Anda di halaman 1dari 25

WORKPLAN STASE ANAK

BLOK 4.5 CCNS


Dosen Pembimbing
Itsna Luthfi Kholisa, S.Kep., Ns., MANP

Anggota Kelompok :
Shelly Pheny

14048

Eva Nur Rohmah

14178

Evita Listyaningrum14185
Settavianti Jihad W 14188
Tri Handayani P

14190

Anisa Rimadhani

14195

Aprilia Putri S

14196

Fitria Ermawita

14200

Jihanni Mustika M 14203


Zumira Fastawa

14204

Savira Evi
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2014

KEPERAWATAN ANAK
Kasus A
BBLR
a. Keluhan Utama:
Ny. Padmi membawa bayinya yang berumur 2 minggu ke poliklinik dengan keluhan
bayinya tidak mau minum sudah 3 hari. Setelah diperiksa oleh dokter Sp.A bayi benarbenar tidak mau minum dan terlihat sedikit lemas, dan dianjurkan untuk mendapatkan
antibiotik karena dinilai ada salah satu tanda klinis sepsis karena tidak mau minum.
b. Riwayat Keluarga
1. Pre natal
: Jumlah kunjungan 15 kali ke bidan dan mendapatkan imunisasi TT,
mendapat tablet besi dan vitamin serta asam folat, kenaikan berat
2. Natal

badan 12 kg selama kehamilan.


: Ny Padmi melahirkan spontan per vaginam, tidak ada komplikasi dan

3. Post natal

tempat melahirkan di bidan.


: Bayi langsung menangis, apgar score tidak diketahui oleh ibu karena
melahirkan di bidan, imunisasi hepatitis B dan injeksi vitamin K
sudah diberikan.

c. Riwayat Sosial
Bayi Ny Padmi merupakan anak pertama
Sistem pendukung/ keluarga terdekat yang dapat dihubungi : ibu
Hubungan ibu dan bapak terhadap bayi:
Ibu
V
V
V
V
V

Kegiatan
Menyentuh
Memeluk
Berbicara
Berkunjung
Kontak mata

Ayah
V
-

Anak yang lain:


Jenis

Riwayat

kelamin

persalinan

Penolong

BB lahir

Riwayat

Keterangan

imunisasi

anak
d. Keadaan kesehatan saat ini
1) Keadaan umum:
Keadaan: somnolens; Nadi: 140x/menit; RR: 60x/menit; suhu: 36,5O C; BB:
2400gram; panjang badan (PB): 47 cm; Lingkar kepala: 34 cm; LLA: 8cm, tidak ada
riwayat kejang
2) Pemeriksaan fisik:
Refleks moro (+); menggenggam (+); menghisap dan menelan: lemah.
Tonus otot cukup, menangis cukup kuat dan kadang merintih.
Keadaan kepala dan leher normal, fontanel anterior pada bayi lunak, gambaran

wajah simetris, sutura sagitalis tepat.


Mata bayi bersih, tidak terdapat kelainan, bentuk segitga normal, hidung bilateral

dan tidak tampak adanya kelainan anatomis.


Abdomen tidak terdapat distensi.
Torak bayi, tidak terdapat retraksi dinding dada.
Ekstremitas bayi tampak simetris, dapat bergerak dan tidak ada pembatasan ROM.
Tali pusat normal, tidak terdapat tanda infeksi.
Genital normal, jenis kelamin laki-laki.
3) Data tambahan
Ibu mengatakan takut memandikan bayi karena anak pertama dan jika dirumah
yang memandikan adalah neneknya.
Mendapat Air Susu Buatan (ASB)
Terapi yang diberikan:
Cetofaxim 2 x 100mg
4) Masalah aktif medis
BBLR, CB, SMK, suspek sepsis klinik.

Kartu Status Klien :


PEDOMAN PENGKAJIAN ASUHAN KEPERAWATAN ANAK
PENGKAJIAN
1. Identitas :
Nama : Usia : 2 minggu
Nama ibu : Ny Padmi
Usia : Pendidikan : Pekerjaan : Suku/ bangsa : Alamat : Tanggal pengkajian : 5 Mei 2014
2. Riwayat kehamilan dan persalinan :

Nama Suami : Usia Suami : Pendidikan : Pekerjaan : -

Prenatal
- Jumlah kunjungan ANC : 15 kali ke bidan
- Obat yang digunakan : mendapatkan imunisasi TT, mendapat tablet besi dan vitamin
serta asam folat
- Riwayat hospitalisasi : - Penkes yang didapat : Natal
- Komplikasi persalinan : tidak ada
- Cara persalinan : melahirkan spontan per vaginam
- Tempat : di bidan
Postnatal
- Skor Apgar : 3. Riwayat keluraga dan sosial :
Klien adalah anak pertama; bapak/ibu tidak menderita penyakit kronis begitu juga 3
generasi sebelumnya.
Selama dirawat di RS anggota keluarga yang dapat dihubungi adalah bapak/ibu dan
atau kakek/nenek
Hubungan kedekatan ibu :
a. Berkunjung : (ya) / (tidak)
b. Menyentuh : (ya) / (tidak)
c. Memeluk : (ya) / (tidak)
d. Berbicara : (ya) / (tidak)
e. Kontak mata : (ya) / (tidak)
Hubungan kedekatan ayah :
f. Berkunjung : (ya) / (tidak)
g. Menyentuh : (ya) / (tidak)
h. Memeluk : (ya) / (tidak)
i. Berbicara : (ya) / (tidak)

j. Kontak mata : (ya) / (tidak)


