Anda di halaman 1dari 16

JENDRAL SUDIRMAN

Nama

: Raden Soedirman

Nama Lain

: Jendral Sudirman

Tempat Tanggal Lahir : Purbalingga, 24 Januari 1916


Agama

: Islam

Meninggal

: Magelang, 29 Januari 1950

Dimakamkan

: Taman Makam Pahlawan Semaki

Jenderal Soedirman ialah salah seorang Pahlawan Revolusi Nasional Indonesia.


Dalam sejarah perjuangan Republik Indonesia, ia merupakan Panglima dan Jenderal RI yang
pertama dan termuda. Pada usia yang masih cukup muda, yaitu 31 tahun, Soedirman telah
menjadi seorang jenderal. Selain itu, ia juga dikenal sebagai pejuang yang gigih. Meskipun ia
sedang menderita penyakit paru-paru parah, ia tetap berjuang dan bergerilya bersama para
prajuritnya untuk melawan tentara Belanda pada Agresi Militer II.
Soedirman lahir di Purbalingga, Jawa Tengah pada tanggal 24 Januari 1916. Ia berasal
dari keluarga sederhana. Ayahnya seorang pekerja di pabrik gula Kalibagor Banyumas dan
ibunya keturunan Wedana Rembang. Soedirman memperoleh pendidikan formal dari Sekolah
Taman Siswa. Ia kemudian melanjutkan pendidikannya ke HIK (sekolah guru)
Muhammadiyah, Solo tetapi tidak sampai tamat. Selama menempuh pendidikan di sana, ia
pun turut serta dalam kegiatan organisasi Pramuka Hizbul Wathan. Setelah itu ia menjadi
guru di sekolah HIS Muhammadiyah di Cilacap. Ia kemudian mengabdikan dirinya menjadi
guru HIS Muhammadiyah, Cilacap dan pemandu di organisasi Pramuka Hizbul Wathan
tersebut.
Pada zaman penjajahan Jepang , Soedirman bergabung dengan tentara Pembela Tanah
Air (Peta) di Bogor. Pasca Indonesia merdeka dari penjajahan Jepang, ia berhasil merebut
senjata pasukan Jepang di Banyumas. Kemudian beliau diangkat menjadi Komandan
Batalyon di Kroya setelah menyelesaikan pendidikannya. Ia lalu menjadi Panglima Divisi
V/Banyumas sesudah TKR (Tentara Keamanan Rakyat) terbentuk, dan akhirnya terpilih
menjadi Panglima Angkatan Perang Republik Indonesia (Panglima TNI). Perang Palagan
Ambarawa melawan pasukan Inggris dan NICA Belanda dari bulan November sampai
Desember 1945 adalah perang besar pertama yang ia pimpin. Karena ia berhasil memperoleh
kemenangan pada pertempuran ini, Presiden Soekarno pun melantiknya sebagai Jenderal.
Soedirman meninggal pada tanggal 29 Januari 1950 karena penyakit tuberkulosis
parah yang ia derita. Jenazahnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kusuma Negara di

Semaki, Yogyakarta. Pada tahun 1997 ia dianugerahi gelar sebagai Jenderal Besar Anumerta
dengan bintang lima, pangkat yang hanya dimiliki oleh tiga jenderal di RI sampai sekarang.

Bung Tomo

Sunda,

Profil dan Biografi Bung Tomo. Rakyat Indonesia


mengenal dirinya sebagai Sutomo atau Bung Tomo yang
lahir di Surabaya, Jawa Timur, 3 Oktober 1920, Sutomo
dilahirkan di Kampung Blauran, di pusat kota Surabaya.
Ayahnya bernama Kartawan Tjiptowidjojo, seorang
kepala keluarga dari kelas menengah. Ia pernah bekerja
sebagai pegawai pemerintahan, sebagai staf pribadi di
sebuah perusahaan swasta, sebagai asisten di kantor
pajak pemerintah, dan pegawai kecil di perusahan
ekspor-impor Belanda. Ia mengaku mempunyai
pertalian darah dengan beberapa pendamping
dekat Pangeran Diponegoro yang dikebumikan di
Malang. Ibunya berdarah campuran Jawa Tengah,
dan
Madura.

