Anda di halaman 1dari 37

Fungsional Neuroanatomi dan Fisiologis Sistem Pengunyahan

Makalah Ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Anatomi Terapan
(Pertemua ke II, Hari Senin 29 Februari 2016)

Disusun oleh:
Very Cahyarani, drg. (160221150006)
Seto Pramudita, drg. (160221150007)
Ivan Benedictus, drg. (160221150008)
Vita Mulya Pasha, drg. (160221150009

Pembimbing:
Dr. Rudi Hartanto, drg., MS.

Program Pendidikan Dokter Gigi Spesialis Prostodonsia


Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Padjadjaran
Bandung, 2016

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI.............................................................................................. 2
BAB I PENDAHULUAN.............................................................................. 4
BAB II Fungsional Neuroanatomi dan Fisiologis Sistem Pengunyahan....5
2.1 Struktur neurologi.........................................................................5
2.2 Otot-otot..................................................................................... 12
2.2 Fungsi neuromuskular.................................................................19
2.3 Pengaturan Aktivitas Otot...........................................................23
2.4 Fungsi utama sistem pengunyahan............................................25
2.4.1 Fungsi mastikasi.......................................................................25
2.4.2 Fungsi penelanan.....................................................................30
2.4.2 Fungsi bicara............................................................................33

BAB I
PENDAHULUAN
Fungsi sistem pengunyahan kompleks. Kontraksi diskriminasi pada otot
kepala dan leher bervariasi diperlukan untuk menggerakkan mandibula secara
secara akurat dan membuat fungsi efektif. Sistem kontrol neurologic mengatur
dan mengkoordinasi aktivitas seluruh sistem pengunyahan keseluruhan. Sistem ini
terutama terdiri dari otot-otot dan sraf; sehingga disebut sistem neuromuskular.
Dasar pengertian anatomi dan fungsi sistem neuromuskular penting untuk
mengerti keterlibatan kontak gigi dan kondisi lain pada gerakan mandibular.
Makalah ini dibagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama membahas detail
neuroanatomi dasar dan fungsi sistem neuromuskular. Kedua membahas aktivitas
fisiologik pengunyahan, penelanan dan bicara. Bagian ketiga membahas konsep
penting dan mekanisme yang diperlukan untuk mengerti nyeri orofasial.
Menyentuh konsep ini pada tiga bagian seharusnya meningkatkan kemampuan
klinisi untuk mengerti keluhan pasien dan menyediakan terapi efektif.

BAB II
Fungsional Neuroanatomi dan Fisiologis Sistem Pengunyahan
Anatomi dan fungsi sistem neuromuskular
Untuk tujuan diskusi, sistem neuromuskular dibagi menjadi dua komponen
utama: struktur neurologik dan otot. Anatomi dan fungsi setiap komponen dibahas
terpisah, meskipun pada banyak contoh sulit untuk memisahkan fungsinya.
Dengan pengertian komponen-komponen ini, fungsi dasar neuromuskular dapat
dibahas.
2.1 Struktur neurologi
Neuron
Unit struktural dasar dari sistem saraf adalah neuron. Neuron terbentuk dari
massa protoplasma yang disebut nerve cell body dan protoplasmic pocessed dari
nerve cell body yang disebut dendrit dan akson. Nerve cell body berlokasi pada
batang otak dan ditemukan pada substansi abu-abu sistem saraf pusat (SSP). Cell
bodies ditemukan diluar SSP dikelompokkan dalam ganglia. Akson (dari bahasa
Yunani axon, berarti sumbu) merupakan inti pusat yang membentuk bagian
pengatur penting pada neuron dan perluasannya pada sitoplasma dari sel saraf.
Banyak neuron dikelompokkan untuk membentuk serabut saraf. Neuron ini
mampu menghantarkan impuls elektrik dan kimia sepanjang sumbunya, sehingga
memungkinkan informasi melewati masuk dan keluar SSP. Tergantung pada
lokasi dan fungsinya, neuron disebut dengan istilah berbeda. Neuron afferent
menghantarkan impuls saraf kearah SSP, sementara neuron efferent
menghantarkannya ke perifer. Neuron internuncial atau interneurons, berada
seluruhnya dalam SSP. Neuron sensori pertama disebut neuron primer atau firstorder neuron. Second dan third-order sensory neuron merupakan interneuron.

Neuron motorik atau eferen membawa impuls neuron untuk membuat efek
muskular atau sekresi.
Impuls saraf di transmisikan dari satu neuron ke neuron lain hanya pada
synaptic junction, atau synapse, dimana prosesus kedua neuron berdekatan.
Semua sinapses afferen berlokasi dalam substansi abu-abu SSP; normalnya, tidak
ada koneksi perifer anatomis antara serabut-serabut sensoris. Semua koneksi
antara SSP dan transmisi perifer dari impuls sensoris dari satu serabut ke serabut
lainnya adalah abnormal.
Reseptor sensoris
Reseptor sensoris merupakan struktur neurologik atau organ yang berlokasi
pada seluruh jaringan tubuh yang menyediakan informasi pada CNS dengan jalan
neuron afferent tergantung keadaan jaringan. Seperti bagian lain tubuh, berbagai
tipe reseptor sensoris berlokasi diseluruh jaringan yang membuat sistem
penguyahan. Reseptor sensoris khusus menyediakan informasi spesifik untuk
neuron afferen dan kembali ke SSP.
Reseptor sensori ditemukan dalam jaringan perifer misalnya kulit dan mukosa
mulut yang disebut exteroceptor. Reseptor ini menyediakan informasi dari
jaringan exterior tubuh menuju SSP mengenai kondisi lingkungan. Ada
exteroceptor khusus untuk panas, dingin, sentuhan ringan dan tekanan. Ada juga
reseptor yang spesifik untuk rasa tidak nyaman dan sakit. Reseptor ini disebut
nosiseptor. Nosiseptor berlokasi tidak hanya pada jaringan perifer, tetapi juga
diseluruh tubuh.
Reseptor lain menyediakan informasi mengenai poisi dan gerakan mandibula
dan struktur oral yang berhubungan. Ini disebut proprioseptor dan ditemukan
pertama kali pada seluruh struktur muskuloskeletal. Reseptor yang membawa
informasi tergantung status organ internal disebut sebagai interoseptor.
Interoseptor memberikan informasi SSP mengenai status struktur internal dan
prosesus misalnya aliran darah, pencernaan dan pernapasan. Input konstan
diterima dari seluruh reseptor ini mengijinkan cortex dan batang otak untuk

mengkoordinasi aksi otot individual atau kelompok otot untuk memberikan


respon yang tepat.
Informasi dari jaringan diluar SSP harus ditransfer kedalam SSP dan ke
sentral yang lebih tinggi pada batang otak dan cortex untuk interpretasi dan
evaluasi. Sekali informasi ini dievaluasi, harus diambil aksi yang tepat. Pusat yang
lebih tinggi kemudian mengirim impuls ke bawah saraf tulang belakang dan
keluar ke perifer pada organ eferen untuk aksi yang diinginkan. Neuron afferent
primer (neuron first-order) menerima stimulus dari reseptor sensoris. Inpul ini
dibawa oleh neuron afferent primer kedalam SSP dengan jalan akar dorsal untuk
bersinapsis dalam tanduk dorsal saraf tulang belakang dengan neuron sekunder
(second-order)(Gambar 2.1). Badan sel dari neuron afferent primer berlokasi
dalam dorsal root ganglia. Impuls kemudian dibawa oleh second-order neuron
melintasi saraf tulang belang ke anterolateral spinothalamic pathway, yang naik ke
pusat yang lebih tinggi. Mungkin terdapat interneuron multiple (third-order,
fourth-order, dlld) terlibat pada transfer impuls ke talamus dan korteks. Ada juga
interneuron berlokasi dalam tanduk dorsal yang dapat terlibat dengan impuls
selama sinapsis langsung dengan neuron efferent yang diarahkan keluar dari SSP
dengan cara akar ventral untuk stimulasi organ efferen, misalnya otot.

Gambar 2.1Gambaran grafis input saraf perifer ke dalam saraf tulang belakang.
Perhatikan bahwa first-order neuron (aferen primer) mmbawa input ke dalam
tanduk dorsal untuk bersinapsis dengan second-order neuron. Second-order
neuron kemudian melintas dan naik ke pusat yang lebih tinggi. Interneuron kecil
menghubungkan neuron aferen primer dengan neuron motor primer (eferen),
memungkinkan aktivitas lengkung refleks. Dorsal root ganglion (DRG)
mengandung badan sel neuron aferen primer.

