Anda di halaman 1dari 52

AKUNTANSI KEPERILAKUAN

The Multidimensional Scope of Management Accounting,


Nature of The Control Process, & Linguistic Relativism in
Management Accounting

Dosen Pengampu: R.A. Supriyono, Prof., Dr., S.U., CMA.

oleh:
Fransiscus Nicodemus

15/387013/PEK/20563

Dhika Maha Putri

15/387000/PEK/20550

Pradibto Tri Nugrohoadi

15/387051/PEK/20601

Saiful Anwar

15/391085/PEK/21214

PROGRAM STUDI MAGISTER AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNIS
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2016

BAB 1
The Multidimensional Scope of Management Accounting

BAB II
Nature of The Control Process
Kontrol, seperti perencanaan dan pengorganisasian, merupakan fungsi penting
dalam manajemen proses. Dimana tingkat kontrol manajemen lebih lengkap
daripada tingkat kontrol akuntansi.
Sifat dari Proses Pengendalian
Sifat Pengendalian
Organisasi menerapkan pengendalian untuk mengatur interaksi antar
individu, karena pengendalian membawa individu untuk menyesuaikan diri
dengan aturan. Awalnya pengendalian dilihat sebagai kekuasaan atau proses
mempengaruhi perilaku individu. Oleh karenanya pengendalian membentuk
respon emosional yang kuat bagi individu yang terlibat. Disisi lain pengendalian
dianggap sebagai kebutuhan untuk melawan gangguan yang muncul dalam
organisasi. William Travers Jerome III menawarkan klasifikasi pengendalian
berdasarkan tujuan penggunaan sebagai berikut :
1. Pengendalian dipakai sebagai standarisasi kinerja dengan tujuan
meningkatkan efisiensi dan menurunkan biaya.
2. Pengendalian dipakai sebagai alat untuk melindungi aset perusahaan dari
pencurian, pemborosan, atau penyalahgunaan.

3. Pengendalian digunakan untuk menstandarisasi kualitas agar sesuai


dengan spesifikasi yang diinginkan pelanggan maupun perusahaan.
4. Pengendalian digunakan untuk membatasi pendelegasian wewenang yang
dapat dilakukan tanpa persetujuan manajemen tingkat atas.
5. Pengendalian dipakai untuk mengukur prestasi kerja.
6. Pengendalian dipakai untuk merencanakan dan memprogram operasi.
7. Pengendalian digunakan manajemen untuk menjaga berbagai macam
rencana dan program perusahan tetap seimbang.
8. Pengendalian deipakai untuk memotivasi individu melakukan usaha
terbaik bagi perusahaan.
Dasar dari Pengendalian
Pengendalian didasarkan pada beberapa bentuk kekuasaan yang mana
setiap kekuasaan memiliki strategi pengendalian yang berbeda karena setiap
bentuk kekuasaan dibedakan berdasarkan kemampuan untuk membatasi pilihan.
Enam tipe kekuasaan tersebut adalah sebagai berikut ;
1. Reward Power
Berdasar pada persepsi yang dipegang individu atau grup bahwa individu
atau grup lain mempunyai kemampuan untuk memberikan berbagai
macam reward untuk kinerja yang berbeda.
2. Coercive Power
Berdasar pada persepsi yang dipegang individu atau grup bahwa individu
atau grup lain mempunyai kemampuan untuk memberikan hukuman.
3. Legitimate Power
Berdasar pada persepsi yang dipegang individu atau grup bahwa individu
atau grup lain mempunyai hak untuk mempengaruhi tindakan yang
dilakukan.
4. Referent Power

Berdasar pada persepsi yang dipegang individu atau grup bahwa individu
atau grup lain seharusnya diidentifikasi dengan meniru tindakan, gaya, dan
kepercayaan.
5. Expert Power
Berdasar pada persepsi yang dipegang individu atau grup bahwa individu
atau grup lain seharusnya diidentikasi dengan pengetahuan dan keahlian.
6. Integration Power : Penggunaan semua tipe kekuasaan di atas.
Tahap Pengendalian
Proses pengendalian terdiri dari:
1. Penyusunan tujuan untuk kinerja aktivitas ataupun fungsi.
2. Pembuatan standar kinerja untuk setiap tujuan spesifik dari aktivitas
ataupun fungsi.
3. Melakukan monitoring atau mengukur kinerja aktual.
4. Melakukan review dan membandingkan rencana dengan kinerja aktual.
5. Perbaikanpenyimpangan dan memberikan reward untuk memotivasi dan
memperkuat kinerja.
Tipe Pengendalian

Beberapa tipe pengendalian:


1. Leonardo Sayles
a. Reassurance to sponsors
Pengendalian di level atas dimana stakeholders dijelaskan mengenai
efisiensi dari operasi.
b. Guidance to subordinates from managers
Pengendalian level menengah, dimana bawahan dijelaskan apa fokus
yang seharusnya dilakukan.
c. Guidance to lower-level management by higher management

Pengendalian level menengah dimana manajer dijelaskan tentang


pencapaian yang masih kurang dan tindakan manajer yang seharusnya
dilakukan mengatasinya.
d. Closing the loop
Pengendalian level bawah dimana manajer dijelaskan bahwa
persyaratan teknis dan hukum telah terpenuhi.
2. W.H Newman
a. Steering Controls
Pengendalian yang memberikan manajer tanda yang menunjukan apa
yang akan terjadi apabila operasi saat ini dilanjutkan.
b. Yes/No Controls
Pengendalian yang memberikan manajer aturan yang menunjukan
kondisi yang harus dipenuhi sebelum pekerjaaan dilanjutkan ke tahap
berikutnya.
c. Postaction Controls
Pengendalian yang memberikan manajer laporan kinerja atau kartu
penilaian setelah selesainya operasi yang menunjukan perbedaan
rencana dan kinerja aktual.
3. K.A. Merchant
a. Result Controls
Pengendalian yang berfokus pada hasil dimana melibatkan individu
dan pertanggungjawaban terhadap hasil tertentu atau outcome.
b. Action Controls
Pengendalian yang berfokus pada tindakan dimana digunakan ketika
result control tidak layak digunakan.
c. Personnel Controls : Pengendalian yang berfokus pada individu yang
dimaksudkan untuk mendorong pengendalian diri dan sosial.
4. W.G Ouchi
a. Markets
Pasar adalah mekanisme efisien dari persaingan. Pasar terkait dengan
pengendalian

melalui

kemampuannya

menghargai kontribusi individu.


b. Bureaucracies

untuk

mengukur

dan

Birokrasi adalah mekanisme pengendalian yang mengandalkan


perpaduan evaluasi tertutup, penerimaan yang disosialisasikan dan
tujuan umum.
c. Clans
Klan adalah mekanisme pengendalian dalam bentuk struktur sosial
informal yang mengandalkan proses sosialisasi untuk menghilangkan
ketidaksamaan tujuan antara individu secara efektif.
5. Don Hellriegel dan John Slocum
a. Human Input Control
Merupakan cara untuk mengendalikan tindakan individu yang tidak
diinginkan antara lain ketidakstabilan, variabilitas, dan spontanitas.
b. Reward-Punishment system
Merupakan 3 sistem yang memungkinkan membantu membentuk
individu sesuai dengan kebutuhan organisasi. Tiga sistem itu adalah
koersif, utilitarian, dan normatif.
c. Formal Structures
Merupakan struktur utama pengendalian yaitu spesifikasi tugas dan
tanggung jawab, alur komunikasi, penggunaan unit spesial untuk
mendukung audit ataupun unit lainnya, memvariasikan rentang
pengendalian.
d. Policies and Rules
Merupakan alat yang digunakan untuk melakukan kontrol.
e. Budgets
Merupakan dasar pengendalian.
f. Mechanical Controls or Machine Controls
Merupakan upaya untuk memperluas kemampuan individu tanpa
penerapan langsung dari energi manusia, keahlian, intelegensi, atau
pengendalian.
Sumber Pengendalian

Kesalahan dan seringkali variasi adalah hal yang menyebabkan perlunya


pengendalian. Beberapa skema diusulkan untuk mengklasifikasi kesalahan atau
variasi antara lain,
1. Shahid Ansari
Klasifikasi variasi berdasarkan dimensi alami antara lain seperti variasi
yang diharapkan atau tidak diharapkan dan dimensi lingkungan.seperti
internal (pusat biaya), eksternal (selain pusat biaya), dan exogenous (faktor
diluar organisasi).
2. Joel Demski
Klasifikasi 5 kemungkinan penyebab kesalahan atau variasi,
a. Implementation Failure
Kesalahan manusia atau mekanik untuk mendapatkan

atau

mempertahankan tindakan atau standar.