Lingkungan: 4. Keadaan umum :
Kesadaran : somnolens
BB/TB : 2400gram/ 47cm
Lingkar kepala: 34 cm
LLA: 8cm
Tidak ada riwayat kejang
5. Tanda vital :
Nadi : 140x/menit
RR : 60x/menit (takipneu)
Suhu : 36,5O C
6. Pemeriksaan fisik (isikan hal-hal yang perlu dikaji sebagai data tambahan dari
kasus diatas) :
Refleks primitive :
- Isap & telan : lemah
- Moro : (+)
- Menggenggam : (+)
Kepala dan leher : leher normal, fontanel anterior pada bayi lunak, gambaran wajah
simetris, sutura sagitalis tepat. Mata bayi bersih, tidak terdapat kelainan, bentuk

segitga normal, hidung bilateral dan tidak tampak adanya kelainan anatomis.
Dada : Torak bayi, tidak terdapat retraksi dinding dada.
Abdomen : tidak terdapat distensi.
Tali pusat normal, tidak terdapat tanda infeksi.
Ekstremitas : tampak simetris, dapat bergerak dan tidak ada pembatasan ROM.
Genital normal, jenis kelamin laki-laki.
Data tambahan
Ibu mengatakan takut memandikan bayi karena anak pertama dan jika dirumah yang

memandikan adalah neneknya.


- Mendapat Air Susu Buatan (ASB)
- Terapi yang diberikan:
Cetofaxim 2 x 100mg
Masalah aktif medis
BBLR, CB, SMK, suspek sepsis klinik.
7. Informasi lainnya :
Ibu mengatakan takut memandikan bayi karena anak pertama dan jika dirumah yang
memandikan adalah neneknya.
Mendapat Air Susu Buatan (ASB)
Hubungan ayah dengan bayi kurang
Analisis Data
No. Data pengkajian

Etiologi

Masalah keperawatan

1.

DO :

Nutrisi tidak adekuat

Proteksi tidak efektif

Penyakit pada bayi

Gangguan pemberian ASI

Kurang pengetahuan

Ketidakmampuan

- BBLR
- tidak

mau

minum

dan terlihat sedikit


lemas
- suspek sepsis klinik
- Mendapat Air Susu
Buatan (ASB)
DS :
- keluhan

bayinya

tidak

minum

mau

sudah 3 hari
2.

DO :
- tidak

mau

minum

dan terlihat sedikit


lemas
- suspek sepsis klinik
- Mendapat Air Susu
Buatan (ASB)
DS :

3.

- keluhan

bayinya

tidak

minum

mau

sudah 3 hari
DS :
- Hubungan

ayah

terhadap bayi hanya


berkunjung
-

Ibu
takut

mengatakan
memandikan

bayi
- Mendapat Air Susu
Buatan (ASB)

orang tua

menjadi

Format Rencana asuhan keperawatan anak :


No. Diagnosa
1.

Tujuan dan kriteria hasil

Keperawatan
Proteksi tidak efektif a. Immune Status
berhubungan
nutrisi

yang

dengan
tidak

Definisi
target

a. Terapi oksigen

kebutuhan

Definisi: pemberian oksigen

untuk

melawan

dan memonitoe keefektifan

adekuat dan usia yang

agen

ekstrim

ekternal

Domain 1 : Promosi

Indikator :

kesehatan

- Antibody meningkat

Kelas 2 : Manajemen

- Infeksi

Kesehatan

Intervensi

internal

dan

terapi oksigen
Aktifitas:
- Pasang

sepsi

dapat

teratasi

perakatan

oksigen nasal canul


- Monitor aliran oksigen
- Monitor

Definisi : Penurunan

- Berat badan meningkat

pemasangan

kemampuan

untuk

- Fungsi

oksigen

menjaga diri sendiri

normal

respiratory

- Monitor

peralatan
keefektifan

dari ancaman internal

b.

atau eksternal seperti

Definisi : Memberikan

penyakit atau cedera.

nutrisi yang

Batasan karakteristik :

untuk

- Penurunan

metabolisme

Definisi : pencegahan dan

imunitas : suspek

Indikator :

deteksi dini infeksi pada

sepsis klinik

- Konsumsi

- Lemah

Nutritional Status

posisi

memadai
kebutuhan

ASI/cairan

dapat kembali normal


- Berat badan meningkat

terapi oksigen
- Monitor integritas kulit
akibat gesekan
b. Infection protection

pasien yang beresiko


Aktivitas :
- Monitor tanda dan gejala
infeksi sistemik dan local
- Tingkatkan

asupan

nutrisi yang cukup


- Anjurkan

pemberian

cairan secara jelas


- Anjurkan

pemberian

imunisasi
- Instruksikan pasien untuk
memberikan

antibiotic

sesuai yang diresepkan

- Ajarkan

pasien

dan

keluarga mengenai tanda


dan gejala dari infeksi
dan

kapan

untuk

melaporkan pada tenaga


kesehatan
c. Fluid Management
Definisi:

