Anda di halaman 1dari 23

ANTIBIOTIK

MAKALAH
Untuk Memenuhi Tugas Matakuliah Mikrobiologi Industri
yang dibina oleh Ibu Dr. Endang Suarsini, M.Ked dan
Ibu Sitoresmi Prabaningtyas, S.Si, M.Si

Oleh:
Kelompok 3 (GHK/2013)
Arifa Fikriya Z. M
Dwi Meinita Sari
Silmy Aulia Rufiatin Nisa

130342615349
130342615313
130342615312

The Learning University

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI
Februari 2016
BAB I
PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang
Antibiotik (AB) merupakan obat yang sangat berperan dalam memerangi infeksi yang

ditimbulkan oleh kuman (Darmansjah,2008). Antibiotik berasal dari kata Yunani tua, yang
merupakan gabungan dari kata anti (lawan) dan bios (hidup). Kalau diterjemahkan bebas
menjadi "melawan sesuatu yang hidup". Antibiotika di dunia kedokteran digunakan sebagai
obat untuk memerangi infeksi yang disebabkan oleh bakteri atau protozoa. Antibiotika adalah
zat yang dihasilkan oleh suatu mikroba, terutama fungi/jamur, yang dapat menghambat atau
dapat membasmi mikroba jenis lain. Banyak antibiotika saat ini dibuat secara semisintetik
atau sintetik penuh. Namun dalam prakteknya antibiotika sintetik tidak diturunkan dari
produk mikroba.
Antibiotik yang digunakan untuk membasmi mikroba, khususnya penyebab infeksi pada
manusia, harus memiliki sifat toksisitas selektif yang setinggi mungkin. Artinya, antibiotik
tersebut haruslah bersifat sangat toksik untuk mikroba, tetapi relatif tidak toksik untuk
inang/hospes. Penggunaan antibiotik dunia lebih dari 40.000 ton/ tahun dalam industri
pangan, pakan, pertanian, kesehatan, biokimia, genetika, dan biologi molekuler serta ada
kecenderungan meningkat. Ragam antibiotik cukup banyak namun sifat intrisiknya dapat
menimbulkan resistensi terhadap mikrobia target sehingga senyawa ini tidak lagi dapat
diaplikasikan (Neu,1992 dalam Margino,2008).
Seleksi dan produksi senyawa antibiotik baru penghambat/pembunuh mikrobia eukariot
patogen. Selain sulitnya menemukan antibiotik baru juga sulit memproduksinya (Kauffman
dan Carver, 1997; Kurtz, 1997 dalam Margino,2008). Beberapa medium dan kondisi optimal
yang cocok perlu dicoba untuk penghasilan antibiotik. Beberapa faktor substrat (prekusor)
berpengaruh terhadap mekanisme biosintesis antibiotik yang bersangkutan, misalnya sumber
carbon (C), nitrogen (N) dan beberapa vitamin (Franklin & Snow, 1989; Petrini, et al., 1992;
dan Cheeptham,1999 dalam Margino,2008). Langkah - langkah mendapatkan jenis antibiotik
baru masih sangat diperlukan baik lewat sintesis kimia, biokimia baru atau penemuan isolat
mikrobia baru (Tscherter and Dreyfus,1992 dalam Margino,2008). Maka dari itu, penulis
ingin mengetahui secara jelas bagaimana proses pembuatan antibiotik secara jelas dan detail.

1.2.

Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang maka rumusan masalah pada makalah ini adalah sebagai
berikut.
1. Apa yang dimaksud dengan antibiotik ?
2. Bagaimana proses pembuatan antibiotik tetrasiklin dan penicilin?
3. Bagaimana mekanisme pembuatan bahan menjadi antibiotik ?
1.3 Manfaat
Berdasarkan rumusan masalah maka manfaat pada makalah ini adalah sebagai berikut.
1. Dapat mengetahui pengertian antibiotik
2. Dapat mengetahui proses pembuatan antibiotik penicilin dan tetrasiklin berdasarkan
literatur
3. Dapat meningkatkan motivasi peneliti maupun pembaca untuk terus mengembangkan
inovasi mengenati pembuatan antibiotik

BAB II
KAJIAN TEORI

2.1 Pengertian dan Sejarah Antibiotik


Antibiotik merupakan senyawa kimia yang dihasilkan oleh mikroorganisme, dan
dapat menghambat atau membunuh mikroorganisme lain. Perkembangan antibiotik sebagai
zat untuk pengobatan penyakit infeksi lebih banyak mempengaruhi penggunaan obat
dibandingkan dengan perkembangan antibiotik itu sendiri (Goodfellow, 1983).
Antibiotik merupakan produk metabolisme sekunder. Meskipun hasilnya relatif
rendah dalam sebagian besar industri fermentasi, tetapi karena aktivitas terapetiknya tinggi
maka menjadi memiliki nilai ekonomik tinggi, oleh karena itu antibiotik dibuat secara
komersial melalui fermentasi mikroba. Beberapa antibiotik dapat disintesis secara kimia,
tetapi karena kompleksitas bahan kimia antibiotik dan cenderung menjadi mahal, maka tidak
memungkinkan sintesis secara kimia dapat bersaing dengan fermentasi mikroorganisme lain
yang mampu diproduksi lebih banyak dari berbagai industri mikroorganisme (Madigan,
2003).
Sejarah perkembangan penemuan antibiotik berawal dari penemuan oleh Fleming
yang terus berkembang sampai sekarang. Sekarang ini telah ditemukan lebih dari 10.000
senyawa bahan alam yang dihasilkan dari mikroba. Tahun 1940 sampai dengan awal tahun
1950 merupakan tahun keemasan yaitu banyak ditemukan senyawa alam antibiotik yang
berasal dari mikroba. Hampir semua antibakteri penting seperti tetrasiklin, sefalosporin,
amiloglikosid, dan makrolida telah ditemukan pada tahun-tahun tersebut. Menurut Berdy
(2005) pada tahun 1940 sekitar 10-20 antibiotik telah ditemukan, pada tahun 1950-an telah
ditemukan 300-400 antibiotik, sekitar tahun 1960 ditemukan 800-1000 antibiotik, tahun 1970
telah ditemukan 2500, tahun 1980 telah ditemukan 5000, tahun 1990 telah ditemukan sekitar
10.000, dan tahun 2000 telah ditemukan sekitar 20.000 antibiotik.
Antibiotik merupakan substansi yang dihasilkan oleh mikroba, dalam konsentrasi
rendah mampu menghambat pertumbuhan atau membunuh mikroba lain. Setiap antibiotik
mempunyai aktivitas penghambatan pertumbuhan hanya terhadap mikroba patogen spesifik,
yang disebut spektrum penghambat. Mikroba penghasil antibiotik meliputi golongan bakteri,
actinomycetes, fungi, dan beberapa mikroba lainnya. Kurang lebih 70% antibiotik dihasilkan
oleh actinomycetes, 20% dihasilkan oleh fungi dan 10% dihasilkan oleh bakteri.
Streptomyces merupakan penghasil antibiotik yang paling besar jenisnya (Berdy 2005).
Antibiotik dan produk alami (natural product) yang sejenis merupakan metabolit
sekunder yang dihasilkan oleh hampir semua tipe makhluk hidup, seperti mikroba