b. Prediction Error
Kesalahan untuk memprediksi dengan tepat satu dari nilai parameter
model keputusan.
c. Measurement Error
Kesalahan menentukan biaya aktual dari operasi yang terjadi karena
klasifikasi, pencatatan, dan perhitungan.
d. Model Error Results
Kesalahan dari representasi fungsional yang tidak tepat dalam model
keputusan.
e. Random Deviation Results
Kesalahan variasi kecil dalam proses input atau output.
Sistem Pengendalian Dasar
1. Sistem Pengendalian Tradisional
Sistem pengendalian tradisional diterapkan dengan menetapkan standar
untuk setiap aktivitas operasi pada waktu penetapan anggaran. Pada akhir
periode,

standar

kemudian

dibandingkan

dengan

hasil

aktual

menggunakan teknik analisis varian untuk menilai sifat penyimpangan


yang terjadi.
2. Sistem Pengendalian Feedback
Sistem Pengendalian Feedback dilakukan untuk mengatasi keterbatasan
sistem pengendalian tradisional yang mana kesalahan dalam sistem
menjadi dasar untuk memperbaiki estimasi anggaran. Sistem ini terdiri
dari pemeriksaan aktivitas operasional, umpan balik dari kesalahan
observasi atau konfirmasi, dan revisi anggaran berdasarkan penyimpangan
yang diamati dalam sampel.
3. Sistem Pengendalian Feedforward
Sistem ini terdiri dari pengujian terhadap aktivitas yang berhubungan
untuk mengantisipasi kemungkinan penyimpangan antara standar dengan
kinerja aktual. Sistem ini mendeteksi kemungkinan terjadinya kesalahan,
dan mengambil tindakan kompensasi untuk mempertahankan atau
menyesuaikan aktivitas operasi.

BAB III
Linguistic Relativism in Management Accounting
Karakteristrik

linguistik

dari

akuntansi

mendikte

proses

pembuatan keputusan dalam akuntansi secara umum dan


akuntansi manajemen secara khusus.

Akuntansi sebagai bahasa


Buku teks akuntansi secara rutin mengacu pada akuntansi
sebagai

bahasa

dan

sebagai

kendaraan

utama

untuk

mengkomunikasikan informasi bisnis. Berbagai macam jenis


bisnis pada suatu perusahaan dilaporkan dalam pernyataan
akuntansi menggunakan bahasa akuntansi, oleh karenanya

bahasa

ini

haruslah

jelas

agar

tidak

menimbulkan

kesalahpahaman. Ada dua komponen utama dalam sebuah


bahasa yaitu karakter leksikal dan aturan tatabahasa.
Relativitas Linguistik dalam Akuntansi

a) Hipotesis Sapir-Whorf dalam Relativitas Linguistik


Anthropologist selalu menekankan pembelajaran bahasa
didalam pembelajaran budaya. E. Sapir menyebutkan simbol
linguistik dari budaya tertentu. Dia melihat bahasa sebagai
instrumen pikiran dan komunikasi pikiran. Dalam kata lain,
bahasa tertentu mempengaruhi pengguna dalam keyakinan
berbeda.

Argumen ini

digunakan untuk

mendemontrasikan

relativitas bahasa. dengan menunjukkan bahwa dalam domain


tertentu bahasa American Indian lebih superior dibandingkan
dengan bahasa Eropa.
Pandangan mendasar dalam Hipotesis Sapir whorf adalah
karakteristik dari bahasa memiliki pengaruh menentukan dari
proses kognitif. Seseorang yang berbicara dengan satu bahasa
kemudian akan sangat berbeda dalam hal struktur, tatabahasa
dan karateristik lain. Bahasa lebih dari sebuah kendaraan
komunikasi tentang independesi realitas objektif melainkan
merepresentasikan realitas obyektif yang digunakan manusia
untuk mengatur realitas di sekelilingnya. Skema yang digunakan

oleh penutur bahasa akan berbeda secara drastic. Whorf


mengatakan pengamat tidak memiliki pemandangan yang sama
dari alam semesta kecuali latar belakang bahasa mereka mirip.
Pada posisi yang lebih ekstrem, hipotesis relativitas linguistik
mengklaim bahwa bagian kognitif dari sebuah organisasi dibatasi
oleh struktur linguistik.
Dalam ringkasan dari Hipotesis Relativitas Linguistik,
Roger Brown membedakan menjadai dua hipotesis utama
1) Perbedaan struktural antara sistem bahasa secara umum
akan dipararelkan oleh perbedaan kognitif non bahasa dari
penutur asli dua bahasa
2)

Struktur bahasa asli seseorang sangat mempengaruhi


atau sepenuhnya menentukan pandangannya atas dunia
yang akan diperoleh sambil belajar bahasa

Paul Kay dan Willet Kempton menambahkan hipotesis ketiga


3) Sistem semantic dari bahasa yang berbeda bervariasi
tanpa kendala
b) Sistematika dalam Hipnotesis Sapir Whorf
Menggunakan

dikotomi

ganda,

Fishman

mengklasifikasikan hipotesis Sapir-Whorf. Pendekatan model


Fishman memperlihatkan karakteristik dari bahasa baik karakter
leksikal dan aturan tatabahasa dan perilaku dari pembicara (baik
linguistik data maupun non linguistik data).

a. Cell 1
Mengimplikasikan
sebuah bahasa

hubungan

sifat

leksikal

dari

dan perilaku pembicara. Sebuah

fenomena akan dikodifikasi (dibukukan) berbeda


dalam setiap bahasa yang menstrukturisasi perilaku
verbal mereka. Karena perbedaan ini perilaku dan
komunikasi akan berbeda.
b. Cell 2
Berhubungan dengan kodifikasi

linguistik

dan

perilaku yang bersamaan. Hal ini mengimplikasikan


hubungan

antara

properti

leksikal

dari

sebuah

bahasa dan perilaku linguistik dari pemakai bahasa.


Tingkat kedua menyiratkan bahwa penutur bahasa
yang membuat perbedaan leksikal tertentu akan
dapat melakukan tugas-tugas non linguistik yang
lebih baik dan lebih cepat.
c. Cell 3
Tingkat ketiga mengimplikasikan hubungan antara
karakter tatabahasa dan budaya tertentu. Perhatian
pada tingkat ini adalah hubungan antara bahasa dan
cara pandang dunia. Pembicara dari satu bahasa
yang menggunakan aturan tata bahasa tertentu akan
memberikan cara pandang dunia yang berbeda
dengan pembicara dari bahasa lain.
d. Cell 4

Tingkat ini mengimplikasikan hubungan karakteristik


tatabahasa dan perilaku tertentu.
c) Sistematika Hipotesis Relativitas Lingusitik dalam Akuntansi
Sistematisasi
hipotesis
relativitas
linguistik
dalam
akuntansi

dapat

dicapai

dengan

membedakan

antara

karakteristik bahasa akuntansi dan data yang berbeda dari


perilaku kognitif, di mana karakteristik bahasa akuntansi
adalah representasi akuntansi simbolik dan aturan manipulasi
dan data perilaku kognitif yang mengacu pada perilaku
linguistik atau non pengguna data akuntansi.
Ahmed Belkaoui menyarankan 4 hipotesis
1) Pengguna yang membuat perbedaan leksikal tertentu
dalam akuntansi dimungkinkan untuk berbicara dan / atau
memecahkan masalah yang tidak dapat dengan mudah
dipecahkan oleh pengguna yang tidak membuat perbedaan
leksikal.
2) Pengguna yang membuat perbedaan leksikal tertentu
dalam akuntansi dimungkinkan untuk melakukan tugas
(Nonlinguistik) lebih cepat atau lebih benar daripada para
pengguna yang tidak membuat perbedaan leksikal.
3) Pengguna yang memiliki peran akuntansi (dalam hal tata
bahasa) cenderung untuk memiliki gaya manajerial yang
berbeda daripada mereka yang tidak memiliki peran
akuntansi.
4) Teknik Akuntansi dapat memfasilitasi atau membuat lebih
sulit berbagai perilaku manajerial (nonlinguistik).