Ayahnya adalah seorang serba bisa. Ia pernah bekerja sebagai polisi di kotapraja, dan
pernah pula menjadi anggota Sarekat Islam, sebelum ia pindah ke Surabaya dan menjadi
distributor lokal untuk perusahaan mesin jahit Singer. Sutomo dibesarkan di rumah yang
sangat menghargai pendidikan. Ia berbicara dengan terus terang dan penuh semangat. Ia suka
bekerja keras untuk memperbaiki keadaan. Pada usia 12 tahun, ketika ia terpaksa
meninggalkan pendidikannya di MULO, Sutomo melakukan berbagai pekerjaan kecil-kecilan
untuk mengatasi dampak depresi yang melanda dunia saat itu. Belakangan ia menyelesaikan
pendidikan HBS-nya lewat korespondensi, namun tidak pernah resmi lulus. Sutomo
kemudian bergabung dengan KBI (Kepanduan Bangsa Indonesia). Belakangan Sutomo
menegaskan bahwa filsafat kepanduan, ditambah dengan kesadaran nasionalis yang
diperolehnya dari kelompok ini dan dari kakeknya, merupakan pengganti yang baik untuk
pendidikan formalnya. Pada usia 17 tahun, ia menjadi terkenal ketika berhasil menjadi orang
kedua di Hindia Belanda yang mencapai peringkat Pandu Garuda. Sebelum pendudukan
Jepang pada 1942, peringkat ini hanya dicapai oleh tiga orang Indonesia.
Sutomo pernah menjadi seorang jurnalis yang sukses. Kemudian ia bergabung dengan
sejumlah kelompok politik dan sosial. Ketika ia terpilih pada 1944 untuk menjadi anggota
Gerakan Rakyat Baru yang disponsori Jepang, hampir tak seorang pun yang mengenal dia.
Namun semua ini mempersiapkan Sutomo untuk peranannya yang sangat penting, ketika
pada Oktober dan November 1945, ia menjadi salah satu Pemimpin yang menggerakkan dan
membangkitkan semangat rakyat Surabaya, yang pada waktu itu Surabaya diserang habishabisan oleh tentara-tentara NICA. Sutomo terutama sekali dikenang karena seruan-seruan
pembukaannya di dalam siaran-siaran radionya yang penuh dengan emosi. Meskipun
Indonesia kalah dalam Pertempuran 10 November itu, kejadian ini tetap dicatat sebagai salah
satu peristiwa terpenting dalam sejarah Kemerdekaan Indonesia.

Setelah kemerdekaan Indonesia, Sutomo sempat terjun dalam dunia politik pada tahun
1950-an, namun ia tidak merasa bahagia dan kemudian menghilang dari panggung politik.
Pada akhir masa pemerintahan Soekarno dan awal pemerintahan Suharto yang mula-mula
didukungnya, Sutomo kembali muncul sebagai tokoh nasional. Padahal, berbagai jabatan
kenegaraan penting pernah disandang Bung Tomo. Ia pernah menjabat Menteri Negara
Urusan Bekas Pejuang Bersenjata/Veteran sekaligus Menteri Sosial Ad Interim pada 19551956 di era Kabinet Perdana Menteri Burhanuddin Harahap. Bung Tomo juga tercatat sebagai
anggota DPR pada 1956-1959 yang mewakili Partai Rakyat Indonesia. Namun pada awal
1970-an, ia kembali berbeda pendapat dengan pemerintahan Orde Baru. Ia berbicara dengan
keras terhadap program-program Suharto sehingga pada 11 April 1978 ia ditahan oleh
pemerintah Indonesia yang tampaknya khawatir akan kritik-kritiknya yang keras. Baru
setahun kemudian ia dilepaskan oleh Suharto. Meskipun semangatnya tidak hancur di dalam
penjara, Sutomo tampaknya tidak lagi berminat untuk bersikap vokal. Ia masih tetap berminat
terhadap masalah-masalah politik, namun ia tidak pernah mengangkat-angkat peranannya di
dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Ia sangat dekat dengan keluarga dan anakanaknya, dan ia berusaha keras agar kelima anaknya berhasil dalam pendidikannya. Sutomo
sangat bersungguh-sungguh dalam kehidupan imannya, namun tidak menganggap dirinya
sebagai seorang Muslim saleh, ataupun calon pembaharu dalam agama. Pada 7 Oktober 1981
ia meninggal dunia di Padang Arafah, ketika sedang menunaikan ibadah haji. Berbeda dengan
tradisi untuk memakamkan para jemaah haji yang meninggal dalam ziarah ke tanah suci,
jenazah Bung Tomo dibawa kembali ke tanah air dan dimakamkan bukan di sebuah Taman
Makam Pahlawan, melainkan di Tempat Pemakaman Umum Ngagel di Surabaya.
Setelah pemerintah didesak oleh Gerakan Pemuda (GP) Ansor dan Fraksi Partai
Golkar (FPG) agar memberikan gelar pahlawan kepada Bung Tomo pada 9 November 2007.
Akhirnya gelar pahlawan nasional diberikan ke Bung Tomo bertepatan pada peringatan Hari
Pahlawan tanggal10 November 2008. Keputusan ini disampaikan oleh Menteri Komunikasi
dan Informatika Kabinet Indonesia Bersatu, Muhammad Nuh pada tanggal 2 November 2008
di Jakarta. biografiku.com