prokariotik, eukariotik, beberapa tumbuhan dan hewan. Kemampuan menghasilkan metabolit


sekunder sangat bervariasi pada setiap spesies. Total jenis senyawa aktif yang dihasilkan oleh
kelompok bakteri adalah sebanyak 3.800 atau 17% dari total senyawa aktif yang telah
ditemukan. Actinomycetes menghasilkan lebih dari 10.000 senyawa aktif, 7.600 dihasilkan
oleh Streptomyces dan 2.500 dihasilkan oleh actinomycetes langka (Berdy 2005).
Pada siklus hidupnya yang normal, mikroba akan tumbuh dalam medium yang sesuai
dan menghasilkan jumlah sel maksimum. Setelah itu pertumbuhannya berhenti dan
memasuki fase stasioner, dan selanjutnya masuk pada fase kematian terjadi kematian sel
vegetatif (lisis) atau pembentukan spora. Pada fase stasioner sel-sel berhenti membelah dan
metabolit sekunder mulai diproduksi. Metabolit sekunder sering diproduksi dalam jumlah
besar dan kebanyakan disekresikan ke dalam medium biakan. Sebagian besar antibotik
merupakan metabolit sekunder, akan tetapi ada antibiotik merupakan metabolit primer, yaitu
14 antibiotik yang terbentuk selama fase pertumbuhan eksponensial, misalnya antibiotik
polipeptida nisin.
Penggolongan Antibiotik berdasarkan daya kerjanya adalah sebagai berikut.
a. Bakterisid:
Antibiotika yang bakterisid secara aktif membasmi kuman. Termasuk dalam golongan
ini adalah penisilin, sefalosporin, aminoglikosida (dosis besar), kotrimoksazol ,
polipeptida, rifampisin, isoniazid dll.
b. Bakteriostatik:
Antibiotika bakteriostatik bekerja dengan mencegah atau menghambat pertumbuhan
kuman, sehingga pembasmian kuman sangat tergantung pada daya tahan tubuh.
Termasuk dalam golongan ini adalah sulfonamida, tetrasiklin, kloramfenikol,
eritromisin, trimetropim, linkomisin, makrolida, klindamisin, asam paraaminosalisilat,
dll(Bobone,2013).
2.2 Proses Pembuatan Antibiotik
2.2.1 Produksi Penisilin
Setelah antibiotik yang baru telah terbukti efektif dan non-toksik secara medis pada
uji hewan, maka antibiotik itu mulai dapat dicobakan secara klinis kepada manusia. Bila obat
baru telah terbukti efektif dan melewati uji toksisitas dan uji lainnya, dapat diberikan
persetujuan oleh FDA dan siap untuk dipasarkan secara komersial. Penisilin dan tetrasiklin
merupakan antibiotik yang diproduksi oleh sebagian besar kalangan bagian medis dan
veteriner.

Penisilin merupakan kelompok antibiotik yang ditandai oleh adanya cincin -laktam
dan diproduksi oleh beberapa jamur (eukariot) yang terdiri dari genus Penicillium dan
Aspergillus, serta oleh beberapa prokariot tertentu (Madigan dkk., 2000). Sifat unik pada
masing-masing penisilin ditentukan oleh adanya rantai samping yang berbeda-beda.
Secara kimiawi penisilin tergolong dalam antibiotic -laktam (Pelczar dan Chan, 1988).
Penisilin diproduksi oleh berapa jenis jamur, seperti jamur Penicillium notatum,
Penicillium chrysogenum, serta beberapa jenis jamur yang tergolong di dalam genus
Streptomyces. Penicillium chrysogenum merupakan salah satu mikroorganisme yang
penting di bidang industri, khususnya untuk menghasilkan penisilin yang merupakan
salah satu antibiotik komersial (Pyatkin, 1967; Brakhage, 1998).
Omura (1995) di dalam Demain (1996) menyatakan bahwa kira-kira 10.000
metabolit sekunder telah ditemukan struktur kimianya yang tersusun oleh cincin laktam, peptida siklik yang terdiri dari asam amino dan senyawa nonprotein, gula dan
nukleosida, ikatan tidak jenuh dari poliasetilen dan polien, serta cincin makrolida besar.
Struktur kimia penisilin dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1: Struktur Kimia Penisilin (Sumber: Anonim, 2009)


Keterangan: 1. Gugus rantai samping; 2. Cincin -laktam; 3. Cincin thiazolidin
Menurut Waluyo (2004), sifat-sifat yang harus dimiliki oleh penisilin adalah sebagai
berikut:
1.
2.
3.
4.

Menghambat atau membunuh patogen tanpa merusak inang (host).


Bersifat bakteriosidal dan bukan bakteriostatik.
Tidak menyebabkan resistensi pada kuman.
Berspektrum luas, yaitu dapat menghambat pertumbuhan bakteri Gram-positif

dan bakteri Gram-negatif.