Dalam konteks tertentu, hipotesis ini tidak secara eksplisit


teruji, berbagai bukti yang ada dalam akuntansi perilaku
dan

sastra

pengolahan

manusia

kemungkinan

dapat

menjelaskan hipotesis relativitas linguistik dalam akuntansi


secara umum dan empat hipotesis ini pada khususnya.
Tesis Sosio Linguistik dalam Akuntansi
Peran

dari

bahasa

dalam

sebuah

komunitas

dan

hubungan sosial adalah bagian dari sosiolinguistik. Dengan kata


lain,

orang

belajar

peran

sosial

mereka

melalui

proses

komunikasi.
Kode

komunikasi

dapat

diuraikan

atau

dibatasi,

tergantung pada apakah sulit atau mudah untuk memprediksi


alternatif linguistik. Seperti yang dinyatakan oleh Bernstein :
Kita bisa mulai melihat bahwa di daerah di mana sistem
peran terbuka , ada motivasi untuk mengeksplorasi dan aktif
mencari dan memperluas makna ; sedangkan di mana sistem
peran

tertutup,

ada

sedikit

induksi

motivasi

untuk

mengeksplorasi dan menciptakan makna baru. Dimana sistem


peran terbuka, individu anak belajar untuk mengatasi ambiguitas
dan isolasi dalam penciptaan makna secara lisan; dimana sistem
peran ditutup, indikator individual atau anak akan menempa
pembelajaran tersebut. Sebaliknya, ia belajar untuk menciptakan
makna lisan dalam konteks sosial yang ambigu.

Dengan demikian peran sosial akan menentukan kode


komunikasi

yang

digunakan.

Situasi

akuntansi

juga

mempengaruhi hubungan peran yang berbeda yang dihasilkan


dari sejumlah faktor, termasuk keanggotaan dalam asosiasi
profesional

yang

berbeda,

perbedaan

tingkat

pendidikan,

kelancaran dalam akuntansi, dan perbedaan dalam ekonomi dan


posisi sosial. Hubungan peran ini pada gilirannya menentukan
penjabaran kode komunikasi akuntansi jika sistem peran terbuka
atau

pembatasan

kode

komunikasi

akuntansi

jika

sistem

tertutup. Pada intinya, tesis sosiolinguistik dalam akuntansi


menyiratkan adanya pebedaan repertoar linguistik akibat dari
peran sosial yang berbeda. Secara khusus, konsep akuntansi
menjadi sasaran analisis menggunakan teknik skala multidimensi
untuk mengevaluasi perbedaan persepsi antarkelompok dengan
tiga

kelompok

digunakan

pengguna.

untuk

Sebuah

membenarkan

konstruk

sosiolinguistik

kemungkinan

kurangnya

konsensus tentang makna konsep akuntansi.


Tesis Bilingual dalam Akuntansi
Tes terbaik dari hipotesis Sapir - Whorf dapat disediakan
oleh bilinguals karena mereka adalah satu-satunya yang secara
pribadi telah mengetes perbedaan cara pandang dunia yang
diakibatkan oleh bahasa yang berbeda. Tapi bilingualisme bukan
satu-satunya situasi yang dapat mengakibatkan cara pandang

dunia yang berbeda karena bahasa yang berbeda. Diglosia


adalah

kasus

menggunakan

lain.
dua

Diglosia
atau

lebih

terjadi
bahasa

ketika

masyarakat

untuk

komunikasi.

Fishman, membuat pemisahan antara bahasa High ( H ) yang


digunakan di konjungsi dengan agama, pendidikan, dan aspek
lain dari budaya yang tinggi dan Low ( L ) bahasa yang
digunakan di konjungsi dengan aspek sehari-hari masyarakat.
Charles A. Ferguson, yang memperkenalkan konsep diglosia
sebagai bahasa yang terdisposisi.
Fishman membedakan linguistik bahasa H dan L

1. H adalah klasik dan L adalah bahasa daerah, terkait secara


genetik.
2. H adalah klasik dan L adalah bahasa daerah , tidak terkait
secara genetik.
3. H ditulis/diucapkan resmi dan L adalah bahasa daerah, terkait
satu sama lain.
4. H ditulis/formal dan L adalah bahasa daerah, terkait satu sama
lain

Fakta yang sangat penting adalah perbedaan peran sosial


dan hubungan sosial mendikte penggunaan bahasa atau dialek
yang berbeda yang mengakibatkan perbedaan cara pandang

dunia dan perilaku. Di mana perilaku, sikap, dan nilai-nilai yang


didukung, dan apa yang diekspresikan dalam satu bahasa akan
berbeda dengan bahasa lainnya. Bilingualisme dan Diglosia
berdampak

pada

penggunaan

bahasa

akuntansi.

Penutur

beberapa bahasa atau dialek yang berbeda akan mengalami


pandangan dunia yang berbeda yang mengakibatkan bahasa
akuntansi yang berbeda.
Akibatnya, bahasa ditemukan terkait dengan tingkat
kreativitas yang lebih tinggi, kelayakan kognitif, pembentukan
konsep , intelegensi verbal dan kemampuan psikolingistik. Maka
dapat disimpulkan bahwa perbedaan bahasa pada akhirnya
dapat mengakibatkan perbedaan konsep akuntansi.
Model Relativitas Linguistik dalam Akuntansi Manajemen
Akuntansi manajemen dapat direpresentasikan sebagai
bahasa tertentu dari dua komponen yaitu representasi simbolis
dan karakter tata bahasa. Proses pengambilan keputusan dalam
akuntansi dipengaruhi oleh bahasa pada perilaku dan sikap
sebagai hipotesis relativitas linguistik, hipotesis sosiolingusitik
dan tesis bilingual. Pada dasarnya kodifikasi atau struktur bahasa
akuntansi dipengaruhi oleh perilaku lingusitik dan nonlinguistik
pengguna.

Peran

sosial

yang

diciptakan

oleh

perbedaan

keanggotaan professional, kelas sosial dan pendidikan membuat


perbedaan kode komunikasi baik yang diuraikan maupun dibatasi

dimana hal itu mempengaruhi konsep formasi, pemahaman, dan


pengambilan
penggunaan

keputusan
bahasa

dalam

atau

akuntansi.

dialek

yang

Pada

akhirnya

berbeda

didalam

bilingualism atau diglosia membuat fenomena pembicara dengan


pemahaman

akuntansi

yang

berbeda

sama

seperti

yang

diakibatkan oleh perbedaan kemapuan kognitif.


Kesimpulan
Perbedaan bahasa dan dialek yang mendasari perbedaan
persepsi

dan

cara

pandang

dunia

pada

akhirnya

dapat

mempengaruhi proses pengambilan keputusan pada akuntansi


manajemen.

Linguistic Relativism in Accounting: A Model


Linguistic Relativism in Accounting

(Sapir-Whorf Hypothesis)
Linguistic Condifiability & Cultural Reflections
Linguistic Condifiability & Behavioral Concomitants
Linguistic Structure & Cultural Concomitants
Accounting as a Language Linguistic Structural & Behavioral Reflections

Lexical characteristics (Accounting Terms)


Sociolinguistic Thesis in Accounting
Grammatical characteristics (Accounting Techniques)

Social relations & linguistic Repertoires


Social Roles and Communication Codes
Comunication Codes
Restriced
Elaborated
Role Systems
Open
Close
Bilingual Thesis in Accounting

Bilingualism & Weltanschauung


Diglossia
High language
Low language

Linguistic
Relativism
Judgment/Decision
in Management
Process in Management Accounting
Accounting

AKUNTANSI KEPERILAKUAN

Cultural Relativism in Management Accounting, Cognitive


Relativism in Management Accounting, & Contingency
Approaches to the Design of Accounting Systems

Dosen Pengampu: R.A. Supriyono, Prof., Dr., S.U., CMA.

oleh:
Fransiscus Nicodemus

15/387013/PEK/20563

Dhika Maha Putri

15/387000/PEK/20550

Pradibto Tri Nugrohoadi

15/387051/PEK/20601

Saiful Anwar

15/391085/PEK/21214

PROGRAM STUDI MAGISTER AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNIS
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2016
BAB IV

Cultural Relativism in Management Accounting


Pendahuluan
Relativisme

budaya

dalam

akuntansi

manajemen

mengisyaratkan bahwa orang-orang dari budaya yang berbeda


membangun dan menggunakan konsep dan praktik akuntansi
manajemen yang berbeda. Pada dasarnya, bab ini memaparkan
bahwa

budaya

melalui

komponen-komponen,

elemen,

dan

dimensi yang menentukan struktur organisasi yang di adopsi,


perilaku

mikroorganisasi,

akuntansi

manajemen

dan

fungsi

kognitif yang dihadapkan pada akuntansi manajemen.


Sejarah Teori Budaya
Pada pertengahan abad kedelapan belas, berbagai upaya
telah dilakukan untuk mengembangkan teori-teori perbedaan
budaya. Perbedaan budaya kemudian membawa kemajuan
intelektual dan moral yang dicapai oleh orang berbeda-beda.
Abad kesembilan belas muncul konsep evolusi budaya, yang
mengemukakan bahwa budaya bergerak melalui berbagai tahap
perkembangan. Auguste Comte, Georg Wilhelm Friedrich Hegel,
dan Lewis Henry Morgan menganut pandangan ini.
Konsep Budaya

Konsep budaya telah mengalami berbagai penafsiran.


