Anda di halaman 1dari 57

A.

Kesehatan dalam Sosial Budaya
Seperti kita ikuti bersama, akhir-akhir ini diskusi tentang global change
banyak diangkat. Berbagai perubahan sosial, ekonomi, budaya, teknologi
dan politik mengharuskan jalinan hubungan di antara masyarakat
manusia di seluruh dunia. Fenomena ini dirangkum dalam terminologi
globalisation. Ditengah riuh rendah globalisasi inilah muncul wacana
Dampak Perubahan Sosial dan Budaya. Dampak dari perubahan sosial
dan budaya sendiri diartikan sebagai perubahan dalam skala besar pada
sistem bio-fisik dan ekologi yang disebabkan aktifitas manusia. Perubahan
ini terkait erat dengan sistem penunjang kehidupan planet bumi (lifesupport system). Ini terjadi melalui proses historis panjang dan
merupakan agregasi pengaruh kehidupan manusia terhadap lingkungan,
yang tergambar misalnya pada angka populasi yang terus meningkat,
aktifitas ekonomi, dan pilihan-pilihan teknologi dalam memacu
pertumbuhan ekonomi. Saat ini pengaruh dan beban terhadap lingkungan
hidup sedemikian besar, sehingga mulai terasa gangguan-gangguan
terhadap Sistem Bumi kita.
Perubahan sosial dan budaya yang terjadi seiring tekanan besar yang
dilakukan manusia terhadap sistem alam sekitar, menghadirkan berbagai
macam risiko kesehatan dan kesejahteraan bagi seluruh umat manusia.
Sebagai contoh, kita terus mempertinggi konsentrasi gas-gas tertentu yang
menyebabkan meningkatkan efek alami rumah kaca (greenhouse) yang
mencegah bumi dari pendinginan alami (freezing). Selama abad 20 ini,
suhu rata-rata permukaan bumi meningkat sekitar 0,6oC dan sekitar duaper-tiga pemanasan ini terjadi sejak tahun 1975. Dampak perubahan sosial
dan budaya penting lainnya adalah menipisnya lapisan ozon, hilangnya
keaneragaman hayati (bio-diversity), degradasi kualitas lahan,
penangkapan ikan melampaui batas (over-fishing), terputusnya siklus
unsur-unsur penting (misalnya nitrogen, sulfur, fosfor), berkurangnya
suplai air bersih, urbanisasi, dan penyebaran global berbagai polutan
organik. Dari kacamata kesehatan, hal-hal di atas mengindikasikan bahwa
kesehatan umat manusia dipengaruhi oleh berbagai faktor yang terjadi di
luar batas kemampuan daya dukung ruang lingkungan dimana mereka
hidup.
Dalam skala global, selama seperempat abad ke belakang, mulai tumbuh
perhatian serius dari masyarakat ilmiah terhadap penyakit-penyakit yang
terkait dengan masalah lingkungan, seperti kanker yang disebabkan racun
tertentu (toxin related cancers), kelainan reproduksi atau gangguan
pernapasan dan paru-paru akibat polusi udara. Secara institusional
International Human Dimensions Programme on Global Environmental
Change (IHDP) membangun kerjasama riset dengan Earth System Science
Partnership dalam menyongsong tantangan permasalahan kesehatan dan
Dampak dari perubahan sosial dan budaya.
Pengaruh perubahan iklim global terhadap kesehatan umat manusia
bukan pekerjaan mudah. Dibutuhkan kerja keras dan pendekatan interdisiplin diantaranya dari studi evolusi, bio-geografi, ekologi dan ilmu
1

sosial. Di sisi lain kemajuan teknik penginderaan jauh (remote sensing)
dan aplikasi-aplikasi sistem informasi geografis akan memberikan
sumbangan berarti dalam melakukan monitoring lingkungan secara multitemporal dan multi-spatial resolution. Dua faktor ini sangat relevan
dengan tantangan studi dampak perubahan sosial dan budaya terhadap
kesehatan lingkungan yang memerlukan analisa historis keterkaitan
dampak perubahan sosial dan budaya dan kesehatan serta analisa
pengaruh perubahan sosial dan budaya di tingkat lokal, regional hingga
global.
B. Bagaimana Perubahan Sosial dan Budaya Mempengaruhi
Kesehatan Manusia?
Ada tiga alur tingkatan pengaruh perubahan sosial dan budaya terhadap
kesehatan. Pengaruh ini dari urutan atas ke bawah menunjukkan
peningkatan kompleksitas dan pengaruhnya bersifat semakin tidak
langsung pada kesehatan. Pada alur paling atas, terlihat bagaimana
perubahan pada kondisi mendasar lingkungan fisik (contohnya: suhu
ekstrim atau tingkat radiasi ultraviolet) dapat mempengaruhi biologi
manusia dan kesehatan secara langsung (misalnya sejenis kanker kulit).
Alur pada dua tingkatan lain, di tengah dan bawah, mengilustrasikan
proses-proses dengan kompleksitas lebih tinggi, termasuk hubungan
antara kondisi lingkungan, fungsi-fungsi ekosistem, dan kondisi sosialekonomi.
Alur tengah dan bawah menunjukkan tidak mudahnya menemukan
korelasi langsung antara perubahan lingkungan dan kondisi kesehatan.
Akan tetapi dapat ditarik benang merah bahwa perubahan-perubahan
lingkungan ini secara langsung atau tidak langsung bertanggung jawab
atas faktor-faktor penyangga utama kesehatan dan kehidupan manusia,
seperti produksi bahan makanan, air bersih, kondisi iklim, keamanan
fisik, kesejahteraan manusia, dan jaminan keselamatan dan kualitas
sosial. Para praktisi kesehatan dan lingkungan pun akan menemukan
banyak domain permasalahan baru di sini, menambah deretan
permasalahan pemunculan toksi-ekologi lokal, sirkulasi lokal penyebab
infeksi, sampai ke pengaruh lingkungan dalam skala besar yang bekerja
pada gangguan kondisi ekologi dan proses penyangga kehidupan ini.
Jelaslah bahwa resiko terbesar dari dampak perubahan sosial dan budaya
atas kesehatan dialami mereka yang paling rentan lokasi geografisnya atau
paling rentan tingkat sumber daya sosial dan ekonominya.
C. Aktifitas Penduduk bagi Kesehatan
Sebagaimana disinggung di atas, masyarakat manusia sangat bervariasi
dalam tingkat kerentanan terhadap serangan kesehatan. Kerentanan ini
merupakan fungsi dari kemampuan masyarakat dalam beradaptasi
terhadap perubahan iklim dan lingkungan. Kerentanan juga bergantung
pada beberapa faktor seperti kepadatan penduduk, tingkat ekonomi,
ketersediaan makanan, kondisi lingkungan lokal, kondisi kesehatannya itu
sendiri, dan kualitas serta ketersediaan fasilitas kesehatan publik.
2

Wabah demam berdarah yang melanda negeri kita menyiratkan betapa
rentannya kondisi kesehatan-lingkungan di Indonesia saat ini, baik dilihat
dari sisi antisipasi terhadap wabah, kesigapan peanggulangannya sampai
pada penanganan para penderita yang kurang mampu. Merebaknya
wabah di kawasan urban juga menyiratkan kerentanan kondisi lingkungan
dan kerentanan sosial-ekonomi. Hal ini terkait dengan patron penggunaan
lahan, kepadatan penduduk, urbanisasi, meningkatnya kemiskinan di
kawasan urban, selain faktor lain seperti rendahnya pemberantasan
nyamuk vektor penyakit sejak dini, atau resistensi nyamuk sampai
kemungkinan munculnya strain atau jenis virus baru.
Pada dekade lalu penelitian ilmiah yang menghubungkan pengaruh
perubahan iklim global terhadap kesehatan dapat dirangkum dalam tiga
katagori besar. Pertama, studi-studi empiris untuk mencari salinghubungan antara kecenderungan dan variasi iklim dengan keadaan
kesehatan. Kedua, studi-studi untuk mengumpulkan bukti-bukti
munculnya masalah kesehatan sebagai akibat perubahan iklim. Ketiga,
studi-studi pemodelan kondisi kesehatan di masa depan. Penelitian
empiris jenis pertama dan kedua dimanfaatkan untuk mengisi kekosongan
pengetahuan serta memperkirakan kondisi kesehatan sebagai tanggapan
terhadap perubahan iklim dan lingkungan (scenario-based health risk
assessment).
Akan tetapi, menimbang variasi kerentanan sosial-ekonomi yang telah
kita singgung, keberhasilan sumbangan ilmiah di atas hanya akan optimal
jika didukung paling tidak dua faktor lain, yaitu faktor administratiflegislatif dan faktor cultural-personal (kebiasaan hidup). Administrasilegislasi adalah pembuatan aturan yang memaksa semua orang atau
beberapa kalangan tertentu untuk melakukan tindakan-tindakan preventif
dan penanggulangan menghadapi masalah ini. Cakupan kerja faktor ini
adalah dari mulai tingkatan supra-nasional, nasional sampai tingkat
komunitas tertentu. Selanjutnya secara kultural-personal masyarakat
didorong secara sadar dan sukarela untuk melakukan aksi-aksi yang
mendukung kesehatan-lingkungan melalui advokasi, pendidikan atau
insentif ekonomi. Faktor ini dikerjakan dari tingkatan supra-nasional
sampai tingkat individu.
D. Upaya yang Dapat Dilakukan
Aktifitas penelitian yang menghubungkan kajian lingkungan dan
kesehatan secara integral serta kerja praktis sistematis dari hasil
penelitian ilmiah di atas masih sangat sedikit dilakukan di Indonesia.
Menghadapi tantangan lingkungan dan kesehatan ini diperlukan
terobosan-terobosan institusional baru diantara lembaga terkait
lingkungan hidup dan kesehatan, misalnya dilakukan rintisan kerjasama
intensif yang diprakarsai Departemen Kesehatan, Departemen Sosial dan
Kementerian Lingkungan Hidup bersama lembaga penyedia data
keruangan seperti Bakosurtanal (pemetaan) dan LAPAN (analisa melalui
citra satelit). Untuk mewujudkan kerjasama di tataran praktis komunitas
atau LSM pemerhati lingkungan hidup mesti berkolaborasi dengan Ikatan
3

Dokter Indonesia bersama asosiasi profesi seperti Ikatan Surveyor
Indonesia (ISI), Masyarakat Penginderaan Jauh (MAPIN) dalam
mewujudkan agenda-agenda penelitian dan program-program
penanganan permasalahan kesehatan dan perubahan lingkungan di
tingkat lokal hingga nasional.
Hadirnya wacana dan penelitian sosial budaya dengan kompleksitas,
ketidakpastian konsep-metodologi, dan perubahan-perubahan besar di
masa depan, telah menghadirkan tantangan-tantangan dan tugas-tugas
bagi komunitas ilmiah, masyarakat dan para pengambil keputusan.
Penelitian ilmiah yang cenderung lamban, kini harus berganti dengan
usaha-usaha terarah dan cepat menghadapi urgensi penanganan masalah
kesehatan-lingkungan. Kemudian dalam gerak cepat pula informasi yang
dihasilkan dunia ilmiah, walaupun dengan segala ketidaksempurnaan dan
asumsi-asumsi, didorong untuk memasuki arena kebijakan. Masalah
kesehatan dan GEC ini merupakan isu krusial dan bahkan isu sentral
dalam diskursus internasional seputar pembangunan yang berkelanjutan
http://bascommetro.blogspot.com/2009/04/pengaruh-budaya-terhadap-kesehatan.html

Intervensi Gizi Dengan Pendekatan Pemberdayaan
PROYEK KESEHATAN KELUARGA DAN GIZI
(FHN-ADB)
Secara umum prorek KKG bertujuan meningkatkan derajat kesehatan dan status gizi serta
menurunkan tingkat kesuburan, terutama keluarga Pra-Sejahtera dan sejahtera –1 di desa
tertinggal melalui perubahan perilaku.
Secara khusus tujuan proyek ini adalah :
Pemberdayaan keluarga dalam bidang kesehatan dan gizi
Peningkatan ekonomi keluarga
Penurunan tingkat kesuburan
Peningkatan jangkauan dan kualitas pelayanan kesehatan dasar.
Di bidang gizi proyek ini bertujuan untuk meningkatkan status gizi melalui perubahan
perilaku keluarga, secara operasional kegiatan pemberdayaan keluarga di bidang gizi
pada 5 propinsi ( Sumut, Jambi, Bengkulu, Kalsel dan Kalteng) terintegrasi dengan
komponen kegiatan lainnya dalam KKG pada tahun 2000. Proyek ini menggunakan
pendekatan baru yaitu pendekatan keluarga dimana design program atau kegiatan nya
dilakukan secara sistimatis akan menjangkau keluarga , sehingga pukesmas yang selama
ini menggunakan pendekatan komunitas perlu melakukan reorientasi sesuai dengan
paradigma baru puskesmas.

4

Dalam hal kaitannya untuk mempercepat proses pemberdayaan masyarakat dan keluarga,
kegiatan di bidang gizi yang dikembangkan bermula dari kajian perilaku sadar gizi dan
analisis kebutuhan program dilapangan, selanjutnya pengembangan intervensi dilakukan
berdasarkan potensi masyarakat yang ada (organisasi/institusi kemsyarakatan, pola
ekonomi keluarga ,dll). Untuk menunjang kegiatan pemberdayaan gizi, didukung dengan
akses keluarga dalam pelayanan kesehatan , penguatan akses informasi kesehatan dan
gizi. Adanya kader keluarga dan TPM yang direkrut dari masyarakat dan keluarga
diharapkan akan menjembatani masuknya informasi gizi dalam keluarga.
Beberapa kegiatan gizi yang dilakukan antara laian :
Pendekatan KIE interpersonal secara proaktif menjangkau keluarga melalui Pemetaan
keluarga Sadar Gizi (kadarzi) yang ditindaklanjuti dengan konseling .
Pemberdayaan keluarga/masyarakat untuk menghasilkan makanan balita padat gizi.
Kegiatan ini diawali dengan need assessment( potensi bahan lokal serta komitmen Pemda
dan masyarakat seperti: penyediaan tempat, daya listrik, sustainability), pelatihan kader
dan petugas .
KIE Kadarzi melalui pegembangan dan penggandaan media, Kampanye , dll.
Peningkatan kemampuan dan ketrampilan petugas terutama dalam :
Pemantauan pertumbuhan balita, Konseling, tatalaksana kasus gizi buruk , Pembuatan
MP-ASI berbasis pangan lokal, penyelenggaaran pelayanan gizi (POZI)
Kekuatan
Beberapa hal yang dianggap menjadi kekuatan adalah;
Kader keluarga, Tenaga Penggerak Masyarakat (TPM), merupakan potensi untuk
mempercepat proses pendidikan gizi.
Paket pemberdayaan bidang ekonomi (KUB) merupakan stimulan untuk meningkatkan
pendapatan keluarga melalui pengembangan usaha ekonomi bersekala kecil. Diupayakan
stimulan berkaitan dengan bidang kesehatan .
Puskesmas peduli keluarga merupakan pendekatan pelayanan kesehatan yang pro- aktif
menjangkau keluarga (sehat/sakit)
IPKS (Indeks Potensi keluarga sehat), merupakan indikator yang merupakan gambaran
adanya partisipasi masyarakat (ada 7 indikator), salah satu indikator kadarzi (menimbang
anak) termasuk dalam IPKS. IPKS menjadi salah satu sukses Kepala Daerah.
Ke tujuh indikator tersebut adalah :
· Tersedianya air bersih
· Tersedianya jamban keluarga
· Lantai rumah bukan dari tanah
· Bila ada PUS menjadi peserta KB
· Bila punya balita mengikuti kegiatan penimbangan
· Tidak ada anggota keluarga yang merokok
· Menjadi anggota keluarga dana sehat.
Badan Penyantun Puskesmas/Badan Peduli Kesehatan Masyarakat , suatu kelompok
masyarakat yang mempunyai kepedulian terhadap kesehatan termasuk gizi merupakan