5. Tidak bersifat alergenik atau menimbulkan efek samping bila digunakan dalam
jangka waktu yang lama
6. Tetap aktif di dalam plasma, cairan badan, atau eksudat.
7. Larut di dalam air dan bersifat stabil.

8. Bacteriosidal level, di dalam tubuh cepat dicapai dan dapat bertahan untuk waktu
yang lama.
Menurut Todar (2000), penisilin dapat dibagi menjadi tiga golongan utama,
yaitu:
1.

Penisilin alami, seperti Penisilin G (Benzylpenicillin) dan Penisilin V


(Phenoxymethylpenicillin) yang diproduksi melalui fermentasi Penicillium
chrysogenum,

yang

efektif

melawan

Streptococcus,

Gonococcus,

dan

Staphylococcus. Penisilin G dan Penisilin V termasuk ke dalam spectrum sempit


(narrow spectrum) karena tidak efektif melawan bakteri Gram-negatif.
2. Penisilin biosintetik, diproduksi dengan cara melakukan rekayasa pada penisilin
untuk menghasilkan penisilin yang mampu melawan aktivitas bakteri Gramnegatif.
3. Penisilin semisintetik, banyak dari campuran ini telah dikembangkan untuk
mempunyai keuntungan atau manfaat yang berbeda dari Penisilin G, seperti
spektrum aktivitas ditingkatkan (efektivitas melawan bakteri Gram-negatif).
Taskin dkk. (2010) menyatakan bahwa penisilin yang dihasilkan oleh
Penicillium chrysogenum merupakan penisilin G yang labil terhadap kondisi asam.
Menurut Volk dan Wheeler (1993), mekanisme kerja penisilin adalah dengan
mengganggu sintesis dinding sel, khususnya ketika proses transpeptidasi pada sintesis
peptidoglikan dinding sel. Pada proses ini, penisilin memiliki struktur yang sama
dengan struktur D-alanil-D-alanin terminal pada peptidoglikan, sehingga enzim
transpeptidase bereaksi dengan penisilin. Hal ini membuat struktur peptidoglikan
yang dibentuk menjadi tidak sempurna dan melemahkan kekuatan dinding sel pada
bakteri.
Di dalam proses produksi penisilin, dibutuhkan suatu proses yang aerobic dan
aerasi yang efisien. Penisilin merupakan suatu metabolit sekunder yang khas. Selama
tahap pertumbuhan, sangat sedikit penisilin yang diproduksi, tetapi ketika sumber
karbon telah habis, tahap produksi penisilin baru dimulai. Produksi penisilin oleh
jamur Penicillium chrysogenum terjadi selama fase stasioner, sehingga dikenal
sebagai metabolit sekunder. Oleh karena itu, di dalam proses produksi metabolit
sekunder ini, dikenal juga istilah fase pertumbuhan (tropofase) dan fase pembentukan
produk (idiofase). Kebanyakan produk diproduksi setelah pertumbuhan masuk ke
dalam fase stasioner (Madigan dkk., 2000).

Menurut Crueger dan Crueger (1990), produksi penisilin menggunakan


Penicillium chrysogenum berlangsung dari 0-140 jam (sekitar 5-6 hari). Fase
pertumbuhan penisilin mempunyai jangka waktu sekitar 40 jam. Selama waktu
tersebut, massa sel dibentuk. Setelah fase pertumbuhan (logaritma) berlangsung, tahap
produksi penisilin yang sebenarnya baru dimulai. Pemberian nutrien, seperti glukosa
dan nitrogen di dalam berbagai komponen medium kultur dapat memperlama tahap
produksi penisilin, dari 120-180 jam. Aritonang (2006) di dalam penelitiannya yang
menggunakan air lindi sebagai medium produksi penisilin menggunakan Penicillium
chrysogenum, berpendapat bahwa perpanjangan masa inkubasi hingga 10 hari perlu
dilakukan sebagai penelitian lanjutan agar mencapai fase stationer yang berpengaruh
terhadap jumlah produksi penisilin. Anonim (2004) menyatakan bahwa pada proses
produksi penisilin, pertumbuhan sel dan produksi penisilin ditentukan dengan cara
mengukur kadar sel, kadar glukosa di dalam substrat, dan potensi penisilin setiap 6
jam.
Pada proses produksi penisilin, media bernutrisi yang mengandung gula asam
fenilasetat ditambahkan ke secara kontinu. Asam fenilasetat ini digunakan untuk
membuat rantai samping benzil pada penisilin G. Penisilin G diekstraksi dari filtrat
dan dikristalisasi. Untuk membuat penisilin semisintetik, penisilin G dicampur dengan
bakteri yang mensekresi enzim asilase. Enzim ini akan melepas gugus benzil dari
penisilin

dan

mengubahnya

menjadi 6-aminopebicillanic

acid (6-

APA). Aminopenicilanic acid adalah molekul yang digunakan untuk membuat


penisilin jenis lain
Menurut Maya (2002), Penisilin diproduksi secara komersial dengan
menggunakan bahan baku utama berupa glokosa, laktosa, dan cairan rendaman
jagung. Mineral-mineral yang digunakan adalah NaNO3, Na2SO4, CaCO3, KH2PO4,
MgSO4, 7H2O, ZnSO4, dan MnSO4. Untuk meningkatkan yield dan modifikasi tipe
penisilin yang akan dihasilkan, maka kedalam media fermentasi ditambahkan juga
precursor, misalnya phenylacetic acid yang digunakan untuk memproduksi penisilin
G. Cairan rendaman jagung adalah media fermentasi dasar yang terdiri dari
asamamino, polipeptida, asam laktat dan mineral-mineral. Kualitas cairan rendaman
jagung sangat bergantung pada derajat pengenceran hingga diperoleh konsentrasi
yang diinginkan, sedangkan besarnya jumlah nutrient dan alkali yang ditambahkan
kedalam media dasar disesuaikan dengan jumlah media fermentasi dasar ini.