Tuanku Imam Bonjol

Nama

: Muhamad Shahab

Tempat Tanggal Lahir : 1772, Bojol, Sumatera Barat, Indonesia


Agama

: Islam

Meninggal

: Minahasa, 6 November 1864

Tuanku Imam Bonjol lahir di Bonjol pada tahun 1772, nama aslinya adalah
Muhammad Shahab. Ia lahir dari pasangan Bayanuddin dan Hamatun. Ayahnya adalah
seorang alim ulama dari Sungai Rimbang, Suliki. Imam Bonjol belajar agama di Aceh pada
tahun 1800-1802, dia mendapat gelar Malin Basa. Sebagai ulama dan pemimpin masyarakat
setempat, Tuanku Imam Bonjol memperoleh beberapa gelar, antara lain yaitu Peto Syarif,
Malin Basa, dan Tuanku Imam. Tuanku nan Renceh dari Kamang, Agam sebagai salah
seorang pemimpin dari Harimau nan Salapan yang menunjuknya sebagai Imam (pemimpin)
bagi kaum Padri di Bonjol. Ia sendiri akhirnya lebih dikenal masyarakat dengan sebutan
Tuanku Imam Bonjol. Pertentangan kaum Adat dengan kaum Paderi atau kaum agama turut
melibatkan Tuanku Imam Bonjol. Kaum paderi berusaha membersihkan ajaran agama islam
yang telah banyak diselewengkan agar dikembalikan kepada ajaran agama islam yang murni.
Pada awalnya timbulnya peperangan ini didasari keinginan dikalangan pemimpin
ulama di kerajaan Pagaruyung untuk menerapkan dan menjalankan syariat Islam sesuai
dengan Ahlus Sunnah wal Jamaah yang berpegang teguh pada Al-Qur'an dan sunnah-sunnah
Rasullullah shalallahu 'alaihi wasallam. Kemudian pemimpin ulama yang tergabung dalam
Harimau nan Salapan meminta Tuanku Lintau untuk mengajak Yang Dipertuan Pagaruyung
beserta Kaum Adat untuk meninggalkan beberapa kebiasaan yang tidak sesuai dengan Islam.
Dalam beberapa perundingan tidak ada kata sepakat antara Kaum Padri dengan Kaum Adat.
Seiring itu dibeberapa nagari dalam kerajaan Pagaruyung bergejolak, dan sampai akhirnya
Kaum Padri dibawah pimpinan Tuanku Pasaman menyerang Pagaruyung pada tahun 1815,
dan pecah pertempuran di Koto Tangah dekat Batu Sangkar. Sultan Arifin Muningsyah
terpaksa melarikan diri dari ibukota kerajaan ke Lubukjambi.
Pada 21 Februari 1821, kaum Adat secara resmi bekerja sama dengan pemerintah HindiaBelanda berperang melawan kaum Padri dalam perjanjian yang ditandatangani di Padang,
sebagai kompensasi Belanda mendapat hak akses dan penguasaan atas wilayah darek
(pedalaman Minangkabau). Perjanjian itu dihadiri juga oleh sisa keluarga dinasti kerajaan
Pagaruyung di bawah pimpinan Sultan Tangkal Alam Bagagar yang sudah berada di Padang
waktu itu. Perlawanan yang dilakukan oleh pasukan padri cukup tangguh sehingga sangat