5

yang mana derajat kesehatan di pengaruhi oleh faktor lingkungan. Program perbaikan gizi mengacu pada 4 masalah gizi utama yang ada di Indonesia umumnya masalah di dominasi oleh masalah Kurang Energi Protein (KEP) / Gizi Buruk. Peran TPM terutama dapat memperkuat TPM agar mampu memfasilitasi pemberdayaan keluarga. Gangguan Akibat Kurang Yodium (GAKY) dan Kekurangan Vitamin A (KVA). Gagal tumbuh (Growth Faltering) merupakan suatu kejadian yang ditemui pada hampir setiap anak di Indonesia. Tinggi Badan (TB) atau ukuran tubuh lainnya. Tiap Kabupaten ada LSM yang diikutsertakan dalam prose pemberdayaan keluarga khususnya dalam pembinaan KUB. Gizi buruk merupakan salah satu masalah gizi yang perlu mendapat perhatian serius. Pada Tahun 2000 diperkirakan 25% anak Indonesia mengalami gizi kurang. Anak Indonesia rata-rata lahir dengan berat dan panjang badan normal. di Kabupaten Lampung Selatan. http://www. Hasil pemetaan kadarzi di beberapa tempat menunjukkan adanya perubahan perilaku kadarzi pada keluarga sasaran. Kegagalan pertumbuhan yang nyata biasanya mulai terlihat pada usia 4 bulan yang berlanjut sampai usia 2 tahun.mitra kerja puskesmas. tahun 2007 terdapat 27 kasus. pada tahun 2005 terdapat 39 kasus gizi buruk dan dua kejadian meninggal akibat gizi buruk. perilaku. Tahun 2006 terdapat 51 kasus. tetapi lebih dari itu memberikan gambaran tentang keseimbangan antara asupan dan kebutuhan zat gizi seorang anak yang sedang dalam proses tumbuh. Badan ini diharapkan dapat menyantuni kebutuhan masyarakat akan pelayanan kesehatan.cc/2009/02/proyek-kesehatan-keluarga-dan-gizifhn. Dari hasil pemantauan menggunakan KMS di Posyandu dan Pelacakan Puskesmas. dan kependudukan. Adanya komitmen Pemda untuk sustainabilitas dan replikabilitas kegiatan pembinaan kadarzi. dan tahun 2008 terdapat 12 kasus 6 . Pertumbuhan seorang anak bukan hanya sekedar gambaran perubahan Berat Badan (BB). Paket pemberdayaan di bidang kesehatan dan gizi Kesimpulan .co. 7% diantaranya gizi buruk. pelayanan kesehatan.kebijakankesehatan.html Go!  Home Posts filed under 'Status Gizi Masyarakat' LAPORAN PROGRAM GIZI MASYARAKAT KASUS GIZI BURUK Pembangunan sektor kesehatan bertujuan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Anemia. pembuatan makanan balita/MP-ASI padat gizi.

tetapi lebih dari itu memberikan gambaran tentang keseimbangan antara asupan dan kebutuhan zat gizi seorang anak yang sedang dalam proses tumbuh.gizi buruk. Data kasus gizi buruk dan kejadian meninggal akibat gizi buruk di Kabupaten Lampung Selatan sejak tahun 2005 – 2008 disajikan dalam bentuk tabel dan diagram sebagai berikut : Tabel 1. Data kasus gizi buruk dan kejadian meninggal di Kabupaten Lampung Selatan Tahun 2005 Go!  Home Posts filed under 'Status Gizi Masyarakat' LAPORAN PROGRAM GIZI MASYARAKAT KASUS GIZI BURUK Pembangunan sektor kesehatan bertujuan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Gangguan Akibat Kurang Yodium (GAKY) dan Kekurangan Vitamin A (KVA). pelayanan kesehatan. yang mana derajat kesehatan di pengaruhi oleh faktor lingkungan. perilaku. dan kependudukan. Tinggi Badan (TB) atau ukuran tubuh lainnya. Pertumbuhan seorang anak bukan hanya sekedar gambaran perubahan Berat Badan (BB). Gagal tumbuh (Growth Faltering) merupakan suatu kejadian yang ditemui pada hampir setiap anak di 7 . Anemia. Program perbaikan gizi mengacu pada 4 masalah gizi utama yang ada di Indonesia umumnya masalah di dominasi oleh masalah Kurang Energi Protein (KEP) / Gizi Buruk.

Data kasus gizi buruk dan kejadian meninggal di Kabupaten Lampung Selatan Tahun 2005 PENDAHULUAN 8 . Kegagalan pertumbuhan yang nyata biasanya mulai terlihat pada usia 4 bulan yang berlanjut sampai usia 2 tahun. Data kasus gizi buruk dan kejadian meninggal akibat gizi buruk di Kabupaten Lampung Selatan sejak tahun 2005 – 2008 disajikan dalam bentuk tabel dan diagram sebagai berikut : Tabel 1. pada tahun 2005 terdapat 39 kasus gizi buruk dan dua kejadian meninggal akibat gizi buruk. 7% diantaranya gizi buruk. Dari hasil pemantauan menggunakan KMS di Posyandu dan Pelacakan Puskesmas.Indonesia. dan tahun 2008 terdapat 12 kasus gizi buruk. Tahun 2006 terdapat 51 kasus. Pada Tahun 2000 diperkirakan 25% anak Indonesia mengalami gizi kurang. di Kabupaten Lampung Selatan. Anak Indonesia rata-rata lahir dengan berat dan panjang badan normal. tahun 2007 terdapat 27 kasus. Gizi buruk merupakan salah satu masalah gizi yang perlu mendapat perhatian serius.

daftar isi. BAB II ISI A. TUJUAN 1. Selain itu. penulis juga mendapatkan tambahan materi dari media elektronik yaitu internet untuk melengkapi pembuatan makalah ini. penurunan kesegaran jasman. Zat gizi (nutrients) adalah ikatan kimia yang diperlukan tubuh untuk melakukan 9 . Perubahan fisik karena pertunbuhan yang terjadi akan mempengaruhi status kesehatan dan gizinya. Kata gizi berasal dari bahasa arab ‘ghidza” yang berarti “makanan”. TUJUAN UMUUM Mahasisiwa mampu memehami pentingnya gizi pada remaja sehingga nantinya sebagai bidan dapat memberikan bimbingan atau penyuluhanyang tepat sesuai dengan yang dibutuhkan. Indeks massa tubuh(IMT) direkomendasikan sebagai indicator yang baik untuk menentukan status gizi remaj. Masalah gizi pada remaja akan berdampak negatif pada tingkat kesehatan masyarakat. bab 1 yang berisi: latar belakang. Masiswa mampu menjelaskan kebutuhan gigi pada remaja. LANDAAN TEORI Gizi adalah ilmu yang mempelajari segala sesuatu tentang makanan dalam hubungan denagan kesehatanoptimal. Banyak penelitian telah dilakukan menunjukkan kelompok remaja menderita atau mengalami maslah gizi. misalnya penurunan konsentrasi belajar. Masalah gizi tersebut antara lain Anemidan IMT kurang dari batas norma atau kurus B. 3. Makalh ini kami susun seperti makalah pada umumnya yaitu mulai dari kata pengantar. Ketidak seimbangan antara asupan kebutuhan atau kecukupan akan menimbulkan masalah gizi lebih maupuan gizi kurang. 2.tujuan& metode penulisan. LATAR BELAKANG Masa remajamerupakan periode dari pertumbuhan dan periode pematangan manusia. pada masa ini terjadi perubahan yang sangat unik dan bekelanjutan. METODE PENULISA Dalam penulisan makalah ini penulis menggunakan metode kepustakaan karena penulis mendapatkn materi-materi dari buku. Disatu sisi ilmu gizi berkaitan dengan makanan dan sisi lain dengan tubuh manusia. C. resiko melahirkan bayi dengan BBLR. Mahasiswa mampu menjelaskan pentingnya gizi pada usia remaja.A. Status gizi dapat ditentukan melalui pemeriksaan laboratorium maupun secara antropometri. TUJUAN KHUSUS 1. bab 2 yang berisi: landasan teori& gizi pada remaja. Antropometri merupakan cara penentuan status gizi yang paling mudah dan murah. Mahasiswa mampu menjelaskan pengertian gizi 2. bab 3 berisi: kesimpulan dan saran dan diakhiri dengan daftar pustaka.

energi yang dibutuhkan relative sama dan tidak dibedakan antara laki-laki dan perempuan. dan lain-lain PROTEIN Kebutuhan protein juga meningatbpada usia remaja. yang berguna bila dimasukkan kedalam tubuh. gula. jagung. GIZI PADA REMAJA K ebutuhan gizi remaja dan ekssekutif muda relative besar.5-2. ENERGI Paktor yang perlu diperhatikan untuk menentukan kebutuhan energi remaja adalah aktivitas fisik. dan hasil olahannya(mie. sehingga diperlukan zat giziyang lebih banyak . sedangkan untuk laki-laki antara 2400-2800 kkal setiap hari. spaghetti. AKG protein remajadan dewasa muda adalah 48-62gr per hari untuk perempuan dan 55-66gr per hari untuk laki-laki. Pada masa remaja terdapat perbedaan kebutuhan energi untuk laki-laki dan perempuan karena perbedaan komposisi tubuh dan kecepata pertumbuhan. Kecukupan protein bagi remaja 1.0 gr/kg BB/ hari. remajaumumnya melakukan aktivitas fisik lebih tinggi disbanding usia lainnya. Makanan sumber karbohidrat adalah beras. Pada awl masa remaja.com/judul-skripsi-makalah-tentang/gizi-pada-remaja 10 . AKG energi ini dianjurkan sekitar 60% berasal dari sumber karbohidrat. kebutuhan proten laki-laki lebih tinggi dibandingkan perempuan karena perbedaan komposisi tubuh. seperti olah raga yang diikuti baik dalam kegiatan di sekolah maupun di luar sekolah. yaitu menghasilkan energi. karena proses pertumbuhan yang sedang terjadi dengan cepat. membangun dan memeligara jaringan serta mengatur proses-proses kehidupan. Pada akhir mas remaja. Makanan adalah bahan selain obat yang mengandung zat-zat gizi dan unsur-unsur atau ikatan kimia yang dapat diubah menjadi zat gizi oleh tubuh. Remaja dan eksekutif muda yang aktif dan banyakmmelakukan olahraga memerlukan asupan energi yang lebih besar dibandingkan yang kurang aktif. karena memasuki masa pertumbuhan cepat lebih dulu. tepung terigu. http://one. kebutuhan protein remaja perempuan lebih tinggi dibandingkan laki-laki. umbi-umbian9ubi jalar. macaroni). singkong).indoskripsi. karena meraka masih mengalami pertumbuhan. Widyakarya Nasional Pangan Dan Gizi VI(WKNPG VI) tahun 1998 menganjurkan angka kecukupan gizi(AKG) energi untuk remaja dan dewasa muda perempuan 2000-2200 kkal.fungsinya. Sselain itu. Sejak lahir hingga usia 10 tahun. Status gizi adalah keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan B.

Secara umum penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan hubungan antara status gizi dengan kejadian infeksi pada lansia di PSTW Bisma Upakara. dan tinggi badan serta penghitungan konsumsi pangan lansia dengan metoda penimbangan makanan. Populasi penelitian adalah semua lansia yang menjadi penghuni PSTW Bisma Upakara.000 ) dengan tingkat konsumsi energi ( P = 0.2 %.php?action=4&idx=124 11 .fkm.8 % laki-laki dan 57. Pemalang sebanyak 45 orang. Sampel yang diambil merupakan sebagian dari populasi yang memenuhi syarat-syarat sehat jasmani ( tidak sedang dirawat diruang isolasi. maka perlu memperbaiki status gizi lansia yaitu dengan meningkatkan konsumsi protein yang mempunyai nilai biologi tinggi ( protein hewani ) dengan jumlah yang cukup. Keadaan gizi yang baik akan meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Ada hubungan yang bermakna antara tingkat konsumsi dengan status gizi ( p = 0. Rata-rata tingkat konsumsi energi lansia 91 % dan tingkat konsumsi protein adalah 83. Agar lanjut usia mempunyai daya tubuh yang lebih baik terhadap ISPA dan Diare. ISPA yang diderita lansia adalah tingkat berat yaitu 37.ac. Dari hasil penelitian diketahui bahwa status gizi lansia sebagian besar gizi kurang tingkat berat yaitu 70 % lansia perempuan dan 30 % lansia laki-laki. http://www. Pemalang. Penelitian ini merupakan penelitian penjelasan dengan desain cross sectional dan metoda survai. Dari hasil uji korelasi Rank Spearman menunjukkan bahwa ada hubungan yang sangat bermakna antara status gizi dengan tingkat kejadian ISPA ( p= 0. Infeksi yang terbanyak adalah ISPA yaitu 36 % laki-laki dan 64 % perempuan.294 ) dan tingkat konsumsi protein ( p=0.091).id/data/index.02 ).203 ). sehingga lanjut usia akan tetap sehat dan mampu terus berkarya dalam sisa hidupnya.012 ) dan tidak ada hubungan yang bermakna antara tingkat konsumsi energi dengan status gizi( p = 0.undip. Analisis secara analitik menggunakan uji korelasi Rank Spearman untuk mengetahui hubungan status gizi dengan kejadian infeksi hubungan kejadian infeksi dengan tingkat konsumsi energi dan protein dengan status gizi. Keadaan tersebut diharapkan pada lanjut usia. pengukuran berat badan. bisa berbicara dan mendengar dengan baik ) dan sehat rohani sesuai dengan catatan di PSTW. Tidak ada hubungan yang bermakna antara kejadian ISPA dengan tingkat konsumsi energi ( p= 0. Diare tingkat berat diderita oleh 42. sedangkan diare masing-masing 32 % laki-laki dan 68 % perempuan.2 % perempuan. baik secara individu maupun dalm kaitannya dengan masyarakat.5 % laki-laki dan 62.300 ).Meningkatnya Umur Harapan Hidup ( UHH ) akan menyebabkan perubahan demografi yang akan berpengaruh terhadap berbagai aspek kehidupan usia lanjut. ada hubungan yang bermakna antara kejadian ISPA dengan tingkat konsumsi protein ( p = 0. Pengambilan data dilakukan dengan wawancara.5 % perempuan.

untuk mencapainya ada berbagai cara yang dapat dilakukan. Ada satu pendapat yang mengatakan “KESEHATAN TIDAK BERARTI SEGALA-GALANYA. Pada lanjut usia akan terjadi proses menghilangnya kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri atau mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya secara perlahan-lahan sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan memperbaiki kerusakan yang terjadi (Constantinides.8). Penggolongan lansia menurut Depkes dikutip dari Azis (1994) menjadi tiga kelompok yakni : a) Kelompok lansia dini (55 – 64 tahun). terjadinya tidak bisa dihindari oleh siapapun. harus selalu optimis. c) Kelompok lansia resiko tinggi. Akan tetapi kesehatan itu milik kita yang paling berharga. yaitu lansia yang berusia lebih dari 70 tahun.Pengertian Lanjut Usia (Lansia) Kelompok lanjut usia adalah kelompok penduduk yang berusia 60 tahun ke atas (Hardywinoto dan Setiabudhi. 1994). bisa saja hidupnya sederhana atau biasa saja. harus tetap menjaga kesehatan. Jadi walaupunb usia sudah lanjut. Karena itu di dalam tubuh akan menumpuk makin banyak distorsi metabolik dan struktural disebut penyakit degeneratif yang menyebabkan lansia akan mengakhiri hidup dengan episode terminal (Darmojo dan Martono. 12 . merawat. 1999. memelihara dan menyayangi kesehatan. salah satu caranya adalah berperilaku hidup sehat. Oleh karena itu kita harus selalu menjaga. b) Kelompok lansia (65 tahun ke atas). merupakan kelompok yang baru memasuki lansia. segala keinginannya terpenuhi. TETAPI TANPA KESEHATAN SEGALANYA TIDAK BERARTI”. Pada usia lanjut akan terjadi berbagai kemunduran pada organ tubuh. karena bila sakit kita tidak bisa berbuat apa-apa dan tidak bisa menikmati dengan baik apa yang dimiliki.4). yang maksudnya orang yang sehat belum tentu hidupnya makmur. Cara Hidup Sehat Pada Lansia Usia lanjut adalah suatu kejadian yang pasti akan dialami oleh semua orang yang dikaruniai usia panjang. ceria dan berusaha agar selalu tetap sehat di usia lanjut. Namun tidak perlu berkecil hati. Hidup Sehat Setiap orang pasti berkeinginan untuk terus dapat hidup sehat dan kuat sampai tua. 1999.

d. terutama lemak hewani. Karena banyak masyarakat yang beranggapan bahwa sehat adalah tidak sakit secara fisik saja. atau sayuran hijau. b. misalnya : untuk jantung. Kalori dasar adalah kalori yang dibutuhkan untuk melakukan kegiatan tubuh dalam keadaan istirahat. perlu dipenuhi secara adekuat. hal ini disebabkan karena berkurangnya kalori dasar dari kegiatan fisik. seperti susu non fat. Makanan yang mengandung zat besi dalam jumlah besar. hati. mempertahankan dan meningkatkan kesehatan seseorang. Menggunakan bahan makanan yang tinggi kalsium. Dengan tambahnya usia seseorang. Oleh karena itu jika ingin terus menerus meningkatkan kesehatan harus menjalankan cara-cara hidup sehat. bayam. Jadi kebutuhan kalori bagi lansia harus disesuaikan dengan kebutuhannya. Adapun cara-cara tersebut adalah: 1. Petunjuk menu bagi lansia adalah sebagai berikut (Depkes. 13 . e.kacangan. sayur dan beraneka pati. Cara Hidup Sehat Cara hidup sehat adalah cara-cara yang dilakukan untuk dapat menjaga. biji – bijian). Makanan sebaiknya mengandung serat dalam jumlah yang besar yang bersumber pada buah. kecepatan metabolisme tubuh cenderung turun. f. seperti kacang – kacangan. ikan. usus. kebutuhan gizi bagi para lanjut usia.Sebelum membahas tentang cara hidup sehat sebaiknya terlebih dahulu diketahui apa itu sehat. yang dikonsumsi dengan jumlah bertahap. Sebaiknya jumlah lemak dalam makanan dibatasi. oleh karena itu. Makan makanan yang bergizi dan seimbang Banyak bukti yang menunjukkan bahwa diet adalah salah satu faktor yang mempengaruhi kesehatan seseorang. Sehat adalah suatu keadaan sejahtera jiwa dan raga juga sosialnya. Menu bagi lansia hendaknya mengandung zat gizi dari berbagai macam bahan makanan yang terdiri dari zat tenaga. pernafasan. yoghurt. c. 1991): a. kacang. Kebutuhan kalori pada lanjut usia berkurang. dan sebagainya. Sehat adalah suatu hadiah dari menjalankan hidup sehat. Jumlah kalori yang baik untuk dikonsumsi lansia 50% adalah hidrat arang yang bersumber dari hidrat arang komplex (sayur – sayuranan. ginjal. pembangun dan pengatur.