Otak dan batang otak


Jika impuls saraf telah melewati second-order neuron, kemudian dibawa ke
pusat yang lebih tinggi untuk interpretasi dan evaluasi. Ada sejumlah pusat dalam
otak dan batang otak yang membantu memberi arti pada impuls ini. Harus diingat
bahwa sejumlah interneuron dapat terlibat dalam transmitting impuls ke pusat
yang lebih tinggi. Faktanya, kemampuan untuk mengikuti impuls melalui batang
otak ke korteks bukanlah pekerjaan mudah. Secara berurutan untuk membahas
fungsi otot dan nyeri pada teks ini, fungsi regio tertentu dari batang otak dan otak
harus dijelaskan. Penjelasan berikut merangkum bebrapa komponen fungsional
penting dari SSP; tulisan lain dapat dikonsulkan untuk rangkuman yang lebih
lengkap.
Gambar 2.2 adalah penjelasan grafis dari daerah fungsional otak dan batang
otak pada bagian ini. Pengertian daerah ini dan fungsinya sangat membantudalam
menangani nyeri orofasial. Daerah penting dibahas dibawah merupakan spinal
track nucleus, pembentukan retikular, talamus, hipotalamus, struktur limbik dan
corteks. Mereka dibahas berurutan dimana impuls neural berjalan menuju pusat
yang lebih tinggi.

Gambar 2.2 Gambaran grafis saraf trigeminal memasuki batang otak setinggi
pons. Neuron aferen primer (1st N) memasuki batang otak untuk bersinapsis
dengan second-order neuron (2nd N) dalamtrigeminal spinal tract nucleus (STN
of V). Spinal tract nucleus dibagi menjadi tiga bagian; subnukleus oralis (sno),
subnukleus interpolaris (sni) dan subnukleus caudalis (snc). Kompleks batang
otak trigeminal juga dibentuk dari motor nucleus V (MN of V) dan nukleus
sensoris utama V (SN of V). Badan sel saraf trigeminal terletak dalam ganglion

Gasserian (GG). Sekali second-order neuron menerima input, akan dibawa ke


thalamus (Th) untuk interpretasi.
Nuckleus spinal tract
Menyebar pada tubuh, neuron afferent primer bersinapsis dengan secondorder neurondalam tanduk distal kolom spinal. Input afferent dari struktur wajah
dan mulut,bagaimanapun, tidak memasuki saraf tulang belakang melalui jalan
saraf spinal. Bahkan input sensori dari wajah dan mulut dibawa melalui nervus
kranial kelima, nervus triigeminal. Badan sel neuron aferen trigeminal terletak
dalam ganglion gasserian besar. Impuls dibawa oleh nervus trigeminal langsung
masuk kedalam batang otak pada regio pons untuk bersinapsis dalam nukleus
spinal trigeminal (Gambar 2.2). Regio batang otak ini secara struktural sama
dengan tanduk dorsal saraf tulang belakang. Faktanya bahkan dapat dihitung
sebagai perluasan tanduk dorsal dan kadang disebut sebagai tanduk dorsal
medullar.
Kompleks trigeminal batang otak terdiri dari
(1) Nukleus trigeminal sensoris utama, yang dasarnya terletak dan menerima
peridontal an beberapa afferentpulpa, dan
(2) Spinal tract dari nukleus trigeminus, yang terletak lebih caudal. Spinal tract ini
dibagi menjadi (1) subnukleus oralis, (2) subnukleus interpolaris, dan (3)
subnukleus caudalis, yang berhubungan dengan tanduk dorsal medular. Pulpa gigi
aferen berjalan ke semua subnuklei tersebut. Subnukleus caudalis berimplikasi
khusus dalam mekanisme trigeminal nosiseptif pada dasar elektrofisiologis
observasi dari neuron nosiseptif. Subnukleus oralis muncul menjadi daerah
signifikan dari kompleks trigeminal batang otak untuk mekanisme nyeri oral.
Komponen lain dari kompleks trigeminal batang otak adalah nukleus motor
dari saraf kranial kelima. Daerah dari kompleks ini terlibat dengan interpretasi
impuls yang membutuhkan respon motor. Aktifitas motor refleks wajah dimulai
dari area ini dalam arah yang sama dengan aktivitas refleks spinal dalam tubuh.

Formasi retikular
Setelah neuron aferen primer berhubungan dalam spinal tract nucleus,
interneuron menghantarkan impuls ke pusat yang lebih tinggi. Interneuron naik
melalui jalan beberapa traktus melalui daerah batang otak yang disebut formasi
retikular. Dalam formasi retikular konsentrasi sel atau nuklei yang menunjukkan
pusat untuk berbagai fungsi. Formasi retikular memainkan peran sangat penting
dalam monitoring impuls yang memasuki batang otak. Formasi tersebut juga
mengontrol seluruh aktivitas otak dengan meningkatkan impuls ke otak atau
menghambat impuls. Bagian batang otak ini memiliki pengaruh penting pada
nyeri dan input sensoris lain.
Thalamus
Thalamus terletak pada pusat otak, dengan dikelilingi cerebrum dari atas dan
sisinya dan otak tengah dibawahnya (gambar 2.2). Ini terdiri dari sejumlah nuklei
yang berungsi bersama untuk mengganggu impuls. Thalamus disusun dari
sejumlah nuklei yang berfungsi menginterrupt impuls. Hampir semua impuls dari
bagian bawah otak seperti dari batang otak diteruskan melalui sinapsis dalam
thalamus sebelum diteruskan ke korteks cerebral. Thalamus berperan sebagai
pusat siar untuk hampir semua komunikasi antara brainsteem, serebellum dan
cerebrum. Ketika impuls naik ke thalamus, thalamus membuat assesment dan
melangsungkan impuls ke bagian yang tepat dalam pusat yang lebih tinggi untuk
interpretasi dan respon.
Jika membandingkan otak manusia dan komputer, thalamus disejajarkan
dengan keyboard, yang mengontrol fungsi dan meneruskan sinyal. Thalamus
mengarahkan korteks untuk aktivitas dan memungkinkan korteks untuk
berkomunikasi dengan bagian lain SSP. Tanpa thalamus, korteks tidak berguna.
Hipothalamus
Hipothalamus merupakan struktur kecil pada tengah dasar otak. Meskipun
kecil, fungsinya besar. Hipothalamus merupakan pusat utama otak untuk
mengontrol fungsi badan internal, misalnya temperatur tubuh, rasa lapar dan haus.

Stimulasi hipothalamus meliputi sistem nervus simpatetik diseluruh tubuh,


meningkatkan tingkat aktivitas banyak bagian internal tubuh, terutama detak
jantung dan menyebabkan konstriksi pembuluh darah. Dapat dilihat jelas bahwa
daerah kecil otak tersebut memiliki efek kuat pada seluruh fungsi. Akan dibahas
kemudia, peningkatan level stress emosional dapat menstimulasi hipothalamus
untuk meningkatkan regulasi sistem saraf simpatetik dan mempengaruhi impuls
nosiseptif memasuki otak. Pernyataan ini memiliki arti besar saat klinisi
menangani nyeri.
Struktur Limbik
Kata limbik berarti batas. Sistem limbik meliputi struktur tepi cerbrum dan
diencephalon. Sturktur limbik berfungsi mengontrol emosi kita dan aktivitas
kebiasaan. Diantara struktur limbik tedapat nuklei atau pusat tanggung jawab
untuk sikap khusus misalna marah, kasar dan docility. Struktur limbik juga
mengontrol emosi misalnya depresi, kecemasan, takut dan paranoia. Sistem ini
juga tampak pada pusat nyeri atau senang yang pada tingkat intinctive
menyebabkan sikap individu menstimulasi kesenangan pada pusatnya dan jauh
dari nyeri. Hal ini umumnya tidak dirasakan dengan sadar tetapi lebih seperti
insting dasar. Insting, bagaimanapun akan membawa kebiasaan terhadap
kesadaran. Sebagai contoh, jika individu mengalami nyeri kronis, sikapnya akan
mengarah pada penghindaran terhadap semua stimulus yang meningkatkan nyeri.
Seringkali penderita akan menghindari hidup dan dapat terjadi perubahan mood
misalnya depresi. Dipercaya bahwa bagian struktur limbik berinteraksi
danmembentuk hubungan dengan korteks, mengkoordinasi fungsi sikap sadar
cerebral dengan fungsi sikap sub sadar pada bagian sistem limbik yang lebih
dalam.
Impuls dari sistem limbik memimpin pada hipotalamus dapat memodifikasi
salah satu atau semua fungsi internal tubuh yang dikontrol oleh hipotalamus.
Impuls dari sistem limbik menyuplai kedalam otak tengah dan medulla dapat
mengontrol sikap misalnya terbangun, tidur, rasa tertarik dan attentiveness.
Dengan pengertian dasar fungsi limbik seseorang dapat dengan cepat mengerti