Mempromosikan

keseimbangan cairan dan


mencegah

komplikasi

sebagai hasil dari tingkat


cairan yang abnormal
Aktivitas :
-

Mempertahankan
keakuratan

intake

dan

output
-

Memonitor status hidrasi


(membrane

mukosa,

keadekuatan

nadi,

tekanan darah)
-

Memonitor

TTV

jika

dibutuhkan
-

Memonitor

indikasi

retensi cairan
-

Memberikan terapi Iv

Memonitor status nutrisi

Memberikan cairan jika


dibutuhkan

d. Terapi Nutrisi
Definisi:
makanan
untuk

Memberikan
dan

minuman
mendukung

metabolisme tubuh.
Aktifitas:

- Kaji

kebutuhan

untuk

enteral feeding
- Pasang OGT
- Sediakan
2.

nutrisi yang sesuai


a. Lactation counseling

Gangguan pemberian Breastfeeding


ASI

berhubungan maintenance

Definisi

dengan penyakit pada Definisi


bayi

mempertahankan

Domain 7 : Hubungan pemberian


peran
Kelas

Peran untuk

ASI

pemberi asuhan

asupan

proses

penggunaan

menolong

dari

makanan

bayi

mempertahankan
kesuksesan pemberian ASI
Aktivitas :
- Tentukan

dasar

Definisi : Penghentian Indikator :

pengetahuan

kontinuitas

pemberian ASI

proses - Pertumbuhan bayi dalam

pemberian ASI akibat

rentang normal

ketidakmampuan atau - Memiliki


kesalahan

kesadaran

bahwa pemberian ASI

mengubah posisi bayi

dapat berlanjut sampai 2

untuk menyusu.

tahun

- Bayi tidak mendapat


nutrisi dari payudara
pemberian

makan: bayi tidak


mau

- Pencegahan pengobatan
sendiri tanpa periksa ke
tenaga medis
untuk

minum, - Pengetahuan

Buatan (ASB).

melanjutkan

- dispneu

dukungan

pemberian ASI
manfaat

adanya

- Tentukan keinginan orang


menyusui
- Sediakan dukungan pada
- Evaluasi kepahaman ibu
mengenai
pemberian

tentang
dari
pemberian

ASI meningkat
- Memiliki

pemberian ASI

keputusan sang ibu

keluarga

mendapat Air Susu

manfaat dan kerugian dari

tua dan motivasi untuk

untuk beberapa atau - Penyediaan


semua

tentang

- Sediakan informasi tentang

dalam

Batasan karakteristik :

secara

interaktif untuk membantu

memulai sampai menyapih


1

kebutuhan

isyarat
ASI,

misal:

menghisap.
- Evaluasi pola menghisap
pada bayi baru lahir
- Demonstrasikan pelatihan

pengetahuan
sumber

dukungan
- Kepuasan dengan proses

menghisap secara jelas


- Instruksikan ibu mengenai
pertumbuhan bayi untuk
mengidentifikasi

pola

pemberian ASI
3.

menyusu
a. Knowledge: infant care a. Parent education: Infant

Ketidakmampuan
menjadi

orangtua

berhubungan
dengan

kurang

Definisi : memperluas

Definisi : menginstruksikan

pemahaman perawatan

kebutuhan perawatan fisik

bayi

dan pengasuhan selama satu

hingga

ketrampilan menjadi

pertama.

orangtua.

Indicator:
7

hubungan peran
Kelas

peran

pemberi asuhan
Definisi

ketidakmampuan

dari pemberi asuhan


utama

untuk

menciptakan,
menjaga,

atau

meningkatkan
lingkungan

yang

memfasilitasi
pertumbuhan

dari

pengetahuan tentang

Domain

normal bayi yang sedang

kelahiran

satu

tahun

Aktivitas :

Karakteristik bayi

Mengkaji pengetahuan

normal

orangtua, kesiapan, dan

Pertumbuhan dan

kemampuan

untuk

perkembangan

mempelajari

untuk

normal

merawat anak

Memposisikan

Mengajarakan orangtua

bayi dengan tepat

tentang

Praktek keamanan

perawatan

bayi

lahir

Teknik

memberi

skil

kepada

Memandikan bayi

tentang dot

infant

attachment

baru

orangtua

memegang,

perkembangan yang

Definisi

optimal untuk anak.

orangtua

Batasan

yang

karakteristik:

sebuah ikatan kasih

untuk berbicara dengan

Kurangnya

sayang.

anak

kelekatan bayi dan

Indicator:

orangtua

Kurangnya
interaksi orangtua
terhadap bayi

perilaku

bayi

Meningkatkan orangtua
untuk

untuk

Memberikan informasi

makan bayi
b. Parent
dan

tahun pertama kahidupan.

dan

memijat

bayi

menunjukkan

dan

menyentuh
-

Meningkatkan orangtua

Meningkatkan orangtua

Menjaga bayi tetap

untuk bermain dengan

didekatnya

anak

Menyentuh,

Mendemonstrasikan

mengayunkan,

kemampuan anak dan

menepuk bayi

kekuatan orangtua

Mencium bayi

Tersenyum kepada

tingkah laku pemberi

bayi

asuhan

Menggunakan

Memberi pujian pada


peran orangtua dalam

Mengobrol dengan

merawat anaknya

Bermain

Follow

dengan

up

telepon

bayi
-

pujian

kontak mata
bayi
-

Memberi

melalui
mengenai

perkembangan.