daya tahan dan kelenturan tulang juga berkurang. Hindari makanan yang terlalu manis. waktu relatif lama. Membatasi penggunaan garam. sehingga saat lansia kemampuan akan turun antara 30 – 50%. terutama tulang kaki. darah tinggi. i. Makanan sebaiknya yang mudah dikunyah. Padahal tulang adalah penopang utama bagi tubuh untuk melakukan aktivitas. jadi bila tubuh kekurangan cairan.g. Manfaat lain dari minum air putih adalah mencegah sembelit. bersifat aerobik dan atau kalistenik. soft drink. es maupun sirup. Air sangat besar artinya bagi tubuh kita.5 – 2 liter per hari. Bahkan minuman-minuman tersebut tidak baik untuk kesehatan dan harus dihindari terutama bagi para lansia yang mempunyai penyakit-penyakit tertentu seperti DM. Makan disesuaikan dengan kebutuhan 2. obesitas dan sebagainya. dan minimal kita minum air putih 1. hindari makanan yang mengandung alkohol. 3. tingkat kesegaran jasmani akan turun. tidak kompetitif atau bertanding. karena air membantu menjalankan fungsi tubuh. h. dan muncullah sembelit. k. Penurunan kemampuan akan semakin terlihat setelah umur 40 tahun. j. maka fungsi. minuman beralkohol. Oleh karena itu. dan goreng – gorengan. teh kental.5 – 2 liter Manusia perlu minum untuk mengganti cairan tubuh yang hilang setelah melakukan aktivitasnya. Olah raga usia lanjut perlu diberikan dengan berbagai patokan. dengan kemungkinan adanya penyakit. Untuk mengolah makanan di dalam tubuh usus sangat membutuhkan air. Air juga sebagai pelumas bagi fungsi tulang dan engselnya. Olah raga teratur dan sesuai Usia bertambah. bila usia lanjut ingin berolahraga harus memilih sesuai dengan umur kelompoknya. batu ginjal dan lain-lain. Minum air putih 1. Bahan makanan sebagai sumber zat gizi sebaiknya dari bahan – bahan yang segar dan mudah dicerna. mencegah timbulnya berbagai penyakit di saluran kemih seperti kencing batu. tangan dan lengan. gurih. antara lain beban ringan atau sedang. Tentu saja tanpa air yang cukup kerja usus tidak dapat maksimal. Dan air mineral atau air putih lebih baik daripada kopi. 14 .

6. vagina. tidur yang cukup Sepertiga dari waktu dalam kehidupan manusia adalah untuk tidur. lansia dianjurkan untuk mengkonsumsi suplemen gizi. Dengan latihan otot manusia lanjut dapat menghambat laju perubahan degeneratif. Oleh karena itu jika diperlukan. karpet. jalan kaki. dihalaman rumah. Istirahat. Tapi perlu diingat dan diperhatikan 15 . meningkatkan imunitas tubuh dan mempercepat proses penyembuhan penyakit juga pada saat tidur tubuh mereparasi bagian-bagian tubuh yang sudah aus. sikat gigi setiap kali selesai makan. seisi rumah. melainkan juga kebersihan lingkungan. sehingga metabolisme di dalam tubuh menurun. sprei. senam dengan faktor kesulitan kecil dan olah raga yang bersifat rekreatif dapat diberikan. termasuk kamar mandi dan WC harus dibersihkan secara periodik. jauh dari sampah dan genangan air. pusar. gorden. lintas alam. bersihkan dari debu dan kotoran setiap hari. Namun perlu diingat dan disadari bahwa kondisi fisik perlu medapat bantuan dari orang lain. anus. Kebersihan lingkungan. Umumnya orang akan merasa segar dan sehat sesudah istirahat. karna tidur bermanfaat untuk menyimpan energi. tutupi makanan di meja makan. mencuci tangan sebelum makan atau sesudah mengerjakan sesuatu dengan tangan. 4. Yang termasuk kebersihan tubuh adalah: mandi minimal 2 kali sehari. mendaki bukit. ruangan dan juga pakaian dimana orang tersebut tinggal. Hal tersebut menyebabkan pemenuhan kebutuhan sebagian zat gizi pada sebagian besar lansia tidak terpenuhi secara adekuat.Beberapa contoh olahraga yang sesuai dengan batasan diatas yaitu. membersihkan atau keramas minimal 1 kali seminggu. Jadi istirahat dan tidur yang cukup sangat penting untuk kesehatan. hidung. 5. Pakain. memakai alas kaki jika keluar rumah dan pakailah pakaian yang bersih. Minum suplemen gizi yang diperlukan Pada lansia akan terjadi berbagai macam kemunduran organ tubuh. Di dalam ruangan atau rumah. dengan segala bentuk permainan yang ada unsur jalan kaki misalnya golf. tetapi bila lansia tersebut masih mampu diusahakan untuk mandiri dan hanya diberi pengarahan. penis ). Diyakini bahwa tidur sangat penting bagi pemeliharaan kesehatan dan proses penyembuhan penyakit. membersihkan kuku dan lubang-lubang ( telinga. Menjaga kebersihan Yang dimaksud dengan menjaga kebersihan disini bukan hanya kebersihan tubuh saja.

Memeriksa kesehatan secara teratur Pemeriksaan kesehatan berkala dan konsultasi kesehatan merupakan kunci keberhasilan dari upaya pemeliharaan kesehatan lansia. darah tinggi. duduk bersantai di alam terbuka. asma. tetapi juga mental dan bathin. Hal ini akan menyebabkan jiwa dan pikiran menjadi tenang. Penampilan kita juga akan tampak lebih menarik dan lebih disukai orang lain. Cara-cara yang dapat dilakukan untuk menjaga agar mental dan bathin tenang dan seimbang adalah: a. Lebih mendekatkan diri kepada Tuhan YME dan menyerahkan diri kita sepenuhnya kepadaNya. Walaupun tidak sedang sakit lansia perlu memeriksakan kesehatannya secara berkala. karena dengan pemeriksaan berkala penyakit-penyakit dapat diketahui lebih dini sehingga pengobatanya lebih mudan dan cepat dan jika ada faktor yang beresiko menyebabkan penyakit dapat di cegah. bahagia. dapat disesuaikan denga kondisi dan kemampuan. Rekresi Untuk menghilangkan kelelahan setelah beraktivitas selama seminggu maka dilakukan rekreasi. hidup yang penuh tekanan akan merusak kesehatan. penyakit jantung dan lain-lain. 9. 7. taman dekat rumah atau halaman rumah jika mempunyai halaman yang luas bersama keluarga dan anak cucu. Hindari stres. merusak tubuh dan wajahpun menjadi nampak semakin tua. Ikutilan petunjuk dan saran dokter ataupun petugas kesehatan. Tertawa dan senyum murah tidak perlu membayar tapi dapat menadikan hidup ceria. Rekreasi dapat dilakukan di pantai dekat rumah. Tertawa juga ampuh untuk mengendalikan emosi kita yang tinggi dan juga untuk melemaskan otak kita dari kelelahan. c. b. Mental dan batin tenang dan seimbang Untuk mencapai hidup sehat bukan hanya kesehatan fisik saja yang harus diperhatikan. Rekreasi 16 . 8. dan sehat. Tersenyum dan tertawa sangat baik. karena akan memperbaiki mental dan fisik secara alami.pemberian suplemen gizi tersebut harus dikonsultasikan dan mendapat izin dari petugas kesehatan. Stres juga dapat menyebabkan atau memicu berbagai penyakit seperti stroke. Rekreasi tidak harus mahal. Tertawa membantu memandang hidup dengan positif dan juga terbukti memiliki kemampuan untuk menyembuhkan. mudah-mudahan dapat mencapai umur yang panjang dan tetap sehat.

Hubungan antar sesama yang sehat Pertahankan hubungan yang baik dengan keluarga dan teman-teman. makanan siap saji dan harus lebih banyak mengkonsumsi sayur-sayuran dan buah-buahan yang segar dan juga minum air putih. karena hidup sehat bukan hanya sehat jasmani dan rohani tetapi juga harus sehat sosial. tubuh jadi rusak karena makanan yang tidak sehat sehingga tubuh menjadi lembek dan rentan penyakit. gaya hidup pada zaman modern ini telah mendorong orang mengubah gaya hidupnya seperti makan makanan siap saji. jarang bergerak karena segala sesuatu atau pekerjaan dapat lebih mudah dikerjakan dengan adanya tekhnologi yang modern seperti mencuci dengan mesin cuci. 10. makanan yang diawetkan. Kita tidak harus menjauhi tekhnologi tetapi paling tidak kita harus menghindari bahan makanan kalengan.wordpress. buah dan sayur awetan. Jadi lakukanlah atau kerjakanlah sesuatu hal itu sesuai dengan kebutuhan. Oleh karena itu salah satu upaya untuk hidup sehat adalah back to nature atau kembali lebih dekat dengan alam. bepergian dengan kendaran walaupun jaraknya dekat dan bisa dilakukan dengan jalan kaki. Back to nature (kembali ke alam) Seperti yang telah terjadi.com/2008/04/15/lansia/ 17 . http://creasoft. pikiran dan melemaskan otot yang telah lelah karena aktivitas sehari-hari. minuman kaleng. Semua yang dilakukan tidak berlebihan Untuk menciptakan hidup yang sehat segala sesuatu yang kita lakukan tidak boleh berlebihan karena hal tersebut bukannya menjadikan lebih baik tetapi sebaliknya akan memperburuk keadaan. minuman kalengan. 11. sambal botolan. makanan kalengan. mempertahankan dan meningkatkan kesehatannya karena ingin lebih lama menikmati kebersamaan dengan orang-orang yang dicintai dan disayangi.dapat menyegarkan otak. 12. menyapu lantai dengan mesin penyedot debu. Gaya hidup seperti itu tidak baik untuk tubuh dan kesehatan karena tubuh kita menjadi manja. karena kurang bergerak. Dengan adanya hubungan yang baik dengan keluarga dan temanteman dapat membuat hidup lebih berarti yang selanjutnya akan mendorong seseorang untuk menjaga.

Pelayanan kesehatan dan gizi untuk yang akan datang juga harus memperhatikan pertumbuhan penduduk perkotaan yang akan membawa berbagai masalah lain. Penyebab kematian memasuki tahun 2000 masih didominasi penyakit infeksi dan meningkatnya penyakit sirkulasi dan pernafasan. dan lain-lain. dan menurunnya angka kematian bayi dan balita. selain meningkatkan pendidikan dan mengurangi kemiskinan. faktor perilaku juga berpengaruh untuk terjadinya penyakit kronis. kanker. Makalah ini juga mendiskusikan asumsi penurunan masalah gizi sampai dengan 2015 dengan berbagai alternatif intervensi. Jakarta 17-19 Mei 2004 Direktorat Gizi Masyarakat.5 Kg). Fallah2 Abstrak Keberhasilan pembangunan nasional suatu bangsa ditentukan oleh ketersediaan sumber daya manusia (SDM) yang berkualtias. Peningkatan SDM ini untuk masa yang akan datang perlu dilakukan dengan memperbaiki atau memperkuat intervensi yang ada menjadi lebih efektif. Kajian dilakukan juga berdasarkan perbedaan antar kabupaten. Tingginya angka kematian ini juga dampak dari kekurangan gizi pada penduduk. Cara “Bivariate dan Multivariate” analisis diaplikasikan pada penulisan ini untuk menjelaskan perubahan status gizi dan kesehatan masyarakat serta determinannya untuk dapat memberikan rekomendasi pada kebijakan program perbaikan gizi dan kesehatan masyarakat dimasa yang akan datang. Kekurangan gizi dapat merusak bangsa. walaupun terjadi peningkatan status kesehatan yang ditandai dengan meningkatnya umur harapan hidup. 1 2 Makalah disajikan pada Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi VIII. remaja. dewasa sampai dengan usia lanjut. Mulai dari bayi dilahirkan. Departemen Kesehatan. akan tetapi masih tercatat sekitar 24% kabupaten/kota dengan angka kematian bayi >50 per 1000 lahir hidup. Hasil kajian lain yang tidak kalah pentingnya adalah semakin jelasnya fenomena “double burden” yang menimpa penduduk Indonesia terutama di wilayah perkotaan. bermanfaat untuk kelompok sasaran terutama penduduk rawan dan miskin. Dari indikator kesehatan. dan data lainnya yang mempunyai informasi status gizi dan kesehatan masyarakat. Perbaikan kualitas pelayanan kesehatan dan gizi pada penduduk menjadi prioritas. Analisis menggunakan data utama dari Susenas 1989 sampai dengan 2003. ditandai dengan semakin meningkatnya masalah gizi lebih. masalahnya sudah mulai muncul. Tatang S. Masih rendahnya status kesehatan ini antara lain disebabkan karena faktor lingkungan atau tercemarnya lingkungan air dan udara.nAnalisis Situasi Gizi dan Kesehatan Masyarakat1 Atmarita. antar provinsi. Dengan peningkatan kualitas intervensi kepada masyarakat. yaitu SDM yang memiliki fisik yang tangguh. yaitu dengan banyaknya bayi lahir dengan berat badan rencah (BBLR<2. Disamping itu. mental yang kuat dan kesehatan yang prima disamping penguasaan terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi. anak usia sekolah. Masalah ini berlanjut dengan tingginya masalah gizi kurang pada balita. 18 . Hasil kajian ini secara umum menunjukkan bahwa masalah gizi dan kesehatan masyarakat masih cukup dominan. Tujuan dari analisis adalah untuk mengetahui kecenderungan masalah gizi dan kesehatan masyarakat serta determinan yang mempengaruhi masalah ini. seperti jantung. terutama pada kabupaten/kota yang tingkat keparahannya sangat berat. serta perbedaan antara perkotaan dan perdesaan. serta meningkatnya proporsi ibu dengan gizi lebih yang mempunyai anak pendek atau kurus. diasumsikan penurunan masalah gizi dan kesehatan masyarakat dapat tercapai.

4th report on The World Nutrition Situation. Unicef (1998). karena tumbuh kembang anak sangat ditentukan oleh kondisinya saat masa janin dalam kandungan. pola asuh. dan angka prevalensi tahun terakhir digunakan untuk proyeksi sampai tahun 2015. Pada saat ini.I. The State of the World’s Children 1998. 2000)3 memfokuskan usaha perbaikan gizi dalam kaitannya dengan upaya peningkatan SDM pada seluruh kelompok umur. angka kematian bayi. dan lain-lain yang pada akhirnya berdampak pada kematian. United Nations (Januari. Sehingga upaya perbaikan gizi akan lebih efektif dengan selalu mengkaji faktor penyebab tersebut. penyakit infeksi. Pada bagan 1 dapat dilihat kelompok penduduk yang perlu mendapat perhatian pada upaya perbaikan gizi. Masa kehamilan merupakan periode yang sangat menentukan kualitas SDM di masa depan. Demikian seterusnya status gizi remaja atau usia sekolah ditentukan juga pada kondisi kesehatan dan gizi pada saat lahir dan balita. 3 4 Nutrition throughout life cycle. konsumsi makanan yang kurang. Kekurangan gizi dapat merusak kualitas SDM. Pendahuluan Keberhasilan pembangunan nasional suatu bangsa ditentukan oleh ketersediaan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. sebagian besar atau 50% penduduk Indonesia dapat dikatakan tidak sakit akan tetapi juga tidak sehat. Kejadian kekurangan gizi sering terluputkan dari penglihatan atau pengamatan biasa. Untuk lebih jelas mengetahui faktor penyebab masalah gizi. 19 . Prevalensi status gizi dan kesehatan diterjemahkan ke jumlah penduduk. January 2000. angka kematian balita. mental yang kuat dan kesehatan yang prima di samping penguasaan terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi. Kajian ini diakhiri dengan rekomendasi untuk alternatif intervensi pada masa yang akan datang. Pada bagan 1 ini diperlihatkan juga faktor yang mempengaruhi memburuknya keadaan gizi. yaitu SDM yang memiliki fisik yang tangguh. akan tetapi secara perlahan berdampak pada tingginya angka kematian ibu. yaitu pelayanan kesehatan yang tidak memadai. Oxford: Oxford University Press. bagan 2 (Unicef. Uraian berikut ini merupakan kajian status gizi dan kesehatan penduduk yang menunjukkan fakta yang terjadi pada masyarakat Indonesia disertai dengan faktor penyebabnya. serta rendahnya umur harapan hidup. 19984) menunjukkan secara sistimatis determinan yang berpengaruh pada masalah gizi yang dapat terjadi pada masyarakat. Akan tetapi perlu diingat bahwa keadaan kesehatan dan status gizi ibu hamil ditentukan juga jauh sebelumnya. umumnya disebut kekurangan gizi. yaitu pada saat remaja atau usia sekolah. dengan mengikuti siklus kehidupan.

