Daya Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil yang menjadi sumber penghidupannya. memberikan sanksi terhadap pelanggar. Oleh sebab itu diperlukan norma-norma pemberdayaan masyarakat.

undang-undang yang mengatur perairan. PASAL DEMI PASAL Pasal 1 Cukup jelas. k. . undang-undang yang mengatur penataan ruang. serta Pulau-Pulau Kecil dan perairan sekitarnya yang merupakan satu kesatuan dan mempunyai potensi cukup besar yang pemanfaatannya berbasis sumber daya. Dengan demikian. l. dapat dihindarkan terjadinya tumpang tindih wewenang dan benturan kepentingan. undang-undang yang mengatur pengelolaan lingkungan hidup. yakni ruang lautan yang masih dipengaruhi oleh kegiatan di daratan dan ruang daratan yang masih terasa pengaruh lautnya. dan masyarakat. undang-undang yang mengatur kehutanan. minyak. o. d. e. lingkungan. b. m. Pasal 2 Ruang lingkup pengaturan dalam Undang-Undang ini meliputi Wilayah Pesisir. undang-undang yang mengatur pelayaran. c. Dalam implemetasinya. undang-undang yang mengatur kepariwisataan. f. n. undang-undang yang mengatur peraturan dasar pokok agraria. undang-undang yang mengatur sistem perencanaan pembangunan nasional.a. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437) sedangkan ke arah daratan ditetapkan sesuai dengan batas kecamatan untuk kewenangan provinsi. ke arah laut ditetapkan sejauh 12 (dua belas) mil diukur dari garis pantai sebagaimana telah ditetapkan dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125. j. undang-undang yang mengatur pemerintahan daerah. undang-undang yang mengatur perindustrian dan perdagangan. Undang-Undang ini diharapkan dapat dijadikan sebagai landasan pembangunan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil yang dilaksanakan oleh berbagai sektor terkait. undang-undang yang mengatur pertambangan umum. undang-undang yang mengatur sumber daya air. undang-undang yang mengatur konservasi sumber daya alam dan ekosistem. undang-undang yang mengatur perikanan. h. g. i. dan undang-undang yang mengatur arbitrase dan alternatif penyelesaian sengketa. dan gas bumi. II.

dan 2. serta keputusan yang dibuat berdasarkan mekanisme atau cara yang dapat dipertanggungjawabkan dan tidak memarjinalkan masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil. pengendalian. Asas keterpaduan dikembangkan dengan: 1. Pasal 3 Huruf a Asas keberlanjutan diterapkan agar : 1. Huruf c. Huruf b Asas konsistensi merupakan konsistensi dari berbagai instansi dan lapisan pemerintahan. dan pengawasan untuk melaksanakan program Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil yang telah diakreditasi. mengintegrasikan ekosistem darat dengan ekosistem laut berdasarkan masukan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk membantu proses pengambilan putusan dalam Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. sedangkan ke arah daratan ditetapkan sesuai dengan batas kecamatan. Huruf e . Huruf d Asas kepastian hukum diperlukan untuk menjamin kepastian hukum yang mengatur pengelolaan sumber daya pesisir dan pulau-pulau kecil secara jelas dan dapat dimengerti dan ditaati oleh semua pemangku kepentingan. pemanfaatan sumber daya yang belum diketahui dampaknya harus dilakukan secara hati-hati dan didukung oleh penelitian ilmiah yang memadai. dan 3. pemanfaatan Sumber Daya Pesisir saat ini tidak boleh mengorbankan (kualitas dan kuantitas) kebutuhan generasi yang akan datang atas sumber daya pesisir.Kewenangan kabupaten/kota ke arah laut ditetapkan sejauh sepertiga dari wilayah laut kewenangan provinsi sebagaimana telah ditetapkan dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. pemanfaatan sumber daya tidak melebihi kemampuan regenerasi sumber daya hayati atau laju inovasi substitusi sumber daya nonhayati pesisir. pelaksanaan. 2. dari proses perencanaan. mengintegrasikan kebijakan dengan perencanaan berbagai sektor pemerintahan secara horizontal dan secara vertikal antara pemerintah dan pemerintah daerah.

3. pengendalian. jujur. 4. menjamin adanya representasi suara masyarakat dalam keputusan tersebut. golongan dan rahasia negara. dan tidak sewenang-wenang dalam pemanfaatan sumber daya pesisir dan pulau-pulau kecil. i Asas desentralisasi merupakan penyerahan wewenang pemerintahan dari Pemerintah kepada pemerintah daerah otonom untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan di bidang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. pelaksanaan. tidak memihak. pemanfaatan.Huruf f Huruf Huruf Huruf Huruf Huruf Asas kemitraan merupakan kesepakatan kerja sama antarpihak yang berkepentingan berkaitan dengan Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. agar masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil mempunyai peran dalam perencanaan. dari tahap perencanan. j Asas akuntabilitas dimaksudkan bahwa pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil dilakukan secara terbuka dan dapat dipertanggungjawabkan. memanfaatkan sumber daya tersebut secara adil. memiliki informasi yang terbuka untuk mengetahui kebijaksanaan pemerintah dan mempunyai akses yang cukup untuk memanfaatkan sumber daya pesisir dan pulau-pulau kecil. tidak berat sebelah. sampai tahap pengawasan dan pengendalian. Asas pemerataan ditujukan pada manfaat ekonomi sumber daya pesisir dan pulau-pulau kecil yang dapat dinikmati oleh sebagian besar anggota masyarakat. h Asas keterbukaan dimaksudkan adanya keterbukaan bagi masyarakat untuk memperoleh informasi yang benar. Pasal 4 Cukup jelas Pasal 5 . k Asas keadilan merupakan asas yang berpegang pada kebenaran. 2. dan tidak diskriminatif tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. g Asas peran serta masyarakat dimaksudkan: 1. sampai tahap pengawasan dengan tetap memperhatikan perlindungan atas hak asasi pribadi.

masyarakat tertinggal. Pasal 7 Ayat (1) Cukup jelas. gelombang laut. proses-proses alamiah seperti abrasi. . Kawasan migrasi ikan dan kawasan perjanjian internasional di bidang kelautan dan perikanan. baik formal maupun nonformal. seperti pembangunan di Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. angin. seperti halnya degradasi sumber daya. gempa tektonik.Dua faktor yang mempengaruhi keberlanjutan sumber daya di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil ialah: a. ombak. dan jaminan kepastian hukum guna mencapai tujuan yang ditetapkan.dan b. wilayah perbatasan negara. reklamasi pantai. baik secara langsung maupun tidak langsung. dan tsunami. interaksi manusia dalam memanfaatkan sumber daya dan jasajasa lingkungan. dan pedoman dilakukan melalui konsultansi publik dan/atau musyawarah adat. bencana alam di Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. ekonomi. alur pelayaran internasional. konflik pemanfaatan dan kewenangan. Pasal 8 Ayat (1) RSWP-3-K Provinsi dan Kabupaten/Kota disusun berdasarkan isu Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil yang aktual. salinitas. sedimentasi. perikanan destruktif. dan budaya. dan biogeofisik lingkungan setempat. arus. Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (2) Kepentingan pusat dan daerah merupakan keterpaduan dalam bidang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil seperti pertahanan negara. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. standar. kelembagaan. pasang surut. Pasal 6 Integrasi antara ilmu pengetahuan dan prinsip-prinsip manajemen merupakan pengelolaan terpadu yang didasarkan pada input data dan informasi ilmiah yang valid untuk memberikan berbagai alternatif dan rekomendasi bagi pengambil putusan dengan mempertimbangkan kondisi dan karakteristik sosial. pemanfaatan mangrove dan pariwisata bahari. kawasan konservasi. Ayat (3) Pelibatan masyarakat berdasarkan norma.

. sesuai dengan Pasal 14 ayat (7) Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang. Skala peta Rencana Zonasi disesuaikan dengan tingkat ketelitian peta rencana tata ruang wilayah provinsi. Ayat (2) RSWP-3-K Provinsi dan Kabupaten/Kota merupakan bagian dari Tata Ruang Wilayah Provinsi atau Kabupaten/Kota sesuai dengan Pasal 5 ayat (4) dan ayat (5) Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang. merupakan kawasan yang dipergunakan untuk kepentingan ekonomi. prasarana perhubungan laut. Ayat (3) Cukup jelas. industri maritim. Kawasan Konservasi dengan fungsi utama melindungi kelestarian sumberdaya Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil yang setara dengan kawasan lindung dalam Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang. Huruf a Kawasan pemanfaatan umum yang setara dengan kawasan budidaya dalam Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang. sebagaimana diatur dalam Pasal 23 ayat (3). dan Pasal 26 ayat (4) UndangUndang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang. pemukiman. Ayat (4) Jangka waktu berlakunya RSWP-3-K Provinsi dan Kabupaten/Kota sesuai dengan jangka waktu Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi dan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten/Kota yaitu 20 (dua puluh) tahun. dan RSWP-3-K Kabupaten/Kota ditetapkan dengan Peraturan Daerah Kabupaten/Kota sejalan dengan Pasal 26 ayat (7) UndangUndang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang. dan pertambangan. Pasal 10 RZWP-3-K Provinsi mencakup wilayah perencanaan daratan dari kecamatan pesisir sampai wilayah perairan paling jauh 12 (dua belas) mil laut diukur dari garis pantai ke arah laut lepas dan/atau ke arah perairan kepulauan dalam satu hamparan ruang yang saling terkait antara ekosistem daratan dan perairan lautnya. Ayat (5) RSWP-3-K Provinsi ditetapkan dengan Peraturan Daerah Provinsi sejalan dengan Pasal 23 ayat (3). pariwisata. sosial budaya. seperti kegiatan perikanan.Pasal 9 Ayat (1) Cukup jelas.

Pasal 11 Ayat (1) RZWP-3-K kabupaten/kota mencakup wilayah perencanaan daratan dari kecamatan pesisir sampai 1/3 (sepertiga) wilayah perairan kewenangan provinsi. Pulau-Pulau Kecil merupakan pengertian yang terintegrasi satu dengan yang lainnya. situs warisan dunia. Huruf b Cukup jelas. Kawasan Strategis Nasional Tertentu memperhatikan kriteria. Huruf d Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Pemerincian perencanaan pada tiap-tiap zona. Huruf c Pemanfaatan ruang laut antara lain untuk kegiatan pelabuhan. penangkapan ikan. pertahanan dan keamanan negara. kawasan yang secara geopolitik.Alur laut merupakan perairan yang dimanfaatkan. . budidaya. dan migrasi biota laut. ayat (6). Pasal 12 Ayat (1) Huruf a Penggunaan sumber daya yang diizinkan merupakan penggunaan sumber daya yang tidak merusak ekosistem Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. dan permukiman. pulau-pulau kecil terluar yang menjadi titik pangkal dan/atau habitat biota endemik dan langka. dan tingkat ketelitian skala peta perencanaan disesuaikan dengan rencana tata ruang wilayah kabupaten/kota sebagaimana diatur dalam Pasal 14 ayat (5). industri. antara lain. baik secara fisik. batas-batas maritim kedaulatan negara. pariwisata. dan ayat (7) Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang. Huruf b Karakteristik Wilayah Pesisir merupakan daerah yang memiliki produktivitas hayati dan intensitas pembangunan yang tinggi serta memiliki perubahan sifat ekologi yang dinamis. pipa/kabel bawah laut. untuk alur pelayaran. Penggunaan sumber daya yang dilarang adalah penggunaan sumber daya yang berpotensi merusak Ekosistem Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil.

d. Ayat (3) Masukan. Ayat (2) Cukup jelas. e. maupun ekonomi dengan karakteristik sebagai berikut : a. dan perbaikan dari berbagai pemangku kepentingan utama. . Huruf d Cukup jelas. apabila berpenghuni. penduduknya mempunyai kondisi sosial dan budaya yang khas. baik pulau induk maupun kontinen. b. dan tercatat dalam dokumen konsultasi publik. Huruf e Cukup jelas. Huruf c Hasil-hasil konsultasi publik sesuai dengan kesepakatan yang transparan. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. budaya. terpisah dari pulau besar. sosial. demokratis. c. tanggapan. Pasal 14 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas Ayat (5) Pemerintah provinsi wajib melakukan perbaikan serta memublikasikan dokumen final perencanaan Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil berdasarkan masukan. dan pemerintah kabupaten/kota di wilayahnya disampaikan secara efektif melalui jalur komunikasi yang tersedia. ketergantungan ekonomi lokal pada perkembangan ekonomi luar pulau. dan saran perbaikan yang diterima dari pihak penanggap. instansi Pemerintah. tanggapan. saran. memiliki keterbatasan daya dukung pulau. sangat rentan terhadap perubahan yang disebabkan alam dan/atau disebabkan manusia. pemerintah provinsi.ekologis. Pasal 13 Ayat (1) Cukup jelas.

Ayat (5) Cukup jelas. berikut atau tidak berikut benda-benda lain yang merupakan satu kesatuan dengan HP-3. Ayat (3) Cukup jelas. Pasal 20 Ayat (1) Jaminan utang merupakan utang yang dijamin pelunasannya dengan hak tanggungan dapat berupa utang yang telah ada atau yang telah diperjanjikan dengan jumlah tertentu atau jumlah yang pada saat permohonan eksekusi hak tanggungan diajukan dapat ditentukan berdasarkan perjanjian utang piutang atau perjanjian lain yang menimbulkan hubungan utang piutang yang bersangkutan. dan sesuai kebutuhan mengenai wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil. terkini. Ayat (6) Cukup jelas. Pasal 16 Cukup jelas. untuk pelunasan utang tertentu. Ayat (7) Dalam hal dokumen final perencanaan pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil tidak mendapat tanggapan dan/atau saran sampai batas waktu yang ditentukan oleh Undang-Undang ini maka dokumen tersebut dianggap final. Ayat (4) Cukup jelas. Hak tanggungan yang melekat pada HP-3 merupakan hak jaminan yang dibebankan pada HP-3. Pasal 15 Ayat (1) Data dan informasi yang dimaksud bersifat akurat. Pasal 18 Cukup jelas. berita daerah pada tingkat provinsi dan kabupaten/kota. yang . Pasal 17 Cukup jelas. Pasal 19 Cukup jelas.Ayat (6) Cukup jelas. dapat dipertanggungjawabkan. Ayat (2) Publikasi resmi dimaksud antara lain melalui berita negara pada tingkat nasional.

Ayat (4) Pendaftaran HP-3 merupakan rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh Pemerintah secara terus-menerus. pengolahan. Ayat (2) Cukup jelas. dan teratur yang meliputi pengukuran. Alur pelayaran merupakan bagian dari perairan baik alami maupun buatan yang dari segi kedalaman.memberikan kedudukan yang diutamakan pada kreditor tertentu terhadap kreditor-kreditor lain. Pasal 23 Cukup jelas. Pasal 22 Suaka perikanan merupakan kawasan perairan tertentu baik air payau maupun air laut dengan kondisi dan ciri tertentu sebagai tempat berlindung atau berkembang biak jenis sumber daya ikan tertentu. dan ekonomi. berkesinambungan. lebar. Ayat (3) Huruf a Cukup jelas. Kawasan pelabuhan meliputi daerah lingkungan kerja dan daerah lingkungan kepentingan pelabuhan. rekreasi pariwisata. Huruf c Cukup jelas. Huruf b Yang dimaksud ditelantarkan merupakan tindakan yang dilakukan oleh pemegang HP-3 dengan tidak berbuat sesuatu terhadap perairan pesisir selama tiga tahun berturut-turut. Pantai umum merupakan bagian dari kawasan pemanfaatan umum yang telah dipergunakan masyarakat antara lain untuk kepentingan kegiatan sosial. pembukuan. dalam bentuk peta dan daftar mengenai bidang-bidang perairan. Hak tanggungan dapat diberikan untuk suatu utang yang berasal dari satu hubungan hukum atau satu utang atau lebih yang berasal dari beberapa hubungan hukum. Pasal 24 Kawasan yang dilindungi merupakan kawasan yang harus tetap dipertahankan keberadaannya dari kerusakan lingkungan. yang berfungsi sebagai daerah perlindungan. dan hambatan pelayaran lainnya dianggap aman untuk dilayari. Pasal 21 Cukup jelas. olah raga. termasuk pemberian sertifikat HP-3. baik yang . budaya. dan penyajian serta pemeliharaan data fisik dan data yuridis.

Pasal 26 Cukup jelas. Huruf b Cukup jelas. situs sejarah kemaritiman. ekosistem pesisir kepulauan Derawan sebagai habitat peneluran penyu laut. Pasal 28 Ayat (1) Huruf a Menjaga kelestarian ekosistem pesisir meliputi upaya untuk melindungi gumuk pasir. lagoon Segara Anakan. . mangrove. Huruf d Situs budaya tradisional antara lain: tempat tenggelamnya kapal yang mempunyai nilai arkeologihistoris khusus. Pasal 27 Cukup jelas. lagoon. Huruf c Cukup jelas. Huruf c Cukup jelas. Huruf d Ekosistem pesisir yang unik misalnya gumuk pasir di pantai selatan Jogyakarta. Huruf b Cukup jelas.diakibatkan oleh tindakan manusia maupun yang diakibatkan oleh alam untuk menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (7) Cukup jelas. dan padang lamun. dan tempat ritual keagamaan atau adat. Ayat (6) Cukup jelas. terumbu karang. teluk. estuari. Ayat (3) Huruf a Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. Ayat (5) Cukup jelas. delta. Pasal 25 Cukup jelas.

Ayat (3) Cukup jelas. Huruf d Cukup jelas.Pasal 29 Huruf a Zona inti merupakan bagian dari Kawasan Konservasi di Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil yang dilindungi. yang ditujukan untuk perlindungan habitat dan populasi Sumber Daya Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil serta pemanfaatannya hanya terbatas untuk penelitian. ekowisata. dan perikanan tradisional. Pasal 31 Cukup jelas. Huruf b Zona pemanfaatan terbatas merupakan bagian dari zona konservasi Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil yang pemanfaatannya hanya boleh dilakukan untuk budidaya pesisir. Ayat (2) Cukup jelas. Huruf c Cukup jelas. Pasal 34 Ayat (1) Reklamasi di wilayah pesisir hanya boleh dilakukan apabila manfaat sosial dan ekonomi yang diperoleh lebih besar daripada biaya sosial dan biaya ekonominya. Pasal 35 . Huruf b Cukup jelas. Pasal 30 Lihat Penjelasan Pasal 50 ayat (1). Pasal 32 Ayat (1) Cukup jelas. Pasal 33 Cukup jelas. Huruf c Cukup jelas. Ayat (2) Huruf a Pengayaan sumber daya hayati dilakukan terhadap jenisjenis ikan yang telah mengalami penurunan populasi.

Huruf h Cukup jelas. Ayat 2 Cukup jelas. bunga karang. Huruf a Yang dimaksud dengan penambangan terumbu karang adalah pengambilan terumbu karang dengan sengaja untuk digunakan sebagai bahan bangunan. Pemanfaatan secara tidak langsung merupakan kegiatan perseorangan atau badan hukum dalam memanfaatkan sebagian dari wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil untuk menunjang kegiatan pokoknya. di luar tugas penyidikan. industri dan kepentingan lainnya sehingga tutupan karang hidupnya kurang dari 50% (lima puluh persen) pada kawasan yang diambil. Huruf g Penebangan mangrove pada kawasan yang telah dialokasikan dalam perencanaan Pengelolaan Wilayah Pesisir dan PulauPulau Kecil untuk budidaya perikanan diperbolehkan sepanjang memenuhi kaidah-kaidah konservasi. Pengawas merupakan pegawai negeri sipil di instansi yang membidangi Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. Ayat 3 . Pasal 36 Ayat 1 Pengawasan dengan wewenang kepolisian khusus adalah pengawas yang melakukan kegiatan patroli dan tugas polisional lainnya. Huruf e Cukup jelas. Huruf i Cukup jelas.Pemanfaatan secara langsung merupakan kegiatan perseorangan atau badan hukum dalam memanfaatkan sebagian dari wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil untuk kegiatan pokoknya. kerajinan tangan. Huruf f Cukup jelas. Huruf d Cukup jelas. Huruf b Cukup jelas. Huruf c Cukup jelas. ornamen aquarium.

pelaksanaan pengelolaan dengan memunculkan kreativitas dan kemandirian dalam hal jumlah dan variasi pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil sehingga dapat meningkatkan aktivitas ekonomi di tempat-tempat yang sebelumnya belum dapat dimanfaatkan. 40 . c. rencana zonasi. sehingga wilayah kegiatan pengawasan dan pengendalian dapat diperluas. Ayat 4 Cukup jelas. 38 Cukup jelas. mendorong agar pemanfaatan sumber daya di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil sesuai dengan rencana pengelolaan wilayah pesisirnya. Ayat 5 Kegiatan pengawasan dan pengendalian dilakukan untuk: a. serta bagaimana implikasi penyimpangan tersebut terhadap perubahan kualitas ekosistem pesisir. 37 Cukup jelas. b. sanksi perdata. serta c. dan/atau sanksi pidana. 39 Cukup jelas. penyelesaian konflik mengenai aturan-aturan baru yang sengaja dibuat oleh masyarakat karena kebutuhan sendiri ataupun aturan-aturan yang difasilitasi oleh pemerintah. perencanaan pengelolaan dengan berdasarkan adat budaya dan praktik-praktik yang lazim atau yang telah ada di dalam masyarakat. mengetahui adanya penyimpangan pelaksanaan dari rencana strategis. menegakkan hukum yang dilaksanakan dengan memberikan sanksi terhadap pelanggar yang berupa sanksi administrasi. Ayat 6 Masyarakat mempunyai peran penting dalam pengawasan dan pengendalian Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil melalui: a. b. rencana pengelolaan. tetapi tetap menampung laporan dari masyarakat tentang pelanggaran dan kegiatan perusakan pesisir dan pulau-pulau kecil melalui sistem pengawasan berbasis masyarakat.Pasal Pasal Pasal Pasal Pengawas atau penyidik pegawai negeri sipil (PPNS) tertentu melakukan patroli secara aktif.

49 Cukup jelas.Pasal Pasal Pasal Pasal Pasal Pasal Pasal Pasal Pasal Pasal Ayat (1) Cukup jelas. 50 Ayat (1) Penetapan Kawasan Strategis Nasional Tertentu (KSNT). Ayat (4) Insentif yang dapat diberikan berupa: a. pengakuan formal dalam bentuk persetujuan atau sertifikasi oleh Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah atas program yang diajukan oleh pengelola Program Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. dengan mekanisme sebagai berikut: . komunikasi. bantuan program meliputi 1. 41 Cukup jelas. b. 47 Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. 2. 48 Cukup jelas. 43 Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. serta 3. dukungan peralatan. konsistensi Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah dalam pelaksanaan program. 45 Cukup jelas. serta sosialisasi kepada masyarakat. peningkatan pengetahuan. 44 Cukup jelas. 42 Cukup jelas. program yang disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan. bantuan teknis meliputi dukungan sumber daya manusia baik kualitas maupun kuantitas. 46 Cukup jelas.

c. Huruf b Cukup jelas. c. Ayat (2) Penetapan HP-3 oleh Menteri di Kawasan Strategis Nasional Tertentu (KSNT). pihak lain yang dianggap terkait. b. ijin pemanfaatan pulau-pulau kecil yang menimbulkan dampak besar terhadap lingkungan. Ayat (2) Cukup jelas. Menteri membentuk Tim Penelitian terpadu yang bersifat independen yang terdiri dari unsur Pemerintah. huruf a tersebut diatas. dan Kawasan habitat biota endemik. Menteri mengajukan permohonan pertimbangan ke Dewan Perwakilan Rakyat. Pasal 51 Ayat (1) Huruf a Kawasan strategis nasional tertentu antara lain untuk kepentingan geopolitik. Huruf c Cukup jelas. Hasil penelitian terpadu disampaikan ke Dewan Perwakilan Rakyat untuk dijadikan dasar dalam memberikan pertimbangan kepada Menteri. otoritas ilmiah (scientific authority). Penelitian terpadu dilaksanakan untuk menjamin objektivitas dan kualitas hasil penelitian diselenggarakan oleh lembaga pemerintah yang mempunyai kompetensi dan memiliki otoritas ilimiah (scientific authority) bersama-sama dengan pihak lain yang terkait. perubahan status Zona Inti pada Kawasan Konservasi laut nasional. pertahanan dan keamanan. d. Pulau-Pulau Kecil terluar. b. Kawasan rawan bencana besar. Dewan Perwakilan Rakyat meminta Menteri untuk dilakukan penelitian terpadu oleh Tim Independen. perubahan status Zona inti pada kawasan konservasi perairan Nasional ditempuh dengan mekanisme: a. . Perguruan Tinggi. Ayat (3) Cukup jelas.a. Dewan Perwakilan Rakyat bersama Menteri mengadakan Rapat Kerja untuk melakukan pembahasan permohonan pertimbangan. Menteri mengajukan permohonan pertimbangan ke Dewan Perwakilan Rakyat.

Ayat (4) Cukup jelas. penyusunan analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL). 55 Cukup jelas.Pasal Pasal Pasal Pasal Pasal Pasal Pasal Pasal Pasal Pasal Pasal d. penyusunan tata ruang. 52 Cukup jelas. 58 Cukup jelas. 59 Ayat (1) Mitigasi dilakukan untuk mengurangi risiko bencana bagi Masyarakat yang berada di Wilayah Pesisir dan Pulau–Pulau Kecil rawan bencana. 61 Cukup jelas. 62 Cukup jelas. penyuluhan. Kegiatan mitigasi dilakukan melalui kegiatan struktur/fisik dan/atau nonstruktur/nonfisik. Ayat (3) Cukup jelas. Hasil penelitian terpadu disampaikan ke Dewan Perwakilan Rakyat. 60 Cukup jelas. 56 Cukup jelas. pendidikan. penyusunan peta rawan bencana. untuk dijadikan dasar dalam memberikan pertimbangan kepada Menteri. . dan penyadaran masyarakat. penyusunan peta risiko bencana. pembangunan sarana prasarana. dan/atau pengelolaan lingkungan untuk mengurangi risiko bencana. Ayat (3) Cukup jelas. 53 Cukup jelas. penyusunan zonasi. 57 Cukup jelas. Kegiatan nonstrukur/nonfisik meliputi penyusunan peraturan perundang-undangan. 54 Cukup jelas. Ayat (2) Kegiatan struktur/fisik meliputi pembangunan sistem peringatan dini.

penilaian ahli. Penyelesaian sengketa di luar pengadilan dilakukan para pihak dengan cara konsultasi. Pasal 64 Penyelesaian sengketa diatur sebagai berikut: 1. memulihkan fungsi lingkungan wilayah pesisir. 2. atau tindakan tertentu yang harus dilakukan oleh pihak yang kalah dalam sengketa. Pasal 66 Cukup jelas. Setiap sengketa yang berkaitan dengan Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil diupayakan untuk diselesaikan di luar pengadilan. 3. Pasal 65 Cukup jelas. 3. Pasal 67 Cukup jelas. Pasal 69 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. menghilangkan atau memusnahkan penyebab timbulnya pencemaran dan atau perusakan lingkungan di wilayah pesisir. besarnya ganti kerugian.Pasal 63 Cukup jelas. konsiliasi. negosiasi. Pasal 70 . tenaga dan alat-alat untuk tindakan sementara guna mencegah dampak negatif yang lebih besar. arbitrase atau melalui adat istiadat/kebiasaan/kearifan lokal. Ayat (3) Yang dimaksud dengan tindakan tertentu antara lain: 1. mediasi. memasang atau memperbaiki unit pengolahan limbah sehingga limbah sesuai dengan baku mutu lingkungan hidup yang ditentukan. Penyelesaian sengketa Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil melalui pengadilan dimaksudkan untuk memperoleh putusan mengenai pengembalian suatu hak. 2. Pasal 68 Cukup jelas. misalnya biaya bahan. Yang dimaksud dengan biaya atau pengeluaran nyata adalah biaya yang nyata-nyata dapat dibuktikan telah dikeluarkan oleh instansi yang bertanggung jawab di bidang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil.

Ayat (2) Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) melakukan penyidikan pelanggaran ketentuan di bidang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. 2.Pasal Pasal Pasal Pasal Pasal Pasal Pasal Pasal Pasal Pasal Ayat (1) Cukup jelas. 76 Cukup jelas. meminta keterangan dan atau bahan bukti dari orang atau badan sehubungan dengan peristiwa tindak pidana di bidang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. pejabat pegawai negeri sipil tertentu yang lingkup tugas dan tanggung jawabnya di bidang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. 73 Cukup jelas. 74 Cukup jelas. Ayat (3) 1. 80 . Penyidik memiliki kewenangan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini antara lain melakukan pemeriksaan atas kebenaran laporan dan keterangan berkenaan dengan tindak pidana di bidang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. 72 Cukup jelas. 77 Cukup jelas. 71 Cukup jelas. diberi wewenang khusus sebagai penyidik sebagaimana dimaksud dalam Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana. 79 Cukup jelas. 78 Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. 75 Cukup jelas. Ayat (5) Cukup jelas. Selain pejabat penyidik Kepolisian Negara Republik Indonesia.

Cukup jelas. TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4739 .

b. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b. Pasal 25A. Pasal 18B ayat (2). serta Pasal 33 ayat (3) dan ayat (4) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA dan PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN: Menetapkan : UNDANG-UNDANG TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 27 TAHUN 2007 TENTANG PENGELOLAAN WILAYAH PESISIR DAN PULAU-PULAU KECIL. perlu membentuk Undang-Undang tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. bahwa wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. c. Pasal 20.UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 27 TAHUN 2007 TENTANG PENGELOLAAN WILAYAH PESISIR DAN PULAU-PULAU KECIL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. Pasal I Beberapa ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (Lembaran Negara Republik . Mengingat : Pasal 5 ayat (1). bahwa Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil belum memberikan kewenangan dan tanggung jawab Negara secara memadai atas pengelolaan Perairan Pesisir dan pulau-pulau kecil sehingga beberapa pasal perlu disempurnakan sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan hukum di masyarakat. Menimbang : a.

mangrove dan biota laut lain. 6. . dan arus. angka 17. sumber daya buatan meliputi infrastruktur laut yang terkait dengan kelautan dan perikanan. sumber daya nonhayati meliputi pasir. angka 38. sumber daya buatan. permukaan dasar laut tempat instalasi bawah air yang terkait dengan kelautan dan perikanan serta energi gelombang laut yang terdapat di Wilayah Pesisir. perairan yang menghubungkan pantai dan pulau-pulau. Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil adalah suatu pengoordinasian perencanaan. angka 33. rawa payau. dan angka 44 diubah. serta antara ilmu pengetahuan dan manajemen untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. angka 29. stabilitas. angka 32. Ekosistem adalah kesatuan komunitas tumbuh-tumbuhan. angka 18. 3. 5. Perairan Pesisir adalah laut yang berbatasan dengan daratan meliputi perairan sejauh 12 (dua belas) mil laut diukur dari garis pantai. estuari. organisme dan non organisme lain serta proses yang menghubungkannya dalam membentuk keseimbangan. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4739) diubah sebagai berikut: 1. serta di antara angka 27 dan angka 28 disisipkan 1 (satu) angka yakni angka 27A sehingga Pasal 1 berbunyi sebagai berikut: Pasal 1 Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan: 1. angka 31. angka 23. pemanfaatan. Pulau Kecil adalah pulau dengan luas lebih kecil atau sama dengan 2. 8.Indonesia Tahun 2007 Nomor 84. perairan dangkal. dan ekonomi untuk dipertahankan keberadaannya. pengawasan. Ketentuan Pasal 1 angka 1. Bioekoregion adalah bentang alam yang berada di dalam satu hamparan kesatuan ekologis yang ditetapkan oleh batas-batas alam. dan jasa-jasa lingkungan. angka 26. seperti daerah aliran sungai. dan di antara angka 18 dan angka 19 disisipkan 1 (satu) angka yakni angka 18A. biologi. Wilayah Pesisir adalah daerah peralihan antara Ekosistem darat dan laut yang dipengaruhi oleh perubahan di darat dan laut. 4. dan laguna. sumber daya nonhayati. hewan. dan jasa-jasa lingkungan berupa keindahan alam. 2. Sumber Daya Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil adalah sumber daya hayati. dan produktivitas. angka 28. angka 19. sosial. Kawasan Pemanfaatan Umum adalah bagian dari Wilayah Pesisir yang ditetapkan peruntukkannya bagi berbagai sektor kegiatan. angka 30. mineral dasar laut.000 km2 (dua ribu kilo meter persegi) beserta kesatuan Ekosistemnya. Kawasan adalah bagian Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil yang memiliki fungsi tertentu yang ditetapkan berdasarkan kriteria karakteristik fisik. dan pengendalian sumber daya pesisir dan pulau-pulau kecil yang dilakukan oleh Pemerintah dan Pemerintah Daerah. teluk. terumbu karang. antara ekosistem darat dan laut. 7. air laut. antarsektor. sumber daya hayati meliputi ikan. 9. padang lamun. teluk.

Rencana Pengelolaan adalah rencana yang memuat susunan kerangka kebijakan. Rencana Aksi Pengelolaan adalah tindak lanjut rencana Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil yang memuat tujuan. dan pemanfaatan Wilayah Pesisir dan Pulau- . 13. Rencana Zonasi Rinci adalah rencana detail dalam 1 (satu) Zona berdasarkan arahan pengelolaan di dalam Rencana Zonasi dengan memperhatikan daya dukung lingkungan dan teknologi yang diterapkan serta ketersediaan sarana yang pada gilirannya menunjukkan jenis dan jumlah surat izin yang diterbitkan oleh Pemerintah dan Pemerintah Daerah.10. yang pengembangannya diprioritaskan bagi kepentingan nasional. Rencana Strategis adalah rencana yang memuat arah kebijakan lintas sektor untuk Kawasan perencanaan pembangunan melalui penetapan tujuan. 19. dan pemangku kepentingan lainnya guna mencapai hasil pengelolaan sumber daya pesisir dan pulaupulau kecil di setiap Kawasan perencanaan. dan jadwal untuk satu atau beberapa tahun ke depan secara terkoordinasi untuk melaksanakan berbagai kegiatan yang diperlukan oleh instansi Pemerintah. 17. 18A. Rencana Zonasi adalah rencana yang menentukan arah penggunaan sumber daya tiap-tiap satuan perencanaan disertai dengan penetapan struktur dan pola ruang pada Kawasan perencanaan yang memuat kegiatan yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan serta kegiatan yang hanya dapat dilakukan setelah memperoleh izin. Izin Lokasi adalah izin yang diberikan untuk memanfaatkan ruang dari sebagian Perairan Pesisir yang mencakup permukaan laut dan kolom air sampai dengan permukaan dasar laut pada batas keluasan tertentu dan/atau untuk memanfaatkan sebagian pulau-pulau kecil. Pemerintah Daerah. Zona adalah ruang yang penggunaannya disepakati bersama antara berbagai pemangku kepentingan dan telah ditetapkan status hukumnya. Kawasan Strategis Nasional Tertentu adalah Kawasan yang terkait dengan kedaulatan negara. Konservasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil adalah upaya pelindungan. dan tanggung jawab dalam rangka pengoordinasian pengambilan keputusan di antara berbagai lembaga/instansi pemerintah mengenai kesepakatan penggunaan sumber daya atau kegiatan pembangunan di zona yang ditetapkan. 11. sasaran dan strategi yang luas. 12. 16. anggaran. sasaran. pengendalian lingkungan hidup. 15. 18. 14. Zonasi adalah suatu bentuk rekayasa teknik pemanfaatan ruang melalui penetapan batas-batas fungsional sesuai dengan potensi sumber daya dan daya dukung serta proses-proses ekologis yang berlangsung sebagai satu kesatuan dalam Ekosistem pesisir. Izin Pengelolaan adalah izin yang diberikan untuk melakukan kegiatan pemanfaatan sumber daya Perairan Pesisir dan perairan pulau-pulau kecil. serta target pelaksanaan dengan indikator yang tepat untuk memantau rencana tingkat nasional. prosedur. pelestarian. dan/atau situs warisan dunia.

26. zat. 27. 29. pengeringan lahan atau drainase. ketersediaan. Rehabilitasi Sumber Daya Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil adalah proses pemulihan dan perbaikan kondisi Ekosistem atau populasi yang telah rusak walaupun hasilnya berbeda dari kondisi semula. 20. Pencemaran Pesisir adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup. Bencana Pesisir adalah kejadian karena peristiwa alam atau karena perbuatan Setiap Orang yang menimbulkan perubahan sifat fisik dan/atau hayati Pesisir dan mengakibatkan korban jiwa. energi. penghargaan. dan/atau komponen lain ke dalam lingkungan Pesisir akibat adanya kegiatan Setiap Orang sehingga kualitas Pesisir turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan Pesisir tidak dapat berfungsi sesuai dengan peruntukannya. baik secara struktur atau fisik melalui pembangunan fisik alami dan/atau buatan maupun nonstruktur atau nonfisik melalui peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana di Wilayah Pesisir dan PulauPulau Kecil. Kawasan Konservasi di Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil adalah kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil dengan ciri khas tertentu yang dilindungi untuk mewujudkan Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil secara berkelanjutan. 22. Dampak Penting dan Cakupan yang Luas serta Bernilai Strategis adalah perubahan yang berpengaruh terhadap kondisi biofisik seperti perubahan iklim. minimal 100 (seratus) meter dari titik pasang tertinggi ke arah darat. 25. Sempadan Pantai adalah daratan sepanjang tepian yang lebarnya proporsional dengan bentuk dan kondisi fisik pantai. 24. Mitigasi Bencana adalah upaya untuk mengurangi risiko bencana. Dampak Besar adalah terjadinya perubahan negatif fungsi lingkungan dalam skala yang luas dan intensitas lama yang diakibatkan oleh suatu usaha dan/atau kegiatan di Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. harta. ekosistem. Akreditasi adalah prosedur pengakuan suatu kegiatan yang secara konsisten telah memenuhi standar baku sistem Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil yang meliputi penilaian. 27A. dan dampak sosial ekonomi masyarakat bagi kehidupan generasi sekarang dan generasi yang akan datang. 21. Daya Dukung Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil adalah kemampuan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil untuk mendukung perikehidupan manusia dan makhluk hidup lain. dan/atau kerusakan di Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. 28. dan kesinambungan Sumber Daya Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas nilai dan keanekaragamannya.Pulau Kecil serta ekosistemnya untuk menjamin keberadaan. dan . 23. Reklamasi adalah kegiatan yang dilakukan oleh Setiap Orang dalam rangka meningkatkan manfaat sumber daya lahan ditinjau dari sudut lingkungan dan sosial ekonomi dengan cara pengurugan.

bupati.30. 37. 33. Masyarakat adalah masyarakat yang terdiri atas Masyarakat Hukum Adat. sumber daya alam. 38. Pemerintah Pusat. 41. Masyarakat Hukum Adat adalah sekelompok orang yang secara turuntemurun bermukim di wilayah geografis tertentu di Negara Kesatuan Republik Indonesia karena adanya ikatan pada asal usul leluhur. dan Masyarakat. Masyarakat Lokal. 31. adalah Dewan Perwakilan Rakyat sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. dan tuntutan ganti kerugian. 36. pengusaha pariwisata. Pemberdayaan Masyarakat adalah upaya pemberian fasilitas. hubungan yang kuat dengan tanah. wilayah. pengusaha perikanan. Kearifan Lokal adalah nilai-nilai luhur yang masih berlaku dalam tata kehidupan Masyarakat. adalah Presiden Republik Indonesia yang memegang kekuasaan pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. memiliki pranata pemerintahan adat. dan tatanan hukum adat di wilayah adatnya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. selanjutnya disebut DPR. 40. Gugatan Perwakilan adalah gugatan yang berupa hak kelompok kecil Masyarakat untuk bertindak mewakili Masyarakat dalam jumlah besar dalam upaya mengajukan tuntutan berdasarkan kesamaan permasalahan. Setiap Orang adalah orang perseorangan atau korporasi. 34. fakta hukum. Pemangku Kepentingan Utama adalah para pengguna Sumber Daya Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil yang mempunyai kepentingan langsung dalam mengoptimalkan pemanfaatan Sumber Daya Pesisir dan PulauPulau Kecil. seperti nelayan tradisional. atau wali kota. 32. 35. selanjutnya disebut Pemerintah. Masyarakat Lokal adalah kelompok Masyarakat yang menjalankan tata kehidupan sehari-hari berdasarkan kebiasaan yang sudah diterima sebagai nilai-nilai yang berlaku umum. baik yang berbadan hukum maupun yang tidak berbadan hukum. atau bantuan kepada Masyarakat dan nelayan tradisional agar mampu menentukan pilihan yang terbaik dalam memanfaatkan Sumber Daya Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil secara lestari. tetapi tidak sepenuhnya bergantung pada Sumber Daya Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil tertentu. dan perangkat daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah. Dewan Perwakilan Rakyat. Pemerintah Daerah adalah gubernur. nelayan modern. pembudi daya ikan. dan Masyarakat Tradisional yang bermukim di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil. 39. . insentif terhadap program pengelolaan yang dilakukan oleh Masyarakat secara sukarela. dorongan. Masyarakat Tradisional adalah Masyarakat perikanan tradisional yang masih diakui hak tradisionalnya dalam melakukan kegiatan penangkapan ikan atau kegiatan lainnya yang sah di daerah tertentu yang berada dalam perairan kepulauan sesuai dengan kaidah hukum laut internasional.

penelitian terapan. (3) Pemerintah Daerah berkewajiban menyebarluaskan konsep RSWP-3-K. (7) Dalam hal tanggapan dan/atau saran sebagaimana dimaksud pada ayat (6) tidak dipenuhi. 3. 43. (6) Gubernur atau Menteri memberikan tanggapan dan/atau saran terhadap usulan dokumen final perencanaan Pengelolaan Wilayah Pesisir dan PulauPulau Kecil dalam jangka waktu 30 (tiga puluh) hari kerja. lembaga. pelatihan. 44. dan RAPWP-3-K untuk mendapatkan masukan. Ketentuan Pasal 16 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: . Judul Bagian Kesatu pada Bab V diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: Bagian Kesatu Izin 4. dan pengembangan rekomendasi kebijakan. Mitra Bahari adalah jejaring pemangku kepentingan di bidang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil dalam penguatan kapasitas sumber daya manusia. dan saran perbaikan. Masyarakat. dan RAPWP-3-K dilakukan oleh Pemerintah Daerah. Pemerintahan Daerah adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh Pemerintah Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah menurut asas otonomi dan tugas pembantuan dengan prinsip otonomi seluas-luasnya dalam sistem dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. penyuluhan. Ketentuan ayat (1) dan ayat (7) Pasal 14 diubah sehingga Pasal 14 berbunyi sebagai berikut: Pasal 14 (1) Usulan penyusunan RSWP-3-K. 2. (2) Mekanisme penyusunan RSWP-3-K. pendidikan. RPWP-3-K. tanggapan. RPWP-3-K. Menteri adalah menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang kelautan dan perikanan. RPWP-3-K. dokumen final perencanaan Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil dimaksud diberlakukan secara definitif.42. dan RAPWP-3-K pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota dilakukan dengan melibatkan Masyarakat. RZWP-3-K. pendampingan. dan dunia usaha. RZWP-3-K. (4) Bupati/wali kota menyampaikan dokumen final perencanaan Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil kabupaten/kota kepada gubernur dan Menteri untuk diketahui. RZWP-3-K. (5) Gubernur menyampaikan dokumen final perencanaan Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil provinsi kepada Menteri dan Bupati/wali kota di wilayah provinsi yang bersangkutan.

Izin Lokasi tidak dapat diberikan pada zona inti di kawasan konservasi. e. c. bioteknologi laut. 7. Izin Lokasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan dalam luasan dan waktu tertentu. b. pemanfaatan air laut selain energi. 6. d. f. (1) (2) (3) (4) Ketentuan Pasal 17 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: Pasal 17 Izin Lokasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat (1) diberikan berdasarkan rencana zonasi wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil. dan hak lintas damai bagi kapal asing. alur laut. pemasangan pipa dan kabel bawah laut.Pasal 16 (1) Setiap Orang yang melakukan pemanfaatan ruang dari sebagian Perairan Pesisir dan pemanfaatan sebagian pulau-pulau kecil secara menetap wajib memiliki Izin Lokasi. dan/atau g. Masyarakat. produksi garam. biofarmakologi laut. pengangkatan benda muatan kapal tenggelam. wajib memiliki Izin Pengelolaan. kawasan pelabuhan. dikenai sanksi administratif berupa pencabutan Izin Lokasi. kepentingan nasional. Ketentuan Pasal 19 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: Pasal 19 (1) Setiap Orang yang melakukan pemanfaatan sumber daya Perairan Pesisir dan perairan pulau-pulau kecil untuk kegiatan: a. Ketentuan Pasal 18 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: Pasal 18 Dalam hal pemegang Izin Lokasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat (1) tidak merealisasikan kegiatannya dalam jangka waktu paling lama 2 (dua) tahun sejak izin diterbitkan. nelayan tradisional. Pemberian Izin Lokasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib mempertimbangkan kelestarian Ekosistem pesisir dan pulau-pulau kecil. wisata bahari. (2) Izin Lokasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menjadi dasar pemberian Izin Pengelolaan. dan pantai umum. 5. .

(2) Izin Pengelolaan untuk kegiatan selain sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. (2) Masyarakat Hukum Adat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan pengakuannya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Ketentuan Pasal 22 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: Pasal 22 (1) Kewajiban memiliki izin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat (1) dan Pasal 19 ayat (1) dikecualikan bagi Masyarakat Hukum Adat. 9. (2) Izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan kepada Masyarakat Lokal dan Masyarakat Tradisional. Pasal 22B. (2) Pemanfaatan ruang dan sumber daya Perairan Pesisir dan perairan pulaupulau kecil sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan mempertimbangkan kepentingan nasional dan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Ketentuan Pasal 20 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: Pasal 20 (1) Pemerintah dan Pemerintah Daerah wajib memfasilitasi pemberian Izin Lokasi dan Izin Pengelolaan kepada Masyarakat Lokal dan Masyarakat Tradisional. 8. 10. (3) Dalam hal terdapat kegiatan pemanfaatan sumber daya Perairan Pesisir dan perairan pulau-pulau kecil yang belum diatur berdasarkan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Peraturan Pemerintah. untuk pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari. yakni Pasal 22A. Ketentuan Pasal 21 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: Pasal 21 (1) Pemanfaatan ruang dan sumber daya Perairan Pesisir dan perairan pulaupulau kecil pada wilayah Masyarakat Hukum Adat oleh Masyarakat Hukum Adat menjadi kewenangan Masyarakat Hukum Adat setempat. orang perseorangan warga negara Indonesia. 11. yang melakukan pemanfaatan ruang dan sumber daya Perairan Pesisir dan perairan pulau-pulau kecil. . Di antara Pasal 22 dan Pasal 23 disisipkan 3 (tiga) pasal. dan Pasal 22C sehingga berbunyi sebagai berikut: Pasal 22A Izin Lokasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat (1) dan Izin Pengelolaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (1) diberikan kepada: a.

memperhatikan kemampuan dan kelestarian sistem tata air setempat. peternakan. 13. budi daya laut. luasan. g. f. (3) Kecuali untuk tujuan konservasi. administratif. Di antara Pasal 26 dan Pasal 27 disisipkan 1 (satu) pasal. pariwisata.b. memenuhi persyaratan pengelolaan lingkungan. Pasal 22B Orang perseorangan warga Negara Indonesia atau korporasi yang didirikan berdasarkan hukum Indonesia dan koperasi yang dibentuk oleh Masyarakat yang mengajukan Izin Pengelolaan harus memenuhi syarat teknis. tata cara pemberian. pendidikan dan pelatihan. usaha perikanan dan kelautan serta industri perikanan secara lestari. pertanian organik. atau koperasi yang dibentuk oleh Masyarakat. c. dan berakhirnya Izin Lokasi dan Izin Pengelolaan diatur dengan Peraturan Pemerintah. d. korporasi yang didirikan berdasarkan hukum Indonesia. b. (2) Pemanfaatan pulau-pulau kecil dan perairan di sekitarnya diprioritaskan untuk kepentingan sebagai berikut: a. b. menggunakan teknologi yang ramah lingkungan. pendidikan dan pelatihan serta penelitian dan pengembangan. yakni Pasal 26A sehingga berbunyi sebagai berikut: Pasal 26A . dan c. penelitian dan pengembangan. dan/atau i. konservasi. h. pencabutan. pemanfaatan pulau-pulau kecil dan perairan di sekitarnya wajib: a. 12. c. jangka waktu. e. Ketentuan Pasal 23 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: Pasal 23 (1) Pemanfaatan pulau-pulau kecil dan perairan di sekitarnya dilakukan berdasarkan kesatuan ekologis dan ekonomis secara menyeluruh dan terpadu dengan pulau besar di dekatnya. Pasal 22C Ketentuan lebih lanjut mengenai syarat. pertahanan dan keamanan negara. dan operasional.

c. (2) Penanaman modal asing sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus mengutamakan kepentingan nasional. dan ekonomi pada luasan lahan. melakukan alih teknologi. bekerja sama dengan peserta Indonesia. 15. belum ada pemanfaatan oleh Masyarakat Lokal. Ketentuan Pasal 50 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: Pasal 50 (1) Menteri berwenang memberikan dan mencabut Izin Lokasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat (1) dan Izin Pengelolaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (1) di wilayah Perairan Pesisir dan pulau- . dan ayat (3) diatur dengan Peraturan Menteri. g. ayat (2). tidak berpenduduk. sosial. badan hukum yang berbentuk perseroan terbatas. b. akademisi. (4) Izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi persyaratan sebagai berikut: a. (3) Perubahan peruntukan dan fungsi zona inti sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang ber-Dampak Penting dan Cakupan yang Luas serta Bernilai Strategis. menjamin akses publik. d. serta praktisi perikanan dan kelautan. (4) Tata cara perubahan peruntukan dan fungsi zona inti sebagaimana dimaksud pada ayat (1). memperhatikan aspek ekologi. ditetapkan oleh Menteri dengan persetujuan DPR. (2) Menteri membentuk Tim untuk melakukan penelitian terpadu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas unsur-unsur kementerian dan lembaga terkait. melakukan pengalihan saham secara bertahap kepada peserta Indonesia. (3) Izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan setelah mendapat rekomendasi dari bupati/wali kota. dan h. f. (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai pengalihan saham dan luasan lahan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) huruf f dan huruf h diatur dengan Peraturan Presiden. e. Ketentuan Pasal 30 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: Pasal 30 (1) Perubahan peruntukan dan fungsi zona inti pada kawasan konservasi untuk eksploitasi ditetapkan oleh Menteri dengan didasarkan pada hasil penelitian terpadu. tokoh masyarakat. 14.(1) Pemanfaatan pulau-pulau kecil dan pemanfaatan perairan di sekitarnya dalam rangka penanaman modal asing harus mendapat izin Menteri.

Kawasan Strategis Nasional Tertentu. (2) Gubernur berwenang memberikan dan mencabut Izin Lokasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat (1) dan Izin Pengelolaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (1) di wilayah Perairan Pesisir dan pulaupulau kecil sesuai dengan kewenangannya. dan Kawasan Konservasi Nasional. . (3) Bupati/wali kota berwenang memberikan dan mencabut Izin Lokasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat (1) dan Izin Pengelolaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (1) di wilayah Perairan Pesisir dan pulau-pulau kecil sesuai dengan kewenangannya. Kawasan Strategis Nasional.pulau kecil lintas provinsi.

melaporkan kepada penegak hukum akibat dugaan pencemaran. k. h. dan . mengajukan laporan dan pengaduan kepada pihak yang berwenang atas kerugian yang menimpa dirinya yang berkaitan dengan pelaksanaan Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. Ketentuan Pasal 60 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: Pasal 60 (1) Dalam Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. dan/atau perusakan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil yang merugikan kehidupannya. e. mengusulkan wilayah Masyarakat Hukum Adat ke dalam RZWP-3-K. melakukan kegiatan pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan PulauPulau Kecil berdasarkan hukum adat yang berlaku dan tidak bertentangan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. menetapkan perubahan status zona inti pada Kawasan Konservasi Nasional. Masyarakat mempunyai hak untuk: a. dan b. 17. i. memperoleh manfaat atas pelaksanaan Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. memperoleh ganti rugi. f. memperoleh informasi berkenaan dengan Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. pencemaran. mengusulkan wilayah penangkapan ikan secara tradisional ke dalam RZWP-3-K. menerbitkan dan mencabut izin pemanfaatan pulau-pulau kecil dan pemanfaatan perairan di sekitarnya yang menimbulkan Dampak Penting dan Cakupan yang Luas serta Bernilai Strategis terhadap perubahan lingkungan.16. mengajukan gugatan kepada pengadilan terhadap berbagai masalah Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil yang merugikan kehidupannya. j. g. (2) Ketentuan mengenai tata cara penerbitan dan pencabutan izin serta perubahan status zona inti sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri. c. menyatakan keberatan terhadap rencana pengelolaan yang sudah diumumkan dalam jangka waktu tertentu. memperoleh akses terhadap bagian Perairan Pesisir yang sudah diberi Izin Lokasi dan Izin Pengelolaan. b. d. Ketentuan Pasal 51 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: Pasal 51 (1) Menteri berwenang: a.

pemberian penghargaan kepada orang yang berjasa di bidang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. 18. pemberian akses teknologi dan informasi. c. permodalan. dan/atau kerusakan lingkungan di Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. pencemaran. dan memelihara kelestarian Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. pemanfaatan dan pengembangan teknologi yang ramah lingkungan. kemitraan antara Masyarakat. pengembangan dan penerapan upaya preventif dan proaktif untuk mencegah penurunan daya dukung dan daya tampung Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. menjaga. b. e. dan aset ekonomi produktif lainnya. mendapat pendampingan dan bantuan hukum terhadap permasalahan yang dihadapi dalam Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. pelaksanaan pengelolaan. pengembangan dan penerapan kebijakan nasional di bidang lingkungan hidup. f. dan/atau e. (3) Dalam upaya Pemberdayaan Masyarakat. melindungi. melaksanakan program Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil yang disepakati di tingkat desa. g. b. jaminan pasar. pengambilan keputusan. dunia usaha. menyampaikan laporan terjadinya bahaya. (2) Masyarakat dalam Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil berkewajiban: a. dan meningkatkan kesadaran dan tanggung jawab dalam: a. dan h. memantau pelaksanaan rencana Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. d. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai pedoman Pemberdayaan Masyarakat diatur dengan Peraturan Menteri. Ketentuan ayat (2) Pasal 63 diubah sehingga Pasal 63 berbunyi sebagai berikut: Pasal 63 (1) Pemerintah dan Pemerintah Daerah berkewajiban memberdayakan Masyarakat dalam meningkatkan kesejahteraannya.dan Pemerintah/ Pemerintah Daerah. Pemerintah dan Pemerintah Daerah mewujudkan. penyediaan dan penyebarluasan informasi lingkungan.l. memberikan informasi berkenaan dengan Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. c. d. menumbuhkan. infrastruktur. . (2) Pemerintah dan Pemerintah Daerah berkewajiban mendorong kegiatan usaha Masyarakat melalui peningkatan kapasitas.

pembekuan sementara. (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (4) diatur dalam Peraturan Pemerintah. penutupan lokasi. dan/atau pencabutan Izin Lokasi. 20. dan/atau f. Ketentuan Pasal 71 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: Pasal 71 (1) Pemanfaatan ruang dari sebagian Perairan Pesisir dan pemanfaatan sebagian pulau-pulau kecil yang tidak sesuai dengan Izin Lokasi yang diberikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat (1) dikenai sanksi administratif.000. (2) Sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa peringatan. d.000. Di antara Pasal 75 dan Pasal 76 disisipkan 1 (satu) pasal. b. c. penghentian sementara kegiatan.000. yakni Pasal 78A dan Pasal 78B sehingga berbunyi sebagai berikut: Pasal 78A . (4) Sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat berupa: a. 22. (3) Pemanfaatan sumber daya Perairan Pesisir dan perairan pulau-pulau kecil yang tidak sesuai dengan Izin Pengelolaan yang diberikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (1) dikenai sanksi administratif. Di antara Pasal 78 dan Pasal 79 disisipkan 2 (dua) pasal. denda administratif.00 (dua miliar rupiah). pembatalan izin. yakni Pasal 75A sehingga berbunyi sebagai berikut: Pasal 75A Setiap Orang yang memanfaatkan sumber daya Perairan Pesisir dan perairan pulau-pulau kecil yang tidak memiliki Izin Pengelolaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun dan denda paling banyak Rp2.000. peringatan tertulis. e. pencabutan izin. Ketentuan Pasal 75 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: Pasal 75 Setiap Orang yang memanfaatkan ruang dari sebagian Perairan Pesisir dan pemanfaatan sebagian pulau-pulau kecil yang tidak memiliki Izin Lokasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp500.00 (lima ratus juta rupiah).000.19. 21.

Pasal II Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO Diundangkan di Jakarta pada tanggal 15 Januari 2014 MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA. ttd. DR. Disahkan di Jakarta pada tanggal 15 Januari 2014 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. H. izin untuk memanfaatkan sumber daya Perairan Pesisir dan perairan pulau-pulau kecil yang telah ada tetap berlaku dan wajib menyesuaikan dengan Undang-Undang ini dalam jangka waktu paling lambat 3 (tiga) tahun. Agar setiap orang mengetahuinya. AMIR SYAMSUDIN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2014 NOMOR 2 . memerintahkan pengundangan UndangUndang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. Pasal 78B Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku.Kawasan konservasi di Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil yang telah ditetapkan melalui peraturan perundang-undangan sebelum Undang-Undang ini berlaku adalah menjadi kewenangan Menteri. ttd.

PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 27 TAHUN 2007 TENTANG PENGELOLAAN WILAYAH PESISIR DAN PULAU-PULAU KECIL I. Keberadaan Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil sangat strategis untuk mewujudkan keberlanjutan pengelolaan sumber daya wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil serta meningkatkan kesejahteraan Masyarakat yang bermukim di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil. . Pemberian izin kepada pihak lain tersebut tidak mengurangi wewenang negara untuk membuat kebijakan (beleid). Mekanisme HP-3 mengurangi hak penguasaan negara atas Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil sehingga ketentuan mengenai HP-3 oleh Mahkamah Konstitusi melalui Putusan Nomor 3/PUU-VIII/2010 dinyatakan bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat. Dengan demikian. melakukan pengelolaan (beheersdaad). dalam pelaksanaannya Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil belum memberikan hasil yang optimal. Namun. Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil selama ini belum memberikan kewenangan dan tanggung jawab negara secara memadai atas pengelolaan Perairan Pesisir dan pulau-pulau kecil melalui mekanisme pemberian Hak Pengusahaan Perairan Pesisir (HP-3). Oleh karena itu. negara bertanggung jawab atas Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil dalam bentuk penguasaan kepada pihak lain (perseorangan atau swasta) melalui mekanisme perizinan. melakukan pengaturan (regelendaad). negara tetap menguasai dan mengawasi secara utuh seluruh Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. dan melakukan pengawasan (toezichthoudensdaad). melakukan pengurusan (bestuursdaad). dalam rangka optimalisasi Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. UMUM Pancasila dan Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 mengamanatkan negara mempunyai tanggung jawab untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan memajukan kesejahteraan umum serta mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. termasuk Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. Tanggung jawab negara dalam melindungi rakyat Indonesia dilakukan dengan penguasaan sumber daya alam yang dimiliki oleh negara.

dan saran perbaikan yang diterima dari pihak penanggap. serta pemberian kewenangan kepada Menteri.Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil juga dilakukan dengan tetap mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan Masyarakat Hukum Adat serta hak-hak tradisionalnya sesuai dengan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia. dan perbaikan dari berbagai pemangku kepentingan utama. Berdasarkan pertimbangan tersebut. pengaturan pemanfaatan pulau-pulau kecil dan perairan di sekitarnya. dan pemerintah kabupaten/kota di wilayahnya disampaikan secara efektif melalui jalur komunikasi yang tersedia. dan bupati/wali kota dalam Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. Angka 2 Pasal 14 Ayat (1) Cukup jelas. dan Masyarakat Tradisional yang melakukan pemanfaatan sumber daya wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil. serta mengakui dan menghormati Masyarakat Lokal dan Masyarakat Tradisional yang bermukim di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil. Ayat (4) Cukup jelas. Ayat (5) Pemerintah provinsi wajib melakukan perbaikan serta memublikasikan dokumen final perencanaan Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil berdasarkan masukan. tanggapan. instansi Pemerintah. Ayat (6) Cukup jelas. diperlukan perubahan terhadap UndangUndang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan PulauPulau Kecil sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan hukum di masyarakat. saran. pemerintah provinsi. . PASAL DEMI PASAL Pasal I Angka 1 Pasal 1 Cukup jelas. pengaturan mengenai Izin Lokasi dan Izin Pengelolaan kepada Setiap Orang dan Masyarakat Hukum Adat. Rencana Zonasi. II. Secara umum undang-undang ini mencakup pemberian hak kepada masyarakat untuk mengusulkan penyusunan Rencana Strategis. tanggapan. Ayat (3) Masukan. gubernur. Rencana Pengelolaan. Ayat (2) Cukup jelas. serta Rencana Aksi Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. Masyarakat Lokal.

memiliki daerah penangkapan ikan yang tetap. budaya. Angka 10 . sosial. untuk kepentingan keagamaan. dilakukan secara turun temurun. Angka 8 Pasal 20 Ayat (1) Yang dimaksud dengan "memfasilitasi". Angka 7 Pasal 19 Cukup jelas. Angka 4 Pasal 16 Cukup jelas. Angka 5 Pasal 17 Ayat (1) Cukup jelas. Angka 9 Pasal 21 Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. Angka 6 Pasal 18 Cukup jelas.Ayat (7) Dalam hal dokumen final perencanaan Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil tidak mendapat tanggapan dan/atau saran sampai batas waktu yang ditentukan oleh Undang-Undang ini. olah raga. Ayat (2) Cukup jelas. dapat berupa kemudahan persyaratan dan pelayanan cepat. Ayat (2) Yang dimaksud dengan "nelayan tradisional" adalah nelayan yang menggunakan kapal tanpa mesin. Pantai umum merupakan bagian dari kawasan pemanfaatan umum yang telah dipergunakan oleh Masyarakat. dan ekonomi. dokumen tersebut dianggap final. rekreasi pariwisata. antara lain. antara lain. dan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Angka 3 Cukup jelas. Ayat (4) Kawasan pelabuhan meliputi daerah lingkungan kepentingan pelabuhan dan daerah lingkungan kerja pelabuhan.

b. d. c. Pasal 22B Cukup jelas. dan e. badan usaha milik daerah. badan usaha milik negara. usaha mikro. Angka 13 Pasal 26A Ayat (1) Cukup jelas. antara lain: a. akses Masyarakat menuju pantai dalam menikmati keindahan alam. Angka 11 Pasal 22A Cukup jelas. Huruf e Peserta Indonesia.Pasal 22 Cukup jelas. Pemerintah Daerah Provinsi. Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 22C Cukup jelas. Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota. akses Masyarakat untuk kegiatan keagamaan dan adat di pantai. antara lain. Pemerintah. Angka 12 Pasal 23 Cukup jelas. Huruf b Yang dimaksud dengan "akses publik" adalah jalan masuk yang berupa kemudahan. . akses nelayan dan pembudi daya ikan dalam kegiatan perikanan. Huruf c Cukup jelas. Huruf d Cukup jelas. termasuk akses untuk mendapatkan air minum atau air bersih. akses pelayaran rakyat. Ayat (4) Huruf a Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. akses Masyarakat memanfaatkan sempadan pantai dalam menghadapi Bencana Pesisir.

Ayat (2) Cukup jelas. Huruf f Cukup jelas. Huruf h Yang dimaksud dengan "aspek ekologi" adalah aspek-aspek yang mempengaruhi kelestarian lingkungan/ekosistem di pulau-pulau kecil. Ayat (4) Cukup jelas.kecil. Ayat (5) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Yang dimaksud dengan "aspek ekonomi" adalah aspek-aspek yang mempengaruhi kelayakan bisnis/investasi dan tingkat kesejahteraan Masyarakat di pulau-pulau kecil. Huruf g Cukup jelas. dan koperasi serta badan usaha swasta nasional. Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. Yang dimaksud dengan "aspek sosial" adalah aspek-aspek yang mempengaruhi kehidupan (sistem sosial budaya) Masyarakat di pulau-pulau kecil. Angka 16 Pasal 51 Cukup jelas. Angka 17 Pasal 60 Ayat (1) . Angka 15 Pasal 50 Ayat (1) Yang dimaksud dengan "kawasan konservasi nasional" adalah Kawasan Konservasi di Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil yang pengelolaannya dilakukan oleh Pemerintah. menengah. Angka 14 Pasal 30 Ayat (1) Penelitian terpadu dilaksanakan untuk menjamin objektivitas dan kualitas hasil penelitian.

Huruf j Cukup jelas. Huruf c Cukup jelas. Angka 18 Pasal 63 Cukup jelas. Huruf f Cukup jelas. Huruf e Cukup jelas. Huruf b Yang dimaksud dengan "wilayah penangkapan ikan secara tradisional" adalah wilayah penangkapan ikan untuk kegiatan penangkapan ikan yang dilakukan oleh nelayan tradisional. Angka 20 Pasal 75 Cukup jelas. Huruf h Cukup jelas. Angka 21 Pasal 75A Cukup jelas. Angka 19 Pasal 71 Cukup jelas. Huruf l Cukup jelas. . Huruf i Cukup jelas. Huruf g Cukup jelas. Angka 22 Pasal 78A Yang dimaksud dengan "kawasan konservasi di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil" termasuk Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam yang berada di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil. Huruf k Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Huruf d Cukup jelas.Huruf a Cukup jelas.

c. e. Taman Nasional (Laut) Kepulauan Seribu. f. Taman Nasional (Laut) Taka Bonerate. Taman Nasional Kepulauan Togean. Pasal II Cukup jelas. Taman Nasional Teluk Cenderawasih. b. Taman Nasional (Laut) Kepulauan Wakatobi. d. Suaka Alam Laut. Suaka Margasatwa Laut.dalam bentuk Taman Nasional/Taman Nasional Laut. antara lain: a. dan g. Taman Wisata Laut. Taman Nasional Kepulauan Karimunjawa. TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5490 . Pasal 78B Cukup jelas. dan Cagar Alam Laut. Taman Nasional (Laut) Bunaken.

Menimbang : a. Mengingat : Pasal 1. potensi dan keanekaragaman daerah. huruf b. bahwa sesuai dengan Pasal 18 ayat (7) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 susunan dan tata cara penyelenggaraan pemerintahan daerah diatur dalam Undang-Undang. dan huruf d perlu membentuk Undang-Undang tentang Pemerintahan Daerah. bahwa Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah tidak sesuai lagi dengan perkembangan keadaan. pemerataan. dan kekhasan suatu daerah dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pasal 5 ayat (1). d. Pasal 4. Pasal 20. e. Pasal 18B. Pasal 22D ayat . c. Pasal 18. b. ketatanegaraan. Pasal 18A. Pasal 17 ayat (1) dan ayat (3). dan peran serta masyarakat. bahwa penyelenggaraan pemerintahan daerah diarahkan untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan pelayanan. pemberdayaan. serta peningkatan daya saing daerah dengan memperhatikan prinsip demokrasi. serta peluang dan tantangan persaingan global dalam kesatuan sistem penyelenggaraan pemerintahan negara. dan tuntutan penyelenggaraan pemerintahan daerah sehingga perlu diganti.UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2014 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a. keadilan. huruf c. bahwa efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan pemerintahan daerah perlu ditingkatkan dengan lebih memperhatikan aspek-aspek hubungan antara Pemerintah Pusat dengan daerah dan antardaerah.

(2). Pemerintah Pusat adalah Presiden Republik Indonesia yang memegang kekuasaan pemerintahan negara Republik Indonesia yang dibantu oleh Wakil Presiden dan menteri sebagaimana dimaksud dalam UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. wewenang. dan menyejahterakan masyarakat. melayani. Pemerintah Daerah adalah kepala daerah sebagai unsur penyelenggara Pemerintahan Daerah yang memimpin pelaksanaan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah otonom. Asas Otonomi adalah prinsip dasar penyelenggaraan Pemerintahan Daerah berdasarkan Otonomi Daerah. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah yang selanjutnya disingkat DPRD adalah lembaga perwakilan rakyat daerah yang berkedudukan sebagai unsur penyelenggara Pemerintahan Daerah. 9. 7. Urusan Pemerintahan adalah kekuasaan pemerintahan yang menjadi kewenangan Presiden yang pelaksanaannya dilakukan oleh kementerian negara dan penyelenggara Pemerintahan Daerah untuk melindungi. 6. memberdayakan. Otonomi Daerah adalah hak. 2. kepada instansi vertikal di wilayah tertentu. 8. Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA dan PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN: Menetapkan : UNDANG-UNDANG TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan: 1. dan Pasal 23E ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Desentralisasi adalah penyerahan Urusan Pemerintahan oleh Pemerintah Pusat kepada daerah otonom berdasarkan Asas Otonomi. dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri Urusan Pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia. dan/atau . Pemerintahan Daerah adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh pemerintah daerah dan dewan perwakilan rakyat daerah menurut asas otonomi dan tugas pembantuan dengan prinsip otonomi seluas-luasnya dalam sistem dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Dekonsentrasi adalah pelimpahan sebagian Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan Pemerintah Pusat kepada gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat. 4. 3. 5.

Daerah Provinsi yang Berciri Kepulauan adalah Daerah provinsi yang memiliki karakteristik secara geografis dengan wilayah lautan lebih luas dari daratan yang di dalamnya terdapat pulau-pulau yang membentuk gugusan pulau sehingga menjadi satu kesatuan geografis dan sosial budaya. 15.10. Forum Koordinasi Pimpinan di Daerah yang selanjutnya disebut Forkopimda adalah forum yang digunakan untuk membahas penyelenggaraan urusan pemerintahan umum. 17. 22. Urusan Pemerintahan Wajib adalah Urusan Pemerintahan yang wajib diselenggarakan oleh semua Daerah. Cakupan Wilayah adalah Daerah kabupaten/kota yang akan menjadi Cakupan Wilayah Daerah provinsi atau kecamatan yang akan menjadi Cakupan Wilayah Daerah kabupaten/kota. 19. kepada gubernur dan bupati/wali kota sebagai penanggung jawab urusan pemerintahan umum. 18. 21. Instansi Vertikal adalah perangkat kementerian dan/atau lembaga pemerintah nonkementerian yang mengurus Urusan Pemerintahan yang tidak diserahkan kepada daerah otonom dalam wilayah tertentu dalam rangka Dekonsentrasi. Standar Pelayanan Minimal adalah ketentuan mengenai jenis dan mutu Pelayanan Dasar yang merupakan Urusan Pemerintahan Wajib yang berhak diperoleh setiap warga negara secara minimal. Tugas Pembantuan adalah penugasan dari Pemerintah Pusat kepada daerah otonom untuk melaksanakan sebagian Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan Pemerintah Pusat atau dari Pemerintah Daerah provinsi kepada Daerah kabupaten/kota untuk melaksanakan sebagian Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan Daerah provinsi. Pelayanan Dasar adalah pelayanan publik untuk memenuhi kebutuhan dasar warga negara. 14. 20. Pembentukan Daerah adalah penetapan status Daerah pada wilayah tertentu. 12. Wilayah Administratif adalah wilayah kerja perangkat Pemerintah Pusat termasuk gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat untuk menyelenggarakan Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan Pemerintah Pusat di Daerah dan wilayah kerja gubernur dan bupati/wali kota dalam melaksanakan urusan pemerintahan umum di Daerah. 11. 16. Daerah Otonom yang selanjutnya disebut Daerah adalah kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas-batas wilayah yang berwenang mengatur dan mengurus Urusan Pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia. 13. . Urusan Pemerintahan Pilihan adalah Urusan Pemerintahan yang wajib diselenggarakan oleh Daerah sesuai dengan potensi yang dimiliki Daerah. 22. Daerah Persiapan adalah bagian dari satu atau lebih Daerah yang bersanding yang dipersiapkan untuk dibentuk menjadi Daerah baru.

Hubungan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah adalah suatu sistem pembagian keuangan yang adil. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah yang selanjutnya disingkat RPJMD adalah dokumen perencanaan Daerah untuk periode 5(lima) tahun. 33. Belanja Daerah adalah semua kewajiban Daerah yang diakui sebagai pengurang nilai kekayaan bersih dalam periode tahun anggaran yang bersangkutan. baik pada tahun anggaran yang bersangkutan maupun pada tahun-tahun anggaran berikutnya. Peraturan Kepala Daerah yang selanjutnya disebut Perkada adalah peraturan gubernur dan peraturan bupati/wali kota. Rencana Pembangunan Tahunan Daerah yang selanjutnya disebut Rencana Kerja Pemerintah Daerah yang selanjutnya disingkat RKPD adalah dokumen perencanaan Daerah untuk periode 1(satu) tahun. demokratis. 37. proporsional. 34. 28. dan pembiayaan serta asumsi yang mendasarinya untuk periode 1(satu) tahun. transparan. 25. 35. Pembiayaan adalah setiap penerimaan yang perlu dibayar kembali dan/atau pengeluaran yang akan diterima kembali. Kecamatan atau yang disebut dengan nama lain adalah bagian wilayah dari Daerah kabupaten/kota yang dipimpin oleh camat.23. 36. 27. Kebijakan Umum APBD yang selanjutnya disingkat KUA adalah dokumen yang memuat kebijakan bidang pendapatan. 32. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang selanjutnya disingkat APBN adalah rencana keuangan tahunan Pemerintah Pusat yang ditetapkan dengan undang-undang. . 30. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah yang selanjutnya disingkat APBD adalah rencana keuangan tahunan Daerah yang ditetapkan dengan Perda. 29. Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara yang selanjutnya disingkat PPAS adalah program prioritas dan patokan batas maksimal anggaran yang diberikan kepada Perangkat Daerah untuk setiap program sebagai acuan dalam penyusunan rencana kerja dan anggaran satuan kerja Perangkat Daerah. 24. 26. dan bertanggung jawab. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah yang selanjutnya disingkat RPJPD adalah dokumen perencanaan Daerah untuk periode 20(dua puluh) tahun. Perangkat Daerah adalah unsur pembantu kepala daerah dan DPRD dalam penyelenggaraan Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan Daerah. belanja. Peraturan Daerah yang selanjutnya disebut Perda atau yang disebut dengan nama lain adalah Perda Provinsi dan Perda Kabupaten/Kota. 31. Pendapatan Daerah adalah semua hak Daerah yang diakui sebagai penambah nilai kekayaan bersih dalam periode tahun anggaran yang bersangkutan.

Hari adalah hari kerja. . dan/atau hak tradisional yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kawasan Khusus adalah bagian wilayah dalam Daerah provinsi dan/atau Daerah kabupaten/kota yang ditetapkan oleh Pemerintah Pusat untuk menyelenggarakan fungsi pemerintahan yang bersifat khusus bagi kepentingan nasional yang diatur dalam ketentuan peraturan perundangundangan. Barang Milik Daerah adalah semua barang yang dibeli atau diperoleh atas beban APBD atau berasal dari perolehan lainnya yang sah. dan kepentingannya dalam penyelenggaraan Pemerintahan Daerah. Kementerian adalah kementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan dalam negeri. 40. 50. 41. Aparat Pengawas Internal Pemerintah adalah inspektorat jenderal kementerian. kepentingan masyarakat setempat berdasarkan prakarsa masyarakat. Pinjaman Daerah adalah semua transaksi yang mengakibatkan Daerah menerima sejumlah uang atau menerima manfaat yang bernilai uang dari pihak lain sehingga Daerah tersebut dibebani kewajiban untuk membayar kembali. hak asal usul. inspektorat provinsi. Dana Alokasi Umum yang selanjutnya disingkat DAU adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan dengan tujuan pemerataan kemampuan keuangan antar-Daerah untuk mendanai kebutuhan Daerah dalam rangka pelaksanaan Desentralisasi. 42. Menteri adalah menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan dalam negeri.38. pemikiran. adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus Urusan Pemerintahan. 46. 49. 45. 48. selanjutnya disebut Desa. 39. Badan Usaha Milik Daerah yang selanjutnya disingkat BUMD adalah badan usaha yang seluruh atau sebagian besar modalnya dimiliki oleh Daerah. unit pengawasan lembaga pemerintah nonkementerian. 44. dan inspektorat kabupaten/kota. Dana Bagi Hasil yang selanjutnya disingkat DBH adalah dana yang bersumber dari pendapatan tertentu APBN yang dialokasikan kepada Daerah penghasil berdasarkan angka persentase tertentu dengan tujuan mengurangi ketimpangan kemampuan keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah. Dana Alokasi Khusus yang selanjutnya disingkat DAK adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada Daerah tertentu dengan tujuan untuk membantu mendanai kegiatan khusus yang merupakan Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan Daerah. 43. 47. Partisipasi Masyarakat adalah peran serta warga masyarakat untuk menyalurkan aspirasi. Desa adalah desa dan desa adat atau yang disebut dengan nama lain.

Pasal 3 (1) Daerah provinsi dan kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) merupakan Daerah dan masing-masing mempunyai Pemerintahan Daerah.BAB II PEMBAGIAN WILAYAH NEGARA Pasal 2 (1) Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas Daerah provinsi dan Daerah provinsi itu dibagi atas Daerah kabupaten dan kota. Presiden dibantu oleh menteri yang menyelenggarakan Urusan Pemerintahan tertentu. Penyelenggaraan Urusan Pemerintahan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) di Daerah dilaksanakan berdasarkan asas Desentralisasi. Kekuasaan Pemerintahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diuraikan dalam berbagai Urusan Pemerintahan. Pasal 4 (1) Daerah provinsi selain berstatus sebagai Daerah juga merupakan Wilayah Administratif yang menjadi wilayah kerja bagi gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat dan wilayah kerja bagi gubernur dalam menyelenggarakan urusan pemerintahan umum di wilayah Daerah provinsi. Pasal 6 Pemerintah Pusat menetapkan kebijakan menyelenggarakan Urusan Pemerintahan. . Dekonsentrasi. (2) Daerah kabupaten/kota selain berstatus sebagai Daerah juga merupakan Wilayah Administratif yang menjadi wilayah kerja bagi bupati/wali kota dalam menyelenggarakan urusan pemerintahan umum di wilayah Daerah kabupaten/kota. Dalam menyelenggarakan Urusan Pemerintahan sebagaimana dimaksud pada ayat (2). dan Tugas Pembantuan. (2) Daerah kabupaten/kota dibagi atas Kecamatan dan Kecamatan dibagi atas kelurahan dan/atau Desa. sebagai dasar dalam Pasal 7 (1) Pemerintah Pusat melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap penyelenggaraan Urusan Pemerintahan oleh Daerah. (1) (2) (3) (4) BAB III KEKUASAAN PEMERINTAHAN Pasal 5 Presiden Republik Indonesia memegang kekuasaan pemerintahan sesuai dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. (2) Daerah provinsi dan kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibentuk dengan undang-undang.

politik luar negeri. (1) (2) (3) (4) (5) BAB IV URUSAN PEMERINTAHAN Bagian Kesatu Klasifikasi Urusan Pemerintahan Pasal 9 Urusan Pemerintahan terdiri atas urusan pemerintahan absolut. Urusan pemerintahan konkuren sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah Urusan Pemerintahan yang dibagi antara Pemerintah Pusat dan Daerah provinsi dan Daerah kabupaten/kota. urusan pemerintahan konkuren. d. yustisi. Urusan pemerintahan konkuren yang diserahkan ke Daerah menjadi dasar pelaksanaan Otonomi Daerah. dan f. b. keamanan. moneter dan fiskal nasional. Urusan pemerintahan umum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan Presiden sebagai kepala pemerintahan. c. Bagian Kedua Urusan Pemerintahan Absolut Pasal 10 (1) Urusan pemerintahan absolut sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (2) meliputi: a. (3) Pembinaan dan pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) secara nasional dikoordinasikan oleh Menteri. pertahanan. e. (2) Pembinaan dan pengawasan oleh Pemerintah Pusat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1) terhadap penyelenggaraan Urusan Pemerintahan oleh Daerah kabupaten/kota dilaksanakan oleh gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat. agama. Urusan pemerintahan absolut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah Urusan Pemerintahan yang sepenuhnya menjadi kewenangan Pemerintah Pusat.(2) Presiden memegang tanggung jawab akhir atas penyelenggaraan Urusan Pemerintahan yang dilaksanakan oleh Pemerintah Pusat dan Daerah. dan urusan pemerintahan umum. . Pasal 8 (1) Pembinaan dan pengawasan oleh Pemerintah Pusat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1) terhadap penyelenggaraan Urusan Pemerintahan oleh Daerah provinsi dilaksanakan oleh menteri/kepala lembaga pemerintah nonkementerian.

perhubungan. (2) Urusan Pemerintahan Wajib yang tidak berkaitan dengan Pelayanan Dasar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (2) meliputi: a. pemberdayaan perempuan dan pelindungan anak. sosial. penanaman modal. d. pendidikan. perumahan rakyat dan kawasan permukiman. lingkungan hidup.(2) Dalam menyelenggarakan urusan pemerintahan absolut sebagaimana dimaksud pada ayat (1). e. pemberdayaan masyarakat dan Desa. k. ketertiban umum. i. f. . dan pelindungan masyarakat. kepemudaan dan olah raga. l. c. (3) Urusan Pemerintahan Wajib yang berkaitan dengan Pelayanan Dasar sebagaimana dimaksud pada ayat (2) adalah Urusan Pemerintahan Wajib yang sebagian substansinya merupakan Pelayanan Dasar. pekerjaan umum dan penataan ruang. pangan. b. g. pengendalian penduduk dan keluarga berencana. usaha kecil. m. statistik. atau b. dan menengah. melaksanakan sendiri. melimpahkan wewenang kepada Instansi Vertikal yang ada di Daerah atau gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat berdasarkan asas Dekonsentrasi. Pemerintah Pusat: a. e. administrasi kependudukan dan pencatatan sipil. Bagian Ketiga Urusan Pemerintahan Konkuren Pasal 11 (1) Urusan pemerintahan konkuren sebagaimana di maksud dalam Pasal 9 ayat (3) yang menjadi kewenangan Daerah terdiri atas Urusan Pemerintahan Wajib dan Urusan Pemerintahan Pilihan. d. tenaga kerja. ketenteraman. koperasi. n. Pasal 12 (1) Urusan Pemerintahan Wajib yang berkaitan dengan Pelayanan Dasar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (2) meliputi: a. j. pertanahan. komunikasi dan informatika. b. (2) Urusan Pemerintahan Wajib sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas Urusan Pemerintahan yang berkaitan dengan Pelayanan Dasar dan Urusan Pemerintahan yang tidak berkaitan dengan Pelayanan Dasar. kesehatan. h. dan f. c.

d. d. (3) Urusan Pemerintahan Pilihan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (1) meliputi: a. persandian. f. dan/atau d. q. kearsipan. b. efisiensi. kelautan dan perikanan. Urusan Pemerintahan yang manfaat atau dampak negatifnya lintas Daerah kabupaten/kota. dan eksternalitas. dan h. perdagangan. perpustakaan. g. dan r. Pasal 13 (1) Pembagian urusan pemerintahan konkuren antara Pemerintah Pusat dan Daerah provinsi serta Daerah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (3) didasarkan pada prinsip akuntabilitas. (2) Berdasarkan prinsip sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kriteria Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan Pemerintah Pusat adalah: a. kebudayaan. energi dan sumber daya mineral. serta kepentingan strategis nasional. dan/atau e. c. c. b. Urusan Pemerintahan yang peranannya strategis bagi kepentingan nasional. Urusan Pemerintahan yang lokasinya lintas Daerah kabupaten/kota. Urusan Pemerintahan yang lokasinya lintas Daerah provinsi atau lintas negara. b. . p. pertanian. Urusan Pemerintahan yang lokasinya dalam Daerah kabupaten/kota. Urusan Pemerintahan yang manfaat atau dampak negatifnya lintas Daerah provinsi atau lintas negara. Urusan Pemerintahan yang penggunaan sumber dayanya lebih efisien apabila dilakukan oleh Pemerintah Pusat. Urusan Pemerintahan yang penggunaan sumber dayanya lebih efisien apabila dilakukan oleh Daerah Provinsi. kehutanan. transmigrasi. (3) Berdasarkan prinsip sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kriteria Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan Daerah provinsi adalah: a. c. Urusan Pemerintahan yang penggunanya lintas Daerah provinsi atau lintas negara. perindustrian. e. (4) Berdasarkan prinsip sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kriteria Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan Daerah kabupaten/kota adalah: a. Urusan Pemerintahan yang penggunanya lintas Daerah kabupaten/kota.o. pariwisata.

(7) Dalam hal batas wilayah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (6) kurang dari 4(empat) mil. (2) Urusan pemerintahan konkuren yang tidak tercantum dalam Lampiran Undang-Undang ini menjadi kewenangan tiap tingkatan atau susunan pemerintahan yang penentuannya menggunakan prinsip dan kriteria pembagian urusan pemerintahan konkuren sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13. kelautan. Urusan Pemerintahan yang manfaat atau dampak negatifnya hanya dalam Daerah kabupaten/kota. Pasal 14 (1) Penyelenggaraan Urusan Pemerintahan bidang kehutanan. dan/atau Urusan Pemerintahan yang penggunaan sumber dayanya lebih efisien apabila dilakukan oleh Daerah kabupaten/kota. (3) Urusan pemerintahan konkuren sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan dengan peraturan presiden. batas wilayahnya dibagi sama jarak atau diukur sesuai dengan prinsip garis tengah dari Daerah yang berbatasan. Urusan Pemerintahan yang penggunanya dalam Daerah kabupaten/kota. (3) Urusan Pemerintahan bidang energi dan sumber daya mineral sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang berkaitan dengan pengelolaan minyak dan gas bumi menjadi kewenangan Pemerintah Pusat. Pasal 15 (1) Pembagian urusan pemerintahan konkuren antara Pemerintah Pusat dan Daerah provinsi serta Daerah kabupaten/kota tercantum dalam Lampiran yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Undang-Undang ini. serta energi dan sumber daya mineral dibagi antara Pemerintah Pusat dan Daerah provinsi. (4) Urusan Pemerintahan bidang energi dan sumber daya mineral sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang berkaitan dengan pemanfaatan langsung panas bumi dalam Daerahkabupaten/kota menjadi kewenangan Daerah kabupaten/kota. (2) Urusan Pemerintahan bidang kehutanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang berkaitan dengan pengelolaan taman hutan raya kabupaten/kota menjadi kewenangan Daerah kabupaten/kota. c. .b. (5) Daerah kabupaten/kota penghasil dan bukan penghasil mendapatkan bagi hasil dari penyelenggaraan Urusan Pemerintahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (6) Penentuan Daerah kabupaten/kota penghasil untuk penghitungan bagi hasil kelautan adalah hasil kelautan yang berada dalam batas wilayah 4(empat) mil diukur dari garis pantai ke arah laut lepas dan/atau ke arah perairan kepulauan. d.

standar. . standar. (4) Apabila dalam jangka waktu 2(dua) tahun sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat (5) Pemerintah Pusat belum menetapkannorma. dan kriteria sebagaimana dimaksud pada ayat (2). prosedur. menetapkan norma. dan kriteria sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a berupa ketentuan peraturan perundang-undangan yang ditetapkan oleh Pemerintah Pusat sebagai pedoman dalam penyelenggaraan urusan pemerintahan konkuren yang menjadi kewenangan Pemerintah Pusat dan yang menjadi kewenangan Daerah. Pasal 17 (1) Daerah berhak menetapkan kebijakan Daerah untuk menyelenggarakan Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan Daerah. standar. wajib berpedoman pada norma. (3) Kewenangan Pemerintah Pusat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan oleh kementerian dan lembaga pemerintah nonkementerian. (2) Daerah dalam menetapkan kebijakan Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1).(4) Perubahan terhadap pembagian urusan pemerintahan konkuren antara Pemerintah Pusat dan Daerah provinsi dan Daerah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang tidak berakibat terhadap pengalihan urusan pemerintahan konkuren pada tingkatan atau susunan pemerintahan yang lain ditetapkan dengan peraturan pemerintah. prosedur. Pasal 16 (1) Pemerintah Pusat dalam menyelenggarakan urusan pemerintahan konkuren sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (3) berwenang untuk: a. dan b. PemerintahPusat membatalkan kebijakan Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (3) Dalam hal kebijakan Daerah yang dibuat dalam rangka penyelenggaraanUrusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan Daerah tidak mempedomani norma. standar. (2) Norma. (4) Pelaksanaan kewenangan yang dilakukan oleh lembaga pemerintah nonkementerian sebagaimana dimaksud pada ayat (3) harus dikoordinasikan dengan kementerian terkait. dan kriteria sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dilakukan paling lama 2 (dua) tahun terhitung sejak peraturan pemerintah mengenai pelaksanaan urusan pemerintahan konkuren diundangkan. prosedur. (5) Perubahan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dapat dilakukan sepanjang tidak bertentangan dengan prinsip dan kriteria pembagian urusan pemerintahan konkuren sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13. prosedur. (5) Penetapan norma. dan kriteria yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Pusat. dan kriteria dalam rangka penyelenggaraan Urusan Pemerintahan. melaksanakan pembinaan dan pengawasan terhadap penyelenggaraan Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan Daerah. prosedur. standar. standar.