Bahkan, beberapa antropolog menyatakan bahwa budaya secara
abstrak

mengacu

menggunakan

pada

budaya

pendekatan

khusus

yang

spesifik.

dengan

tiga

Antrolopog
cara

yang

berbeda.
1. Pendekatan Budaya Universal
Pendekatan ini berfokus pada identifikasi semua budaya
secara umum, yang tidak memungkinkan pengujian budaya
terhadap suatu variable tertentu.
2. Pendekatan sistem nilai
Pendekatan ini berfokus pada mengklasifikasikan budaya
sesuai dengan sistem nilai. Instrumen yang digunakan untuk
mengetahui nilai budaya adalah way of life.
3. Pendekatan sistem
Pendekatan ini berfokus pada sistem yang membentuk suatu
budaya tertentu. P.R Harris dan R. T Moran mengindentifikasi
delapan subsistem dalam suatu budaya yaitu; kekerabatan,
pendidikan, ekonomi, politik, agama, aossiasi, kesehatan dan
rekreasi.
Beberapa antropolog melihat bahwa kebudayaan sebagai
informasi yang ada dalam pikiran manusia dan dikeluarkan
sebagai bahasa, perilaku, materi, atau dokumen dan akan
menjadi sumber budaya bagi setiap individu dan kelompok. Ada
juga consensus tentang isu utilitas budaya yang mengartikan
bahwa

praktik-praktik

budaya

memiliki

fungsi

atau

mencerminkan

cara

masyarakat

beradaptasi

dengan

lingkungannya.
Berikut adalah konsep budaya yang ada dalam antropologi
yang memengaruhi perbedaan tema penelitian akuntansi.
1. Berdasarkan Fungsionalisme Malinowski, budaya dapat
dilihat
biologis

sebagai
dan

instrument

psikologis.

yang

melayani

Penerapan

definisi

kebutuhan
ini

maka

penelitian akuntani memengaruhi persepsi akuntansi pada


instrument sosial budaya tertentu dalah hal penyelesaian
tugas dan analisis akuntansi lintas budaya atau akuntasni
komparatif.
2. Mengikuti
fungsionalisme

structural

Radcliffe-Brown,

budaya dapat dilihat sebagai mekanisme pengaturan


adaptasi yang menyatukan individu
sosial.

Penerapan

dari

definisi

ini

dengan structural
untuk

penelitian

akuntansi adalah pengaruh persepsi akuntansi pada setiap


budaya sebagai alat adaptasi terhadap proses pertukaran
dengan lingkungan dan analisi budaya akuntansi.
3. Mengikuti Etnosains Goodenough, budaya dapat dilihat
sebagai

suatu

sistem

pengetahuan

bersama.

Pikiran

manusia menghasilkan budaya yang dibatasi oleh aturan.


Penerapan definisi ini untuk penelitian akuntansi adalah
pengaruh akuntansi dapat dilihat sebagai suatu sistem

pengetahuan

bagi

masing

masing

individu

berbagai

tingkay dan analisi dari pengetahua akuntansi.


4. Mengikuti antropolog simbolik Geertz, budaya dapat dilihat
sebagai symbol dan makna bersama. Penerapan budaya
berdasarkan definisi ini untuk penelitian akuntansi bahwa
akuntansi dapat dilihat sebagai pola wacana simbolik atau
bahasa dan analisi akuntansi sebagai bahasa.
5. Berdasarkan teori struktualisme Levi-Strauss, budaya dapat
dilihat sebagai proyeksi insfrakstruktur pikiran sadar yang
umum. Penerapan definisi akuntansi ini dalam penelitian
akuntansi menunjukkan bahwa akuntansi dapat dilihat
pada setiap budaya yang berbeda sebagai manifestasi dari
proses tidak sadar maupun sadar tentang akuntansi.
Relativisme Budaya dalam Manajemen Akuntansi
Model Relativisme Budaya
Edward T. Hall telah menyatakan bahwa budaya adalah
media manusia; tidak ada satu aspek kehidupan manusia yang
tidak teanrsentuh dan dirubah oleh budaya. Hal ini berarti
kepribadian, cara berekspresi, cara berpikir, cara bergerak, cara
menyelesaikan masalah, cara merencanakan dan melakukan
penataan, pengorganisasian fungsi sistem transportasi, serta
sistem ekonomi dan fungsi pemerintah.
Hal ini diaplikasikan dalam akuntansi dimana budaya dapat
ditunjukkan

sebagai

akuntabilitas.

Budaya

pada

dasarnya

menentukan

penilaian

proses/

keputusan

dalam

akuntansi.

Gambar berikut ini menunjukkan budaya melalui komponenkomponennya,

elemen,

dan

dimensi

menentukan

struktur

organisasi yang diadopsi, perilaku mikroorganisasional, dan


fungsi kognitif individu. Hal ini akhirnya akan memengaruhi
penilaian/proses

pengambilan

keputusan

ketika

dihadapkan pada fenomena akuntansi manajmen.

seseorang

Operaisonalisai Budaya
Model pada gambar di atas menghindari dua masalah
utama operasi dan penggunaan budaya yang telah menimpa
sebelumnya;

menyamakan

budaya

antar

negara

dan

penggunaan ad hoc budaya sebagai faktor residual yang belum


dapat

menjelaskan

variasi

oleh

faktor

lainnya.

Budaya

diapandang sebagai penciptaan mental secara kolektif, yaitu


sebagai sistem idiologi yang membentuk latar belakang manusia
beraktivitas dan menyedian orang-orang dengan toeri realita.
Latar belakang ini terdiri dari unsure-unsur yang berbeda dan
termasuk dimensi yang pasti.
Unsur-unsur budaya umumnya dianggap memengaruhi
perilaku bisnis internasional; bahasa, agama, nilai, sikap, hukum,
pendidikan, kebijakan, teknologi, dan organisasi sosial. Unsure
unsure ini diasumsikan dalam model relativisme

budaya yang

memiliki potensi mendikte struktur organisasi yang diadopsi,


fungsi kognitif individu dan perilaku mikro-organisasi yang
mampu membentuk proses penilaian/ pengambilan keputusan
dalam akuntansi.
Budaya memiliki lima dimensi yaitu variabilitas budaya,
Kompleksitas budaya, heterogenitas budaya, persaingan budaya
dan interpendensi budaya. Dimana tiga dimensi merujuk pada

kondisi di dalam budaya sementara dua terakhir merujuk pada


kondisi di antara budaya yang satu dengan yang lainnya.
Dimensi ini dapat dilihat sebagai potensi seumber masalah untuk
perusahaan.
1. Variabilitas budaya dapat menghasilakan ketidakpastian
karena menyerukan fleksibilitas organisasi dan proses
adaptasi.
2. Kompleksitas budaya menimbulkan kesulitan pemahaman
karena memerlukan persiapan organisasi dan individu.
3. Persaingan Budaya mengancam pencapaian tujuan andan
kelangsungan

hidup

karena

menuntut

pemeliharaan

penerimaan sosial.
4. Heterogenitas budaya menghalangi keputusan terpusat
dan membuat informasi yang berlebihan, hal ini karena
menyerukan desentralisasi budaya.
5. Interindependensi budaya meningkatkan kerentanan suatu
organisasi untuk konflik antar kelompok
Model

relativisme

perbedaan

dalam

lingkungan

budaya

budaya

lima
yang

ini

mengasumsikan

dimensi-dimensi
berbeda

yang

ini

bahwa

menghasilkan

memiliki

potensi

mendikte struktur organisasi yang diadopsi, fungsi kognitif


individu dan perilaku mikro organisasi yang akan membentuk
proses pengambilan keputusan dalam akuntansi.

Budaya

juga

bervariasi

dalam

empat

dimesni

yang

mencerminkan orientasi budaya suatu negara dan menjelaskan


50 persen perbedaan sistem nilai antar negara, yaitu:
1. Power Distance, mewakili sejauhmana anggota masyarakat
menerima distribusi kekuasaan di lembaga dan organisasi.
Masyarakat yang memiliki jarak kekuasaan yang lebar ada
kecenderungan untuk menerima perintah secara hirarkis
sedangkan masyarakat yang memiliki jarak kekuasaan
kecil

cenderung

untuk

membenarkan

ketidaksetaraan

kekuasaan yang ada.


2. Uncertainty-Avoidance, dimensi yang mewakili sejauhmana
anggota

masyarakat

merasa

tidak

nyaman

dengan

ketidakpastian dan ambiguitas.