Berespon terhadap b. Kangaroo Care


aba aba bayi

Definisi:

Mempromosikan

Menghibur bayi

kedekatan antara orang tua


dan kondisi psikologis anak
dengan menyiapkan orang
tua

dan

menyediakan

lingkungan

kontak

kulit

dengan kulit.
Aktifitas:
-

Tingkatkan

orang

tua

untuk inisiasi perawatan


terhadap bayi
-

Jelaskan kangaroo care


dan

keuntungannya

kepada orang tua


-

Anjurkan

orang

memakai

tua

pakaian

berkancing depan
-

Menutup baju orang tua


atau

meletakkan

jaket

sampai anak berada di


posisi nyaman
-

Pertahankan kontak mata


dengan bayi

Tingkatkan

orang

tua

memegang anak dengan


penuh
-

Tingkatkan
untuk

orang

tua

menyediakan

kangaroo care selama 2030 menit


-

Monitor reaksi emosional


orang

tua

terhadap

kangaroo care
-

Monitor terhadap status


psikologis bayi: warna
kulit,

temperature,

denyut jantung, dyspneu


Prioritas Tindakan
1. Terapi oksigen
2. Pemasangan IV line untuk manajemen cairan dan pemberian obat
3. Pemasangan OGT untuk nutrisi
4. Edukasi orang tua tentang teknik menyusui, perlekatan orang tua dan bayi (KMC),
perawatan bayi baru lahir (teknik memandikan bayi)

TEORI
A. Kangaroo Mother Care
Kanggoro Mother Care (KMC) adalah sebuah metode yang aman dan simple untuk
merawat bayi dengan berat badan lahir rendah. Ini bermanfaat untuk kesehatan,
kesejahteraa, pengontrolan suhu, menyusui, pencegahan infeksi dan menambah
keterikatan antara bayi dan orang tua.
Komponen KMC:
1. Skin to skin contact
Penyatuan kulit dan kulit antara ibu dan bayi merupakan komponen dasar KMC. Bayi
diletakkan di dada ibu antara ke dua putting.
2. Exlusive breasfeeding
Bayi pada KMC disusui dengan penuh. Sentuhan kulit dengan kulit ini akan dapat
merangsang laktasu dan fasilitas interaksi pemberian ASI.
Manfaat KMC
1. Breasfeeding/ Menyusui
Ketika menginisiasi menyusi lambat bayi dapat distimulus dengan KMC agar dapat
seger menyusu.
2. Kontrol suhu
Lamanya kontak kulit dengan kulit antara ibu dan anak efektif dalam pengontrolan
suhu dengan mengurangi resiko hypotermi. Untuk stabilisasi bayi, Kmc dapat
dilakukan di suhu yang sama dengan suhu di incubator.
3. Pemberhentian lebih awal
Penelitian menunjukkan bahwa KMC pada anak bayi lahir rendah dapat digunakan
untuk meemanage babyi untuk siap dilepas dari incubator dan keluar dari rumah sakit.
Penambahan berat badan bayi dapat dicapai dengan KMC daripada perawatan
konvensional.
4. Mengurangi morbiditas
Bayi yang menerima KMC akan memliki nafas yang regular dan sedikit apnea. KMC
dapat melindungi infeksi nosocomial. KMC dapat mengi=urangi insidensi penyakit
termasuk pneumonia selama bayi.

Manfaat lain: KMC membantu orang tua dan bayi. Ibu yang anaknya di KMC akan
merasa terdapat keterikatan yang kuat, peningaktan harga diri, kepuasan karena mereka
dapat melakukan sesuatu untuk anaknya.
Yang perlu disiapkan dalam KMC adalah:
1. Konseling
Susun waktu nyaman antara bayi dan ibu. Sesi pertama penting untuk kebutuhan
interaksi. Demontrasikan cara melakukan KMC. Jawab kebutuhan dan kecemasan
orang tua. Tingkatkan keterlibatan ibu, ayah dan anggota keluarga lain. Ini akan
membantu keluarga dalam mendukung ibu melakukan KMC di rumah.
2. Baju ibu
KMC dapat disediakan menggunakan baju yang berkancing depan. KMC juga
memerlukan blouse , selendang.
3. Baju Bayi
Bayi dapat memakai topi, kaos kai, popok dan juga pakian yang berkancing depan.
Prosedur KMC:
1. Bayi seharusnya diletakkan diantara payudara ibu dengan posisi upright
2. Kepala seharusnya menoleh ke salah satu sisi di tengadahkan kepalnya. Hal ini
digunakan agar jalan nafas tetap terbuka dan terjadi kontak mata antara ibu dan anak
3. Paha seharusnya fleksi dan abduksi di posisi depan, lengan seharusnya fleksi.
4. Perut bayi seharusnya di atas epigastrium ibu. Nafas ibu menstimulasi anak kemudian
mengurangi kejadian apneu.
5. Dukung bokong bayi dengan kain gendongan.
KMC dapat dilanjutkan di rumah tidak hanya dilakukan di rumah sakit. KMC dapat
dilakukan saat ibu tidur ataupun istirahat sehingga temapt duduk yang nyaman sangat
dianjurkan. Ketika di rumah ibu dapat berbaring atau semi recumbent posision dengan
derajat kemiringan 15-30o.
Durasi KMC: KMC dapat dimulai jika kondisi bayi stabil.
1. Skin to skin contact dapat dimulai berangsur-angsur mulai dari kamar anak.
2. Sesi yang minimal kurang lebih 1 jam harus disediakan karena penanganan yang
frekuensi nya berulang akan menyebabkan stress pada bayi.
3. Lama skin to skin contact seharusnya secara regular meningkat sampai 24 jam per
hari, hanya terputus karena penggantian popok.
4. Ketika bayi tidak butuh di intensive Care, dia seharusnya ditranfer ke ruangan pos
natal dimana KMC dapat dilanjutkan.