Kemudian Maya (2002) dalam makalahnya juga mendeskripsikan proses


pembuatan penisilin. Proses fermentasi penisilin didahului oleh tahapan seleksi
strain Penicillium chrysogenum pada media agar di laboratorium dan perbanyakan
pada tangki seeding. Penicillium chrysogenum yang dihasilkan secara teoritis dapat
mencapai konversi yield maksimum sebesar 13 29 %. Media fermentasi
diumpankan ke dalam fermenter pada suasana asam (pH 5,5).Proses fermentasi ini
diawali dengan sterilisasi media fermentasi melalui pemanasan dengan steam
bertekanan sebesar 15 lb (120 0C) selama jam. Sterilisasi ini dilanjutkan dengan
proses pendinginan fermenter dengan air pendingin yang masuk ke dalam fermenter
melalui coil pendingin.
Fermenter yang digunakan merupakan fessel vertikal bertekanan yang terbuat
dari carbon steel dan dilengkapi dengan coil pemanas, coil pendingin, pengaduk tipe
turbin dan sparger yang berfungsi untuk memasukkan udara steril.
Saat temperatur mencapai 75oF (24 oC), media ini diinokulasi pada kondisi
aseptic dengan mengumpankan spora-spora kapang Penicillium chrysogenum. Selama
proses fermentasi berlangsung dilakukan pengadukan, sementara udara steril
dihembuskan melalui sparger kedalam fermenter. Proses fermentasi ini akan
berlangsung secara batch terumpani selama 100 150 jam dengan tekanan operasi 5
15 psig. Temperatur operasi dijaga konstan selama fermentasi penisilin berlangsung
dengan cara mensirkulasikan air pendingin melalui coil. Busa-busa yang terbentuk
dapat diminimalkan dengan penambahan agen anti-foam. Kapang aerobic dibiarkan
tumbuh selama 5 6 hari saat gas CO2 mulai terbentuk.
Ketika penisilin ini dihasilkan jumlahnya telah maksimum, maka cairan hasil
fermentasi tersebut didinginkan hingga 28 oF (2 oC), dan diumpankan kedalam rotary
vacum filter untuk memisahkan miselia dan penisilin. Miselia akan dibuang, sehingga
diperoleh filtrat berupa cairan jernih yang mengandung penisilin. Untuk mendapatkan
penisilin yang siap dikomsumsi, maka tahapan dilanjutkan dengan proses ekstraksi
dan kristalisasi.

Penjelasan Flowchart
1. Media Penicillium
Persiapan media merupakan langkah penting dalam bioproses yang secara luas
adalah mempersiapkan kondisi bagi mikroorganisme yang akan menghasilkan
produk. Media yang digunakan untuk Jamur Penicillium biasanya mengandung
sumber karbon yang didapatkan dari corn steep liquor dan glukosa. Media juga terdiri
dari garam, contohnya Magnesium sulfat, Potasium phospat, Sodium nitrat. garam ini
akan menyediakan ion- ion penting yang dibutuhkan jamur dalam aktivitas
metabolismenya.
2. Sterilisasi
Media di sterilisasi pada suhu tinggi dan juga bertekanan. Biasanya fermentasi
dilakukan pada Pipa sterilisasi namun juga dapat dilakukan pada reaktor fermentasi.
Uap bertekanan yang digunakan untuk mensterilisasi bersuhu 120o C dan bertekanan
30 psi atau dua kali tekanan atmosfer.
3. Fermentasi
Sistem fermentasi penisilin menggunakan metode fed batch, dimana glukosa
tidak langsung ditambahkan dalam jumlah banyak pada awal proses, dikarenakan
berlebihnya glukosa pada awal proses, akan menghambat kinerja jamur penisilin.
Penggunaan metode fed-batch juga dikarenakan penisilin yang dihasilkan dari kapang
merupakan metabolit sekunder, sehingga penggunaan metode fed-batch ini akan
memperpanjang fase stationer dari kapang dan akan meningkatkan produksi penisilin.
Reaktor dikondisikan pada suhu 20-24oC, pH 6-6.5 dan tekanan yang lebih besar dari
tekanan atmosfer, yaitu 1.02. Maksud dari penggunaan tekanan yang lebih besar ini
adalah untuk menghindari terjadinya kontaminasi dari luar reaktor. Pemberian udara

juga merupakan hal yang penting dalam penyediaan oksigen bagi jamur. 2 m3 volume
harus di sediakan udara sebanyak 2.5 m3 udara. Adanya impeler berfungsi sebagai
pencampur agar penyediaan udara merata disetiap titik, putaran dari impeler disetting
sekitar 200rpm.
4. Biomass Removal
Biomass removal merupakan bagian proses yang berfungsi untuk memisahkan
kapang serta impurities lain dari media yang telah mengandung penisilin. pemisahan
dilakukan menggunakan metode filtrasi. Banyak tipe filtrasi yang dapat digunakan
namun yang umumnya digunakan adalah Rotary Vacum Filter dikarenakan dapat
secara kontinyu memfilter dan penggunaanya dalam skala besar.
5. Acidification
Pada proses ini ditambahkan non-oxydising acid seperti asam phosphate.
Penambahan asam ini berfungsi menjaga pH agar tetap pada 6-6.5 agar penisilin tidak
rusak. Pada tahap ini juga ditambahkan Pelarut organik seperti Amyl Asetat yang
berfungsi memisahkan penisilin dan pengotor-pengotor lain, pada tahap ini penisilin
akan menjadi larutan dan pengotor akan menjadi padatan.
6. Ekstraksi melalui proses Sentrifugal
Tahap ini dilakukan untuk memisahkan limbah padat dari cairan yang
mengandung penisilin. Biasanya tubular bowl atau chamber bowl digunakan pada
tahap ini. Selanjutnya dilakukan proses ekstraksi kembali untuk mendapatkan
penisilin murni. Pertama-tama larutan asetat dicampur dengan phosphate buffer,
diikuti dengan pencampuran larutan chloroform. Larutan campuran ini akan menjadi
larutan ether. Pada larutan ether penisilin yang ada kemudian dicampur dengan larutan
sodium bicarbonate untuk mendapatkan penicilin-sodium salt, yang memungkinkan
untuk disimpan dalam bentuk bubuk yang stabil pada temperatur ruang. Penicillinsodium salt didapatkan dari larutan yang di sentrigugasi menggunakan basket
centrifugation.
7. Fluid Bed Drying
Pengeringan merupakan tahap dimana kandungan air dalam bubuk dihilangkan
sehingga menghasilkan bubuk garam penisilin. Pada Fluid bed drying gas panas
dipompakan pada dasar chamber yang berisi bubuk penicillin-sodium salt dalam
kondisi vakum. Dengan demikian maka air akan dihilangkan dan dihasilkan bubuk
kering dari penisilin.
8. Penyimpanan
Penisilin disimpan dalam wadah yang dapat menjaga kekeringan dari penisilin.
2.2.2 Biosintesis Sefalosporin