3. Individualism-Collectivism, dimensi yang mewakili tingkat
integrasi masyarakat yang mempertahankan dirinya sendiri
ataupun hubungan antar anggota/individu
4. Masculinity-Femininity, merupakan dimensi yang mewakili
sifat dari divisi sosial pera seks. Maskulin menunjukan
adanya

prestasi,

ketegasan

dan

sejenisnya.

Feminim

menunjukkan adanya hubungan yang hangat, kerendahan


hati, kepedulian dan sejenisnya.
Model

relativitas

budaya

ini

mengasumsikan

bahwa

perbedaan antara empat dimensi akan membuat perbedaan


budaya yang memiliki potensi untuk mendikte struktur organisasi

yang diadopsi, fungsi kognitif dan perilaku mikroorganisasional


yang

dapat

membentuk

proses

penilaian/keputusan

dalam

akuntansi
Budaya dan Struktur Organisasi
Model

relativisme

budaya

mengasumsikan

bahwa

budaya

melalui komponen, unsure dan dimensinya menentukan jenis


struktur organisasi. Ide ini pertama kali dikeumakan oleh J. Child,
yang menyatakan bahwa budaya memengaruhi desain struktur
organisasi. Pendapat ini mematahkan budaya bebas dalam
teori Kontigensi tentang strutur organisasi yang diusulkan oleh
DJ, Hickson dan rekan rekannya.
Uma

Sekaran

dan

Carol

R.

Snodgrass

memberikan

argumen tentang bagaimana dimensi budaya secara spesifik


memengaruhi elemen. Secara khusus mencocokkan empat aspek
struktural.
1. Organisation-Hierarchy, hal ini merujuk pada bagaimana
organisasi mendistribusikan kekuasaan di antara anggota.
Aspek ini berhubungan dengan Dimensi Power Distance.
2. Monitoring System, merupakan proses pengumpulan dan
penyebaran

informasi

tentang

kinerja.

Aspek

ini

berhubungan dengan Dimensi Uncertanty Avoidance.


3. Evaluation System, mengacu pada proses menilai
efektifitas dan efisiensi kinerja individu dalam organisasi.

Aspek ini berhubungan dengan Dimensi IndividualismKolektivism.


4. Reward System,

mengacu

pada

proses

memberikan

penghargaan terhadap kinerja kelompok maupun kinerja


individu.

Aspek

ini

berhubungan

dengan

Dimensi

Maskulinism-Feminism.
Perilaku Mikro-organisasi dan Budaya
Penelitian lintas budaya pada perilaku mikroorganisasi
telah memeriksa berbagai isi termasuk gaya kognitif, motivasi
kerja, kepuasan kerja dan lainnya penting untuk menyoroti
perbedaan sikap dan perilaki manajerial. Penelitian terkait gaya
kognitif berfokus pada perbedaan budaya dalam aspek structural
sistem kognitif individu, Hal ini untuk memahami dampak dari
budaya seubjektif dari perilaku individu. Pendapat ini dikenal
dengan teori deferensiasi psikologis.
Penelitian tentang sikap dan nilai niali berfokus pada perbedaan
budaya. Penelitian tentang motivasi kerja membahas perbedaan
motivasi lintas

budaya. Penelitian tentang kepuasan kerja

berfokus pada perbedaan kepuasan kerja lintas-budaya dengan


variable lain yang menarik.
Fungsi Kognitif

Bagaimana orang belajar dan berfikir merupakan studi


tentang kognisi manusia. Perbedaan budaya dalam fungsi
kognitif telah menjadi banyak perdebatan. Perdebatan akibat
pandangan yang berbeda perlu dilanjutkan dalam penelitian
akuntansi untuk menentukan apakah orang-orang dari budaya
yang berbeda akan melakukan tugas-tugas yang berbeda sesuai
dengan tingkat keterampilan kognitifnya.
Budaya dan Variabel lingkungan akuntansi manajemen
Budaya

merupakan

lingkungan

akuntansi

variable

penting

manajemen

yang

suatu

memengaruhi

negara.

Pendapat

terdahulu menyatakan bahwa akuntansi sebenarnya ditentukan


oleh budaya yang diberikan di suatu negara tersebut. Kurangnya
konsensus di antara negara-negara yang berbeda tentang
sebuah metode akuntansi yang tepat karena disebabkan oleh
tujuan dari akuntansi adalah budaya bukan teknis.
Kesimpulan
Inti dari relativisme budaya dalam akuntansi manajemen adalah
adanya proses budaya yang diasumsikan memengaruhi proses
penilaian/keputusan

dalam

akuntansi

manajemen.

Model

relativisme budaya dalam bab ini menyatakan bahwa budaya


melalui komponen, elemen dan dimensinya menentukan struktur
yang

diadopsi

oleh

organisasi,

perilaku

mikro-organisai,

pengelolaan akuntabilitas lingkungan dan fungsi kognitif individu


yang dihadapkan pada fenomena akuntansi manajemen.

BAB V
Cognitive Relativism in Management Accounting

Bab ini menyajikan model yang berfokus pada proses


kognitif pengambil keputusan untuk melakukan penilaian dan
membuat keputusan tentang fenomen akuntansi. Pada dasarnya
baik penilain dan keputisan adalah produk dari serangkaian
operasi sosial kognitif yang meliputi pengamatan fenomena
akuntansi

dan

pemebntukan

skema

yang

memungkinkan

pembentukan penilaian dan keputusan.


Skema Psikologi Kognitif
Pemikiran tentang Proses Schema-Guided
Teori Skema yang dikembangkan oleh F.C. Bartlett berperan sebagai stimulans
untuk semua teori skema. Seperti yang didefinisikan oleh Bartlett, skema adalah
"organisasi yang aktif dari reaksi masa lalu, atau pengalaman masa lalu, yang
seharusnya beroperasi di respon organik yang dapat beradaptasi dengan baik.
Schemata adalah pengetahuan di alam bawah sadar yang kompleks, sebagai
pengalaman di masa lalu yang terorganisir. Schemata merupakan representasi
kognitif yang umum, dalam arti bahwa mereka merupakan suatu proses yang
dapat berurusan dengan jumlah tanpa adanya batas kasus baru. Schemata
umumnya dianggap sebagai elemen mendasar bagi semua pengolahan informasi
yang bergantung. Mereka merupakan teori tentang pengetahuan: bagaimana
pengetahuan direpresentasikan, dan bagaimana representasi dapat memfasilitasi
penggunaan pengetahuan dalam berbagai cara.

Seperti yang dinyatakan oleh D.E. Rumelhart, "schemata yang diterapkan dalam
proses interpretasi data sensorik, dalam mengambil informasi dari memori, dalam
mengorganisir aksi, dalam menentukan tujuan dan sub-tujuan, dalam alokasi
sumber daya dan umumnya dalam membimbing aliran pengolahan di sistem.
Dalam kenyataannya, analisis yang berguna dari skema yang disarankan oleh
Rumelhart termasuk drama, teori, prosedur, dan parser. Sifat skema meliputi
sebagai berikut :
1. Skema merupakan abstraksi konsep prototipe yang kompleks yang
diwakilinya.
2. Skema diinduksi dari pengalaman masa lalu dengan berbagai eksemplar
kompleks yang diwakilinya.
3. Skema dapat membimbing informasi organisasi yang masuk ke dalam
kelompok pengetahuan yang "instantiations" dari skema itu sendiri.
4. Ketika salah satu dari komponen konsep skema hilang pada input, fiturfiturnya dapat disimpulkan dari "nilai standar" dalam skema.
Skema versus Kategori
Jean Mandler membuat perbedaan yang tidak biasa antara dua jenis
kategori representasi dan skema. Kategori tersebut ditandai dengan verbal atau
nonverbal simbol dan diwakili oleh satu set fitur yang berfungsi sebagai dasar
untuk menyimpulkan keanggotaan di dalamnya. Skema, di sisi lain, adalah
representasi kognitif dimana fitur, kategori yang semisal, diatur menurut spesifik
spasial priori, temporal, atau kriteria logis.