Politik. inflasi. pola asuh tidak memadai IMR. ASI ekslusif kurang. sering terkena infeksi. kurang pemanfaatan sumberdaya masyarakat Pengangguran.Bagan 1. pola asuh kurang WUS KEK BUMIL BUMI L KEK (KENAI KAN BB RENDAH) MMR Tumbuh kembang terhambat Pelayanan kesehatan tidak memadai REMAJ A & USI A SEKOLAH USIA GANGGUAN PERTUMBUHAN Konsumsi Kurang Produktivitas fisik berkurang/rendah Bagan 2. Pengetahuan dan Keterampilan Pokok Masalah di Masyarakat Kurang pemberdayaan wanita dan keluarga. dan Sosial 20 . perkembangan mental terhambat. Gizi menurut daur kehidupan Kurang makan. risiko penyakit kronis pada usia dewasa USI A LANJ UT KURANG GI ZI BBLR Pelayanan Kesehatan kurang memadai Konsumsi tidak seimbang Proses Pertumbuhan lambat. pelayanan kesehatan kurang. Penyebab kurang gizi Dampak Penyebab langsung Penyebab Tidak langsung KURANG GIZI Makan Tidak Seimbang Tidak Cukup Persediaan Pangan Penyakit Infeksi Pola Asuh Anak Tidak Memadai Sanitasi dan Air Bersih/Pelayanan Kesehatan Dasar Tidak Memadai Kurang Pendidikan. MP-ASI tidak benar BALI TA KEP Gizi janin tidak baik Konsumsi gizi tidak cukup. kurang pangan dan kemiskinan Akar Masalah (nasional) Krisis Ekonomi.

1997 Data survei dari NSS/HKI Data Survei Vitamin A (Suvita) 1978 dan 1992 Data survei anemia. 5. sebagai berikut: 1. 15. 6. Piramid penduduk 1990 dan 2000 Piramid penduduk tahun 1990 Piramid penduduk tahun 2000 21 . 9. SKRT 2001 Indonesian Human Development Report. 2002 Laporan SDKI 2002 Selanjutnya analisis memperhatikan transisi demografi. 12. BPS 2002 Data pemetaan pangan. Dasar Analisis Analisis dilakukan berdasarkan data survei dan laporan yang ada sampai dengan tahun 2003. Figure 1. 2000. 2003 End Decade Statistical report. terutama yang terjadi berdasarkan sensus penduduk 1990 dan 2000. 13. 7. Transisi demografi yang pada tahun 1990 masih didominasi oleh kelompok usia muda pada piramida tahun 2000 sudah bergeser pada kelompok usia yang lebih tua. Data antropometri tinggi badan anak baru masuk sekolah (TBABS) 1994 dan 1999 Data survei Indeks Massa Tubuh (IMT) di seluruh ibu kota provinsi. 11. Data antropometri balita dari Susenas 1989 sampai dengan 2003 2. 16. 8. 10. gizi dan kemiskinan.II. BPS-UNICEF 2000 Laporan analisis status gizi dan kesehatan ibu dan anak. 3. Figure 1 memperlihatkan kecenderungan komposisi penduduk menurut kelompok umur. 14. SKRT 1995 dan 2001 Data survei Gangguan Akibat Kurang Yodium (GAKY) sampai dengan 2003 Data kor Susenas 1995. 2001 Laporan Studi Mortalitas 2001 Laporan studi angka kematian ibu. 4. 2003 Laporan kemiskinan.

83 40 26. proporsi 0-4 tahun akan menjadi 7. 22 . Semakin meningkatknya penduduk perkotaan. Informasi kecenderungan penduduk ini menjadi penting untuk intervensi yang akan datang dan tidak saja bertumpu pada kesehatan dan gizi balita.3%.14 20 14. mengharuskan strategi pelayanan kesehatan dan gizi yang akan datang mengikuti karakteristik penduduk perkotaan yang berbeda dengan perdesaan.95 % 50 8.96 10 16.Laki Perempuan Laki 75+ 70-74 65-69 60-64 55-59 50-54 45-49 40-44 35-39 30-34 25-29 20-24 15-19 10-14 5-9 0-4 75+ 70-74 65-69 60-64 55-59 50-54 45-49 40-44 35-39 30-34 25-29 20-24 15-19 10-14 5-9 0-4 -15 -10 -5 Perempuan 0 5 10 15 -15 -10 -5 0 Persen 5 10 15 Persen Sumber: BPS. Figure 2: Penduduk menurut Kelompok Umur 1990 2000 46.4 60 4.64 1970 47. dan menjadi 42% pada tahun 2003.75 3. 15-64 tahun menjadi 68.0% pada tahun 2000.47 24.20 1980 50.88 30 7.51 10. Penduduk daerah perkotaan meningkat dari 17.71 8. 5-14 tahun akan menjadi 15%.71 3. tapi pada kelompok umur lainnya yaitu usia produktif dan usia 50 tahun keatas yang proporsinya terus meningkat.25 2. dan usia 65+ tahun akan menjadi 9.64 70 55.39 8.4%.3% di tahun 1970 menjadi 37.07 80 0 0-4 5-14 15-49 50-64 65+ Kelompok Umur Dimensi lain yang perlu diperhatikan untuk pelayanan kesehatan dan gizi adalah urbanisasi. Diperkirakan pada tahun 2025. SP 1990 dan SP 2000 Figure 2 memperjelas kecenderungan perubahan proporsi kelompok umur dari sensus penduduk 1970 sampai dengan 2000.2%.44 11.12 27.94 20.

sehingga lebih jelas permasalahannya. 2001). Jumlah penduduk dikutip dari hasil Sensus Penduduk tahun 2000 dengan perkiraan jumlah penduduk 203.456. SP 1990: 178. 23 . dan laju pertumbuhan penduduk 1980-1990 yaitu 1.934.196 orang.35 (BPS. 2001).005. serta laju pertumbuhan penduduk 1990-2000 adalah 1.Analisis masalah gizi dan kesehatan sebagian diterjemahkan ke jumlah penduduk.97 (BPS.631. Analisis memperhatikan jumlah penduduk menurut SP 1980: 146. Proyeksi sampai dengan 2015 berpedoman pada keadaan penduduk 2000 dengan menggunakan laju pertumbuhan penduduk yang terakhir.948 orang.

Kajian Susenas 1995.Analisis Status Gizi dan Kesehatan 1. Figure 3. SDKI 2002/2003 Peningkatan status kesehatan ini tidak merata di seluruh wilayah Indonesia. Angka Kematian Bayi (AKB) dan Angka kematian balita (AKABA) – Indonesia 1980-2002 Sumber: WDR 1987.000 kelahiran hidup diperkirakan dari SKRT yaitu: 618 (1986). 325 (1995). 5 Soemantri S. Perbedaan yang menyolok juga terlihat antara Kota-Desa. atau dari SDKI yaitu: 380 (1994). Kecenderungan Usia Harapan Hidup (UHH). Kecenderungan AKI per 100. IHDR 2001. bahkan 24% kabupaten dengan AKB >50%. dan 377 (2001). Pada Figure 4 berikut ini menunjukkan pada tahun 2002. UNICEF 2000. yang menunjukkan terjadinya peningkatan kesehatan yang ditandai dengan meningkatnya usia harapan hidup dan menurunnya angka kematian bayi dan balita. BPS 2000. Tinjuan kembali angka kematian ibu di Indonesia. dan 318 (1997)5. angka kematian bayi dan angka kematian balita. 2003 24 . Figure 3 menunjukkan kecenderungan ketiga indikator tersebut. ada 65% kabupaten di Indonesia dengan AKB antara 25-50 per 1000 LH. 1998 dan 2001 menunjukan perbedaan Angka kematian Bayi maupun angka kematian balita sekitar 20 per 1000 antara Kota dan Desa. Status Kesehatan penduduk Status kesehatan dinilai berdasarkan usia harapan hidup. Indikator kesehatan lain yaitu angka kematian ibu (AKI) yang tidak mengalami perubahan yang berarti.

2000). Persen kabupaten berdasarkan perubahan AKB 1999 dan 2002 2. 2. Anemia Gizi Besi. dan Gangguan Akibat Kurang Yodium). Proporsi BBLR SDKI 6 Laporan Indonesia untuk persiapan End Decade Goal 2000 (Bapenas dan Unicef. maka setiap tahun diperkirakan 355. Status gizi penduduk Berikut ini merupakan kajian status gizi penduduk menurut kelompok umur sampai dengan 2003 berkaitan dengan masalah gizi makro (khususnya Kurang Energi dan Protein) dan gizi mikro (khususnya Kurang Vitamin A. Indonesia masih belum mempunyai angka untuk BBLR yang diperoleh berdasarkan survei nasional. proporsi BBLR berkisar antara 7 – 16% selama periode 1986-19996. Seperti yang terlihat pada Tabel 1.000 sampai 710. Bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR <2500 gram) Secara umum.Figure 4.000 dari 5 juta bayi lahir dengan kondisi BBLR. Proporsi BBLR diketahui berdasarkan estimasi yang sifatnya sangat kasar diperoleh dari Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) dan juga dari studi terserak.5% dari total penduduk. 25 .1. Tabel 1. Jika proporsi ibu hamil yang akan melahirkan bayi adalah 2. Dampak dari tingginya angka BBLR ini akan berpengaruh pada tinggi rendahnya angka kematian bayi. Kejadian BBLR ini erat kaitannya dengan gizi kurang sebelum dan selama kehamilan. demikian juga dari studi terserak yang menunjukkan angka BBLR antara 10-16%.

32.607. Akan tetapi terjadi peningkatan kembali sesudah tahun 2000.8 6.97.834 19.340 209.6 Perdesaan 7.480 7.158 pada tahun 2000.456.005 21. dan juga berat badan dan tinggi badan.977 4.323.6-15.904.1986-1991 1989-1994 1992-1997 7. 10% tahun 1998. Dapat dilihat terjadi penurunan gizi kurang yang cukup berarti dari tahun 1989 : 7.2 37. jumlah penduduk tahun 2000 berdasarkan SP tahun 2000.2 28.4 7.5% menurun menjadi 27.256.238. Jumlah balita gizi buruk (BB/U<-3SD) dan gizi kurang (BB/U <-2SD) Susenas 1989-2003 Tahun 1989 1992 1995 1998 1999 2000 Total Penduduk Total Balita 177.0 31.249 6. 9 Proporsi balita diperkirakan 12% dari total penduduk tahun 1989 dan 1992.313.302.910.3 35.279 menjadi 4.128 Prevalensi Gizi buruk Gizi Kurang Buruk+Kurang 6. Gizi kurang pada balita ini dilihat berdasarkan berat badan dan umur.617.0 29.528 17.5 17.5 7.866 6.258 3.614.643.7% dari tahun 1989 sampai dengan tahun 20037.3 7.815 21.639.6 SDKI Rentang Provinsi 2.567 4.3-16. dan pada tahun 2003 jumlah gizi kurang pada balita menjadi 5.639.342.921.066.769 6. Distribusi besaran masalah gizi menurut kabupaten dapat dilihat pada Figure 5.090.5 19. Menurut Susenas.986.348.158 7 Goal Repelita (1998): prevalensi Gizi kurang pada balita menjadi 25%. jumlah penduduk tahun 1992-1999 adalah estimasi berdasarkan SP tahun 1990 dengan laju pertumbuhan penduduk 1.815 1.329 5.415.587 1.816 2.5 8. Terjadi penurunan gizi kurang 10% atau sebesar 26.5% tahun 1999 dan 8.88% tahun 2000 sampai 2002.6 11.7 Jumlah balita dengan Gizi Buruk Gizi Kurang Buruk+Kurang 1.169.279 1.910.986.4 2. Tabel 2. kemudian 11% tahun 1995. prevalensi gizi kurang pada balita adalah 37.803.247 3.1 18.796 22.3 31. 9. tinggi badan dan umur.7 3. Tabel 2 menunjukkan jumlah penderita gizi buruk dan gizi kurang dengan memperhatikan jumlah penduduk8 dan proporsi balita9 pada tahun pengamatan yang sama. Status gizi pada balita Masalah gizi kurang pada anak balita dikaji kecenderungannya menurut Susenas dan survei atau pemantauan lainnya.3 26.398.313.965 185.699 20.5% tahun 2003. 8 Jumlah penduduk tahun 1989 adalah estimasi berdasarkan SP tahun 1980 dengan laju pertumbuhan penduduk 2.1 7.510 7.544.181 3.899 206.1 24.6 20.415.2.568 6.860.458 195.117.941.7 Perkotaan 6. pada tahun 1989.490.6 10.346 2.409.3 8.821 203. World Summit for Children (WSC) goal menjadi 19% pada tahun 2000. 26 .

2001 2002 2003 206.882 4. prevalensi gizi buruk berkisar dari 4.527 3.014.469.070.142. Sementara pada daerah kumuh perkotaan. lebih tinggi dari Susenas pada tahun yang sama.455 1.997 5.608.3% di Jakarta sampai 11. Pada umumnya. HKI. di beberapa wilayah perdesaan di Sumatera barat. berkisar dari 3.134. Sedangkan prevalensi gizi kurang yang diperoleh dari Susenas.0 8. ada kemungkinan ‘under estimate’ jika dibandingkan dnegna survei/studi yang sama. Jawa Barat.952 18. dan Makassar.208 18. pada umumnya menunjukkan prevalensi gizi kurang lebih tinggi 5-7% dari perkiraan Susenas. Lampung. Semarang.2 26. Jawa Timur. Figure 5 Kajian gizi kurang lainnya adalah dari beberapa studi/survei yang melakukan pengukuran berat badan dan tinggi badan (BB/TB). SKRT pada tahun 2001 melaporkan prevalensi gizi buruk 8. Prevalensi gizi buruk pada balita ini perlu di konfirmasi dengan hasil survei lainnya.203 18.749.762 6.028 5.409 Perlu dicatat jumlah penderita gizi buruk yang terlihat meningkat cukup tajam dari tahun 1989 ke tahun 1995. seperti Jakarta.117. Surabaya.401 3.3 19. kemudian cenderung fluktuatif sampai dengan tahun 2003.590.573 3. Dari survei/studi ini. Lombok.5 1.543 208.545.8% di Makassar pada tahun 2002.1 27. pengukuran BB/TB menunjukkan keadaan gizi kurang yang lebih jelas dan sensitif/peka dibandingkan penilaian prevalensi berdasarkan berat badan dan umur.733.1% di Lombok. Diperkirakan gambaran prevalensi gizi buruk ini ‘kurang akurat’ dan cenderung ‘overestimate’.596 1.3 19.369.572. Jawa Tengah. Seperti terlihat pada tabel 3 prevalensi gizi kurang menurut BB/TB (kurus/wasting <-2SD) sesudah tahun 1992 27 . dan Sulawesi Selatan melaporkan prevalensi gizi buruk yang juga fluktuatif dari tahun 1998 sampai dengan 2001.2% di Jawa Tengah sampai 9.3 27.8 19.544.3 8.460 211.5%.463.

Jawa Barat .5 48.Lombok (NTB) . 90 Suvita.7 14.Jawa Timur .7 13. Tabel 3.9 43. 91 (4 prov) SKIA. menunjukkan negara tersebut mempunyai masalah gizi yang sangat serius dan berhubungan erat dengan angka kematian balita.Jawa Timur .0 37.Jawa Tengah . SKRT – Survei Kesehatan Rumah Tangga Kronisnya masalah gizi kurang pada balita di Indonesia ditunjukkan pula dengan tingginya prevalensi anak balita yang pendek (stunting <-2 SD).9 27.Lampung .5 13.3 10.99 SKRT. 95 Ev.Jawa Tengah .Jawa Barat .4 29. 2001 – Pedesaan .Lombok (NTB) NSS-HKI.6 9. jika prevalensi wasting di atas 10%. Masih sekitar 30-40 persen anak balita di Indonesia diklasifikasikan pendek.Sumatera Barat .5 28. Menurut WHO.JPS.3 31. 1999 -Pedesaan . JPS – Evaluasi Jaring Pengaman Sosial. 92 SKIA.Jawa Timur .7 10.8 36. 92 (15 prov) IBT.4 44.8 8.0 29.0 37.berkisar antara 10-16%.5 7. Ev.3 11. Tabel 4 menunjukkan prevalensi anak balita stunting dari tahun 1992 sampai dengan 2002 dari beberapa survei.9 14. Prevalensi kurus pada balita (BB/TB < .6 13.5 45.5 44.Lampung .2 IBT – Survei Indonesia Bagian Timur.HKI.8 16.8 34. 98-99 (5 Prov) NSS-HKI.Sulawesi Selatan NSS.7 36.Sumatera Barat . SKIA – Survei Kesehatan Ibu dan Anak.9 46.0 13.Banten .Lombok (NTB) Stunting <-2SD 41.6 13.5 33.Jawa Barat . 01 Total Laki-laki Perempuan Kota Desa 9.Sumatera Barat .0 34. Tabel 4.2 16.4 30. Suvita – Survei Nasional Vitamin A.9 37.9 12.0 33.2SD).2 28 . 1990-2001 IBT. 1999 -Pedesaan . 95 (Nas) JPS.Banten . 95 SKRT.7 15.5 15.5 33.Banten .4 13.0 30.0 13.0 33.7 8.Jawa Tengah . Prevalensi Pendek/Stunting anak balita <-2SD Survei Suvita.