Pihak yang dapat melakukan KMC: Selain ibu yang dapat melakukan KMC ini adalah
ayah, nenek, ataupun anggota keluarga lain yang dapat melakukan KMC.
B. Teknik Menyusui
Teknik menyusui adalah cara memberikan ASI kepada bayi dengan perlekatan dan
posisi ibu dan bayi dengan benar (Suradi dan Hesti, 2004,p.1)
Faktor- faktor yang MempengaruhiPemberian ASI (Siregar,2004, pp.13-16)
a. Perubahan Sosial Budaya
1) Ibu bekerja atau kesibukan sosial lainnya
Kenaikan tingkat partisipasi wanita dalam angkatan kerja dan adanya emansipasi
wanita dalam hal segala bidang kerja dan kebutuhan yang semakin meningkat,
sehingga ketersediaan waktu untuk menyusui bayinya berkurang.
2) Meniru teman, tetangga atau orang yang sangat berpengaruh dengan memberikan
susu botol kepada bayinya. Bahkan ada yang berpandangan bahwa susu botol
sangat cocok untuk bayi.
3) Merasa ketinggalan zaman jika masih menyusui bayinya.
b. Faktor Psikologis
1) Takut kehilangan daya tarik sebagai seorang wanita.
Adanya anggapan para ibu bahwa menyusui akan merusak penampilan. Padahal
setiap ibu yang mempunyai bayi selalu mengubah payudara, walaupun menyusui
atau tidak menyusui.
2) Tekanan batin.
Ada sebagian kecil ibu mengalami tekanan batin di saat menyusui bayi sehingga
dapat mendesak si ibu untuk mengurangi frekuensi dan lama menyusui bayinya,
bahkan mengurangi menyusui.
c. Faktor Fisik Ibu
Alasan yang cukup sering bagi ibu untuk menyusui adalah karena ibu sakit, baik
sebentar maupun lama. Tetapi sebenarnya jarang sekali ada penyakit yang
mengharuskan berhenti menyusui. Dari jauh lebih berbahaya untuk mulai member
bayi makanan buatan daripada membiarkan bayi menyusu dari ibunya yang sakit.
d. Faktor kurangnya petugas kesehatan, sehingga masyarakat kurang mendapat
penerangan atau dorongan tentang manfaat pemberian ASI. Penyuluhan kepada
masyarakat mengenai manfaat dan cara pemanfaatannya.
e. Meningkatnya promosi susu formula sebagai pengganti ASI.
f. Kurang/ salah informasi
Banyak ibu yang merasa bahwa susu formula itu sama baiknya atau malah lebih baik
dari ASI sehingga cepat menambah susu formula bila merasa ASI kurang. Petugas
kesehatan masih banyak yang tidak memberikan informasi pada saat pemeriksaan
kehamilan atau saat memulangkan bayinya.
g. Faktor pengelolaan ASI di Ruang Bersalin

Untuk menunjang keberhasilan laktasi, bayi hendaknya disusui segera atau sedini
mungkin setelah lahir. Namun tidak semua persalinan berjalan normal dan tidak
semua dapat dilaksanakan menyusui dini, seperti persalinan dengan tindakan (seksio
sesaria).
Cara Menyusui Yang Benar
a. Posisi Badan Ibu dan Badan Bayi (DepKes RI, 2005, p.31)
1) Ibu duduk atau berbaring dengan santai.
2) Pegang bayi pada belakang bahunya, tidak pada dasar kepala.
3) Rapatkan dada bayi dengan dada ibu atau bagian bawah payudara.
4) Tempelkan dagu bayi pada payudara ibu.
5) Dengan posisi seperti ini telinga bayi akan berada dalam satu garis dengan leher
dan lengan bayi.
6) Jauhkan hidung bayi dari payudara ibu dengan cara menekan pantat bayi dengan
lengan ibu.
b. Posisi Mulut Bayi dan Putting Susu Ibu (DepKes RI, 2005,pp.26-32)
1) Payudara dipegang dengan ibu jari di atas jari yang lain menopang dibawah
(bentuk C) atau dengan menjepit payudara dengan jari telunjuk dan jari tengah
(bentuk gunting), di belakang areola (kalang payudara).
2) Bayi diberi rangsangan agar membuka mulut (rooting reflek) dengan cara
menyentuh putting susu, menyentuh sisi mulut putting susu.
3) Tunggu sampai bayi bereaksi dengan membuka mulutnya lebar dan lidah ke
bawah
4) Dengan cepat dekatkan bayi ke payudara ibu dengan cara menekan bahu belakang
bayi bukan bagian belakang kepala.
5) Posisikan putting susu di atas bibir atas bayi dan berhadap hadapan dengan
hidung bayi.
6) Kemudian masukkan putting susu ibu menelusuri langit langit mulut bayi.
7) Usahakan sebagian aerola (kalang payudara) masuk ke mulut bayi, sehingga
putting susu berada di antara pertemuan langit langit yang keras (palatum
durum) dan langit langit lunak (palatum molle)
8) Lidah bayi akan menekan dinding bawah payudara dengan gerakan memerah
sehingga ASI akan keluar dari sinus lactiferous yang terletak dibawah kalang
payudara.
9) Setelah bayi menyusu atau menghisap payudara dengan baik, payudara tidak perlu
dipegang atau disangga lagi.
10) Beberapa ibu sering meletakkan jarinya pada payudara dengan hidung bayi
dengan maksud untuk memudahkan bayi bernafas. Hal itu tidak perlu karena
hidung bayi telah dijauhkan dari payudara dengan cara menekan pantat bayi
dengan lengan ibu.
11) Dianjurkan tangan ibu yang bebas dipergunakan untuk mengelus elus bayi.
12) Cara Menyendawakan Bayi