Skema pertumbuhan dan perubahan

Dalam mempertimbangkan pertumbuhan skema dan mengubah bukti


mendukung berpengaruh kegigihan dimana skema generik resisten terhadap
perubahan bahkan dalam menghadapi bukti sebaliknya. Schemata dikembangkan
dari pengalaman dengan contoh dari kategori yang bersangkutan dan menjadi
lebih kompleks, lebih abstrak, dan lebih terorganisasi dengan pengalaman.
Dengan meningkatnya pengalaman skema menjadi lebih dewasa dan lebih
kompleks.
Sumber aktivasi untuk skema
DG Bobrow dan DA Norman membedakan antara dua sumber dasar
aktivasi untuk skema: konseptual driven dan pengolahan data-driven. dalam
proses konseptual driven, skema yang diaktifkan pada gilirannya mengaktifkan
subskema dengan harapan bahwa ini akan menjelaskan beberapa bagian dari input
data. Dalam pengolahan data-driven, subschema diaktifkan menyebabkan aktivasi
berbagai skema yang merupakan komponen.
Encoding Informasi pada sebuah skema
Pengkodean

informasi

sebenarnya

tunduk

pada

setidaknya

dua

interpretasi. Pertama, interpretasi yang diusulkan oleh RS Woodswork dan H.


Schlosberg bahwa sekali skema diaktifkan oleh informasi episodik yang masuk
membangun struktur yang tidak sesuai dengan implikasi, maka skema ini
ditambahkan kepenyajian informasi sebagai "koreksi." konseptualisasi kedua,
diusulkan oleh AC Graesser, SE Gordon, dan JD Sawyer bahwa ketika orang
menerima informasi yang ditafsirkan dalam hal skema acara prototypic (script),

mereka tidak menyimpan informasi itu sendiri tetapi mempertahankan "pointer"


ke skrip umum, bersama dengan indikasi nilai informasi.
Penelitian skema social
Penelitian skema sosial menyelidiki schemata, pribadi schemata, naskah
atau hal schemata. Shcemata mengandung generalisasi kognitif tentang diri yang
berasal dari pengalaman di masa lalu. Orang umumnya diri skematik pada
dimensi yang penting bagi mereka, di mana mereka menganggap diri mereka
sebagai ekstrim, dan yang mereka anggap sebaliknya tidak benar.
Pribadi schemata meliputi representasi prototipe dari sifat-sifat seperti
ekstraversi dan introversi, serta gagasan-gagasan tentang apa perilaku konsisten
dengan tujuan tertentu. Schemata orang dari segala macam bentuk proses
persepsi, memori, dan keputusan agar sesuai dengan asumsi umum kita tentang
orang lain. Efek dari skema persepsi, memori dan inferensi belum tentu cocok
untuk akurasi dalam mengidentifikasi kasus individu. Schemata digunakan oleh
pikiran untuk mengelola proses tersebut secara ekonomi, jika tidak akurat.
PENELITIAN SKEMA BERBASIS DI AKUNTANSI
Penelitian kognitif Akuntansi dan Audit
Revolusi kognitif dalam psikologi sosial telah menciptakan minat yang
kuat dalam struktur pengetahuan dalam memori secara umum dan bagaimana
orang belajar secara khusus. Paradigma penelitian ini juga mempengaruhi
akuntansi dan audit. Mengingat bahwa perbedaan antara pengetahuan deklaratif
dan pengetahuan prosedural adalah setara dengan perbedaan antara pengetahuan

konten dan penggunaan yang pengetahuan atau antara "mengetahui apa" dan "tahu
bagaimana.
Proposisi tentang Struktur Pengetahuan Akuntansi
Gagasan schemata (struktur pengetahuan atau template) yang digunakan oleh
Michael Gibbins untuk membuat proposisi umum, corollaries, dan hipotesis
tentang operasi psikologis pertimbangan profesional dalam "lingkungan"
Pengaturan sehari-hari yang dialami oleh akuntan publik. pertimbangan
profesional di akuntansi publik digambarkan sebagai proses lima komponen:
(1) schemata atau pengetahuan struktur akumulasi melalui pembelajaran atau
pengalaman;
(2) suatu peristiwa yang memicu atau stimulus;
(3) lingkungan penilaian;
(4) proses penilaian;
(5) keputusan / tindakan
Pandangan Kognitif dari Proses Penilaian/Keputusan dalam Akuntansi
Manajemen
Model proses penilaian/keputusan dalam akuntansi diusulkan sebagai latihan
dalam persepsi sosial dan kognisi, yang membutuhkan penilaian formal dan
implisit. Input utama untuk proses ini adalah masalah atau fenomena akuntansi
yang perlu diselesaikan dan membutuhkan penilaian baik preferensi atau
keputusan. Model ini terdiri atas langkah-langkah berikut:
a. Pengamatan fenomena akuntansi oleh pengambil keputusan
b. Pembentukan Skema atau bangunan dari fenomena akuntansi
c. Skema organisasi atau penyimpanan
d. Perhatian dan pengakuan proses dipicu oleh rangsangan
e. Pengambilan informasi yang disimpan diperlukan untuk penilaian
keputusan
f. Peninjauan Kembali dan integrasi informasi yang diambil dengan
informasi yang baru
g. Proses penilaian

Kesimpulan
Inti dari relativism kognitif dalam akuntansi manajemen adalah
keberadaan sebuah proses kognitif yang diasumsikan untuk mengarahkan proses
keputusan / keputusan. Model dalam bab ini menunjukkan bahwa penilaian dan
keputusan dibuat mengenai fenomena akuntansi adalah produk dari serangkaian
operasi kognitif sosial yang meliputi pengamatan informasi tentang fenomena
akuntansi dan pembentukan skema yang disimpan dalam memori dan kemudian
diambil untuk memungkinkan pembentukan penilaian dan / atau keputusan bila
diperlukan.

BAB VI
Pendekatan Kontingensi untuk mendesain sistem akuntansi
PENGANTAR
Perbandingan antara kontingensi tertentu dan berbagai karakteristik sistem
akuntansi adalah tujuan dari metode teoritis dan penelitian empiris yang umumnya
dikenal sebagai pendekatan kontingensi untuk merancang sistem akuntansi.
TEORI KONTINGENSI

Pendekatan teori kontingensi untuk merancang sistem akuntansi diasumsikan


bahwa tidak ada strategi umum yang berlaku untuk semua organisasi. Hal ini
kemudian cocok antara desain sistem akuntansi dan kontingensi khusus yang
berada di lingkup teori kontingensi. Formulasi ini mengadopsi kerangka umum
yang menghubungkan (1) beberapa variabel kontingen (yaitu, variabel yang tidak
dapat dipengaruhi oleh organisasi) ke (2) komponen dari paket kontrol organisasi
(yang terdiri dari desain informasi akuntansi, desain informasi manajemen
lainnya, desain organisasional, pengaturan pengendalian organisasi). (3) beberapa
variabel intervening berhubungan (4) ukuran efektivitas organisasi.
TEORI FORMULASI
Lima formulasi teoritis telah diusulkan dalam literatur, yaitu:
(A) Desain efisiensi dari sistem akuntansi manajemen dan pilihan mekanisme
kontrol yang bergantung pada struktur dan konteks organisasi. Variabel
kontekstual yang membentuk struktur organisasi diasumsikan menjadi teknologi
dan lingkungan.
(B) Gordon dan Miller mengusulkan kerangka kerja kontingensi untuk desain
sistem informasi yang memperhitungkan lingkungan akuntansi, atribut organisasi,
dan gaya pengambilan keputusan manajerial. Karakteristik lingkungan ditandai
dengan tiga dimensi kunci: dinamisme, heterogenitas, dan permusuhan.
Atribut organisasi termasuk desentralisasi, diferensiasi, integrasi, birokratisasi,
dan sumber daya. Gaya pengambilan keputusan pihak eksekutif meruapakan
karakteristik ditandai dengan enam dimensi berikut: analisis keputusan, keputusan

horizon

waktu,

multiplexity

atas

pengambilan

keputusan,

kemampuan

beradaptasi, proaktif dan kesadaran dari strategi.