(3) Pembentukan Instansi Vertikal untuk melaksanakan urusan pemerintahan absolut dan pembentukan Instansi Vertikal oleh kementerian yang nomenklaturnya secara tegas disebutkan dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 tidak memerlukan persetujuan dari gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat sebagaimana dimaksud pada ayat (2). (2) Instansi Vertikal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dibentuk setelah mendapat persetujuan dari gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai standar pelayanan minimal diatur dengan peraturan pemerintah. dan kriteria. . (5) Peraturan menteri/kepala lembaga pemerintah nonkementerian sebagaimana dimaksud pada ayat (4) ditetapkan setelah berkoordinasi dengan Menteri. (2) Pelaksanaan Pelayanan Dasar pada Urusan Pemerintahan Wajib yang berkaitan dengan Pelayanan Dasar sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berpedoman pada standar pelayanan minimal yang ditetapkan oleh Pemerintah Pusat. dengan cara melimpahkan kepada gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat atau kepada Instansi Vertikal yang ada di Daerah berdasarkan asas Dekonsentrasi. penyelenggara Pemerintahan Daerah melaksanakan Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan Daerah. (4) Penugasan oleh Pemerintah Pusat kepada Daerah berdasarkan asas Tugas Pembantuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c ditetapkan dengan peraturan menteri/kepala lembaga pemerintah nonkementerian. sendiri oleh Pemerintah Pusat. b. b. dengan cara menugasi Daerah kabupaten/kota berdasarkan asas Tugas Pembantuan. Pasal 18 (1) Penyelenggara Pemerintahan Daerah memprioritaskan pelaksanaan Urusan Pemerintahan Wajib yang berkaitan dengan Pelayanan Dasar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (3). sendiri oleh Daerah provinsi. dengan cara menugasi Desa. Pasal 19 (1) Urusan pemerintahan konkuren yang menjadi kewenangan Pemerintah Pusat diselenggarakan: a. Pasal 20 (1) Urusan pemerintahan konkuren yang menjadi kewenangan Daerah provinsi diselenggarakan: a. atau c. atau c.prosedur. dengan cara menugasi Daerah berdasarkan asas Tugas Pembantuan.

(2) Hasil pemetaan Urusan Pemerintahan Wajib yang tidak berkaitan dengan Pelayanan Dasar dan Urusan Pemerintahan Pilihan sebagaimana . (4) Penugasan oleh Daerah kabupaten/kota kepada Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (3) ditetapkan dengan peraturan bupati/wali kota sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Pasal 23 Ketentuan lebih lanjut mengenai Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan diatur dengan peraturan pemerintah. (3) Anggaran untuk melaksanakan Tugas Pembantuan disediakan oleh yang menugasi. Pasal 22 (1) Daerah berhak menetapkan kebijakan Daerah dalam melaksanakan Tugas Pembantuan.(2) Penugasan oleh Daerah provinsi kepada Daerah kabupaten/kota berdasarkan asas Tugas Pembantuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dan kepada Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c ditetapkan dengan peraturan gubernur sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Pasal 21 Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan urusan pemerintahan konkuren diatur dalam peraturan pemerintah. Pasal 24 (1) Kementerian atau lembaga pemerintah nonkementerian bersama Pemerintah Daerah melakukan pemetaan Urusan Pemerintahan Wajib yang tidak berkaitan dengan Pelayanan Dasar dan Urusan Pemerintahan Pilihan yang diprioritaskan oleh setiap Daerah provinsi dan Daerah kabupaten/kota. (3) Urusan pemerintahan konkuren yang menjadi kewenangan Daerah kabupaten/kota diselenggarakan sendiri oleh Daerah kabupaten/kota atau dapat ditugaskan sebagian pelaksanaannya kepada Desa. (4) Dokumen anggaran untuk melaksanakan Tugas Pembantuan disampaikan oleh kepala daerah penerima Tugas Pembantuan kepada DPRD bersamaan dengan penyampaian rancangan APBD dalam dokumen yang terpisah. (2) Kebijakan Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya terkait dengan pengaturan mengenai pelaksanaan Tugas Pembantuan di Daerahnya. (5) Laporan pelaksanaan anggaran Tugas Pembantuan disampaikan oleh kepala daerah penerima Tugas Pembantuan kepada DPRD bersamaan dengan penyampaian laporan keuangan Pemerintah Daerah dalam dokumen yang terpisah.

pembinaan persatuan dan kesatuan bangsa. Pemetaan Urusan Pemerintahan Pilihan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan untuk menentukan Daerah yang mempunyai Urusan Pemerintahan Pilihan berdasarkan potensi. besarnya APBD. d. pelaksanaan UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.(3) (4) (5) (6) (7) dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan peraturan menteri setelah mendapatkan rekomendasi dari Menteri. Pemetaan Urusan Pemerintahan Wajib yang tidak berkaitan dengan Pelayanan Dasar dan Urusan Pemerintahan Pilihan serta pembinaan kepada Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (6) dikoordinasikan oleh Menteri. ras. dan penganggaran dalam penyelenggaraan Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan Daerah. Bagian Keempat Urusan Pemerintahan Umum Pasal 25 (1) Urusan pemerintahan umum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (5) meliputi: a. c. . dan pemanfaatan lahan. regional. Pemetaan Urusan Pemerintahan Wajib yang tidak berkaitan dengan Pelayanan Dasar dan Urusan Pemerintahan Pilihan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) digunakan oleh kementerian atau lembaga pemerintah nonkementerian sebagai dasar untuk pembinaan kepada Daerah dalam pelaksanaan Urusan Pemerintahan Wajib yang tidak berkaitan dengan Pelayanan Dasar dan Urusan Pemerintahan Pilihan secara nasional. Pemetaan Urusan Pemerintahan Wajib yang tidak berkaitan dengan Pelayanan Dasar dan Urusan Pemerintahan Pilihan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) digunakan oleh Daerah dalam penetapan kelembagaan. dan nasional. pembinaan wawasan kebangsaan dan ketahanan nasional dalam rangka memantapkan pengamalan Pancasila. pelestarian Bhinneka Tunggal Ika serta pemertahanan dan pemeliharaan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. pembinaan kerukunan antarsuku dan intrasuku. Pemetaan Urusan Pemerintahan Wajib yang tidak berkaitan dengan Pelayanan Dasar sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan untuk menentukan intensitas Urusan Pemerintahan Wajib yang tidak berkaitan dengan Pelayanan Dasar berdasarkan jumlah penduduk. proyeksi penyerapan tenaga kerja. perencanaan. b. dan luas wilayah. umat beragama. dan golongan lainnya guna mewujudkan stabilitas kemanan lokal. penanganan konflik sosial sesuai ketentuan peraturan perundangundangan.

dan forum koordinasi pimpinan di Kecamatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diketuai oleh gubernur untuk Daerah provinsi. f. dan forum koordinasi pimpinan di Kecamatan. pimpinan kejaksaan. gubernur bertanggung jawab kepada Presiden melalui Menteri dan bupati/wali kota bertanggung jawab kepada Menteri melalui gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat. oleh bupati/wali kota untuk Daerah kabupaten/kota. potensi serta keanekaragaman Daerah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.(2) (3) (4) (5) (6) (7) e. hak asasi manusia. Gubernur dan bupati/wali kota dalam melaksanakan urusan pemerintahan umum dibiayai dari APBN. Untuk melaksanakan urusan pemerintahan umum sebagaimana dimaksud pada ayat (2). gubernur dan bupati/wali kota dibantu oleh Instansi Vertikal. keistimewaan dan kekhususan. pemerataan. (2)Forkopimda provinsi. Bupati/wali kota dalam melaksanakan urusan pemerintahan umum sebagaimana dimaksud pada ayat (2) pada tingkat Kecamatan melimpahkan pelaksanaannya kepada camat. (4)Anggota forum koordinasi pimpinan di Kecamatan terdiri atas pimpinan kepolisian dan pimpinan kewilayahan Tentara Nasional Indonesia di Kecamatan. Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan urusan pemerintahan umum sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sampai dengan ayat (6) diatur dalam peraturan pemerintah. dan g. pelaksanaan semua Urusan Pemerintahan yang bukan merupakan kewenangan Daerah dan tidak dilaksanakan oleh Instansi Vertikal. pimpinan kepolisian. pengembangan kehidupan demokrasi berdasarkan Pancasila. Forkopimda kabupaten/kota. dan pimpinan satuan teritorial Tentara Nasional Indonesia di Daerah. dan oleh camat untuk Kecamatan. dibentuk Forkopimda provinsi. koordinasi pelaksanaan tugas antarinstansi pemerintahan yang ada di wilayah Daerah provinsi dan Daerah kabupaten/kota untuk menyelesaikan permasalahan yang timbul dengan memperhatikan prinsip demokrasi. Urusan pemerintahan umum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan oleh gubernur dan bupati/wali kota di wilayah kerja masingmasing. keadilan. . Bagian Kelima Forkopimda Pasal 26 (1)Untuk menunjang kelancaran pelaksanaan urusan pemerintahan umum. (3)Anggota Forkopimda provinsi dan Forkopimda kabupaten/kota terdiri atas pimpinan DPRD. Dalam melaksanakan urusan pemerintahan umum. Forkopimda kabupaten/kota.

ikut serta dalam mempertahankan kedaulatan negara. Bagian Kedua Daerah Provinsi yang Berciri Kepulauan Pasal 28 (1)Daerah Provinsi yang Berciri Kepulauan mempunyai kewenangan mengelola sumber daya alam di laut sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27. (5)Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dan ayat (4) tidak berlaku terhadap penangkapan ikan oleh nelayan kecil. BAB V KEWENANGAN DAERAH PROVINSI DI LAUT DAN DAERAH PROVINSI YANG BERCIRI KEPULAUAN Bagian Kesatu Kewenangan Daerah Provinsi di Laut Pasal 27 (1)Daerah provinsi diberi kewenangan untuk mengelola sumber daya alam di laut yang ada di wilayahnya. Forkopimda kabupaten/kota dan forum koordinasi pimpinan di Kecamatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat mengundang pimpinan Instansi Vertikal sesuai dengan masalah yang dibahas. (4)Apabila wilayah laut antardua Daerah provinsi kurang dari 24(dua puluh empat) mil. dan pengelolaan kekayaan laut di luar minyak dan gas bumi.(5)Forkopimda provinsi. d. b. (2)Selain mempunyai kewenangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). eksploitasi. c. (6)Ketentuan lebih lanjut mengenai Forkopimda dan forum koordinasi pimpinan di Kecamatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam peraturan pemerintah. eksplorasi. Daerah Provinsi yang Berciri Kepulauan mendapat penugasan dari Pemerintah Pusat untuk melaksanakan kewenangan Pemerintah Pusat di bidang kelautan berdasarkan asas Tugas Pembantuan. (3)Penugasan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat dilaksanakan setelah Pemerintah Daerah Provinsi yang Berciri Kepulauan memenuhi . dan e. kewenangan untuk mengelola sumber daya alam di laut dibagi sama jarak atau diukur sesuai dengan prinsip garis tengah dari wilayah antardua Daerah provinsi tersebut. konservasi. pengaturan tata ruang. ikut serta dalam memelihara keamanan di laut. (2)Kewenangan Daerah provinsi untuk mengelola sumber daya alam di laut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: a. (3)Kewenangan Daerah provinsi untuk mengelola sumber daya alam di laut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling jauh 12(dua belas) mil laut diukur dari garis pantai ke arah laut lepas dan/atau ke arah perairan kepulauan. pengaturan administratif.

pembangunan sosial budaya. (6)Dalam rangka mendukung percepatan pembangunan di Daerah Provinsi yang Berciri Kepulauan sebagaimana dimaksud pada ayat (5). BAB VI PENATAAN DAERAH Bagian Kesatu Umum Pasal 31 (1)Dalam pelaksanaan Desentralisasi dilakukan penataan Daerah. b. percepatan pembangunan ekonomi. . dan partisipasi masyarakat dalam pembangunan Daerah Provinsi yang Berciri Kepulauan. Pemerintah Pusat dapat mengalokasikan dana percepatan di luar DAU dan DAK sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3). (2)Penataan Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditujukan untuk: a. (2)Penetapan kebijakan DAU sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan cara menghitung luas lautan yang menjadi kewenangan Daerah Provinsi yang Berciri Kepulauan dalam pengelolaan sumber daya alam di wilayah laut. Pemerintah Pusat harus memperhitungkan pengembangan Daerah Provinsi yang Berciri Kepulauan sebagai kegiatan dalam rangka pencapaian prioritas nasional berdasarkan kewilayahan. Daerah Provinsi yang Berciri Kepulauan menyusun strategi percepatan pembangunan Daerah dengan berpedoman pada ketentuan peraturan perundang-undangan. pengembangan sumber daya manusia. Pemerintah Pusat dalam menyusun perencanaan pembangunan dan menetapkan kebijakan DAU dan DAK harus memperhatikan Daerah Provinsi yang Berciri Kepulauan. pembangunan hukum adat terkait pengelolaan laut. mempercepat peningkatan kesejahteraan masyarakat.norma. dan kriteria yang ditetapkan oleh Pemerintah Pusat. prosedur. (3)Dalam menetapkan kebijakan DAK sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 30 Ketentuan lebih lanjut mengenai kewenangan Daerah provinsi di laut sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 dan Daerah Provinsi yang Berciri Kepulauan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 dan Pasal 29 diatur dengan peraturan pemerintah. standar. (4)Berdasarkan alokasi DAU dan DAK sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3). (5)Strategi percepatan pembangunan Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (4) meliputi prioritas pembangunan dan pengelolaan sumber daya alam di laut. Pasal 29 (1)Untuk mendukung penyelenggaraan pemerintahan di Daerah Provinsi yang Berciri Kepulauan. mewujudkan efektivitas penyelenggaraan Pemerintahan Daerah.

dan b. pemekaran Daerah. tradisi.c. dan b. batas wilayah. b. (2)Persyaratan dasar kewilayahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a meliputi: a. meningkatkan kualitas tata kelola pemerintahan. dan budaya Daerah (3)Penataan Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas Pembentukan Daerah dan penyesuaian Daerah. Bagian Kedua Pembentukan Daerah Pasal 32 (1)Pembentukan Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 ayat (3) berupa: a. pemecahan Daerah provinsi atau Daerah kabupaten/kota untuk menjadi dua atau lebih Daerah baru. e. penggabungan bagian Daerah dari Daerah yang bersanding dalam 1 (satu) Daerah provinsi menjadi satu Daerah baru. d. persyaratan dasar kapasitas Daerah. c. meningkatkan daya saing nasional dan daya saing Daerah. (4)Pembentukan Daerah dan penyesuaian Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat dilakukan berdasarkan pertimbangan kepentingan strategis nasional. mempercepat peningkatan kualitas pelayanan publik. dan . atau b. d. (3)Pembentukan Daerah Persiapan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) harus memenuhi persyaratan dasar dan persyaratan administratif. penggabungan Daerah. Paragraf 1 Pemekaran Daerah Pasal 33 (1)Pemekaran Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 ayat (1) huruf a berupa: a. Pasal 34 (1)Persyaratan dasar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33 ayat (3) meliputi: a. memelihara keunikan adat istiadat. luas wilayah minimal. persyaratan dasar kewilayahan. jumlah penduduk minimal. dan f. (2)Pemekaran Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui tahapan Daerah Persiapan provinsi atau Daerah Persiapan kabupaten/kota. (2)Pembentukan Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencakup pembentukan Daerah provinsi dan pembentukan Daerah kabupaten/kota. Cakupan Wilayah.

hidrografi. Pasal 35 (1)Luas wilayah minimal dan jumlah penduduk minimal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 ayat (2) huruf a dan huruf b ditentukan berdasarkan pengelompokan pulau atau kepulauan. Daerah kabupaten/kota. kerawanan bencana. c. demografi. dan g. (6)Batas usia minimal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 ayat (2) huruf e meliputi: a. f. paling sedikit 5(lima) Kecamatan untuk pembentukan Daerah kabupaten. b. e. d. batas usia minimal Daerah provinsi. keamanan. paling sedikit 4 (empat) Kecamatan untuk pembentukan Daerah kota. dan Kecamatan (3)Persyaratan dasar kapasitas Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b adalah kemampuan Daerah untuk berkembang dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat. kemampuan penyelenggaraan pemerintahan. potensi ekonomi . (4)Cakupan Wilayah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 ayat (2) huruf d meliputi: a. (2)Parameter geografi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a meliputi: a. b. geografi. batas usia minimal Daerah provinsi 10 (sepuluh) tahun dan Daerah kabupaten/kota 7(tujuh) tahun terhitung sejak pembentukan. dan tradisi. (3)Batas wilayah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 ayat (2) huruf c dibuktikan dengan titik koordinat pada peta dasar.e. dan b. dan c. batas usia minimal Kecamatan yang menjadi Cakupan Wilayah Daerah kabupaten/kota 5 (lima) tahun terhitung sejak pembentukan. keuangan Daerah. b. sosial politik. (5)Cakupan Wilayah untuk Daerah Persiapan yang wilayahnya terdiri atas pulau-pulau memuat Cakupan Wilayah sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dan rincian nama pulau yang berada dalam wilayahnya. dan c. . Pasal 36 (1)Persyaratan dasar kapasitas Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 ayat (3) didasarkan pada parameter: a. (2)Ketentuan mengenai pengelompokan pulau atau kepulauan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam peraturan pemerintah. lokasi ibu kota. paling sedikit 5(lima) Daerah kabupaten/kota untuk pembentukan Daerah provinsi. adat.

potensi pendapatan asli calon Daerah Persiapan. (7)Parameter keuangan Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf f meliputi: a. b. kohesivitas sosial. keputusan musyawarah Desa yang akan menjadi Cakupan Wilayah Daerah kabupaten/kota. dan c. dan tradisi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d meliputi: a. (5)Parameter sosial politik. 2. konflik sosial. dan b. dan c.(3)Parameter demografi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b meliputi: a. (8)Parameter kemampuan penyelenggaraan pemerintahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf g meliputi: a. persetujuan bersama DPRD provinsi induk dengan gubernur Daerah provinsi induk. c. dan 2. rancangan rencana tata ruang wilayah Daerah Persiapan. Pasal 37 Persyaratan administratif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33 ayat (3) disusun dengan tata urutan sebagai berikut: a. kapasitas pendapatan asli Daerah induk. untuk Daerah provinsi meliputi: 1. pengelolaan keuangan dan aset Daerah. persetujuan bersama DPRD kabupaten/kota induk dengan bupati/wali kota Daerah induk. potensi unggulan Daerah. organisasi kemasyarakatan. dan e. adat. dan b. aksesibilitas pelayanan dasar infrastruktur. b. tindakan kriminal umum. b. untuk Daerah kabupaten/kota meliputi: 1. dan . b. aksesibilitas pelayanan dasar kesehatan. partisipasi masyarakat dalam pemilihan umum. d. dan b. jumlah pegawai aparatur sipil negara di Daerah induk. pertumbuhan ekonomi. (4)Parameter keamanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c meliputi: a. distribusi penduduk. (6)Parameter potensi ekonomi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e meliputi: a. aksesibilitas pelayanan dasar pendidikan. persetujuan bersama DPRD kabupaten/kota dengan bupati/wali kota yang akan menjadi Cakupan Wilayah Daerah Persiapan provinsi. kualitas sumber daya manusia.

dan persyaratan administratif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37. . (6) Hasil kajian sebagaimana dimaksud pada ayat (5) disampaikan oleh tim kajian independen kepada Pemerintah Pusat untuk selanjutnya dikonsultasikan kepada Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia dan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia. Pasal 39 (1) Daerah Persiapan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33 ayat (2) ditetapkan dengan peraturan pemerintah.3. Pasal 38 (1) Pembentukan Daerah Persiapan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33 ayat (2) diusulkan oleh gubernur kepada Pemerintah Pusat. Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia. (4) Dalam hal usulan pembentukan Daerah Persiapan dinyatakan memenuhi persyaratan dasar kewilayahan dan persyaratan administratif. persetujuan bersama DPRD provinsi dengan gubernur dari Daerah provinsi yang mencakupi Daerah Persiapan kabupaten/kota yang akan dibentuk. (3) Daerah Persiapan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipimpin oleh kepala daerah persiapan. (5) Tim kajian independen bertugas melakukan kajian terhadap persyaratan dasar kapasitas Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36. (3) Hasil penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat (2) disampaikan kepada Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia dan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia. (2) Jangka waktu Daerah Persiapan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah selama 3(tiga) tahun. dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia dan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia. (4) Kepala daerah persiapan provinsi diisi dari pegawai negeri sipil yang memenuhi persyaratan dan diangkat atau diberhentikan oleh Presiden atas usul Menteri. Pemerintah Pusat membentuk tim kajian independen. (7) Hasil konsultasi sebagaimana dimaksud pada ayat (6) menjadi pertimbangan Pemerintah Pusat dalam menetapkan kelayakan pembentukan Daerah Persiapan. atau Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia setelah memenuhi persyaratan dasar kewilayahan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 ayat (2). Pemerintah Pusat melakukan penilaian terhadap pemenuhan persyaratan dasar kewilayahan dan persyaratan administratif. (2) Berdasarkan usulan sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

b. membentuk perangkat Daerah Persiapan. b. dan dokumentasi. dan evaluasi terhadap Daerah Persiapan selama masa Daerah Persiapan. bagian pendapatan dari pendapatan asli Daerah induk yang berasal dari Daerah Persiapan. (6) Ketentuan mengenai persyaratan kepala daerah persiapan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dan ayat (5) diatur dalam peraturan pemerintah. (2) Pendanaan penyelenggaraan pemerintahan pada Daerah Persiapan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dalam anggaran pendapatan dan belanja Daerah induk. pembangunan. Pasal 41 (1) Kewajiban Daerah induk terhadap Daerah Persiapan meliputi: a. peralatan. c. dan f. peralatan. c. sumber pendapatan lain yang sah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. melaksanakan pengisian jabatan aparatur sipil negara pada perangkat Daerah Persiapan. . pengawasan. Pasal 42 (1) Pemerintah Pusat melakukan pembinaan. Pasal 40 (1) Pendanaan penyelenggaraan pemerintahan pada Daerah Persiapan berasal dari: a. bantuan pengembangan Daerah Persiapan yang bersumber dari APBN. mengelola anggaran belanja Daerah Persiapan. membuat pernyataan kesediaan untuk menyerahkan personel. menyiapkan sarana dan prasarana pemerintahan. peralatan. pembiayaan. membantu penyiapan sarana dan prasarana pemerintahan. (3) Masyarakat di Daerah Persiapan melakukan partisipasi dan pengawasan terhadap penyelenggaraan pemerintahan. dan kemasyarakatan yang dilakukan oleh Daerah Persiapan. b. pembiayaan. c. d. dan dokumentasi. dan d. menyiapkan dukungan dana. (2) Kewajiban Daerah Persiapan meliputi: a. penerimaan dari bagian dana perimbangan Daerah induk. dan dokumentasi apabila Daerah Persiapan ditetapkan menjadi Daerah baru. menangani pengaduan masyarakat.(5) Kepala daerah persiapan kabupaten/kota diisi dari pegawai negeri sipil yang memenuhi persyaratan dan diangkat atau diberhentikan oleh Menteri atas usul gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat. mengelola personel. melakukan pendataan personel. (2) Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia melakukan pengawasan terhadap Daerah Persiapan. dan d. e.

penggabungan dua Daerah provinsi atau lebih yang bersanding menjadi Daerah provinsi baru.undangan. (7) Daerah baru harus menyelenggarakan pemilihan kepala daerah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang. Paragraf 2 Penggabungan Daerah Pasal 44 (1) Penggabungan Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 ayat (1) huruf b berupa: a. (5) Daerah Persiapan yang berdasarkan hasil evaluasi akhir dinyatakan tidak layak dicabut statusnya sebagai Daerah Persiapan dengan peraturan pemerintah dan dikembalikan ke Daerah induk. hasil evaluasi Pemerintah Pusat. atau b. kesepakatan Daerah yang bersangkutan. pengawasan. (4) Daerah Persiapan yang berdasarkan hasil evaluasi akhir dinyatakan layak ditingkatkan statusnya menjadi Daerah baru dan ditetapkan dengan undang-undang. (2) Evaluasi akhir masa Daerah Persiapan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dimaksudkan untuk menilai kemampuan Daerah Persiapan dalam melaksanakan kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41 ayat (2). Pasal 45 (1) Penggabungan Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 44 ayat (1) yang dilakukan berdasarkan kesepakatan Daerah yang bersangkutan . selain memuat Cakupan Wilayah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 ayat (4). penggabungan dua Daerah kabupaten/kota atau lebih yang bersanding dalam satu Daerah provinsi menjadi Daerah kabupaten/kota baru. harus memuat perincian nama pulau yang berada dalam wilayahnya. Pasal 43 (1) Pemerintah Pusat melakukan evaluasi akhir masa Daerah Persiapan. (2) Penggabungan Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan berdasarkan: a. (6) Undang-undang yang menetapkan Pembentukan Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (4) yang wilayahnya terdiri atas pulau-pulau.(3) Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia melakukan pengawasan terhadap Daerah Persiapan. dan b. (3) Hasil evaluasi akhir masa Daerah Persiapan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dikonsultasikan kepada Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia dan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia. dan evaluasi terhadap Daerah Persiapan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kepada Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia dan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia. (4) Pemerintah Pusat menyampaikan perkembangan pembinaan.

(4) Hasil penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat (3) disampaikan kepada Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia dan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia. (5) Dalam hal usulan penggabungan Daerah dinyatakan memenuhi persyaratan administratif. (6) Tim kajian independen bertugas melakukan kajian terhadap persyaratan kapasitas Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 45 ayat (3). atau Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia setelah memenuhi persyaratan administratif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 45 ayat (2). Pasal 46 (1) Penggabungan Daerah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 44 ayat (1) huruf a yang dilakukan berdasarkan kesepakatan Daerah yang bersangkutan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 44 ayat (2) huruf a diusulkan oleh gubernur kepada Pemerintah Pusat. (2) Penggabungan Daerah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 44 ayat (1) huruf b yang dilakukan berdasarkan kesepakatan Daerah yang bersangkutan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 44 ayat (2) huruf a diusulkan secara bersama oleh gubernur yang Daerahnya akan digabungkan kepada Pemerintah Pusat. Dewan Perwakilan Rakyat Republik . Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia. (8) Hasil konsultasi sebagaimana dimaksud pada ayat (7) menjadi pertimbangan bagi Pemerintah Pusat. atau Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia setelah memenuhi persyaratan administratif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 45 ayat (2). Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia. Pemerintah Pusat dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia dan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia membentuk tim kajian independen. (3) Berdasarkan usulan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2).sebagaimana dimaksud dalam Pasal 44 ayat (2) huruf a harus memenuhi persyaratan administratif dan persyaratan dasar kapasitas Daerah. Pemerintah Pusat melakukan penilaian terhadap pemenuhan persyaratan administratif. (2) Ketentuan mengenai persyaratan administratif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37 berlaku secara mutatis mutandis terhadap persyaratan administratif dalam rangka penggabungan Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (3) Ketentuan mengenai persyaratan dasar kapasitas Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 berlaku secara mutatis mutandis terhadap persyaratan kapasitas Daerah dalam rangka penggabungan Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (7) Hasil kajian sebagaimana dimaksud pada ayat (6) disampaikan oleh tim kajian independen kepada Pemerintah Pusat untuk selanjutnya dikonsultasikan kepada Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia dan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia.

(2) Penilaian terhadap kemampuan menyelenggarakan Otonomi Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Pemerintah Pusat. perubahan batas wilayah Daerah. Bagian Keempat Kepentingan Strategis Nasional Paragraf 1 Pembentukan Daerah Pasal 49 (1) Pembentukan Daerah berdasarkan pertimbangan kepentingan strategis nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 ayat (4) berlaku untuk . Pemerintah Pusat. d. (9) Dalam hal penggabungan Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (8) dinyatakan tidak layak. (3) Perubahan nama Daerah. b. Pasal 47 (1) Penggabungan Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 44 ayat (2) huruf b dilakukan dalam hal Daerah atau beberapa Daerah tidak mampu menyelenggarakan Otonomi Daerah. c. serta perubahan nama ibu kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b sampai dengan huruf e ditetapkan dengan peraturan pemerintah. Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia. (3) Pemerintah Pusat mengajukan rancangan undang-undang mengenai penggabungan Daerah kepada Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia dan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia. pemindahan ibu kota. dan/atau e. pemberian nama dan perubahan nama bagian rupa bumi. Bagian Ketiga Penyesuaian Daerah Pasal 48 (1) Penyesuaian Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 ayat (3) berupa: a. atau Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia menyampaikan penolakan secara tertulis dengan disertai alasan penolakan kepada gubernur. pemindahan ibu kota. rancangan undangundang dimaksud ditetapkan menjadi undang-undang.Indonesia. atau Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia dalam pembentukan undang-undang mengenai penggabungan Daerah. (4) Dalam hal rancangan undang-undang mengenai penggabungan Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (3) disetujui. (2) Perubahan batas wilayah Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a ditetapkan dengan undang-undang. perubahan nama Daerah. pemberian nama dan perubahan nama bagian rupa bumi. perubahan nama ibu kota.

dan retribusi daerah yang dipungut di Daerah Persiapan.daerah perbatasan. dan evaluasi terhadap Daerah Persiapan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 49 ayat (2) selama masa Daerah Persiapan. pulau-pulau terluar. pengawasan. c. b. membentuk perangkat Daerah Persiapan. serta paramater lain yang memperkuat kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. (3) Pembentukan Daerah Persiapan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) harus memiliki Cakupan Wilayah dengan batas-batas yang jelas dan mempertimbangkan parameter pertahanan dan keamanan. (2) Kewajiban Daerah Persiapan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 49 ayat (2): a. pajak daerah. (2) Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia melakukan pengawasan terhadap Daerah Persiapan. Pasal 51 (1) Pemerintah Pusat menyiapkan sarana dan prasarana serta penataan personel untuk penyelenggaraan pemerintahan Daerah Persiapan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 49 ayat (2). . (2) Pembentukan Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus dilakukan melalui tahapan Daerah Persiapan provinsi atau Daerah Persiapan kabupaten/kota paling lama 5(lima) tahun. mengelola sarana dan prasarana pemerintahan. dan dokumentasi. melaksanakan pengisian jabatan aparatur sipil negara pada perangkat Daerah Persiapan. mengelola personel. (2) Pembentukan Daerah Persiapan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 49 ayat (2) ditetapkan dengan peraturan pemerintah. dan Daerah tertentu untuk menjaga kepentingan dan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. menangani pengaduan masyarakat. Pasal 50 (1) Pembentukan Daerah Persiapan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 49 ayat (2) dikonsultasikan oleh Pemerintah Pusat kepada Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia dan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia. peralatan. Pasal 52 (1) Pemerintah Pusat melakukan pembinaan. (3) Pendanaan untuk penyelenggaraan pemerintahan Daerah Persiapan dan kewajiban Daerah Persiapan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dibebankan pada APBN. d. e. potensi ekonomi. dan f. mengelola anggaran belanja Daerah Persiapan.

(2) Perubahan batas wilayah Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan undang-undang. Paragraf 2 Penyesuaian Daerah Pasal 54 (1) Penyesuaian Daerah berdasarkan pertimbangan kepentingan strategis nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 ayat (4) berupa perubahan batas wilayah Daerah dan pemindahan ibu kota. (4) Daerah Persiapan yang berdasarkan hasil evaluasi akhir dinyatakan layak ditingkatkan statusnya menjadi Daerah baru dan ditetapkan dengan undang-undang. Pasal 55 Ketentuan lebih lanjut mengenai penataan Daerah diatur dengan peraturan pemerintah. pengawasan. dan evaluasi terhadap Daerah Persiapan kepada Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia dan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia. (5) Daerah Persiapan yang berdasarkan hasil evaluasi dinyatakan tidak layak dicabut statusnya sebagai Daerah Persiapan dengan peraturan pemerintah dan dikembalikan ke Daerah induk. (3) Pemindahan ibu kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan peraturan pemerintah.(3) Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia melakukan pengawasan terhadap Daerah Persiapan. . (4) Pemerintah Pusat menyampaikan perkembangan pembinaan. (2) Evaluasi akhir masa Daerah Persiapan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dimaksudkan untuk menilai kemampuan Daerah Persiapan dalam melaksanakan kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 51 ayat (2). Bagian Kelima Desain Besar Penataan Daerah Pasal 56 (1) Pemerintah Pusat menyusun strategi penataan Daerah untuk melaksanakan penataan Daerah. Pasal 53 (1) Pemerintah Pusat melakukan evaluasi akhir masa Daerah Persiapan. (3) Hasil evaluasi akhir masa Daerah Persiapan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dikonsultasikan kepada Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia dan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia. (2) Pemerintah Pusat menyampaikan strategi penataan Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kepada Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia dan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia.

(2) Kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk Daerah provinsi disebut gubernur. proporsionalitas. profesionalitas. akuntabilitas. efisiensi. b. kepentingan umum. dan untuk Daerah kota disebut wali kota.(3) Strategi penataan Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dituangkan dalam desain besar penataan Daerah. keadilan. keterbukaan. kepastian hukum. (6) Desain besar penataan Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (3) ditetapkan dengan peraturan pemerintah. (4) Desain besar penataan Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (3) memuat perkiraan jumlah pemekaran Daerah pada periode tertentu. h. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 57. BAB VII PENYELENGGARA PEMERINTAHAN DAERAH Bagian Kesatu Umum Pasal 57 Penyelenggara Pemerintahan Daerah provinsi dan kabupaten/kota terdiri atas kepala daerah dan DPRD dibantu oleh Perangkat Daerah. dan j. d. dalam menyelenggarakan Pemerintahan Daerah berpedoman pada asas penyelenggaraan pemerintahan negara yang terdiri atas: a. untuk Daerah kabupaten disebut bupati. f. (5) Desain besar penataan Daerah dijadikan acuan dalam pemekaran Daerah baru. Bagian Ketiga Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Paragraf 1 Kepala Daerah Pasal 59 (1) Setiap Daerah dipimpin oleh kepala Pemerintahan Daerah yang disebut kepala daerah. tertib penyelenggara negara. Bagian Kedua Asas Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Pasal 58 Penyelenggara Pemerintahan Daerah. e. c. efektivitas. Pasal 60 . g. i.

dan menjalankan segala undangundang dan peraturannya dengan selurus-lurusnya serta berbakti kepada masyarakat. (2) Wakil kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk Daerah provinsi disebut wakil gubernur. nusa dan bangsa". nusa. Pasal 62 Ketentuan mengenai pemilihan kepala daerah diatur dengan undang-undang. Wewenang.Masa jabatan kepala daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59 ayat (1) adalah selama 5(lima) tahun terhitung sejak pelantikan dan sesudahnya dapat dipilih kembali dalam jabatan yang sama hanya untuk satu kali masa jabatan. memegang teguh Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Paragraf 3 Tugas. memegang teguh Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan menjalankan segala undang-undang dan peraturannya dengan selurus-lurusnya serta berbakti kepada masyarakat. dan Hak Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Pasal 65 (1) Kepala daerah mempunyai tugas: . (2) Sumpah/janji kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah sebagai berikut: "Demi Allah/Tuhan. saya bersumpah/berjanji akan memenuhi kewajiban saya sebagai wakil kepala daerah dengan sebaikbaiknya dan seadil-adilnya. (2) Sumpah/janji wakil kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah sebagai berikut: "Demi Allah/Tuhan. Kewajiban. Pasal 61 (1) Kepala daerah sebelum memangku jabatannya dilantik dengan mengucapkan sumpah/janji yang dipandu oleh pejabat yang melantik. Pasal 64 (1) Wakil kepala daerah sebelum memangku jabatannya dilantik dengan mengucapkan sumpah/janji yang dipandu oleh pejabat yang melantik. dan bangsa". untuk Daerah kabupaten disebut wakil bupati. Paragraf 2 Wakil Kepala Daerah Pasal 63 (1) Kepala daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59 ayat (1) dapat dibantu oleh wakil kepala daerah. saya bersumpah/berjanji akan memenuhi kewajiban saya sebagai kepala daerah dengan sebaik-baiknya dan seadil-adilnya. dan untuk Daerah kota disebut wakil wali kota.

Kepala daerah yang sedang menjalani masa tahanan dilarang melaksanakan tugas dan kewenangannya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2).a. memelihara ketenteraman dan ketertiban masyarakat. rancangan Perda tentang perubahan APBD. Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan tugas dan wewenang kepala daerah oleh wakil kepala daerah dan pelaksanaan tugas seharihari kepala daerah oleh sekretaris daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (4) sampai dengan ayat (6) diatur dalam peraturan pemerintah. d. sekretaris daerah melaksanakan tugas sehari-hari kepala daerah. menyusun dan mengajukan rancangan Perda tentang RPJPD dan rancangan Perda tentang RPJMD kepada DPRD untuk dibahas bersama DPRD. dan rancangan Perda tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBD kepada DPRD untuk dibahas bersama. wakil kepala daerah melaksanakan tugas dan wewenang kepala daerah. mengajukan rancangan Perda. Apabila kepala daerah dan wakil kepala daerah sedang menjalani masa tahanan atau berhalangan sementara. melaksanakan tugas lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kepala daerah berwenang: a. serta menyusun dan menetapkan RKPD. melaksanakan wewenang lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Apabila kepala daerah sedang menjalani masa tahanan atau berhalangan sementara dan tidak ada wakil kepala daerah. menetapkan Perkada dan keputusan kepala daerah. dan dapat menunjuk kuasa hukum untuk mewakilinya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. f. (2) (3) (4) (5) (6) (7) memimpin pelaksanaan Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan Daerah berdasarkan ketentuan peraturan perundangundangan dan kebijakan yang ditetapkan bersama DPRD. dan g. b. Pasal 66 (1) Wakil kepala daerah mempunyai tugas: . d. c. mewakili Daerahnya di dalam dan di luar pengadilan. menyusun dan mengajukan rancangan Perda tentang APBD. sekretaris daerah melaksanakan tugas sehari-hari kepala daerah. c. e. e. Dalam hal kepala daerah sedang menjalani masa tahanan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) atau berhalangan sementara. mengambil tindakan tertentu dalam keadaan mendesak yang sangat dibutuhkan oleh Daerah dan/atau masyarakat. mengusulkan pengangkatan wakil kepala daerah. b. menetapkan Perda yang telah mendapat persetujuan bersama DPRD.

dan 5. memimpin pelaksanaan Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan Daerah. melaksanakan tugas dan wewenang kepala daerah apabila kepala daerah menjalani masa tahanan atau berhalangan sementara. b. memberikan saran dan pertimbangan kepada kepala daerah dalam pelaksanaan Pemerintahan Daerah. Pasal 67 Kewajiban kepala daerah dan wakil kepala daerah meliputi: a. melaksanakan tugas lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. mengoordinasikan kegiatan Perangkat Daerah dan menindaklanjuti laporan dan/atau temuan hasil pengawasan aparat pengawasan. wakil kepala daerah bertanggung jawab kepada kepala daerah. b. menaati seluruh ketentuan peraturan perundang. Perangkat Daerah provinsi bagi wakil gubernur. kelurahan. d. 3. mengembangkan kehidupan demokrasi. 2. c. memantau dan mengevaluasi penyelenggaraan pemerintahan yang dilaksanakan oleh Perangkat Daerah kabupaten/kota. (3) Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). (2) Selain melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wakil kepala daerah melaksanakan tugas dan kewajiban pemerintahan lainnya yang diberikan oleh kepala daerah yang ditetapkan dengan keputusan kepala daerah. dan g. dan/atau Desa bagi wakil bupati/wali kota. memantau dan mengevaluasi penyelenggaraan Pemerintahan Daerah yang dilaksanakan oleh 4.a. e. menjaga etika dan norma dalam pelaksanaan Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan Daerah. melaksanakan UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 serta mempertahankan dan memelihara keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.undangan. c. dan d. menerapkan prinsip tata pemerintahan yang bersih dan baik. melaksanakan program strategis nasional. membantu kepala daerah dalam: 1. Pasal 68 (1) Kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah yang tidak melaksanakan program strategis nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 67 huruf f dikenai sanksi administratif berupa teguran tertulis oleh Menteri untuk gubernur dan/atau wakil gubernur serta oleh gubernur sebagai wakil . memegang teguh dan mengamalkan Pancasila. menjalin hubungan kerja dengan seluruh Instansi Vertikal di Daerah dan semua Perangkat Daerah. f.

(3) Bupati/wali kota menyampaikan laporan penyelenggaraan Pemerintahan Daerah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 69 ayat (1) kepada Menteri melalui gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat yang dilakukan 1(satu) kali dalam 1(satu) tahun. (5) Laporan penyelenggaraan Pemerintahan Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) digunakan sebagai bahan evaluasi dan pembinaan penyelenggaraan Pemerintahan Daerah oleh Pemerintah Pusat. (2) Laporan penyelenggaraan Pemerintahan Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencakup laporan kinerja instansi Pemerintah Daerah. kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah diberhentikan sementara selama 3(tiga) bulan. dan ringkasan laporan penyelenggaraan Pemerintahan Daerah. (6) Berdasarkan hasil evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (5). laporan keterangan pertanggungjawaban. (4) Laporan penyelenggaraan Pemerintahan Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) disampaikan paling lambat 3(tiga) bulan setelah tahun anggaran berakhir. Pasal 69 (1) Selain mempunyai kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 67 kepala daerah wajib menyampaikan laporan penyelenggaraan Pemerintahan Daerah. Menteri mengoordinasikan pengembangan kapasitas Pemerintahan Daerah. Pasal 70 (1) Laporan penyelenggaraan Pemerintahan Daerah memuat capaian kinerja penyelenggaraan Pemerintahan Daerah dan pelaksanaan Tugas Pembantuan. Pasal 71 . tetap tidak melaksanakan program strategis nasional. yang bersangkutan diberhentikan sebagai kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah.Pemerintah Pusat untuk bupati dan/atau wakil bupati atau wali kota dan/atau wakil wali kota. (3) Dalam hal kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah telah selesai menjalani pemberhentian sementara sebagaimana dimaksud pada ayat (2). (2) Dalam hal teguran tertulis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) telah disampaikan 2(dua) kali berturut-turut dan tetap tidak dilaksanakan. (7) Pembinaan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) dapat berupa pemberian penghargaan dan sanksi. (2) Gubernur menyampaikan laporan penyelenggaraan Pemerintahan Daerah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 69 ayat (1) kepada Presiden melalui Menteri yang dilakukan 1(satu) kali dalam 1(satu) tahun.

Pasal 73 (1) Kepala daerah yang tidak menyampaikan laporan penyelenggaraan Pemerintahan Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 70 ayat (4) dan ringkasan laporan penyelenggaraan Pemerintahan Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 72 dikenai sanksi administratif berupa teguran tertulis oleh Menteri untuk gubernur dan oleh gubernur. kepala daerah diwajibkan mengikuti program pembinaan khusus pendalaman bidang pemerintahan yang dilaksanakan oleh Kementerian serta tugas dan kewenangannya dilaksanakan oleh wakil kepala daerah atau oleh pejabat yang ditunjuk. (2) Dalam hal teguran tertulis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) telah disampaikan 2(dua) kali berturut-turut dan tetap tidak dilaksanakan. (3) Laporan keterangan pertanggungjawaban kepada DPRD sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dibahas oleh DPRD untuk rekomendasi perbaikan penyelenggaraan Pemerintahan Daerah. (3) Dalam hal kepala daerah tidak melaksanakan kewajiban menyampaikan laporan keterangan pertanggungjawaban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 71 ayat (2). memberikan sanksi teguran tertulis kepada bupati/wali kota. kepala daerah diwajibkan mengikuti program pembinaan khusus pendalaman bidang . Pasal 72 Kepala daerah menyampaikan ringkasan laporan penyelenggaraan Pemerintahan Daerah kepada masyarakat bersamaan dengan penyampaian laporan penyelenggaraan Pemerintahan Daerah. DPRD provinsi dapat menggunakan hak interpelasi kepada gubernur dan DPRD kabupaten/kota dapat menggunakan hak interpelasi kepada bupati/wali kota. (6) Apabila sanksi sebagaimana dimaksud pada ayat (5) telah disampaikan 2(dua) kali berturut-turut dan tetap tidak dilaksanakan. (4) Apabila penjelasan kepala daerah terhadap penggunaan hak interpelasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) tidak diterima. untuk bupati/wali kota. DPRD provinsi melaporkan gubernur kepada Menteri dan DPRD kabupaten/kota melaporkan bupati/wali kota kepada gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat. (5) Berdasarkan laporan dari DPRD sebagaimana dimaksud pada ayat (4).(1) Laporan keterangan pertanggungjawaban memuat hasil penyelenggaraan Urusan Pemerintahan yang dilaksanakan oleh Pemerintah Daerah. sebagai wakil Pemerintah Pusat. Menteri memberikan sanksi teguran tertulis kepada gubernur dan gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat. (2) Kepala daerah menyampaikan laporan keterangan pertanggungjawaban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 69 ayat (1) kepada DPRD yang dilakukan 1(satu) kali dalam 1(satu) tahun paling lambat 3(tiga) bulan setelah tahun anggaran berakhir.

pemerintahan yang dilaksanakan oleh Kementerian serta tugas dan kewenangannya dilaksanakan oleh wakil kepala daerah atau oleh pejabat yang ditunjuk. Pasal 75 (1) Dalam melaksanakan Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan Daerah. (3) Kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah yang dikenai sanksi pemberhentian sementara tidak mendapatkan hak protokoler serta hanya diberikan hak keuangan berupa gaji pokok. golongan tertentu. tunjangan anak. . c. keluarga. baik milik swasta maupun milik negara/daerah atau pengurus yayasan bidang apa pun. dan tunjangan lain. dan tunjangan istri/suami. melakukan korupsi. kepala daerah dan wakil kepala daerah mempunyai hak protokoler dan hak keuangan. tunjangan jabatan. membuat kebijakan yang merugikan kepentingan umum dan meresahkan sekelompok masyarakat atau mendiskriminasikan warga negara dan/atau golongan masyarakat lain yang bertentangan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. atau kelompok politiknya yang bertentangan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. dan nepotisme serta menerima uang. b. Paragraf 4 Larangan bagi Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Pasal 76 (1) Kepala daerah dan wakil kepala daerah dilarang: a. serta tata cara evaluasi penyelenggaraan Pemerintahan Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 69 ayat (1) dan Pasal 70 ayat (5) diatur dengan peraturan pemerintah. kolusi. menyalahgunakan wewenang yang menguntungkan diri sendiri dan/atau merugikan Daerah yang dipimpin. (2) Hak keuangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi gaji pokok. d. membuat keputusan yang secara khusus memberikan keuntungan pribadi. kroni. e. barang. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai hak protokoler dan hak keuangan kepala daerah dan wakil kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan peraturan pemerintah. menjadi advokat atau kuasa hukum dalam suatu perkara di pengadilan selain sebagaimana dimaksud dalam Pasal 65 ayat (1) huruf e. Pasal 74 Ketentuan lebih lanjut mengenai laporan penyelenggaraan Pemerintahan Daerah. menjadi pengurus suatu perusahaan. f. dan/atau jasa dari pihak lain yang mempengaruhi keputusan atau tindakan yang akan dilakukan. laporan keterangan pertanggungjawaban dan ringkasan laporan penyelenggaraan Pemerintahan Daerah.

i. h. menyalahgunakan wewenang dan melanggar sumpah/janji jabatannya. Pasal 77 (1) Kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah yang menjadi pengurus suatu perusahaan. baik milik swasta maupun milik negara/daerah atau pengurus yayasan bidang apa pun sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76 ayat (1) huruf c dikenai sanksi pemberhentian sementara selama 3(tiga) bulan oleh Presiden untuk gubernur dan/atau wakil gubernur serta oleh Menteri untuk bupati dan/wakil bupati atau wali kota dan/atau wakil wali kota. dan j. meninggalkan tugas dan wilayah kerja lebih dari 7(tujuh) Hari berturutturut atau tidak berturut-turut dalam waktu 1(satu) bulan tanpa izin Menteri untuk gubernur dan wakil gubernur serta tanpa izin gubernur untuk bupati dan wakil bupati atau wali kota dan wakil wali kota. tugas dan kewenangannya dilaksanakan oleh wakil kepala daerah atau oleh pejabat yang ditunjuk. merangkap jabatan sebagai pejabat negara lainnya sebagaimana ditetapkan dalam ketentuan peraturan perundang-undangan. (5) Dalam hal kepala Daerah mengikuti program pembinaan khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (4). melakukan perjalanan ke luar negeri tanpa izin dari Menteri. (4) Dalam hal teguran tertulis sebagaimana dimaksud pada ayat (3) telah disampaikan 2(dua) kali berturut-turut dan tetap tidak dilaksanakan. Paragraf 5 Pemberhentian Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Pasal 78 (1) Kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah berhenti karena: . (2) Kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah dikecualikan dari ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf j jika dilakukan untuk kepentingan pengobatan yang bersifat mendesak.g. kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah diwajibkan mengikuti program pembinaan khusus pendalaman bidang pemerintahan yang dilaksanakan oleh Kementerian. (3) Kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah yang meninggalkan tugas dan wilayah kerja lebih dari 7(tujuh) Hari berturut-turut atau tidak berturut-turut dalam waktu 1(satu) bulan tanpa izin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76 ayat (1) huruf j dikenai sanksi teguran tertulis oleh Presiden untuk gubernur dan/atau wakil gubernur serta oleh Menteri untuk bupati dan/atau wakil bupati atau wali kota dan/atau wakil wali kota. (2) Kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah yang melakukan perjalanan ke luar negeri tanpa izin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76 ayat (1) huruf i dikenai sanksi pemberhentian sementara selama 3(tiga) bulan oleh Presiden untuk gubernur dan/atau wakil gubernur serta oleh Menteri untuk bupati dan/atau wakil bupati atau wali kota dan/atau wakil wali kota.

menggunakan dokumen dan/atau keterangan palsu sebagai persyaratan pada saat pencalonan kepala daerah/wakil kepala daerah berdasarkan pembuktian dari lembaga yang berwenang menerbitkan dokumen. Pasal 79 (1) Pemberhentian kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 78 ayat (1) huruf a dan huruf b serta ayat (2) huruf a dan huruf b diumumkan oleh pimpinan DPRD dalam rapat paripurna dan diusulkan oleh pimpinan DPRD kepada Presiden melalui Menteri untuk gubernur dan/atau wakil gubernur serta kepada Menteri melalui gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat untuk bupati dan/atau wakil bupati atau wali kota dan/atau wakil wali kota untuk mendapatkan penetapan pemberhentian. h. tidak melaksanakan kewajiban kepala daerah dan wakil kepala daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 67 huruf b. melakukan perbuatan tercela. dinyatakan melanggar sumpah/janji jabatan kepala daerah/wakil kepala daerah. c. permintaan sendiri. (2) Kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah diberhentikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c karena: a. f. mendapatkan sanksi pemberhentian. huruf i. (2) Dalam hal pimpinan DPRD tidak mengusulkan pemberhentian kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (3) Dalam hal gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat tidak mengusulkan pemberhentian bupati dan/atau wakil bupati atau wali kota dan/atau wakil wali kota sebagaimana dimaksud pada ayat (2). meninggal dunia.a. d. melanggar larangan bagi kepala daerah dan wakil kepala daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76 ayat (1). diberi tugas dalam jabatan tertentu oleh Presiden yang dilarang untuk dirangkap oleh ketentuan peraturan perundang-undangan. atau c. e. g. kecuali huruf c. dan huruf j. tidak dapat melaksanakan tugas secara berkelanjutan atau berhalangan tetap secara berturut-turut selama 6(enam) bulan. dan/atau i. Menteri memberhentikan bupati dan/atau wakil bupati atau wali kota dan/atau wakil wali kota. b. diberhentikan. berakhir masa jabatannya. b. . Presiden memberhentikan gubernur dan/atau wakil gubernur atas usul Menteri serta Menteri memberhentikan bupati dan/atau wakil bupati atau wali kota dan/atau wakil wali kota atas usul gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat.

b. d. c. atau melanggar larangan bagi kepala daerah dan wakil kepala daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76 ayat (1). atau melanggar larangan bagi kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76 ayat (1). Presiden wajib memberhentikan gubernur dan/atau wakil gubernur paling lambat 30(tiga puluh) Hari sejak Presiden menerima usul pemberhentian tersebut dari pimpinan DPRD. huruf j. kecuali huruf c. (2) Dalam hal pimpinan DPRD tidak menyampaikan usul pemberhentian kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d paling lambat 14(empat belas) Hari sejak diterimanya pemberitahuan putusan Mahkamah Agung. mengadili. huruf i.Pasal 80 (1) Pemberhentian kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 78 ayat (2) huruf c. kecuali huruf c. huruf j. e. Apabila Mahkamah Agung memutuskan bahwa kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah terbukti melanggar sumpah/janji jabatan. Presiden memberhentikan gubernur dan/atau wakil gubernur atas usul Menteri dan Menteri . dan memutus pendapat DPRD tersebut paling lambat 30(tiga puluh) Hari setelah permintaan DPRD diterima Mahkamah Agung dan putusannya bersifat final. Menteri wajib memberhentikan bupati dan/atau wakil bupati atau wali kota dan/atau wakil wali kota paling lambat 30 (tiga puluh) Hari sejak Menteri menerima usul pemberhentian tersebut dari pimpinan DPRD. Mahkamah Agung memeriksa. dan f. dan/atau melakukan perbuatan tercela. dan/atau melakukan perbuatan tercela. huruf d. huruf i. huruf e. pimpinan DPRD menyampaikan usul kepada Presiden untuk pemberhentian gubernur dan/atau wakil gubernur dan kepada Menteri untuk pemberhentian bupati dan/atau wakil bupati atau wali kota dan/atau wakil wali kota. tidak melaksanakan kewajiban kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 67 huruf b. pemberhentian kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah diusulkan kepada Presiden untuk gubernur dan/atau wakil gubernur serta kepada Menteri untuk bupati dan/atau wakil bupati atau wali kota dan/atau wakil wali kota berdasarkan putusan Mahkamah Agung atas pendapat DPRD bahwa kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah dinyatakan melanggar sumpah/janji jabatan. pendapat DPRD sebagaimana dimaksud pada huruf a diputuskan melalui Rapat Paripurna DPRD yang dihadiri oleh paling sedikit 3/4(tiga perempat) dari jumlah anggota DPRD dan putusan diambil dengan persetujuan paling sedikit 2/3(dua pertiga) dari jumlah anggota DPRD yang hadir. tidak melaksanakan kewajiban kepala daerah dan wakil kepala daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 67 huruf b. dan/atau huruf f dilaksanakan dengan ketentuan: a.

Pemerintah Pusat memberhentikan kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah. melanggar larangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76 kecuali huruf c. melanggar sumpah/janji jabatan kepala daerah/wakil kepala daerah. (2) Untuk melaksanakan pemberhentian sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Menteri memberhentikan bupati dan/atau wakil bupati atau wali kota dan/atau wakil wali kota. Pemerintah Pusat memberhentikan kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah yang: a.memberhentikan bupati dan/atau wakil bupati atau wali kota dan/atau wakil wali kota atas usul gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat. (3) Dalam hal gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat tidak menyampaikan usul kepada Menteri sebagaimana dimaksud pada ayat (2). (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai pemberhentian kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah oleh Pemerintah Pusat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sampai dengan ayat (4) diatur dalam peraturan pemerintah. (3) Hasil pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan oleh Pemerintah Pusat kepada Mahkamah Agung untuk mendapat keputusan tentang pelanggaran yang dilakukan oleh kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah. tidak melaksanakan kewajiban kepala daerah dan wakil kepala daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 67 huruf b. dan/atau d. Pasal 81 (1) Dalam hal DPRD tidak melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 80 ayat (1). Pemerintah Pusat melakukan pemeriksaan terhadap kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah untuk menemukan bukti-bukti terhadap pelanggaran yang dilakukan oleh kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah. dan huruf j. huruf i. melakukan perbuatan tercela. (2) Dalam hal hasil penyelidikan oleh DPRD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah terbukti menggunakan dokumen dan/atau keterangan palsu sebagai persyaratan pada saat pencalonan kepala daerah/wakil kepala daerah berdasarkan . Pasal 82 (1) Dalam hal kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah diduga menggunakan dokumen dan/atau keterangan palsu sebagai persyaratan pada saat pencalonan kepala daerah/wakil kepala daerah berdasarkan pembuktian dari lembaga yang berwenang menerbitkan dokumen sebagaimana dimaksud dalam Pasal 78 ayat (2) huruf h. DPRD menggunakan hak angket untuk melakukan penyelidikan. b. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai pemberhentian kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sampai dengan ayat (3) diatur dalam peraturan pemerintah. (4) Apabila Mahkamah Agung memutuskan bahwa kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah terbukti melakukan pelanggaran. c.

(2) Kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah yang menjadi terdakwa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberhentikan sementara berdasarkan register perkara di pengadilan. Presiden memberhentikan gubernur dan/atau wakil gubernur serta Menteri memberhentikan bupati dan/atau wakil bupati atau wali kota dan/atau wakil wali kota. Pasal 83 (1) Kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah diberhentikan sementara tanpa melalui usulan DPRD karena didakwa melakukan tindak pidana kejahatan yang diancam dengan pidana penjara paling singkat 5(lima) tahun. Dalam hal DPRD tidak melakukan penyelidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pemerintah Pusat melakukan klarifikasi kepada DPRD bersangkutan. Dalam hal hasil pemeriksaan oleh Pemerintah Pusat sebagaimana dimaksud pada ayat (6). kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah terbukti menggunakan dokumen dan/atau keterangan palsu sebagai persyaratan pada saat pencalonan kepala daerah/wakil kepala daerah berdasarkan pembuktian dari lembaga yang berwenang menerbitkan dokumen tersebut. Berdasarkan usulan DPRD provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (2). Berdasarkan usulan DPRD kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (2). Ketentuan lebih lanjut mengenai pemberhentian kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sampai dengan ayat (7) diatur dalam peraturan pemerintah. Presiden memberhentikan gubernur dan/atau wakil gubernur paling lambat 30(tiga puluh) Hari sejak diterimanya usulan dari DPRD provinsi. tindak pidana terhadap keamanan negara. (3) Pemberhentian sementara kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dilakukan oleh Presiden untuk gubernur dan/atau wakil gubernur serta oleh Menteri . Apabila DPRD dalam waktu paling lama 2(dua) bulan sejak dilakukan klarifikasi tetap tidak melakukan penyelidikan. tindak pidana korupsi. dan/atau perbuatan lain yang dapat memecah belah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pemerintah Pusat melakukan pemeriksaan.(3) (4) (5) (6) (7) (8) pembuktian dari lembaga yang berwenang menerbitkan dokumen tersebut. makar. Menteri memberhentikan bupati dan/atau wakil bupati atau wali kota dan/atau wakil wali kota paling lambat 30(tiga puluh) Hari sejak diterimanya usulan dari DPRD kabupaten/kota. tindak pidana terorisme. DPRD provinsi mengusulkan pemberhentian gubernur dan/atau wakil gubernur kepada Presiden melalui Menteri serta DPRD kabupaten/kota mengusulkan pemberhentian bupati dan/atau wakil bupati atau wali kota dan/atau wakil wali kota kepada Menteri melalui gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat.

Pasal 84 (1) Kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah yang diberhentikan sementara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 83 ayat (1). Presiden memberhentikan gubernur dan/atau wakil gubernur dan Menteri memberhentikan bupati dan/atau wakil bupati atau wali kota dan/atau wakil wali kota. (4) Kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah diberhentikan tanpa melalui usulan DPRD apabila terbukti melakukan tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. dan Menteri mengaktifkan kembali bupati dan/atau wakil bupati atau wali kota dan/atau wakil wali kota yang bersangkutan. dan kewajibannya. (2) Penggunaan hak interpelasi dan hak angket sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. (2) Apabila setelah diaktifkan kembali sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah ternyata terbukti bersalah berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. paling lambat 30(tiga puluh) Hari terhitung sejak diterimanya pemberitahuan putusan pengadilan. DPRD membentuk panitia khusus untuk . setelah melalui proses peradilan ternyata terbukti tidak bersalah berdasarkan putusan pengadilan. (5) Pemberhentian sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dilakukan oleh Presiden untuk gubernur dan/atau wakil gubernur serta oleh Menteri untuk bupati dan/atau wakil bupati atau wali kota dan/atau wakil wali kota. Pasal 85 (1) Dalam hal kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah menghadapi krisis kepercayaan publik yang meluas karena dugaan melakukan tindak pidana yang terkait dengan tugas. DPRD dapat menggunakan hak interpelasi dan hak angket untuk menanggapinya. Presiden merehabilitasi gubernur dan/atau wakil gubernur dan Menteri merehabilitasi bupati dan/atau wakil bupati atau wali kota dan/atau wakil wali kota.untuk bupati dan/atau wakil bupati atau wali kota dan/atau wakil wali kota. (3) Apabila setelah diaktifkan kembali sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah ternyata terbukti tidak bersalah berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. (3) Dalam hal DPRD menyetujui penggunaan hak angket sebagaimana dimaksud pada ayat (2). Presiden mengaktifkan kembali gubernur dan/atau wakil gubernur yang bersangkutan. kewenangan.

(4) Dalam hal ditemukan bukti kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah melakukan tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1). wakil kepala daerah melaksanakan tugas dan kewenangan kepala daerah sampai dengan adanya putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. Presiden menetapkan penjabat gubernur atas usul Menteri dan Menteri menetapkan penjabat bupati/wali kota atas usul gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat sampai dengan adanya putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. DPRD menyerahkan proses penyelesaiannya kepada aparat penegak hukum sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. (2) Apabila bupati/wali kota berhenti sebagaimana dimaksud pada Pasal 78 atau diberhentikan berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap dilakukan pengisian jabatan bupati/wali kota sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan mengenai pemilihan kepala daerah. Pasal 88 . ayat (3). tugas wakil kepala daerah dilaksanakan oleh kepala daerah sampai dengan adanya putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. Pasal 86 (1) Apabila kepala daerah diberhentikan sementara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 83 ayat (1).melakukan penyelidikan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. (3) Apabila bupati/wali kota diberhentikan sementara dan tidak ada wakil bupati/wakil wali kota. Menteri menetapkan penjabat bupati/wali kota atas usul gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat. dan ayat (5) diatur dalam peraturan pemerintah. (5) Apabila kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah diberhentikan sementara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 83 ayat (1). (6) Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan dan masa jabatan penjabat gubernur dan bupati/wali kota sebagaimana dimaksud pada ayat (2). (2) Apabila gubernur diberhentikan sementara dan tidak ada wakil gubernur. Presiden menetapkan penjabat gubernur atas usul Menteri. (4) Apabila wakil kepala daerah diberhentikan sementara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 83 ayat (1). Pasal 87 (1) Apabila gubernur berhenti sebagaimana dimaksud pada Pasal 78 atau diberhentikan berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap dilakukan pengisian jabatan gubernur sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan mengenai pemilihan kepala daerah.

Hal-hal yang dikecualikan dari ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah: a. (1) (2) (3) (4) Paragraf 6 Tindakan Penyidikan Pasal 90 Tindakan penyidikan yang dilanjutkan dengan penahanan terhadap gubernur dan/atau wakil gubernur memerlukan persetujuan tertulis dari Presiden dan terhadap bupati dan/atau wakil bupati atau wali kota dan/atau wakil wali kota memerlukan persetujuan tertulis dari Menteri. pengisian jabatan wakil kepala daerah dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan mengenai pemilihan kepala daerah. disangka telah melakukan tindak pidana kejahatan yang diancam dengan pidana mati atau telah melakukan tindak pidana kejahatan terhadap keamanan negara. wakil gubernur melaksanakan tugas sehari-hari gubernur sampai dilantiknya gubernur atau sampai dengan diangkatnya penjabat gubernur.(1) Dalam hal pengisian jabatan gubernur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 87 ayat (1) belum dilakukan. dapat dilakukan proses penyidikan yang dilanjutkan dengan penahanan. dalam waktu paling lambat 30(tiga puluh) Hari terhitung sejak diterimanya permohonan. wakil bupati/wakil wali kota melaksanakan tugas sehari-hari bupati/wali kota sampai dengan dilantiknya bupati/wali kota atau sampai diangkatnya penjabat bupati/wali kota. atau b. Pasal 89 Apabila wakil kepala daerah berhenti sebagaimana dimaksud dalam Pasal 78 atau diberhentikan berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap sebagaimana dimaksud dalam Pasal 83 ayat (4). Paragraf 7 Gubernur sebagai Wakil Pemerintah Pusat Pasal 91 . (2) Dalam hal pengisian jabatan bupati/wali kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 87 ayat (2) belum dilakukan. tertangkap tangan melakukan tindak pidana kejahatan. Tindakan penyidikan yang dilanjutkan dengan penahanan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) setelah dilakukan wajib dilaporkan kepada Presiden untuk gubernur dan/atau wakil gubernur dan kepada Menteri untuk bupati dan/atau wakil bupati atau wali kota dan/atau wakil wali kota paling lambat dalam waktu 2(dua) kali 24(dua puluh empat) jam sejak dilakukan penyidikan yang dilanjutkan dengan penahanan. Dalam hal persetujuan tertulis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak diberikan.

perubahan APBD. b. (3) Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud ayat (2). d. . (2) Dalam melaksanakan pembinaan dan pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat mempunyai tugas: a. melakukan pengawasan terhadap Perda Kabupaten/Kota. pertanggungjawaban pelaksanaan APBD. pajak daerah. b. menyelaraskan perencanaan pembangunan antar-Daerah kabupaten/kota dan antara Daerah provinsi danDaerah kabupaten/kota di wilayahnya. dan supervisi terhadap penyelenggaraan Pemerintahan Daerah kabupaten/kota yang ada di wilayahnya.(1) Dalam melaksanakan pembinaan dan pengawasan terhadap penyelenggaraan Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan Daerah kabupaten/kota dan Tugas Pembantuan oleh Daerah kabupaten/kota. menyelesaikan perselisihan dalam penyelenggaraan fungsi pemerintahan antar-Daerah kabupaten/kota dalam 1(satu) Daerah provinsi. mengoordinasikan kegiatan pemerintahan dan pembangunan antara Daerah provinsi dan Daerah kabupaten/kota dan antar-Daerah kabupaten/kota yang ada di wilayahnya. dan f. RPJMD. memberikan persetujuan terhadap rancangan Perda Kabupaten/Kota tentang pembentukan dan susunan Perangkat Daerah kabupaten/kota. dan e. d. melakukan monitoring. melaksanakan tugas lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. c. gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat mempunyai wewenang: a. melakukan evaluasi terhadap rancangan Perda Kabupaten/Kota tentang RPJPD. memberdayakan dan memfasilitasi Daerah kabupaten/kota di wilayahnya. tata ruang daerah. (4) Selain melaksanakan pembinaan dan pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat mempunyai tugas dan wewenang: a. melaksanakan wewenang lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. b. dan retribusi daerah. APBD. evaluasi. c. e. membatalkan Perda Kabupaten/Kota dan peraturan bupati/wali kota. Presiden dibantu oleh gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat. mengoordinasikan pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan Tugas Pembantuan di Daerah kabupaten/kota. memberikan penghargaan atau sanksi kepada bupati/wali kota terkait dengan penyelenggaraan Pemerintahan Daerah.

(5)
(6)
(7)
(8)

c. memberikan rekomendasi kepada Pemerintah Pusat atas usulan DAK
pada Daerah kabupaten/kota di wilayahnya;
d. melantik bupati/wali kota;
e. memberikan persetujuan pembentukan Instansi Vertikal di wilayah
provinsi kecuali pembentukan Instansi Vertikal untuk melaksanakan
urusan pemerintahan absolut dan pembentukan Instansi Vertikal oleh
kementerian yang nomenklaturnya secara tegas disebutkan dalam
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
f. melantik kepala Instansi Vertikal dari kementerian dan lembaga
pemerintah nonkementerian yang ditugaskan di wilayah Daerah
provinsi yang bersangkutan kecuali untuk kepala Instansi Vertikal yang
melaksanakan urusan pemerintahan absolut dan kepala Instansi
Vertikal yang dibentuk oleh kementerian yang nomenklaturnya secara
tegas disebutkan dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945; dan
g. melaksanakan tugas lain sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
Pendanaan pelaksanaan tugas dan wewenang gubernur sebagai wakil
Pemerintah Pusat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (4)
dibebankan pada APBN.
Gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat dapat menjatuhkan sanksi
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- undangan kepada
penyelenggara Pemerintahan Daerah kabupaten/kota.
Tugas dan wewenang gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat dapat
didelegasikan kepada wakil gubernur.
Ketentuan mengenai pelaksanaan tugas dan wewenang serta hak
keuangan gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat diatur dengan
peraturan pemerintah.

Pasal 92
Dalam hal gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat tidak melaksanakan tugas
dan wewenang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 91 ayat (2) sampai
dengan ayat (4), Menteri mengambil alih pelaksanaan tugas dan wewenang
gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat.
Pasal 93
(1) Gubernur dalam menyelenggarakan tugas sebagai wakil Pemerintah Pusat
dibantu oleh perangkat gubernur.
(2) Perangkat gubernur sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas
sekretariat dan paling banyak 5(lima) unit kerja.
(3) Sekretariat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dipimpin oleh sekretaris
gubernur.
(4) Sekretaris daerah provinsi karena jabatannya ditetapkan sebagai
sekretaris gubernur.

(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai susunan organisasi, tugas, dan fungsi
perangkat gubernur diatur dalam peraturan pemerintah.
Bagian Keempat
DPRD Provinsi
Paragraf 1
Susunan dan Kedudukan
Pasal 94
DPRD provinsi terdiri atas anggota partai politik peserta pemilihan umum yang
dipilih melalui pemilihan umum.
Pasal 95
(1) DPRD provinsi merupakan lembaga perwakilan rakyat Daerah provinsi
yang berkedudukan sebagai unsur penyelenggara Pemerintahan Daerah
provinsi.
(2) Anggota DPRD provinsi adalah pejabat Daerah provinsi.
Paragraf 2
Fungsi
Pasal 96
(1) DPRD provinsi mempunyai fungsi:
a. pembentukan Perda provinsi;
b. anggaran; dan
c. pengawasan.
(2) Ketiga fungsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dijalankan dalam
kerangka representasi rakyat di Daerah provinsi.
(3) Dalam rangka melaksanakan fungsi sebagaimana dimaksud pada ayat
(1), DPRD provinsi menjaring aspirasi masyarakat.
Pasal 97
Fungsi pembentukan Perda Provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 96
ayat (1) huruf a dilaksanakan dengan cara:
a. membahas bersama gubernur dan menyetujui atau tidak menyetujui
rancangan Perda Provinsi;
b. mengajukan usul rancangan Perda Provinsi; dan
c. menyusun program pembentukan Perda bersama gubernur.
Pasal 98
(1) Program pembentukan Perda provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal
97 huruf c memuat daftar urutan dan prioritas rancangan Perda Provinsi
yang akan dibuat dalam 1(satu) tahun anggaran.
(2) Dalam menetapkan program pembentukan Perda Provinsi sebagaimana
dimaksud pada ayat (1), DPRD provinsi melakukan koordinasi dengan
gubernur.

Pasal 99
(1) Fungsi anggaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 96 ayat (1) huruf b
diwujudkan dalam bentuk pembahasan untuk persetujuan bersama
terhadap rancangan Perda Provinsi tentang APBD provinsi yang diajukan
oleh gubernur.
(2) Fungsi anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan
dengan cara:
a. membahas KUA dan PPAS yang disusun oleh gubernur berdasarkan
RKPD;
b. membahas rancangan Perda Provinsi tentang APBD provinsi;
c. membahas rancangan Perda Provinsi tentang perubahan APBD
provinsi; dan
d. membahas rancangan Perda Provinsi tentang Pertanggungjawaban
APBD provinsi.
Pasal 100
(1) Fungsi pengawasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 96 ayat (1) huruf
c diwujudkan dalam bentuk pengawasan terhadap:
a. pelaksanaan Perda provinsi dan peraturan gubernur;
b. pelaksanaan peraturan perundang-undangan lain yang terkait dengan
penyelenggaraan Pemerintahan Daerah provinsi; dan
c. pelaksanaan tindak lanjut hasil pemeriksaan laporan keuangan oleh
Badan Pemeriksa Keuangan.
(2) Dalam melaksanakan pengawasan terhadap pelaksanaan tindak lanjut
hasil pemeriksaan laporan keuangan oleh Badan Pemeriksa Keuangan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c, DPRD provinsi berhak
mendapatkan laporan hasil pemeriksaan keuangan yang dilakukan oleh
Badan Pemeriksa Keuangan.
(3) DPRD provinsi melakukan pembahasan terhadap laporan hasil
pemeriksaan laporan keuangan sebagaimana dimaksud pada ayat (2).
(4) DPRD provinsi dapat meminta klarifikasi atas temuan laporan hasil
pemeriksaan laporan keuangan kepada Badan Pemeriksa Keuangan.
Paragraf 3
Tugas dan Wewenang
Pasal 101
(1) DPRD provinsi mempunyai tugas dan wewenang:
a. membentuk Perda Provinsi bersama gubernur;
b. membahas dan memberikan persetujuan Rancangan Perda Provinsi
tentang APBD Provinsi yang diajukan oleh gubernur;
c.
melaksanakan pengawasan terhadap pelaksanaan Perda Provinsi dan
APBD provinsi;
d. memilih gubernur;

e.

mengusulkan pengangkatan dan pemberhentian gubernur kepada
Presiden
melalui
Menteri
untuk
mendapatkan
pengesahan
pengangkatan dan pemberhentian;
f.
memberikan pendapat dan pertimbangan kepada Pemerintah Daerah
provinsi terhadap rencana perjanjian internasional di Daerah provinsi;
g. memberikan persetujuan terhadap rencana kerja sama internasional
yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah provinsi;
h. meminta laporan keterangan pertanggungjawaban gubernur dalam
penyelenggaraan Pemerintahan Daerah provinsi;
i.
memberikan persetujuan terhadap rencana kerja sama dengan
Daerah lain atau dengan pihak ketiga yang membebani masyarakat
dan Daerah provinsi; dan
j.
melaksanakan tugas dan wewenang lain yang diatur dalam ketentuan
peraturan perundang-undangan.
(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pelaksanaan tugas dan
wewenang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam peraturan
DPRD provinsi tentang tata tertib.

(1)
(2)
(3)
(4)

Paragraf 4
Keanggotaan
Pasal 102
Anggota DPRD provinsi berjumlah paling sedikit 35(tiga puluh lima) orang
dan paling banyak 100(seratus) orang.
Keanggotaan DPRD provinsi diresmikan dengan keputusan Menteri.
Anggota DPRD provinsi berdomisili di ibu kota provinsi yang bersangkutan.
Masa jabatan anggota DPRD provinsi adalah 5(lima) tahun dan berakhir
pada saat anggota DPRD provinsi yang baru mengucapkan sumpah/janji.

Pasal 103
(1) Anggota DPRD provinsi sebelum memangku jabatannya mengucapkan
sumpah/janji secara bersama-sama yang dipandu oleh ketua pengadilan
tinggi dalam rapat paripurna DPRD provinsi.
(2) Anggota DPRD provinsi yang berhalangan mengucapkan sumpah/janji
bersama-sama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengucapkan
sumpah/janji yang dipandu oleh pimpinan DPRD provinsi.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pengucapan sumpah/janji
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dalam peraturan
DPRD provinsi tentang tata tertib.
Pasal 104
Sumpah/janji sebagaimana dimaksud dalam Pasal 103 adalah sebagai berikut:
“Demi Allah(Tuhan) saya bersumpah/berjanji:
bahwa saya akan memenuhi kewajiban saya sebagai anggota/ketua/wakil
ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah provinsi dengan sebaik-baiknya dan
seadil-adilnya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan

dengan berpedoman pada Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945;
bahwa saya dalam menjalankan kewajiban akan bekerja dengan sungguhsungguh demi tegaknya kehidupan demokrasi serta mengutamakan
kepentingan bangsa dan negara daripada kepentingan pribadi, seseorang,
atau golongan;
bahwa saya akan memperjuangkan aspirasi rakyat yang saya wakili untuk
mewujudkan tujuan nasional demi kepentingan bangsa dan Negara Kesatuan
Republik Indonesia.”
Pasal 105
(1) Dalam hal dilakukan pembentukan Daerah provinsi setelah pemilihan
umum, pengisian anggota DPRD provinsi di Daerah provinsi induk dan
Daerah provinsi yang dibentuk setelah pemilihan umum dilakukan dengan
cara:
a. menetapkan jumlah kursi DPRD provinsi induk dan Daerah provinsi
yang dibentuk setelah pemilihan umum berdasarkan jumlah
penduduk sesuai dengan ketentuan dalam undang-undang mengenai
pemilihan umum anggota DPR, DPD, dan DPRD;
b. menetapkan perolehan suara partai politik dan calon anggota DPRD
provinsi berdasarkan hasil pemilihan umum di daerah pemilihan
Daerah provinsi induk dan Daerah provinsi yang dibentuk setelah
pemilihan umum;
c. menentukan bilangan pembagi pemilih berdasarkan hasil pemilihan
umum di daerah pemilihan Daerah provinsi induk dan Daerah provinsi
yang dibentuk setelah pemilihan umum;
d. menentukan perolehan kursi partai politik peserta pemilihan umum
berdasarkan hasil pemilihan umum di daerah pemilihan Daerah
provinsi induk dan Daerah provinsi yang dibentuk setelah pemilihan
umum; dan
e. menetapkan calon terpilih dari daftar calon tetap untuk mengisi kursi
sebagaimana dimaksud pada huruf d berdasarkan suara terbanyak.
(2) Pengisian anggota DPRD provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilaksanakan oleh komisi pemilihan umum Daerah provinsi induk.
(3) Pengisian anggota DPRD provinsi tidak dilakukan bagi Daerah provinsi
yang dibentuk 12(dua belas) bulan sebelum pelaksanaan pemilihan
umum.
(4) Masa jabatan anggota DPRD provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) berakhir pada saat anggota DPRD provinsi hasil pemilihan umum
berikutnya mengucapkan sumpah/janji.
(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai penetapan jumlah dan tata cara
pengisian keanggotaan DPRD provinsi induk dan Daerah provinsi yang
dibentuk setelah pemilihan umum sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
diatur dengan peraturan Komisi Pemilihan Umum sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.

(1)

(2)

(3)

(4)

Paragraf 5
Hak DPRD Provinsi
Pasal 106
DPRD provinsi mempunyai hak:
a. interpelasi;
b. angket; dan
c. menyatakan pendapat.
Hak interpelasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a adalah hak
DPRD provinsi untuk meminta keterangan kepada gubernur mengenai
kebijakan Pemerintah Daerah provinsi yang penting dan strategis serta
berdampak luas pada kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
Hak angket sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b adalah hak
DPRD provinsi untuk melakukan penyelidikan terhadap
kebijakan
Pemerintah Daerah provinsi yang penting dan strategis serta berdampak
luas pada kehidupan masyarakat, Daerah, dan negara yang diduga
bertentangan dengan ketentuan peraturan perundang- undangan.
Hak menyatakan pendapat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c
adalah hak DPRD provinsi untuk menyatakan pendapat terhadap
kebijakan gubernur atau mengenai kejadian luar biasa yang terjadi di
Daerah provinsi disertai dengan rekomendasi penyelesaiannya atau
sebagai tindak lanjut pelaksanaan hak interpelasi dan hak angket.

Paragraf 6
Hak dan Kewajiban Anggota
Pasal 107
Anggota DPRD provinsi mempunyai hak:
a. mengajukan rancangan Perda Provinsi;
b. mengajukan pertanyaan;
c. menyampaikan usul dan pendapat;
d. memilih dan dipilih;
e. membela diri;
f.
imunitas;
g. mengikuti orientasi dan pendalaman tugas;
h. protokoler; dan
i.
keuangan dan administratif.
Pasal 108
Anggota DPRD provinsi berkewajiban:
a. memegang teguh dan mengamalkan Pancasila;
b. melaksanakan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945 dan menaati ketentuan peraturan perundang-undangan;
c. mempertahankan dan memelihara kerukunan nasional dan keutuhan
Negara Kesatuan Republik Indonesia;

d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.
k.

mendahulukan kepentingan negara di atas kepentingan pribadi,
kelompok, dan golongan;
memperjuangkan peningkatan kesejahteraan rakyat;
menaati prinsip demokrasi dalam penyelenggaraan Pemerintahan Daerah;
menaati tata tertib dan kode etik;
menjaga etika dan norma dalam hubungan kerja dengan lembaga lain
dalam penyelenggaraan Pemerintahan Daerah provinsi;
menyerap dan menghimpun aspirasi konstituen melalui kunjungan kerja
secara berkala;
menampung dan menindaklanjuti aspirasi dan pengaduan masyarakat;
dan
memberikan pertanggungjawaban secara moral dan politis kepada
konstituen di daerah pemilihannya.

Paragraf 7
Fraksi
Pasal 109
(1) Untuk mengoptimalkan pelaksanaan fungsi, tugas dan wewenang DPRD
provinsi serta hak dan kewajiban anggota DPRD provinsi, dibentuk fraksi
sebagai wadah berhimpun anggota DPRD provinsi.
(2) Setiap anggota DPRD provinsi harus menjadi anggota salah satu fraksi.
(3) Setiap fraksi di DPRD provinsi beranggotakan paling sedikit sama dengan
jumlah komisi di DPRD provinsi.
(4) Partai politik yang jumlah anggotanya di DPRD provinsi mencapai
ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) atau lebih dapat
membentuk 1(satu) fraksi.
(5) Dalam hal partai politik yang jumlah anggotanya di DPRD provinsi tidak
memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (3), anggotanya
dapat bergabung dengan fraksi yang ada atau membentuk fraksi
gabungan.
(6) Dalam hal tidak ada satu partai politik yang memenuhi persyaratan untuk
membentuk fraksi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) maka dibentuk
fraksi gabungan.
(7) Jumlah fraksi gabungan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) dan ayat
(6) paling banyak 2(dua) fraksi.
(8) Partai politik sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dan ayat (5) harus
mendudukkan anggotanya dalam 1(satu) fraksi.
(9) Fraksi mempunyai sekretariat.
(10)
Sekretariat DPRD provinsi menyediakan sarana, anggaran, dan tenaga
ahli guna kelancaran pelaksanaan tugas fraksi sesuai dengan kebutuhan
dan dengan memperhatikan kemampuan APBD.
Paragraf 8
Alat Kelengkapan DPRD Provinsi
Pasal 110

ketiga. pimpinan. susunan. 1(satu) orang ketua dan 3(tiga) orang wakil ketua untuk DPRD provinsi yang beranggotakan 45(empat puluh lima) sampai dengan 84(delapan puluh empat) orang. (2) Dalam menjalankan tugasnya.(1) Alat kelengkapan DPRD provinsi terdiri atas: a. b. wakil ketua DPRD Provinsi ditetapkan dari anggota DPRD provinsi yang berasal dari partai politik yang memperoleh kursi terbanyak kedua. badan pembentukan Perda Provinsi. 1(satu) orang ketua dan 2(dua) orang wakil ketua untuk DPRD provinsi yang beranggotakan 35(tiga puluh lima) sampai dengan 44(empat puluh empat) orang. (5) Dalam hal terdapat lebih dari 1(satu) partai politik yang memperoleh suara terbanyak sama sebagaimana dimaksud pada ayat (4). badan anggaran. ketua DPRD provinsi ialah anggota DPRD provinsi yang berasal dari partai politik yang memperoleh suara terbanyak. badan kehormatan. dan g. b. alat kelengkapan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibantu oleh sekretariat dan dapat dibantu oleh kelompok pakar atau tim ahli. (6) Dalam hal ketua DPRD provinsi ditetapkan dari anggota DPRD provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). c. (4) Dalam hal terdapat lebih dari 1(satu) partai politik yang memperoleh kursi terbanyak pertama sebagaimana dimaksud pada ayat (3). penentuan ketua DPRD provinsi dilakukan berdasarkan persebaran perolehan suara partai politik yang paling merata urutan pertama. keempat dan/atau kelima sesuai dengan jumlah wakil ketua DPRD provinsi. 1(satu) orang ketua dan 4(empat) orang wakil ketua untuk DPRD provinsi yang beranggotakan 85(delapan puluh lima) sampai dengan 100(seratus) orang. e. . badan musyawarah. (2) Pimpinan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berasal dari partai politik berdasarkan urutan perolehan kursi terbanyak di DPRD provinsi. (3) Ketentuan mengenai tata cara pembentukan. d. serta tugas dan wewenang alat kelengkapan DPRD provinsi diatur dalam peraturan DPRD provinsi tentang tata tertib. alat kelengkapan lain yang diperlukan dan dibentuk oleh rapat paripurna. f. (3) Ketua DPRD provinsi ialah anggota DPRD provinsi yang berasal dari partai politik yang memperolah kursi terbanyak pertama di DPRD provinsi. Pasal 111 (1) Pimpinan DPRD provinsi terdiri atas: a. komisi. c.

DPRD provinsi yang beranggotakan 35(tiga puluh lima) sampai dengan 55(lima puluh lima) orang membentuk 4(empat) komisi. Paragraf 9 Pelaksanaan Hak DPRD Provinsi Pasal 114 (1) Hak interpelasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 106 ayat (1) huruf a diusulkan oleh: . ketua dan wakil ketua sementara DPRD provinsi ditentukan secara musyawarah oleh wakil partai politik bersangkutan yang ada di DPRD provinsi. (5) Pimpinan DPRD provinsi sebelum memangku jabatannya mengucapkan sumpah/janji yang teksnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 104 yang dipandu oleh ketua pengadilan tinggi. ketiga. (4) Ketua dan wakil ketua DPRD provinsi diresmikan dengan keputusan Menteri. DPRD provinsi yang beranggotakan lebih dari 55(lima puluh lima) orang membentuk 5(lima) komisi. (8) Dalam hal ketua DPRD provinsi ditetapkan dari anggota DPRD provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (5). DPRD provinsi dipimpin oleh pimpinan sementara DPRD provinsi.(7) Dalam hal ketua DPRD provinsi ditetapkan dari anggota DPRD provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (4). Pasal 112 (1) Dalam hal pimpinan DPRD provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 111 ayat (1) belum terbentuk. (3) Dalam hal terdapat lebih dari 1(satu) partai politik yang memperoleh kursi terbanyak sama. wakil ketua DPRD Provinsi ditetapkan dari anggota DPRD provinsi yang berasal dari partai politik yang memperoleh urutan suara terbanyak kedua. keempat dan/atau kelima sesuai dengan jumlah wakil ketua DPRD provinsi. (6) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penetapan pimpinan DPRD provinsi diatur dalam peraturan DPRD provinsi tentang tata tertib. keempat dan/atau kelima sesuai dengan jumlah wakil ketua DPRD provinsi. wakil ketua DPRD Provinsi ditetapkan dari anggota DPRD provinsi yang berasal dari partai politik yang memperoleh persebaran suara paling merata urutan kedua. ketiga. (2) Pimpinan sementara DPRD provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas 1(satu) orang ketua dan 1(satu) orang wakil ketua yang berasal dari 2(dua) partai politik yang memperoleh kursi terbanyak pertama dan kedua di DPRD provinsi. Pasal 113 Komisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 110 ayat (1) huruf c dibentuk dengan ketentuan: a. b.