a) Letakkan bayi tegak lurus bersandar pada bahu ibu dan perlahan lahan
diusap punggung belakang sampai bersendawa.
b) Kalau bayi tertidur, baringkan miring ke kanan atau tengkurap. Udara akan
keluar dengan sendirinya
c. Langkah langkah Menyusui Yang Benar (DinKes, 2009)
1) Ibu mencuci tangan sebelum menyusui bayinya.
2) Ibu duduk dengan santai dan nyaman, posisi punggung tegak sejajar punggung
kursi dan kaki diberi alas sehingga tidak menggantung.
3) Mengeluarkan sedikit ASI dan mengoleskan pada putting susu dan aerola
sekitarnya.
4) Bayi di pegang dengan satu lengan, kepala terletak pada lengkung siku ibu dan
bokong bayi terletak pada lengan.
5) Ibu menempelkan perut bayi pada perut ibu dengan meletakkan satu tangan bayi
di belakang ibu dan yang satu di depan, kepala bayi menghadap ke payudara.
6) Ibu memposisikan bayi dengan telinga dan lengan pada garis lurus.
7) Ibu memegang payudara dengan ibu jari di atas dan jari yang lain menopang
dibawah serta tidak menekan putting susu atau areola.
8) Ibu menyentuhkan putting susu pada bagian sudut mulut bayi sebelum menyusui.
9) Setelah bayi mulai menghisap, payudara tidak perlu dipegang atau disangga lagi.
10) Ibu menatap bayi saat menyusui.
11) Pasca Menyusui
a) Melepas isapan bayi dengan cara jari kelingking dimasukkan ke mulut bayi
melalui sudut mulut bayi atau dagu bayi ditekan ke bawah.
b) Setelah bayi selesai menyusui, ASI dikeluarkan sedikit kemudian dioleskan
pada putting susu dan aerola, biarkan kering dengan sendirinya.
12) Menyendawakan bayi dengan:
a) Bayi digendong tegak dengan bersandar pada bahu ibu kemudian punggung
ditepuk perlahan lahan atau,
b) Bayi tidur tengkurap di pangkuan ibu, kemudian punggungnya di tepuk
perlahan lahan.
13) Menganjurkan ibu agar menyusui bayinya setiap saat bayi menginginkan (on
demand).
d. Lama dan Frekuensi Menyusui (Purwanti, 2004, p.51)
1) Menyusui bayi tidak perlu di jadwal, sehingga tindakan menyusui bayi dilakukan
setiap saat bayi membutuhkan.
2) Asi dalam lambung bayi kosong dalam 2 jam.
3) Bayi yang sehat akan menyusu dan mengogongkan payudara selama 5-7 menit.
e. Tanda Tanda Posisi Bayi Menyusui yang Benar (DepKes RI,2005, pp.32-33)
1) Tubuh bagian depan bayi menempel pada tubuh ibu.
2) Dagu bayi menempel pada payudara ibu.
3) Dada bayi menempel pada dada ibu yang berada di dasar payudara (payudara
bagian bawah).
4) Telinga bayi berada dalam satu garis dengan leher dan lengan bayi.

5) Mulut bayi terbuka lebar dengan bibir bawah yang terbuka.


6) Sebagian besar areola tidak tampak.
7) Bayi menghisap dalam dan perlahan.
8) Bayi puas dan tenang pada akhir menyusu.
9) Terkadang terdengar suara bayi menelan.
10) Putting susu tidak terasa sakit atau lecet
f. Tanda bahwa Bayi Mendapatkan ASI dalam Jumlah Cukup (Rahmawati dan
Proverawati, 2010, p.41)
1) Bayi akan terlihat puas setelah menyusu.
2) Bayi terlihat sehat dan berat badannya naik setelah 2 minggu pertama (100-200 gr
setiap minggu).
3) Putting dan payudara tidak luka atau nyeri.
4) Setelah beberapa hari menyusu, bayi akan buang air kecil 6-8 kali sehari dan
buang air besar berwarna kuning 2 kali sehari.
5) Apabila selalu tidur dan tidak mau menyusu maka sebaiknya bayi dibangunkan
dan dirangsang untuk menyusu setiap 2 3 jam sekali setiap harinya.
C. Teknik Memandikan Bayi
Memandikan bayi adalah kegiatan penting yang harus dilakukan secara benar oleh orang
tua. Selain ditujukan untuk membersihkan badan bayi, memandikan bayi perlu dilakukan
secara hati hati agar tidak melukai bayi mengingat kondisi bayi yang sangat lemah.
Selain itu, memandikan bayi merupakan bagian penting dari perawatan bayi. Berikut
beberapa cara yang dapat dilakukan oleh para orang tua dalam memandikan bayi:

Siapkan terlebih dahulu keperluan mandi bayi.