menyulitkan Belanda untuk mengalahkannya. Oleh sebab itu Belanda melalui Gubernur
Jendral Johannes van den Bosch mengajak pemimpin Kaum Padri yang waktu itu telah
dipimpin oleh Tuanku Imam Bonjol untuk berdamai dengan maklumat Perjanjian Masang
pada tahun 1824. Tetapi kemudian perjanjian ini dilanggar sendiri oleh Belanda dengan
menyerang nagari Pandai Sikek. Pada tahun 1833 perang berubah menjadi perang antara
kaum Adat dan kaum Paderi melawan Belanda, kedua pihak bahu-membahu melawan
Belanda, Pihak-pihak yang semula bertentangan akhirnya bersatu melawan Belanda. Diujung
penyesalan muncul kesadaran, mengundang Belanda dalam konflik justru menyengsarakan
masyarakat Minangkabau itu sendiri. Bersatunya kaum Adat dan kaum Padri ini dimulai
dengan adanya kompromi yang dikenal dengan nama Plakat Puncak Pato di Tabek Patah
yang mewujudkan konsensus Adat basandi Syarak (Adat berdasarkan agama). Penyerangan
dan pengepungan benteng kaum Padri di Bonjol oleh Belanda dari segala jurusan selama
sekitar enam bulan (16 Maret-17 Agustus 1837) yang dipimpin oleh jenderal dan para
perwira Belanda, tetapi dengan tentara yang sebagian besar adalah bangsa pribumi yang
terdiri dari berbagai suku, seperti Jawa, Madura, Bugis, dan Ambon. 3 kali Belanda
mengganti komandan perangnya untuk merebut Bonjol, yaitu sebuah negeri kecil dengan
benteng dari tanah liat yang di sekitarnya dikelilingi oleh parit-parit. Barulah pada tanggal 16
Agustus 1837, Benteng Bonjol dapat dikuasai setelah sekian lama dikepung. Pada bulan
Oktober 1837, Tuanku Imam Bonjol diundang ke Palupuh untuk berunding. Tiba di tempat
tersebut dia langsung ditangkap dan dibuang ke Cianjur, Jawa Barat. Kemudian dipindahkan
ke Ambon dan akhirnya ke Lotak, Minahasa, dekat Manado. Di tempat terakhir itu ia
meninggal dunia pada tanggal 8 November 1864. Tuanku Imam Bonjol dimakamkan di
tempat tersebut.

Kapitan Pattimura

Nama

: Kapitan Pattimura

Tempat Tanggal Lahir

: Maluku, 8 Juni 1783

Agama

: Islam

Pattimura lahir pada tanggal 8 Juni 1783 dari ayah Frans Matulesi dengan Ibu Fransina
Silahoi. Munurut M. Sapidja ( penulis buku sejarah pemerintahan pertama) mengatakan
bahwa pahlawan Pattimura tergolong turunan bangsawan dan berasal dari Nusa Ina (Seram).
Ayah beliau yang bernama Antoni Mattulessy adalah anak dari Kasimiliali Pattimura
Mattulessy. Yang terakhir ini adalah putra raja Sahulau. Sahulau merupakan nama orang di
negeri yang terletak dalam sebuah teluk di Seram Selatan" Ia adalah pahlawan yang berjuang
untuk Maluku melawan VOC Belanda. Sebelumnya Pattimura adalah mantan sersan di
militer Inggris. pada tahun 1816 Inggris bertekuk lutut kepda belanda. Kedatangan kembali
kolonial Belanda pada tahun 1817 mendapat tantangan keras dari rakyat. Hal ini disebabkan
karena kondisi politik, ekonomi, dan hubungan kemasyarakatan yang buruk selama dua abad.
Rakyat Maluku akhirnya bangkit mengangkat senjata di bawah pimpinan Kapitan Pattimura.
Sebagai panglima perang, Kapitan Pattimura mengatur strategi perang bersama
pembantunya. Sebagai pemimpin dia berhasil mengoordinir raja-raja dan patih dalam
melaksanakan kegiatan pemerintahan, memimpin rakyat, mengatur pendidikan, menyediakan
pangan dan membangun benteng-benteng pertahanan. Dalam perjuangan menentang Belanda
ia juga menggalang persatuan dengan kerajaan Ternate dan Tidore, raja-raja di Bali, Sulawesi
dan Jawa. Perang Pattimura hanya dapat dihentikan dengan politik adu domba, tipu muslihat
dan bumi hangus oleh Belanda. Di Saparua, dia dipilih oleh rakyat untuk memimpin
perlawanan. Untuk itu, ia pun dinobatkan bergelar Kapitan Pattimura. Pada tanggal 16 Mei
1817, suatu pertempuran yang luar biasa terjadi. Rakyat Saparua di bawah kepemimpinan
Kapitan Pattimura tersebut berhasil merebut benteng Duurstede. Tentara Belanda yang ada
dalam benteng itu semuanya tewas, termasuk Residen Van den Berg.
Pasukan Belanda yang dikirim kemudian untuk merebut kembali benteng itu juga
dihancurkan pasukan Kapitan Pattimura. Alhasil, selama tiga bulan benteng tersebut berhasil