(3) Usul sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menjadi hak angket DPRD provinsi apabila mendapat persetujuan dari rapat paripurna DPRD provinsi yang dihadiri paling sedikit 3/4(tiga per empat) dari jumlah anggota DPRD provinsi dan putusan diambil dengan persetujuan paling sedikit 2/3(dua per tiga) dari jumlah anggota DPRD provinsi yang hadir. paling sedikit 15(lima belas) orang anggota DPRD provinsi dan lebih dari 1(satu) fraksi untuk DPRD provinsi yang beranggotakan di atas 75(tujuh puluh lima) orang. b. paling sedikit 10 (sepuluh) orang anggota DPRD provinsi dan lebih dari 1(satu) fraksi untuk DPRD provinsi yang beranggotakan 35(tiga puluh lima) orang sampai dengan 75(tujuh puluh lima) orang. usul tersebut tidak dapat diajukan kembali. (2) Dalam hal DPRD provinsi menerima usul hak angket sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 117 . Pasal 115 (1) Hak angket sebagaimana dimaksud dalam Pasal 106 ayat(1) huruf b diusulkan oleh: a. (3) Dalam hal DPRD provinsi menolak usul hak angket sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (2) Usul sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diajukan kepada pimpinan DPRD provinsi. paling sedikit 15(lima belas) orang anggota DPRD provinsi dan lebih dari 1(satu) fraksi untuk DPRD provinsi yang beranggotakan di atas 75(tujuh puluh lima) orang. (3) Usul sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menjadi hak interpelasi DPRD provinsi apabila mendapat persetujuan dari rapat paripurna DPRD provinsi yang dihadiri lebih dari 1/2(satu per dua) jumlah anggota DPRD provinsi dan putusan diambil dengan persetujuan lebih dari 1/2(satu per dua) jumlah anggota DPRD provinsi yang hadir. (2) Usul sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diajukan kepada pimpinan DPRD provinsi.a. DPRD provinsi membentuk panitia angket yang terdiri atas semua unsur fraksi DPRD provinsi dengan keputusan DPRD provinsi. b. Pasal 116 (1) DPRD provinsi memutuskan menerima atau menolak usul hak angket sebagaimana dimaksud dalam Pasal 115 ayat (1). (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pelaksanaan hak interpelasi diatur dalam peraturan DPRD provinsi tentang tata tertib. paling sedikit 10 (sepuluh) orang anggota DPRD provinsi dan lebih dari 1(satu) fraksi untuk DPRD provinsi yang beranggotakan 35(tiga puluh lima) orang sampai dengan 75(tujuh puluh lima) orang.

badan hukum. Pasal 119 Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pelaksanaan hak angket diatur dalam peraturan DPRD provinsi tentang tata tertib. atau warga masyarakat di Daerah provinsi yang dianggap mengetahui atau patut mengetahui masalah yang diselidiki untuk memberikan keterangan serta untuk meminta menunjukkan surat atau dokumen yang berkaitan dengan hal yang sedang diselidiki. dapat memanggil pejabat Pemerintah Daerah provinsi. Pasal 121 . kecuali ada alasan yang sah menurut ketentuan peraturan perundang-undangan. (3) Usul sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menjadi hak menyatakan pendapat DPRD provinsi apabila mendapat persetujuan dari rapat paripurna DPRD provinsi yang dihadiri paling sedikit 3/4(tiga per empat) dari jumlah anggota DPRD provinsi dan putusan diambil dengan persetujuan paling sedikit 2/3(dua per tiga) dari jumlah anggota DPRD provinsi yang hadir. atau warga masyarakat di Daerah provinsi yang dipanggil sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib memenuhi panggilan DPRD provinsi. b. paling sedikit 15(lima belas) orang anggota DPRD provinsi dan lebih dari 1(satu) fraksi untuk DPRD provinsi yang beranggotakan 35(tiga puluh lima) orang sampai dengan 75(tujuh puluh lima) orang. Pasal 120 (1) Hak menyatakan pendapat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 106 ayat (1) huruf c diusulkan oleh: a. paling sedikit 20(dua puluh) orang anggota DPRD provinsi dan lebih dari 1(satu) fraksi untuk DPRD provinsi yang beranggotakan di atas 75(tujuh puluh lima) orang. Pasal 118 Panitia angket melaporkan pelaksanaan tugasnya kepada rapat paripurna DPRD provinsi paling lama 60(enam puluh) Hari sejak panitia angket dibentuk. badan hukum. (2) Usul sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diajukan kepada pimpinan DPRD provinsi. (2) Pejabat Pemerintah Daerah provinsi. (3) Dalam hal pejabat Pemerintah Daerah provinsi. dalam melakukan penyelidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 106 ayat (3). badan hukum.(1) Panitia angket sebagaimana dimaksud dalam Pasal 116 ayat (2). atau warga masyarakat di Daerah provinsi telah dipanggil dengan patut secara berturut-turut tidak memenuhi panggilan sebagaimana dimaksud pada ayat (2). DPRD provinsi dapat memanggil secara paksa dengan bantuan Kepolisian Negara Republik Indonesia sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Pasal 124 (1) Pimpinan dan anggota DPRD provinsi mempunyai hak keuangan dan administratif. pertanyaan. (2) Hak protokoler sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam peraturan pemerintah. (2) Hak keuangan dan administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan peraturan pemerintah. Pasal 123 (1) Pimpinan dan anggota DPRD provinsi mempunyai hak protokoler. tahun sidang DPRD provinsi dimulai pada saat pengucapan sumpah/janji anggota. dan/atau pendapat yang dikemukakannya. Paragraf 11 Persidangan dan Pengambilan Keputusan Pasal 125 (1) Pada awal masa jabatan keanggotaan. pimpinan dan anggota DPRD provinsi berhak memperoleh tunjangan yang besarannya disesuaikan dengan kemampuan Daerah. dan tunjangan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dilaksanakan oleh sekretariat DPRD provinsi sesuai dengan peraturan pemerintah. Anggota DPRD provinsi tidak dapat dituntut di depan pengadilan karena pernyataan. pertanyaan. Anggota DPRD provinsi tidak dapat diganti antarwaktu karena pernyataan. (4) Pengelolaan hak keuangan dan administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (3) Dalam menjalankan tugas dan wewenangnya. (1) (2) (3) (4) Paragraf 10 Pelaksanaan Hak Anggota Pasal 122 Anggota DPRD provinsi mempunyai hak imunitas. baik di dalam rapat DPRD provinsi maupun di luar rapat DPRD provinsi yang berkaitan dengan fungsi serta tugas dan wewenang DPRD provinsi. dan/atau pendapat yang dikemukakannya. . baik secara lisan maupun tertulis di dalam rapat DPRD provinsi ataupun di luar rapat DPRD provinsi yang berkaitan dengan fungsi serta tugas dan wewenang DPRD provinsi.Ketentuan lebih lanjut tata cara pelaksanaan hak menyatakan pendapat diatur dalam peraturan DPRD provinsi tentang tata tertib. Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku dalam hal anggota yang bersangkutan mengumumkan materi yang telah disepakati dalam rapat tertutup untuk dirahasiakan atau hal lain yang dimaksud dalam ketentuan mengenai rahasia negara sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

b.(2) Tahun sidang dibagi dalam 3(tiga) masa persidangan. disetujui oleh paling sedikit 2/3(dua per tiga) dari jumlah anggota DPRD provinsi yang hadir. (2) Kuorum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terpenuhi jika: a. . b. kecuali pada persidangan terakhir dari satu periode keanggotaan DPRD provinsi. Pasal 126 Semua rapat di DPRD provinsi pada dasarnya bersifat terbuka. c. c. Pasal 128 (1) Pengambilan keputusan dalam rapat DPRD provinsi pada dasarnya dilakukan dengan cara musyawarah untuk mufakat. (2) Dalam hal cara pengambilan keputusan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak tercapai. (3) Masa persidangan meliputi masa sidang dan masa reses. untuk rapat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b. (3) Keputusan rapat dinyatakan sah jika: a. Pasal 127 Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara persidangan dan rapat DPRD provinsi diatur dalam peraturan DPRD provinsi tentang tata tertib. untuk rapat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf c. disetujui dengan suara terbanyak. disetujui oleh lebih dari 1/2(satu per dua) jumlah anggota DPRD provinsi yang hadir. rapat dihadiri oleh paling sedikit 3/4(tiga per empat) dari jumlah anggota DPRD provinsi untuk mengambil persetujuan atas pelaksanaan hak angket dan hak menyatakan pendapat serta untuk mengambil keputusan mengenai usul pemberhentian gubernur dan/atau wakil gubernur. untuk rapat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a. keputusan diambil berdasarkan suara terbanyak. rapat dihadiri oleh paling sedikit 2/3(dua per tiga) dari jumlah anggota DPRD provinsi untuk memberhentikan pimpinan DPRD provinsi serta untuk menetapkan Perda dan APBD. Pasal 129 (1) Setiap rapat DPRD provinsi dapat mengambil keputusan jika memenuhi kuorum. kecuali rapat tertentu yang dinyatakan tertutup. masa reses ditiadakan. rapat dihadiri oleh lebih dari 1/2(satu per dua) jumlah anggota DPRD provinsi untuk rapat paripurna DPRD provinsi selain rapat sebagaimana dimaksud pada huruf a dan huruf b.

jenis dan penyelenggaraan rapat. tugas dan wewenang lembaga. terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a dan huruf b. rapat tidak dapat mengambil keputusan. pelaksanaan konsultasi antara DPRD provinsi dan Pemerintah Daerah provinsi. penggantian antarwaktu anggota. (3) Tata tertib DPRD provinsi paling sedikit memuat ketentuan tentang: a. penetapan pimpinan. terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf c. baik berdasarkan musyawarah untuk mufakat maupun berdasarkan suara terbanyak merupakan kesepakatan untuk ditindaklanjuti oleh semua pihak yang terkait dalam pengambilan keputusan. Pasal 131 Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pengambilan keputusan diatur dalam peraturan DPRD provinsi tentang tata tertib. pembuatan pengambilan keputusan. (5) Apabila pada akhir waktu penundaan rapat sebagaimana dimaksud pada ayat (4) kuorum belum juga terpenuhi. . penerimaan pengaduan dan penyaluran aspirasi masyarakat. f. pembentukan. cara penyelesaiannya diserahkan kepada pimpinan DPRD provinsi dan pimpinan fraksi. susunan. e. (2) Tata tertib sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berlaku di lingkungan internal DPRD provinsi. j. pemberhentian dan penggantian pimpinan. g. (6) Apabila setelah penundaan sebagaimana dimaksud pada ayat (5). serta hak dan kewajiban anggota. c. kuorum sebagaimana dimaksud pada ayat (2) belum juga terpenuhi. i. pimpinan dapat menunda rapat paling lama 3(tiga) Hari atau sampai waktu yang ditetapkan oleh badan musyawarah. b. serta tugas dan wewenang alat kelengkapan. (7) Apabila setelah penundaan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) kuorum sebagaimana dimaksud pada ayat (2) belum juga terpenuhi. pelaksanaan fungsi. Paragraf 12 Tata Tertib dan Kode Etik Pasal 132 (1) Tata tertib DPRD provinsi ditetapkan oleh DPRD provinsi dengan berpedoman pada ketentuan peraturan perundang-undangan. Pasal 130 Setiap keputusan rapat DPRD provinsi.(4) Apabila kuorum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak terpenuhi. h. rapat ditunda paling banyak 2(dua) kali dengan tenggang waktu masingmasing tidak lebih dari 1(satu) jam. d. pengucapan sumpah/janji.

anggota Tentara Nasional Indonesia/Kepolisian Negara Republik Indonesia. konsultan. pelaksanaan tugas kelompok pakar/ahli. notaris. b. kehormatan. atau badan lain yang anggarannya bersumber dari APBN/APBD. pegawai pada badan usaha milik negara. pengaturan protokoler. advokat atau pengacara. Pasal 137 . pegawai negeri sipil. (2) Anggota DPRD provinsi dilarang melakukan pekerjaan sebagai pejabat struktural pada lembaga pendidikan. kolusi. teguran tertulis. b. Paragraf 13 Larangan dan Sanksi Pasal 134 (1) Anggota DPRD provinsi dilarang merangkap jabatan sebagai: a. Pasal 136 Jenis sanksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 135 ayat (1) berupa: a. dan l. diberhentikan dari pimpinan pada alat kelengkapan. BUMD. (3) Anggota DPRD provinsi dilarang melakukan korupsi. (3) Anggota DPRD provinsi yang terbukti melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 134 ayat (3) berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap dikenai sanksi pemberhentian sebagai anggota DPRD provinsi. dan nepotisme. Pasal 135 (1) Anggota DPRD provinsi yang tidak melaksanakan kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 108 dikenai sanksi berdasarkan keputusan badan kehormatan. hakim pada badan peradilan. atau c. citra.k. Pasal 133 DPRD provinsi menyusun kode etik yang berisi norma yang wajib dipatuhi oleh setiap anggota selama menjalankan tugasnya untuk menjaga martabat. (2) Anggota DPRD provinsi yang terbukti melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 134 ayat (1) dan/atau ayat (2) dikenai sanksi pemberhentian sebagai anggota DPRD provinsi. dan/atau c. dan kredibilitas DPRD provinsi. teguran lisan. akuntan publik. pejabat negara atau pejabat daerah lainnya. dan pekerjaan lain yang ada hubungannya dengan tugas dan wewenang DPRD provinsi serta hak sebagai anggota DPRD provinsi.

d. tidak lagi memenuhi syarat sebagai calon anggota DPRD provinsi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan mengenai pemilihan umum. . f. melanggar ketentuan larangan sebagaimana diatur dalam UndangUndang ini. diberhentikan sebagai anggota partai politik sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Pasal 140 (1) Pemberhentian anggota DPRD provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 139 ayat (1) huruf a dan huruf b serta pada ayat (2) huruf c. meninggal dunia. h. atau i. b. melanggar sumpah/janji jabatan dan kode etik DPRD provinsi. g. (2) Anggota DPRD provinsi diberhentikan antarwaktu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c jika: a. Penggantian Antarwaktu. tidak dapat melaksanakan tugas secara berkelanjutan atau berhalangan tetap sebagai anggota DPRD provinsi selama 3 (tiga) bulan berturut-turut tanpa keterangan apa pun. menjadi anggota partai politik lain. Paragraf 14 Pemberhentian Antarwaktu. dinyatakan bersalah berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap karena melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara 5(lima) tahun atau lebih. c. kelompok. diberhentikan. b. atau organisasi dapat mengajukan pengaduan kepada badan kehormatan DPRD provinsi dalam hal memiliki bukti yang cukup bahwa terdapat anggota DPRD provinsi yang tidak melaksanakan salah satu kewajiban atau lebih sebagaimana dimaksud dalam Pasal 108 dan/atau melanggar ketentuan larangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 134. huruf e. dan Pemberhentian Sementara Pasal 139 (1) Anggota DPRD provinsi berhenti antarwaktu karena: a. tidak menghadiri rapat paripurna dan/atau rapat alat kelengkapan DPRD provinsi yang menjadi tugas dan kewajibannya sebanyak 6(enam) kali berturut-turut tanpa alasan yang sah. diusulkan oleh partai politiknya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. e. mengundurkan diri.Setiap orang. atau c. Pasal 138 Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pengaduan masyarakat dan penjatuhan sanksi diatur dengan peraturan DPRD provinsi tentang tata beracara badan kehormatan.

(2) Keputusan badan kehormatan DPRD provinsi mengenai pemberhentian anggota DPRD provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaporkan oleh badan kehormatan DPRD provinsi kepada rapat paripurna. gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat menyampaikan usul tersebut kepada Menteri. (3) Paling lama 7(tujuh) Hari sejak keputusan badan kehormatan DPRD provinsi yang telah dilaporkan dalam rapat paripurna sebagaimana dimaksud pada ayat (2). gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat menyampaikan keputusan tersebut kepada Menteri. pimpinan DPRD provinsi paling lama 7(tujuh) Hari meneruskan keputusan badan kehormatan DPRD provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepada Menteri melalui gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat untuk memperoleh peresmian pemberhentian. (7) Menteri meresmikan pemberhentian sebagaimana dimaksud pada ayat (5) paling lama 14(empat belas) Hari sejak diterimanya keputusan badan . huruf b. (5) Dalam hal pimpinan partai politik sebagaimana dimaksud pada ayat (3) tidak memberikan keputusan pemberhentian sebagaimana dimaksud pada ayat (4). huruf d. (3) Paling lama 7(tujuh) Hari sejak usul pemberhentian sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diterima. (6) Paling lama 7(tujuh) Hari sejak keputusan pemberhentian sebagaimana dimaksud pada ayat (5) diterima. pimpinan DPRD provinsi menyampaikan usul pemberhentian anggota DPRD provinsi kepada Menteri melalui gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat untuk memperoleh peresmian pemberhentian. Pasal 141 (1) Pemberhentian anggota DPRD provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 139 ayat (2) huruf a. dan huruf g dilakukan setelah adanya hasil penyelidikan dan verifikasi yang dituangkan dalam keputusan badan kehormatan DPRD provinsi atas pengaduan dari pimpinan DPRD provinsi. dan/atau pemilih. pimpinan DPRD provinsi menyampaikan keputusan badan kehormatan DPRD provinsi kepada pimpinan partai politik yang bersangkutan. huruf f.huruf h. (4) Menteri meresmikan pemberhentian sebagaimana dimaksud pada ayat (2) paling lama 14(empat belas) Hari sejak usulan pemberhentian anggota DPRD provinsi dari gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat diterima. masyarakat. (2) Paling lama 7(tujuh) Hari sejak diterimanya usul pemberhentian sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (4) Pimpinan partai politik yang bersangkutan menyampaikan keputusan tentang pemberhentian anggotanya kepada pimpinan DPRD provinsi. dan huruf i diusulkan oleh pimpinan partai politik kepada pimpinan DPRD provinsi dengan tembusan kepada Menteri. paling lambat 30(tiga puluh) Hari sejak keputusan badan kehormatan DPRD provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diterima dari pimpinan DPRD provinsi.

(3) Paling lambat 7(tujuh) Hari sejak menerima nama calon pengganti antarwaktu dari komisi pemilihan umum Daerah provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (2). Pimpinan DPRD provinsi menyampaikan nama anggota DPRD provinsi yang diberhentikan dan nama calon pengganti antarwaktu kepada Menteri melalui gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat.kehormatan DPRD provinsi atau keputusan pimpinan partai politik tentang pemberhentian anggotanya dari gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat. dan pengambilan keputusan oleh badan kehormatan DPRD provinsi diatur dalam peraturan DPRD provinsi tentang tata beracara badan kehormatan. (3) Masa jabatan anggota DPRD provinsi pengganti antarwaktu melanjutkan sisa masa jabatan anggota DPRD provinsi yang digantikan. Pasal 143 (1) Anggota DPRD provinsi yang berhenti antarwaktu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 140 ayat (1) dan Pasal 141 ayat (1) digantikan oleh calon anggota DPRD provinsi yang memperoleh suara terbanyak urutan berikutnya dalam daftar peringkat perolehan suara dari partai politik yang sama pada daerah pemilihan yang sama. anggota DPRD provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) digantikan oleh calon anggota DPRD provinsi yang memperoleh suara terbanyak urutan berikutnya dari partai politik yang sama pada daerah pemilihan yang sama. atau tidak lagi memenuhi syarat sebagai calon anggota DPRD provinsi. (4) Paling lambat 7(tujuh) Hari sejak menerima nama anggota DPRD provinsi yang diberhentikan dan nama calon pengganti antarwaktu sebagaimana dimaksud pada ayat (3). (2) Dalam hal calon anggota DPRD provinsi yang memperoleh suara terbanyak urutan berikutnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengundurkan diri. verifikasi. Pasal 142 (1) Dalam hal pelaksanaan penyelidikan dan verifikasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 141 ayat (1). badan kehormatan DPRD provinsi dapat meminta bantuan dari ahli independen. meninggal dunia. (2) Komisi pemilihan umum Daerah provinsi menyampaikan nama calon pengganti antarwaktu berdasarkan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 143 ayat (1) dan ayat (2) kepada pimpinan DPRD provinsi paling lambat 5(lima) Hari sejak surat pimpinan DPRD provinsi diterima. Pasal 144 (1) Pimpinan DPRD provinsi menyampaikan nama anggota DPRD provinsi yang diberhentikan antarwaktu dan meminta nama calon pengganti antarwaktu kepada komisi pemilihan umum Daerah provinsi. gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat . (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penyelidikan.

menjadi terdakwa dalam perkara tindak pidana khusus. (6) Sebelum memangku jabatannya. Pasal 145 Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pengajuan penggantian antarwaktu. anggota DPRD provinsi pengganti antarwaktu sebagaimana dimaksud pada ayat (3) mengucapkan sumpah/janji yang pengucapannya dipandu oleh pimpinan DPRD provinsi. atau b. anggota DPRD provinsi yang bersangkutan diaktifkan. Bagian Kelima DPRD Kabupaten/Kota Paragraf 1 Susunan dan Kedudukan Pasal 147 . dengan tata cara dan teks sumpah/janji sebagaimana diatur dalam Pasal 103 dan Pasal 104. (5) Paling lambat 14(empat belas) Hari sejak menerima nama anggota DPRD provinsi yang diberhentikan dan nama calon pengganti antarwaktu dari gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat sebagaimana dimaksud pada ayat (4). (3) Dalam hal anggota DPRD provinsi dinyatakan tidak terbukti melakukan tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a atau huruf b berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap.menyampaikan nama anggota DPRD provinsi yang diberhentikan dan nama calon pengganti antarwaktu kepada Menteri. verifikasi terhadap persyaratan calon pengganti antarwaktu. (7) Penggantian antarwaktu anggota DPRD provinsi tidak dilaksanakan apabila sisa masa jabatan anggota DPRD provinsi yang digantikan kurang dari 6(enam) bulan. menjadi terdakwa dalam perkara tindak pidana umum yang diancam dengan pidana penjara paling singkat 5(lima) tahun. (4) Anggota DPRD provinsi yang diberhentikan sementara tetap mendapatkan hak keuangan tertentu. Menteri meresmikan pemberhentian dan pengangkatannya dengan keputusan Menteri. anggota DPRD provinsi yang bersangkutan diberhentikan sebagai anggota DPRD provinsi. Pasal 146 (1) Anggota DPRD provinsi diberhentikan sementara karena: a. (2) Dalam hal anggota DPRD provinsi dinyatakan terbukti bersalah karena melakukan tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a atau huruf b berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. dan peresmian calon pengganti antarwaktu anggota DPRD provinsi diatur dengan peraturan pemerintah. (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pemberhentian sementara diatur dalam peraturan DPRD provinsi tentang tata tertib.

Pasal 151 (1)Program pembentukan Perda Kabupaten/Kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 150 huruf c memuat daftar urutan dan prioritas rancangan Perda Kabupaten/Kota yang akan dibuat dalam 1(satu) tahun anggaran. pengawasan. (2) Ketiga fungsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dijalankan dalam kerangka representasi rakyat di Daerah kabupaten/kota. b. (3) Dalam rangka melaksanakan fungsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). mengajukan usul rancangan Perda Kabupaten/Kota. Paragraf 2 Fungsi Pasal 149 (1) DPRD kabupaten/kota mempunyai fungsi: a. membahas bersama bupati/wali kota dan menyetujui atau tidak menyetujui rancangan Perda Kabupaten/Kota. DPRD kabupaten/kota menjaring aspirasi masyarakat. Pasal 148 (1) DPRD kabupaten/kota merupakan lembaga perwakilan rakyat Daerah kabupaten/kota yang berkedudukan sebagai unsur penyelenggara Pemerintahan Daerah kabupaten/kota. dan c. Pasal 152 (1) Fungsi anggaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 149 ayat (1) huruf b diwujudkan dalam bentuk pembahasan untuk persetujuan bersama terhadap Rancangan Perda Kabupaten/Kota tentang APBD Kabupaten/Kota yang diajukan oleh bupati/wali kota. pembentukan Perda Kabupaten/Kota. b. . (2) Anggota DPRD kabupaten/kota adalah pejabat Daerah kabupaten/kota. DPRD kabupaten/kota melakukan koordinasi dengan bupati/wali kota. menyusun program pembentukan Perda Kabupaten/Kota bersama bupati/wali kota.DPRD kabupaten/kota terdiri atas anggota partai politik peserta pemilihan umum yang dipilih melalui pemilihan umum. Pasal 150 Fungsi pembentukan Perda Kabupaten/Kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 149 ayat (1) huruf a dilaksanakan dengan cara: a. (2)Dalam menetapkan program pembentukan Perda Kabupaten/Kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan c. anggaran.

(2) Fungsi anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan dengan cara: a. c. Pasal 153 (1) Fungsi pengawasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 149 ayat (1) huruf c diwujudkan dalam bentuk pengawasan terhadap: a. f. pelaksanaan Perda Kabupaten/Kota dan peraturan bupati/wali kota. membahas KUA dan PPAS yang disusun oleh bupati/wali kota berdasarkan RKPD. melaksanakan pengawasan terhadap pelaksanaan Perda dan APBD kabupaten/kota. c. (2) Dalam melaksanakan pengawasan terhadap pelaksanaan tindak lanjut hasil pemeriksaan laporan keuangan oleh Badan Pemeriksa Keuangan sebagaimana dimaksud pada (1). dan d. memilih bupati/wali kota. memberikan pendapat dan pertimbangan kepada Pemerintah Daerah kabupaten/kota terhadap rencana perjanjian international di Daerah. membahas rancangan Perda Kabupaten/Kota tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBD kabupaten/kota. b. pelaksanaan tindak lanjut hasil pemeriksaan laporan keuangan oleh Badan Pemeriksa Keuangan. b. e. b. mengusulkan pengangkatan dan pemberhentian bupati/wali kota kepada Menteri melalui gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat untuk mendapatkan pengesahan pengangkatan dan pemberhentian. Paragraf 3 Tugas dan Wewenang Pasal 154 (1) DPRD kabupaten/kota mempunyai tugas dan wewenang: a. membahas dan memberikan persetujuan rancangan Perda mengenai APBD kabupaten/kota yang diajukan oleh bupati/wali kota. (4) DPRD kabupaten/kota dapat meminta klarifikasi atas temuan laporan hasil pemeriksaan laporan keuangan kepada Badan Pemeriksa Keuangan. DPRD kabupaten/kota berhak mendapatkan laporan hasil pemeriksaan keuangan yang dilakukan oleh Badan Pemeriksa Keuangan. membentuk Perda Kabupaten/Kota bersama bupati/wali kota. dan c. membahas rancangan Perda Kabupaten/Kota tentang APBD kabupaten/kota. membahas rancangan Perda Kabupaten/Kota tentang perubahan APBD kabupaten/kota. d. (3) DPRD kabupaten/kota melakukan pembahasan terhadap laporan hasil pemeriksaan laporan keuangan sebagaimana dimaksud pada ayat (2). . pelaksanaan ketentuan peraturan perundang-undangan lain yang terkait dengan penyelenggaraan Pemerintahan Daerah kabupaten/kota.

melaksanakan tugas dan wewenang lain yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan. memberikan persetujuan terhadap rencana kerja sama dengan Daerah lain atau dengan pihak ketiga yang membebani masyarakat dan Daerah. Masa jabatan anggota DPRD kabupaten/kota adalah 5(lima) tahun dan berakhir pada saat anggota DPRD kabupaten/kota yang baru mengucapkan sumpah/janji. (2) Ketentuan mengenai tata cara pelaksanaan tugas dan wewenang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam peraturan DPRD kabupaten/kota tentang tata tertib. h. (2) Anggota DPRD kabupaten/kota yang berhalangan mengucapkan sumpah/janji bersama-sama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengucapkan sumpah/janji yang dipandu oleh pimpinan DPRD kabupaten/kota. Anggota DPRD kabupaten/kota berdomisili di ibu kota kabupaten/kota yang bersangkutan. meminta laporan keterangan pertanggungjawaban bupati/wali kota dalam penyelenggaraan Pemerintahan Daerah kabupaten/kota.g. memberikan persetujuan terhadap rencana kerja sama internasional yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah kabupaten/kota. Pasal 157 Sumpah/janji sebagaimana dimaksud dalam Pasal 156 sebagai berikut: “Demi Allah(Tuhan) saya bersumpah/berjanji: bahwa saya akan memenuhi kewajiban saya sebagai anggota/ketua/wakil ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah kabupaten/kota dengan sebaikbaiknya dan seadil-adilnya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- . (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pengucapan sumpah/janji sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dalam peraturan DPRD kabupaten/kota tentang tata tertib. Pasal 156 (1) Anggota DPRD kabupaten/kota sebelum memangku jabatannya mengucapkan sumpah/janji secara bersama. j. (1) (2) (3) (4) Paragraf 4 Keanggotaan Pasal 155 Anggota DPRD kabupaten/kota berjumlah paling sedikit 20(dua puluh) orang dan paling banyak 50(lima puluh) orang.sama yang dipandu oleh ketua pengadilan negeri dalam rapat paripurna DPRD kabupaten/kota. Keanggotaan DPRD kabupaten/kota diresmikan dengan keputusan gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat. i.

e. (4) Masa jabatan anggota DPRD kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berakhir pada saat anggota DPRD kabupaten/kota hasil pemilihan umum berikutnya mengucapkan sumpah/janji. menentukan bilangan pembagi pemilih berdasarkan hasil pemilihan umum di daerah pemilihan Daerah kabupaten/kota induk dan Daerah kabupaten/kota yang dibentuk setelah pemilihan umum.undangan dengan berpedoman pada Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. menetapkan perolehan suara partai politik dan calon anggota DPRD kabupaten/kota berdasarkan hasil pemilihan umum di daerah pemilihan Daerah kabupaten/kota induk dan Daerah kabupaten/kota yang dibentuk setelah pemilihan umum. seseorang. (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai penetapan jumlah dan tata cara pengisian keanggotaan DPRD kabupaten/kota induk dan Daerah kabupaten/kota yang dibentuk setelah pemilihan umum sebagaimana . b. d. bahwa saya akan memperjuangkan aspirasi rakyat yang saya wakili untuk mewujudkan tujuan nasional demi kepentingan bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. pengisian anggota DPRD kabupaten/kota di Daerah kabupaten/kota induk dan Daerah kabupaten/kota yang dibentuk setelah pemilihan umum dilakukan dengan cara: a. dan golongan. bahwa saya dalam menjalankan kewajiban akan bekerja dengan sungguhsungguh demi tegaknya kehidupan demokrasi serta mengutamakan kepentingan bangsa dan negara daripada kepentingan pribadi. c. (2) Pengisian anggota DPRD kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan oleh komisi pemilihan umum Daerah kabupaten/kota induk. dan DPRD.undang mengenai pemilihan umum anggota DPR.” Pasal 158 (1) Dalam hal dilakukan pembentukan Daerah kabupaten/kota setelah pemilihan umum. menetapkan jumlah kursi DPRD kabupaten/kota induk dan Daerah kabupaten/kota yang dibentuk setelah pemilihan umum berdasarkan jumlah penduduk sesuai dengan ketentuan dalam undang. menetapkan calon terpilih dari daftar calon tetap untuk mengisi kursi sebagaimana dimaksud pada huruf d berdasarkan suara terbanyak. DPD. menentukan perolehan kursi partai politik peserta pemilihan umum berdasarkan hasil pemilihan umum di daerah pemilihan Daerah kabupaten/kota induk dan Daerah kabupaten/kota yang dibentuk setelah pemilihan umum. (3) Pengisian anggota DPRD provinsi tidak dilakukan bagi Daerah kabupaten/kota yang dibentuk 12(dua belas) bulan sebelum pelaksanaan pemilihan umum.

. (1) (2) (3) (4) Paragraf 5 Hak DPRD Kabupaten/Kota Pasal 159 DPRD kabupaten/kota mempunyai hak: a. dan negara yang diduga bertentangan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. protokoler. mengajukan pertanyaan. Hak menyatakan pendapat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c adalah hak DPRD kabupaten/kota untuk menyatakan pendapat terhadap kebijakan bupati/wali kota atau mengenai kejadian luar biasa yang terjadi di Daerah kabupaten/kota disertai dengan rekomendasi penyelesaiannya atau sebagai tindak lanjut pelaksanaan hak interpelasi dan hak angket.dimaksud pada ayat (1) diatur dengan peraturan Komisi Pemilihan Umum sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. mengikuti orientasi dan pendalaman tugas. memegang teguh dan mengamalkan Pancasila. c. mengajukan rancangan Perda Kabupaten/Kota. imunitas. membela diri. Hak interpelasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a adalah hak DPRD kabupaten/kota untuk meminta keterangan kepada bupati/wali kota mengenai kebijakan Pemerintah Daerah kabupaten/kota yang penting dan strategis serta berdampak luas pada kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Paragraf 6 Hak dan Kewajiban Anggota Pasal 160 Anggota DPRD kabupaten/kota mempunyai hak: a. interpelasi. dan c. menyatakan pendapat. b. d. b. Hak angket sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b adalah hak DPRD kabupaten/kota untuk melakukan penyelidikan terhadap kebijakan Pemerintah Daerah kabupaten/kota yang penting dan strategis serta berdampak luas pada kehidupan masyarakat. h. memilih dan dipilih. angket. menyampaikan usul dan pendapat. Pasal 161 Anggota DPRD kabupaten/kota berkewajiban: a. Daerah. f. e. keuangan dan administratif. melaksanakan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan menaati ketentuan peraturan perundang-undangan. b. g. dan i.

(6) Dalam hal tidak ada satu partai politik yang memenuhi persyaratan untuk membentuk fraksi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). kelompok. menjaga etika dan norma dalam hubungan kerja dengan lembaga lain dalam penyelenggaraan Pemerintahan Daerah kabupaten/kota. menaati tata tertib dan kode etik. (3) Setiap fraksi di DPRD kabupaten/kota beranggotakan paling sedikit sama dengan jumlah komisi di DPRD kabupaten/kota. (9) Fraksi mempunyai sekretariat. dan tenaga ahli guna kelancaran pelaksanaan tugas fraksi sesuai dengan kebutuhan dan dengan memperhatikan kemampuan APBD. menampung dan menindaklanjuti aspirasi dan pengaduan masyarakat. e. menaati prinsip demokrasi dalam penyelenggaraan Pemerintahan Daerah kabupaten/kota. (7) Jumlah fraksi gabungan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) dan ayat (6) paling banyak 2(dua) fraksi. dibentuk fraksi sebagai wadah berhimpun anggota DPRD kabupaten/kota. mendahulukan kepentingan negara di atas kepentingan pribadi. menyerap dan menghimpun aspirasi konstituen melalui kunjungan kerja secara berkala. f. anggaran. (10)Sekretariat DPRD kabupaten/kota menyediakan sarana. . h. dan memberikan pertanggungjawaban secara moral dan politis kepada konstituen di daerah pemilihannya. (5) Dalam hal partai politik yang jumlah anggotanya di DPRD kabupaten/kota tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (3). tugas dan wewenang DPRD kabupaten/kota serta hak dan kewajiban anggota DPRD kabupaten/kota. d. memperjuangkan peningkatan kesejahteraan rakyat. (2) Setiap anggota DPRD kabupaten/kota harus menjadi anggota salah satu fraksi. g. Paragraf 7 Fraksi Pasal 162 (1) Untuk mengoptimalkan pelaksanaan fungsi. i. k. anggotanya dapat bergabung dengan fraksi yang ada atau membentuk fraksi gabungan. (8) Partai politik sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dan ayat (5) harus mendudukkan anggotanya dalam 1(satu) fraksi. dibentuk fraksi gabungan. (4) Partai politik yang jumlah anggotanya di DPRD kabupaten/kota mencapai ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) atau lebih dapat membentuk 1(satu) fraksi. mempertahankan dan memelihara kerukunan nasional dankeutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. atau golongan.c. j.

b.Paragraf 8 Alat Kelengkapan DPRD Kabupaten/Kota Pasal 163 (1) Alat kelengkapan DPRD kabupaten/kota terdiri atas: a. ketiga. f. alat kelengkapan lain yang diperlukan dan dibentuk oleh rapat paripurna. e. komisi. (2) Pimpinan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berasal dari partai politik berdasarkan urutan perolehan kursi terbanyak di DPRD kabupaten/kota. (6) Dalam hal ketua DPRD kabupaten/kota ditetapkan dari anggota DPRD kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (3). penentuan ketua DPRD kabupaten/kota dilakukan berdasarkan persebaran perolehan suara partai politik yang paling merata urutan pertama. alat kelengkapan dibantu oleh sekretariat dan dapat dibantu oleh tim pakar atau tim ahli. . serta tugas dan wewenang alat kelengkapan DPRD kabupaten/kota diatur dalam peraturan DPRD kabupaten/kota tentang tata tertib. dan g. susunan. (5) Dalam hal terdapat lebih dari 1(satu) partai politik yang memperoleh suara terbanyak sama sebagaimana dimaksud pada ayat (4). badan pembentukan Perda Kabupaten/Kota. pimpinan. 1(satu) orang ketua dan 2(dua) orang wakil ketua untuk DPRD kabupaten/kota yang beranggotakan 20(dua puluh) sampai dengan 44(empat puluh empat) orang. badan musyawarah. d. dan b. (4) Dalam hal terdapat lebih dari 1(satu) partai politik yang memperoleh kursi terbanyak pertama sebagaimana dimaksud pada ayat (3). c. ketua DPRD kabupaten/kota ialah anggota DPRD kabupaten/kota yang berasal dari partai politik yang memperoleh suara terbanyak. Pasal 164 (1) Pimpinan DPRD kabupaten/kota terdiri atas: a. wakil ketua DPRD kabupaten/kota ditetapkan dari anggota DPRD kabupaten/kota yang berasal dari partai politik yang memperoleh kursi terbanyak kedua. (3) Ketentuan mengenai tata cara pembentukan. (3) Ketua DPRD kabupaten/kota ialah anggota DPRD kabupaten/kota yang berasal dari partai politik yang memperolah kursi terbanyak pertama di DPRD kabupaten/kota. 1(satu) orang ketua dan 3(tiga) orang wakil ketua untuk DPRD kabupaten/kota yang beranggotakan 45(empat puluh lima) sampai dengan 50(lima puluh) orang. badan anggaran. badan kehormatan. (2) Dalam menjalankan tugasnya.

(4) Ketua dan wakil ketua DPRD kabupaten/kota diresmikan dengan keputusan gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat. Pasal 165 (1) Dalam hal pimpinan DPRD kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 164 ayat (1) belum terbentuk. wakil ketua DPRD kabupaten/kota ditetapkan dari anggota DPRD kabupaten/kota yang berasal dari partai politik yang memperoleh persebaran suara paling merata urutan kedua. ketiga. DPRD kabupaten/kota yang beranggotakan lebih dari35(tiga puluh lima) orang membentuk 4(empat) komisi. ketiga. (6) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penetapan pimpinan DPRD kabupaten/kota diatur dalam peraturan DPRD kabupaten/kota tentang tata tertib. (8) Dalam hal ketua DPRD kabupaten/kota ditetapkan dari anggota DPRD kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (5). Pasal 166 Komisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 163 ayat (1) huruf c dibentuk dengan ketentuan: a. dan/atau keempat sesuai dengan jumlah wakil ketua DPRD kabupaten/kota. dan/atau keempat sesuai dengan jumlah wakil ketua DPRD kabupaten/kota. DPRD kabupaten/kota dipimpin oleh pimpinan sementara DPRD kabupaten/kota. (7) Dalam hal ketua DPRD kabupaten/kota ditetapkan dari anggota DPRD kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (4). (2) Pimpinan sementara DPRD kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas 1(satu) orang ketua dan 1(satu) orang wakil ketua yang berasal dari 2(dua) partai politik yang memperoleh kursi terbanyak pertama dan kedua di DPRD kabupaten/kota. DPRD kabupaten/kota yang beranggotakan 20(dua puluh) sampai dengan 35 (tiga puluh lima) orang membentuk 3(tiga) komisi. Paragraf 9 . (5) Pimpinan DPRD kabupaten/kota sebelum memangku jabatannya mengucapkan sumpah/janji yang teksnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 157 dipandu oleh ketua pengadilan negeri. (3) Dalam hal terdapat lebih dari 1(satu) partai politik yang memperoleh kursi terbanyak sama. wakil ketua DPRD kabupaten/kota ditetapkan dari anggota DPRD kabupaten/kota yang berasal dari partai politik yang memperoleh urutan suara terbanyak kedua. ketua dan wakil ketua sementara DPRD kabupaten/kota ditentukan secara musyawarah oleh wakil partai politik bersangkutan yang ada di DPRD kabupaten/kota. b.dan/atau keempat sesuai dengan jumlah wakil ketua DPRD kabupaten/kota.

Pasal 169 (1) Hak angket sebagaimana dimaksud dalam Pasal 159 ayat (1) huruf b diusulkan oleh: a. (3) Usul sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menjadi hak angket DPRD kabupaten/kota apabila mendapat persetujuan dari rapat paripurna DPRD kabupaten/kota yang dihadiri paling sedikit 3/4(tiga per empat) dari jumlah anggota DPRD kabupaten/kota dan putusan diambil dengan persetujuan paling sedikit 2/3(dua per tiga) dari jumlah anggota DPRD kabupaten/kota yang hadir. atau b. Pasal 168 Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pelaksanaan hak interpelasi diatur dalam peraturan DPRD kabupaten/kota tentang tata tertib. Pasal 170 (1) DPRD kabupaten/kota memutuskan menerima atau menolak usul hak angket sebagaimana dimaksud dalam Pasal 169 ayat (1). paling sedikit 7(tujuh) orang anggota DPRD kabupaten/kota dan lebih dari 1(satu) fraksi untuk DPRD kabupaten/kota yang beranggotakan di atas 35(tiga puluh lima) orang. (3) Usul sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menjadi hak interpelasi DPRD kabupaten/kota apabila mendapat persetujuan dari rapat paripurna DPRD kabupaten/kota yang dihadiri lebih dari 1/2(satu per dua) dari jumlah anggota DPRD kabupaten/kota dan putusan diambil dengan persetujuan lebih dari 1/2(satu per dua) dari jumlah anggota DPRD kabupaten/kota yang hadir. (2) Usul sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diajukan kepada pimpinan DPRD kabupaten/kota. . (2) Usul sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diajukan kepada pimpinan DPRD kabupaten/kota. paling sedikit 5 (lima) orang anggota DPRD kabupaten/kota dan lebih dari 1(satu) fraksi untuk DPRD kabupaten/kota yang beranggotakan 20(dua puluh) sampai dengan 35(tiga puluh lima) orang.Pelaksanaan Hak DPRD kabupaten/kota Pasal 167 (1) Hak interpelasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 159 ayat (1) huruf a diusulkan oleh: a. paling sedikit 5 (lima) orang anggota DPRD kabupaten/kota dan lebih dari 1(satu) fraksi untuk DPRD kabupaten/kota yang beranggotakan 20(dua puluh) sampai dengan 35(tiga puluh lima). paling sedikit 7(tujuh) orang anggota DPRD kabupaten/kota dan lebih dari 1(satu) fraksi untuk DPRD kabupaten/kota yang beranggotakan di atas 35(tiga puluh lima) orang. atau b.

atau warga masyarakat di Daerah kabupaten/kota telah dipanggil dengan patut secara berturut-turut tidak memenuhi panggilan sebagaimana dimaksud pada ayat (2). atau warga masyarakat di Daerah kabupaten/kota yang dipanggil sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib memenuhi panggilan DPRD kabupaten/kota. DPRD kabupaten/kota dapat memanggil secara paksa dengan bantuan Kepolisian Negara Republik Indonesia sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. (2) Pejabat Pemerintah Daerah kabupaten/kota. Pasal 173 Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pelaksanaan hak angket diatur dalam peraturan DPRD kabupaten/kota tentang tata tertib. usul tersebut tidak dapat diajukan kembali. dapat memanggil pejabat Pemerintah Daerah kabupaten/kota. paling sedikit 8(delapan) orang anggota DPRD kabupaten/kota dan lebih dari 1(satu) fraksi untuk DPRD kabupaten/kota yang beranggotakan 20(dua puluh) sampai dengan 35(tiga puluh lima) orang.(2) Dalam hal DPRD kabupaten/kota menerima usul hak angket sebagaimana dimaksud pada ayat (1). badan hukum. DPRD kabupaten/kota membentuk panitia angket yang terdiri atas semua unsur fraksi DPRD kabupaten/kota dengan keputusan DPRD kabupaten/kota. badan hukum. Pasal 172 Panitia angket melaporkan pelaksanaan tugasnya kepada rapat paripurna DPRD kabupaten/kota paling lama 60(enam puluh) Hari sejak dibentuknya panitia angket. atau . Pasal 171 (1) Panitia angket sebagaimana dimaksud dalam Pasal 170 ayat (2). badan hukum. dalam melakukan penyelidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 159 ayat (3). Pasal 174 (1) Hak menyatakan pendapat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 159 ayat (1) huruf c diusulkan oleh: a. (3) Dalam hal DPRD kabupaten/kota menolak usul hak angket sebagaimana dimaksud pada ayat (1). kecuali ada alasan yang sah menurut ketentuan peraturan perundangundangan. atau warga masyarakat di Daerah kabupaten/kota yang dianggap mengetahui atau patut mengetahui masalah yang diselidiki untuk memberikan keterangan dan untuk meminta menunjukkan surat atau dokumen yang berkaitan dengan hal yang sedang diselidiki. (3) Dalam hal pejabat Pemerintah Daerah kabupaten/kota.

pertanyaan. Anggota DPRD kabupaten/kota tidak dapat dituntut di depan pengadilan karena pernyataan. Anggota DPRD kabupaten/kota tidak dapat diganti antarwaktu karena pernyataan.b. paling sedikit 10(sepuluh) orang anggota DPRD kabupaten/kota dan lebih dari 1(satu) fraksi untuk DPRD kabupaten/kota yang beranggotakan di atas 35(tiga puluh lima) orang. (2) Hak protokoler sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam peraturan pemerintah. Pasal 177 (1) Pimpinan dan anggota DPRD kabupaten/kota mempunyai hak protokoler. Pasal 175 Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pelaksanaan hak menyatakan pendapat diatur dalam peraturan DPRD kabupaten/kota tentang tata tertib. dan/atau pendapat yang dikemukakan. baik secara lisan maupun tertulis di dalam rapat DPRD kabupaten/kota ataupun di luar rapat DPRD kabupaten/kota yang berkaitan dengan fungsi serta tugas dan wewenang DPRD kabupaten/kota. Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku dalam hal anggota yang bersangkutan mengumumkan materi yang telah disepakati dalam rapat tertutup untuk dirahasiakan atau hal lain yang dimaksud dalam ketentuan mengenai rahasia negara sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. dan/atau pendapat yang dikemukakan. Pasal 178 (1) Pimpinan dan anggota DPRD kabupaten/kota mempunyai hak keuangan dan administratif. (2) Usul sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diajukan kepada pimpinan DPRD kabupaten/kota. baik di dalam rapat DPRD kabupaten/kota maupun di luar rapat DPRD kabupaten/kota yang berkaitan dengan fungsi serta tugas dan wewenang DPRD kabupaten/kota. . (3) Usul sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menjadi hak menyatakan pendapat DPRD kabupaten/kota apabila mendapat persetujuan dari rapat paripurna DPRD kabupaten/kota yang dihadiri paling sedikit 3/4(tiga per empat) dari jumlah anggota DPRD kabupaten/kota dan putusan diambil dengan persetujuan paling sedikit2/3(dua per tiga) dari jumlah anggota DPRD kabupaten/kota yang hadir. pertanyaan. (1) (2) (3) (4) Paragraf 10 Pelaksanaan Hak Anggota Pasal 176 Anggota DPRD kabupaten/kota mempunyai hak imunitas.

kecuali pada persidangan terakhir dari satu periode keanggotaan DPRD kabupaten/kota. Pasal 181 Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara persidangan dan rapat diatur dalam peraturan DPRD kabupaten/kota tentang tata tertib. pimpinan dan anggota DPRD kabupaten/kota berhak memperoleh tunjangan yang besarannya disesuaikan dengan kemampuan Daerah. masa reses ditiadakan. Paragraf 11 Persidangan dan Pengambilan Keputusan Pasal 179 (1) Pada awal masa jabatan keanggotaan. (3) Masa persidangan meliputi masa sidang dan masa reses. (3) Dalam menjalankan tugas dan wewenangnya. (2) Kuorum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terpenuhi jika: a. keputusan diambil berdasarkan suara terbanyak. (2) Apabila cara pengambilan keputusan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak tercapai. Pasal 183 (1) Setiap rapat DPRD kabupaten/kota dapat mengambil keputusan apabila memenuhi kuorum. tahun sidang DPRD kabupaten/kota dimulai pada saat pengucapan sumpah/janji anggota. rapat dihadiri oleh paling sedikit 3/4(tiga per empat) dari jumlah anggota DPRD kabupaten/kota untuk mengambil persetujuan atas pelaksanaan hak angket dan hak menyatakan pendapat serta untuk mengambil keputusan mengenai usul pemberhentian bupati/wali kota dan/atau wakil bupati/wakil wali kota. (2) Tahun sidang dibagi dalam 3(tiga) masa persidangan. . kecuali rapat tertentu yang dinyatakan tertutup.(2) Hak keuangan dan administratif pimpinan dan anggota DPRD kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan peraturan pemerintah. Pasal 180 Semua rapat di DPRD kabupaten/kota pada dasarnya bersifat terbuka. (4) Pengelolaan hak keuangan dan administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan tunjangan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dilaksanakan oleh sekretariat DPRD kabupaten/kota sesuai dengan peraturan pemerintah. Pasal 182 (1) Pengambilan keputusan dalam rapat DPRD kabupaten/kota pada dasarnya dilakukan dengan cara musyawarah untuk mufakat.

Apabila pada akhir waktu penundaan rapat sebagaimana dimaksud pada ayat (4) kuorum belum juga terpenuhi. dan c. Keputusan rapat dinyatakan sah apabila: a. Apabila setelah penundaan sebagaimana dimaksud pada ayat (5).(3) (4) (5) (6) (7) b. Apabila setelah penundaan sebagaimana dimaksud pada ayat (5). disetujui dengan suara terbanyak. untuk rapat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf c. disetujui oleh lebih dari 1/2(satu per dua) jumlah anggota DPRD kabupaten/kota yang hadir. Pasal 186 . Pasal 184 Setiap keputusan rapat DPRD kabupaten/kota. kuorum sebagaimana dimaksud pada ayat (2) belum juga terpenuhi. rapat dihadiri oleh lebih dari 1/2(satu per dua) jumlah anggota DPRD kabupaten/kota untuk rapat paripurna DPRD kabupaten/kota selain rapat sebagaimana dimaksud pada huruf a dan huruf b. rapat tidak dapat mengambil keputusan. disetujui oleh paling sedikit 2/3(dua per tiga) dari jumlah anggota DPRD kabupaten/kota yang hadir. terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a dan huruf b. baik berdasarkan musyawarah untuk mufakat maupun berdasarkan suara terbanyak. merupakan kesepakatan untuk ditindaklanjuti oleh semua pihak yang terkait dalam pengambilan keputusan. dan c. rapat dihadiri oleh paling sedikit 2/3(dua per tiga) dari jumlah anggota DPRD kabupaten/kota untuk memberhentikan pimpinan DPRD kabupaten/kota serta untuk menetapkan Perda Kabupaten/Kota dan APBD kabupaten/kota. cara penyelesaiannya diserahkan kepada pimpinan DPRD kabupaten/kota dan pimpinan fraksi. kuorum sebagaimana dimaksud pada ayat (2) belum juga terpenuhi. b. rapat ditunda paling banyak 2(dua) kali dengan tenggang waktu masingmasing tidak lebih dari 1(satu) jam. Paragraf 12 Tata Tertib dan Kode Etik Pasal 185 Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pengambilan keputusan diatur dalam peraturan DPRD kabupaten/kota tentang tata tertib. pimpinan dapat menunda rapat paling lama 3(tiga) Hari atau sampai waktu yang ditetapkan oleh badan musyawarah. untuk rapat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a. terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf c. Apabila kuorum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak terpenuhi. untuk rapat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b.

pelaksanaan konsultasi antara DPRD kabupaten/kota dan Pemerintah Daerah kabupaten/kota. f. akuntan publik. atau badan lain yang anggarannya bersumber dari APBN/APBD. (3) Tata tertib DPRD kabupaten/kota paling sedikit memuat ketentuan tentang: a. Pasal 189 . tugas dan wewenang lembaga. Pasal 187 DPRD kabupaten/kota menyusun kode etik yang berisi norma yang wajib dipatuhi oleh setiap anggota selama menjalankan tugas untuk menjaga martabat. pelaksanaan fungsi. dan pekerjaan lain yang ada hubungannya dengan tugas dan wewenang DPRD kabupaten/kota serta hak sebagai anggota DPRD kabupaten/kota. pembentukan. pejabat negara atau pejabat daerah lainnya. pegawai pada badan usaha milik negara. notaris. penerimaan pengaduan dan penyaluran aspirasi masyarakat. dan nepotisme. pengucapan sumpah/janji. serta hak dan kewajiban anggota.(1) Tata tertib DPRD kabupaten/kota ditetapkan oleh DPRD kabupaten/kota dengan berpedoman pada ketentuan peraturan perundang-undangan. anggota Tentara Nasional Indonesia/Kepolisian Negara Republik Indonesia. pembuatan pengambilan keputusan. e. advokat atau pengacara. pelaksanaan tugas kelompok pakar/ahli. penggantian antarwaktu anggota. pegawai negeri sipil. h. serta tugas dan wewenang alat kelengkapan. (2) Anggota DPRD kabupaten/kota dilarang melakukan pekerjaan sebagai pejabat struktural pada lembaga pendidikan. pemberhentian dan penggantian pimpinan. dan l. atau c. k. d. konsultan. g. pengaturan protokoler. jenis dan penyelenggaraan rapat. citra. hakim pada badan peradilan. kehormatan. penetapan pimpinan. b. c. susunan. Paragraf 13 Larangan dan Sanksi Pasal 188 (1) Anggota DPRD kabupaten/kota dilarang merangkap jabatan sebagai: a. (2) Tata tertib sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berlaku di lingkungan internal DPRD kabupaten/kota. dan kredibilitas DPRD kabupaten/kota. kolusi. j. i. b. BUMD. (3) Anggota DPRD kabupaten/kota dilarang melakukan korupsi.

(3) Anggota DPRD kabupaten/kota yang dinyatakan terbukti melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 188 ayat (3) berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap dikenai sanksi pemberhentian sebagai anggota DPRD kabupaten/kota. b. tidak dapat melaksanakan tugas secara berkelanjutan atau berhalangan tetap sebagai anggota DPRD kabupaten/kota selama 3(tiga) bulan berturut-turut tanpa keterangan apa pun. mengundurkan diri. Paragraf 14 Pemberhentian Antarwaktu. dan Pemberhentian Sementara Pasal 193 (1) Anggota DPRD kabupaten/kota berhenti antarwaktu karena: a. Penggantian Antarwaktu. dan/atau c. Pasal 192 Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pengaduan masyarakat dan penjatuhan sanksi diatur dengan peraturan DPRD kabupaten/kota tentang tata beracara badan kehormatan. teguran tertulis. atau c. apabila: a. melanggar sumpah/janji jabatan dan kode etik DPRD kabupaten/kota. diberhentikan. . atau organisasi dapat mengajukan pengaduan kepada badan kehormatan DPRD kabupaten/kota dalam hal memiliki bukti yang cukup bahwa terdapat anggota DPRD kabupaten/kota yang tidak melaksanakan salah satu kewajiban atau lebih sebagaimana dimaksud dalam Pasal 161 dan/atau melanggar ketentuan larangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 188. b. teguran lisan. meninggal dunia.(1) Anggota DPRD kabupaten/kota yang tidak melaksanakan kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 161 dikenai sanksi berdasarkan keputusan badan kehormatan. Pasal 190 Jenis sanksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 189 ayat (1) berupa: a. (2) Anggota DPRD kabupaten/kota yang dinyatakan terbukti melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 188 ayat (1) dan/atau ayat (2) dikenai sanksi pemberhentian sebagai anggota DPRD kabupaten/kota. diberhentikan dari pimpinan pada alat kelengkapan. Pasal 191 Setiap orang. b. (2) Anggota DPRD kabupaten/kota diberhentikan antarwaktu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c. kelompok.

dan huruf g dilakukan setelah adanya hasil penyelidikan dan verifikasi yang dituangkan dalam keputusan badan kehormatan DPRD kabupaten/kota atas pengaduan dari pimpinan DPRD kabupaten/kota. f. bupati/wali kota menyampaikan usul tersebut kepada gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat. tidak lagi memenuhi syarat sebagai calon anggota DPRD kabupaten/kota sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan mengenai pemilihan umum. huruf b. huruf e. (4) Gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat meresmikan pemberhentian sebagaimana dimaksud pada ayat (2) paling lama 14(empat belas) Hari sejak usul pemberhentian anggota DPRD kabupaten/kota dari bupati/wali kota diterima. diusulkan oleh partai politiknya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Pasal 195 (1) Pemberhentian anggota DPRD kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 193 ayat (2) huruf a. (3) Paling lama 7(tujuh) Hari sejak usul pemberhentian sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diterima. (2) Paling lama 7(tujuh) Hari sejak usul pemberhentian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diterima. e. huruf f. huruf h.c. diberhentikan sebagai anggota partai politik sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. atau menjadi anggota partai politik lain. dinyatakan bersalah berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap karena melakukan tindak pidana dengan ancaman pidana penjara paling singkat 5(lima) tahun. masyarakat dan/atau pemilih. g. dan huruf i diusulkan oleh pimpinan partai politik kepada pimpinan DPRD kabupaten/kota dengan tembusan kepada gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat. (2) Keputusan badan kehormatan DPRD kabupaten/kota mengenai pemberhentian anggota DPRD kabupaten/kota sebagaimana dimaksud . pimpinan DPRD kabupaten/kota menyampaikan usul pemberhentian anggota DPRD kabupaten/kota kepada gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat melalui bupati/wali kota untuk memperoleh peresmian pemberhentian. tidak menghadiri rapat paripurna dan/atau rapat alat kelengkapan DPRD kabupaten/kota yang menjadi tugas dan kewajibannya sebanyak 6(enam) kali berturut-turut tanpa alasan yang sah. d. i. melanggar ketentuan larangan sebagaimana diatur dalam UndangUndang ini. huruf d. h. Pasal 194 (1) Pemberhentian anggota DPRD kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 193 ayat (1) huruf a dan huruf b serta pada ayat (2) huruf c.

(3) (4) (5) (6) (7) pada ayat (1) dilaporkan oleh badan kehormatan DPRD kabupaten/kota kepada rapat paripurna. mengundurkan diri. Pasal 196 (1) Dalam hal pelaksanaan penyelidikan dan verifikasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 195 ayat (1). atau tidak lagi memenuhi syarat . (2) Dalam hal calon anggota DPRD kabupaten/kota yang memperoleh suara terbanyak urutan berikutnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meninggal dunia. Paling lama 7(tujuh) Hari sejak keputusan badan kehormatan DPRD kabupaten/kota yang telah dilaporkan dalam rapat paripurna sebagaimana dimaksud pada ayat (2). Pimpinan partai politik yang bersangkutan menyampaikan keputusan tentang pemberhentian anggotanya kepada pimpinan DPRD kabupaten/kota. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penyelidikan. badan kehormatan DPRD kabupaten/kota dapat meminta bantuan dari ahli independen. Gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat meresmikan pemberhentian sebagaimana dimaksud pada ayat (5) paling lama 14(empat belas) Hari sejak diterimanya keputusan badan kehormatan DPRD kabupaten/kota atau keputusan pimpinan partai politik tentang pemberhentian anggotanya dari bupati/wali kota. pimpinan DPRD kabupaten/kota menyampaikan keputusan badan kehormatan DPRD kabupaten/kota kepada pimpinan partai politik yang bersangkutan. Paling lama 7(tujuh) Hari sejak keputusan pemberhentian sebagaimana dimaksud pada ayat (5) diterima. bupati/wali kota menyampaikan keputusan tersebut kepada gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat. Pasal 197 (1) Anggota DPRD kabupaten/kota yang berhenti antarwaktu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 194 ayat (1) dan Pasal 195 ayat (1) digantikan oleh calon anggota DPRD kabupaten/kota yang memperoleh suara terbanyak urutan berikutnya dalam daftar peringkat perolehan suara dari partai politik yang sama pada daerah pemilihan yang sama. dan pengambilan keputusan oleh badan kehormatan DPRD kabupaten/kota diatur dengan peraturan DPRD kabupaten/kota tentang tata beracara badan kehormatan. pimpinan DPRD kabupaten/kota meneruskan keputusan badan kehormatan DPRD kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepada gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat melalui bupati/wali kota untuk memperoleh peresmian pemberhentian. paling lambat 30(tiga puluh) Hari sejak diterimanya keputusan badan kehormatan DPRD kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dari pimpinan DPRD kabupaten/kota. verifikasi. Dalam hal pimpinan partai politik sebagaimana dimaksud pada ayat (3) tidak memberikan keputusan pemberhentian sebagaimana dimaksud pada ayat (4).

(3) Paling lama 7(tujuh) Hari sejak menerima nama calon pengganti antarwaktu dari komisi pemilihan umum Daerah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (2). Pasal 198 (1) Pimpinan DPRD kabupaten/kota menyampaikan nama anggota DPRD kabupaten/kota yang diberhentikan antarwaktu dan meminta nama calon pengganti antarwaktu kepada komisi pemilihan umum Daerah kabupaten/kota. pimpinan DPRD kabupaten/kota menyampaikan nama anggota DPRD kabupaten/kota yang diberhentikan dan nama calon pengganti antarwaktu kepada gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat melalui bupati/wali kota. (4) Paling lama 7(tujuh) Hari sejak menerima nama anggota DPRD kabupaten/kota yang diberhentikan dan nama calon pengganti antarwaktu sebagaimana dimaksud pada ayat (3). (3) Masa jabatan anggota DPRD kabupaten/kota pengganti antarwaktu melanjutkan sisa masa jabatan anggota DPRD kabupaten/kota yang digantikannya.sebagai calon anggota. anggota DPRD kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) digantikan oleh calon anggota DPRD kabupaten/kota yang memperoleh suara terbanyak urutan berikutnya dari partai politik yang sama pada daerah pemilihan yang sama. . anggota DPRD kabupaten/kota pengganti antarwaktu sebagaimana dimaksud pada ayat (3) mengucapkan sumpah/janji yang pengucapannya dipandu oleh pimpinan DPRD kabupaten/kota dengan tata cara dan teks sumpah/janji sebagaimana diatur dalam Pasal 156 dan Pasal 157. (2) Komisi pemilihan umum Daerah kabupaten/kota menyampaikan nama calon pengganti antarwaktu berdasarkan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 197 ayat (1) dan ayat (2) kepada pimpinan DPRD kabupaten/kota paling lama 5(lima) Hari sejak diterimanya surat pimpinan DPRD kabupaten/kota. (6) Sebelum memangku jabatannya. (7) Penggantian antarwaktu anggota DPRD kabupaten/kota tidak dilaksanakan apabila sisa masa jabatan anggota DPRD kabupaten/kota yang digantikan kurang dari 6(enam) bulan. bupati/wali kota menyampaikan nama anggota DPRD kabupaten/kota yang diberhentikan dan nama calon pengganti antarwaktu kepada gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat. gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat meresmikan pemberhentian dan pengangkatannya dengan keputusan gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat. (5) Paling lama 14(empat belas) Hari sejak menerima nama anggota DPRD kabupaten/kota yang diberhentikan dan nama calon pengganti antarwaktu dari bupati/wali kota sebagaimana dimaksud pada ayat (4).

(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pemberhentian sementara diatur dalam peraturan DPRD kabupaten/kota tentang tata tertib. verifikasi terhadap persyaratan calon pengganti antarwaktu. Pasal 202 (1) Susunan organisasi dan tata kerja sekretariat DPRD provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 201 ayat (1) ditetapkan dengan Perda Provinsi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. (4) Anggota DPRD kabupaten/kota yang diberhentikan sementara tetap mendapatkan hak keuangan tertentu. atau b. dan peresmian calon pengganti antarwaktu anggota DPRD kabupaten/kota diatur dengan peraturan pemerintah. (2) Dalam hal anggota DPRD kabupaten/kota dinyatakan terbukti bersalah karena melakukan tindak pidana sebagaimana dimaksud ayat (1) huruf a atau huruf b berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. (3) Dalam hal anggota DPRD kabupaten/kota dinyatakan tidak terbukti melakukan tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a atau huruf b berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. anggota DPRD kabupaten/kota yang bersangkutan diberhentikan sebagai anggota DPRD kabupaten/kota. menjadi terdakwa dalam perkara tindak pidana umum yang diancam dengan pidana penjara paling singkat 5(lima) tahun.Pasal 199 Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pengajuan penggantian antarwaktu. (2) Dalam rangka melaksanakan tugas dan wewenang DPRD provinsi. dibentuk sekretariat DPRD provinsi. dibentuk kelompok pakar atau tim ahli. anggota DPRD kabupaten/kota yang bersangkutan diaktifkan kembali. . (2) Sekretariat DPRD provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 201 ayat (1) dipimpin oleh seorang sekretaris DPRD provinsi yang diangkat dan diberhentikan dengan keputusan gubernur atas persetujuan pimpinan DPRD provinsi setelah berkonsultasi dengan pimpinan fraksi. Bagian Keenam Sistem Pendukung DPRD Provinsi Dan DPRD Kabupaten/Kota Paragraf 1 Sistem Pendukung DPRD Provinsi Pasal 201 (1) Untuk mendukung kelancaran pelaksanaan tugas dan wewenang DPRD provinsi. menjadi terdakwa dalam perkara tindak pidana khusus. Pasal 200 (1) Anggota DPRD kabupaten/kota diberhentikan sementara karena: a.

(2) Sekretariat DPRD kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 204 ayat (1) dipimpin oleh seorang sekretaris DPRD kabupaten/kota yang diangkat dan diberhentikan dengan keputusan bupati/wali kota atas persetujuan pimpinan DPRD kabupaten/kota. (3) Sekretaris DPRD kabupaten/kota dan pegawai sekretariat DPRD kabupaten/kota berasal dari pegawai negeri sipil. pimpinan fraksi.(3) Sekretaris DPRD provinsi dan pegawai sekretariat DPRD provinsi berasal dari pegawai negeri sipil. (2) Dalam rangka melaksanakan tugas dan wewenang DPRD kabupaten/kota. (2) Kelompok pakar atau tim ahli sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bekerja sesuai dengan pengelompokan tugas dan wewenang DPRD kabupaten/kota yang tercermin dalam alat kelengkapan DPRD kabupaten/kota. dibentuk kelompok pakar atau tim ahli. Pasal 205 (1) Susunan organisasi dan tata kerja sekretariat DPRD kabupaten/kota ditetapkan dengan Perda Kabupaten/Kota sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. dibentuk sekretariat DPRD kabupaten/kota. (2) Kelompok pakar atau tim ahli sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bekerja sesuai dengan pengelompokan tugas dan wewenang DPRD provinsi yang tercermin dalam alat kelengkapan DPRD provinsi. Pasal 206 (1) Kelompok pakar atau tim ahli sebagaimana dimaksud dalam Pasal 204 ayat (2) diangkat dan diberhentikan dengan keputusan sekretaris DPRD kabupaten/kota sesuai dengan kebutuhan atas usul anggota dan kemampuan Daerah kabupaten/kota. Bagian Ketujuh Hubungan Kerja Antara DPRD dan Kepala Daerah Pasal 207 . dan pimpinan alat kelengkapan DPRD. Pasal 203 (1) Kelompok pakar atau tim ahli sebagaimana dimaksud dalam Pasal 201 ayat (2) diangkat dan diberhentikan dengan keputusan sekretaris DPRD provinsi sesuai dengan kebutuhan atas usul anggota. Paragraf 2 Sistem Pendukung DPRD Kabupaten/Kota Pasal 204 (1) Untuk mendukung kelancaran pelaksanaan tugas dan wewenang DPRD kabupaten/kota.

rapat konsultasi DPRD dengan kepala daerah secara berkala.(1) Hubungan kerja antara DPRD dan kepala daerah didasarkan atas kemitraan yang sejajar. (2) Perangkat Daerah kabupaten/kota terdiri atas: a. (3) Penyampaian laporan keterangan pertanggungjawaban sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b tidak dapat dijadikan sarana pemberhentian kepala daerah. Kecamatan. (2) Hubungan kemitraan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diwujudkan dalam bentuk: a. sekretariat daerah. d. persetujuan terhadap kerja sama yang akan dilakukan Pemerintah Daerah. dan e. (2) Perangkat Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diisi oleh pegawai aparatur sipil negara. e. sekretariat DPRD. d. inspektorat. d. penyampaian laporan keterangan pertanggungjawaban kepada DPRD. bentuk lainnya sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. (3) Perangkat Daerah provinsi dan kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) selain melaksanakan Urusan Pemerintahan . persetujuan bersama dalam pembentukan Perda. badan. dan e. b. BAB VIII PERANGKAT DAERAH Bagian Kesatu Umum Pasal 208 (1) Kepala daerah dan DPRD dalam menyelenggarakan Urusan Pemerintahan dibantu oleh Perangkat Daerah. Bagian Kedua Perangkat daerah Paragraf 1 Umum Pasal 209 (1) Perangkat Daerah provinsi terdiri atas: a. c. c. dinas. sekretariat daerah. badan. inspektorat. dinas. sekretariat DPRD. b. b. c. dan f.

serta tata kerja Perangkat Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan Perkada. (2) Sekretaris Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mempunyai tugas membantu kepala daerah dalam penyusunan kebijakan dan pengoordinasian administratif terhadap pelaksanaan tugas Perangkat Daerah serta pelayanan administratif. sekretaris Daerah bertanggung jawab kepada kepala daerah. Persetujuan Menteri atau gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diberikan berdasarkan pemetaan Urusan Pemerintahan Wajib yang tidak berkaitan dengan Pelayanan Dasar dan Urusan Pemerintahan Pilihan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24. Pasal 211 (1) Pembinaan dan pengendalian penataan Perangkat Daerah dilakukan oleh Pemerintah Pusat untuk Daerah provinsi dan oleh gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat untuk Daerah kabupaten/kota. . kewenangan Daerah juga melaksanakan Tugas Pasal 210 Hubungan kerja Perangkat Daerah provinsi dengan Perangkat Daerah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 209 ayat (1) dan ayat (2) bersifat koordinatif dan fungsional. (3) Dalam pelaksanaan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (2). Paragraf 3 Sekretariat Daerah Pasal 213 (1) Sekretariat Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 209 ayat (1) huruf a dan ayat (2) huruf a dipimpin oleh sekretaris Daerah. Kedudukan. Perda sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berlaku setelah mendapat persetujuan dari Menteri bagi Perangkat Daerah provinsi dan dari gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat bagi Perangkat Daerah kabupaten/kota. perincian tugas dan fungsi.yang menjadi Pembantuan. (2) Nomenklatur Perangkat Daerah dan unit kerja pada Perangkat Daerah yang melaksanakan Urusan Pemerintahan dibuat dengan memperhatikan pedoman dari kementerian/lembaga pemerintah nonkementerian yang membidangi Urusan Pemerintahan tersebut. (1) (2) (3) (4) Paragraf 2 Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah Pasal 212 Pembentukan dan susunan Perangkat Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 209 ayat (1) dan ayat (2) ditetapkan dengan Perda. susunan organisasi.

menyediakan dan mengoordinasikan tenaga ahli yang diperlukan oleh DPRD dalam melaksanakan fungsinya sesuai dengan kebutuhan. Paragraf 5 Inspektorat Pasal 216 (1) Inspektorat Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 209 ayat (1) huruf c dan ayat (2) huruf c dipimpin oleh inspektur.Pasal 214 (1) Apabila sekretaris Daerah provinsi berhalangan melaksanakan tugasnya. mendukung pelaksanaan tugas dan fungsi DPRD. tugas sekretaris Daerah kabupaten/kota dilaksanakan oleh penjabat yang ditunjuk oleh bupati/wali kota atas persetujuan gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat. (4) Persetujuan Menteri dan gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dilakukan sesuai dengan persyaratan kepegawaian berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan. b. (3) Masa jabatan penjabat sekretaris Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) paling lama 6(enam) bulan dalam hal sekretaris Daerah tidak bisa melaksanakan tugas atau paling lama 3(tiga) bulan dalam hal terjadi kekosongan sekretaris Daerah. c. tugas sekretaris Daerah provinsi dilaksanakan oleh penjabat yang ditunjuk oleh gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat atas persetujuan Menteri. (3) Inspektorat Daerah dalam melaksanakan tugasnya bertanggung jawab kepada kepala daerah melalui sekretaris Daerah. Paragraf 4 Sekretariat DPRD Pasal 215 (1) Sekretariat DPRD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 209 ayat (1) huruf b dan ayat (2) huruf b dipimpin oleh sekretaris DPRD. menyelenggarakan administrasi keuangan. . (3) Sekretaris DPRD dalam melaksanakan tugasnya secara teknis operasional bertanggung jawab kepada pimpinan DPRD dan secara administratif bertanggung jawab kepada kepala daerah melalui sekretaris Daerah. (2) Sekretaris DPRD mempunyai tugas: a. menyelenggarakan administrasi kesekretariatan. (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai penjabat sekretaris Daerah diatur dalam Peraturan Presiden. (2) Apabila sekretaris Daerah kabupaten/kota berhalangan melaksanakan tugasnya. dan d. (2) Inspektorat Daerah mempunyai tugas membantu kepala daerah membina dan mengawasi pelaksanaan Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan Daerah dan Tugas Pembantuan oleh Perangkat Daerah.

d. Pasal 218 (1) Dinas sebagaimana dimaksud dalam pasal 209 ayat (1) huruf d dan ayat (2) huruf d dipimpin oleh seorang kepala. dinas tipe B yang dibentuk untuk mewadahi Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan Daerah dengan beban kerja yang sedang. penelitian dan pengembangan. perencanaan. keuangan. dan kemampuan keuangan Daerah untuk Urusan Pemerintahan Wajib dan berdasarkan potensi. dan e. b. badan tipe A yang dibentuk untuk mewadahi pelaksanaan fungsi penunjang Urusan Pemerintahan dengan beban kerja yang besar.Paragraf 6 Dinas Pasal 217 (1) Dinas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 209 ayat (1) huruf d dan ayat (2) huruf d dibentuk untuk melaksanakan Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan Daerah. proyeksi penyerapan tenaga kerja. Paragraf 7 Badan Pasal 219 (1) Badan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 209 ayat (1) huruf e dan ayat (2) huruf e dibentuk untuk melaksanakan fungsi penunjang Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan Daerah meliputi: a. (2) Badan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diklasifikasikan atas: a. (2) Dinas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diklasifikasikan atas: a. . luas wilayah. fungsi lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. (3) Kepala dinas dalam melaksanakan tugasnya bertanggung jawab kepada kepala daerah melalui sekretaris Daerah. dinas tipe A yang dibentuk untuk mewadahi Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan Daerah dengan beban kerja yang besar. dan pemanfaatan lahan untuk Urusan Pemerintahan Pilihan. dan c. (2) Kepala dinas mempunyai tugas membantu kepala daerah melaksanakan Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan Daerah. dinas tipe C yang dibentuk untuk mewadahi Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan Daerah dengan beban kerja yang kecil. (3) Penentuan beban kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (2) didasarkan pada jumlah penduduk. kepegawaian serta pendidikan dan pelatihan. c. b. besaran masing-masing Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan Daerah.

b. (2) Kecamatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibentuk dengan Perda Kabupaten/Kota berpedoman pada peraturan pemerintah. sebelum ditetapkan oleh bupati/ wali kota disampaikan kepada Menteri melalui gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat untuk mendapat persetujuan. b. b. (2) Persyaratan dasar sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: a. dan pemberdayaan masyarakat Desa/kelurahan. dan c. usia minimal Kecamatan. Pasal 222 (1) Pembentukan Kecamatan sebagaimana dimaksud Pasal 221 ayat (1) harus memenuhi persyaratan dasar. badan tipe B yang dibentuk untuk mewadahi pelaksanaan fungsi penunjang Urusan Pemerintahan dengan beban kerja yang sedang. dan c. sarana dan prasarana pemerintahan. pelayanan publik. luas wilayah minimal. luas wilayah. jumlah minimal Desa/kelurahan yang menjadi cakupan. badan tipe C yang dibentuk untuk mewadahi pelaksanaan fungsi penunjang Urusan Pemerintahan dengan beban kerja yang kecil. kemampuan keuangan Daerah. persyaratan teknis lainnya yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan. jumlah penduduk minimal. dan d. Paragraf 8 Kecamatan Pasal 221 (1) Daerah kabupaten/kota membentuk Kecamatan dalam rangka meningkatkan koordinasi penyelenggaraan pemerintahan. Pasal 220 (1) Badan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 209 ayat (1) huruf e dan ayat (2) huruf e dipimpin oleh seorang kepala. dan cakupan tugas. . dan persyaratan administratif. (3) Kepala badan dalam melaksanakan tugasnya bertanggung jawab kepada kepala daerah melalui sekretaris Daerah. (3) Persyaratan teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: a. (2) Kepala badan mempunyai tugas membantu kepala daerah melaksanakan fungsi penunjang Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan Daerah. persyaratan teknis. kemampuan keuangan Daerah. (3) Penentuan beban kerja badan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) didasarkan pada jumlah penduduk. c. (3) Rancangan Perda Kabupaten/Kota tentang pembentukan Kecamatan yang telah mendapatkan persetujuan bersama bupati/wali kota dan DPRD kabupaten/kota.

g. Pasal 223 (1) Kecamatan diklasifikasikan atas: a. mengoordinasikan upaya penyelenggaraan ketenteraman dan ketertiban umum. mengoordinasikan kegiatan pemberdayaan masyarakat. dan . b. mengoordinasikan pemeliharaan prasarana dan sarana pelayanan umum. d. e. melaksanakan Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan Daerah kabupaten/kota yang tidak dilaksanakan oleh unit kerja Perangkat Daerah kabupaten/kota yang ada di Kecamatan. kesepakatan musyawarah Desa dan/atau keputusan forum komunikasi kelurahan atau nama lain di wilayah Kecamatan yang akan dibentuk. dan b. c. dan jumlah Desa/kelurahan. Pasal 224 (1) Kecamatan dipimpin oleh seorang kepala kecamatan yang disebut camat yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada bupati/wali kota melalui sekretaris Daerah. (2) Bupati/wali kota wajib mengangkat camat dari pegawai negeri sipil yang menguasai pengetahuan teknis pemerintahan dan memenuhi persyaratan kepegawaian sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Kecamatan tipe B yang dibentuk untuk Kecamatan dengan beban kerja yang kecil. luas wilayah. (3) Pengangkatan camat yang tidak sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dibatalkan keputusan pengangkatannya oleh gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat. dan b. membina dan mengawasi penyelenggaraan kegiatan Desa dan/atau kelurahan.(4) Persyaratan administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: a. kesepakatan musyawarah Desa dan/atau keputusan forum komunikasi kelurahan atau nama lain di Kecamatan induk. Kecamatan tipe A yang dibentuk untuk Kecamatan dengan beban kerja yang besar. mengoordinasikan penyelenggaraan kegiatan pemerintahan yang dilakukan oleh Perangkat Daerah di Kecamatan. (2) Penentuan beban kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) didasarkan pada jumlah penduduk. mengoordinasikan penerapan dan penegakan Perda dan Perkada. f. h. menyelenggaraan urusan pemerintahan umum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 ayat (6). Pasal 225 (1) Camat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 224 ayat (1) mempunyai tugas: a.

(2) Kelurahan dipimpin oleh seorang kepala kelurahan yang disebut lurah selaku perangkat Kecamatan dan bertanggung jawab kepada camat. b. (3) Lurah diangkat oleh bupati/wali kota atas usul sekretaris daerah dari pegawai negeri sipil yang memenuhi persyaratan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang. Pasal 226 (1) Selain melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 225 ayat (1). c.undangan. (3) Camat dalam melaksanakan tugasnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibantu oleh perangkat Kecamatan. melaksanakan kegiatan pemerintahan kelurahan.i. melaksanakan pelayanan masyarakat. melaksanakan tugas lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. . (4) Lurah mempunyai tugas membantu camat dalam: a. melakukan pemberdayaan masyarakat. Ketentuan lebih pemerintah. lanjut Pasal 228 mengenai Kecamatan diatur dengan peraturan Pasal 229 (1) Kelurahan dibentuk dengan Perda Kabupaten/Kota berpedoman pada peraturan pemerintah. (2) Pendanaan penyelenggaraan urusan pemerintahan umum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dibebankan pada APBN dan pelaksanaan tugas lain sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf i dibebankan kepada yang menugasi. camat mendapatkan pelimpahan sebagian kewenangan bupati/wali kota untuk melaksanakan sebagian Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan Daerah kabupaten/kota. (3) Pelimpahan kewenangan bupati/wali kota sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan dengan keputusan bupati/wali kota berpedoman pada peraturan pemerintah. Pasal 227 Pendanaan dalam penyelenggaraan tugas pemerintahan yang dilakukan oleh camat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 225 ayat (1) huruf b sampai dengan huruf h serta Pasal 226 ayat (1) dibebankan pada APBD kabupaten/kota. memelihara ketenteraman dan ketertiban umum. (2) Pelimpahan kewenangan bupati/wali kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan berdasarkan pemetaan pelayanan publik yang sesuai dengan karakteristik Kecamatan dan/atau kebutuhan masyarakat pada Kecamatan yang bersangkutan. d.

pemanfaatan. beban kerja. (3) Penentuan kegiatan pembangunan sarana dan prasarana lokal kelurahan dan pemberdayaan masyarakat di kelurahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui musyawarah pembangunan kelurahan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. f. nomenklatur unit kerja. peraturan Pasal 230 (1) Pemerintah Daerah kabupaten/kota mengalokasikan anggaran dalam APBD kabupaten/kota untuk pembangunan sarana dan prasarana lokal kelurahan dan pemberdayaan masyarakat di kelurahan.e. (5) Untuk Daerah kota yang memiliki Desa. tata kerja. serta pembinaan dan pengendalian. dan g. eselon. (6) Ketentuan mengenai tata cara pengalokasian. alokasi anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling sedikit 5(lima) persen dari APBD setelah dikurangi DAK. lembaga tersebut dijadikan bagian dari Perangkat Daerah yang ada setelah dikonsultasikan kepada Menteri dan menteri yang menyelenggarakan Urusan Pemerintahan bidang pendayagunaan aparatur negara. memelihara prasarana dan fasilitas pelayanan umum. melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh camat. (2) Peraturan pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling sedikit mengatur tentang kedudukan. Pasal 232 (1) Ketentuan lebih lanjut mengenai Perangkat Daerah diatur dengan peraturan pemerintah. (4) Untuk Daerah kota yang tidak memiliki Desa. susunan organisasi. pengelolaan dan pertanggungjawaban dana pembangunan dan pemberdayaan masyarakat di kelurahan serta penyelenggaraan musyawarah pembangunan kelurahan diatur dalam peraturan pemerintah. alokasi anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berpedoman pada ketentuan peraturan perundang-undangan. Pasal 233 . (2) Alokasi anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dimasukkan ke dalam anggaran Kecamatan pada bagian anggaran kelurahan untuk dimanfaatkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. melaksanakan tugas lain sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. tugas dan fungsi. Pasal 231 Dalam hal ketentuan peraturan perundang-undangan memerintahkan pembentukan lembaga tertentu di Daerah.

Pasal 234 (1) Kepala Perangkat Daerah provinsi diisi dari pegawai negeri sipil yang memenuhi persyaratan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. kepala perangkat daerah kabupaten/kota dapat diisi dari pegawai negeri sipil yang memenuhi persyaratan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan dan yang bertugas di wilayah Daerah provinsi lain. Menteri mengangkat dan/atau melantik kepala Perangkat Daerah provinsi dan . (3) Dalam hal di wilayah Daerah provinsi yang bersangkutan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak terdapat pegawai negeri sipil yang memenuhi persyaratan. sosial kultural. manajerial. (4) Proses pengangkatan kepala Perangkat Daerah yang menduduki jabatan administrator dilakukan melalui seleksi sesuai dengan proses seleksi bagi jabatan pimpinan tinggi pratama di instansi Daerah sebagaimana diatur dalam undang-undang mengenai aparatur sipil negara. (2) Kepala Perangkat Daerah kabupaten/kota diisi dari pegawai negeri sipil yang memenuhi persyaratan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan dan bertugas di wilayah Daerah provinsi yang bersangkutan. b. pegawai aparatur sipil negara yang menduduki jabatan kepala Perangkat Daerah harus memenuhi kompetensi pemerintahan. (4) Kompetensi pemerintahan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan oleh Menteri. (5) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) berlaku secara mutatis mutandis terhadap pegawai aparatur sipil negara yang menduduki jabatan administrator di bawah kepala Perangkat Daerah dan jabatan pengawas. dan c.(1) Pegawai aparatur sipil negara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 208 ayat (2) yang menduduki jabatan kepala Perangkat Daerah. (2) Selain memenuhi kompetensi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (2) Dalam hal kepala Daerah menolak mengangkat dan/atau melantik kepala Perangkat Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1). teknis. Pasal 235 (1) Kepala daerah mengangkat dan/atau melantik kepala Perangkat Daerah hasil seleksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 234 ayat (4). harus memenuhi persyaratan kompetensi: a. (3) Kompetensi teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a ditetapkan oleh menteri/kepala lembaga pemerintah nonkementerian setelah dikoordinasikan dengan Menteri.

penyusunan.gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat mengangkat dan/atau melantik kepala Perangkat Daerah kabupaten/kota. pembahasan. (3) Perda dapat memuat ancaman pidana kurungan atau pidana denda selain sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. (1) (2) (3) (4) BAB IX PERDA DAN PERKADA Bagian Kesatu Perda Paragraf 1 Umum Pasal 236 Untuk menyelenggarakan Otonomi Daerah dan TugasPembantuan. dan pengundangan yang berpedoman pada ketentuan peraturan perundang. Perda sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memuat materi muatan: a. penyelenggaraan Otonomi Daerah dan Tugas Pembantuan. (3) Masyarakat berhak memberikan masukan secara lisan dan/atau tertulis dalam pembentukan Perda. (4) Pembentukan Perda sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan secara efektif dan efisien.000.undangan.000. penjabaran lebih lanjut ketentuan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. penetapan. Perda sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibentuk oleh DPRD dengan persetujuan bersama kepala Daerah. Pasal 238 (1) Perda dapat memuat ketentuan tentang pembebanan biaya paksaan penegakan/pelaksanaan Perda seluruhnya atau sebagian kepada pelanggar sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Pasal 237 (1) Asas pembentukan dan materi muatan Perda berpedoman pada ketentuan peraturan perundang-undangan dan asas hukum yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat sepanjang tidak bertentangan dengan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia. (2) Pembentukan Perda mencakup tahapan perencanaan. dan b. Selain materi muatan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) Perda dapat memuat materi muatan lokal sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Daerah membentuk Perda. .00(lima puluh juta rupiah). (2) Perda dapat memuat ancaman pidana kurungan paling lama 6(enam) bulan atau pidana denda paling banyak Rp50.

mengatasi keadaan tertentu lainnya yang memastikan adanya urgensi atas suatu rancangan Perda yang dapat disetujui bersama oleh alat kelengkapan DPRD yang khusus menangani bidang pembentukan Perda dan unit yang menangani bidang hukum pada Pemerintah Daerah. c. Program pembentukan Perda sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disusun oleh DPRD dan kepala daerah untuk jangka waktu 1(satu) tahun berdasarkan skala prioritas pembentukan rancangan Perda. mengatasi keadaan luar biasa. teguran lisan. e. dan/atau h. menindaklanjuti kerja sama dengan pihak lain. f. penghentian tetap kegiatan. akibat pembatalan oleh Menteri untuk Perda Provinsi dan oleh gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat untuk Perda Kabupaten/Kota. g. teguran tertulis. sanksi administratif lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Dalam keadaan tertentu. DPRD atau kepala daerah dapat mengajukan rancangan Perda di luar program pembentukan Perda karena alasan: a. Selain daftar kumulatif terbuka sebagaimana dimaksud pada ayat (5).(4) Selain sanksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). keadaaan konflik. denda administratif. d. penataan Desa. atau bencana alam. b. Program pembentukan Perda sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan dengan keputusan DPRD. APBD. (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) Paragraf 2 Perencanaan Pasal 239 Perencanaan penyusunan Perda dilakukan dalam program pembentukan Perda. akibat putusan Mahkamah Agung. dalam program pembentukan Perda Kabupaten/Kota dapat memuat daftar kumulatif terbuka mengenai: a. b. (5) Sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (4) berupa: a. Dalam program pembentukan Perda dapat dimuat daftar kumulatif terbuka yang terdiri atas: a. d. Penyusunan dan penetapan program pembentukan Perda dilakukan setiap tahun sebelum penetapan rancangan Perda tentang APBD. pencabutan tetap izin. penghentian sementara kegiatan. dan b. Perda dapat memuat ancaman sanksi yang bersifat mengembalikan pada keadaan semula dan sanksi administratif. pencabutan sementara izin. dan . penataan Kecamatan. dan b. c.

e. (3) Pembahasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) berpedoman pada ketentuan peraturan perundang.undangan. Paragraf 3 Penyusunan Pasal 240 Perda dilakukan (1) Penyusunan rancangan berdasarkan program pembentukan Perda. . Paragraf 4 Pembahasan Pasal 241 (1) Pembahasan rancangan Perda dilakukan oleh DPRD bersama kepala Daerah untuk mendapat persetujuan bersama. Menteri memberikan nomor register rancangan Perda Provinsi dan gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat memberikan nomor register rancangan Perda Kabupaten/Kota paling lama 7(tujuh) Hari sejak rancangan Perda diterima. (2) Penyusunan rancangan Perda sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berasal dari DPRD atau kepala daerah. Penyampaian rancangan Perda sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dalam jangka waktu paling lama 3(tiga) Hari terhitung sejak tanggal persetujuan bersama. perintah dari ketentuan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi setelah program pembentukan Perda ditetapkan. (3) Penyusunan rancangan Perda sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) berpedoman pada ketentuan peraturan perundang-undangan. (2) Pembahasan bersama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui tingkat pembicaraan. Bupati/wali kota wajib menyampaikan rancangan Perda Kabupaten/Kota sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepada gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat paling lama 3(tiga) Hari terhitung sejak menerima rancangan Perda kabupaten/kota dari pimpinan DPRD kabupaten/kota untuk mendapatkan nomor register Perda. Gubernur wajib menyampaikan rancangan Perda Provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepada Menteri paling lama 3(tiga) Hari terhitung sejak menerima rancangan Perda Provinsi dari pimpinan DPRD provinsi untuk mendapatkan nomor register Perda. (1) (2) (3) (4) (5) Paragraf 5 Penetapan Pasal 242 Rancangan Perda yang telah disetujui bersama oleh DPRD dan kepala Daerah disampaikan oleh pimpinan DPRD kepada kepala daerah untuk ditetapkan menjadi Perda.

(9) Pengesahan yang berbunyi sebagaimana dimaksud pada ayat (8) harus dibubuhkan pada halaman terakhir Perda sebelum pengundangan naskah Perda ke dalam lembaran daerah.(6) Rancangan Perda yang telah mendapat nomor register sebagaimana dimaksud pada ayat (5) ditetapkan oleh kepala daerah dengan membubuhkan tanda tangan paling lama 30 (tiga puluh) Hari sejak rancangan Perda disetujui bersama oleh DPRD dan kepala Daerah. retribusi daerah dan tata ruang daerah harus mendapat evaluasi Menteri sebelum ditetapkan oleh gubernur. rancangan Perda tersebut sah menjadi Perda dan wajib diundangkan dalam lembaran daerah. (3) Perda mulai berlaku dan mempunyai kekuatan mengikat pada tanggal diundangkan. APBD. Paragraf 7 Evaluasi Rancangan Perda Pasal 245 (1) Rancangan Perda Provinsi yang mengatur tentang RPJPD. RPJMD. pertanggungjawaban pelaksanaan APBD. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pemberian nomor register Perda diatur dengan Peraturan Menteri. (2) Pengundangan Perda dalam lembaran daerah dilakukan oleh sekretaris Daerah. perubahan APBD. (2) Gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat secara berkala menyampaikan laporan Perda Kabupaten/Kota yang telah mendapatkan nomor register kepada Menteri. Paragraf 6 Pengundangan Pasal 244 (1) Perda diundangkan dalam lembaran daerah. pajak daerah. (8) Rancangan Perda sebagaimana dimaksud pada ayat (7) dinyatakan sah dengan kalimat pengesahannya berbunyi. (2) Menteri dalam melakukan evaluasi Rancangan Perda Provinsi tentang pajak daerah dan retribusi daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berkoordinasi dengan menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan bidang keuangan dan untuk evaluasi Rancangan Perda . “Peraturan Daerah ini dinyatakan sah”. kecuali ditentukan lain di dalam Perda yang bersangkutan. (7) Dalam hal kepala Daerah tidak menandatangani rancangan Perda yang telah mendapat nomor register sebagaimana dimaksud pada ayat (6). Pasal 243 (1) Rancangan Perda yang belum mendapatkan nomor register sebagaimana dimaksud dalam Pasal 242 ayat (5) belum dapat ditetapkan kepala Daerah dan belum dapat diundangkan dalam lembaran daerah.