akibat limbik pada seluruh fungsinya. Sistem limbik memainkan peran penting
pada masalah nyeri.
Korteks
Serebral korteks, utamanya disusun dari bahan abu-abu, merupakan bagian
luar cerebrum. Porsinya pada otak berhubungan dengan proses berpikir-bahkan
merkipun tidak dapat menydiakan berpikir tanpa aksi simultan dari struktur otak
yang lebih dalam dan disini bahwa semua kepentingan memori disimpan. Ini
juga merupakan daerah yang bertanggung jawab untuk kemampuan kita untuk
menerima keterampilan otot. Kita masih tidak mengetahui mekasnisme dasar
fisiologis mengapa korteks serebral menyimpan memori atau pengetahuan
keterampilan otot.
Melalui kebanyakan perluasannya, korteks serebral adalah sekitar 6 mm
tebalnya dan mengandung 50 milyar sampai 80 milyar saral badan sel seluruhnya.
Mungkin satu milyar serabut saraf keluar dari korteks dan jumlah yang sama
masuk kedalam. Serabut saraf ini melewati bagian lain korteks ke dan dari
struktur yang lebih dalam, dan pada beberapa kasus menuju spinal cord
Daerah berbeda korteks serebral telah diidentifikasi memiliki fungsi berbeda.
Ada motor area yang telibat dalam koordinasi fungsi motor. Ada daerah sensori
yang menerima input somatosensoriutuk evaluasi. Ada juga daerah untuk indra
khusus, misalnya daerah visual dan auditori.
Jika kita membandingkan otak manusia dengan komputer, korteks serebral
akan menggambarkan drive hard disk yang menyimpan semua informasi memori
dan fungsi motor. Sekali lagi penting untuk mengingat thalamus (keyboard)
merupakan unit penting yang membuat korteks berfungsi.
2.2 Otot-otot
Motor unit
Komponen dasar sistem neuromuskular merupakan unit motor yang terdiri
dari sejumlah serabut otot yang diinervasi oleh satu motor neuron. Setiap neuron
berhubungan dengan serabut otot pada motor end plate. Ketika neuron diaktivasi,

motor end plate distimulasi untuk melepaskan sejumlah kecil asetilkollin, yang
memicu depolarisasi serabut otot (gambar 2.3). Depolarisasi menyebabkan serabut
otot memendek atau kontraksi.

Gambar 2.3 Hubungan neuromuskular adalah hubungan antara neuron motor dan
otot. Acetylcholine disimpan dalam endplatesaraf; dilepaskan dalam celah sinaptik
yang memulai depolarisasi serabut otot, menyebabkan kontraksi otot.
Jumlah serabut otot yang diinervasi oleh satu motor neuron bervariasi
tergantung pada fungsi unit motor. Semakin sedikit serabut otot permotor neuron,
semakin berharga pergerakannya. Neuron motor tunggal dapat menginervasi
hanya dua atau tiga serabut otot, seperti pada otot siliary (yang mengontro lensa
mata dengan tepat). Sebaiknya satu neuron motor dapat menginervasi ratusan
serabut otot seperti pada otot yang besar (misalnya rektus femoris pada kaki). Ada
persamaan variasi dalam jumlah serabut otot per motor neuron antara otot
pengunyahan. Otot pterigoid lateral inferior cenderung memiliki rasio rendah
serabut otot-neuron motor dan mampu memyesuaikan panjang yang dibutuhkan
untuk beradaptasi pada perubahan horozontal dalam posisi mandibula.
Sebaliknya, masseter memiliki sejumlah besar serabut motor per neuron motor,
yang berhubungan dengan fungsi yang lebih besar dalam menyediakan gaya yang
diperlukan selama pengunyahan.
Otot
Ratusan sampai ribuan unit motor, bersama dengan pembuluh darah dan
saraf, dibungkus bersama oleh jaringan ikat dan fascia untuk membuat otot. Untuk
mengerti efek otot ini pada lainnya dan pada tulang tempat melekatnya, harus

diamati hubungan dasar skeletal dengan kepala dan leher. Tengkorak didukung
posisinya oleh tulang servikal. Faktanya jika tengkorak kering diletakkan pada
posisi seharusnya pada tulang servikal, tengkorak akan overbalanced ke anterior
dan jatuh kedepan dengan cepat. Keseimbangan bahkan lebih hilang jika
diperhitungkan posisi mandibula yang tergantung dibawah bagian anterior
tengkorak. Dapat dilihat bahwa tidak ada keseimbangan komponen skeletal dari
kepala dan leher. Otot-otot diperlukan untuk menangani ketidak seimbangan berat
dan massa. Jika kepala akan dijaga pada posisi tegak sehingga memungkinkan
untuk melihat ke depan, otot yamng melekat pda aspek posterior tengkorak ke
tulang sevikal dan bagian bahu harus berkontraksi. Beberapa otot yang
bertanggung jawab untuk fungsi ini adalah trapezius, sternocleidomastoideus,
splenius capitis dan longus capitis. Bagaimanapun jika memungkinkan otot-otot
ini untuk overkontraksi dan langsung untuk melihat terlalu jauh ke atas. Untuk
melawan aksi ini, kelompok otot antagonis ada pada bagian anterior kepala;
masseter (bergabung dengan mandibula ke tengkorak), suprahyoid (bergabung
dengan tulang hyoid ke sternum dan clavikula). Ketika otot-otot ini berkontraksi,
kepala direndahkan. Sehingga ada keseimbangan gaya muskular yang menjaga
kepala pada tempat yang diinginkan (gambar 2.4). Otot-otot ini, ditambah lainnya,
juga menjaga posisitepat sisi ke sisi dan rotasi kepala.

Gambar 2.4 Keseimbangan tepat dan kompleks otot kepala dan leher harus ada
untuk menjaga posisi dan fungsi kepala yang tepat. A, Sistem otot. B, Setiap otot
besar beraksi seperti tali elastik. Tekanan harus disebarkan merata untuk

keseimbangan yang menjaga posisi kepala yang diinginkan. Jika satu tali elastik
putus, keseimbangan seluruh sistem terganggu dan posisi kepala berubah.
Fungsi otot
Motor unit dapat membawa hanya satu aksi: kontraksi atau memendek.
Seluruh otot memiliki tiga fungsi potensial: (1) Ketika sejumlah besar motor unit
pada otot terstimulasi, terjadi kontraksi atau pemendekan seluruh otot. Tipe
pemendekan dibawah beban konstan disebut kontraksi isotonik, yang terjadi
dalam masseter ketika mandibula terangkat, mendorong gigi melalui bolus
makanan. (2) Ketika sejumlah motor unit berkontraksi pada oposisi untuk
memberikan gaya, fungsi resultan otot ditahan atau rahan stabil. Kontraksi ini
tanpa pemendekan disebut kontraksi isometrik, dan terjadi dalam masseter ketika
objek ditahan diantara gigi (contohnya pipa atau pensil). (3) Sebuah otot juga
berfungsi melalui relaksasi terkontrol. Ketika stimulasi motor unit terputus,
serabut motor unit istirahat dan kembali ke panjang normalnya. Dengan
mengontrol penurunan stimulasi motor unit panjang otot yang tepat dapat terjadi
yang mengijinkan gerakan halus dan lembut. Tipe relaksasi terkontrol ini diamati
dalam masseter ketika mulut terbuka untuk menerima bolus makanan baru selama
pengunyahan.
Menggunakan ketiga fungsi ini, otot kepala dan leher menjaga posisi kepala
yang diinginkan secara konstan. Kesimbangan erjadi antara otot yang berfungsi
menaikkan kepala dan yang berfungsi menekannya. Selama gerakan ringan, setiap
otot berfungsi dalam harmoni dengan lainnya untuk melakukan gerakan yang
diinginkan. Jika kepala berputar ke kanan, otot tertentu harus memendek
(kontraksi isotonik), yang lain harus relaks (relaksasi terkontrol) dan yang lain
harus menstabilkan atau menahan hubungan tertentu (kontraksi isometrik). Sistem
kontrol yang memuaskan diperlukan untuk mengkoordinasi keseimbangan otot
ini.
Ketiga tipe aktivitas otot terlihat selama fungsi rutin kepala dan leher. Ada
tipe lain aktivitas otot yang disebut kontraksi eksentrik, yang dapat terjadi selama
kondisi tertentu. Tipe kontraksi ini sering melukai jaringan otot. Kontraksi
eksentrik mengacu pada pemaksaan pemanjangan otot bersamaan dengan otot