(C) Macintosh dan Daft meneliti hubungan antara satu karakteristik organisasi dan
desain sistem kontrol. Dengan saling ketergantungan berarti sejauh mana
departemen bergantung satu sama lain dan pertukaran informasi dan sumber daya
untuk menyelesaikan tugas
(D) Macintosh mengusulkan sebuah model kontekstual sistem informasi yang
meliputi konsep makroorganisasional konsep teknologi dan konstruk sistem
pemprosesan informasi manusia dan gaya keputusan pribadi. Model ini
menggabungkan gaya keputusan pribadi, jenis teknologi, dan struktur organisasi
untuk mendapatkan gaya sistem informasi. Variabel tersebut dapat diartikan
sebagai berikut:
- Driver dan Mock, merupakan model gaya keputusan yang digunakan untuk
mengartikan variabel gaya keputusan. Model ini mengasumsikan dua dimensi
pengolahan informasi: jumlah informasi yang digunakan (dari minimum ke
maksimum) dan tingkat fokus dalam penggunaan data (dari satu solusi untuk
beberapa solusi). Kedua-dimensi diskusi-digabungkan untuk memperoleh empat
gaya khas: penentu, fleksibel, hierarki, dan integratif.
penentu
fleksibel

hierarki

mengasumsikan penggunaan jumlah minimal data untuk


menghasilkan arti yang berbeda pada waktu yang berbeda
mengasumsikan penggunaan jumlah minimal data untuk
menghasilkan
arti yang berbeda pada waktu yang berbeda.
mengasumsikan penggunaan massa data untuk menghasilkan satu

pendapat perusahaan
integrati mengasumsikan penggunaan massa data untuk menghasilkan banyak
f
kemungkinan solusi.
Kategori perrow atas teknologi. Model ini mengasumsikan dua dimensi teknologi:
tugas pengetahuan (dari dianalisis untuk dapat dianalisis) dan tugas berbagai
variasi (dari rendah ke tinggi).
Akhirnya, empat gaya informasi dibedakan dalam dua-dimensi diskusi-: jumlah
dan ambiguitas. Macintosh didefinisikan mereka dengan cara berikut: sistem
informasi ringkas, sistem informasi yang rumit, sistem informasi sepintas, sistem
informasi menyebar.
E) Ewusi-Mensah menyelidiki dampak lingkungan organisasi eksternal pada
sistem informasi manajemen. Lingkungan organisasi tergolong baik statis atau
dinamis, dan terkendali, sebagian terkendali, atau tidak terkendali.
STUDI EMPIRIS PADA TEORI KONTINJENSI
Penggunaan Teknik Anggaran Modal
Penggunaan teknik arus kas diskonto telah disebut-sebut lebih unggul
sebagai teknik non diskonto sebagai alat untuk memilih investasi modal. Beberapa
studi empiris telah berusaha untuk memastikan tesis bahwa perusahaan tidak
harus melakukan lebih baik jika menggunakan teknik naif. Hasilnya,
bagaimanapun, telah tercampur. Untuk mengoreksi berbagai teori dan
keterbatasan metodologis, Haka, Gordon, dan Pincher menggunakan teori Model,
berasal dari teori ekonomi keuangan, yang menunjukkan bahwa peningkatan

kinerja perusahaan (pengukuran data pasar saham) tidak signifikan terkait dengan
teknik arus kas diskonto.
Hubungan antara penggunaan teknik penganggaran modal dan kinerja
perusahaan jelas dimitigasi oleh kontingen, karakteristik spesifik perusahaan.
Menggunakan perspektif tersebut, Haka mengembangkan dan menguji teori
kontingensi yang bisa memprediksi perusahaan mana yang paling mungkin untuk
mendapatkan keuntungan dari penggunaan teknik penganggaran modal yang
canggih. karakteristik eksternal digunakan dalam model adalah (1) strategi
perusahaan (2) prediktabilitas lingkungan dan (3) keanekaragaman lingkungan.
Karakteristik internal adalah (1) sistem informasi (mendukung atau tidak
mendukung), (2) struktur penghargaan, dan (3) tingkat desentralisasi. Hasil dari
survei yang menyediakan bukti hubungan positif antara efektivitas teknik
penganggaran modal yang canggih dan dapat memprediksi lingkungan,
penggunaan sistem penghargaan jangka panjang, dan tingkat proses desentralisasi.

Strategi Bisnis dan Sistem Pengendalian


Strategi bisnis adalah sumber dari kontingensi dalam desain-organisasi dan
sistem kontrol. Govindarajan dan Gupta meneliti keterkaitan antara strategi,
sistem insentif bonus, dan efektivitas di strategis tingkat unit bisnis dalam
perusahaan diversifikasi. Sebuah survei terhadap manajer umum
unit bisnis strategis (SBU) di perusahaan diversifikasi menghasilkan hasil sebagai
berikut:

(1) ketergantungan lebih besar pada kriteria jangka panjang serta lebih
mengandalkan subjektif (non formula) pendekatan untuk menentukan bonus SBU
manajer umum 'kontribusi untuk
efektivitas dalam kasus SBU dibangun tetapi menghambat dalam kasus panen
SBU, dan
(2) hubungan antara tingkat ketergantungan sistem bonus pada kriteria jangka
pendek dan efektivitas SBU hampir independen dari strategi SBU.
Persepsi Penting dan Penggunaan Kontrol Anggaran
Literatur empiris dalam teori kontingensi berusaha untuk menjelaskan variasi
pada persepsi penting dan / atau penggunaan kontrol anggaran di berbagai
variabel kontingensi. Khandwalla melaporkan bahwa persepsi manajer atas
control anggaran flexible adalah fungsi positif dari kompetisi yang dihadapi oleh
organisasi mereka.
Burns dan Waterhouse menemukan bahwa dalam organisasi yang sangat
terstruktur cenderung menganggap diri mereka memiliki pengaruh yang lebih,
dalam partisipasi perencanaan anggaran, dan mereka tampak puas dengan
kegiatan yang berhubungan dengan anggaran.
Akhirnya, Rockness dan Shields menganalisis perbedaan dalam dirasakan dalam
kontrol anggaran belanja dalam penelitian dan pengembangan kelompok kerja
sesuai konteks organisasi (ukuran organisasi, pengeluaran Ukuran anggaran,
sumber dana) dan sistem pengendalian manajemen (pentingnya kontrol sosial,

langkah-langkah dalam proses kontrol). Hasilnya cukup signifikan dan


mendukung penelitian sebelumnya, bahwa mereka memberikan bukti tambahan
dari hubungan kontingensi antara kontrol anggaran dan konteks organisasi.
Pemilihan control tindakan dan system
Efektivitas organisasi sebagian besar tergantung pada keberhasilan kontrol
organisasi dan pemeliharaan integritas keseluruhan organisasi. Belkaoui juga
meneliti hubungan antara keterbukaan diri dan sikap pertanggungjawaban
akuntansi. Karena sistem akuntansi pertanggungjawaban membutuhkan satu
kinerja publik dan menyiratkan kepercayaan implisit antara mereka yang
dikendalikan dan manajer mereka, melaporkan pengungkapan diri dapat
berhubungan dengan sikap untuk sistem pertanggungjawaban akuntansi.

Pendekatan Kontingensi Penilaian Kinerja


Pendekatan kontingensi untuk penilaian kinerja yang ditunjukkan oleh Penelitian
Hayes, Hasilnya menunjukkan bahwa (1) faktor internal adalah penjelasan utama
untuk kinerja departemen produksi, dan (2) lingkungan serta variabel yang saling
ketergantungan memberikan kontribusi kurang lebih sama untuk menjelasan
kinerja oleh departemen pemasaran. Kemudian Govinadarajan Govinadarajan
menguji hubungan kontingensi antara ketidakpastian lingkungan dan evaluasi
kinerja gaya, hasilnya (1) unit usaha yang unggul ketika menghadapi lingkungan

yang tidak pasti yang lebih tinggi akan menggunakan pendekatan penilaian
kinerja lebih subjektif; dan (2) kecocokan antara ketidakpastian lingkungan dan
gaya evaluasi kinerja adalah terkait dengan kinerja unit bisnis yang lebih tinggi.
Penentu Sistem Informasi Akuntansi

Teknologi diuji sebagai variabel penjelas utama dari sistem informasi

akuntansi yang efektif oleh Daft dan Macintosh


Persepsi ketidakpastian lingkungan dan struktur organisasi juga bagaimana

mereka berhubungan dengan sistem informasi oleh Gordon dan Narayanan


Pijer menemukan bahwa struktur pengendalian keuangan dari suatu

organisasi tergantung pada kompleksitas tugas yang dihadapinya


Penentu perubahan sistem akuntansi manajemen diselidiki oleh Libby dan

Waterhouse.
Efek kontrol manufaktur pada efisiensi kinerja dan efektifitas diperiksa

oleh Young et al
Motivasi manajer untuk menerapkan teknik akuntansi manajemen baru
seperti just-in-time diperiksa oleh Griffin dan Harrell

Sebuah analisis empiris dari hubungan antara penggunaan sistem


pendukung eksekutif (ESS) dan persepsi daya saing organisasi dilakukan

oleh Vander- bosch.


Pengaruh kepentingan diri sendiri dan pertimbangan etis pada evaluasi

manajer diperiksa oleh Rutledge dan Karim.