6 31.3 37.Banten .Lampung .2 27.Makassar JPS: Jaring Pengaman Sosial NSS-HKI: Survei gizi dan Kesehatan HKI 37. tinggi badan rata-rata anak balita ini pada umumnya mendekati rujukan hanya sampai dengan usia 5-6 bulan.1 28.0 30. Kondisinya sama dari tahun 1999 sampai dengan tahun 2002. 2001 – Kumuh perkotaan .Lombok (NTB) .Jawa Timur .Jawa Barat .Jakarta . 2000 – Kumuh perkotaan . Figure 6. baik pada anak laki-laki maupun perempuan (Figure 6).2 48.Semarang .4 35.9 42. NSS/HKI 1999-2002 Anak laki-laki 0-60 bulan Anak Perempuan 0-60 bulan 29 .6 Dari data NSS/HKI.Jakarta . 2002 – Pedesaan .Sulawesi Selatan NSS-HKI.4 29.8 28.2 30.Surabaya .Jawa Tengah .Makassar NSS-HKI.0 31.4 37.7 43.Surabaya .Sulawesi Selatan NSS-HKI.8 37.Sumatera Barat . kemudian perbedaan tinggi badan menjadi melebar setelah usia 6 bulan.2 27. Tinggi badan rata-rata anak laki-laki dan perempuan 0-60 bulan dibanding rujukan..Semarang .

Lampung. berdampak juga pada gangguan pertumbuhan pada anak usia baru masuk sekolah. Jawa Barat.110 100 100 90 90 80 1999 70 Tinggi badan (cm ) Tinggi badan (cm ) 110 2000 80 1999 70 2000 2001 2002 60 Ref 50 2001 2002 60 Ref 50 0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 55 60 0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 55 60 Um ur (bulan) Umur (bulan) Catatan: Tinggi badan rata-rata tersebut di atas diperoleh berdasarkan pengukuran tinggi badan di wilayah pedesaan provinsi Sumatera Barat. Jawa Tengah. Lombok (NTB). Banten. Jumlah sample balita adalah sbb: Provinsi Sumatera Barat Lampung Banten Jawa Barat Jawa Tengah Jawa Timur Lombok/NTB Sulawesi Selatan Total Jumlah sampel anak balita 2000 2001 22468 19621 13190 12942 1810 3161 4011 11666 17421 12443 18495 25348 24175 9268 15131 12183 9584 15628 11995 14516 14940 58596 126863 112310 1999 7773 2002 4409 3160 1021 2845 5391 2597 2568 2922 24913 2. dan Sulawesi Selatan yang dilakukan HKI pada tahun 1999 sampai dengan 2002.3. 1999) Akibat dari tingginya BBLR dan gizi kurang pada balita. Status gizi pada anak baru masuk sekolah (TBABS 1994. Indonesia telah melaksanakan pengukuran tinggi badan pada kelompok anak ini secara nasional pada tahun 1994 dan 30 .

yaitu menjadi 36. hanya sedikit sekali peningkatan status gizi yang terjadi. Tidak terlihat perubahan perbaikan gizi yang bermakna dari hasil pengukuran tersebut. Masih sekitar 30-40% anak dikategorikan pendek. dan proporsi anak baru masuk sekolah usia 9 tahun berkurang dari 8. Dari kedua survei. Pada tahun 1994.199910.6% (1994) menjadi 16. Jika dibandingkan antara tahun 1994 dan 1999. 10 TBABS adalah survei untuk mengetahui tinggi badan rata-rata anak baru masuk sekolah (anak kelas I). Kondisi anak Kota-Desa berdasarkan survei ini berbeda. Figure 7 menunjukkan distribusi z-score tinggi badan menurut umur pada anak usia 6-9 tahun baik di kota maupun di desa dan perubahannya dari tahun 1994 ke tahun 1999. dimana pengukuran dilakukan pada awal masuk sekolah. 31 . Dari kedua survei TBABS 1994 dan 1999.0% (1999).4% (1999). Pada waktu pengukuran dijumpai anak usia 6 sampai dengan 9 tahun. prevalensi ini hanya berkurang 3.1%. baik pada anak laki-laki maupun perempuan. Terlihat juga prevalensi pendek ini semakin meningkat sesuai dengan bertambahnya usia. Dapat disimpulkan bahwa anak Indonesia yang baru masuk sekolah keadaan gizinya masih jauh dibandingkan dengan rujukan. umur rata-rata anak masuk sekolah adalah 7 tahun (50%). prevalensi gizi kurang menurut tinggi badan anak usia 6-9 tahun (anak pendek) adalah 39. Selain itu masih dijumpai sekitar 9-10% anak yang dikategorikan sangat pendek. proporsi anak baru masuk sekolah usia 6 tahun meningkat dari 13. Anak di kota lebih baik dibanding anak di desa.2% (1994) menjadi 6.8% (lihat tabel 5). Pengukuran yang sama dilakukan pada tahun 1999.7%.

9 113.9 16.1 174.8 74.6 31. Prevalensi gizi kurang menurut tinggi badan dan umur (Stunting <-2SD) Pada anak baru masuk sekolah.7 29.505 Laki-laki 9 26.7 64.8 15.3 /1999 186.995 Perempuan 9 19.500 Perempuan 6-9 6.9 108.1 37.1 28.815 Laki-laki 8 17.685 Perempuan 6 2.1 /1994 225.021 Laki-laki 6 4. Kota Desa 32 .1 28.8 109.9 20.8 15.0 36.663 Laki-laki 6 4.1 27.737 Laki-laki 8 16.9 28. Distribusi Z-score Tinggi Badan menurut umur anak usia 6-9 tahun dibanding rujukan di Kota dan Desa tahun (TBABS.0 43.9 25.1 28.3 23.2 108. TBABS 1994 dan 1999 Survei/ tahun Lokasi N Sampel Jenis Kelamin Tinggi Badan menurut umur Umur (tahun) Pendek (Stunting) Tinggi Badan*) <-3 SD -3 to -2 SD Rata2 (cm) TBABS National 435.Tabel 5.9 116.2 28.7 37.1 116.660 Perempuan 7 5.9 115.1 210.1 30.204 Perempuan 9 19.785 Laki-laki 9 27.8 111.9 34.9 25. 1994 dan 1999).8 110.2 12.083 Laki-laki 7 8.9 115.001 Perempuan 7 5.4 36.147 Perempuan 8 11.0 52.1 18.5 107.0 TBABS National 361.106 Perempuan 6 2.1 110.1 111.8 90.739 Perempuan 8 10.796 Laki-laki 7 9.2 *) Tinggi badan rata-rata yang dicapai pada tahun 1994 dan 1999 ini baru mencapai 90% dari baku rujukan NCHS/WHO Figure 7.5 35.779 Laki-laki 6-9 13.816 L+P 6-9 10.0 30.626 Laki-laki 6-9 11.9 35.1 27.9 101.126 L+P 6-9 9.1 8.7 33.7 100.9 107.9 93.0 18.2 112.8 112.037 Perempuan 6-9 8.

Status gizi pada Usia Produktif Masalah gizi kurang berlanjut pada kelompok umur berikutnya. 33 . WUS dengan risiko KEK diasumsikan cenderung untuk melahirkan bayi BBLR.5 cm): 1999-2003 Pola yang hampir sama adalah kajian wanita perkotaan menurut IMT pada survei tahun 1996/97 di seluruh ibu kota provinsi di Indonesia.9% pada tahun 1999 dan menurun menjadi 16. (Figure 10).5 (kurus) lebih tinggi pada usia muda 18-24 tahun. Analisis secara nasional (1999 – 2003) menggambarkan bahwa proporsi LILA <23. Terlihat proporsi IMT <18. dan meningkat lagi pada usia 45–49 tahun.5 dan gemuk jika IMT >25.5 cm pada tahun 2003 sampai mencapai >35% pada WUS usia 15-19 tahun. Data yang tersedia hanya untuk WUS usia 15-49 tahun. Sedangkan dengan IMT. Status gizi kurang berdasarkan LILA < 23. Tidak tersedia secara khusus informasi atau data yang dapat digunakan untuk anak usia sekolah (laki-laki dan perempuan) 7-18 tahun. dua masalah gizi ini sudah terlihat dengan jelas. Figure 8. Dua cara dilakukan untuk mengetahui status gizi pada WUS yaitu dengan mengukur Lingkar Lengan Atas (LILA) dan mengukur berat badan dan tinggi badan untuk mendapatkan indeks massa tubuh (IMT).5) akan tetapi juga kegemukan (IMT>25) bahkan obesitas (IMT>27 atau IMT >30). dan menurun pada kelompok umur lebih tua.5 cm adalah 24. Pada survei di 27 ibu kota provinsi tahun 1996/1997.4. Proporsi WUS risiko KEK (Lila <23. Prevalensi LILA <23.5 cm digunakan untuk menggambarkan risiko kekurangan energi kronis (KEK). seperti yang disajikan pada Figure 9. status gizi WUS dapat diklasifikasikan sebagai kurus jika IMT <18. Pada umumnya proporsi WUS dengan risiko KEK cukup tinggi pada usia muda (15-19 tahun). kemudian menurun untuk usia berikutnya sampai dengan 40-44 tahun. Masalah gizi pada usia produktif sebenarnya tidak saja karena kurus (IMT<18. (Lihat Figure 8).2.7% pada tahun 2003.

Lampung. akan tetapi di wilayah kumuh perkotaan maupun perdesaan juga sudah mulai terlihat dan ada kecenderungan meningkat terutama untuk masalah kegemukan. Semarang.5 pada wanita perkotaan. 1996/1997 Dua masalah gizi (“double burden”) ini juga tidak saja terjadi pada usia produktif di ibu kota provinsi. Proporsi IMT <18. Makassar. Masalah obesitas pada usia >30 tahun ini meningkat dari tahun 1999 ke tahun 2001.5) dan prevalensi obesitas (IMT >30) pada wanita usia produktif.Figure 9. Pada daerah kumuh perkotaan (Jakarta. masalah yang sama sudah mulai tampak. Di wilayah perdesaan (Jabar. Hal ini dapat dilihat pada Figure 11. Surabaya). Sulsel). dan masalah obesitas sudah mulai terlihat pada usia 30 tahun ke atas dengan prevalensi >5%. Banten. hanya prevalensinya lebih rendah dari wilayah kumuh perkotaan. masalah kurus banyak terjadi pada usia muda. Jatim. Jateng. 34 . survei IMT 1997 Figure 10. Masalah gizi kurang dan gizi lebih usia dewasa di perkotaan. Sumbar. Lombok. analisis dari data HKI 1999 dan 2001 yang memisahkan dua ekstrim prevalensi kurus (IMT<18.

kecuali konsumsi sayur dan buah berwarna sudah memadai/mencukupi kebutuhan seharihari. survei nasional vitamin A tahun 1992 masih menjumpai 50% dari balita mempunyai serum retinol <20 mcg/100 ml.8% pada tahun 1996/1998. Indonesia dinyatakan bebas dari xeropthalmia pada tahun 1992. maka cakupan kapsul kurang vitamin A yang <80%11 akan membuka kemungkinan munculnya kasus xeropthalmia. Besaran masalah kurang yodium di Indonesia dipantau berdasarkan survei nasional tahun 1980. menurunnya prevalensi anemia gizi besi pada wanita usia subur sebesar sepertiga dari kondisi tahun 1990. Hal ini terbukti dengan laporan NTB pada tahun 2000 lalu yang masih menemukan kasus xeropthalmia. 1990. yang ditandai dengan sudah universalnya konsumsi garam beryodium. seluruh anak dan ibu nifas telah mendapat kapsul vitamin A. Selain itu penyuluhan untuk mengkonsumsi sayur dan buah berwarna menjadi sangat penting untuk mempertahankan Indonesia tetap bebas dari xeropthalmia.9% pada tahun 1990. diharapkan pada tahun 2000 seluruh negara sudah tidak lagi mempunyai masalah gizi mikro. Masalah gizi kurang dan obesitas pada wanita usia produktif. Ada kemungkinan provinsi lain yang belum berhasil mencakup >80% kapsul vitamin A terdistribusi pada balita akan menemukan kembali kasus xeropthalmia. Menurut World Summit for Children (WSC) goal. HKI 1999 dan 2001 Kumuh Perkotaan Perdesaan 2. Tingginya proporsi balita dengan serum retinol <20 mcg/100 ml ini menyebabkan anak balita di Indonesia berisiko tinggi untuk terjadinya xeropthalmia. tidak dijumpai lagi kasus xeropthalmia. dimana pada tahun 1980.Figure 11. Untuk masalah kurang vitamin A. Masalah gizi mikro Masalah gizi lainnya yang cukup penting adalah masalah gizi mikro. dan menjadi sangat tergantung dengan kapsul vitamin A dosis tinggi. prevalensi gangguan akibat kurang yodium (GAKY) pada anak usia sekolah adalah 30%. terutama untuk kurang yodium. 1996/1998 dan 2003. kurang vitamin A dan kurang zat besi. Walapun bebas dari xerophthalmia. 35 .5. dan selanjutnya menjadi 9. Survei tahun 2003 prevalensi ini sedikit meningkat 11 Cakupan kapsul vitamin A dosis tinggi diharapkan 80% minimal untuk mencegah munculnya kasus xeropthalmia. Ada kemungkinan penyuluhan kurang berhasil. Terjadi penurunan yang cukup berarti. Prevalensi ini menurun menjadi 27.

Figure 12 berikut menunjukkan hasil yang positif untuk penggunaan garam beryodium. Distribusi kabupaten menurut rumah tangga yang mengkonsumsi garam beryodium cukup: 1998-2003. atau endemik ringan. menemukan hanya 30% cakupan kapsul yodium ini sampai pada sasaran. surveilans GAKY ini sangat diperlukan. mulai dari <40% sampai yang sudah >90% rumah tangga menkonsumsi garam beryodium. Angka ini cukup bervariasi antar wilayah kabupaten. Masalah GAKY masih cukup serius di Indonesia.menjadi 11. Untuk mencapai universal konsumsi garam beryodium pada tahun 2005 memerlukan strategi yang komprehensif. Pemantauan pemberian kapsul ini masih kurang baik. dan juga memberikan kapsul yodium terutama pada daerah endemik berat dan sedang yang dinilai berdasarkan data dasar 1996/1998. Kegiatan utama dari program ini adalah mengupayakan peningkatan konsumsi garam beryodium. menjadi daerah endemik sedang atau berat. Walaupun ada penurunan prevalensi GAKY pada daerah endemik berat dan sedang. Survei tahun 2003 merupakan survei nasional yang mengevaluasi dampak dari intensifikasi program penanggulangan GAKY setelah dilakukan data dasar tahun 1996/1998. dan anak usia sekolah. prevalensi GAKY turun cukup berarti. Intervensi pada wilayah endemik berat dan sedang adalah dengan mendistribusikan kapsul yodium.2% rumah tangga secara adekuat/cukup. 36 . wanita usia subur. sementara pada laporan program. Survei evaluasi 2003. walaupun dilaporkan pada daerah endemik berat. sehingga daerah yang berisiko untuk menjadi endemik dapat selalu terpantau. Dari hasil analisis survei 1996/1998 dan survey evaluasi 2003 menunjukkan adanya peningkatan jumlah kabupaten yang dulunya tidak endemik. khususnya pada ibu hamil. (Lihat tabel 6) Figure 12. Garam beryodium sampai dengan tahun 2003.1%. cakupan ini berkisar antara 60-75%. dikonsumsi oleh 73. Terjadi peningkatan jumlah kabupaten menjadi 104 pada tahun 2003 dimana lebih dari 90% rumah tangga mengkonsumsi garam beryodium.