(4) Hasil evaluasi rancangan Perda Provinsi dan rancangan Perda Kabupaten/Kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (3) jika disetujui diikuti dengan pemberian nomor register. dan tata ruang daerah harus mendapat evaluasi gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat sebelum ditetapkan oleh bupati/wali kota. serta pembentukan Perkada. Penyusunan. APBD. dan untuk evaluasi rancangan Perda Kabupaten/Kota tentang tata ruang daerah berkonsultasi dengan Menteri dan selanjutnya Menteri berkoordinasi dengan menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan bidang tata ruang. (1) (4) Gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat dalam melakukan evaluasi rancangan Perda Kabupaten/Kota tentang pajak daerah dan retribusi daerah berkonsultasi dengan Menteri dan selanjutnya Menteri berkoordinasi dengan menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan bidang keuangan. pajak daerah.Provinsi tentang tata ruang daerah berkoordinasi dengan menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan bidang tata ruang. kepala daerah menetapkan Perkada. Bagian Kedua Perkada Paragraf 1 Umum Pasal 246 (1) Untuk melaksanakan Perda atau atas kuasa peraturan perundangundangan. retribusi daerah. (2) Ketentuan mengenai asas pembentukan dan materi muatan. . pertanggungjawaban pelaksanaan APBD. RPJMD. (2) Pengundangan Perkada sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh sekretaris daerah. (3) Rancangan Perda kabupaten/kota yang mengatur tentang RPJPD. penyusunan. dan Penetapan Pasal 247 Perencanaan. pada Paragraf 3 Pengundangan Pasal 248 (1) Perkada diundangkan dalam berita daerah. Paragraf 2 Perencanaan. serta pembentukan Perda sebagaimana dimaksud dalam Pasal 237 berlaku secara mutatis mutandis terhadap asas pembentukan dan materi muatan. perubahan APBD. dan penetapan Perkada berpedoman ketentuan peraturan perundang-undangan.

Pasal 251 (1) Perda Provinsi dan peraturan gubernur yang bertentangan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. c. d. dan gender. kepentingan umum. antargolongan. dan/atau kesusilaan dibatalkan oleh gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat. dan/atau kesusilaan. (2) Bertentangan dengan kepentingan umum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: a. terganggunya ketenteraman dan ketertiban umum. ras. kepentingan umum. terganggunya kerukunan antarwarga masyarakat. Gubernur yang tidak menyampaikan Perda Provinsi dan peraturan gubernur kepada Menteri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikenai sanksi administratif berupa teguran tertulis dari Menteri. kepentingan umum. terganggunya kegiatan ekonomi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. (3) Dalam hal gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat tidak membatalkan Perda Kabupaten/Kota dan/atau peraturan bupati/wali kota yang bertentangan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang . diskriminasi terhadap suku. (1) (2) (3) (4) Bagian Ketiga Pembatalan Perda dan Perkada Pasal 249 Gubernur wajib menyampaikan Perda Provinsi dan peraturan gubernur kepada Menteri paling lama 7(tujuh) Hari setelah ditetapkan. b.(3) Perkada sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mulai berlaku dan mempunyai kekuatan mengikat pada tanggal diundangkan. Pasal 250 (1) Perda dan Perkada sebagaimana dimaksud dalam Pasal 249 ayat (1) dan ayat (3) dilarang bertentangan dengan ketentuan peraturan perundangundangan yang lebih tinggi. (2) Perda Kabupaten/Kota dan peraturan bupati/wali kota yang bertentangan dengan ketentuan peraturan perundang. Bupati/wali kota yang tidak menyampaikan Perda Kabupaten/Kota dan peraturan bupati/wali kota kepada gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dikenai sanksi administratif berupa teguran tertulis dari gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat. dan/atau kesusilaan dibatalkan oleh Menteri. dan/atau e. agama dan kepercayaan.undangan yang lebih tinggi. Bupati/wali kota wajib menyampaikan Perda Kabupaten/Kota dan peraturan bupati/wali kota kepada gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat paling lama 7(tujuh) Hari setelah ditetapkan. terganggunya akses terhadap pelayanan publik. kecuali ditentukan lain di dalam Perkada yang bersangkutan.

dikenai sanksi.(4) (5) (6) (7) (8) lebih tinggi. kepala daerah harus menghentikan pelaksanaan Perda dan selanjutnya DPRD bersama kepala daerah mencabut Perda dimaksud. (2) Sanksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa: a. Menteri membatalkan Perda Kabupaten/Kota dan/atau peraturan bupati/wali kota. dan/atau b. (3) Sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a dikenai kepada kepala Daerah dan anggota DPRD berupa tidak dibayarkan hakhak keuangan yang diatur dalam ketentuan peraturan perundangundangan selama 3(tiga) bulan. Paling lama 7(tujuh) Hari setelah keputusan pembatalan sebagaimana dimaksud pada ayat (4). bupati/wali kota dapat mengajukan keberatan kepada Menteri paling lambat 14(empat belas) Hari sejak keputusan pembatalan Perda Kabupaten/Kota atau peraturan bupati/wali kota diterima. kepentingan umum. Paling lama 7(tujuh) Hari setelah keputusan pembatalan sebagaimana dimaksud pada ayat (4). Dalam hal penyelenggara Pemerintahan Daerah kabupaten/kota tidak dapat menerima keputusan pembatalan Perda Kabupaten/Kota dan bupati/wali kota tidak dapat menerima keputusan pembatalan peraturan bupati/wali kota sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dengan alasan yang dapat dibenarkan oleh ketentuan peraturan perundang-undangan. Dalam hal penyelenggara Pemerintahan Daerah provinsi tidak dapat menerima keputusan pembatalan Perda Provinsi dan gubernur tidak dapat menerima keputusan pembatalan peraturan gubernur sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dengan alasan yang dapat dibenarkan oleh ketentuan peraturan perundang-undangan. dan/atau kesusilaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2). Pasal 252 (1) Penyelenggara Pemerintahan Daerah provinsi atau kabupaten/kota yang masih memberlakukan Perda yang dibatalkan oleh Menteri atau oleh gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 251 ayat (4). Pembatalan Perda Provinsi dan peraturan gubernur sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan keputusan Menteri dan pembatalan Perda Kabupaten/Kota dan peraturan bupati/wali kota sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan dengan keputusan gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat. sanksi penundaan evaluasi rancangan Perda. sanksi administratif. kepala daerah harus menghentikan pelaksanaan Perkada dan selanjutnya kepala daerah mencabut Perkada dimaksud. gubernur dapat mengajukan keberatan kepada Presiden paling lambat 14(empat belas) Hari sejak keputusan pembatalan Perda atau peraturan gubernur diterima. .

dikenai sanksi penundaan atau pemotongan DAU dan/atau DBH bagi Daerah bersangkutan. (5) Dalam hal penyelenggara Pemerintahan Daerah provinsi atau kabupaten/kota masih memberlakukan Perda mengenai pajak daerah dan/atau retribusi daerah yang dibatalkan oleh Menteri atau dibatalkan oleh gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat.(4) Sanksi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak diterapkan pada saat penyelenggara Pemerintahan Daerah masih mengajukan keberatan kepada Presiden untuk Perda Provinsi dan kepada Menteri untuk Perda Kabupaten/Kota. Penyebarluasan rancangan Perda yang berasal dari kepala daerah dilaksanakan oleh sekretaris daerah. Penyebarluasan program pembentukan Perda sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan bersama oleh DPRD dan kepala daerah yang dikoordinasikan oleh alat kelengkapan DPRD yang khusus menangani pembentukan Perda. (1) (2) (3) (4) (5) Bagian Keempat Penyebarluasan Program Pembentukan Perda dan Rancangan Perda Pasal 253 DPRD dan kepala Daerah wajib melakukan penyebarluasan sejak penyusunan program pembentukan Perda. Penyebarluasan rancangan Perda yang berasal dari DPRD dilaksanakan oleh alat kelengkapan DPRD. dan pembahasan rancangan Perda. penyusunan rancangan Perda. (3) Dalam hal teguran tertulis sebagaimana dimaksud pada ayat (2) telah disampaikan 2(dua) kali berturut-turut dan tetap tidak dilaksanakan. Penyebarluasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan untuk dapat memberikan informasi dan/atau memperoleh masukan masyarakat dan para pemangku kepentingan. (2) Kepala daerah yang tidak menyebarluaskan Perda dan Perkada yang telah diundangkan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikenai sanksi administratif berupa teguran tertulis oleh Menteri untuk gubernur dan oleh gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat untuk bupati/wali kota. kepala daerah diwajibkan mengikuti program pembinaan khusus pendalaman bidang pemerintahan yang dilaksanakan oleh Kementerian serta tugas dan kewenangannya dilaksanakan oleh wakil kepala daerah atau oleh pejabat yang ditunjuk. Pasal 254 (1) Kepala daerah wajib menyebarluaskan Perda yang telah diundangkan dalam lembaran daerah dan Perkada yang telah diundangkan dalam berita daerah. Bagian Kelima .

melakukan tindakan administratif terhadap warga masyarakat. (2) Polisi pamong praja diangkat dari pegawai negeri sipil yang memenuhi persyaratan. . menindak warga masyarakat. (5) Kementerian dalam melakukan pendidikan dan pelatihan teknis dan fungsional sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dapat berkoordinasi dengan Kepolisian Republik Indonesia dan Kejaksaan Agung. Paragraf 2 Pejabat Penyidik Pasal 257 (1) Penyidikan terhadap pelanggaran atas ketentuan Perda dilakukan oleh pejabat penyidik sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. atau badan hukum yang melakukan pelanggaran atas Perda dan/atau Perkada. menyelenggarakan ketertiban umum dan ketenteraman. b. c. aparatur. aparatur. atau badan hukum yang melakukan pelanggaran atas Perda dan/atau Perkada. aparatur. atau badan hukum yang diduga melakukan pelanggaran atas Perda dan/atau Perkada. (4) Pendidikan dan pelatihan teknis dan fungsional sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dilakukan oleh Kementerian. (6) Polisi pamong praja yang memenuhi persyaratan dapat diangkat sebagai penyidik pegawai negeri sipil sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.Penegakan Perda dan Perkada Paragraf 1 Satuan Polisi Pamong Praja Pasal 255 (1) Satuan polisi pamong praja dibentuk untuk menegakkan Perda dan Perkada. (7) Ketentuan lebih lanjut mengenai satuan polisi pamong praja diatur dengan peraturan pemerintah. melakukan tindakan penyelidikan terhadap warga masyarakat. serta menyelenggarakan pelindungan masyarakat. aparatur. (3) Polisi pamong praja harus mengikuti pendidikan dan pelatihan teknis dan fungsional. Pasal 256 (1) Polisi pamong praja adalah jabatan fungsional pegawai negeri sipil yang penetapannya dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. melakukan tindakan penertiban non-yustisial terhadap warga masyarakat. atau badan hukum yang mengganggu ketertiban umum dan ketenteraman masyarakat. (2) Satuan polisi pamong praja mempunyai kewenangan: a. dan d.

Bagian Kedua . dan evaluasi pembangunan Daerah. meningkatkan akses dan kualitas pelayanan publik dan daya saing Daerah. pengendalian. (2) Koordinasi teknis pembangunan antara kementerian atau lembaga pemerintah nonkementerian dan Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikoordinasikan oleh Menteri dengan menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan bidang perencanaan pembangunan. BAB X PEMBANGUNAN DAERAH Bagian Kesatu Umum Pasal 258 (1) Daerah melaksanakan pembangunan untuk peningkatan dan pemerataan pendapatan masyarakat. pelaksanaan. (3) Kementerian atau lembaga pemerintah nonkementerian berdasarkan pemetaan Urusan Pemerintahan Wajib yang tidak berkaitan dengan Pelayanan Dasar dan Urusan Pemerintahan Pilihan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 melakukan sinkronisasi dan harmonisasi dengan Daerah untuk mencapai target pembangunan nasional. lapangan berusaha.(2) Selain pejabat penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat ditunjuk penyidik pegawai negeri sipil yang diberi tugas untuk melakukan penyidikan terhadap pelanggaran atas ketentuan Perda sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Pasal 259 (1) Untuk mencapai target pembangunan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 258 ayat (3) dilakukan koordinasi teknis pembangunan antara kementerian atau lembaga pemerintah nonkementerian dan Daerah. kesempatan kerja. (4) Penuntutan terhadap pelanggaran atas ketentuan Perda dilakukan oleh penuntut umum sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. (3) Penyidik pegawai negeri sipil sebagaimana dimaksud pada ayat (2) menyampaikan hasil penyidikan kepada penuntut umum dan berkoordinasi dengan penyidik kepolisian setempat. (2) Pembangunan Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan perwujudan dari pelaksanaan Urusan Pemerintahan yang telah diserahkan ke Daerah sebagai bagian integral dari pembangunan nasional. (4) Koordinasi teknis pembangunan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dalam tahap perencanaan. (3) Koordinasi teknis pembangunan antara Daerah provinsi dan Daerah kabupaten/kota dan antar-Daerah kabupaten/kota lingkup Daerah provinsi dilaksanakan oleh gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat.

partisipatif. dan c. (3) Pendekatan partisipatif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan. misi. partisipatif. misi. dan berwawasan lingkungan. Pasal 262 (1) Rencana pembangunan Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 260 ayat (2) dirumuskan secara transparan. RPJMD. arah kebijakan. politis. RKPD. (2) Rencana pembangunan Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 260 ayat (2) memperhatikan percepatan pembangunan Daerah tertinggal. (2) Rencana pembangunan Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikoordinasikan. dan program kepala daerah yang memuat tujuan. (2) RPJPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a merupakan penjabaran dari visi. akuntabel. (5) Pendekatan atas-bawah dan bawah-atas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan hasil perencanaan yang diselaraskan dalam musyawarah pembangunan yang dilaksanakan mulai dari Desa.Perencanaan Pembangunan Daerah Pasal 260 (1) Daerah sesuai dengan kewenangannya menyusun rencana pembangunan Daerah sebagai satu kesatuan dalam sistem perencanaan pembangunan nasional. b. berkeadilan. arah kebijakan. serta atas-bawah dan bawah-atas. (2) Pendekatan teknokratis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menggunakan metode dan kerangka berpikir ilmiah untuk mencapai tujuan dan sasaran pembangunan Daerah. efisien. Pasal 263 (1) Dokumen perencanaan pembangunan Daerah terdiri atas: a. pembangunan Daerah dan . hingga nasional. (3) RPJMD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b merupakan penjabaran dari visi. (4) Pendekatan politis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan dengan menerjemahkan visi dan misi kepala daerah terpilih ke dalam dokumen perencanaan pembangunan jangka menengah yang dibahas bersama dengan DPRD. terukur. strategi. dan diharmonisasikan oleh Perangkat Daerah yang membidangi perencanaan pembangunan Daerah. disinergikan. dan sasaran pokok pembangunan Daerah jangka panjang untuk 20(dua puluh) tahun yang disusun dengan berpedoman pada RPJPN dan rencana tata ruang wilayah. Kecamatan. Pasal 261 (1) Perencanaan pembangunan Daerah menggunakan pendekatan teknokratik. efektif. sasaran. RPJPD. Daerah kabupaten/kota. responsif. Daerah provinsi.

keuangan Daerah. (2) RKPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 263 ayat (1) huruf c ditetapkan dengan Perkada. kepala daerah dikenai sanksi administratif berupa tidak dibayarkan hak-hak keuangan yang diatur dalam peraturan perundang-undangan selama 3(tiga) bulan. (4) RKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c merupakan penjabaran dari RPJMD yang memuat rancangan kerangka ekonomi Daerah. misi. (4) Perda tentang RPJMD ditetapkan paling lama 6(enam) bulan setelah kepala daerah terpilih dilantik. dan program calon kepala daerah. (2) Apabila kepala daerah tidak menetapkan Perkada tentang RKPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 264 ayat (2). (3) Perda tentang RPJPD ditetapkan paling lama 6(enam) bulan setelah RPJPD periode sebelumnya berakhir. serta program Perangkat Daerah dan lintas Perangkat Daerah yang disertai dengan kerangka pendanaan bersifat indikatif untuk jangka waktu 5(lima) tahun yang disusun dengan berpedoman pada RPJPD dan RPJMN. (3) RKPD menjadi pedoman kepala daerah dalam menyusun KUA serta PPAS. Bagian Ketiga Evaluasi Rancangan Perda tentang RPJPD dan RPJMD . Pasal 266 (1) Apabila penyelenggara Pemerintahan Daerah tidak menetapkan Perda tentang RPJPD dan RPJMD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 264 ayat (3) dan ayat (4). RPJMD. Pasal 265 (1) RPJPD menjadi pedoman dalam perumusan visi. Pasal 264 (1) RPJPD dan RPJMD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 263 ayat (1) huruf a dan huruf b ditetapkan dengan Perda. anggota DPRD dan kepala daerah dikenai sanksi administratif berupa tidak dibayarkan hak-hak keuangan yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan selama 3(tiga) bulan. prioritas pembangunan Daerah. serta rencana kerja dan pendanaan untuk jangka waktu 1(satu) tahun yang disusun dengan berpedoman pada Rencana Kerja Pemerintah dan program strategis nasional yang ditetapkan oleh Pemerintah Pusat. (5) RPJPD. (2) RPJMD dan RKPD digunakan sebagai instrumen evaluasi penyelenggaraan Pemerintahan Daerah. dan RKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dapat diubah apabila berdasarkan hasil pengendalian dan evaluasi tidak sesuai dengan perkembangan keadaan atau penyesuaian terhadap kebijakan yang ditetapkan oleh Pemerintah Pusat.

gubernur bersama DPRD melakukan penyempurnaan paling lama 7(tujuh) Hari sejak hasil evaluasi diterima. kepentingan umum dan/atau ketentuan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. kepentingan umum dan/atau ketentuan peraturan perundangundangan yang lebih tinggi. kepentingan umum. Pasal 268 (1) Evaluasi terhadap rancangan Perda Provinsi tentang RPJPD yang dilakukan oleh Menteri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 267 ayat (1) dilaksanakan untuk menguji kesesuaian dengan RPJPN dan rencana tata ruang wilayah provinsi. (2) Rancangan Perda Kabupaten/Kota tentang RPJPD dan RPJMD yang telah disetujui bersama oleh bupati/wali kota dan DPRD Kabupaten/Kota sebelum ditetapkan oleh bupati/wali kota paling lama 3(tiga) Hari terhitung sejak persetujuan bersama disampaikan kepada gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat untuk dievaluasi. (3) Apabila Menteri menyatakan hasil evaluasi rancangan Perda Provinsi tentang RPJPD tidak sesuai dengan RPJPN dan rencana tata ruang wilayah provinsi. Menteri membatalkan Perda dimaksud. Pasal 269 (1) Evaluasi terhadap rancangan Perda Provinsi tentang RPJMD yang dilakukan oleh Menteri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 267 ayat (1) dilaksanakan untuk menguji kesesuaian dengan RPJPD Provinsi dan RPJMN. dan/atau peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi.Pasal 267 (1) Rancangan Perda Provinsi tentang RPJPD dan RPJMD yang telah disetujui bersama oleh gubernur dan DPRD provinsi sebelum ditetapkan oleh gubernur paling lama 3(tiga) Hari terhitung sejak persetujuan bersama disampaikan kepada Menteri untuk dievaluasi. gubernur bersama DPRD melakukan penyempurnaan paling lama 7(tujuh) Hari sejak hasil evaluasi diterima. (4) Apabila hasil evaluasi tidak ditindaklanjuti oleh gubernur dan DPRD serta gubernur menetapkan rancangan Perda Provinsi tentang RPJPD menjadi Perda. kepentingan umum dan/atau ketentutan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. . (2) Hasil evaluasi terhadap rancangan Perda Provinsi tentang RPJMD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan oleh Menteri kepada Gubernur paling lama 15(lima belas) Hari sejak rancangan Perda dimaksud diterima. (2) Hasil evaluasi terhadap rancangan Perda Provinsi tentang RPJPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan oleh Menteri kepada gubernur paling lama 15(lima belas) Hari sejak Rancangan Perda diterima. (1) (3) Apabila Menteri menyatakan hasil evaluasi rancangan Perda Provinsi tentang RPJMD tidak sesuai dengan RPJPD provinsi dan RPJMN.

RPJPD provinsi dan rencana tata ruang wilayah kabupaten/kota. gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat membatalkan Perda dimaksud. kepentingan umum dan/atau ketentuan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. kepentingan umum dan/atau ketentuan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. (3) Apabila gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat menyatakan hasil evaluasi rancangan Perda Kabupaten/Kota tentang RPJMD tidak sesuai dengan RPJPD kabupaten/kota. RPJPD provinsi dan rencana tata ruang wilayah kabupaten/kota. (2) Hasil evaluasi terhadap rancangan Perda Kabupaten/Kota tentang RPJPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan oleh gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat kepada bupati/wali kota paling lama 15(lima belas) Hari sejak rancangan Perda diterima. . kepentingan umum dan/atau ketentuan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Pasal 271 (1) Evaluasi terhadap rancangan Perda Kabupaten/Kota tentang RPJMD yang dilakukan oleh gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 267 ayat (2) dilaksanakan untuk menguji kesesuaian dengan RPJPD kabupaten/kota. (4) Dalam hal hasil evaluasi tidak ditindaklanjuti oleh bupati/wali kota dan DPRD kabupaten/kota. dan bupati/wali kota menetapkan rancangan Perda Kabupaten/Kota tentang RPJPD menjadi Perda. bupati/wali kota bersama DPRD kabupaten/kota melakukan penyempurnaan paling lama 7(tujuh) Hari sejak hasil evaluasi diterima. (2) Hasil evaluasi terhadap rancangan Perda Kabupaten/Kota tentang RPJMD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat kepada bupati/wali kota paling lama 15(lima belas) Hari sejak rancangan Perda diterima. RPJMD provinsi dan RPJMN.(3) Dalam hal hasil evaluasi tidak ditindaklanjuti oleh gubernur dan DPRD dan gubernur menetapkan rancangan Perda Provinsi tentang RPJMD menjadi Perda. kepentingan umum dan/atau ketentuan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. bupati/wali kota bersama DPRD melakukan penyempurnaan paling lama 7(tujuh) Hari sejak hasil evaluasi diterima. (3) Apabila gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat menyatakan hasil evaluasi rancangan Perda Kabupaten/Kota tentang RPJPD tidak sesuai dengan RPJPN. RPJMD provinsi dan RPJMN. Pasal 270 (1) Evaluasi terhadap rancangan Perda Kabupaten/Kota tentang RPJPD yang dilakukan oleh gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 267 ayat (2) dilaksanakan untuk menguji kesesuaian dengan RPJPN. Menteri membatalkan Perda dimaksud.

program. lokasi. program. dan kegiatan pembangunan yang ditetapkan dalam rencana strategis kementerian atau lembaga pemerintah nonkementerian untuk tercapainya sasaran pembangunan nasional. (4) Rencana kerja Perangkat Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (3) ditetapkan kepala daerah setelah RKPD ditetapkan. sasaran. gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat membatalkan Perda dimaksud.(4) Dalam hal hasil evaluasi tidak ditindaklanjuti oleh bupati/wali kota dan DPRD kabupaten/kota dan bupati/wali kota menetapkan rancangan Perda Kabupaten/Kota tentang RPJMD kabupaten/kota menjadi Perda. Pasal 272 (1) Perangkat Daerah menyusun rencana strategis dengan berpedoman pada RPJMD. pelaksanaan rencana pembangunan Daerah. b. dan kegiatan pembangunan dalam rangka pelaksanaan Urusan Pemerintahan Wajib dan/atau Urusan Pemerintahan Pilihan sesuai dengan tugas dan fungsi setiap Perangkat Daerah. kegiatan. dan kelompok sasaran yang disertai indikator kinerja dan pendanaan sesuai dengan tugas dan fungsi setiap Perangkat Daerah. Pasal 274 Perencanaan pembangunan Daerah didasarkan pada data dan informasi yang dikelola dalam sistem informasi pembangunan Daerah. pengendalian terhadap perumusan kebijakan perencanaan pembangunan Daerah. (3) Pencapaian sasaran. evaluasi terhadap hasil rencana pembangunan Daerah. Bagian Keempat Pengendalian dan Evaluasi Pembangunan Daerah Pasal 275 Pengendalian dan evaluasi pembangunan Daerah meliputi: a. . program. dan kegiatan pembangunan dalam rencana strategis Perangkat Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diselaraskan dengan pencapaian sasaran. (3) Rencana kerja Perangkat Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) memuat program. Pasal 273 (1) Rencana strategis Perangkat Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 272 ayat (1) ditetapkan dengan Perkada setelah RPJMD ditetapkan. dan c. (2) Rencana strategis Perangkat Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memuat tujuan. (2) Rencana strategis Perangkat Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dirumuskan ke dalam rancangan rencana kerja Perangkat Daerah dan digunakan sebagai bahan penyusunan rancangan RKPD.

c. RPJMD. dana darurat. dan d. (3) Gubernur melakukan pengendalian dan evaluasi pembangunan Daerah provinsi. Pasal 277 Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara perencanaan. b. (2) Hubungan keuangan dalam penyelenggaraan Urusan Pemerintahan yang diserahkan kepada Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: a. dan insentif(fiskal). pemberian dana bersumber dari perimbangan keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah. serta tata cara perubahan RPJPD. pemberian dana penyelenggaraan otonomi khusus untuk Pemerintahan Daerah tertentu yang ditetapkan dalam undang-undang. dan RKPD diatur dengan peraturan Menteri. penyelenggara Pemerintahan Daerah dapat memberikan insentif dan/atau kemudahan kepada masyarakat dan/atau investor yang diatur dalam Perda dengan berpedoman pada ketentuan peraturan perundang-undangan. BAB XI KEUANGAN DAERAH Bagian Kesatu Prinsip Umum Hubungan Keuangan Pemerintah Pusat dengan Daerah Pasal 279 (1) Pemerintah Pusat memiliki hubungan keuangan dengan Daerah untuk membiayai penyelenggaraan Urusan Pemerintahan yang diserahkan dan/atau ditugaskan kepada Daerah.Pasal 276 (1) Menteri melakukan pengendalian dan evaluasi terhadap pembangunan Daerah provinsi. (2) Untuk mendorong peran serta masyarakat dan sektor swasta sebagaimana dimaksud pada ayat (1). pemberian sumber penerimaan Daerah berupa pajak daerah dan retribusi daerah. (2) Gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat melakukan pengendalian dan evaluasi terhadap pembangunan Daerah kabupaten/kota. . Bagian Kelima Pemberian Insentif dan Kemudahan Investasi Pasal 278 (1) Penyelenggara Pemerintahan Daerah melibatkan peran serta masyarakat dan sektor swasta dalam pembangunan Daerah. (4) Bupati/wali kota melakukan pengendalian dan evaluasi terhadap pembangunan Daerah kabupaten/kota. pemberian pinjaman dan/atau hibah. tata cara evaluasi rancangan Perda tentang RPJPD dan RPJMD. pengendalian dan evaluasi pembangunan Daerah.

c. menyinkronkan pencapaian sasaran program Daerah dalam APBD dengan program Pemerintah Pusat. pinjaman dan/atau hibah antar-Daerah. Pasal 280 (1) Dalam menyelenggarakan sebagian Urusan Pemerintahan yang diserahkan dan/atau ditugaskan. b. mengelola dana secara efektif. melaporkan realisasi pendanaan Urusan Pemerintahan yang ditugaskan sebagai pelaksanaan dari Tugas Pembantuan. dan e. bagi hasil pajak dan nonpajak antar-Daerah. dan c. transparan dan akuntabel.(3) Hubungan keuangan dalam penyelenggaraan Urusan Pemerintahan yang ditugaskan kepada Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disertai dengan pendanaan sesuai dengan Urusan Pemerintahan yang ditugaskan sebagai pelaksanaan dari Tugas Pembantuan. (3) Administrasi pendanaan penyelenggaraan Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) . Bagian Ketiga Pendanaan Penyelenggaraan Urusan Pemerintahan di Daerah Pasal 282 (1) Penyelenggaraan Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan Daerah didanai dari dan atas beban APBD. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai hubungan keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) diatur dengan undang. Bagian Kedua Hubungan Keuangan Antar-Daerah Pasal 281 (1) Daerah dalam penyelenggaraan Urusan Pemerintahan yang diserahkan oleh Pemerintah Pusat memiliki hubungan keuangan dengan Daerah yang lain. penyelenggara Pemerintahan Daerah mempunyai kewajiban dalam pengelolaan keuangan Daerah. pendanaan Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan Daerah yang menjadi tanggung jawab bersama sebagai konsekuensi dari kerja sama antar-Daerah. efisien. pelaksanaan dana otonomi khusus yang ditetapkan dalam UndangUndang. (2) Kewajiban penyelenggara Pemerintahan Daerah dalam pengelolaan keuangan Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: a. (2) Penyelenggaraan Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan Pemerintah Pusat di Daerah didanai dari dan atas beban APBN. d. b.undang. (2) Hubungan keuangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: a. bantuan keuangan antar-Daerah.

3. pendapatan asli Daerah meliputi: 1.dilakukan secara terpisah dari administrasi pendanaan penyelenggaraan Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan Pemerintah Pusat sebagaimana dimaksud pada ayat (2). menguji. dan Pembiayaan Paragraf 1 Pendapatan Pasal 285 (1) Sumber pendapatan Daerah terdiri atas: a. retribusi daerah. dan c. 2. (2) Pengelolaan keuangan Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan secara tertib. pelaksanaan. dan bertanggung jawab dengan memperhatikan rasa keadilan. Bagian Keempat Pemegang Kekuasaan Pengelolaan Keuangan Daerah Pasal 283 (1) Pengelolaan keuangan Daerah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari penyelenggaraan Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan Daerah sebagai akibat dari penyerahan Urusan Pemerintahan. (3) Pelimpahan sebagian atau seluruh kekuasaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) didasarkan pada prinsip pemisahan kewenangan antara yang memerintahkan. . transparan. pendapatan transfer. (2) Dalam melaksanakan kekuasaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). taat pada ketentuan peraturan perundangundangan. dan yang menerima atau mengeluarkan uang. penatausahaan. efisien. Pasal 284 (1) Kepala daerah adalah pemegang kekuasaan pengelolaan keuangan Daerah dan mewakili Pemerintah Daerah dalam kepemilikan kekayaan daerah yang dipisahkan. lain-lain pendapatan asli Daerah yang sah. dan 4. lain-lain pendapatan Daerah yang sah. ekonomis. b. Belanja. hasil pengelolaan kekayaan Daerah yang dipisahkan. kepatutan. pajak daerah. Bagian Kelima Pendapatan. pelaporan dan pertanggungjawaban. dan manfaat untuk masyarakat. serta pengawasan keuangan Daerah kepada pejabat Perangkat Daerah. efektif. kepala daerah melimpahkan sebagian atau seluruh kekuasaannya yang berupa perencanaan.

dana keistimewaan. pendapatan bagi hasil. dan c. pajak. (2) Hasil pungutan atau dengan sebutan lain yang dipungut oleh kepala daerah di luar yang diatur dalam undang. Pasal 287 (1) Kepala daerah yang melakukan pungutan atau dengan sebutan lain di luar yang diatur dalam undang-undang dikenai sanksi administratif berupa tidak dibayarkan hak. 3. 2. dana Desa.undang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib disetorkan seluruhnya ke kas negara. b. dan c. dan 4. b. (2) Pemerintah Daerah dilarang melakukan pungutan atau dengan sebutan lain di luar yang diatur dalam undang.(2) Pendapatan transfer sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b meliputi: a. bantuan keuangan. sumber daya alam. Pasal 288 Dana perimbangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 285 ayat (2) huruf a angka 1) terdiri atas: a.hak keuangannya yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan selama 6(enam) bulan. dan 2. transfer Pemerintah Pusat terdiri atas: 1. dana otonomi khusus. Pasal 286 (1) Pajak daerah dan retribusi daerah ditetapkan dengan undang-undang yang pelaksanaan di Daerah diatur lebih lanjut dengan Perda. DBH. DAU. (2) DBH yang bersumber dari pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a terdiri atas: . (3) Hasil pengelolaan kekayaan Daerah yang dipisahkan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 285 ayat (1) huruf a angka 3 dan lain-lain pendapatan asli daerah yang sah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 285 ayat (1) huruf a angka 4 ditetapkan dengan Perda dengan berpedoman pada ketentuan peraturan perundang-undangan. dana perimbangan. cukai.undang. DAK. transfer antar-Daerah terdiri atas: 1. b. Pasal 289 (1) DBH sebagaimana dimaksud dalam Pasal 288 huruf a bersumber dari: a.

Menteri teknis menetapkan Daerah penghasil dan rencana penerimaan negara dari sumber daya alam per Daerah sebagai dasar alokasi dana bagi hasil sumber daya alam paling lambat 2(dua) bulan sebelum tahun anggaran bersangkutan dilaksanakan. . dan iuran produksi yang dihasilkan dari wilayah Daerah yang bersangkutan. Daerah penghasil dan rencana penerimaan negara dari sumber daya alam per Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (5) disampaikan kepada Menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan bidang keuangan. pajak bumi dan bangunan(PBB). Dalam hal sumber daya alam berada pada wilayah yang berbatasan atau berada pada lebih dari satu Daerah. (2) DAU suatu Daerah dialokasikan atas dasar celah fiskal. c. DBH yang bersumber dari cukai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b adalah cukai hasil tembakau sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. penerimaan dari panas bumi yang berasal dari penerimaan setoran bagian Pemerintah Pusat. iuran tetap. dan b. (4) Celah fiskal sebagaimana dimaksud pada ayat (2) merupakan kebutuhan fiskal dikurangi dengan kapasitas fiskal Daerah. dan e. penerimaan kehutanan yang berasal dari iuran ijin usaha pemanfaatan hutan(IIUPH). (3) Proporsi DAU antara Daerah provinsi dan kabupaten/kota ditetapkan berdasarkan pertimbangan Urusan Pemerintahan yang diserahkan kepada Daerah provinsi dan kabupaten/kota. menteri teknis menetapkan Daerah penghasil sumber daya alam berdasarkan pertimbangan Menteri paling lambat 60(enam puluh) Hari setelah usulan pertimbangan dari Menteri diterima. b. PPh Pasal 25 dan Pasal 29 wajib pajak orang pribadi dalam negeri dan PPh Pasal 21. penerimaan negara dari sumber daya alam pertambangan gas bumi yang dihasilkan dari wilayah Daerah yang bersangkutan. d.(3) (4) (5) (6) (7) a. DBH yang bersumber dari sumber daya alam sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c berasal dari: a. Pasal 290 (1) DAU sebagaimana dimaksud dalam Pasal 288 huruf b dialokasikan dengan tujuan pemerataan kemampuan keuangan antar-Daerah untuk mendanai kebutuhan Daerah dalam rangka pelaksanaan Desentralisasi. penerimaan pertambangan mineral dan batubara yang berasal dari penerimaan iuran tetap(landrent) dan penerimaan iuran eksplorasi dan iuran eksploitasi(royalty) yang dihasilkan dari wilayah Daerah yang bersangkutan. provisi sumber daya hutan(PSDH) dan dana reboisasi yang dihasilkan dari wilayah Daerah yang bersangkutan. penerimaan negara dari sumber daya alam pertambangan minyak bumi yang dihasilkan dari wilayah Daerah yang bersangkutan.

(7) Jumlah keseluruhan DAU ditetapkan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan. (2) Kebijakan DAU sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibahas terlebih dahulu dalam forum dewan pertimbangan otonomi daerah sebelum penyampaian nota keuangan dan rancangan APBN ke Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia dan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia. Pemerintah Pusat mempertimbangkan Daerah yang berciri kepulauan. kementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan bidang keuangan. dan gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat untuk ditetapkan dalam rencana kerja Pemerintah Pusat sebagai kegiatan khusus yang akan didanai DAK. Pasal 292 (1) DAK sebagaimana dimaksud dalam Pasal 288 huruf c bersumber dari APBN dialokasikan pada Daerah untuk mendanai kegiatan khusus yang merupakan Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan Daerah. . (4) Menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan bidang keuangan menetapkan alokasi DAU untuk setiap Daerah provinsi dan kabupaten/kota setelah APBN ditetapkan. (2) Kebijakan DAK dibahas dalam forum dewan pertimbangan otonomi daerah sebelum penetapan rencana kerja Pemerintah Pusat. (3) Dalam menetapkan kebijakan DAU sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 291 (1) Pemerintah Pusat menetapkan kebijakan DAU dalam nota keuangan dan rancangan APBN tahun anggaran berikutnya.(5) Kebutuhan fiskal Daerah merupakan kebutuhan pendanaan Daerah untuk menyelenggarakan Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan Daerah. (6) Kapasitas fiskal Daerah merupakan sumber pendanaan Daerah yang berasal dari pendapatan asli Daerah dan DBH. baik Urusan Pemerintahan Wajib yang terkait Pelayanan Dasar dan tidak terkait Pelayanan Dasar maupun Urusan Pemerintahan Pilihan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (1). yang disampaikan kepada Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia dan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia. (3) Menteri teknis/kepala lembaga pemerintah nonkementerian mengusulkan kegiatan khusus kepada kementerian yang menyelenggarakan perencanaan pembangunan nasional dan kementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan bidang keuangan. (4) Menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan bidang perencanaan pembangunan nasional mengoordinasikan usulan kegiatan khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dengan Menteri.

Daerah yang lain. dana darurat. dan badan usaha dalam negeri atau luar negeri . dan/atau jasa yang berasal dari Pemerintah Pusat. dan DAK diatur dalam peraturan pemerintah. (4) Pendapatan bagi hasil sebagaimana dimaksud dalam Pasal 285 ayat (2) huruf b angka 1 adalah dana yang bersumber dari pendapatan tertentu Daerah yang dialokasikan kepada Daerah lain berdasarkan angka persentase tertentu sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. (3) Dana Desa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 285 ayat (2) huruf a angka 4 dialokasikan oleh Pemerintah Pusat untuk mendanai penyelenggaraan pemerintahan. Pasal 294 (1) Dana otonomi khusus sebagaimana dimaksud dalam Pasal 285 ayat (2) huruf a angka 2 dialokasikan kepada Daerah yang memiliki otonomi khusus sesuai dengan ketentuan undang-undang mengenai otonomi khusus. pelaksanaan pembangunan. (6) Alokasi DAK sebagaimana dimaksud pada ayat (5) per Daerah ditetapkan oleh kementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan bidang keuangan. yang meliputi hibah. masyarakat. barang. dan lain-lain pendapatan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. (2) Dana keistimewaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 285 ayat (2) huruf a angka 3 dialokasikan kepada Daerah istimewa sesuai dengan ketentuan undang-undang mengenai keistimewaan. serta pemberdayaan masyarakat Desa berdasarkan kewenangan dan kebutuhan Desa sesuai dengan ketentuan undangundang mengenai Desa. (2) Hibah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan bantuan berupa uang. dan pembinaan kemasyarakatan. (5) Bantuan keuangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 285 ayat (2) huruf b angka 2 adalah dana yang diberikan oleh Daerah kepada Daerah lainnya baik dalam rangka kerja sama Daerah maupun untuk tujuan tertentu lainnya. DAU. Pasal 293 Ketentuan lebih lanjut mengenai supervisi. pemonitoran dan pengevaluasian atas penggunaan DBH. Pasal 295 (1) Lain-lain pendapatan Daerah yang sah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 285 ayat (1) huruf c merupakan seluruh pendapatan Daerah selain pendapatan asli Daerah dan pendapatan transfer.(5) Kegiatan khusus yang telah ditetapkan dalam rencana kerja Pemerintah Pusat sebagaimana dimaksud pada ayat (4) menjadi dasar pengalokasian DAK.

dan/atau pengadaan barang dan jasa termasuk penerimaan bunga. atau penerimaan lain dengan nama dan dalam bentuk apa pun yang dapat dinilai dengan uang secara langsung sebagai akibat dari penjualan. Paragraf 2 Belanja Pasal 298 (1) Belanja Daerah diprioritaskan untuk mendanai Urusan Pemerintahan Wajib yang terkait Pelayanan Dasar yang ditetapkan dengan standar pelayanan minimal. Pasal 297 (1) Komisi. jasa giro. (2) Belanja Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berpedoman pada standar teknis dan standar harga satuan regional sesuai dengan ketentuan peraturan perundang. Pasal 296 (1) Dana darurat dapat dialokasikan pada Daerah dalam APBN untuk mendanai keperluan mendesak yang diakibatkan oleh bencana yang tidak mampu ditanggulangi oleh Daerah dengan menggunakan sumber APBD. atau penerimaan lain sebagai akibat penyimpanan uang pada bank.menukar.undangan.yang bertujuan untuk menunjang peningkatan penyelenggaraan Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan Daerah. (5) Dana darurat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diusulkan oleh Daerah yang mengalami bencana kepada Menteri. (4) Dana darurat sebagaimana dimaksud pada ayat (3) digunakan untuk mendanai perbaikan fasilitas umum untuk melayani masyarakat. (3) Dana darurat sebagaimana dimaksud dalam pada ayat (1) diberikan pada tahap pascabencana. potongan. (7) Alokasi dana darurat kepada Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan peraturan menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan bidang keuangan. (6) Menteri mengoordinasikan usulan dana darurat kepada kementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan bidang keuangan setelah berkoordinasi dengan kementerian/lembaga pemerintah nonkementerian terkait. (2) Ketidakmampuan keuangan Daerah dalam menangani bencana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Menteri. penerimaan dari hasil pemanfaatan barang Daerah atau dari kegiatan lainnya merupakan pendapatan Daerah. hibah. (2) Semua pendapatan Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) apabila berbentuk uang harus segera disetor ke kas umum Daerah dan berbentuk barang menjadi milik Daerah yang dicatat sebagai inventaris Daerah. asuransi. . rabat. tukar.

c. lembaga. (2) Ketentuan mengenai belanja pimpinan dan anggota DPRD diatur dalam peraturan pemerintah. dan organisasi kemasyarakatan yang berbadan hukum Indonesia. lembaga keuangan bukan bank. lembaga keuangan bank. Paragraf 3 Pembiayaan Pasal 300 (1) Daerah dapat melakukan pinjaman yang bersumber dari Pemerintah Pusat. (7) Belanja DAK diprioritaskan untuk mendanai kegiatan fisik dan dapat digunakan untuk kegiatan nonfisik. dan/atau d. dan belanja untuk Desa dianggarkan dalam APBD sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan.(3) Belanja Daerah untuk pendanaan Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan Daerah selain sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berpedoman pada analisis standar belanja dan standar harga satuan regional sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. (4) Belanja hibah dan bantuan sosial dianggarkan dalam APBD sesuai dengan kemampuan keuangan Daerah setelah memprioritaskan pemenuhan belanja Urusan Pemerintahan Wajib dan Urusan Pemerintahan Pilihan. (6) Belanja bagi hasil. b. kecuali ditentukan lain dalam ketentuan peraturan perundang-undangan. . bantuan keuangan. Daerah lain. Pasal 301 (1) Daerah dapat melakukan pinjaman yang berasal dari penerusan pinjaman utang luar negeri dari menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan bidang keuangan setelah memperoleh pertimbangan dari Menteri. Pemerintah Daerah lain. (5) Belanja hibah sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dapat diberikan kepada: a. Pemerintah Pusat. badan usaha milik negara atau BUMD. dan masyarakat. badan. (2) Kepala daerah dengan persetujuan DPRD dapat menerbitkan obligasi Daerah untuk membiayai infrastruktur dan/atau investasi yang menghasilkan penerimaan Daerah setelah memperoleh pertimbangan dari Menteri dan persetujuan dari menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan bidang keuangan. Pasal 299 (1) Ketentuan mengenai belanja kepala daerah dan wakil kepala daerah diatur dengan peraturan pemerintah.

pengenaan sanksi dalam hal Daerah tidak memenuhi kewajiban membayar pinjaman. persyaratan bagi Daerah dalam melakukan pinjaman. . dan penerimaan lain-lain yang penggunaannya dibatasi untuk pengeluaran tertentu. (3) Dana cadangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bersumber dari penyisihan atas penerimaan Daerah kecuali dari DAK. pengelolaan obligasi Daerah yang mencakup pengendalian risiko. penjualan dan pembelian obligasi serta pelunasan dan penganggaran dalam APBD. d. tata cara pelaporan posisi kumulatif pinjaman dan kewajiban pinjaman setiap semester dalam tahun anggaran berjalan. pinjaman Daerah. Pasal 304 (1) Daerah dapat melakukan penyertaan modal pada badan usaha milik negara dan/atau BUMD. persyaratan penerbitan obligasi Daerah serta pembayaran bunga dan pokok obligasi. e.(2) Perjanjian penerusan pinjaman sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan antara menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan bidang keuangan dan kepala daerah. b. (4) Penggunaan dana cadangan dalam satu tahun anggaran menjadi penerimaan pembiayaan APBD dalam tahun anggaran yang bersangkutan. (3) Daerah tidak dapat memberikan jaminan atas pinjaman pihak lain. penganggaran kewajiban pinjaman Daerah yang jatuh tempo dalam APBD. (2) Pembentukan dana cadangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan Perda. Pasal 303 (1) Daerah dapat membentuk dana cadangan guna mendanai kebutuhan pembangunan prasarana dan sarana Daerah yang tidak dapat dibebankan dalam 1(satu) tahun anggaran. dan f. dana tersebut dapat ditempatkan dalam portofolio yang memberikan hasil tetap dengan risiko rendah. Pasal 302 (1) Ketentuan lebih lanjut mengenai pinjaman Daerah diatur dengan peraturan pemerintah. c. (5) Dana cadangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) ditempatkan dalam rekening tersendiri dalam rekening kas umum Daerah. (6) Dalam hal dana cadangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) belum digunakan sesuai dengan peruntukannya. (2) Peraturan pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling sedikit mengatur: a.

APBD dapat digunakan untuk pengeluaran pembiayaan Daerah yang ditetapkan dalam Perda tentang APBD. APBD dapat didanai dari penerimaan pembiayaan Daerah yang ditetapkan dalam Perda tentang APBD. dan/atau dapat dialihkan kepada badan usaha milik negara dan/atau BUMD. (3) Dalam hal APBD diperkirakan defisit. pembentukan dana cadangan. c. hasil penjualan kekayaan Daerah yang dipisahkan. (2) Gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat melakukan pengendalian atas defisit APBD kabupaten/kota dengan berdasarkan batas maksimal defisit APBD dan batas maksimal jumlah kumulatif pinjaman Daerah yang ditetapkan oleh menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan bidang keuangan. sisa lebih perhitungan anggaran tahun sebelumnya. d. (4) Penerimaan pembiayaan Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (3) bersumber dari: a. Paragraf 4 Pengelolaan Barang Milik Daerah Pasal 307 . pencairan dana cadangan. pinjaman Daerah. pembayaran cicilan pokok utang yang jatuh tempo. dijual kepada pihak lain. (3) Pengendalian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dilakukan pada saat evaluasi terhadap rancangan Perda tentang APBD.(2) Penyertaan modal Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat ditambah. dan e. penerimaan pembiayaan lainnya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. dan/atau d. (2) Pengeluaran pembiayaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat digunakan untuk pembiayaan: a. pengeluaran pembiayaan lainnya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Pasal 305 (1) Dalam hal APBD diperkirakan surplus. Pasal 306 (1) Menteri melakukan pengendalian atas defisit APBD provinsi dengan berdasarkan batas maksimal defisit APBD dan batas maksimal jumlah kumulatif pinjaman Daerah yang ditetapkan oleh menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan bidang keuangan. c. dikurangi. b. (3) Penyertaan modal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. penyertaan modal Daerah. b.

undangan. Pasal 311 . Pasal 309 APBD merupakan dasar pengelolaan keuangan Daerah dalam masa 1(satu) tahun anggaran sesuai dengan undang-undang mengenai keuangan negara. dan/atau dimusnahkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. (3) Rencana kerja dan anggaran satuan kerja perangkat Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) disampaikan kepada pejabat pengelola keuangan Daerah sebagai bahan penyusunan rancangan Perda tentang APBD tahun berikutnya. Pasal 310 (1) Kepala daerah menyusun KUA dan PPAS berdasarkan RKPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 265 ayat (3) dan diajukan kepada DPRD untuk dibahas bersama. (3) Barang milik Daerah yang tidak digunakan untuk penyelenggaraan Urusan Pemerintahan dapat dihapus dari daftar barang milik Daerah dengan cara dijual. (2) KUA serta PPAS yang telah disepakati kepala daerah bersama DPRD menjadi pedoman Perangkat Daerah dalam menyusun rencana kerja dan anggaran satuan kerja Perangkat Daerah. (2) Pelaksanaan pengadaan barang milik Daerah dilakukan sesuai dengan kemampuan keuangan dan kebutuhan Daerah berdasarkan prinsip efisiensi.(1) Barang milik Daerah yang diperlukan untuk penyelenggaraan Urusan Pemerintahan tidak dapat dipindahtangankan. disertakan sebagai modal Daerah. efektivitas. dan transparansi dengan mengutamakan produk dalam negeri sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Paragraf 5 APBD Pasal 308 Menteri menetapkan pedoman penyusunan APBD setiap tahun setelah berkoordinasi dengan menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan bidang perencanaan pembangunan nasional dan menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan bidang keuangan. dihibahkan. (4) Barang milik Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (3) tidak dapat dijadikan tanggungan atau digadaikan untuk mendapatkan pinjaman. (4) Ketentuan mengenai tata cara penyusunan rencana kerja dan anggaran. serta dokumen pelaksanaan anggaran satuan kerja Perangkat Daerah diatur dalam Perda yang berpedoman pada ketentuan peraturan perundang. dipertukarkan.

kepala daerah menyiapkan rancangan Perkada tentang penjabaran APBD dan rancangan dokumen pelaksanaan anggaran. rancangan Perkada tentang APBD beserta lampirannya disampaikan paling lama 15(lima belas) Hari terhitung sejak DPRD tidak mengambil keputusan bersama dengan kepala daerah terhadap rancangan Perda tentang APBD. (2) DPRD dan kepala daerah yang tidak menyetujui bersama rancangan Perda tentang APBD sebelum dimulainya tahun anggaran setiap tahun sebagaimana dimaksud ayat (1) dikenai sanksi administratif berupa tidak dibayarkan hak. (3) Sanksi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak dapat dikenakan kepada anggota DPRD apabila keterlambatan penetapan APBD disebabkan oleh kepala daerah terlambat menyampaikan rancangan Perda tentang APBD kepada DPRD dari jadwal yang telah ditetapkan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan. dan PPAS untuk mendapat persetujuan bersama.(1) Kepala daerah wajib mengajukan rancangan Perda tentang APBD disertai penjelasan dan dokumen-dokumen pendukungnya kepada DPRD sesuai dengan waktu yang ditentukan oleh ketentuan peraturan perundangundangan untuk memperoleh persetujuan bersama. (2) Rancangan Perkada sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat ditetapkan setelah memperoleh pengesahan dari Menteri bagi Daerah provinsi dan oleh gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat bagi Daerah kabupaten/kota. KUA.hak keuangan yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan selama 6(enam) bulan. (2) Kepala daerah yang tidak mengajukan rancangan Perda tentang APBD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikenai sanksi administratif berupa tidak dibayarkan hak-hak keuangannya yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan selama 6(enam) bulan. . kepala daerah menyusun dan menetapkan Perkada tentang APBD paling tinggi sebesar angka APBD tahun anggaran sebelumnya untuk membiayai keperluan setiap bulan. Pasal 313 (1) Apabila kepala daerah dan DPRD tidak mengambil persetujuan bersama dalam waktu 60(enam puluh) Hari sejak disampaikan rancangan Perda tentang APBD oleh kepala daerah kepada DPRD. (4) Atas dasar persetujuan bersama DPRD dan kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (3). Pasal 312 (1) Kepala daerah dan DPRD wajib menyetujui bersama rancangan Perda tentang APBD paling lambat 1(satu) bulan sebelum dimulainya tahun anggaran setiap tahun. (3) Rancangan Perda sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibahas kepala daerah bersama DPRD dengan berpedoman pada RKPD. (3) Untuk memperoleh pengesahan sebagaimana dimaksud pada ayat (2).

serta RPJMD. serta RPJMD. kepala daerah menetapkan rancangan Perkada dimaksud menjadi Perkada. Pasal 314 (1) Rancangan Perda Provinsi tentang APBD yang telah disetujui bersama dan rancangan peraturan gubernur tentang penjabaran APBD sebelum ditetapkan oleh gubernur. kepentingan umum.(4) Apabila dalam batas waktu 30(tiga puluh) Hari Menteri atau gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat tidak mengesahkan rancangan Perkada sebagaimana dimaksud pada ayat (3). (7) Dalam hal hasil evaluasi tidak ditindaklanjuti oleh gubernur dan DPRD dan gubernur menetapkan rancangan Perda Provinsi tentang APBD dan rancangan peraturan gubernur tentang penjabaran APBD menjadi Perda dan peraturan gubernur. dilampiri RKPD. (8) Dalam hal pembatalan dilakukan terhadap seluruh isi Perda Provinsi tentang APBD dan peraturan gubernur tentang penjabaran APBD sebagaimana dimaksud pada ayat (6). gubernur menetapkan rancangan dimaksud menjadi Perda dan peraturan gubernur. paling lama 3(tiga) Hari. disampaikan kepada Menteri untuk dievaluasi. (2) Menteri melakukan evaluasi terhadap rancangan Perda Provinsi tentang APBD dan rancangan peraturan gubernur tentang penjabaran APBD sebagaimana dimaksud pada ayat (1). KUA dan PPAS. . (5) Dalam hal Menteri menyatakan hasil evaluasi rancangan Perda Provinsi tentang APBD dan rancangan peraturan gubernur tentang penjabaran APBD sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. gubernur bersama DPRD melakukan penyempurnaan paling lama 7(tujuh) Hari terhitung sejak hasil evaluasi diterima. RPJMD. Menteri membatalkan seluruh atau sebagian isi Perda dan peraturan gubernur dimaksud. b. RKPD. KUA dan PPAS. (6) Dalam hal Menteri menyatakan hasil evaluasi rancangan Perda Provinsi tentang APBD dan rancangan peraturan gubernur tentang penjabaran APBD tidak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. (3) Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan untuk menguji kesesuaian rancangan Perda Provinsi tentang APBD dan rancangan peraturan gubernur tentang penjabaran APBD dengan: a. serta KUA dan PPAS yang disepakati antara kepala daerah dan DPRD. kepentingan umum. ketentuan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. diberlakukan pagu APBD tahun sebelumnya. kepentingan umum. RKPD serta KUA dan PPAS. RKPD. (4) Hasil evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan oleh Menteri kepada gubernur paling lama 15 (lima belas) Hari terhitung sejak rancangan Perda Provinsi dan rancangan peraturan gubernur dimaksud diterima. c. dan d.

Pasal 315 (1) Rancangan Perda Kabupaten/Kota tentang APBD yang telah disetujui bersama dan rancangan peraturan bupati/wali kota tentang penjabaran APBD sebelum ditetapkan oleh bupati/wali kota. RKPD. serta RPJMD. (3) Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan untuk menguji kesesuaian rancangan Perda Kabupaten/Kota tentang APBD dan rancangan peraturan bupati/wali kota tentang penjabaran APBD dengan: a. dilampiri RKPD. bupati/wali kota bersama DPRD melakukan penyempurnaan paling lama 7(tujuh) Hari sejak hasil evaluasi diterima. (4) Hasil evaluasi disampaikan oleh gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat kepada bupati/wali kota paling lama 15(lima belas) Hari terhitung sejak rancangan Perda Kabupaten/Kota tentang APBD dan rancangan peraturan bupati/wali kota tentang penjabaran APBD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diterima. KUA dan PPAS. c. (5) Dalam hal gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat menyatakan hasil evaluasi rancangan Perda Kabupaten/Kota tentang APBD dan rancangan peraturan bupati/wali kota tentang penjabaran APBD sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. (2) Gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat melakukan evaluasi terhadap rancangan Perda Kabupaten/Kota tentang APBD dan rancangan peraturan bupati/wali kota tentang penjabaran APBD sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan d. KUA dan PPAS. ketentuan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. dan bupati/wali kota menetapkan rancangan Perda Kabupaten/Kota tentang APBD dan rancangan peraturan bupati/wali kota tentang penjabaran APBD menjadi Perda dan peraturan bupati/wali kota. gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat membatalkan seluruh atau sebagian isi Perda Kabupaten/Kota dan peraturan bupati/wali kota dimaksud. KUA dan PPAS yang disepakati antara kepala daerah dan DPRD. serta RPJMD. (7) Dalam hal hasil evaluasi tidak ditindaklanjuti oleh bupati/wali kota dan DPRD. RKPD serta KUA dan PPAS. RKPD. kepentingan umum. kepentingan umum. b. (8) Dalam hal pembatalan dilakukan terhadap seluruh isi Perda Kabupaten/Kota tentang APBD dan peraturan bupati/wali kota tentang . (6) Dalam hal gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat menyatakan hasil evaluasi Rancangan Perda Kabupaten/Kota tentang APBD dan rancangan peraturan bupati/wali kota tentang penjabaran APBD tidak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. paling lama 3(tiga) Hari disampaikan kepada gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat untuk dievaluasi. RPJMD. bupati/wali kota menetapkan rancangan dimaksud menjadi Perda dan peraturan bupati/wali kota. kepentingan umum.

(2) Pengambilan keputusan mengenai rancangan Perda tentang perubahan APBD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh DPRD bersama kepala daerah paling lambat 3(tiga) bulan sebelum tahun anggaran yang bersangkutan berakhir. c. (3) Apabila DPRD sampai batas waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak mengambil keputusan bersama dengan kepala daerah terhadap rancangan Perda tentang perubahan APBD. keadaan darurat. (9) Gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat menyampaikan hasil evaluasi rancangan perda kabupaten/kota tentang APBD dan rancangan peraturan bupati/wali kota tentang penjabaran APBD kepada Menteri paling lama 3(tiga) Hari sejak ditetapkannya keputusan gubernur tentang hasil evaluasi rancangan Perda Kabupaten/Kota tentang APBD dan rancangan peraturan bupati/wali kota tentang penjabaran APBD. (4) Penetapan rancangan Perda tentang perubahan APBD dilakukan setelah ditetapkannya Perda tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBD tahun sebelumnya. perkembangan yang tidak sesuai dengan asumsi KUA. antarkegiatan.penjabaran APBD sebagaimana dimaksud pada ayat (6). Paragraf 6 Perubahan APBD Pasal 316 (1) Perubahan APBD dapat dilakukan jika terjadi: a. d. dan/atau e. keadaan yang menyebabkan sisa lebih perhitungan anggaran tahun sebelumnya harus digunakan untuk pembiayaan dalam tahun anggaran berjalan. kecuali dalam keadaan luar biasa. . dan antarjenis belanja. (3) Keadaan luar biasa sebagaimana dimaksud pada ayat (2) merupakan keadaan yang menyebabkan estimasi penerimaan dan/atau pengeluaran dalam APBD mengalami kenaikan atau penurunan lebih besar dari 50% (lima puluh) persen. b. kepala daerah melaksanakan pengeluaran yang dianggarkan dalam APBD tahun anggaran berjalan. keadaan luar biasa. diberlakukan pagu APBD tahun sebelumnya. keadaan yang menyebabkan harus dilakukan pergeseran anggaran antarunit organisasi. (2) Perubahan APBD hanya dapat dilakukan 1(satu) kali dalam 1(satu) tahun anggaran. Pasal 317 (1) Kepala daerah mengajukan rancangan Perda tentang perubahan APBD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 316 ayat (1) disertai penjelasan dan dokumen pendukung kepada DPRD untuk memperoleh persetujuan bersama.

dan g. laporan operasional. laporan arus kas. Penyajian laporan keuangan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan sesuai dengan standar akuntansi pemerintahan. Laporan keuangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling sedikit meliputi: a. Persetujuan bersama rancangan Perda sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dilakukan paling lambat 7(tujuh) bulan setelah tahun anggaran berakhir. f. laporan perubahan saldo anggaran lebih. laporan perubahan ekuitas. Pasal 321 (1) Rancangan Perda Provinsi tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBD yang telah disetujui bersama DPRD dan rancangan peraturan gubernur tentang penjabaran pertanggungjawaban pelaksanaan APBD sebelum . laporan realisasi anggaran. e. Pasal 319 Ketentuan mengenai evaluasi rancangan Perda tentang APBD dan rancangan Perkada tentang penjabaran APBD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 314 dan Pasal 315 berlaku secara mutatis mutandis terhadap evaluasi rancangan Perda tentang perubahan APBD dan rancangan perkada tentang penjabaran perubahan APBD. (1) (2) (3) (4) (5) (6) Paragraf 7 Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD Pasal 320 Kepala daerah menyampaikan rancangan Perda tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBD kepada DPRD dengan dilampiri laporan keuangan yang telah diperiksa oleh Badan Pemeriksa Keuangan paling lambat 6(enam) bulan setelah tahun anggaran berakhir. neraca. d.Pasal 318 Perkada tentang penjabaran APBD dan Perkada tentang penjabaran perubahan APBD dijadikan dasar penetapan dokumen pelaksanaan anggaran satuan kerja Perangkat Daerah. Rancangan Perda tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibahas kepala daerah bersama DPRD untuk mendapat persetujuan bersama. catatan atas laporan keuangan yang dilampiri dengan ikhtisar laporan keuangan BUMD. kepala daerah menyiapkan rancangan Perkada tentang penjabaran pertanggungjawaban pelaksanaan APBD. Atas dasar persetujuan bersama sebagaimana dimaksud pada ayat (5). b. c.

(2) Gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat melakukan evaluasi terhadap rancangan Perda Kabupaten/Kota tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBD dan rancangan peraturan bupati/wali kota tentang penjabaran pertanggungjawaban pelaksanaan APBD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk menguji kesesuaiannya dengan Perda Kabupaten/Kota tentang APBD dan/atau Perda Kabupaten/Kota tentang perubahan APBD. Dalam hal Menteri menyatakan hasil evaluasi rancangan Perda Provinsi tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBD sudah sesuai dengan Perda Provinsi tentang APBD dan/atau Perda Provinsi tentang perubahan APBD dan telah menindaklanjuti temuan laporan hasil pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan. gubernur menetapkan rancangan Perda Provinsi dimaksud menjadi Perda Provinsi. Pasal 322 (1) Rancangan Perda Kabupaten/Kota tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBD yang telah disetujui bersama dan rancangan peraturan bupati/wali kota tentang penjabaran pertanggungjawaban pelaksanaan APBD sebelum ditetapkan oleh bupati/wali kota paling lama 3(tiga) Hari disampaikan kepada gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat untuk dievaluasi. peraturan bupati/wali kota tentang penjabaran APBD . dan gubernur menetapkan rancangan Perda Provinsi tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBD menjadi Perda. Hasil evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) disampaikan oleh Menteri kepada gubernur paling lama 15 (lima belas) Hari terhitung sejak rancangan Perda Provinsi dimaksud diterima. gubernur bersama DPRD melakukan penyempurnaan paling lama 7(tujuh) Hari terhitung sejak hasil evaluasi diterima. Menteri membatalkan seluruh atau sebagian isi Perda Provinsi dimaksud.(2) (3) (4) (5) (6) ditetapkan oleh gubernur paling lama 3(tiga) Hari disampaikan kepada Menteri untuk dievaluasi. peraturan gubernur tentang penjabaran APBD dan/atau peraturan gubernur tentang penjabaran perubahan APBD serta temuan laporan hasil pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan. Dalam hal Menteri menyatakan hasil evaluasi rancangan Perda Provinsi tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBD bertentangan dengan Perda Provinsi tentang APBD dan/atau Perda Provinsi tentang perubahan APBD dan tidak menindaklanjuti temuan laporan hasil pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan. Menteri melakukan evaluasi terhadap rancangan Perda Provinsi tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBD dan rancangan peraturan gubernur tentang penjabaran pertanggungjawaban pelaksanaan APBD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk menguji kesesuaiannya dengan Perda Provinsi tentang APBD dan/atau Perda Provinsi tentang perubahan APBD. Dalam hal hasil evaluasi tidak ditindaklanjuti oleh gubernur dan DPRD.

DPRD tidak mengambil keputusan bersama dengan kepala daerah terhadap rancangan Perda tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBD. dan bupati/wali kota menetapkan rancangan Perda Kabupaten/Kota tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBD menjadi Perda Kabupaten/Kota. (2) Rancangan Perkada sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan setelah memperoleh pengesahan dari Menteri bagi Daerah provinsi dan gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat bagi Daerah kabupaten/kota. Dalam hal gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat menyatakan hasil evaluasi rancangan Perda Kabupaten/Kota tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBD sudah sesuai dengan Perda Kabupaten/Kota tentang APBD dan/atau Perda Kabupaten/Kota tentang perubahan APBD dan telah menindaklanjuti temuan laporan hasil pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan. gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat membatalkan seluruh atau sebagian isi Perda Kabupaten/Kota dimaksud. Hasil evaluasi disampaikan oleh gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat kepada bupati/wali kota paling lama 15(lima belas) Hari terhitung sejak diterimanya rancangan Perda Kabupaten/Kota dan rancangan peraturan bupati/wali kota tentang penjabaran pertanggungjawaban pelaksanaan APBD sebagaimana dimaksud pada ayat (1). bupati/wali kota menetapkan rancangan Perda Kabupaten/Kota dimaksud menjadi Perda Kabupaten/Kota. (3) Untuk memperoleh pengesahan sebagaimana dimaksud pada ayat (2). Dalam hal hasil evaluasi tidak ditindaklanjuti oleh bupati/wali kota dan DPRD.(3) (4) (5) (6) dan/atau peraturan bupati/wali kota tentang penjabaran perubahan APBD serta temuan laporan hasil pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan. Pasal 323 (1) Apabila dalam waktu 1(satu) bulan sejak diterimanya rancangan Perda tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBD dari kepala daerah. (4) Apabila dalam batas waktu 15(lima belas) Hari Menteri atau gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat tidak mengesahkan rancangan Perkada . bupati/wali kota bersama DPRD melakukan penyempurnaan paling lama 7(tujuh) Hari terhitung sejak hasil evaluasi diterima. kepala daerah menyusun dan menetapkan Perkada tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBD. Rancangan Perkada tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBD beserta lampirannya disampaikan paling lama 7(tujuh) Hari terhitung sejak DPRD tidak mengambil keputusan bersama dengan kepala daerah terhadap rancangan Perda tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBD. Dalam hal gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat menyatakan hasil evaluasi rancangan Perda Kabupaten/Kota tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBD bertentangan dengan Perda tentang APBD dan/atau Perda Kabupaten/Kota tentang perubahan APBD serta tidak menindaklanjuti temuan laporan hasil pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan.

Dalam hal Menteri menyatakan hasil evaluasi rancangan Perda Provinsi tentang pajak daerah dan retribusi daerah tidak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang. gubernur bersama DPRD melakukan penyempurnaan paling lama 7(tujuh) Hari terhitung sejak hasil evaluasi diterima. Menteri melakukan evaluasi terhadap rancangan Perda Provinsi tentang pajak daerah dan retribusi daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk menguji kesesuaiannya dengan ketentuan peraturan perundangundangan yang lebih tinggi dan kepentingan umum. paling lama 3(tiga) Hari disampaikan kepada gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat untuk dievaluasi. (2) Gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat melakukan evaluasi terhadap rancangan Perda Kabupaten/Kota tentang pajak daerah dan retribusi daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk menguji kesesuaiannya dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi dan kepentingan umum. Dalam hal Menteri menyatakan hasil evaluasi rancangan Perda Provinsi tentang pajak daerah dan retribusi daerah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi dan/atau kepentingan umum.undangan yang lebih tinggi dan/atau kepentingan umum. Hasil evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan oleh Menteri kepada gubernur paling lama 15 (lima belas) Hari terhitung sejak rancangan Perda Provinsi dimaksud diterima. gubernur menetapkan rancangan Perda Provinsi dimaksud menjadi Perda Provinsi. Dalam hal hasil evaluasi tidak ditindaklanjuti oleh gubernur dan DPRD. Menteri dalam melakukan evaluasi rancangan Perda Provinsi tentang pajak daerah dan retribusi daerah berkoordinasi dengan menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan bidang keuangan. Menteri membatalkan seluruh atau sebagian isi Perda Provinsi dimaksud. . kepala daerah menetapkan rancangan Perkada dimaksud menjadi Perkada. dan gubernur menetapkan rancangan Perda Provinsi tentang pajak daerah dan retribusi daerah menjadi Perda.sebagaimana dimaksud pada ayat (3). (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) Paragraf 8 Evaluasi Rancangan Perda Tentang Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah Pasal 324 Rancangan Perda Provinsi tentang pajak daerah dan retribusi daerah yang telah disetujui bersama sebelum ditetapkan oleh gubernur paling lama 3(tiga) Hari disampaikan kepada Menteri untuk dievaluasi. Pasal 325 (1) Rancangan Perda Kabupaten/Kota tentang pajak daerah dan retribusi daerah yang telah disetujui bersama sebelum ditetapkan oleh bupati/wali kota.

bupati/wali kota bersama DPRD melakukan penyempurnaan paling lama 7(tujuh) Hari sejak hasil evaluasi diterima. gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat membatalkan seluruh atau sebagian isi Perda Kabupaten/Kota dimaksud. dan bupati/wali kota menetapkan rancangan Perda Kabupaten/Kota tentang pajak daerah dan retribusi daerah menjadi Perda Kabupaten/Kota. rancangan Perda tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBD. Pasal 326 Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara evaluasi rancangan Perda tentang APBD. Paragraf 9 Pelaksanaan Tata Usaha Keuangan Daerah Pasal 327 . (6) Dalam hal gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat menyatakan hasil evaluasi rancangan Perda Kabupaten/Kota tentang pajak daerah dan retribusi daerah tidak sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan yang lebih tinggi dan/atau kepentingan umum. gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat berkonsultasi dengan Menteri dan selanjutnya Menteri berkoordinasi dengan menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan bidang keuangan. rancangan Perda tentang perubahan APBD. serta rancangan Perda tentang pajak daerah dan rancangan Perda tentang retribusi daerah diatur dengan Peraturan Menteri. rancangan Perkada tentang penjabaran perubahan APBD. (7) Dalam hal hasil evaluasi tidak ditindaklanjuti oleh bupati/wali kota dan DPRD. (4) Hasil evaluasi disampaikan oleh gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat kepada bupati/wali kota paling lama 15 (lima belas) Hari terhitung sejak rancangan Perda Kabupaten/Kota tentang pajak daerah dan retribusi daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diterima. dan rancangan Perkada tentang penjabaran pertanggungjawaban pelaksanaan APBD. rancangan Perkada tentang penjabaran APBD.(3) Dalam melakukan evaluasi rancangan Perda Kabupaten/Kota tentang pajak daerah dan retribusi daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2). (5) Dalam hal gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat menyatakan hasil evaluasi rancangan Perda Kabupaten/Kota tentang pajak daerah dan retribusi daerah sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan yang lebih tinggi dan kepentingan umum. bupati/wali kota menetapkan rancangan dimaksud menjadi Perda Kabupaten/Kota. (8) Gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat menyampaikan hasil evaluasi rancangan Perda Kabupaten/Kota tentang pajak daerah dan retribusi daerah kepada Menteri dan menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan bidang keuangan paling lama 3(tiga) Hari sejak ditetapkannya keputusan gubernur tentang hasil evaluasi rancangan Perda Kabupaten/Kota tentang pajak daerah dan retribusi daerah.

(2) Dalam hal penerimaan dan pengeluaran Daerah sebagaimana dimaksud ayat (1) tidak dilakukan melalui rekening kas umum Daerah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. bunga atas penempatan uang di bank. dilakukan pencatatan dan pengesahan oleh bendahara umum Daerah. penghapusan tagihan Daerah sebagian atau seluruhnya. (5) Kepala Daerah.(1) Semua penerimaan dan pengeluaran Daerah dianggarkan dalam APBD dan dilakukan melalui rekening kas umum Daerah yang dikelola oleh bendahara umum Daerah. pengawasan dan pertanggungjawaban keuangan Daerah diatur dengan peraturan pemerintah. tugas Daerah. dan Perangkat Daerah dilarang melakukan pengeluaran atas beban anggaran belanja Daerah untuk tujuan lain dari yang telah ditetapkan dalam APBD. Pasal 329 Kepala daerah dan DPRD dapat menetapkan Perda tentang: a. BAB XII BUMD Bagian Kesatu Umum Pasal 331 (1) Daerah dapat mendirikan BUMD (2) Pendirian BUMD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan Perda. (2) Bunga deposito. Pasal 328 (1) Dalam rangka manajemen kas. (3) Setiap pengeluaran atas beban APBD diterbitkan dokumen pelaksanaan anggaran dan surat penyediaan dana atau dokumen lain yang dipersamakan dengan surat penyediaan dana oleh pejabat pengelola keuangan Daerah selaku bendahara umum Daerah. Pemerintah Daerah dapat mendepositokan dan/atau melakukan investasi jangka pendek uang milik Daerah yang sementara belum digunakan sepanjang tidak mengganggu likuiditas keuangan Daerah. (4) Pengeluaran tidak dapat dibebankan pada anggaran belanja Daerah jika anggaran untuk pengeluaran tersebut tidak tersedia atau tidak cukup tersedia dalam APBD. pelaksanaan. Pasal 330 Ketentuan lebih lanjut mengenai penyusunan. . penyelesaian masalah perdata. jasa giro. (3) BUMD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas perusahaan umum Daerah dan perusahaan perseroan Daerah. penatausahaan. dan/atau bunga atas investasi jangka pendek merupakan pendapatan Daerah. dan b. pelaporan. dan kualitas pelayanan publik.

menyelenggarakan kemanfaatan umum berupa penyediaan barang dan/atau jasa yang bermutu bagi pemenuhan hajat hidup masyarakat sesuai kondisi. memperoleh laba dan/atau keuntungan. Pasal 332 (1) Sumber Modal BUMD terdiri atas: a. kapitalisasi cadangan. (2) Sumber modal lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d adalah: a. c. karakteristik dan potensi Daerah yang bersangkutan berdasarkan tata kelola perusahaan yang baik. dan b. b. (5) Pendirian BUMD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) didasarkan pada: a. sumber modal lainnya. penyertaan modal Daerah. (5) Nilai riil sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diperoleh dengan melakukan penafsiran harga barang milik Daerah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. kebutuhan Daerah. kelayakan bidang usaha BUMD yang akan dibentuk. dan c.(4) Pendirian BUMD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertujuan untuk: a. keuntungan revaluasi aset. dan c. b. Bagian Kedua Perusahaan Umum Daerah Pasal 334 (1) Perusahaan umum Daerah adalah BUMD yang seluruh modalnya dimiliki oleh satu Daerah dan tidak terbagi atas saham. Pasal 333 (1) Penyertaan modal Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 332 ayat (1) huruf a ditetapkan dengan Perda. hibah. b. agio saham. pinjaman. dan d. (2) Penyertaan modal Daerah dapat dilakukan untuk pembentukan BUMD dan penambahan modal BUMD. memberikan manfaat bagi perkembangan perekonomian Daerah pada umumnya. (6) Ketentuan lebih lanjut mengenai pendirian BUMD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam peraturan pemerintah. (4) Barang milik Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dinilai sesuai nilai riil pada saat barang milik Daerah akan dijadikan penyertaan modal. . (3) Penyertaan modal Daerah dapat berupa uang dan barang milik Daerah.

. pelayanan dasar dan usaha perintisan. direksi dan dewan pengawas. Pasal 337 (1) Perusahaan umum Daerah dapat melakukan restruksturisasi untuk menyehatkan perusahaan umum Daerah agar dapat beroperasi secara efisien. kualitas dan kontinuitas pelayanan umum. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai organ perusahaan umum Daerah diatur dalam peraturan pemerintah. (3) Laba perusahaan umum Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat ditahan atas persetujuan kepala daerah selaku wakil Daerah sebagai pemilik modal. (2) Laba perusahaan umum Daerah yang menjadi hak Daerah disetor ke kas Daerah setelah disahkan oleh kepala daerah selaku wakil Daerah sebagai pemilik modal. Pasal 335 (1) Organ perusahaan umum Daerah terdiri atas kepala daerah selaku wakil Daerah sebagai pemilik modal. dan profesional. (3) Kekayaan perusahaan umum Daerah yang telah dibubarkan dan menjadi hak Daerah dikembalikan kepada Daerah. (4) Laba perusahaan umum Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (3) digunakan untuk keperluan investasi kembali(reinvestment) berupa penambahan. perusahaan umum Daerah tersebut harus merubah bentuk hukum menjadi perusahaan perseroan Daerah. transparan. Pasal 338 (1) Perusahaan umum Daerah dapat dibubarkan.(2) Dalam hal perusahaan umum Daerah akan dimiliki oleh lebih dari satu Daerah. (2) Pembubaran perusahaan umum Daerah ditetapkan dengan Perda. (5) Ketentuan lebih lanjut pada mengenai laba perusahaan umum Daerah diatur dalam peraturan pemerintah. Pasal 336 (1) Laba perusahaan umum Daerah ditetapkan oleh kepala daerah selaku wakil daerah sebagai pemilik modal sesuai dengan ketentuan anggaran dasar dan ketentuan peraturan perundang-undangan. peningkatan dan perluasan prasarana dan sarana pelayanan fisik dan nonfisik serta untuk peningkatan kuantitas. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai pembubaran perusahaan umum Daerah diatur dalam peraturan pemerintah. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai restruksturisasi perusahaan umum Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam peraturan pemerintah. (3) Perusahaan umum Daerah dapat membentuk anak perusahaan dan/atau memiliki saham pada perusahaan lain. akuntabel.

organ dan kepegawaian. d. (3) Dalam hal pemegang saham perusahaan perseroan Daerah terdiri atas beberapa Daerah dan bukan Daerah. (2) Perusahaan perseroan Daerah setelah ditetapkan dengan Perda sebagaimana dimaksud dalam Pasal 331 ayat (2). didasarkan atas analisa kelayakan investasi oleh analis investasi yang profesional dan independen. Bagian Keempat Pengelolaan BUMD Pasal 343 (1) Pengelolaan BUMD paling sedikit harus memenuhi unsur: a.Bagian Ketiga Perusahaan Perseroan Daerah Pasal 339 (1) Perusahaan Perseroan Daerah adalah BUMD yang berbentuk perseroan terbatas yang modalnya terbagi dalam saham yang seluruhnya atau paling sedikit 51%(lima puluh satu persen) sahamnya dimiliki oleh satu Daerah. b. Pasal 340 (1) Organ perusahaan perseroan Daerah terdiri atas rapat umum pemegang saham. direksi. pembinaan. (2) Pembentukan anak perusahaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 341 (1) Perusahaan perseroan Daerah dapat membentuk anak perusahaan dan/atau memiliki saham pada perusahaan lain. f. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai organ perusahaan perseroan Daerah diatur dalam peraturan pemerintah. e. pengawasan. tata kelola perusahaan yang baik. Pasal 342 (1) Perusahaan perseroan Daerah dapat dibubarkan. kerjasama. dan komisaris. . c. pembentukan badan hukumnya dilakukan berdasarkan ketentuan peraturan perundangundangan mengenai perseroan terbatas. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai pembubaran perusahaan perseroan Daerah diatur dalam peraturan pemerintah. perencanaan. tata cara evaluasi. salah satu Daerah merupakan pemegang saham mayoritas. (2) Kekayaan Daerah hasil pembubaran perusahaan perseroan Daerah yang menjadi hak Daerah dikembalikan kepada Daerah. pelaporan. tata cara penyertaan modal.

pelayanan konsultasi. keterbukaan. h. keprofesionalan. akuntabilitas. pengelolaan informasi. c. persamaan perlakuan/tidak diskriminatif. peleburan. keseimbangan hak dan kewajiban. partisipatif. privatisasi. e. penggabungan. Bagian Kedua Manajemen Pelayanan Publik Pasal 345 (1) Pemerintah Daerah wajib membangun manajemen pelayanan publik dengan mengacu pada asas-asas pelayanan publik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 344 ayat (2). pengawasan internal. (2) Manajemen pelayanan publik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: a. pinjaman. l.g. f. penggunaan laba. komite audit dan komite lainnya. g. b. BAB XIII PELAYANAN PUBLIK Bagian Kesatu Asas Penyelenggaraan Pasal 344 (1) Pemerintah Daerah wajib menjamin terselenggaranya pelayanan publik berdasarkan Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan Daerah. kepailitan. kepastian hukum. penyuluhan kepada masyarakat. d. f. (2) Pelayanan publik diselenggarakan berdasarkan pada asas: a. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai pengelolaan BUMD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam peraturan pemerintah. h. j. k. kecepatan. restrukturisasi. kepentingan umum. pelaksanaan pelayanan. dan n. dan keterjangkauan. kesamaan hak. m. i. dan pengambilalihan. satuan pengawas intern. c. penugasan Pemerintah Daerah. penilaian tingkat kesehatan. dan l. d. kemudahan. perubahan bentuk hukum. i. dan . e. j. fasilitas dan perlakuan khusus bagi kelompok rentan. pengelolaan pengaduan masyarakat. k. b. ketepatan waktu.

Pemerintah Daerah dapat membentuk forum komunikasi antara Pemerintah Daerah dengan masyarakat dan pemangku kepentingan terkait. b. pelayanan publik lainnya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. (3) Dalam melaksanakan manajemen pelayanan publik sebagaimana dimaksud pada ayat (2).g. (2) Dalam hal teguran tertulis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) telah disampaikan 2(dua) kali berturut-turut dan tetap tidak dilaksanakan. satuan kerja atau unit kerja penanggungjawab penyelenggaraan pelayanan. Pasal 347 (1) Pemerintah Daerah wajib mengumumkan informasi pelayanan publik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 345 ayat (2) huruf c kepada masyarakat melalui media dan tempat yang dapat diakses oleh masyarakat luas. (4) Maklumat pelayanan publik sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditandatangani oleh kepala daerah dan dipublikasikan secara luas kepada masyarakat. dikenai sanksi administratif berupa teguran tertulis oleh Menteri untuk gubernur dan oleh gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat untuk bupati/wali kota. Pasal 348 (1) Kepala daerah yang tidak mengumumkan informasi tentang pelayanan publik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 347 ayat (1). hak dan kewajiban Pemerintah Daerah dan warga masyarakat. syarat. dan d. prosedur. kepala daerah diwajibkan mengikuti program pembinaan khusus pendalaman bidang pemerintahan yang dilaksanakan oleh Kementerian serta tugas dan kewenangannya dilaksanakan oleh wakil kepala daerah atau pejabat yang ditunjuk. (2) Informasi pelayanan publik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dituangkan dalam bentuk maklumat pelayanan publik Pemerintah Daerah kepada masyarakat. (3) Maklumat pelayanan publik sebagaimana dimaksud pada ayat (2) paling sedikit memuat: a. . c. Pasal 346 Daerah dapat membentuk Badan Layanan Umum Daerah dalam rangka meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dengan berpedoman pada ketentuan peraturan perundang-undangan. (5) Maklumat pelayanan publik sebagaimana dimaksud pada ayat (2) menjadi dasar Pemerintah Daerah dalam menyelenggarakan pelayanan publik. jenis pelayanan yang disediakan. biaya dan waktu.

penyelenggara yang tidak melaksanakan kewajiban dan/atau melanggar larangan sebagaimana dimaksud dalam ketentuan peraturan perundang-undangan mengenai pelayanan publik. . Ombudsman. (6) Dalam hal teguran tertulis sebagaimana dimaksud pada ayat (5) telah disampaikan 2(dua) kali berturut-turut dan tetap tidak dilaksanakan oleh kepala daerah. (2) Dalam memberikan pelayanan perizinan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Daerah membentuk unit pelayanan terpadu satu pintu. Menteri mengambil alih pemberian izin yang menjadi kewenangan gubernur dan gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat mengambil alih pemberian izin yang menjadi kewenangan bupati/wali kota. (3) Mekanisme dan tata cara penyampaian pengaduan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. Pasal 350 (1) Kepala daerah wajib memberikan pelayanan perizinan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. (2) Pengaduan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan terhadap: a. (2) Penyederhanaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan Perda. (3) Pemerintah Daerah dapat memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi dalam penyelenggaraan pelayanan publik. Pasal 351 (1) Masyarakat berhak mengadukan penyelenggaraan pelayanan publik kepada Pemerintah Daerah.Pasal 349 (1) Daerah dapat melakukan penyederhanaan jenis dan prosedur pelayanan publik untuk meningkatkan mutu pelayanan dan daya saing Daerah. pelaksana yang memberi pelayanan yang tidak sesuai dengan standar pelayanan sebagaimana dimaksud dalam ketentuan peraturan perundang-undangan mengenai pelayanan publik. (5) Sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (4) berupa teguran tertulis kepada gubernur oleh Menteri dan kepada bupati/wali kota oleh gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat untuk pelanggaran yang bersifat administrasi. (3) Pembentukan unit pelayanan terpadu satu pintu sebagaimana yang dimaksudkan pada ayat (2) berpedoman pada ketentuan peraturan perundang-undangan. (4) Kepala daerah wajib melaksanakan rekomendasi Ombudsman sebagai tindak lanjut pengaduan masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (4) Kepala daerah yang tidak memberikan pelayanan perizinan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikenai sanksi administratif. dan b. dan/atau DPRD.

(4) Hasil evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) digunakan oleh Pemerintah Pusat untuk memberikan insentif dan disinsentif fiskal dan/atau non-fiskal kepada Daerah. menyampaikan informasi tentang penyelenggaraan Pemerintahan Daerah kepada masyarakat. b. Pemerintah Daerah: a. dan/atau d.mendorong kelompok dan organisasi masyarakat untuk berperan aktif dalam penyelenggaraan Pemerintahan Daerah melalui dukungan pengembangan kapasitas masyarakat. c. BAB XIV PARTISIPASI MASYARAKAT Pasal 354 (1) Dalam penyelenggaraan Pemerintahan Daerah.(5) Kepala daerah yang tidak melaksanakan rekomendasi Ombudsman sebagai tindak lanjut pengaduan masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diberikan sanksi berupa pembinaan khusus pendalaman bidang pemerintahan yang dilaksanakan oleh Kementerian serta tugas dan kewenangannya dilaksanakan oleh wakil kepala daerah atau pejabat yang ditunjuk. Pemerintah Daerah mendorong partisipasi masyarakat. Pasal 353 Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penjatuhan sanksi administratif dan program pembinaan khusus bidang pemerintahan diatur dengan peraturan pemerintah. (3) Evaluasi yang dilakukan oleh Menteri dan gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) merupakan bagian dari evaluasi penyelenggaraan Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan Daerah. (3) Partisipasi masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencakup: . Pasal 352 (1) Menteri melakukan evaluasi kinerja pelayanan publik yang dilaksanakan oleh Pemerintah Daerah provinsi. kegiatan lainnya sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. mengembangkan pelembagaan dan mekanisme pengambilan keputusan yang memungkinkan kelompok dan organisasi kemasyarakatan dapat terlibat secara efektif. (2) Dalam mendorong partisipasi masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (2) Gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat melakukan evaluasi kinerja pelayanan publik yang dilaksanakan oleh Pemerintah Daerah kabupaten/kota.

(2) Perkotaan dapat berbentuk: a. keterlibatan lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. Peraturan pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (5) paling sedikit mengatur: a. pemonitoran. BAB XV PERKOTAAN Bagian Kesatu Umum Pasal 355 (1) Perkotaan adalah wilayah dengan batas-batas tertentu yang masyarakatnya mempunyai kegiatan utama di bidang industri dan jasa. penganggaran. dan d. penyusunan Perda dan kebijakan Daerah yang mengatur dan membebani masyarakat. konsultasi publik. c. Partisipasi masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dilakukan dalam bentuk: a. dan b. (3) Kawasan Perkotaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2)huruf b berupa: a. dan d. dan b. d. c. bagian dari dua atau lebih Daerah yang berbatasan langsung. kota sebagai Daerah. dan/atau f. dukungan penguatan kapasitas terhadap kelompok dan organisasi kemasyarakatan agar dapat berpartisipasi secara efektif dalam penyelenggaraan Pemerintahan Daerah. perencanaan. bagian Daerah kabupaten. b. e.(4) (5) (6) (7) a. pengawasan. . Tata cara partisipasi masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dan ayat (4) diatur lebih lanjut dalam Perda dengan berpedoman pada peraturan pemerintah. pengelolaan aset dan/atau sumber daya alam Daerah. b. musyawarah. bentuk-bentuk partisipasi masyarakat dalam penyelenggaran Pemerintahan Daerah. dan pengevaluasian pembangunan Daerah. c. penyampaian aspirasi. penyelenggaraan pelayanan publik. kawasan perkotaan. kelembagaan dan mekanisme partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan Pemerintahan Daerah. Ketentuan lebih lanjut mengenai partisipasi masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sampai dengan ayat (4) diatur dengan peraturan pemerintah. b. tata cara akses masyarakat terhadap informasi penyelenggaraan Pemerintahan Daerah. pelaksanaan. kemitraan.