Sefalosporin termasuk golongan antibiotika -laktam. Seperti antibiotik -laktam lain,


mekanisme kerja antimikroba Sefalosporin ialah dengan menghambat sintesis dinding sel
mikroba. Yang dihambat adalah reaksi transpeptidase tahap ketiga dalam rangkaian reaksi
pembentukan dinding sel. Antibiotik -laktamase bekerja membunuh bakteri dengan cara
menginhibisi sintesis dinding selnya. Pada proses pembentukan dinding sel, terjadi reaksi
transpeptidasi yang dikatalis oleh enzim transpeptidase dan menghasilkan ikatan silang antara
dua rantai peptida-glukan (Bobone,2013).
Sefalosporin merupakan salah satu kelas antibiotik -laktam dengan konsumsi tinggi
setelah penisilin. Industri sefalosporin merupakan industri bioproses karena melibatkan
mikroorganisme Acremonium chrysogenum dalam sintesisnya. Sefalosporin dihasilkan
sebagai produk metabolit sekunder, yaitu biomolekul yang dihasilkan suatu mikroorganisme
karena pengaruh lingkungannya. Sintesis berbagai jenis sefalosporin komersial umumnya
menggunakan 7-ADCA sebagai bahan mentah atau intermediat. 7-ADCA diperoleh dari hasil
konversi sefalosporin C yang dihasilkan selama fermentasi dengan fungi A. chrysogenum.
Sefalosporin merupakan antibiotik dengan fungsi yang lebih luas dibanding penisilin.
Sefalosporin efektif dalam melawan bakteri gram negatif sekaligus bakteri gram positif.
Sefalosporin juga mampu melawan beberapa jenis bakteri yang kebal terhadap penisilin.
Lintasan biosintesis sefalosporin telah dikenal dengan baik. Biosintesis sefalosporin
C, dimulai dari kondensasi tiga asam amino, asam L--aminodipic, L-sistein, dan L-valin,
untuk membentuk tripeptida -(L--amoniadipyl)-L-sisteinil-D-valin (LLD-ACV) dengan
menggunakan enzim ACV sintetase. Tripeptida LLD-ACV kemudian dibuat siklik untuk
membentuk inti penam (penam nucleus), isopenisilin N, dengan enzim isopenisilin N
sintetase atau siklase.
Isopenisilin N kemudian diubah menjadi penisilin N dengan mengubah gugus
samping L--aminoadipyl menjadi D--aminoadipyl menggunakan enzim isopenisilin N
epimerase (IPNE). Penisilin N kemudian diubah menjadi deasetoksisefalosporin C yang
memiliki cincin dihidrothiazin dengan menggunakan enzim deasetoksisefalosporin C
sintetase. Enzim deasetilsefalosporin sintetase kemudian mengkatalisasi reaksi hidroksilasi
deasetoksisefalosporin C pada gugus metil C-3 untuk menghasilkan deasetilsefalosporin C.
Dalam A. chrysogenum, baik ekspansi cincin maupun aktivitas hidroksilasi bertempat pada
protein yang sama, yang dikodekan oleh satu gen. Berbeda dengan fungi, S. clavuligerus dan
N. lactamdurans menghasilkan dua enzim berbeda, ekspandase dan hidroksilase, untuk
mengkatalisasi kedua reaksi, yang dihasilkan oleh dua gen terpisah.

Pada A. chrysogenum, langkah terakhir dalam biosintesis sefalosporin C, dikatalisasi


oleh enzim sefalosporin C sintetase (asetiltransferase), yang melibatkan transfer satu gugus
asetil dari koenzim asetil A ke gugus hidroksimetil atom C-3 pada deasetilsefalosporin C.
Kebanyakan gen yang berperan dalam biosintesis sefalosporin pada A. chrysogenum
telah teridentifikasi dan dikarakterisasi secara biokimia. Kode gen untuk enzim yang terlibat
dalam biosintesis senyawa intermediat LLD-ACV dan isopenisilin N yang umum disebut pcb
(penisilin/cephalosporin biosintesis). Kode gen untuk enzim lainnya yang terlibat dalam
biosintesis sefalosporin disebut cef. Pembentukan tripeptida oleh enzim ACV sintetase
dikodekan oleh gen pcbAB. Pembentukan siklik tripeptida dengan bantuan enzim isopenisilin
N sintetase yang dikodekan oleh gen pcbC. Gen cefD1 dan cefD2 berperan dalam membentuk
protein untuk konversi isopenisilin N menjadi penisilin N. Sedangkan gen cefE dan cefF
masing-masing

menghasilkan

protein

yang

berperan

dalam

membentuk

deasetoksisefalosporin C dan deasetisefalosporin C; yang bisa juga dengan gen cefEF.


Langkah terakhir dalam biosintesis untuk menghasilkan sefalosporin C diatur oleh gen cefG.