3 53.8 58. 36-47 bulan. Figure 14 menunjukkan bahwa pada bayi <6 bulan (61.4 45. and National IDD evaluation survey 2003 Masalah berikutnya adalah anemia gizi akibat kurang zat besi. SKRT 2001 37 .1 P-2001 Ibu hamil Ibu menyusui 50.7 46.8 L+P 2001 48.7 62. Selanjutnya prevalensi menurun untuk anak usia 2 sampai 5 tahun. Total Goitre Rate (TGR) pada 268 kabupaten yang sama dari Survei 1996/1998 dan 2003 Sumber: National IDD survey 1998.1 39.5 40. Prevalensi anemia pada anak balita. 6-11 bulan. bayi 6-11 bulan (64.2 48.5% (1995) menjadi 27.8%). Dua survei nasional (Survei Kesehatan Rumah Tangga/SKRT) tahun 1995 dan 2001 hanya dapat menunjukkan kecenderungan prevalensi anemia pada balita.1 Figure 14.5 45.3%).1 27.9 40.0 57. 24-35 bulan. dan anak usia 12-23 bulan (58%). pada wanita usia subur 15-44 tahun dari 39. dan 48-59 bulan. 12-23 bulan. SKRT 2001 juga mengkaji prevalensi anemia pada balita dengan kelompok umur: < 6 bulan.0 P-1995 45.9% (2001). Prevalensi Anemia menurut SKRT 1995 dan 2001 100 Persen 80 60 40 20 0 0-4 tahun 5-9 tahun 10-14 tahun 15-44 tahun 45-44 tahun 55-64 tahun 65+ tahun L-1995 35. Prevalensi anemi pada ibu hamil menurun dari 50.5 70.9% (1995) menjadi 40% (2001).5 39. perempuan usia 15-44 tahun dan ibu hamil (Figure 13). Figure 13.Tabel 6.9 45.

8 62.7 26.5 21.1 Informasi lain adalah dari hasil survei NSS.9 63. Prevalensi anemia pada WUS dan balita (NSS-HKI) Tahun 1999 dan 2000 Lokasi Sumbar Lombok Lampung Makassar Sulsel Surabaya Jatim Jabar Semarang Jateng Jakarta Wanita Usia Subur 1999 2000 29.7 51.0 % Anemia < 6 bln 6-11 bln 12-23 bln 24-35 bln 36-47 bln 48-59 bln 61.9 37.8 71. dan pemetaan yang dilakukan di Jawa Tengah tahun 1999 menunjukkan prevalensi anemia pada ibu hamil 58.HKI tahun 1999 dan 2000 pada beberapa provinsi di Indonesia yang melakukan analisis prevalensi anemia pada WUS dan balita (tabel 6).8 58.5 53.0 80.6 65.1 28.3 64.0 20.5 Indonesia masih belum secara komprehensif menanggulangi masalah anemia gizi ini.4 25.8 34.6 32.3 25.0 0.0 45.8 58.2%.8 42.9 44.6 63.0 54.9 26. Pada balita prevalensi anemia masih cukup tinggi dan berkisar antara 40-70%.2 34.1 56. Hasil pemetaan yang dilakukan provinsi Jawa Barat tahun 1997.1%.100.0 27.5 33. menunjukkan prevalensi anemia pada ibu hamil 62. Faktor yang berpengaruh pada status gizi dan kesehatan 38 .0 32. III.3 Anak balita 1999 2000 46.5 23. Pemetaan secara nasional untuk masalah anemia menurut provinsi maupun kabupaten masih belum dilaksanakan.0 Persen 60. Tabel 6.9 53.8 66.3 24. dan pada WUS berkisar antara 20-40%.1 27.1 27.1 64. Intervensi anemia secara nasional masih memprioritaskan ibu hamil dengan distribusi tablet besi yang cakupannya masih sulit dipantau.1 38.6 57.7 51.0 40.6 68.5 28.9 65.9 27.5 58.

49. dan rumah tangga di Kota lebih banyak mengeluarkan uang untuk makanan jadi dibanding rumah tangga di Desa. dan 2003 dilakukan perhitungan rasio pengeluaran untuk setiap item bahan makanan terhadap total pengeluaran pangan. pendidikan. Berdasarkan kor Susenas. kesehatan lingkungan. 1969. persentasi rumah tangga dengan defisit energi bekisar antara 45 – 52% . 2) 55-65%. Ketahanan pangan tingkat rumah tangga Ketahanan pangan di tingkat rumah tangga sangat tergantung dari cukup tidaknya pangan dikonsumsi oleh setiap anggota rumah tangga untuk mencapai gizi baik dan hidup sehat. dan 1990 Kkal/kap/hari dan protein: 46. daging. 2051. Pengeluaran terbesar rumah tangga masih pada makanan. Jika dikaji perbedaan antara Kota dan Desa. 2000. 2000. dan kemiskinan. dan 49. akan tetapi jika dilihat dari rasio pengeluaran makanan terhadap pengeluaran total. et. Terlihat perubahan rasio pengeluaran pangan sumber energi dari 32. Pada Figure 16 berikut. diketahui bahwa rata-rata rumah tangga di Indonesia mengkonsumsi energi berturut-turut dari tahun 1995-1998 adalah: 1999. Pengeluaran konsumsi makanan jadi meningkat dari 7. demikian juga terjadi peningkatan pengeluaran untuk konsumsi lainnya.5. yaitu mulai dari ketahanan pangan di tingkat rumah tangga. 3) 65-75%. Data yang digunakan pada umumnya dari data Kor Susenas 1995. dan 4) >75%.64% tahun 1995 menjadi 24.al. Terlihat ada perbaikan 39 .2% tahun 2003. terutama ikan. pola asuh.9% tahun 1995 menjadi 8.Analisis berikut menguraikan faktor yang erat kaitannya dengan perubahan status kesehatan dan gizi penduduk. Secara nasional Indonesia pernah melakukan survei konsumsi tahun 1995-1998 untuk mengetahui tingkat defisit tingkat rumah tangga terhadap energi dan protein. 2000). Untuk itu diperlukan survei konsumsi rumah tangga yang mencatat jumlah (kualitas dan kuantitas) yang dikonsumsi setiap hari oleh anggota keluarga. (Lihat figure 15) Walaupun terlihat ada perbaikan pola pengeluaran makanan tingkat rumah tangga pada tahun 2003. Disimpulkan bahwa dari tahun 1995-1998.7% tahun 2003. Kerangka konsep UNICEF seperti pada bagan 2 digunakan untuk mengkaji faktor penyebab masalah gizi maupun kesehatan. mengklasikasikan kabupaten berdasarkan 4 tingkat % pengeluaran makanan terhadap pengeluaran total: 1) <55%.1 gram/kap/hari. informasi ketahanan pangan tingkat rumah tangga hanya dapat diketahui berdasarkan perkiraan pengeluaran pangan dalam seminggu terakhir. Indonesia belum pernah secara nasional melakukan survei konsumsi tingkat rumah tangga dan mencatat jumlah yang dimakan untuk setiap individu. dan juga data HKI. masih sebagian besar kabupaten/kota di Indonesia masih belum cukup baik. dan rumah tangga defisit protein berkisar antara 25 – 35% (Latief. 2002 dan 2003 dengan aggregat tingkat kabupaten. analisis Kor Susenas 2003 menunjukkan pengeluaran untuk konsumsi di Kota lebih baik dibanding Desa. Dari kajian kor Susenas 1995. Rata-rata konsumsi energi dan protein ini bervariasi antar provinsi dan kabupaten. 1. Dari kajian survei konsumsi ini. penyakit infeksi/non-infeksi. dan buah-buahan.9. Dari survei konsumsi ini dikaji juga persen rumah tangga yang defisit energi mapun protein. 49.

2000. Masalah keamanan pangan tidak dibahas pada analisis ini karena ketersdiaan data yang kurang. 2000. 2003) Perbedaan tahun 1995. selain ketahanan pangan di tingkat rumah tangga. Nilai rata-rata rasio pengeluaran item bahan pangan terhadap total pengeluran pangan tingkat rumah tangga Pebedaan tahun 1995.dari tahun 2000 ke tahun 2003. Terutama pada rumah tangga di perkotaan dimana konsumsi makanan jadi yang semakin meningkat. 2000. dan 2003 Perbedaan Kota – Desa. Perubahan persen Kabupaten/Kota berdasarkan % pengeluaran pangan terhadap total pengeluaran tingkat rumah tangga (1995. Penyebab kematian yang ditunjukkan dengan penyakit sirkulasi memperlihatkan meningkatnya penyakit 40 . diikuti dengan penyakit sirkulasi dan pernafasan. 2003 Perbedaan Kota Desa – 2003 Figure 16. tidak diketahui secara lengkap. 2. Figure 15. akan tetapi kondisinya hampir sama dengan tahun 1995. terlihat sekali perbedaan antara Kota dan Desa. Terlihat penyakit infeksi masih dominan. Pada Figure 17 dapat dilihat kecenderungan pola penyakit yang menyebabkan kematian tahun 1995 dan 2001. 2003 Untuk diketahui juga. terutama yang berkaitan dengan masalah gizi. maka keamanan pangan yang dikonsumsi setiap individu juga sangat berperan untuk kesehatan dan gizi. Morbiditas Informasi prevalensi menurut jenis penyakit. Pada tahun 2003.

pada akhir tahun 1999.19 per 100.22 per 100.3% tahun 2001. 23 provinsi telah 41 . akan tetapi distribusinya untuk setiap provinsi tidak merata. 1992.97% tahun 1995 meningkat menjadi 4. Akan tetapi angka ini meningkat kembali menjadi 20 per 100. 1986.53% (2001).000 penduduk tahun 1996 di JawaBali.9% (2001). Walaupun prevalensi TBC dinyatakan menurun dari 290 per 100. Angka insidens demam berdarah tahun 1996 tercatat 23.5% (1986) menjadi 14. TBC. kematian akibat penyakit yang berhubungan dengan sirkulasi ini meningkat cukup tinggi. Aceh dan Bali.000 penduduk. ‘Ischaemic heart disease’ dari 2.000 penduduk tahun 1998. dan stroke dari 5.000 penduduk meningkat menjadi 35. demam berdarah. SKRT 1995 dan 2001 Sumber: Laporan Studi Mortalitas. Kecenderungan penyebab kematian di Indonesia menurut jenis kelamin.degeneratif baik pada laki-laki maupun perempuan.1% tahun 1986 menjadi 26. seperti malaria. Prevalensi malaria di luar Jawa-Bali meningkat 3. masih ditemukan prevalensi TBC berada antara 650-960 per 100. Dari penyakit infeksi.000 penduduk pada periode 1979-1982 menjadi 240 per 100.000 penduduk. Pada beberapa kabupaten seperti Jawa Barat. dari 123 ke 191 per 100. dan HIV/AIDS. Figure 17. Untuk HIV/AIDS. Bahkan pada perempuan. ada beberapa penyakit yang prevalensinya meningkat.000 penduduk tahun 1989 menjadi 9 per 100. Angka insidens malaria menurun dari 21 per 100.41% (1980) menjadi 48. 1995 dan 2001 juga mencatat proporsi kematian karena ‘Noncommunicable diseases/NCD’ meningkat dari 25.4% (1986) menjadi 6% (2001).000 penduduk pada akhir tahun 1998. Kematian karena kanker dari 3.5% (1986) menjadi 11.78% tahun 1997. Terlihat juga kematian akibat penyakit yang berhubungan dengan neoplasma cenderung meningkat dari tahun 1995-2001. Proporsi kematian karena ‘Cardiovscular diseases/CVD’ meningkat dari 9. Litbangkes 2002 SKRT 1980.5% (2001).000 penduduk tahun 1998.

Di Jakarta penderita AIDS 10 kali lebih banyak dari angka nasional. Dalam kor Susenas 2003. Perilaku mengkonsumsi makanan menurut jenis kelamin dan penduduk KotaDesa. buah. dimana prevalensi ini bervariasi untuk setiap provinsi. keduanya rata-rata mengkonsumsi 3-9 kali keempat jenis makanan dalam seminggu terakhir. konsumsi sayuran lebih sering dikonsumsi di Desa dibanding Kota. Seperti pada Figure 18 berikut tidak terlihat perbedaan yang menyolok antara laki-laki dan perempuan. atau 4. sedangkan jenis makanan lain hampir sama antara Kota dan Desa. dan nabati dalam seminggu terakhir. Penilaian dilakukan dari berapa kali konsumsi sayur. 2003.000 penduduk. Jika membedakan antara Kota dan Desa.melaporkan adanya kasus HIV. sementara Irian Jaya prevalensi AIDS 40 kali lebih tinggi dari angka nasional. Prevalensi secara nasional untuk AIDS di Indonesia adalah 0. dimana 14 diantara mereka penderita AIDS. 3. Figure 18.4 per 100. informasi ini dapat diketahui dengan membedakan anggota rumah tangga usia 10 tahun keatas untuk laki-laki dan perempuan dan juga berdasarkan tempat tinggal – Kota atau Desa.11 per 100. Laki-laki maupun perempuan mengkonsumsi sayuran pada umumnya lebih sering dibanding konsumsi buah. Kebiasaan makan dan perilaku hidup sehat Kebiasaan makan dinilai berdasarkan perilaku anggota rumah tangga mengkonsumsi makanan sehari-hari. Laki-laki Perempuan Kota Desa 42 . makanan sumber hewani.000 penduduk.

Jumlah kabupaten berdasarkan rasio pengeluaran konsumsi rokok terhadap pengeluaran pangan total 4. Pola Asuh Analisis pola asuh yang dapat dikaji adalah pemberian ASI pada anak balita. Persentasi perokok perempuan masih cukup rendah. 43 . Figure 19. yaitu kurang dari 1%. Informasi ini dapat dikaji berdasarkan Susenas 1995 dan 2003. Pengeluaran rumah tangga untuk konsumsi rokok ini juga meningkat dari rata-rata 9.7% (tahun 2001). kanker saluran pernapasan bagian atas adalah merokok. Provinsi terendah memberikan ASI adalah Aceh (23. dan >15% terhadap pengeluaran pangan total.15% terhadap pengeluaran pangan total pada tahun 1995 menjadi 10.5% dari 26. serta hampir 61% kabupaten masuk pada klasifikasi 10-15% untuk konsumsi rokok (lihat Figure 19).1% pada tahun 2003 (Lihat figure 20). Jika diperhatikan prevalensi merokok menurut jenis kelamin didapatkan perbedaan persentase yang mencolok antara penduduk laki laki dan perempuan.5% tahun 1995 menjadi 31.15% tahun 2003.03% tahun 2000 dan 13. Yang perlu diwaspadai adalah kebiasaaan merokok pada laki-laki meningkat cukup tajam menjadi 40.7% pada tahun 2003. maka pada tahun 2003 terdapat hampir 27% kabupaten di Indonesia. kanker paru. Persentase penduduk umur 10 tahun ke atas yang merokok di Indonesia tidak banyak berubah pada periode 1995-2001 atau hanya meningkat 1.6%).7%) dan tertinggi NTB (42.2% (tahun 1995) menjadi 27.Perilaku kesehatan yang merupakan salah satu penyebab atau risiko utama dari beberapa penyakit kronis seperti penyakit jantung. Secara nasional pemberian ASI terutama pada bayi di bawah 1 tahun menurun dari 46. rumah tangganya mengeluarkan uang >=15% dari total pengeluaran pangan untuk konsumsi rokok. 10-15%. Jika dibuat tiga klasifikasi pengeluaran rokok ini menjadi <10%. stroke.