Isi air hangat (36-37 C) ke bak mandi, periksalah suhunya.

Bukalah bajunya, bungkus dengan handuk di pangkuan orangtua, usap matanya


dengan kapas yang dibasahi dengan air matang dingin, bersihkan sekitar wajah dan
mulut.

Bersihkan mata dari luar ke dalam, gunakan kapas yang dibasahi.

Basuh kepala, wajah, leher, dada, lengan, punggung dan tungkainya. Perhatikan
daerah lipatan.

Sabunilah kepala dan badan. Gunakan washlap. Pilih sabun bayi dengan formal PH
balance agar tidak pedih di mata.

Keramas sirambutnya, pegang kepalanya di atas bak mandi. Keringkan, lepaskanlah


handuk, letakkan satu tangan di bawah pundaknya, sementara tangan lainnya
diletakkan di pantat. Masukkan bayi secara perlahan ke bak mandi.

Topang leher dan pundaknya, sabuni dan bilas. Pegang pantatnya dan angkat.
Bungkus dengan handuk. Tepuk tepuklah agar kering. Biarkan bayi terbungkus
handuk saat memakaikan baju dan popok.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memandikan bayi, terutama di bagian
bagian tertentu dimana kondisinya begitu sulit untuk dijangkau dan juga mengingat
kondisi kulit bayi yang masih sensitif. Daerah spesifik tersebut adalah:
a. Membersihkan seputar alat kelamin bayi
Pada bayi laki laki: Bersihkan kotoran yang ada pada kulup secara perlahan, dorong
lembut kulit penis ke pakaiannya. Sekalah (seko) kotoran dengan kasa basah.
Pada bayi perempuan: Bersihkan daerah kemaluan dari depan ke belakang (dari
kemaluan ke anus dan dapat diulang dengan kasa baru), demikian pula dengan
selangkangan.
b. Membersihkan bagian dalam telinga dan hidung
Bersihkan lubang hidung yang terlihat dengan kapas (cotton bud) basah. Bersihkan
bagian terluar telinga yang bisa dilihat dengan kapas basah.
Sumber : http://bidanku.com/cara-memandikan-bayi#ixzz3160lHxE0
D. Bayi Berat Lahir Rendah
Bayi dikatakan lahir rendah jika memiliki BB antara 1750 -2499 gram. Bayi dengan
lahir > 2250 gram umumnya cukup kuat untuk memulai minum sesudah dilahirkan.
Sedangkan untuk bayi dengan berat 1750-2250 gram sebagian mungkin perlu perawatan
ekstra tetapi , tetapi secara normal dapat bersama dengan ibu untuk diberi minum dan
kehangatan. Bayi dengan berat < 1750 gram beresiko untuk hipotermi, apnu, hipoksemia,
sepsis, intoleransi minum dan enterokalis nekrotikan. Semakin kecil bayi semakin tinggi
resiko. BBLR (Berat Bayi Lahir Rendah) dapat dibagi menjadi 2 golongan yaitu:
a. Prematuritas Murni
Yaitu masa kehamilan kurang dari 37 minggu dan berat badan sesuai dengan berat
badan untuk masa kehamilan atau neonatus kurang bulan murni sesuai masa
kehamilan
b. Dysmaturitas
Bila berat badan bayi tersebut kurang dari pada berat badan seharusnya untuk masa
kehamilan itu. Jadi bayi itu mengalami gangguan pertumbuhan dalam kandungan.
(SMALL FOR GESTASTIONAL AGE) atau berat badan bayi kurang dari berat badan
yang sebenarnya untuk Gestasi itu. Contoh : Bayi lahir dengan usia kehamilan 40
minggu tetapi berat badannya mencapai 2400 gram atau kurang dari 2500 gram.

Penyebab terbanyak terjadinya BBLR adalah kelahiran prematur. Faktor ibu yang lain
adalah umur, paritas, dan lain-lain. Faktor plasenta seperti penyakit vaskuler, kehamilan
kembar/ganda, serta faktor janin juga merupakan penyebab terjadinya BBLR.
1. Gambaran Klinis:
Gambaran Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) tergantung dari umur kehamilan
sehingga dapat dikatakan bahwa makin kecil bayi atau makin muda kehamilan maka
nyata. Sebagai gambaran umum dapat dikemukakan bahwa Berat Badan Lahir
Rendah mempunyai karakteristik.
2. Karateristik BBLR sebagai berikut:
a. Berat Badan Lahir kurang dari 2.500 gram.
b. Panjang badan kurang dari 45 cm.
c. Lingkar dada kurang dari 33 cm.
d. Lingkar kepala kurang dari 33 cm.
e. Umur kehamilan kurang dari 37 minggu.
f. Kepala reltif lebih besar dari badannya.
g. Kulit: tipis transparan, lanugo banyak terutama pada dahi, lemak subkutan kurang.
h. Ubun-ubun dan sutura lebar.
i. Tangisan lemah dan jarang
j. Pernapasan belum teratur dan sering timbul apnea.
k. Daya isap lemah terutama dalam hari-hari pertama.
l. Labia minora belum tertututp oleh labia mayora (pada wanita), testis belum turun
(pada laki-laki).
m. Pergerakan kurang dan lemah.
n. Kepala tidak mampu bergerak.
o. Pernapasan sekitar 45 sampai 50 x/menit
p. Frekuensi nadi sektar 100-140 kali/menit
3. Bayi Berat Badan Lahir Rendah dikelompokkan sebagai berikut:
a. Bayi Berat Badan Ekstrim Rendah (BBLER), berat lahir kurang dari 1.000 gram.
b. Bayi Berat Lahir Sangat Rendah (BBLSR), berat lahir kurang dari 1.500 gram.
c. Bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR), berat lahir 1.500-2.499 gram
4. Komplikasi
Bersangkutan dengan kurang sempurnanya alat-alat dalam tubuhnya baik anatomik
maupun fisiologik maka mudah timbul kelainan sebagai berikut.