dikuasai pasukan Kapitan Patimura. Namun, Belanda tidak mau menyerahkan begitu saja
benteng itu. Belanda kemudian melakukan operasi besar-besaran dengan mengerahkan
pasukan yang lebih banyak dilengkapi dengan persenjataan yang lebih modern. Pasukan
Pattimura akhirnya kewalahan dan terpukul mundur. Di sebuah rumah di Siri Sori, Kapitan
Pattimura berhasil ditangkap pasukan Belanda. Bersama beberapa anggota pasukannya, dia
dibawa ke Ambon. Di sana beberapa kali dia dibujuk agar bersedia bekerjasama dengan
pemerintah
Belanda
namun
selalu
ditolaknya.
Para tokoh pejuang akhirnya dapat ditangkap dan mengakhiri pengabdiannya di tiang
gantungan pada tanggal 16 Desember 1817 di kota Ambon. Atas kegigihannya
memperjuangkan kemerdekaan, Kapitan Pattimura dikukuhkan sebagai Pahlawan
Perjuangan Kemerdekaan oleh pemerintah Republik Indonesia.

Raden Dewi Sartika

Raden Dewi Sartika adalah seorang tokoh wanita pelopor


pendidikan yang ada di Indonesia. Ia berjuang keras dalam
mewujudkan pendidikan yang layak bagi kaum wanita pada saat
itu, yang di mana pada saat itu wanita masih belum mendapatkan
pendidikan yang layak sehingga menyebabkan kaum wanita pada
saat itu sering dipandang remeh oleh kaum laki-laki yang
berpendidikan tinggi.
Dewi Sartika lahir pada tanggal 4 Desember di Bandung, Jawa
Barat. Orang tuanya berasal dari priyayi Sunda, yang bernama
Raden Somanagara dan Raden Ayu Rajapermas. Ayahnya
merupakan
pejuang kemerdekaan pada masa itu. Kedua orang tuanya bersikeras untuk
menyekolahkannya Sartika di Sekolah Belanda walaupun hal tersebut bertentangan dengan
budaya adat pada waktu itu.
Saat menjadi patih di Bandung, Raden Somanagara menentang Pemerintah Hindia-Belanda,
yang menyebabkan istrinya dibuang di Ternate. Dewi diasuh oleh pamannya yang merupakan
kakak dari ibunya, yang bernama Arya yang pada saat itu menjabat sebagai Patih di
Cicalengka. Ia diasuh oleh pamannya lantaran ayahnya meninggal dunia dan juga ibunya
yang telah diasingkan ke Ternate.
Dewi Sartika mendapatkan pengetahuan mengenai kebudayaan Sunda dari pamannya. Ia juga
berwawasan kebudayaan Barat yang didapatkannya dari seorang nyonya Asisten Residen
berkebangsaan Belanda. Ia menunjukkan potensinya dalam dunia pendidikan saat masih
kecil. Hal tersebut didukung oleh kegemarannya yang sering memperagakan praktik yang ia
terima di sekolah, belajar membaca-menulis, dan bahasa Belanda, yang ia ajarkan kepada
anak-anak pembantu di kepatihan, ia melakukannya sambil bermain di belakang gedung
kepatihan. Sederhana saja, alat yang ia gunakan adalah papan bilik kandang kereta, arang,
dan pecahan genting yang dijadikannya sebagai alat bantu belajar. Anak-anak pembantu yang
ada di Kepatihan mampu untuk membaca, menulis beberapa kata dalam bahasa Belanda yang
membuat masyarakat di Cicalengka gempar. Masyarakat di sana kaget karena pada waktu itu
belum ada anak (anak rakyat jelata) yang mempunyai kemampuan seperti itu. Mereka
memiliki kemampuan tersebut karena diajari oleh Dewi Sartika. Saat remaja, Dewi Sartika
kembali ke Bandung dan tinggal bersama ibunya. Ia semakin yakin untuk mewujudkan citacitanya selama ini, yaitu mendirikan sebuah sekolah yang bertujuan untuk memajukan
pendidikan untuk kaum wanita. Cita-citanya tersebut sejalan dengan cita-cita yang dimiliki
oleh pamannya. Namun cita-citanya tersebut sulit untuk diwujudkan karena hukum adat pada