Argumen utama teori kontingensi adalah bahwa kinerja yang efektif dari
organisasi tergantung pada pencocokan memadai struktur dan sistem

kontrol dengan variabel tekstual


Perilaku disfungsional dan control manajemen

Perilaku disfungsional melibatkan upaya oleh bawahan untuk memanipulasi unsur


sistem pengendalian ditetapkan untuk / tujuan nya sendiri. Upaya ini pada aliran
informasi strategis manufaktur dan memalsukan informasi telah dicatat dalam
perilaku organisasi dan literatur akuntansi keperilakuan.
Jaworski dan Young mengembangkan dan menguji model yang berpendapat
bahwa tiga variabel kontekstual (keselarasan tujuan, persepsi perilaku
disfungsional, dan asimetri informasi antara atasan dan bawahan) mempengaruhi
konflik peran dan tekanan pekerjaan yang dialami oleh bawahan. Hasilnya seperti
yang diperkirakan dengan hasil bahwa konflik peran meningkatkan tekanan
pekerjaan dan tekanan pekerjaan meningkatkan tingkat perilaku disfungsional.
Persepsi Penting dan Penggunaan Kontrol Anggaran
Literatur empiris dalam teori kontingensi berusaha untuk menjelaskan variasi
pada persepsi penting dan / atau penggunaan kontrol anggaran di berbagai
variabel kontingensi. Khandwalla melaporkan bahwa persepsi manajer atas
control anggaran flexible adalah fungsi positif dari kompetisi yang dihadapi oleh
organisasi mereka.
Burns dan Waterhouse menemukan bahwa dalam organisasi yang sangat
terstruktur cenderung menganggap diri mereka memiliki pengaruh yang lebih,
dalam partisipasi perencanaan anggaran, dan mereka tampak puas dengan
kegiatan yang berhubungan dengan anggaran.
Akhirnya, Rockness dan Shields menganalisis perbedaan dalam dirasakan dalam
kontrol anggaran belanja dalam penelitian dan pengembangan kelompok kerja

sesuai konteks organisasi (ukuran organisasi, pengeluaran Ukuran anggaran,


sumber dana) dan sistem pengendalian manajemen (pentingnya kontrol sosial,
langkah-langkah dalam proses kontrol). Hasilnya cukup signifikan dan
mendukung penelitian sebelumnya, bahwa mereka memberikan bukti tambahan
dari hubungan kontingensi antara kontrol anggaran dan konteks organisasi.

Pemilihan control tindakan dan system


Efektivitas organisasi sebagian besar tergantung pada keberhasilan kontrol
organisasi dan pemeliharaan integritas keseluruhan organisasi. Belkaoui juga
meneliti hubungan antara keterbukaan diri dan sikap pertanggungjawaban
akuntansi. Karena sistem akuntansi pertanggungjawaban membutuhkan satu
kinerja publik dan menyiratkan kepercayaan implisit antara mereka yang
dikendalikan dan manajer mereka, melaporkan pengungkapan diri dapat
berhubungan dengan sikap untuk sistem pertanggungjawaban akuntansi.
Pendekatan Kontingensi Penilaian Kinerja
Pendekatan kontingensi untuk penilaian kinerja yang ditunjukkan oleh Penelitian
Hayes, Hasilnya menunjukkan bahwa (1) faktor internal adalah penjelasan utama
untuk kinerja departemen produksi, dan (2) lingkungan serta variabel yang saling
ketergantungan memberikan kontribusi kurang lebih sama untuk menjelasan
kinerja oleh departemen pemasaran. Kemudian Govinadarajan Govinadarajan

menguji hubungan kontingensi antara ketidakpastian lingkungan dan evaluasi


kinerja gaya, hasilnya (1) unit usaha yang unggul ketika menghadapi lingkungan
yang tidak pasti yang lebih tinggi akan menggunakan pendekatan penilaian
kinerja lebih subjektif; dan (2) kecocokan antara ketidakpastian lingkungan dan
gaya evaluasi kinerja adalah terkait dengan kinerja unit bisnis yang lebih tinggi.
Penentu Sistem Informasi Akuntansi

Teknologi diuji sebagai variabel penjelas utama dari sistem informasi

akuntansi yang efektif oleh Daft dan Macintosh


Persepsi ketidakpastian lingkungan dan struktur organisasi juga bagaimana

mereka berhubungan dengan sistem informasi oleh Gordon dan Narayanan


Pijer menemukan bahwa struktur pengendalian keuangan dari suatu

organisasi tergantung pada kompleksitas tugas yang dihadapinya


Penentu perubahan sistem akuntansi manajemen diselidiki oleh Libby dan

Waterhouse.
Efek kontrol manufaktur pada efisiensi kinerja dan efektifitas diperiksa

oleh Young et al
Motivasi manajer untuk menerapkan teknik akuntansi manajemen baru
seperti just-in-time diperiksa oleh Griffin dan Harrell

Sebuah analisis empiris dari hubungan antara penggunaan sistem


pendukung eksekutif (ESS) dan persepsi daya saing organisasi dilakukan

oleh Vander- bosch.


Pengaruh kepentingan diri sendiri dan pertimbangan etis pada evaluasi
manajer diperiksa oleh Rutledge dan Karim.

Argumen utama teori kontingensi adalah bahwa kinerja yang efektif dari
organisasi tergantung pada pencocokan memadai struktur dan sistem
kontrol dengan variabel tekstual

Perilaku disfungsional dan control manajemen


Perilaku disfungsional melibatkan upaya oleh bawahan untuk memanipulasi unsur
sistem pengendalian ditetapkan untuk / tujuan nya sendiri. Upaya ini pada aliran
informasi strategis manufaktur dan memalsukan informasi telah dicatat dalam
perilaku organisasi dan literatur akuntansi keperilakuan.
Jaworski dan Young mengembangkan dan menguji model yang berpendapat
bahwa tiga variabel kontekstual (keselarasan tujuan, persepsi perilaku
disfungsional, dan asimetri informasi antara atasan dan bawahan) mempengaruhi
konflik peran dan tekanan pekerjaan yang dialami oleh bawahan. Hasilnya seperti
yang diperkirakan dengan hasil bahwa konflik peran meningkatkan tekanan
pekerjaan dan tekanan pekerjaan meningkatkan tingkat perilaku disfungsional.
Pengaruh Kontrak Insentif
Secara umum diasumsikan dalam akuntansi manajemen pada umumnya dan
manajemen akuntansi khususnya yang kontrak insentif dapat digunakan untuk
memotivasi individu untuk mengerahkan usaha dan menggunakan umpan balik
untuk meningkatkan kinerja.

The Judgment Effects of Common and Unique Performance Measures


Perusahaan bergantung pada formulasi strategis yang sesuai kemampuan mereka
dan peluang investasi yang dapat membantu mereka dalam mewujudkan tujuan
mereka. analisis industri merupakan langkah penting dalam proses strategis. Pada
umumnya berfokus pada lima variabel: A) pesaing, (b) pendatang potensial di
pasar, (c) produk yang setara, listrik (d) tawar pelanggan, serta (e) daya tawar
pasokan impor.
tujuan dan ukuran dari balanced scorecard dapat sebagai berikut:
1. Untuk perspektif keuangan, tujuannya mungkin:
Untuk meningkatkan keuntungan pemegang saham kekayaan pemegang
saham yang akan diukur oleh a) pendapatan operasional dari keuntungan
produktivitas, b) pendapatan operasional dari pertumbuhan dan c)
peningkatan pendapatan.
2. Untuk perspektif pelanggan, tujuan mungkin:
Untuk meningkatkan pangsa pasar untuk diukur dengan pangsa pasar di
bagian jaringan komunikasi dan pelanggan baru.
Untuk meningkatkan kepuasan pelanggan harus diukur dengan survei
kepuasan pelanggan.
3. Untuk perspektif proses bisnis internal, tujuan mungkin:
Untuk meningkatkan kemampuan manufaktur yang akan diukur dengan
persentase proses dengan kontrol lanjutan.
Untuk meningkatkan kualitas produksi dan produktivitas yang akan
diukur oleh hasil.
Untuk mengurangi waktu pengiriman kepada pelanggan untuk diukur
dengan waktu pengiriman pesanan.
Untuk memenuhi tanggal pengiriman yang ditentukan untuk diukur
dengan pengiriman tepat waktu.

4. Untuk perspektif pembelajaran dan pertumbuhan, tujuan mungkin:


Untuk mengembangkan keterampilan proses yang akan diukur dengan
persentase karyawan yang terlatih dalam proses dan kualitas manajemen.
Untuk memberdayakan tenaga kerja yang akan diukur dengan persentase
pekerja garis depan diberdayakan untuk mengelola proses.
Untuk menyelaraskan karyawan dan tujuan organisasi yang akan diukur
dengan survei kepuasan karyawan.
kemampuan Untuk meningkatkan sistem informasi yang akan diukur
dengan persentase proses manufaktur dengan umpan balik real-time.
Untuk meningkatkan proses manufaktur.