(4) Penyediaan fasilitas pelayanan perkotaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dilakukan sesuai dengan pedoman dan standar pelayanan perkotaan. penyerahannya dilakukan dengan tidak merugikan kepentingan umum dan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang. Pemerintah Daerah dan/atau badan hukum sesuai dengan ketentuan peraturan perundang. (2) Rencana penyelenggaraan pengelolaan perkotaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan bagian dari rencana pembangunan Daerah dan terintegrasi dengan rencana tata ruang wilayah.(4) Penyelenggaraan pemerintahan pada kawasan perkotaan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) menjadi kewenangan Pemerintah Pusat atau Pemerintah Daerah sesuai dengan kewenangannya. (2) Fasilitas pelayanan perkotaan di kawasan perkotaan yang dibentuk secara terencana oleh badan hukum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 356 ayat (2) disediakan oleh badan hukum yang bersangkutan. (2) Kawasan perkotaan yang dibentuk secara terencana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan oleh Pemerintah Pusat. (3) Perencanaan dan pengendalian penyelenggaraan pengelolaan perkotaan dilaksanakan dengan memperhatikan kepentingan strategis nasional. (3) Dalam hal badan hukum menyerahkan fasilitas pelayanan perkotaan yang sudah dibangun sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepada Pemerintah Daerah. lanjut Pasal 359 mengenai perkotaan diatur dengan peraturan . melaksanakan dan mengendalikan penyelenggaraan pengelolaan perkotaan. Ketentuan lebih pemerintah. Pasal 357 (1) Fasilitas pelayanan perkotaan di kawasan perkotaan yang terbentuk secara alami sebagaimana dimaksud dalam Pasal 356 ayat (1) dan yang dibentuk secara terencana oleh Pemerintah Pusat dan/atau Pemerintah Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 356 ayat (2) disediakan oleh Pemerintah Pusat atau Pemerintah Daerah sesuai dengan kewenangannya. Pasal 356 (1) Kawasan perkotaan dapat terbentuk secara alami atau dibentuk secara terencana. Pasal 358 (1) Daerah kabupaten/kota menyusun rencana.undangan. (5) Ketentuan mengenai pedoman dan standar pelayanan perkotaan diatur dalam peraturan pemerintah.undangan.

undangan. Pemerintah Pusat dapat menetapkan kawasan khusus dalam wilayah provinsi dan/atau kabupaten/kota. f. b. m. j. k. kawasan ekonomi khusus. h. kawasan otorita. setiap Daerah mempunyai kewenangan Daerah yang diatur dengan peraturan pemerintah. dan n. Pemerintah Pusat mempunyai kewenangan untuk: a. e. penetapan rencana detail tata ruang. kawasan cagar alam. dan . kawasan industri. l. (2) Kewenangan Pemerintah Pusat di kawasan perbatasan meliputi seluruh kewenangan tentang pengelolaan dan pemanfaatan kawasan perbatasan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan mengenai wilayah negara. kawasan buru. kawasan angkatan perang. c. kawasan purbakala. kawasan perdagangan bebas dan/atau pelabuhan bebas. kawasan hutan lindung. (3) Selain kewenangan sebagaimana dimaksud pada ayat (2). kecuali kewenangan Daerah tersebut telah diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan. kawasan taman laut. b. g. kawasan berikat. pengendalian dan izin pemanfaatan ruang. kawasan hutan konservasi. kawasan cagar budaya. Daerah dapat mengusulkan pembentukan kawasan khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kepada Pemerintah Pusat. Dalam kawasan khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Kawasan khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: a. Untuk membentuk kawasan khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Pemerintah Pusat mengikutsertakan Daerah yang bersangkutan. i. kawasan untuk kepentingan nasional lainnya yang diatur dengan ketentuan peraturan perundang.(1) (2) (3) (4) (5) BAB XVI KAWASAN KHUSUS DAN KAWASAN PERBATASAN NEGARA Bagian Kesatu Kawasan Khusus Pasal 360 Untuk menyelenggarakan fungsi pemerintahan tertentu yang bersifat strategis bagi kepentingan nasional. d. Bagian Kedua Kawasan Perbatasan Negara Pasal 361 (1) Kawasan perbatasan negara adalah Kecamatan-Kecamatan terluar yang berbatasan langsung dengan negara lain.

lembaga atau pemerintah daerah di luar negeri sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. (2) Susunan organisasi dan tata kerja Kecamatan di kawasan perbatasan serta persyaratan dan tata cara pengangkatan camat ditetapkan dengan Peraturan Menteri setelah mendapat pertimbangan dari menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan bidang pendayagunaan aparatur negara. bupati/wali kota menugaskan camat di kawasan perbatasan. BAB XVII KERJA SAMA DAERAH DAN PERSELISIHAN Bagian Kesatu Kerja Sama Daerah Pasal 363 (1) Dalam rangka meningkatkan kesejahteraan rakyat. gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat dibantu oleh bupati/wali kota. (2) Kerja sama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan oleh Daerah dengan: a. (6) Dalam memberikan bantuan pelaksanaan pembangunan kawasan perbatasan sebagaimana dimaksud pada ayat (5). b. Pasal 362 (1) Pembentukan Kecamatan di kawasan perbatasan ditetapkan dengan Perda Kabupaten/Kota setelah mendapatkan persetujuan dari Menteri. (8) Kewenangan selain sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) menjadi kewenangan Daerah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. (3) Kerja sama dengan Daerah lain sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a dikategorikan menjadi kerja sama wajib dan kerja sama sukarela. Daerah lain. (5) Dalam mengoordinasikan pelaksanaan pembangunan kawasan perbatasan sebagaimana dimaksud pada ayat (4). Paragraf 1 Kerja Sama Wajib Pasal 364 . (4) Gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat mengoordinasikan pelaksanaan pembangunan kawasan perbatasan berdasarkan pedoman yang ditetapkan oleh Pemerintah Pusat. pihak ketiga. Daerah dapat mengadakan kerja sama yang didasarkan pada pertimbangan efisiensi dan efektivitas pelayanan publik serta saling menguntungkan.c. (7) Pemerintah Pusat wajib membangun kawasan perbatasan agar tidak tertinggal dengan kemajuan kawasan perbatasan di negara tetangga. pembangunan sarana dan prasarana kawasan. dan/atau c.

kerja sama antar-Daerah provinsi. kerja sama antara Daerah provinsi dan Daerah kabupaten/kota dari provinsi yang berbeda. d. (5) Biaya pelaksanaan kerja sama sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dan ayat (4) diperhitungkan dari APBD masing. (6) Dalam melaksanakan kerja sama wajib. (4) Dalam hal kerja sama wajib sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf e tidak dilaksanakan oleh Daerah kabupaten/kota. Paragraf 2 Kerja Sama Sukarela Pasal 365 Kerja sama sukarela sebagaimana dimaksud dalam Pasal 363 ayat (3) dilaksanakan oleh Daerah yang berbatasan atau tidak berbatasan untuk penyelenggaraan Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan Daerah namun dipandang lebih efektif dan efisien jika dilaksanakan dengan bekerja sama. (9) Daerah dapat membentuk asosiasi untuk mendukung kerja sama antarDaerah. gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat mengambil alih pelaksanaannya. kerja sama antar-Daerah kabupaten/kota dalam satu Daerah provinsi. .(1) Kerja sama wajib sebagaimana dimaksud dalam Pasal 363 ayat (3) merupakan kerja sama antar-Daerah yang berbatasan untuk penyelenggaraan Urusan Pemerintahan: a. c. yang memiliki eksternalitas lintas Daerah. (8) Pendanaan sekretariat kerja sama sebagaimana dimaksud pada ayat (7) dibebankan pada APBD masing-masing. dan e. penyediaan layanan publik yang lebih efisien jika dikelola bersama. (3) Dalam hal kerja sama wajib sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a sampai dengan huruf d tidak dilaksanakan oleh Daerah. Pemerintah Pusat mengambil alih pelaksanaan Urusan Pemerintahan yang dikerjasamakan. (2) Kerja sama wajib sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencakup: a. (7) Sekretariat kerja sama sebagaimana dimaksud pada ayat (6) bertugas memfasilitasi Perangkat Daerah dalam melaksanakan kegiatan kerja sama antar-Daerah. kerja sama antar-Daerah kabupaten/kota dari Daerah provinsi yang berbeda. dan b.masing Daerah yang bersangkutan. b. kerja sama antara Daerah provinsi dan Daerah kabupaten/kota dalam wilayahnya. Daerah yang berbatasan dapat membentuk sekretariat kerja sama. (10) Pemerintah Pusat dapat memberikan bantuan dana untuk melaksanakan kerja sama wajib antar-Daerah melalui APBN.

jangka waktu kerja sama. kerja sama lainnya yang tidak bertentangan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.Paragraf 3 Pelaksanaan Kerja Sama Pasal 366 (1) Kerja sama Daerah dengan pihak ketiga sebagaimana dimaksud dalam Pasal 363 ayat (2) huruf b meliputi: a. Pasal 367 (1) Kerja sama Daerah dengan lembaga dan/atau pemerintah daerah di luar negeri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 363 ayat (2) huruf c meliputi: a. kerja sama dalam penyediaan pelayanan publik. penyelesaian perselisihan. c. dan d. . d. kerja sama lainnya yang tidak bertentangan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. kerja sama dalam pengelolaan aset untuk meningkatkan nilai tambah yang memberikan pendapatan bagi Daerah. (3) Kerja sama Daerah dengan pihak ketiga sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus didahului dengan studi kelayakan yang dilakukan oleh para pihak yang melakukan kerja sama. dan d. c. pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. sanksi bagi pihak yang tidak memenuhi perjanjian. (2) Kerja sama Daerah dengan pihak ketiga dituangkan dalam kontrak kerja sama yang paling sedikit mengatur: a. kerja sama investasi. (2) Kerja sama Daerah dengan lembaga dan/atau pemerintah daerah di luar negeri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan setelah mendapat persetujuan Pemerintah Pusat. b. c.undangan. pertukaran budaya. promosi potensi Daerah. b. b. hak dan kewajiban para pihak. (3) Kerja sama Daerah dengan lembaga dan/atau pemerintah daerah di luar negeri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berpedoman pada ketentuan peraturan perundang. peningkatan kemampuan teknis dan manajemen pemerintahan. dan e.

(4) Keputusan Menteri berkaitan dengan penyelesaian perselisihan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan penanganan penyelesaian perselisihan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) bersifat final. Bagian Kedua Perselisihan Pasal 370 (1) Dalam hal terjadi perselisihan dalam penyelenggaraan Urusan Pemerintahan antar-Daerah kabupaten/kota dalam satu Daerah provinsi. serta antara Daerah provinsi dan Daerah kabupaten/kota di luar wilayahnya. (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penyelesaian perselisihan antarDaerah dalam penyelenggaraan Urusan Pemerintahan diatur dengan Peraturan Menteri. serta antara Daerah provinsi dan Daerah kabupaten/kota di luar wilayahnya.Paragraf 4 Pemantauan dan Evaluasi Kerja Sama Pasal 368 (1) Gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat melakukan pemantauan dan evaluasi terhadap kerja sama yang dilakukan Daerah Kabupaten/Kota dalam satu Daerah Provinsi. Pasal 369 Ketentuan lebih lanjut mengenai kerja sama diatur dengan peraturan pemerintah. gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat menyelesaikan perselisihan dimaksud. antara Daerah provinsi dan Daerah kabupaten/kota di wilayahnya. penanganannya dilakukan oleh Menteri. (2) Dalam hal terjadi perselisihan dalam penyelenggaraan Urusan Pemerintahan antar-Daerah provinsi. Menteri menyelesaikan perselisihan dimaksud. antara Daerah provinsi dan Daerah kabupaten/kota di wilayahnya. . (2) Menteri melakukan pemantauan dan evaluasi terhadap kerja sama antarDaerah provinsi. (3) Dalam hal gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat tidak dapat menyelesaikan perselisihan sebagaimana di maksud pada ayat (1).

(2) Pendanaan untuk melaksanakan Urusan Pemerintahan yang ditugaskan kepada Desa oleh Pemerintah Pusat dibebankan kepada APBN. BAB XIX PEMBINAAN DAN PENGAWASAN Bagian Kesatu Pembinaan Dan Pengawasan Terhadap Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Paragraf 1 Umum Pasal 373 (1) Pemerintah Pusat melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap penyelenggaraan Pemerintahan Daerah provinsi.BAB XVIII DESA Pasal 371 (1) Dalam Daerah kabupaten/kota dapat dibentuk Desa. (2) Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mempunyai kewenangan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan mengenai Desa. Pasal 372 (1) Pemerintah Pusat. (4) Pendanaan untuk melaksanakan Urusan Pemerintahan yang ditugaskan kepada Desa oleh Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota dibebankan kepada APBD kabupaten/kota. Pemerintah Daerah provinsi dan Pemerintah Daerah kabupaten/kota dapat menugaskan sebagian Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangannya kepada Desa. (3) Pendanaan untuk melaksanakan Urusan Pemerintahan yang ditugaskan kepada Desa oleh Pemerintah Daerah Provinsi dibebankan kepada APBD provinsi. .

d. konsultasi. menteri teknis. e. i. (4) Pembinaan yang bersifat umum dan teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) dilakukan dalam bentuk fasilitasi. kebijakan Daerah. kepala Daerah dan DPRD. pendidikan dan pelatihan serta penelitian dan pengembangan. g. j. pembangunan Daerah. pelayanan publik di Daerah. h.(2) Gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap penyelenggaraan Pemerintahan Daerah kabupaten/kota. Paragraf 2 Pembinaan terhadap Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Provinsi Pasal 374 (1) Pembinaan terhadap penyelenggaraan Pemerintahan Daerah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 373 ayat (1) dilaksanakan oleh Menteri. kelembagaan Daerah. kepegawaian pada Perangkat Daerah. dan kepala lembaga pemerintah nonkementerian. kerja sama Daerah. dan bentuk pembinaan lain sesuai dengan ketentu peraturan perundang-undangan. keuangan Daerah. (3) Pembinaan dan pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) secara nasional dikoordinasikan oleh Menteri. Paragraf 3 Pembinaan terhadap Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota . (3) Menteri teknis dan kepala lembaga pemerintah nonkementerian melakukan pembinaan yang bersifat teknis terhadap teknis penyelenggaraan Urusan Pemerintahan yang diserahkan ke Daerah provinsi. f. (2) Menteri melakukan pembinaan yang bersifat umum meliputi: a. b. c. pembagian Urusan Pemerintahan.

dan j. kerja sama Daerah. pembagian Urusan Pemerintahan. Pemerintah Pusat melaksanakan pembinaan kepada Daerah kabupaten/kota dengan berkoordinasi kepada gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat. Paragraf 4 Pendidikan dan Pelatihan Kepamongprajaan Pasal 376 . kepala daerah dan DPRD. b. kepegawaian pada Perangkat Daerah. (2) Dalam melakukan pembinaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat dibantu oleh perangkat gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat. kelembagaan Daerah. pendidikan dan pelatihan serta penelitian dan pengembangan dalam kebijakan yang terkait dengan Otonomi Daerah. konsultasi. pembangunan Daerah. bentuk pembinaan lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. (6) Pembinaan yang bersifat umum dan teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (3). kebijakan Daerah.Pasal 375 (1) Pembinaan terhadap penyelenggaraan Pemerintahan Daerah kabupaten/kota dilaksanakan oleh gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat. (3) Gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat melakukan pembinaan yang bersifat umum dan bersifat teknis. ayat (4). e. d. h. (4) Gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat melakukan pembinaan yang bersifat umum meliputi: a. dan ayat (5) dilakukan dalam bentuk fasilitasi. i. (7) Dalam hal gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat belum mampu melakukan pembinaan sebagaimana dimaksud pada ayat (3). (5) Gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat melakukan pembinaan yang bersifat teknis terhadap teknis penyelenggaraan Urusan Pemerintahan yang diserahkan ke Daerah kabupaten/kota. keuangan Daerah. c. g. f. pelayanan publik di Daerah.

(3) Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dilaksanakan oleh Aparat Pengawas Internal Pemerintah sesuai dengan fungsi dan kewenangannya. (3) Untuk menghasilkan lulusan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) metode pendidikan dan latihan kepamongprajaan dilakukan dengan menerapkan kombinasi antara pengajaran. memiliki kepribadian dan keahlian kepemimpinan kepamongprajaan. Paragraf 6 Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Kabupaten/Kota Pasal 378 (1) Gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat melakukan pengawasan umum dan pengawasan teknis terhadap penyelenggaraan Pemerintahan Daerah kabupaten/kota. . berwawasan nusantara. dan berlandaskan pada Bhinneka Tunggal Ika. dan c. Paragraf 5 Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Provinsi Pasal 377 (1) Menteri melakukan pengawasan Pemerintahan Daerah provinsi. (2) Pendidikan dan pelatihan kepamongprajaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditujukan untuk menghasilkan lulusan sebagai abdi negara dengan karakteristik khusus: a. (2) Menteri teknis nonkementerian umum terhadap penyelenggaraan dan kepala lembaga pemerintah melaksanakan pengawasan teknis terhadap penyelenggaraan Pemerintahan Daerah provinsi sesuai dengan bidang tugas masing-masing dan berkoordinasi dengan Menteri. dan pelatihan. memiliki keahlian dan keterampilan teknis penyelenggaraan pemerintahan.(1) Untuk pembinaan penyelenggaraan Pemerintahan Daerah. b. Kementerian menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan kepamongprajaan. pengasuhan. berkode etik.

bupati/wali kota dibantu oleh inspektorat kabupaten/kota. gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat meminta bantuan untuk melaksanakan pengawasan kepada Pemerintah Pusat. Bagian Kedua Pembinaan dan Pengawasan Kepala Daerah Terhadap Perangkat Daerah Pasal 379 (1) Gubernur sebagai kepala daerah provinsi berkewajiban melaksanakan pembinaan dan pengawasan terhadap Perangkat Daerah provinsi. (2) Presiden memberikan penghargaan kepada Pemerintah Daerah yang mencapai peringkat kinerja tertinggi secara nasional dalam penyelenggaraan Pemerintahan Daerah. (3) Dalam hal gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat belum mampu melakukan pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (2) Dalam melaksanakan pembinaan dan pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1).(2) Dalam melaksanakan pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (2) Dalam melaksanakan pembinaan dan pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 380 (1) Bupati/wali kota sebagai kepala daerah kabupaten/kota berkewajiban melaksanakan pembinaan dan pengawasan terhadap Perangkat Daerah kabupaten/kota. . gubernur dibantu oleh inspektorat provinsi. Bagian Ketiga Penghargaan dan Fasilitasi Khusus Pasal 381 (1) Pemerintah Pusat menyusun indeks dan peringkat kinerja penyelenggaraan Pemerintah Daerah setiap tahun untuk bahan evaluasi. gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat dibantu oleh perangkat gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat.

Pasal 382
(1) Dalam hal Daerah provinsi berdasarkan hasil evaluasi penyelenggaraan
Pemerintahan Daerah berkinerja rendah, Menteri, menteri teknis, dan kepala
lembaga pemerintah nonkementerian
melakukan pembinaan terhadap
penyelenggaraan Urusan Pemerintahan tertentu yang menjadi kewenangan
Daerah.
(2) Menteri melakukan fasilitasi khusus terhadap penyelenggaraan
Pemerintahan Daerah provinsi yang telah dibina namun tidak menunjukkan
perbaikan kinerja.
(3) Fasilitasi khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan jika
penyelenggaraan Urusan Pemerintahan tertentu yang menjadi kewenangan
Daerah yang berkinerja rendah namun tidak berpotensi merugikan
kepentingan umum secara meluas.
(4) Menteri dalam melakukan fasilitasi khusus sebagaimana dimaksud pada
ayat (2) berkoordinasi dengan menteri teknis dan kepala lembaga pemerintah
nonkementerian.
(5) Gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat melakukan fasilitasi khusus
kepada penyelenggaraan Pemerintah Daerah kabupaten/kota yang telah
dibina namun tidak menunjukkan perbaikan kinerja.
(6) Dalam hal Daerah provinsi dan Daerah kabupaten/kota yang sudah dibina
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) tidak menunjukkan
perbaikan kinerja dan berpotensi merugikan kepentingan umum secara
meluas, Pemerintah Pusat melakukan pengambilalihan pelaksanaan Urusan
Pemerintahan tertentu atas biaya yang diperhitungkan dari APBD yang
bersangkutan.
(7) Pemerintah Pusat dapat melimpahkan kepada gubernur sebagai wakil
Pemerintah Pusat untuk melaksanakan Urusan Pemerintahan yang menjadi
kewenangan Daerah kabupaten/kota yang diambil alih oleh Pemerintah Pusat
sebagaimana dimaksud pada ayat (6).
Pasal 383
Ketentuan lebih lanjut mengenai pembinaan dan pengawasan diatur dengan
peraturan pemerintah.
BAB XX
TINDAKAN HUKUM TERHADAP APARATUR SIPIL NEGARA DI INSTANSI DAERAH

Pasal 384
(1) Penyidik memberitahukan kepada kepala daerah sebelum melakukan
penyidikan terhadap aparatur sipil negara di instansi Daerah yang disangka
melakukan pelanggaran hukum dalam pelaksanaan tugas.
(2) Ketentuan pemberitahuan penyidikan sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) tidak berlaku apabila:
a. tertangkap tangan melakukan sesuatu tindak pidana;
b. disangka telah melakukan tindak pidana kejahatan yang diancam dengan
pidana penjara 5(lima) tahun
atau lebih; dan/atau
c. disangka telah melakukan tindak pidana kejahatan terhadap keamanan
negara.
(3) Penyidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diberitahukan kepada
kepala daerah dalam jangka waktu paling lama 2(dua) kali 24(dua puluh
empat) jam.
Pasal 385
(1) Masyarakat dapat menyampaikan pengaduan atas dugaan penyimpangan
yang dilakukan oleh aparatur sipil negara di instansi Daerah kepada Aparat
Pengawas Internal Pemerintah dan/atau aparat penegak hukum.
(2) Aparat Pengawasan Internal Pemerintah wajib melakukan pemeriksaan
atas dugaan penyimpangan yang diadukan oleh masyarakat sebagaimana
dimaksud pada ayat (1).
(3) Aparat penegak hukum melakukan pemeriksaan atas pengaduan yang
disampaikan oleh masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1), setelah
terlebih dahulu berkoodinasi dengan Aparat Pengawas Internal Pemerintah
atau lembaga pemerintah nonkementerian yang membidangi pengawasan.
(4) Jika berdasarkan hasil pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (3)
ditemukan bukti adanya penyimpangan yang bersifat administratif, proses
lebih lanjut diserahkan kepada Aparat Pengawas Internal Pemerintah.
(5) Jika berdasarkan hasil pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (3)
ditemukan bukti adanya penyimpangan yang bersifat pidana, proses lebih
lanjut diserahkan kepada aparat penegak hukum sesuai ketentuan peraturan
perundang-undangan.
BAB XXI INOVASI DAERAH

Pasal 386
(1) Dalam rangka peningkatan kinerja penyelenggaraan Pemerintahan
Daerah, Pemerintah Daerah dapat melakukan inovasi.
(2) Inovasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah semua bentuk
pembaharuan dalam penyelenggaraan Pemerintahan Daerah.
Pasal 387
Dalam merumuskan kebijakan inovasi, Pemerintahan Daerah mengacu pada
prinsip:
a. peningkatan efisiensi;
b. perbaikan efektivitas;
c. perbaikan kualitas pelayanan;
d. tidak ada konflik kepentingan;
e. berorientasi kepada kepentingan umum;
f. dilakukan secara terbuka;
g. memenuhi nilai-nilai kepatutan; dan
h. dapat dipertanggungjawabkan hasilnya tidak untuk
kepentingan diri sendiri.
Pasal 388
(1) Inisiatif inovasi dapat berasal dari kepala daerah, anggota DPRD, aparatur
sipil negara, Perangkat Daerah, dan anggota masyarakat.
(2) Usulan inovasi yang berasal dari anggota DPRD ditetapkan dalam rapat
paripurna.
(3) Usulan inovasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) disampaikan kepada
kepala daerah untuk ditetapkan dalam Perkada sebagai inovasi Daerah.
(4) Usulan inovasi yang berasal dari aparatur sipil negara sebagaimana
dimaksud pada ayat (1), harus memperoleh izin tertulis dari pimpinan
Perangkat Daerah dan menjadi inovasi Perangkat Daerah.
(5) Usulan inovasi yang berasal dari anggota masyarakat sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) disampaikan kepada DPRD dan/atau kepada
Pemerintah Daerah.
(6) Jenis, prosedur dan metode penyelenggaraan Pemerintahan
Daerah yang bersifat inovatif ditetapkan dengan Perkada.
(7) Kepala daerah melaporkan inovasi Daerah yang akan dilaksanakan kepada
Menteri.

(8) Laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (7) paling sedikit meliputi cara
melakukan inovasi, dokumentasi bentuk inovasi, dan hasil inovasi yang akan
dicapai.
(9) Pemerintah Pusat melakukan penilaian terhadap inovasi yang
dilaksanakan oleh Pemerintah Daerah.
(10) Dalam melakukan penilaian terhadap inovasi Daerah sebagaimana
dimaksud pada ayat (9) Pemerintah Pusat memanfaatkan lembaga yang
berkaitan dengan penelitian dan pengembangan.
(11) Pemerintah Pusat memberikan penghargaan dan/atau insentif kepada
Pemerintah Daerah yang berhasil melaksanakan inovasi.
(12) Pemerintah Daerah memberikan penghargaan dan/atau insentif kepada
individu atau Perangkat Daerah yang melakukan inovasi.
Pasal 389
Dalam hal pelaksanaan inovasi yang telah menjadi kebijakan Pemerintah
Daerah dan inovasi tersebut tidak mencapai sasaran yang telah ditetapkan,
aparatur sipil negara tidak dapat dipidana.
Pasal 390
Ketentuan lebih lanjut mengenai inovasi Daerah diatur dengan peraturan
pemerintah.
BAB XXII
INFORMASI PEMERINTAHAN DAERAH
Pasal 391
(1) Pemerintah Daerah wajib menyediakan informasi
Pemerintahan Daerah yang terdiri atas:
a. informasi pembangunan Daerah; dan
b. informasi keuangan Daerah.
(2) Informasi Pemerintahan Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dikelola dalam suatu sistem informasi Pemerintahan Daerah.
Pasal 392
Informasi pembangunan Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 391 ayat
(1) huruf a memuat informasi perencanaan pembangunan Daerah yang
mencakup:

a. kondisi geografis Daerah;
b. demografi;
c. potensi sumber daya Daerah;
d. ekonomi dan keuangan Daerah;
e. aspek kesejahteraan masyarakat;
f. aspek pelayanan umum; dan
g. aspek daya saing Daerah.
Pasal 393
(1) Informasi keuangan Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 391 ayat
(1) huruf b paling sedikit memuat informasi anggaran, pelaksanaan anggaran,
dan laporan keuangan.
(2) Informasi keuangan Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
digunakan untuk:
a. membantu kepala daerah dalam menyusun anggaran
Daerah dan laporan pengelolaan keuangan Daerah;
b. membantu kepala daerah dalam merumuskan kebijakan keuangan Daerah;
c. membantu kepala daerah dalam melakukan evaluasi kinerja keuangan
Daerah;
d. membantu menyediakan kebutuhan statistik keuangan
Daerah;
e. mendukung keterbukaan informasi kepada masyarakat;
f. mendukung penyelenggaraan sistem informasi keuangan
Daerah secara nasional; dan
g. melakukan evaluasi pengelolaan keuangan Daerah.
(3) Informasi keuangan Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus
mudah diakses oleh masyarakat.
Pasal 394
(1) Informasi pembangunan Daerah dan informasi keuangan Daerah
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 391 ayat (1) wajib diumumkan kepada
masyarakat.
(2) Selain diumumkan kepada masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat
(1), informasi keuangan Daerah wajib disampaikan kepala daerah kepada
Menteri dan menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan bidang
keuangan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(3) Kepala daerah yang tidak mengumumkan informasi pembangunan
Daerah dan informasi keuangan Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dan tidak menyampaikan informasi keuangan Daerah sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) dikenai sanksi administratif berupa teguran tertulis oleh Menteri

untuk gubernur dan oleh gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat untuk
bupati/wali kota.
(4) Dalam hal sanksi teguran tertulis 2(dua) kali berturut-turut tetap tidak
dilaksanakan, kepala daerah dikenai sanksi berupa mengikuti program
pembinaan khusus pendalaman bidang pemerintahan yang dilaksanakan oleh
Kementerian serta tugas dan kewenangannya dilaksanakan oleh wakil kepala
daerah atau oleh pejabat yang ditunjuk.
Pasal 395
Selain informasi pembangunan Daerah dan informasi keuangan Daerah
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 391 ayat (1), Pemerintah Daerah dapat
menyediakan dan mengelola informasi Pemerintahan Daerah lainnya.
BAB XXIII
DEWAN PERTIMBANGAN OTONOMI DAERAH
Pasal 396
(1) Dalam rangka mengoptimalkan penyelenggaraan Pemerintahan Daerah,
dibentuk dewan pertimbangan otonomi daerah.
(2) Dewan pertimbangan otonomi daerah sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) bertugas memberikan pertimbangan kepada Presiden mengenai
rancangan kebijakan yang meliputi:
a. penataan Daerah;
b. dana dalam rangka penyelenggaraan otonomi khusus;
c. dana perimbangan keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah; dan
d. penyelesaian permasalahan dalam penyelenggaraan Pemerintahan Daerah
dan/atau
perselisihan antara
Daerah dengan
kementerian/lembaga
pemerintah nonkementerian.
Pasal 397
(1) Susunan keanggotaan dewan pertimbangan otonomi daerah terdiri atas:
a. Wakil Presiden selaku ketua;
b. Menteri selaku sekretaris;
c. para menteri terkait sebagai anggota; dan d. perwakilan kepala daerah
sebagai anggota.
(2) Untuk mendukung kelancaran tugas dewan pertimbangan otonomi daerah
dibentuk sekretariat.
(3) Menteri selaku sekretaris memimpin sekretariat dewan pertimbangan
otonomi daerah.

(4) Sekretariat dewan pertimbangan otonomi daerah sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) dibantu oleh tenaga ahli.
(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai dewan pertimbangan otonomi daerah
diatur dengan Peraturan Presiden.
BAB XXIV KETENTUAN PIDANA
Pasal 398
Kepala daerah yang tidak memberikan pelayanan perizinan sesuai dengan
peraturan perundang-undangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 350 ayat
(1) dikenai sanksi pidana sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan apabila pelanggarannya bersifat pidana.
BAB XXV KETENTUAN LAIN-LAIN
Pasal 399
Ketentuan dalam Undang-Undang ini berlaku juga bagi Provinsi Daerah
Istimewa Yogyakarta, Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Provinsi Aceh,
Provinsi Papua, dan Provinsi Papua Barat, sepanjang tidak diatur secara
khusus dalam Undang- Undang yang mengatur keistimewaan dan kekhususan
Daerah tersebut.
Pasal 400
(1) Ketentuan mengenai evaluasi rancangan Perda tentang pajak daerah dan
retribusi daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 324 dan Pasal 325
berlaku secara mutatis mutandis terhadap evaluasi rancangan Perda tentang
tata ruang daerah.
(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai evaluasi rancangan Perda tentang tata
ruang daerah diatur dalam Peraturan Menteri.
BAB XXVI KETENTUAN PERALIHAN
Pasal 401
(1) Penegasan batas termasuk Cakupan Wilayah dan penentuan luas bagi
Daerah yang dibentuk sebelum Undang-Undang ini berlaku ditetapkan dengan
peraturan Menteri.
(2) Penegasan
penentuan
dilakukan

batas termasuk

Cakupan Wilayah dan

luas sebagaimana
berdasarkan pada

dimaksud pada ayat (1)
perhitungan teknis yang

dibuat oleh lembaga yang membidangi informasi geospasial.

dinyatakan masih tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan dalam Undang. pendanaan. semua ketentuan peraturan perundang-undangan yang mengatur mengenai DPRD provinsi dan DPRD kabupaten/kota dinyatakan masih tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan dalam Undang-Undang ini atau tidak diatur secara khusus dalam Undang-Undang ini.Undang ini dalam jangka waktu paling lama 3(tiga) tahun terhitung sejak Undang-Undang ini diundangkan. sepanjang tidak bertentangan dengan Undang-Undang ini. serta dokumen sebagai akibat pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah Pusat. Pasal 408 . Pasal 406 Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku.Undang ini tetap berlaku sampai dengan habis berlakunya izin. BAB XXVII KETENTUAN PENUTUP Pasal 403 Semua ketentuan mengenai program legislasi daerah dan badan legislasi daerah yang sudah ada sebelum Undang-Undang ini berlaku harus dibaca dan dimaknai sebagai program pembentukan Perda dan badan pembentukan Perda. sarana dan prasarana. Pasal 407 Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 2387). (2) BUMD yang telah ada sebelum Undang-Undang ini berlaku. semua peraturan perundangundangan yang berkaitan secara langsung dengan Daerah wajib mendasarkan dan menyesuaikan pengaturannya pada Undang-Undang ini.Pasal 402 (1) Izin yang telah dikeluarkan sebelum berlakunya Undang. Pasal 404 Serah terima personel. Daerah provinsi dan Daerah kabupaten/kota yang diatur berdasarkan UndangUndang ini dilakukan paling lama 2(dua) tahun terhitung sejak UndangUndang ini diundangkan. Pasal 405 Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku. semua ketentuan peraturan perundang-undangan yang merupakan peraturan pelaksanaan dari UndangUndang Nomor 5 Tahun 1962 tentang Perusahaan Daerah(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1962 Nomor 10.Undang ini. wajib menyesuaikan dengan ketentuan dalam Undang.

c. memerintahkan pengundangan UndangUndang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 2387). semua peraturan perundangundangan yang berkaitan dengan penyelenggaraan Pemerintahan Daerah dinyatakan masih tetap berlaku sepanjang belum diganti dan tidak bertentangan dengan ketentuan dalam Undang-Undang ini.Undang ini diundangkan. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5568). Pasal 157. dan d. Pasal 1 angka 4. Pasal 411 Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125. Pasal 410 Peraturan pelaksanaan dari Undang-Undang ini harus ditetapkan paling lama 2(dua) tahun terhitung sejak Undang. Disahkan di Jakarta pada tanggal 30 September 2014 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. Pasal 158 ayat (2) sampai dengan ayat (9). dan Pasal 159 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 130. dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 182. Dewan Perwakilan Daerah. H. b. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5049). DR. Agar setiap orang mengetahuinya. dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1962 tentang Perusahaan Daerah(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1962 Nomor 10. Pasal 409 Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku: a. Dewan Perwakilan Rakyat. Pasal 418 sampai dengan Pasal 421 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2014 tentang Majelis Permusyawaratan Rakyat. ttd. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844). SUSILO BAMBANG YUDHOYONO . Pasal 314 sampai dengan Pasal 412.

ttd. AMIR SYAMSUDIN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2014 NOMOR 244 .Diundangkan di Jakarta pada tanggal 2 Oktober 2014 MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA.

Kemudian Pasal 18 ayat (2) dan ayat (5) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menyatakan bahwa Pemerintahan Daerah berwenang untuk mengatur dan mengurus sendiri Urusan Pemerintahan menurut Asas Otonomi dan Tugas Pembantuan dan diberikan otonomi yang seluas-luasnya. dan kreativitas Daerah untuk mencapai tujuan nasional tersebut di tingkat lokal yang pada gilirannya akan mendukung pencapaian tujuan nasional secara keseluruhan. Daerah sebagai satu kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai otonomi berwenang mengatur dan mengurus Daerahnya sesuai aspirasi dan kepentingan masyarakatnya sepanjang tidak bertentangan dengan tatanan hukum nasional dan kepentingan umum. seluas apa pun otonomi yang diberikan kepada Daerah. inovasi. Pemberian otonomi yang seluas-luasnya kepada Daerah diarahkan untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan pelayanan. Alinea ketiga memuat pernyataan kemerdekaan bangsa Indonesia. Daerah diharapkan mampu meningkatkan daya saing dengan memperhatikan prinsip demokrasi. Konsekuensi logis sebagai Negara kesatuan adalah dibentuknya pemerintah Negara Indonesia sebagai pemerintah nasional untuk pertama kalinya dan kemudian pemerintah nasional tersebutlah yang kemudian membentuk Daerah sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. Dalam rangka memberikan ruang yang lebih luas kepada Daerah untuk mengatur dan mengurus kehidupan warganya maka Pemerintah Pusat dalam membentuk kebijakan harus memperhatikan kearifan lokal dan sebaliknya Daerah ketika membentuk kebijakan Daerah baik dalam bentuk Perda maupun kebijakan lainnya hendaknya juga memperhatikan kepentingan nasional. kebijakan yang dibuat dan dilaksanakan oleh Daerah merupakan bagian integral dari kebijakan nasional. dalam lingkungan strategis globalisasi. kekhasan. Dengan demikian akan tercipta keseimbangan antara kepentingan nasional yang sinergis dan tetap memperhatikan kondisi. . keistimewaan dan kekhususan serta potensi dan keanekaragaman Daerah dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sejalan dengan itu. Pemberian otonomi yang seluas-seluasnya kepada Daerah dilaksanakan berdasarkan prinsip negara kesatuan. tanggung jawab akhir penyelenggaraan Pemerintahan Daerah akan tetap ada ditangan Pemerintah Pusat. Sedangkan alinea keempat memuat pernyataan bahwa setelah menyatakan kemerdekaan. keadilan. memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa serta ikut memelihara ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan. Di samping itu melalui otonomi luas. Pembedanya adalah terletak pada bagaimana memanfaatkan kearifan. pemberdayaan. Oleh karena itu. Untuk itu Pemerintahan Daerah pada negara kesatuan merupakan satu kesatuan dengan Pemerintahan Nasional. daya saing. dan kearifan lokal dalam penyelenggaraan pemerintahan secara keseluruhan. perdamaian abadi. dan keadilan sosial. potensi. UMUM 1. Lebih lanjut dinyatakan bahwa tugas Pemerintah Negara Indonesia adalah melindungi seluruh bangsa dan tumpah darah Indonesia. Dalam negara kesatuan kedaulatan hanya ada pada pemerintahan negara atau pemerintahan nasional dan tidak ada kedaulatan pada Daerah.PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2014 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH I. dan peran serta masyarakat. pemerataan. yang pertama kali dibentuk adalah Pemerintah Negara Indonesia yaitu Pemerintah Nasional yang bertanggung jawab mengatur dan mengurus bangsa Indonesia. Selanjutnya Pasal 1 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menyatakan bahwa Negara Indonesia adalah negara kesatuan yang berbentuk republik. Hubungan Pemerintah Pusat dan Daerah Hubungan Pemerintah Pusat dengan Daerah dapat dirunut dari alinea ketiga dan keempat Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Pada hakikatnya Otonomi Daerah diberikan kepada rakyat sebagai satu kesatuan masyarakat hukum yang diberi kewenangan untuk mengatur dan mengurus sendiri Urusan Pemerintahan yang diberikan oleh Pemerintah Pusat kepada Daerah dan dalam pelaksanaannya dilakukan oleh kepala daerah dan DPRD dengan dibantu oleh Perangkat Daerah. Kementerian/lembaga pemerintah nonkementerian melakukan pembinaan dan pengawasan yang bersifat teknis. dan Daerah kabupaten/kota. . hak. sedangkan Kementerian melaksanakan pembinaan dan pengawasan yang bersifat umum. DPRD dan kepala daerah berkedudukan sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah yang diberi mandat rakyat untuk melaksanakan Urusan Pemerintahan yang diserahkan kepada Daerah. peran. dan kriteria(NSPK) untuk dijadikan pedoman bagi Daerah dalam menyelenggarakan Urusan Pemerintahan yang diserahkan ke Daerah dan menjadi pedoman bagi kementerian/lembaga pemerintah nonkementerian untuk melakukan pembinaan dan pengawasan. DPRD mempunyai fungsi pembentukan Perda. Dengan demikian maka DPRD dan kepala daerah berkedudukan sebagai mitra sejajar yang mempunyai fungsi yang berbeda. Mekanisme tersebut diharapkan mampu menciptakan harmonisasi antar kementerian/lembaga pemerintah nonkementerian dalam melakukan pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan Pemerintahan Daerah secara keseluruhan. Urusan Pemerintahan Sebagaimana diamanatkan oleh Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. dan fungsi DPRD tidak diatur dalam beberapa undang-undang namun cukup diatur dalam Undang-Undang ini secara keseluruhan guna memudahkan pengaturannya secara terintegrasi. Sebagian Urusan Pemerintahan yang menjadi tanggung jawab menteri tersebut yang sesungguhnya diotonomikan ke Daerah. DPRD dan kepala daerah dibantu oleh Perangkat Daerah. Untuk Urusan Pemerintahan Wajib yang terkait Pelayanan Dasar ditentukan Standar Pelayanan Minimal(SPM) untuk menjamin hakhak konstitusional masyarakat. 2. dan yudikatif. standar. kementerian/lembaga pemerintah nonkementerian berkewajiban membuat norma. Presiden melimpahkan kewenangan kepada Menteri sebagai koordinator pembinaan dan pengawasan yang dilakukan oleh kementerian/lembaga pemerintah nonkementerian terhadap penyelenggaraan Pemerintahan Daerah. terdapat Urusan Pemerintahan yang sepenuhnya menjadi kewenangan Pemerintah Pusat yang dikenal dengan istilah urusan pemerintahan absolut dan ada urusan pemerintahan konkuren. Konsekuensi menteri sebagai pembantu Presiden adalah kewajiban menteri atas nama Presiden untuk melakukan pembinaan dan pengawasan agar penyelenggaraan Pemerintahan Daerah berjalan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Daerah provinsi. kedudukan. legislatif. tugas. 3. Konsekuensi dari negara kesatuan adalah tanggung jawab akhir pemerintahan ada ditangan Presiden. Urusan Pemerintahan Wajib dibagi dalam Urusan Pemerintahan Wajib yang terkait Pelayanan Dasar dan Urusan Pemerintahan Wajib yang tidak terkait Pelayanan Dasar. Dalam mengatur dan mengurus Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan Daerah tersebut. anggaran dan pengawasan. Urusan pemerintahan konkuren terdiri atas Urusan Pemerintahan Wajib dan Urusan Pemerintahan Pilihan yang dibagi antara Pemerintah Pusat. Presiden sebagai pemegang kekuasaan pemerintahan dibantu oleh menteri negara dan setiap menteri bertanggung atas Urusan Pemerintahan tertentu dalam pemerintahan. prosedur. Sebagai konsekuensi posisi DPRD sebagai unsur penyelenggara Pemerintahan Daerah maka susunan. Agar pelaksanaan Urusan Pemerintahan yang diserahkan ke Daerah berjalan sesuai dengan kebijakan nasional maka Presiden berkewajiban untuk melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap penyelenggaraan Pemerintahan Daerah. Agar tercipta sinergi antara Pemerintah Pusat dan Daerah. wewenang. Urusan Pemerintahan yang diserahkan ke Daerah berasal dari kekuasaan pemerintahan yang ada ditangan Presiden. kewajiban. sedangkan kepala daerah melaksanakan fungsi pelaksanaan atas Perda dan kebijakan Daerah. Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Berbeda dengan penyelenggaraan pemerintahan di pusat yang terdiri atas lembaga eksekutif. penyelenggaraan Pemerintahan Daerah dilaksanakan oleh DPRD dan kepala daerah.

Karena perannya sebagai Wakil Pemerintah Pusat maka hubungan gubernur dengan Pemerintah Daerah kabupaten/kota bersifat hierarkis. agama. sosial budaya. Apabila setelah tiga tahun hasil evaluasi menunjukkan Daerah Persiapan tersebut tidak memenuhi syarat untuk menjadi Daerah.Pembagian urusan pemerintahan konkuren antara Daerah provinsi dengan Daerah kabupaten/kota walaupun Urusan Pemerintahan sama. maka Daerah Persiapan tersebut dibentuk melalui undang-undang menjadi Daerah. kependudukan. . Apabila Daerah Persiapan setelah melalui masa pembinaan selama tiga tahun memenuhi syarat untuk menjadi Daerah. 6. Ini merupakan pendekatan yang bersifat asimetris artinya walaupun Daerah sama-sama diberikan otonomi yang seluas-luasnya. Pembentukan Daerah didahului dengan masa persiapan selama 3(tiga) tahun dengan tujuan untuk penyiapan Daerah tersebut menjadi Daerah. perbedaannya akan nampak dari skala atau ruang lingkup Urusan Pemerintahan tersebut. statusnya dikembalikan ke Daerah induknya. namun prioritas Urusan Pemerintahan yang dikerjakan akan berbeda satu Daerah dengan Daerah lainnya. 4. 5. namun tetap akan terdapat hubungan antara Pemerintah Pusat. Untuk itu maka Pembentukan Daerah harus mempertimbangkan berbagai faktor seperti kemampuan ekonomi. Peran Gubernur sebagai Wakil Pemerintah Pusat di Daerah Mengingat kondisi geografis yang sangat luas. Untuk efektifitas pelaksanaan tugasnya selaku wakil Pemerintah Pusat. Urusan pemerintahan umum menjadi kewenangan Presiden sebagai kepala pemerintahan yang terkait pemeliharaan ideologi Pancasila. dalam UndangUndang ini dikenal adanya urusan pemerintahan umum. Besaran organisasi Perangkat Daerah baik untuk mengakomodasikan Urusan Pemerintahan Wajib dan Urusan Pemerintahan Pilihan paling sedikit mempertimbangkan faktor jumlah penduduk. Presiden sebagai penanggung jawab akhir pemerintahan secara keseluruhan melimpahkan kewenangannya kepada gubernur untuk bertindak atas nama Pemerintah Pusat untuk melakukan pembinaan dan pengawasan kepada Daerah kabupaten/kota agar melaksanakan otonominya dalam koridor NSPK yang ditetapkan oleh Pemerintah Pusat. potensi Daerah. Daerah provinsi dan Daerah kabupaten/kota dalam pelaksanaannya dengan mengacu pada NSPK yang dibuat oleh Pemerintah Pusat. menjamin hubungan yang serasi berdasarkan suku. maka untuk efektifitas dan efisiensi pembinaan dan pengawasan atas penyelenggaraan Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan Daerah kabupaten/kota. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. gubernur dibantu oleh perangkat gubernur sebagai Wakil Pemerintah Pusat. Konsekuensi logis dari pendekatan asimetris tersebut maka Daerah akan mempunyai prioritas Urusan Pemerintahan dan kelembagaan yang berbeda satu dengan lainnya sesuai dengan karakter Daerah dan kebutuhan masyarakatnya. serta pertimbangan dan syarat lain yang memungkinkan Daerah itu dapat menyelenggarakan dan mewujudkan tujuan dibentuknya Daerah. Perangkat Daerah Setiap Daerah sesuai karakter Daerahnya akan mempunyai prioritas yang berbeda antara satu Daerah dengan Daerah lainnya dalam upaya menyejahterakan masyarakat. Bhinneka Tunggal Ika. Penataan Daerah Salah satu aspek dalam Penataan Daerah adalah pembentukan Daerah baru. Di samping urusan pemerintahan absolut dan urusan pemerintahan konkuren. Walaupun Daerah provinsi dan Daerah kabupaten/kota mempunyai Urusan Pemerintahan masing-masing yang sifatnya tidak hierarki. ras dan antar golongan sebagai pilar kehidupan berbangsa dan bernegara serta memfasilitasi kehidupan demokratis. dan pertimbangan dari aspek sosial politik. Presiden dalam pelaksanaan urusan pemerintahan umum di Daerah melimpahkan kepada gubernur sebagai kepala pemerintahan provinsi dan kepada bupati/wali kota sebagai kepala pemerintahan kabupaten/kota. luas wilayah. Pembentukan Daerah pada dasarnya dimaksudkan untuk meningkatkan pelayanan publik guna mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat disamping sebagai sarana pendidikan politik di tingkat lokal. pertahanan dan keamanan.

Mengingat tanggung jawab akhir penyelenggaraan pemerintahan ada di tangan Presiden. maka Pemerintah Daerah provinsi dapat mengajukan keberatan pembatalan Perda Provinsi yang dilakukan oleh Menteri kepada Presiden. Untuk menghindari terjadinya kesewenang-wenangan dalam pembatalan Perda. Keuangan Daerah Penyerahan sumber keuangan Daerah baik berupa pajak daerah dan retribusi daerah maupun berupa dana perimbangan merupakan konsekuensi dari adanya penyerahan Urusan Pemerintahan kepada Daerah yang diselenggarakan berdasarkan Asas Otonomi. Untuk menjalankan Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangannya. Daerah melaksanakan Otonomi Daerah yang berasal dari kewenangan Presiden yang memegang kekuasaan pemerintahan. Daerah harus mempunyai sumber keuangan agar Daerah tersebut mampu memberikan pelayanan dan kesejahteraan kepada rakyat di Daerahnya. diperlukan adanya pemetaan dari kementerian/lembaga pemerintah nonkementerian di pusat untuk mengetahui Daerah-Daerah yang mempunyai potensi unggulan atau prioritas sesuai dengan bidang tugas kementerian/lembaga pemerintah nonkementerian yang kewenangannya didesentralisasikan ke Daerah. Adalah tidak efisien apabila Presiden yang langsung membatalkan Perda. 8. beban kerja.luasan wilayah. Pemerintah Pusat dapat menggunakan instrumen DAK untuk membantu Daerah sesuai dengan prioritas nasional yang ingin dicapai. Daerah tersebut yang kemudian akan menjadi stakeholder utama dari kementerian/lembaga pemerintah nonkementerian terkait. maka konsekuensi logisnya kewenangan untuk membatalkan Perda ada ditangan Presiden. Untuk menciptakan sinergi dalam pengembangan potensi unggulan antara organisasi Perangkat Daerah dengan kementerian dan lembaga pemerintah nonkementerian di pusat. Pemberian sumber keuangan kepada Daerah harus seimbang dengan beban atau Urusan Pemerintahan yang diserahkan kepada Daerah. maka besaran organisasi Perangkat Daerah juga tidak sama antara satu Daerah dengan Daerah lainnya. Presiden melimpahkan kewenangan pembatalan Perda Provinsi kepada Menteri sebagai pembantu Presiden yang bertanggungjawab atas Otonomi Daerah. kepala daerah dan DPRD selaku penyelenggara Pemerintahan Daerah membuat Perda sebagai dasar hukum bagi Daerah dalam menyelenggarakan Otonomi Daerah sesuai dengan kondisi dan aspirasi masyarakat serta kekhasan dari Daerah tersebut. Perda yang dibuat oleh Daerah hanya berlaku dalam batas-batas yurisdiksi Daerah yang bersangkutan. Dari argumen tersebut dibentuk tipelogi dinas atau badan Daerah sesuai dengan besarannya agar terbentuk Perangkat Daerah yang efektif dan efisien. Walaupun demikian Perda yang ditetapkan oleh Daerah tidak boleh bertentangan dengan ketentuan peraturan perundangundangan yang lebih tinggi tingkatannya sesuai dengan hierarki peraturan perundang-undangan. Disamping itu Perda sebagai bagian dari sistem peraturan perundang-undangan tidak boleh bertentangan dengan kepentingan umum sebagaimana diatur dalam kaidah penyusunan Perda. Perda Dalam melaksanakan Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan Daerah. Presiden melimpahkan kewenangannya kepada gubernur selaku Wakil Pemerintah Pusat di Daerah. dan kemampuan keuangan Daerah. Dari hasil pemetaan tersebut kementerian/lembaga pemerintah nonkementerian akan mengetahui Daerah-Daerah mana saja yang mempunyai potensi unggulan yang sesuai dengan bidang tugas kementerian/ lembaga pemerintah nonkementerian yang bersangkutan. Keseimbangan sumber keuangan ini merupakan jaminan terselenggaranya Urusan Pemerintahan yang diserahkan kepada Daerah. Untuk mengakomodasi variasi beban kerja setiap Urusan Pemerintahan yang berbeda-beda pada setiap Daerah. Sedangkan Pemerintah Daerah kabupaten/kota dapat mengajukan keberatan pembatalan Perda Kabupaten/Kota yang dilakukan gubernur sebagai wakil Pemerintah . Ketika Daerah mempunyai kemampuan keuangan yang kurang mencukupi untuk membiayai Urusan Pemerintahan dan khususnya Urusan Pemerintahan Wajib yang terkait Pelayanan Dasar. Sedangkan untuk pembatalan Perda Kabupaten/Kota. 7.

bagaimana mendapatkan aksesnya serta kejelasan dalam prosedur dan biaya untuk memperoleh pelayanan publik tersebut serta adanya saluran keluhan manakala pelayanan publik yang didapat tidak sesuai dengan standar yang telah ditentukan. sedangkan Perda Kabupaten/Kota mendapatkan nomor register dari gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat. Dengan adanya pemberian nomor register tersebut akan terhimpun informasi mengenai keseluruhan Perda yang dibentuk oleh Daerah dan sekaligus juga informasi Perda secara nasional. Perubahan ini bertujuan untuk memacu sinergi dalam berbagai aspek dalam penyelenggaraan Pemerintahan Daerah dengan Pemerintah Pusat. Untuk itu setiap Pemerintah Daerah wajib membuat maklumat pelayanan publik sehingga masyarakat di Daerah tersebut tahu jenis pelayanan publik yang disediakan. Sinergi Pemerintah Pusat dan Daerah akan sulit tercapai tanpa adanya dukungan personel yang memadai baik dalam jumlah maupun standar kompetensi yang diperlukan untuk melaksanakan Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan Daerah. Langkah berikutnya adalah adanya jaminan pelayanan publik yang disediakan Pemerintah Daerah kepada masyarakat. pengawasan. serta sanksi yang jelas dan tegas. Melalui Undang-Undang ini dilakukan pengaturan yang bersifat afirmatif yang dimulai dari pemetaan Urusan Pemerintahan yang akan menjadi prioritas Daerah dalam pelaksanaan otonomi yang seluas-luasnya. Untuk itu perlu adanya kriteria yang obyektif yang dapat dijadikan pegangan bagi pejabat Daerah untuk melakukan kegiatan yang bersifat inovatif. Langkah akhir untuk memperkuat Otonomi Daerah adalah adanya mekanisme pembinaan. pemberdayaan. keputusan yang diambil oleh Presiden dan Menteri bersifat final. Adanya pembinaan dan pengawasan serta sanksi yang tegas dan jelas tersebut memerlukan adanya kejelasan tugas . Sinergi Urusan Pemerintahan dan kelembagaan tersebut akan menciptakan sinergi dalam perencanaan pembangunan antara kementerian/lembaga pemerintah nonkementerian dengan Daerah untuk mencapai target nasional. Dalam rangka menciptakan tertib administrasi pelaporan Perda. Inovasi Daerah Majunya suatu bangsa sangat ditentukan oleh inovasi yang dilakukan bangsa tersebut. setiap Perda yang akan diundangkan harus mendapatkan nomor register terlebih dahulu. Perlu adanya upaya memacu kreativitas Daerah untuk meningkatkan daya saing Daerah. Untuk itu maka diperlukan adanya perlindungan terhadap kegiatan yang bersifat inovatif yang dilakukan oleh aparatur sipil negara di Daerah dalam memajukan Daerahnya. Sinergi Urusan Pemerintahan akan melahirkan sinergi kelembagaan antara Pemerintah Pusat dan Daerah karena setiap kementerian/lembaga pemerintah nonkementerian akan tahu siapa pemangku kepentingan(stakeholder) dari kementerian/lembaga pemerintah nonkementerian tersebut di tingkat provinsi dan kabupaten/kota secara nasional. Pada dasarnya perubahan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah ditujukan untuk mendorong lebih terciptanya daya guna dan hasil guna penyelenggaraan Pemerintahan Daerah dalam menyejahterakan masyarakat.Pusat kepada Menteri. Dengan cara tersebut Pemerintah Daerah akan mempunyai birokrasi karir yang kuat dan memadai dalam aspek jumlah dan kompetensinya. Dari sisi penyelenggaraan Pemerintahan Daerah. Manfaat lanjutannya adalah akan tercipta penyaluran bantuan yang terarah dari kementerian/lembaga pemerintah nonkementerian terhadap Daerah-Daerah yang menjadi stakeholder utamanya untuk akselerasi realisasi target nasional tersebut. Melalui pemetaan tersebut akan tercipta sinergi kementerian/lembaga pemerintah nonkementerian yang Urusan Pemerintahannya di desentralisasaikan ke Daerah. Dengan cara tersebut inovasi akan terpacu dan berkembang tanpa ada kekhawatiran menjadi obyek pelanggaran hukum. Perda Provinsi harus mendapatkan nomor register dari Kementerian. 9. baik melalui peningkatan pelayanan publik maupun melalui peningkatan daya saing Daerah.

menindak setiap orang. kelompok atau organisasi yang kegiatannya mengganggu keamanan negara. melakukan perjanjian dengan negara lain. dan sebagainya. Sinergi antara pembinaan dan pengawasan umum dengan pembinaan dan pengawasan teknis akan memberdayakan Daerah dalam penyelenggaraan Pemerintahan Daerah. peraturan . PASAL DEMI PASAL Pasal 1 Cukup jelas.pembinaan. Ayat (2) Cukup jelas. dan sebagainya. Huruf d Yang dimaksud dengan “urusan yustisi” misalnya mendirikan lembaga peradilan. Pasal 8 Cukup jelas. abolisi. Untuk pembinaan dan pengawasan terhadap Daerah kabupaten/kota memerlukan peran dan kewenangan yang jelas dan tegas dari gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat untuk melaksanakan tugas dan fungsi pembinaan dan pengawasan terhadap Daerah kabupaten/kota. bela negara bagi setiap warga negara. membangun dan mengembangkan sistem pertahanan negara dan persenjataan. Pasal 2 Cukup jelas. menyatakan negara atau sebagian wilayah negara dalam keadaan bahaya. menetapkan kebijakan perdagangan luar negeri. Pasal 4 Cukup jelas. Pasal 7 Cukup jelas. mengangkat hakim dan jaksa. Pasal 6 Yang dimaksud dengan “kebijakan sebagai dasar dalam menyelenggarakan Urusan Pemerintahan” dalam ketentuan ini adalah kebijakan yang ditetapkan oleh Pemeritah Pusat sebagai pedoman dalam menyelenggarakan urusan pemerintahan konkuren baik yang yang menjadi kewenangan Pemerintah Pusat maupun yang menjadi kewenangan Daerah. amnesti. menetapkan kebijakan keamanan nasional. memberikan grasi. menyatakan damai dan perang. Pasal 10 Ayat (1) Huruf a Yang dimaksud dengan “urusan politik luar negeri” misalnya mengangkat pejabat diplomatik dan menunjuk warga negara untuk duduk dalam jabatan lembaga internasional. Pasal 9 Cukup jelas. menetapkan kebijakan luar negeri. Huruf b Yang dimaksud dengan “urusan pertahanan” misalnya mendirikan dan membentuk angkatan bersenjata. II. menetapkan kebijakan kehakiman dan keimigrasian. Huruf c Yang dimaksud dengan “urusan keamanan” misalnya mendirikan dan membentuk kepolisian negara. menetapkan kebijakan untuk wajib militer. Pasal 3 Ayat (1) Dikecualikan untuk kota administrasi dan kabupaten administrasi di Provinsi DKI Jakarta. pengawasan dari Kementerian yang melakukan pembinaan dan pengawasan umum serta kementerian/lembaga pemerintah nonkementerian yang melaksanakan pembinaan teknis. mendirikan lembaga pemasyarakatan. membentuk undang-undang. dan sebagainya. Pasal 5 Cukup jelas.

Pasal 13 Ayat (1) Yang dimaksud dengan “prinsip akuntabilitas” dalam ketentuan ini adalah penanggungjawab penyelenggaraan suatu Urusan Pemerintahan ditentukan berdasarkan kedekatannya dengan luas. memberikan pengakuan terhadap keberadaan suatu agama. misalnya penyelenggaraan Musabaqah Tilawatil Qur’an(MTQ). menjaga kedaulatan Negara. dan jangkauan dampak yang ditimbulkan oleh penyelenggaraan suatu Urusan Pemerintahan. pencapaian program strategis nasional dan pertimbangan lain yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan. Yang dimaksud dengan “prinsip kepentingan strategis nasional” dalam ketentuan ini adalah penyelenggara suatu Urusan Pemerintahan ditentukan berdasarkan pertimbangan dalam rangka menjaga keutuhan dan kesatuan bangsa. Ayat (3) Cukup jelas. menetapkan kebijakan dalam penyelenggaraan kehidupan keagamaan. mengendalikan peredaran uang. dan jangkauan dampak yang timbul akibat penyelenggaraan suatu Urusan Pemerintahan. Daerah dapat memberikan hibah untuk penyelenggaraan kegiatan-kegiatan keagamaan sebagai upaya meningkatkan keikutsertaan Daerah dalam menumbuhkembangkan kehidupan beragama.pemerintah pengganti undang-undang. Huruf e Yang dimaksud dengan “urusan moneter dan fiskal nasional” adalah kebijakan makro ekonomi. menetapkan kebijakan moneter. implementasi hubungan luar negeri. Huruf f Yang dimaksud dengan “urusan agama” misalnya menetapkan hari libur keagamaan yang berlaku secara nasional. Ayat (2) Huruf a Yang dimaksud dengan “Pemerintah Pusat melaksanakan sendiri” adalah apabila urusan pemerintahan absolut dilaksanakan langsung oleh kementerian atau lembaga pemerintah nonkementerian. misalnya mencetak uang dan menentukan nilai mata uang. Yang dimaksud dengan “prinsip eksternalitas” dalam ketentuan ini adalah penyelenggara suatu Urusan Pemerintahan ditentukan berdasarkan luas. Ayat (3) Cukup jelas. dan sebagainya. besaran. Ayat (4) Cukup jelas. dan sebagainya. dan peraturan lain yang berskala nasional. dan sebagainya. besaran. peraturan pemerintah. Pasal 11 Cukup jelas. Pasal 14 Ayat (1) Cukup jelas. Huruf b Cukup jelas. Ayat (4) . pengembangan bidang pendidikan keagamaan. Yang dimaksud dengan “prinsip efisiensi” dalam ketentuan ini adalah penyelenggara suatu Urusan Pemerintahan ditentukan berdasarkan perbandingan tingkat daya guna yang paling tinggi yang dapat diperoleh. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 12 Cukup jelas.

Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (5) Cukup jelas. Perkada. sedangkan kewenangan bidang kelautan sampai dengan 12(dua belas) mil tetap berada pada Daerah provinsi. Pasal 17 Ayat (1) Yang dimaksud dengan “kebijakan Daerah” dalam ketentuan ini adalah Perda. Ayat (7) Batas wilayah dibagi sama jarak atau diukur sesuai prinsip garis tengah daerah yang berbatasan dalam ketentuan ini hanya semata-mata untuk keperluan penghitungan bagi hasil kelautan. Batas wilayah 4(empat) mil dalam ketentuan ini hanya semata-mata untuk keperluan penghitungan bagi hasil kelautan. Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 16 Ayat (1) Cukup jelas.Cukup jelas. Penggunaan “garis pantai’ dalam ketentuan ini diperuntukkan bagi penentuan wilayah administrasi dalam pengelolaan wilayah laut. atau urusan pemerintahan konkuren yang menjadi kewenangan Daerah provinsi dialihkan menjadi urusan pemerintahan konkuren yang menjadi kewenangan Daerah kabupaten/kota atau sebaliknya. sedangkan kewenangan bidang kelautan sampai dengan 12(dua belas) mil tetap berada pada Daerah provinsi. Ayat (5) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. Pasal 18 Cukup jelas. dan keputusan kepala daerah. Ayat (6) Yang dimaksud dengan “garis pantai” adalah batas pertemuan antara bagian laut dan daratan pada saat terjadi air laut pasang tertinggi. Ayat (5) Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. mempermudah penyelenggara Pemerintahan Daerah dan mencegah penyimpangan dalam penyelenggaraan Pemerintahan Daerah tanpa mengurangi Otonomi Daerah. Ayat (2) Pedoman dalam ketentuan ini dimaksudkan untuk standardisasi yang berlaku secara nasional. Ayat (4) Yang dimaksud dengan “pengalihan urusan pemerintahan konkuren pada tingkatan atau susunan pemerintahan yang lain” dalam ketentuan ini adalah urusan pemerintahan konkuren yang menjadi kewenangan Pemerintah Pusat dialihkan menjadi urusan pemerintahan konkuren yang menjadi kewenangan Daerah provinsi atau Daerah kabupaten/kota dan sebaliknya. Ayat (3) Cukup jelas. Pasal 15 Ayat (1) Cukup jelas. Pasal 19 .

Ayat (2) Cukup jelas. sehingga tugas yang diserahkan kepada Desa tidak menjadi kewenangan yang dikelola sendiri oleh pemerintah desa. Huruf c Yang dimaksud dengan “menugasi Desa” dalam ketentuan ini adalah pemberian tugas dari gubernur kepada Desa yang bukan merupakan penerapan asas Tugas Pembantuan. Ayat (5) . sehingga tugas yang diserahkan kepada Desa tidak menjadi kewenangan yang dikelola sendiri oleh pemerintah desa. Ayat (4) Penyampaian dokumen anggaran Tugas Pembantuan oleh kepala daerah penerima Tugas Pembantuan kepada DPRD bukan dimaksudkan untuk dilakukan pembahasan terhadap anggaran Tugas Pembantuan melainkan hanya digunakan sebagai dasar bagi DPRD dalam melakukan pengawasan pelaksanaan Tugas Pembantuan tersebut. dan Keputusan kepala daerah. Ayat (3) Yang dimaksud dengan “ditugaskan sebagian pelaksanaannya kepada Desa” dalam ketentuan ini adalah pemberian tugas dari bupati/wali kota kepada Desa yang bukan merupakan penerapan asas Tugas Pembantuan. Pasal 22 Ayat (1) Yang dimaksud dengan “kebijakan Daerah” dalam ketentuan ini adalah Perda.Ayat (1) Huruf a Yang dimaksud dengan “diselenggarakan sendiri oleh Pemerintah Pusat” adalah apabila Urusan Pemerintahan Konkuren dilaksanakan langsung oleh kementerian atau lembaga pemerintah nonkementerian. Ayat (4) Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. Huruf b Cukup jelas. Pasal 20 Ayat (1) Huruf a Cukup jelas. Ayat (5) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. Huruf c Cukup jelas. Huruf b Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. Pemerintah desa bertanggung jawab kepada gubernur terhadap tugas yang diserahkan kepadanya. Perkada. Pasal 21 Cukup jelas. Pemerintah desa bertanggung jawab kepada bupati/wali kota melalui camat terhadap tugas yang diserahkan kepadanya.

Huruf b Yang dimaksud dengan “pengaturan administratif” dalam ketentuan ini antara lain perizinan. Pasal 26 Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. . Ayat (5) Cukup jelas. Pasal 28 Cukup jelas. serta bebas menangkap ikan di seluruh pengelolaan perikanan dalam wilayah Republik Indonesia. Ayat (3) Yang dimaksud dengan “garis pantai” adalah batas pertemuan antara bagian laut dan daratan pada saat terjadi air laut pasang tertinggi. Ayat (7) Cukup jelas. Pasal 25 Cukup jelas. Huruf c Cukup jelas. dan keselamatan pelayaran.Penyampaian laporan pelaksanaan anggaran Tugas Pembantuan oleh kepala daerah penerima Tugas Pembantuan kepada DPRD bukan dimaksudkan untuk dilakukan pembahasan terhadap laporan pelaksanaan anggaran Tugas Pembantuan melainkan hanya digunakan sebagai dasar bagi DPRD dalam melakukan pengawasan pelaksanaan anggaran Tugas Pembantuan tersebut. Pasal 24 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (2) DAU bagi Daerah Provinsi yang Berciri Kepulauan yang diperoleh dari penghitungan luas wilayah lautan termasuk untuk Daerah kabupaten/kota dalam Daerah Provinsi yang Berciri Kepulauan dengan proporsi 30 %(tiga puluh persen) untuk Daerah Provinsi yang Berciri Kepulauan dan 70 % (tujuh puluh persen) untuk Daerah kabupaten/kota dalam Daerah Provinsi yang Berciri Kepulauan tersebut. Pasal 27 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (5) Yang dimaksud dengan “nelayan kecil” adalah nelayan masyarakat tradisional Indonesia yang menggunakan bahan dan alat penangkapan ikan secara tradisional. kelaikan. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (6) Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. Pasal 23 Cukup jelas. Ayat (2) Huruf a Cukup jelas. Garis pantai diperuntukkan bagi penentuan wilayah administrasi dalam pengelolaan wilayah laut. Huruf e Cukup jelas. Huruf d Cukup jelas. dan terhadapnya tidak dikenakan surat izin usaha dan bebas dari pajak. Pasal 29 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (4) Yang dimaksud dengan “potensi” dalam ketentuan ini adalah ketersediaan sumber daya di Daerah yang telah dan yang akan dikelola yang memberikan dampak bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Huruf f Cukup jelas. Huruf b Dalam ketentuan ini yang dimaksud dengan “bagian Daerah” adalah satu atau lebih Kecamatan dari Daerah kabupaten/kota yang berbeda. Ayat (2) Cukup jelas. Huruf b Jumlah penduduk minimal yang harus dimiliki oleh Daerah Persiapan tidak boleh mengakibatkan tidak terpenuhinya syarat minimal jumlah penduduk Daerah induk. Huruf b Yang dimaksud dengan “mempercepat peningkatan kesejahteraan masyarakat” adalah peningkatan indeks pembangunan manusia yang ditandai dengan peningkatan kesehatan. Ayat (4) Cukup jelas. pendidikan. Ayat (3) Cukup jelas. Pasal 34 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (6) Cukup jelas. Pasal 31 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (2) Huruf a Cukup jelas.Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (2) Huruf a Cukup jelas. Ayat (5) Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. Pasal 33 Ayat (1) Huruf a Cukup jelas. Huruf e Cukup jelas. dan pendapatan masyarakat. Huruf c Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. Huruf d . Huruf c Cukup jelas. Pasal 30 Cukup jelas. Pasal 32 Cukup jelas. Huruf d Cukup jelas.

. Ayat (3) Cukup jelas. Contoh: LWM = X LDP + LDPK 2 Keterangan: LWM = Luas wilayah minimal X LDP = Rata-rata luas wilayah Daerah provinsi dalam 1 pulau atau gugus pulau LDPK = Luas wilayah Daerah provinsi terkecil dalam 1 pulau atau gugus pulau Yang dimaksud dengan “jumlah penduduk minimal ditentukan berdasarkan pengelompokan pulau atau kepulauan” adalah jumlah rata-rata penduduk pada Daerah provinsi. kemudian dibagi dua. Ayat (3) Yang dimaksud dengan “peta dasar” adalah peta dasar yang diterbitkan oleh lembaga yang berwenang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. jumlah rata-rata penduduk pada Daerah kabupaten atau jumlah rata-rata penduduk pada Daerah kota dalam satu kelompok pulau atau kepulauan tertentu ditambah dengan jumlah penduduk Daerah provinsi yang paling sedikit. Ayat (4) Huruf a Daerah kabupaten/kota yang menjadi Cakupan Wilayah Daerah Persiapan provinsi harus merupakan satu kesatuan wilayah geografis dan tidak boleh ada yang masuk dalam Cakupan Wilayah Daerah provinsi lainnya. Huruf c Kecamatan yang menjadi Cakupan Wilayah Daerah Persiapan Kota harus merupakan satu kesatuan wilayah geografis dan tidak boleh ada yang masuk dalam Cakupan Wilayah Daerah kota lainnya. luas rata-rata wilayah pada Daerah kabupaten atau luas rata-rata wilayah pada Daerah kota dalam satu kelompok pulau atau kepulauan tertentu ditambah dengan luas wilayah Daerah provinsi terkecil.Cukup jelas. Contoh: JPM = X JPP + JPPK 2 Keterangan: JPM = Jumlah penduduk minimal X JPP = Rata-rata jumlah penduduk Daerah Provinsi dalam 1 pulau atau gugus pulau JPPK = Jumlah penduduk Daerah Provinsi terkecil dalam 1 pulau atau gugus pulau Ayat (2) Cukup jelas. kemudian dibagi 2(dua). Pasal 35 Ayat (1) Yang dimaksud dengan “luas wilayah minimal ditentukan berdasarkan pengelompokan pulau atau kepulauan” adalah luas rata-rata wilayah pada Daerah provinsi. Huruf b Kecamatan yang menjadi Cakupan Wilayah Daerah Persiapan kabupaten harus merupakan satu kesatuan wilayah geografis dan tidak boleh ada yang masuk dalam Cakupan Wilayah Daerah kabupaten lainnya. Daerah kabupaten terkecil atau Daerah kota terkecil yang ada dalam 1(satu) kelompok pulau atau kepulauan tersebut. jumlah penduduk Daerah kabupaten yang paling sedikit atau jumlah penduduk Daerah kota yang paling sedikit yang ada dalam 1(satu) kelompok pulau atau kepulauan tersebut. Huruf e Batas usia minimal Daerah provinsi dan kabupaten/kota dihitung sejak pembentukannya dengan undang-undang dan batas usia minimal Kecamatan dihitung sejak dibentuknya Kecamatan dengan Perda kabupaten/kota.

Ayat (2) Cukup jelas. Sedangkan untuk potensi energi dan sumber daya mineral dihitung berdasarkan penetapan yang dilakukan oleh kementerian/lembaga yang berwenang dengan mempertimbangkan rekomendasi ahli yang di bidangnya. perindustrian. Ayat (6) Cukup jelas. Huruf c Yang dimaksud dengan “organisasi kemasyarakatan” adalah organisasi yang terdaftar sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Dewan Perwakilan Rakyat Rakyat Republik Indonesia atau Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia. Pasal 37 Yang dimaksud dengan “tata urutan” dalam ketentuan ini adalah pemenuhan persyaratan secara berurutan. Ayat (7) Huruf a Cukup jelas. Pasal 38 Ayat (1) Yang dimaksud dengan “diusulkan oleh gubernur” dalam ketentuan ini dapat diartikan bahwa gubernur dapat melakukan verifikasi ulang atas usulan pembentukan Daerah Persiapan provinsi atau kabupaten/kota yang akan diusulkan oleh gubernur yang terdahulu. Huruf c Pengelolaan keuangan Daerah diukur berdasarkan opini Badan Pemeriksa Keuangan. Huruf b Kohesivitas sosial diukur dari keragaman suku. Huruf b Potensi unggulan Daerah yang dapat dihitung dengan nilai tertentu meliputi kelautan dan perikanan. Huruf d Cukup jelas. agama. Ayat (8) Huruf a Cukup jelas. dan lembaga adat. Ayat (4) Cukup jelas. kehutanan. artinya persyaratan kedua dan berikutnya tidak dapat dilaksanakan sebelum persyaratan sebelumnya terpenuhi. pertanian. Ayat (2) . Huruf b Cukup jelas. untuk memutuskan jadi atau tidaknya pembentukan Daerah Persiapan diusulkan kepada Pemerintah Pusat. Pasal 36 Ayat (1) Cukup jelas. Huruf e Cukup jelas. perdagangan. Huruf c Untuk calon Daerah Persiapan yang berciri kepulauan. Huruf b Cukup jelas. Ayat (6) Huruf a Cukup jelas. aksesibilitas pelayanan dasar infrastruktur termasuk ketersediaan sarana prasarana transportasi laut. Ayat (5) Huruf a Cukup jelas. pariwisata. Ayat (3) Cukup jelas.Ayat (5) Cukup jelas.

peralatan. Yang dimaksud dengan “pengawasan atas penyelenggaraan pemerintahan” antara lain pengawasan atas pelayanan publik yang disampaikan melalui unit pengaduan masyarakat. Ayat (2) Huruf a Cukup jelas. Ayat (4) Yang dimaksud dengan “Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia dan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia” adalah komisi Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia dan komite Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia yang membidangi pemerintahan dalam negeri. Pasal 41 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (3) Yang dimaksud dengan “partisipasi dalam penyelenggaraan pemerintahan. Ayat (2) Cukup jelas.Cukup jelas. Huruf d Cukup jelas. Huruf c Cukup jelas. Huruf c Pembentukan perangkat Daerah Persiapan dilakukan secara bertahap dengan prioritas Perangkat Daerah Persiapan yang terkait dengan Pelayanan Dasar. Ayat (7) Cukup jelas. Huruf f Cukup jelas. Huruf b Cukup jelas. Huruf d Jenjang jabatan perangkat Daerah Persiapan setingkat lebih rendah dari jenjang jabatan Perangkat Daerah pada Daerah induk. Huruf b Cukup jelas. Huruf e Cukup jelas. Pasal 42 Ayat (1) Yang dimaksud dengan “evaluasi” adalah evaluasi terhadap penyiapan sarana dan prasarana pemerintahan. Pasal 39 Cukup jelas. pembangunan dan kemasyarakatan” antara lain masyarakat memberikan masukan dalam perencanaan dan pelaksanaan penyelenggaraan pemerintahan. pengelolaan personel. Ayat (6) Yang dimaksud dengan “Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia dan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia” adalah komisi Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia dan komite Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia yang membidangi pemerintahan dalam negeri. pembentukan perangkat Daerah . Pasal 40 Ayat (1) Huruf a Bantuan pengembangan Daerah Persiapan yang bersumber dari APBN disalurkan melalui DAK dan/atau hibah. dokumentasi. Ayat (5) Cukup jelas.

dan penanganan pengaduan masyarakat. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (9) Cukup jelas. Pasal 48 Ayat (1) Huruf a .Persiapan. Pasal 46 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (5) Yang dimaksud dengan “Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia dan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia” adalah komisi Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia dan komite Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia yang membidangi pemerintahan dalam negeri. Pasal 44 Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. Ayat (6) Cukup jelas. pengisian jabatan aparatur sipil negara pada perangkat Daerah Persiapan. Ayat (5) Cukup jelas. pengelolaan anggaran belanja Daerah Persiapan. Ayat (3) Cukup jelas. Pasal 43 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (6) Cukup jelas. Ayat (8) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 47 Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. Ayat (7) Cukup jelas. Ayat (3) Yang dimaksud dengan “Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia dan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia” dalam ketentuan ini adalah komisi Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia dan komite Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia yang membidangi pemerintahan dalam negeri. Ayat (3) Cukup jelas. Pasal 45 Cukup jelas. Ayat (7) Yang dimaksud dengan “Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia dan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia” adalah komisi Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia dan komite Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia yang membidangi pemerintahan dalam negeri. Ayat (4) Cukup jelas.

Ayat (2) Cukup jelas. pengelolaan anggaran belanja Daerah Persiapan. pengelolaan personel.Yang dimaksud dengan “perubahan batas wilayah Daerah” dalam ketentuan ini adalah penambahan atau pengurangan Cakupan Wilayah suatu Daerah yang tidak mengakibatkan hapusnya suatu Daerah. Ayat (5) Cukup jelas. Pasal 49 Ayat (1) Yang dimaksud dengan “kepentingan strategis nasional” dalam ketentuan ini adalah kepentingan dalam rangka menjaga keutuhan dan kedaulatan NKRI serta mempercepat kesejahteraan masyarakat di daerah perbatasan. Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. pembentukan perangkat Daerah Persiapan. dan penanganan pengaduan masyarakat. Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 52 Ayat (1) Yang dimaksud dengan “evaluasi” adalah evaluasi terhadap penyiapan sarana dan prasarana pemerintahan. Ayat (4) Cukup jelas. Huruf d Cukup jelas. Huruf c Cukup jelas. peralatan. Huruf b Cukup jelas. Ayat (3) Yang dimaksud dengan “Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia dan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia” adalah komisi Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia dan komite Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia yang membidangi pemerintahan dalam negeri. Ayat (4) Cukup jelas. Pasal 53 Ayat (1) Cukup jelas. pengisian jabatan aparatur sipil negara pada perangkat Daerah Persiapan. Pasal 51 Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. dokumentasi. Huruf e Cukup jelas. Pasal 50 Ayat (1) Yang dimaksud dengan “Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia dan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia” adalah komisi Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia dan komite Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia yang membidangi pemerintahan dalam negeri. dan Daerah tertentu. pulau-pulau terluar. .

Yang dimaksud dengan “asas akuntabilitas” adalah asas yang menentukan bahwa setiap kegiatan dan hasil akhir dari kegiatan penyelenggara negara harus dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat atau rakyat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi negara sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Ayat (5) Cukup jelas. . Yang dimaksud dengan “asas efisiensi” adalah asas yang berorientasi pada minimalisasi penggunaan sumber daya dalam penyelenggaraan negara untuk mencapai hasil kerja yang terbaik. Yang dimaksud dengan "asas proporsionalitas" adalah asas yang mengutamakan keseimbangan antara hak dan kewajiban penyelenggara negara.Pasal 54 Cukup jelas. keserasian. dan selektif. Yang dimaksud dengan “asas kepentingan umum” adalah asas yang mendahulukan kesejahteraan umum dengan cara yang aspiratif. akomodatif. Yang dimaksud dengan "asas profesionalitas" adalah asas yang mengutamakan keahlian yang berlandaskan kode etik dan ketentuan peraturan perundang-undangan. dan tidak diskriminatif tentang penyelenggaraan negara dengan tetap memperhatikan perlindungan atas hak asasi pribadi. jujur. dan rahasia negara. Huruf b Huruf c Huruf d Huruf e Huruf f Huruf g Huruf h Yang dimaksud dengan “tertib penyelenggara negara” adalah asas yang menjadi landasan keteraturan. Pasal 56 Ayat (1) Yang dimaksud dengan “strategi penataan Daerah” dalam ketentuan ini adalah langkah-langkah dan rencana strategis yang harus dilakukan Pemerintah Pusat serta sasaran yang harus dicapai dalam kurun waktu tertentu dalam rangka penataan Daerah. Pasal 58 Huruf a Yang dimaksud dengan “kepastian hukum” adalah asas dalam negara hukum yang mengutamakan landasan ketentuan peraturan perundang-undangan dan keadilan dalam setiap kebijakan penyelenggara negara. Ayat (2) Cukup jelas. dan keseimbangan dalam pengendalian penyelenggara negara. Pasal 57 Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. Yang dimaksud dengan “asas keterbukaan" adalah asas yang membuka diri terhadap hak masyarakat untuk memperoleh informasi yang benar. Ayat (4) Cukup jelas. golongan. Ayat (6) Desain besar penataan Daerah yang ditetapkan oleh Pemerintah Pusat mencakup jangka waktu tertentu. Pasal 55 Cukup jelas.

Huruf c . Ayat (4) Cukup jelas. Ayat (2) Huruf a Cukup jelas. Huruf b Cukup jelas. kelembagaan. Ayat (6) Yang dimaksud dengan “melaksanakan tugas sehari-hari kepala daerah” dalam ketentuan ini adalah tugas rutin pemerintahan yang tidak berkaitan dengan pengambilan kebijakan yang bersifat strategis dalam aspek keuangan. personel dan aspek perizinan serta kebijakan strategis lainnya. Pasal 61 Cukup jelas. dan aspek perizinan. Ayat (5) Yang dimaksud dengan “melaksanakan tugas sehari-hari kepala daerah” dalam ketentuan ini adalah tugas rutin pemerintahan yang tidak berkaitan dengan pengambilan kebijakan yang bersifat strategis dalam aspek keuangan. Pasal 65 Ayat (1) Cukup jelas. kelembagaan. Pasal 66 Cukup jelas. Huruf b Cukup jelas. Huruf e Cukup jelas. Pasal 62 Cukup jelas. serta kebijakan strategis lainnya. Pasal 63 Cukup jelas. Huruf d Tindakan tertentu dalam keadaan mendesak yang sangat dibutuhkan oleh Daerah dan/atau masyarakat yang terkait dengan urusan pemerintahan umum dilakukan oleh kepala daerah setelah dibahas dalam Forkopimda. Ayat (3) Cukup jelas. Yang dimaksud dengan “asas keadilan” adalah bahwa setiap tindakan dalam penyelenggaraan negara harus mencerminkan keadilan secara proporsional bagi setiap warga negara. Huruf c Cukup jelas. personel. Pasal 67 Huruf a Cukup jelas.Huruf i Huruf j Yang dimaksud dengan “asas efektivitas” adalah asas yang berorientasi pada tujuan yang tepat guna dan berdaya guna. Ayat (7) Cukup jelas. Pasal 60 Yang dimaksud dengan “dalam jabatan yang sama” dalam ketentuan ini adalah jabatan bupati sama dengan jabatan wali kota. Pasal 64 Cukup jelas. Pasal 59 Cukup jelas.

Ayat (2) Yang dimaksud dengan “laporan kinerja instansi Pemerintah Daerah” dalam ketentuan ini adalah laporan kinerja setiap satuan kerja Perangkat Daerah. Ayat (2) Cukup jelas. Huruf f Yang dimaksud dengan “program strategis nasional” dalam ketentuan ini adalah program yang ditetapkan Presiden sebagai program yang memiliki sifat strategis secara nasional dalam upaya meningkatkan pertumbuhan dan pemerataan pembangunan serta menjaga pertahanan dan keamanan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pasal 69 Ayat (1) Cukup jelas. Huruf g Cukup jelas. Pasal 68 Cukup jelas. Ayat (3) Yang dimaksud dengan “hak interpelasi” dalam ketentuan ini adalah hak untuk meminta penjelasan kepada kepala daerah mengenai alasan-alasan tidak disampaikan laporan keterangan pertanggungjawaban. Ayat (4) Cukup jelas. Huruf e Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. Ayat (5) Cukup jelas. Huruf d Cukup jelas. Pasal 71 Cukup jelas. Ayat (3 Cukup jelas. Ayat (6) Cukup jelas. Pasal 73 Ayat (1) Cukup jelas.Yang dimaksud dengan “mengembangkan kehidupan demokrasi” dalam ketentuan ini antara lain melakukan penyerapan aspirasi dan meningkatkan partisipasi masyarakat. Ayat (2) Cukup jelas. serta menindaklanjuti pengaduan masyarakat. Pasal 72 Penyampaian ringkasan laporan penyelenggaraan Pemerintahan Daerah dilakukan melalui media yang tersedia di Daerah dan dapat diakses oleh masyarakat sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Pasal 70 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (7) Cukup jelas. Ayat (6) Pengembangan kapasitas Pemerintahan Daerah merupakan upaya pembinaan terhadap peningkatan kemampuan Pemerintahan Daerah dalam menyelenggarakan Otonomi Daerah sehingga menghasilkan kinerja yang tinggi. Ayat (5) Cukup jelas. .

Huruf c Yang dimaksud dengan “menjadi pengurus suatu perusahaan” dalam ketentuan ini adalah bila kepala daerah secara sadar dan/atau aktif sebagai direksi atau komisaris suatu perusahaan milik swasta maupun milik negara/Daerah. Pasal 76 Ayat (1) Huruf a Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Huruf b Yang dimaksud dengan “tidak dapat melaksanakan tugas secara berkelanjutan atau berhalangan tetap” dalam ketentuan ini adalah menderita sakit yang mengakibatkan fisik atau mental tidak berfungsi secara normal yang dibuktikan dengan surat keterangan dokter yang berwenang dan/atau tidak diketahui keberadaannya. atau pengurus dalam yayasan. Huruf e Cukup jelas. Pasal 78 Ayat (1) Cukup jelas. Huruf f Cukup jelas. Pasal 75 Cukup jelas. Ayat (2) Kepentingan pengobatan yang bersifat mendesak harus dibuktikan dengan surat keterangan dokter yang berwenang. baik milik swasta maupun milik Negara/Daerah. Huruf g Cukup jelas. Huruf j Cukup jelas. Pasal 77 Ayat (1) Yang dimaksud dengan “menjadi pengurus suatu perusahaan” adalah bila kepala daerah secara sadar dan/atau aktif sebagai direksi atau komisaris suatu perusahaan.Pasal 74 Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. Huruf b Cukup jelas. atau pengurus dalam yayasan. Ayat (2) Huruf a Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. Huruf d Cukup jelas. Huruf d Cukup jelas. Huruf c Cukup jelas. Huruf e . Huruf h Cukup jelas. Huruf i Usulan izin bagi gubernur disampaikan kepada Menteri dan usulan izin bagi bupati/wali kota disampaikan kepada Menteri melalui gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat. Ayat (5) Cukup jelas.

dan berzina. Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 90 Cukup jelas. serta perbuatan melanggar kesusilaan lainnya. Pasal 85 Cukup jelas.Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (3) Yang dimaksud dengan “merehabilitasi” dalam ketentuan ini adalah pemulihan nama baik dan pemenuhan hak keuangan. Huruf f Yang dimaksud dengan “melakukan perbuatan tercela” antara lain judi. Pasal 93 Ayat (1) Cukup jelas. Pasal 80 Cukup jelas. Pasal 83 Cukup jelas. pemakai/pengedar narkoba. Pasal 84 Ayat (1) Cukup jelas. Pasal 79 Ayat (1) Yang dimaksud dengan “diumumkan oleh pimpinan DPRD” dalam ketentuan ini tidak dimaksudkan untuk mengambil keputusan baik oleh pimpinan DPRD maupun oleh paripurna. Pasal 86 Cukup jelas. Pasal 81 Cukup jelas. Pasal 89 Cukup jelas. Pasal 82 Cukup jelas. Pasal 92 Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. Pasal 88 Cukup jelas. Pasal 87 Cukup jelas. Ayat (2) . Huruf i Cukup jelas. Huruf g Cukup jelas. mabuk. Pasal 91 Cukup jelas. Huruf h Cukup jelas.