saat itu yang mengekang kaum wanita untuk berpendidikan. Kegigihan dalam berusaha tidak
akan pernah menghianati, hasilnya Dewi Sartika berhasil mendidirikan sebuah sekolah yang
dikhususkan untuk kaum wanita. Materi yang ia ajarkan masih sedikit hanya meliputi:
merenda, memasak, jahit-menjahit, membaca, menulis, yang bertujuan untuk membuat
wanita mempunyai keterampilan.
Pada tanggal 16 Januari 1904, setelah berkonsultasi dengan Bupati R.A.A
Martanagara, Dewi Sartika membuka sebuah sekolah yang bernama Sakola Istri (Sekolah
Perempuan) pertama yang ada di Hindia-Belanda. Sakolah Istri yang bertempat di ruangan
pendopo kabupaten Bandung, ia dibantu oleh dua saudara sepupunya, yaitu Ny. Poerwa dan
Nyi. Oewid dalam mengajar. Murid angkatan pertamanya terdiri dari 20 orang.
Pada tahun 1905, sekolahnya menambah kelas, sehingga membuatnya pindah lokasi
ke Jalan Ciguariang, Kebon cau. Tempat ini dibeli oleh Dewi Sartika dengan uang
tabungannya dan bantuan dana pribadi dari Bupati Bandung. Tahun 1906, Dewi Sartika
menikah dengan Raden Kanduruan Agah Suriawati. Suaminya juga seorang guru di sekolah
Karang Pamualang, yang saat itu merupakan sekolah Latihan Guru. Dari pernikahan tersebut
mereka memiliki putra bernama R. Atot, yang merupakan Ketua Umum BIVB, sebuah klub
sepak bola yang merupakan cikal bakal dari Persib Bandung.
Pada tahun-tahun berikutnya di beberapa wilayah Pasundan bermunculan beberapa
Sakola Istri, yang dikelola oleh perempuan-perempuan Sunda yang memiliki cita-cita yang
sama dengan Dewi Sartika. Lulusan pertama dari Sakola Istri, yaitu pada tahun 1909.
Pada tahun 1912, sudah berdiri sembilan Sakola Istri di setengah dari seuruh kotakota kabupaten Pasundan. Tahun 1914, Sakola Istri berganti nama menjadi Sakola
Kautamaan Istri (Sekolah Keutamaan Perempuan). Kota-kota kabupaten wilayah Pasundan
yang belum memiliki Sakola Kautamaan Istri hanya tinggal 3/4. Pada tahun 1920 seluruh
wilayah Pasundan lengkap memiliki Sakola Kautamaan Istri. Sakola Istri juga didirikan di
Bukittinggi, yang didirikan oleh Encik Rama Saleh.
Pada bulan September 1929, tepat saat Sakola Kautamaan Istri berusia 25 tahun, Dewi
Sartika mengadakan peringatan atas pendirian sekolah tersebut dan juga pada saat itu Sakola
Kautamaan Istri berganti nama menjadi Sakola Raden Dewi. Atas dedikasinya dalam bidang
ini, ia dianugerahi bintang jasa oleh pemerintah Hindia-Belanda.
Dewi Sartika meninggal pada tanggal 11 September 1947 di Tasikmalaya. Di
makamkan di pemakamanan Cigagadon Desa Rahayu Kecamatan Cincem. Tiga tahun

kemudia di makamkan kembai di kompleks Pemakaman Bupati Bandung di Jalan Karang


Anyar, Kabupaten Bandung. Dedikasinya dalam mencerdaskan bangsa dan perjuangannya
dalam pendidikan di Indonesia. Ia diberi gelar kehormatan sebagai Pahlawan Kemerdekaan
Nasional. Gelar kehormatan tersebut diberikan pada tanggal 1 Desember 1966.

R.A Kartini

Nama

: Raden Ajeng Kartini


Nama Lain

: Raden Ayu Kartini, RA Kartini

Tempat Tanggal Lahir : Rembang, 21 April 1879


Agama
Meninggal

: Islam
: Rembang, 17 September 1904

Raden Adjeng Kartini (lahir di Jepara, Jawa Tengah, 21 April 1879 meninggal di
Rembang, Jawa Tengah, 17 September 1904 pada umur 25 tahun) adalah seorang tokoh suku
Jawa dan Pahlawan Nasional Indonesia. Kartini dikenal sebagai pelopor kebangkitan
perempuan pribumi.
Ibunya bernama M.A. Ngasirah. Ayahnya bernama Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat.