Gambar 4. Berbagai cara produksi 7-ADCA


(Sumber: Klefenz, 2002)

2.2.2 Proses Pembuatan Tetrasiklin

Tetrasiklin pertama kali ditemukan oleh Lloyd Conover. Berita tentang Tetrasiklin yang
dipatenkan pertama kali tahun 1955. Tetrasiklin merupakan

antibiotika yang memberi

harapan dan sudah terbukti menjadi salah satu penemuan antibiotika penting. Antibiotik
golongan tetrasiklin yang pertama ditemukan adalah klortetrasiklin yang dihasilkan oleh
Streptomyces aureofaciens. Kemudian ditemukan oksitetrasiklin dari Streptomyces rimosus.
Tetrasiklin sendiri dibuat secara semisintetik dari klortetrasiklin, tetapi juga dapat diperoleh
dari spesies Streptomyces lain.
Tetrasiklin merupakan agen antimikrobial hasil biosintesis yang memiliki spektrum
aktivitas luas. Mekanisme kerjanya yaitu blokade terikatnya asam amino ke ribosom bakteri
(sub unit 30S). Aksi yang ditimbulkannya adalah bakteriostatik yang luas terhadap gram
positif, gram negatif, chlamydia, mycoplasma, bahkan rickettsia. Generasi pertama meliputi
tetrasiklin, oksitetrasiklin, klortetrasiklin. Generasi kedua merupakan penyempurnaan dari
sebelumnya yaitu terdiri dari doksisiklin, minosiklin. Generasi kedua memilki karakteristik
farmakokinetik yang lebih baik yaitu antara lain memiliki volume distribusi yang lebih luas
karena profil lipofiliknya. Selain itu bioavailabilitas lebih besar, demikian pula waktu paruh
eliminasi lebih panjang (> 15 jam). Doksisiklin dan minosiklin tetap aktif terhadap
stafilokokus yang resisten terhadap tetrasiklin, bahkan terhadap bakteri anaerob seperti
Acinetobacter spp, Enterococcus yang resisten terhadap Vankomisin sekalipun tetap efektif.

Struktur kimia tetrasiklin


Karakteristik struktur tetrasiklin adalah sebagai berikut.
1. Turunan oktahidronaftasen yang terbentuk dari gabungan 4 buah cincin.
2. Mempunyai 5 atau 6 pusat atom asimetrik
3. Bersifat amfoter karena mengandung gugus yang bersifat asam (gugus hidroksil) dan
yang bersifat basa ( gugus dimetilamino )
4. Dengan asam kuat membentuk garam asam yang mudah larut dalam air dan cukup
stabil, melalui protonisasi gugus dimetilamino pada C4.

5. Dengan basa kuat ( NaOH, KOH, Ca(OH)2 ) membentuk garam basa yang tidak stabil
dalam air.
6. Mempunyai gugus gugus yang dapat membentuk ikatan hidrogen intramolekul.
7. Dapat membentuk kompleks dengan garam garam ( Ca, Fe, Mg )
8. Mempunyai tiga gugus yang mudah terionisasi yaitu gugus trikarbonilmetan (pKa3),
fenoldiketon (pKa2), amonium kationik (pKa1).
9. Pada larutan pH 2

6 mengalami epimerisasi pada atom C4, membentuk

epitetrasilin yang mempunyai aktivitas antibakteri yang lebih rendah


10.

Asam kuat menyebabkan dehidrasi dengan mengambil gugus OH dari C6 dan

atom H dari C5a sehingga membentuk ikatan rangkap antara C6 dan C5a,
perpindahan

ikatan

rangkap

dari

C11a=C12

ke

C11=C11a

membentuk

anhidrotetrasiklin yang tidak aktif.


11. Basa kuat akan memacu reaksi antara gugus OH pada C6 dengan gugus keton pada
C11 sehingga ikatan rangkap C11=C11a putus membentuk cincin lakton, terbentuk
isotetrasiklin yang tidak aktif
Tetrasiklin

diperolah denga cara deklorinasi klortetrasiklina, reduksi

oksitetrasiklina, atau dengan fermentasi. Tetrasiklin yang digunakan dalam terapi diperoleh
secara mikrobiologik dari filtrat biak jenis Streptomyces atau dengan cara semisintetis.
Pembuatan rolitetrasiklin dimulai dari tetrasiklin yang dengan paraformaldehid dan pirolidin
akan teraminometilasi. Dalam larutan air lambat laun akan terurai menjadi komponen akhir
sampai terjadi kesetimbangan

Antibiotik golongan tetrasiklin yang pertama ditemukan

adalah klortetrasiklin yang dihasilkan oleh


ditemukan oksitetrasiklin dari

Streptomyces aureofaciens.

Streptomyces rimosus.

Kemudian

Tetrasiklin sendiri dibuat secara

semisintetik dari klortetrasiklin, tetapi juga dapat diperoleh dari spesies Streptomyces lain.
Tetrasiklin

diperolah dengan cara deklorrinasi klortetrasiklina, reduksi oksitetrasiklina, atau

dengan fermentasi.
Biosintesis tetrasiklin bermula dari karboksilasi asetil-KoA membentuk malonil-KoA
dengan enzim asetil-KoA karboksilase. Malonil-KoA kemudian bereaksi dengan 2oksosuksinamat menghasilkan malonamoil-KoA. 2-oksosuksinamat merupakan hasil dari
transaminasi asparagin dengan enzim asam okso-asparagin transaminase. Malonamoil-KoA
kemudian dikonversi lebih lanjut menjadi 4-hidroksi-6-metilpretetramida melalui 6metilpretetramida. Senyawa inilah yang akan diubah menjadi 4-dedimethylamino-4-oksoanhidrotetrasiklin, yang merupakan intermediat dalam menghasilkan klorotetrasiklin dan
tetrasiklin.