NTT. Hampir 40% rumahtangga di NTB. Berubahnya kondisi lingkungan akan berdampak kepada berubahnya kondisi kesehatan masyarakat. Kecenderungan masalah lingkungan yang menjadi issue penting saat ini antara lain: terjadinya perubahan iklim. Papua. dan 2003 dengan menghitung proporsi rumah tangga yang mempunyai akses air bersih. 1999. Pada umumnya rumah tangga di daerah Indonesia Timur mempunyai kondisi yang lebih buruk dibanding Sumatera dan Jawa. Figure 22 menunjukkan tidak terjadi perubahan yang menyolok dari tahun 1996 ke tahun 2003 hampir di seluruh wilayah di Indonesia. terlihat ada kecenderungan meningkat dari tahun 1995 yaitu 35% menjadi 41% pada tahun 2003. rumah tangga dengan lantai tanah.Figure 20. Kesehatan lingkungan dan pelayanan kesehatan dasar Masalah kesehatan lingkungan dan pelayanan kesehatan dasar merupakan determinan penting dalam bidang kesehatan. Figure 21. dan rumah tangga tanpa sanitasi. Susenas 1995 dan 2003 Jika dikaji berdasarkan lamanya pemberian ASI saja sampai 4 bulan dan 6 bulan. yaitu sekitar 15-17%. Kecenderungan Pemberian ASI menurut provinsi. Susenas 1995 dan 2003 ASI saja sampai 4 bulan ASI saja sampai 6 bulan 5. (Lihat figure 21). Persentasi pemberian ASI saja sampai 4 bulan dan 6 bulan menurut Provinsi. dan Sulawesi berkondisi tanpa 44 . Pemberian ASI saja sampai usia 6 bulan relatif masih rendah dan tidak ada peningkatan dari tahun 1995 ke tahun 2003. Maluku. terjadinya pencemaran lingkungan baik terhadap air maupun udara. mulai berkurangnya sumber daya alam. Kajian kesehatan lingkungan dilakukan dari data Susenas 1996.

yaitu: <25%. maka dapat dilihat bahwa ada peningkatan jumlah kabupaten untuk kelahiran anak kedua yang >75% dibantu tenaga medis. dan 2003. dan non-medis 31. bidan. Figure 22: Proporsi rumahtangga dengan kriteria kesehatan lingkungan 1996. dan non-medis: 37. Dari angka rata-rata ini.05%.95%. 1999. rata-rata ditolong tenaga medis: 68. kerabat. lainnya). 50-75%. Hanya di Sumatera ada peningkatan 13% rumah tangga dari tahun 1999 ke tahun 2003 yang mempunyai akses air bersih. Rata-rata anak pertama lahir dengan tenaga medis adalah: 62. tenaga kesehatan lainnya atau non-medis (dukun. Jumlah kabupaten berdasarkan kelahiran pertama dan kedua dengan tenaga medis dan non-medis Tenaga Medis Tenaga Non-medis 45 . 2003 Sumber: Analisis Susenas 1996. Demikian sebaliknya kelahiran kedua yang ditolong tenaga-non medis (klasifikasi kabupaten: <10%. >=40%). 20-30%. Sedangkan kelahiran anak kedua.sanitasi yang memadai. Analisis pelayanan kesehatan dasar yang dapt dilakukan dari Susenas 2003. adalah kelahiran pertama dan kedua yang dibantu oleh tenaga medis (dokter. 10-20%. dan >=75%. 1999.05%. jika kabupaten diklasifikasikan menjadi 4 untuk kelahiran tenaga medis. (Figure 23) Figure 23. 25-50%.95%.

Tingkat pendidikan. yakni dari 78. menjadi 12. terlihat ada peningkatan sedikit untuk anak SD.8%). partisipasinya masih sangat rendah berkisar antara 1-5%. Hanya 40% dari laki-laki yang berpendidikan SLTP ke atas. terutama untuk pemantauan pertumbuhan dan penyuluhan gizi pada Susenas tidak ada informasinya. khususnya pada wanita. (lihat tabel 7). khususnya tingkat pendidikan wanita mempengaruhi derajat kesehatan. Sedangkan Angka Partisipasi Murni untuk tingkat nasional.9%. 6.75% pada tahun 1994. maka terlihat masih rendahnya tingkat pendidikan kepala/ibu rumah tangga.2%.7%. angka melek huruf ini menjadi 82. Aktivitas selanjutnya sampai usia 5 tahun.9%. 60% tidak sekolah dan tamat SD. Jika diamati pemantauan pertumbuhan yang dilakukan rutin setiap bulan. pada perempuan presentasinya lebih tinggi.0%) dan perdesaan (83. khususnya dalam hal kesehatan dan gizi.Sedangkan pelayanan gizi yang dilakukan melalui Posyandu. Pada tahun 2003. Pada tahun 1995. Sedangkan pada laki-laki angka melek huruf adalah 94. Tingkat pendidikan yang lebih tinggi akan memudahkan seseorang atau masyarakat untuk menyerap informasi dan mengimplementasikannya dalam perilaku dan gaya hidup sehari-hari. Angka melek huruf merupakan salah satu indikator penting yang juga akan membawa pengaruh positif terhadap kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Proporsi masuk sekolah tingkat SLTA terlihat masih cukup jauh untuk mencapai 50% terutama untuk perdesaan. dan SLTA dari tahun 1995 ke tahun 2002. mulai dari terendah 10% sampai tertinggi 80%. SLTP. dimana perkotaan lebih baik dari perdesaan: 97. Data dari Susenas menunjukkan bahwa tingkat buta huruf di Indonesia telah menurun dari 57. jika analisis kepemilikan ijazah atau sekolah yang ditamatkan dilakukan hanya pada kepala rumah tangga dan ibu rumah tangga. dengan distribusi yang agak berbeda antara perkotaan (93.2% dan 91. 46 . Pengamatan berdasarkan laporan program aktivitas Posyandu ini cukup baik untuk balita terutama sampai usia 2 tahun dengan integrasi imunisasi. yaitu 70% tidak sekolah dan hanya tamat SD.1% di tahun 1961. cakupan program atau partisipasi masyarakat sangat bervariasi. dan pada tahun 2003 menjadi lebih baik yaitu 87. Pendidikan Tingkat pendidikan sangat berpengaruh terhadap perubahan sikap dan perilaku hidup sehat. telah terjadi peningkatan angka melek huruf.7% pada tahun 1990 pada kelompok usia 10 tahun keatas. Selanjutnya. (Lihat figure 24).

15 25.32 69. 2003 7.15 37.92 92.88 72.21 37.50 92. Pada tahun 1995 masuk dalam ranking “middle-income countries” (>$650). penduduk miskin di Indonesia terus 47 .49 57.35 25. dan mulai meningkat kembali pada tahun 2000 ($703). dan 2002.34 91.76 66.76 91. 1998. Krisis ekonomi telah menciptakan turunnya lapangan kerja dan banyaknya pengangguran.65 42. SLTP dan SLTA berdasarkan Gender.54 Figure 24.33 48.25 54. Indonesia dikategorikan dalam kelompok “Poor Country”.86 71.29 37. Kemiskinan Pada tahun 1970-an.97 91.76 92.34 55.14 50.44 52. Indikator penting untuk mengukur tingkat pencapaian pembangunan adalah penurunan angka kemiskinan.01 62.18 21.13 92.70 54.05 92.76 33.29 60.00 19. berpindah menjadi “low-income country” pada tahun 1980-an.18 92. Krisis ekonomi menurunkan pendapatan per kapita menjadi $670 pada tahun 1999.30 24.87 56. Susenas 1995.52 48. Persentasi kepemilikan ijazah penduduk dewasa laki-laki dan perempuan.77 66.58 92.93 31.65 51.38 53.56 50.Tabel 7.02 92.47 92.74 56.42 42.29 91.92 51.65 92.64 92. Tingkat Pendidikan SD -Perkotaan -Perdesaan Total SLTP -Perkotaan -Perdesaan Total SLTA -Perkotaan -Perdesaan Total 1995 Laki-Laki Perempuan 1998 Laki-Laki Perempuan 2002 Laki-Laki Perempuan 92.34 93. Angka Partisipasi Murni (APM) pada SD.84 24.09 70. Sampai dengan tahun 1996. Pada tahun 1997 pendapatan per kapita per tahun mencapai $1100.99 90.63 38.

jika dibandingkan dengan negara lain di Asia. Sementara Filipina berhasil mengurangi masalah gizi kurang pada balita dari 33.8% tahun 1998. mulai dari yang terendah 2.3% pada tahun 2002. maka distribusinya adalah sebagai Figure 25 berikut: Figure 25. Pada tabel 8 dapat dilihat perbandingan masalah gizi kurang balita dengan negara lain pada tahun 2001. Pada tahun 1980 penduduk miskin berjumlah 42. Walaupun demikian. Jika kabupaten dibedakan berdasarkan persen kemiskinan. Indonesia dapat menurunkan dari 39.2% pada tahun 2002.3% pada tahun 1996. provinsi. terutama pada balita. 2002 IV. Distribusi penduduk miskin ini bervariasi antar kabupaten. Namun dengan terjadinya krisis moneter yang diikuti oleh krisis ekonomi yang terjadi sejak pertengahan 1997 dan berlanjut hingga 1998.6% sampai dengan yang tertinggi mencapai 61%.9% tahun 1987 menjadi 27. Jumlah Kabupaten berdasarkan persen kemiskinan.7%).2% tahun 1982 menjadi 31. maupun tingkat kabupaten. 48 . Penurunan masalah gizi kurang. Analisis determinan masalah kesehatan dan gizi Dari uraian di atas. masalah gizi dan kesehatan ini masih cukup dominan pada wilayah tertentu. turun menjadi 15.mengalami penurunan baik jumlah maupun persentasenya.1% pada tahun 1990. diketahui ada peningkatan status gizi dan status kesehatan penduduk Indonesia dilihat secara nasional.3 juta (28. bahkan mencapai angka 18. dan menjadi 11. maka jumlah penduduk miskin meningkat kembali dalam beberapa tahun berikutnya.

Penurunan kemiskinan 2. ketahanan pangan tingkat rumah tangga sampai akar masalahnya. dengan menggunakan: Angka Kematian Bayi (AKB) untuk menilai perubahan status kesehatan.8 47.0 33.3 9.6 46.0 26. Peningkatan status gizi pada balita 3. Selanjutnya untuk mempertajam analisis situasi kesehatan dan gizi ini.9 Pada uraian sebelumnya dijelaskan juga kemungkinan faktor atau penyebab yang berpengaruh terhadap masalah gizi dan kesehatan dengan mengikuti kerangka pikir Unicef.7 7.0 16. Mengurangi pengeluaran konsumsi rokok Sedangkan perubahan status gizi sangat signifikan terjadi jika dilakukan upaya: 1.6 18.7 Berat badan bayi lahir rendah/BBLR (%) 30.6 16. Meningkatkan pertolongan persalinan dengan tenaga medis 9. dilakukan kajian penyebab tersebut di atas.9 17.Table 8.2 36.2 5.6 Gizi kurang (TB/U < -2SD) (%) 44.0 45.1 18.2 36. Memperkecil persentasi rumah dengan lantai tanah 7. Peningkatan pendidikan sampai jenjang SLTP pada laki-laki 3. Analisis regresi linier digunakan untuk mengamati asumsi perubahan AKB dan prevalensi status gizi pada beberapa variabel sosial ekonomi. yaitu tingkat pendidikan dan kemiskinan. Penurunan kemiskinan 2.0 8.4 17.5 8. 2001 Negara Bangladesh India Cambodia Pakistan Myanmar Vietnam Srilangka Indonesia Thailand Malaysia China Gizi kurang (BB/U <-2SD) (%) 47. Perbandingan masalah gizi kurang pada balita pada beberapa negara di ASIA.9 21.0 7.0 45. mulai dari penyebab langsung.0 25.0 37. Peningkatan pendidikan sampai minimal jenjang SLTP pada perempuan 5. dan Prevalensi Status gizi pada balita untuk menilai perubahan status gizi. Peningkatan pendidikan sampai jenjang DI/DIII pada laki-laki 4. Menambah jumlah rumah tangga yang memiliki tempat buang air besar sendiri 6. Hasil analisis menyimpulkan bahwa perubahan AKB sangat siginifikan terjadi jika dilakukan upaya: 1.4 16. Mengurangi angka morbiditas 8. Mengurangi perkawinan muda 10.9 38. Analisis dilakukan berdasarkan agregat kabupaten dari data Susenas 2003.1 33.8 45. Peningkatan pendidikan sampai jenjang SLTP pada perempuan 49 .

Peningkatan pengeluran untuk konsumsi sumber energi Peningkatan pengeluaran untuk konsumsi telur dan susu Mengurangi pengeluaran konsumsi rokok Meningkatkan penggunaan KB pada perempuan Mengurangi angka morbiditas Informasi yang tidak dapat dikaji dari Susenas adalah pengaruh pekerjaan terhadap status gizi. Dapat dilihat bahwa anak balita dari pegawai negeri prevalensi gizi kurang pada balita pada umumnya lebih rendah dibanding jenis pekerjaan yang lain. 7. Prevalensi gizi kurang balita berdasarkan jenis pekerjaan bapak di Kumuh perkotaan dan Perdesaan (Data HKI 1999-2001) Kumuh perkotaan Perdesaan Figure 27. Figure 26. 6. (Figure 26 dan 27). 8. 5. dan BB/TB < -2 SD) menurut jenis pekerjaan bapak dan ibu pada daerah kumuh perkotaan dan perdesaan. TB/U. Data HKI berikut ini menunjukkan perbedaan status gizi (gizi kurang berdasarkan BB/U.4. Prevalensi gizi kurang balita berdasarkan jenis pekerjaan ibu di Kumuh perkotaan dan Perdesaan (Data HKI 1999-2001) Kumuh perkotaan Perdesaan 50 .

364. Walaupun ada perbaikan pada tahun 2003 terhadap ketahanan pangan rumah tangga. lingkungan. masih ada sekitar 15% kabupaten dengan persen penduduk miskin > 30% o Ketidak seimbangan antar wilayah (kecamatan. dan adanya kecenderungan yang menurun dari tahun 1995 ke tahun 2003. Seperti diungkapan pada uraian sebelumnya bawah ada 75% kabupaten di Indonesia menanggung beban dengan prevalensi gizi kurang pada balita >20%. o Pemberian ASI saja pada umumnya masih rendah. penyebab yang mendasar adalah: o Ketahanan pangan tingkat rumah tangga yang tidak memadai. yang berdasarkan kajian Susenas 2002. dan 63% kabupaten dengan rasio pengeluaran pangan/non pangan antara 65-75%. o Tingginya angka penyakit infeksi yang berkaitan dengan sanitasi. 2002).513. dan pelayanan kesehatan yang tidak memadai. Hasil SDKI tahun 1991. berarti masalah ketahanan pangan melanda 2025 juta rumah tangga di Indonesia. Penyakit infeksi penyebab kurang gizi pada balita antara lain ISPA dan diare. diperkirakan jumlah rumah tangga adalah 51. o Ketahanan pangan tingkat rumah tangga ini berkaitan erat dengan kemiskinan. 10% dan 9%. banyak Posyandu yang tidak berfungsi. 2000). Bahkan hasil SKRT 2001 prevalensi ISPA sebesar 17%. disertai dengan cakupan imunisasi yang masih belum universal. maka status kesehatan dapat tercapai. Sedangkan prevalensi diare SDKI 1991. Paling tidak Indonesia masih menghadapi 20% kabupaten di perdesaan dimana rasio ini masih >75%. dan masalah kemiskinan.2% atau 38. Proyeksi status gizi penduduk sampai 2015 Dari uraian sebelumnya status kesehatan penduduk disebut tergantung dari keadaan gizi. dan Millenium Development Goal 2015. Berikut ini hanya memfokuskan proyeksi status gizi. kabupaten) yang terlihat dari variasi prevalensi berat ringannya masalah gizi. Penurunan status gizi tergantung dari banyak faktor. Sebaran penduduk miskin tingkat kabupaten sangat bervariasi. 1994 dan 1997 prevalensi ISPA tidak menurun yaitu masing-masing 10%.V. 1994 dan 1997 juga tidak banyak berbeda dari tahun ketahun yaitu masing-masing 11%. (Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi/WKNPG.4 juta penduduk (BPS. diketahui proporsi penduduk miskin adalah 18. Kajian pemantauan konsumsi makanan tahun 1995 sampai dengan 1998. menyimpulkan (lihat tabel 10): 40-50% rumah tangga mengkonsumsi energi kurang dari 1500 Kkal dan 25% rumah tangga mengkonsumsi protein 32 gram per orang per hari atau mengkonsumsi <70% dari kecukupan yang dianjurkan. Lebih lanjut pemberian ASI saja 51 . Pemantauan pertumbuhan hanya dilakukan pada sekitar 30% dari jumlah balita yang ada. masalah kesehatan lainnya. Berdasarkan uraian sebelumnya dan juga yang tertuang pada bagan 1 dan bagan 2. dan hasil SKRT 2001 adalah sebesar 11%. kajian ini masih menujukkan rasio pengeluaran pangan terhadap pengeluaran total keluarga yang masih tinggi. o Cakupan program perbaikan gizi pada umumnya rendah. Jika status gizi penduduk dapat diperbaiki. World Fit for Children 2002. Berdasarkan SP 2000. 12% and 10%. berdasarkan situasi terakhir 2003 di Indonesia dan dibahas dengan memperhatikan Indonesia Sehat 2010.