Kartini adalah anak ke-5 dari 11 bersaudara kandung dan tiri. Dari kesemua saudara
sekandung, Kartini adalah anak perempuan tertua. Sampai usia 12 tahun, Kartini
diperbolehkan bersekolah di
ELS (Europese Lagere School). Di sini antara lain Kartini belajar bahasa Belanda. Tetapi
setelah usia 12 tahun, ia harus tinggal di rumah karena sudah
bisa dipingit.
Karena Kartini bisa berbahasa Belanda, maka di rumah ia mulai belajar sendiri dan
menulis surat kepada teman-teman korespondensi yang berasal dari Belanda. Salah satunya
adalah Rosa Abendanon yang banyak mendukungnya. Dari buku-buku, koran, dan majalah
Eropa, Kartini tertarik pada kemajuan berpikir perempuan Eropa. Timbul keinginannya untuk
memajukan perempuan pribumi, karena ia melihat bahwa perempuan pribumi berada pada
status sosial
yang rendah.
Kartini melihat perjuangan wanita agar memperoleh kebebasan, otonomi dan
persamaan hukum sebagai bagian dari gerakan yang lebih luas. Di antara buku yang dibaca
Kartini sebelum berumur 20, terdapat judul Max Havelaar dan Surat-Surat Cinta karya
Multatuli, yang pada November 1901 sudah dibacanya dua kali, dan masih banyak lagi.
Oleh orangtuanya, Kartini disuruh menikah dengan bupati Rembang, K.R.M. Adipati Ario
Singgih Djojo Adhiningrat, yang sudah pernah memiliki tiga istri. Kartini menikah pada
tanggal 12 November 1903. Suaminya mengerti keinginan Kartini dan Kartini diberi
kebebasan dan didukung mendirikan sekolah wanita. Anak pertama dan sekaligus

terakhirnya, R.M. Soesalit, lahir pada tanggal 13 September 1904. Beberapa hari kemudian,
17 September 1904, Kartini meninggal pada usia 25 tahun. Kartini dimakamkan di Desa
Bulu, Kecamatan Bulu, Rembang.
Berkat kegigihannya Kartini, kemudian didirikan Sekolah Wanita oleh Yayasan Kartini di
Semarang pada 1912, dan kemudian di Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon dan
daerah lainnya. Nama sekolah tersebut adalah Sekolah Kartini.

Mesjid Agung Demak

Sejarah Mesjid Agung Demak


Masjid
Agung
Sembilan atau Wali
km dari Kota
Kabupaten
kerajaan

Demak merupakan Masjid tertua di Pulau Jawa, didirikan Wali


Songo. Lokasi Masjid berada di pusat kota Demak, berjarak 26
Semarang, 25 km dari Kabupaten Kudus, dan 35 km dari
Jepara. Masjid ini merupakan cikal bakal berdirinya
Glagahwangi
Bintoro
Demak.