Pasal 101 Ayat (1) Huruf a Cukup jelas. Huruf c Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 94 Cukup jelas. Pasal 96 Cukup jelas. kerja sama teknik termasuk bantuan kemanusiaan. Pasal 102 Ayat (1) . Huruf f Yang dimaksud dengan ”perjanjian internasional di Daerah provinsi” dalam ketentuan ini adalah perjanjian antara Pemerintah Pusat dan pihak luar negeri yang berkaitan dengan kepentingan Daerah provinsi. kerja sama penerusan pinjaman/ hibah. dan kerja sama lainnya sesuai dengan ketentuan peraturan perundangperundangan. Huruf i Cukup jelas. Ayat (5) Cukup jelas. Pasal 98 Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. kerja sama penyertaan modal. Huruf g Yang dimaksud dengan ”kerja sama internasional” dalam ketentuan ini adalah kerja sama antara Pemerintah Daerah provinsi dan pihak luar negeri yang meliputi kerja sama provinsi ”kembar”. Pasal 97 Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. Pasal 95 Cukup jelas. Huruf e Cukup jelas.Yang dimaksud dengan “unit kerja” adalah perangkat gubernur yang berfungsi membantu gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat dalam melaksanakan pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan Daerah kabupaten/kota dan Tugas Pembantuan oleh Daerah kabupaten/kota. Huruf h Cukup jelas. Pasal 100 Cukup jelas. Huruf b Cukup jelas. Pasal 99 Cukup jelas. Huruf j Cukup jelas. Huruf d Cukup jelas.

setiap anggota DPRD provinsi tidak dapat diarahkan oleh siapa pun di dalam proses pengambilan keputusan. partai politik. Pasal 104 Pada waktu pengucapan sumpah/janji lazimnya dipakai frasa tertentu sesuai dengan agama masing-masing. Ayat (3) Cukup jelas. Huruf e Cukup jelas. Pasal 105 Cukup jelas. sumpah/janji merupakan tekad untuk memperjuangkan aspirasi rakyat yang diwakilinya. untuk penganut agama Budha didahului dengan frasa “Demi Hyang Adi Budha”. Oleh karena itu. dan kepatutan sebagai wakil rakyat. Ayat (4) Cukup jelas. Huruf b Hak anggota DPRD provinsi untuk mengajukan pertanyaan baik secara lisan maupun tertulis kepada Pemerintah Daerah provinsi sesuai dengan fungsi serta tugas dan wewenang DPRD provinsi. tata cara penyampaian usul dan pendapat dimaksud tetap memperhatikan tata krama. menegakkan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. dan menjalankan ketentuan peraturan perundang-undangan yang mengandung konsekuensi berupa kewajiban dan tanggung jawab yang harus dilaksanakan oleh setiap anggota DPRD provinsi. DPD. sekretariat DPRD provinsi. dan DPRD. Pada hakikatnya. Huruf d Cukup jelas. misalnya untuk penganut agama Islam didahului dengan frasa “Demi Allah”. Huruf f Cukup jelas. etika. moral. Huruf g Penyelenggaraan orientasi dapat dilakukan oleh Pemerintah Pusat. Pasal 106 Cukup jelas. memegang teguh Pancasila. Ayat (2) Nama anggota DPRD provinsi terpilih berdasarkan hasil pemilihan umum secara administratif dilakukan oleh komisi pemilihan umum Daerah provinsi dan dilaporkan kepada Menteri melalui gubernur dan tembusannya kepada komisi pemilihan umum. Namun. Pasal 103 Cukup jelas. Pemerintah Daerah provinsi. atau perguruan tinggi. untuk penganut agama Protestan dan Katolik diakhiri dengan frasa “Semoga Tuhan menolong saya”. Pasal 107 Huruf a Hak mengajukan rancangan Perda provinsi dimaksudkan untuk mendorong anggota DPRD provinsi dalam menyikapi serta menyalurkan dan menindaklanjuti aspirasi rakyat yang diwakilinya dalam bentuk pengajuan usul rancangan Perda provinsi.Penentuan jumlah anggota DPRD provinsi untuk setiap provinsi didasarkan pada jumlah penduduk Daerah provinsi yang bersangkutan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang mengenai Pemilihan Umum Anggota DPR. dan untuk penganut agama Hindu didahului dengan frasa “Om Atah Paramawisesa”. Huruf c Hak anggota DPRD provinsi untuk menyampaikan suatu usul dan pendapat secara leluasa baik kepada Pemerintah Daerah provinsi maupun kepada DPRD provinsi sehingga ada jaminan kemandirian sesuai dengan panggilan hati nurani serta kredibilitasnya. Huruf h . sopan santun.

Huruf j Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. Huruf h Cukup jelas. Huruf i Yang dimaksud dengan “kunjungan kerja secara berkala” adalah kewajiban anggota DPRD provinsi untuk bertemu dengan konstituennya secara rutin pada setiap masa reses. Ayat (5) Yang dimaksud dengan “fraksi gabungan” adalah fraksi yang dibentuk dari gabungan anggota partai politik yang tidak dapat memenuhi syarat pembentukan 1(satu) fraksi. Huruf b Cukup jelas. ras. Huruf e Cukup jelas. Pasal 108 Huruf a Cukup jelas. dan suku. Huruf k Pemberian pertanggungjawaban secara moral dan politis disampaikan pada setiap masa reses kepada pemilih di daerah pemilihannya. daerah.Yang dimaksud dengan “hak protokoler” adalah hak anggota DPRD provinsi untuk memperoleh penghormatan berkenaan dengan jabatannya baik dalam acara kenegaraan atau dalam acara resmi maupun dalam melaksanakan tugasnya. yang hasil pertemuannya dengan konstituen dilaporkan secara tertulis kepada partai politik melalui fraksinya di DPRD provinsi. Ayat (6) Yang dimaksud dengan “fraksi gabungan” adalah fraksi yang dibentuk dari gabungan anggota partai politik yang tidak dapat memenuhi syarat pembentukan 1(satu) fraksi. Huruf i Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. Huruf f Cukup jelas. Huruf c Cukup jelas. Ayat (8) Cukup jelas. Huruf d Kepentingan kelompok dan golongan dalam ketentuan ini termasuk kepentingan partai politik. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (10) Cukup jelas. Huruf g Cukup jelas. Ayat (7) Yang dimaksud dengan “fraksi gabungan” adalah fraksi yang dibentuk dari gabungan anggota partai politik yang tidak dapat memenuhi syarat pembentukan 1(satu) fraksi. agama. Pasal 109 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (9) Cukup jelas. Pasal 110 .

Pasal 118 Cukup jelas. pimpinan sementara DPRD provinsi mengumumkan dalam rapat paripurna adanya usulan pimpinan partai politik tersebut untuk ditetapkan. Berdasarkan pengajuan tersebut. Ayat (6) Cukup jelas. Pasal 111 Ayat (1) Cukup jelas. Pasal 125 Cukup jelas. . Pasal 122 Cukup jelas. Pasal 116 Cukup jelas. Ayat (7) Cukup jelas. Pasal 115 Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. Pasal 120 Cukup jelas. Ayat (5) Cukup jelas. Pasal 119 Cukup jelas. Pasal 113 Cukup jelas. Pasal 121 Cukup jelas. Pasal 123 Cukup jelas. Pasal 117 Cukup jelas. Pasal 114 Cukup jelas.Cukup jelas. Pasal 112 Cukup jelas. Pasal 124 Cukup jelas. Ayat (2) Partai politik yang urutan perolehan kursinya terbanyak di DPRD provinsi dan berhak mengisi kursi pimpinan DPRD provinsi. Ayat (4) Cukup jelas. melalui pimpinan partai politik setempat mengajukan anggota DPRD provinsi yang akan ditetapkan menjadi pimpinan DPRD provinsi kepada pimpinan sementara DPRD provinsi. Ayat (8) Cukup jelas.

Pasal 136 Cukup jelas.Pasal 126 Cukup jelas. Ayat (5) Cukup jelas. Pasal 131 Cukup jelas. Pasal 127 Cukup jelas. Pasal 129 Ayat (1) Cukup jelas. Pasal 139 Ayat (1) Huruf a . Pasal 134 Cukup jelas. Ayat (6) Cukup jelas. Pasal 128 Cukup jelas. Pasal 132 Cukup jelas. Pasal 130 Yang dimaksud dengan “keputusan rapat” adalah kesepakatan bersama yang dituangkan secara tertulis dan ditandatangani oleh semua pihak terkait dalam pengambilan keputusan. Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. Pasal 135 Cukup jelas. Pasal 138 Cukup jelas. Ayat (7) Penyelesaian diserahkan kepada pimpinan DPRD provinsi dan pimpinan fraksi yang dilakukan dalam bentuk rapat konsultasi. Pasal 137 Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 133 Cukup jelas.

Pasal 144 Ayat (1) . Huruf d Cukup jelas. dan/atau tidak hadir dalam rapat tanpa keterangan apa pun selama 3(tiga) bulan berturut-turut. Ayat (2) Cukup jelas. Huruf c Cukup jelas. Pasal 142 Cukup jelas. tidak diketahui keberadaannya. Pasal 143 Cukup jelas. Huruf b Pernyataan mengundurkan diri dibuat secara tertulis di atas kertas yang bermeterai sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Ayat (4) Cukup jelas.Pernyataan meninggal dunia dibuktikan dengan surat keterangan dokter dan/atau pejabat yang berwenang. Pasal 141 Cukup jelas. Huruf e Cukup jelas. pemberhentiannya sah setelah adanya putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. Huruf g Cukup jelas. Huruf h Dalam hal anggota partai politik diberhentikan oleh partai politiknya dan yang bersangkutan mengajukan keberatan melalui pengadilan. Ayat (3) Cukup jelas. Huruf c Cukup jelas. Pasal 140 Ayat (1) Yang dimaksud dengan “pimpinan partai politik” adalah ketua atau sebutan lain yang sejenis atau yang diberi kewenangan untuk melaksanakan hal tersebut sesuai dengan anggaran dasar/anggaran rumah tangga partai politik masing-masing. Ayat (2) Huruf a Yang dimaksud dengan “tidak dapat melaksanakan tugas secara berkelanjutan atau berhalangan tetap” adalah menderita sakit yang mengakibatkan baik fisik maupun mental tidak berfungsi secara normal yang dibuktikan dengan surat keterangan dokter yang berwenang. Huruf b Cukup jelas. Huruf f Cukup jelas. Huruf i Ketentuan ini dikecualikan terhadap anggota partai politik lokal sesuai dengan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh.

Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 150 Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (6) Cukup jelas. Pasal 154 Ayat (1) Huruf a Cukup jelas. serta tunjangan pemeliharaan kesehatan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Pasal 148 Cukup jelas. Ayat (5) Cukup jelas. Ayat (4) Yang dimaksud dengan “hak keuangan tertentu” adalah hak keuangan yang meliputi uang representasi. Ayat (5) Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas.Cukup jelas. Pasal 152 Cukup jelas. tunjangan keluarga dan tunjangan beras. Pasal 151 Cukup jelas. uang paket. Pasal 147 Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. Pasal 145 Cukup jelas. . Pasal 153 Cukup jelas. Pasal 146 Ayat (1) Cukup jelas. Pasal 149 Cukup jelas. Ayat (7) Yang dimaksud dengan “6 (enam) bulan” adalah sejak proses awal pengajuan pemberhentian antarwaktu di DPRD provinsi.

Pasal 156 Cukup jelas. Huruf e Cukup jelas. kerja sama teknik termasuk bantuan kemanusiaan. DPD. Huruf h Cukup jelas. dan DPRD. Ayat (4) Cukup jelas. Huruf i Cukup jelas. Pasal 155 Ayat (1) Penentuan jumlah anggota DPRD kabupaten/kota untuk setiap Daerah provinsi didasarkan pada jumlah penduduk Daerah kabupaten/kota yang bersangkutan sebagaimana diatur dalam undangundang mengenai pemilihan umum anggota DPR. untuk penganut agama Protestan dan Katolik diakhiri dengan frasa “Semoga Tuhan menolong saya”. Huruf f Yang dimaksud dengan ”perjanjian internasional di Daerah kabupaten/kota” dalam ketentuan ini adalah perjanjian antara Pemerintah Pusat dan pihak luar negeri yang berkaitan dengan kepentingan Daerah kabupaten/kota. Pasal 159 .undangan. dan kerja sama lainnya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang.Huruf b Cukup jelas. sumpah/janji merupakan tekad untuk memperjuangkan aspirasi rakyat yang diwakilinya. kerja sama penerusan pinjaman/hibah. dan menjalankan ketentuan peraturan perundang-undangan yang mengandung konsekuensi berupa kewajiban dan tanggung jawab yang harus dilaksanakan oleh setiap anggota DPRD kabupaten/kota. Ayat (2) Nama anggota DPRD kabupaten/kota terpilih berdasarkan hasil pemilihan umum secara administratif dilakukan oleh komisi pemilihan umum Daerah kabupaten/kota dan dilaporkan kepada gubernur melalui bupati/walikota dan tembusannya kepada komisi pemilihan umum. Ayat (3) Cukup jelas. Huruf c Cukup jelas. untuk penganut agama Budha didahului dengan frasa “Demi Hyang Adi Budha”. Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 157 Pada waktu pengucapan sumpah/janji lazimnya dipakai frasa tertentu sesuai dengan agama masing-masing. memegang teguh Pancasila. kerja sama penyertaan modal. misalnya untuk penganut agama Islam didahului dengan frasa “Demi Allah”. dan untuk penganut agama Hindu didahului dengan frasa “Om Atah Paramawisesa”. Pasal 158 Cukup jelas. Huruf g Yang dimaksud dengan ”kerja sama internasional” dalam ketentuan ini adalah kerja sama Daerah antara Pemerintah Daerah kabupaten/kota dan pihak luar negeri yang meliputi kerja sama kabupaten/kota ”kembar”. Pada hakikatnya. menegakkan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Huruf j Cukup jelas. Huruf d Cukup jelas.

Huruf c Hak anggota DPRD kabupaten/kota untuk menyampaikan usul dan pendapat secara leluasa baik kepada Pemerintah Daerah kabupaten/kota maupun kepada DPRD kabupaten/kota sehingga ada jaminan kemandirian sesuai dengan panggilan hati nurani serta kredibilitasnya. dan kepatutan sebagai wakil rakyat. agama. partai politik. sekretariat DPRD kabupaten/kota. Huruf d Cukup jelas. Huruf i Yang dimaksud dengan “kunjungan kerja secara berkala” adalah kewajiban anggota DPRD kabupaten/kota untuk bertemu dengan konstituennya secara rutin pada setiap masa reses. Huruf e Cukup jelas. yang . tata cara penyampaian usul dan pendapat dimaksud tetap memperhatikan tata krama. Huruf g Penyelenggaraan orientasi dapat dilakukan oleh Pemerintah Pusat. Huruf e Cukup jelas.Cukup jelas. etika. dan suku. Huruf g Cukup jelas. Huruf h Yang dimaksud dengan “hak protokoler” adalah hak anggota DPRD kabupaten/kota untuk memperoleh penghormatan berkenaan dengan jabatannya baik dalam acara kenegaraan atau acara resmi maupun dalam melaksanakan tugasnya. sopan santun. Pemerintah Daerah kabupaten/kota. moral. Huruf b Hak anggota DPRD kabupaten/kota untuk mengajukan pertanyaan baik secara lisan maupun tertulis kepada Pemerintah Daerah kabupaten/kota sesuai dengan fungsi serta tugas dan wewenang DPRD kabupaten/kota. Huruf i Cukup jelas. Namun. Huruf d Kepentingan kelompok dan golongan dalam ketentuan ini termasuk kepentingan partai politik. setiap anggota DPRD kabupaten/kota tidak dapat diarahkan oleh siapa pun di dalam proses pengambilan keputusan. daerah. Huruf f Cukup jelas. Pasal 160 Huruf a Hak ini dimaksudkan untuk mendorong anggota DPRD kabupaten/kota dalam menyikapi serta menyalurkan dan menindaklanjuti aspirasi rakyat yang diwakilinya dalam bentuk pengajuan usul rancangan Perda Kabupaten/Kota. atau perguruan tinggi. Oleh karena itu. ras. Huruf h Cukup jelas. Huruf c Cukup jelas. Huruf f Cukup jelas. Pasal 161 Huruf a Cukup jelas. Huruf b Cukup jelas.

Ayat (10) Cukup jelas. Ayat (2) Partai politik yang urutan perolehan kursinya terbanyak di DPRD kabupaten/kota dan berhak mengisi kursi pimpinan DPRD kabupaten/kota. . Ayat (8) Cukup jelas. Ayat (8) Cukup jelas. Pasal 162 Ayat (1) Cukup jelas. Pasal 163 Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. Ayat (5) Cukup jelas. pimpinan sementara DPRD kabupaten/kota mengumumkan dalam rapat paripurna adanya usulan pimpinan partai politik tersebut untuk ditetapkan. Ayat (6) Cukup jelas.hasil pertemuannya dengan konstituen dilaporkan secara tertulis kepada partai politik melalui fraksinya di DPRD kabupaten/kota. Berdasarkan pengajuan tersebut. melalui pimpinan partai politik setempat mengajukan anggota DPRD kabupaten/kota yang akan ditetapkan menjadi pimpinan DPRD kabupaten/kota kepada pimpinan sementara DPRD kabupaten/kota. Ayat (9) Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. Huruf j Cukup jelas. Ayat (6) Yang dimaksud dengan “fraksi gabungan” adalah fraksi yang dibentuk dari gabungan anggota partai politik yang tidak dapat memenuhi syarat pembentukan 1(satu) fraksi. Huruf k Pemberian pertanggungjawaban secara moral dan politis disampaikan pada setiap masa reses kepada pemilih di daerah pemilihannya. Ayat (3) Cukup jelas. Pasal 164 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (7) Cukup jelas. Ayat (5) Yang dimaksud dengan “fraksi gabungan” adalah fraksi yang dibentuk dari gabungan anggota partai politik yang tidak dapat memenuhi syarat pembentukan 1(satu) fraksi. Pasal 165 Cukup jelas. Ayat (7) Yang dimaksud dengan “fraksi gabungan” adalah fraksi yang dibentuk dari gabungan anggota partai politik yang tidak dapat memenuhi syarat pembentukan 1(satu) fraksi.

Pasal 180 Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. Pasal 181 Cukup jelas. Pasal 178 Cukup jelas. Pasal 173 Cukup jelas. Ayat (5) Cukup jelas. Pasal 169 Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 172 Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. Pasal 171 Cukup jelas. Pasal 167 Cukup jelas. Pasal 176 Cukup jelas. Pasal 183 Ayat (1) Cukup jelas. Pasal 170 Cukup jelas. Pasal 175 Cukup jelas. Pasal 174 Cukup jelas. Pasal 182 Cukup jelas. Pasal 177 Cukup jelas. Pasal 179 Cukup jelas.Pasal 166 Cukup jelas. Pasal 168 Cukup jelas. Ayat (6) .

Pasal 188 Cukup jelas. Pasal 187 Cukup jelas. Huruf e . Pasal 186 Cukup jelas. Huruf b Pernyataan mengundurkan diri dibuat secara tertulis di atas kertas yang bermeterai sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Pasal 189 Cukup jelas. Ayat (7) Penyelesaian diserahkan kepada pimpinan DPRD kabupaten/kota dan pimpinan fraksi yang dilakukan dalam bentuk rapat konsultasi. Pasal 191 Cukup jelas. Huruf c Cukup jelas. Pasal 184 Yang dimaksud dengan “keputusan rapat” adalah kesepakatan bersama yang dituangkan secara tertulis dan ditandatangani oleh semua pihak terkait dalam pengambilan keputusan. dan/atau tidak hadir dalam rapat tanpa keterangan apa pun selama 3(tiga) bulan berturut-turut. Huruf c Cukup jelas. Pasal 192 Cukup jelas. Pasal 193 Ayat (1) Huruf a Pernyataan meninggal dunia dibuktikan dengan surat keterangan dokter dan/atau pejabat yang berwenang.Cukup jelas. Huruf b Cukup jelas. Ayat (2) Huruf a Yang dimaksud dengan “tidak dapat melaksanakan tugas secara berkelanjutan atau berhalangan tetap” adalah menderita sakit yang mengakibatkan baik fisik maupun mental tidak berfungsi secara normal yang dibuktikan dengan surat keterangan dokter yang berwenang. Pasal 190 Cukup jelas. Huruf d Cukup jelas. Pasal 185 Cukup jelas. tidak diketahui keberadaannya.

Ayat (4) Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (6) Cukup jelas. Ayat (5) Cukup jelas. Pasal 198 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (7) Yang dimaksud dengan “6(enam) bulan” adalah sejak proses awal pengajuan pemberhentian antarwaktu di DPRD provinsi. Huruf h Dalam hal anggota partai politik diberhentikan oleh partai politiknya dan yang bersangkutan mengajukan keberatan melalui pengadilan. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Huruf i Ketentuan ini dikecualikan terhadap anggota partai politik lokal sesuai dengan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh. Ayat (4) . Huruf g Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. Pasal 200 Ayat (1) Cukup jelas. Pasal 197 Cukup jelas. Pasal 194 Ayat (1) Yang dimaksud dengan “pimpinan partai politik” adalah ketua atau sebutan lain yang sejenis atau yang diberi kewenangan untuk melaksanakan hal tersebut sesuai dengan anggaran dasar/anggaran rumah tangga partai politik masing-masing.Cukup jelas. Pasal 195 Cukup jelas. Pasal 199 Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. pemberhentiannya sah setelah adanya putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 196 Cukup jelas. Huruf f Cukup jelas.

dan kinerja lembaga perwakilan rakyat Daerah provinsi. tunjangan keluarga dan tunjangan beras serta tunjangan pemeliharaan kesehatan sesuai dengan ketentuan perundang.undangan bidang kepegawaian. . Ayat (2) Yang dimaksud dengan “kelompok pakar atau tim ahli” adalah sekelompok orang yang mempunyai kemampuan dalam disiplin ilmu tertentu untuk membantu alat kelengkapan dalam pelaksanaan fungsi serta tugas dan wewenang DPRD kabupaten/kota. Pasal 203 Cukup jelas. gubernur mengajukan 3(tiga) orang calon kepada pimpinan DPRD provinsi untuk mendapat persetujuan dengan memperhatikan jenjang kepangkatan. Pasal 204 Ayat (1) Organisasi sekretariat DPRD kabupaten/kota dibentuk untuk mendukung pelaksanaan fungsi dan tugas pokok DPRD kabupaten/kota dalam rangka meningkatkan kualitas. Ayat (2) Yang dimaksud dengan “kelompok pakar atau tim ahli” adalah sekelompok orang yang mempunyai kemampuan dalam disiplin ilmu tertentu untuk membantu alat kelengkapan dalam pelaksanaan fungsi serta tugas dan wewenang DPRD provinsi. Penugasan kelompok pakar atau tim ahli disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan Daerah provinsi. produktivitas. Kelompok pakar atau tim ahli bertugas mengumpulkan data dan menganalisis berbagai masalah yang berkaitan dengan fungsi serta tugas dan wewenang DPRD provinsi. Penugasan kelompok pakar atau tim ahli disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan Daerah kabupaten/kota.undangan. dan kinerja lembaga perwakilan rakyat Daerah kabupaten/kota. Kelompok pakar atau tim ahli bertugas mengumpulkan data dan menganalisis berbagai masalah yang berkaitan dengan fungsi serta tugas dan wewenang DPRD kabupaten/kota. Ayat (2) Sekretaris DPRD provinsi adalah jabatan karier pegawai negeri sipil sehingga dalam pengusulan pengangkatan dan pemberhentiannya mengikuti ketentuan peraturan perundang.Yang dimaksud dengan “hak keuangan tertentu” adalah hak keuangan yang meliputi uang representasi. Dalam pengusulan pengangkatannya. Dalam pengusulan pengangkatannya. kemampuan. Ayat (5) Cukup jelas. Ayat (2) Sekretaris DPRD kabupaten/kota adalah jabatan karier pegawai negeri sipil sehingga dalam pengusulan pengangkatan dan pemberhentiannya mengikuti ketentuan peraturan perundang. uang paket. produktivitas. kemampuan. dengan memperhatikan pedoman penyusunan organisasi Perangkat Daerah. Pasal 201 Ayat (1) Organisasi sekretariat DPRD provinsi dibentuk untuk mendukung pelaksanaan fungsi dan tugas pokok DPRD provinsi dalam rangka meningkatkan kualitas. Pasal 205 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. dengan memperhatikan pedoman penyusunan organisasi Perangkat Daerah. dan pengalaman. dan pengalaman. Pasal 202 Ayat (1) Cukup jelas.undangan bidang kepegawaian. bupati/wali kota mengajukan 3(tiga) orang calon kepada pimpinan DPRD kabupaten/kota untuk mendapat persetujuan dengan memperhatikan jenjang kepangkatan.

pendidikan dan latihan serta penelitian dan pengembangan.Ayat (3) Cukup jelas. koordinasi pemerintahan. Pasal 212 Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (2) Huruf a Yang dimaksud dengan “sekretariat daerah” adalah unsur staf pendukung kepala daerah yang melaksanakan fungsi perumusan kebijakan. Huruf d Yang dimaksud dengan “dinas” adalah unsur pelaksana Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan Daerah. Huruf d Yang dimaksud dengan “dinas” adalah unsur pelaksana Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan Daerah. keuangan. Huruf e Yang dimaksud dengan “badan” adalah unsur penunjang yang melaksanakan fungsi-fungsi yang bersifat strategis yang diperlukan untuk mendukung pelaksanaan Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan Daerah antara lain perencanaan. Pasal 208 Cukup jelas. pendidikan dan latihan serta penelitian dan pengembangan. Huruf b Yang dimaksud dengan “sekretariat DPRD” adalah unsur staf pendukung DPRD. Pasal 211 Cukup jelas. Pasal 210 Yang dimaksud dengan “bersifat koordinatif dan fungsional” adalah hubungan kerja dalam rangka sinkronisasi pelaksanaan tugas pokok dan fungsi Perangkat Daerah provinsi dan Perangkat Daerah kabupaten/kota dalam melaksanakan Urusan Pemerintahan yang sama. koordinasi dan fungsi pelayanan administrasi serta fungsi pendukung lainnya. Pasal 207 Cukup jelas. Huruf c Yang dimaksud dengan “inspektorat” adalah unsur yang menjalankan fungsi pengawasan. Huruf c Yang dimaksud dengan “inspektorat” adalah unsur yang menjalankan fungsi pengawasan. pengawasan. keuangan. pengawasan. Pasal 209 Ayat (1) Huruf a Yang dimaksud dengan “sekretariat daerah” adalah unsur staf pendukung kepala daerah yang melaksanakan fungsi perumusan kebijakan. Pasal 206 Cukup jelas. organisasi dan administrasi umum serta fungsi pendukung lainnya. Huruf b Yang dimaksud dengan “sekretariat DPRD” adalah unsur staf pendukung DPRD. Huruf f Cukup jelas. kepegawaian. kepegawaian. Huruf e Yang dimaksud dengan “badan” adalah unsur penunjang yang melaksanakan fungsi-fungsi yang bersifat strategis yang diperlukan untuk mendukung pelaksanaan Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan Daerah antara lain perencanaan. Pasal 213 .

Cukup jelas. Pasal 222 Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. . Pasal 226 Ayat (1) Kewenangan yang dilimpahkan bupati/wali kota kepada camat misalnya kebersihan di Kecamatan tertentu. asal 217 Cukup jelas. Pasal 214 Cukup jelas. Pasal 229 Cukup jelas. Pasal 219 Cukup jelas. Pasal 227 Cukup jelas. Pasal 225 Cukup jelas. Ayat (2) Yang dimaksud dengan “menguasai pengetahuan teknis pemerintahan” adalah dibuktikan dengan ijazah diploma/sarjana pemerintahan atau sertifikat profesi kepamongprajaan. Pasal 224 Ayat (1) Cukup jelas. Pasal 221 Cukup jelas. Pasal 216 Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. Pasal 220 Cukup jelas. Pasal 218 Cukup jelas. pemadam kebakaran di Kecamatan tertentu dan pemberian izin mendirikan bangunan untuk luasan tertentu. Pasal 215 Cukup jelas. Pasal 228 Cukup jelas. Pasal 223 Cukup jelas.

Pasal 232 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (6) Cukup jelas. Kompetensi pemerintahan dibuktikan dengan sertifikasi. Pasal 235 Cukup jelas. Pasal 231 Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. Pasal 236 Cukup jelas. hubungan Pemerintah Daerah dengan DPRD dan etika pemerintahan. Pasal 233 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (5) Cukup jelas. pemerintahan umum. Ayat (2) Nomenklatur unit kerja pada setiap Perangkat Daerah yang melaksanakan suatu Urusan Pemerintahan memperhatikan pertimbangan dari kementerian/lembaga pemerintah nonkementerian yang membidangi Urusan Pemerintahan tersebut. Ayat (3) Cukup jelas. Pasal 237 Cukup jelas. Pasal 238 Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. Pasal 239 Ayat (1) . Ayat (2) Cukup jelas.Pasal 230 Ayat (1) Pelaksanaan anggaran untuk pembangunan sarana dan prasarana lokal kelurahan dan pemberdayaan masyarakat di kelurahan diutamakan dengan cara swakelola oleh kelompok masyarakat dan/atau organisasi kemasyarakatan. sikap dan keterampilan yang terkait dengan kebijakan Desentralisasi. hubungan Pemerintah Pusat dengan Daerah. Ayat (2) Yang dimaksud dengan “kompetensi pemerintahan” antara lain mencakup pengetahuan. Pasal 234 Cukup jelas. Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan Daerah. pengelolaan keuangan Daerah. Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (5) Cukup jelas.

Ayat (5) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 241 Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (3) Berlakunya Perda yang tidak sama dengan tanggal pengundangan dimungkinkan untuk persiapan sarana dan prasarana serta kesiapan aparatur pelaksana Perda tersebut. Pasal 240 Cukup jelas. Pasal 245 Ayat (1) Untuk evaluasi terhadap rancangan Perda Provinsi tentang perubahan APBD dengan dilampiri perubahan RKPD provinsi. Ayat (4) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (3) . Pasal 242 Cukup jelas. Pasal 244 Ayat (1) Cukup jelas. Pasal 247 Cukup jelas. Ayat (3) Untuk evaluasi terhadap rancangan Perda kabupaten/kota tentang perubahan APBD dengan dilampiri perubahan RKPD kabupaten/kota. Pasal 246 Cukup jelas. Ayat (5) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (6) Huruf a Yang dimaksud dengan “penataan Kecamatan” dalam ketentuan ini adalah pembentukan. Ayat (4) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas.Cukup jelas. penghapusan dan penggabungan Kecamatan. Huruf b Cukup jelas. Pasal 248 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (7) Cukup jelas. Pasal 243 Cukup jelas.

serta meminta keterangan. Pasal 254 Cukup jelas. Huruf c Yang dimaksud dengan “tindakan penyelidikan” adalah tindakan polisi pamong praja yang tidak menggunakan upaya paksa dalam rangka mencari data dan informasi tentang adanya dugaan pelanggaran Perda dan/atau Perkada. Pasal 250 Ayat (1) Yang dimaksud dengan “kesusilaan” dalam ketentuan ini adalah norma yang berkaitan dengan adab dan sopan santun. Pasal 256 Ayat (1) Cukup jelas. Huruf d Yang dimaksud dengan “tindakan administratif” adalah tindakan berupa pemberian surat pemberitahuan. Ayat (2) Huruf a Yang dimaksud dengan “tindakan penertiban non-yustisial” adalah tindakan yang dilakukan oleh polisi pamong praja dalam rangka menjaga dan/atau memulihkan ketertiban umum dan ketenteraman masyarakat terhadap pelanggaran Perda dan/atau Perkada dengan cara sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan dan tidak sampai proses peradilan. Ayat (2) Cukup jelas.Berlakunya Perkada yang tidak sama dengan tanggal pengundangan dimungkinkan untuk persiapan sarana dan prasarana serta kesiapan aparatur pelaksana Perkada tersebut. Huruf b Yang dimaksud dengan ”menindak” adalah melakukan tindakan hukum terhadap pelanggaran Perda untuk diproses melalui peradilan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. surat teguran/surat peringatan terhadap pelanggaran Perda dan/atau Perkada. Ayat (4) Cukup jelas. Pasal 255 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (5) Pemotongan DAU dan/atau DBH bagi Daerah bersangkutan sebesar uang yang sudah dipungut oleh Daerah. Ayat (3) Cukup jelas. mendokumentasi atau merekam kejadian/keadaan. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. antara lain mencatat. dan tata krama yang luhur. Pasal 251 Cukup jelas. kelakuan yang baik. Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 253 Cukup jelas. Pasal 252 Ayat (1) Cukup jelas. Pasal 249 Cukup jelas. .

jujur. Yang dimaksud dengan “berkeadilan” adalah prinsip keseimbangan antarwilayah. Ayat (2) Cukup jelas. sektor. Pasal 257 Cukup jelas. Yang dimaksud dengan “efisien” adalah pencapaian keluaran tertentu dengan masukan terendah atau masukan terendah dengan keluaran maksimal. Ayat (6) Cukup jelas. Yang dimaksud dengan “partisipatif” adalah hak masyarakat untuk terlibat dalam setiap proses tahapan perencanaan pembangunan Daerah dan bersifat inklusif terhadap kelompok yang termarginalkan melalui jalur khusus komunikasi untuk mengakomodasi aspirasi kelompok masyarakat yang tidak memiliki akses dalam pengambilan kebijakan. pendapatan. dan perubahan yang terjadi di Daerah. Ayat (7) Cukup jelas. dan rahasia negara. Yang dimaksud dengan “efektif” adalah kemampuan mencapai target dengan sumber daya yang dimiliki dengan cara atau proses yang paling optimal. Yang dimaksud dengan “akuntabel” adalah setiap kegiatan dan hasil akhir dari perencanaan pembangunan Daerah harus dapat dipertanggungjawabkan kepada rakyat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi negara sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. negosiasi.Ayat (4) Materi pendidikan dan pelatihan teknis dan fungsional antara lain kecakapan berkomunikasi. Yang dimaksud dengan “berwawasan lingkungan” adalah untuk mewujudkan kehidupan adil dan makmur tanpa harus menimbulkan kerusakan lingkungan yang berkelanjutan dalam mengoptimalkan manfaat sumber daya alam dengan cara menserasikan aktivitas manusia dengan kemampuan sumber daya alam yang menopangnya. . dan usia. masalah. Pasal 262 Ayat (1) Yang dimaksud dengan “transparan” adalah membuka diri terhadap hak masyarakat untuk memperoleh informasi yang benar. Pasal 260 Cukup jelas. Yang dimaksud dengan “responsif” adalah dapat mengantisipasi berbagai potensi. Pasal 258 Cukup jelas. dan tidak diskriminatif tentang penyelenggaraan negara dengan tetap memperhatikan perlindungan atas hak asasi pribadi. Ayat (2) Yang dimaksud dengan “memperhatikan percepatan pembangunan Daerah tertinggal” adalah Pemerintah Daerah wajib mempedomani program nasional dalam penanganan Daerah tertinggal. gender. dan tindakan polisional. Yang dimaksud dengan “terukur” adalah penetapan target kinerja yang akan dicapai dan caracara untuk mencapainya. Pasal 261 Cukup jelas. golongan. Ayat (5) Cukup jelas. Pasal 259 Cukup jelas. Pasal 263 Ayat (1) Cukup jelas.

Pasal 267 Cukup jelas. Pasal 278 Ayat (1) Yang dimaksud dengan “sektor swasta” termasuk koperasi. Pasal 265 Cukup jelas. Pasal 280 Cukup jelas. Pasal 268 Cukup jelas. Pasal 270 Cukup jelas. Pasal 276 Ayat (1) Pengendalian dan evaluasi terhadap pembangunan Daerah provinsi mencakup seluruh Daerah provinsi yang ada di Indonesia.Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (3) Pengendalian dan evaluasi terhadap pembangunan Daerah provinsi mencakup seluruh satuan kerja Perangkat Daerah yang ada di Daerah provinsi tersebut. Pasal 271 Cukup jelas. Pasal 275 Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (4) Yang dimaksud dengan “program strategis nasional” dalam ketentuan ini adalah program yang ditetapkan Presiden sebagai program yang memiliki sifat strategis secara nasional dalam upaya meningkatkan pertumbuhan dan pemerataan pembangunan serta menjaga pertahanan dan keamanan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pasal 264 Cukup jelas. Ayat (4) Pengendalian dan evaluasi terhadap pembangunan Daerah kabupaten/kota mencakup seluruh satuan kerja Perangkat Daerah yang ada di Daerah kabupaten/kota tersebut. Pasal 269 Cukup jelas. Pasal 279 Cukup jelas. Ayat (2) Pengendalian dan evaluasi terhadap pembangunan Daerah kabupaten/kota mencakup seluruh kabupaten/kota yang ada di Daerah provinsi tersebut. Pasal 266 Cukup jelas. Pasal 273 Cukup jelas. Pasal 277 Cukup jelas. Pasal 274 Cukup jelas. Pasal 272 Cukup jelas. Pasal 281 .

Pasal 284 Ayat (1) Yang dimaksud dengan “mewakili Pemerintah Daerah dalam kepemilikan kekayaan daerah yang dipisahkan” adalah sebagai pemegang saham pengendali pada BUMD maupun saham lainnya dan dilarang menjadi pengurus badan usaha. Angka 3 Yang dimaksud dengan “hasil pengelolaan kekayaan Daerah yang dipisahkan” antara lain bagian laba dari BUMD dan hasil kerja sama dengan pihak ketiga. Angka 2 .Ayat (1) Cukup jelas. bantuan keuangan antar-Daerah kabupaten/kota. bantuan keuangan Daerah kabupaten/kota ke Daerah provinsinya dan/atau Daerah provinsi lainnya. Ayat (3) Cukup jelas. Huruf b Cukup jelas. Huruf e Cukup jelas. Huruf c Cukup jelas. Pasal 282 Cukup jelas. Angka 4 Yang dimaksud dengan “lain-lain pendapatan asli Daerah yang sah” antara lain penerimaan Daerah di luar pajak daerah dan retribusi daerah seperti jasa giro dan hasil penjualan aset Daerah. Huruf c Cukup jelas. dan d. bantuan keuangan antar-Daerah provinsi. Ayat (2) Cukup jelas. b. Ayat (2) Huruf a Angka 1 Cukup jelas. bantuan keuangan Daerah provinsi ke Daerah kabupaten/kota di wilayahnya dan/atau Daerah kabupaten/kota di luar wilayahnya. Pasal 285 Ayat (1) Huruf a Angka 1 Cukup jelas. Huruf b Cukup jelas. c. Angka 2 Cukup jelas. Ayat (2) Huruf a Cukup jelas. Huruf d Yang dimaksud dengan “bantuan keuangan antar-Daerah” adalah: a. Pasal 283 Cukup jelas.

bantuan keuangan antar-Daerah kabupaten/kota. Huruf b Angka 1 Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Huruf b Pajak Penghasilan(PPh) Pasal 21. bantuan keuangan antar-Daerah provinsi. . Ayat (4) Cukup jelas. Pasal 289 Ayat (1) Cukup jelas. Angka 4 Yang dimaksud dengan “dana Desa” adalah dana yang bersumber dari APBN yang diperuntukan bagi Desa yang ditransfer melalui APBD kabupaten/kota dan digunakan untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahan Desa yang mencakup pelayanan. dan Pasal 29 yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Perubahan Keempat Atas Undang. bantuan keuangan Daerah kabupaten/kota ke Daerah provinsinya dan/atau Daerah provinsi lainnya. Pasal 288 Cukup jelas. Angka 2 Yang dimaksud dengan “bantuan keuangan” adalah: a. Pasal 286 Cukup jelas. berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang Pajak Bumi dan Bangunan. Ayat (2) Huruf a Yang dimaksud dengan “pajak bumi dan bangunan” dalam ketentuan ini adalah pajak yang dikenakan atas bumi dan/atau bangunan yang dimiliki. Pasal 287 Cukup jelas. Ayat (5) Cukup jelas. dan d. b. pembangunan. Pasal 25. dikuasai dan/atau dimanfaatkan di kawasan yang digunakan untuk kegiatan usaha perkebunan. Ayat (3) Cukup jelas. Pasal 290 Cukup jelas. perhutanan. bantuan keuangan Daerah provinsi ke Daerah kabupaten/kota di wilayahnya dan/atau Daerah kabupaten/kota di luar wilayahnya. dan pemberdayaan masyarakat. pertambangan.Cukup jelas. c. Pasal 291 Ayat (1) Cukup jelas.Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan. Ayat (7) Cukup jelas. Angka 3 Cukup jelas. Ayat (6) Pertimbangan Menteri terkait dengan penentuan batas wilayah.

. Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (5) Bantuan keuangan dapat diberikan antar-Daerah provinsi. Pasal 300 Cukup jelas. Ayat (7) Cukup jelas. dan bagian dari hasil pajak dan retribusi kabupaten/kota ke Desa untuk penyelenggaraan pemerintahan yang mencakup pelayanan. rabat. potongan atau penerimaan lain. Ayat (4) Contoh pendapatan bagi hasil adalah bagi hasil pajak kendaraan bermotor yang dibagikan oleh Daerah provinsi kepada Daerah kabupaten/kota di wilayahnya. dan dari Daerah provinsi kepada Daerah kabupaten/kota atau sebaliknya. Pasal 292 Cukup jelas. Pasal 295 Cukup jelas. pembangunan. Ayat (4) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 296 Cukup jelas. Pasal 297 Ayat (1) Cukup jelas. dan pemberdayaan masyarakat. Pasal 294 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. Ayat (5) Cukup jelas.Ayat (3) Daerah berciri kepulauan dipertimbangkan dengan menggunakan luas wilayah laut dalam perhitungan DAU. Ayat (2) Yang dimaksud dengan “harus segera disetor ke kas umum Daerah” adalah berdasarkan jatuh tempo bunga. antar-Daerah kabupaten/kota. Ayat (3) Yang dimaksud dengan “analisis standar belanja” adalah penilaian kewajaran atas beban kerja dan biaya yang digunakan untuk melaksanakan suatu kegiatan. Pasal 298 Ayat (1) Cukup jelas. Pasal 293 Cukup jelas. Ayat (2) Yang dimaksud dengan “standar harga satuan regional” adalah harga satuan barang dan jasa yang ditetapkan dengan mempertimbangkan tingkat kemahalan regional. alokasi dana Desa. Pasal 299 Cukup jelas. Ayat (6) Belanja untuk Desa mencakup alokasi APBN untuk Desa.

Pasal 306 Cukup jelas. Pasal 302 Cukup jelas. Pasal 304 Cukup jelas. Ayat (6) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 309 Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas.Pasal 301 Ayat (1) Pertimbangan Menteri untuk menilai dari sisi kelayakan kegiatan dan kesesuaian Urusan Pemerintahan. Pasal 313 Cukup jelas. Pasal 308 Cukup jelas. Pasal 315 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (3) . Ayat (7) Cukup jelas. KUA dan PPAS. Pasal 303 Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (5) Cukup jelas. Pasal 312 Cukup jelas. Pasal 310 Cukup jelas. Pasal 305 Cukup jelas. Pasal 307 Cukup jelas. Ayat (8) Cukup jelas. serta menilai konsistensi antara rancangan Perda tentang APBD dengan KUA dan PPAS. Pasal 314 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. Ayat (3) Yang dimaksud dengan “menguji kesesuaian” adalah untuk menilai kesesuaian program dalam rancangan Perda tentang APBD dengan Perda tentang RPJMD dan menilai pertimbangan yang digunakan dalam menentukan kegiatan-kegiatan yang ada dalam RKPD. Pasal 311 Cukup jelas.

Huruf b Cukup jelas. memiliki dampak yang signifikan terhadap anggaran dalam rangka pemulihan yang disebabkan oleh keadaan darurat. Pasal 318 Cukup jelas. KUA dan PPAS. Huruf d Yang dimaksud dengan “keadaan darurat” paling sedikit memenuhi kriteria sebagai berikut: a. Ayat (9) Cukup jelas. bukan merupakan kegiatan normal dari aktivitas Pemerintahan Daerah dan tidak dapat diprediksikan sebelumnya. Huruf e Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. c. berada di luar kendali dan pengaruh Pemerintahan Daerah.Yang dimaksud dengan “menguji kesesuaian” adalah untukmenilai kesesuaian program dalam rancangan Perda tentang APBD dengan Perda tentang RPJMD dan menilai pertimbangan yang digunakan dalam menentukan kegiatan-kegiatan yang ada dalam RKPD. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (8) Cukup jelas. Pasal 316 Ayat (1) Huruf a Cukup jelas. serta menilai konsistensi antara rancangan Perda tentang APBD dengan KUA dan PPAS. Ayat (7) Cukup jelas. dan d. Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. Ayat (6) Cukup jelas. dan perubahan KUA serta PPAS. Pasal 317 Ayat (1) Yang dimaksud dengan “penjelasan dan dukumen pendukung” antara lain perubahan RKPD. Ayat (2) . Pasal 320 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. tidak diharapkan terjadi secara berulang. Ayat (3) Cukup jelas. b. Huruf c Cukup jelas. Pasal 319 Cukup jelas. Ayat (5) Cukup jelas.

Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (3) Yang dimaksud dengan “standar akuntansi pemerintahan” adalah prinsip-prinsip akuntansi yang diterapkan dalam menyusun dan menyajikan laporan keuangan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Pasal 323 Cukup jelas. Pasal 325 Cukup jelas. Pasal 330 Penyusunan peraturan pemerintah diselaraskan dengan ketentuan peraturan perundangundangan mengenai keuangan negara dan perbendaharaan negara serta ketentuan peraturan perundang-undangan terkait lainnya.Cukup jelas. Ayat (5) Cukup jelas. Ayat (6) Cukup jelas. Pasal 321 Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. Pasal 331 Ayat (1) Cukup jelas.undangan mengenai perbankan. Pasal 329 Cukup jelas. Pasal 322 Cukup jelas. Ayat (4) . Ayat (3) Cukup jelas. Pasal 326 Cukup jelas. Ayat (5) Cukup jelas. Ayat (2) Sumber penerimaan berasal dari pembiayaan pinjaman dan/atau hibah luar negeri tidak harus dilakukan melalui rekening kas umum Daerah namun tetap harus dibukukan dalam rekening kas umum Daerah. Pasal 324 Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. Pasal 327 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. Pasal 328 Ayat (1) Penempatan deposito dilakukan pada bank umum di Indonesia yang aman/sehat sesuai dengan ketentuan peraturan perundang. Ayat (2) Cukup jelas.

Yang dimaksud dengan “dewan pengawas” adalah organ perusahaan umum Daerah yang bertugas melakukan pengawasan dan memberikan nasihat kepada direksi dalam menjalankan kegiatan pengurusan perusahaan umum Daerah. perusahaan swasta. Ayat (3) Yang dimaksud dengan “bukan Daerah” adalah Pemerintah Pusat. pasar. . Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 339 Ayat (1) Cukup jelas. badan usaha milik negara. Yang dimaksud dengan “komisaris” adalah organ perusahaan perseroan Daerah yang bertugas melakukan pengawasan dan memberikan nasihat kepada direksi dalam menjalankan kegiatan pengurusan perusahaan perseroan Daerah. Pasal 338 Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 333 Cukup jelas. Pasal 332 Cukup jelas. Huruf b Kelayakan bidang usaha BUMD dikaji melalui analisis terhadap kelayakan ekonomi. Ayat (2) Cukup jelas. BUMD lainnya. Ayat (6) Cukup jelas. analisis pasar dan pemasaran dan analisis kelayakan keuangan serta analisis aspek lainnya. Ayat (5) Huruf a Kebutuhan Daerah dikaji melalui studi yang mencakup aspek pelayanan umum dan kebutuhan masyarakat di antaranya air minum. Pasal 337 Cukup jelas. transportasi. Yang dimaksud dengan “direksi” adalah organ perusahaan umum Daerah yang bertanggung jawab atas pengurusan perusahaan umum Daerah untuk kepentingan dan tujuan perusahaan umum Daerah. koperasi. Pasal 336 Cukup jelas.Cukup jelas. Pasal 340 Ayat (1) Yang dimaksud dengan “rapat umum pemegang saham” adalah organ perusahaan perseroan Daerah yang memegang kekuasaan tertinggi dalam perusahaan perseroan Daerah dan memegang segala wewenang yang tidak diserahkan kepada direksi atau komisaris. Pasal 334 Cukup jelas. serta mewakili perusahaan umum Daerah baik di dalam maupun di luar pengadilan sesuai dengan ketentuan anggaran dasar. yayasan dan perorangan. Pasal 335 Ayat (1) Yang dimaksud dengan “direksi” adalah organ perusahaan umum Daerah yang bertanggung jawab atas pengurusan perusahaan umum Daerah untuk kepentingan dan tujuan perusahaan umum Daerah. serta mewakili perusahaan umum Daerah baik di dalam maupun di luar pengadilan sesuai dengan ketentuan anggaran dasar.

Yang dimaksud dengan “penyederhanaan prosedur pelayanan publik” adalah mengurangi dan/atau mengintegrasikan persyaratan atau langkah-langkah pemberian layanan. Pasal 342 Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. sehingga mempermudah proses pemberian layanan kepada masyarakat. Pasal 350 Cukup jelas.Pasal 341 Cukup jelas. Pasal 344 Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. Pasal 343 Cukup jelas. Ayat (5) Cukup jelas. Pasal 349 Ayat (1) Yang dimaksud dengan “penyederhanaan jenis pelayanan publik” adalah menggabungkan beberapa jenis pelayanan publik yang diamanatkan oleh ketentuan peraturan perundangundangan menjadi 1(satu) jenis pelayanan yang di dalamnya menampung/memuat substansi pelayanan yang digabungkan tersebut. Pasal 348 Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 345 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (3) Yang dimaksud dengan “forum komunikasi” adalah pertemuan yang dilakukan oleh Pemerintahan Daerah dengan masyarakat dan pemangku kepentingan terkait baik secara berkala maupun insidentil. Ayat (2) Yang dimaksud dengan “maklumat pelayanan publik” adalah pernyataan kesanggupan Pemerintah Daerah dalam menyelenggarakan pelayanan publik. . Pasal 347 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. Pasal 351 Ayat (1) Yang dimaksud dengan “ombudsman” adalah sebagaimana dimaksud dalam undang-undang mengenai ombudsman Republik Indonesia. Pasal 346 Yang dimaksud dengan “badan layanan umum daerah” adalah sistem yang diterapkan oleh satuan kerja Perangkat Daerah atau unit kerja pada satuan kerja Perangkat Daerah dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat yang mempunyai fleksibilitas dalam pola pengelolaan keuangan sebagai pengecualian dari ketentuan pengelolaan daerah pada umumnya.

dan fasilitas lainnya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang. Ayat (4) Cukup jelas. penerangan jalan umum. Pasal 355 Cukup jelas. . pegawai negeri sipil atau petugas di dalam organisasi penyelenggara yang bertugas melaksanakan tindakan atau serangkaian tindakan pelayanan publik. Huruf c Yang dimaksud dengan “efektif” adalah partisipasi masyarakat tersebut bukan hanya bersifat formalitas melainkan benar-benar menyangkut kepentingan untuk menyejahterakan masyarakat. Ayat (3) Cukup jelas. fasilitas olah raga. Ayat (6) Cukup jelas. Ayat (5) Cukup jelas. Pasal 354 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas.Ayat (2) Huruf a Yang dimaksud dengan “penyelenggara” adalah unit kerja di Daerah yang menyelenggarakan pelayanan publik. Pasal 357 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (7) Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. Pasal 353 Cukup jelas. Ayat (3) Yang dimaksud dengan “fasilitas pelayananan perkotaan” meliputi fasilitas sosial dan fasilitas umum antara lain jalan. jembatan. Huruf b Cukup jelas. rumah ibadah. Huruf b Yang dimaksud dengan “pelaksana” adalah pejabat. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (5) Cukup jelas. Pasal 356 Cukup jelas. Ayat (2) Huruf a Cukup jelas. Pasal 352 Cukup jelas.undangan. Huruf d Cukup jelas.

Ayat (4) Cukup jelas. Huruf e Cukup jelas. Huruf n Termasuk dalam kategori ini antara lain kawasan bandara. Pasal 360 Ayat (1) Cukup jelas. Huruf f Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. Ayat (5) Cukup jelas. Huruf d Cukup jelas. Huruf b Cukup jelas.Yang dimaksud dengan “tidak merugikan kepentingan umum” adalah penyerahan fasilitas tersebut tidak membebani APBD dan/atau Pemerintah Daerah mendapatkan kompensasi yang layak guna membiayai fasilitas sosial dan fasilitas umum. Huruf i Cukup jelas. Huruf h Cukup jelas. Pasal 361 Ayat (1) Cukup jelas. Huruf m Cukup jelas. Huruf l Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Huruf c Cukup jelas. Pasal 359 Cukup jelas. kawasan pelabuhan dan kawasan sepanjang rel kereta api. Ayat (3) . Pasal 358 Cukup jelas. Huruf g Cukup jelas. Ayat (5) Cukup jelas. Huruf k Cukup jelas. Ayat (2) Huruf a Cukup jelas. Huruf j Cukup jelas.

Ayat (2) Huruf a Cukup jelas. listrik. air minum. dan lembaga nonpemerintah lainnya. Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. sehingga dapat ditugaskan kepada camat. Ayat (6) Cukup jelas. Ayat (8) . Pasal 363 Ayat (1) Cukup jelas. dan cakupan pelayanan yang dikerjasamakan. Huruf c Cukup jelas. Ayat (5) Cukup jelas. Huruf c Pembangunan sarana dan prasarana kawasan antara lain jalan/jembatan. pemerintahan. Ayat (7) Cukup jelas. sosial. Pasal 364 Ayat (1) Cukup jelas. pasar. misalnya pelayanan keimigrasian di pos lintas batas di Daerah terpencil.Huruf a Cukup jelas. Hurub b Cukup jelas. organisasi kemasyarakatan. Ayat (8) Cukup jelas. Ayat (5) Yang dimaksud dengan “biaya pelaksanaan kerja sama diperhitungkan dari APBD masing-masing Daerah” adalah dengan pemberian bantuan keuangan oleh masing-masing Daerah yang diambil alih pelaksanaan kerja samanya yang besaran bantuan dari masing-masing Daerah mempertimbangkan antara lain jumlah penduduk. Ayat (4) Cukup jelas. luas wilayah. rumah sakit. Ayat (4) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. pos lintas batas. dan ekonomi. Huruf b Yang dimaksud dengan “pihak ketiga” adalah pihak swasta. Ayat (7) Cukup jelas. telekomunikasi. Ayat (6) Menugaskan camat di kawasan perbatasan dimaksudkan untuk memberikan tugas kementerian/lembaga pemerintah nonkementerian dalam memberikan pelayanan langsung yang dipandang tidak efisien dilaksanakan sendiri oleh kementerian/lembaga pemerintah nonkementerian. transportasi. Pasal 362 Cukup jelas.

Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (10) Cukup jelas. Pasal 374 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (4) Yang dimaksud dengan “fasilitasi” dalam ketentuan ini meliputi kegiatan pemberdayaan Pemerintah Daerah provinsi. dan bimbingan teknis kepada Pemerintah Daerah provinsi. Pasal 369 Cukup jelas. Pasal 370 Cukup jelas. penguatan kapasitas Pemerintah Daerah provinsi. Pasal 367 Cukup jelas. Ayat (4) . Ayat (2) Cukup jelas. dan konsultasi akreditasi guru. Pasal 373 Cukup jelas. Ayat (9) Cukup jelas. Pasal 371 Cukup jelas. Pasal 368 Cukup jelas. Ayat (3) Yang dimaksud dengan “ditugaskan” dalam ketentuan ini adalah pemberian tugas dari Pemerintah Daerah provinsi kepada Desa bukan dalam rangka penerapan asas Tugas Pembantuan. Pasal 372 Ayat (1) Yang dimaksud dengan “menugaskan” dalam ketentuan ini adalah pemberian tugas dari Pemerintah Pusat. Ayat (3) Pembinaan teknis yang dilakukan oleh kementerian/lembaga pemerintah nonkementerian misalnya dibidang pendidikan antara lain pelatihan guru. Pasal 375 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (4) Yang dimaksud dengan “ditugaskan” dalam ketentuan ini adalah pemberian tugas dari Pemerintah Daerah kabupaten/kota kepada Desa bukan dalam rangka penerapan asas Tugas Pembantuan. Ayat (3) Cukup jelas. penelitian dan pengembangan kurikulum lokal. Ayat (2) Yang dimaksud dengan “ditugaskan” dalam ketentuan ini adalah pemberian tugas dari Pemerintah Pusat kepada Desa bukan dalam rangka penerapan asas Tugas Pembantuan. Pasal 365 Cukup jelas.Cukup jelas. Pemerintah Daerah provinsi dan Pemerintah Daerah kabupaten/kota kepada Desa bukan dalam rangka penerapan asas Tugas Pembantuan. Pasal 366 Cukup jelas.

watak. dan disiplin sebagai abdi negara. Ayat (3) Cukup jelas. Yang dimaksud dengan “pengawasan teknis” adalah pengawasan terhadap teknis pelaksanaan substansi Urusan Pemerintahan yang diserahkan kepada Daerah kabupaten/kota. Pasal 378 Ayat (1) Yang dimaksud dengan “pengawasan umum” adalah pengawasan terhadap pembagian Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan Daerah kabupaten/kota.Cukup jelas. mental. kerja sama Daerah kabupaten/kota. kelembagaan Daerah kabupaten/kota. Perguruan tinggi dapat menyelenggarakan pendidikan tinggi kepamongprajaan. dan bimbingan teknis kepada Pemerintah Daerah kabupaten/kota. Ayat (6) Yang dimaksud dengan “fasilitasi” dalam ketentuan ini meliputi kegiatan pemberdayaan Pemerintah Daerah kabupaten/kota. Ayat (2) Cukup jelas. kebijakan Daerah provinsi. dan bentuk pembinaan lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Ayat (7) Cukup jelas. kepegawaian pada Perangkat Daerah kabupaten/kota. Gubenur dan DPRD provinsi. Ayat (2) Yang dimaksud dengan “pengawasan teknis” adalah pengawasan terhadap teknis pelaksanaan substansi Urusan Pemerintahan yang diserahkan kepada Daerah provinsi sesuai dengan kewenangan kementerian/lembaga pemerintah nonkementerian masing-masing. kebijakan Daerah kabupaten/kota. kerja sama Daerah provinsi. Ayat (5) Cukup jelas. Kecamatan. pelayanan publik di Daerah provinsi. Pasal 377 Ayat (1) Yang dimaksud dengan “pengawasan umum” adalah pengawasan terhadap pembagian Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan Daerah provinsi. . Pasal 376 Ayat (1) Dalam menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan kepamongprajaan. pembangunan Daerah kabupaten/kota. kelembagaan Daerah provinsi. Kementerian menyelenggarakan pendidikan tinggi kepamongprajaan. Ayat (2) Cukup jelas. penguatan kapasitas Pemerintah Daerah kabupaten/kota. pembangunan Daerah provinsi. pelayanan publik di Daerah kabupaten/kota. keuangan Daerah kabupaten/kota. Daerah kabupaten/kota dan Daerah provinsi serta kaitannya dengan praktik penyelenggaraan pemerintahan di tingkat nasional. bupati/walikota dan DPRD kabupaten/kota. keuangan Daerah provinsi. Ayat (3) Yang dimaksud dengan “pengajaran” adalah mencakup pemahaman terhadap teori-teori pemerintahan dan Otonomi Daerah. kepegawaian pada Perangkat Daerah provinsi. Pengasuhan dalam ketentuan ini ditujukan untuk pembentukan sikap. dan bentuk pembinaan lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Pelatihan dilakukan melalui pemahaman terhadap praktik-praktik penyelenggaraan Urusan Pemerintahan di Daerah termasuk dalam lingkup Desa.

Ayat (2) Bentuk pembaharuan antara lain penerapan hasil ilmu pengetahuan dan teknologi dan temuan baru dalam penyelenggaraan pemerintahan. pelaksanaan. pemantauan. . reviu. sampai dengan pertanggungjawaban pelaksanaan APBD provinsi yang dilakukan oleh inspektorat provinsi dapat bekerja sama dengan inspektorat jenderal Kementerian dan/atau lembaga pemerintah nonkementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan bidang pengawasan. Pasal 379 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (6) Yang dimaksud dengan “berpotensi merugikan kepentingan umum secara meluas” adalah apabila kerugian yang ditimbulkan dialami oleh sebagian besar masyarakat di Daerah tersebut. pemantuan dan evaluasi atas pelaksanaan APBD(termasuk penyerapan APBD). Ayat (3) Cukup jelas. Pasal 384 Cukup jelas. Ayat (2) Yang dimaksud dengan “fasilitasi khusus” antara lain berupa keterlibatan Pemerintah Pusat secara langsung dalam perumusan dan pengarahan pelaksanaan kebijakan untuk perbaikan/penyempurnaan penyelenggaraan pemerintahan. Ayat (7) Cukup jelas. Pasal 385 Cukup jelas. dan bimbingan teknis dalam pengelolaan APBD kabupaten/kota yaitu sejak tahap perencanaan. dan bimbingan teknis dalam pengelolaan APBD provinsi yaitu sejak tahap perencanaan. Pasal 383 Cukup jelas. Pasal 380 Ayat (1) Cukup jelas. pemantauan. Ayat (5) Cukup jelas. Pasal 386 Ayat (1) Cukup jelas. reviu. Pasal 381 Cukup jelas.Ayat (3) Cukup jelas. pelaksanaan. pemantuan dan evaluasi atas pelaksanaan APBD(termasuk penyerapan APBD). Ayat (4) Cukup jelas. Ayat (2) Khusus untuk pengawasan yang terkait keuangan Daerah meliputi kegiatan audit. evaluasi. Ayat (2) Khusus untuk pengawasan yang terkait keuangan Daerah meliputi kegiatan audit. evaluasi. sampai dengan pertanggungjawaban pelaksanaan APBD kabupaten/kota yang dilakukan inspektorat kabupaten/kota dapat bekerja sama dengan Inspektorat Jenderal Kementerian dan/atau lembaga pemerintah nonkementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan bidang pengawasan. Pasal 382 Ayat (1) Cukup jelas.

Pasal 399 Cukup jelas. Pasal 402 Cukup jelas. Pasal 393 Cukup jelas. kepegawaian. Pasal 407 Cukup jelas. Pasal 406 Cukup jelas. Pasal 404 Cukup jelas. Pasal 391 Cukup jelas. kependudukan. Pasal 403 Cukup jelas. Pasal 392 Cukup jelas. Pasal 388 Cukup jelas.Pasal 387 Cukup jelas. Pasal 398 Cukup jelas. Pasal 408 Cukup jelas. dan layanan pengadaan barang dan jasa. TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5587 . Pasal 405 Cukup jelas. Pasal 410 Cukup jelas. Pasal 400 Cukup jelas. Pasal 401 Cukup jelas. Pasal 389 Cukup jelas. Pasal 396 Cukup jelas. Pasal 411 Cukup jelas. Pasal 395 Yang dimaksud dengan “Informasi Pemerintahan Daerah lainnya” antara lain informasi mengenai proses pembentukan Perda. Pasal 394 Cukup jelas. Pasal 390 Cukup jelas. Pasal 397 Cukup jelas. Pasal 409 Cukup jelas.

Penerbitan izin pendidikan khusus b. ----pendidikan menengah. oleh masyarakat. masyarakat. Pengelolaan UKM Daerah b. pendidikan pendidikan menengah dan muatan pendidikan dasar. Perizinan a. Manajemen a. akreditasi. Peng Daerah provinsi/lintas Daerah kabupa kabupaten/kota. usia dini. Pengelolaan upaya kesehatan perorangan(UKP) rujukan nasional/lintas Daerah provinsi. Upaya Kesehatan a. dini dan pe 2. yang disele masyaraka 6. Bahasa dan Pembinaan bahasa dan sastra Pembinaan bahasa dan sastra yang Pembinaan Sastra Indonesia. Pengelolaan UKP rujukan tingkat a. Pengendalian formasi pendidik. 5. Penerbitan izin pendidikan a. Penerbitan izin rumah sakit kelas C kelas B dan fasilitas pelayanan pelayan kesehatan tingkat Daerah provinsi. Daerah d. 3. Penerbitan izin rumah sakit . Peng provinsi dan rujukan tingkat kabupa Daerah provinsi/lintas Daerah tingkat kabupaten/kota. b. pendidikan anak usia dini. Penerbitan izin b. Kurikulum Penetapan kurikulum nasional Penetapan kurikulum muatan lokal Penetapan pendidikan menengah. pendidikan anak usia dini. 4. dan pendidikan nonformal. Pemindahan pendidik dan tenaga Daerah provinsi. Pene c. Pengelolaan upaya kesehatan masyarakat(UKM) nasional dan rujukan nasional/lintas Daerah provinsi. lokal pendidikan khusus. Pengelolaan pendidikan a. DAERAH PROVINSI DAERA 4 a. b. Pengelolaan Pendidikan pendidikan. Akreditasi Akreditasi perguruan tinggi. MATRIKS PEMBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN KONKUREN ANTARA PEMERINTAH PUSAT DAN DAERAH PROVINSI DAN DAERAH KABUPATEN/KOTA A. dan standardisasi fasilitas pelayanan kesehatan publik dan swasta. dan kependidikan lintas Daerah kependidik Kependidikan pengembangan karier pendidik. c. Pengelolaan pendidikan khusus. Pengelolaan b. PEMBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN BIDANG KESEHATAN NO SUB URUSAN PEMERINTAH PUSAT 1 2 3 1. Penerbitan i Pendidikan swasta yang diselenggarakan oleh menengah yang diselenggarakan yang disele masyarakat.LAMPIRAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2014 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH PEMBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN KONKUREN ANTARA PEMERINTAH PUSAT DAN DAERAH PROVINSI DAN DAERAH KABUPATEN/KOTA I. menengah. pendidikan dasar. Penerbitan i penyelenggaraan satuan yang diselenggarakan oleh usia dini da pendidikan asing. kependidikan lintas Daerah provinsi. b. nonformal. PEMBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN BIDANG PENDIDIKAN NO SUB URUSAN PEMERINTAH PUSAT DAERAH PROVINSI DAERAH 1 2 3 4 1. Penyelenggaraan registrasi. Penerbitan izin perguruan tinggi a. penuturnya lintas Daerah yang penut kabupaten/kota dalam 1(satu) kabupaten/ Daerah provinsi. kabupaten/kota dalam 1(satu) kabupaten/ b. Penetapan standar nasional a. c. B. Pemindahan pendidik dan tenaga Pemindaha Tenaga pemindahan pendidik. masyaraka b. Pendidik dan a. Pengelolaan pendidikan tinggi. d dan pendidikan nonformal. tingkat b.

Pene c. obat e. Perencanaan dan pengembangan SDM kesehatan untuk UKM dan UKP Nasional. c. kosmetika. rumah tangga(PKRT). Penetapan standar kompetensi teknis dan sertifikasi pelaksana Urusan Pemerintahan bidang kesehatan. obat tradisional. organis internasional. c. to dan Makanan program nasional. alat kes sarana produksi dan sarana distribusi tertentu sediaan farmasi. Minuman b. kelompok masyarakat. PEMBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN BIDANG PEKERJAAN UMUM DAN PENATAAN RUANG . Pengawasan post-market obat. organisasi tokoh k Kesehatan organisasi swadaya masyarakat serta swadaya masyarakat dan dunia kelomp dunia usaha tingkat nasional dan usaha tingkat provinsi. Pengawasan ketersediaan kesehatan(PAK) . e.NO 1 2. bahan obat. Pene SDM kesehatan untuk UKM dan izin ker UKP Daerah provinsi. serta penerbitan rekomendasi pengesahan rencana penggunaan tenaga kerja asing(RPTKA) dan izin mempekerjakan tenaga asing(IMTA). Pene bahan baku alam yang terkait dengan makana kesehatan. alat a. produk PKRT. masyar tingkat C. Pengawasan pre-market obat. alat kesehatan. 4. b. b. alat tertentu kesehatan dan perbekalan kesehatan tangga. Pembinaan dan pengawasan industri. b. 3. Penetapan standardisasi dan Manusia registrasi tenaga kesehatan (SDM) Kesehatan Indonesia. Peng tradisional. d. dan suplemen kesehatan pedagang besar farmasi(PBF) obat. alat kesehatan. Pene Alat Kesehatan. Penyediaan obat. tradisional(UKOT). Penerbitan pengakuan a. obat tradisional. bidang Bidang internasional. industri d. dan keterjangkauan obat b. kelompok masyarakat. tenaga kesehatan warga negara asing(TK-WNA). Pemberdayaan Pemberdayaan masyarakat bidang Pemberdayaan masyarakat bidang Pember Masyarakat kesehatan melalui tokoh nasional dan kesehatan melalui tokoh provinsi. e. Perencanaan dan pengembangan a. Penetapan penempatan dokter spesialis dan dokter gigi spesialis bagi Daerah yang tidak mampu dan tidak diminati. SUB URUSAN 2 PEMERINTAH PUSAT 3 DAERAH PROVINSI DAERA 4 kelas A dan fasilitas pelayanan kesehatan penanaman modal asing(PMA) serta fasilitas pelayanan kesehatan tingkat nasional. vaksin. d. PKRT. Peren pengem untuk U kabupa Sumber Daya a. Pene pemerataan. Penetapan standar pengembangan kapasitas SDM kesehatan. Penerbitan izin usaha kecil obat obat tra dan alat kesehatan. Sediaan Farmasi. kesehatan. dan makanan minuman. dan makanan minuman. kosmetika. a. cabang dan cabang penyalur alat optikal.

Penetapan bangunan gedung Gedung kepentingan strategis nasional. Pengembangan sistem pengelolaan persampahan lintas Daerah provinsi dan sistem pengelolaan persampahan untuk kepentingan strategis nasional. Penyelenggaraan infrastruktur pada permukiman di kawasan strategis nasional. 5. dari 3000 ha. dan SPAM untuk kepentingan strategis nasional.NO SUB URUSAN PEMERINTAH PUSAT DAERAH PROVINSI 1 2 3 4 1. Penetapan sistem pengembangan Penyelenggaraan infrastruktur infrastruktur pada permukiman di kawasan permukiman secara nasional. Permukiman a. untuk kepentingan strategis nasional b. Pengelolaan SDA dan bangunan Air(SDA) pengaman pantai pada wilayah sungai pengaman pantai pada wilayah lintas Daerah provinsi. Peng pengelo primer daerah kurang 1(satu) Pengelo pengem Daerah Pengem pengelo dalam D Pengelo pengem limbah kabupa Pengelo pengem drainas langsun Daerah Penyele pada pe kabupa Penyele gedung kabupa pember bangun laik fun Penyele . daerah irigasi lintas dan Daerah provinsi. wilayah sungai sungai lintas Daerah lintas negara. Penetapan pengembangan sistem Pengelolaan dan pengembangan drainase secara nasional. Bangunan a. Pengembangan dan b. dan sistem drainase untuk kepentingan strategis nasional. strategis nasional. strategis Daerah provinsi. untuk kepentingan strategis b. b. Penetapan pengembangan sistem Penyelenggaraan penataan DAERA a. 4. Peng bangun pada w 1(satu) b. Persampahan a. 8. dan daerah irigasi strategis kabupaten/kota. Penetapan pengembangan sistem Pengembangan sistem dan pengelolaan persampahan secara pengelolaan persampahan nasional. Penyelenggaraan bangunan dan penyelenggaraan bangunan gedung untuk kepentingan gedung fungsi khusus. Penataan a. Pengelolaan dan pengembangan SPAM lintas Daerah provinsi. Pengelolaan dan pengembangan sistem pengelolaan air limbah domestik lintas Daerah provinsi. b. 3. Penetapan pengembangan Sistem Pengelolaan dan pengembangan Penyediaan Air Minum (SPAM) secara SPAM lintas Daerah nasional. Penyelenggaraan bangunan gedung Daerah provinsi. regional. Penetapan pengembangan sistem Pengelolaan dan pengembangan pengelolaan air limbah domestik secara sistem air limbah domestik nasional. daerah irigasi lintas daerah irigasi lintas Daerah negara. nasional. Pengelolaan dan pengembangan langsung dengan sungai lintas sistem drainase lintas Daerah provinsi Daerah kabupaten/kota. dan sistem pengelolaan air limbah domestik untuk kepentingan strategis nasional. 6. 2. regional. kabupaten/kota. dan wilayah sungai kabupaten/kota. b. b. Sumber Daya a. Drainase a. Air Limbah a. strategis Daerah provinsi. Penetapan bangunan gedung untuk a.3000 ha. 7. Pengembangan dan pengelolaan pengelolaan sistem irigasi primer sistem irigasi primer dan sekunder dan sekunder pada daerah irigasi pada daerah irigasi yang luasnya lebih yang luasnya 1000 ha . sistem drainase yang terhubung b. Pengelolaan SDA dan bangunan a. Air Minum a. b.

b. Pengembangan standar kompetensi kerja dan pelatihan jasa konstruksi. ruang D DAN KAWASAN PERMUKIMAN DAERAH PROVINSI 4 a. Penyelenggaraan pelatihan tenaga a. Penyelenggaraan pelatihan kerja konstruksi percontohan. b. Kawasan Permukiman a. 10. informasi jasa konstruksi cakupan c. tenaga ahli konstruksi. Penyediaan dan rehabilitasi rumah korban bencana provinsi. Peng tertib p tertib p konstru Penyelenggaraan penataan ruang Penyele Daerah provinsi. Penyelenggaraan penataan dan penataan bangunan dan bangunan dan lingkungannya di lingkungannya lintas Daerah kawasan strategis nasional. Perumahan a. Penyelenggaraan penataan ruang wilayah nasional. DAERA a. Penetapan sistem kawasan permukiman. asing. Peny rumah k kabupa b. Penataan dan peningkatan kualitas kawasan permukiman kumuh dengan luas 15(lima belas) ha atau lebih. Fasili bagi ma relokasi Daerah c. Peny informa cakupan kabupa c. Jalan a. Perumahan dan --Kawasan DAERA bangun di Daer Penyele kabupa a. Peny tenaga b. b. c. Pene kepemi gedung Penataan dan peningkatan kualitas a. Pene konstru (nonkec d. Pengembangan sistem pembiayaan perumahan bagi MBR. 11. Jasa Konstruksi a. Pena kualitas kumuh 10(sepu --Penceg kawasa . Pengembangan sistem jaringan jalan Penyelenggaraan jalan provinsi. kabupaten/kota. b. D.NO 1 9. Penataan Ruang a. Pene kawasan permukiman kumuh pemban dengan luas 10(sepuluh) ha pengem sampai dengan di bawah 15(lima permuk belas) ha. PEMBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN BIDANG PERUMAHAN NO SUB URUSAN PEMERINTAH PUSAT 1 2 3 1. b. Penyediaan dan rehabilitasi rumah korban bencana nasional. b. Penyelenggaraan sistem konstruksi cakupan nasional. Penerbitan izin usaha jasa konstruksi Daerah provinsi. Pengembangan sistem informasi jasa b. Penyediaan rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). secara nasional. 2. Pengembangan pasar dan kerja sama konstruksi luar negeri. 3. d. Pelaksanaan kerja sama penataan ruang antarnegara. Pene pemban pengem d. kawasan strategis Daerah provinsi b. b. Fasilitasi penyediaan rumah bagi masyarakat yang terkena relokasi program Pemerintah Pusat. e. SUB URUSAN PEMERINTAH PUSAT DAERAH PROVINSI 2 3 4 Bangunan dan penataan bangunan dan lingkungannya bangunan dan lingkungan di Lingkungannya secara nasional. d. Penyelenggaraan jalan secara umum dan penyelenggaraan jalan nasional. Fasilitasi penyediaan rumah bagi masyarakat yang terkena relokasi program Pemerintah Daerah provinsi.

Pene b. Pembinaan PPNS provinsi. Pe . Pemberdayaan potensi sumberc. dan hunian dan kawasan permukiman. Penc pemadam kebakaran. Penanganan gangguana. Pemberdayaan a. Standardisasi tenaga satuan polisi a. Pemb masyar kebakar F. dan Sertifikasi dan registrasi bagi Kualifikasi. dan pengangkatan penyidik kabupaten/kota dalam 1(satu)1 pegawai negeri sipil (PPNS) penegakan Daerah provinsi. SUB URUSAN PEMERINTAH PUSAT DAERAH PROVINSI 2 3 4 Permukiman Kumuh Prasarana. b. dan yang melaksanakan perancangan dan melaksanakan perancangan dan Registrasi Bidang perencanaan rumah serta perencanaan perencanaan rumah serta Perumahan dan PSU tingkat kemampuan besar. PEMBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN BIDANG KETENTERAMAN DAN KETERTIBAN UMUM SERTA PERLINDUNGAN MASYARAKAT NO SUB URUSAN PEMERINTAH PUSAT DAERAH PROVINSI DAERA 1 2 3 4 1. b. PEMBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN BIDANG SOSIAL NO SUB URUSAN PEMERINTAH PUSAT DAERAH PROVINSI DAERA 1 2 3 4 1. kebakaran. kualifikasi. bupati/w c. Penyelenggaraan PSU di lingkungan Penyelenggaraan PSU Sarana. Bencana Penanggulangan bencana nasional. Permukiman DAERA pada Da Penyele peruma Sertifika orang a melaksa dan per perenca dan util kemam E. penang c. sumbangan lintas Daerahb. Penerbitan izin pengumpulana. kebakar kabupa b. pemada b. Ketenteraman a. permukiman. ketenteraman dan ketertiban ketente Ketertiban Umum b. peraturan gubernur. Pe dan pamong praja. Standardisasi sarana dan prasaranaPenyelenggaraan pemetaan rawana. Pemb Sosial sosial komunitas adat terpencil(KAT). Penang kabupa 3.NO 1 4. Sertifikasi. Penyelenggaraan pendidikan danumum lintas Daerahumum d pelatihan. Penyelenggaraan sistem informasi berbaha kebakaran. kebakar d. klasifikasi. registrasi bagi orang atau badan hukum orang atau badan hukum yang Klasifikasi. Kabupa c. Penerbitan izin pengumpulankabupaten/kota dalam 1(satu)sumban sumbangan lintas Daerah provinsi. Penetapan lokasi dan pemberdayaan a. Penanggulangan bencana provinsi. kabupa Perda. 5. perencanaan PSU tingkat Kawasan kemampuan menengah. Insp kebakar c. Pemb kabupa 2. kabupa Daerah provinsi. Kebakaran a. Utilitas Umum(PSU) Sertifikasi. Standardisasi kompetensi dan penyela sertifikasi tenaga pemadam kebakaran. Penegakan Perda Provinsi danb.

NO
1

2.

3.

4.

5.

6.
7.

SUB URUSAN
2

PEMERINTAH PUSAT
DAERAH PROVINSI
3
4
c.
Pembinaan
potensi
sumberkesejahteraan sosial provinsi.
kesejahteraan sosial.

DAERA

sumber
Daerah
d.
P
konsult
keluarg
kegiata
kabupa
Penanganan
a. Penanganan warga negara migranPemulangan warga negara migranPemula
Warga
Negarakorban tindak kekerasan
dari titik korban tindak kekerasan dari titik migran
Migran
Korbandebarkasi sampai ke Daerah provinsidebarkasi di Daerah provinsi untukkekeras
Tindak Kekerasan asal.
dipulangkan
ke
Daerahdi
Da
b. Pemulihan trauma korban tindakkabupaten/kota asal.
untuk
kekerasan(traficking) dalam dan luar
Desa/ke
negeri.
Rehabilitasi
Rehabilitasi
bekas
korbanRehabilitasi
sosial
bukan/tidakRehabil
Sosial
penyalahgunaan NAPZA, orang dengan termasuk
bekas
korbantermasu
Human
Immunodeficiency
Virus/ penyalahgunaan NAPZA, orangpenyala
Acquired Immuno Deficiency Syndrome. dengan Human Immunodeficiency orang
Virus/
Acquired
Immuno Immuno
Deficiency
Syndrome
yangAcquire
memerlukan
rehabilitasi
padaSyndrom
panti.
memerl
panti,
yang
Perlindungan dan a. Penerbitan izin orang tua angkat a. Penerbitan izin orang tua angkat a.
Pe
Jaminan Sosial
untuk pengangkatan anak antara WNIuntuk pengangkatan anak antarterlanta
dengan WNA.
WNI dan pengangkatan anak olehb. Pend
b. Penghargaan dan kesejahteraan orang tua tunggal.
data
keluarga
pahlawan
dan
perintis b. Pengelolaan data fakir miskinDaerah
kemerdekaan.
cakupan Daerah provinsi
c. Pengelolaan data fakir miskin
nasional.
Penanganan
a. Penyediaan kebutuhan dasar danPenyediaan kebutuhan dasar dana. Peny
Bencana
pemulihan trauma
bagi korbanpemulihan trauma bagi korbandan pe
bencana nasional.
bencana provinsi.
korban
b. Pembuatan model pemberdayaan
kabupa
masyarakat terhadap
b.
pember
terhada
Taman Makam
Pemeliharaan taman makam pahlawanPemeliharaan
taman
makamPemelih
Pahlawan
nasional utama dan makam pahlawan pahlawan nasional provinsi.
pahlawa
nasional di dalam dan luar negeri.
kabupa
Sertifikasi dan
a. Pemberian setifikasi kepada pekerja
Akreditasi
sosial
profesional
dan
tenaga
kesejahteraan sosial.
b.
Pemberian
akreditasi
kepada
lembaga kesejahteraan sosial.

G. PEMBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN BIDANG TENAGA KERJA
NO SUB URUSAN
PEMERINTAH PUSAT
DAERAH PROVINSI
DAERA
1
2
3
4
1.
Pelatihan
Kerjaa. Pengembangan sistem dan metodea.
Pelaksanaan
pelatihana.
Pe
dan Produktivitaspelatihan.
berdasarkan klaster kompetensi. berdasa

NO
1

2.

SUB URUSAN
PEMERINTAH PUSAT
DAERAH PROVINSI
DAERA
2
3
4
Tenaga Kerja
b. Penetapan standar kompetensi.
b. Pelaksanaan akreditasi lembagab.
P
c. Pengembangan program pelatihan
pelatihan kerja.
pelatiha
ketenagakerjaan,
c. Konsultansi produktivitas padac. Peri
ketransmigrasian, produktivitas, danperusahaan menengah.
lembag
kewirausahaan.
d.
Pengukuran
produktivitasd. Kon
d.
Pelaksanaan
pelatihan
untuktingkat Daerah provinsi.
pada pe
kejuruan yang bersifat strategis.
e. Pen
e. Penetapan kualifikasi instruktur,
tingkat
penggerak
swadaya masyarakat(PSM) dan tenaga
pelatihan.
f. Pengembangan dan peningkatan
kompetensi instruktur dan PSM.
g.
Penetapan
standar
akreditasi
lembaga pelatihan kerja.
h. Penerbitan izin pemagangan luar
negeri.
i. Pemberian lisensi lembaga sertifikasi
profesi.
j. Pelaksanaan sertifikasi kompetensi
profesi.
k. Pengembangan sistem, metode, alat
dan teknik
peningkatan produktivitas.
l. Penyadaran produktivitas.
m. Konsultansi produktivitas pada
perusahaan besar.
n. Pengukuran produktivitas tingkat
nasional.
Penempatan
a. Pelayanan antar kerja nasional.
a. Pelayanan antar kerja lintasa. Pela
Tenaga
b. Pengantar kerja.
Daerah kabupaten/kota dalam
Daerah
Kerja
c. Penerbitan izin lembaga penempatan 1(satu) Daerah provinsi.
b. Pene
tenaga kerja swasta(LPTKS) lebih dari b. Penerbitan izin LPTKS lebih dari1
1(satu) Daerah provinsi.
1(satu) Daerah kabupaten/kotakabupa
d.
Penerbitan
izin
pelaksanadalam 1(satu) Daerah provinsi.
c. Peng
penempatan tenaga kerja indonesiac. Pengelolaan informasi pasarkerja
swasta (PPTKIS).
kerja
dalam
1(satu)
Daerahkabupa
e. Pengembangan bursa kerja danprovinsi.
d. Perl
informasi pasar kerja nasional dan did. Perlindungan TKI di luar negerinegeri (
luar negeri.
(pra dan purna penempatan) dipenemp
f.
Perlindungan
tenaga
kerjaDaerah provinsi.
kabupa
Indonesia(TKI) di luar negeri.
e.
Pengesahan
RPTKAe. Pen
g. Pengesahan rencana penggunaan perpanjangan
yang
tidakIMTA y
tenaga kerja asing (RPTKA) baru,mengandung perubahan jabatan,1(satu)
pengesahan RPTKA perubahan seperti jumlah TKA, dan lokasi kerja dalam
jabatan, lokasi, jumlah tenaga kerja 1(satu) Daerah provinsi.
asing, dan kewarganegaraan
serta f. Penerbitan perpanjangan IMTA
RPTKA perpanjangan lebih dari 1(satu)yang lokasi kerja lebih dari 1(satu)
Daerah
Daerah kabupaten/kota dalam
provinsi.
1(satu) Daerah provinsi.
h. Penerbitan izin mempekerjakan
tenaga kerja asing(IMTA) baru dan
perpanjangan IMTA yang lokasi kerja

NO
1
3.

4.

SUB URUSAN
2

PEMERINTAH PUSAT
DAERAH PROVINSI
DAERA
3
4
lebih dari 1(satu) Daerah provinsi.
Hubungan
a. Pengesahan peraturan perusahaana.
Pengesahan
peraturana.
Pe
Industrial
dan
pendaftaran
perjanjian
kerjaperusahaan
dan pendaftaranperusah
bersama untuk perusahaan
yang perjanjian kerja bersama untukperjanji
mempunyai wilayah kerja lebih dariyang mempunyai wilayah kerjaperusah
1(satu) Daerah provinsi.
lebih dari 1(satu) kabupaten/kotaberoper
b. Pencegahan
dan penyelesaian dalam 1(satu) Daerah provinsi.
Daerah
perselisihan hubungan
industrial, b. Pencegahan dan penyelesaian b.
mogok kerja dan penutupan
yang perselisihan hubungan industrial,penyele
berakibat/berdampak
padamogok
kerja dan penutupanhubung
kepentingan nasional/internasional.
perusahaan
yangkerja
berakibat/berdampak
padaperusah
kepentingan di
kabupa
1(satu) Daerah provinsi.
c. Penempatan upah minimum
provinsi(UMP),
upah
minimum
sektoral provinsi (UMSP), upah
minimum
kabupaten/kota(UMK)
dan
upah
minimum
sektoral
kabupaten/kota(UMSK).
Pengawasan
a. Penetapan
sistem
pengawasan Penyelenggaraan
pengawasan
Ketenagakerjaan ketenagakerjaan.
ketenagakerjaan.
b.
Pengelolaan
tenaga
pengawas
ketenagakerjaan.

H. PEMBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN BIDANG PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN PELINDUNGAN
ANAK
NO SUB URUSAN
PEMERINTAH PUSAT
DAERAH PROVINSI
DAERA
1
2
3
4
1.
Kualitas Hidup
a.
Pelembagaan
pengarusutamaana.
Pelembagaan
PUG
padaa. Pel
Perempuan
gender(PUG) pada lembaga pemerintahlembaga
pemerintah
tingkatlembag
tingkat nasional.
Daerah provinsi.
Daerah
b. Pemberdayaan
b.
Pemberdayaan
perempuanb. Pem
perempuan bidang politik, hukum, sosialbidang politik, hukum, sosial dan bidang
dan
ekonomi
pada
organisasiekonomi
pada
organisasidan ek
kemasyarakatan tingkat nasional.
kemasyarakatan tingkat Daerahkemasy
c. Standardisasi lembaga penyedia provinsi.
Daerah
layanan pemberdayaan
c. Penguatan dan pengembanganc.
perempuan.
lembaga
penyedia
layananpengem
pemberdayaan perempuan tingkatpenyed
Daerah provinsi.
pember
tingkat
Daerah
2.
Perlindungan
a. Pencegahan kekerasan terhadapa. Pencegahan kekerasan terhadapa.
Pe
Perempuan
perempuan yang melibatkan para pihak perempuan yang melibatkan paraterhada
lingkup nasional.
pihak lingkup Daerah provinsi danmelibat
b. Penyediaan layanan rujukan akhir lintas Daerah kabupaten/kota.
Daerah
bagi perempuan
korban kekerasan b. Penyediaan layanan rujukanb. Pen
yang memerlukan koordinasi tingkatlanjutan bagi perempuan korbanperemp
nasional, lintas provinsi
dan kekerasan
yang memerlukanyang m
internasional.
koordinasi tingkat Daerah provinsitingkat
c. Standardisasi lembaga penyedia dan lintas Daerah kabupaten/kota. kabupa
layanan perlindungan perempuan.
c. Penguatan dan pengembanganc.

NO
1

3.

4.

5.

6.

SUB URUSAN
2

PEMERINTAH PUSAT
3

DAERAH PROVINSI
DAERA
4
lembaga
penyedia
layananpengem
perlindungan perempuan tingkatpenyed
Daerah provinsi.
perlindu
tingkat
kabupa
Kualitas Keluarga a. Peningkatan kualitas keluarga dalama. Peningkatan kualitas keluargaa.
P
mewujudkan kesetaraan gender(KG)dalam mewujudkan kesetaraankeluarg
dan hak anak tingkat nasional.
gender(KG) dan hak anak tingkatkesetar
b. Penguatan dan pengembanganDaerah provinsi dan lintas Daerahanak
lembaga
penyedia
layanankabupaten/kota.
kabupa
peningkatan kualitas keluarga dalam b. Penguatan dan pengembanganb.
mewujudkan KG dan hak anak tingkat lembaga penyedia
layananpengem
nasional.
peningkatan
kualitas keluargapenyed
c. Standardisasi lembaga penyediaandalam mewujudkan KG dan hakpeningk
layanan peningkatan kualitas keluargaanak yang wilayah kerjanya lintas dalam m
dalam mewujudkan KG dan hak anak. Daerah kabupaten/kota.
anak y
c.
Penyediaan
layanan
bagidalam D
keluarga dalam mewujudkan KGc. Pen
dan hak anak yang wilayahkeluarg
kerjanya
lintas
DaerahKG dan
kabupaten/kota.
kerjany
kabupa
Sistem
Dataa. Penetapan sistem data gender danPengumpulan,
pengolahan,Pengum
Gender dan
anak dalam kelembagaan data dianalisis dan penyajian data genderanalisis
Anak
tingkat nasional.
dan anak dalam kelembagaan datagender
b. Pengumpulan,
ditingkat Daerah provinsi.
kelemb
pengolahan, analisis dan penyajian data
Daerah
gender
dan anak dalam kelembagaan data di
tingkat nasional.
Pemenuhan Haka. Pelembagaan PHA pada lembaga a.
Pelembagaan
PHA
padaa. Pel
Anak
pemerintah, nonpemerintah, dan dunialembaga
pemerintah,lembag
(PHA)
usaha tingkat nasional.
nonpemerintah, dan dunia usahapemerin
b. Penguatan
dan pengembangantingkat Daerah provinsi.
tingkat
lembaga penyedia layanan peningkatan b. Penguatan dan pengembangan b.
P
kualitas hidup anak tingkat nasional.
lembaga
pengem
penyedia layanan peningkatanpenyed
kualitas hidup anak tingkat Daerah kualitas
provinsi
dan
lintas
DaerahDaerah
kabupaten/kota.
Perlindungan
a. Pencegahan kekerasan terhadapa. Pencegahan kekerasan terhadapa.
Pe
Khusus
anak yang melibatkan
para pihakanak yang melibatkan para pihakterhada
Anak
lingkup nasional dan lintas Daerah lingkup Daerah provinsi dan lintaspara p
provinsi.
Daerah kabupaten/kota.
kabupa
b. Penyediaan layanan bagi anak yangb. Penyediaan layanan bagi anakb. Pen
memerlukan perlindungan khusus yangyang memerlukan perlindungananak
memerlukan koordinasi
tingkatkhusus
yang
memerlukanperlindu
nasional dan internasional.
koordinasi tingkat Daerah provinsi. memerl
c. Penguatan
dan pengembangan c. Penguatan dan pengembanganDaerah
lembaga penyedia layanan bagi anaklembaga penyedia layanan bagi
c.
yang memerlukan perlindungan khususanak
yang
memerlukanpengem
tingkat nasional dan lintas Daerahperlindungan
khusus
tingkatpenyed
provinsi.
Daerah provinsi dan lintas Daerahyang

NO
1

SUB URUSAN
2

PEMERINTAH PUSAT
3

DAERAH PROVINSI
4
kabupaten/kota.