berkontraksi. Contoh kontraksi eksentrik terjadi dengan hubungan kerusakan


jaringan selama luka extension-flexion (whiplsh injury). Pada momen yang tepat
saat luka kendaraan bermotor, otot servikal berkontraksi untuk mendukung kepala
dan menahan gerakan. Jika hantaman besar, perubahan tiba-tiba pada inersia
kepala menyebabkannya bergerak sementara otot berkontraksi mencoba
mendukungnya. Hal ini mengakibatkan pemanjangan mendadak otot ini selagi
mereka berkontraksi. Tipe pemanjangan mendadak selama otot berkontraksi
sering menyebabkan luka dan dibahas pada bagian nyeri otot.
Reseptor sensoris otot
Seperti unit muskuloskeletal lain, sistem pengunyahan mengatur empat tipe
besat resptor sensoris (proprioseptor) untuk memonitor status strukturnya: (1)
muscle spindles, dimana organ reseptor khusus ditemukan pada jaringan otot; (2)
organ golgi tendon, terletak dalam tendon; (3) pacinian corpuscle, terletak dalam
tendon, sendi, periosteum, fascia dan jaringan subcutaneus; dan (4) nosiseptor,
ditemukan secara umum diseluruh jaringan sistem pengunyahan.
Spindle otot
Otot skeletal terdiri dari dua tipe serabut otot. Yang pertama adalah serabut
extrafusal, yagn kontraktil dan membuat ketebalan otot; yang lain adalah serabut
intrafusal, yang hanya berkontraksi permenit. Bundel dari serabut otot intrafusal
diikat oleh lapisan jaringan ikat yang disebut muscle spindle (gambar 2.5). Muscle
spindle terutama memonitor tekanan pada otot skeletal. Mereka berselang
diseluruh otot dan paralel dengan serabut ekstrafusal. Antara setiap spindle, nuklei
serabut intrafusal disusun dalam dua bentuk: chainlike (nuclear-chain type) dan
clumped (nuclear-bag type).

Gambar 2.5 Muscle spindle

Dua
tipe

saraf

aferent,

diklasifikasikan tergantung pada diameternya, mensuplai serabut intrafusal.


Serabut yang lebih besar menghantarkan impuls pada kecepatan tinggi dan
memiliki sedikit gangguan. Yang berakhir pada regio pusat serabut intrafusal
adalah grup yang lebih besar (Ia, A-alpha) (dibahas kemudian) dan disebut untuk
menjadi akhiran primer (disebut annulospiral ending). Yang berakhir pada kutub
spindle (jauh dari regio pusat) merupakan kelompok yang lebih kecil (II, A-beta)
dan secondary endings (disebut flower-spray endings).
Serabut intrafusal muscle spindle diatur paralel terhadap serabut extrafusal
otot; sehingga ketika otot meregang, demikian juga serabut intrafusal. Peregangan
ini dimonitor pada regio nuclear-chain dan nuclear-bag. Akhiran annulospiral dan
flower-spray diaktivasi oleh regangan dan neuron afferent membawa impuls
neural ini ke SSP. Neuron afferent berasal dalam muscle spindle dari otot
pengunyahan memiliki badan sel dalam nukleus mesencephalic nucleus.
Serabut intrafusal menerima inervasi efferent dari serabut saraf fusimotor.
Serabut ini memberikan klasifikasi alfabetikal pada serabut gamma atau gamma
efferent untuk membedakan mereka dari serabut saraf alpha yang mensuplai
serabut ekstrafusal. Seperti serabut eferen lain, serabut gamma eferen berasal dari
SSP; ketika distimulasi, mereka menyebabkan kontraksi serabut intrafusal. Ketika
serabut intrafusal berkontraksi, daerah nuclear-chain dan nuclear-bag meregang,
yang diingat seperti seluruh otot meregang dan aktivitas aferent dimulai. Sehingga
ada dua tindakan dimana serabut aferen muscle spindle dapat distimulasi:

peregangan umum dari seluruh otto melalui gamma eferen. Muscle spindle hanya
dapat mendaftarkan peregangan; mereka tidak dapat membedakan kedua aktivitas
ini. Sehingga aktivitas ini diingat sebagai aktivitas yang sama oleh SSP.
Serabut otot ekstrafusal menerima inervasi melalui neuron motor eferen
alpha. Kebanyakan memiliki badan sel dalam nukleus motor trigeminal. Stimulasi
neuron ini menyebabkan kontraksi kelompok serabut otot ekstrafusal (motor unit).
Dari pandangan fungsional, muscle spindle bertindak sebagai sistem monitor
pemanjangan. Hal ini secara kontasn memberikan informasi tergantung dari
pernyataan elongasi atau kontraksi otot kembali ke SSP. Ketika otot meregang
tiba-tiba, kedua serabut extrafusal dan intrafusal berelongasi. Peregangan spindle
menyebabkan hambatan kelompok I dan II saraf aferent ke SSP. Ketika neuron
motor eferen alpha distimulasi, serabut extrafusal otot berkontraksi dan spindle
memendek. Pemendekan ini mengurangi output aferen spindle. Jika tidak ada
sistem eferen gamma, penghentian total aktivitas spindle akan terjadi selama
kontraksi otot. Seperti dijelaskan sebelumnya, stimulasi eferen gamma
menyebabkan serabut intrafusal muscle spindel berkontraksi. Hal ini akan
memperoleh aktivitas aferen dari spindle bahkan ketika otot berkontraksi. Gamma
eferen drive dapat menjaga kontraksi otot.
Organ tendon golgi
Organ golgi terletak diantara serabut otot dan perlekatannya dengan tulang.
Berperan dalam pengaturan refleks dan sensitifitas selama fungsi. Tugas utamanya
memonitor tegangan yang dibantu dengan spindel otot yang berperan memonitor
panjang otot.
Organ golgi muncul bersamaan dengan spindel otot tetapi tidak pada posisi
sejajar. Setiap elemen sensoris ini mengandung serat tendinous yang dilingkupi
oleh rongga limfatik dan terbungkus kapsul fibrosa. Tegangan pada tendon
merangsang penerimaan pada organ tendon golgi. Kontraksi otot juga
menstimulasi organ, begitu pula dengan peregangan yang menyebabkan tarikan
pada otot dan menstimulasi organ.

Korpus paccini
Korpus ini merupakan organ oval besar terdiri atas lamela konsentris dari
jaringan ikat. Organ ini terdistribusi secara luas dan berperan dalam persepsi
gerakan dan tekanan yang kuat. Pada ujung korpuskel terdapat inti yang berisi
ujung saraf. Organ ini ditemukan di tendon, persendian, periosteum, insersi
tendon, fascia dan jaringan subkutan. Tekanan akan mendeformasi organ dan
merangsang pembuluh saraf.
Nosiseptor
Secara umum nosiseptor adalah reseptor sensoris yang menyampaikan
rangsang nyeri akibat cedera dan menghantarkannya ke pusat saraf sensoris
melalui serabut saraf aferen. Reseptor ini berada hampir diseluruh jaringan pada
sistem pengunyahan. Fungsi reseptor ini adalah memonitor kondisi, posisi, dan
gerakan dari jaringan pada saat fungsi pengunyahan. Ketika terdapat situasi yang
membahayakn dan berpotensi mencederai jaringan reseptor mengirim informasi
ke pusat saraf sensoris sebagai sensasi nyeri atau tidak nyaman
2.2 Fungsi neuromuskular
Fungsi reseptor sensoris
Keseimbangan kepala dan leher digambarkan sebagai hal yang dicapai oleh
umpan balik dari berbagai saraf sensoris. Ketika otot teregang secara pasif,
spindel menginformasikan CNS akan aktivitas ini. Kontraksi otot dimonitor oleh
organ golgi dan spindel otot. Pergerakan sendi dan otot merangsang korpus
paccini. Semua reseptor sensoris memberikan masukan ke pusat saraf sensoris.
Batang otak dan thalamus memonitor dan mengatur fungsi sitem pengunyahan.
Ketika informasi sensoris dianggap membahayakan, informasi akan diteruskan
oleh thalamus ke cortex otak pada pusat penentu keputusan.