Struktur bangunan Masjid mempunyai


nilai historis seni bangun arsitektur
tradisional khas Indonesia. Wujudnya
megah, anggun, indah, karismatik,
mempesona dan berwibawa. Kini
Masjid Agung Demak difungsikan
sebagai tempat peribadatan dan ziarah.
Penampilan atap limas piramida masjid
ini menunjukkan Aqidah Islamiyah yang terdiri dari tiga bagian ; (1) Iman, (2) Islam, dan (3)
Ihsan. Di Masjid ini juga terdapat Pintu Bledeg, bertuliskan Condro Sengkolo, yang
berbunyi Nogo Mulat Saliro Wani, dengan makna tahun 1388 Saka atau 1466 M, atau 887 H.
Raden Patah bersama Wali Songo mendirikan masjid yang karismatik ini dengan
memberi gambar serupa bulus. Ini merupakan candra sengkala memet, dengan arti Sarira
Sunyi Kiblating Gusti yang bermakna tahun 1401 Saka. Gambar bulus terdiri atas kepala
yang berarti angka 1 (satu), 4 kaki berarti angka 4 (empat), badan bulus berarti angka 0 (nol),
ekor bulus berarti angka 1 (satu). Dari simbol ini diperkirakan Masjid Agung Demak berdiri
pada tahun 1401 Saka. Masjid ini didirikan pada tanggal 1 Shofar.
Soko Majapahit, tiang ini berjumlah delapan buah terletak di serambi masjid. Benda
purbakala hadiah dari Prabu Brawijaya V Raden Kertabumi ini diberikan kepada Raden
Fattah ketika menjadi Adipati Notoprojo di Glagahwangi Bintoro Demak 1475 M.
Pawestren, merupakan bangunan yang khusus dibuat untuk sholat jamaah wanita.
Dibuat menggunakan konstruksi kayu jati, dengan bentuk atap limasan berupa sirap ( genteng
dari kayu ) kayu jati. Bangunan ini ditopang 8 tiang penyangga, di mana 4 diantaranya
berhias ukiran motif Majapahit. Luas lantai yang membujur ke kiblat berukuran 15 x 7,30 m.
Pawestren ini dibuat pada zaman K.R.M.A.Arya Purbaningrat, tercermin dari bentuk dan
motif ukiran Maksurah atau Kholwat yang menerakan tahun 1866 M.
Surya Majapahit , merupakan gambar hiasan segi 8 yang sangat populer pada masa
Majapahit. Para ahli purbakala menafsirkan gambar ini sebagai lambang Kerajaan Majapahit.
Surya Majapahit di Masjid Agung Demak dibuat pada tahun 1401 tahun Saka, atau 1479 M.
Maksurah , merupakan artefak bangunan berukir peninggalan masa lampau yang memiliki
nilai estetika unik dan indah. Karya seni ini mendominasi keindahan ruang dalam masjid.
Artefak Maksurah didalamnya berukirkan tulisan arab yang intinya memulyakan ke-Esa-an
Tuhan Allah SWT. Prasasti di dalam Maksurah menyebut angka tahun 1287 H atau 1866 M,
di mana saat itu Adipati Demak dijabat oleh K.R.M.A. Aryo Purbaningrat. Pintu Bledheg,
pintu yang konon diyakini mampu menangkal petir ini merupakan ciptaan Ki Ageng Selo
pada zaman Wali. Peninggalan ini merupakan prasasti Condro Sengkolo yang berbunyi
Nogo Mulat Saliro Wani, bermakna tahun 1388 Saka atau 1466 M, atau 887 H.
Mihrab atau tempat pengimaman, didalamnya terdapat hiasan gambar bulus yang merupakan
prasasti Condro Sengkolo. Prasasti ini memiliki artiSariro Sunyi Kiblating Gusti,

bermakna tahun 1401 Saka atau 1479 M (hasil perumusan Ijtihad). Di depan Mihrab sebelah
kanan terdapat mimbar untuk khotbah. Benda arkeolog ini dikenal dengan sebutan Dampar
Kencono warisan dari Majapahit. Dampar Kencana , benda arkeologi ini merupakan
peninggalan Majapahit abad XV, sebagai hadiah untuk Raden Fattah Sultan Demak I dari
ayahanda Prabu Brawijaya ke V Raden Kertabumi. Semenjak tahta Kasultanan Demak
dipimpin Raden Trenggono 1521 1560 M, secara universal wilayah Nusantara menyatu dan
masyhur,
seolah
mengulang
kejayaan
Patih
Gajah
Mada.
Soko Tatal / Soko Guru yang berjumlah 4 ini
merupakan tiang utama penyangga kerangka atap
masjid yang bersusun tiga. Masing-masing soko guru
memiliki tinggi 1630 cm. Formasi tata letak empat
soko guru dipancangkan pada empat penjuru mata
angin. Yang berada di barat laut didirikan Sunan
Bonang, di barat daya karya Sunan Gunung Jati, di
bagian tenggara buatan Sunan Ampel, dan yang
berdiri di timur laut karya Sunan Kalijaga Demak.
Masyarakat menamakan tiang buatan Sunan Kalijaga
ini sebagai Soko Tatal. Situs Kolam Wudlu . Situs ini
dibangun mengiringi awal berdirinya Masjid Agung
Demak sebagai tempat untuk berwudlu. Hingga
sekarang situs kolam ini masih berada di tempatnya
meskipun sudah tidak dipergunakan lagi.
Menara, bangunan sebagai tempat adzan ini didirikan
dengan konstruksi baja. Pemilihan konstruksi baja sekaligus menjawab tuntutan modernisasi
abad XX. Pembangunan menara diprakarsai para ulama, seperti KH.Abdurrohman (Penghulu
Masjid Agung Demak), R.Danoewijoto, H.Moh Taslim, H.Aboebakar, dan H.Moechsin.