Tetrasiklin adalah salah satu antibiotik yang dapat menghambat sintesis protein pada
perkembangan organisme. Antibiotik ini diketahui dapat menghambat kalsifikasi dalam
pembentukan tulang. Tetrasiklin diketahui dapat menghambat sintesis protein pada sel
prokariot maupun sel eukariot. Mekanisme kerja penghambatannya, yaitu tetrasiklin
menghambat masuknya aminoasil-tRNA ke tempat aseptor A pada kompleks mRNAribosom, sehingga menghalangi penggabungan asam amino ke rantai peptide(Bobone,2013) .
2.3 Proses pembuatan antibiotik dari bahan tertentu
2.3.1 Penggunaan Antibiotik Secara Komersial
Penggunaan antibiotik secara komersial, pertamakali dihasilkan oleh fungi berfilamen
dan oleh bakteri kelompok Actinomycetes. Daftar sebagian besar antibiotik yang dihasilkan
melalui fermentasi industri berskala-besar, dapat dilihat pada Tabel 13.2. Seringkali, sejumlah
senyawa kimia berhubungan dengan keberadaan antibiotik, sehingga dikenal famili
antibiotik. Antibiotik dapat dikelompokkan berdasarkan struktur kimianya (Tabel 1).
Sebagian besar antibiotik digunakan secara medis untuk mengobati penyakit bakteri,
meskipun sebagian diketahui efektif menyerang penyakit fungi. Secara ekonomi dihasilkan
lebih dari 100.000 ton antibiotik per tahun, dengan nilai penjualan hampir mendekati $ 5
milyar.
Tabel 1. Beberapa antibiotik yang dihasilkan secara komersial

(Sumber: Brock & Madigan, 1991)


2.3.2 Pencarian Antibiotik Baru

Bahan antibiotik yang sudah diketahui, lebih dari 8.000, dan beberapa ratus antibiotik
ditemukan dalam beberapa tahun. Dan sejumlah peneliti mempercayai bahwa berbagai
antibiotik baru dapat ditemukan lagi jika penelitian dilakukan terhadap kelompok

mikroorganisme selain Streptomyces, Penicillium, dan Bacillus. Sekali diketahui urutan


struktur gen mikroorganisme penghasil-antibiotik, dengan teknik rekayasa genetika
memungkinkan pembuatan antibiotik baru. Cara utama dalam menemukan antibiotik baru
yaitu melalui screening. Dengan pendekatan tersebut, sejumlah isolat yang kemungkinan
mikroorganisme penghasil-antibiotik yang diperoleh dari alam dalam kultur murni,
selanjutnya isolat tersebut diuji untuk produksi antibiotik dengan bahan yang diffusible ,
yang menghambat pertumbuhan bakteri uji. Bakteri yang digunakan untuk pengujian, dipilih
dari berbagai tipe, dan mewakili atau berhubungan dengan bakteri patogen. Prosedur
pengujian mikroorganisme untuk produksi antibiotik adalah metode goressilang, pertamakali
digunakan oleh Fleming. Dengan program pemisahan arus, ahli mikrobiologi dapat dengan
cepat mengidentifikasi, apakah antibiotik yang dihasilkan termasuk baru atau tidak. Sekali
ditemukan organisme penghasil antibiotik baru, antibiotik dihasilkan dalam sejumlah besar,
dimurnikan, dan diuji toksisitas dan aktivitas terapeutiknya kepada hewan yang terinfeksi.
Sebagian besar antibiotik baru gagal menyembuhkan hewan uji, dan sejumlah kecil dapat
berhasil dengan baik. Akhirnya, sejumlah antibiotik baru ini sering digunakan dalam
pengobatan dan dihasilkan secara komersial.
Tabel 2. Klasifikasi antibiotik sesuai dengan struktur kimianya dan contoh antibiotik

(sumber:Brock & Madigan,1991)


2.3.3 Isolasi dan Screening Pemroduksi Antibiotik

Sejak masa lalu hingga hari ini, program screening laboratorium merupakan rute
dalam penemuan antibiotik baru. Pada pendekatan ini, mikroorganisme yang kemungkinan
dapat memproduksi antibiotik diperoleh dari alam pada kultur alami dan kemudian diuji
untuk produksi antibiotik dengan menguji material tersebar yang menghambat pertumbuhan
bakteri uji (Gambar 1). Bakteri uji dipilih sebagai perwakilan atau yang merupakan bakteri
patogen lawan dari bakteri yang diuji.
Produksi antibiotik dapat diuji dengan metode cross-streak. Isolasi tersebut yang
menunjukkan bukti produksi antibiotik yang kemudian dikaji lagi untuk menentukan senyawa
yang diproduksi adalah baru. Kebanyakan isolat yang diperoleh memproduksi antibiotik yang
telah dikenal, tetapi ketika antibiotik baru ditemukan, akan diproduksi pada jumlah yang
cukup untuk analisis struktur dan diuji toksisitasnya dan aktivitas terapeutik pada hewan.
Namun, kebanyakan antibiotik baru gagal pada tahap ini. Bagaimanapun, beberapa terbukti
berguna di bidang kedokteran dan lolos diproduksi sebagai antibiotik komersial. Waktu dan

biaya pengembangan antibiotik baru dari penemuan hingga penggunaan klinis, rata-rata
selama 15 tahun dan 1 milyar dolar AS. Ini termasuk dari percobaan klinis, yang
membutuhkan waktu beberapa tahun, menganalisis, dan mendapatkan persetujuan dari
United States Food and Drug Administration (FDA).

Gambar 1. Isolasi dan screening pemroduksi antibiotik


(Sumber: Brock & Madigan, 2012)

Amat jarang strain yang digunakan untuk produksi antibiotik diisolasi begitu saja
secara alami pada konsentrasi tinggi yang cukup dapat diproduksi komersial dengan segera.
Sehingga satu dari hal yang paling penting dalam mikrobiologi industri adalah mengisolasi
strain dengan hasil tinggi. Seleksi strain dapat melibatkan mutasi organisme wild type untuk
memperoleh derivat mutan yang dapat memproduksi antibiotik target dalam jumlah besar.
Meskipun antibiotik telah diproduksi secara komersial, penelitian tetap berlanjut untuk
memperoleh strain yang menghasilkan hasil lebih tinggi atau proses produksi yang lebih
efisien.
Tantangan selanjutnya adalah mempurifikasi antibiotik secara spesifik dan efisien,
dan metode untuk ekstraksi dan purifikasi seringkali diperlukan. Tujuannya adalah
memperoleh produk dengan kemurnian yang tinggi. Purifikasi juga diperlukan dalam rangka
menghapus jejak sel mikroba atau produk sel yang membantu purifikasi antibiotik. Substansi
ini disebut sebagai pirogen dan dapat menyebabkan beberapa reaksi fatal pada pasien yang
mengkonsumsi obat, sehingga produk pemurnian harus bebas dari pirogen.