Fungsi refleks sistem pengunyahan

Refleks adalah respon terhadap rangsang yang melalui neuron aferen ke


ujung saraf posterior pyang langsung diteruskan ke saraf eferen diteruskan ke
serabut otot. Meskipun informasinya sampai ke pada pusat saraf yang leih tinggi,
responnya diluar kendali sadar tanpa pengaruh batang otak maupun korex. Aksi
refleks dapat berupa monosinaptik maupun polisinaptik. Refleks mono sinaptik
terjadi bilamana saraf aferen menstimuli saraf eferen pada sistem saraf pusat.
Refleks polisinaptik muncul ketika saraf aferen merangsang satu atau lebih
interneuron pada sistem saraf pusat, yang diteruskan ke serabut saraf eferen.
Refleks utama yang terdapat dalam sistem mastikasi adalah refleks myotatik dan
refleks nosiseptif.
1. Refleks myotatik
Refleks merupakan refleks monosinaptik, yang terjadi ketika otot
merengang secara cepat, dan memicu refleks protektif untuk segera
berkontraksi.. Refleks ini dapat dicontohkan pada refleks gerakan lutut
kaki. Pada sistem pengunyahan dapat diamati saat dagu diarahkan secara
cepat untuk membuka kebawah, hal ini akan diantsipasi oleh otot maseter
yang berkontraksi. Jalur penyampaian impuls dibawa melalui saraf aferen
dari spindel otot ke batang otak selanjutnya ke motor nukleus trigeminal
melalui jalur nukleus trigeminal mesencephalik. Impuls akan diteruskan
ke motor neuron eferen alfa untuk dilanjutkan ke serabut otot maseter
(Gambar 2.6). [1]

Gambar 2.6 Skema refleks myotatik

Refleks myotatik muncul tanpa respon spesifik dari korteks dan sangat
penting dalam menentukan posisi istriahat dari rahang. Jika sistem otot
yang menyusun sistem pengunyahan dalam kondisi istirahat.Gaya gravitasi
akan menarik rahang ke bawah memisahkan permukaan artikulasi TMJ,
untuk mencegah terjadinya dislokasi, otot-otot elevator mandibula
menahan dengan kontraksi ringan yang disebut tonus otot.
Refleks myiotatik dapat juga dipengaruhi oleh pusat saraf yang lebih tinggi
melalui sistem fusimotor. Korteks dan batang otak akan membawa
aktivitas gamma dengan efisisensi yang meningkat ke serat intrafusal pada
spindel. Aktivitas ini menyebabkan serabut intrafusal kontraksi,
menyebabkan peregangan kantung nuklear dan area rantai nuklear dari
spindel. Kondisi meregang ini mengurangi regangan total yang
dibutuhkan pada seluruh otot sebelum terjadi aktifitas spindel afferen.
Pusat saraf dengan menggunakan fusimotor dapat melakukan; (1)
Meningkatkan aktivitas gamma eferen, (2) Meningkatkan sensitivitas dari

refleks myiotatik, (3) Penurunan aktivitas gamma eferen dan menurunkan


sensitivitas dari gerakan refleks ini.
2. Refleks nosiseptif
Refleks nosiseptif disebut juga refleks flexor, merupakan refleks
polisinaptik akibat stimuli sakit dan bersifat protektif. Refleks ini
dicontohkan bila ekstermitas menyentuh permukaan panas, maka secara
spontan individu akan menariknya menjauhi permukaan panas tersebut.
Pada sistem pengunyahan gerakan refleks ini terjadi bilamana ketika kita
mengunyah tiba-tiba terdapat elemen yang keras, maka akan terjadi
peningkatan beban kunyah pada gigi dan langsung membebani jaringan
periodontal menjadi stimulus nyeri. Efeknya otot akan secara langsung
membuka membebaskan oklusi. Mekanisme refleks ini diawali dengan
serabut saraf aferen primer membawa impuls ke nukleus traktur spinal
trigeminal, dimana terjadi persilangan sinaps sehingga impuls diteruskan
ke nukleus motor trigeminal. Stimulus diteruskan ke saraf eferen yang
berbeda, bagi otot pembukaan mandibula akan dirangsang untuk
berkontraksi sehingga mulut membuka, sedangkan pada otot penutupan
mandibula dirangsang untuk relaksasi melalui inhibitor interneuron
(Gambar 2.7).

Gambar 2.7 Skema refleks nociseptif

Inervasi resiprokal
Sistem otot didesain untuk memiliki antagonisnya. Fungsinya untuk menjaga
keseimbangan fungsi maupun untuk refleks yang bersifat protektif. Penutupan
mandibula dilakukan oleh kontraksi otot temporal, medial pterygoid, dan maseter
dapat tercapai bilamana otot suprahyoid relaksi dan mengalami elongasi.
Fenomena ini memungkinkan dapat tercapai kontrol gerakan mandibula yang
lancar dan tepat. Otot-otot yang menopang kepala harus didukung oleh otot-otot
antagonisnya yang berada dalam tonus otot yang ringan. Hal ini bertujuan untuk
menempatkan kepala dalam posisi postural. Perbedaan kondisi antara tonus otot
dan kontraksi penuh adalah pada kontraksi penuh memerlukan aktivitas hampir
semua serat otot, yang akan membatasi suplai darah hingga akhirnya akan
menyebabkan lelah dan pegal.[1]
2.3 Pengaturan Aktivitas Otot
Semua input rangsang dari reseptor sensoris harus diterima oleh sistem saraf
pusat melalui serabut saraf aferen untuk dapat diolah menjadi gerakan mandibula
yang tepat. Batang otak dan korteks haruslah berasimilasi dan mengatur masukan
ini dan memeroduksi sinyal yang tepat pada pusat pergerakan melalui serabut
saraf eferen. Sistem ini bekerja dengan kontraksi satu kelompok kerja otot diikuti
dengan relaksi kelompok kerja otot lainnya. Aktivitas gamma eferen selalu aktif,
sementara alpha motor neuron selalu dalam kondisi siap secara reflektif menirma
impulse dari korteks maupun dari serabut otot. Pergerakan mandibula diatur oleh
hubungan antara gamma eferen, aferen spindel, dan alpha motor neuron.
Berbagai macam kondisi pada sistem pengunyahan dipengaruhi oleh
pergerakan dan fungsi mandibula. Reseptor sensoris pada jaringan periodontal,
periosteum, TMJ, lidah dan jaringan lunak lainnya terus memberikan masukan
kedalam otak untuk mengarahkan aktivitas otot.[1]
Pada batang otak terdapat kumpulan neuron yang mengatur aktivitas ritmik
otot seperti berjalan, bernafas, dan mengunyah. Kumpulan neuron ini dapat
disebut sebagai Pusat Pembuatan Pola (PPP). PPP bertanggung jawab untuk
mengatur waktu yang tepat untuk aktivitas otot-otot antagonistik sehingga

didapatkan gerakan yang harmonis. Serabut otot kemudian akan mempelajari pola
gerkan pada saat pengunyahan yang efisien dan meminimalisir terjadinya cedera.
Pola gerakan tersebut dinamakan engram. Pengunyahan merupakan gerakan
subsadar yang dapat diubah menjadi sadar pada saat kapan pun.[1]
Aktivitas pergerakkan otot dipengaruhi juga oleh kondisi emosional
seseorang. Kondisi emosional memengaruhi aktivitas otot melalui mekanisme:
1. Peningkatan stress emosional memicu struktur limbik dan hypothalamik,
mengaktifkan sistem gamma eferen. Peningkatan aktivitas gamma diikuti
oleh kontraksi serabut intrafusal, menyebabkan peregangan parsial dari
kawasan sensory di spindel otot. Kondisi peregangan parsial ini akan
mengurangi peregangan yang diperlukan untuk memicu refleks myotatik.
Hal ini mengakibatkan peningkatan tonus otot, dan meningkatkan
sensitivitas otot. Tonus otot yang meningkat menyebabkan kelelahan otot
dan tekanan pada TMJ.
2. Peningkatan aktivitas gamma juga dapat menyebabkan peningkatan
jumlah aktivitas otot yang irrelevant. Hal ini dipengaruhi oleh kerja
formasi reticular untuk melakukan aktivitas otot yang tidak semestinya,
seperti; menggigit kuku, bruxism maupun cleanching.

2.4 Fungsi utama sistem pengunyahan


Sistem pengunyahan memiliki tiga fungsi utama, yaitu (1) pengunyahan, (2)
penelanan, (3) berbicara. Selain fungsi utama tersebut ada fungsi tambahan berupa
membantu pernafasan dan mengeksperesikan emosi. Fungsi pergerakan diatur
oleh kompleks neuromuskular. Semua input sensoris pada sistem pengunyahan
diterima dan diolah oleh PPP disertai dengan gerakan refleks yang sudah
terbentuk sebelumnya dan engram otot untuk mendapatkan fungsi yang diininkan.
Pola oklusi juga memainkan peranan penting dalam fungsi sitem pengunyahan.1

2.4.1 Fungsi mastikasi


Pengunyahan atau mastikasi dapat didefinisikan sebagai proses kerja
neuromuskular yang kompleks dan sangat terkoordinasi yang merupakan aktivitas
terevolusi dari perilaku makan primitif pada organisme bertulang belakang1.
Sistem mastikasi merupakan unit fungsional yang tersusun dari gigi dan jaringan
pendukung maupun jaringan di sekelilingnya, rahang, sendi temporomandibula,
otot-otot pengunyahan, bibir dan lidah, dan persarafan dan pembuluh darah yang
mendukungnya. Fungsi pengunyahan berlangsung dengan panduan impuls saraf
pada otot, dan rahang, sendi temporomandibula, gigi serta jaringan pendukungnya
digunakan sebagai alat pasif.
Proses pengunyahan mengikuti sebuah pola gerakan yang telah ditentukan
oleh PPP. Setiap pembukaan dan penutupan mandibula mewakili gerakan
pengunyahan. Pola pengunyahan (Chewing stroke) memiliki pola pergerakkan
yang mengikuti bentuk tetesan air. Fase penutupan dibagi menjadi dua yaitu; (1)
Fase penghancuran, dan (2) Fase pelumatan. (Gambar 2.8)