DAERA

perlindu
Daerah

I. PEMBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN BIDANG PANGAN
NO SUB URUSAN
PEMERINTAH PUSAT
DAERAH PROVINSI
DAERA
1
2
3
4
1.
Penyelenggaraan a. Penyusunan strategi kedaulatanPenyediaan
infrastruktur
danPenyed
Pangan
pangan nasional.
seluruh pendukung kemandirianseluruh
Berdasarkan
b. Penyediaan infrastruktur dan seluruhpangan pada berbagai sektorkemand
Kedaulatan Danpendukung kemandirian pangan padasesuai
kewenangan
Daerahberbaga
Kemandirian
berbagai sektor sesuai kewenanganprovinsi.
kewena
Pemerintah Pusat.
kabupa
2.
Penyelenggaraan a. Pengelolaan stabilisasi pasokan dan a. Penyediaan dan penyalurana. Peny
Ketahanan
harga pangan pokok.
pangan pokok atau pangan lainnyapangan
Pangan
b. Pengelolaan cadangan pangan pokoksesuai dengan kebutuhan Daerahlainnya
Pemerintah Pusat.
provinsi dalam rangka stabilisasiDaerah
c. Penetapan harga pangan pokokpasokan dan harga pangan.
rangka
pembelian
Pemerintah
Pusat
darib. Pengelolaan cadangan pangandan har
produsen.
provinsi
dan
menjagab.
Pe
d.
Pengendalian
dan
pembatasankeseimbangan
pangan
ekspor impor pangan pokok.
cadangan pangan provinsi.
c. Pene
e.
Penetapan
target
pencapaian c. Penentuan harga minimumdaerah
konsumsi pangan
perkapita/tahundaerah untuk pangan lokal yangyang ti
sesuai dengan angka kecukupan gizi. tidak ditetapkan oleh PemerintahPemerin
f. Penentuan kelebihan produksi pangan Pusat.
Pemerin
untuk keperluan lain.
d. Promosi pencapaian targetd. Pe
konsumsi
pangan
perkapitatarget
/tahun sesuai dengan
angkaperkapi
kecukupan gizi melalui mediaangka k
provinsi.
3.
Penanganan
a. Penetapan status krisis pangan a. Penyusunan peta kerentanan a. Peny
Kerawanan
nasional, provinsi dan kabupaten/kota. dan ketahanan pangan provinsidan
Pangan
b. Penyusunan peta kerentanan dan dan kabupaten/kota.
kecama
ketahanan pangan nasional.
b. Penanganan kerawanan panganb.
Pe
c. Penanganan kerawanan panganprovinsi.
pangan
nasional.
c. Pengadaan, pengelolaan, danc. Peng
d.
Pengadaan,
pengelolaan
danpenyaluran
cadangan
panganpenyalu
penyaluran cadangan pangan padapada kerawanan pangan
yangpada k
kerawanan pangan
yang mencakup mencakup
lebih
dari
1(satu)mencak
lebih dari 1(satu) Daerah provinsi.
Daerah kabupaten/kota dalam
kabupa
1(satu) Daerah provinsi.
4.
Keamanan
Pelaksanaan pengawasan keamananPelaksanaan
pengawasanPelaksa
Pangan
pangan segar distribusi lintas negara keamanan pangan segar distribusikeaman
dan distribusi lintas Daerah provinsi.
lintas Daerah kabupaten/kota.

J. PEMBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN BIDANG PERTANAHAN
NO SUB URUSAN
PEMERINTAH PUSAT
DAERAH PROVINSI
DAERA
1
2
3
4
1.
Izin Lokasi
Pemberian izin lokasi lintas
Pemberian izin lokasi lintas DaerahPember
Daerah provinsi.
kabupaten/kota
dalam
1(satu)(satu) D
Daerah provinsi.
2.
Pengadaan TanahPelaksanaan pengadaan tanah untukPenetapan lokasi pengadaan tanah---

NO
1

3.

4.

5.

6.

7.

8.
9.

SUB URUSAN
PEMERINTAH PUSAT
DAERAH PROVINSI
DAERA
2
3
4
Untuk
kepentingan umum.
untuk kepentingan umum provinsi.
Kepentingan
Umum
Sengketa Tanah Penyelesaian sengketa tanah garapan Penyelesaian
sengketa
tanahPenyele
Garapan
lintas Daerah provinsi.
garapan
lintas
Daerahgarapan
kabupaten/kota
dalam
1(satu)kabupa
Daerah provinsi.
Ganti
KerugianPenyelesaian masalah ganti kerugian Penyelesaian
masalah
gantiPenyele
dan
Santunandan
santunan
tanah
untukkerugian dan santunan tanahkerugia
Tanah
Untukpembangunan oleh Pemerintah Pusat. untuk
pembangunan
olehuntuk
Pembangunan
Pemerintah Daerah provinsi.
Pemerin
kabupa
Subyek
danPenetapan
subyek
dan
obyekPenetapan subyek dan obyekPenetap
Obyek
redistribusi tanah, serta ganti kerugian redistribusi tanah, serta gantiredistrib
Redistribusi
tanah kelebihan maksimum dan tanahkerugian
tanah
kelebihankerugia
Tanah,
sertaabsentee lintas Daerah provinsi.
maksimum dan tanah absentee maksim
Ganti
Kerugian
lintas
Daerah
kabupaten/kotadalam D
Tanah Kelebihan
dalam 1(satu) Daerah provinsi.
Maksimum
dan
Tanah Absentee
Tanah Ulayat
--Penetapan tanah ulayat yangPenetap
lokasinya
lintas
Daerahlokasiny
kabupaten/kota dalam
kabupa
1(satu) Daerah provinsi.
Tanah Kosong
--a. Penyelesaian masalah tanaha. Peny
kosong
lintas
Daerahkosong
kabupaten/kota
dalam
1(satu)kabupa
Daerah provinsi.
b.
In
b. Inventarisasi dan pemanfaatanpemanf
tanah kosong
kosong
lintas
Daerah
kabupaten/kotakabupa
dalam
1(satu) Daerah provinsi.
Izin
Membuka----Penerbi
Tanah
tanah.
Penggunaan
Perencanaan penggunaan tanah yangPerencanaan penggunaan tanahPerenca
Tanah
hamparannya lintas Daerah provinsi.
yang hamparannya lintas Daerahtanah
kabupaten/kota
dalam
1(satu)dalam D
Daerah provinsi.

K.PEMBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN BIDANG LINGKUNGAN HIDUP
NO SUB URUSAN
PEMERINTAH PUSAT
DAERAH PROVINSI
DAERA
1
2
3
4
1.
Perencanaan
Rencana perlindungan dan pengelolaanRPPLH provinsi.
RPPLH k
Lingkungan
lingkungan hidup(RPPLH) nasional.
Hidup
2.
Kajian
KLHS untuk kebijakan, rencana dan/atau KLHS untuk KRP provinsi.
KLHS
Lingkungan
program(KRP) Nasional.
kabupa
Hidup
Strategis(KLHS)
3.
Pengendalian
Pencegahan,
penanggulangan
danPencegahan, penanggulangan danPenceg
Pencemaran
pemulihan
pencemaran
dan/ataupemulihan pencemaran dan/ataudan p
dan/atau
kerusakan lingkungan hidup lintas kerusakan lingkungan hidup lintasdan/ata

NO
1

4.
5.

6.

7.

8.

9.

10.

SUB URUSAN
PEMERINTAH PUSAT
DAERAH PROVINSI
DAERA
2
3
4
Kerusakan
Daerah provinsi dan/atau lintas batas Daerah
kabupaten/kota
dalamhidup
Lingkungan
negara.
1(satu) Daerah provinsi.
kabupa
Hidup
Keanekaragaman Pengelolaan Kehati nasional.
Pengelolaan Kehati provinsi.
Pengelo
Hayati
kabupa
(Kehati)
Bahan
a. Pengelolaan B3.
Pengumpulan limbah B3
a. Pen
Berbahaya
danb. Pengelolaan limbah B3.
lintas
Daerah
kabupaten/kotalimbah
Beracun(B3), dan
dalam 1(satu) Daerah provinsi.
b. Pen
Limbah
Bahan
dalam
Berbahaya
dan
kabupa
Beracun(Limbah
B3)
Pembinaan danPembinaan dan pengawasan terhadap Pembinaan
dan
pengawasanPembin
pengawasan
usaha dan/atau kegiatan yang izinterhadap usaha dan/atau kegiatan terhada
terhadap
izinlingkungan dan izin PPLH diterbitkan yang izin lingkungan dan izin PPLHkegiata
lingkungan danoleh Pemerintah Pusat.
diterbitkan
oleh
Pemerintahdan izin
izin perlindungan
Daerah provinsi.
Pemerin
dan pengelolaan
kabupa
lingkungan
hidup(PPLH)
Pengakuan
a. Penetapan pengakuan MHA, kearifan a. Penetapan pengakuan MHA,a. Pene
keberadaan
lokal atau pengetahuan tradisional dankearifan lokal atau pengetahuankearifan
masyarakat
hak MHA terkait dengan PPLH yangtradisional dan hak kearifan lokalpengeta
hukum
berada di 2(dua) atau lebih Daerahatau
pengetahuan tradisionalhak
adat(MHA),
provinsi.
dan hak MHA terkait dengan PPLH pengeta
kearifan
lokalb. Peningkatan kapasitas MHA, kearifan yang berada di dua atau lebihhak MH
dan hak MHAlokal atau pengetahuan tradisional danDaerah
kabupaten/kota dalamyang
yang
terkaithak MHA terkait dengan PPLH yang1(satu) Daerah provinsi.
kabupa
dengan PPLH
berada di 2(dua) atau lebih Daerahb. Peningkatan kapasitas MHA,b. Penin
provinsi.
kearifan lokal atau pengetahuankearifan
tradisional dan hak kearifan lokalpengeta
atau pengetahuan tradisional danhak
hak MHA terkait dengan PPLHpengeta
yang berada di dua atau lebihhak MH
Daerah kabupaten/kota dalam 1yang
(satu) Daerah
kabupa
provinsi.
Pendidikan,
Penyelenggaraan pendidikan, pelatihan,Penyelenggaraan
pendidikan,Penyele
Pelatihan,
dandan penyuluhan lingkungan hidup untukpelatihan,
dan
penyuluhanpelatiha
Penyuluhan
lembaga
kemasyarakatan
tingkatlingkungan hidup untuk lembagalingkun
Lingkungan
nasional.
kemasyarakatan tingkat Daerahlembag
Hidup
Untuk
provinsi.
tingkat
Masyarakat
Penghargaan
Pemberian penghargaan lingkunganPemberian
penghargaanPember
Lingkungan
hidup tingkat nasional.
lingkungan hidup tingkat Daerahlingkun
Hidup
provinsi.
Daerah
Untuk
Masyarakat
Pengaduan
Penyelesaian pengaduan masyarakat diPenyelesaian
pengaduanPenyele
Lingkungan
bidang PPLH terhadap:
masyarakat
di
bidang
PPLHmasyar
Hidup
a. usaha dan/atau kegiatan yang izinterhadap:
terhada
lingkungan
dan/atau
izin
PPLHa. usaha dan/atau kegiatan yanga. usa

Profile Penyusunan profile Penyusunan profile Penyusu Kependudukan kependudukan nasional. d. Pengelolaan dan penyajian database databas kependudukan nasional. pemros c. pengelo d. Pe b. Pema Kependudukan b. Penetapan sistem pendaftaran --Pelayan Penduduk penduduk secara nasional. Verifikasi dan validasi data a. Penetapan spesifikasi dan penyediaan blangko KTP-El. Penetapan spesifikasi blangko dokumen pencatatan sipil. pengolahan sampah terpadu (TPST) c. Penetapan dan pengawasan diseleng tanggung jawab produsen dalam swasta. Pendaftaran a. Pemb regional oleh pihak swasta. yang dampak kabupa a. usa Daerah kabupaten/kota. TPA/TPST regional. c. pengurangan sampah. PEMBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN BIDANG PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DAN DESA . Pemberian Nomor Induk Kependudukan(NIK). Penetapan spesifikasi dan penyediaan blangko dokumen kependudukan selain blangko KTP-El. Penerbitan izin pemanfaatan gas pendau metana(landfill gas) untuk energi listrik sampah di tempat pemrosesan akhir(TPA) pengan regional oleh pihak swasta. Pembinaan dan pengawasan tanggung jawab produsen dalam pengurangan sampah. Peng sampah menjadi energi listrik. Pengelolaan a. b.NO 1 11. PEMBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN BIDANG ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DAN PENCATATAN SIPIL NO SUB URUSAN PEMERINTAH PUSAT DAERAH PROVINSI DAERA 1 2 3 4 1. Penerbitan izin insenerator pengolahPenanganan sampah di a. b. kepend M. kabupa 4. Penetapan sistem pencatatan sipil --Pelayan secara nasional. L. izin lingkungan dan/atau izin PPLHyang iz b. 3. Pemerin provinsi. e. 2. kependudukan provinsi. SUB URUSAN 2 Persampahan PEMERINTAH PUSAT DAERAH PROVINSI DAERA 3 4 diterbitkan oleh Pemerintah Pusat. Informasi kependudukan dari Daerah kepend Administrasi kabupaten/kota. pendud b. b. usaha dan/atau kegiatan yangkabupa lokasi dan/atau dampaknya lintasb. Pencatatan Sipil a. b. Pembinaan dan pengawasan yang d penanganan sampah di TPA/tempat swasta. usaha dan/atau kegiatan yang lokasi diterbitkan oleh Pemerintahizin P dan/atau dampaknya lintas DaerahDaerah provinsi.

b.a.Penyele bersifat khusus dan strategis bagipengisian jabatan. kepentingan nasional. 2.rangka b. PEMBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN BIDANG PENGENDALIAN PENDUDUK DAN KELUARGA BERENCANA NO SUB URUSAN PEMERINTAH PUSAT DAERAH PROVINSI DAERA 1 2 3 4 1. Penerbitan kode Desa berdasarkanberdasarkan hukum adat. kemasyarakatan tingkat Daerahc. pelayanan dan pembinaankebutuh . dari Daerah kabupaten/kota yangDesa d berbeda dalam 1(satu) Daerahkabupa provinsi. Kerja Sama Desa Fasilitasi kerja sama antar. Pembentukan Desa di kawasan yangPenetapan susunan kelembagaan.Desa dariFasilitasi kerja sama antar.NO SUB URUSAN PEMERINTAH PUSAT DAERAH PROVINSI DAERA 1 2 3 4 1. Pengelolaan dan pengendalian sistem provinsi dalam pengelolaanpendist informasi keluarga. sama kabupa b. Pemberdayaan dan peningkatan penyulu obat kontrasepsi untuk kebutuhan PUS peran serta organisasiKB(PKB nasional. komunikasi. d. Penyusunan desain program dan a. dan masaDesa. 4. Pengelolaan dan penyediaan alat danb.bidang pemberdayaan Desa tingkat bidang pemberdayaan Desa dandi bida dan Masyarakatnasional. kemasyarakatan yang bergerak dikemasyarakatan yang bergerak dikemasy Lembaga Adat. pengen cakupan kabupa 2. kebijakan Pemerintah Pusatkebijaka b. provinsi dalam rangkaDaerah pengendalian kuantitas penduduk. P Daerah provinsi. Pengendalian a. Pe c. pengelolaan dan pelaksanaankomuni (KB) informasi dan edukasipengendalianadvokasi. lembaga adat tingkat Daerahdan lem Hukum Adat provinsi serta pemberdayaanDaerah masyarakat hukum adat yangpember masyarakat pelakunya hukum adathukum yang sama berada di lintas Daerah pelakun kabupaten/kota. Pengembangan desain program. Pem Penduduk pengendalian kuantitas penduduk. Penataan Desa a. nomor registrasi dari Gubernur sebagai Wakil Pemerintah Pusat. Pe Berencana pengelolaan advokasi. Keluarga a. Pemaduan dan sinkronisasia. Pemaduan dan sinkronisasi kebijakan a. Pemetaan perkiraanpendud pengendalian penduduk cakupanb. Pe kemasy adat tin N. Administrasi ----Pembin Pemerintahan penyele Desa adminis Desa. Pengelolaan tenagadan edukasi(KIE) pengendalianpendud penyuluh KB/petugas lapanganpenduduk dan KB sesuai kearifan KB(PKB/PLKB). komunikasi. Penetapan perkiraan pengendaliandengan Pemerintah Daerahprovins penduduk secara nasional. Pe Kemasyarakatan. jabatan kepala desa adat b. Lembaga Pemberdayaan lembagaPemberdayaan lembagaa. kearifan budaya lokal. 3.DesaFasilitas Daerah provinsi yang berbeda. informasiedukasi penduduk b.

Pemberdayaan dan peningkatan kesertaan ber-KB. Audit dan inspeksi keselamatan rekayas g. DAERA kontras pelayan kabupa d. Penetapan kawasan perkotaanh. jaringan atau penutupan alat penimbangan g. Pengelolaan terminal penumpang tipec. Penyediaan perlengkapan jalan dib. Pengembangan desain programa. Pen Angkutan LLAJ Nasional jaringan LLAJ Provinsi. untuk umum. keluarg b. Pengelolaan terminalc. keluarga melalui pembinaandalam ketahanan dan kesejahteraanmelalui keluarga. 1(satu) Daerah provinsi. dampak lalu lintas untuk jalanbermot f. Pemberdayaan dan peningkatan b. Penye k. untuk rekayasa lalu lintas untuk jaringan jalani. jaringan Jalan(LLAJ) b. Penyelenggaraan terminal barangd.PEMBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN BIDANG PERHUBUNGAN NO SUB URUSAN PEMERINTAH PUSAT DAERAH PROVINSI DAERA 1 2 3 4 1. Persetujuan penyelenggaraanjalan provinsi. Standardisasi dan Sertifikasi PEMERINTAH PUSAT DAERAH PROVINSI 3 4 e. P A. f. Penyediaan perlengkapan jalanb. untuk pelayanan angkutankeselam j. Penyediaan angkutan umumkabupa kendaraan bermotor. dan kesejahteraan keluarga. dan kes Standardisasi pelayanan KB dan----sertifikasi tenaga penyuluh KB/ petugas lapangan KB(PKB/PLKB). Pelaksanaan manajemen dandalam 1(satu) Daerah provinsi. Pelak bermotor. untuk jasa angkutan orangg. di jalan provinsi. Lalu Lintas dan a. Pelaksanaan akreditasi unit pengujiandan/atau barang antar kota dalam dampak berkala kendaraan bermotor. penump d. Penetapan rencana induka.NO 1 SUB URUSAN 2 3. Penetapan lokasi dan pengoperasianLLAJ di jalan provinsi. Penetapan rencana induk jaringan a. Keluarga Sejahtera 4. rekayasa lalu lintas untuk jaringanpenyele e. Pen jalan nasional. f. Pengelolaan pelaksanaan desaina. Penetapan rencana umumdan/ata nasional. peningk organis kemasy Daerah pelaksa pembin a. Pelaksanaan manajemen dand. pemban terminal barang untuk kepentingane. jalan di c. peran serta organisasi kemasyarakatan tingkat nasional dalam pengendalian pelayanan dan pembinaan kesertaan ber-KB. Pelaksanaan kalibrasi alat pengujianperkotaan yang melampaui bataskabupa berkala kendaraan bermotor. Pelaksanaan uji tipe kendaraan provinsi. O. Pela pembangunan keluarga melalui program pembangunan keluargakeluarg pembinaan ketahanan danmelalui pembinaan ketahananketahan kesejahteraan keluarga. Pemberdayaan dan peningkatan b. peran serta organisasi peran serta organisasipeningk kemasyarakatan tingkat nasional dalam kemasyarakatan tingkat Daerahorganis pembangunan keluarga melaluiprovinsi dalam pembangunantingkat ketahanan dan kesejahteraan keluarga. jaringan trayek antarkota dalamkabupa . Persetujuan hasil analisise. Penyelenggaraan akreditasi lembaga h. Peng sendiri. kabupa i. penumpang tipe B. 1(satu) Daerah kabupaten/kotai. A pendidikan mengemudi. Pers h.

n. dalam 1(satu) Daerah provinsi. beroperasi pada lintas pelabuhanDaerah b. o. wilayah 2) angkutan dengan tujuan tertentu. Penetapan tarif kelas ekonomi untuk angkutan orang yang melayani trayek antar kota antar Daerah provinsi.NO 1 2. Penerbitan izin usaha angkutana. Penerbitan izin penyelenggaraanmelayani trayek antarkota dalamyang angkutan orang dalam trayek lintasDaerah provinsi serta angkutan berada negara dan trayek lintas Daerah perkotaan dan perdesaan yangkabupa provinsi. Penetapan wilayah operasi angkutanmelampaui lebih dari 1(satu)perkota orang dengan menggunakan taksiDaerah kabupaten/kota dalamDaerah dalam kawasan 1(satu) Daerah provinsi. Pe bagi badan usaha yang melakukan laut bagi badan usaha yangangkuta kegiatan pada lintas pelabuhan antar. Penetapan rencana umum1(satu) n. Audit dan inspeksi keselamatan LLAJDaerah kabupaten/kota. kota/kabupaten dalam 1(satu)angkuta p. u. angkuta di jalan nasional. Penetapan rencana umum jaringan Daerah provinsi. Pene jasa angkutan orang dan/atau barangmelampaui 1(satu) Daerahjaringan antar Daerah kabupaten/kota antarkabupaten dalam 1(satu) Daerahdalam Daerah provinsi serta lintas batasprovinsi. Pe t. menggu trayek antarkota antarprovinsi danl. Penetapan rencana umum jaringan m. Pene o. P lintas untuk jalan nasional. Penerbitan izin usaha angkutan lauta. Penyediaan angkutan umum untukjaringan trayek pedesaan yangk. Penerbitan izinpenyele trayek perdesaan yang melampauipenyelenggaraan angkutan taksiorang d 1(satu) Daerah provinsi. Penerbitan izin penyelenggaraan kabupaten/kota dalam 1(satu)ekonom angkutan tidak dalam trayek yangDaerah provinsi. Penetapan tarif kelas ekonomipenyele melampaui Daerah provinsi. Persetujuan hasil analisis dampak lalu Daerah provinsi dan perkotaanj. SUB URUSAN 2 Pelayaran PEMERINTAH PUSAT DAERAH PROVINSI DAERA 3 4 l. Penetapan wilayah operasil. q. melampaui 1(satu) Daerahp. perkotaan yang wilayah operasinyan. yang melayani: antarko 1) angkutan taksi yang wilayah kabupa operasinya melampaui 1(satu) Daerah perkota provinsi. kabupa negara. untuk angkutan orang yangangkuta s. j.berdomisili dalam wilayah dan usaha Daerah provinsi dan internasional. Pen negara. Penerbitan izin penyelenggaraan angkutan barang khusus. Penerbitan izin trayek antar-Daerah kabupaten/ kotaberoper . angkutan perkotaan dan angkutan perdesaan yang wilayah pelayanannya melampaui Daerah provinsi. a. v. yang wilayah operasinyadan r. Daerah dan 3) angkutan pariwisata. Penetapan kawasan perkotaan untukangkutan orang denganjaringan pelayanan angkutan perkotaan yang menggunakan taksi dalammenghu melampaui batas kawasan perkotaan yang wilayah Daerah 1(satu) Daerah provinsi dan lintas batasoperasinya melampaui Daerahm. yang melampaui batas 1(satu)perkota m. k. Penerbitan izin penyelenggaraankawasa perkotaan yang melampaui batas angkutan orang dalam trayekwilayah 1(satu) Daerah provinsi dan lintas bataslintas Daerah kabupaten/kotadalam D negara.

c. berupa bongkar muat barang. penyeberangan lintas pelabuhanpersetu h. dalam Daerah provinsi. Penet pengumpul. Pe e. Penerbitan izin usaha jasa terkait d. penyeb pelabuhan selama 24 jam untuki. Pe antarnegara. Pene n. Pe antar. Penetapan lintaspenyeb ekonomi dan kendaraan besertapenyeberangan dan domisili muatannya pada lintas penyeberanganpersetujuan pengoperasian untukf. Penerbitan izin lokasi. pelabuh danau untuk kapal yang melayani b. c. Penetapan lokasi pelabuhan. d. Penetapan tarif angkutanprovinsi.Daerah kapal yang melayanipenyeb provinsi. penyeb pelabuhan untuk pelabuhan utama dan h. Penerbitan izin usaha jasa terkaitjalan k j. Penetapan rencana induk dankelas e pelabuhan pengumpul. tallyuntuk melayani trayek antarnegara dan/ataumandiri. pelabuhan pengumpul. Pembangunan dan penerbitan izinlaut atau peralatan jasa terkaitpersetu pelabuhan sungai dan danau yangdengan angkutan laut. Penetapan rencana induk dan dalam dalam DLKR/DLKP pelabuhan utama. g. Penerbitan izin trayekpenyele d. pelabuhan lintas p dan/atau antar negara atau lintasantar-Daerah provinsi. penyewaan peralatan angkutanpenyeb k. dan depo peti kemas.Daerah kabupaten/kota dan y jaringan jalur kereta api nasional. dankabupa penyeberangan antar negara dan/ataupelabuhan internasional. kapal antar-Daerah provinsi. Penetapan tarif angkutanpenyeb l. antar negara dan antar. Pembangunan. perantara penyeberangan dan persetujuansungai jual beli dan/atau sewa kapal. Penerbitan izin pengoperasianpengumpan regional. perorangan atau badan usahaangkuta c. Pe g. penumpang kelas ekonomi danh. keagenan pengoperasian kapal antar-danau kapal dan awak kapal. pelabuhan pengumpan regional.Daerah provinsi.Daerahkabupaten/kota dalam DaerahIndones provinsi dan/atau antar negara. Penerbitan izin usaha angkutankabupa trayek antar-Daerah provinsi dan/atau laut pelayaran rakyat bagi orangb. Penetapan lintaspenyele berupa pengelolaan kapal. DLKR/D . provinsi yang bersangkutan. Penerbitan izin usaha badan usahakendaraan beserta muatannyaterkait pelabuhan di pelabuhan utama dan pada lintas penyeberangan antar-perbaik pelabuhan pengumpul. dan1(satu) Daerah provinsi. g.kabupa pengoperasian pelabuhan utama dan angkutan perairan pelabuhan. penyele penyeberangan penumpang kelas e. penerbitan izinkabupa pelabuhan utama dan pelabuhanpembangunan dan pengoperasianj. Penetapan lintas penyeberangan danyang berdomisili dan yangbagi o persetujuan pengoperasian kapal yangberoperasi pada lintas pelabuhanbadan terletak pada jaringan jalan nasional. membangunpenyeberangan kabupa dan mengoperasikan terminal khusus. antar-Daerah kabupaten/kotakapal i. DLKR/DLKP pelabuhanbeserta o. Penetapan lintas penyeberangan dan penyelenggaraan angkutan sungaisungai persetujuan dan danau untuk kapal yangdengan pengoperasian untuk kapal yangmelayani trayek antar-Daerahperseor melayani penyeberangan antar. Pembangunan. Penetapan tarif angkutan laut dalam Daerah provinsi yang terletak kabupa negeri untuk penumpang kelas pada jaringan jalan provinsibersang ekonomi.NO 1 SUB URUSAN 2 PEMERINTAH PUSAT DAERAH PROVINSI DAERA 3 4 penyelenggaraan angkutan sungai dandalam wilayah Daerah provinsi. yang t pelabuhan pengumpul. Penerbitan izin pengembangan Daerah provinsi.jaringan penerbitan izin pembangunan dan jasa pengurusan transportasi. Daerah kabupaten/kota dalami. dan/atau jaringan jalur kereta apie. f.antar. Daerah kabupaten/kota dalammelaya f. Pene m.

Daerah kabupaten/kota dalamyang . Penerbitan izin pengoperasiansungai t. m. Penetapan jaringan jalur kereta dalam yang jaringannya melebihi wilayah api yang jaringannya melebihikabupa 1(satu) Daerah provinsi. Penerbitan izin pekerjaan reklamasiDaerah kabupaten/kota dalam 1pelabuh di wilayah perairan pelabuhan (satu) Daerah provinsi. pelabuhan pengumpan regional. Pen d. untuk sarana perkeretaapian umum yange. Pengujian sarana perkeretaapian. Penerbitan izin pengelolaanpengop terminal untuk kepentinganselama sendiri(TUKS) di dalam DLKR/DLKPpelabuh pelabuhan pengumpan regional. usaha p n. Penyelenggaraan keselamatan danpengumpan regional. perkeretaapian provinsi. pelabuhan pengumpan regional. Penerbitan izin usaha badanizin r. Pene Termina Sendiri( DLKR/D pengum a. pengum dalam DLKR/DLKP pelabuhan utamal. k. l. Penerbitan izin pengembanganm. Pengujian prasarana perkeretaapian. dalam stasiun pada jaringan jalur kereta api d. stasiun pada jaringan jalur kereta d. izinb. Penerbitan izin usaha. Penerbitan izin reklamasi dipelabuh wilayah perairan pelabuhanpelabuh pengumpan regional. Penerbitan izin pekerjaan pengerukan j. Pen Daerah provinsi. Penetapan rencana induka. dan pelabuhan pengumpul. Pen dan pelabuhan pengumpul. pengem o. Penerbitan izin usaha dan izin operasi api provinsi. Pen perkeretaapian nasional. Penyelenggaraan perlindunganpelabuhan selama 24 jam untukn. Penerbitan izin usaha. kabupaten/kota dalam 1(satu)kereta e. q. Pene wilayah pengum s. Penetapan jaringan jalur kereta apic. yang melayani trayek lintasdan q. umum c. Pen pengeru pelabuh r. Penerbitan izin pengelolaan Terminal usaha pelabuhan di pelabuhanpengop Untuk Kepentingan Sendiri(TUKS) dipengumpan regional.NO 1 4. Penetapan kelas stasiun untukkabupa nasional. Penetapan kelas stasiun untukDaerah provinsi. jaringan jalurnya melintasi batassarana g. p. Penerbitan izin pekerjaanpengum pengerukan di wilayah perairano. Pen f. dan pe keamanan pelayaran. Penetapan rencana induka. wilayah 1(satu) Daerahc. SUB URUSAN 2 Perkeretaapian PEMERINTAH PUSAT DAERAH PROVINSI DAERA 3 4 p. p. Pene prasarana perkeretaapian umum yang prasarana perkeretaapian umumpemban jaringan jalurnya melintasi batasyang jaringan jalurnya melintasiprasara Daerah provinsi batas Daerah kabupaten/kota. Pene lingkungan maritim. Penerbitan izin operasi saranajalur ke jaringan jalurnya melintasi batasperkeretaapian umum yange. Pembangunan dan penerbitanpengum di wilayah perairan pelabuhan utamaizin pelabuhan sungai dan danauk. izinkabupa pembangunan dan izin operasipembangunan dan izin operasib. pelabuhan untuk pelabuhanpenerbi s. perkere b. Pem utama dan pelabuhan pengumpul.

wilayah keanggotaan lintas Daerahdengan b. serta dan Perangkatinformatika. Pene . Daerah 3. Pengumuman badan hukum koperasi di Berita Negara Republik Indonesia. DAN MENENGAH NO SUB URUSAN PEMERINTAH PUSAT DAERAH PROVINSI DAERA 1 2 3 4 1. lingkup kabupa Q. b. Daerah provinsi. Izin Usahaa. dang.NO 1 SUB URUSAN 2 PEMERINTAH PUSAT DAERAH PROVINSI DAERA 3 4 h.daya. serta Informatika 2. Informasi dan Pengelolaan informasi dan komunikasi Pengelolaan informasi danPengelo Komunikasi publik Pemerintah Pusat serta informasi komunikasi publik Pemerintahkomuni Publik strategis nasional dan internasional. Penerbitan izin pembukaan kantor kabupaten/kota dalam 1(satu)dalam cabang. Penetapan jaringan pelayananDaerah pada jaringan jalur perkeretaapian perkeretaapian pada jaringan jalurf. Penetapan pedoman tarif angkutan g. Penerbitan izin pengadaan atau jaringan pembangunan perkeretapian khusus. dan pembubaran koperasi. pembangunan perkeretapiankabupa j. yang jaringannya melebihi 1(satu)perkere k. Pengesahan akta pendirian. dan penetapan jalur kereta api khusus yang jaringannya melebihi 1(satu) Daerah provinsi dan batas wilayah negara. Pengelolaan nama domain yanga. Pene pengujian prasarana dan saranapenetapan jalur kereta api khusus atau perkeretaapian. cabang pembantu dan kantor Daerah provinsi. Penyelenggaraan Pengelolaan penyelenggaraan sumber . Koperasi perubahan anggaran dasar koperasi. Penerbitan izin usaha simpan pinjam a. kereta l. Peng provinsi. b. Badan Hukuma. b. 2. Pengelolaan nama domain instansi Pemerintah Daerah provinsi. Aplikasi a. Peng Informatika domain bagi instansi Pemerintah Pusattelah ditetapkan oleh Pemerintah yang dan Pemerintah Daerah. PEMBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN BIDANG KOPERASI. domain penyelenggara negara. USAHA KECIL. Penetapan nama domain dan sub a. Penerbitan izin usaha simpana. Pusat dan sub domain di lingkup Pemerin b. Akreditasi badan hukum atau lembaga khusus. nasional perkeretaapian provinsi. izin operasi. Pos. Pengelolaan e-government nasional. Penetapan jaringan pelayanan1(satu) Daerah provinsi. Pen Simpan untuk koperasi dengan wilayah pinjam untuk koperasi dengansimpan Pinjam keanggotaan lintas Daerah provinsi. kabupa izin operasi. lingkup Pemerintah Daerahb. Penerbitan izin pengadaan atau jaringan orang dan tarif angkutan barang. P. Sertifikasi tenaga perawatan Daerah kabupaten/kota dalamoperasi prasarana dan sarana perkeretaapian. PEMBAGIAN URUSAN BIDANG KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA NO SUB URUSAN PEMERINTAH PUSAT DAERAH PROVINSI DAERA 1 2 3 4 1. Pengelolaan e-government diDaerah c. 1(satu) Daerah provinsi. dan perangkat pos. melinta perkeretaapian f. pelayan i. Sumber Daya.

R. 4.kemitraan. keanggotaannya lintas Daerahkeangg kabupaten/kota dalam kabupa 1(satu) Daerah provinsi. 5. P Iklim tertutup dan bidang usaha yang terbuka fasilitas/insentif di bidangfasilitas Penanaman dengan persyaratan. Pengembangan a. Pemeriksaan dan pengawasana. Pemeriksaan dan pengawasanpengaw keanggotaannya lintas koperasi simpan pinjam/unitpinjam/ Daerah provinsi. menjad fasilitas/insentif di bidang penanamanb. Penilaian Penilaian kesehatan koperasi simpanPenilaian kesehatan koperasiPenilaia Kesehatan pinjam/unit simpan pinjam koperasisimpan pinjam/unit simpan pinjamsimpan KSP/USP Koperasi yang wilayah keanggotaannya lintaskoperasi yang wilayahpinjam Daerah provinsi. Pendidikan danPendidikan dan latihan perkoperasianPendidikan dan latihanPendidi Latihan bagi koperasi yang wilayah perkoperasian bagi koperasi yangperkope Perkoperasian keanggotaannya lintas Daerah provinsi. kabupa Pemberdayaan Pemberdayaan usaha menengahPemberdayaan usaha kecil yangPember Usaha dilakukan melalui pendataan. P pemeriksaan koperasi yang wilayah keanggotaannya koperasi yang wilayahpengaw lintas Daerah provinsi. danpenguatan kelembagaan dan koordinasipenguatan kelembagaan dankemuda Usaha dengan para pemangku kepentingan. Penetapan bidang usaha yanga.NO 1 3. penanaman modal yang menjadipenana Modal b. Penerbitan izin pembukaankantor koperasi dengan wilayah keanggotaan kantor cabang. Pemeriksaan dan pengawasankabupaten/kota dalam 1(satu)Daerah koperasi simpan pinjam/unit simpan Daerah provinsi. Pemberdayaan Pemberdayaan dan perlindunganPemberdayaan dan perlindunganPember dan koperasi yang keanggotaannya lintas koperasi yang keanggotaannyaperlindu Perlindungan Daerah provinsi.dilakukan melalui pendataan.PEMBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN BIDANG PENANAMAN MODAL NO SUB URUSAN PEMERINTAH PUSAT DAERAH PROVINSI DAERA 1 2 3 4 1. Pembuatan peta potensikabupa . 6. 8. 7. Penetapan pemberiana. Pe pinjam koperasi yang wilayahb. keanggotaannya lintas Daerahwilayah b. simpan pinjam koperasi yangkoperas wilayah keanggotaannya lintaskeangg Daerah kabupaten/kota dalamkabupa 1(satu) Daerah provinsi. b. koordin pemang Pengembangan Pengembangan usaha menengahPengembangan usaha kecilPengem UMKM dengan orientasi peningkatan skaladengan orientasi peningkatandengan usaha menjadi usaha besar. kecil. wilayah lintas Daerahyang kabupaten/kota dalam dalam D 1(satu) Daerah provinsi. Pemeriksaan dan pengawasana. Pengawasan dana. kemudahan perijinan. Penetapan pemberiankewenangan Daerah provinsi. lintas Daerah kabupaten/kotakeangg Koperasi dalam 1(satu) Daerah provinsi. kemudahan perijinan.yang Menengah. SUB URUSAN 2 PEMERINTAH PUSAT DAERAH PROVINSI DAERA 3 4 kas koperasi simpan pinjam untukb. koordinasi dengan para pemangkupengua Mikro(UMKM) kepentingan. skala usaha menjadi usahaskala menengah. cabang pembantupemban lintas Daerah provinsi. dan kantor kas koperasi simpankoperas pinjam untuk koperasi dengankoperas wilayah keanggotaan lintas Daerahkeangg kabupaten/kota dalam 1(satu)kabupa Daerah provinsi. kemitraan.pendata Usaha Kecil.

Pelayanan penanaman modal terkait pintu: 1(satu) dengan sumber daya alam yang tidaka. menjad Modal kabupa Data dan SistemPengelolaan data dan informasiPengelolaan data dan informasiPengelo Informasi perizinan dan nonperizinan penanaman perizinan dan nonperizinanperizina Penanaman modal yang terintergrasi secarapenanaman modal yangyang te Modal nasional. 5.NO 1 2. Penanaman modal yang ruangpenana terbarukan dengan tingkat risikolingkupnya lintas Daerahmenjad kerusakan lingkungan yang tinggi. kewenangan Daerah provinsi. Pengembangan kemitraan Usaha Kecil dan Menengah(UKM) bekerja sama dengan investor asing. Pelayanan penanaman modal pada b. regional dan multilateral di bidang penanaman modal. menjad kabupa Pelayanan a. terkait pada pelaksanaan strategi pertahanan dan keamanan nasional. perundang. kepemudaan terhadap pemuda peloporpengembangan pemuda DAERA a. Pengendalian Pengendalian pelaksanaan penanamanPengendalian pelaksanaanPengen Pelaksanaan modal yang menjadi kewenanganpenanaman modal yang menjadipenana Penanaman Pemerintah Pusat. Penanaman Modal yang bidang industri yang merupakanmenurut ketentuan peraturan prioritas tinggi pada skala nasional. Kepemudaan a. Pelayanan penanaman modal asing. terintergrasi pada tingkat DaerahDaerah provinsi. 4. d. Pengkoordinasian penanaman modal dalam negeri yang menjalankan kegiatan penanaman modalnya di luar wilayah Indonesia. dan a. Pem Pemerintah Pusat. pengembangan pemuda danpemberdayaan. kabupa c. c. investa c. e. Penyadaran. Pembuatan peta potensi investasi nasional. pemberdayaan.undangan menjadi d. Penyelenggaraan kerja sama antara Pemerintah Pusat dengan lembaga perbankan nasional/internasional dan dunia usaha nasional/internasional. 3. b. S. kewenangan Daerah provinsi. Penyadaran. SUB URUSAN 2 PEMERINTAH PUSAT DAERAH PROVINSI DAERA 3 4 modal yang menjadi kewenanganinvestasi provinsi. nonperizinan secara terpadu satunonperi Modal b. Penyelenggaraan kerja sama----Penanaman internasional dengan negara lain dalam Modal rangka kerja sama bilateral. Pelayanan penanaman modal yangkewenangan Daerah provinsi. Promosi Penyelenggaraan promosi penanamanPenyelenggaraan promosiPenyele Penanaman modal yang menjadi kewenanganpenanaman modal yang menjadipenana Modal Pemerintah Pusat. kabupaten/kota. PEMBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN BIDANG KEPEMUDAAN DAN OLAHRAGA NO SUB URUSAN PEMERINTAH PUSAT DAERAH PROVINSI 1 2 3 4 1. Pelayanan penanaman modal yangPelayanan perizinan danPelayan Penanaman ruang lingkupnya lintas Daerah provinsi. Peny dandan p dan . b. 6. Kerja Samaa.

Daerah provinsi. kabupa a. organisasi olahraga tingkat Daerahc. Penyelenggaraan kejuaraankewena tingkat nasional dan internasional. kepemudaan tingkat Daerahkepemu provinsi. olahraga prestasi tingkat nasional. Pembinaan dan pengembangankabupa organisasi olahraga tingkat nasional. Pemberdayaan danb. prestas provins d. dan pemudamuda organisasi kepemudaan tingkatkader provinsi. Pembinaan dan pengembangand. olahrag d. e. Kepramukaan PEMERINTAH PUSAT DAERAH PROVINSI DAERA 3 4 nasional. Peny olahraga prestasi tingkat internasional. pemuda pelopor provinsi. kewenangan Daerah provinsi.NO 1 SUB URUSAN 2 2. pengem olahrag kabupa e. olahraga pendidikan pada jenjangolahraga pendidikan pada jenjangpengem pendidikan yang menjadi kewenangan pendidikan yang menjadipendidi Pemerintah Pusat. Pembinaan dan pengembangana. Pembinaan dan pengembanganPembinaan dan pengembanganPembin organisasi kepramukaan tingkatorganisasi kepramukaan tingkatorganis nasional. Kerja sama keolahragaanprovinsi. b. Pemberdayaan dan pengembangan wirausaha muda. Penyelenggaraan kejuaraan olahragab. wirausaha muda berprestasi. pendidi b. kader k nasional. Pembinaan dan pengembanganb.kabupa b. . Kerja sama kepramukaan internasional. olahraga tingkat Daerah provinsi. pengem internasional. kabupa c. Pembinaan dan pengembangana.dan kepemudaan terhadappemuda dan pemuda kader nasional. Keolahragaan 3. c. Pembinaan dan pengembanganc. Kerja sama kepemudaanpengembangan organisasipengem internasional. tingkat b. P pengem rekreas a.

Akreditasi dan a. kabupa c. Kebudayaan a. Pengelolaan kebudayaan yanga. masyarakat penganutnya lintasdalam c. Pen b. Peny Pengamanan pengamanan informasi Pemerintahuntuk pengamanan informasiuntuk Informasi Pusat. PEMBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN BIDANG PERSANDIAN NO SUB URUSAN PEMERINTAH PUSAT DAERAH PROVINSI DAERA 1 2 3 4 1. 3. Pembinaan lembaga adat yang Daerah terhadap Tuhan Yang Maha Esa. b. Analisis Sinyal Pengelolaan analisis sinyal. Pen masyarakat pelakunya lintas Daerah masyarakat pelakunya lintasyang provinsi. Perfilman Pembinaan perfilman nasional. Pemerin b. Penetapan pola hubungankabupa sandi antarkementerian/lembaga. ----Nasional 3. masyarakat pelakunya lintasmasyar Daerah kabupaten/kota.Perangkatb. 2. Penetapan cagar budayaa. Pel Intelektual(HKI) komunal di bidang b. Kesenian Pembinaan kesenian yang masyarakat Pembinaan kesenian yangPembin Tradisional pelakunya lintas Daerah provinsi. Perlindungan Hak Kekayaan1(satu) Daerah provinsi. 2. Pelestarian tradisi yang masyarakat Daerah kabupaten/kota dalam c. Pembinaan sejarah lokal provinsi. Daerah 4. Penetapan pola hubungan komunikasi b. Penerbitan sertifikasi sumber daya manusia sandi. Pemerintah Daerah provinsi. a. 2. Daerah kabupaten/kota dalam dalam D b. Pengelolaan cagar budayakabupa . Penyelenggaraan persandian untuk a. Pen antara Pemerintah Pusat dengan Daerah provinsi. b. PEMBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN BIDANG KEBUDAYAAN NO SUB URUSAN PEMERINTAH PUSAT DAERAH PROVINSI DAERA 1 2 3 4 1. Penerbitan sertifikasi peralatan sandi. b. Pembin kabupa 5. Penetapan cagar budaya peringkatperingkat provinsi. Statistik Sektoral --- DAERAH PROVINSI 4 DAERA ----Penyelenggaraan statistik sektoralPenyele di lingkup Daerah provinsi. penganutnya lintas Daerah kabupaten/kota dalam 1(satu) Daerah provinsi. Persandian untuk a. Pengelolaan kunci sandi. PEMBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN BIDANG STATISTIK NO SUB URUSAN PEMERINTAH PUSAT 1 2 3 1. Akreditasi lembaga pendidikan dan ----Sertifikasi pelatihan sandi. sektora kabupa U. Pem penganutnya lintas Daerah provinsi.T. Penyelenggaraan persandiana. komuni Daerah provinsi dan Daerah Perangk kabupaten/kota. Sejarah Pembinaan sejarah nasional. Cagar Budaya a. Pelestarian tradisi yangmasyar kebudayaan. Pengelolaan kebudayaan yanga. Statistik Dasar Penyelenggaraan statistik dasar. yang d. ----- V. Pembinaan lembaga kepercayaan c. 1(satu) Daerah provinsi. Registrasi nasional cagar budaya. c. peringk nasional.komunikasi sandi antar.

2. b. Pengelolaan b. Peng nasional. Penerbitan register museum. dan perguruan tinggiPemerintah Daerah provinsi danPemerin negeri. Penerbitan izin membawa cagar peringk d. memba c. Pelestarian karya cetak dan karya a. Sertifikasi Penyelenggaraan sertifikasi pustakawan Pustakawan dandan akreditasi pendidikan dan pelatihan Akreditasi perpustakaan. c. Pe dan bibliografi Nasional. Pengelo b. kabupa budaya ke luar negeri. Daerah provinsi. Pembudayaan gemar membacab. Pengelolaan a. 7. Pengelolaan cagar budaya peringkat peringkat provinsi. Pengelolaan museum nasional. Pengelolaan arsip dinamis lembagaa. Penerbitan katalog induk nasionalDaerah provinsi. Pen Arsip negara. Pengembangan koleksi budaya nusantara yang berasal dari luar negeri etnis nusantara dan koleksi budaya etnis nusantara yang ditemukan oleh Pemerintah yang ditemukan oleh Pemerintah Pusat.yang kemasyarakatan tingkat nasional. P perpustakaan tingkat nasional. karya rekam koleksi Daerah dimilik Da dan Naskah Kuno b. BUMD provinsi. SUB URUSAN 2 PEMERINTAH PUSAT DAERAH PROVINSI DAERA 3 4 c. Pelestarian naskah kuno milikDaerah negeri. Pengembangan koleksi budaya etnis d. BUMN. Pengelolaan arsip statis yangkabupa diciptakan oleh lembaga negara di diciptakan oleh Pemerintah Daerahb. PEMBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN BIDANG PERPUSTAKAAN NO SUB URUSAN PEMERINTAH PUSAT DAERAH PROVINSI DAERA 1 2 3 4 1. Pembudayaan gemar membaca kabupa tingkat nasional. BUMD provinsi. Penerbitan izin membawa cagarbudaya ke luar Daerah provinsi. kabupa Warisan Budaya Pengelolaan warisan budaya nasional----dan dunia. tingkat Daerah provinsi. Pengelolaan arsip statis yang b. tingkat b. kabupa b. d. W. Pendidikan dan Pelatihan Perpustakaan X. Penetapan standar dan akreditasi a.perusahaan swasta yang cabangPemerin organisasi politik tingkat nasional. b. Pen cagar b kabupa Daerah Permuseuman a. Pengelolaan arsip dinamisa. c. Pelestarian naskah kuno danDaerah dan bibliografi Daerah. Peng Pusat dan Daerah. organisasiswasta guna sejarah yang cabang usahanya kemasyarakatan tingkat Daerahdalam . organisasiprovinsi. 3. Penerbitan katalog indukbudaya c. Pengelolaan perpustakaana. Pengelolaan museum provinsi. usahanya lebih dari 1(satu)kabupa tokoh nasional dan perusahaan Daerah kabupaten/kota dalam kabupa swasta yang memiliki arsip bernilai 1(satu) Daerah provinsi. Pen Perpustakaan perpustakaan. Pele Koleksi Nasionalrekam koleksi nasional. BUMN. ditemuk pengembalian naskah kuno dari luarc. Pelestarian karya cetak dan a. b. Pembinaan a. Pelestarian a.NO 1 6. Daerah provinsi.PEMBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN BIDANG KEARSIPAN NO SUB URUSAN PEMERINTAH PUSAT DAERAH PROVINSI DAERA 1 2 3 4 1. tingkat Daerah provinsi.

dan BUMD. Mela yang digabung dan/atau dibubarkan. BUMN. BUMN. danPerangk negara atau bantuan luar negeri yang pemekaran Daerahkabupa memiliki retensi sekurang. tokoh masyarakatkabupa otentik naskah asli arsip terjaga dari tingkat Daerah provinsi. Pemerintah Daerah. masyar kabupa c. g. Persetujuan tertulis jadwal retensi a. Melakukan pencarian arsip statisarsip. tingkat provinsi. Penyelamatan arsip lembaga negaralembaga kearsipan provinsi. bencan tinggi negeri. Melakukan autentikasi arsipdibubar c. dalam bentuk daftar pencariane. perguruanberskala provinsi. statis yang pengelolaannya menjadi menjad kewenangan Pemerintah Pusat yang kabupa dinyatakan hilang dalam bentuk daftar dinyata pencarian arsip. Pelindungan dan penyelamatan arsip statis dan arsip hasil pemeka akibat bencana yang berskala nasional. kemasy lembaga negara. 3. Akreditasi terhadap lembaga penyelenggara jasa kearsipan. BUMN. Pengelolaan laporan dan salinanDaerah provinsi. d. Pengelolaan simpul jaringanDaerah dan perguruan tinggi negeri. dan diklat kearsipan. 10(sepuluh) tahun. provinsi. alih media yang dikelola olehDesa/ke d. Pemerintah Daeraharsip akibat bencana yangpenyela provinsi/kabupaten/kota.NO 1 2. Pe Penyelamatan arsip(JRA) lembaga negara.Pemerintah Daerah provinsi yanglingkun Arsip Pemerintah Daerah. arsip di lingkungan lembaga negara. Peng dalam tingkat Pelindungan dan a. perguruan tinggic. Pelindungan dan penyelamatanb. digabun paling sedikit 10(sepuluh) tahun. Daerah d.c. perguruan tinggi.kurangnyakabupaten/kota. d. Persetujuan tertulis pemusnahan tahun. retensi b. Pemerintahan Daerah. d. c. Pemusnahan arsip di lingkungana. pendidikan kearsipan. Akreditasi kearsipan terhadap Sertifikasi penyelenggaraan kearsipan pada lembaga negara. kegiatannya dibiayai dari anggarandan/atau dibubarkan. 4. organisasi politik tingkat1 c. Pengelolaan informasi Kearsipan pemerin dalam SIKN melalui JIKN. dandalam SIKN melalui JIKN padaorganis BUMD. bentuk Akreditasi dan a. Melakukan pencarian arsipstatis e. b. Penetapan tunjangan profesi arsiparis Formasi Arsiparis Penetapan hasil analisis kebutuhan . SUB URUSAN 2 PEMERINTAH PUSAT DAERAH PROVINSI DAERA 3 4 lebih dari 1(satu) Daerah provinsi. b. Penyelamatan arsip Perangkat kabupa swasta dan perusahaan swasta yang Daerah provinsi yang digabungc. BUMN. Mela f. Sertifikasi arsiparis yang mengikuti uji kompetensi. BUMD dan memiliki retensi di bawah kabupa perguruan tinggi negeri. Melakukan autentikasi statis yang pengelolaannyamedia arsip statis dan arsip hasil alih mediamenjadi kewenangan Daerah lembag yang dikelola oleh lembaga Kearsipan provinsi yang dinyatakan hilangkabupa Nasional.

Penetapan lokasi pembangunan dane. Penerbitan izin usaha perikanan c. Pendaftaran kapal perikanan di pengelolaan pelabuhan perikananatas 5 GT sampai dengan 30 GT. nasional dan internasional. GT. Penerbitan izin pemanfaatan ruang gas bumi. 1(satu) Daerah provinsi. dengan 30 GT. b. d. Pengelolaan a. Pendaftaran kapal perikanan di atas 30 GT. f. c. d. Pengelolaan penangkapan ikana. Pem . kapal perikanan berukuran di atas perikanan provinsi. di bawah 30 Gross Tonase(GT) yangpengangkut ikan dengan ukuran menggunakan modal asing dan/ataudi atas 5 GT sampai dengan 30 tenaga kerja asing. Perikanan a. Penerbitan izin dan c. Kelautan. Penetapan kawasan konservasi. Penerbitan izin pengadaan kapal penangkap ikan dan kapal pengangkut ikan dengan ukuran di atas 30 GT. Pemb Tangkap penangkapan ikan di wilayah laut di di wilayah laut sampai dengan 12dalam D atas mil. b. laut nasional. Penetapan lokasi pembangunan tangkap untuk: serta pengelolaan pelabuhan a. Pesisir. pembudidayaan ikan yangpembud b. Pengelolaan ruang laut di atas 12 mila. Penerbitan izin penggunaan arsip yang Penerbitan izin penggunaan arsipPenerbi bersifat tertutup yang disimpan di ANRI. Database pesisir dan pulau-pulau kecil. Penerbitan Izin Usaha Perikanan(IUP) b.NO 1 5. Pengelolaan ruang laut sampai dan dan strategis nasional. SUB URUSAN 2 Perizinan PEMERINTAH PUSAT DAERAH PROVINSI DAERA 3 4 arsiparis nasional. bumi. b. d.a. dengan 12 mil di luar minyak dan Pulau-Pulau Kecil b. e. 3. internasional. Penerbitan izin pemanfaatan jenispemanfaatan ruang laut di bawah dan genetik (plasma nutfah) ikan 12 mil di luar minyak dan gas antarnegara. Penerbitan izin pengadaan kapal dan penangkap ikan dan kapal b. 30 Gross Tonase(GT). 2. PEMBAGIAN URUSAN BIDANG KELAUTAN DAN PERIKANAN NO SUB URUSAN PEMERINTAH PUSAT DAERAH PROVINSI DAERA 1 2 3 4 1. kabupa c. yang bersifat tertutup yangarsip y disimpan di lembaga kearsipanyang Daerah provinsi. 12 mil. e. Pemberdayaan masyarakat dan diatur perdagangannya secarapesisir dan pulau-pulau kecil. Estimasi stok ikan nasional dantangkap untuk kapal perikananPelelang jumlah tangkapan ikan yangberukuran di atas 5 GT sampai diperbolehkan(JTB). Penetapan jenis ikan yang dilindungic. Penerbitan izin pemasukan ikan dariusahanya lintas Daerahusahan luar negeri dan pengeluaran ikan hidup kabupaten/kota dalam 1 dari wilayah Republik Indonesia. Perikanan a. Penerbitan izin usaha perikanan penyele b. kearsip kabupa Y. Pen Budidaya pakan ikan. f. Sertifikasi dan izin edar obat/danPenerbitan IUP di bidanga.

Penerbitan izin usaha pemasaran dan pengolahan hasil perikanan lintas Daerah provinsi dan lintas negara. 2. destinasidan lu kawasan strategis pariwisata nasional. Destinasi a. Perikanan Pengolahan dan a. Pengelolaan destinasi pariwisata kabupa c. a.Penyelenggaraan karantina ikan. Pengawasan Pengawasan sumber daya kelautan dan Pengawasan sumber daya Sumber Dayaperikanan di atas 12 mil. P pariwisata nasional. Penetapan tanda daftar usahapariwisa d. d. dan provinsi. kreatif) Pemanfaatan dan bereksp Perlindungan Hak berinter Kekayaan di Daer . Pemasaran Pemasaran pariwisata dalam dan luarPemasaran pariwisata dalam danPemasa Pariwisata negeri daya tarik. Penetapan daya tarik wisata. 7. Penerbitan izin pemasukan hasillintas Daerah kabupaten/kota perikanan konsumsi dan nonkonsumsi dalam 1(satu) Daerah provinsi. Kelautan danb. kabupaten/kota dalam 1(satu)usaha e. P b. Z. --Pengendalian pengendalian mutu dan keamanan hasil Mutu danperikanan. Pen Pariwisata kawasan strategis pariwisata. c. Penetapan tanda daftar usahaDaerah provinsi. ke dalam wilayah Republik Indonesia. kabupa pariwisata lintas Daerah provinsi. dan kawasan strategis pariwisatadestina provinsi. Akreditasi dan sertifikasi penyuluh Perikanan perikanan. b. Pen nasional. 5. kreatif/r melalui kriteria. Pengelolaan kawasan strategis provinsi. 6. Pengelolaan destinasi pariwisata pariwisata lintas Daerahd. c. Pengelolaan kawasan strategisb. c. c. PEMBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN BIDANG PARIWISATA NO SUB URUSAN PEMERINTAH PUSAT DAERAH PROVINSI DAERA 1 2 3 4 1. Penyelenggaraan penyuluhan----SDM Masyarakatperikanan nasional. Keamanan Hasil Perikanan Pengembangan a. strategiskelautan dan perikanan sampai Kelautan dannasional dan ruang laut tertentu. ikan. Pengelolaan daya tarik wisataa. Peng menggunakan tenaga kerja asing. strategi nasional. Peningkatan kapasitas SDM masyarakat kelautan dan perikanan. dan pengolahan hasil perikanan b.NO 1 4. strategi kabupa 3. Pengembangan Pengembangan ekonomi kreatifPenyediaan sarana dan prasaranaPenyed Ekonomi Kreatifnasional yang ditetapkan dengankota kreatif. wisata k destinasi pariwisata. SUB URUSAN 2 PEMERINTAH PUSAT DAERAH PROVINSI DAERA 3 4 di bidang pembudidayaan ikan lintas pembud Daerah provinsi dan/atau yang c. Standardisasi dan sertifikasi Penerbitan izin usaha pemasaran--Pemasaran pengolahan hasil perikanan. dengan 12 mil. Pengelolaan daya tarik wisatapariwisata provinsi. Karantina Ikan. destinasi dan luar negeri daya tarik.

pengawasan peredaran benihdalam D c. Pen pertanian. Peng e. Kesehatan a. Penetapan dan penerapanlintas Daerah kabupaten/kotapenyak Veteriner persyaratan teknis kesehatan hewan.PEMBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN BIDANG PERTANIAN NO SUB URUSAN PEMERINTAH PUSAT DAERAH PROVINSI DAERA 1 2 3 4 1. Pengawasan peredaran saranaa. e. Penerbitan sertifikasi danb. Pe medik veteriner. dalam 1(satu) Daerah provinsi. kabupa ternak(HPT) dan obat hewan. Sarana Pertanian a. Penyediaan benih/bibit ternak dan Daerah provinsi. Pen mutu/formula sarana pertanian. dan pengawasana. b. Prasarana a. Penerbitan sertifikasi cara pembuatan peredaran benih/bibit ternak dandan obat hewan yang baik(CPOHB) dan tanaman pakan ternak serta pakanternak. Penetapan kebutuhan saranab. tingkat obat hewan. Penetapan standar mutu benih/bibit. Penerapan persyaratan teknisDaerah . sarana b. Penerbitan sertifikasi benih/bibitDaerah kabupaten dalam 1(satu)serta p ternak. tingkat lanjutan. Penetapan persyaratan teknis b. 2. Pen sumber daya genetik (SDG)c. dan hijauan pakan ternak lintas Daerah hijauan pakan ternak. g. Standardisasi. Peng ternak dan rumpun/galur ternak. c. SUB URUSAN PEMERINTAH PUSAT DAERAH PROVINSI DAERA 2 3 4 Intelektual Pengembangan Pengembangan. Upaya penyehatan hewan. Pengelolaan wilayah sumberpertania b. Penjaminan kesehatan hewan. hewan d. Penerbitan nomor izin pendaftaran pakan. Pengelolaan SDG hewan yangperedar hewan(rumpun/galur ternak). Pengawasan pemasukan dankabupa pelayanan jasa laboratorium dan jasapengeluaran hewan dan produkb. Pengendalian penyediaan dan peredaran benih/bibit ternak. dan hija importir. Pengawasan produksi dan peredaranf. hewan lintas Daerah provinsi. terdapat pada lebih dari 1(satu)dan ta d. hijauan pakan ternak yang sumbernyaj. Penetapan kawasan peternakan. Penye obat hewan di tingkat produsen dan hewan di tingkat distributor. Pengawasan peredaran obatf. Penentuan kebutuhan prasarana a. dalam c. Pengawasan benih ternak. pakan. ekonom AA.NO 1 4. Pen f. 1 (satu) Daerah kabupaten/kotaternak dalam kabupa 1(satu) Daerah provinsi.a. kabupaten/kota dalam 1(satu) i. dalam 1(satu) Daerah provinsi. kabupa g. tanaman. Kesehatan penyakit hewan menular di Indonesia. Pe Hewan dandaerah wabah dan status situasipenutupan dan pembukaan daerahhewan. penyelenggaraan danPelaksanaan peningkatanPelaksa Sumber Dayapeningkatan kapasitas sumber dayakapasitas sumber daya manusiakapasit Pariwisata danmanusia pariwisata dan ekonomi pariwisata dan ekonomi kreatifmanusi Ekonomi Kreatif kreatif tingkat ahli. hijauan pakanDaerah provinsi. a. c. danDaerah peredaran benih/bibit ternak. ternak yang wilayahnya lebih dari bibit te c. d. Pengendalian penyediaan dansumber h. pertanian. Penataan prasarana pertanian. HPT dan obat hewan. penetapana. Penetapan wilayah sumber bibitbibit ternak dan rumpun/galurb. Pen Pertanian pertanian. Penyediaan benih/bibit ternak dari impor. dan hijauan pakan ternak yang sumbernya dari Daerah provinsi lain. d. cara pembuatan pakan yangdi lintas Daerah kabupaten/kotaternak baik(CPPB). P pengge 3. wabah penyakit hewan menularpembuk Masyarakat b. Penetapan otoritas veteriner dan c. Pengawasan mutu dane.

pengec e. Penerbitan izin usahahewan. hewan f. Penetapan persyaratan teknis d. Pelaksanaan tata hutan--Hutan b. Penerbitan izin usaha pertaniana. Peng bebas penyakit dan unit dan kesejahteraan hewan. Pe Pertanian alat mesin peternakan. 7. alsintan dan obat hewan. d. ----Hutan b. Pe ternak dan tanaman pakan. c. distribu pestisida. Pe produsen/importir obat hewan. benih/bibitb. e. Penerbitan rekomendasi pemasukan 1(satu) Daerah provinsi. laborato usaha produk hewan. Penyelenggaraan pengukuhan kawasan hutan. Penetapan persyaratan teknis bebas penyakit dan unit usahapengelu kesehatan masyarakat veteriner. produk hewan. peternakan distributor obatrumah p d. Varietas Penyelenggaraan perlindungan varietas ----Tanaman tanaman(PVT). Penerbitan izin usahasakit h laboratorium. Penyelenggaraan tata hutan. SUB URUSAN 2 PEMERINTAH PUSAT DAERAH PROVINSI DAERA 3 4 siskeswanas. veterine g. Penerbitan izin pembangunan b. Penetapan persyaratan teknis kabupa kesejahteraan hewan. Pene persyar kesejah Pengendalian Pengendalian dan penanggulanganPengendalian dan penanggulanganPengen dan bencana pertanian nasional. veteriner di Daerah provinsi. Penyelenggaraan rencanakesatuan pengelolaan hutan . Perencanaan a. Pene persyar masyar e. d. alat mesinyang kegiatan usahanya lintas pertania kesehatan hewan dan obat hewan. Karantina Pelaksanaan karantina hewan dan----Pertanian tumbuhan. Daerah kabupaten/kota dalam usahan b. kabupa dan pengeluaran hewan. BB. Penetapan persyaratan teknis c. Pendaftaran/izin formula pupuk. a. Pendaftaran pakan. c. Sertifikasi persyaratan tekniskabupa sertifikasi zona/kompartemen kesehatan masyarakat veteriner c.a.NO 1 4. 6. bahan laboratorium kesehatan produks pakan dan pakan keluar dan ke dalamhewan dan kesehatan masyarakat dan wilayah Indonesia. Pengelolaan a. sertifikasi zona/kompartemenkabupa e. 5. Penyelenggaraan penatagunaan kawasan hutan. Penyelenggaraan rencana kehutanan nasional.PEMBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN BIDANG KEHUTANAN NO SUB URUSAN PEMERINTAH PUSAT DAERAH PROVINSI DAERA 1 2 3 4 1. pemelih c. Penyelenggaraan pembentukan wilayah pengelolaan hutan. produk hewan. penang Penanggulangan pertania bencana pertanian Perizinan Usaha a. bencana pertanian provinsi. Penyelenggaraan inventarisasi hutan. 2.

3) Pemungutan hasil hutan. Penyelenggaraan pengelolaana. pelatihan serta pendidikan menengahkehutanan provinsi. meliputi: hutan dengan tujuan khusus(KHDTK). CITES. b. h. kabupaten/kota. SUB URUSAN 2 PEMERINTAH PUSAT DAERAH PROVINSI DAERA 3 4 pengelolaan hutan. 4. Pelaksanaan perlindungan hutan di hutan lindung. Pelaksanaan penyuluhan--Pelatihan. e. Pelaksanaan pemanfaatan hutan g. pengelolaan hutan f. Pelaksanaan rehabilitasi di luar kawasan hutan negara. Penyelenggaraan pengolahan dankonservasi(KPHK). Pelaksanaan perlindungan secara lestari kondisi lingkungantumbuhan dan satwa liar yang kawasan pelestarian alam. Penyelenggaraan pemanfaatanb. Pelaksanaan rencana reklamasi hutan. d. 4) Pemanfaatan jasa lingkungan kecuali pemanfaatan penyimpanan dan/atau penyerapan karbon. c. Pelaksanaan Pelaksa Sumber Dayakawasan suaka alam dan kawasan perlindungan. bidang Kehutanan Pengelolaan Penyelenggaraan pengelolaan Pelaksanaan pengelolaan DAS . Pelaksanaan pengolahan hasil hutan kayu dengan kapasitas produksi < 6000 m³/tahun. Penyelenggaraan rehabilitasi dan b. Pelaksanaan pengolahan hasil hutan bukan kayu. pengawetan danTAHURA Alam Hayati danpelestarian alam. Penyelenggaraan pendidikan dana. pengelolaan kesatuan pengelolaan e. Pelaksanaan pengelolaan kawasan bernilai ekosistem penting dan daerah penyangga kawasan suaka alam dan kawasam pelestarian alam.NO 1 3. konservasi(KPHK). Pelaksanaan pengelolaan KHDTK untuk kepentingan religi. Penyelenggaraan pemanfaatan jenis masuk dalam lampiran(Appendix) tumbuhan dan satwa liar. tidak dilindungi dan/atau tidak d. dan hutan produksi. Penyelenggaraan konservasihutan raya(TAHURA) lintas Daerah tumbuhan dan satwa liar. Konservasi a. Penyelenggaraan penyuluhanbidang kehutanan. Penyelenggaraan pengelolaan di kawasan hutan produksi dan kawasan hutan lindung. Penyuluhan dankehutanan. penatausahaan hasil hutan. Masyarakat dikehutanan nasional. c. d. Penyelenggaraan pemanfaatan hutanpengelolaan hutan dan penggunaan kawasan hutan. 1) Pemanfaatan kawasan hutan. Pemberdayaan masyarakat di Pemberdayaan b. c. Penyelenggaraan perlindunganhutan kecuali pada kesatuan hutan. 5. Pendidikan dana. pemanfaatan secara lestari taman Ekosistemnya b. f. g. 2) Pemanfaatan hasil hutan bukan kayu. kecuali pada kesatuan c.

Penetapan zona konservasi air b. izin c. Penetapan zona konservasi air tanah tanah pada cekungan air tanah pada cekungan air tanah lintas Daerahdalam Daerah provinsi. c. Penetapan wilayah izin usahaberada dalam 1 (satu) Daerah pertambangan mineral bukan logamprovinsi termasuk wilayah laut dan batuan lintas Daerah provinsi dan sampai dengan 12 mil laut.heritage). Penetapan kawasan lindung geologipenggalian. Penetapan wilayah pertambangana. Mineral dana. SUB URUSAN 2 Daerah DAS. 1(satu) Daerah provinsi termasuk 2) wilayah izin usaha pertambanganwilayah laut sampai dengan 12 mil yang berbatasan langsung denganlaut. izin pemakaian. f. Penetapan status dan peringatan dini Daerah provinsi. izin pengusahaan air tanah dalam d. DAERAH PROVINSI DAERA 4 lintas Daerah kabupaten/kota dan dalam Daerah kabupaten/kota dalam 1(satu) Daerah provinsi. Penetapan nilai perolehan air e. Aliran Sungai(DAS) Pengawasan Kehutanan PEMERINTAH PUSAT 3 Penyelenggaraan pengawasan terhadap pengurusan hutan. c. bahaya gunung api. Penerbitan izin usaha d. tanah. yang terdiri ataslogam dan batuan dalam 1(satu) wilayah usaha pertambangan. Penetapan wilayah izin usaha Batubara sebagai bagian dari rencana tata ruangpertambangan mineral bukan wilayah nasional. Penerbitan izin pengeboran. batubara. negara lain. b. pencadangan negara serta wilayah b. batubara. pertambangan mineral logam dan b. Penerbitan izin usaha pertambanganlogam. mineral bukan logam dan batuan dalam rangka logam dan batuan pada: penanaman modal dalam negeri 1) wilayah izin usaha Pertambanganpada wilayah izin usaha yang berada pada wilayah lintas Daerahpertambangan yang berada dalam provinsi. Geologi a. 2. Penetapan neraca sumber daya dan cadangan sumber daya mineral dan energi nasional. logam dan batuan dalam wilayah . provinsi dan lintas negara. wilayah Daerah provinsi dan wilayah laut pertambangan rakyat dan wilayah sampai dengan 12 mil. Penerbitan izin usaha usaha pertambangan khusus.NO 1 6. Penerbitan izin usaha pertambangan pertambangan mineral bukan mineral logam. Peringatan dini potensi gerakantanah dalam Daerah provinsi. PEMBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN BIDANG ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL NO SUB URUSAN PEMERINTAH PUSAT DAERAH PROVINSI DAERA 1 2 3 4 1. penetapan wilayah izin usahabatubara dalam rangka pertambangan mineral logam dan penanaman modal dalam negeri batubara serta wilayah izin usahapada wilayah izin usaha pertambangan khusus. pertambangan Daerah yang c. Penetapan cekungan air tanah. wilayah laut lebih dari 12 mil. dan dan warisan geologi(geo. g. Penetapan kawasan rawan bencana geologi. a. ----- CC. rakyat untuk komoditas mineral e. mineral bukan dalam rangka penanaman modal asing. Penerbitan izin pertambangan 3) wilayah laut lebih dari 12 mil. dan d.

Penetapan harga patokan rangka penanaman modal dalam negerimineral bukan logam dan batuan dan penanaman modal asing yang kegiatan usahanya di seluruh wilayah Indonesia. Penerbitan izin usaha tenaga listrik dan izin jual beli tenaga penyediaan tenaga listrik non listrik lintas negara. e. Penerbitan izin panas bumi untukterdaftar usaha jasa penunjang pemanfaatan tidak langsung. 4. Pelelangan wilayah kerja panas bumi.keterangan terdaftar dalam rangka atau impor serta dalam rangka penanaman modal dalam negeri penanaman modal asing. bahan bakar lain dengan g. c. langsung panas bumi lintaslangsun c. Penetapan wilayah usaha penyediaan a.NO 1 3. Pengelolaan inspektur tambang dan pejabat pengawas pertambangan. Penerbitan surat keterangan d. Penerbitan izin. badan usaha milik negara dan b. yang kegiatan usahanya dalam e. k. a. Penerbitan izin usaha penyediaanpenjualan tenaga listrik serta tenaga listrik lintas Daerah provinsi. j. khusus mineral dan batubara. Ketenagalistrikan a. h. Penerbitan izin usaha g. surat keterangan terdaftar dalam g. panas bumi. Penerbitan izin pemanfaatanPenerbi Terbarukan b. Penetapan badan usaha sebagaipengawasan usaha niaga bahan pengelola tenaga air untuk pembangkit bakar nabati(biofuel) sebagai listrik. Minyak dan GasPenyelenggaraan minyak dan gas bumi.000(sepuluh ribu) ton usahanya dalam lintas Daerah provinsi. Penerbitan izin usaha pertambangan yang komoditas tambangnya operasi produksi khusus untukberasal dari 1(satu) Daerah pengolahan dan pemurnian yang provinsi yang sama. penyewaan jaringan kepada badan usaha milik negara danpenyedia tenaga listrik dalam .000(sepuluh ribu) ton pertahun. 5. Penerbitan izin usaha niaga bahan bakar nabati (biofuel) sebagai bahan bakar lain dengan kapasitas penyediaan di atas 10. Pemberian izin usaha pertambangan pertambangan rakyat. provinsi. per tahun. komoditas tambangnya yang berasal f. yang i. Penerbitan izin pemanfaatanDaerah kabupaten/kota dalam Daerah langsung panas bumi lintas Daerah1(satu) Daerah provinsi. Penetapan harga patokan mineral logam dan batubara. Pemberian registrasi izin usahapertambangan operasi produksi pertambangan dan penetapan jumlah khusus untuk pengolahan dan produksi setiap Daerah provinsi untukpemurnian dalam rangka komiditas mineral logam dan batubara. penanaman modal dalam negeri h. pembinaan dan f. SUB URUSAN 2 PEMERINTAH PUSAT DAERAH PROVINSI DAERA 3 4 f. Penetapan wilayah kerja panas bumi. Bumi Energi Barua. Penerbitan izin usaha jasakegiatan usahanya dalam pertambangan dan 1(satu) Daerah provinsi. Penerbitan surat keterangan terdaftar kapasitas penyediaan sampai usaha jasa penunjang yang kegiatandengan 10. Penetapan harga listrik dan/atau uap 1(satu) Daerah provinsi. Penerbitan izin usaha jasa dari Daerah provinsi lain di luar lokasi pertambangan dan surat fasilitas pengolahan dan pemurnian. b.

Pene Pendaftaran 1) perantara perdagangan properti. rencana usaha penyediaan e. tenaga listrik belum berkembang. Penerbitan izin operasi yang tenaga listrik lintas Daerah provinsi fasilitas instalasinya dalam Daerah atau badan usaha milik negara. PEMBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN BIDANG PERDAGANGAN NO SUB URUSAN PEMERINTAH PUSAT DAERAH PROVINSI DAERA 1 2 3 4 1. dan sarana distribusi bahanpendaft 6) pendaftaran agen dan/atauberbahaya. telekomunikasi. Persetujuan harga jual tenaga listrik tenaga listrik. Rekomendasi untuk penerbitandari wa 2) pemberi waralaba dari luar negeri. Persetujuan harga jual tenaga informatika dari pemegang izin yang listrik dan sewa jaringan tenaga ditetapkan oleh Pemerintah Pusat. daerah terpencil dan perdesaan. distribusi. multimedia. 2) pene 1) pemberi waralaba dari dalam negeri. pemeriksaanc. perdagangan bahan berbahayapenyim 5) jasa survei dan jasa lainnya di bidang pengecer terdaftar. Penerbitan surat izin usahagudang dalamnya terdapat modal asing. penyewaan jaringan kepada penyediab. Penetapan tarif tenaga listrik untuk informatika dari pemegang izin konsumen dan penerbitan izin yang ditetapkan oleh Pemerintah pemanfaatan jaringan untukDaerah provinsi. daerah terpencil dan pembangunan sarana penyediaanperdesaan. Penetapan tarif tenaga listrik instalasinya mencakup lintas Daerahuntuk konsumen dan penerbitan provinsi atau berada diwilayah di atas izin pemanfaatan jaringan untuk 12 mil laut. pembangunan sarana g. DD. dan d. pengemasan dan1) pen b. berkembang.NO 1 SUB URUSAN 2 PEMERINTAH PUSAT DAERAH PROVINSI DAERA 3 4 penjualan tenaga listrik sertaDaerah provinsi. c. distributor. badan usaha dalam f. Penerbitan surat tanda pendaftaran pelabelan bahan berbahaya diwaralab waralaba(STPW) untuk : tingkat Daerah provinsi. perdagangan minuman beralkoholpasar Perusahaan 2) penjualan langsung. Penerbitan izin operasi yang fasilitas c. Penertiban surat izin usahaa. penjualan kelebihan tenaga Daerah provinsi. tenaga listrik dari pemegang izin rencana usaha penyediaan tenaga yang ditetapkan oleh Pemerintah listrik. toko bebas bea dan rekomendasiperbela 3) perwakilan perusahaan perdaganganpenerbitan SIUP-MB bagitoko sw asing. mampu. provinsi. penanam modal asing/mayoritas f. penjualan kelebihan dan sewa jaringan tenaga listrik. Penerbitan izin usaha jasa ditetapkan oleh penunjang tenaga listrik bagi Pemerintah Pusat. dalam n . telekomunikasi. Penyediaan dana untuk sahamnya dimiliki oleh kelompok masyarakat tidak penanam modal asing. listrik dari pemegang izin yange. PGAPT dan SPPGRAP. Perizinan dana. listrik. Pen perdagangan tertentu. Penyediaan dana untuk kelompokpenyediaan tenaga listrik belum masyarakat tidak mampu. c. b. dan pengawasanuntuk: distributor. multimedia. Penerbitan izin usaha untuk: a. dand. Pen 4) usaha perdagangan yang dib. Penerbitan izin usaha jasa penunjang negeri/mayoritas sahamnya tenaga listrik yang dilakukan oleh dimiliki oleh penanam modal badan usaha milik negara ataudalam negeri.

Pemantauan dan mengelola informasi b. Pengawasan pupuk dand. Sarana Distribusi --Pembangunan dan pengelolaana.distibutor. Penerbitan surat izin usaha langsun perdagangan e. Pemantauan harga.MB). f. antarpulau terdaftar(PKAPT). P pengelo perdaga wilayah Stabilisasi Hargaa. penting di tingkat Daerah provinsi. pembinaan f. Menjamin ketersediaan baranga. Pema barang penting yang cakupannya dikebutuhan pokok dan barangbarang tingkat nasional. penting di tingkat pasar provinsi. asal(bagi Daerah provinsi yangdari wa 4) pemberi waralaba lanjutan daritelah ditetapkan sebagai instansid. Penerbitan angka pengenal importir(API) bagi perusahaan tertentu. dan penerbit surat keterangan asal). distributor terdaftar bahan perdaga berbahaya dan produsen terdaftar g. Penerbitan surat izin usaha pelabel perdagangan bahan berbahaya tingkat distributor terdaftar. Perdagangan pusat distribusi regional dan pusatpengelo distribusi provinsi. informasiDaerah Penting harga barang kebutuhan pokok dan ketersediaan stok barangb. perdaga b. kabupa d. Mel harga pangan pokok yangdalam dampaknya beberapa Daerahpangan kabupaten/kota dalam 1(satu)dampak Daerah provinsi. barang c. dan pengawasan asal(ba distribusi kabupa pengemasan dan pelabelan bahan ditetapk berbahaya. distribu d. Pengakuan pedagang gula antarpulau(PGAPT). distributor berbaha dan sub. importir terdaftar bahan pelapor berbahaya. untuk c. g. P minuman beralkohol importir terdaftar penyim minuman beralkohol(IT. Pen . barang dan Barangb.NO 1 2. 3. SUB URUSAN 2 PEMERINTAH PUSAT DAERAH PROVINSI DAERA 3 4 3) pemberi waralaba lanjutan darid. surat persetujuan perdagangan gula antarpulau(SPPGAP). penerbi e. dan surat persetujuan perdagangan gula rafinasi antarpulau(SPPGRAP). Melakukan operasi pasar dalam kabupa rangka stabilisasi c. Penerbitan surat keterangan3) pene waralaba dalam negeri. perdaga 5) penerima waralaba dari waralaba e. Pene waralaba luar negeri. M Barang kebutuhan pokok dan barang penting di kebutuhan pokok dan barangbarang Kebutuhan Pokoktingkat nasional. Rek terhadap importir produsen bahan PKAPT d berbahaya. Pene bahan berbahaya. Penerbitan angka pengenalberalko luar negeri importir(API). Menjamin ketersediaan baranga. Pengakuan pedagang kayu asal).

Penyelenggaraan promosia. daninternasional. Pengembangan Ekspor 5. b. Penyelenggaraan metrologi legal dalam rangka penanganan khusus. a. Penyelenggaraan kampanye pencitraan Indonesia skala internasional. dan pameran dagangdagang dagang bagi lokal serta misi dagang bagi bagi pro eksportir skala usaha besar. b. Penerbitan izin penyelenggaraanpencitraan produk ekspor skalaskala D pameran dagang dengannasional (lintas Daerah provinsi). c. pameran dagangdagang pameran dagang lokal serta misinasional. b. Penyelenggaraan.dagang melalui pameran dagangdagang pameran dagang nasional. Penyelenggaraan promosi dagang a. menengah produk ekspor unggulan yangyang te dan kecil. Peny ekspor. penyaluran danmelaku penggunaan pupuk bersubsidi dipengad wilayah kerjanya. pengendalian dan Pelaksanaan perlindunganPelaksa evaluasi perlindungan konsumen. sertabarang. penggu di wilay a.NO 1 SUB URUSAN 2 4. terdapat pada lebih dari 1(satu)1 b. Penyelenggaraan.konsumen. Standardisasi dan Perlindungan Konsumen PEMERINTAH PUSAT 3 DAERAH PROVINSI DAERA 4 pestistida tingkat Daerah provinsipestisid dalam melakukan pelaksanaankabupa pengadaan. Indonesia. Penyelenggaraan kampanyepencitra c. pengujian mutuberupa standardisasi. dan pengawasan barangpengaw pengawasan barang beredar dan/atauberedar dan/atau jasa di seluruh jasa di seluruh wilayah Republik Daerah kabupaten/kota. Pen melalui pameran dagang internasional. d. dan mutu barang. . Daerah mengikutsertakan peserta dan/atau produk asal luar negeri. dan evaluasi metrologi legal di seluruh wilayah Republik Indonesia. Penyelenggaraan kegiatan kerja Daerah kabupaten/kota dalam kabupa sama internasional pengembangan1(satu) Daerah provinsi. pengendalian.

Pengembangan satuan permukimanpemantapan. Sistem Informasi Pembangunan dan pengembanganPenyampaian laporan informasiPenyam Industri Nasional sistem informasi industri nasional. Pembangunan a. c. 2. Penataan pesebaran penduduk yang kabupaten/kota dalam 1(satu)1 (satu) berasal lintas Daerah provinsi. 3. kabupa 1) industri yang berdampak besar pada lingkungan. Pene dan IUI Besar untuk: b. Pembangunan satuan permukiman diPenataan pesebaran pendudukPenataa Kawasan kawasan transmigrasi. pemban Industri kabupa 2. b. Perencanaan Penetapan rencana induk pembangunanPenetapan rencana pembangunanPenetap Pembangunan industri nasional. c. a.PEMBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN BIDANG PERINDUSTRIAN NO SUB URUSAN PEMERINTAH PUSAT DAERAH PROVINSI DAERA 1 2 3 4 1. Penerbitan IPUI bagi industriIUI Men 1) industri yang berdampak besar padabesar. Pene lingkungan. Penerbitan IPUI kabupaten/kota dalam 1(satu)yang bagi: Daerah provinsi. IUI dan Perluas . Pengembangan kawasan Pengembangan satuanPengem Kawasan transmigrasi.IUI Besar dan Izin perluasannya. Perluas .IUI lintas Daerah kabupaten/kota. yang didasarkan perjanjian yang dibuat oleh Pemerintah Pusat dan pemerintah negara lain.EE. industri untuk: industri . Pengembangan a. IUI Menengaha. Perencanaan Penetapan dan perencanaan kawasan Pencadangan tanah untukPencad Kawasan transmigrasi. kabupa 3. 2) industri minuman beralkohol. Penerbitan IUKI dan IPKI yang lokasinya lintas provinsi. permukiman pada tahappermuk Transmigrasi b. Penerbitan IUKI dan IPKI yangkecil da 2) industri minuman beralkohol. industri provinsi. dan 3) indutri strategis. yang berasal dari pemerintah negara lain. PEMBAGIAN URUSAN BIDANG TRANSMIGRASI NO SUB URUSAN PEMERINTAH PUSAT DAERAH PROVINSI DAERA 1 2 3 4 1.IUKI dan IPKI yang lokasinya . yang berasal dari lintas Daerahyang be Transmigrasi b. Penerbitan IUI/IUKI dan IPUI/IPKI yang merupakan penanaman modal asing dan penanam modal yang menggunakan modal asing. Penerbitan IUI Kecil. . Daerah provinsi.IUKI d di Daer FF. Perizinan a. Penerbitan IUI Besar. kawasan transmigrasi lintaskawasa Transmigrasi Daerah kabupaten/kota dalamDaerah 1(satu) Daerah provinsi. Pen 3) industri strategis. dan lokasinya lintas Daerahc. d. kemand pada tahap penyesuaian. b.

dan c. akreditasi. pendidikan anak usia dini. pelaksanaan. Dari keenam sub Urusan Pemerintahan tersebut yang merupakan substansi Urusan Pemerintahan adalah sub urusan manajemen pendidikan. penganggaran. Penetapan kurikulum muatan lokal pendidikan dasar. pendidikan anak usia dini. dan c. b. penelitian dan pengembangan. b. Sub urusan perizinan pendidikan: a. dan pendidikan nonformal menjadi kewenangan Daerah kabupaten/kota. standardisasi. dan bahasa dan sastra. MANAJEMEN PENYELENGGARAAN URUSAN PEMERINTAHAN KONKUREN Substansi urusan yang dibagi antara Pemerintah Pusat dan Daerah provinsi dan Daerah kabupaten/kota sebagaimana dimuat dalam matriks pembagian Urusan Pemerintahan konkuren antara Pemerintah Pusat dan Daerah provinsi dan Daerah kabupaten/kota tersebut di atas termasuk kewenangan dalam pengelolaan unsur manajemen(yang meliputi sarana dan prasarana. penetapan standar nasional pendidikan dan pengelolaan pendidikan tinggi menjadi kewenangan Pemerintah Pusat. dan c. 4. b. pendidikan anak usia dini. kurikulum. Penetapan kurikulum muatan lokal pendidikan menengah dan muatan lokal pendidikan khusus menjadi kewenangan Daerah provinsi. kurikulum. Sub urusan manajemen pendidikan: a. Perincian pembagian Urusan Pemerintahan bidang pendidikan yang merupakan substansi Urusan Pemerintahan bidang pendidikan adalah sebagai berikut: 1. pembinaan bahasa dan sastra yang penuturnya dalam Daerah kabupaten/kota menjadi kewenangan Daerah kabupaten/kota. metode kerja) dan kewenangan dalam penyelenggaraan fungsi manajemen(yang meliputi perencanaan. personil. pengoordinasian. perizinan pendidikan. Salah satu contoh matriks pembagian Urusan Pemerintahan bidang Pendidikan. penerbitan izin perguruan tinggi swasta yang diselenggarakan masyarakat dan penerbitan izin penyelenggaraan satuan pendidikan asing menjadi kewenangan Pemerintah Pusat. penerbitan izin pendidikan menengah yang diselenggarakan masyarakat dan penerbitan izin pendidikan khusus yang diselenggarakan oleh masyarakat menjadi kewenangan Daerah provinsi. dan c. sehingga tidak lagi melekat pada substansi Urusan Pemerintahan pada tingkatan atau susunan pemerintahan tersebut. pengelolaan pendidikan dasar. pengawasan. 2. pendidikan dasar. pendidik dan tenaga kependidikan. Penetapan kurikulum nasional pendidikan menengah. sedangkan yang merupakan unsur manajemen adalah sub urusan pendidik dan tenaga kependidikan dan yang merupakan fungsi manajemen adalah sub urusan akreditasi. pengelolaan pendidikan menengah dan pendidikan khusus menjadi kewenangan Daerah Provinsi. bahan-bahan. pembinaan bahasa dan sastra yang penuturnya lintas Daerah kabupaten/kota dalam 1(satu) Daerah provinsi menjadi kewenangan Daerah provinsi. . dan bahasa dan sastra. penerbitan izin pendidikan dasar yang diselenggarakan masyarakat dan penerbitan izin pendidikan anak usia dini dan pendidikan nonformal yang diselenggarakan oleh masyarakat menjadi kewenangan Daerah kabupaten/kota. pembinaan bahasa dan sastra Indonesia menjadi kewenangan Pemerintah Pusat. perizinan pendidikan. 3. dan pendidikan nonformal menjadi kewenangan Pemerintah Pusat. Sub urusan bahasa dan sastra: a. dan pengelolaan informasi) dalam substansi Urusan Pemerintahan tersebut melekat menjadi kewenangan masingmasing tingkatan atau susunan pemerintahan tersebut. pengorganisasian. Sub urusan kurikulum: a. Dalam matrik Urusan Pemerintahan bidang Pendidikan terdiri atas 6(enam) sub Urusan Pemerintahan yaitu manajemen pendidikan.II. b. kecuali apabila dalam matriks pembagian Urusan Pemerintahan konkuren antara Pemerintah Pusat dan Daerah provinsi dan Daerah kabupaten/kota tersebut terdapat unsur manajemen dan/atau fungsi manajemen yang secara khusus sudah dinyatakan menjadi kewenangan suatu tingkatan atau susunan pemerintahan yang lain. dan pendidikan nonformal menjadi kewenangan Daerah kabupaten/kota.

maka pendidik dan tenaga kependidikan secara nasional dan akreditasi seluruh jenjang pendidikan tidak lagi menjadi kewenangan Daerah provinsi atau Daerah kabupaten/kota. ttd. H. Namun karena dalam matriks pembagian Urusan Pemerintahan bidang pendidikan telah ditetapkan bahwa pendidik dan tenaga kependidikan secara nasional seluruh jenjang pendidikan dan akreditasi seluruh jenjang pendidikan ditetapkan menjadi kewenangan Pemerintah Pusat. PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA.Seharusnya seluruh fungsi dan unsur manajemen sub urusan manajemen pendidikan tersebut melekat pada pengelolaan masing-masing jenjang pendidikan yang sudah dibagi menjadi kewenangan tingkatan atau susunan pemerintahan. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO . Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa seluruh pengelolaan sub urusan manajemen pendidikan termasuk unsur dan fungsi manajemen pengelolaan jenjang pendidikan menjadi kewenangan masing-masing tingkatan atau susunan pemerintahan. DR. kecuali pendidik dan tenaga kependidikan serta akreditasi secara nasional karena dalam matriks pembagian Urusan Pemerintahan bidang pendidikan ditetapkan menjadi kewenangan Pemerintah Pusat.

ekonomi. . dan yang batas dan sistemnya ditentukan oleh peraturan perundang-undangan dan hukum internasional. c. Laut adalah ruang perairan di muka bumi yang menghubungkan daratan dengan daratan dan bentuk-bentuk alamiah lainnya. Pasal 25A. d. bahwa pengelolaan sumber daya kelautan dilakukan melalui sebuah kerangka hukum untuk memberikan kepastian hukum dan manfaat bagi seluruh masyarakat sebagai negara kepulauan yang berciri nusantara. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan: 1. Menimbang : a. dan Pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud Mengingat : Pasal 20. bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki sumber daya alam yang melimpah yang merupakan rahmat dan karunia Tuhan Yang Maha Esa bagi seluruh bangsa dan negara Indonesia yang harus dikelola secara berkelanjutan untuk memajukan kesejahteraan umum sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. dan keamanan merupakan modal dasar pembangunan nasional.UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2014 TENTANG KELAUTAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. Pasal 22D ayat (1). bahwa wilayah laut sebagai bagian terbesar dari wilayah Indonesia yang memiliki posisi dan nilai strategis dari berbagai aspek kehidupan yang mencakup politik. yang merupakan kesatuan geografis dan ekologis beserta segenap unsur terkait. b. sosial budaya. Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA dan PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN: Menetapkan : UNDANG-UNDANG TENTANG KELAUTAN. pertahanan.