a. Suhu tubuh tidak stabil oleh karena kesulitan mempertahankan suhu tubuh yang
disebabkan oleh penguapan yang bertambah akibat kurangnya jaringan lemak di
bawah kulit.
b. Gangguan pernapasan disebabkan oleh kurangnya surfaktan, pertumbuhan dan
perkembangan paru belum smpurna dan otot pernapasan masih lemah.
c. Gangguan pencernaan dan problem nutrisi, distensi abdomen, volume lambung
berkurang daya untuk mencerna dan mengabsorbsi lemak, vitamin dan beberapa
mineral tertentu berkurang, kerja kardio-esofagus belum sempurna.
d. Imatur hati memudahkan terjadinya hiperbilirubin dan defisiensi vitamin K.
Tabel. I
Bagan Penanganan Bayi Berat Badan Lahir Rendah ( BBLR )
KRITERIA
KATEGORI
PENILAIAN
PENANGANAN

BERAT LAHIR BAYI < 2500 GRAM


Bayi Berat Lahir Sangat Rendah Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR )
( BBLSR )
Berat Lahir < 1500gram
Keringkan secepatnya

PUSKESMAS

Berat Lahir 1500-2500 gram


dengan - Beri lampu 60 watt dengan jarak

handuk hangat
-

minimal 60 cm dari bayi

Kain yang basah secepatnya diganti - Kepala bayi tertutup topi


dengan yang kering dan hangat - Beri oksigen
(pertahan kan tetap hangat)

Berikan lingkungan hangat

dengan cara kontak kulit dan atau pakain BBLSR dengan kain hangat.

Beri ASI dila

tidak

dapat

menghisap, bisa menelan langsung

Tetesi ASI bila dapat menelan, dan dari puting


apabila

tidak

dapat

menelan - Bila tidak dapat menelan langsung

langsung dirujuk
-

Tali pusat dalam keadaan bersih.

dirujuk

Rujuk kerumah sakit yang lengkap


perawatannya
Sama dengan diatas

PENANGANAN

RUMAH SAKIT

Memberi minum dengan sonde / tetesan ASI ( liat tabel BBLR )

Bila tidak mungkin, infus Beksitiose 10% + Bicaribonas Natricus 1,5 % =


4:1
Hari 1: 60 cc/ kg/hari, Hari 1 : 70 cc/kg/hari.

- Antibiotika

Bila

tidak

dapat

langsung/sesak/biru

mengisap

puting

susu/tidak

dapat

menelan

(membiru) atau tanda-tanda Hipotermia berat,

terangkan akan kemungkinan akan meninggal.

Tanda bahaya pada bayi baru lahir dan bayi muda


Tanda dan gejala sakit dari bayi baru lahir atau bayi muda sering tidak spesifik. Tanda dapat
terlihat pada saat atau sesudah bayi lahir, ketika perawatan di rumah sakit. Tanda bahanya
adalah:
1. Tidak bisa minum
2. Kejang
3. Mengantuk atau tidak sadar
4. Frekuensi nafas < 20 kali/menit atau apnu (pernafasan berhenti selama > 15 detik)
5. Frekuensi nafas >60 kali/menit
6. Merintih
7. Tarikan dada bawah ke dalam yang kuat
8. Sianosisi berat
Sepsis
Pengertian sepsis adalah penyakit sistemikn yang disebabkan oleh penyebaran mikroba
atau toksi ke dalam aliran darah dan menimbulkan respon sistemik. Sepsis juga merupakan
kedaruratan medic sehingga memerlukan pengobatan segera untuk menurunkan anga
kematian.
Faktor yang memepengaruhi terjadinya sepsis antara lain faktor ibu seperti infeksi selama
kehamilan(TORCH, eklamsia, DM, penyakit bawaa, air ketuban each dini), persalinan
dengan tindakan, infeksi atau fibris pada ibu, usia ibu antara 20-39 tahun. Faktor bayi antara
lain trauma lahir, premature, kurang mendapat cairan, hipotermi, partus lam, ketuban pecah
dini, jenis kelamin laki-laki dan kembar. Infeksi 5 kali lebih sering terjadi pada bayi baru
lahir dengan BB < 2750 gram dan 2 kali lebih serig menyerang laki-laki. Sepsis dapat mulai
muncul 72 jam setelah lahir.
Apgar Score
Apgar score adalah suatu metode sederhana yang digunakan untuk menilai keadaan
umum bayi sesaat setelah kelahiran. Penilaian ini perlu untuk mengetahui apakah bayi

menderita asfiksia atau tidak. Komponen yang dinilai anatara lain frekuensi jantung (heart
rate), usaha nafas (respiratory effort), tonus otot (muscle tone), warna kulit (colour), dan
reaksi terhadap rangsang (respon to stimuli).

Tingkatan sepsis

Kriteria APGAR SCORE

Interpretasi Skor APGAR