Gambar 2.8 Pola gerakan pengunyahan

Pada proses mengunyah terdapat dua gerakan utama yang berkaitan dengan
hubungan kontak oklusi gigi. Gerakan anterior, yaitu gerakan yang dilihat pada
pergerakan tepi incisal gigi anterior rahang bawah. Gerakan ini berfungsi untuk
memotong makanan yang akan dimasukkan ke dalam mulut. Gerakan kedua
adalah gerakan lateral, yaitu gerakan yang diamati pada pertemuan kontak oklusal
gigi posterior pada saat fase penghancuran dan pelumatan makanan. Jumlah
repetisi gerakan lateral bergantung pada konsistensi makanan. Jumlah pola
gerakan pengunyahan bertambah dengan kekerasan makanan. Pola pengunyahan
yang dibentuk oleh PPP lebih banyak dipengaruhi oleh engram otot daripada
kekasaran makanan.1
Gerakan mengunyah dilakukan berulang-ulang hingga makanan menjadi
halus. Urutan terjadinya proses pengunyahan dimulai dengan fase membuka
mulut, dimana mandibula bergerak ke bawah dari posisi intercusp ke titik dimana
incisal edge gigi berjarak 16-18 mm. Dilanjutkan dengan pergerakan mandibula
ke arah lateral 5-6 mm dari midline sebagai permulaan gerakan menutup.1
Tahap pertama dari gerakan menutup dimana makanan terletak di antara gigi
geligi disebut fase penghancuran.Pada saat terjadinya gerakan menutup ini
pergerakan lateral berkurang menjadi 3-4 mm dari posisi awal gerakan
mengunyah. Pada posisi ini cusp bukal dari gigi mandibula hampir berada di
bawah cusp bukal dari gigi maksila. Selanjutnya fase penggilingan dimulai
dengan terjebaknya bolus makanan di antara gigi, dimana mandibula pada
keadaan menutup. Selama fase penggilingan pergerakan mandibula mengikuti
bentuk permukaan oklusal hingga kembali ke posisi intercusp yang menyebabkan
kontak antar bonjol, dimana memungkinkan terjadinya pemotongan dan
penghalusan bolus makanan.1
Jika dilihat dari bidang sagital selama gerakan mengunyah, pada fase
membuka mulut, mandibula akan bergerak sedikit ke arah anterior dan pada
waktu fase menutup mulut, mandibula akan bergerak sedikit ke arah posterior
kemudian bergerak kembali ke posisi intercusp.1
Pola pengunyahan dapat terjadi secara bilateral, namun lebih banyak individu
memiliki sisi yang disukai dimana proses pengunyahan lebih banyak terjadi. Sisi

yang dipilih adalah sisi yang lebih banyak memiliki lebih banyak kontak oklusal
sat gerakan lateral. Pengunyahan satu sisi dapat menyebabkan distribusi beban
yang tidak merata pada TMJ.1
Gigi yang berkontak selama mastikasi
Pada studi sebelumnya terdapat pernyataan bahwa gigi tidak berkontak
selama mastikasi. Hal ini di spekulasi karena makanan terdapat diantara gigi,
dengan respon cepat dari sistem neuromuskular yang mencegahnya berkontak.
Pada studi yang lain, menunjukan bahwa gigi geligi berkontak selama mastikasi.
Ketika makanan pertama kali diperkenalkan di dalam mulut akan terjadi beberapa
kontak. Setelah bola makanan tersebut dihancurkan frekuensi gigi berkontak akan
meningkat. Pada tahap terakhir dari mastikasi adalah untuk memprioritaskan
penelanan, tetapi tekanan yang pada kontak yang terjadi lebih minimal.
Dua tipe kontak yang telah berhasil di identifikasi: gliding,dimana terdapat
iklinasi cusp saling melewati dengan lawannya setelah pembukaan dan fase
menggerus dari mastikasi dan single, dimana terdapat posisi maximum intercuspal
position. Pada hasil studi ini juga menunjukan bahwa masing masing individu
memiliki tingkat dalam kontak gliding. Yang berarti persentasi dari kontak gliding
yang didapat selama pengunyahan sebanyak 60% selama fase menggerus dan
56% selama fase pembukaan. Waktu rata-rata dari gigi untuk berkontak selama
mastikasi adalah 194 mS. Hal ini menunjukan bahwa kontak dipengaruhi oleh
fase pembukaan awal dan penggerusan dari jumlah stroke. Jumlah stroke juga
dipengaruhi dari kondisi oklusal. Selama mastikasi kualitas dan kuantitas dari
kontak gigi di sampaikan informasinya secara konstan melalui sensoris ke CNS
untuk menghasilkan karakter stroke dalam mengunyah. Secara keseluruhan tinggi
cusp dan kedalaman fosa mempengaruhi secara dominan pada stroke dalam
mengunyah, dimana gigi yang telah mengalami keausan atau rata memicu stroke
dalam mengunyah lebih besar dalam polanya. Ketika gigi posterior berkontak
kearah lateral dengan gerakan lateral yang tidak diinginkan, maka maloklusi akan
menghasilkan pola irregular dan pengulangan sedikit dalam stroke mengunyah.
(Gambar 2.9)

Gambar 2.9 Gerak terluar dan mengunyah (tampilan depan) dengan sisi kerja dikiri. Catatan
kondisi oklusal saat stroke mengunyah ditandai dengan warna merah. A. Oklusi yang bagus, B.
Oklusi dengan keausa pemakaian, C. Maloklusi.

Ketika seorang yang normal di bandingkan dengan seorang yang memiliki


sakit pada TMJ dalam stroke mengunyah terdapat perbedaan yang dapat dilihat.
Individu yang normal mastikasi dengan stroke mengunyah berbentuk membulat
teratur, lebih banyak pengulangannya dan batas luar yang definitiv. Stroke
pengunyahan pada hasil observasi seorang yang mengalami sakit pada TMJ lebih
sedikit pengulangan yang terjadi. Stroke pengunyahan lebih pendek dan pelan
serta memiliki pola yang tidak teratur. Gerakan ini muncul sehunungan dengan
pengurangan gerakan dari kondil dimana pusat terjadinya sakit.

Tekanan mastikasi
Tekanan maksimal selama mengigit bervariasi pada setiap individu. Secara
umum pada tekanan maksimal dalam mengigit pada laki-laki lebih besar
tekanannya dibandingkan pada perempuan. Dalam satu studi di laporkan bahwa
perempuan memiliki tekanan gigit dalam variasi 79 sampai 99lb (35.8-44.9 kg),
dimana tekanan gigit laki-laki memiliki variasi dari 118 sampai 142 lb (53.6-64.4
kg). Tekanan gigit paling besar yang pernah dilaporkan adalah 975 lb (443kg).
Hal ini membuat sebuah catatan bahwa maksimal tekanan yang diaplikasikan
pada sebuah gigi moral beberapa kali lebih besar ketika dibandingkan terhadap

gigi insisif. Dalam studi yang lain jarak maksimal dari tekanan yang dapat di
aplikasikan pada gigi molar pertama adalah 91 sampai 198 lb (41.3-89.8 kg),
dimana maksimal dari tekanan yang diaplikasikan pada insisif sentral adalah 29
sampai 51 lb (13.2-23.1 kg).
Maksimal dari tekanan gigit meningkat seiring dengan pertambahan umur
sampai pada masa remaja. Hal ini dipengaruhi dengan latihan dan pengalaman,
masing-masing individu dapat meningkatkan tekanan gigit maksimal seiring
waktu. Dimana seorang yang mengkonsumsi makanan yang keras akan
menghasilkan tekanan gigit yang lebih kuat. Konsep ini menjelaskan kenapa
bebebrapa studi menunjukan peningkatan kekuatan tekanan gigit pada suku
eskimu. Tekanan gigit yang meningkat berpengaruh pada hubungan rahang fasial.
Manusia dengan maksila dan mandibula yang divergen tidak bisa mendapat
aplikasi tekanan yang berlebih pada gigi dibandingkan dengan lengkung rahang
yang relatif parallel.
Jumlah tekanan yang diarahkan pada gigi saat mastikasi bervariasi dari satu
individu ke individu yag lain. Sebuah studi dari giss dan kawannya melaporkan
bahwa fase menggerus dari stroke penutupan rata-rata 58.7 lb pada gigi posterior.
Hal ini mempresentasikan sekitar 36,2% dari tekanan gigit maksimal. Sebuah
studi sebelumnya menunjukan konsistensi makanan berpengaruh terhadap besar
sedikitnya tekanan. Anderson melaporkan bahwa mengunyah wortel dapat
memproduksi tekanan yang terdapat diatas gigi sekitar 30 lb(14 kg), diman
mengunyah daging hanya memproduksi 16 lb (7 kg). Hal ini mendemonstrasikan
bahwa sakit gigi atau sakit otot mengurangi tekanan yang digunakan selama
mengunyah.
Peranan jaringan lunak dalam mastikasi
Mastikasi seharusnya tidak dapat terlaksana tanpa bantuan dari jaringan lunak
yang berada disekitar struktur. Ketika makanan di introduksi masuk kedalam
mulut, bibir membimbing dan mengkontrol asupan serta menutup rongga mulut.
Bibir biasanya akan menutup secara spesial ketika cairan di introduksi. Lidah
memainkan perang besar tidak hanya sebagai pengecap tapi sebagai pengatur