2. termasuk bagian pulau dan perairan di antara pulau-pulau tersebut. dan/atau komponen lain ke dalam lingkungan Laut oleh kegiatan manusia sehingga melampaui baku mutu lingkungan Laut yang telah ditetapkan. zat. 13. serta kerusakan dan bencana. 7. pertahanan. 5. dan keamanan serta politik yang hakiki atau yang secara historis dianggap sebagai demikian. perairan. Pengelolaan Kelautan adalah penyelenggaraan kegiatan. dan lain-lain wujud alamiah yang hubungannya satu sama lain demikian erat sehingga pulau-pulau. dan wujud alamiah lainnya itu merupakan satu kesatuan geografi. Pemerintah Daerah adalah kepala daerah sebagai unsur penyelenggara Pemerintahan Daerah yang memimpin pelaksanaan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah otonom. pemerataan kesejahteraan. Negara Kepulauan adalah negara yang seluruhnya terdiri atas satu atau lebih kepulauan dan dapat mencakup pulau-pulau lain. pengendalian pencemaran Laut. pemanfaatan. baik yang dapat diperbaharui maupun yang tidak dapat diperbaharui yang memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif serta dapat dipertahankan dalam jangka panjang. pengawasan. Pencemaran Laut adalah masuk atau dimasukkannya makhluk hidup. Sumber Daya Kelautan adalah sumber daya Laut. penanggulangan bencana Kelautan. dan keterpeliharaan daya dukung ekosistem pesisir dan Laut. . dan pengendalian ruang Laut. Pemerintah Pusat yang selanjutnya disebut Pemerintah adalah Presiden Republik Indonesia yang memegang kekuasaan pemerintahan negara Republik Indonesia yang dibantu oleh Wakil Presiden dan menteri sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. dan pemanfaatan Sumber Daya Kelautan serta konservasi Laut. Pembangunan Kelautan adalah pembangunan yang memberi arahan dalam pendayagunaan sumber daya Kelautan untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi. 8. pengusahaan. Pengelolaan Ruang Laut adalah perencanaan. Pulau adalah wilayah daratan yang terbentuk secara alamiah yang dikelilingi air dan berada di atas permukaan air pada waktu air pasang. penyediaan. termasuk wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil. energi. pencegahan dan penanggulangan pencemaran. 6. 9. Pelindungan Lingkungan Laut adalah upaya sistematis dan terpadu yang dilakukan untuk melestarikan Sumber Daya Kelautan dan mencegah terjadinya pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan di Laut yang meliputi konservasi Laut. 10. 4. 11. Kelautan adalah hal yang berhubungan dengan Laut dan/atau kegiatan di wilayah Laut yang meliputi dasar Laut dan tanah di bawahnya. 3. ekonomi. kolom air dan permukaan Laut. Kepulauan adalah suatu gugusan pulau. 12.

memanfaatkan Sumber Daya Kelautan secara berkelanjutan untuk sebesar-besarnya kesejahteraan bagi generasi sekarang tanpa mengorbankan kepentingan generasi mendatang. f. BAB III RUANG LINGKUP Pasal 4 (1)Ruang lingkup Undang-Undang ini meliputi pengaturan penyelenggaraan Kelautan Indonesia secara terpadu dan berkelanjutan untuk mengembangkan kemakmuran negara. e. mewujudkan Laut yang lestari serta aman sebagai ruang hidup dan ruang juang bangsa Indonesia.14. keterbukaan. peran serta masyarakat. memajukan budaya dan pengetahuan Kelautan bagi masyarakat. menegaskan Indonesia sebagai negara kepulauan berciri nusantara dan maritim. keberlanjutan. kepastian hukum. b. e. b. Menteri adalah menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang Kelautan. desentralisasi. akuntabilitas. d. i. dan k. c. j. . berdedikasi. keterpaduan. mendayagunakan Sumber Daya Kelautan dan/atau kegiatan di wilayah Laut sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan dan hukum laut internasional demi tercapainya kemakmuran bangsa dan negara. g. dan h. kemitraan. mengembangkan peran Negara Kesatuan Republik Indonesia dalam percaturan Kelautan global sesuai dengan hukum laut internasional untuk kepentingan bangsa dan negara. g. Pasal 3 Penyelenggaraan Kelautan bertujuan untuk: a. mengembangkan sumber daya manusia di bidang Kelautan yang profesional. f. h. d. keadilan. konsistensi. BAB II ASAS DAN TUJUAN Pasal 2 Penyelenggaraan Kelautan dilaksanakan berdasarkan asas: a. dan mampu mengedepankan kepentingan nasional dalam mendukung Pembangunan Kelautan secara optimal dan terpadu. beretika. memberikan kepastian hukum dan manfaat bagi seluruh masyarakat sebagai negara kepulauan. c. pemerataan.

dan c. b. e. Bagian Kedua Wilayah Perairan dan Wilayah Yurisdiksi Pasal 7 (1)Wilayah perairan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) meliputi: a. perairan pedalaman. Pasal 6 (1)Wilayah Laut terdiri atas wilayah perairan dan wilayah yurisdiksi serta laut lepas dan kawasan dasar laut internasional. (2)Negara Kesatuan Republik Indonesia berhak melakukan pengelolaan dan pemanfaatan kekayaan alam dan lingkungan Laut di wilayah Laut sebagaimana dimaksud pada ayat (1). sosial budaya. dan keselamatan di Laut. (3)Kedaulatan Indonesia sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tunduk pada ketentuan peraturan perundang-undangan. pengelolaan ruang Laut dan perlindungan lingkungan Laut. perairan pedalaman. pertahanan. perairan kepulauan. tata kelola dan kelembagaan. b. keamanan. f. dan g. laut teritorial. Pengelolaan Kelautan. d. politik. perairan kepulauan. Pembangunan Kelautan. (3)Pengelolaan dan pemanfaatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan dan hukum internasional. BAB IV WILAYAH LAUT Bagian Kesatu Umum Pasal 5 (1)Indonesia merupakan negara kepulauan yang seluruhnya terdiri atas kepulauan-kepulauan dan mencakup pulau-pulau besar dan kecil yang merupakan satu kesatuan wilayah. termasuk kekayaan alam yang terkandung di dalamnya. . wilayah Laut. dan historis yang batas-batas wilayahnya ditarik dari garis pangkal kepulauan. Konvensi Perserikatan BangsaBangsa tentang Hukum Laut Tahun 1982.(2)Penyelenggaraan Kelautan Indonesia sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: a. ekonomi. dan hukum internasional yang terkait. termasuk ruang udara di atasnya serta dasar Laut dan tanah di bawahnya. (2)Kedaulatan Indonesia sebagai negara kepulauan meliputi wilayah daratan. penegakan hukum. dan laut teritorial. c. pengembangan Kelautan.

Landas Kontinen. perairan kepulauan. dan perairan pedalaman.(2)Wilayah yurisdiksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) meliputi: a. dan c. Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia. yurisdiksi tertentu pada Zona Tambahan. (2)Di Zona Tambahan Indonesia berhak untuk: a. b. dan c. perairan Kepulauan. imigrasi. Pasal 8 (1)Negara Kesatuan Republik Indonesia berhak menetapkan Zona Tambahan Indonesia hingga jarak 24 mil laut dari garis pangkal. (3)Negara Kesatuan Republik Indonesia memiliki: a. . kedaulatan pada perairan pedalaman. b. (3)Penetapan dan pengelolaan Zona Tambahan Indonesia sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Zona Tambahan. mencegah pelanggaran ketentuan peraturan perundang-undangan tentang bea cukai. (3)Landas Kontinen di luar 200 mil laut yang telah ditetapkan harus dikelola sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan dan hukum laut internasional. dan hak berdaulat di dalam wilayah perairan dan wilayah yurisdiksi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dilaksanakan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan dan hukum internasional. hak berdaulat pada Zona Ekonomi Eksklusif dan Landas Kontinen. dan laut teritorial. (2)Batas Landas Kontinen di luar 200 mil laut dari garis pangkal harus disampaikan dan dimintakan rekomendasi kepada Komisi Batas-Batas Landas Kontinen Perserikatan Bangsa-Bangsa sebelum ditetapkan sebagai Landas Kontinen Indonesia oleh Pemerintah. dan b. yurisdiksi tertentu. menghukum pelanggaran terhadap ketentuan peraturan perundangundangan sebagaimana dimaksud pada huruf a yang dilakukan di dalam wilayah atau laut teritorialnya. Bagian Ketiga Laut Lepas dan Kawasan Dasar Laut Internasional Pasal 10 (1)Laut lepas merupakan bagian dari Laut yang tidak termasuk dalam Zona Ekonomi Eksklusif. fiskal. laut teritorial. atau saniter di dalam wilayah atau laut teritorialnya. Pasal 9 (1)Negara Kesatuan Republik Indonesia berhak untuk mengklaim Landas Kontinen di luar 200 mil laut dari garis pangkal. (4)Kedaulatan.

mencegah dan menanggulangi Pencemaran Laut dengan bekerja sama dengan negara atau lembaga internasional terkait. tata kelola dan kelembagaan. e. g. e. f. keamanan. b. melindungi kapal nasional. BAB V PEMBANGUNAN KELAUTAN Pasal 13 (1) Pembangunan Kelautan dilaksanakan sebagai bagian dari pembangunan nasional untuk mewujudkan Indonesia menjadi negara kepulauan yang mandiri. Pemerintah berwenang membuat perjanjian atau bekerja sama dengan lembaga internasional terkait. (2)Di laut lepas Pemerintah wajib: a. maupun sosial. penegakan hukum. pengelolaan ruang Laut dan pelindungan lingkungan Laut. dan f. Pasal 11 (1)Negara Kesatuan Republik Indonesia berhak melakukan konservasi dan pengelolaan sumber daya hayati di laut lepas.(2)Kawasan Dasar Laut Internasional merupakan dasar Laut serta tanah di bawahnya yang terletak di luar batas. berpartisipasi dalam pengelolaan perikanan melalui forum pengelolaan perikanan regional dan internasional. Pasal 12 (1)Di Kawasan Dasar Laut Internasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (2). pertahanan. pengelolaan Sumber Daya Kelautan. b. dan keselamatan di laut. ekonomi kelautan. (3)Pemberantasan kejahatan internasional di laut lepas sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a dilakukan melalui kerja sama dengan negara lain.batas yurisdiksi nasional. pengembangan sumber daya manusia. memberantas kejahatan internasional. c. dan berbasiskan kepentingan nasional. baik di bidang teknis. administratif. dan . c. maju. memberantas siaran gelap. (4)Konservasi dan pengelolaan sumber daya hayati sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan berdasarkan ketentuan peraturan perundangundangan dan hukum internasional. d. kuat. d. melakukan pengejaran seketika. (2) Pembangunan Kelautan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diselenggarakan melalui perumusan dan pelaksanaan kebijakan: a. (2)Perjanjian atau kerja sama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan dan hukum laut internasional. peningkatan kesejahteraan.

(3) Proses penyusunan kebijakan Pembangunan Kelautan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dilaksanakan sebagai berikut: a. (3) Basis pembangunan ekonomi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilaksanakan melalui penciptaan usaha yang sehat dan peningkatan . wisata bahari. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai kebijakan Pembangunan Kelautan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dalam Peraturan Pemerintah. Pasal 15 (1) Dalam rangka pemanfaatan dan pengusahaan Sumber Daya Kelautan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14. (3) Pengusahaan Sumber Daya Kelautan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa: a. sumber daya nonkonvensional. b. dan d. Kebijakan Pembangunan Kelautan dijabarkan ke dalam program setiap sektor dalam rencana pembangunan dan pengelolaan Sumber Daya Kelautan. industri Kelautan. b. perikanan. b. sumber daya pesisir dan pulau-pulau kecil. dan d. bangunan Laut. c. Pemerintah menetapkan kebijakan Pembangunan Kelautan terpadu jangka panjang sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. budaya bahari. perhubungan Laut. c. dan c. energi dan sumber daya mineral. (2) Pemanfaatan Sumber Daya Kelautan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat meliputi: a. Pemerintah menetapkan kebijakan ekonomi Kelautan. (2) Kebijakan ekonomi Kelautan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertujuan untuk menjadikan Kelautan sebagai basis pembangunan ekonomi. Pemerintah menetapkan kebijakan Pembangunan Kelautan terpadu jangka menengah dan jangka pendek.h. BAB VI PENGELOLAAN KELAUTAN Bagian Kesatu Umum Pasal 14 (1) Pemerintah dan Pemerintah Daerah sesuai dengan kewenangannya melakukan Pengelolaan Kelautan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat melalui pemanfaatan dan pengusahaan Sumber Daya Kelautan dengan menggunakan prinsip ekonomi biru.

. dan c. Pasal 19 (1) Dalam rangka peningkatan usaha perikanan. pihak perbankan bertanggung jawab dalam pendanaan suprastruktur usaha perikanan. menjaga kelestarian sumber daya ikan. b.kesejahteraan rakyat. melakukan perluasan kesempatan kerja dalam rangka meningkatkan taraf hidup nelayan dan pembudidaya ikan. (5) Anggaran Pembangunan Kelautan berasal dari anggaran pendapatan dan belanja negara dan/atau anggaran pendapatan dan belanja daerah. Pasal 17 (1) Pemerintah mengoordinasikan pengelolaan sumber daya ikan serta memfasilitasi terwujudnya industri perikanan. Pemerintah wajib menyertakan luas wilayah laut sebagai dasar pengalokasian anggaran Pembangunan Kelautan. (4) Untuk menjadikan Kelautan sebagai basis pembangunan ekonomi bangsa sebagaimana dimaksud pada ayat (2). Paragraf 2 Energi dan Sumber Daya Mineral Pasal 20 (1) Pemerintah mengembangkan dan memanfaatkan energi terbarukan yang berasal dari Laut dan ditetapkan dalam kebijakan energi nasional. Pemerintah bertanggung jawab: a. Pemerintah mengatur sistem logistik ikan nasional. menjamin iklim usaha yang kondusif bagi pembangunan perikanan. (2) Pendanaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam undangundang tersendiri. dan mengutamakan kepentingan nasional. (2) Dalam memfasilitasi terwujudnya industri perikanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). mandiri. Pasal 18 Untuk kepentingan distribusi hasil perikanan. terutama masyarakat pesisir dengan mengembangkan kegiatan ekonomi produktif. Bagian Kedua Pemanfaatan Sumber Daya Kelautan Paragraf 1 Perikanan Pasal 16 Pemerintah mengatur pengelolaan sumber daya ikan di wilayah perairan dan wilayah yurisdiksi serta menjalankan pengaturan sumber daya ikan di Laut lepas berdasarkan kerja sama dengan negara lain dan hukum internasional.

dan tanah dibawahnya untuk sebesarbesarnya kemakmuran rakyat. mengonservasi. Paragraf 4 Sumber Daya Alam Nonkonvensional Pasal 23 (1) Pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya alam nonkonvensional Kelautan dilakukan untuk sebesar. ekonomi.besarnya kemakmuran rakyat. dasar Laut. b. . melindungi. dan d. dan berkelanjutan. dan memperkaya sumber daya pesisir dan pulau-pulau kecil serta sistem ekologisnya secara berkelanjutan. dan budaya masyarakat melalui peran serta masyarakat dalam pemanfaatan sumber daya pesisir dan pulau-pulau kecil. merehabilitasi. memperkuat peran serta masyarakat dan lembaga pemerintah serta mendorong inisiatif masyarakat dalam pengelolaan sumber daya pesisir dan pulau.pulau kecil agar tercapai keadilan. sumber daya buatan. menciptakan keharmonisan dan sinergi antara Pemerintah dan Pemerintah Daerah dalam pengelolaan sumber daya pesisir dan pulau-pulau kecil. meningkatkan nilai sosial. memanfaatkan. keseimbangan. sumber daya nonhayati. Paragraf 3 Sumber Daya Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Pasal 22 (1) Pemerintah dan Pemerintah Daerah sesuai dengan kewenangannya bertanggung jawab mengelola dan memanfaatkan sumber daya pesisir dan pulau-pulau kecil. dan jasa lingkungan dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. (2) Pengaturan pemanfaatan sumber daya mineral sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan dan hukum internasional. (2) Pengelolaan dan pemanfaatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertujuan: a. c. Pasal 21 (1) Pemerintah mengatur dan menjamin pemanfaatan sumber daya mineral yang berasal dari Laut.(2) Pemerintah memfasilitasi pengembangan dan pemanfaatan energi terbarukan yang berasal dari Laut di daerah dengan memperhatikan potensi daerah. (3) Pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya pesisir dan pulau-pulau kecil yang meliputi sumber daya hayati.

Industri Kelautan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi industri bioteknologi. Pemerintah dan Pemerintah Daerah sesuai dengan kewenangannya wajib melakukan pembinaan terhadap peningkatan kualitas dan kuantitas pendukung industri Kelautan berskala usaha mikro kecil menengah dalam rangka menunjang ekonomi rakyat. dan jasa maritim. riset ilmu pengetahuan dan teknologi. (1) (2) (3) (4) Bagian Ketiga Pengusahaan Sumber Daya Kelautan Paragraf 1 Industri Kelautan Pasal 25 Pengusahaan Sumber Daya Kelautan yang dilakukan melalui pengelolaan dan pengembangan industri Kelautan merupakan bagian yang integral dari kebijakan pengelolaan dan pengembangan industri nasional. menghasilkan berbagai produk baru yang mempunyai nilai tambah. Pasal 26 (1) Pemerintah dan Pemerintah Daerah bertanggung jawab mengembangkan dan meningkatkan industri bioteknologi Kelautan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 ayat (2). sumber daya manusia. (2) Industri bioteknologi Kelautan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan memanfaatkan potensi keanekaragaman hayati. (2) Pelindungan. c. Pemerintah Daerah. mencegah punahnya biota Laut akibat eksplorasi berlebih. industri maritim. dan pengembangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang.undangan dan hukum laut internasional. d. serta industri kreatif dan pembiayaan. dan . b. dan masyarakat bertanggung jawab melaksanakan pelindungan. pemanfaatan. Pasal 24 (1) Pemerintah. (3) Industri bioteknologi Kelautan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertujuan untuk: a. pemanfaatan. inovasi. Pengelolaan dan pengembangan industri Kelautan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi prasarana dan sarana. mengurangi ketergantungan impor dengan memproduksi berbagai produk substitusi impor.(2) Pengelolaan dan pemanfaatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan dengan berdasarkan pada prinsip pelestarian lingkungan. dan pengembangan sumber daya nonkonvensional di bidang Kelautan. mengembangkan teknologi ramah lingkungan pada setiap industri bioteknologi Kelautan.

pengerukan dan pembersihan alur pelayaran. c. peralatan kapal. reklamasi. pencarian dan pertolongan. angkutan sungai. b. g. d. remediasi lingkungan. b. (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai industri maritim dan jasa maritim diatur dalam Peraturan Pemerintah. dan/atau h. (1) (2) (3) (4) Paragraf 2 Wisata Bahari Pasal 28 Pemerintah dan Pemerintah Daerah sesuai dengan kewenangannya memfasilitasi pengembangan potensi wisatabahari dengan mengacu pada kebijakan pengembangan pariwisata nasional. danau. c. f. Paragraf 3 Perhubungan Laut Pasal 29 (1) Pemerintah dan Pemerintah Daerah sesuai dengan kewenangannya mengembangkan potensi dan meningkatkan peran perhubungan laut. pengelolaan sumber daya Laut secara Pasal 27 (1) Industri maritim dan jasa maritim sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 ayat (2) dilaksanakan berdasarkan pada kebijakan Pembangunan Kelautan. penyeberangan. e. . galangan kapal. Keberlanjutan wisata bahari sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditujukan untuk kesejahteraan rakyat. digunakan kebijakan ekonomi Kelautan. Pengembangan wisata bahari dilaksanakan dengan mempertimbangkan aspek kepentingan masyarakat lokal dan kearifan lokal serta harus memperhatikan kawasan konservasi perairan. pengangkatan benda berharga asal muatan kapal tenggelam. jasa konstruksi. (2) Dalam rangka keberlanjutan industri maritim dan jasa maritim untuk kesejahteraan rakyat. pengadaaan dan pembuatan suku cadang. (4) Jasa maritim sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa: a. perawatan kapal. dan/atau d. pendidikan dan pelatihan. Pengembangan dan peningkatan wisata bahari sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. mengembangkan sistem berkesinambungan. dan antarpulau. (3) Industri maritim sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa: a.e.

(3) Pemerintah mengatur kebijakan sumber pembiayaan dan perpajakan yang berpihak pada kemudahan pengembangan sarana prasarana perhubungan laut serta infrastruktur dan suprastruktur kepelabuhanan. mendukung konektivitas antarpulau. Pasal 30 (1) Pemerintah dan Pemerintah Daerah sesuai dengan kewenangannya wajib mengembangkan dan meningkatkan penggunaan angkutan perairan dalam rangka konektivitas antarwilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. dan f. (4) Sistem pelabuhan yang andal sebagaimana dimaksud pada ayat (2) bercirikan: a. ketersediaan fasilitas kepelabuhanan di pulau-pulau kecil terluar.(2) Dalam pengembangan potensi dan peningkatan peran perhubungan laut sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pemerintah mengembangkan dan menetapkan tatanan kepelabuhanan dan sistem pelabuhan yang andal. Paragraf 4 Bangunan Laut Pasal 32 (1) Dalam rangka keselamatan pelayaran semua bentuk bangunan dan instalasi di Laut tidak mengganggu. c. termasuk antara pulau-pulau kecil terluar dengan pulau induknya. d. . (2) Area operasi dari bangunan dan instalasi di Laut tidak melebihi daerah keselamatan yang telah ditentukan. keterpaduan antara terminal dan kapal. termasuk fasilitas lingkungan dan pencegahan pencemaran lingkungan. efisien dan berstandar internasional. baik Alur Pelayaran maupun Alur Laut Kepulauan Indonesia. bebas monopoli. (4) Pemerintah memfasilitasi sumber pembiayaan usaha perhubungan laut melalui kebijakan perbankan nasional. b. Pasal 31 Pengembangan potensi perhubungan laut sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 dan Pasal 30 dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. ketersediaan fasilitas kepelabuhanan. (2) Dalam rangka pengembangan dan peningkatan angkutan perairan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (3) Tatanan kepelabuhanan yang andal sebagaimana dimaksud pada ayat (2) meliputi penentuan lokasi pelabuhan lautdalam yang dapat melayani kapal generasi mutakhir dan penetapan pelabuhan hub. Pemerintah melaksanakan kebijakan pengembangan armada nasional. e.

Bagian Kedua Pengembangan Sumber Daya Manusia Pasal 35 (1) Pemerintah dan Pemerintah Daerah sesuai dengan kewenangannya bertanggung jawab menyelenggarakan pengembangan sumber daya manusia melalui pendidikan. (2) Penyelenggaraan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat bekerja sama dengan berbagai pihak. dan d. dan mekanisme pendirian dan/atau penempatan bangunan di Laut diatur dalam Peraturan Pemerintah. c. Pasal 36 (1) Dalam pengembangan sumber daya manusia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35. (4) Pendirian dan/atau penempatan bangunan Laut wajib mempertimbangkan kelestarian sumber daya pesisir dan pulau-pulau kecil. persyaratan. pengembangan sumber daya manusia. peningkatan jasa di bidang Kelautan yang diimbangi dengan ketersediaan lapangan kerja.(3) Penggunaan area operasional dari bangunan dan instalasi di Laut yang melebihi daerah keselamatan yang telah ditentukan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) harus mendapatkan izin dari pihak yang berwenang. (3) Penyelenggaraan pendidikan dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Pasal 33 Pemerintah bertanggung jawab melakukan pengawasan terhadap aktivitas pembongkaran bangunan dan instalasi di Laut yang sudah tidak berfungsi. (2) Kebijakan pengembangan sumber daya manusia sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui: a. sistem informasi dan data Kelautan. . baik pada tingkat nasional maupun pada tingkat internasional yang berbasis kompetensi pada bidang Kelautan. kerja sama Kelautan. b. riset ilmu pengetahuan dan teknologi. (5) Ketentuan mengenai kriteria. BAB VII PENGEMBANGAN KELAUTAN Bagian Kesatu Umum Pasal 34 Pengembangan Kelautan meliputi: a. Pemerintah menetapkan kebijakan pengembangan sumber daya manusia dan kebijakan budaya bahari.

perbaikan. (1) (2) (3) (4) Bagian Ketiga Riset Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Pasal 37 Untuk meningkatkan kualitas perencanaan Pembangunan Kelautan. dan pembiayaannya diatur dalam Peraturan Pemerintah. penambahan sarana dan prasarana. Pelaksanaan sistem penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. pengadaan. dan e. pelatihan. d. identifikasi dan inventarisasi nilai budaya dan sistem sosial Kelautan di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai bagian dari sistem kebudayaan nasional. Dalam mengembangkan sistem penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (1). jenis. c. peningkatan pelindungan ketenagakerjaan. peningkatan gizi masyarakat Kelautan. dan c. kewenangannya. Pemerintah memfasilitasi pendanaan.b. serta penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi Kelautan yang merupakan bagian integral dari sistem nasional penelitian pengembangan penerapan teknologi. baik secara mandiri maupun kerja sama lintas sektor dan antarnegara. b. Pemerintah dan Pemerintah Daerah mengembangkan sistem penelitian. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai kebijakan budaya bahari sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diatur dalam Peraturan Pemerintah. Sistem penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak termasuk penelitian yang bersifat komersial. pengembangan standar kompetensi sumber daya manusia di bidang Kelautan. serta perizinan untuk penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi Kelautan. dan jenjang pendidikan. (2) Ketentuan mengenai pembentukan pusat fasilitas Kelautan serta tugas. Pasal 39 . riset. Pasal 38 (1) Pemerintah bekerja sama dengan Pemerintah Daerah membentuk pusat fasilitas Kelautan yang meliputi fasilitas pendidikan. dan pengembangan sistem informasi Kelautan. peningkatan dan penguatan peranan ilmu pengetahuan dan teknologi. pengembangan teknologi dengan tetap mempertimbangkan kearifan lokal. (3) Kebijakan budaya bahari sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui: a. dan penelitian yang dilengkapi dengan prasarana kapal latih dan kapal penelitian serta tenaga fungsional peneliti. pengembangan. peningkatan pendidikan dan penyadaran masyarakat tentang Kelautan yang diwujudkan melalui semua jalur.

(1) Pemerintah mengatur pelaksanaan penelitian ilmiah Kelautan dalam rangka kerja sama penelitian dengan pihak asing. Bagian Keempat Sistem Informasi dan Data Kelautan Pasal 40 (1) Pemerintah dan Pemerintah Daerah menghimpun. antara pusat dan daerah. hasil penelitian ilmiah Kelautan yang berupa data numerik beserta analisisnya. dimutakhirkan. b. . regional. (2) Kerja sama pada tingkat nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan dalam rangka sinergi: a. Bagian Kelima Kerja Sama Kelautan Pasal 41 (1) Kerja sama di bidang Kelautan dapat dilaksanakan pada tingkat nasional dan internasional dengan mengutamakan kepentingan nasional bagi kemandirian bangsa. dan mengembangkan sistem informasi dan data Kelautan dari berbagai sumber bagi kepentingan Pembangunan Kelautan nasional berdasarkan prinsip keterbukaan informasi publik sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. serta dikoordinasikan oleh lembaga penelitian negara sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. (2) Hasil pelaksanaan kerja sama penelitian dengan pihak asing sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib dilaporkan kepada Pemerintah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. c. (3) Kerja sama bidang Kelautan pada tingkat internasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan secara bilateral. dikelola. dimutakhirkan. pengelolaan Sumber Daya Kelautan. dan d. hasil penelitian yang berupa data spasial beserta analisisnya. memelihara. mengelola. dan pengembangan teknologi Kelautan. antarpemangku kepentingan. dan diintegrasikan oleh kementerian/lembaga yang ditunjuk sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. b. dan c. antarpemerintah daerah. atau multilateral. dikelola. (3) Sistem informasi dan data Kelautan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a dan data terkait sistem keamanan laut disimpan. (4) Sistem informasi dan data Kelautan hasil penelitian berupa data yang perlu dibuat peta sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b dan huruf c disimpan. dikoordinasikan. konservasi perairan. (2) Sistem informasi dan data Kelautan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi 3 (tiga) kategori: a. antarsektor. menyusun.

pemanfaatan. Pasal 43 (1) Perencanaan ruang Laut sebagaimana dimaksud dalam pasal 42 ayat (2) meliputi: a. (5) Pemerintah mendorong aktivitas eksplorasi. dan c. perencanaan zonasi kawasan Laut. perencanaan zonasi wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil. (2) Pengelolaan ruang Laut meliputi perencanaan. mengembangkan kawasan potensial menjadi pusat kegiatan produksi. b. dan pengelolaan Sumber Daya Kelautan di laut lepas sesuai dengan ketentuan hukum laut internasional. distribusi.(4) Kerja sama pada tingkat internasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan dan hukum laut internasional. perencanaan tata ruang Laut nasional. pemanfaatan. dan c. (3) Pengelolaan ruang Laut sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilaksanakan dengan berdasarkan karakteristik Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai negara kepulauan dan mempertimbangkan potensi sumber daya dan lingkungan Kelautan. Pasal 44 . (4) Perencanaan zonasi kawasan Laut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c merupakan perencanaan untuk menghasilkan rencana zonasi kawasan strategis nasional. memanfaatkan potensi sumber daya dan/atau kegiatan di wilayah Laut yang berskala nasional dan internasional. b. dan pengendalian. (2) Perencanaan tata ruang Laut nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a merupakan proses perencanaan untuk menghasilkan rencana tata ruang Laut nasional. (3) Perencanaan zonasi wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dilaksanakansesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. pengawasan. dan rencana zonasi kawasan antarwilayah. (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai perencanaan ruang Laut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah. BAB VIII PENGELOLAAN RUANG LAUT DAN PELINDUNGAN LINGKUNGAN LAUT Bagian Kesatu Pengelolaan Ruang Laut Pasal 42 (1) Pengelolaan ruang Laut dilakukan untuk: a. melindungi sumber daya dan lingkungan dengan berdasar pada daya dukung lingkungan dan kearifan lokal. dan jasa. rencana zonasi kawasan strategis nasional tertentu.

b. dan/atau f. e. c. (2) Pemantauan. (3) Setiap orang yang melakukan pemanfaatan ruang Laut secara menetap di wilayah perairan dan wilayah yurisdiksi yang tidak sesuai dengan izin yang diberikan dikenai sanksi administratif berupa: a. dan pelaporan. penghentian sementara kegiatan. peringatan tertulis. evaluasi. dan c. (2) Pemanfaatan ruang Laut di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. pembatalan izin. (4) Ketentuan mengenai izin lokasi di Laut yang berada di wilayah perairan dan wilayah yurisdiksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan tata cara pengenaan sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diatur dengan Peraturan Pemerintah. perumusan kebijakan strategis operasionalisasi rencana tata ruang Laut nasional dan rencana zonasi kawasan Laut. Pasal 45 (1) Pengawasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42 ayat (2) dilakukan melalui tindakan pemantauan. penutupan lokasi. (2) Izin lokasi yang berada di wilayah pesisir dan pulau. pelaksanaan program strategis dan sektoral dalam rangka mewujudkan rencana tata ruang Laut nasional dan zonasi kawasan Laut. d. . perumusan program sektoral dalam rangka perwujudan rencana tata ruang Laut nasional dan rencana zonasi kawasan Laut. pencabutan izin. Pasal 47 (1) Setiap orang yang melakukan pemanfaatan ruang Laut secara menetap di wilayah perairan dan wilayah yurisdiksi wajib memiliki izin lokasi. dan pelaporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Pasal 46 Pengendalian pemanfaatan ruang Laut sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42 ayat (2) dilakukan melalui perizinan. evaluasi.(1) Pemanfaatan ruang Laut sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42 ayat (2) dilakukan melalui: a.pulau kecil dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. denda administratif. b. Pasal 48 Setiap orang yang melakukan pemanfaatan ruang Laut sesuai dengan rencana zonasi dapat diberi insentif sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. pemberian insentif. dan pengenaan sanksi.

(4) Setiap sektor yang melaksanakan pembangunan di wilayah perairan dan wilayah yurisdiksi harus memperhatikan kawasan konservasi. (2) Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah sesuai dengan kewenangannya memiliki hak pengelolaan atas kawasan konservasi Laut sebagai bagian dari pelaksanaan kebijakan Pelindungan Lingkungan Laut sebagaimana dimaksud pada ayat (1). pencemaran yang berasal dari kegiatan dari udara. Bagian Kedua Pelindungan Lingkungan Laut Pasal 50 Pemerintah melakukan upaya pelindungan lingkungan Laut melalui: a. pengendalian Pencemaran Laut. pencemaran yang berasal dari kegiatan di Laut. dan c. b. penanggulangan bencana Kelautan. pencemaran yang berasal dari daratan.000. (3) Proses penyelesaian sengketa dan penerapan sanksi Pencemaran Laut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dilaksanakan berdasarkan prinsip pencemar membayar dan prinsip kehati-hatian. c. Pasal 51 (1) Pemerintah menetapkan kebijakan konservasi Laut sebagai bagian yang integral dengan Pelindungan Lingkungan Laut.undangan. (2) Pencemaran Laut sebagaimana dimaksud pada ayat (1)dapat terjadi: a. atau c.000. (3) Kebijakan konservasi Laut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus dilaksanakan secara lintas sektor dan lintas kawasan untuk mendukung Pelindungan Lingkungan Laut. di wilayah perairan atau wilayah yurisdiksi. pencegahan dan penanggulangan pencemaran. dari dalam wilayah perairan atau wilayah yurisdiksi ke luar wilayah yurisdiksi Indonesia. dari luar wilayah perairan atau dari luar wilayah yurisdiksi.Pasal 49 Setiap orang yang melakukan pemanfaatan ruang Laut secara menetap yang tidak memiliki izin lokasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 47 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan pidana denda paling banyak Rp20. b.00 (dua puluh miliar rupiah). (5) Kebijakan dan pengelolaan konservasi Laut dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang. Pasal 52 (1) Pencemaran Laut meliputi: a. kerusakan. dan d. dan bencana. b.000. konservasi Laut. .

(2) Bencana Kelautan yang disebabkan oleh fenomena alam sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dapat berupa: a. c. serangan hewan secara musiman. pengembangan perencanaan nasional tanggap darurat tumpahan minyak di Laut. b. dan e. Pemerintah menetapkan kebijakan penanggulangan dampak Pencemaran Laut dan bencana Kelautan. el nino dan la nina. radiasi nuklir. gempa bumi. d.(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai proses penyelesaian dan sanksi terhadap Pencemaran Laut dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Pasal 53 (1) Bencana Kelautan dapat berupa bencana yang disebabkan: a. angin topan. fenomena pasang merah (red tide). kenaikan muka air Laut. dan e. tsunami. d. kenaikan suhu. Pasal 55 . fenomena alam. b. Pasal 54 (1) Dalam mengantisipasi Pencemaran Laut dan bencana Kelautan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 dan Pasal 53. pencemaran minyak. b. pencemaran lingkungan. dispersi thermal. pengembangan sistem pengendalian pencemaran Laut dan kerusakan ekosistem Laut. (3) Bencana Kelautan yang disebabkan oleh pencemaran lingkungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dapat berupa: a. c. b. dan/atau c. pengembangan sistem mitigasi bencana. dan e. dan/atau c. rob. pemanasan global. pengembangan sistem peringatan dini (early warning system). b. pencemaran logam berat. (4) Bencana Kelautan yang disebabkan oleh pemanasan global sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c dapat berupa: a. d. c. pengendalian dampak sisa-sisa bangunan di Laut dan aktivitas di Laut. (2) Kebijakan penanggulangan dampak Pencemaran Laut dan bencana Kelautan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan melalui: a.

(2) Yurisdiksi dalam penegakan kedaulatan dan hukum terhadap kapal asing yang sedang melintasi laut teritorial dan perairan kepulauan Indonesia . Pasal 59 (1) Penegakan kedaulatan dan hukum di perairan Indonesia. (3) Pemerintah bekerja sama.(1) Pemerintah dan Pemerintah Daerah wajib menyelenggarakan sistem pencegahan dan penanggulangan pencemaran dan kerusakan lingkungan Laut. maupun multilateral dalam melaksanakan pencegahan. (2) Sistem pertahanan laut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diselenggarakan oleh kementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pertahanan dan Tentara Nasional Indonesia. (2) Pelindungan dan pelestarian lingkungan Laut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui pencegahan. dan melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia dari ancaman dan gangguan terhadap keutuhan bangsa dan negara di wilayah Laut. dan pengendalian lingkungan Laut dari setiap Pencemaran Laut serta penanganan kerusakan lingkungan Laut. dan pengendalian sebagaimana dimaksud pada ayat (2). termasuk kekayaan alam yang terkandung di dalamnya serta sanksi atas pelanggarannya dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan dan hukum internasional. (2) Pemerintah dan Pemerintah Daerah wajib menyelenggarakan sistem pencegahan dan penanggulangan bencana Kelautan sebagai bagian yang terintegrasi dengan sistem pencegahan dan penanggulangan bencana nasional. mempertahankan keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. pengurangan. dan tanah di bawahnya. Pasal 56 (1) Pemerintah bertanggung jawab dalam melindungi dan melestarikan lingkungan Laut. KEAMANAN. pengurangan. dasar Laut. regional. DAN KESELAMATAN DI LAUT Pasal 58 (1) Untuk mengelola kedaulatan negara. (3) Sistem pertahanan laut sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. BAB IX PERTAHANAN. dibentuk sistem pertahanan laut. baik bilateral. PENEGAKAN HUKUM. Pasal 57 Pelindungan dan pelestarian lingkungan Laut sebagaimana dimaksud dalam Pasal 56 dilaksanakan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan dan hukum laut internasional.

memberikan bantuan pencarian dan pertolongan di wilayah perairan Indonesia dan wilayah yurisdiksi Indonesia. Badan Keamanan Laut menyelenggarakan fungsi: a. pengawasan. e. mengintegrasikan sistem informasi keamanan dan keselamatan di wilayah perairan Indonesia dan wilayah yurisdiksi Indonesia. Badan Keamanan Laut berwenang: a. menangkap. dan g. Pasal 63 (1) Dalam melaksanakan tugas dan fungsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 61 dan Pasal 62. Pasal 62 Dalam melaksanakan tugas. b. menyinergikan dan memonitor pelaksanaan patroli perairan oleh instansi terkait. menyusun kebijakan nasional di bidang keamanan dan keselamatan di wilayah perairan Indonesia dan wilayah yurisdiksi Indonesia.dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan dan hukum internasional. melakukan pengejaran seketika. (2) Kewenangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan secara terintegrasi dan terpadu dalam satu kesatuan komando dan kendali. f. menyelenggarakan sistem peringatan dini keamanan dan keselamatan di wilayah perairan Indonesia dan wilayah yurisdiksi Indonesia. Pasal 60 Badan Keamanan Laut sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59 ayat (3) merupakan lembaga pemerintah nonkementerian yang berkedudukan di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada Presiden melalui menteri yang mengoordinasikannya. c. melaksanakan penjagaan. b. . dan c. melaksanakan tugas lain dalam sistem pertahanan nasional. pencegahan. dan menyerahkan kapal ke instansi terkait yang berwenang untuk pelaksanaan proses hukum lebih lanjut. membawa. d. (3) Dalam rangka penegakan hukum di wilayah perairan dan wilayah yurisdiksi. dan penindakan pelanggaran hukum di wilayah perairan Indonesia dan wilayah yurisdiksi Indonesia. khususnya dalam melaksanakan patroli keamanan dan keselamatan di wilayah perairan dan wilayah yurisdiksi Indonesia. memeriksa. memberikan dukungan teknis dan operasional kepada instansi terkait. dibentuk Badan Keamanan Laut. Pasal 61 Badan Keamanan Laut mempunyai tugas melakukan patroli keamanan dan keselamatan di wilayah perairan Indonesia dan wilayah yurisdiksi Indonesia. memberhentikan.

tata kerja. Pasal 66 Personal Badan Keamanan Laut terdiri atas: a. (1) (2) (3) (4) BAB X TATA KELOLA DAN KELEMBAGAAN LAUT Pasal 69 Pemerintah menetapkan kebijakan tata kelola dan kelembagaan Laut. Kebijakan tata kelola dan kelembagaan Laut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi rencana pembangunan sistem hukum dan tata pemerintahan serta sistem perencanaan. pemonitoran. pegawai tetap. (3) Kepala Badan Keamanan Laut diangkat dan diberhentikan oleh Presiden. Pasal 65 (1) Badan Keamanan Laut dipimpin oleh seorang kepala dan dibantu oleh sekretaris utama dan beberapa deputi. pegawai perbantuan. (2) Kepala Badan Keamanan Laut dijabat oleh personal dari instansi penegak hukum yang memiliki kekuatan armada patroli. Pemerintah melakukan penataan hukum laut dalam suatu sistem hukum nasional.Pasal 64 Kebijakan nasional di bidang keamanan dan keselamatan di wilayah perairan Indonesia dan wilayah yurisdiksi Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 62 huruf a ditetapkan oleh Presiden. koordinasi. BAB XI PERAN SERTA MASYARAKAT Pasal 70 (1) Penyelenggaraan Pembangunan Kelautan dilakukan oleh Pemerintah dan Pemerintah Daerah dengan melibatkan peran serta masyarakat.Undang ini ditetapkan. baik melalui aspek publik maupun aspek perdata dengan memperhatikan hukum internasional. dan evaluasi Pembangunan Kelautan yang efektif dan efisien. tata kerja. dan b. Ketentuan lebih lanjut mengenai kebijakan tata kelola dan kelembagaan Laut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam Peraturan Pemerintah. Pasal 67 Ketentuan lebih lanjut mengenai struktur organisasi. dan personal Badan Keamanan Laut diatur dengan Peraturan Presiden. dan personal Badan Keamanan Laut harus sudah ditetapkan dalam waktu paling lama 6 (enam) bulan sejak Undang. Dalam menyusun kebijakan tata kelola dan kelembagaan Laut sebagaimana dimaksud pada ayat (1). . Pasal 68 Peraturan Presiden tentang struktur organisasi.

BAB XIII KETENTUAN PENUTUP Pasal 72 Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku. (2) Sebelum terbentuknya Badan Keamanan Laut. restorasi.Undang ini.(2) Peran serta masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan secara perseorangan. . dan konservasi. kegiatan dan program kerja yang dilaksanakan oleh Badan Koordinasi Keamanan Laut disesuaikan dengan Undang. melestarikan nilai budaya dan wawasan bahari serta merevitalisasi hukum adat dan kearifan lokal di bidang Kelautan. c. (4) Peran serta masyarakat selain sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat dilakukan melalui partisipasi dalam: a. badan usaha. (3) Peran serta masyarakat dalam Pembangunan Kelautan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui partisipasi dalam: a. dan d. pengembangan Kelautan. organisasibprofesi. BAB XII KETENTUAN PERALIHAN Pasal 71 (1) Badan Koordinasi Keamanan Laut tetap menjalankan tugas dan fungsinya sampai dengan terbentuknya Badan Keamanan Laut sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59 ayat (3). penyusunan kebijakan Pembangunan Kelautan. Pasal 74 Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. memberikan masukan dalam kegiatan evaluasi dan pengawasan. atau b. b. atau organisasi kemasyarakatan lain sesuai dengan prinsip keterbukaan dan kemitraan. Pasal 73 Peraturan pelaksanaan Undang-Undang ini harus telah ditetapkan paling lambat 2 (dua) tahun setelah berlakunya undang-undang ini. ketentuan mengenai pembentukan badan koordinasi sebagaimana diatur dalam Pasal 24 ayat (3) Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1996 tentang Perairan Indonesia (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1996 Nomor 73 Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3647) dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai bentuk dan tata cara peran serta masyarakat dalam Pembangunan Kelautan sebagaimanadimaksud pada ayat (1) diatur dalam Peraturan Pemerintah. kelompok. Pengelolaan Kelautan. pelindungan dan sosialisasi peninggalan budaya bawah air melalui usaha preservasi.

ttd.Agar setiap orang mengetahuinya. memerintahkan pengundangan UndangUndang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. H. Disahkan di Jakarta pada tanggal 17 Oktober 2014 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO Diundangkan di Jakarta Pada tanggal 17 Oktober 2014 MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA ttd. DR. AMIR SYAMSUDIN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2014 NOMOR 294 .

politik. potensi sumber daya alam di wilayah Laut mengandung sumber daya hayati ataupun nonhayati yang sangat bermanfaat bagi kelangsungan hidup masyarakat. secara geografis Indonesia terletak diantara dua benua. sosial. pertahanan. dan dilestarikan oleh masyarakat Indonesia sesuai dengan yang diamanatkan dalam Pasal 33 Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. dimanfaatkan. kolom air dan permukaan Laut. Letak geografis yang strategis tersebut menjadikan Indonesia memiliki keunggulan serta sekaligus ketergantungan yang tinggi terhadap bidang Kelautan.PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2014 TENTANG KELAUTAN I. Di samping keunggulan yang bersifat komparatif berdasarkan letak geografis. Selain kekayaan yang ada. sangat logis jika ekonomi Kelautan dijadikan tumpuan bagi pembangunan ekonomi nasional. budaya. Oleh karena itu. yaitu Benua Asia dan Benua Australia dan dua Samudera. UMUM Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dengan potensid a n kekayaan alam yang berlimpah sebagai karunia Tuhan Yang Maha Esa memiliki makna yang sangat penting bagi bangsa Indonesia sebagai ruang hidup (lebenstraum) dan ruang juang serta media pemersatu yang menghubungkan pulau-pulau dalam satu kesatuan ideologi. yaitu Samudera Hindia dan Samudera Pasifik yang merupakan kawasan paling dinamis dalam percaturan. . Dua pertiga dari wilayah Indonesia merupakan Laut dan merupakan salah satu negara yang memiliki garis pantai terpanjang di dunia. Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928 yang menyatakan kesatuan kejiwaan kebangsaan Indonesia. yaitu: 1. Di samping itu. dan keamanan dalam suatu wadah ruang wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. baik secara ekonomis maupun politik. Laut Indonesia harus dikelola. termasuk wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil. ekonomi. Dalam perjalanannya negara Indonesia mengalami 3 (tiga) momen yang menjadi pilar dalam memperkukuh keberadaan Indonesia menjadi suatu negara yang merdeka dan negara yang didasarkan atas Kepulauan sehingga diakui oleh dunia. keunggulan komparatif yang dimiliki perlu dijabarkan menjadi kekayaan yang komparatif. dijaga. Potensi tersebut dapat diperoleh dari dasar Laut dan tanah di bawahnya.

Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 tidak mengatur kedudukan laut teritorial. dilakukan upaya untuk mewujudkan kesatuan wilayah kepulauan nusantara yang merupakan kesatuan dari wilayah darat. udara di atasnya. dan seluruh kekayaan yang terkandung di dalamnya merupakan suatu kesatuan kewilayahan. di antara dan yang menghubungkan pulau-pulau atau bagian pulau-pulau yang termasuk daratan Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan tidak memandang luas atau lebarnya adalah bagian-bagian yang wajar daripada wilayah daratan Indonesia dan merupakan bagian dari perairan nasional yang berada di bawah kedaulatan mutlak dari Indonesia. Perjuangan untuk mewujudkan kesatuan wilayah tersebut ditenggarai dengan Deklarasi Djuanda yang berdasarkan pertimbangan politis. Wilayah negara Indonesia pada saat diproklamasikan menjadi negara yang merdeka dan berdaulat dalam wilayah negara bekas jajahan atau kekuasaan Hindia Belanda. Laut. Pada saat Republik Indonesia diproklamasikan berdasarkan Peraturan Peralihan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia. termasuk dasar Laut di bawahnya. dan 3. Deklarasi Djuanda tanggal 13 Desember 1957 yang menyatakan bahwa Indonesia mulai memperjuangkan kesatuan kewilayahan dan pengakuan secara de jure yang tertuang dalam Konvensi Perserikatan Bangsa Bangsa tentang Hukum Laut 1982 (United Nations Convention on the Law of the Sea/UNCLOS 1982) dan yang diratifikasi oleh Indonesia melalui UndangUndang Nomor 17 Tahun 1985. dan keamanan. geografis. Oleh sebab itu. Proklamasi Kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945 yang menyatakan bahwa rakyat Indonesia telah menjadi satu bangsa yang ingin hidup dalam satu kesatuan kenegaraan. Indonesia menyatakan bahwa segala perairan di sekitar. Kondisi kewilayahan seperti tertuang dalam TZMKO tahun 1939 dinilai kurang menguntungkan serta menyulitkan Indonesia dalam segi pertahanan.2. Di dalam Deklarasi Djuanda. pertahanan. Hal itu sejalan dengan prinsip hukum internasional uti posidetis juris. Selain itu. Pada saat kemerdekaan batas wilayah Indonesia tidak jelas karena Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 tidak menunjuk wilayah negara Indonesia secara nyata. ekonomis. Hal itu berarti bahwa diantara pulau-pulau Jawa dan Kalimantan serta antara Nusa Tenggara dan Sulawesi terdapat laut lepas. . lebar laut teritorial berdasarkan Teritoriale Zee en Maritime Kringen Ordonantie (TZMKO) Tahun 1939 adalah bahwa lebar laut teritorial Indonesia hanya meliputi jalurjalur Laut yang mengelilingi setiap pulau atau bagian pulau Indonesia yang lebarnya hanya 3 mil laut.

melainkan juga merupakan tantangan nyata bahwa wilayah Laut harus dikelola. pemanfaatan. baik pada lingkup perencanaan. dan landas kontinen. perlu pengaturan mengenai Kelautan yang bertujuan menegaskan Indonesia sebagai negara kepulauan berciri nusantara dan maritim. Selain itu. Zona Ekonomi Eksklusif. serta pengawasan dan pengendalian. disebutkan pula bahwa perairan yang terletak di sisi dalam garis pangkal lurus yang menghubungkan titik-titik terluar dari pulau. Hal tersebut disebabkan belum adanya undangundang yang secara komprehensif mengatur keterpaduan berbagai kepentingan sektor di wilayah Laut. Kendala tersebut dapat ditemukan. delegasi Indonesia untuk pertama kalinya mencetuskan gagasan konsepsi negara kepulauan. Penambahan luas perairan Indonesia sangatlah signifikan dan harus dilihat bukan saja sebagai aset nasional. dijaga. Konvensi tersebut mengakui konsep hukum negara kepulauan dan menetapkan bahwa negara kepulauan berhak untuk menarik garis pangkal kepulauan untuk mengukur laut teritorial. Akan tetapi. zona tambahan. Pembangunan Kelautan hingga saat ini masih menghadapi berbagai kendala di dalam pelaksanaannya. Deklarasi Djuanda dikukuhkan dengan Undang-Undang Nomor 4/Prp Tahun 1960 tentang Wilayah Perairan yang menetapkan laut teritorial Indonesia selebar 12 mil laut dari garis pangkal kepulauan Indonesia. mendayagunakan Sumber Daya Kelautan dan/atau kegiatan di .pulau dalam negara kepulauan Indonesia merupakan perairan pedalaman tempat Indonesia memiliki kedaulatan mutlak. pada sidang kedua belas Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut Ketiga. Akhirnya. pelaksanaan kedaulatan di perairan kepulauan dalam UNCLOS 1982 menghormati hak negara lain atas Hak Lintas Alur Laut Kepulauan. dalam Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut yang pertama tahun 1958 di Jenewa. Perjuangan delegasi Indonesia dalam rangka pengakuan konsep negara kepulauan terus dilakukan di Konferensi Perserikatan Bangsa Bangsa tentang Hukum Laut yang kedua dan ketiga. naskah Konvensi ditandatangani oleh 119 negara dan resmi menjadi Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut 1982 yang terdiri atas 17 Bab dan 320 Pasal.Untuk memperjuangkan wilayah Indonesia sesuai dengan Deklarasi Djuanda. Oleh sebab itu. sedangkan perairan yang berada di sisi darat garis pangkal diakui sebagai perairan pedalaman dan perairan lainnya yang berada di antara pulau-pulau yang berada di sisi dalam garis pangkal diakui sebagai perairan kepulauan. dan diamankan bagi kepentingan bangsa Indonesia.

keterbukaan. pengembangan Kelautan. peran serta masyarakat. akuntabilitas. pelaksanaan. keselamatan di Laut. keamanan. kepastian hukum. konsistensi. Lingkup pengaturan dalam penyelenggaraan Kelautan meliputi wilayah Laut. II. pengawasan. dan mengembangkan peran Negara Kesatuan Republik Indonesia dalam percaturan Kelautan global sesuai dengan hukum laut internasional untuk kepentingan bangsa dan negara. pengelolaan ruang Laut dan pelindungan lingkungan Laut. Huruf b Yang dimaksud dengan “konsistensi” adalah konsistensi dari berbagai instansi dan lapisan pemerintahan dari perencanaan. dan keadilan. PASAL DEMI PASAL Pasal 1 Cukup jelas. Pengelolaan Kelautan. Pembangunan Kelautan. penegakan hukum. desentralisasi. memajukan budaya dan pengetahuan Kelautan bagi masyarakat. Penyelenggaraan Kelautan juga dilaksanakan berdasarkan asas keberlanjutan. Huruf c Yang dimaksud dengan “keterpaduan” adalah integrasi kebijakan Kelautan melalui perencanaan berbagai sektor . pemerataan. kemitraan.wilayah Laut sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan dan hukum laut internasional demi tercapainya kemakmuran bangsa dan negara. beretika. mengembangkan sumber daya manusia di bidang Kelautan yang profesional. pertahanan. mewujudkan Laut yang lestari serta aman sebagai ruang hidup dan ruang juang bangsa Indonesia. memanfaatkan Sumber Daya Kelautan secara berkelanjutan untuk sebesar-besarnya kesejahteraan bagi generasi sekarang tanpa mengorbankan kepentingan generasi mendatang. berdedikasi. dan pengendalian untuk melaksanakan program pengelolaan Sumber Daya Kelautan. keterpaduan. Pasal 2 Huruf a Yang dimaksud dengan “keberlanjutan” adalah pemanfaatan sumber daya kelautan yang tidak melampaui daya dukung dan memiliki kemampuan mempertahankan kebutuhan generasi yang akan datang.memberikan kepastian hukum dan manfaat bagi seluruh masyarakat sebagai negara kepulauan. serta peran serta masyarakat. dan mampu mengedepankan kepentingan nasional dalam mendukung Pembangunan Kelautan secara optimal dan terpadu. tata kelola dan kelembagaan.

d Yang dimaksud dengan “kepastian hukum” adalah seluruh pengelolaan dan pemanfaatan Kelautan yang didasarkan pada ketentuan hukum. h Yang dimaksud dengan “keterbukaan” adalah adanya keterbukaan bagi masyarakat untuk memperoleh informasi yang benar. pengawasan. g Peran serta masyarakat dimaksudkan agar masyarakat mempunyai peran dalam perencanaan. pengawasan. pemanfaatan. i Yang dimaksud dengan “desentralisasi” adalah pelimpahan sebagian urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan Pemerintah kepada gubernur sebagai wakil Pemerintah. dan/atau kepada gubernur dan bupati/wali kota sebagai penanggung jawab urusan pemerintahan umum. f Yang dimaksud dengan “pemerataan” adalah pemanfaatan potensi Sumber Daya Kelautan yang dilakukan untuk sebesarbesarnya kemakmuran rakyat dan kesejahteraan masyarakat. dan pengendalian dengan tetap memperhatikan pelindungan atas hak asasi pribadi. pelaksanaan. k Yang dimaksud dengan “keadilan” adalah materi muatan Undang. e Yang dimaksud dengan “kemitraan” adalah kesepakatan kerja sama antarpihak yang berkepentingan berkaitan dengan pengelolaan Sumber Daya Kelautan. j Yang dimaksud dengan “akuntabilitas” adalah penyelenggaraan Kelautan dilakukan secara terbuka dan dapat dipertanggungjawabkan. dan pengendalian dalam penyelenggaraan Kelautan. dan rahasia negara. . dan tidak diskriminatif mengenai penyelenggaraan Kelautan dari tahap perencanaan.Huruf Huruf Huruf Huruf Huruf Huruf Huruf Huruf pemerintahan secara horizontal dan secara vertikal antara Pemerintah dan Pemerintah Daerah. kepada instansi vertikal di wilayah tertentu.Undang ini harus mencerminkan hak dan kewajiban secara proporsional bagi setiap warga negara. golongan. jujur.

Cukup jelas. Cukup jelas.Pasal 3 Pasal 4 Pasal 5 Pasal 6 Cukup jelas. Huruf b Yang dimaksud dengan “perairan kepulauan” adalah semua perairan yang terletak pada sisi dalam garis pangkal kepulauan tanpa memperhatikan kedalaman atau jarak dari pantai. sepanjang kelanjutan alamiah wilayah daratan hingga pinggiran luar tepi kontinen atau hingga suatu jarak 200 (dua ratus) mil laut dari garis pangkal dari mana lebar laut teritorial . Huruf b Yang dimaksud dengan “Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia” adalah suatu area di luar dan berdampingan dengan laut teritorial Indonesia sebagaimana dimaksud dalam undangundang yang mengatur mengenai perairan Indonesia dengan batas terluar 200 (dua ratus) mil laut dari garis pangkal dari mana lebar laut teritorial diukur. Ayat (2) Huruf a Yang dimaksud dengan “zona tambahan” adalah zona yang lebarnya tidak melebihi 24 (dua puluh empat) mil laut yang diukur dari garis pangkal dari mana lebar laut teritorial diukur. termasuk kedalamnya semua bagian dari perairan yang terletak pada sisi darat dari suatu garis penutup. Pasal 7 Ayat (1) Huruf a Yang dimaksud dengan “perairan pedalaman” adalah semua perairan yang terletak pada sisi darat dari garis air rendah pantai-pantai Indonesia. Cukup jelas. Huruf c Yang dimaksud dengan“laut teritorial” adalah jalur laut selebar 12 (dua belas) mil laut yang diukur dari garis pangkal Kepulauan Indonesia. Huruf c Landas Kontinen meliputi dasar Laut dan tanah dibawahnya dari area di bawah permukaan Laut yang terletak di luar laut teritorial.

diukur; dalam hal pinggiran luar tepi kontinen tidak mencapai
jarak tersebut hingga paling jauh 350 (tiga ratus lima puluh) mil
laut atau sampai dengan jarak 100 (seratus) mil laut dari garis
kedalaman (isobath) 2.500 (dua ribu lima ratus) meter.

Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Pasal 8
Cukup jelas.
Pasal 9
Cukup jelas.
Pasal10
Cukup jelas.
Pasal 11
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Yang dimaksud dengan “siaran gelap” adalah transmisi suara
radio atau siaran televisi dari kapal atau instalasi di laut lepas
yangnditujukan
untuk
penerimaan
oleh
umum
yang
bertentangan dengan peraturan internasional, tetapi tidak
termasuk di dalamnya transmisi permintaan pertolongan.
Huruf c
Cukup jelas.
Huruf d
Pengejaran seketika di laut lepas dilakukan terhadap kapal asing
atau salah satu dari sekocinya yang diduga melakukan
pelanggaranmhukum sebagai kelanjutan pengejaran yang
dilakukan secara tidak terputus dari perairan pedalaman,
perairanmkepulauan, laut teritorial, atau Zona Tambahan
Indonesia.
Huruf e
Cukup jelas.
Huruf f
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)

Cukup jelas.
Pasal 12
Cukup jelas.
Pasal 13
Cukup jelas.
Pasal 14
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan “ekonomi biru” adalah sebuah pendekatan
untuk meningkatkan Pengelolaan Kelautan berkelanjutan serta
konservasi Laut dan sumber daya pesisir beserta ekosistemnya dalam
rangka mewujudkan pertumbuhan ekonomi dengan prinsip- prinsip
antara lain keterlibatan masyarakat, efisiensi sumber daya,
meminimalkan limbah, dan nilai tambah ganda (multiple revenue).
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Pasal 15
Cukup jelas.
Pasal 16
Cukup jelas.
Pasal 17
Cukup jelas.
Pasal 18
Cukup jelas.
Pasal 19
Cukup jelas.
Pasal 20
Cukup jelas.
Pasal 21
Cukup jelas.
Pasal 22
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Yang dimaksud dengan “sumber daya hayati” meliputi ikan, terumbu
karang, padang lamun, mangrove, dan biota Laut lain.
Yang dimaksud dengan “sumber daya nonhayati” meliputi pasir, air
Laut, dan mineral dasar Laut.

Yang dimaksud dengan “sumber daya buatan” meliputi infrastruktur
Laut yang terkait dengan Kelautan dan perikanan.
Yang dimaksud dengan “jasa lingkungan” berupa keindahan alam,
permukaan dasar Laut tempat instalasi bawah air yang terkait dengan
Kelautan dan perikanan, serta energi gelombang Laut.
Pasal 23
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan “sumber daya alam nonkonvensional” adalah
sumber daya alam yang belum dimanfaatkan secara optimal.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Pasal 24
Cukup jelas.
Pasal 25
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Yang dimaksud dengan “industri bioteknologi” adalah seperangkat
teknologi yang mengadaptasi dan memodifikasi organisme biologis,
proses, produk, dan sistem yang ditemukan di alam untuk tujuan
memproduksi barang dan jasa.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Pasal 26
Cukup jelas.
Pasal 27
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c

Cukup jelas.
Huruf d
Cukup jelas.
Huruf e
Cukup jelas.
Huruf f
Cukup jelas.
Huruf g
Yang dimaksud dengan “jasa konstruksi” meliputi layanan jasa
konsultasi perencanaan pekerjaan konstruksi, layanan jasa
pelaksanaan pekerjaan konstruksi, dan layanan jasa konsultasi
pengawasan konstruksi.
Huruf h
Cukup jelas.
Ayat (5)
Cukup jelas.
Pasal 28
Cukup jelas.
Pasal 29
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Yang dimaksud dengan “kapal generasi mutakhir” adalah kapal yang
dirancang bangun dengan mempergunakan teknologi maju, ramah
lingkungan, dan memiliki tingkat keselamatan yang tinggi dalam
pengoperasiannya.
Yang dimaksud dengan “pelabuhan hub” adalah pelabuhan utama
primer yang berfungsi melayani kegiatan dan alih muatan angkutan
Laut nasional dan internasional dalam jumlah besar dan jangkauan
pelayaran yang sangat luas serta merupakan simpul dalam jaringan
transportasi Laut internasional.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Pasal 30
Cukup jelas.
Pasal 31
Cukup jelas.
Pasal 32
Ayat (1)

Yang dimaksud dengan “bangunan dan instalasi di Laut” adalah setiap
konstruksi, baik yang berada di atas dan/atau di bawah permukaan
Laut, yang menempel pada daratan, maupun yang tidak menempel
pada daratan, antara lain konstruksi reklamasi, prasarana pariwisata
kelautan, dan prasarana perhubungan.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Yang dimaksud dengan “mempertimbangkan kelestarian sumber daya
pesisir, Laut, dan pulau-pulau kecil” antara lain pelindungan terhadap
erosi pantai dan pelindungan terhadap ekosistem pesisir dan Laut.
Ayat (5)
Cukup jelas.
Pasal 33
Cukup jelas.
Pasal 34
Cukup jelas.
Pasal 35
Cukup jelas.
Pasal 36
Cukup jelas.
Pasal 37
Ayat (1)
Pengembangan sistem penelitian, pengembangan, serta penerapan
ilmu pengetahuan dan teknologi Kelautan, termasuk di dalamnya
biofarmakologi Kelautan.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Pasal 38
Cukup jelas.
Pasal 39
Cukup jelas.
Pasal 40
Ayat (1)

Cukup jelas.
Ayat (2)
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Yang dimaksud dengan “data spasial” merupakan data yang
berkaitan dengan lokasi keruangan yang umumnya berbentuk
peta.
Huruf c
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Pasal 41
Cukup jelas.
Pasal 42
Cukup jelas.
Pasal 43
Ayat (1)
Perencanaan ruang Laut merupakan suatu proses untuk menghasilkan
rencana tata ruang Laut dan/atau rencana zonasi untuk menentukan
struktur ruang Laut dan pola ruang Laut. Struktur ruang Laut
merupakan susunan pusat pertumbuhan Kelautan dan sistem jaringan
prasarana dan sarana Laut yang berfungsi sebagai pendukung kegiatan
sosial ekonomi masyarakat yang secara hierarkis memiliki hubungan
fungsional.
Pola ruang Laut meliputi kawasan pemanfaatan umum, kawasan
konservasi, alur laut, dan kawasan strategis nasional tertentu.
Perencanaan ruang Laut dipergunakan untuk menentukan kawasan
yang dipergunakan untuk kepentingan ekonomi, sosial budaya,
misalnya, kegiatan perikanan, prasarana perhubungan Laut, industri
maritim, pariwisata, permukiman, dan pertambangan; untuk
melindungi kelestarian sumber daya Kelautan; serta untuk menentukan
perairan yang dimanfaatkan untuk alur pelayaran, pipa/kabel bawah
Laut, dan migrasi biota Laut.
Huruf a
Perencanaan tata ruang laut nasional mencakup wilayah
perairan dan wilayah yurisdiksi.

Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Rencana zonasi kawasan strategis nasional (KSN) merupakan rencana
yang disusun untuk menentukan arahan pemanfaatan ruang kawasan
strategis nasional.
Rencana zonasi kawasan strategis nasional tertentu (KSNT) merupakan
rencana yang disusun untuk menentukan arahan pemanfaatan ruang
di kawasan strategis nasional tertentu.
Yang dimaksud dengan “kawasan antarwilayah” antara lain meliputi:
b. teluk misalnya Teluk Tomini, Teluk Bone, dan Teluk Cendrawasih;
c. selat misalnya Selat Makassar, Selat Sunda, dan Selat Karimata;
dan
d. Laut misalnya Laut Jawa, Laut Arafura, dan Laut Sawu.
Ayat (5)
Cukup jelas.
Pasal 44
Ayat (1)
Huruf a
Perumusan kebijakan strategis operasionalisasi rencana tata
ruang dan/atau rencana zonasi dilakukan penetapan pola ruang
Laut ke dalam kawasan pemanfaatan umum, kawasan
konservasi, kawasan strategis nasional tertentu, dan alur laut.
Huruf b
Perumusan
program
sektoral
merupakan
penjabaran
pemanfaatan ruang beserta pembiayaannya yang dilakukan
secara bertahap sesuai dengan jangka waktu indikasi program
utama pemanfaatan ruang yang termuat dalam rencana tata
ruang dan/atau zonasi.
Huruf c
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.

Pasal 48 Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. melestarikan. Ayat (3) Cukup jelas. Huruf b . Pasal 47 Ayat (1) Yang dimaksud dengan “izin lokasi” meliputi izin yang diberikan untuk memanfaatkan ruang dari sebagian perairan Laut yang mencakup permukaan Laut dan kolom air sampai dengan permukaan dasar Laut pada batas keluasan tertentu. Pasal 50 Huruf a Konservasi Laut dilakukan untuk melindungi. menilai tingkat pencapaian rencana secara objektif. termasuk ekosistem. jenis. dan memanfaatkan sumber daya Laut. evaluasi. Pasal 49 Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. dan memberikan informasi hasil evaluasi secara terbuka. Ayat (2) Cukup jelas. dan pelaporan terhadap pengelolaan ruang Laut merupakan kegiatan mengamati dengan cermat.Pasal 45 Ayat (1) Tindakan pemantauan. dan genetik untuk menjamin keberadaan. Pasal 46 Cukup jelas. ketersediaan dan kesinambungannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas nilai keanekaragaman sumber daya Laut. Upaya konservasi Laut termasuk pelindungan dan pelestarian biota Laut yang memiliki daya jelajah dan ruaya jauh seperti reptil (berbagai jenis penyu Laut) dan mamalia Laut (paus dan dugong) serta dalam rangka pelindungan situs budaya dan fitur geomorfologi Laut seperti gunung Laut.

serta keracunan yang bisa menyebabkan kematian pada manusia karena fitoplankton mengeluarkan racun. perubahan struktur komunitas ekosistem perairan. kesehatan manusia. Pasal 51 Cukup jelas. kimia. Huruf d Yang dimaksud dengan “kerusakan” adalah perubahan langsung dan/atau tidak langsung terhadap sifat fisik. Huruf c Yang dimaksud dengan “penanggulangan bencana” adalah serangkaian upaya yang meliputi penetapan kebijakan pembangunan yang berisiko timbulnya bencana. Pasal 53 Ayat (1) Cukup jelas. dan/atau hayati lingkungan Laut yang berdampak merugikan bagi sumber daya Laut. penanggulangan. dan kegiatan Kelautan lainnya. Huruf c Cukup jelas. Huruf b Cukup jelas. . Ayat (4) Cukup jelas. kegiatan pencegahan bencana. Huruf e Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. dan pemulihan. Huruf d Yang dimaksud dengan “dispersi thermal” adalah sebaran panas di Laut. tanggap darurat. Ayat (3) Huruf a Yang dimaksud dengan “fenomena pasang merah (red tide)” adalah sebuah fenomena alam air Laut yang berubah warna yang disebabkan oleh fitoplankton sehingga menyebabkan kematian massal biota Laut. dan rehabilitasi.Yang dimaksud dengan “pengendalian Pencemaran Laut” adalah kegiatan yang meliputi pencegahan. Pasal 52 Cukup jelas.

Pasal 62 Cukup jelas. Pasal 59 Cukup jelas. Pasal 56 Cukup jelas. Pasal 64 Cukup jelas. Pasal 58 Cukup jelas.Pasal 54 Cukup jelas. Huruf b Yang dimaksudndengan “menyerahkan kapal ke instansi terkait yang berwenang” dapat dilaksanakan penyerahan di Laut atau di pelabuhan terdekat. Huruf c Cukup jelas. Pasal 60 Cukup jelas. Pasal 61 Cukup jelas. Pasal 57 Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 63 Ayat (1) Huruf a Cukup jelas. Pasal 55 Cukup jelas. Pasal 66 Huruf a Yang dimaksud dengan “pegawai tetap” adalah pegawai yang berasal dari internal Badan Keamanan Laut. Pasal 65 Cukup jelas. Huruf b .

Yang dimaksud dengan “pegawai perbantuan” adalah pegawai yang berasal dari instansi penegak hukum yang diperbantukan di Badan Keamanan Laut. jelas. jelas. TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5603 . jelas. jelas. Pasal 67 Cukup Pasal 68 Cukup Pasal 69 Cukup Pasal 70 Cukup Pasal 71 Cukup Pasal 72 Cukup Pasal 73 Cukup Pasal 74 Cukup jelas. jelas. jelas. jelas.

bahwa untuk itu perlu menetapkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan tentang Penangkapan Lobster (Panulirus spp. sebagaimana telah diubah. 2.). DAN RAJUNGAN (Portunus pelagicus spp. dan Fungsi Eselon I Kementerian Negara. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5073). sehingga perlu dilakukan pembatasan penangkapan terhadap Lobster (Panulirus spp. Peraturan Presiden Nomor 47 Tahun 2009 tentang Pembentukan dan Organisasi Kementerian Negara.) telah mengalami penurunan populasi. sebagaimana telah diubah.). b.PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1/PERMEN-KP/2015 TENTANG PENANGKAPAN LOBSTER (Panulirus spp. dan Rajungan (Portunus pelagicus spp. Tugas. Tugas. Menimbang : a. Kepiting (Scylla spp. Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 118. dan Fungsi Kementerian Negara serta Susunan Organisasi. bahwa keberadaan dan ketersediaan Lobster (Panulirus spp.).).). Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4433) sebagaimana telah diubah dengan UndangUndang Nomor 45 Tahun 2009 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 154. Kepiting (Scylla spp. terakhir dengan Peraturan Presiden Nomor 80 Tahun 2014 . 3.). KEPITING (Scylla spp. Peraturan Presiden Nomor 24 Tahun 2010 tentang Kedudukan.). Kepiting (Scylla spp.) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA. dan Rajungan (Portunus pelagicus spp. Mengingat : 1. terakhir dengan Peraturan Presiden Nomor 13 Tahun 2014 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 24). dan Rajungan (Portunus pelagicus spp.).).).

).) Pasal 1 Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan: 1.). DAN RAJUNGAN (Portunus pelagicus spp.). KEPITING (Scylla spp. Direktur Jenderal adalah Direktur Jenderal yang melaksanakan tugas teknis di bidang perikanan tangkap.) dengan ukuran panjang karapas >8 cm (di atas delapan sentimeter). Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor PER. Peraturan Presiden Nomor 165 Tahun 2014 tentang Penataan Tugas dan Fungsi Kabinet Kerja (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 339). dan . Korporasi adalah kumpulan orang dan/atau kekayaan yang terorganisasi baik merupakan badan hukum maupun bukan badan hukum. 5. Pasal 2 Setiap orang dilarang melakukan penangkapan Lobster (Panulirus spp. dan Rajungan (Portunus pelagicus spp.15/MEN/2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Kelautan dan Perikanan. Kepiting (Scylla spp. Kepiting (Scylla spp. Kepiting (Scylla spp. Lobster (Panulirus spp.).) dapat dilakukan dengan ukuran: a.(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 189).) dalam kondisi bertelur. Pasal 3 (1) Penangkapan Lobster (Panulirus spp. b.) dengan ukuran lebar karapas >15 cm (di atas lima belas sentimeter). 2. Keputusan Presiden Nomor 121/P Tahun 2014 Tentang Pembentukan Kementerian dan Pengangkatan Menteri Kabinet Kerja Periode Tahun 2014-2019.). 3. dan Rajungan (Portunus pelagicus spp. Menteri adalah Menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang perikanan. 6. 4.). 4. Setiap orang adalah orang perseorangan atau korporasi. MEMUTUSKAN Menetapkan : : PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN TENTANG PENANGKAPAN LOBSTER (Panulirus spp.

Kepiting (Scylla spp.) dalam kondisi bertelur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 dan/atau dengan ukuran yang tidak sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) jika masih dalam keadaan hidup. (2) Cara Pengukuran Lobster (Panulirus spp. ttd.). dan Rajungan (Portunus pelagicus spp. Rajungan (Portunus pelagicus spp.).). dan Rajungan (Portunus pelagicus spp. b. Kepiting (Scylla spp.c.). Pasal 4 Setiap orang yang menangkap Lobster (Panulirus spp. SUSI PUDJIASTUTI Diundangkan di Jakarta pada tanggal 7 Januari 2015 MENTERI HUKUM DAN HAM REPUBLIK INDONESIA ttd.) dengan ukuran lebar karapas >10 cm (di atas sepuluh sentimeter).). LAOLY BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2015 NOMOR 7 .) sebagaimana tercantum dalam Lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini. Agar setiap orang mengetahuinya.). Kepiting (Scylla spp. melakukan pencatatan Lobster (Panulirus spp. YASONNA H. memerintahkan pengundangan Peraturan Menteri ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia. Kepiting (Scylla spp.). Ditetapkan di Jakarta Pada tanggal 6 Januari 2015 MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA.) wajib: a.) dalam kondisi bertelur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 dan/atau dengan ukuran yang tidak sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) yang tertangkap dalam keadaan mati dan melaporkan kepada Direktur Jenderal melalui kepala pelabuhan pangkalan sebagaimana tercantum dalam Surat Izin Penangkapan Ikan. Pasal 5 Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. dan Rajungan (Portunus pelagicus spp. dan Rajungan (Portunus pelagicus spp.). melepaskan Lobster (Panulirus spp.

.

). dan Rajungan (Portunus pelagicus spp. Kepiting (Scylla spp.). SUSI PUDJIASTUTI .) Gambar Pengukuran lobster Gambar Pengukuran Kepiting Gambar Pengukuran Rajungan MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA. KEPITING (Scylla spp.).LAMPIRAN PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIANOMOR 1/PERMEN-KP/2015 TENTANG PENANGKAPAN LOBSTER (Panulirus spp.) Cara Pengukuran Lobster (Panulirus spp. ttd.). DAN RAJUNGAN (Portunus pelagicus spp.

b. Mengingat : 1.PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2/PERMEN-KP/2015 TENTANG LARANGAN PENGGUNAAN ALAT PENANGKAPAN IKAN PUKAT HELA (TRAWLS) DAN PUKAT TARIK (SEINE NETS) DI WILAYAH PENGELOLAAN PERIKANAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA. 2. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5073). Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4433) sebagaimana telah diubah dengan UndangUndang Nomor 45 Tahun 2009 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 154. Menimbang : a. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 244. bahwa penggunaan alat penangkapan ikan Pukat Hela (trawls) dan Pukat Tarik (seine nets) di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia telah mengakibatkan menurunnya sumber daya ikan dan mengancam kelestarian lingkungan sumber daya ikan. perlu menetapkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan tentang Larangan Penggunaan Alat Penangkapan Ikan Pukat Hela (Trawls) dan Pukat Tarik (Seine Nets) di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia. sehingga perlu dilakukan pelarangan penggunaan alat penangkapan ikan Pukat Hela (trawls) dan Pukat Tarik (seine nets). Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5587). Peraturan Presiden Nomor 47 Tahun 2009 tentang Pembentukan dan Organisasi Kementerian Negara . 3. Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 118. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a.

terakhir dengan Peraturan Presiden Nomor 135 Tahun 2014 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 273). dan Fungsi Kementerian Negara serta Susunan Organisasi. 7. 6. Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor PER. sebagaimana telah diubah terakhir dengan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 42/PERMEN-KP/2014 (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 1466). Tugas. . Pasal 1 Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan: 1. Peraturan Presiden Nomor 24 Tahun 2010 tentang Kedudukan. terakhir dengan Peraturan Presiden Nomor 13 tahun 2014 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 25). 5. Alat Penangkapan ikan adalah sarana dan perlengkapan atau benda-benda lainnya yang dipergunakan untuk menangkap ikan. MEMUTUSKAN: Menetapkan : sebagaimana telah diubah. Tugas.15/MEN/2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Kelautan dan Perikanan. 8.06/MEN/2010 tentang Alat Penangkapan Ikan di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia. 9.02/MEN/2011 tentang Jalur Penangkapan Ikan dan Penempatan Alat Penangkapan Ikan dan Alat Bantu Penangkapan Ikan di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 43). dan Fungsi Eselon I Kementerian Negara sebagaimana telah diubah. LARANGAN PENGGUNAAN ALAT PENANGKAPAN IKAN PUKAT HELA (TRAWLS) DAN PUKAT TARIK (SEINE NETS) DI WILAYAH PENGELOLAAN PERIKANAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA. Peraturan Presiden Nomor 165 Tahun 2014 tentang Penataan Tugas dan Fungsi Kabinet Kerja (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 339). Keputusan Presiden Nomor 121/P Tahun 2014 tentang Pembentukan Kementerian dan Pengangkatan Menteri Kabinet Kerja Periode Tahun 2014-2019. Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor KEP. Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor PER.4.

Pasal 3 (1) Alat penangkapan ikan pukat hela (trawls) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 terdiri dari: a. c. (3) Pukat hela pertengahan (midwater trawls). dan d. nephrops trawls. b. dan e. pukat hela pertengahan udang (shrimp trawls). yang selanjutnya disingkat SIPI. dogol (danish seines). pukat hela dasar berpalang (beam trawls). Korporasi adalah kumpulan orang perseorangan dan/atau kekayaan yang terorganisasi baik merupakan badan hukum maupun bukan badan hukum. dan b. adalah izin tertulis yang harus dimiliki setiap kapal perikanan untuk melakukan penangkapan ikan yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Surat Izin Usaha Perikanan. 4. pukat hela dasar udang (shrimp trawls). pukat hela pertengahan berpapan (otter trawls). (2) Pukat tarik berkapal (boat or vessel seines) sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b terdiri dari: a. Setiap orang adalah orang perseorangan atau korporasi. Surat Izin Penangkapan Ikan. terdiri dari: a. pukat hela dasar berpapan (otter trawls). pukat hela pertengahan dua kapal (pair trawls). b. 3. pukat dorong. pukat tarik pantai (beach seines). berupa pukat udang. dan c. terdiri dari: a. sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b. Pasal 2 Setiap orang dilarang menggunakan alat penangkapan ikan pukat hela (trawls) dan alat penangkapan ikan pukat tarik (seine nets) di seluruh Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia. pukat hela pertengahan (midwater trawls). c.2. Pasal 4 (1) Alat penangkapan ikan pukat tarik (seine nets) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 terdiri dari: a. d. berupa pukat ikan. pukat hela dasar (bottom trawls). pukat tarik berkapal (boat or vessel seines). (2) Pukat hela dasar (bottom trawls) sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a. b. pukat hela dasar dua kapal (pair trawls). . pukat hela kembar berpapan (otter twin trawls).

memerintahkan pengundangan Peraturan Menteri ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia. scottish seines. Pasal 6 SIPI dengan alat penangkapan ikan pukat hela (trawls) dan alat penangkapan ikan pukat tarik (seine nets) yang telah diterbitkan sebelum berlakunya Peraturan Menteri ini. masih tetap berlaku sampai dengan habis masa berlakunya. Pasal 5 Pengkodean dan gambar alat penangkapan ikan pukat hela (trawls) dan alat penangkapan ikan pukat tarik (seine nets) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 sebagaimana tercantum dalam Lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini. Pasal 24 dan Lampiran Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor PER. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 8 Januari 2015 MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA. f. ttd. Pasal 7 Pada saat Peraturan Menteri ini mulai berlaku. sebagaimana telah diubah terakhir dengan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 42/PERMEN-KP/2014 (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 1466) dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.02/MEN/2011 tentang Jalur Penangkapan Ikan dan Penempatan Alat Penangkapan Ikan dan Alat Bantu Penangkapan Ikan di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 43). pair seines. cantrang. c. Pasal 8 Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.b. e. d. Agar setiap orang mengetahuinya. payang. dan lampara dasar. ketentuan mengenai penggunaan alat penangkapan ikan pukat hela (trawls) dan alat penangkapan ikan pukat tarik (seine nets) sebagaimana diatur dalam Pasal 23. SUSI PUDJIASTUTI .

LAOLY BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2015 NOMOR 31 . ttd. YASONNA H.Diundangkan di Jakarta pada tanggal 9 Januari 2015 MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA.

Nephrops trawl (Nephrops trawl).3 Gambar 3. Pukat hela dasar dua kapal (pair trawls) d.1. Pukat hela dasar berpalang (Beam trawls). TB. 03. 03. 03. Pukat hela dasar berpapan (Otter trawls) c.LAMPIRAN: PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2/PERMEN-KP/2015 TENTANG LARANGAN PENGGUNAAN ALAT PENANGKAPAN IKAN PUKAT HELA (TRAWLS) DAN PUKAT TARIK (SEINE NETS) DI WILAYAH PENGELOLAAN PERIKANAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA ALAT PENANGKAPAN IKAN PUKAT HELA (TRAWLS) DAN PUKAT TARIK (SEINE NETS) DI WILAYAH PENGELOLAAN PERIKANAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA A. Pukat hela dasar berpapan (Otter trawls).1 Gambar 1.0.2 Gambar 2. Pukat hela dasar berpalang b. Pukat hela dasar dua kapal (pair trawls). TBB.0: a. Jenis alat penangkapan ikan pukat hela. Pukat hela dasar (Bottom Trawls).4 .1. 03. 03. 03.1. OTB. TBN.0: 1.1. PTB.1.

03. PTM.5 Pukat udang. Pukat hela pertengahan (Midwater trawls). TBS.1 Pukat ikan. 03.2 . Nephrops trawl (Nephrops trawls) e. Pukat hela pertengahan dua kapal (Pair trawls). 03.2. 03.0: a.1. Pukat udang 2.2. OTM. Pukat hela pertengahan berpapan (Otter trawls).1 Gambar 6.Gambar 4.2. OTM-PI. Pukat ikan b. TBS-PU. TM.1.2. Pukat hela dasar udang (Shrimp trawls). 03.1.5. 03.1 Gambar 5.

2.9. Pukat hela kembar berpapan (Otter twin trawls) 4. Pukat dorong.Gambar 7.3.3 Gambar 8.1 . TX-PD. 03.0. Pukat hela pertengahan udang (Shrimp trawls). Pukat hela pertengahan dua kapal (Pair trawls) c. Pukat hela pertengahan udang (Shrimp trawls) 3. 03. TMS 03. OTT.0 Gambar 9. Pukat hela kembar berpapan (Otter twin trawls).

Pukat tarik pantai 2. Scottish seines.2.1. 02.Gambar 10. 02. 02. Jenis alat penangkapan ikan Pukat Tarik (Seine Nets).2 . Pukat tarik pantai (Beach seines).0: a.1 Gambar 12. SB. SDN. SSC 02.0 Gambar 11.0. Dogol (Danish seines) b. Pukat dorong B. Dogol (Danish seines). Pukat tarik berkapal (boat or vessel seines). 02. SV.2.0: 1.2.

Pair seines d.2 .0. SV-CTG. Scottish seines c. 02. Cantrang.Gambar 13. 02. 02.3 Gambar 14.2. SPR. Payang.0. Payang e.2. SV-PYG.1 Gambar 15. Pair Seines.2.

ttd. SUSI PUDJIASTUTI . Lampara dasar: SV-LDS.3 Gambar 17. 02.2.0. Lampara Dasar MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA.Gambar 16. Cantrang f.