diharapkan terjadi penurunan prevalensi gizi kurang minimal sama dengan periode sebelumnya atau sebesar 30%. hanya sekitar 15-17%. Proyeksi prevalensi gizi kurang pada balita Dari uraian sebelumnya. antara lain pelayanan gizi melalui Posyandu.sampai 6 bulan cenderung renda. bayi dan balita. Stunting 52 . Telah banyak intervensi yang dilakukan untuk meningkatkan status gizi pada balita. Dinyatakan pula bahwa pada kebanyakan negara sedang berkembang ‘secular trend” dari kenaikan tinggi badan adalah 1 cm untuk setiap decade semenjak tahun 1850. o Rendahnya pembiayaan untuk kesehatan baik dari sektor pemerintah dan nonpemerintah (tahun 2000: Rp 147. Di Indonesia penelitian “secular trend” kenaikan tinggi badan penduduk dari satu waktu tertentu.0/kapita/tahun). maka dapat diprediksi proyeksi kecenderungan gizi yad seperti berikut: 1. o Masih tingginya prevalensi anak pendek yang menunjukkan masalah gizi di Indonesia merupakan masalah kronis.3 cm pada anak laki-laki dan 2.7%. diperkirakan pada tahun 2015 prevalensi gizi kurang menjadi 13.7% dan prevalensi gizi buruk menjadi 5. rendahnya pendapatan dan rendahnya tingkat pendidikan menyebabkan indeks SDM rendah. Informasi yang ada adalah hasil survei ansional 1978 dan 1992 pada anak balita dari 15 provinsi. Setelah itu pemberian makanan pendamping ASI menjadi masalah dan berakibat pada penghambatan pertumbuhan. Pada hasil kajian Susenas 2003. Sudah diketahui bersama bahwa dibanyak negara anak-anak tumbuh lebih cepat dari 20-30 tahun yang lalu. Analisis yang dilakukan pada survei TBABS menunjukkan penurunan prevalensi gizi kurang (stunting) pada anak baru masuk sekolah tahun 1994-1999 sebesar 3. demikian juga pembiayaan untuk gizi (tahun 2003: Rp 200/kapita/tahun). Perubahan ini sangat erat kaitannya dengan keadaan lingkungan dan perubahan kualitas hidup manusia.3%.4 cm pada anak perempuan dalam jangka waktu 14 tahun. Dari beberapa penelitian yang dilakukan pada beberapa negara. prevalensi gizi kurang adalah 19. dinyatakan bahwa ada perubahan rata-rata tinggi badan sebesar 2. Mereka tidak hanya matang lebih awal tetapi juga mencapai pertumbuhan dewasa lebih cepat. Proyeksi prevalensi gizi kurang (stunting) pada anak baru masuk sekolah Perubahan ukuran fisik penduduk merupakan salah satu indikator keberhasilan upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia. Dengan asumsi penurunan 30%. menunjukkan adanya perbedaan tinggi badan antara kelompok usia 20 tahun dan 60 tahun pada pria maupun wanita dewasa setinggi kurang lebih 8 cm.7% 2. penurunan prevalensi gizi kurang pada balita (berat badan menurut umur) yang dikaji berdasarkan Susenas 1989 sampai dengan 2003 adalah sebesar 27% atau penurunan prevalensi sekitar 2% per tahun. o Masih tingginya angka kematian ibu. Dengan meningkatkan upaya pelayanan status gizi terutama berkaitan dengan peningkatan konseling gizi kepada masyarakat.2% dan gizi buruk 8. Dari hasil kedua survei tersebut. Dari besaran masalah gizi 2003 dan penyebab yang multi faktor.

yaitu 40% maka pada tahun 2015 prevalensi stunting pada anak baru masuk sekolah diasumsikan akan menjadi 24%. Dengan menggunakan asumsi penurunan yang terjadi dari tahun 1999 – 2003 untuk kelompok umur 15-19 tahun.atau pendek merupakan masalah gizi kronis dan pada umumnya penurunan sangat lambat. karena informasi untuk kurang kalsium. penyuluhan untuk penganekaragaman makanan masih belum dilaksanakan. penurunan proporsi risiko KEK berkisar antara 5-8% dalam kurun waktu 4 tahun tergantung pada kelompok umur. 4. seperti masalah kurang kalsium. Intervensi yang dilakukan untuk kelompok umur ini mungkin tidak terlalu kompleks dibanding intervensi pada balita atau ibu hamil. maupun tablet besi. kapsul yodium. Dari tabel 6 terlihat kenaikan tinggi badan rata-rata anak baru masuk sekolah dari tahun 1994 ke tahun 1999 dalam waktu 5 tahun berkisar antara 0. Asumsi penurunan proporsi KEK pada kelompok WUS 15-19 tahun 2015 diharapkan dapat menekan terjadinya BBLR. GAKY dan Anemia Gizi di Indonesia masih berkisar pada suplementasi atau pemberian kapsul vitamin A. Dengan posisi proporsi resiko KEK 35% pada tahun 2003. Untuk proyeksi masalah gizi mikro sampai dengan tahun 2015 sesuai dengan informasi yang tersedia sampai dengan tahun 2003 ini hanya dapat dilakukan untuk masalah KVA. 3. Akan tetapi intervensi yang dilakukan akan lebih banyak bermanfaat untuk membangun sumber daya manusia generasi mendatang. zink. Pengalaman kenaikan tinggi badan rata-rata dari generasi ke generasi pada negara sedang berkembang pada umumnya setinggi 1 cm dalam periode 10 tahun.1-0. Data dasar untuk keseluruhan masalah gizi mikro untuk waktu mendatang perlu dilakukan. serta menggunakan asumsi yang sama dengan penurunan prevalensi gizi kurang pada balita. kelompok umur ini terutama pada WUS usia 15 – 19 tahun harus menjadi prioritas untuk masa yang akan datang. 53 . GAKY dan Anemia Gizi. kurang zink. Dengan situasi tahun 1999 dengan penurunan hanya 3. Mayoritas intervensi yang telah dilakukan untuk mengurangi masalah KVA. Proyeksi KEK pada Wanita Usia Subur Berdasarkan kajian Susenas 1999-2003.7% dalam kurun waktu 5 tahun. kurang vitamin B1. menurunkan prevalensi gizi kurang pada balita dan juga mempercepat kenaikan tinggi badan anak Indonesia. asam folat. Seperti yang terlihat pada Figure 10. 35-40% WUS usia 15-19 tahun berisiko KEK. pada tahun 2015 asumsinya akan menjadi 20%. GAKY dan anemia gizi. kurang asam folat.3 cm. Kelompok wanita usia subur sampai dengan tahun 2003 belum menjadi prioritas program perbaikan gizi. Proyeksi masalah gizi mikro Masalah gizi mikro yang sudah terungkap sampai dengan tahun 2003 adalah masalah KVA. Untuk peningkatan status gizi penduduk. Strategi lain yang jauh lebih efektif seperti fortifikasi. Masih banyak masalah gizi mikro lainnya yang belum terungkap akan tetapi berperan sangat penting terhadap status gizi penduduk.

dimana dengan situasi ini akan dapat mencetus kembali munculnya kasus xeroftalmia. penurunan ini secara nasional tidak terjadi. Diharapkan dengan “multiple strategy” 50% KVA pada balita dapat ditekan menjadi 25% pada tahun 2015.8% pada tahun 1996/1998. pada umumnya prevalensi GAKY pada penduduk yang tinggal di daerah endemik berat dan sedang dapat menurun setelah intervensi kapsul yodium dalam periode tertentu dan akan membaik jika konsumsi garam beryodium dapat universal. Akan tetapi. antara lain konsumsi garam beryodium tingkat rumah tangga masih belum universal (SUSENAS 2003 menunjukkan hanya 73% rumah tangga mengkonsumsi garam beryodium). terutama di NTB. Angka prevalensi anemia pada WUS menurut SKRT 2001 adalah 27. Asumsi penurunan hanya sekitar 30% sampai dengan 2015. ada kemungkinan prevalensi GAKY tidak bisa seratus persen ditanggulangi dalam kurun waktu 12 tahun kedepan (sampai dengan 2015). dan penganekaragaman makanan) mulai diintensifkan. akan tetapi 50% balita masih menderita serum retinal <20 mg.vitamin B1 hanya tersedia dari hasil informasi konsumsi makanan pada tingkat rumah tangga yang cenderung defrisit dalam makanan sehari-hari. Diharapkan TGR pada tahun 2015 dapat ditekan menjadi kurang dari 5%. Dengan kondisi ini. Penanggulangan anemia sampai dengan 2002 masih difokuskan pada ibu hamil. Seperti yang diungkapkan pada uraian sebelumnya prevalensi anemia pada ibu hamil menurun dari 50. Selain itu pemantauan pemberian kapsul yodium pada daerah endemik berat dan sedang tidak diketahui sampai sejauh mana kapsul ini diberikan pada kelompok sasaran. selain strategi lain (fortifikasi. penyuluhan. masih banyak masalah yang belum teratasi secara tuntas dalam penanggulangan ini. Dari beberapa laporan. 54 . Tahun 2003 ini sudah dilakukan evaluasi penanggulangan GAKY untuk mengetahui prevalensi GAKY setelah informasi terakhir adalah 9. Pada uraian sebelumnya diketahui masalah KVA pada balita diketahui hanya dari hasil survei 1992. prevalensi GAKY ada kemungkinan akan meningkat lagi. pada tahun 1996 diasumsikan prevalensi GAKY akan diturunkan sekurang-kurangnya 50% pada tahun 2003 setelah intensifikasi proyek penanggulangan GAKY (IP-GAKY) 19972003. intervensi penanggulangan anemia pada WUS masih belum intensif. Diproyeksikan angka ini menjadi 20% pada tahun 2015. kasus xeroftalmia ternyata sudah mulai muncul kembali. akan tetapi juga untuk wanita usia subur dalam rangka menekan angka kematian ibu dan meningkatkan produktivitas kerja. Penanggulangan anemia untuk yang akan datang diharapkan tidak saja untuk ibu hamil.1%. karena sampai dengan tahun 2002. Pada survei tersebut dinyatakan masalah xeroftalmia sebagai dampak dari KVA sudah dinyatakan bebas dari Indonesia. Akan tetapi jika pemberian kapsul tidak tepat sasaran dan garam beyodium tidak bisa universal.9% (1995) menjadi 40% (2001). Pemberian kapsul vitamin A pada balita diasumsikan belum mencapai seluruh balita. Mengingat masalah GAKY sangat erat kaitannya dengan kandungan yodium dalam tanah. atau penurunan 50%. Intervensi KVA dengan distribusi kapsul vitamin A dosis tinggi untuk 5 tahun kedepan masih dianggap perlu.

selain mengurangi aktivitas yang tumpang tindih dan tidak terarah. Banyak hal yang harus diperkuat untuk melaksanakan program perbaikan gizi. Melakukan penanggulangan program perbaikan gizi dan kesehatan yang bersifat preventif untuk jangka panjang. pola penyakit. baik di daerah perkotaan maupun perdesaan dalam bentuk strategi pemberdayaan keluarga dan menciptakan kerja sama yang baik dengan swasta. Kajian strategi program yang efisien untuk masa yang datang mutlak diperlukan. Berikut ini merupakan pemikiran untuk program yang akan datang. Selain itu sampai dengan tahun 2003. Pemikiran program perbaikan gizi dan kesehatan untuk yang akan datang Berangkat dari besarnya masalah gizi dan kesehatan serta bervariasinya faktor penyebab masalah ini antar wilayah. 55 .Asumsi penurunan prevalensi masalah gizi ini perlu disempurnakan dengan memperhatikan angka kecenderungan kematian. Bentuk program efektif seperti perbaikan perilaku kesehatan dan gizi tingkat keluarga dilakukan secara professional mulai dipikirkan. provinsi. mulai dari tingkat nasional sampai dengan kabupaten. Jelas sekali kerja sama antar sektor terkait menjadi penting. maka diperlukan program yang komprehensif dan terintegrasi baik di tingkat kabupaten. 4. Secara bertahap melakukan peningkatan pendidikan. maupun nasional. masih banyak masalah gizi yang belum terungkap terutama berkaitan dengan masalah gizi mikro lainnya yang mempunyai peran penting dalam perbaikan gizi secara menyeluruh. 3. strategi ini merupakan strategi jangka panjang yang dapat mengangkat Indonesia dari berbagai masalah gizi dan kesehatan. Melakukan strategi program khusus untuk penanggulangan kemiskinan. dan tentunya dengan ketentuan atau kriteria yang spesifik lokal. sementara kuratif dapat diberikan pada kelompok masyarakat yang benar-benar membutuhkan. antara lain: 1. tingkat konsumsi. mulai dari ketersediaan data dan informasi secara periodik untuk dapat digunakan dalam perencanaan program yang benar dan efektif. pendapatan dan pendidikan. VI. 2.

bayi. Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi VI. Oleh karenanya. remaja. Laporan SKRT 1995 dan 2001. defisit skor mental Development Index (MDI) dan Physical Development Index (PDI). WHO. Draft II – Rencana Aksi program Pangan dan gizi nasional. Jakarta 2000 6. Dampak krisis ekonomi terhadap kemiskinan dan beberapa implikasinya untuk strategi pembangunan. 2001. Berdasarkan penelitian dan diperkuat dengan anjuran Badan Kesehatan Dunia (WHO). World Development Report 2000/2001: Attacking poverty 8. Indonesia Human Development Report 2001. The State of the World’s Children 1998. January 2000 2. 56 . Depkes 2002 12.Daftar Rujukan Nutrition throughout life cycle. Depkes 2000 4.SH dari Fraksi TNI/Polri. 10. Tinjauan kembali angka kematian ibu di Indonesia. Depkes 2002 13. IDHR. Peningkatan Status Gizi Ibu dan Balita Langkah Awal Peningkatan SDM 25 May 2004 Jakarta. serta fisik lebih pendek dan ringan. 11. Puguh B Irawan and Henning Romdiati. Depkes 2003 1. sampai dengan usia lanjut. Terkait dengan hal itu. Unicef (1998). 1998 dan 2001. balita.KBI Gemari Peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) hanya dapat dicapai apabila perbaikan status gizi dan kesehatan dilakukan sejak masa kehamilan. di Pusat Penelitian dan Pengembangan Gizi dan Makanan Badan Litbangkes telah dibentuk Klinik Gizi untuk memberikan penanganan secara rawat jalan. Jakarta 1998 5. Laporan studi angka kematian bayi dan balita Susenas 1995. Laporan Studi Mortalitas 2001: Pola Penyakit dan penyebab kematian di Indonesia. Oxford: Oxford University Press. Lebih lanjut Sujudi mengatakan. Litbangkes. Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi VII. dalam rangka upaya penanganan balita gizi buruk. 2003. 14. Nutrition for Health and Development 9. 4th report on The World Nutrition Situation. Towards a new consensus Democracy and human development in Indonesia. 3. akibat gizi buruk akan mengakibatkan kualitas SDM yang rendah dengan ditandai oleh defisit tingkat kecerdasan (IQ). Status gizi wanita usia subur dan balita. Hal itu dikemukakan Menteri Kesehatan Dr Achmad Sujudi. Soemantri S. Litbangkes. meningkatkan status gizi ibu dan balita merupakan langkah awal untuk meningkatkan SDM. 2001. Widyakarya Nasioanl Pangan dan Gizi VII. 2000. End decade statistical report: Data and Descriptive Analysis. anak sekolah. saat Rapat Kerja dengan Komisi VII DPR RI yang dipimpin oleh Ketua Komisi VII Iping Somantri. Litbangkes. BPS-Unicef 2000 7.

KEP pada usia dini berdampak terhadap pertumbuhan fisik. kebijakan yang dilakukan bersifat penyelamatan (rescue) dan pencegahan “Lost generation” sekaligus pembaharuan (reform) agar kejadian ini tidak terulang kembali. Sedangkan pada anak sekolah KEP dan kekurangan zat gizi mikro akan mengakibatkan hambatan kemajuan prestasi belajar.gemari.or. bahkan ASI eksklusif merupakan makanan terbaik bagi bayi. hanya mengonsumsi garam beryodium. Pada saat krisis ekonomi di Indonesia yang berlangsung cukup lama.id/beritadetail. penambahan glukosa pada anak sekolah dapat meningkatkan kemampuan mengingat dan menghitung. kebijakan jangka pendek. Upaya Yang Dilakukan Untuk menurunkan prevalensi gizi kurang dan gizi buruk pada balita yang masih tinggi. dan mempromosikan keluarga sadae gizi (kadarzi) untuk mencapai perilaku gizi seimbang dengan ciri-ciri memantau status gizi secara berkala. intelektual anak selanjutnya. (B5/B2/D1) http://kbi. Untuk mengantisipasinya perlu diberikan makanan tambahan glikemik tinggi. keragaman sumberdaya bahan pangan serta kelembagaan dan budaya lokal. yaitu memfokuskan intevensi gizi (pemberian makanan tambahan) pada anak 6-23 bulan (sebelumnya 6-11 bulan) terutama bagi keluarga miskin yang kurang gizi. memberikan ASI saja kepada bayi sejak lahir sampai berumur 6 bulan. Untuk itu maka kebijakan harus menjangkau berbagai faktor yaitu. mengonsumsi aneka ragam makanan. Setelah dilakukan penanganan terhadap Balita Gizi buruk diperoleh beberapa kesimpulan diantaranya. Departemen Kesehatan telah melakukan hal-hal berikut.perbaikan gizi balita harus dimuali sejak dini. Tidak heran kalau Pemberian ASI Ekslusif dianjurkan untuk diberikan pada bayi selama 6 bulan. Sedangkan kebijakan jangka menengah dan panjang berupa reformjasi kabijakan perbaikan gizi yang tujuannya mensinergikan subsistem pelayanan kesehatan dan pembiayaan kesehatan yang didukung oleh sistem ketahanan pangan dan gizi berbasis keluarga dan kemampuanm produksi. mampu memanfaatkan potensi keluarga untuk memenuhi kebutuhan pangan.php?id=2195 57 . Kebijakan upaya perbaikan gizi dikembangkan dan diarahkan untuk meningkakan status gizi masyarakat. bertujuan menangani anak dan keluarga yang terpuruk akibat krisis.