manuver dari makanan ang berada dalam rungga mulut agar dapat di kunyah.
Ketika makanan di introduksi, lidah akan memulai proses penghancuran dengan
cara menekan makanan tersebut ke palatal keras. Dan lidah akan menekan
makanan tersebut ke arah permukaan oklusal dari gigi dimana akan dihancurkan
oleh stroke pengunyahan. Ketka makanan akan direposisi ke sisi lingual, otot
buccinator dalam pipi akan melakukan hal tersebut. Makanan tersebut secara
berlanjut di tempatkan diatas permukaan oklusal dari gigi sampai partikel
makanan tersebut cukup kecil untuk ditelan. Lidah juga efektif dalam membagi
makanan kedalam porsi yang mana akan membutuhkan lebih banyak
pengunyahan dan yang mana telah siap untuk ditelan. Setelah makan lidah akan
membersihkan gigi dari sisa makanan yang terperangkap dalam rongga mulut.
2.4.2 Fungsi penelanan
Penelanan adalah koordinasi otot yang berkontraksi secara berurutan yang
memindahkan bolus makanan dari rongga mulut melewati esofagus sampai ke
lambung. Hal ini terdiri dari aktivitas otot secara sadar, tidak sadar dan reflex.
Keputusan saat makanan ditelan berpengaruh dari beberapa faktor: derajat
kehalusan makanan, intensitas rasa yang diekstraksi dan derajat lubrikasi dari
bolus. Selama menelan bibir tertutup, untuk menutup rongga mulut. Gigi di bawah
posisi maksimal intercusp yang menstabilisasi mandibula.
Stabilisasi dari mandibula adalah hal penting dari penelanan. Mandibula
harus berada posisi tidak bergerak sehingga kontraksi dari otot suprahyoid dan
infrahyoid dapat di kontrol pergerakannya dari tukang hyoid dalam kebutuhan
untuk penelanan. Pada orang dewasa normal penelanan yang difasilitasi dari gigi
untuk kestabilan mandibula disebut penelanan somatic. Tetapi ketika tidak
terdapat gigi seperti pada bayi, mandibula di tahan oleh rahang lawannya. Hal ini
disebut penelanan infantil atau penelanan visceral, mandibula di tahan dengan
cara menempatkan lidah ke depan dan berada diantara lengkung rahang atau gusi.
Penelanan tipe ini terjadi sampai gigi posterior tumbuh.
Gigi posterior yang erupsi ke arah oklusi, oklusi dari gigi menahan mandibula
dan penelanan dewasa dapat di asumsikan. Penelanan infantil dapat dipertahankan

ketika merasa tdak nyaman ketika gigi berkontak di karenakan oleh karies atau
gigi sensitif. Retensi berlebih dari penelanan infantile dapat menyebabkan
perpindahan gigi anterior rahang atas ke arah labial oleh kekuatan otot lidah.
Gambaran klinis yang dapat ditampilkan berupa anterior open bite (tidak ada gigi
anterior kontak).
Pada penelanan dewasa yang normal, mandibula di stabilisasi oleh gigi yang
berkontak. Rata-rata gigi yang berkontak selama penelanan bertahan sampai 683
ms. Hal ini tiga kali lebih lama dibandingkan selama pengunyahan. Tekanan yang
di aplikasikan ke gigi saat penelanan diperkirakan sekitar 66,5 lb dimana 7,8 lb
lebih berat tekanannya dibandingkan dengan pengunyahan.
Pada umumnya dipercaya bahwa ketika mandibula di dukung, hal ini
membawa kepada sesuatu ke posisi posterior atau posisi retruded. Jika gigi tidak
sesuai benar dengan posisinya, maka pergeseran ke anterior ke posisi intercusp
akan terjadi. studi menunjukan bahwa ketika posisi retrusi dalam mengatup, otot
mastikasi menunjukan tingkat rendah dalam fungsi aktivitas dan lebih harmonis
dalam pengunyahan. Penulis berpendapat bahwa kualitas dari posisi intercusp
akan menentukan posisi mandibula selama penelanan, bukan dari hubungan
retrusi dari fossa. Pergeseran ke anterior jarang terlihat selama berfungsi. Otot dan
refleks menjaga dari pola penutupan mulut ke posisi intercusp. Meskipun
penelanan adalah sebuah aksi yang saling berkelanjutan, tetapi dalam diskusi ini
akan dibagi kedalam tiga tahap. (Gambar 2.10)

Gambar 2.10 : Tiga tahap dalam proses penelanan


Proses penelanan dibagi menjadi tiga tahap dimana pada tahap pertama
proses menelan dilakukan secara sadar dengan mengubah makanan menjadi bolus
yang sebagian besar dilakukan oleh aktivitas lidah. Bolus makanan ditempatkan di
dorsum lidah lalu ditekan secara halus terhadap palatum keras. Ujung lidah
berkontak dengan palatum keras tetapi sedikit dibelakang gigi insisif. Pada saat
bibir menutup dan gigi-gigi beroklusi, adanya bolus pada mukosa palatum
menyebabkan terjadinya kontraksi dari lidah sehingga mendorong bolus makanan
ke arah belakang. Pada saat bolus mencapai bagian belakang lidah, maka bolus
makanan di transfer ke faring. 5
Selanjutnya, pada tahap kedua, setelah bolus mencapai faring, terjadi gerakan
peristaltik yang disebabkan oleh kontraksi otot faring yang menyebabkan
makanan turun ke esofagus. Palatum lunak yang menyentuh dinding posterior
faring menutup bagian lubang udara. Epiglotis menutup jalan nafas faring ke
trakea dan menjaga makanan tetap di esofagus. Selama penelanaan otot faring
membuka pintu dari tabung eustachius, yang biasanya secara normal dalam
keadaan tertutup. Tahap pertama dan kedua terjadi selama 1 detik. 5
Pada tahap terakhir, terdorongnya bolus makanan melalui esofagus ke dalam
perut. Gerakan peristaltik membawa bolus menuju ke esofagus, gerakan ini terjadi
selama 6-7 detik. Pada saat bolus mendekati sfingter jantung, sfingter relaksasi
dan memungkinkan bolus masuk ke perut. Pada bagian atas esofagus terdiri atas
otot yang harus diaktifasi secara sadar, sedangkan pada bagian bawah terdiri atas
otot-otot yang tidak sadar sepenuhnya.
2.4.2 Fungsi bicara
Bicara adalah tiga fungsi besar dari sistem mastikasi. hal ini terjadi ketika
volume udara ditekan dari paru oleh diafragma melalui laring dan rongga mulut.
Kontrol dari kontraksi dan relaksasi dari pita suara atau laring menciptakan sebua
suara dengan nada yang di inginkan. Sekali nada yang diinginkan di produksi,
bentuk yang tepat diasumsika oleh mulut akan menentukan resonansi dan

artikulasi tepat dari suara. Karena bicara di ciptakan oleh pelepasan air dari paruparu, hal ini terjadi selama tahap ekspirasi dari tahap respirasi. Insiprasi dari udara
relatif cepat dan diambil pada akhir kalimat atau berhenti sebentar. Ekspirasi di
perpanjang untuk memungkinkan urutan suku kata, kata atau frase untuk
diucapkan.
Artikulasi dari suara
Dengan variasi hubungan antara bibir dan lidah terhadap palatum dan gigi,
dapat memproduksi sebuah variasi suara. Penting suara dibentuk oleh bibir adalah
huruf M, B, dan P. Dalam membuat suara ini, bibir bertemu dan saling
bersentuhan. Gigi sangat penting dalam mengucapkan suara S. Ujung insisal dari
gigi insisif maksila dan mandbula saling bertemu rapat tetapi tidak bersentuhan.
Lidah dan palatum penting dalam pembentukan suara D. Ujung dari lidah
menyentuh palatum secara langsung dibelakang gigi insisif.
Banyak suara yang dapat dibentuk dengan mengunakan kombinasi dari
struktur anatomi. Sebagai contoh, lidah menyentuk insisif maksila untuk
membentuk suara Th. Bibir bawah bersentuhan dengan ujung insisif dari gigi
maksila untuk membentuk suara F dan V. Untuk suara seperti K atau G, bagian
posterior dari lidah naik untuk menyentuh palatum lunak. (Gambar 2.11)
Kontak gigi tidak terjadi ketika bicara. Jika gigi sebuah malposisi gigi
berkontak dengan gigi berlawanan saat berbicara, input sensoris dari gigi dan
ligamen periodontak dengan cepat melepaskan informasi ke CNS. CNS yang
mengetahui hal ini akan berpotensi mengalami kerusakan dan segera mengubah
pola bicara oleh saraf eferen. Sebuah pola bicara yag mencegah gigi berkontak
diciptakan. Pola baru ini akan menghasilkan sedikit deviasi lateral dari mandibula
untuk memproduksi suara yang di inginkan tanpa kontak dari gigi.Bicara
dipelajari, hal ini datang dengan control yang tidak disadari oleh sistem
neuromuskular. Dalam hal ini dapat dikatakan dipelajari sebagai refleks.