2.3.4 Tahap-tahap Menuju Produksi Komersial


Suatu antibiotik yang dihasilkan secara komersial, pada awalnya harus berhasil
diproduksi pada fermentor industri berskala-besar. Salah satu tugas penting adalah
pengembangan efisiensi metode pemurnian. Metode elaborasi (yang terperinci) sangat
penting dalam ekstraksi dan pemunian antibiotik, karena jumlah antibiotik yang terdapat
dalam cairan fermentasi hanya sedikit (Gambar 2).

Gambar 2. Proses ekstraksi dan pemurnian antibiotik


(Sumber: Brock & Madigan, 1991)
Jika antibiotik larut dalam pelarut organik yang tidak dapat bercampur dengan air,
maka pemurniannya relatif lebih mudah, karena memungkinkan untuk mengekstraksi
antibiotik ke dalam suatu pelarut bervolume kecil, sehingga lebih mudah mengumpulkan
antibiotik tersebut. Jika antibiotik tidak larut dalam pelarut, selanjutnya harus dipindahkan
dari cairan fermentasi melalui adsorpsi, pertukaran ion, atau presipitasi secara kimia. Pada
semua kasus, tujuannya untuk memperoleh produk kristalin yang sangat murni, meskipun
sejumlah antibiotik tidak mudah terkristalisasi dan sulit dimurnikan.
Masalah yang berhubungan adalah, kultur sering menghasilkan produk akhir lain,
termasuk antibiotik lain, dalam hal ini penting mengakhiri proses dengan suatu produk yang
hanya terdiri dari antibiotik tunggal. Pemurnian secara kimia mungkin dibutuhkan untuk
mengembangkan metode dalam rangka menghilangkan produk sampingan yang tidak
diharapkan, tetapi dalam beberapa kasus hal tersebut penting untuk ahli mikrobiologi untuk
menemukan strain yang tidak menghasilkan senyawa kimia dan tidak diharapkan.

BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
1. Antibiotik adalah produk metabolisme sekunder, yang merupakan senyawa kimia
yang dihasilkan oleh mikroorganisme, dan dapat menghambat atau membunuh
mikroorganisme lain.
2. Penicillin dapat diproduksi melalui tahapan pembuatan media Penicillium, Sterilisasi
media, fermentasi penisilin, Biomass removal, Acidification, Ekstraksi melalui proses
Sentrifugal, Fluid Bed Drying (pengeringan), dan penyimpanan. Sedangkan
Tetrasiklin

diperolah dengan cara deklorrinasi klortetrasiklina, reduksi

oksitetrasiklina, atau dengan fermentasi.


3. Untuk memproduksi antibiotik, maka dilakukan isolasi dan screening pemroduksi
antibiotik, serta beberapa tahapan menuju produksi komersial.

DAFTAR RUJUKAN
Aliero, A. A., Aliero, B.L. and Buhari, U. 2008. Preliminary phytochemical and antibacterial
screening of Scadoxus multiflorus. Int. Jor. P. App. Scs. 2(4):13-17.
Berdy, Janos. 2005. Bioactive Microbial Metabolites (review article). J.Antibiot. 58(1):1-26
Bobone dkk. 2013. Antibiotik. Potelkkes Kemenkes RI Pangkal Pinang
Darmansjah,Iwan.2008.Penggunaan Antibiotik pada Pasien Anak.Majalah Kedokt Indon,Vol.
58(10):368-369
Goodfellow. M. 1983. Ecology of Actinomycetes. Ann. Rev. Microbiol 37:189-216
Kee, J.L. dan Hayes, E.R.,1996, Farmakologi Pendekatan Proses Keperawatan, hal 140-145,
435-443, Penerbit Buku Kedokteran, Jakarta.
Klefenz, H. 2002. Industrial Pharmaceutical Biotechnology. Weinheim. Wiley-VCH.
Madigan, M. T., Martinko, J. M., Stahl, D. A., & Clark, D. P. 1991. Brock Biology of
Microorganism. USA: Pearson.
Madigan, M. T., Martinko, J. M., Stahl, D. A., & Clark, D. P. 2003. Brock Biology of
Microorganism. USA: Pearson.
Madigan, M. T., Martinko, J. M., Stahl, D. A., & Clark, D. P. 2010. Brock Biology of
Microorganism. USA: Pearson.
Madigan, M. T., Martinko, J. M., Stahl, D. A., & Clark, D. P. 2012. Brock Biology of
Microorganism. USA: Pearson.
Madigan. M. T., Martinko, J. M., dan Parker, J. 2000. Brock Biology of Microorgansims, 9th
Edition. Prentice Hall Inc. New Jersey.
Margino, Sebastian. 2008. Produksi metabolit sekunder (antibiotik) oleh isolat jamur endofit
Indonesia.Sebastian Margino Majalah Farmasi Indonesia, 19(2) : 86 94
Neal, M.M., 2006, At a Glance Farmakologi Medis, Edisi kelima, hal 28-29, Erlangga,
Jakarta.
Pelczar, M. J. dan Chan, E. S. 1988. Dasar Dasar Mikrobiologi. Penerbit Universitas
Indonesia Press. Jakarta.
Pelczar. M. J., dan Chan, E. S. 1986. Dasar Dasar Mikrobiologi. UI Press. Jakarta

Sarah, Maya. 2002. Parameter Metabolik dalam pembuatan Penisilin. Digitized by USU
digital Library. Medan
Stringer, J. L. 2006. Basic Concepts in Pharmacology. New York: McGraw Hill.
Tjay,T.H., Rahardja,K., 2007, Obat-Obat Penting, Edisi kelima, hal 645-655, PT Elex Media
Komputindo, Jakarta.
Voigt, H. 1994. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi. Terjemahan Soendani Noerono. UGM
Press. Yogyakarata.
Volk, W.A., dan Wheeler, M.F. 1988.Mikrobiologi Dasar. Jilid II. Terjemahan Soenartomo
Adisoemarto. Penerbit Erlangga. Jakarta.
Volk, W.A., dan Wheeler, M.F. 1993.Mikrobiologi Dasar. Jilid III.Penerbit Erlangga. Jakarta.