Gambar 2.11 : Artikulasi dari suara yang diciptakan oleh posisi spesifik dari
bibir, lidah, dan gigi.
Pertimbangan dalam nyeri orofasial
Nyeri adalah salah satu emosi negatif manusia yang paling kuat dari
pengalaman manusia. Hal ini akan menimbulkan perhatian dan respon. Nyeri akut
mengingatkan kepada individu yang cedera untuk memungkinkan individu
tersebut mengatasi ancaman. Nyeri akut memberikan perlindungan dari
lingkungan yang merusak (refleks nociceptive). Hal ini merupakan dasar dari
kelangsungan hidup dan memiliki tujuannya sendiri. Namun nyeri dapat bertahan
dalam waktu yang lama dibandingkan dengan waktu penyembuhan normal tetapi
tidak sebagai perlindungan. Nyeri ini disebut kronis. Hal ini bisa menjadi perusak
untuk jiwa manusia yang mengarah ke penurunan yang signifikan dari kualitas
hidup. Beberapa jenis yang paling umum adalah nyeri kronis berasal dari struktur
muskuloskeletal. Nyeri kronis punggung dan leher paling sering terjadi pada
populasi.
Prevalensi 12 bulan dari nyeri leher sekitar 30% dan 50%. Dalam sebuah
studi, 68,33% berasal dari umur 30 sampai 64 tahun dari pekerja yang dilaporkan

mengalami nyeri muskuloskeletal dalam sebulan dan 20% dari mereka dilaporkan
memiliki beberapa area nyeri. Nyeri ini biasanya nyeri pegal tumpul yang dapat
menurunkan kemampuan individu untuk beraktifitas. Diperkirakan bahwa 10%
dari populasi umum yang berusia diatas 18 tahun memiliki gangguan nyeri
temporomandibular. Prevalensi nyeri orofasial pada populasi umumya pada usia
30 sampai 31 tahun teah dilaporkan sebanyak 23%. Dalam studi lain, 23% sampai
24% pada usia 45 tahun dari populasi umum dilaporkan nyeri saat mengunyah.
Nyeri kronis tidak hanya memiliki efek kehancuran pada individu tetapi juga
memiliki efek yang sangat besar pada masyarakat. Di amerika serikat, nyeri
punggung pada pekerja 40 sampai 65 tahun yang memakan biaya dari pekerja
sekitar 7,4 miliar dollar setiap tahun, dan sakit leher membatasi pekerjaan mereka
antara 1,7% sampai 11,5%. Ketika emosi dan ekonomi berdampak dari nyeri
kronis, hal ini jelas bahwa penyedia jasa kesehatan mempunyai peran penting
untuk membantu dan meringankannya. Tetapi kebenarannya kebanyakan penyedia
jasa kesehatan dilatih untuk mengatasi nyeri akut dan tidak pada variasi kronis.
Sebagai penyedia layanan kesehatan, kita harus mengambil tanggung jawab untuk
merawat pasien yang menglami nyeri kronis.
Tentu saja nyeri kronis pada tungkai dan punggung sangat mempengaruhi
kualitas hidup,namun untuk pasien yang mengalami nyeri orofasial kronis, unsur
emosional menjadi tambahan sebagai pertimbangan penting. Sangat menarik
untuk dicatat bahwa sektiar 45% dari korteks sensorik manusia didedikasikan
untuk wajah, mulut, dan struktur oral (Gambar 2-15). Derajat dari sensoris di
dedikasikan menunjuk bahwa struktur ini memiliki arti penting bagi individu.
Bahkan, rasa nyeri pada struktur in akan memiliki intensitas yang berarti bagi
individu. Sebagai contoh, nyeri pada struktur orofasial secara signifikan terbatas
pada kemampuan untuk mengunyah, dimana salah satu latihan dasar untuk
bertahan hidup. Meskipun pada hari ini dimungkinkan untuk tetap bertahan hidup
tanpa mengunyah (makanan cair, makanan intravena dan tabung lambung), kita
mengetahui menurut naluri bahwa hal dalam ketidak mampuan untuk makan akan
mengancam kehidupan orang tersebut. Oleh karena itu nyeri kronis pada wajah
dapat mengancam kemampuan bertahan hidup seseorang. Nyeri pada struktur

orofasial akan mengurangi kemampuan untuk berbicara, dimana dasar pada


kehidupan bermasyarakat bergantung pada komunikasi.struktur orofasial sangat
penting bagi individu untuk ekspresi dari emosi. Senyum dan mengerut, dan
tertawa dan menangis semua adalah ekspresi dari wajah. Aktivitasnya sangat
dekat dan dapat dipengaruhi oleh nyeri fasial. Kebanyakan dari klinisi melupakan
komponen penting dari nyeri orofasial. Oleh karena itu klinisi perlu memahami
bahwa neri pada struktur orofasial lebih mengancam, berarti dan khusus daripada
nyeri pada daerah lain dari tubuh. Seringkali dokter gigi yang tidak memahami
hubungan ini akan melakukan tindakan tiba-tiba pada pemeriksaan pasien dan
manajeme tanpa memahami dampak emosional dari nyeri. Dokter gigi harus
mengerti dan memahami dari psikologi faktor bersama nyeri orofasial, terutama
pada nyeri kronik.
Tentu saja nyeri kronis pada tungkai dan punggung sangat mempengaruhi
kualitas hidup,namun untuk pasien yang mengalami nyeri orofasial kronis, unsur
emosional menjadi tambahan sebagai pertimbangan penting. Sangat menarik
untuk dicatat bahwa sektiar 45% dari korteks sensorik manusia didedikasikan
untuk wajah, mulut, dan struktur oral (Gambar 2.12). Derajat dari sensoris di
dedikasikan menunjuk bahwa struktur ini memiliki arti penting bagi individu.
Bahkan, rasa nyeri pada struktur in akan memiliki intensitas yang berarti bagi
individu. Sebagai contoh, nyeri pada struktur orofasial secara signifikan terbatas
pada kemampuan untuk mengunyah, dimana salah satu latihan dasar untuk
bertahan hidup. Meskipun pada hari ini dimungkinkan untuk tetap bertahan hidup
tanpa mengunyah (makanan cair, makanan intravena dan tabung lambung), kita
mengetahui menurut naluri bahwa hal dalam ketidak mampuan untuk makan akan
mengancam kehidupan orang tersebut. Oleh karena itu nyeri kronis pada wajah
dapat mengancam kemampuan bertahan hidup seseorang. Nyeri pada struktur
orofasial akan mengurangi kemampuan untuk berbicara, dimana dasar pada
kehidupan bermasyarakat bergantung pada komunikasi.Struktur orofasial sangat
penting bagi individu untuk ekspresi dari emosi. Senyum dan mengerut, dan
tertawa dan menangis semua adalah ekspresi dari wajah. Aktivitasnya sangat
dekat dan dapat dipengaruhi oleh nyeri fasial. Kebanyakan dari klinisi melupakan

komponen penting dari nyeri orofasial. Oleh karena itu klinisi perlu memahami
bahwa nyeri pada struktur orofasial lebih mengancam, berarti dan khusus daripada
nyeri pada daerah lain dari tubuh. Seringkali dokter gigi yang tidak memahami
hubungan ini akan melakukan tindakan tiba-tiba pada pemeriksaan pasien dan
manajemen tanpa memahami dampak emosional dari nyeri. Dokter gigi harus
mengerti dan memahami dari psikologi faktor bersama nyeri orofasial, terutama
pada nyeri kronik.

Gambar 2.12 :

Homunculus diatas

adalah deskripsi grafis

dari bidang

fungsional korteks

sensorik. perhatikan

bahwa korteks sensorik

sekitar 45%

didedikasikan untuk

wajah, mulut dan

tenggorokan